Anda di halaman 1dari 23

PT.

PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 1
BAB I
LATAR BELAKANG
1.1 Pendahuluan
Seiring bertambahnya jumlah penduduk mengakibatkan kebutuhan listrik
juga mengalami peningkatan. Meningkatnya kebutuhan tenaga listrik di
Indonesia, membuat PT. PLN (Persero) dituntut dapat melakukan upaya untuk
memenuhi kebutuhan listrik tersebut. PT. PLN (Persero) telah mencanangkan
program 75/100, dimana pada saat ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia
yang ke-75 maka rasio elektrifikasi nasional telah mencapai 100 %.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga listrik tersebut PT. PLN
(Persero) telah menetapkan rancangan pembangunan ketenagalistrikan baik
melalui program jangka panjang, maupun program jangka pendek, diantaranya
program percepatan (fast track program) yang dikenal juga dengan istilah Proyek
Percepatan Diversifikasi Energi. Untuk mendukung pembangunan proyek-proyek
percepatan tersebut salah satu yang dilakukan adalah pembangunan proyek Gardu
Induk. Pembangunan tersebut bertujuan untuk menjaga kehandalan kualitas,
kapasitas penyediaan tenaga listrik dan ketersinambungan sistem kelistrikan, serta
untuk mengatasi keterbatasan supply energi listrik, meningkatkan kualitas
pelayanan, dan meningkatkan produktivitas masyarakat.
Salah satu pekerjaan yang dilaksanakan oleh PT. PLN (Persero) UPK
JARINGAN KALIMATAN 2 adalah Proyek Pembangunan Gardu Induk 150 kV
Buntok dengan nomor kontrak : 30.PJ/133/IUPKITRINGKAL/2011.
Pada tahap perencanaan desain, pondasi direncanakan menggunakan
pondasi tiang pancang minipile dan pile cap berdasarkan data uji sondir.
Perhitungan pondasi tiang pancang pada pekerjaan di proyek ini menggunakan
metode perhitungan end bearing pile dan friction pile, dimana kapasitas/daya
dukung tiang pancang dipengaruhi oleh tahanan ujung tiang dan gaya gesekan
antar permukaan tiang pancang dengan tanah disekitar lokasi tiang dipancang.
Daya dukung yang harus dicapai oleh tiang pancang serta kedalaman tanah yang
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 2
memiliki kondisi baik akan mempengaruhi kedalaman serta banyaknya tiang
pancang yang digunakan.
Gardu Induk 150 kV Buntok memiliki lahan seluas 3,6 Ha. Pada saat soil
investigation (uji sondir) hanya dilakukan 3 titik pengujian. Dengan data hasil uji
sondir dari ke 3 titik tersebut, perencanaan kedalaman tiang pancang untuk semua
konstruksi dilakukan. Hal ini terkadang menyebabkan pelaksanaan di lapangan
tidak sesuai dengan desain awal karena sifat tanah yang sangat bervariasi antara
titik yang satu dengan titik lainnya. Untuk menjamin bahwa pondasi mampu
mendukung beban konstruksi di atasnya, maka perlu diketahui besar daya dukung
pondasi tiang pancang pada titik tersebut.
Penulis mencoba menganalisis daya dukung pondasi tiang pancang
berdasarkan data calendering yang diambil saat pelaksanaan pemancangan. Dari
hasil analisis diharapkan dapat diketahui daya dukung tiang pancang yang
mendekati aktual.
1.2 Tujuan Analisis
Tujuan dari analisis pada telaahan staf ini adalah :
a. Untuk mengetahui daya dukung pondasi tiang pancang hasil data
calendering pemancangan.
b. Untuk memastikan pondasi tiang pancang mampu menahan beban
konstruksi di atasnya.
1.3 Manfaat Analisis
Manfaat dari analisis pada telaahan staf ini adalah :
a. Menghindari terjadinya kegagalan konstruksi akibat daya dukung
pondasi yang tidak mampu menahan beban konstruksi di atasnya.
b. Memberikan pengetahuan kepada pengawas lapangan dalam
perhitungan daya dukung tiang pancang dari hasil calendering
pemancangan.
c. Membantu dalam pengambilan keputusan saat penghentian
pekerjaan pemancangan.
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 3
BAB II
PERMASALAHAN
2.1 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka
permasalahan yang dihadapi adalah ketidaksesuai desain dengan kenyataan di
lapangan. Kedalaman tiang pancang didesain pada kedalaman 9 m, tetapi
pelaksanaan di lapangan hanya mampu menembus kedalaman 6 m. Hal ini terjadi
karena tidak semua titik pondasi dilakukan uji sondir. Hasil uji sondir 3 titik
digunakan untuk mendesain semua pondasi di area Gardu Induk 150 kV Buntok.
Di dalam Bill of Quantity (BoQ) kontrak juga tidak ada item pengujian PDA test
maupun Loading Test (uji pembebanan). Untuk menjamin keamanan konstruksi
maka perlu diketahui seberapa besar daya dukung yang dihasilkan pondasi tiang
pancang tersebut.
2.2 Batasan Masalah
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dipaparkan diatas, maka dalam
melakukan analisa ini penulis juga memiliki batasan masalah. Batasan masalah ini
bertujuan agar penulisan telaahan staf dapat lebih terfokus dan menghindarkan
kesan bias. Adapun batasan masalah yang digunakan adalah:
a. Telaahan staf ini tidak mengevaluasi semua jenis pondasi di Gardu
