Anda di halaman 1dari 44

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Visi Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah memandirikan masyarakat untuk hidup sehat dengan misi membuat rakyat sehat. Guna mewujudkan visi dan misi tersebut berbagai program kesehatan telah dikembangkan termasuk pelayanan kesehatan di rumah. Pelayanan kesehatan di rumah merupakan program yang sudah ada dan perlu dikembangkan, karena telah menjadi kebutuhan masyarakat, Salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dan memasyarakat serta menyentuh kebutuhan masyarakat yakni melalui pelayanan keperawatan Kesehatan di rumah atau Home Care. Berbagai faktor yang mendorong perkembangannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat yaitu melalui pelayanan keperawatan kesehatan di rumah. Hasil kajian Depkes RI tahun 2000 diperoleh hasil : 97,7 % menyatakan perlu dikembangkan pelayanan kesehatan di rumah, 87,3 % mengatakan bahwa perlu standarisasi tenaga, sarana dan pelayanan, serta 91,9 % menyatakan pengelola keperawatan kesehatan di rumah memerluka ijin oprasional. Berbagai faktor yang mendorong perkembangan pelayanan keperawatan kesehatan dirumah atara lain : Kebutuhan masyarakat, perkembangan IPTEK bidang kesehatan, tersedianya SDM kesehatan yang mampu memberi pelayanan kesehatan di rumah.Home care ini sangat cocok jika diberikan kepada pasien dengan penyakit kronis yang tak kunjung sembuh.

Hampir dua dekade perawat Indonesia mengkampanyekan perubahan paradigma. Pekerjaan perawat yang semula vokasional hendak digeser menjadi pekerjaan profesional. Perawat yang dulunya berfungsi sebagai perpanjangan tangan dokter, kini berupaya menjadi mitra sejajar dokter sebagaimana para perawat di negara maju. Siapkah pihak lain menerima perubahan paradigma itu? Siapkah para perawat menerima konsekuensi dari perubahan paradigma itu?Wacana tentang perubahan paradigma keperawatan bermula dari Lokakarya Nasional Keperawatan I tahun 1983. Dalam pertemuan itu disepakati bahwa keperawatan adalah pelayanan profesional.

Pelayanan keperawatan didefinisikan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat, keluarga, kelompok khusus, individu, dan sebagainya, pada setiap tingkat, sepanjang siklus kehidupan pasien.
Mengikuti perkembangan keperawatan dunia, para perawat menginginkan perubahan mendasar dalam kegiatan profesinya. Kalau tadinya hanya membantu pelaksanaan tugas dokter, menjadi bagian dari upaya mencapai tujuan asuhan medis, kini mereka menginginkan pelayanan keperawatan mandiri sebagai upaya mencapai tujuan asuhan keperawatan.

Jika dulu hanya menjalankan perintah dokter, sekarang ingin diberi wewenang memutuskan berdasarkan ilmu keperawatan dan bekerja sama dengan dokter untuk menetapkan apa yang terbaik bagi pasien.

Keluarnya Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, UU No 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta Surat Keputusan Menteri Kesehatan No 2

647/2000 tentang registrasi dan praktik keperawatan lebih mengukuhkannya sebagai profesi di Indonesia.

Tuntutan perubahan paradigma ini tentu mengubah sebagian besar bentuk hubungan perawat dengan manajemen organisasi tempat kerja (rumah sakit, puskesmas), dokter, serta pasien. Jika praktik keperawatan dilihat sebagai praktik profesi, maka harus ada otoritas atau kewenangan. Ada kejelasan batasan, siapa melakukan apa. Karena diberi kewenangan maka perawat bisa digugat, perawat harus bertanggung jawab terhadap tiap keputusan dan tindakan yang dilakukan.

Perawat harus diberi kesempatan untuk mengambil keputusan secara mandiri didukung oleh pengetahuan dan pengalaman di bidang keperawatan. Namun demikian, tidak ada satu pun masalah kesehatan yang hanya diatasi dengan salah satu disiplin ilmu, karenanya kerja sama dengan pelbagai profesi lain tetap sangat penting.

Peran lain perawat adalah melakukan advokasi, membela kepentingan pasien. Saat ini keputusan pasien dipulangkan sangat tergantung kepada putusan dokter. Dengan keunikan pelayanan keperawatan, perawat berada dalam posisi untuk bisa menyatakan kapan pasien bisa pulang atau kapan pasien harus tetap tinggal. Perawat juga berperan memberikan informasi sejelas-jelasnya bagi pasien.

Untuk bisa bekerja secara profesional diperlukan sarana dan prasarana kerja yang memadai. Perlu iklim kerja yang kondusif dengan budaya organisasi yang mendukung dalam berinteraksi dengan tenaga kesehatan lain serta budaya organisasi yang memfasilitasi kerja sama dengan pasien. 3

Struktur organisasi hendaknya bisa memfasilitasi kewenangan bagi perawat dalam membuat keputusan. Untuk bisa bekerja secara tenang dan maksimal, diperlukan proteksi terhadap risiko kerja dan tindak kekerasan. Konsekuensi dari perkembangan itu harus ada jenjang karier dan pengembangan staf yang tertata baik, imbalan jasa, insentif serta sistem penghargaan yang sesuai dan memadai.

Dalam hal persiapan peraturan, Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menyatakan sudah menyelesaikan konsep lingkup praktik keperawatan, standar praktik keperawatan, serta standar kompetensi tiap kategori keperawatan. Rancangan UndangUndang Keperawatan juga sudah selesai, tinggal dibahas di tingkat departemen kemudian diteruskan ke DPR.

Dari adanya dukungan di atas maka model-model praktik keperawatan profesional pun akan segera diwujudkan. Sejauh ini sudah diidentifikasi bentuk-bentuk praktik keperawatan mandiri, seperti praktik di rumah sakit, kunjungan rumah (home care), lembaga/rumah perawatan (nursing home), praktik berkelompok serta praktik individu. Pelayanan home care akan memudahkan pelayanan kesehatan kepada klien dan keluarga.

Home Care dilatarbelakangi, salah satunya, oleh permintaan keluarga penderita yang diharuskan opname, namun tempat di Rawat Inap penuh, sementara untuk ke RSU merasa keberatan dalam hal biaya. Adakalanya pelayanan home care bagi penderita kasus terminal, yakni kondisi penyakit yang dianggap tidak punya harapan lagi (dari sisi medis) dan tidak diterima di RS manapun.

