Anda di halaman 1dari 5

PANCA BHUMI PARISUDDHA LIMA LANGKAH KRAMA HINDU BALI UNTUK MELESTARIKAN BHUMI

Langkah 1: TOYA PARISUDDHA MERAWAT DAN MELINDUNGI MATA AIR Tradisi suci Hindu mewajibkan kita menjaga air (toya) sumber mata air dan mata air suci (petirtan atau patoyan) sebagai sumber kehidupan dan air suci. Air suci atau toya atau tirta dalam tradisi Bali dibuat dari kumpulan air dari berbagai sumber mata air, yang kita kenal sebagai petirthan atau patoyan. Hindu Bali juga mempunyai tradisi melakukan penyucian sebelum festival Pura atau Odalan dengan pergi ke Beji (sumber mata air penyucian). Tradisi ini mengajarkan bukan hanya bagaimana membuat tirtha atau toya, tapi juga kewajiban menjaga sumber-sumber mata air dan lingkungan sekitarnya. Bahkan, jika piodalan atau Karya Agung Besakih atau Pura penting lainnya, tirta/toya dibuat dengan mendatangkan dan menjemput air dari mata air di pulau lain, seperti Jawa, Kalimantan dan Lombok.Tradisi tirtha adalah tradisi penyelamatan sumber air dan lingkungannya. Hindu Bali dengan tradisi Agama Tirtha-nya adalah paket kebaktian kepada alam beserta perintah dan kewajiban kita untuk menjaganya. Jika sumber-sumber air tercemar, terancam juga tradisi suci Hindu Bali. Belajar dari tradisi pembuatan tirtha yang dituliskan dalam berbagai lontar suci, bahan tirtha terbaik adalah dari sumber-sumber air suci yang bersih. Rasa tanah dan berkah mineral alami yang dikumpulkan dari berbagai sumber air suci tersebut membawa kekuatan dan energy yang membuat kita terhubung dengan pusat-pusat kesucian (mata air) tersebut. Belakangan ada 'tradisi baru' membuat tirtha dengan memakai air dari botol kemasan plastik, yang tentunya turut menyumbang sampah plastik. Dengan dibuatnya toya atau tirta membuat kita jarang ke patoyan atau sumber mata air, ini sama dengan 'menjauhkan' kita dari tanggungjawab memelihara dan merawat mata air.. Jika dikerjakan dengan system gotong royong atau saya (bergilir), menjemput air dari air dari mata air membuat kita bisa menghemat uang dan plastik. Mengantikan air dari petirthan (mata air suci) dengan air mineral bisa kita cermati sebagai tindakan yang telah meninggalkan atau bergeser dari tradisi suci warisan leluhur Bali. Langkah 2: SARWAPRANI PARISUDDHA HASIL TANAMAN SENDIRI UNTUK SESAJI-BANTEN SARWAPRANI PARISUDDHA bermakna menyucikan dan menjaga segala macam makhluk hidup. Kita dituntut hormat dan menghargai ciptaan Tuhan.Juga dalam pemikiran ini kita diajak

untuk gemar bercocok tanam dan mencintai tumbuhan. Dalam membuat sesaji (banten) kita menginginkan bahan-bahan (buah, daun, biji, air, busung, dstnya) yang terbaik agar menjadi persembahan yang terbaik yang mewakili rasa bakti kita. Tradisi Hindu Bali adalah memakai hasil pertanian organik, buah lokal, bunga yang tumbuh di taman rumah atau sekitar kita. Persembahyang buah dan bunga adalah perwujudan terimakasih atas berkah Ibu Pertiwi dan alam semesta kepada kita atas panen dan kesuburan bumi serta perlindungan atas musim bertanam.Bersyukur atas hujan dan limpahan air yang mengidupkan pertanian dan tegalan kita. Menjaga tradisi suci ini, kita diharapkan untuk menghindari apa yang tersedia di toko-toko besar karena sebagian kebanyakan produk yang tersedia dalam pertokoan ada pengawet dan bukan alami, memakai pestisida atau bahan kimia. Produk pertanian organik, buah lokal, bunga yang tumbuh di taman rumah atau