Anda di halaman 1dari 13

Tugas Mata Kuliah Pilihan Analisis Geologi Struktur

Pola Kelurusan Daerah Geologi Daerah Sukamulya Dan Sekitarnya, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa barat
(Sebagian Lembar Peta Limusnunggal 1308-144 Cijulang 1308-142)

Disusun oleh :

RIZKY ARDIANSYAH 270110100119

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2013

POLA KELURUSAN ATAU LINEAMENT


Berdasarkan citra DEM SRTM analisis pola lineament dilakukan dengan pengamatan terhadap lineament-lineament punggungan dan lembahan yang diinterpretasikan dan merupakan indikasi pola bidang perlapisan batuan serta indikasi struktur geologi yang terdapat pada batuan yang lebih resisiten terhadap erosi. Secara geografis daerah penelitian terletak pada garis lintang 7 o 37 37.3764 LS - 7o 34 55.4988 LS dan garis bujur 108o 28 13.3536 BT 108o 25 30.3312 BT. Secara administratif daerah ini termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Langkaplancar, dan terdapat empat desa yang masuk ke dalam daerah penelitian yaitu Desa Sukamulya, Desa Jadimulya, Desa Cigugur dan Desa Campaka, di mana wilayah tersebut berada di Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Serta termasuk ke dalam dua lembar peta Bakosurtanal yaitu lembar peta Limusnunggal (1308144) dan lembar peta Cijulang (1308-142) dengan skala 1:25000, dengan luas daerah penelitian sekitar 25 km2.

Gambar 1. Peta lokasi daerah penelitian dan landsat daerah penelitian

Analisa Struktur Geologi Menurut Billing (1990) ada tiga tahapan utama dalam menganalisa struktur geologi. Tahap pertama adalah menentukan jenis atau klasifikasi struktur geologi. Data yang digunakan meliputi hasil pengukuran arah jurus dan kemiringan lapisan batuan. Data yang telah diperoleh tersebut kemudian dimasukkan ke dalam peta dasar untuk menentukan batas-batas

penyebarannya. Tahap kedua adalah menentukan saat pembentukan struktur melalui hubungan kronologis dari struktur-struktur yang terbentuk dan stratigrafi setempat. Tahap ketiga adalah menentukan proses-proses fisik yang membentuk struktur tersebut. Dalam hal ini yang terpenting mengenai distribusi gaya-gaya yang bekerja. Dari distribusi gaya akan diketahui apakah struktur yang bekerja akibat tektonik kompresional atau ekstensional dan gejala geologi lainnya yang mungkin timbul saat pembentukan struktur tersebut. Digital Elevation Model (DEM) merupakan model yang menggambarkan bentuk topografi permukaan bumi sehingga dapat divisualisasikan kedalam tampilan tiga dimensi. Interferometri SAR (Synthetic Aperture Radar) merupakan salah satu algoritma untuk memperbaharui data DEM. SRTM (Shuttle Radar Topographic Mission) memiliki tujuan untuk membuat data topografi (DEM) dengan menggunakan system radar dari wahana pesawat ulang alik antariksa.

Gambar 2. Peta Geologi regional daerah penelitian

Pada Lembar Karangnunggal, batuan tertua yang tersingkap pada daerah ini adalah batuan sedimen dan batuan gunungapi Formasi Jampang yang berumur Oligosen-Miosen, dimana batuan ini diterobos oleh dasit dan granodiorit. Batas bawah Formasi Jampang tidak tersingkap, sedangkan bagian yang dianggap paling bawah diwakili oleh lava dan breksi bersusunan andesitik dan basaltik. Sedimen klastikanya terdiri dari batupasir sela dengan struktur

