Anda di halaman 1dari 19

PRAKTIKUM II ISOTERM ADSORBSI

A.TUJUAN Menentukan isoterm adsorbsi menurut Freundlinch bagi proses adsorbsi asam asetat arang.

B.LATAR BELAKANG TEORI Adsorbsi adalah gejala pengumpulan molekul-molekul suatu zat pada permukaan zat lain, sebagai akibat dari ketidakjenuhan gaya-gaya pada permukaaan zat tersebut. Adsorbsi dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu ; a. Adsorbsi fisik, yaitu berhubungan dengan gaya Van der Waals dan merupakan suatu proses bolak balik apabila daya tarik menarik antara zat terlarut dan adsorben lebih besar daya tarik menarik antara zat terlarut dengan pelarutnya maka zat yang terlarut akan diadsorbsi pada permukaan adsorben. b. Adsorbsi kimia, yaitu reaksi yang terjadi antara zat padat dan zat terlarut yang

teradsorbsi. Kekuatan interaksi adsorbat dengan adsorben dipengaruhi oleh sifat dari adsorbat maupun adsorbennya. Gejala yang umum dipakai untuk meramalkan komponen mana yang diadsorpsi lebih kuat adalah kepolaran adsorben dengan adsorbatnya. Apabila adsorbennya bersifat polar, maka komponen yang bersifat polar akan terikat lebih kuat dibandingkan dengan komponen yang kurang polar. Kekuatan interaksi juga dipengaruhi oleh sifat keras-lemahnya dari adsorbat maupun adsorben. Sifat keras untuk kation dihubungkan dengan istilah polarizing power cation, yaitu kemampuan suatu kation untuk mempolarisasi anion dalam suatu ikatan. Kation yang mempunyai polarizing power cation besar cenderung bersifat keras. Sifat polarizing power cation yang besar dimiliki oleh ion-ion logam dengan ukuran (jari-jari) kecil dan muatan yang besar. Sebaliknya sifat polarizing power cation yang rendah dimiliki oleh ion-ion logam dengan ukuran besar namun muatannya kecil, sehingga diklasifikasikan ion lemah (Puspitasari,2006). Sedangkan pengertian keras untuk anion dihubungkan dengan istilah polarisabilitas anion yaitu, kemampuan suatu anion untuk mengalami polarisasi akibat medan listrik dari kation. Anion bersifat keras adalah anion berukuran kecil, muatan besar dan elektronegativitas tinggi, sebaliknya anion lemah dimiliki oleh anion dengan ukuran besar, muatan kecil dan elektronegatifitas yang rendah. Ion logam keras

