Anda di halaman 1dari 13

Makalah

PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI METODE MAKE-A MATCH (MENCARI PASANGAN)

OLEH

KARTIKA DEWI NIP.1650212 198610 2001

PEMERINTAH KOTA BANDA ACEH DINAS PENDIDIKAN PEMUDA OLAH RAGA SEKOLAH DASAR NEGERI 38 TAHUN 2012

BAB I PENDAHULUAN Rasional Masalah pendidikan merupakan bahan yang tidak habis-habisnya dibicarakan, hal ini disebabkan besar dan rumitnya permasalahan serta implikasinya terhadap kelangsungan eksistensi bangsa. Pendidikan terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu komponen sistem masyarakat kita. Baik Pemerintah, lembaga pendidikan maupun komponen lainnya. Mutu pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan sekolah dalam dua demensi yaitu kemampuan teknis dan pengelolaan. Tingginya hasil belajar siswa harus dilahirkan dari meningkatnya kemampuan sekolah dalam menciptakan kemungkinan-kemungkinan yang besar kepada siswa untuk belajar sebanyak mungkin (Ace Suryadi, 1999 : 299) Kemampuan guru dalam penguasaan materi pembelajaran, penyampaian materi pembelajaran , penggunaan metoda yang tepat dan kepribadiannya yang matang diharapkan dapat semakin meningkat, sehingga mampu membangun suasana pembelajaran yang produktif, kreatif dan inovatif, tercapainya suatu pembelajaran yang mampu meningkatkan mutu kelulusan, karena itu kemampuan didaktik menjadi tumpuan sentral pembelajaran dan perlu terus dikembangkan secara professional, namun didalam kenyataan yang ditemui di lapangan menunjukkan lain. Sebahagian besar kemampuan guru yang berkenaan dengan didaktik masih mengembangkan memprihatinkan. Para guru masih banyak menghadapi kesulitan dalam didaktik di depan kelas, hal itu telah diimplikasikan negatif terhadap

pelaksanaan proses belajar mengajar serta akibat langsung maupun tidak terhadap rendahnya mutu kelulusan sekolah tersebut. Dalam survai awal penulis menemukan bahwa guru mata pelajaran IPA, dalam mengajar di sekolah masih minim melakukan inovasi pembelajaran terutama dalam mengguna metoda san model, hal ini disebabkan diantaranya, keterbatasan penguasaan materi, metoda dan sarana pendukung. Disisi lain guru IPA jarang mendapatkan penyegaran dalam menemukan inovasi pembelajaran, hal ini memberikan dampak kurang baik dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif. Pada temuan lain masih banyaknya guru yang mengajar mata pelajaran IPA yang kurang menguasai materi sehingga tidak mampu menyesuaikan dengan metode dan strategi pembelajaran lainnya dan mengajar tidak secara efektif, sehingga banyak siswa yang appriori terhadap mata pelajaran IPA di kelas V.

Berdasarkan gambaran di atas, menarik untuk dikaji dan teliti penggunaan model Pembelajaran Make-A Match (Mencari Pasangan) Dalam Meningkatkan Minat Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Kelas V yang dilakukan guru mata pelajaran IPA di SD Negeri 38 Banda Aceh., penelitian ini lebih ditekankan pada pembelajaran penggunaan model tersebut dalam beberapa siklus. Adapun pertanyaan penelitian yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1. Apakah penggunaan Model Pembelajaran Make-A Match (Mencari Pasangan) dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas V Negeri 38 Banda Aceh. 2. Apakah penggunaan Model Pembelajaran Make-A Match (Mencari Pasangan) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas V SD Negeri 38 Banda Aceh. Secara khusus penelitian dimaksudkan untuk mengetahui aktifitas siswa dan guru dalam menggunakan Model Pembelajaran Make-A Match (Mencari Pasangan) dalam

pembelajaran mata pelajaran IPA kelas V Negeri 38 Banda Aceh. Mengetahui tingkat motivasi dan minat serta hasil belajar siswa dalam penggunaan Model Pembelajaran Make-A Match (Mencari Pasangan) pada mata pelajaran IPA kelas V Negeri 38 Banda Aceh. Secara teoritis penelitian ini diharapkan mampu mengungkapkan berbagai perkembangan pembelajaran terutama penggunaan model dan metode pembelajaran di kelas. Secara praktis penelitian ini diharapakan dapat berguna bagi pihak-pihak yang terkait dengan lembaga pendidikan, terutama dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada Peneliti, teman Guru, para Siswa, dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan dunia pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam dan Metode Make-A Match (Mencari Pasangan) Ace Suryadi, (1999 : 299).Mengemukakan bahwa mutu pendidikan sangat

