Anda di halaman 1dari 33

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Asfiksia

1.

Pengertian

Oksigen sangatlah penting untuk kehidupan baik sebelum dan sesudah

persalinan. Selama didalam rahim, janin mendapatkan oksigen dan nutrien

dari ibu melalui mekanisme difusi plasenta dari ibu yang diberikan kepada

janin. Sebelum lahir, alveoli paru bayi menguncup dan terisi oleh cairan.

Paru janin tidak berfungsi sebagai sumber oksigen ataupun jalan untuk

mengeluarkan CO 2 sehingga darah tidak perlu mengaliri paru dalam

jumlah besar. Namun, setelah bayi lahir plasenta tidak lagi berhubungan,

sehingga bayi akan segera bergantung pada paru sebagai sumber utama

oksigen (Depkes, 2005).

Bayi baru lahir dalam masa transisi ke kehidupan ekstrauterin akan

mengalami

beberapa

adaptasi

yang

fisiologis,

salah

satunya

adalah

adaptasi pernapasan. Pernapasan awal bayi baru lahir dipicu oleh faktor-

faktor

fisik,

sensorik,

dan

kimia.

Faktor

fisik

meliputi

usaha

yang

diperlukan untuk mengembangkan paru-paru dan mengisi alveolus yang

kolaps

(misalnya

perubahan

dalam

gradien

tekanan).

Faktor-faktor

sensorik dalam adaptasi pernapasan bayi baru lahir meliputi suhu, bunyi,

cahaya, suara, dan penurunan suhu, sedangkan faktor kimia meliputi

perubahan dalam darah misalnya, penurunan kadar O 2 , peningkatan kadar

CO 2 ,

dan

penurunan

pH

sebagai

10

akibat

asfiksia

sementara

selama

11

kelahiran. Frekuensi pernapasan bayi baru lahir berkisar antara 30 sampai

60 kali per menit (Barbara, 2004).

Asfiksia menurut Ilyas (1994), adalah suatu keadaan ketidakmampuan

bayi untuk bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir yang

mana keadaan tersebut disertai dengan hipoksia, hiperkapnea, dan berakhir

dengan asidosis. Faktor-faktor yang timbul pada kehamilan, peralinan,

atau segera setelah lahir sangat berhubungan dengan keadaan hipoksia.

Asfiksia akan menimbulkan dampak yang buruk apabila penanganan bayi

tidak dilakuka secara sempurna, sehingga tujuan dari tindakan yang

dilakukan

yaitu

untuk

mempertahankan

kelangsungan

hidupnya

dan

membatasi gejala lanjutan yang mungkin timbul.

Asfiksia kelahiran merupakan konsekuensi dari hipoksia intrapartum

dimana bayi membutuhkan resusitasi lebih lanjut dan berlanjut pada

keadaan ensefalopati hipoksik iskemik (hypocix ischemic enshefalophaty,

HIE). HIE muncul pada 1-2 kasus pada setiap 1000 kelahiran. Bayi yang

dilahirkan setelah hipoksia intrapartum memiliki gambaran yang khas.

Bayi menjadi bradikardi, pucat, lemas, dan apnu, dan mengalami asidosis

metabolik yang parah, yang telah terakumulasi selama periode glikolisis

anaerob. Keadaan ini memerlukan tindakan resusitasi segera (Meadow &

Newell, 2002).

2.

Etiologi

Paru-paru

neonatus

mengalami

pengembangan

pada

menit-menit

pertama

kelahiran

dan

kemudian

disusul

dengan

pernapasan

teratur,

12

namun bila terjadi gangguan pertukaran gas atau angkutan oksigen dari ibu

ke janin akan memicu terjadinya asfiksia janin atau neonatus. Gangguan

tersebut dapat timbul pada masa kehamilan, persalinan, atau segera setelah

lahir.

Towell

(1966)

dalam

Ilyas

(1994),

menggolongkan

penyebab

kegagalan pernapasan pada bayi asfiksia yang terdiri dari :

a. Faktor ibu

Ibu merupakan subjek yang berperan dalam persalinan, berbagai

kondisi

dan

keadaan

ibu

akan

banyak

mempengaruhi

bayi

saat

dilahirkan. Berikut beberapa situasi pada ibu yang dapat menimbulkan

masalah pada bayi :

1. Hipoksia pada ibu, hipoksia ibu dapat terjadi karena hipoventilasi

akibat pemberian obat analgetik atau anestesia umum.

2. Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, pertambahan

umur akan diikuti oleh perubahan organ dalam rongga pelvis.

Keadaan ini akan mempengaruhi kehidupan janin dalam rahim.

Pada wanita usia muda

dimana organ-organ reproduksinya belum

sempurna

secara

keseluruhan,

disertai

kejiwaan

yang

belum

bersedia menjadi seorang ibu (Llewellyn & Jones, 2001).

Usia perempuan untuk hamil dan melahirkan memiliki pengaruh

yang berbeda pada kesehatan ibu dan janinnya. Kehamilan dan

persalinan di bawah umur 20 tahun memiliki resiko yang sama

tingginya dengan kehamilan umur 35 tahun keatas sehingga dapat

13

menimbulkan resiko. Usia berkaitan dengan masalah kesehatan,

resiko akan meningkat sejalan dengan usia. Persalinan pada ibu usia

tua dapat menimbulkan kecemasan yang mengakibatkan persalinan

yang lebih sulit dan lama (Kasdu, 2005 dan Curtis, 2000).

Dalam penelitian Zakaria di RSUP M. jamil padang tahun 1999

menemukan kejadian asfiksia neonatorum sebesar 36,4% pada ibu

yang melahirkan dengan usia kurang dari 20 tahun dan 26,3% pada

ibu dengan usia lebih dari 34 tahun. Hasil penelitian Ahmad di

RSUD Dr Adjidarmo Rangkasbitung tahun 2000 menemukan bayi

yang lahir dengan asfiksia neonatorum 1,309 kali pada ibu umur

kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun.

3.

Gravida empat atau lebih, sosial ekonomi rendah, setiap penyakit

pembuluh

darah

ibu

yang

mengganggu

pertukaran

gas

janin.

