Anda di halaman 1dari 11

09/04/13

Wiwik Satriani Putri: KOMPLEKSOMETRI

09/04/13 Wiwik Satriani Putri: KOMPLEKSOMETRI BBaaggiikkaann 0 Lainnya Blog Berikut» Buat Blog Masuk W W i
BBaaggiikkaann 0
BBaaggiikkaann
0

Lainnya

Satriani Putri: KOMPLEKSOMETRI BBaaggiikkaann 0 Lainnya Blog Berikut» Buat Blog Masuk W W i i w
 

KUMPULAN LAPORAN FARMASI ^_^ Karena Sesungguhnya BERBAGI ITU INDAH

Selasa, 05 Juni 2012

 

Arsip Blog

KOMPLEKSOMETRI

 
 
 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Titrasi adalah pengukuran suatu larutan dari suatu reaktan yang dibutuhkan untuk bereaksi sempurna dengan sejumlah reaktan tertentu lainnya. Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion- ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri yang

Mengenai Saya

di atas, dikenal pula kompleksometri yang Mengenai Saya Wiwik Satriani Putri Assalamu'alaykum ^_^ dikenal

Assalamu'alaykum ^_^

dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Gugus-yang terikatpada ion pusat, disebut ligan, dan dalam larutan air, reaksi dapat dinyatakan oleh persamaan :

M(H2O)n + L = M(H2O)(n-1) L + H2O Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal dengan EDTA, merupakan salah satu jenis asam amina polikarboksilat. EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksil-nya atau disebut ligan multidentat yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi per molekul, misalnya asam 1,2- diaminoetanatetraasetat (asametilenadiamina tetraasetat, EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen – penyumbang dan empat atom oksigen penyumbang dalam molekul.

 

B.

Rumusan Masalah

 

Rumusan masalah pada pecobaan ini adalah bagaimana penentuan kadar suatu larutan dengan menggunakan metode kompleksometri?

 

C.

Tujuan Praktikum

 

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui penentuan kadar suatu larutan dengan menggunakan metode kompleksometri.

 

D.

Maksud Praktikum

 

Maksud dari praktikum ini adalah mengetahui dan memahami penentuan kadar suatu larutan dengan menggunakan metode kompleksometri.

 

E. Manfaat Praktikum

 

Adapun

manfaat

dari

praktikum

ini

adalah

agar

mahasiswa

dapat

mengaplikasikan metode kompleksometri dalam bidang farmasi.

 

09/04/13

Wiwik Satriani Putri: KOMPLEKSOMETRI

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Teori Umum

Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion), Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi–reaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu pengertian yang cukup luas tentang kompleks, sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi (Khopkar, 2002). Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan titrimetrik melibatkan pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks yang larut namun sedikit terdisosiasi. Kompleks yang dimaksud di sini adalah kompleks yang dibentuk melalui reaksi ion logam, sebuah kation, dengan sebuah anion atau molekul netral (Basset, 1994). Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Gugus-yang terikat pada ion pusat, disebut ligan, dan dalam larutan air, reaksi dapat dinyatakan oleh persamaan (Khopkar, 2002) ; M(H 2 O) n + L = M(H 2 O) (n-1) L + H 2 O

Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal dengan EDTA, merupakan salah satu jenis asam amina polikarboksilat. EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksil-nya atau disebut ligan multidentat yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi per molekul, misalnya asam 1,2- diaminoetanatetraasetat (asametilenadiamina tetraasetat, EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen – penyumbang dan empat atom oksigen penyumbang dalam molekul (Rival, 1995). Suatu EDTA dapat membentuk senyawa kompleks yang mantap dengan sejumlah besar ion logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak selektif. Dalam larutan yang agak asam, dapat terjadi protonasi parsial EDTA tanpa