ditentukan oleh kemampuan sekolah dalam dua demensi yaitu kemampuan teknis dan pengelolaan. Tingginya hasil belajar siswa harus dilahirkan dari meningkatnya kemampuan sekolah dalam menciptakan kemungkinan-kemungkinan yang besar kepada siswa untuk belajar sebanyak mungkin. Ace Suryadi (1999:106) menjelaskan dalam mengajar, guru melaksanakan kegiatan tidak semata-mata ditentukan oleh kurikulum dan instruksi dari atasan mereka, disamping mengemban misi pendidikan yang tertuang dalam kurikulum, guru juga memiliki misinya sendiri yang tidak dapat diintervensi oleh pihak mana pun. Ketika setelah menutup pintu kelas dan seorang diri menghadapi murid-murid, guru dapat berbuat sekehendak hatinya,
2

terlepas dari adanya unsur pengawasan yang hanya dapat mengawasi guru dari hasil administrasi dan dilakukan tidak secara kontinyu Berdasarkan hal di atas, pembelajaran yang baik sangat ditentukan oleh kemampuan guru dalam penguasan materi, pemakaian metode, penggunaan alat peraga, strategi mengajar yang tepat, dan menciptakan serta memelihara kondisi kelas yang menyenangkan. Semiawan, dkk, (1989:63) menjelaskan guru dapat mengajar secara efektif didukung oleh pengorganisasian kelas yang rapi, disiplin dan motivasi secara kontinyu, serta suasana menyenangkan sehingga memungkinkan siswa belajar dengan baik dan tenang. Ahmadi (1987:107) menyebutkan pentingnya peranan guru dalam pembelajaran di kelas, bagaimanapun pesatnya sarana pengajaran, peran guru masih diperlukan. Guru harus selalu siap, dalam situasi dan kondisi apapun masalah pengajaran akan kembali kepada guru itu sendiri. Hal ini gambaran pentingnya keberadaan guru, yang mengimflikasikan guru harus selalu merencanakan program pembelajaran seperti menetapkan strategi dan situasi pembelajaran yang menyenangkan, sehingga siswa termotivasi untuk belajar. Metode dalam pembelajaran dapat berfungsi sebagai jembatan mencapai tujuan pengajaran. Menurut Surakhmad (1982:76) metode adalah cara yang dalam fungsinya merupakan alat pencapaian tujuan, hal ini berlaku bagi guru maupun siswa. Pemilihan dan penggunaan metode yang tepat dan benar maka lebih efektif dalam pencapaian tujuan. Hardjosoediro, (1982:8). Mengingatkan pentingnya metode dalam pembelajaran berbagai disiplin ilmu termasuk mata pelajaran Sejarah di sekolah, maka penggunaan metode mengajar yang baik dan sesuai dengan materi yang diajarkan adalah mutlak dimiliki dan dikuasai oleh guru sebagai pendidik. Menurut Sunaryo, (1989:97). Tujuan utama dari model ini adalah menyediakan cara bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan intelektualnya yang berkaitan dengan pola pikir kritis dan memecahkan masalah. Model pembelajaran ini diharapakan mampu meningkatkan hasil belajar siswa, dimana model tersebut memberikan pengalaman kemendirian berpikir secara cepat dan benar sementara sikap bekerja sama diharapkan mampu membangun suatu pola pikir yang positif untuk bekerja sama dan menghargai orang lain. Perpaduan ini memperhatikan hasil yang diinginkan, mendorong penulis untuk meneliti.

