Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian pelaksanaan oleh guru dan siswa atas dasar hubungan timbal-balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa ini merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses pembelajaran. Pada kenyataan yang kita lihat di sekolah-sekolah, seringkali guru terlalu aktif di dalam proses pembelajaran, sementara siswa dibuat pasif, sehingga interaksi antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran tidak efektif. Jika proses pembelajaran lebih didominasi oleh guru, maka efektifitas pembelajaran tidak akan dapat dicapai. Untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang efektif, guru dituntut agar mampu mengelola proses pembelajaran yang memberikan rangsangan kepada siswa sehingga ia mau dan mampu belajar. Untuk bisa belajar efektif setiap orang perlu mengetahui apa arti belajar sesungguhnya. Belajar adalah sebuah tindakan aktif untuk memahami dan mengalami sesuatu. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Jadi, proses belajar terjadi jika anak merespon stimulus (rangsangan) yang diberikan guru, selain itu untuk meraih pembelajaran yang efektif peserta didik juga dapat dibimbing oleh Guru dari pengetahuan sebelumnya yang mereka miliki yang tersimpan dalam ingatan dan pemikiran mereka (Kognitif) dengan menggunakan teori dan metode pembelajaran dengan tepat. Jika hal itu belum terjadi maka proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan efektif dan optimal. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan di kelas dan atau di ruang praktek/laboratorium. Sehubungan dengan tugas ini, guru hendaknya selalu memikirkan tentang bagaimana upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tersebut, diantaranya dengan membuat perencanaan pembelajaran dengan seksama dan menyiapkan sejumlah perangkat pembelajaran yang tepat. Upaya ini tentu menuntut perubahan-perubahan dalam pengorganisasian kelas, penggunaan metode mengajar, strategi pembelajaran, sikap dan karakter guru dalam mengelola proses pembelajaran dengan bertindak selaku fasilitator yang berusaha
1

menciptakan kondisi pembelajaran yang efektif dengan cara meningkatkan kemampuan siswa Makalah ini membahas bagaimana mengajar yang efektif sehingga dengan demikian akan terwujud suatu pembelajaran yang menghasilkan pembelajaran yang optimal sesuai tujuan yang akan dicapai.

B. Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. Apa pengertian mengajar yang efektif Menjelaskan indikator, prinsip, dan ciri-ciri mengajar yang efektif Bagaimana strategi mengajar yang efektif Bagaimana metode mengajar yang efektif

C. Tujuan 1. 2. 3. 4. Untuk mengetahui pengertian mengajar yang efektif Untuk mengetahui indikator, prinsip, dan ciri-ciri mengajar yang efektif Untuk mengetahui strategi mengajar yang efektif Untuk mengetahui metode mengajar yang efektif

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Mengajar Efektif Mengajar adalah membimbing siswa, agar mengalami proses belajar. Dalam belajar, siswa menghendaki hasil belajar yang efektif bagi dirinya. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, guru harus membantu dengan cara mengajar yang efektif. Mengajar adalah suatu seni. Guru yang cakap mengajar dapat merasakan bahwa mengajar di mana saja adalah suatu hal yang menggembirakan, yang membuatnya melupakan kelelahan. Selain itu guru juga dapat mempengaruhi muridnya melalui kepribadiannya. Guru yang ingin murid-muridnya mengalami kemajuan, perlu mengadakan pengamatan dan penelitian terhadap teori dan praktek mengajar sehingga ia dapat terus-menerus meningkatkan cara mengajar Menurut M. uzer mengemukakan mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat, sehingga berhasilnnya pendidikan siswa sangat bergantung pada guru dalam melaksanakan tugasnya. Menurut Warni Rasyidin mengemukakan bahwa mengajar adalah keterlibatan guru dan siswa dalam interaksi proses belajar mengajar. Guru sebagai koordinator

menyusun,mengorganisasi dan mengatur situasi belajar. Nasution (1982:8) mengemukakan kegiatan mengajar diartikan sebagai segenap aktivitas kompleks yang dilakukan guru dalam mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar. Dengan demikian proses dan keberhasilan belajar siswa turut ditentukan oleh peran yang

dibawakan guru selama interaksi proses belajar mengajar berlangsung. Usman (1994:3) mengemukakan mengajar pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan terjadinya proses belajar. Pengertian ini mengandung makna bahwa guru dituntut untuk dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar siswa dan juga hendaknya mampu memanfaatkan lingkungan, baik ada di kelas maupun yang ada di luar kelas, yang menunjang terhadap kegiatan belajar mengajar.

