Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

Hospital acquired pneumonia (HAP) atau pneumonia nosokomial adalah pneumonia yang didapat di rumah sakit, menduduki peringkat ke-2 yang paling sering menyebabkan infeksi nosokomial.
.2

Pneumonia nosokomial ter!adi "- # kasus per ### pasien yang masuk ke

rumah sakit dan men!adi lebih tinggi $-2#% pada pasien yang memakai alat bantu napas mekanis.& 'ebih dari $#" pasien yang dira(at di Intensive Care Units ()*+) mendapatkan penyakit pneumonia. Angka kematian pada pneumonia nosokomial mencapai ,- dan angka kematian pasien pada pneumonia yang dira(at di istalansi ra(at inap meningkat men!adi 2#-"#-. .,-$ .eberapa penelitian menyebutkan bah(a lama pera(atan meningkat 2&% dibandingkan pasien tanpa pneumonia, hal ini tentu akan meningkatkan biaya pera(atan di rumah sakit. /i Amerika 0erikat dilaporkan bah(a lama pera(atan bertambah rata-rata 12 hari. & 0e!ak tahun 212- 22,, tingkat rata rata kematian karena pneumonia men!adi "#- di amerika serikat. 0ecara keseluruhan, pneumonia merupakan penyebab kematian ke $ di amerika serikat. Angka ke!adian pneumonia nosokomial di 3epang adalah " 4 # per ### kasus yang dira(at. 'ebih kurang #- pasien yang dira(at di istalansi ra(at inap akan berkembang men!adi pneumonia dan angka ke!adian pneumonia nosokomial pada pasien yang menggunakan alat bantu napas meningkat sebesar 2# 4 &#-. Angka ke!adian dan angka kematian pada umumnya lebih tinggi di rumah sakit yang besar dibandingkan dengan rumah sakit yang kecil. &

BAB II
1

PEMBAHASAN
HOSPITAL ACQUIRED PNEUMONIA
/efinisi
Pneumonia nosokomial atau hospital acquired pneumonia (HAP) merupakan suatu infeksi parenkim paru yang didapat di rumah sakit. .iasanya dihubungkan dengan (aktu semakin lamanya pera(atan pasien di rumah sakit. .1

5tiologi
Patogen penyebab pneumonia nosokomial sangat ber6ariasi, yang paling sering dilaporkan menyebabkan HAP yaitu 7 S. aureus, Pseudomonas aeruginosa, Enterobacter species, K. Pneumonia, Candida albicans, H. Influenza, Escherichia coli, cinetobacter species dan. S. !arcescens. 0ecara umum aerobic enteric gram negatif bacillus diperkirakan sampai sepertiga dari semua kuman patogen yang bertanggung !a(ab ter!adinya pneumonia. Pada pasien yang menggunakan 6entilator, resiko terkena kuman gram negatif bacillus diperkirakan sekitar "8-8& persen, sedangkan gram positif coccus hanya ,-&8 persen, dan anaerob hanya -& persen. )nfeksi poli mikrobial tercatat ke!adiannya mencapai 2$-"& persen. Penyebab dari 6irus, seperti citomegalo6irus, influen9a dan 6irus sinsitial pernafasan adalah !arang dilaporkan.1 .ahan pemeriksaan untuk menentukan bakteri penyebab dapat diambil dari dahak, darah, cara in6asif misalnya bilasan bronkus, sikatan bronkus, biopsi aspirasi transtorakal dan biopsi aspirasi transtrakea.&

Patogenesis
Patogenesis pneumonia nosokomial pada prinsipnya sama dengan pneumonia komuniti. Pneumonia ter!adi apabila mikroba masuk ke saluran napas bagian ba(ah. Ada empat rute masuknya mikroba tersebut ke dalam saluran napas bagian ba(ah yaitu 7 aspirasi dari flora oropharyngeal yang merupakan rute terbanyak pada kasus-kasus tertentu seperti kasus neurologis dan usia lan!ut, inhalasi melalui kontaminasi alat-alat bantu napas aerosol yang digunakan pasien, hematogenik, dan penyebaran langsung.& Pasien yang mempunyai faktor predisposisi ter!adi aspirasi mempunyai risiko mengalami pneumonia nosokomial. Apabila se!umlah bakteri dalam !umlah besar berhasil masuk ke
2

dalam saluran napas bagian ba(ah, maka pertahanan pe!amu yang gagal membersihkannya dapat menimbulkan proliferasi dan inflamasi sehingga ter!adi pneumonia. )nteraksi antara faktor pe!amu (endogen) dan faktor risiko dari luar (eksogen) akan menyebabkan kolonisasi bakteri patogen di saluran napas bagian atas atau pencernaan makanan. Patogen penyebab pneumonia nosokomial ialah bakteri gram negatif dan 0taphylococcus aureus yang merupakan flora normal sebanyak : "-. ;olonisasi di saluran napas bagian atas karena bakteri-bakteri tersebut merupakan titik a(al yang penting untuk ter!adi pneumonia.&