Contohnya kolesterol tinggi, hipertensi, hipotensi, jantung, paru-

paru/tbc, ginjal, gangguan kontraksi uterus dan lain-lain

b. Faktor plasenta,

Plasenta merupakan suatu organ serba guna dan vital bagi janin

yang berfungsi sebagai alat pernapasan, alat pemenuhan nutrisi, dan alat

pertahanan dan pembentukan hormon-hormon. Pertukaran gas antara

ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta. Apabila

terjadi gangguan mendadak pada plasenta maka akan terjadi asfiksia

janin. Gangguan plasenta tersebut seperti solusio plasenta, perdarahan

plasenta (plasenta previa).

14

1. Plasenta previa ialah plasenta yang berimplantasi pada segmen

bawah

lahir

internum.

dan

2. Solusio

plasenta

menutupi

ialah

sebagian

terlepasnya

atau

seluruh

plasenta

ostium uteri

dari

tempat

implantasinya yang normal pada uterus, sebelum janin dilahirkan.

c. Faktor janin atau neonatus

Meliputi tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher, kompresi

tali pusat antara janin dan jalan lahir, gameli, IUGR (intra uterin

growth retardation), premature, kelainan kongenital pada neonatus, dan

lain-lain.

1. Prematur adalah keadaan bayi lahir hidup sebelum usia kehamilan

minggu ke 37 (dihitung dari hari pertama haid terakhir). Bayi yang

lahir kurang bulan memiliki organ dan alat-alat tubuh yang belum

berfungsi normal untuk bertahan hidup diluar rahim. Pognosis bayi

prematur

terganutng

dari

berat

ringannya

masalah

perinatal,

misalnya masa gestasi (makin muda mas gestasi maka makin tinggi

angka kematian. Terutama disebabkan oleh seringnya dijumpai

kelainan komplikasi seperti asfiksia, pneumonia, perdarahan intra

kranial, dan hipoglikemia (Saifuddin, 2002).

2. Gangguan

tali

pusat,

kompresi

umbilikus

akan

mengakibatkan

terganggunya aliran darah dalam pembuluh darah umbilikus dan

menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran

darah

tersebut

dapat

ditemukan

pada

keadaan

tali

pusat

15

menumbung, melilit leher, kompresi tali pusat antara jalan lahir dan

janin (Saifuddin, 2002).

d. Faktor persalinan

Menurut

Saifuddin

(2002),

persalinan

normal

adalah

poses

pengeluaan janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42

minggu),

lahir

spontan

dengan

presentasi

belakang

kepala

yang

berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun

pada janin. Faktor persalinan yang dimaksud adalah meliputi partus

lama, persalinan dengan tindakan/buatan.

1. Partus

lama

menurut

Mochtar

(2004),

yaitu

persalinan

yang

berlangsung lebih dari 24 jam pada primipara, dan lebih dari 18 jam

pada multipara. Persalinan pada primi biasanya lebih lama 5-6 jam

darpada multi. Insiden partus lama menurut penelitian berkisar 2,8%

sampai 4,9%. Bila persalinan lama, dapat menimbulkan komplikasi

baik terhadap ibu maupun bayi, dan dapat meningkatkan angka

kematian ibu dan bayi.

2. Persalinan

tenaga

dari

buatan

luar

yakni

persalinan

sehingga

terdapat

dengan

rangsangan/bantuan

kekuatan

untuk

persalinan.

Misalnya forcep/vakum/SC (Joseph & Nugraha, 2010). Menurut

Hamilton (1995), forcep digunakan untuk mempercepat persalinan

ketika

hidup

ibu

atau

janin

terancam,

untuk

mempersingkat

persalinan kala II. Persalinan dengan forcep menyebabkan adanya

tekanan pada kepala yang bisa menekan pusat-pusat vital pada

16

medula oblongata dan hal tersebut dapat menyebabkan asfiksia.

Persalinan cesarea adalah kelahiran bayi melalui abdomen dan insisi

uterus. Persalinan cesarea dipilih karena indikasi distres janin, posisi

sungsang, distosia, dan persalinan cesarea sebelumnya. Tindakan

cesarea bisa

dilakukan pada kejadian plasenta previa, solutio

plasenta,

gawat

janin,

letak

lintang.

Yang

mana

hal

tersebut

berpengaruh terhadap pernapasan bayi (Saifuddin, 2002). Persalinan

buatan juga bisa dengan induksi yakni tindakan/langkah untuk

memulai persalinan yang sebelumnya belum terjadi. Metode yang

digunakan

ialah

amniotomi,

infus

oxytocin,

prostaglandin.

Pemberian

prostaglandin

akan

dan

pemberian

menimbulkan

kontraksi otot rahim yang berlebihan yang mana dapat mengganggu

sirkulasi darah sehingga menimbulkan asfiksia janin (Hamilton,

1995).

3. Asfiksia dimulai dengan suatu periode Apneu

Seorang bayi mengalami kekurangan oksigen,maka akan terjadi

napas cepat. Apabila asfiksia berlanjut, gerakan napas akan berhenti,

denyut

jantung

mulai

menurun

dan

tonus

otot

berkurang

secara

berangsur, dan bayi memasuki periode apneu primer. Apneu primer

yaitu bayi mengalami kekurangan oksigen dan terjadi pernapasan yang

cepat

dalam periode

singkat, dimana terjadi penurunan

frekuensi

jantung. Pemberian rangsangan dan oksigen selama periode ini dapat

merangsang

terjadinya

pernapasan.

Selanjutnya,

bayi

akan

17

memperlihatkan usaha bernapas (gasping) yang kemudian diikuti oleh

pernapasan teratur (Sutaryo, magetsari, mulyono, kurnianda, 2000).

Apabila

asfiksia

berlanjut,

bayi

akan

gasping

(megap-megap),

denyut

jantung

menunjukan

pernapasan

menurun,

tekanan

darah

menurun, dan bayi tampak lemas (flaksid). Pernapasan semakin lemah

sampai akhirnya berhenti, dan bayi memasuki periode apneu sekunder.

Apneu sekunder yakni pada penderita asfiksia berat, yang mana usaha

bernapasnya tidak tampak dan selanjutnya bayi berada pada periode

apneu kedua. Pada keadaan tersebut akan ditemukan bradikardi dan

penurunan tekanan darah serta penurunan kadar oksigen dalam darah.

Bayi tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak menunjukan upaya

bernapas secara spontan. Kematian akan terjadi kecuali bila resusitasi

dengan napas buatan dan pemberian oksigen segera dimulai. Sulit

sekali membedakan antara apneu primer dan sekunder, oleh karenanya

bila menghadapi bayi lahir dengan apneu, anggaplah sebagai apneu

sekunder dan bersegera melakukan tindakan resusitasi (Novita, 2011).