William C. Morse & G. Max Wingo (1962) mengemukakan tiga macam defenisi mengajar yaitu : 1. Defenisi tradisional Mengajar adalah proses memberikan kepada pelajar pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menguasai mata-mata pelajaran yang telah ditentukan. 2. Defenisi kamus Mengajar diartikan sebagai menunjukkan bagaimana mengerjakan; mejadikan mengerti; member instruksi kepada. 3. Defenisi mutakhir Mengajar adalah system kegiatan untuk membimbing atau merangsang belajar anak mengerti dan membimbing anak sebagai individu dan sebagai kelompok dengan maksud terpenuhinya kelengkapan pengalaman belajar yang memungkinkan setiap anak dapat berkembang terus secara teratur mencapai kedewasaannya. Hamalik (2001:44-53) mengemukakan bahwa mengajar dapat diartikan sebagai : 1. menyampaikan pengetahuan kepada siswa, 2. mewariskan kebudayaan kepada generasi muda 3. usaha mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa 4. memberikan bimbingan belajar kepada murid 5. kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga negara yang baik, 6. suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari. Mashuri (1970), selaku menteri pendidikan dan kebudayaan mendefenisikan mengajar dengan pemberian stimulus atau rangsangan untuk belajar. Hartwig Schoder (1976) mengartikan mengajar sebagai prosedur mewariskan pengalaman dengan tujuan menyebabkan belajar berlangsung. David M. Johnson & Roger T. Johnson (1975) mengartikan belajar dengan proses pengaturan situasi belajar sedemikian rupa sehingga belajar siswa itu lancar. Belajar biasanya berlangsung tanpa disadari ataudisengaja sebagai perubahan perilaku, tetapi proses mengajar sebagaimana lazimnya disadari dan disengaja untuk menjadikan belajar itu efektif. Karakteristik mengajar yang penting adalah:

1. Perbuatan yang bertujuan 2. Berorientasi pada belajar Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakannya, oleh sebab itu, guru harus memikirkan dan membuat perencanaan kesempatan secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi siswanya dan memperbaiki kualitas mengajar. Dalam hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam pengorganisasian kelas, karakter, guru, metode, stategi balajar mengajar maupun sikap dalam mengelola proses balajar mengajar bertindak sebagai fasilitator yang berusaha menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif sehingga memungkinkan peningkatan kemampuan siswa dalam mengembangkan bahan pelajaran dengan baik dan mampu menguasai tujuan yang harus dicapai. Dalam hal ini guru di tuntut untuk mampu mengelola proses belajar mengajar sehingga dapat memberikan ransangan kepada siswa. Pada hakikatnya mengajar bertujuan untuk membantu peserta didik memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar. Pembelajaran bukan hanya terbatas pada peristiwa yang dilakukan oleh guru saja, melainkan mencakup semua peristiwa yang mempunyai pengaruh langsung pada proses belajar manusia. Pembelajaran mencakup pula peristiwa-peristiwa yang dimuat dalam bahan-bahan cetak, gambar, program radio, televisi, film, slide, maupun kombinasi dari bahan-bahan tersebut. Mengajar selalu dihubungkan dengan tujuan tetapi hal itu dapat juga berlangsung tanpa sistematik, tanpa rencana, dengan menggunakan cara apa adanya. Lain halnya dengan instruksional yang dapat diartikan dengan program pengaturan situasi belajar sedemikian rupa sehingga belajar siswa dapat berlangsung dengan mudah. Instruksional adalah pengajaran yang diorganisasikan. Sebagai pengajaran yang diorganisasikan, instruksional bukan ditentukan secara kebetulan melainkan dengan prosedur yang direncanakan. Dari segi wawasan struktural, setiap bentuk instruksional ditentukan oleh tujuan yang telah disusun dan direncanakan oleh isi (materi pelajaran) yang disampaikan untuk mencapai tujuan dan dengan metode yang digunakan untuk maksud tersebut.

Pada hakikatnya, mengajar mempunyai banyak makna diantaranya : 1. Mengajar adalah menyampaikan Sebagaian Besar dosen , baik secara Eksplisit maupun implicit, mendefinisikan tugas mengajar adalah menyampaikan materi yang otorial atau mendemonstrasikan prosedur prosedur , pengetahuan yang akan disampaikan kepada mahasiswa pda tingkat ini dipandang sebagai suatu yang tidak problematic, berlawanan dengan pengetahuan yang dibangun didalam dunia penelitian dan kajian yang lebih tinggi , seperti S2 atau S3. Materi Perkuliahan dianggap sebagai sui Generis dan pandangan seperti ini harus ditanamkan kepada mahasiswa. keberadaan mahasiswa pintar dan mahasiswa lemah, yang menganggap bahwa kualitas belajar mahasiswa ditentukan oleh kemampuan dan kepribadian yang tidak bisa diubah melalui pengajaran. 2. Mengajar adalah megorganisir aktivitas mahasiswa Diasumsikan bahwa ada seperangkat aturan tertentu yang mungkin dapat diaplikasikan secara sempurna untuk membuat mereka belajar. Hal ini yang mungkin tercakupi adalah cara-cara memotivasi mahasiswa sehingga mereka berada dalam kerangkam psikologis yang benar untuk belajar materi yang menjemukan; pendekatan reward and punishment yang sederhana dalam penilaian (Kalau kamu tidak belajar, kamu tidak lulus); tehnik mempromosikan diskusi dikelas dan proses mahasiswa yang menuntut untuk mengaitkan pengetahuan teoritis dengan pengalaman mereka, seperti bentuk-bentuk belajar experiensial (experiential learning). 3. Mengajar adalah membuat mahasiswa belajar Teori berikut ini melihat bahwa mengajar dan belajar sebagai dua sisi yang tidak terpisahkan dari sebuah koin. Mengajar, mahasiswa, dan materi yang akan dipelajari terkait satu dengan yang lain oleh sebuah sistem atau kerangka. Mengajar dipahami sebagai sebuah proses kerjasama dengan mahasiswa untuk membantu mengubah pemahaman mereka. Dengan kata lain, mengajar adalah membantu mahasiswa belajar. Mengajar menyangkut upaya menemukan kesalah pahaman mahasiswa, mendorong perubahan, dan menciptakan situasi atau konteks belajar yang dapat mendorong mahasiswa agar secara aktif bergelut dengan materi perkuliahan. Teori ini sangat peduli dengan materi yang harus dipelajari oleh mahasiswa dan hubungannya dengan bagaimana seharusnya materi
6