<aktor predisposisi atau faktor risiko pneumonia nosokomial


<aktor risiko pada pneumonia sangat banyak dibagi men!adi 2 bagian7 ) <aktor endogen <aktor yang berhubungan dengan daya tahan tubuh Penyakit kronik (misalnya penyakit !antung, PP=;, diabetes, alkoholisme, a9otemia), pera(atan di rumah sakit yang lama, koma, pemakaian obat tidur, perokok, intubasi endotrakeal, malnutrisi, umur lan!ut, pengobatan steroid, pengobatan antibiotik, (aktu operasi yang lama, sepsis, syok hemoragik, infeksi berat di luar paru dan cidera paru akut serta bronkiektasis 2) <aktor eksogen adalah 7 a. Pembedahan 7 .esar risiko ke!adian pneumonia nosokomial tergantung pada !enis pembedahan, yaitu torakotomi (,#-), operasi abdomen atas ( 1-) dan operasi abdomen ba(ah ("-).
& &

b. Penggunaan antibiotik 7 Antibiotik dapat memfasilitasi ke!adian kolonisasi, terutama antibiotik yang aktif terhadap 0treptococcus di orofaring dan bakteri anaerob di saluran pencernaan. 0ebagai contoh, pemberian antibiotik golongan penisilin mempengaruhi flora
3

normal

di

orofaring

dan

saluran

pencernaan.

0ebagaimana

diketahui

0treptococcus merupakan flora normal di orofaring melepaskan bacterocins yang menghambat pertumbuhan bakteri gram negatif. Pemberian penisilin dosis tinggi akan menurunkan se!umlah bakteri gram positif dan meningkatkan kolonisasi bakteri gram negatif di orofaring. c. Peralatan terapi pernapasan ;ontaminasi pada peralatan ini, terutama oleh bakteri Pseudomonas aeruginosa dan bakteri gram negatif lainnya sering ter!adi.
3 3

d. Pemasangan pipa>selang nasogastrik, pemberian antasid dan alimentasi enteral Pada indi6idu sehat, !arang di!umpai bakteri gram negatif di lambung karena asam lambung dengan pH : & mampu dengan cepat membunuh bakteri yang tertelan. Pemberian antasid > penyekat H2 yang mempertahankan pH ? , menyebabkan peningkatan kolonisasi bakteri gram negatif aerobik di lambung, sedangkan larutan enteral mempunyai pH netral $,, - 1,#. e. 'ingkungan rumah sakit Petugas rumah sakit yang mencuci tangan tidak sesuai dengan prosedur @ Penatalaksanaan dan pemakaiaan alat-alat yang tidak sesuai prosedur, seperti alat bantu napas, selang makanan, selang infus,
3 3

kateter

dll

@ Pasien dengan kuman A/B tidak dira(at di ruang isolasi.

/iagnosis
Aenurut kriteria dari Che *enters for /isease *ontrol (*/*-Atlanta), diagnosis pneumonia nosokomial adalah sebagai berikut 7 .=nset pneumonia yang ter!adi ,8 !am setelah dira(at di rumah sakit dan menyingkirkan semua infeksi yang inkubasinya ter!adi pada (aktu masuk rumah sakit& 2./iagnosis pneumonia nosokomial ditegakkan atas dasar 7
4

<oto toraks 7 terdapat infiltrat baru atau progresif /itambah 2 diantara kriteria berikut7 suhu tubuh ? &8 o*, sekret purulen, dan leukositosis.2.&

;riteria pneumonia nosokomial berat menurut AC0 ./ira(at di ruang ra(at intensif 2.Dagal napas yang memerlukan alat bantu napas atau membutuhkan =2 ? &" - untuk mempertahankan saturasi =2 ? 2# &.Perubahan radiologik secara progresif berupa pneumonia multilobar atau ka6iti dari infiltrat paru ,.Cerdapat bukti-bukti ada sepsis berat yang ditandai dengan hipotensi dan atau disfungsi organ yaitu 7 syok (tekanan sistolik : 2# mmHg atau diastolik : $# mmHg), memerlukan 6asopresor ? , !am, !umlah urin : 2# ml>!am atau total !umlah urin 8# ml>, !am, dan gagal gin!al akut yang membutuhkan dialisis& Pembagian kriteria pneumonia ringan-sedang-berat. No. Parameter . )nfiltrat : ingan paru Sedang Berat parah

Cidak ringan ? 2>& maupun berat paru Cidak ringan E &8,$#* maupun berat Cidak ringan E &#>m maupun berat Cidak ringan E &#>m maupun berat Ada > tidak Ada

2.

