Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH LAPORAN HASIL SGD LBM 5 BLOK 11

Disusun Oleh : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Lia Hikmatu Sani Lira Wiet Jayanti Lita Paramita M. Ridhatul Aslam Mabrorotin B Mentari Nurul Akbari Nabila Rizkika Nandya Carte Irene Nella Ayu Irjayani (112100144) (112100145) (112100146) (112100147) (112100148) (112100150) (112100151) (112100152) (112100153) (112100154) (112100155)

10. Nendika Dyah Ayu 11. Nirmala Yekti

SGD 4 TUTOR: drg. Zakiyah Aini FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG TAHUN AJARAN 2010 / 2011

Scriber : Lita Paramita/112100146 SKENARIO LBM 5 JUDUL : mama..sariawannya sakit Anak perempuan 5 tahun datang bersama ibundanya ke bagian Penyakit Mulut RSGM Unissula dengan keluhan gusi belakang bawah sakit dan terdapat sariawan multiple pada lidah. Rasa sakit dan sariawan timbul sejak 3 hari yang lalu, disertai demam dan malaise. Sempat berobat ke dokter umum dan mendapat terapi paracetamol syrup dan multivitamin bebrbentuk puyer. Pasien dan keluarganya tidak mempunya riwayat penyakit sistemik. Pada pemeriksaan intraoral, tampak ginggiva rahang bawah kanan oedema dengan ulkus berdiameter sekitar 3mm, tepi irreguler dikelilingi daerah eritematous dan terasa sakit. Pada lidah terdapat ulkus bulat, multiple dengan diameter sekitar 1mm dan dikelilingi daerah eritematous. Kelenjar submandibular terdapat pembengkakan.

I.

PENDAHULUAN
HSV tipe 1 atau virus herpes simpleks tipe 1 terjadi seluruhnya pada bagian oral. HSV tipe 1 saat mengalami masa laten maka HSV tipe 1 akan masuk ke saraf, lalu ke nervus trigeminal menyerang kebagian ekstermitas atas (umbilicus ke atas) tepatnya pada bagian mukosa oral. Sifat infasi replikasi yang terjadi saat dimana ada protein yang sesuai, maka HSV tipe 1 akan menginfeksi daerah yang terserang virus tersebut. Selain karena faktor virus secara langsung dpata menimbulkan infeksi yang menyebabkan terjadinya ginggivo stomatitis herpetic primer , penyakit sistemik juga dapat mempengaruhi terjadinya ginggivo stomatitis herpetic primer, terutama pada penderita imunosupresan serta penderita yang tidak menjaga kesehatan umum dengan baik.

II.

RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan skenario pada LBM 5 ini, kami mendapat beberapa masalah yang timbul dan setelah berdiskusi bersama dengan semua anggota kelompok SGD kami setuju bahwa rumusan masalah dari skenario tersebut yaitu mengenai

GinggivoStomatitis Herpestic Primer. Kemudian semua anggota SGD kami menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan rumusan masalah sesuai pada skenario di atas. Pertanyaanpertanyaan yang akan didiskusikan bersama adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana etiologi ginggivo stomatitis herpetik primer? 2. Apakah gejala klinis dari ginggivo stomatitis herpetik primer? 3. Bagaimana pathogenesis ginggivo stomatitis herpetik primer? 4. Apa perawatan dari ginggivo stomatitis herpetik primer? 5. Apa terapi dari ginngivo stomatitis herpetik primer? 6. Apa hubungan dengan pembengkakan pada skenario? 7. Apakah DD dari ginggivo stomatitis herpetik primer? 8. Apakah ada efek obat yang diberikan dan mengapa belum terjadi kesembuhan? 9. Apakah diskenario usia dan jenis kelamin mempengaruhi diagnosa pada penyakit ini? 10. Apakah ada faktor predisposisi dari ginggivo stomatitis herpetik primer? 11. Bagaimana cara penularan ginggivo stomatitis herpetik primer? 12. Apakah penyakit sistemik dapat mempengaruhi terjadinya ginggivo stomatitis herpetik primer? 13. Ada ulkus di ginggiva dan lidahnya, apakah bisa terjadi di tempat lain? 14. Apakah rasa sakit pada ginggivo stomatitis herpetik primer yang timbul harus selalu disertai demam dan malaise?