Induk 150 kV Buntok
b. Analisis daya dukung pondasi tiang pancang yang dilakukan pada
telaahan staf ini hanya untuk 1 unit pondasi peralatan Circuit Breaker
(CB) di area switch yard.
c. Data calendering diambil pada saat pekerjaan pemancangan di Gardu
Induk 150 kV Buntok yang dilakukan oleh kontraktor pelaksana dan
pengawas lapangan.
d. Data beban dari peralatan Circuit Breaker bersumber dari data
pabrikan.
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 4
BAB III
PERSOALAN
Persoalan yang terjadi di lapangan saat pekerjaan konstruksi pondasi
adalah perbedaan kedalaman tiang pancang antara desain dengan kenyataan di
lapangan. Perbedaan tersebut dikarenakan sifat tanah yang sangat bervariasi
antara titik yang satu dengan titik lainnya. Hasil iji sondir terkadang tidak
menggambarkan kondisi tanah secara keseluruhan. Perbedaan kedalaman tiang
pancang saat pelaksanaan konstruksi sering menjadi kendala dalam pekerjaan
pemancangan dan perdebatan antara pengawas lapangan dengan kontraktor
pelaksana untuk masalah kapan proses pemancangan dapat dihentikan. Oleh
karena itu perlu suatu analisis untuk menghitung daya dukung pondasi tiang
pancang berdasarkan data calendering hasil pemancangan. Dengan analisis
tersebut dapat diketahui apakah pondasi mampu menahan beban konstruksi di
atasnya dan menjadi dasar pengawas lapangan dalam mengambil keputusan
terkait pekerjaan pemancangan.
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 5
BAB IV
PRA ANGGAPAN
Daya dukung pondasi tiang pancang dapat dianalisis dengan menggunakan
rumus/metode dinamis berdasarkan data calendering yang diambil pada saat
pekerjaan pemancangan. Analisis daya dukung pondasi tiang pancang
berdasarkan data calendering memberikan hasil yang lebih akurat dan mendekati
kenyataan untuk setiap pondasi yang dikerjakan apabila uji sondir tidak dilakukan
di setiap titik pondasi. Analisis berdasarkan data calendering yang diambil saat
pekerjaan pemancangan tiang pancang dapat mencegah terjadinya kegagalan
konstruksi akibat ketidaksesuaian pelaksanaan di lapangan dengan desain awal.
Analisis ini dapat bermanfaat sebagai pertimbangan pada saat pengambilan
keputusan kapan pekerjaan pemancangan tiang pancang akan dihentikan.
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 6
BAB V
FAKTA YANG MEMPENGARUHI
5.1 Konstruksi Pondasi
Pada umumnya suatu bangunan dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu
struktur yang terletak di atas muka tanah (dapat dilihat secara visual) dan struktur
yang terletak di bawah muka tanah (tidak dapat dilihat secara visual). Struktur
bawah inilah biasa disebut pondasi yang berfungsi sebagai perantara untuk
meneruskan beban struktur yang ada di atas muka tanah dan gaya-gaya yang
bekerja, ke tanah pendukung bangunan tersebut.
Pondasi adalah bagian terendah dari bangunan yang meneruskan beban
bangunan ke tanah atau batuan yang ada di bawahnya. Terdapat dua klasifikasi
pondasi, yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam. Pondasi dangkal didefinisikan
sebagai pondasi yang mendukung beban diatasnya secara langsung, seperti
pondasi telapak, pondasi memanjang dan pondasi rakit. Sedangkan pondasi dalam
didefinisikan sebagai pondasi yang meneruskan beban diatasnya ke tanah dasar
pondasi yang terletak jauh dari permukaan tanah, seperti pondasi tiang pancang
dan pondasi bore pile.
5.2 Penyelidikan Tanah
Penyelidikan tanah di lapangan dibutuhkan untuk data perancangan
pondasi bangunan atau struktur yang akan di bangun di atas tanah tersebut. Dari
data yang diperoleh, sifat-sifat tanah dipelajari, kemudian digunakan sebagai
bahan pertimbangan dalam menganalisis kapasitas dukung dan penurunan
pondasi. Tujuan penyelidikan tanah antara lain:
a. Menentukan kapasitas dukung tanah.
b. Menentukan tipe dan kedalaman pondasi.
c. Untuk mengetahui posisi muka air tanah.
d. Untuk memprediksi besarnya penurunan.
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 7
Penyelidikan tanah dapat dilakukan dengan cara menggali lubang uji (test-
pit), pengeboran, atau uji secara langsung di lapangan (uji SPT, uji sondir).
Penyelidikan tanah yang digunakan pada proyek ini yaitu menggunakan uji
Sondir. Uji sondir yang dilakukan hanya berjumlah 3 titik untuk mewakili luasan
secara keseluruhan.
5.3 Pondasi Tiang Pancang
Pondasi tiang digunakan apabila lapisan tanah keras atau lapisan tanah
dengan kuat dukung tinggi terletak pada kedalaman yang cukup dalam atau rasio
(D/B) 10 sedangkan pada tanah di lapisan atas kurang mampu menahan beban
(Suryolelono, 2004).
Berdasarkan tipe tiang dapat dibedakan terhadap cara tiang meneruskan
beban yang diterimanya ke tanah dasar pondasi. Hal ini tergantung juga pada jenis
tanah dasar pondasi yang akan menerima beban yang bekerja, yaitu :
a. End/Point Bearing Pile
Apabila ujung tiang mencapai tanah keras atau tanah baik dengan kuat