pematahan sempurna kompleks logam, yang menghasilkan spesies seperti CuHY - . Ternyata bila beberapa ion logam yang ada dalam larutan tersebut maka titrasi dengan EDTA akan menunjukkan jumlah semua ion logam yang ada dalam larutan tersebut (Harjadi, 1993). Selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian pH, misal Mg, Ca, Cr, dan Ba dapat dititrasi pada pH = 11 EDTA. Sebagian besar titrasi kompleksometri mempergunakan indikator yang juga bertindak sebagai pengompleks dan tentu saja kompleks logamnya mempunyai warna yang berbeda dengan pengompleksnya sendiri. Indikator demikian disebut indikator metalokromat. Indikator jenis ini contohnya adalah Eriochrome black T; pyrocatechol violet; xylenol orange; calmagit; 1-(2-piridil-azonaftol), PAN, zincon, asam salisilat, metafalein dan calcein blue (Khopkar, 2002). Satu-satunya ligan yang lazim dipakai pada masa lalu dalam pemeriksaan

kimia adala ion sianida, CN - , karena sifatnya yang dapat membentuk kompleks yang

09/04/13

Wiwik Satriani Putri: KOMPLEKSOMETRI

mantap dengan ion perak dan ion nikel. Dengan ion perak, ion sianida membentuk senyawa kompleks perak-sianida, sedagkan dengan ion nilkel membentuk nikel- sianida. Kendala yang membatasi pemakaian-pemakaian ion sianoida dalam titrimetri adalah bahwa ion ini membentuk kompleks secara bertahap dengan ion logam lantaran ion ini merupakan ligan bergigi satu (Rival, 1995). Titrasi dapat ditentukan dengan adanya penambahan indikator yang berguna sebagai tanda tercapai titik akhir titrasi. Ada lima syarat suatu indikator ion logam dapat digunakan pada pendeteksian visual dari titik-titik akhir yaitu reaksi warna harus sedemikian sehingga sebelum titik akhir, bila hampir semua ion logam telah berkompleks dengan EDTA, larutan akan berwarna kuat. Kedua, reaksi warna itu haruslah spesifik (khusus), atau sedikitnya selektif. Ketiga, kompleks-indikator logam itu harus memiliki kestabilan yang cukup, kalau tidak, karena disosiasi, tak akan diperoleh perubahan warna yang tajam. Namun, kompleks-indikator logam itu harus kurang stabil dibanding kompleks logam-EDTA untuk menjamin agar pada titik akhir, EDTA memindahkan ion-ion logam dari kompleks-indikator logam ke kompleks logam-EDTA harus tajam dan cepat. Kelima, kontras warna antara indikator bebas dan kompleks-indikator logam harus sedemikian sehingga mudah diamati. Indikator harus sangat peka terhadap ion logam (yaitu, terhadap pM) sehingga perubahan warna terjadi sedikit mungkin dengan titik ekuivalen. Terakhir, penentuan Ca dan Mg dapat dilakukan dengan titrasi EDTA, pH untuk titrasi adalah 10 dengan indikator eriochrome black T. Pada pH tinggi, 12, Mg(OH) 2 akan

mengendap, sehingga EDTA dapat dikonsumsi hanya oleh Ca 2+ dengan indikator murexide (Basset, 1994). Kesulitan yang timbul dari kompleks yang lebih rendah dapat dihindari dengan penggunaan bahan pengkelat sebagai titran. Bahan pengkelat yang mengandung baik oksigen maupun nitrogen secara umum efektif dalam membentuk kompleks-kompleks yang stabil dengan berbagai macam logam. Keunggulan EDTA adalah mudah larut dalam air, dapat diperoleh dalam keadaan murni, sehingga EDTA banyak dipakai dalam melakukan percobaan kompleksometri. Namun, karena adanya sejumlah tidak tertentu air, sebaiknya EDTA distandarisasikan dahulu misalnya dengan menggunakan larutan kadmium (Harjadi, 1993).