berikatan kuat dengan anion keras dan ion logam lemah berikatan kuat dengan anion lemah (Atkins at al. 1990). Ada empat tipe persamaan yang digunakan untuk menguraikan penjerapanisoterm yaitu: 1.Persamaan Langmuir 2.Persamaan Freundlich 3.Persamaan BET (Brunauer, Emmet dan Teller) 4.Persamaan Gibbs Namun perhitungan penjerapan dari larutan pada umumnya digunakan persamaan Langmuir dan Freundlich karena persamaan BET dan Gibbs berlaku untuk proses penjerapan terhadap gas (Atkins at al. 1990). Karbon aktif dapat dibuat dari bahan yang mengandung karbon dalam jumlah cukup tinggi. Salah satu bahan baku karbon aktif yang potensial adalah tempurung kelapa. Pemanfaatannya sebagai bahan baku karbon aktif selain karena harganya yang murah juga karena dapat mengurangi limbah pertanian. Penggunaan karbon aktif di Indonesia mulai berkembang dengan pesat, yang dimulai dari pemanfaatannya sebagai adsorben untuk pemurnian pulp, air, minyak, gas, dan katalis. Namun, mutu karbon aktif domestik masih rendah, dengan demikian perlu ada peningkatan mutu karbon aktif tersebut. Karbon aktif dapat dijadikan sebagai zat pengadsorbsi atau adsorben (Harfi & Kusuman1994). Arang adalah padatan berpori hasil pembakaran bahan yang mengandung karbon. Arang tersusun dari atom-atom karbon yng berikatan secara kovalen membentuk struktur heksagonal datar dengan sebuah atom C pada setiap sudutnya. Susunan kisi-kisi heksagonal datar ini tampak seolah-olah seperti pelat-pelat datar yang saling bertumpuk dengan sela-sela di antaranya.Sebagian pori-pori yang terdapat dalam arang masih tertutup oleh hidrokarbon dan senyawa organik lainnya. Komponen arang ini meliputi karbon terikat, abu, air, nitrogen, dan sulfur yang mempunyai luas permukaan dan jumlah pori sangat banyak (Djatmiko et al. 1985). Manes mengatakan bahwa karbon aktif adalah bentuk umum dari berbagai macam produk yang mengandung karbon yang telah diaktifkan untuk meningkatkan luas permukaannya. Karbon aktif berbentuk kristal mikro karbon grafit yang poriporinya telah mengalami pengembangan kemampuan untuk mengadsorpsi gas dan uap dari campuran gas dan zat-zat yang tidak larut atau yang terdispersi dalam cairan . Luas permukaan, dimensi, dan distribusi karbon aktif bergantung pada bahan baku, pengarangan, dan proses aktivasi. Berdasarkan ukuran porinya, ukuran pori karbon

aktif diklasifikasikan menjadi 3, yaitu mikropori (diameter <2 nm), mesopori (diameter 250 nm), dan makropori (diameter >50 nm) (Baker 1997). Aktivasi adalah perubahan fisik berupa peningkatan luas permukaan karbon aktif dengan penghilangan hidrokarbon. Ada dua macam aktifasi, yaitu aktivasi fisika dan kimia. Aktivasi kimia dilakukan dengan merendam karbon dalam H3PO4, ZnCl2, NH4Cl, dan AlCl3 sedangkan aktivasi fisika menggunakan gas pengoksidasi seperti udara, uap air atau CO2. (Atkins at al. 1990) Adsorbsi adalah gejala pengumpulan molekul-molekul suatu zat pada permukaan zat lain, sebagai akibat dari ketidakjenuhan gaya-gaya pada permukaaan zat tersebut. Proses adsorpsi dalam larutan, jumlah zat teradsorpsi tergantung pada beberapa faktor, yaitu : a. Jenis adsorben b.Jenis adsorbat c. Luas permukaan adsorben d. Konsentrasi zat terlarut e. Temperatur Bagi suatu sistem adsorbsi tertentu, hubungan antara banyaknya zat yang teradsorpsi persatuan luas atau persatuan berat adsorben dengan konsentrasi yang teradsorpsi pada temperatur tertentu disebut dengan isoterm adsorbsi ini dinyatakan sebagai: x/m= k. Cn .........................................................................................................(1) dalam hal ini : x = jumlah zat teradsorbsi (gram) m = jumlah adsorben (gram) C = konsentrasi zat terlarut dalam larutan, setelah tercapai kesetimbangan adsorpsi k dan n = tetapan, maka persamaan (1) menjadi : log x/m = log k + n log c................................................................................(2) persamaan ini mengungkapkan bahwa bila suatu proses adsorbsi menuruti isoterm Freundlich, maka aluran log x/m terhadap log C akan merupakan garis lurus. Dari garis dapat dievaluasi tetapan k dan n (Tim Labor Kimia Fisika,2011). Isoterm adsorbsi adalah hubungan yang menunjukkan distribusi adsorben antara fase teradsorbsi pada permukaan adsorben dengan fase ruah kesetimbangan pada temperatur tertentu. Ada tiga jenis hubungan matematik yang umumnya digunakan untuk menjelaskan isoterm adsorbsi (Baker 1997). 1. Isoterm Langmuir