tersebut diajarkan. Materi yang diajarkan dan masalah mahasiswa yang dihadapi mahasiswa dalam mempelajari materi tersebut menetukan metode pengajaran yang akan digunakan. Berdasarkan definisi-definisi mengajar dari para pakar di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa mengajar adalah aktivitas kompleks yang dilakukan guru dalam menyampaikan pengetahuan kepada siswa, sehingga terjadi proses belajar. Aktivitas kompleks yang dimaksud antara lain adalah: 1. Mengatur kegiatan belajar siswa 2. Memanfaatkan lingkungan, baik ada di kelas maupun yang ada di luar kelas 3. Memberikan stimulus, bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada siswa.

B. Indikator, Prinsip, dan Ciri-Ciri Mengajar yang Efektif 1. Indikator Mengajar Efektif Elizabeth perrott mengemukakan indicator mengajar efektif yang dapat diamati dari hasil studi beberapa ahli: 1) Indikator Ryan Menurut Ryan dan koleganya ada 3 faktor utama yang muncul dalam karya ini yang masing-masing terdiri atas dua kutub: a. Hangat dan mengerti versus dingin dan menyendiri b. Teratur dan cekatan versus berantakan dan jorok c. Merangsang dan imajinatif versus dungu dan rutin 2) Indikator Flander Studi Flander mengamati dua cara mengajar yang kontras: terikat (direct) dan tidak terikat (indirect). Mengajar yang terikat ditandai kepercayaan guru atas ceramah, kritisisme, pembenaran (justification), otorita, dan pemberian pengarahan. Mengajar yang tidak terikat ditandai oleh kepercayaan guru atas pertanyaan, menerima perasaan siswa, mengakui ide-ide, dan memberikan hadiah dan dorongan. 3) Kolerasi Rosenshine dan Furst Tes prestasi baku biasa digunakan dalam suatu periode pengajaran dengan membandingkan skor siswa selama dan sesudah periode pengajaran untuk memperoleh suatu pengukuran perolehan prestasi. Dari data yang dianalisis dapat ditentukan
7

perilaku guru mana yang berhubungan dengan perolehan prestasi siswa-siswa. Untuk menggambarkan indicator mengajar kelas yang efektif, E. perrott membuat tabel sebagai berikut: 1. Guru bersungguh-sungguh 2. Guru cekatan dan berorientasi tugas 3. Guru jelas kalau menyajikan isi pengajaran 4. Guru menggunakan bermacam-macam materi dan prosedur pengajaran 5. Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk mempelajari isi pengajaran. Rosenshine dan Berliner (1978) dalam suatu tinjauan penelitian tentang mengajar menyimpulkan bahwa indicator terakhir, yang mereka gambarkan adalah academic anged time (waktu sibuk akademik) adalah factor yang paling penting dalam prestasi. Mereka mengartikannya dengan sejumlah waktu yang digunakan oleh siswa-siswa untuk membaca, menulis, atau kegiatan lain yang melibatkan siswa dalam mempelajari materi yang relevan secara akademik. Penggunaan waktu dalam kegiatan lain berhubungan negative dengan prestasi belajar siswa (Perrott, Elizabeth. 1982). Menurut Thomas Gorden berpendapat bahwa memang banyak factor yang

mempengaruhi hasl usaha belajar guru dalam mengajar. Namun yang menjadi factor terpening dalam hal ini adalah terbinanya hubungan khusus antara gur dan murid. Kualitas hubungan guru dan murid memegang peranan yang sangat penting, yakni jauh lebih penting daripada apa yang diajarkan guru, bagaimana guru mengajar, kepada siapa ia mengajar. Hal ini dapat di pahami karena Gordon mendasarkan konsepnya mengenai guru yang efektif pada filsafat, bahwamurid pada tingkatan manapun juga adalah manusia,baik hubungan yang jelek, tergantung pada bagaimana hubungan itu diciptakan dan dibina oleh guru. Gordon percaya bahwa pada semua anak-anak akan memiliki banyak persamaan dari pada perbedaan. Mereka adalaj manusia. Semuanya memiliki sifat-sifat manusiawi, mempunyai persamaan, dan memiliki kesanggupan bereaksi. Oleh sebab itu, guru yang efektif dapat mendasarkan diri atas teori hubungan antar manusia. Adanya hubungan manusia itulah yang menadi dasar guruyang efektif, sampai Gordon mengatakan, bahwa bila proses belajar mengajar itu efektif berarti telah terbina suatu hubungan yang unik antara guru dan murid. Proses itu sendiri dalah matarantai yang
8