 

B. Uraian Bahan

1. Aquadest (Dirjen POM III 1979 : 97)

Nama resmi

: AQUA DESTILLATA : Air suling : H 2 O

Nama lain

Rumus molekul

Berat molekul

: 18,02 gr/mol : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa : Larut dalam air : Dalam wadah tertutup baik : Sebagai pelarut

Pemerian

Kelarutan Penyimpanan Kegunaan

2. EBT (Etilen Biru Timol) Nama resmi Nama lain RM

: ETILEN BIRU TIMOL : EBT, Biru hidroksi naftol

: C 20 H 14 N 2 O 11 S 3

BM

: 554,52 gr/mol : Hablur, biru kecil : Mudah larut dalam air

Pemerian

Kelarutan

09/04/13

Wiwik Satriani Putri: KOMPLEKSOMETRI

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik : Sebagai indikator

Kegunaan

3. EDTA (Dirjen POM IV 1979 :1955)

Nama resmi

: ETILEN DIAMINA TETRA ASETAT : EDTA : C 2 H 8 N 2 / 98,96

Nama lain

RM/BM

Pemerian

: Cairan jernih tidak berwarna atau agak kuning, bau seperti amoniak, bereaksi alkali kuat. : Dapat bercampur dengan air maupun dengan etanol : Sebagai titran : Dalam wadah tertutup

Kelarutan

Kegunaan

Penyimpanan

4. Ammonia 10% (Dirjen POM IV 1979 :94)

Nama resmi

: AMMONIA : Amonia : NH 3 / 17,03 gr/mol

Nama lain

RM/BM

Pemerian

: Cairan jernih, tidak berwarna, bau khas menusuk kuat : Larut dalam air : Sebagai pereaksi : Dalam wadah tertutup rapat, pada suhu tidak lebih

Kelarutan

Kegunaan

Penyimpanan

dari 25 0 C

5. NaOH / Natrium Hidroksida (Dirjen POM IV 1979 :589)

Nama resmi

: NATRII HYDROXIDUM : Natrium hidroksida : NaOH/ 40,00

Nama lain

RM/BM

Pemerian

: Putih, atau praktis putih, massa melebur, berbentuk pellet, keras, dan rapuh. : Mudah larut dalam etanol dan air : Sebagai pereaksi : Dalam wadah tertutup rapat

Kelarutan

Kegunaan

Penyimpanan

6. ZnSO 4 ( (Dirjen POM IV 1979 :836)

Nama resmi

: ZINCI SULFAS : Zink sulfat : ZnSO 4

Nama lain

RM

Kelarutam

: Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam gliserol, dan tidak larut dalam etanol

Pemerian : Hablur transparan atau jarum-jarum kecil, serbuk hablur atau butir, tidak berwarna, tidak berbau, larutan memberikan reaksi asam terhadap kertas lakmus.

Kegunaan

: Sebagai sampel : Dalam wadah tertutup baik

Penyimpanan

C. Prosedur Kerja (Anonim, 2011)

Ditimbang seksama 100 mg zat uji, kemudian dilarutkan dalam Erlenmeyer dengan 100 ml air suling, tambahkan NaOH encer tetes demi setetes secukupnya

09/04/13

Wiwik Satriani Putri: KOMPLEKSOMETRI

hingga terbentuk endapan yang mantap. Tambahkan 5 ml dapar ammonia pH 10, titrasi dengan EDTA 0,05 M menggunakan indicator EBT-NaCl 20 mg hingga terjadi warna biru. Tiap ml EDTA 0,05 M setara dengan 14,38 mg ZnSO 4 .7H 2 O

BAB III

KAJIAN PRAKTIKUM

A. Alat yang Dipakai

Adapun alat yang digunakan adalah batang pengaduk, buret, botol semprot,

cawan porselen, corong kaca, erlenmeyer, gelas arloji, gelas kimia, klem, lap halus,

lap kasar, pipet tetes, sendok tanduk, statif, timbangan analitik.