Isoterm ini berdasar asumsi bahwa : a. Adsorben mempunyai permukaan yang homogen dan hanyadapat mengadsorbsi satu molekul untuk setiap molekul adsorbennya. Tidak ada interaksi antara molekulmolekul yang terserap. b. Semua proses adsorbsi dilakukan dengan mekanisme yang sama. c. Hanya terbentuk satu lapisan tunggal saat adsorbsi maksimum. Namun, biasanya asumsi-asumsi sulit diterapkan karena hal-hal berikut : selalu ada ketidaksempurnaan pada permukaan, molekul teradsorbsi tidak inert dan mekanisme adsorbsi pada molekul pertama asangat berbeda dengan mekanisme pada molekul terakhir yang teradsorpsi. Langmuir mengemukakan bahwa mekanisme adsorpsi yang terjadi adalah sebagai berikut : A(g) + S permukaan adsorpsi. Persamaan isoterm adsorpsi Langmuir dapat diturunkan secara teoritis dengan menganggap terjadinya kesetimbangan antara molekul-molekul zat yang diadsorpsi pada permukaan adsorben dengan molekulmolekul zat yang tidak teradsorpsi. Persamaan isoterm adsorpsi Langmuir dapat dituliskan sebagai berikut : AS, dimana A adalah molekul gas dan s adalah

Kurva isoterm adsorpsi Langmuir dapat disajikan seperti pada Gambar 1.

Salah satu kelemahan dari isoterm Freundlich adalah bahwa ia gagal pada tekanan tiggi gas. Irving langmuir pada 1916 berasal isoterm adsorbsi sederhana pada pertimbangan teoritis berdasarkan teori kinetika gas. Ini disebut sebagai adsorpsi isoterm Langmuir. 2. Isoterm Branauer, Emmet and Teller (BET) Isoterm ini berdasar asumsi bahwa adsorben mempunyai nilai permukaan yang homogen. Perbedaan isoterm ini dengan Langmuir adalah BET berasumsi bahwa

molekul-molekul adsorbat bisa membentuk lebih dari satu lapisan adsorbat dipermukaannya. Pada isoterm ini, mekanisme adsopsi untuk setiap proses adsorpsi berbeda-beda. Mekanisme yang diajukan dalam isoterm ini adalah : Isoterm Langmuir biasanya lebih baik apabila diterapkan untuk adsorpsi kimia, sedangkan isoterm BET akan lebih baik daripada isoterm Langmuir bila diterapkan untuk adsorpsi fisik. 3. Isoterm Freundlich Untuk rentang konsentrasi yang kecil dan campuran yang cair, isoterm adsorpsi dapat digambarkan dengan persamaan empirik yang dikemukakan oleh Freundlich. Isoterm ini berdasarkan asumsi bahwa adsorben mempunyai permukaan yang heterogen dan tiap molekul mempunyai potensi penyerapan yang berbeda-beda. Persamaan ini merupakan persamaan yang paling banyak digunakan saat ini. Persamaannya adalah : x/m = k C 1/n dimana: x = banyaknya zat terlarut yng teradsorpsi (mg) m = massa adsorben (mg) C = konsentrasi adsorben yang sama k,n = konstanta adsorben sedangkan kurva isoterm adsorpsinya disajikan pada Gambar 2.

Dari persamaan tersebut, jika konsentrasi larutan dalam kesetimbangan diplot sebagai ordinat dan konsentrasi adsorbat dalam adsorben sebagai absis pada koordinat logaritmik, akan diperoleh gradien n dan intersept. Dari isoterm ini, akan diketahui kapasitas adsorben dalam menyerap air. Isoterm ini akan digunakan dalam

penelitian yang akan dilakukan, karena dengan isoterm ini dapat ditentukan efisisensi dari suatu adsorben (Ubaya, 1999).