perlapisan bersusun. Bagian atas Formasi Jampang berupa perselingan tuf dasitik dan breksi dasatik dengan sisispan batugamping yang disebut dengan Anggota Genteng Formasi Jampang. Formasi Jampang tertindih secara selaras oleh Anggota Tuf Napalan dan Anngota Batugamping Formasi Pamutuan. Anggota Tuf Napalan hanya tersingkap di bagian timur Lembar. Dimana satuan batuan ini menjemari dengan Formasi Kalipucang. Sedangkan Formasi Bentang yang terdiri dari batupasir gampingan, batupasir tufaan, dan batugamping menindih secara tidak selaras formasi Jampang, Formasi Pamutuan dan Formasi Kalipucang. Namun Formasi Bentang sendiri ditindih secara tidak selaras oleh Satuan Batuan gunungapi muda, yang terdiri dari breksi, lava, dan tuf bersusunan andesitik-basaltik serta lahar. Endapan termuda pada Lembar ini adalah endapan sungai dan pantai yang hanya terdapat pada selatan Lembar. Berdasarkan Peta Geologi Regional Lembar Karangnunggal, Jawa Barat (Supriatna, dkk 1992), stratigrafi regional daerah penelitian terdiri dari Formasi Jampang, Formasi bentang, Formasi Pamutuan yang mempunyai dua anggota yaitu Anggota Tuff Napalan Formasi Pamutuan dan Anggota Batugamping Formasi Pamutuan.

Formasi Jampang Formasi Jampang yang diperkirakan berumur Oligosen-Miosen yang tersusun atas breksi aneka bahan, tuf sisipan lava, batupasir, batulanau, dan batulempung, terdapat pula lensa batugamping. Dimana satuan umumnya berwarna kelabu kehitaman, padat dan keras. Breksi aneka bahan, berwarna kelabu tua sampai hitam kehijauan, padat, terpilah buruk, komponen berukuran 0,5 cm sampai 20 cm, menyudut, terdiri dari andesit, basal, rijang, batugamping dan tuf hablur yang terkersikkan dan terpropilitkan. Sedangkan masa dasarnya yaitu pasir gampingan. Bagian bawahnya mempunyai perselingan batupasir kelabu dengan struktur perlapisan bersusun. Tuf, berwarna putih ungu dan biru terang, pejal, terkesikkan. Di beberapa tempat menunjukkan perlapisan yang baik.

Lava, umumnya berwarna kelabu tua sampai kelabu kehijauan, bersusunan andesit dan basal, terkersikkan, terpropilitkan, dan termineralkan. Mempunyai struktur amigdaloid dengan isian kalsit, zeolite, dan kalsedon. Batupasir tufaan, berlapis baik, berbutir halus sampai sedang dan terpilah buruk dengan tebal lapisan dari 5 cm sampai 20 cm. sisipan batupasir, batulanau dan batulempung umumnya berlapis baik dengan tebal 5 cm sampai 40 cm, terlipat kuat. Sedangkan lensa batugamping berwarna cokelat kekuningan dengan tebal mencapai 2 meter, dengan lapisan kurang jelas. Batuan ini mengandung koral, ganggang, dan foraminifera. Batuan gunungapi formasi ini umumnya telah terpropilitkan, terlipat dan terkekarkan sangat kuat. Sebarannnya terutama di bagian tengah dan timur laut Lembar dan sedikit dibagian baratdaya, menerus Lembar Pangandaran, serta menipis ke arah barat laut. Umur formasi ini diperkirakan berumur Oligosen-Miosen dalam lingkungan pengendapan laut (sebagian), dengan ketebalan satuan diperkirakan sekitar 900 meter. Formasi Jampang sendiri tertindih tidak selaras oleh Formasi Halang dan Formasi Bentang. Namun tertindih selaras oleh Formasi Kalipucang dan Formasi Pamutuan. Formasi Pamutuan Formasi Pamutuan terdiri atas batupasir, batulempung, kalkarenit, napal, tuf, dan batugamping. Batupasir memiliki warna kelabu kehijauan dengan besar butir kasar sampai halus, padu, keras, berlapis baik, dengan komponen sebagian besar rombakan batuan gunungapi, pecahan batugamping, setempat gampingan dan memiliki tebal perlapisan dari 5 cm sampai 60 cm. Batulempung memilikin warna kelabu cokelat, memiliki perlapisan baik, berstruktur arian sejajar dengan ketebalan antara 0,5 cm sampai 5 cm. Napal memiliki warna kelabu kebiruan, agak padat, setempat tufa, tebalnya belasan centimeter, setempat pada bagian bawah berarian sejajar.