B. Bahan yang Dipakai

Adapun bahan yang digunakan adalah ammonia 10 %, aquadest, EDTA (Etilen Diamina Tetra Asetat), Indikator EBT (Etilen Biru Timol), kertas timbang, NaOH (Natrium hidroksida), tissue, dan Zink Sulfat (ZnSO 4 ).

C. Cara Kerja

Ditimbang 50 mg ZnSO 4 kemudian dilarutkan dalam Erlenmeyer dengan 50

ml aquadest, ditambahkan NaOH 0,1 M sampai terbentuk endapan yang mantap.

Ditambahkan 5 ml Ammonia 10 %, kemudian ditambahkan 8 tetes indicator EBT

dan dititrasi dengan EDTA 0,0499 M sampai terjadi warna biru.

Skema Kerja

09/04/13

Wiwik Satriani Putri: KOMPLEKSOMETRI

BAB IV KAJIAN HASIL PRAKTIKUM A. Hasil Praktikum 1. Data Pengamatan     Berat sampel

BAB IV

KAJIAN HASIL PRAKTIKUM

A. Hasil Praktikum

1. Data Pengamatan

   

Berat sampel

Volume

% kadar

% Rata-

Kelompok

Sampel

I

II

I

II

I

II

rata

I

ZnSO 4

50,0

50,2

3,5

3

56,36 %

48,13 %

52,245%

II

ZnSO 4

50,5

50,9

4,3

4,4

68,5 %

69 %

68,7 5%

III

ZnSO 4

50,3

50,6

3,5

4,5

56,05%

7 1,64 %

63,84%

IV

ZnSO 4

50,7

50,7

4,1

3,8

65,22 %

60,47 %

62,84%

2. Reaksi Reaksi sampel dengan pelarut air

ZnSO 4 + H 2 O

Reaksi sampel dengan pelarut air ZnSO 4 + H 2 O Zn 2 + + SO

Zn 2+ + SO 4

2-

Reaksi sampel ditambahkan NaOH

2 O Zn 2 + + SO 4 2- Reaksi sampel ditambahkan NaOH Zn 2 +

Zn 2+ + NaOH + NH 3

Zn(OH) 2 + Na + + NH 3

Reaksi sampel dengan Indikator EBT Zn(OH) 2 +

NaOH Zn 2 + + NaOH + NH 3 Zn(OH) 2 + Na + + NH
Zn 2 + + NaOH + NH 3 Zn(OH) 2 + Na + + NH 3

09/04/13

Wiwik Satriani Putri: KOMPLEKSOMETRI

SO 3

O – Zn - O N = N + H 2 O
O
– Zn - O
N
= N
+
H 2 O

NO 3

3. Perhitungan

Kelompok 1 I. 100% II. 100% III. % Rata-rata = =
Kelompok 1
I.
100%
II.
100%
III.
% Rata-rata =
=

Kelompok 2

I. 100%
I.
100%

II.

100%
100%
N = N + H 2 O NO 3 3. Perhitungan Kelompok 1 I. 100% II.
NO 3 3. Perhitungan Kelompok 1 I. 100% II. 100% III. % Rata-rata = = Kelompok

09/04/13

Wiwik Satriani Putri: KOMPLEKSOMETRI

=

= III. % Rata-rata = Kelompok 3 I. 100% II. 100% III. % Rata-rata = =

III. % Rata-rata =

Kelompok 3 I. 100% II. 100% III. % Rata-rata = = Kelompok 4
Kelompok 3
I.
100%
II.
100%
III.
% Rata-rata =
=
Kelompok 4
I. 100% II. 100%
I.
100%
II.
100%
= III. % Rata-rata = Kelompok 3 I. 100% II. 100% III. % Rata-rata = =
= III. % Rata-rata = Kelompok 3 I. 100% II. 100% III. % Rata-rata = =

09/04/13

Wiwik Satriani Putri: KOMPLEKSOMETRI

III.