C. ALAT DAN BAHAN a. Alat-alat yang digunakan: 1. Cawan porselin 2. Labu erlenmeyer bertutup 250mL 1. Labu erlenmeyer 150 ml 2. Pipet 10 ml 3. Pipet 25 ml 4. Buret 50 ml 5. Corong 6. Pengaduk 7. Spatula 8. Neraca analitik 9. Kertas saring 10. Statif 11. Stopwatch 12. Pembakar spirtus 13. Kasa asbes 14. Kaki tiga 1 buah 12 buah 6 buah 2 buah 4 buah 1 buah 6 buah 1 buah 1 buah 1 buah 6 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah

b. Bahan-bahan yang digunakan: 1. Asam klorida (HCl) 0,5 N 2. Adsorben arang atau karbon 3. Lar. Standar Natrium Hidroksida (NaOH) 4. Indikator Phenolptalin (pp)

D. SKEMA KERJA 1. Tempatkan kedalam 6 erlenmeyer , masing-masing 1 gram.

Panaskan arang ,

dinginkan

2. Menyiapkan masing-masing 125 ml larutan HCl 0,5 N , 0,25N , 0,125N,0,0625N,0,0313N dan 0,0156N Menempatkan 100 ml lar. HCl ke dalam 6 tabung yang berisi arang , kemudian biarkan 30 menit kocok (1menit/30 detik).

0,5 N diambil 10 ml , 0,25 N diambil 10 ml , 0,125N diambil 25 ml dan 0,0625N,0,0313N dan 0,0156N diambil 50 ml.

dengan

Saring masing-masing larutan kemudian di titrasi dengan NaOH

3.

sisa HCl (25 ml) dititrasi dengan NaOH 0,25 N

Catat volume NaOH yang diperlukan untuk titrasi.

E. HASIL PENGAMATAN Table pengamatan 1 Awal CH3COOH (ml) 0,5 N 0,25 N 0,125 N 0,0625 N 0,0313 N 0,0156 N 10 25 25 50 50 50 NaOH 0,1 N (ml) 49.5 62 32 31 15.7 7.9 Akhir (dengan penambahan arang) CH3COOH (ml) 10 10 10 25 50 50 NaOH 0,1 N (ml) 47 23.3 11 13 14.5 6.5

Konsentrasi CH3COOH

Tabel pengamatan 2 : N o . 1 2 3 4 5 6 Massa (gram) 1,0010 1,0020 1,0025 1,0014 1,0008 1,0008 Konsentrasi asam asetat (N) awal 0.495 0.246 0.128 0.062 0.0314 0.0158 Sisa 0.47 0.233 0.11 0.052 0.029 0.013 C 0.025 0.015 0.018 0.01 0.0024 0.0028 X (gram) 0.15 0.09 0.108 0.06 0.0144 0.0168 Log x/m -0.8244 -1.0467 -0.9677 -1.2225 -1.8446 -1.7772

X/m

Log C

0.1498 0.0898 0.1077 0.0599 0.0143 0.0167

-1.6020 -1.8239 -1.7447 -2 -2.6197 -2.5528

Waktu Penggojogan adalah 30 menit (selama 1 menit setiap 10 menit).

grafik hubungan log x/m dengan log C


0 -3 -2.5 -2 -1.5 -1 -0.5 -0.2 0 -0.4 -0.6 Log x/m y = 1.0023x + 0.7814 R = 1 -0.8 -1 -1.2 -1.4 -1.6 -1.8 Log C -2 Series2 Linear (Series2)