Tuf memiliki warna kelabu cokelat kuning, ringan dan semi padat. Berkomponen plagioklas, mineral berwarna terang, piroksen, kalsit, oksida besi, dan gelas gunungapi. Setempat berlapis baik dengan perarian sejajar atau perlapisan bersusun. Memiliki tebal dari 5 cm sampai 50 cm. Batugamping berwarna kelabu, setempat terdapat banyak urat kalsit atau aragonit, berlapis baik dengan ketebalan dari 5 cm sampai 30 cm. setempat bersisipan kalkarenit dengan ketebalan antara 3 cm sampai 20 cm. Fosil dijumpai dalam batugamping dan napal dari jenis foraminifera yaitu fosil Globoquadrina altispira, Globigerinoides immaturus, Globorotalia mayeri, Globocassidulina sp., Amphistegina sp., dan Gyroidina sp. Dimana fosil-fosil tersebut menunjukkan umur Miosen Tengah dengan pengendapan laut dangkal dan agak terbuka. Hubungan stratigrafinya, Formasi Pamutuan diduga menindih secara selaras di atas Formasi Jampang, dan diduga menjemari dengan Formasi Kalipucang akibat kontak tidak begitu jelas, serta tertindih tidak selaras oleh Formasi Bentang. Diperkirakan ketebalan dari formasi ini antara 300 m sampai 600 m. Sebarannya terdapat di bagian timur Lembar dan meluas ke arah timur pada Lembar Pangandaran . Formasi Pamutuan ini mempunyai dua anggota yaitu Anggota Tuf Napalan dan Anggota Batugamping. Anggota Batugamping Formasi Pamutuan Anggota batugamping terdiri dari kalsilutit, batugamping pasiran (klastika) dan napal. Batugamping pasiran berwarna kuning, berlapis buruk, berbutir halus sampai halus sampai kasar. Tebal lapisan rata-rata 15 cm. Kalsilutit berwarna kuning terang, berongga, banyak mengandung fosil moluska. Menunjukkan perlapisan yang baik dengan tebal rata-rata 15 cm. Napal berwarna kelabu terang sampai kebiruan, padat, berlapis baik dengan tebal lapisan rata-rata 8 cm, mengandung foraminifera bentonik dan planktonik, serta ganggang.

Fosil foraminifera bentonik yang terdapat pada napal antara lain Globocassidulina sp, dan Eurinbergina sp. Sedangkan foraminifera planktonik yaitu Globigerinoides subquadratus, Globigerina immaturus, Globoquadrina altispira, Globorotalia mayeri, Globigerina

peripheroacuta. Dari fosil-fosil tersebut menunjukkan umur Miosen Tengah dengan lingkungan pengendapan laut dangkal dan terbuka (Simandjuntak, 1981). Satuan ini terdapat di bagian tenggara dan selatan Lembar yang membentuk suatu morfologi karst. Dan satuan ini memiliki ketebalan sekitar 500 meter. Hubungan stratigrafinya yaitu Anggota Batugamping Formasi Pamutuan ini menindih selaras Formasi Jampang dan menjemari dengan Anggota tuf napalan Formasi Pamutuan.

Anggota Tuf Napalan Formasi Pamutuan Anggota tuf napalan terdiri dari tuf napalan berselingan dengan batupasir tufan, dan batulempung tufan. Tuf napalan berwarna putih kekuningan, padat dan berlapis baik. Batupasir tufan berwarna kelabu kehijauan, berlapis baik, mempunyai struktur perarian mendatar, berukuran pasir sedang, memiliki komposisi mineral-mineral hitam dengan pencampuran tuf pasir. Memiliki kandungan fosil Globorotalia fohsi robusta, Gr. Scitula, Globoquadrina

altispira, Globogerinoides obliquus. Dimana fosil-fosil tersebut menunjukkan umur Miosen Tengah dengan lingkungan pengendapan laut dangkal dan terbuka. Satuan ini hanya terdapat di bagian timur Lembar serta memiliki ketebalan antara 200 m sampai 500 m. Hubungannya stratigrafinya yaitu menjemari dengan Anggota batugamping Formasi Pamutuan dan secara selaras menindih di atas Formasi Jampang.