III.

DASAR TEORI DAN PEMBAHASAN


Ginggivo stomatitis herpetic primer disebabkan oleh virus herpes simpleks, biasanya pada anak kecil mendapati HSV dari orang dewasa. Coldsore atau luka didekat mulut akibat demam, serta reaktivitas pada virus laten juga dapat terjadi dan mengakibatkan herpes labialis pada mukosa, sebelum ada ulser pasien disertai gejala demam dan malaise. Ginggivo stomatitis herpetic primer disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe 1 karena terjadi di oral. Sedangkan virus herpes simpleks tipe 2 hanya terjadi kurang dari 5% yang disebabkan karena contact oral dari penderita. Pada orang dewasa 90% sudah memiliki antibody HSV, yaitu ada 2 onset : o o Pertama pada usia 6 bulan - 5 tahun Dan yang kedua pada usia 20 tahun

HSV ini melambat pada usia 30 tahun, lalu akan semakin menurun pada usia 50 tahunnan. Pada anak bayi usia 1-6 bulan ada antibody meternal, memiliki antibody HSV dari ibunya (menurun dari ibunya saat dikandungan) setelah 6 bulan antibody HSV ini akan hilang. Antibodi igM disebut maternal karena bersifat sementara biasanya pada bayi usia 12 minggu dapat memproduksi sendiri IgM sementara. Sedangkan IgG dan IgA bersifat menetap dalam tubuh. Belum terbentuk antibody HSV pada anak-anak, dikarenakan anak kecil mempunyai kebiasaan seperti mengisap ibu jari sehingga anak kecil mempunyai resiko lebih tinggi. HSV tipe 1 karena saat masa laten masuk ke saraf, lalu ke trigeminal menyerang kebagian atas. Sedangkan yang tipe 2, dari ganglion lumbal sakral menyerang bagian ekstremitas bawah seperti organ genitalia. Sifat infasi, replikasi terjadi jika protein yang sesuai pada tipe 1 maka akan menyerang ekstermitas atas. Herpes simpleks, biasa disebut herpes humanus tipe 1 yaitu antara umbilicus ke atas. Dan herpes 2 termasuk herpes humanus tipe 2 antara umbilicus kebawah. Sedangkan herpes humanus tipe 3 menyebabkan varicela dan herpes zoster.

Ginggivo stomatitis herpetic primer mempunyai gejala klinis bermacammacam, anatara lain yaitu sebagai berikut : Ulserasi multiple intra oral di ginggiva (pembengkakan dan oedematus) lidah dan tenggorokan yang menyebabkan rasa sakit Demam, malaise, sakit kepala dan anoreksia Sebelum terjadi ulser, di awali dengan vesikel yang kemudian pecah Biasanya sebelum ada ulser disertai demam, setelah demam turun maka akan timbul vesikel kecil Rasa sakit saat menelan , makan dan berbicara disertai rasa mual dan muntah. Pembengkakan kelenjar getah bening di leher (pada skenario terdapat pembengkakan kelenjar submandibular) Dehidrasi, akibat timbul rasa nyeri menyebabkan hilangnya nafsu makan sehingga pasien kekurangan cairan tubuh.