Grafik hubungan x/m dengan c


0.12 0.1 0.08 Axis Title 0.06 0.04 0.02 0 0.0024 0.0028 0.01 0.015 0.018

Series1

F. PEMBAHASAN Pada Percobaan yang kita jalani kali ini yaitu percobaan Isoterm Adsorpsi yang memiliki tujuan agar mahasiswa dapat Menentukan isoterm adsorbsi menurut Freundlinch bagi proses adsorbsi asam asetat arang. Dalam percobaan ini bahan yang digunakan sebagai adsorben adalah karbon, dimana karbon ini diaktifkan terlebih dahulu dengan cara pemanasan. Asam asetat dengan berbagai konsentrasi yaitu 0,5 N ; 0,25 N ; 0,125 N ; 0,625 N ; 0,313 N ; dan 0,156 N sebagai adsorbat Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan arang untuk mengabsorpi larutan asam klorida dalam berbagai konsentrasi pada suhu konstan (isoterm), serta larutan NaOH 0,1 N sebagai larutan standar. Larutan asam asetat yang telah dibuat dalam berbagai konsentrasi dimasukkan arang aktif dan didiamkan selama 30 menit, untuk kemudian akan dilakukan penggojogan selama 1 menit disetiap 10 menit nya. Hal ini dilakukan agar arang dapat bersifat selektif dan spesifik dimana asam asetat lebih mudah teradsorbsi dari pelarut (air), karena arang aktif (karbon) hanya mampu mengadsorpsi senyawa-senyawa organik. Langkah selanjutnya adalah proses titrasi pertama yaitu titrasi asam asetat sebagai pembanding dengan asam asetat yang telah di adsorbsi oleh arang, apakah terjadi perbedaan antara titrasi keduanya. Asam asetat ditirasi masing-masing konsentrasi yaitu ,5 N ; 0,25 N ; 0,125 N ; 0,625 N ; 0,313 N ; dan 0,156 N dengan penambahan indicator pp, zat penitrasi adalah NaOH 0,1 N. Didapatkan hasil konsentrasi NaOH yang diperoleh dari hasil titrasi seperti yang ada dalam data pengamatan, setelah perhitungan yang ada pada lembar lampiran. Percobaan titrasi kedua yaitu titrasi arang yang telah diberi asam asetat berbagai macam konsentrasi. Arang dalam percobaan sebagai absorben (zat yang mengapsorbsi) dimana dalam awal percobaan arang ini harus dipanaskan terlebih dahulu. Pemanasan dilakukan sampai keluar asap, jangan lakukan pemanasan sampai arang membara. Pemanasan arang sampai membara dapat menjadikan arang menjadi abu, dimana jika telah menjadi abu, arang tersebut tidak dapat lagi untuk menjadi absorben. Tujuan dari pemanasan ini adalah untuk membuka pori-pori permukaan dari arang agar mampu mengabsorpsi secara maksimal (mengabsorpsi asam asetat). Titrasi kedua dengan cara yang sama dengan titrasi pertama, dengan penambahan indicator pp sebelum dititrasi. Hasil konsentrasi NaOH yang didapat dapat dilihat pada table data pengamatan bahwa konsentrasi sebelum dan sesudah penambahan arang terjadi perubahan, yaitu konsentrasi NaOH semakin turun, artinya arang dalam percobaan ini mengadsorbsi secara maksimal. Semakin besar konsentrasinyanya semakin banyak larutan NaOH yang digunakan. Hal ini disebabkan karena semakin

