Anda di halaman 1dari 13

Referat Kecil

TRAKTUS SPINOTALAMIKUS

Oleh :

Aulia Janer NIM. 0808113141

Pembimbing : dr. Agus Tri Joko, Sp. S

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ARIFIN ACHMAD FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2013

TRAKTUS SPINOTALAMIKUS

I.

Pendahuluan Rangsangan yang masuk dari sistem sensorik memegang peranan penting

dalam mengontrol fungsi motorik yaitu dengan adanya hubungan di dalam korteks sensorimotorik atau melalui jaras serebellum. Sebaliknya impuls dari korteks sensorimotorik mempengaruhi (melalui jalur desenden) fungsi dari neuron sensorik di medula spinalis, batang otak dan thalamus1. Rangsangan masuk diterima oleh reseptor sensorik. Reseptor adalah organ sensorik khusus yang mampu mencatat perubahan fisik dan kimia di lingkungan internal dan eksternal organisme, serta menghantarkan impuls listrik yang diproses oleh system saraf. Reseptor sensorik berupa reseptor eksteroseptif, propioseptif, interoseptif. Reseptor eksteroseptif, yang memberitahu tubuh apa yang sedang terjadi pada lingkungan sekitarnya. Propioseptif, yang memberi tahu posisi dan arah gerak sendi. Interoseptif yang memberi tahu informasi tentang fungsi internal, tekanan darah dan konsentrasi elektrolit dalam cairan tubuh.2 Beberapa reseptor sensorik tubuh meliputi:2 Eksteroseptif: ujung saraf bebas yang berfungsi sebagai reseptor nyeri, badan ruffini merupakan reseptor panas, krause sebagai reseptor dingin, badan merkel dan badan taktil Meissner sebagai reseptor raba, vater paccini sebagai reseptor tekan. Ujung saraf peritrichial ditemukan di seluruh tubuh yang terdapat folikel rambut dan diaktivasi oleh pergerakan rambut. Propioseptif: muscle spindle, organ tendon Golgi dan reseptor sendi. Interoseptif: baroreseptor, kemoreseptor dan osmoreseptor.

Gambar 1: Reseptor 3

Rangsangan yang diterima oleh berbagai reseptor selanjutnya akan dilanjutkan oleh 3 neuron panjang dan interneuron akan mengkonduksi stimulus dari reseptor (atau ujung bebas) ke korteks somatosensorik. 3 neuron tersebut adalah:1 Neuron pertama: badan sel dari neuron pertama terletak di ganglion radiks dorsalis (atau ganglion aferen somatis dari saraf kranial). Neuron kedua: sel neuron kedua menyilang dan berakhir biasanya di thalamus. Neuron ketiga: sel neuron ketiga terletak di thalamus dan memproyeksikan rangsangan ke korteks sensorik (untuk nyeri kronis diproyeksikan di thalamus). Lalu otak akan memproses informasi yang dihantarkan oleh neuron ini, menginterpretasikan lokasi, kualitas dan intensitas lalu memberikan respon yang sesuai. Perjalanan serabut saraf aferen yang menghantarkan modalitas sensorik di dalam medula spinalis terdiri atas traktus spinoserebellaris posterior dan anterior, kolumna posterior, traktus spinotalamikus anterior dan lateral, serta traktus aferen

lainnya

yaitu
2

spinoretikular,

spinotektal,

spino-olivary

dan

traktus

spinovestibular.

Gambar 2. Pengaturan somatotopik dari jalur-jalur di dalam medula spinalis 4

2. Anatomi dan fisiologi Traktus spinotalamikus adalah suatu jalur asenden yang berasal dari medulla spinalis dan berjalan di sepanjang medulla spinalis sampai bersinaps di talamus. Traktus spinotalamikus dikenal juga sebagai anterolateral sistem. Terdapat dua jalur yang tergabung dalam sistem ini, yakni traktus spinotalamikus lateral dan traktus spinotalamikus anterior.5