menghubungkan antara guru dengan murid. Oleh karena itu, keterampilan berkomunikasi haus dikuasai oleh guru. Agar mampu menciptakan hubungan unik ini (Gordon,1986). 2. Prinsip Mengajar Yang Efektif Menurut Sahabuddin,2007, keefektifan mengajar dapat dicapai bila guru memiliki profil guru sebagai berikut: 1) Menguasai materi pelajaran yang akan diajarkan Penguasaan materi pengajaran termasuk didalamnya kemampuan

mengorganisasikan dan menyesuaikan materi pelajaran menurut tingkat kemampuan, minat, dan kecepatan murid masing-masing. 2) Kesehatan dan kondisi jasmani Mengajar adalah tugas atau kegiatan yang sangat memerlukan kesehatan dan kondisi jasmani. Gangguan kesehatan dan jasmani dapat mengurangi kemampuan guru dalam melaksanakan tugas mengajar. 3) Sifat kepribadian dan pengusaan diri Kepribadian dan perilaku guru besar sekali pengaruhnya terhadap anak-anak muda. Dalam menghadapi tugasnya sebagai guru ia menghadapi anak-anak yang berbeda-beda perilakunya: Ada yang menyenangkan ada yang menjengkelkan. Dalam hal ini guru harus dapat mengendalikan perasaannya. 4) Mengerti sifat dan perkembangan manusia Baik pria maupun wanita, mungkin berminat sekali untuk mengajar, tetapi

mungkinmereka tidak mengerti rangkaian perkembangan manusia sehingga mereka tidak berhasil mengajar sebagimana mestinya. Salah satu tngkat perbedaan program pendidikan tradisional dengan pendidikan modern, adalah dalam hal mempersiapkan guru yang mengerti pola perkembangan manusia. Pendidikan modern sangat mengutamakan persiapan guru yang mengerti pola perkembangan manusia. 5) Pengetahuan dan kemampuan menggunakan prinsip-prinsip mengajar Apa yang harus dijarkan, mengapa, bilamana dan bagaimana mengajarkannya, tergantung dari beberapa factor, anatara lain adalah : a. Kebutuhan secara individual, dan social b. Kesiapan belajar
9

c. Kesempatan belejar mengajar yan dapat berguna Penggunaan prinsip-prinsip ini secara konsisten merupakan dasar untuk mengajar yang efektif. 6) Toleransi budaya, agama, dan suku bangsa Guru menghadapi anak-anak yang mungkin berasal dari berbagai system budaya, agama, dan suku bangsa yang berbeda-beda. Dalam hal ini guru harus menghormati tradisi dan adat istiadat, agama, suku bangsa, dan lain-lain yang dianut oleh muridmurid. 7) Peningkatan profesi dan budaya Guru harus mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat

meningkatkan profesi sebagai guru pengembang kebudayaan. Apa yang dipelajari secara teoritis belum tentu cocok dengan praktek. Oleh sebab itu,guru harus giat menambah pengetahuan, dan pengalamannya secara mencocokkan teori dengan praktek. Dengan demikian, mereka harus berperandalam mengembangkan dalam memperkaya kebudayaan. 3. Ciri-ciri Mengajar Yang Baik Sahabuddin(2007), mengemukakan ciri-ciri mengajar yang baik adalah sebagai berikut: 1) Kecakapan membimbing belajar Mengajar bukan semata-mata suatu proses memberi pengetahuan kepada belajar, bukan pula sekedar menghilangkan sifatsifat dan kecenderungan yang tak diingini, tetapi yang pokok dan utama adalah membimbing dan menuntun pelajar dan mendorong mereka untuk mencapai hasil belajar. Bimbingan ini agaknya lebih bersifat saran dan tidak bersifat perintah. 2) Ramah dan simpatik Mengajar yang baik tidak terdapat dalamsituasi yang kurang ramah dan simpatik terhadap minat dan kebutuhan pelajar. Guru yang baik dapat mengetahui anak yang terkebelakang dan yang paling cakap. Ia mengerti bahwa mereka belum matang dan bahwa mereka membutuhkan simpatik dan pertolongan. Karena itu, guru menciptakan suasana sekolah yang menyenangkan, suasana yang menerupai keadaan di rumah mereka.