10

besar konsentrasi, letak antara molekulnya semakin berdekatan sehingga susah untuk mencapai titik ekivalen pada saat proses titrasi. Pada percobaan ini akan ditentukan harga tetapan-tetapan adsorbsi isotherm Freundlich bagi proses adsorpsi CH3COOH terhadap arang. Variabel yang terukur pada percobaan adalah volume larutan NaOH 0,1 N yang digunakan untuk menitrasi CH3COOH. Setelah konsentrasi awal dan akhir diketahui, konsentrasi CH3COOH yang teradsorbsi dapat diketahui dengan cara pengurangan konsentrasi awal dengan konsentrasi akhir. Selanjutnya dapat dicari berat CH3COOH yang teradsorbsi. Dengan cara X = C*Mr*100/1000. Pada table pengamatan kedua diketahui bahwa perhitungan massa X gram didapatkan pada massa arang 1,0020 dan 1,0025 deperoleh massa X dari 0,09 dan 0,108. Bahwa pada massa yang lain dari massa arang yang kecil ke besar maka massa X akan semakin turun, tetapi untuk massa arang yang bermasalah ini diperoleh massa X nya naik, hal ini dikarenakan kemungkinan perbedaan massa arang yang cukup signifikan disbanding massa arang lainnya, bisa juga karena kesalahan si praktikan yang kurang teliti akan proses titrasi yang dilakukan. Hal ini dapat terjadi karena mugkin masih terdapat karbon yang tidak tersaring dengan sempurna dan kurang berhati-hati dalam melakukan tritasi, karena indikator PP sangat peka akan adanya gugus OH-, maka penambahan atau kelebihan satu tetes NaOH sangat berpengaruh. Sehingga alat yang digunakan haruslah alat (buretdan statif) yang baik dan tidak rusak, maupun bocor. Kesalahan titrasi terjadi karena alat yang digunakan bocor dan karena terdapat arang yang tidak tersaring sempurna, sehingga dalam titrasi volume NaOH yang dibutuhkan semakin banyak. Pada percobaan, titrasi dilakukan dengan menggunakan buret yang bocor dan sedikit pecah pada bagian bawahnya. Buret bocor ini adalah karena kurang rapatnya antara buret dan penutupnya.Hasilnya, penghitungan volume NaOH pun menjadi tidak maksimal karena adanya larutan NaOH yang keluar bukan saat titrasi, sering pula penambahan satu tetes larutan NaOH telah merubah warna HCl menjadi terlalu merah, sehingga warna menjadi keunguan. Hal ini, dapat pula terjadi karena sangat kecilnya selisih antara titik ekivalen konsentrasi satu dengan lainya. Mengenai gambar grafik yang dihasilkan sudah sesuai dengan isoterm adsorbsi menurut Freundlinch,bisa dilihat dari grafik berikut ini, bahwa didapatka R2=1 (sempurna).

11

grafik hubungan log x/m dengan log C


0 -3 -2 -1 -0.2 0 -0.4 -0.6 Log x/m y = 1.0023x + 0.7814 R = 1 -0.8 -1 -1.2 -1.4 -1.6 -1.8 Log C -2 Series2 Linear (Series2)

Grafik 1. Grafik Isotherm Adsorpsi Freundlich

Dari data pengamatan dan hasil perhitungan (dapat dilihat di lembar Lampiran), bahwa konsentrasi asam asetat sebelum adsorpsi lebih tinggi daripada setelah adsorpsi. Hal ini karena asam asetat telah diadsorpsi oleh arang aktif. Dari data juga dibuat suatu grafik dimana x/m diplotkan sebagai ordinat dan C sebagai absis. Grafik hubungan antara x/m dengan c dari percobaan dapat dilihat pada gambar grafik berikut ini,

Grafik hubungan x/m dengan c


0.12 0.1 0.08 Axis Title 0.06 0.04 0.02 0 0.0024 0.0028 0.01 0.015 0.018

Series1

Grafik 2. Grafik Isoterm Adsorpsi Langmuir

12

G. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan : 1. Dalam pengenceran semakin besar konsentrasi yang diinginkan semakin besar pula volume yang diperlukan untuk pengenceran. 2. Penggojogan 30 menit bertujuan agar arang dapat mengadsorbsi secara sempurna. 3. Ketika arang dicampurkan asam asetat dengan berbagai konsentrasi, arang menimbulkan perilaku yang sama. 4. Mengenai gambar grafik yang dihasilkan sudah sesuai dengan isoterm adsorbsi menurut Freundlinch dengan R2 = 1.