dukung tinggi, maka beban yang diterima tiang akan diteruskan ke
tanah dasar pondasi melalui ujung tiang.
b. Friction Pile
Apabila tiang yang dipancang pada tanah dengan nilai kuat gesek tinggi
dan ujung tiang tidak mencapai tanah keras, maka beban yang diterima
oleh tiang akan di tahan (lawan) oleh gesekan antara permukaan
dinding tiang dengan butiran tanah yang ada di sekeliling tiang.
c. Adhesive Pile atau Cohesive Pile
Apabila tiang yang dipancang pada tanah dengan nilai kohesi yang
tinggi dan ujung tiang tidak mencapai tanah keras, maka beban yang
diterima oleh tiang akan ditahan oleh pelekatan antara tanah sekitar dan
permukaan tiang. Berbagai macam tipe tiang berdasarkan cara
meneruskan beban ditunjukkan pada gambar 5.1 berikut :
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 8
Gambar 5.1 Tipe tiang didasarkan cara meneruskan beban
Pondasi tiang pancang beton (precast) dibuat ditempat lain (pabrik) dan
baru dipancang sesuai dengan umur beton setelah 28 hari. Karena tegangan tarik
beton adalah kecil, sedangkan berat sendiri beton adalah besar maka tiang
pancang beton ini haruslah diberi tulangan yang cukup kuat untuk menahan
momen lentur yang akan timbul pada waktu pengangkatan dan pemancangan.
Pemakaian pondasi tiang pancang mempunyai keuntungan dan kerugian, antara
lain adalah sebagai berikut :
Keuntungan :
a. Karena tiang dibuat dipabrikan dengan pemeriksaan ketat, maka
hasilnya lebih dapat diandalkan.
b. Prosedur pelaksanaan tidak dipengaruhi oleh air tanah.
c. Daya dukung dapat diperkirakan berdasarkan rumus tiang pancang
sehingga mempermudah pengawasan pekerjaan konstruksi.
d. Cara penumbukan sangat cocok untuk mempertahankan daya dukung
vertikal.
Kerugian :
a. Karena dalam pelaksanaannya menimbulkan getaran dan kegaduhan
maka pada daerah yang berpenduduk padat di kota dan di desa, akan
menimbulkan masalah disekitarnya.
b. Pemancangan sulit, bila diameter tiang terlalu besar.
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 9
c. Bila panjang tiang pancang kurang, untuk melakukan
penyambungannya akan sulit dan memerlukan alat penyambungan
khusus.
d. Bila memerlukan pemotongan maka dalam pelaksanaannya akan lebih
sulit dan memerlukan waktu yang lama.
5.4 Kapasitas Daya Dukung Tiang Pancang Berdasarkan Data
Calendering (Rumus Dinamik)
Daya dukung tiang pancang dapat dihitung dengan menggunakan rumus
dinamik (Hiley Formula, PCUBC Formula dan Eytelwein Formula). Rumus
dinamik digunakan untuk pendekatan perhitungan kekuatan/kapasitas dukung
pondasi tiang pancang tunggal, dengan data dari:
a. Tipe dan spesifikasi alat pancang
b. Jenis dan spesifikasi tiang pancang
c. Data pemancangan (tinggi jatuh/ram stroke, panjang tiang tertanam,
final set dan rebond, dsb)
d. Koefisien empiris yang berbeda untuk tiap rumusan dinamik
5.4.1 Perhitungan Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang dengan Rumus
Hiley
Analisis daya dukung tiang pancang menurut Rumus Hiley dihitung
dengan persamaan 5.1 berikut:
(5.1)
( Lauw Tjun Nji,2013 )
Untuk dihitung dengan persamaan 5.2 berikut:
....(5.2)
( Lauw Tjun Nji,2013 )
Qu =
x W x Hef x
S + 0,5 ( Cc+Cp+Cq)
=
W + (P x e)
W + P
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 10
Untuk menentukan Cp dan Cq dapat dihitung berdasarkan rata-rata
rebound saat dilakukan calendering.
Gambar 5.2 Nilai Cp dan Cq
Kapasitas dukung ijin tiang pancang dihitung dengan persamaan 5.3 berikut:
....(5.3)
( Lauw Tjun Nji,2013 )
Dimana:
Qu = Kapasitas ultimate tiang pancang (Ton)
Qa = Kapasitas ijin tiang pancang (Ton)
= Efisiensi alat/hammer
Untuk jenis drop hammer, = 0,75
W = Berat hammer (Ton)
Hef = Tinggi jatuh efektif (cm)
= Efisiensi pukulan
S = penetrasi pukulan terakhir (cm)
(rata-rata dari 10 pukulan terakhir)
P = Berat tiang pancang (Ton)
e = Koefisien restitusi
Untuk tiang pancang beton, e = 0,4
Cc = C oleh pengaruh capping,bantalan dan dolly (cm)
Cp = C oleh pengaruh tiang pancang (cm)
Cq = C oleh pengaruh tanah (cm)
Qa =
Qu
3
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 11
5.4.2 Perhitungan Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang dengan Rumus
PCUBC (Pasific Coast Uniform Building Code)
Analisis daya dukung tiang pancang menurut Rumus PCUBC dihitung
dengan persamaan 5.4 berikut:
(5.4)
( Lauw Tjun Nji,2013 )
Untuk Cp dihitung dengan persamaan 5.5 berikut:
....(5.5)
( Lauw Tjun Nji,2013 )
Kapasitas dukung ijin tiang pancang dihitung dengan persamaan 5.6 berikut:
....(5.6)
( Lauw Tjun Nji,2013 )
Dimana:
Qu = Kapasitas ultimate tiang pancang (Ton)
Qa = Kapasitas ijin tiang pancang (Ton)
= Efisiensi alat/hammer
Untuk jenis drop hammer, = 0,75
W = Berat hammer (Ton)
H = Tinggi jatuh hammer (cm)
S = penetrasi pukulan terakhir (cm)
(rata-rata dari 10 pukulan terakhir)
P = Berat tiang pancang (Ton)
L = Panjang tiang pancang (cm)
Qu =
x W x H