4. Macam-macam rangsangan terjadinya respirasi

Novita (2011),

menggolongkan

beberarapa

macam rangsangan

yang dapat memicu terjadinya respirasi pada bayi baru lahir

a. Chemical stimuli

Pada

bayi

yang

mengalami

asfiksia

sementara,

akibat

gangguan aliran darah pada plasenta selama kontraksi uterus dan

disertai dengan tekanan tali pusat saat kelahiran. Kemoreseptor

18

yang ada di arteri carotic dirangsang dengan adanya penurunan

kadar

O 2

dan

meningkatnya

kadar

CO 2

dan

penurunan

pH,

sehingga

impuls

tersebut

men-triggerd

sistem

saraf

pusat

pernapasan medula oblongata.

b. Sensory stimuli

Pada bayi baru lahir banyak sekali stimulus baru selama

proses persalinan dan kelahiran, antara lain sentuhan, penglihatan,

pendengaran, dan penciuman, dimana memberi kontribusi terhadap

pencetus dari pernapasan.

c. Thermal stimuli

Rasa dingin merupakan kekuatan utama terhadap pencetus

pernapasan. Rasa dingin pada muka dan dada menghantarkan

impuls ke medula untuk men-trigger pernapasan.

d. Mechanical stimuli

Selama melalui jalan lahir, kurang lebih 30% cairan pada

paru-paru

fetus

terisi

oleh

udara

dan

alveoli

perlahan-lahan

mengeluarkan

sampai

dengan

30cc

ke

oropharing

sebelum

kelahiran.

Terjadi

recoil

dada

setelah

melalui

jalan

lahir,

pengeluaran cairan tersebut mempermudah udara masuk ke paru-

paru.

5. Klasifikasi klinis asfiksia

Menurut Mochtar (1998), klasifikasi klinis asfiksia dibagi dalam 2

macam, yaitu sebagai berikut :

19

a. Asfiksia Livida yaitu asfiksia yang memiliki ciri meliputi warna

kulit kebiru-biruan, tonus otot masih baik, reaksi rangsangan masih

positif, bunyi jantung reguler, prognosis lebih baik

b. Asfiksia Pallida yakni asfiksia dengan ciri meliputi warna kulit

pucat, tonus otot sudah kurang, tidak ada reaksi rangsangan, bunyi

jantung irreguler, prognosis jelek.

6.

Patofisiologi

Asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir tidak bernapas secara

spontan dan teratur. Sering sekali bayi mengalami gawat janin sebelum

persalinan

akan

mengalami

asfiksia

setelah

persalinan.

Masalah

tersebut mungkin berkaitan erat dengan kondisi ibu, masalah pada tali

pusat dan plasenta atau masalah pada bayi selama atau sesudah

persalinan. Apabila janin kekurangan O 2 dan kadar CO 2 bertambah,

maka timbulah rangsangan terhadap nervus vagus sehingga bunyi

jantung janin menjadi lambat (Depkes RI, 2005).

Kekurangan O 2 akan merangsang usus sehingga mekonium keluar

sebagai tanda janin dalam asfiksia. Secara klinis tanda-tanda asfiksia

adalah denyut jantung janin yang lebih cepat dari 160x/menit atau

kurang dari 100x/menit, halus dan irreguler, serta adanya pengeluaran

mekonium. Jika DJJ normal dan terdapat mekonium, maka janin mulai

asfiksia. Jika DJJ lebih dari 160x/menit dan ada mekonium maka janin

sedang asfiksia. Jika DJJ kurang dari 100x/menit dan ada mekonium

maka janin dalam keadaan gawat (Mochtar, 1998).

20

7. Gejala dan tanda

Menurut Ilyas (1994), Gejala asfiksia neonatorum yang khas antara

lain meliputi pernapasan cepat, pernapasan cuping hidung, sianosis,

dan nadi cepat.

8. Diagnosis

Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan

dari hipoksia janin. Diagnosis hipoksia dapat dibuat ketika dalam

persalinan yakni saat ditemukanna tanda-tanda gawat janin. Tiga hal

yang perlu mendapat perhatian (Saifuddin, 2002) :

a. Denyut jantung janin

Frekuensi normal denyut jantung janin adalah antara 120

sampai 160x/menit. Selama his frekuensi tersebut bisa turun, tetapi

di luar his kembali lagi kepada keadaan semula. Peningkatan

kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak artinya, namun

apabila frekuensi turun sampai dibawah 100 per menit di luar his

dan

terlebih

bahaya.

jika

tidak

teratur,

b. Mekonium dalam air ketuban

hal

tersebut

merupakan

tanda

Pada presentasi kepala mungkin menunjukan gangguan oksigenasi

dan harus menimbulkan kewaspadaan. Adanya mekonium dalam

air ketuban pada presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk

mengakhiri persalinan bila hal tersebut dapat dilakukan dengan

mudah.

21

c. Pemeriksaan darah janin

Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukan melalui

servik yang dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan

diambil contoh darah janin. Darah tersebut diperiksa pH nya,

adanya asidosis menyebabkan turunnya pH. Apabila pH turun

sampai 7.2 hal tersebut dianggap sebagai tanda bahaya. Kelahiran

yang telah menunjukan tanda-tanda gawat janin dimungkinkan

akan dissertai dengan asfiksia neonatorum. Oleh karena itu perlu

diadakan

persiapan

untuk

menghadapi

keadaan

tersebut

jika

terdapat asfiksia. Tingkatannya perlu diketahui untuk melakukan

tindakan resusitasi yang sempurna. Hal tersebut diketahui dengan

penilaian menurut APGAR.

9. Penilaian APGAR score

A

: Apprearance = rupa (warna kulit)

P

: Pulse

= nadi

G

: Grimace

= menyeringai (akibat refleks kateter dalam hidung)

A

: Activity

= keaktifan

R

:Respiration

= pernapasan

Untuk menentukan tingkat asfiksia dengan tepat membutuhkan

pengalaman dan observasi klinis serta penilaian yang tepat, sehingga

pada tahun 1953-1958 seorang bernama Virginia Apgar mengusulkan

beberapa kriteria klinis untuk menentukan keadaan neonatus. Menurut

Novita (2011), nilai apgar pada umumnya dilaksanakan pada 1 menit

22

dan 5 menit sesudah bayi lahir. akan tetapi, penilaian bayi harus segera

dimulai sesudah bayi lahir. apabila memerlukan intervensi berdasarkan

oenilaian pernafasan, denyut jantung atau warna bayi, maka penilaian

ini harus segera dilakukan. Nilai apgar dapat menolong dalam upaya

penilaian keadaan bayi dan penilaian efektivitas upaya resusitasi.