0uhu tubuh

: &1,"# *

&.

Fadi

: ##>m

,.

Pernapasan

: 2#>m

". $.

/ehidrasi 'eukosit

Cidak ada : #.###>mm&

Cidak ringan E 2#.###>mm& maupun berat : ,###>m&

1.

*BP

: #.>mg>dl

Cidak ringan E 2#mg>dl maupun berat Cidak ringan : $# torr 0p=2 maupun berat : 2#-

8.

Pa=2

? 1# torr

Pemeriksaan yang diperlukan adalah 7 . Pe(arnaan Dram dan kultur dahak yang dibatukkan, induksi sputum atau aspirasi sekret dari selang endotrakeal atau trakeostomi. 3ika fasilitas memungkinkan dapat dilakukan pemeriksaan biakan kuman secara semikuantitatif atau kuantitatif dan dianggap bermakna !ika ditemukan #$ colon"#forming units>ml dari sputum, #, 4 #" 4 #$ colon"#forming units>ml dari aspirasi endotracheal tube, bronchoalveolar lavage (.A') , #" colon"#forming units>ml dari

#& colon"#forming units>ml dari sikatan bronkus dan

paling sedikit #2 colon"#forming units>ml dari 6ena kateter sentral . /ua set kultur darah aerobik dan anaerobik dari tempat yang berbeda (lengan kiri dan kanan) sebanyak 1 ml. ;ultur darah dapat mengisolasi bakteri patogen pada ? 2#- pasien. 3ika hasil kultur darah (G) maka sangat penting untuk menyingkirkan infeksi di tempat lain. Pada semua pasien pneumonia nosokomial harus dilakukan pemeriksaan kultur darah. ;riteria dahak yang memenuhi syarat untuk pemeriksaan apusan langsung dan biakan yaitu bila ditemukan sel PAF ? 2" > lapangan pandang kecil (lpk) dan sel epitel : # > lpk.& 2. Analisis gas darah untuk membantu menentukan berat penyakit &. 3ika keadaan memburuk atau tidak ada respons terhadap pengobatan maka dilakukan pemeriksaan secara in6asif. .ahan kultur dapat diambil melalui tindakan bronkoskopi dengan cara bilasan, sikatan bronkus dengan kateter ganda terlindung dan bronchoalveolar lavage (.A'). Cindakan lain adalah aspirasi transtorakal. &

Cerapi antibiotik
.eberapa pedoman dalam pengobatan pneumonia nosokomial ialah 7

. 0emua terapi a(al antibiotik adalah empirik dengan pilihan antibiotik yang harus mampu mencakup sekurang-kurangnya 2#- dari patogen yang mungkin sebagai penyebab, perhitungkan pola resistensi setempat 2. Cerapi a(al antibiotik secara empiris pada kasus yang berat dibutuhkan dosis dan cara pemberian yang adekuat untuk men!amin efekti6iti yang maksimal. Pemberian terapi emperis harus intra6ena dengan sulih terapi pada pasien yang terseleksi, dengan respons klinis dan fungsi saluran cerna yang baik. &. Pemberian antibiotik secara de-eskalasi harus dipertimbangkan setelah ada hasil kultur yang berasal dari saluran napas ba(ah dan ada perbaikan respons klinis. ,. ;ombinasi antibiotik diberikan pada pasien dengan kemungkinan terinfeksi kuman A/B ". 3angan mengganti antibiotik sebelum 12 !am, kecuali !ika keadaan klinis memburuk $. /ata mikroba dan sensiti6iti dapat digunakan untuk mengubah pilihan empirik apabila respons klinis a(al tidak memuaskan. Aodifikasi pemberian antibiotik berdasarkan data mikrobial dan u!i kepekaan tidak akan mengubah mortaliti apabila terapi empirik telah memberikan hasil yang memuaskan. & !abe" #. Cerapi antibiotik a(al secara empirik untuk HAP pada pasien pneumonia nosokomial ringan-sedang,tanpa faktor risiko, onset kapanpun atau pada pasien pneumonia nosokomial berat dengan onset dini Patogen potensia" @ 5nteric gram negatif bacillus @ (non pseudomonas) @ 5nterobacter species @ 5scherichia coli - ;lebsiella species - Proteus species - 0erratia marcescens - Haemophilus influen9a - Aethicillin-sensiti6e 0. Aureus Antibiotik $ang direkomendasikan -Piperacillin-ta9obactam&.&1" g )H q ,h - Piperacillin-ta9obactam,." g )H q $h -*efota%im -2 gm )H q 8h atau - *eftria%one g )H q 2h atau