10

3) Berencana dengan baik Guru yang baik selalu memikirkan seluruh masalah yang telah ada, dan yang mungkin dialami dan dihadapi sebelum melanjutkan peljaran. Berdasarkan ini direncanakanlah pelajaran yang akan diberikan. Pelajaran yang tak direncanakan lebih dahulu kurang dapat diharapkan hasilnya. Guru tak berhasil mengerjakannya dan murid tak berhasil mengertinya. 4) Kerjasama Salah satu yang diharapkan dari guru yang baik adalah jalinan kerjasama yang baik antara guru dan pelajar. Oleh sebab itu, guru harus mempunyai rencana yang bai untuk dapat bekerjasama dengan pengajar dalam organisasi, manajemen, partisipasi diskusi, pemberian tugas dan penilaian hasil belajar. 5) Memberikan saran dan anjuran Mengajar yang baik berlangsung atas dasar saran dan bukan atas dasar perintah. Guru dalam menempatkan daya pimpinannya atau wibawanya, menuntun muridny dengan hati yang luhur.ini tidak berarti bahwa murid tidak menghormati kewibawaan guru. Guru yang baik pada keseluruhannya berarti memelihara watak dengan menciptakan suasana yang didalamnya anak dapat berkembang menurut kodratnya. 6) Demokrasi Mengajar yang baik berarti mengusahakan teciptanya suatu suasana lingkungan demokrasi yang didalamnya orang saling menghargai hak pribadi masing-masing. Dalam lingkungan ini guru berpedoman pada teori bahwa masingmasing individu mempunyai hak yang sama dalam kelas. Oleh sebab itu, sewajarnyalah kalau mereka itu mendapat perlakuan yang sama. Demokrasi menuntut supaya setiap anggota kelompok memperoleh perlakuan dan layanan yang sama. 7) Merangsang Guru yang baik merangsang perkembngan kepribadian dan aktivitas muridmurid dengan pengantaraan kepribadian dan aktivitasnya. Guru menempatkan diri sebagai teladan. Lingkungan sekolah adalah lingkungan yang tersaring dan aktivitasnya adalah aktivitas yang terarah. Ini berarti bahwa guru yang baik
11

memberikan rangsangan melalui pengajaran, dorongan aktivitas, kritik, dan saransaran yang bersifatedukatif. 8) Memperhitungkan masa lampau siswa Guru yang cakap mengerti bahwa pendidikan yang baik adalah

mengoganisasikan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau. 9) Progresif Senang dan puas terhadap apa yang pernah dicapai dengan situasi yang statis bukan pertanda pengajaran yang baik. Guru yang baik selalu berusaha untuk mencapai yang lebih baik dari yang telah dicaai sebelumnya. 10) Mendiaknosis kesulitan-kesulitan Guru yang baik senantiasa mem[erhatikan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh murid-muridnya. Dengan diketahuinya kesulitan-kesulitan yang sering dialami, dapat dipikiran dan direncanakan cara-cara pertolongan yang mungkin diberikan kepada anak-anak, baik secara umum maupun secara perseorangan. 11) Menyembuhkan(remedimatie) Pekerjaan penyembuhan adalah sangat penting bagi anak utamanya dalam pengajaran yang membutuhkan ketangkasan atau keterampilan kalau anak tidak menguasai keteramplan yang dibutuhkan mereka akan sukar untuk meningkat pada penguasaan selanjutnya, misalnya kesalahan penertuan dalam cara-cara berhitung, membaca menulis, dan lain-lain. Hal demikian mengakibatkan anak itu terlambat. 12) Memberi kebebasan terhadap anak-anak Kebebasan yang di maksud dalamhal ini bukanlah kebebasan untuk bertindak semau-maunya tanpa ada khaidah dan norma, tetapi memberi bimbingan menurut pola-pola tujuan yang diinginkan.anak- anak tidak merasa tertekan, karena tujuan yang ingin dicapai itu didasari sebagai tujuan yang sesuai dengan kebutuhannya.

C. Strategi Mengajar yang Efektif 1. Pengertian Dalam proses mengajar dan belajar terdapat beberapa istilah yang

menggambarkan upaya pencapaian tujuan pendidikan dalam bentuk hasil mengajar dan belajar yang lebih baik, yang terkait satu dengan yang lain. Istilah-istilah itu adalah
12

strategi, metode, teknik, dan taktik. Srategi digunakan untuk memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dalam dunia pendidikan strategi diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular education goal J. R. David, 1976 dalam Wina Sanjaya (2008:294). 2. Macam-macam strategi Menurut Sahabudin (2007: 64-67) strategi dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, sebagai berikut: a. Berdasarkan bentuk pendekatan. Berdasarkan bentuk pendekatan ada dua macam pendekatan yaitu expository approach dan inquiry approach. Expository approach ialah pendekatan yang lebih tradisional, suatau pendekatan yang di dalamnya guru menyajikan informasi kepada siswa. Adapun dalam inquiry approach guru berperan sebagai fasilitator pengalaman belajar dan mengatur kondisi yang menyebabkan timbulnya rasa inngin tahu yang tinggi bagi siswa dalam bentuk pertanyaan mengenai topik peristiwa yang dihadapi. Kedua pendekatan ini sesuai dengan strategi pembelajaran yang dijelaskan oleh Sanjaya (2008: 299-308) sebagai berikut : 1) Strategi pembelajaran ekspositori (SPE) Strategi pembelajaran ekspositori merepakan bentuk dari pendekatan pembelajran yang berorientasi kepada guru (teacher centered approach). Dikatakan demikian, sebab dalam strategi ini guru memegang peran yang sangat dominan,. Focus utama strategi ini adlah kemampuan akdemis (academic achievement) siswa. Metode pemblejaran dengan kuliah merupakan bentuk Adapun prinsip dalam metode ini adalah a. Berorientasi pada tujuan b. Prinsip kumunikasi c. Prinsip kesiapan d. Prinsip berkelanjutan 2) Strategi pembelajaran inkuiri (SPI) Strategi pembelajaran inkuiri atau SPI adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan anlitis untuk mencari dan
13

strategi ekspositori.