BAB II METODELOGI PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di kelas V Negeri 38 Banda Aceh Banda Aceh Aceh.Penelitian dilakukan dikelas V karena peneliti adalah guru kelas yang mengajar di kelas tersebut. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan yaitu pada bulan Juli s/d Agustus 2010-2011. Adapun Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V Negeri 38 Banda Aceh Tahun 2010/2011 yang berjumlah 20 Orang, yang terdiri dari 9 orang siswa perempuan dan 11 orang siswa laki-laki. Mereka berumur antara 10 tahun homogen. sedangkan kecerdasan mereka adalah heterogen. Data yang diperoleh berasal dari siswa kelas V Negeri 38 Banda Aceh dan Guru/teman sejawat yang merupakan guru kolaborasi dalam melaksanakan kegiatan penelitian. Data yang dikumpulkan dengan cara melakukan test dilakukan pada setiap akhir proses pembelajaran bentuk tulisan. Observasi yang dilakukan dengan menggunakan lembaran instrument untuk melihat kegiatan siswa dalam proses pembelajaran diantaranya adalah aktifitas siswa pada saat melakukan diskusi dengan teman kelompoknya dan diskusi kelas, observasi yang dilakukan oleh guru kolaborasi sebagai Observer pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Alat pengumpul data yang digunakan adalah Butir Soal Test, Lembar Instrumen aktifitas siswa, Lembar Intrumen PBM Guru Tes disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapaiu, digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa pada materi Koperasi .Tes ini diberikan setiap akhir pembelajaran, bentuk tes yang diberikan adalah tes ber bentuk tulisan. Validasi data didapat dari hasil rekaman hasil test siswa. Proses pembelajaran ( Observasi aktifitas siswa dan PBM guru ). Validasi data pada proses pembelajaran ini merupakan triangulasi antara siswa, guru yang melaksanakan PBM dan Guru kolaboratif sebagai observer. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, hal ini didasarkan kepada rumusan masalah penelitian yang menuntut penulis untuk melakukan pembelajaran secara siklus dan mengeksplorasi serta menganalisis setiap action sehingga dapat memahami dan menjelaskan masalah yang diteliti melalui hubungan yang komparatif dan intensif dengan perlakuan yang dilakukan. Sedangkan gambaran permasalahan secara teoritis dapat diuraikan melalui studi kepustakaan dengan maksud agar proses penganalisaan
4

serta penafsiran terhadap titik fokus penelitian dapat memberikan gambaran yang lebih akurat dan akuntabilitas. Analisis data dalam penelitian kualitatif ini didasarkan atas prosedur atau langkah langkah menurut yang dikemukakan oleh Milles dan Hubermen (1992:16-20) . yaitu teknik pengolahan dan penafsiran data dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : Reduksi data, display data, dan verifikasi data. Adapun indikator yang diharapkan dalam kegiatan penelitian ini adalah terjadi peningkatan hasil belajar yaitu sebanyak 70 % siswa mencapai ketuntasan belajar. Terjadi peningkatan aktifitas belajar siswa pada setiap siklus. Terjadi peningkatan pelaksanaan proses belajar mengajar yang disenggarakan oleh guru. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Setiap siklus dilaksanakan 2 kali tatap muka , setiap tatap muka dilakukan 1 buah indikator, hasil akhir dari penelitian ini diberikan langkah-langkah penilaian dalam bentuk latihan pembelajaran.
Refleksi Perencanaan

Siklus I Pengamatan Perencanaan Refleksi Siklus II

Pelaksanaan

Pelaksanaan

Pengamatan

Rekomendasi

Gambar 0.1. Alur Penelitian

BAB II PEMBAHASAN Hasil penelitian diuraikan dalam tahapan yang menggambarkan suasana pembelajaran berupa siklus siklus pembelajaran yang dilakukan dalam proses belajar mengajar dikelas. Dalam penelitian ini pembelajaran dilakukan dalam dua siklus yang terdiri dari empat tahap, yakni perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi sebagaimana pemaparan berikut ini : Deskripsi Siklus I Perencanaan Pada perencanaan tindakan siklus 1 ini, penulis menyiapkan perangkat pembelajaran, membuat silabus 1 siklus 2 kali tatap muka, 1 RPP dan menyiapkan format observasi. Pelaksanaan Pada Pelaksanaan tindakan penulis berpedoman pada pada standar proses PERMEN No, 41 tahun 2007. Pelaksanaan tindakan ini dengan langkah-langkah sebagai berikut : Pertemuan Pertama 1. Kegiatan Awal (10 Menit) Penulis masuk kelas dan memberi salam kepada siswa dan siswa menjawab salam dari guru. Kemudian penulis memandu siswa dalam pembacaan doa, mengabsen siswa dan memberikan motivasi pada siswa mengenai pembelajaran yang akan dimulai dan mengelola kelas dengan baik. Guru menyampaikan indikator pembelajaran yang akan dicapai siswa dalam pembelajaran ini. 2. Kegiatan Inti (60 menit) Pada tahap ini guru menjelaskan skenario pembelajaran pada siswa sesuai dengan metode yang penulis gunakan yaitu metode mencari pasangan, dilanjutkan dengan pemberian pertanyaan oleh guru tentang indikator pembelajaran sehingga siswa menjawabnya, umumnya siswa belum mampu menjawab karena siswa yang ditunjuk untuk menjawab mengatakan belum tahu. Guru membagi siswa atas 6 kelompok masing-masing kelompok beranggotakan 5 orang dengan jumlah siswa 20 orang. Setiap kelompok anggotanya memiliki kemampuan yang heterogen, mengorganisasikan kelompok yang ada dan kemudian meminta siswa untuk duduk dengan kelompoknya masing-masing. Guru menjelaskan tentang materi pelajaran. Siswa mendiskusikan dengan kelompoknya kemudian menjawab beberapa pertanyaan yang ada di LKS, guru meminta setiap kelompok memaparkan ke depan tentang materi yang dipelajari, dimana setiap kelompok
6