Landasan Hukum 1. UU Kes.No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan 2. PP No. 25 tahun 2000 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah. 3. UU No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah 4. UU No. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran 5. Kepmenkes No. 1239 tahun 2001 tentang regestrasi dan praktik perawat 6. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang kebijakan dasar puskesmas 7. Kepmenkes No. 279 tahun 2006 tentang pedoman penyelenggaraan Perkesmas. 8. SK Menpan No. 94/KEP/M. PAN/11/2001 tentang jabatan fungsonal perawat. 9. PP No. 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan 10. Permenkes No. 920 tahun 1986 tentang pelayan medik swasta

1.2 Tujuan Home Care Tujuan Umum :

Meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga


Tujuan Khusus:

1. Terpenuhi kebutuhan dasar ( bio-psiko- sosial- spiritual ) secara mandiri. 2. Meningkatkan kemandirian keluarga dalam pemeliharaan kesehatan. 3. Meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan kesehatan di rumah

BAB II PEMBAHASAN A. KONSEP DASAR HOME CARE 1. PENGERTIAN Menurut Habbs dan Perrin (1985), home care adalah layanan kesehatan yang dilakukan di rumah pasien (Lerman D. & Eric B.L, 1993). Pelayanan kesehatan di rumah (home care) adalah pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasien di rumahnya, yang merupakan sintesa dari pelayanan keperawatan komunitas dan keterampian teknikal tertentu yang berasal dari spesalisasi kesehatan tertentu, yang befokus pada asuhan keperawatan individu dengan melibatkan keluarga, dengan tujuan menyembuhkan, mempertahankan dan meningkatkan kesehatan fisik, mental/ emosi pasien.

2. SEJARAH PERKEMBANGAN HOME CARE a. Di luar negeri Di Amerika, home care yang terorganisasikan dimulai sejak sekitar tahun 1880- an, dimana saat itu banyak sekali penderita penyakit infeksi dengan angka kematian yang tinggi. Meskipun pada saat itu telah banyak didirikan rumah sakit modern, namun pemanfaatannya masih sangat rendah, hal ini dikarenakan masyarakat lebih menyukai perawatan dirumah. Kondisi ini berkembang secara professional, sehingga pada tahun 1900 terdapat 12.000 perawat terlatih di seluruh USA (Visiting Nurses / VN ; memberikan asuhan keperawatan dirumah

pada keluarga miskin, Public Health Nurses, melakukan upaya promosi dan prevensi untuk melindungi kesehatan masyarakat, serta Perawat Praktik Mandiri yang melakukan asuhan keperawatan pasien dirumah sesuai kebutuhannya). (Lerman D. & Eric B.L, 1993).

Sejak tahun 1990-an institusi yang memberikan layanan home care terus meningkat sekitar 10% perthun dari semula layanan hanya diberikan oleh organisasi perawat pengunjung rumah (VNA = Visiting Nurse Association) dan pemerintah, kemudian berkembang layanan yang berorientasi profit (Proprietary

Agencies) dan yang berbasis RS (Hospital Based Agencies) Kondisi ini terjadi
seiring dengan perubahan system pembayaran jasa layanan Home Care (dapat dibayar melalui pihak ke tiga / asuransi) dan perkembangan spesialisasi di berbagai layanan kesehatan termasuk berkembangnya Home Health Nursing yang merupakan spesialisasi dari Community Health Nursing (Allender & Spradley, 2001)

Home Care berkembang secara professional selama pertengahan abad 19, dengan mulai berkembangnya District Nursing, yang pada awalnya dimulai oleh para Biarawati yang merawat orang miskin yang sakit dirumah. Kemudian merek mulai melatih wanita dari kalangan menengah ke bawah untuk merawat orang miskin yang sakit, dibawah pengawasan Biarawati tersebut (Walliamson, 1996 dalam Lawwton, Cantrell & Harris, 2000). Kondisi ini terus berkembang sehingga pada tahun 1992 ditetapkan peran District Nurse (DN) adalah :

Merawat orang sakit dirumah, sampai klien mampu mandiri Merawat orang sakaratul maut dirumah agar meninggal dengan nyaman dan damai Mengajarkan ketrampilan keperawatan dasar kepada klien dan keluarga, agar dapat digunakan pada saat kunjungan perawat telah berlalu. Selain District Nurse (DN juga muncul perawat Health Visitor (HV) yang berperan sebagai District Nurse (DN) ditambah dengan peran lain ialah :

Melakukan penyuluhan dan konseling pada klien, keluarga maupun masyarakat luas dalam upaya pencegahan penyakit dan promosi kesehatan Memberikan saran dan pandangan bagaimana mengelola kesehatan dan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi setempat. b. Di dalam negeri Di Indonesia, layanan Home Care sebenarnya bukan merupakan hal yang baru, karena merawat pasien di rumah baik yang dilakukan oleh anggota keluarga yang dilatih dan atau oleh tenaga keperawatan melalui kunjungan rumah secara perorangan, adalah merupakan hal biasa sejak dahulu kala. Sebagai contoh dapat dikemukakandalam perawatan maternitas, dimana RS Budi Kemulyaan di Jakarta yang merupakan RS pendidikan Bidan tertua di Indonesia, sejak berdirinya sampai sekitar tahun 1975 telah melakukan program Home Care yang disebut dengan Partus Luar. Dalam layanan Partus Luar, bidan dan siswa bidan RS Budi Kemulyaan melakukan pertolongan persalinan normal dirumah pasien, kemudian

diikuti dengan perawatan nifas dan neonatal oleh siswa bidan senior (kandidat) sampai tali pusat bayi puput (lepas). Baik bidan maupun siswa bidan yang melaksanakan tugas Partus Luar dan tindak lanjutnya, harus membuat laporan tertulis kepada RS tentang kondisi ibu dan bayi serta tindakan yang telah dilakukan. Kondisi ini terhenti seiring dengan perubahan kebijakan Depkes yang memisahkan organisasi pendidikan dengan pelayanan. 3. FUNGSI HOME CARE Akhir-akhir ini Home Care (HC) mendapat perhatian karena berbagai alasan, antara lain yaitu : a. Bagi Klien dan Keluarga Program Home Care (HC) dapat membantu meringankan biaya rawat inap yang makin mahal, karena dapat mengurangi biaya akomodasi pasien, transportasi dan konsumsi keluarga Mempererat ikatan keluarga, karena dapat selalu berdekatan pada saat anggoa keluarga ada yang sakit Merasa lebih nyaman karena berada dirumah sendiri Makin banyaknya wanita yang bekerja diluar rumah, sehingga tugas merawat orang sakit yang biasanya dilakukan ibu terhambat oleh karena itu kehadiran perawat untuk menggantikannya b. Bagi Perawat Memberikan variasi lingkungan kerja, sehingga tidak jenuh dengan lingkungan yang tetap sama.