W + (P x 0,1)
S + Cp W + P
Cp =
Qu x L
A x E
Qa =
Qu
4
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 12
E = Modulus elastisitas tiang
Cp = Rebound karena pengaruh tiang pancang (cm)
5.4.3 Perhitungan Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang dengan Rumus
Eytelwein
Analisis daya dukung tiang pancang menurut Rumus PCUBC dihitung
dengan persamaan 5.7 berikut:
.........(5.7)
( Lauw Tjun Nji,2013 )
Kapasitas dukung ijin tiang pancang dihitung dengan persamaan 5.8 berikut:
....(5.8)
( Lauw Tjun Nji,2013 )
Dimana:
Qu = Kapasitas ultimate tiang pancang (Kg)
Qa = Kapasitas ijin tiang pancang (Kg)
= Efisiensi alat/hammer
Untuk jenis drop hammer, = 0,75
W = Berat hammer (Kg)
H = Tinggi jatuh hammer (cm)
S = penetrasi pukulan terakhir (cm)
(rata-rata dari 10 pukulan terakhir)
P = Berat tiang pancang (Kg)
C = Konstanta temporary elastic compression
Untuk drop hammer, nilai C = 2,54
Qu =
2 x x W x H
S + C (P/W)
Qa =
Qu
6
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 13
5.5 Beban Maksimum yang Diterima Satu Tiang pancang
Beban maksimum yang ditahan oleh satu tiang pancang dihitung
dengan persamaan 5.9 berikut:
Pmax =
n
V