diwakili oleh ketua masing-masing. Setelah melakukan mencari pasangan dan setiap kelompok sudah memaparkan hasil kerja kelompoknya didepan kelas maka guru akan memberikan penguatan-penguatan terhadap hasil belajar kelompok. 3. Kegiatan Akhir / penutup (10 menit) Guru memberikan penguatan-penguatan sesuai dengan konfirmasi. Guru menilai hasil ,evaluasi. Memberikan rencana tindak lanjut dan pr dalam rangka tindak lanjut dan rencana tindakan berikutnya. Pertemuan Kedua 1. Kegiatan Awal (10 Menit) Penulis masuk kelas dan memberi salam kepada siswa dan siswa menjawab salam dari guru. Kemudian penulis memandu siswa dalam pembacaan doa, mengabsen siswa dan memberikan motivasi pada siswa mengenai pembelajaran yang akan dimulai dan mengelola kelas dengan baik. Guru menyampaikan indikator pembelajaran yang akan dicapai siswa dalam pembelajaran ini. 2. Kegiatan Inti (60 menit) Pada tahap ini guru menjelaskan skenario pembelajaran pada siswa sesuai dengan metode yang penulis gunakan yaitu metode mencari pasangan, dilanjutkan dengan pemberian pertanyaan oleh guru tentang indikator pembelajaran sehingga siswa menjawabnya, umumnya siswa belum mampu menjawab karena siswa yang ditunjuk untuk menjawab mengatakan belum tahu. Guru membagi siswa atas 6 kelompok masing-masing kelompok beranggotakan 5 orang dengan jumlah siswa 20 orang. Setiap kelompok anggotanya memiliki kemampuan yang heterogen, mengorganisasikan kelompok yang ada dan kemudian meminta siswa untuk duduk dengan kelompoknya masing-masing. Guru menjelaskan tentang materi pelajaran. Siswa mendiskusikan dengan kelompoknya kemudian menjawab beberapa pertanyaan yang ada di LKS, guru meminta setiap kelompok memaparkan ke depan tentang materi yang dipelajari, dimana setiap kelompok diwakili oleh ketua masing-masing. Setelah melakukan mencari pasangan dan setiap kelompok sudah memaparkan hasil kerja kelompoknya didepan kelas maka guru akan memberikan penguatan-penguatan terhadap hasil belajar kelompok. 3. Kegiatan Akhir / penutup (10 menit) Guru memberikan penguatan-penguatan sesuai dengan konfirmasi. Guru Menilai Hasil Evaluasi

Observasi Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa siswa kelas V yang memiliki nilai kurang dari KKM 6,5, sebanyak 11 siswa. Dengan demikian jumlah siswa yang belum

mencapai ketuntasan belajar minimum sebanyak 11 siswa (55,0 %). Sedangkan yang telah mencapai ketuntasan sebanyak 9 siswa ( 45,0 % .Dari hasil tes siklus I, menunjukkan bahwa hasil yang mencapai nilai A (sangat baik) adalah 2 siswa (10,0 %), sedangkan yang mendapat nilai B (baik) adalah 7 siswa atau (35,0 %), sedangkan dari jumlah 20 siswa yang masih mendapatkan nilai C (cukup) sebanyak 4 siswa (20 ,0 %) , sedangkan yang mendapat nilai D (kurang) ada 7 siswa (35,0 %), sedangkan yang mendapat nilai D (sangat kurang) tidak ada atau 0 % . Refleksi Berdasarkan hasil tes kemampuan awal dengan hasil tes kemampuan siklus I dapat dilihat adanya pengurangan jumlah siswa yang masih di bawah Kriteria ketuntasan Minimal. Pada pra siklus jumlah siswa yang dibawah KKM sebanyak 11 anak dan pada akhir siklus I berkurang menjadi 6 anak. Nilai rata-rata kelas meningkat dari 5,0 menjadi 6,5.