menemukan sendiri jawaban yang sudah pasti dari suatu masalah yang dipertanyakan. Strategi inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara

meksimal untuk mencari dan menemukan, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri, dan tujuan dari penggunaan Strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berfikir secara sistematis, logis, dan kritis atau nmengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan Strategi pembelajaran inkuiri adalah: a. Berorientasi pada pengembangan intelektual b. Prinsip interaksi c. Prinsip bertanya d. Prinsip belajar untuk berfikir e. Prinsip keterbukaan b. Berdasarkan pengelompokan siswa Ada materi pelajaran yang lebih sesuai kalau diberikan secara perkelompok dan ada pula yang lebih cocok kalau diberikan secara individual. Tugas-tugas yang diberikan dapat bentuk tugas kelompok, atau tugas individual. Rambu-rambu yang perlu dipertimbangkan adlah waktu, biaya, efisiensi dan efektivitas dalam proses pencapaian tujuan. c. Berdasarkan kecepatan masing-masing siswa Kegiatan intruksional dilaksanakan dnegan memberikan kebebasan kepada siswa memilih materi pelajaran dan media intruksional yang sesuai degan kebutuhan masing-masing. System ini ditandai dengan ciri-ciri berikut: 1. Belajar berdasarkan kecepatan tiap-tipa siswa. Siswa maju berdasarkan tugastugas yang dapat diselesaikan dengan benar, 2. Belajar berdasarkan kreteria keberhasilan. Siswa terorientasi pada belajar tuntas untuk memenuhi keberhasilan yang telah dirumuskan. 3. Belajar berdasar tutor. Siswa yang telah maju dapat membantu teman yang terlambat atau yang mempunyai masalah. 4. Eklektik (eclectic) dan bervariasi. Siswa-siswa perlu juga mengikuti diskusidiskusi, ceramah-cemarah, demonstrasi- demonstrasi tertentu untuk pengayaan.
14

d. Pegelompokan bersadarkan kemajuan Dalam proses mengajar pengelompokan dapat dilakukan secara heterogen atau homogen. Pengelompokan heterogen tidak didasarkan pada kemampuan siswa, tetapi pengelompokan homogeny harus didasarkan pada kemampuan siswa. e. Pengelompokan berdasarkan minat Siawa-siswa mempunyai minat yang berbeda-beda. Pengelompokan berdasarkan minat cenderung merupakan proses pemilihan yang dapat dilakukan sendiri. Biasanya pengelompokan yang semacan ini berorientasi pada tugas yang akan dikerjakan. f. Pengelompokan berdasarkan kecepatan belajar Pengelompokan ini mirip dengan Pengelompokan berdasarkan kemampuan dengan minat. Akan tetapi bagaimanapun juga sering tampak adanya siswa yang lambat dan ada yang cepat meneriman pelajaran. Siswa yang lambat menerima pelajaran menghambat vsiswa yang cepat menerima pelajaran. Demikian pula sebaliknya. Agar adil. Pengelompokan dilakukan berdasarkan kecepatan belajar masing-masing siswa. Disini letak keuntungan pengajaran modul (modular instruction). Siswa yang cepat selesai dapat menggunakan model pengayaan, dan siswa yang lambat dapat dibantu oleh siswa yang cepat selesai target modulnya g. Berdasarkan ranah tujuan Strategi mengajar berdasarkan ranah tujuan dapat dibagi atas tiga ranah, yaitu: 1. Strategi ranah kognitif, ialah strategi menyebutkan nama, strategi membuat klasifikasi, dan strategi memecahkan masalah. 2. Strategi ranah afektif, ialah strategi untuk membangkitkan miant atau menanamkan nilai-nilai 3. Strategi ranah psikomotoris, ialah strategi melatih gerakan yang berurutan dan strategi melatih gerakan yang kompleks.

