Anda di halaman 1dari 6

Indeks Maloklusi

Indeks adalah sebuah angka atau sebuah bilangan yang digunakan sebagai indikator untuk menerangkan suatu keadaan tertentu atau sebuah rasio proporsional yang dapat disimpulkan dari sederetan pengamatan yang terus-menerus. Indeks maloklusi merupakan suatu angka atau bilangan yang menerangkan suatu keadaan maloklusi. Di bidang ortodonti ada 2 indeks : Indeks oklusal/ indeks ortodonti berhubungan erat dengan perawatan ortodonti. Indeks maloklusi secara epidemiologis menggambarkan tingkat keparahan maloklusi. Indeks maloklusi yang diperlukan adalah penilaian kuantitatif dan objektif yang dapat memberikan batasan adanya penyimpangan dari oklusi ideal yang masih dianggap normal, dan dapat memisahkan kasus-kasus abnormal menurut tingkat keparahan dan kebutuhan masyarakat. Syarat suatu indeks maloklusi adalah sebagai berikut: 1. 2. Valid artinya indeks harus dapat mengukur apa yang akan diukur. Dapat dipercaya (reliable) artinya indeks dapat mengukur secara konsisten pada saat yang berbeda dan dalam kondisi yang bermacam-macam, serta pengguna yang berbeda-beda. Kadang-kadang ada yang menyebut reliable sebagai reproducible. 3. 4. Mudah digunakan. Diterima oleh kelompok pengguna indeks (Rahardjo, 2009). Indeks maloklusi telah banyak ditemukan dan indeks itu dibuat untuk suatu tujuan tertentu. Tujuan inilah yang membedakan indeks yang satu dengan yang lain, diantaranya: 1. Untuk menentukan klasifikasi maloklusi menggunakan klasifikasi Angle. 2. Keperluan epidemiologi yaitu Epidemiological Registration of Malocclusion, Indeks oleh WHO.

3. Mengukur kebutuhan perawatan yaitu, Treatment Priority Index, Handicapping labio-lingual deviations (HLD) index, Handicapping Malocclusion Assesment Record (HMAR), dan Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN). 4. Estetik dento-fasial yaitu Photographic Index dan Dental Aesthetic Index (DAI), SCAN Index. 5. Menentukan keberhasilan perawatan yaitu Occlusal Index, Peer Assesment Rating (PAR Index) dan ABOs Objective Grading System (OGS). 6. Menentukan keberhasilan perawatan dan kebutuhan perawatan yaitu Index of Complexity, Outcome and Need (ICON).

Manfaat Indeks maloklusi yaitu dapat dinilai beberapa hal yang menyangkut maloklusi, misalnya prevalensi, keparahan maloklusi, dan hasil perawatan. Indeks maloklusi mencatat keadaan maloklusi dalam suatu format kategori atau numerik sehingga penilaian suatu maloklusi bisa objektif. Banyak sekali indeks maloklusi yang telah dibuat tetapi belum ada indeks yang dapat diterima oleh semua pengguna. Tiga indeks yang cukup banyak digunakan akhir-akhir ini adalah IOTN, PAR Index dan ICON (Rahardjo, 2009). 1. Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN) Salah satu indeks yang menjadi acuan dalam perawatan ortodonti adalah Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN). IOTN merupakan sebuah sistem skoring untuk maloklusi, dikembangkan oleh Brook & Shaw (1989). IOTN berfungsi sebagai indeks untuk mengukur kebutuhan perawatan, dapat juga dipakai untuk mengukur keberhasilan perawatan. Indeks ini terdiri dari dua buah komponen yaitu Dental Health Component (DHC) dan Aesthetic Component (AC). Dalam penggunaannya, Dental Health Component dipergunakan terlebih dahulu, baru kemudian Aesthetic Component (AC). Dental Health Component diajukan untuk mengatasi subyektifitas pengukuran dengan batas ambang yang jelas; tingkatan derajat DHC menunjukkan berapa besar prioritas untuk perawatan, dengan perincian sebagai berikut: skor 1-2: tidak perlu perawatan/perawatan ringan skor 3: perawatan borderline/sedang skor 4-5: sangat memerlukan perawatan

Untuk membantu pengukuran DHC digunakan penggaris plastik yang transparan dimana pada penggaris tersebut berisi semua informasi yang diperlukan.

Gambar 1. Penggaris IOTN Aesthetic Component terdiri dari 10 foto berwarna yang menunjukkan tingkatan derajat yang berbeda dari penampilan estetik susunan geligi. Dengan mengacu pada gambar ini, derajat penampilan estetik gigi dari pasien dapat dinilai dalam salah satu tingkatan derajat tertentu. Tingkat 1 menunjukkan susunan gigi yang paling menarik dari sudut estetik geligi, sedangkan tingkat 10 menunjukkan susunan geligi yang paling tidak tidak menarik. Dengan demikian skor ini merupakan refleksi dari kelainan estetik susunan geligi.