- !ika alergi terhadap penisillin>sefalosporin -*lindamicin atau Hancomicin plus -*iproflo%acin )H atau
7

- 0. Pneumonia

-A9treonam

Sumber

% American Choracic 0ociety, )nfectious /isease 0ociety of America.

Duidelines for management of adult (ith hospital-acquired, 6entilator associated and healthcare-associated pneumonia Am 3 Bespir *rit *are Aed 1 7 &88-, $72##". !abe" &. Cerapi antibiotik a(al secara empirik untuk HAP pada pasien pneumonia nosokomial ringan-sedang,dengan faktor risiko, onset kapanpun Patogen potensia" -Anaerob Antibiotik $ang direkomendasikan -*lindamicin $## mg )H q 8h ;arbapenem antipseudomonal (Aeropenem, imipenem) atau -Piperacillin-ta9obactam &.&1" g )H q $h - 0. Aureus - Vancomicin atau - Linezolid - 'egionella spp. - <luoroquinolon atau - Aacrolide - P. Aeruginosa Sumber - Cerapi pneumonia nosokomial berat

% American Choracic 0ociety, )nfectious /isease 0ociety of America.

Duidelines for management of adult (ith hospital-acquired, 6entilator associated and healthcare-associated pneumonia Am 3 Bespir *rit *are Aed 1 7 &88-, $72##".

!abe" 3 Cerapi antibiotik a(al secara empirik untuk HAP pada pasien pneumonia nosokomial berat, dengan faktor risiko, onset kapanpun Patogen potensia" Antibiotik $ang direkomendasikan

-P.aeruginosa

- Aminoglikosida (gentamicin, tobramicin, amkacin)

-Acinetobacter spp. - 'egionella spp.

- fluoroquinolon ditambah satu dari di

ba(ah ini 7 -piperacillin-ta9obactam &.&1" g )H q ,h atau - P. Aeruginosa -imipenem "## mg )H q $h atau -metropenem .# g )H q 8h atau -cefta9idime 2.# g )H q 8h atau -*efepime -2 g )H q 8h atau -6ancomicin g )H q 2 h atau

- lne9olid $## mg )H>P= q 2h 0umber 7 American Choracic 0ociety, )nfectious /isease 0ociety of America.

Duidelines for management of adult (ith hospital-acquired, 6entilator associated and healthcare-associated pneumonia Am 3 Bespir *rit *are Aed 1 7 &88-, $72##".

'ama terapi
Pasien yang mendapat antibiotik empirik yang tepat, optimal dan adekuat, penyebabnya bukan P.aeruginosa dan respons klinis pasien baik serta ter!adi resolusi gambaran klinis dari infeksinya maka lama pengobatan adalah 1 hari atau & hari bebas panas. .ila penyebabnya adalah P.aeruginosa dan 5nterobacteriaceae maka lama terapi , 4 2 hari. &

Bespons terapi
Bespons terhadap terapi dapat didefinisikan secara klinis maupun mikrobiologi. Bespons klinis terlihat setelah ,8 4 12 !am pertama pengobatan sehingga dian!urkan tidak merubah !enis antibiotik dalam kurun (aktu tersebut kecuali ter!adi perburukan yang nyata.
9