Gambaran klinis ginggivo stomatitis herpetic primer : a. c. Gelembung berisi cairan bisa menjadi ulseratif

b. Vesikel berkelompk Bisa dimana saja d. Menyebar pada mukosa mulut, lidah dan bibir biasanya ulser di palatum durum dan dorsal lidah e. Berbentuk kubah berukuran diameter 2-3mm f. Ulser bentuk irreguler, oedem dan tepinya eritematous g. Vesikel yang pecah tanpa menimbulkan jaringan parut h. Lesi ditutupin krusta warna kuning berasal dari koagulasi cairan di vesikel tersebut. i. Termasuk general karena ulser bisa ditepi bibir dan bisa menyerang ke semua mukosa mulut dengan cara penyebaran.

Pathogenesis ginggivo stomatitis herpetic

sebagai berikut, saat herpes

primer, mempunyai pathogenesis : Virus HSV tipe 1 masuk dari cara penularan
terinveksi setelah sembuh virus hsv berada terus dalam tubuh (pada saraf,

ganglion) dibawa ke tepi ganglion spinal lalu setelah itu membentuk herpes sekunder (yang merupakan lanjutan dari herpes primer) terjadi akibat adanya faktor predisposisi. Aktif kembali jika ada rangsangan ex. Pembedahan, penyinaran, usia lanjut dan penyakit sistemik jika virus aktif terjadi ganglionnitis akan mengadakan replikasi ditempat tersebut membentuk vesikel. Infeksi awal pada anak, biasanya saat peradangan pada gusi dikira gigi mau tumbuh. Padahal terdapat pembengkakan kelenjar dan vesikel kecil lalu pecah membentuk luka di mulut setelah sembuh virus masih ada di dalam tubuh. Seperti cedera di mulut dapat menyebabkan herpes sekunder, seperti faktor predisposisinya adalah demam (dikarenakan imun menurun sehingga virus berkembang kembali) dapat menyebabkan herpes sekunder tumbuh lagi (coldsore) karena infeksi ulangan. Contoh taruma tersebut adalah trauma psikis yaitu gangguan emosional, dikarenakan penderita mengalami stress emosional, serta trauma fisik berupa demam, malaise, paparan radiasi UV atau juga bisa karena adanya gangguan hormon sehingga virus HSV dapat aktif kembali. Herpes primer berifat ringan dan dapat menghilang dengan sendirinya. Sudah ada ulser, sehingga ada peradangan gusi dsbnya menimbulkan gejala lalu sembuh kemudian timbul lagi karena ada cedera mulut dan menimbulkan ulser lagi. HSV masuk menginfasi dan replikasi (menimbulkan manisfestasi klinis : ex.herpes primer) berjalan mengikuti serabut saraf sensoris melanjut kedorsalis akar saraf sensorif (menjadi herpes laten). Herpes laten : virus menetap. Tumbuh lagi karena faktor predisposisi seperti imun turun, trauma juga dapat menyebabkan infeksi rekurent herpes sekunder. HSV masuk akan berikatan dengan sel epitel, gen yang berikatan dengan fase ini imediet early gen, early gen fungsi untuk replikasi DNA yang terakhir ada late gen untuk mengkode protein struktural. Terakhir, ketika virus diaktifasi kembali maka akan berjalan ke N.trigeminal (fase awal) lalu kedaerah yang berdekatan. Kemudian meningkatkan virion-virion yang dihasilkan maka akan merusak daerah sekitar, fase primer seperti saat timbul ginggivo stomatitis primer. Setelah itu, maka akan bergabung lalu membentuk replikasi, jika imun

baik maka akan menimbulkan gejala sub klinis (non primer) yaitu ada g gejala kecil dan ringan yang kadang tidak dirasa oleh penderita. Jika sistem imun turun akan menimbulkan gejala kliknis (infeksi primer) : ulseratif pecah, virus menyebar ke aliran darah (bisa saat imun baik dan imun turun). Infeksi virus aktif (ulang) mengakibatkan nyeri yang semakin ringan karena tubuh sudah membentuk antibody dari virus tersebut. Biasanya diketahui saat sistem imun turun, yaitu bersifat asimtomatik pada penderita herpes primer. Episode 1 non primer, yaitu infeksi sudah lama terjadi kelainan tapi ada gejala terjadi kelainan lagi dan lebih ringan dari episode primer serta sudah membentuk antibody pada episode non primer ini. Sedangkan pada episode primer