pembelajaran kooperatif Model STAD (Student Teams Achievement Division) mampu meningkatkan hasil belajar, khususnya pada materi bilangan Rumawi . Oleh karena itu, ratarata kelas pun mengalami kenaikan menjadi 6,50. Walaupun sudah terjadi kenaikan seperti tersebut di atas, namun hasil tersebut belum optimal. Hal ini dapat terlihat dari hasil observasi bahwa dalam kegiatan pembelajaran masih terdapat beberapa siswa yang kurang aktif dalam melakukan kegiatan pembelajaran, karena sebagian siswa beranggapan bahwa kegiatan secara kelompok akan mendapat prestasi yang sama. Oleh karena itu, diperlukan upaya perbaikan pembelajaran pada siklus II. Deskripsi Siklus II Perencanaan Pada perencanaan tindakan siklus II ini, penulis menyiapkan perangkat pembelajaran, membuat silabus 1 siklus 2 kali tatap muka, 1 RPP dan menyiapkan format observasi. Pelaksanaan Kegiatan pada tahap ini yaitu peneliti malakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan tahapan yang sudah didesain dalam RPP, dimana terdiri dari tiga langkah kegiatan, dan dapat digambarkan sebagai berikut:

Pertemuan Pertama 1. Kegiatan Awal (10 Menit) Penulis melaksanakan sesuai dengan standar proses dengan skenario yang penulis susun. Guru memberi salam dan siswa menjawab salam. Memandu siswa membaca doa. Mengabsen siswa dan melakukan apersepsi. Memberikan motivasi kepada siswa dan meminta siswa siap mengikuti pelajaran. Menjelaskan tujuan pembelajaran dan

menuliskan indicator dan KD pembelajaran di papan tulis. 2. Kegiatan Inti (60 menit) Pada tahap ini guru menjelaskan skenario pembelajaran pada siswa sesuai dengan metode yang penulis gunakan yaitu metode mencari pasangan, dilanjutkan dengan pemberian pertanyaan oleh guru tentang indikator pembelajaran sehingga siswa menjawabnya, umumnya siswa belum mampu menjawab karena siswa yang ditunjuk untuk menjawab mengatakan belum tahu. Guru membagi siswa atas 6 kelompok masingmasing kelompok beranggotakan 5 orang dengan jumlah siswa 20 orang. Setiap kelompok anggotanya memiliki kemampuan yang heterogen, mengorganisasikan kelompok yang ada dan kemudian meminta siswa untuk duduk dengan kelompoknya masing-masing. Guru menjelaskan tentang materi pelajaran. Siswa mendiskusikan dengan kelompoknya kemudian menjawab beberapa pertanyaan yang ada di LKS, guru meminta setiap kelompok memaparkan ke depan tentang materi yang dipelajari, dimana setiap kelompok diwakili oleh ketua masing-masing. Setelah melakukan mencari pasangan dan setiap kelompok sudah memaparkan hasil kerja kelompoknya didepan kelas maka guru akan memberikan penguatan-penguatan terhadap hasil belajar kelompok. 3. Kegiatan Akhir / penutup (10 menit) Guru memberikan penguatan-penguatan sesuai dengan konfirmasi. Guru Menilai Hasil ,Evaluasi. Memberikan rencana tindak lanjut dan PR dalam rangka tindak lanjut dan rencana tindakan berikutnya. Pertemuan Kedua 1. Kegiatan Awal (10 Menit) Penulis melaksanakan sesuai dengan standar proses dengan skenario yang penulis susun. Guru memberi salam dan siswa menjawab salam. Memandu siswa membaca doa. Mengabsen siswa dan melakukan apersepsi. Memberikan motivasi kepada siswa dan meminta siswa siap mengikuti pelajaran. Menjelaskan tujuan pembelajaran dan

menuliskan indicator dan kd pembelajaran di papan tulis.