Apabila nilai apgar kurang dari 7 maka penilaian nilai tambahan

masih diperlukan yaitu 5 menit sampai 20 menit atau sampai dua kali

penilaian menunjukan nilai 8 atau lebih. Penilaian untuk melakukan

resusitasi

semata-mata

ditentukan

oleh

tiga

tanda

penting

yaitu

pernafasan,

denyut

jantung,

dan

warna.

Resusitasi

yang

efektif

bertujuan memberikan ventilasi yang adekuat, pemberian oksigen, dan

curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen ke otak, jantung

dan alat vital lainnya (Novita, 2011).

Patokan

klinis

yang

dihitung

meliputi

menghitung

frekuensi

jantung, melihat usaha bernapas, menilai tonus otot, menilai reflek

rangsangan, memperlihatkan warna kulit. Setiap bayi yang dilahirkan

kemudian

menangis

biasanya

hidup,

sedangkan

bayi

lahir

tidak

menangis biasanya cepat meninggal, hal tersebut dikemukakan oleh

Virginia Apgar. Oleh karenanya beliau membuat daftar penilaian

dengan mengobservasi pada menit pertama dan menit kelima setelah

lahir. pada menit pertama untuk menunjukan beratnya asfiksia dan

menentukan kemungkinan hidup selanjutnya, sedangkan menit kelima

untuk menentukan gejala sisa (Ilyas, 1994)

23

Berikut ini adalah tabel Apgar score untuk menentukan Asfiksia

(Mochtar, 1998).

Tabel 2.1

Skor Apgar

TANDA

Frekuensi jantung

Usaha bernapas

Tonus otot

Refleks

Warna kulit

jantung Usaha bernapas Tonus otot Refleks Warna kulit 0 Tidak ada Tidak ada Lumpuh Tidak ada
jantung Usaha bernapas Tonus otot Refleks Warna kulit 0 Tidak ada Tidak ada Lumpuh Tidak ada

0

Tidak ada

Tidak ada

Lumpuh

Tidak ada

Biru/pucat

Biru/pucat

SKOR

1

< 100/menit

Lambat, tak teratur

Ekstremitas agak

fleksi

Gerakan sedikit

Tubuh kemerahan,

ekstremitas biru

fleksi Gerakan sedikit Tubuh kemerahan, ekstremitas biru 2 >100/menit Menangis kuat Gerakan aktif Gerakan

2

>100/menit

Menangis kuat

Gerakan aktif

Gerakan kuat/melawan

Seluruh tubuh

kemerahan

10. Klasifikasi klinik nilai APGAR

Bayi baru lahir dievaluasi dengan nilai Apgar, tabel tersebut dapat

untuk menentukan tingkat atau derajat asfiksia, apakah ringan, sedang,

atau asfiksia berat (Mochtar, 1998).

a. Asfiksia berat (nilai Apgar 0-3)

Memerlukan resusitasi segera secara aktif, dan pemberian oksigen

terkendali.

Pada

pemeriksaan

fisik

ditemukan

frekuensi

jantung

100X/menit, tonus otot buruk, sianosis berat, dan terkadang pucat,

refleks iritabilitas tidak ada.

b. Asfiksia sedang (nilai Apgar 4-6)

Memerlukan resusitasi dan pemberian oksigen sampai bayi dapat

bernapas kembali. Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung

lebih dari 100X/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis,

refleks iritabilitas tidak ada.

24

c. Bayi normal atau sedikit asfiksia (nilai Apgar 7-10)

11. Penanganan pada asfiksia neonatorum

Asfiksia bayi biasanya merupakan kelanjutan dari anoksia/hipoksia

janin. Resusitasi dapat dilihat dari berat ringannya derajat asfiksia,

yaitu dengan cara menghitung nilai apgar (Novita, 2011).

Menurut Novita (2011), prinsip melakukan tindakan resusitasi yang

perlu diingat adalah :

a. Memberikan

lingkungan

yang

baik

pada

bayi

dan

mengusahakan

saluran pernapasan tetap bebas serta merangsang timbulnya pernapasan,

yaitu agar oksigen dan pengeluaran CO 2 berjalan lancar.

b. Memberikan

bantuan

pernapasan

secara

menunjukan usaha pernapasan lemah.

aktif

pada

bayi

yang

c. Melakukan koreksi terhadap asidosis yang terjadi.

d. Menjaga agar sirkulasi darah tetap baik.

Menurut Ilyas (1994), alat-alat resusitasi yang perlu dipersiapkan

meliputi sebagai berikut :

a. Meja resusitasi dengan kemiringan kurang dari 10 derajat.

b. Guling kecil untuk menyangga/ekstensi

c. Lampu untuk memanaskan badan bayi

d. Penghisap slim

e. Oksigen

f. Spuit ukuran 2,5cc atau 10cc

g. Penlon back atau penlon masker

25

h. ETT (endo trakheal tube)

i. Laringoskop

j. (natrium

Obat-obatan

bikarbonat

7,5%

(meylon),

dekstrose

40%,

kalsium glukonas, dekstrose 5%, dan infus set).

Menurut Novita (2011), resusitasi dilakukan sesuai dengan derajat

asfiksia. Penatalaksanaan penanganan bayi dengan asfiksia bertujuan

untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan membatasi gejala sisa.

a. Asfiksia ringan-bayi normal (skor apgar 7-10)

Tidak

memerlukan

tindakan

yang

istimewa,

seperti

pemberian

lingkungan suhu yang baik pada bayi, pembersihan jalan napas bagian

atas

dari

lendir

dan

sisa-sisa

darah,

jika

diperlukan

memberikan

rangsangan, selanjutnya observasi suhu tubuh, apabila cenderung turun

untuk sementara waktu dapat dimasukan kedalam inkubator (Novita,

2011)

b. Asfiksia sedang (skor apgar 4-6)

Menerima

bayi

dengan

kain

yang

telah

dihangatkan,

kemudian

membersihkan jalan nafas,Melakukan stimulasi agar timbul refleks

pernapasan. Bila dalam 30-60 detik tidak timbul pernapasan spontan,

ventilasi aktif harus segera dimulai. Ventilasi yang aktif yang sederhana

dapat dilakukan secara ‘frog brething’. Cara tersebut dikerjakan dengan

meletakan kateter O 2 intranasal dan O 2 dialirkan dengan 1-2 liter/menit.