sekitar kita memiliki dampak yang ramah pada Bhumi Sang Hyang Ibu Pertiwi dengan emisi karbon yang lebih rendah, kurang pestisida mencemari lingkungan setempat: Inilah pilihan yang lebih dalam menunjukkan rasa bakti kita pada Sang Hyang Widhi dan Sang Hyang Pertiwi. Kitab suci Isa Upanishad menggambarkan alam sebagai milik Tuhan tertinggi Ia membuat taman dunia ini. Ajaran suci ini mengajarkan kepada kita Jika Tuhan adalah pembuat kebun dunia, untuk menghayati kesucian dan meningkatkan bakti serta terimakasih atas penciptaan dunia kita bisa memperasri dan memanami pekarangan rumah dan taman di Pura-pura dengan aneka bunga dan tanaman hias serta tanaman upakara. Tradisi merawat-memelihara taman dan memperasri telajakan (tanah depan rumah) dan teba (taman belakang rumah) adalah tradisi suci yang terwariskan secara turun-temurun di Bali. Di samping tanaman dan buah dari pekarangan atau yang kita taman sendiri lebih mampu mewakili bakti kita dalam upakara, dengan menanam dan menghasilkan kebutuhan ritual untuk diri kita sendiri maka kita dapat berpartisipasi dalam mengurangi emisi karbon - pemanasan global. Jika tak punya pekarangan luas, beberapa tanaman berbuah dan bunga (serta sayur) dapat tumbuh di pot atau petak tanah yang bisa kita sediakan di rumah. Ini memungkinkan kita untuk menggunakan taman Tuhan (dunia dan berkah ibu pertiwi) yang telah memberi kita kelangsungan kehidupan rohani kita. Jika Anda tidak memiliki taman yang Anda tanam bagi diri sendiri, ajaran etika Bali menganjurkan untuk hormatilah tetangga atau teman yang menanam dengan jalan membeli (bukan dengan mencuri atau meminta gratis) sebagai penghargaan, dengan begitu Anda telah mendukung para petani yang berkomitmen untuk melestarikan pedesaan, bunga-bunga dan tumbuh-tumbuhan lokal. Ada catatan menarik dari perkembangan kemajuan Bali kini: Kita (orang Bali) berkembang menjadi masyarakat yang sibuk dengan kemajuan, kian jarang berkebun di depan dan belakang rumahnya. Jarang menanam kebutuhan upakara dan ritual yang bisa tumbuh di telajakan atau teba. Banyak yang mulai menyerah ke supermaket, menyerah pada posokan ke busung Jawa, bunga Banyuwangi, apel New Zealand dstnya. Tak banyak lagi yang menanam Nyuh Gading atau kelapa di teba atau telajakan rumah. Bunga-bunga tak banyak lagi kita lihat menghias pekarangan rumah Bali seperti beberapa belas tahun lalu dimana setiap rumah Bali punya sudut taman atau teba-nya sendiri. Di masa semen dan beton belum berkembang, gembur

tanah buat bunga dan daun upakara di pekarangan masyarakat Bali. Langkah 3: KARYA PARISUDDHA KARYA-ODALAN HIJAU Odalan dan karya Hindu Bali biasanya dirayakan dengan meriah dan besar. Acara-acaranya membuat kita gembira, dan umat datang ramai bersama-sama untuk bersembahyang.Odalan juga merupakan kesempatan besar untuk menawarkan hasil panen dan produk pangan kita ke Pura. Dalam tradisi Hindu Bali, ada pelarangan memakai bahan-bahan non-alami dalam persembahyangan. Di beberapa desa melarang memakai piring plastic, atau bahan-bahan olahan pabrik lainnya.Diajurkan bahwa persembahyangan adalah perwujudan karya tangan kita sendiri dengan memakai bahan-bahan alami.Bahkan ada beberapa Pura yang melarang warganya memakai perhiasan emas atau membawa benda-benda lainnya yang bertentangan dengan keharmonisan kosmik.Upakara dengan bahan alami (hijau) dan bahan lokal adalah upakara yang dinilai bermutu