Dapat mengenal klien dan lingkungannya dengan baik, sehingga pendidikan kesehatan yang diberikan sesuai dengan situasi dan kondisi rumah klien, dengan begitu kepuasan kerja perawat akan meningkat.. 4. RUANG LINGKUP HOME CARE
a. Memberi asuhan keperawatan secara komprehensif. b. Melakukan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarganya. c. Mengembangkan pemberdayaan pasien dan keluarga.

Menurut Rice R (2001) jenis kasus yang dapat dilayani pada perawatan kesehatan di
rumah meliputi kasus-kasus yang umum pasca perawatan di rumah sakit dan kasuskasus khusus yang di jumpai di komunitas.Kasus umum yang merupakan pasca perawatan di rumah sakit adalah: 1. Klien dengan penyakit gagal jantung, 2. Klien dengan gangguan oksigenasi, 3. Klien dengan perlukaan kronis, 4. Klien dengan diabetes, 5. Klien dengan gangguan fungsi perkemihan, 6. Klien dengan kondisi pemulihan kesehatan atau rehabilitasi, 7. Klien dengan terapi cairan infus di rumah, 8. Klien dengan gangguan fungsi persyarafan, 9. Klien dengan HIV/AIDS. Sedangkan kasus dengan kondisi khusus, meliputi : 1. Klien dengan post partum, 10

2. Klien dengan gangguan kesehatan mental, 3. Klien dengan kondisi usia lanjut, 4. Klien dengan kondisi terminal. 5. Klien dengan penyakit obstruktif paru kronis, 5. PRINSIP HOME CARE a. Pengelolaan home care dilaksanakan oleh perawat/ tim. b. Mengaplikasikan konsep sebagai dasar mengambil keputusan dalam praktik.. c. Mengumpulkan data secara sistematis, akurat dan komprehensif. d. Menggunakan data hasil pengkajian dalam menetakan diagnosa keperawatan e. Mengembangkan rencana keperawatan didasarkan pada diagnosa keperawatan. f. Memberi pelayanan preventif, kuratif, promotif dan rehabilitatif. g. Mengevaluasi respon pasien dan keluarganya dalam intervensi keperawatan h. Bertanggung jawab terhadap pelayanan yang bermutu melalui manajemen kasus. i. Memelihara dan menjamin hubungan baik diantara anggota tim. j. Mengembankan kemampuan profesional. k. Berpartisipasi pada kegiatan riset untuk pengembangan home care. l. Menggunakan kode etik keperawatan daam melaksanakan praktik keperawatan. 6. PERAN DAN FUNGSI PERAWAT HOME CARE
a. Manajer kasus : Mengelola dan mengkolaborasikan pelayanan,dengan fungsi:

Mengidentifikasi kebutuhan pasien dan keluarga. Menyusun rencana pelayanan. Mengkoordinir aktifitas tim

11

Memantau kualitas pelayanan


b. Pelaksana :

memberi pelayanan langsung dan mengevaluasi pelayanan. dengan fungsi: : Melakukan pengkajian komprehensif Menetapkan masalah Menyusun rencana keperawatan Melakukan tindakan perawatan Melakukan observasi terhadap kondisi pasien. Membantu pasien dalam mengembangkan prilaku koping yang efektif. Melibatkan keluarga dalam pelayanan Membimbing semua anggota keluarga dalam pemeliharaan kesehatan. Melakukan evaluasi terhadap asuhan keperawatan. Mendokumentasikan asuhan keperawatan. 7. KEGIATAN HOME CARE Manajemen Kasus Home Care, meliputi:
a. Melakukan seleksi kasus

Resiko tinggi ( Bayi, balita, lansia, ibu maternal. Cidera tulang belakang cidera kepala. Koma, Diabetes mellitus, gagal jantung, asma berat. Stroke Amputasi Ketergantungan obat

12

Luka kronis
Disfungsi kandung kemih Rehabilitasi medic Nutrisi melalui infuse Post partum dan masalah reproduksi Psikiatri Kekerasan dalam rumah tangga b. Melakukan pengkajian kebutuhan pasien.

Kondisi fisik dan psikologis Status sosial ekonomi Pola prilaku pasien Sumber- sumber yang tersedia di keluarga pasien
c. Membuat perencanaan pelayanan

Membuat rencana kunjungan Membuat rencana tindakan Menyeleksi sumber- sumber yang tersedia di keluarga / masyarakat.
d. Melakukan koordinasi pelayanan

Memberi informasi berbagai macam pelayanan yang tersedia Membuat perjanjian kepada pasien da keluarga tentang pelayanan Mengkoordinasikan kegiatan tim sesuai jadwal Melakukan rujukan pasien
e. Melakukan pemantauan dan evaluasi pelayanan.

13

Memonitor tindakan yang dilakukan oleh tim Menilai hasil akhir pelayanan ( sembuh, rujuk, meninggal, menolak ) Mengevaluasi proses manajemen kasus Monitoring dan evaluasi kepuasan pasien secara teratur 8. JENIS INSTITUSI PEMBERI LAYANAN HOME CARE Ada beberapa jenis institusi yang dapat memberikan layanan Home Care (HC), antara lain: a. Institusi Pemerintah Di Indonesia pelayanan Home Care (HC) yang telah lama berlangsung dilakukan adalah dalam bentuk perawatan kasus/keluarga resiko tinggi (baik ibu, bayi, balita maupun lansia) yang akan dilaksanakan oleh tenaga keperawatan puskesmas (digaji oleh pemerintah). Klien yang dilayani oleh puskesmas biasanya adalah kalangan menengah ke bawah. Di Amerika hal ini dilakukan oleh Visiting Nurse (VN) b. Institusi Sosial Institusi ini melaksanakan pelayanan Home Care (HC) dengan sukarela dan tidak memungut biaya. Biasanya di lakukan oleh LSM atau organisasi keagamaan dengan penyandang dananya dari donatur, misalnya Bala Keselamatan yang melakukan kunjungan rumah kepada keluarga yang membutuhkan sebagai wujud pangabdian kepadan Tuhan. c. Institusi Swasta