Formasi Bentang Formasi Bentang terdiri dari batupasir gampingan, batupasir tufan, bersisipan sepih dan lensa-lensa batugamping.

Batupasir tufan berwarna putih kotor, berbutir sedang, lunak, mengandung sisipan serpih dan lignit. Bagian bawahnya terdapat lensa batugamping yang berwarna kuning kotor. Batugamping berwarna kuning terang, dimana batugamping ini merupakan lensa dari batupasir gampingan. Banyak mengandung foraminifera kecil, koral dan agak lunak. Pada batupasir gampingan terdapat Globorotalia acostamsis, Globigerinoides kandungan fosil foraminifera kecil, antara lain conglobatus, Globigerinoides immaturus,

Globoquadrina altispira, Globorotalia menardik, Globigerinoides extremus, Orbulina universa, globorotalia sp., Globigerina foliata, yang menunjukkan umur Miosen Akhir bagian bawah dengan lingkungan pengendapan neritik. Sebaran utama dari terdapat di bagian barat, tengah, dan utara dari Lembar. Dan memiliki ketebalan sekitar 800 meter. Hubungan stratigrafinya yaitu formasi ini menindih tidak selaras Formasi Jampang dan Formasi Pamutuan. Serta Formasi Bentang ditindih secara tidak selaras oleh Satuan Endapan Gunungapi Muda.

Struktur Geologi Regional Van Bemmelen (1949) telah membagi Jawa Barat menjadi beberapa jalur fisiografi dan struktural dimana daerah pemetaan termasuk pada jalur struktur geologi Zona Pegunungan Selatan Jawa Barat. Menurut Van Bemmelen (1949), menyatakan bahwa sumbu struktur geantiklin membentang dari Teluk Ciletuh di bagian barat melalui intrusi Intra Miosen sampai ke Teluk Parigi di sebelah timur. Dan dikedua pinggir sumbu geantiklin terjadi juga beberapa perlipatan. Arah gaya umum yang bekerja adalah relatif utara selatan. Sedangkan menurut Situmorang, dkk (1976) tentang wrench fault tektonik , menyatakan bahwa system rekahan di Jawa merupakan hasil kompresi mendatar berarah Utara Selatan (Gambar 2.3). Dari penelitian dengan mengukur sejumlah arah jenis sesar di Jawa dan Madura,

dapat disimpulkan bahwa sumbu-sumbu lipatan yang terdapat di Pulau Jawa berarah Barat Daya Timur Laut (U 14o T).

Gambar 3. Sistem sesar ulir di Pulau Jawa sesuai dengan konsep

wrench fault tectonics (Situmorang dkk., 1976)

Kelurusan punggungan
Gambar 4. Peta lineament punggungan pada daerah penelitian menggunakan DEM SRTM

Interpretasi pola kelurusan menggunakan beberapa software, yakni software Global Mapper, Mapinfo, GeoMapVector, Microsoft Excel dan software Dips. adapun hasil pengolahan

data DEM menggunakan softwaresoftware tersebut yakni berupa kelurusan atau lineament punggungan dan lembahan yang dapat dilihat pada table data kelurusan punggungan dan tabel data kelurusan lembahan (dibawah), serta pengelompokkan kelurusan-kelurusan tersebut berdasarkan rentang data BEARING yang telah diurutkan, yang dapat dilihat pada tabel pengelompokkan kelurusan punggungan berdasarkan bearing dan tabel pengelompokkan kelurusan lembahan berdasarkan bearing.