Saran : 1. Lebih teliti dalam melakukan segala hal praktikum. 2. Mempelajari cara kerja dan landasan teori sebelum praktikum agar tidak terjadi kesalahan selama praktikum. 3. Jangan lupa bawa serbet. 4. Jangan lupa menggunakan indikator PP, sehingga tidak terjadi kesalahan titrasi karena lupa menggunakan indikator PP. 5. Penggunaan alat yang terbatas dan alat yang tidak valid membuat percobaan kurang efisien. 6. Berhati-hati dalam melakukan titrasi, karena satu tetes titrat sangat berpengaruh terhadap hasil akhir titrasi, sehingga bisa mejadikan data kurang valid. 7. Membuat rancangan pembagian tugas pada kelompok, sehingga waktu

termanfaatkan dengan baik dan benar.

13

H. DAFTAR PUSTAKA Atknis at al.1990 Baker .1997 Djatmiko et al. 1985 Harfi & Kusuman1994 Puspitasari,Dyah Pratama,2006Adsorpsi Surfaktan Anionik Pada Berbagai pH Menggunakan Karbon Aktif Termodifikasi Zink Klorida.dalam Jurnal Kimia,Departeman Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam: Institut Pertanian Bogor Tim Dosen Kimia Fisika.2012.Diktat Petunjuk Praktikum Kimia Fisik.Semarang: FMIPA UNNES. Ubaya, 1999, Bab II Tinjauan Pustaka (online), http://digilib.ubaya.ac.id/ s k r i p s i / farmasi/F_639_1920036/F_639_Bab%20II.pdf, diakses p a d a tanggal 12 Oktober 21.00 wib

Mengetahui, Dosen Pengampu

Semarang, 17 Oktober 2012 Praktikan,

Ir. Sri Wahyuni, M.Si NIP.

Siti Nursiami NIM. 4301410002

14

I. PERTANYAAN DAN JAWABAN 1. Apakah percobaan ini termasuk jenis adsorpsi fisik atau kimia ? Jelaskan! Jawab: pada percobaan termasuk ke dalam adsorpsi secara fisika dikarenakan ikatan yang terlibat dalam adsorpsi ini yaitu ikatan yang lemah yang merupakan ikatan van der waals dan melalui panas reaksi yang rendah. 1. Apakah perbedaan antara kedua jenis adsorbs ini ? berikan beberapa contoh dari kedua jenis adsorbsi ini ! Jawab : Adsorpsi terbagi atas 2, yaitu : a. Adsorpsi secara kimia : merupakan adsorpsi menggunakan senyawa kimia. Molekul terikat pada adsorben oleh ikatan kimia. Mempunyai entalphi reaksi -40 sampai -500 kj/mol. Membentuk lapisan monolayer. Contoh : ion exchange. b. adsorpsi secara fisika : adsorpsi dengan menggunakan sifat fisika Molekul terikat pada adsorben oleh gaya vander waals. Mempunyai entalphi reaksi Melibatkan energy aktivasi -4 sampai -40 kJ/mol. Dapat membentuk lapisan multi player. Tidak melibatkan energy aktivasi. Contoh : adsorbs oleh karbon aktif. 2. Mengapa isoterm Freundlich untuk adsorpsi gas pada permukaan zat padat kurang memuaskan dibandingkan dengan isoterm adsopsi Langmuir? Bagaimana bentuk isotherm adsorbs yang terakhir ini ? Jawab : Isoterm Freundlich untuk adsorpsi gas permukaan zat padat kurang memuaskan karena nilai Vm tidak akab dicapai walaupun tekannaya diperbesar dan tidak sesuai untuk adsordat dengan konsentrsi yang sangat tinggi.Sedangkan pada isoterm Langmuir mengemukakan asumsi yang lebih baik. Isoterm Langmuir sangat sederhana didasarkan pada asumsi bahwa setiap tempat adsorbs adalah akivalen dan kemampuan partikel untuk terikat di tempat ini tidak bergantung pada tempati atau tidaknya tempat yang berdekatan. 3. Bagaimana bentuk kurva isotherm adsorbs Langmuir ( antara n dengan C untuk larutan atau V/m dengan P untuk gas) ?