Gambar 3. Traktus spinotalamikus 6 a. Traktus Spinotalamikus Anterior Traktus spinotalamikus anterior berhubungan dengan persepsi raba dan tekanan ringan. Perjalanan modalitas sensorik pada traktus spinotalamikus anterior adalah sebagai berikut, rangsangan yang muncul pada reseptor di permukaan kulit (ujung saraf peritrichial, korpus taktil) dihantarkan melalui serabut saraf perifer yang bermyelin tebal (neuron pertama) ke sel ganglion pseudounipolar radiks dorsalis, dan kemudian melalui radiks posterior ke dalam medula spinalis. Di dalam medula spinalis, proses sentral dari sel ganglion radiks dorsalis berjalan melalui kornu posterior sekitar 2-15 segmen keatas, sementara yang kolateral berjalan 1 atau 2 segmen ke bawah, menciptakan kontak sinaps pada sel-sel diberbagai tingkat dari segmen di substansia nigra dari kornu posterior. Sel-sel (neuron kedua) kemudian membangkitkan rangsangan di traktus spinotalamikus anterior, yang mana serabut-serabut tersebut menyilang di komissura spinalis anterior, kemudian naik di funikulus anterolateral kontralateral dan berakhir di nukleus ventro posterolateral (VPL) talamus, bersama dengan serabut-serabut saraf dari traktus spinotalamikus lateral dan lemniscus medialis.

Neuron ketiga di nukleus talamus ini akan memproyeksikan akson-aksonnya ke gyrus post sentralis di lobus parietal melalui traktus thalamokortikalis.2

Gambar 4. Traktus spinotalamikus anterior 2 b. Traktus Spinotalamikus Lateral Reseptor nyeri dan suhu pada kulit seta jaringan lainnya adalah ujungujung saraf bebas. Impuls nyeri ditransmisikan ke arah medula spinalis, yaitu di dalam serabut-serabut penghantar cepat delta tipe A dan serabut-serabut penghantar lambat tipe C. Serabut-serabut penghantar cepat membuat individu menyadari permulaan nyeri tajam, serta serabut penghantar lambat berfungsi untuk rasa nyeri seperti terbakar yang lama dan menyakitkan. Sensasi panas dan dingin juga berjalan melalui serabut delta A dan C.2 Akson-akson yang masuk ke dalam medula spinalis dari ganglion radix posterior langsung menuju ujung columna grisea posterior dan terbagi menjadi cabang asendens dan desendens. Cabang-cabang tersebut berjalan dengan jarak satu atau dua segmen medula spinalis dan membentuk tractus posterolateral

Lissauer. Serabut-serabut neuron tingkat pertama ini berakhir dengan membentuk sinaps dengan sel-sel di dalam columna grisea posterior, termasuk sel-sel di dalam substansia gelatinosa. Substansi P, yaitu suatu peptida yang diduga merupakan neurotransmiter pada sinaps-sinaps ini. 2,8 Selanjutnya, akson-akson neuron tingkat kedua menyilang secara oblik menuju sisi kontralateral di substansia grisea anterior dan commisura alba dalam satu segmen medula spinalis, naik di dalam columna alba kontralateral sebagai traktus spinotalamikus lateral. Traktus spinotalamikus lateralis terletak di medial traktus spinocerebellaris anterior. Ketika traktus spinotalamikus lateralis naik melalui medula spinalis, terjadi penambahan serabut-serabut baru di aspek anteromedial traktus ini sehingga di dalam segmen cervicalis atas medulla spinalis serabut-serabut sacralis terletak di lateral dan segmen cervicalis di medial. Serabut-serabut yang membawa sensasi nyeri terletak sedikit anterior dari serabutserabut yang membawa sensasi suhu.2 Ketika traktus spinotalamikus lateralis naik melalui medula oblongata, traktus ini terletak dekat permukaan lateral serta di antara nucleus olivarius inferior dan nucleus traktus spinalis nervus trigeminus. Di sini, traktus spinotalamikus lateralis disertai oleh traktus spinotalamikus anterior dan traktus spinotectalis; ketiganya bersama-sama akan membentuk lemniscus spinalis. 2,8 Lemniscus spinalis terus berjalan ke atas melalui bagian posterior pons. Di dalam mesencephalon, lemniscus terletak dalam tegmentum di lateral lemniscus medialis. Banyak serabut traktus spinotalamikus lateralis berakhir dan bersinaps dengan neuron tingkat ketiga di dalam nucleus ventroposterolateralis thalami. Hal ini diduga bahwa disini terjadi apresiasi sensasi nyeri dan suhu serta dimulainya reaksi emosional. 2,8 Akson-akson neuron tingkat ketiga di dalam nucleus ventroposterolateral thalami berjalan melalui crus posterior capsula interna dan corona radiata untuk mencapai area somesthesia di gyrus paracentralis posterior cortex cerebri. Dari sini, informasi diteruskan ke area-area lain di cortex cerebri untuk digunakan oleh area motorik dan asosiasi parietalis. Peran cortex cerebri
2