Agar saluran napas bebas, bayi diletakan dalam posisi dorsofleksi

kepala. Apabila belum berhasil maka lakukan tindakan rangsangan

26

pernapasan dengan menepuk-nepuk telapak kaki, bila tidak berhasil

juga maka pasang penlon masker kemudian di pompa 60x/menit. Bila

bayi sudah mulai bernafas tetapi masih sianosis, berikan kolaborasi

terapi natrium bikarbonat 7,5% dengan dosis 2-4 cc/kg berat badan

bersama dektrose 40% sebanyak 1-2 cc/kg berat badan dan diberikan

melalui umbilikalis (Novita, 2011).

c. Asfiksia berat (skor apgar 0-3)

Menerima bayi dengan kain hangat, kemudian membersihkan jalan

nafas sambil memompa jalan nafas dengan ambu bag. Berikan oksigen

4-5 liter/menit. Apabila tidak berhasil biasanya dipasang ETT (endo

tracheal tube), selanjutnya bersihkan jalan nafas melalui lubang ETT.

Bila

bayi

bernafas

namun

masih

sianosis

maka

berikan

tindakan

kolaborasi berupa natrium bikarbonat 7,5% sebanyak 6cc dan dektrose

40% sebanyak 4cc. Bila asfiksia berkelanjutan, maka bayi masuk ICU

dan infus terlebih dahulu (Novita, 2011).

B. Persalinan

1.

Pengertian

Persalinan merupakan proses pergerakan keluar janin, plasenta, dan

membran dari dalam rahim melalui jalan lahir. berbagai perubahan

terjadi pada sistem reproduksi wanita dalam hitungan hari dan minggu

sebelum persalinan dimulai. Persalinan sendiri dapat dibahas dalam

bentuk mekanisme yang terjadi selama proses dan tahapan yang dilalui

wanita (Bobak, 2004).

27

Menurut Mochtar (1998), persalinan/partus adalah suatu proses

pengeluaran hasil konsepsi (janin + uri), yang dapat hidup ke dunia

luar

melalui

jalan

lahir

atau

dengan

menggunakan

jalan

lain.

Persalinan dan kelahiran normal adalah merupakan proses pengeluaran

janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir

spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18

jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Saifuddin,

2002).

2. Faktor penyebab terjadinya persalinan

Apa yang menyebabkan persalinan belum diketahui secara benar,

yang

ada

hanyalah

merupakan

teori-teori

kompleks

antara

lain

dikemukakan faktor humoral, struktur rahim, sirkulasi rahim, pengaruh

tekanan pada syaraf, dan nutrisi (Mochtar, 1998)

a. Teori penurunan hormon: 1-2 minggu sebelum partus mulai terjadi

penurunan hormon estrogen dan progesteron. Progesteron bekerja

sebagai penenang otot-otot polos rahim dan akan menyebabkan

kekejangan

pembuluh

darah

sehingga

timbul

his

bila

kadar

progesteron

turun.

Menurunnya

progesteron

akibat

tuanya

kehamilan maka oksitosin dapat meningkatkan aktivitas, sehingga

persalinan dapat dimulai. Pengeluaran oksitosin dilakukan oleh

kelenjar hipofisis pars posterior.

b. Teori plasenta menjadi tua, plasenta yang tua akan menyebabkan

turunnya

kadar

estrogen

dan

progesteron

yang

mana

akan

28

menyebabkan kekejangan pembuluh darah dan hal tersebut akan

menimbulkan kontraksi rahim.

c. Teori distensi rahim, rahim yang menjadi besar dan meregang

menyebabkan

iskemia

otot-otot

rahim

sehingga

menganggu

sirkulasi utero-plasenter. Serabut otot rahim yang meregang sampai

pada batas kemampuannya akan bereaksi dengan mengadakan

kontraksi (Farrer, 1999)

d. Teori iritasi mekanik, ganglion servikale (fleksus frankenhauser)

yang terletak di belakang servik yang mana apabila tergeser dan

tertekan oleh kepala janin akan menimbulkan kontraksi uterus.

e. Induksi partus (induction of labour), partus dapat ditimbulkan

dengan beberapa jalan yakni gagang laminara yang dimasukan

dalam

kanalis

servikalis

dengan

tujuan

merangsang

pleksus

frankenhauser,

kemudian

dengan

Amniotomi

(pemecahan

ketuban), selanjutnya bisa dengan cara Oksitosin drips (pemberian

oksitosin menurut tetesan per infus).

f. Teori prostaglandin, prostaglandin banyak dihasilkan oleh lapisan

dalam rahim yang diduga dapat menyebabkan kontraksi rahim.

Prostaglandin meningkat sejak usia kehamilan memasuki minggu

ke-15,

pemberian

prostaglandin

dari

luar

dapat

merangsang

kontraksi otot rahim dan terjadi persalinan atau gugur kandung

(Manuaba, 2009).

29

3. Tanda-tanda permulaan persalinan

Sebelum terjadi persalinan beberapa minggu sebelumnya, wanita

memasuki “bulannya” atau “minggunya” “atau harinya” yang disebut

dengan kala pendahuluan (preparatory stage of labor) dengan tanda-

tanda sebagai berikut (Baety, 2011) :

a. Tanda persalinan sudah dekat

(1) Terjadi

Lightening,

yaitu

kepala

turun

memasuki

PAP

terutama primigravida menjelang minggu ke-36. Lightening

menyebabkan terasa ringan dibagian atas dan rasa sesaknya

berkurang, terjadi kesulitan saat berjalan dan sering miksi yang

disebabkan oleh tekanan kepala janin pada kandung kemih.

(2) Terjadi His permulaan, sifat his permulaan atau palsu yakni

terasa nyeri ringan dibagian bawah, datangnya nyeri tidak

teratur dan durasinya pendek, dan tidak ada perubahan pada

servik dan tidak bertambah bila beraktivitas.

b. Tanda pasti persalinan

Terjadi his persalinan yang sifatnya :

(1) Teratur, intervalnya makin pendek, kekuatan makin bertambah

jika beraktivitas dan mempunyai pengaruh pada perubahan

servik.