14

Institusi ini melaksanakan pelayanan Home Care (HC) dalam bentuk praktik mandiri baik perorangan maupun kelompok yang menyelenggarakan pelayanan HC dengan menerima imbalan jasa baik secara langsung dari klien maupun pembayaran melalui pihak ke tiga (asuransi). Sebagaimana layaknya layanan kesehatan swasta, tentu tidak berorientasi not for profit service d. Home Care (HC) Berbasis Rumah Sakit (Hospital Home Care) Merupakan perawatan lanjutan pada klien yang telah dirawat dirumah sakit, karena masih memerlukan bantuan layanan keperawatan, maka dilanjutkan dirumah. Alasan munculnya jenis program ini selain apa yang telah dikemukakan dalam alasan Home Care (HC) diatas, adalah : Ambulasi dini dengan resiko memendeknya hari rawat, sehingga kesempatan untuk melakukan pendidikan kesehatan sangat kurang (misalnya ibu post partum normal hanya dirawat 1-3 hari, sehingga untuk mengajarkan bagaimana cara menyusui yang baik, cara merawat tali pusat bayi, memandikan bayi, merawat luka perineum ibu, senam post partum, dll) belum dilaksanakan secara optimum sehingga kemandirian ibu masih kurang. Menghindari resiko infeksi nosokomial yang dapat terjadi pada klien yang dirawat dirumah sakit. Makin banyaknya penyakit kronis, yang bila dirawat di RS tentu memerlukan biaya yang besar Perlunya kesinambungan perawatan klien dari rumah sakit ke rumah, sehingga akan meningkatkan kepuasan klien maupun perawat. Hasil

15

penelitian dari Suharyati staf dosen keperawatan komunitas PSIK Univ. Padjajaran Bandung di RSHS Bandung menunjukkan bahwa konsumen RSHS cenderung menerima program HHC (Hospital Home Care) dengan alasan; lebih nyaman, tidak merepotkan, menghemat waktu & biaya serta lebih mempercepat tali kekeluargaan (Suharyati, 1998)

9. POPULASI, JENIS DAN PEMBERI LAYANAN HOME CARE a. Populasi layanan Populasi layanan Home Care (HC) di Amerika didominasi oleh wanita (66,8%). Meskipun program Home Care (HC) diperuntukkan untuk semua umur, tetapi mayoritas klien berusia 65 tahun atau lebih (Allender & Spradley, 2001). Pengalaman Home Health Care (HHC) oleh Suharyati staf dosen keperawatan komunitas PSIK Univ. Padjajaran Bandung di RS Al-Islam Bandung (yang dimulai sejak 1995) juga menunjukkan kondisi yang sama, dimana pada triwulan I tahun 2002 klien wanita lebih banyak dari pria dan kelompok usia lanjut juga mendominasi layanan HHC di RS Al-Islam Bandung (Maya H, 2002). Hal ini mungkin disebabkan karena populasi wanita lebih banyak dan umur harapan hidup wanita lebih panjang dari pria serta para lansia yang cenderung untuk lebih mudah terserang penyakit. b. Jenis layanan

16

Mengingat HC dalam keperawatan merupakan spesialisasi dari keperawatan komunitas (Blackie, 1998), maka jenis layanan yang diberikan meliputi layanan keperawatan (diagnosa dan perlakuan terhadap respon manusia yang menghadapi masalah kesehatan baik potensial maupun actual dalam memenuhi kebutuhan dasarnya) dan layanan kesehatan masyarakat (prevensi primer, sekunder dan tersier). Di Amerika jenis kasus yang dirawat di rumah menurut Allender & Spradley 2001 adalah : Penyakit jantung Penyakit/gangguan system muskuloskeletal dan jaringan pengikat Penyakit Diabetes Mellitus Penyakit system pernafasan Luka Keracunan Sedangkan jenis kasus yang dirawat di unit HHC RS Al-Islam Bandung dalam triwuln I tahun 2002 (Maya H, 2002) adalah : Pasca stroke Pasca bedah Diabetes Mellitus Kasus terminal c. Pemberi layanan Pemberi layanan keperawatan di rumah terdiri dari dua jenis tenaga, yaitu :

17

Tenaga informal Tenaga informal adalah anggota keluarga atau teman yang memberikan layanan kepada klien tanpa dibayar. Diperkirakan 75% lanjut usia di Amerika dirawat oleh jenis tenaga ini (Allender & Spradley, 2001) Tenaga formal Tenaga formal adalah perawat yang harus bekerja bersama keluarga untuk menyelesaikan masalah kesehatan, sehingga harus memperhatikan semua aspek kehidupan keluarga. Oleh karena itu perawat di masyarakat dituntut untuk mampu berfikir kritis dan menguasai ketrampilan klinik dan harus seorang RN. Dengan demikian diharapkan perawat dapat memberikan layanan sesuai dengan standard yang telah ditetapkan.

10. STANDAR PRAKTIK HOME HEALTH NURSING (HHN) Asosiasi perawat Amerika (1999) telah menetapkan lingkungan dan standar Home Health Nursing yang meliputi standar asuhan keperawatan dan standar kinerja professional (Allender & Spradley, 2001) a. Standard Asuhan Keperawatan Standard I, Perawat mengumpulkan data kesehatan klien Standard II, Dalam menetapkan diagnosa keperawatan, perawat melakukan analisa terhadap data yang telah terkumpul

18

Standard III, Perawat mengidentifikasi hasil yang diharapkan baik dari klien maupun lingkungannya Standard IV, Perawat mengembangkan rencana asuhan keperawatan dengan menetapkan intervensi yang akan dilakukan untuk mencapai hasil yang diharapkan Standard V, Perawat melaksanakan rencana intervensi yang telah di tetapkan dalam perencanaan Standard VI, Perawat melakukan evaluasi terhadap kemajuan klien yang mengarah ke pencapaian hasil yang diharapkan. b. Standard Kinerja Profesional (professional performance) Standard I, Kualitas asuhan keperawatan, perawat melakukan evaluasi terhadap kualitas dan efektifitas praktik keperawatan secara sistematis Standard II, Performance Appraisal, perawat melakukan evaluasi diri sendiri terhadap praktik keperawatan yang dilakukannya dihubungkan dengan standar praktik professional, hasil penelitian ilmiah dan peraturan yang berlaku Standard III, Pendidikan, perawat berupaya untuk selalu meningklatkan pengetahuan dan kemampuan dirinya dalam praktik keperawatan Standard IV, Kesejawatan, perawat berinteraksi dan berperan aktif dalam pengembangan professionalism sesama perawat dan praktisi kesehatan lainnya sebagai sejawat