sesuai prinsip harmonis dengan alam. Inilah Karya Parisuddha, persembahyangan yang berkesesuaian dengan tatanan kosmis. Sayangnya: Jumlah piring plastik, plastik air mineral, gelas plastik dan sendok plastik, pembungkus plastik yang digunakan oleh keluarga Hindu Bali dalam odalan kian meluber. Pemendek (warga Pura) dapat belajar dari kebiasaan lama leluhur kita yang membawa piring dan sendok sendiri untuk kegiatan di Pura.Pura-pura di Bali di masa lalu memiliki perlengkapan dapur alami sendiri seperti dari kau (batok kelapa) dan gelas-gelas yang dijaga serta dirawat pengempon (angota dan organsasi) Pura. Besaran sampah meningkat di Pura semenjak makin banyaknya urusan dapur Pura diserahkan pada catering yang tidak ramah lingkungan yang hanya berpikir keuntungan dan praktisnya saja. Belakangan ada kabar baik, tumbuh kelompok pemuda yang mempromosikan penggunaan biodegradable piring, gelas, dan sendok untuk keluarga kita dan masyarakat pemendek Pura.Generasi muda ini mulai mengerti dampak lingkungan dan peduli dengan kebersihan dan kelesatrian alam dan merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan contoh praktek yang baik dalam ketaatan beragama kita yang ramah lingkungan. Kelompok pemuda ini perlu didukung untuk memperluas-sebarkan kesadaran lingkungan Pura dengan mengupayakan menjadikan setiap Odalan dan Karya menjadikan momentum perayaan kesadaran hijau, menjadikan setiap perayaan menjadi ODALAN HIJAU perayaan Hindu yang menjunjung semangat mencintai Ibu Pertiwi. Langkah 4: TIRTHAYATRA PARISUDDHA TIRTHAYATRA HIJAU Berjalan kaki dan mengusung pratima dan berbagai perlengkapan upacara suci adalah bentuk pelayanan pemeluk Hindu Bali pada Hyang Widhi (Tuhan Yang Hakiki). Jalan dan mengusung benda-benda persembahan dan simbol-simbol keTuhanan adalah tradisi dinamik-yoga

(dynamic-yoga) Perjalanan ke Pura-pura atau Tirtha Yatra juga dapat menjadi bagian dari kegiatan fisik yang berpusat pada kesadaran batiniah yang bernama Dharma. Penghayatan pada kesucian dilakukan dengan tradisi jalan kaki yang menjadi dinamik yoga. Implementasi ajaran ini bisa kita lihat pula pada tradisi jalan bersama saat mengusung banten dan gebogan dari rumah ke Pura Desa yang dilakukan sampai kini di desa-desa di Bali.Tangkil (mengadiri-menghadap) dan sembahyang di desa sendiri atau Pura lokal, wajib jalan kaki. Kesadaran pada yoga dinamik ini kian kurang dihayati. Sekarang Pura penuh sesak di halaman depannya dengan motor dan mobil, padahal itu hanya odalan Pura Desa yang rata-rata pemendek atau warga yang sembahyang rumahnya tidak lebih dari 1 kilometer. Di samping jalan ke Pura atau tangkil adalah tradisi dinamik yoga, dengan jalan kaki ke Pura (seperti yang dilakukan para leluhur kita) adalah cara yang bagus untuk menurunkan jejak karbon kita, dan meningkatkan nafas dan umur Bhumi kita. Demikian juga kalau kita melasti. Dengan berjalan ke Pura atau melasti, kita bisa bersimakrama dengan warga yang lain: Ngobrol sambil jalan. Dalam Tirthayatra atau perjalanan jauh untuk mengunjungi tempat-tempat suci, dengan mobil-sharing atau naik transportasi public atau bis, kita bisa saling mengikatkan pikiran dan hati dengan umat lain, merawat keakraban dengan sanak saudara dan tetangga selama dalam perjalanan. Ide tentang menggalakkan kembali jalan kaki ke Pura ini telah didukung oleh sekelompok pemuda.Kelompok pemuda ini menganjurkan warga Hindu