(2) Pinggang terasa sakit dan menjalar ke depan

(3) Keluar lendir darah serta cairan ketuban

30

4. Tahapan proses persalinan

Menurut Bobak (2004), proses persalinan dapat meliputi empat

tahapan, yaitu sebagai berikut :

a. Kala I persalinan (kala pembukaan servik)

Menurut

ditandai

dengan

Bobak

adanya

(2004),

dimulainya

proses

persalinan

kontraksi

yang

teratur,

adekuat

dan

menyebabkan perubahan pada servik hingga mencapai pembukaan

lengkap (10cm). Mekanisme pembukaan servik pada primipara

berbeda dengan multipara. Dimana pada primipara obstetri uteri

internum akan membuka terlebih dahulu, kemudian servik akan

mendatar dan menipis kemudian akan terjadi pembukaan secara

bersamaan. Pada multipara obstetri uteri internum sudah membuka

sedikit,

sehingga

akan

langsung

terjadi

pembukaan

secara

bersamaan. Ketuban pecah pada akhir kala I dan biasanya lama

waktu pada ibu primipara kurang lebih 13-14 jam/rata-rata 10

sampai 12 jam, sedangkan pada multipara kurang lebih 7 jam/rata-

rata 4 jam sampai 6 jam (Mochtar, 1998).

Pada kala I dilakukan pemeriksaan tentang kedudukan janin

dalam rahim, pemeriksaan dalam dengan terbatas, dan pemberian

penjelasan berapa pembukaannya serta kapan perkiraan persalinan

akan

berlangsung.

Kekuatan

moral

dan

emosi

ibu

akan

dipertahankan karena persalinan masih jauh sehingga ibu dapat

mengumpulkan kekuatan (Manuaba, 2009).

31

Menurut

Mochtar

(1998),

penolong

dalam

kala

I

mengawasi

ibu

in-partu

sebaik-baiknya

serta

menanamkan

semangat

diri

bahwa

persalinan

adalah

hal

yang

fisiologis.

Pemberian obat atau tindakan hanya dilakukan apabila diperlukan

dan ada indikasi. Apabila ketuban belum pecah, ibu diperkenankan

untuk duduk atau berjalan-jalan dan bila berbaring sebaiknya ke

sisi dimana punggung janin berada. Jika ketuban sudah pecah ibu

dilarang untuk berjalan, harus berbaring.

Pemeriksaan

dalam

pravaginam

dilarang

kecuali

ada

indikasi,

karena

setiap

pemeriksaan

akan

membawa

infeksi.

Terlebih jika dilakukan tanpa memperhatikan sterilitas (asepsis).

Ibu pada kala pembukaan dilarang untuk mengedan karena belum

waktunya dan hal tersebut hanya kan menghabiskan tenaga ibu

saja (Mochtar, 1998).

b. Kala II (kala pengeluaran bayi)

Persalinan kala II dimulai saat serviks telah membuka

lengkap dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kontraksi uterus pada

kala II menjadi lebih sering dengan interval 2-5 menit dan lebih

kuat, berlangsung selama 60-90 detik (Llewellyn-Jones, 2001).

Pada kala pengeluaran janin, kepala janin telah turun masuk

ruang panggul sehingga terjadilah tekanan pada otot-otot dasar

panggul yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan.

Karena tekanan pada rektum maka ibu akan merasa seperti akan

32

buang air besar yakni dengan tanda anus terbuka. Pada saat his,

kepala

janin

mulai

kelihatan,

vulva

membuka

dan

perinium

meregang. Dengan his mengedan yang terpimpin, akan lahirlah

kepala yang diikuti oleh seluruh badan janin. Proses kala II pada

primipara

berlangsung

sekitar

1 1/ 2 -2

jam,

sedangkan

pada

multipara berlangsung sekitar ½-1 jam (Mochtar, 1998).

Bobak (2004), menyatakan bahwa tahap kedua persalinan

berlangsung lebih dari 2 jam pada persalinan pertama dan 1 1 / 2 jam

pada persalinan berikutnya. Batas dan lama persalinan tahap kedua

berbeda-beda tergantung pada paritasnya. Waktu persalinan kala II

menurut Friedman dalam Bobak (2004), seperti dalam tabel di

bawah ini :

Tabel 2.2 Waktu persalinan kala II

Paritas

Rentang (menit)

Rata-rata (menit)

Kehamilan pertama

25-75

57

Kehamilan

13-17

14,4

berikutnya

Pada persalinan kala II, sangat diperlukan kerja sama aktif

dari ibu yang melahirkan untuk membantu kontraksi uterus yang

involunter dengan kontraksi otot involunter diafragma dan otot

abdomen sehingga bersama menekan janin ke bawah. Kontrkasi

dicatat dan denyut jantung di auskultasi setiap 15 menit. Jika

terjadi penurunan sampai kurang dari 100 kali/menit bradikardi

selama lebih dari 2 menit maka harus melakukan pemeriksaan

33

vagina untuk memastikan tidak ada prolaps tali pusat (Llewellyn-

Jones).

Tanda dan gejala kala II yang dapat dirasakan serta dilihat

adalah adanya rasa ingin meneran oleh ibu/dorongan meneran

(doran),

tekanan

pada

anus

(teknus),

tampak

perinium

yang

menonjol (perjol) hal tersebut dikarenakan adanya kontraksi uterus

yang terjadi setiap 1,5-2 menit sekali dan berakhir 60-90 detik,

terlihat vulva, vagina dan spingter ani yang membuka keadaan

tersebut

menyebabkan

peningkatan

pengeluaran

lendir

darah.

Adapun tanda pasti dalam kala II yakni pembukaan yang sudah

lengkap serta terlihat kepala di introitus vagina, kepala tampak di

vulva dengan diameter 5-6 cm yang disebut dengan croning

(Baety, 2011).

c. Kala III (kala pengeluaran plasenta)

Menurut Mochtar (1998), setelah bayi lahir maka kontraksi

rahim istirahat sejenak, dan teraba uterus yang keras dengan

fundus uteri setinggi pusat, yang berisi plasenta yang menjadi

tebal 2x sebelumnya. Beberapa saat kemudian akan timbul his

pelepasan dan pengeluaran uri. Dalam waktu 5-10 menit seluruh

plasenta

terlepas,

terdorong

kedalam

vagina

dan

akan

lahir

spontan atau dengan sedikit dorongan dari atas simfisis atau

fundus uteri. Seluruh proses dalam kala III biasanya berlangsung

34

sekitar 5-30 menit setelah bayi lahir. pengeluaran plasenta disertai

dengan pengeluaran darah kira-kira 100-200cc.