D. Metode Mengajar yang Efektif Dari segi bahasa metode berasal dari dua kata, yaitu meta dan hodos. Meta berarti melalui dan hodos berarti jalan atau jalan. Dengan demikian metode adalah dapat berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Ada juga yang mengartikan bahwa metode adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji, dan menyusun
15

data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin tersebut. Singkatnya metode adalah jalan untuk mencapai tujuan. Adapun kata metodologi berasal dari kata metoda dan logi. Logi berasal dari bahasa Yunani logos yang berarti akal atau ilmu. Jadi metodologi artinya ilmu tentang jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Sebagai suatu ilmu, metodologi merupakan bagian dari perangkat disiplin keilmuan yang menjadi induknya. Hampir semua ilmu pengetahuan mempunyai metodologi tersendiri. Oleh karena itu ilmu pendidikan sebagai salah satu disiplin ilmu juga memiliki metodologi yaitu metodologi pendidikan. Jadi, yang dimaksud dengan metode pengajaran yaitu suatu ilmu pengetahuan

tentang motode yang dipergunakan dalam pekerjaan mendidik. Atau bisa juga yang dimaksud metode mengajar adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang di pergunakan oleh seorang guru atau instruktur. Metode mengajar yang digunakan untuk menyampaikan informasi berbeda dengan cara yang ditempuh untuk memantapkan siswa dalam menguasai pengetahuan keterampilan, dan sikap ( kognitif, efektif). Khusus metode mengajar di dalam kelas, efektivitas suatu metode dipengaruhi oleh factor tujuan, factor siswa, factor situasi, dan factor guru itu. Didalam penggunaan metode ada beberapa syarat- syarat sebagai berikut: 1. Metode mengajar yang dipergunakan harus dapat membangkitkan motif, minat, atau gairah belajar siswa. 2. Metode mengajar yang dipergunakan harus dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk mewujudkan hasil karya 3. Metode mengajar yang dipergunakan harus dapat menjamin perkembangan kegiatan kepribadian siswa. 4. Metode mengajar yang dipergunakan harus dapat meransang keinginan siswa untuk dapat belajar lkebih lanjut, untuk melakukan eksplorasi dan inovasi (pembangunan). 5. Metode mengajar yang dipergunakan harus dapat mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dan cara memperoleh penngetahuan melalui usaha pribadi. 6. Metode mengajar yang dipergunakan dapat mentiadakan penyajian yang bersifat verbalitas dan menggantinya dengan pengalaman atau stuasi yang nyatra dan bertujan.

16

7.

Metode mengajar yang dipergunakan harus dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikap utama yang diharapkan dalam kebiasaan cara bekerja yang baik dalam kehidupan sehari- hari. Metode Metode belajar-mengajar efektif yang lain, antara lain:

1. Mengganti sifat galak dan tertutup dengan sifat akrab dan terbuka (tapi tetap tegas untuk masalah prinsip) 2. Selalu update tentang perkembangan zaman dan menceritakannya dalam setiap pembelajaran 3. Menjadikan setiap pelajaran practicable dengan cara menguhubungkannya dengan kehidupan sehari-hari dan isu-isu actual 4. Menyelipkan pembelajaran etika dan moral sebagai langkah penyeimbangan kecerdasan siswa 5. Membuat siswa kagum dengan ciri khas guru sehingga pentransferan ilmu menjadi lebih mudah 6. Berusaha untuk mengenali setiap siswa sebagai langkah perubahan image menjadi lebih akrab dan terbuka 7. Pacu terus mereka untuk aktif bertanya 8. Hindari memberikan tugas yang sekedar menyalin dari buku cetak 9. Sering-seringlah meminta feedback dari siswa tentang metode mengajar yang mereka inginkan.

Adapun macam- macam metode mengajar dan penggunaannya, antara lain : 1. Metode ceramah Metode ceramah adalah sebuah bentuk interaksi melalui penerangan dan penuturan secara lisan oleh seorang guru terhadap kelasnya. Dalam pelaksanaan ceramah untuk menjelaskan urainnya, guru dapat menggunakan alat-alat bantu, seperti gambar- gambar dan yang paling utama adalah bahasa lisan. Metode ceramah adalah metode mengajar yang sampai saat ini masih mendominasi atau paling banyak di gunakan guru dalam dunia pendidikan.

17

2.

Metode Tanya jawab Metode tanya jawab ialah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru ke siswa dan begitu juga sebaliknya. Metode ini banyak digunakan dalam proses belajar mengajar, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolah. Dan metode ini merupakan salah satu teknik mengajar yang dapat membantu kekurangan- kekurangan pada metode ceramah, dikarenakan apabila suatu penjelasan guru yang belum dimengerti, maka siswa/anak didik dapat langsung menanyakan pada guru. 3. metode diskusi Muhibbin Syah ( 2000 ), mendefinisikan bahwa metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan memecahkan masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok (group discussion) dan resitasi bersama (socialized recitation). Metode diskusi dapat pula diartikan sebagai siasat penyampaian bahan ajar yang melibatkan peserta didik untuk membicarakan dan menemukan alternatif pemecahan suatu topik bahasan yang bersifat problematis. Guru, peserta didik atau kelompok peserta didik memiliki perhatian yang sama terhadap topik yang dibicarakan dalam diskusi. 4. metode pemberian tugas belajar (resitasi) Metode pemberian tugas adalah suatu cara dalam proses belajar mengajar di mana guru memberi tugas tertentu dan murid mengerjakannya, kemudian tugas tersebut dipertanggung jawabkan kepada guru. Dalam hal ini guru memberikan tugas pada murid untuk maju ke depan kelas untuk mendemonstrasikan apa yang diajarkan guru. Dalam pendidikan agama sering digunakan metode ini terutama dalam hal yang bersifat praktis, sehingga siswa mempunyai gambaran yang jelas tentang materi pelajaran yang telah diterimanya. 5. metode demontrasi dan eksperimen Metode Demostrasi atau praktik adalah metode mengajar yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik. Metode ini digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses yang bersifat praktis, misalnya : Bagaimana cara yang benar dalam melaksanakan ibadah
18