Bali untuk memilih transportasi umum untuk Tirthayatra, sebab dengan begitu kita mengirit energi Bhumi.Kelompok ini bergerak untuk mendorong pemerintah lokal untuk memperbanyak jalur kendaraan umum ke arah Pura-pura yang ramai dikunjungi. Lanjut mereka: Jika kendaraan umum membuat Anda merasa kurang nyaman, mengapa tidak mencoba mobil-sharing? Jika tangkil ke Pura atau Tirthayatra hubungi teman-teman atau tetangga, warga banjar atau sekaa teruna agar bergabung naik mobil bersama.Dengan naik mobil atau SUV besar seorang diri atau berdua saja, kita melakukan penjagalan/pemborosan energi yang bisa dihindari.Dengan membawa orang sebanyak yang kita bisa dan memastikan kita tidak pernah berkendara sendiri, itu sudah sumbangan besar untuk mengurangi energi, juga mengurangi kemacetan dan parkir yang senantiasa penuh sesak.Ini mudah dilakukan sepanjang Anda mau. Bahkan pemuda ini sedang bergerak lebih intensif untuk mengalakkan bersih Pura, mereka menghimbau: Agar benar-benar suci dan penuh berkah Tirthayatra kita, ambilah sampah dan bersihkan Pura-pura yang Anda kunjungi. Mulailah menutup kegiatan Tirthayatra dengan bersihbersih Pura dan menanam pohon di sekitar-kawasan tempat suci.Selamat mencoba Tirthayatra Hijau. Langkah 5: PARAHYANGAN PARISUDDHA LIMBAH SUCI Parahyangan (kawasan suci) wajib dilindungi, dibersihakan, dirawat dan ditata tanaman dan lingkungannya. Umat atau pengempon punya kewajiban untuk mengatur-menfasilitasi toilet dan

sampai akomodasi sederhana jika umat hendak makemit (menginap di Pura), serta sangat mendesak kebutuhan pengaturan sampah usai upakara (temple festival). Orang Bali sadar dan dengan senang hati menghaturkan banten dan sesaji (bahkan berlomba besar-besaran), dan tahu setelah sekian menit berlalu, persembahan dan bunga yang tadinya indah tersebut akan menjadi sampah. Kebijakan dimasa lalu adalah menjadikan sampah dari Pura untuk kompos bagi lahan-lahan pertanian di sekitar Pura, bahkan dipercaya lis wajib disimpan untuk digantung di pohon dan lahan pura untuk pemberi aura berkah dan kesuburan.Tanah yang mendapat sisa-sisa upakara atau sampah dari Pura dipercaya sebagai tanah yang mendapat berkah kesuburan. Belajar dari tradisi pemanfaatan sampah dari banten dan canang untuk dipakai di sawah dan tegalan di masa lalu, sampah organik banten dan canang ini sebenarnya LIMBAH SUCI.Jika kita tidak mencampuraduk dengan limbah plastik atau sampah plastik lainnya, LIMBAH SUCI ini bisa dijadikan kompos atau diolah menjadi bahan energi.Jika bahannya fresh-segar, bisa menjadi makanan ternak.[Dulu sebelum steples dipakai menjahit banten, sebelum banyak bahan nonorganik jadi bagian dari canang dan banten, limbah canang atau banten bisa menjadi pakan ternak].Dengan rasa bakti yang tinggi, bisa mengolah LIMBAH SUCI ini menjadi kompos.Jika dibakar, apalagi dengan bercampur dengan limbah plastik yang lainnya (sampah dari para pemendek atau umat Hindu yang sembahyang membawa bekal yang dibungkus hampir semuanya dengan plastik), LIMBAH SUCI ini menjadi sampah yang terbuang begitu saja. Jika kita tidak bakti pada lingkungan, maka apa yang tadinya persembahan dan suci tersia-sia menjadi sampah yang mengotori Bhumi. Dengan memilah LIMBAH SUCI ini dari plastik sampah para pemendek, kita bisa berbangga mengatakan: Canang dan banten bukan jadi sampah, tapi jadi berkah suci bagi Bhumi: Kompos, sumber energy, atau pakan ternak.