menimbulkan gejala. Parah atau tidak dibedakan dari tingkat sakit dan dipengaruhi dari sistem imun penderita. Pencegahan dari penularan ginggivo stomatitis herpetic primer : Hindari minum dari gelas yang sama, hindari kontak mulut dan bibir selalma 10 hari setelah sembuh, jaga kebersihan dengan antiseptik. Mencuci benda-benda dari penderita dengan air panas, menghindari coldsore. Menghindari predisposisi, tidak memakai benda bersama-sama dengan penderita. Untuk dokter gigi, menggunakan masker handscoon dan juga mensterilkan alat-alat setalh digunakan.

Perawatan ginggivo stomatitis herpetic primer bisa dilakukan dengan menggunakan : a. acyclovir (primer 5mg atau 5% bentuk salep, sekunder 200mg dalam bentuk tablet diberikan pada penderita dengan sistem imun buruk) berfungsi untuk menghambat replikasi DNA. b. Pemberian antiseptic, dari mulut dengan minuman/cairan mouthwash atau cloreksidin gluconat 0,2% untuk penyembuhan infeksi. c. Triancuinolone asetonin untuk anti inflamasi d. Mengenai rasa sakit juga dapat membersihan mulut, diberikan gelytetrolium

e. Menghindari bibir pecah-pecah dan penyebaran virus ke daerah lain serta menghindari nyeri dapat menggunakan obat kumur anasstetik dan konsumsi vitamin C juga dapat menghilangkan coldsore.

Herpes primer biasanya bisa sembuh dengan sendiri, namun perlu dilakukan perawatan untuk meminimalisir keparahan dari gejala yang timbul. Obat yang digunakan untuk mengobati ginggivo stomatitis herpetic primer bermacammacam, yaitu bisa menggunakan : Acyclofir Oral topical untuk meningkatkan nafsu makan anak Diberikan antibiotik untuk pencegahan agar lesi tidak menyebar untuk luka yang berat/besar agar bakteri tidak masuk dan menambah keparahan pada lesi yang terkena HSV.Valasyclovir : 2x 500mg / hari per oral selama 7 hari Bisa dengan mengkompres lesi pada penderita menggunakan solution kalium permanganas obat antiseptik berupa profidon yodium (apabila vesikel pecah) biasanya penggunaan obat ini dikumur Anti inflamasi : triamcinolone acetonide o,1 % Benadyl 12,5mg/ 5ml, dikumur sebelum makan Lipaktin gel dan zylaktin untuk mengurangi ras terbakar, gatal dan nyeri Obat yang tepat di gunakan berdasarkan skenario adalah minuman/cairan mouthwash atau cloreksidin gluconat 0,2% untuk penyembuhan infeksi serta anti inflamasi berupa triamcinolone acetonide o,1 %. Pada skenario terdapat hubungan antara ginggivo stomatitis herpetic primer dengan pembengkakan kelenjar submandibular yang terjadi pada penderita. Pembengkakan kelenjar submandibula merupakan suatu tanda telah terjadi infeksi pada penderita. Saat vesikel pecah mudah terjadi penularaan, jutaan virus herpes simpleks berkembang masuk ke kelenjar limfonoid berkumpul ke kelenjar getah bening. Pembengkakan kelenjar getah bening merupakan suatu tanda, tepatnya dipengaruhi oleh 2/3 anterior lidah, dasar mulut dan ginggiva bawah.