Ketika

kala

III

berlangsung,

rahim

berkontraksi

(akan

terasa sakit). Rasa sakit tersebut menandakan lepasnya plasenta

yang melekat dari rahim. Pelepasan ini biasanya akan disertai

perdarahan yang akan membuat plasenta keluar (dilahirkan) lewat

jalan lahir baik secara otomatis maupun dengan bantuan dokter.

Selanjutnya

plasenta

akan

diperiksa

guna

memastikan

kelengkapan plasenta yang lahir (jika masih ada jaringan plasenta

yang tertinggal dalam rahim dapat terjadi perdarahan). Proses

melahirkan plasenta memerlukan waktu 5 sampai 30 menit dengan

kontraksi uterus terjadi setiap 2 menit sampai 3 menit sekali

(Saifuddin, 2002).

d. Kala IV persalinan (tahap observasi)

Menurut

Mochtar

(1998),

kala

IV

merupakan

kala

pengawasan

selama

1

jam

setelah

bayi

dan

uri

lahir

untuk

mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya perdarahan

postpartum. Masa postpartum merupakan saat paling kritis untuk

mencegah

kematian

ibu,

terutama

kematian

yang

disebabkan

karena

perdarahan.

Selama

kala

IV,

petugas

yang

menolong

persalinan harus memantau ibu setiap 15 menit pada jam pertama

setelah kelahiran plasenta, dan setiap 30 menit pada jam kedua

35

setelah persalinan. Namun jika kondisi ibu tidak stabil, maka ibu

harus dipantau lebih sering (Saifuddin, 2002).

5. Lama persalinan

Menurut Llwellyn-Jones (2001), lama persalinan tidaklah mudah

untuk ditentukan secara tepat karena permulaan persalinan sering

tidaklah jelas dan bersifat subjektif. Dalam studi terhadap wanita yang

persalinannya dimulai secara spontan, terdapat variasi yang luas untuk

lama persalinan.

Tabel 2.3 Lama persalinan menurut Mochtar (1998)

Lama persalinan

 

Primi

Multi

Kala I

13 jam

7 jam

Kala II

1 jam

½ jam

Kala III

½ jam

¼ jam

Lama persalinan

14 ½ jam

7 ¾ jam

Partus lama merupakan persalinan yang berlangsung lebih dari 24

jam pada primi dan lebih dari 18 jam pada multi. Persalinan pada

primi

biasanya

berlangsung

5-6

jam

lebih

lama

daripada

multi.

Apabila persalinan berlangsung lebih lama, maka dapat menimbulkan

komplikasi

baik

terhadap

ibu

maupun

janin/anak,

dan

dapat

meningkatkan angka kematian ibu serta anak. Istilah partus lama ada

juga yang menyebut dengan partus kasep dan partus terlantar. Partus

kasep merupakan fase terakhir dari suatu partus yang macet dan

berlangsung

terlalu

lama

sehingga

menimbulkan

gejala

seperti

36

dehidrasi, infeksi, kelelahan ibu serta asfiksia dan kematian janin

dalam kandugan (Mochtar, 1998).

Persalinan biasanya akan lebih singkat apabila pasien atau ibu

mengetahui tentang fisiologi persalinan normal, dalam keadaan sehat

sewaktu memulai persalinan, dan percaya penuh kepada petugas yang

merawat

dan

bersikap

tenang.

Namun,

terdapat

beberapa

faktor

penyebab suatu partus berlangsung terlalu lama yakni kelainan letak

janin, kelainan-kelainan panggul, kelainan his, janin besar atau ada

kelainan kongenital, primitua, perut gantung, dan ketuban pecah dini

(Mochtar, 1998).

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi lama persalinan

terkait pada proses awal pembukaan servik hingga bayi lahir, antara

lain

usia

ibu,

paritas,

pengetahuan

mengenai

proses

melahirkan,

besarnya janin, dan posisinya didalam uterus (Llwellyn-Jones, 2001).

a. Kelainan Letak janin

Kelainan letak janin dalam hal ini bisa berupa kelainan

letak kepala dan letak sungsang. Kelainan letak kepala yakni letak

kepala yang tengadah (defleksi), pada pemeriksaan dalam yang

teraba adalah ubun-ubun bayi. Keadaan tersebut menimbulkan

komplikasi seperti partus yang lama atau robekan jalan lahir yang

lebih

luas.

Mortalitas

anak

agak

tinggi

yakni

sekitar

9%

dikarenakan partus lama dan moulage hebat (Mochtar, 1998).

Letak

janin

yang

sungsang

yakni

letak

janin

37

yang

memanjang (membujur) dalam rahim, kepala berada di fundus dan

bokong di bawah. Letak sungsang menyebabkan prognosis yang

buruk pada ibu maupun bayi, pada ibu bisa berupa robekan pada

perinium lebih besar, ketuban lebih cepat pecah, dan partus lebih

lama, sehingga akan mudah terkena infeksi. Prognosis tidak begitu

baik bagi bayi karena adanya gangguan peredaran darah plasenta

setelah bokong lahir dan juga setelah perut lahir, tali pusat yang

terjepit

antara

kepala

dan

panggul,

menderita asfiksia (Mochtar, 1998).

b. Kelainan panggul

bayi

dimungkinkan

bisa

Kontraktur pada tulang pelvik/panggul merupakan keadaan

di mana tulang yang berbentuk seperti corong dari pelvik ibu

bersalin terlalu sempit sehingga sulit untuk dilalui oleh janin.

Ketidakselarasan antara kepala janin dengan pelvik ibu disebut

disproporsi sefalopelvik. Implikasi maternal dengan persalinan

demikian menimbulkan ruptur uterus dan nekrosis jaringan lunak

maternal karena tekanan kepala bayi, sedangkan implikasi

pada

janin meliputi prilaps tali pusat, adanya tekanan yang berlebihan

pada

kepala

memungkinkan

intrakarinal (Hamilton, 1995).