0etelah ada hasil kultur darah atau bahan saluran napas ba(ah maka pemberian antibiotik empirik mungkin memerlukan modifikasi. Apabila hasil pengobatan telah memuaskan maka penggantian antibiotik tidak akan mengubah mortaliti tetapi bermanfaat bagi strategi deeskalasi. .ila hasil pengobatan tidak memuaskan maka modifikasi mutlak diperlukan sesuai hasil kultur dan kepekaan kuman. Bespons klinis berhubungan dengan faktor pasien (seperti usia dan komorbid), faktor kuman (seperti pola resisten, 6irulensi dan keadaan lain). Hasil kultur kuantitatif yang didapat dari bahan saluran napas ba(ah sebelum dan sesudah terapi dapat dipakai untuk menilai resolusi secara mikrobiologis. Hasil mikrobiologis dapat berupa7 eradikasi bakterial, superinfeksi, infeksi berulang atau infeksi persisten. Parameter klinis adalah !umlah leukosit, oksigenasi dan suhu tubuh. Perbaikan klinis yang diukur dengan parameter ini biasanya terlihat dalam minggu pengobatan antibiotik. Pada
,&,1

pasien yang memberikan perbaikan klinis, foto toraks tidak selalu menun!ukkan perbaikan, akan tetapi apabila foto toraks memburuk maka kondisi klinis pasien perlu di(aspadai. Pen$ebab Perburukan Ada beberapa penyebab perburukan atau gagal terapi, termasuk diantaranya kasus-kasus yang diobati bukan pneumonia, atau tidak memperhitungkan faktor tertentu pe!amu, bakteri atau antibiotik, .eberapa penyakit noninfeksi seperti gagal !antung, emboli paru dengan infark, kontusio paru , pneumonia aspirasi akibat bahan kimia diterapi sebagai HAP. <aktor pe!amu yang menghambat perbaikan klinis adalah pemakaian alat bantu mekanis yang lama, gagal napas, keadaan ga(at, usia di atas $# tahun, infiltrat paru bilateral, pemakaian antibiotik sebelumnya dan pneumonia sebelumnya. <aktor bakteri yang mempengaruhi hasil terapi adalah !enis bakteri, resistensi kuman sebelum dan selama terapi terutama P.aeruginosa yang diobati dengan antibiotik tunggal. Hasil buruk dihubungkan biasanya dengan basil gram negatif, flora polimikroba atau bakteri yang telah resisten dengan antibiotik. Pneumonia dapat !uga disebabkan oleh patogen lain seperti A.tuberculosis, !amur dan 6irus atau patogen yang sangat !arang sehingga tidak diperhitungkan pada pemberian antibiotik. & Penyebab lain kegagalan terapi adalah komplikasi pneumonia seperti abses paru dan empiema. Pada beberapa pasien HAP mungkin terdapat sumber infeksi lain yang bersamaan seperti sinusitis, infeksi karena kateter pembuluh darah, enterokolitis dan infeksi saluran
10

kemih. /emam dan infiltrat dapat menetap karena berbagai hal seperti demam akibat obat, sepsis dengan gagal organ multipel.2,& E'a"uasi (asus !idak espons Pada kasus-kasus yang cepat ter!adi perburukan atau tidak respons terapi a(al perlu dilakukan e6aluasi yang agresif mulai dengan mencari diagnosis banding dan melakukan pengulangan pemeriksaan kultur dari bahan saluran napas dengan aspirasi endotatrakeal atau dengan tindakan bronkoskopi. 3ika hasil kultur terlihat resisten atau terdapat kuman yang !arang ditemukan maka dilakukan modifikasi terapi. 3ika dari kultur tidak terdapat resistensi maka perlu dipikirkan proses noninfeksi. Pemeriksaan lain adalah foto toraks (lateral dekubitus) +0D dan *C scan dan pemeriksaan imaging lain bila curiga ada infeksi di luar paru seperti sinusitis. 3uga perlu dipikirkan terdapat emboli paru dengan infark.& Pen)ega*an Pneumonia Nosokomia" . Pencegahan pada orofaring dan koloni di lambung ) Hindari pemakaian antibiotik yang tidak tepat karena dapat menyebabkan berkembangnya koloni abnormal di orofaring, hal ini akan memudahkan ter!adi multi drug resistant (A/B) 2) Pemilihan dekontaminan saluran cerna secara selektif termasuk antibiotik parenteral dan topikal menurut beberapa penelitian sangat efektif untuk menurunkan infeksi pneumonia nosokomial, tetapi hal ini masih kontro6ersi. Aungkin efektif untuk sekelompok pasien misalnya pasien umur muda yang mengalami trauma, penerima donor organ tetapi hal ini masih membutuhkan sur6ailans mikrobiologi &) Pemakaian sukralfat disamping penyekat H2 direkomendasikan karena sangat melindungi tukak lambung tanpa mengganggu pH. Penyekat H2 dapat meningkatkan risiko pneumonia nosokomial tetapi hal ini masih merupakan perdebatan. ,) Penggunaan obat-obatan untuk meningkatkan gerakan duodenum misalnya metoklopramid dan sisaprid, dapat pula menurunkan bilirubin dan kolonisasi bakteri di lambung.
11