Table 1. Data Kelurusan Punggungan


NAMA p1 p2 p5 p6 p8 p10 p11 p12 p13 p15 p14 p16 p3 p17 p18 p9 p19 p20 p21 p22 p23 p24 p25 p26 p27 p28 p29 p30 p31 p32 p7 p33 p34 p35 p36 p37 LENGTH BEARING 1383 916.3 678.2 1037 1028 642.5 636.5 491.8 603.9 891.3 1067 861.3 941.4 619.1 516.8 1302 619.2 402.7 1135 570.9 481.8 472.7 373.4 823.6 428.5 496.4 458.1 997.5 1171 959.0 1840 490.5 549.2 580.1 753.0 673.1 153 153 159 131 166 92 70 98 96 130 316 160 147 133 327 256 152 141 39 129 88 92 89 99 132 302 345 65 336 148 353 133 137 135 89 76 BEARING (DEGREE) 3.434318351 2.27539111 1.684132108 2.575117954 2.552768811 1.595480507 1.580581078 1.221256519 1.499627514 2.213310156 2.649615098 2.138813012 2.337720387 1.537372734 1.283337472 3.233176062 1.537621058 1 2.818475292 1.417680656 1.196424137 1.17382667 0.927241122 2.045194934 1.064067544 1.232679414 1.137571393 2.477030047 2.907871865 2.381425379 4.569158182 1.218028309 1.363794388 1.440526446 1.869878321 1.671467594 3 2 2 3 3 2 2 1 1 2 3 2 2 2 1 3 2 1 3 1 1 1 1 2 1 1 1 2 3 2 5 1 1 1 2 2

Table 2. Pengelompokkan kelurusan punggungan berdasarkan bearing


PENGELOMPOKAN RANGE 30-39 60-69 70-79 80-89 JUMLAH 1 1 2 3 NAMA p21 p30 p11 p37 p23 p25 p36 p10 p12 p13 p24 p26 p22 p35 p33 p34 p27 p15 p6 p17 p32 p20 p3 p19 p1 p2 p5 p16 p8 p9 p28 p14 p18 p31 p29 p7 LENGTH BEARING 1135 997.5 636.5 673.1 481.8 373.4 753.0 642.5 491.8 603.9 472.7 823.6 570.9 580.1 490.5 549.2 428.5 891.3 1037 619.1 959.0 402.7 941.4 619.2 1383 916.3 678.2 861.3 1028 1302 496.4 1067 516.8 1171 458.1 1840 39 65 70 76 88 89 89 92 98 96 92 99 129 135 133 137 132 130 131 133 148 141 147 152 153 153 159 160 166 256 302 316 327 336 345 353 BEARING (DEGREE) 2.818475292 2.477030047 1.580581078 1.671467594 1.196424137 0.927241122 1.869878321 1.595480507 1.221256519 1.499627514 1.17382667 2.045194934 1.417680656 1.440526446 1.218028309 1.363794388 1.064067544 2.213310156 2.575117954 1.537372734 2.381425379 1 2.337720387 1.537621058 3.434318351 2.27539111 1.684132108 2.138813012 2.552768811 3.233176062 1.232679414 2.649615098 1.283337472 2.907871865 1.137571393 4.569158182 3 2 2 2 1 1 2 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 2 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 3 3 1 3 1 3 1 5

90-99

120-129 130-139

1 7

140-149

150-159

160-169 250-259 300-309 310-319 320-329 330-339 340-349 350-360

2 1 1 1 1 1 1 1

Dari hasil analisis, didapat 37 lineament punggungan dengan interval azimuth berkisar N 0E N 359E. Pada kelurusan punggungan didapat interval azimuth dominan berkisar N 310 o E- N 320
o

E, yang berarah relatif Barat laut - Tenggara. Panjang kelurusan punggungan

interval 373 1840 meter.

Gambar 5. Diagram Rosette Lineament Punggungan Daerah Penelitian

Berdasarkan pengolahan data menggunakan diagram Rosette diketahui bahwa pada daerah tersebut berdasarkan kelurusan punggungan, memiliki tegasan berarah Timur laut Barat daya.

DAFTAR PUSTAKA

Van Bemmelen, R.W., 1949. The Geology of Indonesia, Volume I A. The Hague Martinus Nijhoff, Netherland.

http://www.scribd.com/doc/90730218/Tutorial-Intepretasi-Kelurusan

http://azharanugrah.blogspot.com/2013/09/digital-elevation-model-dem.html
digilib.its.ac.id/public/ITS-Master-26630-3107204001-Illustrations.pdf

http://www.academia.edu/3535854/APLIKASI_CITRA_SATELIT_DEM_DIGITAL_ELEVATIO N_MODEL_DALAM_ANALISA_AWAL_POTENSI_PLTMH_PEMBANGKIT_LISTRIK_TENA GA_MIKROHIDRO_