Gambar 2. Komponen estetik IOTN

Tingkatan derajat keparahan dari Aesthetic Component adalah sebagai berikut: skor 1-4: tidak perlu perawatan/perawatan ringan skor 5-7: perawatan borderline/sedang skor 8-10: sangat memerlukan perawatan

Skor akhir didapatkan dari rerata Dental Health Component dan Aesthetic Component tetapi Dental Health Component saja lebih sering digunakan. Aesthetic Component dianggap terlalu subyektif terutama bila digunakan untuk memeriksa maloklusi kelas III atau gigitan terbuka anterior karena foto-foto yang ada mencerminkan maloklusi kelas I dan kelas II. 2. PAR Index The Peer Assement Rating Index (PAR Index) dikembangkan oleh Richmond dkk. (1992), digunakan untuk membandingkan maloklusi sebelum dan sesudah perawatan dalam menentukan evaluasi standar kualitas hasil perawatan. Indeks PAR dikembangkan khusus untuk model studi. Cara pengukuran dilakukan dengan dua cara, yaitu menghitung pengurangan bobot indeks PAR sebelum dan sesudah perawatan dan menghitung persentase pengurangan bobot indeks PAR sebelum dan sesudah perawatan. Pengukuran pada model sebelum dan sesudah perawatan dilakukan dengan penggaris khusus indeks PAR. Komponen yang diperiksa beserta bobotnya adalah: berdesakan yang ditunjukkan adanya pergeseran titik kontak (bobot 1) relasi gigi posterior dalam jurusan sagital, transversal dan vertikal (bobot 1) jarak gigit (bobot 6) tumpang gigit (bobot 2) pergeseran garis median (bobot 4) Skoring ditentukan dengan penggaris khusus yang dibuat untuk indeks ini dan dilakukan pada model sebelum dan sesudah perawatan. Skor akhir merupakan akumulasi dari tiap komponen yang diskor. Penggolongan keparahan maloklusi berdasar skor adalah sebagai berikut: 0 : oklusi ideal 1-16 : maloklusi ringan

17-32 : maloklusi sedang 33-48 : maloklusi parah >48 : maloklusi sangat parah

Besarnya skor awal (sebelum perawatan) menunjukkan keparahan maloklusi. Perbedaan skor sebelum dan sesudah perawatan menunjukkan besarnya keberhasilan perawatan perawatan. Perbedaan skor dinyatakan dalam persen dan suatu standar keberhasilan perawatan yang baik adalah apabila terjadi penurunan skor lebih besar daripada 30% atau apabila dinyatakan dalam angka perbedaan skor adalah lebih besar dari 22. Kekurangan pernyataan keberhasilan perawatan dengan persen adalah apabila skor awal kecil sehingga tidak mencerminkan adanya perubahan yang nyata sesudah perawatan. 3. ICON Menurut Daniels dan Richmond (2000) indeks ini dapat dikatakan sebagai gabungan antara IOTN dan PAR Indeks. Komponen-komponen tertentu diskor dengan pembobotan sebagai berikut : Aesthetic component IOTN (bobot 7) Adanya berdesakan di rahang atas (bobot 5) Gigitan silang (bobot 5) Tumpang gigit (bobot 4) Relasi gigi posterior kiri dan kanan (bobot 3) Skor total awal yang diperoleh merupakan gambaran kompleksitas dan kebutuhan perawatan. Skor diatas 43 menunjukkan adanya kebutuhan perawatan dapat dibaca sebagai berikut: Mudah Ringan Moderat Sukar Sangat Sukar < 29 29-50 51-63 64-77 >77

Setelah selesai perawatan, kasus tersebut diskor lagi dan perbedaan skor sebelum dan sesudah perawatan menunjukkan hasil perawatan yang dinyatakan dengan rumus:

derajad perbaikan = skor sebelum perawatan (4 x skor sesudah perawatan) Keberhasilan perawatan digolongkan sebagai berikut: Terjadi perubahan besar Sangat berubah Cukup berubah Sedikit berubah Tidak berubah sama sekali >-1 -25 sampai -1 -53 sampai -26 -85 sampai -54 < -85

Kekurangan dari indeks ini adalah Aesthetic component IOTN diberi bobot terbesar sehingga tidak banyak digunakan. Index of Complexity, Outcome and Need (ICON) ini memiliki beberapa kelemahan antara lain pemberian bobot yang besar pada Aesthetic Component IOTN. Selain itu, indeks ini tidak menilai overjet, hanya over bite. Sedangkan kelebihan dari indeks ini adalah mudah untuk digunakan dan juga dapat digunakan pada pasien maupun model studi.

DAFTAR PUSTAKA Raharjo, Pambudi. 2009. Ortodonti Dasar. Surabaya : Airlangga University Press. Desmar, Deddy. Penggunaan Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN) sebagai evaluasi hasil perawatan dengan peranti lepasan. Orthodontic Dental Journal, Vol. 2 No. 1 Hal. 45-48. Mulyana, DH. 2010. The Use of Index of Orthodontic Treatment Need and Dental Aesthestic Index. Orthodontic Dental Journal, Vol. 1 No. 2.