adalah

menginterpretasikan kualitas informasi sensorik pada tingkat kesadaran.

Gambar 4. Lintasan-Lintasan Nyeri dan Suhu (Traktus Spinotalamikus Lateral).2

3. Lesi pada traktus spinotalamikus a. Lesi pada traktus spinotalamikus anterior Serabut saraf sentral dari neuron pertama dari traktus ini naik pada jarak yang berbeda secara ipsilateral di kolumna posterior, menciptakan kolateral sepanjang jalan ke neuron kedua. neuron kedua akan menyilang di bagian tengah dan naik lebih tinggi di bagian kontralateral dari traktus spinotalamikus anterior. Lesi pada traktus ini yang terjadi setinggi lumbal atau thorakal secara umum akan menyebabkan kerusakan yang minimal atau tidak ada kerusakan sama sekali terhadap rangsangan yang berupa sentuhan karena banyaknya impuls yang naik bisa mengelak dari lesi dengan melalui jalur yang ipsilateral. Lesi traktus spinotalamikus anterior setinggi servikal, bagaimanapun juga akan menyebabkan hipestesia yang ringan dari sisi ekstremitas inferior yang kontralateral2.

b. Lesi pada traktus spinotalamikus lateral Traktus spinotalamikus lateral adalah jalur utama untuk rangsangan nyeri dan suhu. Traktus ini bisa ditranseksi secara neurosurgikal untuk menghilangkan rasa sakit (cordotomy), operasi ini tidak banyak dilakukan sekarang, karena sudah digantikan dengan metode yang tidak invasif dan juga karena hilangnya rasa sakit lebih sering temporer. Fenomena selanjutnya selama pengalaman klinis, menyimpulkan bahwa nyeri yang diakibatkan oleh impuls, juga bisa naik melalui medula spinalis pada jalur lain. Sebagai contoh neuron spinospinalis yang berada pada fasciculus proprius, jika traktus spinotalamikus lateral dilakukan transeksi pada bagian ventral medula spinalis, rangsangan nyeri dan suhu lebih sedikit terasa pada bagian yang berlawanan satu atau dua segmen dibawah lesi, sementara rangsangan yang berupa sentuhan tetap ada (defisit sensorik disosiasi)2.

Defisit somatosensorik yang dikarenakan oleh lesi spesifik sepanjang jalur somatosensorik

Gambar 7. Beberapa letak potensial lesi sepanjang jalur somatosensorik2

10

Gambar 7 di atas menunjukkan beberapa lesi tipikal sepanjang jalur somatosensorik, defisit sensorik yang berhubungan dibahas pada tabel dibawah ini2: Tabel 1. Sindrome pemotongan jaras sensorik2 No 1 2 3 4 Lokasi lesi a (lengan) dan b (tungkai) Kortikal/subkortikal c yaitu dibawah talamus Sindrom defisit menyebabkan parastesi dan mati rasa pada masing-masing ekstremitas sisi yang berlawanan menyebabkan hilangnya semua kualitas sensorik separuh tubuh kontralateral.