2
.
yi
yi Mx


2
.
xi
xi My

(5.9)
( Suryolelono, 2004 )
Dimana :
Pmax = Beban maksimum yang diterima oleh satu tiang pancang
n = Banyaknya tiang pancang dalam grup
V = Jumlah total beban vertikal yang bekerja pada titik pusat grup
tiang
Mx = Momen yang bekerja pada bidang tegak lurus sumbu x
My = Momen yang bekerja pada bidang tegak lurus sumbu y
xi = Jumlah kuadrat ordinat - ordinat tiang pancang

yi = Jumlah kuadrat absis - absis tiang pancang


xi,yi = Jarak tiang terhadap sumbu x sebagai y dan terhadap sumbu y
sebagai x, dimana sumbu x dan y melewati pusat grup tiang.
5.6 Efisiensi Kelompok Tiang
Apabila digunakan pondasi tiang dengan satu tiang, dan beban yang
diterima oleh pondasi tiang terlalu besar, maka pondasi dengan satu tiang menjadi
tidak mampu, sehingga digunakan suatu susunan kelompok tiang untuk
mendukung beban tersebut. Kelompok tiang merupakan susunan tiang yang
dipancang ke dalam tanah dan dirangkai dengan suatu pelat di bagian kepala
tiang, dengan maksud agar susunan tiang merupakan satu kesatuan. Penyatuan
kelompok tiang ini menggunakan pelat beton atau disebut pile cap (poer). Dalam
masalah kelompok tiang yang terpenting adalah jarak tiang. Pada umumnya
susunan tiang dibuat simetris (jarak tiang sama), sehingga pusat berat kelompok
tiang dan pusat poer terletak pada satu garis vertikal.
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 14
Pemilihan untuk desain pondasi dalam sangat berpengaruh terhadap berapa
banyak jumlah pile dan konfigurasinya karena pada dasarnya pile group akan
lebih baik dibandingkan single pile, karena luas daya dukungnya lebih besar.
Setelah menentukan konfigurasi kelompok tiang, perlu dihitung angka
efisiensi tiang group dengan persamaan 5.10 berikut :
Efisiensi tiang group (Persamaan Converse-Labbarre):
, ) , )
(