Diagnosa banding dari ginggivo stomatitis herpetic primer :

a. Stomatitis aphtosa herpetifom, gerombolan kecil yang bersatu b. Impetigo vesiko bulosa, bentuk seperti vesikel c. Hand foot diassess, ruam pada tangan dan kaki d. Herpangina : vesikel terbatas di palatum lunak, uvula dan tonsil e. SAR : mukosa tidak berkeratin, tidak didahului vesikel f. Eritema multiform : lesi dgn krusta kemerahan Obat yang diberikan tidak menimbulkan efek terapi pada penderita, karena paracetamol di indikasikan untuk demam, serta multivitamin berfungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tidak dapat mengobati ginggivo stomatitis herpetic primer. Karena obat yang telah diberikan tersebut bukan obat antivirus. Cara penularan ginggivo stomatitis herpetic primer : Kontak langsung, dengan sekresi yang terinfeksi saliva. Perilaku menyimpang seksual, seperti oral sex Luka yang masih aktif atau mikrolesi Ibu hamil saat proses persalinan

Penyakit sistemik dapat mempengaruhi terjadinya ginggivo stomatitis herpetic primer, terutama pada penderita imunosupresan serta penderita yang tidak menjaga kesehatan umum dengan baik. Ulkus bisa terdapat tidak hanya pada ginggiva dan lidah, melainkan dapat terjadi di semua tempat mukosa mulut. Seperti halnya saat sistem imun turun maka akan menimbulkan gejala klinis (infeksi primer) ulseratif pecah, virus menyebar ke aliran darah yang bersifat general. Biasanya rasa sakit pada ulkus yang timbul, disertai demam dan malaise.

VI.

KESIMPULAN
Ginggivo stomatitis herpetic primer merupakan suatu infeksi dalam mulut yang disebabkan oleh virus herpes simpleks oral atau HSV tipe 1. Biasanya pada anak kecil mendapati virus tersebut dari orang dewasa. Dikarenakan adanya coldsore atau luka didekat mulut, serta reaktivitas pada virus laten juga dapat mengakibatkan terjadinya ginggivo stomatitis herpetic primer. Penyakit sistemik juga dapat mempengaruhi terjadinya ginggivo stomatitis herpetic primer, terutama pada penderita imunosupresan serta penderita yang tidak menjaga kesehatan umum dengan baik. Gejala klinis dari ginggivo stomatitis herpetic primer berupa ulserasi multiple intra oral di ginggiva (pembengkakan dan oedematus), menyebabkan rasa sakit saat menelan, makan dan berbicara disertai rasa mual dan muntah. Juga disertai demam, malaise, sakit kepala dan anoreksia. Terdapat pembengkakan kelenjar getah bening di leher, yaitu kelenjar submandibular. Gambaran klinisnya berupa gelembung berisi cairan bisa menjadi ulseratif, ataupun vesikel berkelompok. Berbentuk kubah berukuran diameter 2-3mm, ulser juga berbentuk irreguler, oedem dan tepinya eritematous. Vesikel yang pecah tidak menimbulkan jaringan parut. Lesi ditutupin krusta warna kuning yang berasal dari koagulasi cairan di vesikel. Melakukan tindakan pencegahan sangat penting, agar penularan tidak terjadi kepada orang terdekat dengan penderita yaitu seperti hindari minum dari gelas yang sama, hindari kontak mulut dan bibir selama 10 hari setelah sembuh, jaga kebersihan dengan antiseptik, juga mencuci benda-benda dari penderita dengan air panas, menghindari coldsore, serta menghindari predisposisi, tidak memakai benda bersama-sama dengan penderita.

IV.

DAFTAR PUSTAKA
o www.usu.ac.id o Buku Langlais Miller Atlas Berwarna Kelainan Rongga Mulut Yang Lazim o JAWEZT, MELNICK. Mikrobiologi Kedokteran ed.20 o Buku Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2 o Buku Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1

Concept Maping :

HSV tipe 1

Ginggivo Stomatitis Herpes Primer

Patogenesis

Terapi

Gejala Klinis

Gambaran Klinis