9

2. Kegiatan Inti (60 menit) Pada tahap ini guru menjelaskan skenario pembelajaran pada siswa sesuai dengan metode yang penulis gunakan yaitu metode mencari pasangan, dilanjutkan dengan pemberian pertanyaan oleh guru tentang indikator pembelajaran sehingga siswa menjawabnya, umumnya siswa belum mampu menjawab karena siswa yang ditunjuk untuk menjawab mengatakan belum tahu. Guru membagi siswa atas 6 kelompok masingmasing kelompok beranggotakan 5 orang dengan jumlah siswa 20 orang. Setiap kelompok anggotanya memiliki kemampuan yang heterogen, mengorganisasikan kelompok yang ada dan kemudian meminta siswa untuk duduk dengan kelompoknya masing-masing. Guru menjelaskan tentang materi pelajaran. Siswa mendiskusikan dengan kelompoknya kemudian menjawab beberapa pertanyaan yang ada di LKS, guru meminta setiap kelompok memaparkan ke depan tentang materi yang dipelajari, dimana setiap kelompok diwakili oleh ketua masing-masing. Setelah melakukan mencari pasangan dan setiap kelompok sudah memaparkan hasil kerja kelompoknya didepan kelas maka guru akan memberikan penguatan-penguatan terhadap hasil belajar kelompok. 3. Kegiatan Akhir / penutup (10 menit) Guru memberikan penguatan-penguatan sesuai dengan konfirmasi. Guru Menilai Hasil ,Evaluasi. Memberikan rencana tindak lanjut dan PR dalam rangka tindak lanjut dan rencana tindakan berikutnya. Observasi Dari hasil,observasi diketahui bahwa yang mendapatkan nilai sangat baik (A) adalah 25,0 % atau 5 siswa, sedangkan yang terbanyak yaitu yang mendapat nilai baik (B) adalah 65,0 % atau 13 siswa. Dan yang mendapat nilai C (cukup) adalah 10,0 % atau sebanyak 2 siswa.Sedangjan yang mendapat nilai D dan E tidak ada. Sedangkan nilai rata-rata kelas 7,5. Berdasarkan data tersebut di atas diketahui bahwa siswa yang mencapai ketuntasan sebanyak 14 siswa ( 70%) yang berarti sudah ada peningkatan . Rata-rata kelas pun menjadi meningkat Refleksi Berdasarkan nilai hasil siklus I dan nilai hasil siklus II dapat diketahui bahwa

pembelajaran Model mencari pasangan dapat meningkatkan hasil belajar IPA. Jika dibandingkan antara keadaan kondisi awal , siklus I dan siklus II dapat dilihat bahwa saat kondisi awal rata- rata kelas sebesar 5,0 , sedangkan nilai rata- rata kelas siklus II sudah ada peningkatan menjadi 6,5.

10

BAB III PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan kajian analisis penulis dapat menyimpulkan bahwa melalui dengan penerapan Metode Pembelajaran mencari pasangan dapat meningkatkan hasil belajar IPA. Disamping itu penggunaan Metode Pembelajaran mencari pasangan dapat meningkatkan Motivasi dan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran sehingga aktifitas belajar meningkat. Saran Penelitian Tindakan Kelas ini bagi Guru untuk dapat dijadikan acuan dalam melaksanakan pembelajaran sesuai pelayanan yang ampuh. Bagi Sekolah Penelitian Tindakan Kelas ini dapat dijadikan infut/ masukan untuk meningkatkan proses belajar mengajar dalam satuan pendidikan.

11

DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, A, 1987, Pendidikan dari Masa ke Masa, Bandung, Armico. Conny R. Semiawan, dkk, 1989, Pendekatan Keterampilan Proses : Bagaimana Mengaktifkan Siswa Dalam Belajar, Jakarta. Gramedia. Hardjosoediro, 1982, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung, Sinar Baru. Ibrahim, 1988, Inovasi Pendidikan, Jakarta, Depdikbud. Joni Raka T, 1980, Pengelolaan Kelas, Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Suriasumantri, J. S, 1998, Belajar Mengajar dan Teknik Mengajar, Jakarta, P2LPTK. Suharsimin Arikunto, 1988, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Rineka Cipta. Winarno Surahmad, 1982, Pengantar Interaksi Mengajar-Belajar Dasar dan Teknik Metodologi Pengajaran, Bandung, Tarsito.

12