19

Standard V, Etika, putusan dan tindakan perawat terhadap klien berdasarkan pada landasan etika profesi Standar VI, Kolaborasi, dalam melaksanakan asuhan keperawatan, perawat berkolaborasi dengan klien, keluarga dan praktisi kesehatan lain. Standar VII, Penelitian, dalam praktiknya, perawat menerapkan hasil penelitian Standard VIII, Pemanfaatan sumber, perawat membantu klien atau keluarga untuk memahami resiko, keuntungan dan biaya perencanaan dan pelaksanaan asuhan keperawatan . c. Standar praktik keperawatan di Indonesia telah selesai disusun dan disepakati oleh pimpinan PPNI, saat ini sedang menunggu pengesahan dari Depkes RI.

11. PERENCANAAN INSTITUSI HOME CARE SWASTA Institusi HC swasta dapat didirikan baik secara individu maupun kelompok, baik untuk satu jenis layanan maupun layanan yang bervariasi. Untuk itu diperlukan perencanaan yang berdasarkan kebutuhan pasar. Perencanaan

berdasarkan kebutuhan pasar mengharuskan kita untuk melakukan analisa eksternal dan internal. a. Analisa eksternal, memperhitungkan kecenderungan kebutuhan pasar baik jenis maupun jumlahnya. Misalnya bila kita berada di daerah yang penduduknya kebanyakan berusia produktif, maka sudah dapat diperkirakan bahwa pasar membutuhkan layanan keperawatan yang berhubungan persoalan reproduksi,

20

bayi serta balita. Analisa eksternal juga melihat pesaing yang ada disekitar daerah tersebut, baik dalam jumlah, jenis maupun kondisinya. b. Analisa internal, melihat pada ketersediaan sumber (alam, manusia dan dana) baik yang actual maupun potensial. Selain ketersediaan dana juga perlu dianalisa komitmen personil yang ada terhadap rencana pembentukan institusi HC. Komitmen personil merupakan persyaratan mutlak yang harus dimililki untuk mengawali suatu bisnis yang baru.

Agar pelanggan loyal terhadap suatu institusi HC, maka HC harus memperhatikan hal-hal berikut : Kemudahan (untuk dihubungi, untuk mendapatkan informasi, untuk membuat janji) Selalu tepat janji, penting untuk membina kepercayaan masyarakat pada institusi HC Sesuai dengan standar yang telah di tetapkan, hal ini merupakan ciri professional Bersifat responsive terhadap keluhan, kebutuhan dan harapan klien Mengembangkan hubungan kerja sama secara internal dan eksternal untuk memperbaiki kualitas layanan

Untuk keseragaman dokumentasi HC di Amerika telah dirumuskan Home

Health Care Classification (HHCC) toksonomi (Saba, August, 2002) yang

21

merupakan hasil penelitian berdasarkan diagnosa dan intervensi keperawatan. Untuk masa yang akan datang dapat digunakan untuk dokumentasi, pelacakan elektronik, evaluasi hasil dan analisa HHC setiap saat baik yang berhubungan dengan setting, kelompok populasi maupun letak geografi. Taksonomi tersebut terdiri dari 20 komponen asuhan keperawatan antara lain : a. Komponen perilaku kesehatan Medication Safety Health behavior b. Komponen fungsional Activity Fluid volume Nutritional Self-care Sensory c. Komponen fisiologis Cardiac Respiratory Metabolic Physical regulation Skin integrity Tissue perfusion

22

Bowel elimination Urinary elimination d. Komponen psikologis Cognitive Coping Role relationship Self concept.

B. ASUHAN KEPERAWATAN HOME CARE 1. Pengkajian a. Riwayat kesehatan b. Keadaan sosial budaya c. Spiritual d. Pemeriksaan fisik e. Kemampuan pasien dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari f. Kemampuan keluarga dalam merawat keluarga 2. Diagnosa keperawatan a. Aktual b. Resiko c. Potensial 3. Intervensi keperawatan a. Penentuan prioritas masalah

23

b. Menentukan tujuan c. Menyusun rencana secara komprehensif 4. Implementasi a. Manajemen perawatan luka b. Perawatan gangguan sistem pernapasan c. Perawatan gangguan eliminasi d. Perawatan gangguan nutrisi e. Kegiatan rehabilitasi f. Pelaksanaan pengobatan g. Tindakan kolaborasi 5. Evaluasi a. Mengukur efektifitas dan efesiensi pelayanan b. Dilaksanakan selama proses dan akhir pemberian asuhan. 6. Pencatanan dan Pelaporan home care Pencatatan Manajemen kasus a. Persetujuan pasien b. Jadwal kunjungan c. Lembar pengobatan d. Tindakan tim e. Rujukan kasus f. Penghentian perawatan

24

7. Pencatatan pelaksanaan asuhan keperawatan a. Pengkajian keperawatan b. Perencanaan asuhan c. Evaluasi asuhan 8. Alur Pelaporan a. Home Care b. Dinkes Kab. c. Dinkes Prov d. Depkes 9. Materi laporan a. Jumlah pasien b. Jenis penyakit c. Frekuensi kunjunagn tiap kasus d. Jumlah pasien dapat pengobatan e. Jumlah pasien yang dirujuk f. Jumlah pasien yang meninggal g. Penyebab kematian h. Tingkat keberhasilan /kemandiian pasien i. Jenis tenaga yang memberi pelayanan TATALAKSANA HOME CARE A. Prasyarat Penyelenggara Home Care 1. Ketenagaan 25

a. Manajer kasus, dengan kwalifikasi : -. Minimal D.III -. Pemegang sertifikat pelatihan home care -. Pengalaman kerja minimal 3 tahun -. Memiliki SIP,SIK,SIPP b. Pelaksana pelayanan, dengan kwalifikasi : -. Minimal D.III -. Pemegang sertifikat pelatihan home care -. Pengalaman kerja minimal 3 tahun -. Memiliki SIP,SIK,SIPP 2. Alat/ sarana a. Alat kesehatan -. Tas/ kit -. Pemeriksaan fisik -. Set perawatan luka -. Set emergency -. Set pemasangan selang lambung -. Set huknah -. Set memandikan -. Set pengambilan preparat -. Set pemeriksaan lab. sederhana -. Set infus/ injeksi