+
=
n m
n m m n
90
1 1
1 .. (5.10)
( Suryolelono, 2004 )
Dimana :
= Efisiensi kelompok tiang
m = Banyaknya tiang dalam baris
n = Banyaknya tiang dalam kolom
= arc tg D/S (derajat)
D = Diameter tiang (m)
S = Jarak antar tiang (m)
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 15
BAB VI
PEMBAHASAN
6.1 Data Teknis Konstruksi
Studi kasus yang diambil untuk telaahan staf ini adalah pondasi tiang
pancang Circuit Breaker (CB) Line Bay dengan data teknis sesuai gambar pada
lampiran 1.
Tiang pancang menggunakan minipile 20 x 20 cm. Pelaksanaan
pemancangan menggunakan alat drop hammer dengan berat hammer 1,8 Ton.
Hasil calendering (10 pukulan terakhir) saat pekerjaan pemancangan sebagai
berikut:
- Titik 1 = 1,5 cm / 10 pukulan terakhir
- Titik 2 = 3,0 cm / 10 pukulan terakhir
- Titik 3 = 2,0 cm / 10 pukulan terakhir
- Titik 4 = 2,5 cm / 10 pukulan terakhir
6.2 Perhitungan Beban yang Bekerja
Perhitungan beban yang bekerja pada pondasi sebagai berikut:
a. Dari hasil pembebanan maka support reaction maksimum yang akan
digunakan dalam perhitungan beban pondasi CB sebagai berikut
- Beban vertikal (compression) = 1,5 Ton
- Beban Horizontal sumbu x = 0,1 Ton
- Momen sumbu y = 0,1 x 1,15 = 0,115 Ton m
b. Berat beton pondasi
- Volume beton = 1,307 m
- Berat beton = 1,307 x 2,4 = 3,1377 Ton
c. Berat tanah di atas pondasi
- Volume tanah di atas pondasi = 0,8085 m
- Berat beton = 0,8085 x 1,6 = 1,2936 Ton
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 16
d. Berat pile dibawah pad (2 titik)
Berat pile = 2 x 0,2 x 0,2 x 5 x 2,4 = 0,96 Ton
e. Total beban yang bekerja pada pondasi
- Beban vertikal = 6,8913 Ton
- Momen sumbu y = 0,115 Ton m
Dari perhitungan diketahui bahwa beban vertikal yang terjadi di
pondasi Circuit Breaker sebebsar 6,8913 Ton dan momen sumbu y sebesar 0,115
Ton m.
6.3 Beban Maksimum pada Satu Tiang Pancang
Tabel 6.1 Perhitungan jarak tiang pancang arah sumbu x
Kolom Jumlah Jarak (m)
(xi)^2 =
No. tiang xi
1 1 0,285 0,081 0,081
2 1 0,285 0,081 0,081
(xi)^2 = 0,162
Beban yang diterima 1 titik tiang pancang sebagai berikut:
V = 6,8913 Ton
Mx = 0,00 ton-m
My = 0,115 ton-m
n = 2 Tiang
y max = 0,00 m
(yi)^2 = 0,00 m
x max = 0,285 m
(xi)^2 = 0,162 m
Pmax =
n
V

2
.
yi
yi Mx


2
.
xi
xi My

( Suryolelono, 2004 )
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 17
= 3,446 + 0 + 0,202
= 3,648 Ton
Dari analisis di atas dapat diketahui bahwa satu tiang pancang harus
mampu menahan beban sebesar 3,648 Ton.
6.4 Efisiensi Kelompok Tiang Pancang
Efisiensi kelompok tiang (Persamaan Converse-Labbarre)
, ) , )
(