") An!uran untuk berhenti merokok $) Aeningkatkan program 6aksinasi 0.pneumoniae dan influen9a 2. Pencegahan aspirasi saluran napas ba(ah ) 'etakkan pasien pada posisi kepala lebih ( &#-," = ) tinggi untuk mencegah aspirasi isi lambung 2) Dunakan selang saluran napas yang ada suction subglotis &) Dunakan selang lambung yang kecil untuk menurunkan ke!adian refluks gastro esofagal ,) Hindari intubasi ulang untuk mencegah peningkatan bakteri yang masuk ke dalam saluran napas ba(ah ") Pertimbangkan pemberian makanan secara kontinyu dengan !umlah sedikit melalui selang makanan ke usus halus &. Pencegahan inokulasi eksogen ) Prosedur pencucian tangan harus di!alankan sesuai prosedur yang benar, untuk menghindari infeksi silang 2) Penatalaksanaan yang baik dalam pemakaian alat-alat yang digunakan pasien misalnya alat-alat bantu napas, pipa makanan dll &) /isinfeksi adekuat pada (aktu pencucian bronkoskop serat lentur ,) Pasien dengan bakteri A/B harus diisolasi ") Alat-alat yang digunakan untuk pasien harus diganti secara berkala misalnya selang makanan , !arum infus dll ,. Aengoptimalkan pertahanan tubuh pasien ) /rainase sekret saluran napas dengan cara fisioterapi 2) Penggunaan tempat tidur yang dapat diubah-ubah posisinya &) Aobilisasi sedini mungkin.&
12

Prognosis
Prognosis akan lebih buruk !ika di!umpai salah satu dari kriteria di ba(ah ini, yaitu . +mur ? $# tahun 2. ;oma (aktu masuk &. Pera(atan di )P) ,. 0yok ". Pemakaian alat bantu napas yang lama $. Pada foto toraks terlihat gambaran abnormal bilateral 1. ;reatinin serum ? ," mg>dl 8. Penyakit yang mendasarinya berat 2. Pengobatan a(al yang tidak tepat #. )nfeksi yang disebabkan bakteri yang resisten (P.aeruginosa, 0.malthophilia, Acinetobacter spp. atau AB0A) . )nfeksi onset lan!ut dengan risiko kuman yang sangat 6irulen 2. Dagal multiorgan &. Penggunaan obat penyekat H2 yang dapat meningkatkan pH pada pencegahan perdarahan usus. &

BAB III (ESIMPULAN


Pneumonia nosokomial atau hospital acquired pneumonia (HAP) merupakan suatu infeksi parenkim paru yang didapat di rumah sakit yang dihubungkan dengan (aktu semakin lamanya pera(atan pasien terseut di rumah sakit. Penyebabnya dapat bermacam macam,
13

secara umum aerobic enteric gram negatif bacillus diperkirakan sampai sepertiga dari semua kuman patogen yang bertanggung !a(ab ter!adinya pneumonia. *ara kuman penyebab pneumonia dapat masuk ke dalam saluran napas bagian ba(ah melalui empat rute yaitu 7 aspirasi dari flora oropharyngeal yang merupakan rute terbanyak pada kasus-kasus tertentu seperti kasus neurologis dan usia lan!ut, inhalasi melalui kontaminasi alat-alat bantu napas aerosol yang digunakan pasien, hematogenik, dan penyebaran langsung. .eberapa faktor predisposisi yang dapat mencetuskan ter!adinya pneumonia nosokomial, yaitu 7 faktor endogen dan eksogen, dengan faktor endogen yang meliputi faktor yang berasal dari dalam tubuh seseorang, dan faktor eksogen meliputi pembedahan, pengguanaan antibiotik, penggunaan alat alat terapi pernafasan, penggunaan antasid dan lingkungan rumah sakit itu sendiri. /alam mendiagnosis pneumonia nosokomial berdasarkan pada% onset pneumonia yang ter!adi ,8 !am setelah dira(at di rumah sakit., foto toraks 7 terdapat infiltrat baru atau progresif, ditambah 2 diantara kriteria berikut7 suhu tubuh ? &8 o*, sekret purulen, dan leukositosis. /an terapi antibiotik $ang diberikan dapat seara de-eska"asi menggunakan antibiotik $ang kuat ter"ei* da*u"u+ sebe"um ada *asi" ku"tur dari sa"uran na,as ba-a*.

14