26

-. Sterilisator -. Pot/ urinal -. Tiang infus -. Tempat tidur khusus orang sakit -. Pengisap lendir -. Perlengkapan oxigen -. Kursi roda -. Tongkat/ tripot -. Perlak/ alat tenun b. Alat habis pakai -. Obat emergency -. Perawatan luka -. Suntik/ pengamian darah -. Untuk infus -. Pemasagan selang lambung -. Huknah, selang lambung, kateter -. Sarung tangan, masker,dll c. Sarana lain -. Alat dan media pendidikan kesehatan -. Ruangan beserta perlengkapannya -. Kendaraan -. Alat komunikasi

27

-. Alat informasi/ dokumentasi 3. Perijinan Home Care a. Berbadan hukum ( yayasan, badan hukum lainnya ) b. Permohonan ijin ke Dinkes kabupaten/ Kota, dengan melmapirkan: -. Rekomendasi PPNI -. Ijin prakik perawat ( SP, SIK, SIPP ) -. Persyaratan peralatan kesehatan dan sarana komunikasi dan transportasi -. Ijin lokasi bangunan - .Ijin lingkungan -. Ijin usaha -. Persyaratan tata ruang bangunan B. Mekanisma Pelayanan Home Care 1. Proses penerimaan kasus a. Home care menerima pasien dari rumah sakit, puskesmas, sarana lain, keluarga b. Pimpinan home care menunjuk menejer kasus untuk mengelola kasus c. Manajer kasus membuat surat perjanjian dan proses pengelolaan kasus 2. Proses pelayanan home care a. Persiapan -. Pastikan identitas pasien -. Bawa denah/ petunjuk tempat tinggal pasien -. Lengkap kartu identitas unit tempat kerja -. Pastikan perlengkapan pasien untuk di rumah

28

-. Siapkan file asuhan keperawatan -. Siapkan alat bantu media untuk pendidikan b. Pelaksanaan -. Perkenalkan diri dan jelaskan tujuan. -. Observasi lingkungan yang berkaitan dengan keamanan perawat -. Lengkapi data hasil pengkajian dasar pasien -. Membuat rencana pelayanan -. Lakukan perawatan langsung -. Diskusikan kebutuhan rujukan, kolaborasi, konsultasi dll -. Diskusikan rencana kunjungan selanjutnya dan aktifitas yang akan dilakukan -. Dokumentasikan kegiatan c. Monitoring dan evaluasi -. Keakuratan dan kelengkapan pengkajian awal -. Kesesuaian perencanaan dan ketepatan tindakan -. Efektifitas dan efisiensi pelaksanaan tindakan oleh pelaksanan d. Proses penghentian pelayanan home care, dengan kreteria : -. Tercapai sesuai tujuan -. Kondisi pasien stabil -. Program rehabilitasi tercapai secara maximal -. Keluarga sudah mampu melakukan perawatan pasien -. Pasien di rujuk -. Pasien menolak pelayanan lanjutan

29

-. Pasien meninggal dunia C. Pembiayaan Home Care 1. Prinsip penentuan tarip a. Pemerintah/ masyarakat bertanggung jawab dalam memelihara kesehatan b. Disesuaikan dengan kemampuan keuangan dan keadaan sosial ekonomi c. Mempertimbangkan masyarakat bepenghasilan rendah/ asas gotong royong d. Pembayaran dengan asuransi ditetapkan atas dasar saling membantu e. Mencakup seluruh unsur pelayanan secara proporsional 2. Jenis pelayanan yang kena tarip a. Jasa pelayanan tenaga kesehatan b. Imbalan atas pemakaian sarana kesehatan yang digunakan langsung oleh pasien c. Dana transportasi untuk kunjungan pasien PEMANTAUAN, PEMBINAAN DAN PENILAIAN A. Pemantauan Home Care a. Aspek fisik b. Manajerial c. Sumber daya d. Pelayanan e. Pembiayaan B. Pembinaan Home Care a. Aspek fisik b. Manajerial

30

c. Sumber daya d. Pelayanan e. Pembiayaan C. Penilaian Home Care a. Kelengkapan dokumen b. Kesesuaian pelayanan dari berbagai profesi c. Kepuasan pelanggan d. Kemandirian pasien/ keluarga

BAB III

KEORGANISASIAN HOME CARE

Home care (HC) menurut Habbs dan Perrin 1985 merupakan layanan kesehatan yang dilakukan di rumah pasien (Lerman D dan Eric B.L, 1993) Di Amerika Home care sudah terorganisasi mulai sekitar tahun 1880 an, di mana pada saat itu banyak sekali pasien penyakit infeksi dengan angka kematian yang tinggi. Meskipun pada saat itu telah banyak didirikan rumah sakit modern, namun pemanfaatannya masih sangat rendah, karena masyarakat lebih menyukai perawatan di rumah. Kondisi ini berkembang secara profesional, sehingga pada tahun 1900 terdapat 12.000 perawat terlatih di seluruh USA (visiting nurse/VN) memberikan asuhan keperawatan di rumah pada keluarga miskin, public health nurses, melakukan upaya promosi dan prevensi untuk melindungi kesehatan masyarakat, serta perawat praktik 31

mandiri yang melakukan asuhan keperawatan pasien di rumah sesuai dengan kebutuhannya (Lerman D dan Eric B.L, 1993). Di Indonesia layanan home care sebenarnya bukan merupakan hal yang baru karena merawat pasien di rumah sudah dilakukan oleh anggota keluarga maupun oleh perawat sejak jaman dahulu melalui kunjungan rumah. Homecare biasanya digunakan untuk perawatan pada penyakit kronik yang memerlukan perawatan lama dan berbiaya mahal bila dirawat di rumah sakit. Keluarga yang memutuskan untuk melanjutkan perawatan di rumah umumnya didasari pada perhitungan ekonomi atau kemudahan anggota keluarga lain untuk menjenguk dan bertemu pasien serta kenyamanan pasien karena dirawat di rumah akan memberikan rasa aman dan nyaman kepadanya yang sangat berperan penting untuk membantu proses penyembuhannya. Dengan jasa layanan home care ini banyak kemudahan yang akan dirasakan oleh keluarga pasien, misalnya, keluarga pasien dapat dengan mudah memantau perkembangan kesehatan pasien setiap harinya, tanpa perlu bolak balik ke rumah sakit. Setidaknya pihak keluarga akan lebih tenang untuk dapat mengerjakan hal lain. Dalam hal ini, seorang tenaga perawat profesional akan menggantikan keluarga pasien sehari-harinya dalam menemani dan merawat pasien di rumah, secara profesional, sabar, telaten, penuh dedikasi dan bertanggung jawab.