+
=
n m
n m m n
90
1 1
1 (Suryolelono,2004)
n = banyaknya tiang dalam kolom = 2 Buah
m = banyaknya tiang dalam baris = 1 Buah
D = garis tengah tiang pancang = 0,2 Meter
S
Y
= spacing arah Y = - Meter
S
X
= spacing arah X = 0,57 Meter
= arc tan D/S = 21,483 deg
Maka nilai efisien kelompok tiang didapatkan sebesar 0,881 (kapasitas dukung
tiang pancang berkurang 11,9 % akibat pengaruh susunan konfigurasi tiang).
6.5 Perhitungan Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang
Analisis daya dukung satu tiang pancang dihitung berdasarkan hasil
calendering saat pekerjaan pemancangan.
6.5.1 Berdasarkan Rumus Hiley
- Titik 1, data hasil calendering = 1,5 cm/10 pukulan
Qu =
x W x Hef x
S + 0,5 ( Cc+Cp+Cq)
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 18
Qu =
0,75 x 1,8 x 80

1,8 + (0,864 x 0,4)


0,15 + 0,5 ( 1 + 0,8 ) 1,8 + 0,864
Qu = 74,84 Ton
= 74,84 Ton
Qa =
74,84
3
= 24,95 Ton
Untuk hasil perhitungan titik 2, 3 dan 4 akan ditampilkan pada tabel 6.2 berikut:
Tabel 6.2 Perhitungan Daya Dukung dengan Rumus Hiley
No Tiang Pancang Nilai Calendering (cm) Qu (Ton) Qa (Ton)
1 Titik 1 1,5 74,84 24,95
2 Titik 2 3 65,48 21,83
3 Titik 3 2 71,43 23,81
4 Titik 4 2,5 68,33 22,78
6.5.2 Berdasarkan Rumus PCUBC
- Titik 1, data hasil calendering = 1,5 cm/10 pukulan
Cp =
Qu x L
A x E
A = 0,04 m
E = 3027763,201 Ton/m
L =
9 m
Cp =
0,0000743 m.Qu
=
0,00743 cm . Qu
Qu =
x W x H

W + (P x 0,1)
S + Cp W + P
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 19
Dari persamaan di atas didapatkan persamaan kuadrat sebagi berikut:
0,00743 Qu + 0,15 Qu 91,65285 = 0
Qu = 101,42 Ton
Qa =
101,42
4
= 25,36 Ton
Untuk hasil perhitungan titik 2, 3 dan 4 akan ditampilkan pada tabel 6.3 berikut:
Tabel 6.3 Perhitungan Daya Dukung dengan Rumus PCUBC
No Tiang Pancang Nilai Calendering (cm) Qu (Ton) Qa (Ton)
1 Titik 1 1,5 101,42 25,36
2 Titik 2 3 92,70 23,18
3 Titik 3 2 98,41 24,60
4 Titik 4 2,5 95,51 23,88
6.5.2 Berdasarkan Rumus Eytelwein
- Titik 1, data hasil calendering = 1,5 cm/10 pukulan
Qu = 197.195,44 kg
= 197,195 Ton
Qu =
0,75 x 1,8 x 100

1,8 + (0,864 x 0,1)