sholat, baik cara memulai, mengerjakan maupun cara mengakhiri shalat serta apa saja yang disunnahkan dan membatalkannya. 6. metode sosiodrama dan bermain peran Metode ini menampilkan symbol-simbol atau peralatan yang menggantikan proses kejadian atau benda yang sebenarnya. Metode ini adalah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui pengembangan dan penghayatan anak didik. Metode yang melibatkan interaksi antara dua siswa atau lebih tentang suatu topik atau situasi. Siswa melakukan peran masing-masing sesuai dengan tokoh yang ia lakoni, mereka berinteraksi sesama mereka. 7. metode karyawisata Menurut Djamarah (2000:105), pada saat belajar mengajar siswa perlu diajak ke luar sekolah, untuk meninjau tempat tertentu atau obyek yang lain. Hal itu bukan sekedar rekreasi tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataannya. Karena itu, dikatakan teknik karya wisata, yang merupakan cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau obyek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau pegadaian. Banyak istilah yang dipergunakan pada metode karya wisata ini, seperti widya wisata, study tour, dan sebagainya. Karya wisata ada yang dalam waktu singkat, dan ada pula yang dalam waktu beberapa hari atau waktu panjang. Metode karyawisata adalah metode pembelajaran yang mengajak siswa untuk mengunjungi obyek-obyek dalam rangka untuk menambah dan memperluas wawasan obyek yang dipelajari tersebut ( sesuai dengan bidangnya). Misalnya untuk pelajaran pendidikan geografi siswa dapat diajak ke obyek pemukiman transmigrasi atau obyek morfologi. Untuk pelajaran pendidikan sejarah, siswa dapat diajak ke situs sejarah. Untuk pelajaran pendidikan ekonomi siswa dapat diajak mengunjungi pabrik, atau obyek kegiatan ekonomi. 8. Metode Test Ialah metode mengajar dengan jalan memberikan tes kepada anak anak untuk mengetahuikemampuan anak dalam suatu kegiatan pelajaran. Biasanya dilakukan setelah sesuatu bahan pelajaran diberikan kepada anak-anak tes disusun dengan bentuk tes objektif, tes diberikan kepada semua anak dengan bahan yang sama.
19

9. Metode Drill Metode mengajar dengan mempergunakan latihan-latihan secara intensif dan berulang- ulang adalah memberikan latihan tertulis kepada anak karena bahan pelajaran baru sedikit sedang waktu ujian semakin mendekat. 10. Metode Infiltrasi Metode ini disebut juga metode susupan, selipan maksudnya antipati atau jiwa ajaran tertentu diselipkan atau diselundupkan kedalam sesuatu. Mata pelajaran pada waktu guru menerangkan pelajaran tersebut misalkan jiwa agama kita selipkan pada waktu mengajar umum. 11. Metode Gotong Royong Metode gotong royong ialah metode yang dilakukan dengan bekerja sama antara beberapa orang anak untuk menyelesaikan suatu tugas atau masalah. Metode ini disebut juga metode kelompok atau metode berregu dan metode kelompoknya disebut studi club, studi grup. 12. Metode Survey Metode yang dilakukan dengan mengadakan penelitian suatu masalah dengan mengmpulkan data-data yang diperlukan dan langsung terjun kemasyarakat. 13. Metode Wawancara Metode yang dilakukan dengan mengadakan tanya jawab atau wawancara antara kedua pihak yang langsung berhadapan muka. 14. Metode Problem Solving Metode yang digunakan dengan cara langsung menghadapi masalah mengetahui dengan sejelas-jelasnya dan menemukan kesukaran- kesukarannya sehingga dapat dipecahkan. 15. Metode Proyek Prinsipnya usaha dengan metode problem solving hanya lebih kompleks sebab dilakukan dengan metode survey, wawancara, metode kelompok. Satu kelompok dibagibagi dalam beberapa unit. 16. Metode Dikte Metode yang dilakukan dengan jalan mendekte pelajaran (kuliah) untuk dicatat oleh murid, metode ini lazim dipaki perguruan tinggi.
20

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa Mengajar adalah membimbing siswa, agar mengalami proses belajar. Dalam belajar, siswa menghendaki hasil belajar yang efektif bagi dirinya. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, guru harus membantu dengan cara mengajar yang efektif. Untuk membantu keefektifan, guru harus memperhatikan prinsipprinsip dari mengajar yang efektif.

B. SARAN Dari semua pembahasan materi yang telah dibuat, penulis berharap teman-teman bisa mengerti tentang upaya mengajar yang efektif ini, dan semoga teman-teman memperoleh manfaat yang ada dalam meteri tersebut. Jika ada terdapat kekurangan terhadap materi ini, kami mohon maaf, terima kasih telah memperhatikan sekaligus memahami materi ini.

21

22