KELEMBAGAAN HOME CARE

32

Secara kelembagaan, home care melekat dengan Rawat Inap (Palaran) sebagai salah satu bentuk layanan medis yakni Rawat Inap yang memiliki hirarki baku. Dalam institusi layanan kesehatan (dalam hal ini milik pemerintah) semua sistem ada aturannya, dan sudah tentu kompetensi medis diserahkan kepada dokter. Selanjutnya dokter dapat mendelegasikan tindakan medis kepada paramedis berdasarkan indikasi dan protap (prosedur tetap). Ini dimaksudkan untuk melindungi pasien dan petugas, sehingga jika terjadi sesuatu berkenaan dengan tindakan medis, dapat dipertanggung jawabkan sesuai undang-undang dan kompetensi. Kecuali jika Homecare tidak ada tindakan medis, maka perawatan bersifat follow up, bisa jadi tidak diperlukan penanggung jawab dokter.

Adanya kelembagaan Home Care mengacu pada UU No. 12 Tahun 1992 dan UU No. 29 tahun 2004, kompetensi tindakan medis (praktek, homecare, klinik, balai pengobatan, RS dan lain-lain) adalah seorang dokter sesuai Ketentuan Konsil Kedokteran Indonesia. Artinya penanggung jawabnya seorang dokter atau dokter gigi (dalam hal perawatan kesehatan gigi dan mulut).

Health home care dilakukan oeh tiga kelompok lembaga berwenang, yaitu: Lembaga Kesehatan di Rumah Bersertifikat (certified home health agency / CHHA); Program Perawatan Kesehatan di Rumah Jangka Panjang (the long-term home health care program (LTHHCP); dan Lembaga Berlisensi. Rinciannya adalah sebagai berikut:

1). Lembaga Kesehatan di Rumah Bersertifikat (CHHA)

Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan bagi individu yang mengalami penyakit akut untuk menerima perawatan terampil yang dibutuhkan di rumah mereka 33

sendiri. CHHA memenuhi kebutuhan individu dengan memberi berbagai jenis pelayanan, termasuk pelayanan keperawatan terampil, terapi wicara, terapi fisik dan terapi okupasi, pelayanan sosial medis, asisten perawatan kesehatan di rumah (HHA), konseling nutrisi, transportasi, peralatan, dan terapi pernapasan.

CHHA juga memiliki program khusus, seperti pelayanan kesehatan mental, pelayanan pediatrik, program untuk anak dan ibu, dan program AIDS, terdapat juga pelayanan berteknologi tinggi seperti terapi intravena, kemoterapi di rumah, dan penatalaksanaan nyeri. CHHA dikenal sebagai program jangka pendek karena pelayanan yang diberikan biasanya singkat.

2). Program Perawatan Kesehatan di Rumah Jangka Panjang (LTHHCP)

Program Perawatan Kesehatan di Rumah Jangka Panjang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan individu yang menderita penyakit kronis di rumah. Merupakan program yang memberikan pelayanan sosial dan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan perawatan kesehatan di rumah dalam waktu yang lama. Biaya pelayanan kesehatan pasien tidak boleh lebih dari 75% biaya rata-rata perawatan institusional jangka panjang di wilayah setempat. Pelayanan keperawatan yang diberikan meliputi terapi fisik, okupasi, dan wicara, pelayanan sosial medis, dukungan nutrisi serta pelayanan perawatan personal.

3). Lembaga Berlisensi

Lembaga berlisensi bukan merupakan lembaga medicare bersertifikat. Lembaga berlisensi dapat memiliki komponen pelayanan profesional yang menyediakan pelayanan 34

terampil yang diberikan CHHA. Lembaga ini juga dapat meniru banyak program khusus CHHA. Bagian perawatan terbesar yang diberikan berasal dan pelayanan perawatan personal. Lembaga berlisensi menyediakan pelayanan profesional, termasuk pengaturan rumah, ibu rumah tangga, pegawai perawatan personal (Personal Care Workers /PCW), dan perawatan seperti yang diberikan HHA

35

STRUKTUR ORGANISASI DAN TUPOKSI

Penanggung Jawab (Dokter)

Ketua umum. (perawat)

Koordinator keuangan. (perawat majemen financial)

Ketua pelayanan. (perawat)

Ketupel 1. (perawat)

Ketupel 2 perawat

Ketupel 3 perawat

PelaksanaPelayanan (tim perawat)

PelaksanaPelayanan (terapi dan,ahli gizi)

PelaksanaPelayanan (farmako dan dokter)

KLIEN

36

Adapun Tupoksi dari organisasi home care ini adalah:

1. Penanggung Jawab a. Bertanggung jawab atas sagala bentuk pelayanan home cara b. Menerima konsultasi dari pelaksanaan home care c. Mengetahui segela bentuk perawtan bagi klien 2. Ketua Umum a. Mengkoordinasikan tim pelayanan b. Mengelola segala bentuk pelayanan yang diberikan c. Melaksanakan pengawasan, pengendalian dan pembinaan terhadap kinerja pelayanan. d. Membuat laporan kegiatan pelayanan 3. Ketua Pelayanan a. Mengkoordinasikan semua kegiatan pelayanan perawatan b. Menjalin komunikasi antar ketua pelaksanaan Home Care c. Melaksanakan pengawasan, pengendalian dan pembinaan pelayanan Home Care. 4. Ketua Pelaksana 1, 2 dan 3 a. Mengkoordinasikan semua kegiatan pelayanan perawatan dengan timnya b. Mengatur proses pelayanan Home Care c. Menjalin kerjasama antar tim d. Menyusun laporan kegiatan pelayanan keperawatan di rumah 5. Pelaksana Pelayanan 1 37

a. Melaksanakan pengkajian dan menentukan diagnosa keperawatan b. Menyusun rencana keperawatan sesuai dengan diagnosa keperawatan c. Melaksanakan intervensi / tindakan keperawatan sesuai rencana yang ditentukan d. Mengevaluasi kegiatan/ tindakan yang diberikan dg. berpedoman pada renpra. e. Membuat dokumentasi tertulis pada rekam kep. setiap selesai melaksanakan tugas f. Memberikan pendidikan kesehatan g. Melakukan usha promotif, preventif dan edukasi. 6. Pelaksana Pelayanan 2 a. Memberikan terapi pada klien b. Memantau perkembangan dan kemampuan klien c. Memberikan pengetahuan keluarga dan klien tentang gizi yang tepet bagi klien 7. Pelaksana Pelayanan 3 a. Memberikan terapi medis yang sesuai b. Menerima konsulan dari tim perawat c. Mendiagnosa kemajuan klien.