Panggul

yang

sempit

terjadi

fraktur

dan

perdarahan

menyebabkan

persalinan

menjadi

lebih lama karena adanya obstruksi pada kala I dan kala II. Pada

38

kala I, kepala tidak masuk pintu atas panggul maka pembukaan

berlangsung lama dan besar kemungkinan ketuban pecah sebelum

waktunya, hal tersebut menyebabkan kepala janin tidak dapat

menekan serviks kecuali terjadi his yang sangat kuat. Apabila

pembukaan lancar maka itu pertanda baik, namun bila lambat

maka besar kemungkinan janin tidak dapat melewati panggul.

Pada

kala

II

menjadi

lama

karena

diperlukan

waktu

untuk

turunnya kepala dan moulage (Mochtar, 1998).

c. Kelainan His

Kelainan his ketika persalinan berlangsung yakni his yang

tidak

normal

baik

kekuatan

maupun

sifatnya

sehingga

menghambat

kelancaran

persalinan.

Persalinan

akan

berjalan

normal jika gelombang kontraksi menyebar ke seluruh uterus dan

pola aktivitas uterus yang normal, jika terjadi abnormalitas maka

persalinan akan memanjang dan berlangsung lama (Llewellyn-

Jones, 2001).

d. Janin besar

Janin yang besar adalah bila berat badan melebihi dari 4000

gram. Banyak bayi yang memiliki berat badan melebihi 10 pound

(4,536

gram)

ketika

lahir,

hal

tersebut

tidak

menguntungkan

karena ukuran janin/bayi yang besar sangat menyulitkan kelahiran.

Besarnya

ukuran

tersebut

bisa

berhubungan

dengan

beberapa

39

faktor termasuk keturunan, ibu yang mengalami diabetes, dan

kehamilan yang sering.

Implikasi

bagi

ibu

melibatkan

distensi

uterus

yang

menyebabkan peregangan berlebihan pada serat-serat uterus. Hal

tersebut

menyebabkan

disfungsional

persalinan,

kemungkinan

ruptur uterus, dan peningkatan insiden perdarahan postpartum.

Persalinan dapat menjadi lebih lama, adapun implikasi bagi janin

yakni trauma serebral karena kontak yang kuat dengan tulang

pelvik ibu, asfiksia janin, kompresi tali pusat, kerusakan saraf

karena regangan leher yang berlebihan (Hamilton, 1995).

e. Kelainan kongenital

Malformasi kongenital adalah kelainan dalam pertumbuhan

janin yang terjadi sejak konsepsi dan selama dalam kandungan.

Diperkirakan

terdapat

10-20%

dari

kematian

janin

dalam

kandungan

dan

kematian

neonatal

disebabkan

oleh

kelainan

kongenital.

Malformasi

kongenital

merupakan

kausa

penting

terjadinya keguguran, lahir mati, dan kematian neonatal. Dari

sudut obstetrik kelainan kongenital dapat menyebabkan distosia

persalinan sedangkan dari segi pediatrik bayi yang dilahirkan

memerlukan perhatian yang khusus (Mochtar, 1998).

f. Perut gantung

Menurut Mochtar (1998), perut gantung dijumpai pada

multipara

ataupun

grandemultipara,

hal

tersebut

karena

melemahnya

dinding

perut.

Semakin

tua

kehamilan,

40

uterus

semakin bertambah ke depan sehingga fundus uteri akan lebih

rendah dari simfisis. Akibatnya, terjadi kesalahan letak janin,

kepala janin yang tidak masuk ke ruang panggul. Proses persalinan

akan mengalami gangguan pada kala I maupun kala II. Apabila

kepala telah masuk pintu atas panggul serta his baik dan adekuat,

persalinan dapat berlangsung secara biasa, sekurang-kurangnya

persalinan dibantu dengan ekstraksi vakum atau forsipal.

g. Ketuban pecah dini

Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya selaput ketuban

secara spontan 1 jam atau lebih sebelum terjadinya persalinan.

h.

Paritas

Paritas adalah jumlah persalinan yang pernah dialami oleh

ibu. Paritas yang paling aman dari sudut kematian metrnal yaitu

dengan paritas 2-3 kali, sedangkan paritas 1 kali atau paritas lebih

dari 3 kali angka kematian maternalnya lebih tinggi (Saifuddin,

2002). Kehamilan atau persalinan pada ibu dengan paritas lima

atau lebih dengan kondisi keadaan umur yang kurang baik, dimana

umur lebih dari 35 tahun sangat meningkatkan untuk terjadinya

resiko,baik pada saat persalinan atau keadaan dan kondisi anak

yang dilahirkan (Tara, 2002).

41

C. Kerangka Teori

Faktor ibu

Faktor ibu

Faktor plasenta

Faktor plasenta

Faktor janin / neonatus

Faktor janin / neonatus

Faktor persalinan

Faktor persalinan

Asfiksia Neonatorum

Asfiksia Neonatorum

Faktor persalinan Asfiksia Neonatorum Asfiksia Neonatorum Persalinan tindakan Persalinan tindakan Partus lama

Persalinan tindakan

Persalinan tindakan

Partus lama

Partus lama

tindakan Persalinan tindakan Partus lama Partus lama Kala persalinan : Kala persalinan : Kala I Kala
Kala persalinan : Kala persalinan : Kala I Kala I Primi : > 13 jam
Kala persalinan :
Kala persalinan :
Kala I
Kala I
Primi : > 13 jam
Primi : > 13 jam
Multi : > 7 jam
Multi : > 7 jam
Kala II
Kala II
Primi : > 1 jam
Primi : > 1 jam
Multi : > ½ jam
Multi : > ½ jam

Bagan 2.1 kerangka teori (Modifikasi Towell, 1966 dalam Ilyas, 1994) &

(Mochtar, 1998).

D. Kerangka Konsep

Konsep

penelitian

merupakan

suatu

uraian

dan

42

visualisasi

hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya,

atau antara variabel yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang

ingin diteliti (Notoatmodjo, 2010).

Variabel Independen (bebas)

Kala persalinan :

Kala I

Kala II

Variabel Dependen (terikat)

Asfiksia Neonatorum

I Kala II Variabel Dependen (terikat) Asfiksia Neonatorum Bagan 2.2 Kerangka Konsep E. Hipotesis Jawaban sementara

Bagan 2.2 Kerangka Konsep

E. Hipotesis

Jawaban sementara dalam suatu penelitian disebut dengan hipotesis

(Notoatmodjo, 2010). Hipotesis dalam penelitian ini adalah “Ada

hubungan antara kala I dan II lama persalinan dengan kejadian Asfiksia

Neonatorum”.