0,15 + 0,00743Qu 1,8 + 0,864
Qu =
2 x x W x H
S + C (P/W)
Qu =
2 x 0,75 x 1800 x 100
0,15 + 2,54 (864/1800)
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 20
Untuk hasil perhitungan titik 2, 3 dan 4 akan ditampilkan pada tabel 6.4 berikut:
Tabel 6.4 Perhitungan Daya Dukung dengan Rumus Eytelwein
No Tiang Pancang Nilai Calendering (cm) Qu (Ton) Qa (Ton)
1 Titik 1 1,5 197,195 32,87
2 Titik 2 3 177,73 29,62
3 Titik 3 2 190,02 31,71
4 Titik 4 2,5 183,77 30,63
Dari analisis daya dukung pondasi tiang pancang di atas terlihat bahwa
dengan data calendering yang diambil saat pemancangan dapat diketahui bahwa 1
tiang pancang mempunyai daya dukung yang cukup besar. Perhitungan dengan
rumus Hiley, rumus PCUBC maupun rumus Eytelwein memberikan hasil yang
tidak jauh berbeda sehingga rumus dinamik dapat digunakan sebagai
pertimbangan dalam pelaksanaan pekerjaan pondasi tiang pancang.
Pada saat pelaksanaan calendering, besarnya penurunan tiang saat 10
pukulan terakhir berbanding terbalik dengan daya dukung yang dihasilkan.
Semakin kecil penurunan saat 10 pukulan terakhir maka akan dihasilkan daya
dukung yang semakin besar, sehingga pengawas di lapangan harus
memperhatikan seberapa besar penurunan yang terjadi untuk memperkirakan daya
dukung yang dihasilkan dan memjamin pondasi mampu menahan beban di
atasnya.
6.6 Kontrol Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Terhadap Beban
Konstruksi
Untuk menjamin bahwa pondasi tiang pancang mampu menahan beban
yang terjadi, maka di lakukan perbandingan daya dukung yang dihasilkan dengan
Qa =
197,195
6
= 32,87 Ton
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 21
beban konstruksi di atasnya. Analisis perhitungan safety factor pondasi satu tiang
pancang ditampilkan pada tabel 6.5 berikut:
Tabel 6.5 Safety Factor Daya Dukung 1 Tiang Pancang Terhadap Beban
No
Tiang
Pancang
Pmax
(Ton)
Daya Dukung Ijin / Qa (Ton) x efisiensi
kelompok tiang SF
rata-rata
Hiley PCUBC Eytelwein
1 Titik 1 3,648 21,98 22,34 28,96 6,70
2 Titik 2 3,648 19,23 20,42 26,10 6,01
3 Titik 3 3,648 20,98 21,67 27,94 6,45
4 Titik 4 3,648 20,07 21,04 26,99 6,22
Dari analisis di atas terlihat bahwa 1 pondasi tiang pancang memiliki SF
yang cukup besar sehingga dapat disimpulkan pondasi tiang pancang tersebut
aman dalam mendukung beban konstruksi di atasnya.
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 22
BAB VII
KESIMPULAN
Dari data dan analisa yang telah dilakukan, maka dapat menyimpulkan
bahwa:
1. Analisis daya dukung pondasi tiang pancang dapat dihitung berdasarkan data
calendering yang diambil saat pekerjaan pemancangan.
2. Analisis daya dukung pondasi tiang pancang dengan menggunakan Hiley
Formula, PCUBC Formula dan Ewytelwein Formula memberikan hasil yang
tidak jauh berbeda sehingga dapat dijadikan acuan untuk memperkirakan daya
dukung pondasi hasil pemancangan.
3. Dalam studi kasus pondasi peralatan Circuir Breaker, pondasi tiang pancang
yang dilaksanakan aman dalam mendukung beban konstruksi di atasnya.
4. Analisis daya dukung pondasi tiang pancang berdasarkan data calendering
dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam menentukan kedalaman pondasi
tiang pancang.
PT. PLN (Persero)
UNIT INDUK PEMBANGUNAN X
Sidik Mustafa, 8610650 Z 23
BAB VIII
TINDAKAN YANG DISARANKAN
Ada beberapa usulan tindakan yang dapat disarankan untuk pekerjaan
pondasi tiang pancang. Adapun tindakan-tindakan yang disarankan adalah:
1. Kontraktor pelaksana harus mengambil data calendering saat pekerjaan
pemancangan sehingga daya dukung pondasi tiang pancang yang mendekati
aktual dapat dihitung.
2. Pengawas lapangan harus mempunyai pengetahuan mengenai analisis daya
dukung pondasi tiang berdasarkan data calendering sehingga mampu
mengambil keputusan secara bijak mengenai kapan pekerjaan pemancangan
tiang pancang dapat dihentikan.
3. Evalusi hasil pekerjaan pemancangan harus dilakukan terhadap seluruh jenis
pondasi untuk menjamin bahwa pondasi mampu menahan beban konstruksi di
atasnya.
4. Kontrak perlu mempertimbangkan adanya pekerjaan PDA test sehingga dapat
menjadi bahan perbandingan daya dukung yang dianalisis berdasarkan data
calendering yang telah dilakukan.