15

c 4. Turunkan persamaan (1). C ! = k Cn Log = log k + n Log C

J. LAMPIRAN Awal CH3COOH (ml) 0,5 N 0,25 N 0,125 N 0,0625 N 0,0313 N 0,0156 N 10 25 25 50 50 50 NaOH 0,1 N (ml) 49.5 62 32 31 15.7 7.9 Akhir (dengan penambahan arang) CH3COOH (ml) 10 10 10 25 50 50 NaOH 0,1 N (ml) 47 23.3 11 13 14.5 6.5

Konsentrasi CH3COOH

No

Massa (gram)

Konsentrasi asam (N) awal 0,456 0,196 0,1035 0,0525 0,0300 sisa 0,388 0,193 0,094 0,04375 0,02

X (gram) 2,4794 0,1094 0,3537 0,3190 0,3646 0,1276

x/m

Log x/m

Log c

1. 2. 3. 4. 5. 6.

1,0002 1,0004 0,998 0,998 1,0012 1,0013

2,4789 0,1094 0,3544 0,3229 0.3642 0,1274

0,3907 -0,9613 -0,4505 -0,4953 -0,4387 -0,8948

-1,4167 -2,5228 -2,0222 -20579 -2 -2,4559

0,010475 0,1125

1. Sebelum absorbsi a. HCl 0,5 N V1 m1 = V2 m2

2. Sesudah adsorbsi a. HCl 0,5 N V1 m1 = V2 m2 16

10 m1 m1 b. HCl 0,25 N V1 m1 10 m1 ml.7,25g m1 c. HCl 0,125 N V1 m1 10 m1 0,25mL.9,4gr m1 d. HCl 0,0625 N V1 m1 10 m1 m.8,2gr m1 e. HCl 0,0313 N V1 m1 10 m1 gr m1 f. HCl 0,0156 N V1 m1

= 0,25 mL.18,25 gr =0,25ml.15,53g = 0,456 gr

10 m1 m1 b. HCl 0,25 N = 0,388 gr

= V2 m2 = 0,25 mL.7,84 gr

V1 m1 10 m1 m1 c. HCl 0,125 N

V2

m2 0,25

= 0,196 gr

= 0,193 gr

= V2 m2 = 0,25 mL.3,565 gr

V1 m1 25 m1 m1 d. HCl 0,0625 N

V2

m2

= 0,1035 gr

= 0,094 gr

= V2 m2 = 0,25 mL.2,1 gr

V1 m1 50 m1 m1 e. HCl 0,0313 N

V2

m2 0,25

= 0,0525 gr

= 0,04375 gr

= V2 m2 = 0,25 mL.1,2 gr

V1 m1 50 m1 m1 f. HCl 0,0156 N

V2

m2

= 0,25 mL.4

= 0,0300 gr

= 0,0200 gr

= V2 m2

V1 m1

V2

m2

17

10 m1 mL.2,25 m1

= 0,25 mL.0,59 gr

50 m1 m1

0,25

= 0,01475 gr

= 0,1125 gr

Jumlah zat yang teradsorbsi (x) 1. x1 = (Cawal-Cakhir) x Mr x V / 1000 = 0,068 x 36,4627 x 100 / 1000 = 2,4794 gram 2. x2 = (Cawal-Cakhir) x Mr x V / 1000 = 0,003 x 36,4627 x 100 / 1000 = 0,1094 gram 3. x3 = (Cawal-Cakhir) x Mr x V / 1000 = 0,0095 x 36,4627 x 100 / 1000 = 0,3537 gram 4. x4 = (Cawal-Cakhir) x Mr x V / 1000 = 0,00875 x 36,4627 x 100 / 1000 = 0,3190 gram 5. x5 = (Cawal-Cakhir) x Mr x V / 1000 = 0,01 x 36,4627 x 100 / 1000 = 0,3646 gram 6. x6 = (Cawal-Cakhir) x Mr x V / 1000 = 0,0035 x 36,4627 x 100 / 1000 =0,1276

18

19 | P a g e