HAK DAN KEWAJIBAN KLIEN ATAU KELUARGA DALAM HOME CARE

Klien mempunyai hak untuk diberi informasi secara tertulis sebelum

38

pengobatan diberikan. Klien dan petugas mempunyai hak dan kewajiban untuk saling menghargai dan menghormati. Petugas dilarang menerima pemberian pribadi maupun meminjam sesuatu dari klien.

Klien mempunyai hak untuk :

a. Membina hubungan dengan petugas sesuai dengan standar etik

b. Memperoleh informasi tentang prosedur-prosedur yang harus diikuti

c. Mengekspresikan kesedihan dan ketakutannya

d. Klien mempunyai hak dalam pengambilan keputusan, dalam hal ini klien mempunyai hak untuk diberi tahu secara tertulis tentang pengaturan, jenis pelayanan yang diberikan, dan jumlah kunjungan rumah yang akan dilakukan

e. Klien mempunyai hak untuk memperoleh nasehat-nasehat tentang rencana-rencana perubahan yang akan dilakukan

f. Mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam perencanaan pelayanan keperawatan, perencanaan perubahan pelayanan serta nasehat-nasehat lainnya

g. Klien mempunyai hak untuk menolak rencana perubahan tersebut

39

h. Dalam hal privacy, klien mempunyai hak untuk dijaga kerahasiaan kondisi kesehatannya, hal-hal yang berhubungan dengan sosial ekonomi, serta hal-hal yang dilakukan di rumahnya

i. Perawat atau petugas hanya akan memberikan informasi bila diperlukan secara hukum atau bila diperlukan oleh klien atau keluarganya

j. Dalam hal finansial, klien mempunyai hak untuk diberi informasi tentang biaya yang harus dikeluarkan, memberikan informasi pembiayaan dengan jelas.

k. Klien mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan dengan kualitas yang tinggi, serta berhak mendapat informasi tentang hal-hal yang

berhubungan dengan keadaan emergensi.

Kewajiban Klien :

a. Mematuhi segala perjanjian pelayanan yang telah disepakati b. Bekerja sama seluas mungkin dengan perawat pelaksana perawatan di rumah, ahli terapi, asisten dan pemberian perawatan lain. c. Mengikuti rencana perawatan yang disusun berdasarkan pemahaman, persetujuan dan kerja sama sendiri. d. Membayar biaya perawatan yang telah dilaksanakan.

RENCANA KEGIATAN PERAWATAN KLIEN

40

Rencana kegiatan meliputi beberapa fase, sebagai berikut :

1. Fase persiapan : Pihak keluarga menghubungi pelayanan home care atas rujukan dari rumah sakit. Pada fase ini keluarga hanya perlu menjelaskan masalah yang dialami. 2. Fase implementasi : Ketua Umum menugaskan ketua pelaksana untuk melakukan pengkajian kebutuhan klien dan perawat pelaksana untuk merawat klien. Hasil pengkajian awal sebagai referensi untuk merencanakan kebutuhan klien selanjutnya dan dibuat kesepakatan dengan keluarga (waktu, biaya dan sistem perawatan yang dipilih). Ketua pelaksana memantau pelaksanaan pelayanan keperawatan oleh perawat pelaksana. 3. Fase terminasi : Perawat menyelesaikan tugas sesuai kontrak yang disepakati. Ketua pelaksana menyerahkan rekap peralatan dan biaya selama perawatan. Koordinator administrasi melakukan kunjungan ke keluarga untuk penyelesaian administrasi 4. Fase pasca kunjungan : Evaluasi pelayanan home care pada pasien/keluarga dengan - angket - pertelepon - lewat email 41

- Kunjungan Mengenai : pelayanan perawatan, komunikasi, sarana, dll

PENJADWALAN KUNJUNGAN RUMAH

Penjadwalan kegiatan ditetapkan berdasarakan kesepakatan bersama dengan klien. Jadwala pelaksanaan kegiatan ini bisanya lebih sering dilakuakn pada saat pertama kemudian secara bertahap akan berkurang seiring dengan kemajuan klien. Akan tetapi pemantau perkembangan klien tidak dibiarkan begitu saja melainkan melalui via telepon dan kunjungan bulanan saja.

42

B A B IV PENUTUP Kesimpulan

Home care merupakan bentuk pelayanan kesehatan masa depan karena dengan home care, pasien dapat dirawat dirumahnya sendiri dengan ditemani oleh anggota keluarga yang lain sehingga kecemasan pasien dapat diminimalkan. Perawatan di rumah selain dapat mengurangi kecemasan juga dapat menghemat biaya dari beberapa segi misal biaya kamar, biaya transpor dan biaya lain-lain yang terkait dengan penjaga yang sakit.Tetapi perlu diingat bahwa pasien yang dapat layanan home care adalah pasien yang secara medis dinyatakan aman untuk dirawat di rumah dengan kondisi rumah yang memadai.

Institusi home care dibedakan menjadi dua. Pertama adalah hospital home care yang dikelola oleh rumah sakit dan kebanyakan pasien yang dilayani adalah pasien pasca rawat di rumah sakit tersebut. Kedua adalah home care swasta (agency) yang dikelola oleh swasta atau suatu agency dan didirikan oleh yayasan atau lembaga lain yang sudah disyahkan dengan akta notaris.Keduanya merupakan bentuk pelayanan kesehatan masa depan karena dengan home care, pasien dapat dirawat dirumahnya sendiri dengan ditemani oleh anggota keluarga yang lain sehingga kecemasan pasien dapat diminimalkan. Perawatan di rumah selain dapat mengurangi kecemasan juga dapat menghemat biaya dari beberapa segi misal biaya kamar, biaya transpor dan biaya lain-lain yang terkait dengan penjaga yang sakit.

43

Saran

Segala bentuk pelayan home care yang diberikan semata adalah untuk membantu kesejahteran dan meningkatkan kesehatan klien. Untuk itu segala proses pelaksaan perlu kerjasama dan komunikasi antar pihak

44