d pada jaras sensorik lain terjadi hipestesi kontralateral wajah dan tubuh, selain nyeri dan suhu sensasi nyeri dan suhu tetap utuh. Terbatas e yaitu pada maka tidak akan ditemukan sensasi nyeri dan lemnikus trigeminalis dan suhu pada wajah dan tubuh kontra lateral. Tapi traktus spinotalamikus semua kualitas sensorik lainnya tidak terganggu lateral pada pusat otak f yaitu pada lemnikus menyebabkan kehilangan kualitas sensorik pada dorsalis dan traktus kontralateral tubuh, kecuali sensasi nyeri dan spinotalamikus anterior suhu g kerusakan nukleus, traktus menyebabkan hilangnya sensasi nyeri dan suhu trigeminalis dan traktus pada wajah ipsilateral dan tubuh kontralateral. spinotalamikus lateral h yaitu posterior pada funikulus menyebabkan hilangnya sensasi sikap, getaran, diskriminasi dan sensasi lain yang berhubungan dengan ataksia ipsilateral

Lesi di i yaitu pada kornu menghilangkan sensasi suhu dan nyeri posterior ipsilateral. Semua kualitas sensorik lain tetap utuh. k cedera beberapa radiks parastesi radikuler, nyeri dan penurunan atau posterior yang berdekatan hilangnya semua kualitas sensorik pada masingmasing segmen tubuh.

11

4. pemeriksaan sensorik a. Pemeriksaan nyeri superfisial9,10 Alat dan bahan: jarum bundel dan jarum suntik Cara pemeriksaan: 1. Pasien diminta menutup mata. 2. Rangsangan diberikan kepada pasien secara berganti-ganti antara tusukan jarum tajam dan tumpul, dan pasien diminta untuk membedakan kedua rangsangan tersebut. 3. Rangsangan yang serupa dilanjutkan pada daerah yang abnormal (rasa nyeri terganggu) dan daerah yang normal pada sisi kontralateral pada area yang sama. 4. Pemeriksaan dilakukan pada area yang paling terganggu dan bergerak ke area yang normal, mintalah pasien menyebutkan mulai daerah mana yang sensasinya mulai ada. b. Pemeriksaan suhu9,10 Alat dan bahan: botol / tabung reaksi berisi air panas dan air dingin Cara : 1. Pasien diperiksa dalam keadaan mata ditutup. 2. Pasien diperiksa pada area yang sama dengan menempelkan botol panas dan dingin secara bergantian dan pasien disuruh menginterpretasikan sensasi yang diberikan. b. Pemeriksaan raba9,10 Alat dan bahan: kapas / kertas Cara : Teknik dan urutan pemeriksaannya sama dengan pemeriksaan nyeri superfisial.

12

DAFTAR PUSTAKA 1. Chusid JG, deGroot J. Correlative Neuroanatomy. 20th Edition. United States of America: Appleton & Lange, 1988. 2. Baehr M, Frotscher M. Duus Topical Diagnosis in Neurology.4th Completely Revised Edition. New York: Thieme, 2005.43. 3. MarkCutkosky. Mechanoreceptors of Hairy Skin, 2008;

bdml.stanford.edu [Diakses tanggal 6 Agustus 2009]. 4. Spinothalamic Tract; www.wikipedia.org [Diakses tanggal 6 Agustus 2009]. 5. Hendelman WJ. Atlas of Functional Neuroanatomy 2nd Edition. Boca Raton: CRC Press Taylor & Francis Group, 2006. 6. Paulev P. Textbook in Medical Physiology and Pathophysiology: Essentials and clinical problems. Copenhagen Medical Publishers, 2000; www.mfi.ku.dk [Diakses tanggal 6 Agustus 2009]. 7. Netter F, Craig J, Perkins J. Atlas Neuroanatomy and Neurophisiology. USA : Icon Costum Comunication.2002.75-7. 8. Snell RS. Neuroanatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 5. Jakarta : ECG. 2002. 160-6. 9. Joko AT, Sukiandra R, Winarto. Buku Skill-Lab Blok Saraf. Pekanbaru: FK UR. 2008 10. Ginsberg L. Lecture notes neurologi. Edisi 8. Jakarta: Erlangga. 2008

13