% Rata-rata =

   

=

 
=  
 

B. Pembahasan

Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion), Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi–reaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi. Titrasi kompleksometri sangat dipengaruhi oleh pH. Hanya pada harga-harga

pH lebih besar kira-kira 12, kebanyakan EDTA ada dalam bentuk tetraanion Y' - . Pada

harga-harga pH yang lebih rendah, zat yang berproton HY 3- , dan seterusnya, ada dalam jumlah berlebihan. Jelaslah bahwa kecenderungan yang sebenarnya untuk membentuk khelonat logam pada sembarang pH tidak dapat diperbedakan langsung

Pada percobaan kompleksometri ini pertama-tama ditimbang 50 mg ZnSO 4

kemudian dilarutkan dalam Erlenmeyer dengan 50 ml aquadest, ditambahkan NaOH 0,1 M sampai terbentuk endapan yang mantap. Ditambahkan 5 ml Ammonia 10 %, kemudian ditambahkan 8 tetes indicator EBT dan dititrasi dengan EDTA 0,0499 M sampai terjadi warna biru. Prinsip perubahan warna indikator logam,

dalam larutan yang suasananya sederhana dalam mentitrasi logam, M +m oleh EDTA

dengan memakai indikator Ind - akan tersangkut 3 jenis reaksi dalam hubungannya dengan perubahan warna indikatornya.

(i)

M +m + Z -z

à

MZ m-z

(ii)

M +m + Ind -i à MI m-i

 

(iii)

M +m + Y -4

à MY m-4

Sebelum penambahan EDTA akan berlangsung reaksi (i) dan (ii). Pada percobaan ini juga dilakukan penambahan EDTA, dengan penambahan EDTA maka reaksi (ii) dan

(i) begeser ke kiri dan perubahan warna M Ind ke warna Ind -i . Sehingga hasil reaksi

pada titrasi kompleksometri dalam percobaan ini adalah :

Zn-EBT (Endapan putih) + EDTA à Zn-EDTA + EBT (biru kehijau-hijauan)

09/04/13

Wiwik Satriani Putri: KOMPLEKSOMETRI

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil praktikum diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Persentase kadar rata-rata ZnSO 4 kelompok 1 adalah 52,245 %

2. Persentase kadar rata-rata ZnSO 4 kelompok 2 adalah 68,75 %

3. Persentase kadar rata-rata ZnSO 4 kelompok 3 adalah 63,84 %

4. Persentase kadar rata-rata ZnSO 4 kelompok 4 adalah 62.84 %

a. Saran

Komunikasi antara praktikan dan asisten sudah berjalan baik, harap dipertahankan.

DAFTAR PUSTAKA

Basset, J. dkk. 1994. Buku Ajar Vogel:Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Dirjen POM, RI. 1979. Farmakope Indonesia Jilid IV. Depkes RI: Jakarta. Harjadi, W. 1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT Gramedia. Jakarta. Khopkar. 2002. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press. Jakarta. Rival, Harrizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia . UI Press. Jakarta.

Tim penyusun. 2011. Penuntun Praktikum Kimia Analisis. Universitas Muslim Indonesia : Makasar.

Penerbit

Vogel. 1979.

Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro edisi

kelima bagian I. Jakarta : PT Kalman Media Pustaka.

Diposkan oleh Wiwik Satriani Putri di 09.00

Rekomendasikan ini di Google

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

MasukkankomentarAnda
MasukkankomentarAnda
Beri komentar sebagai: Google Account Publikasikan Pratinjau
Beri komentar sebagai:
Google Account
Publikasikan
Pratinjau

09/04/13

Wiwik Satriani Putri: KOMPLEKSOMETRI

Langganan: Poskan Komentar (Atom) Total Tayangan Laman Share It 4,107 Share this on Facebook Tweet
Langganan: Poskan Komentar (Atom)
Total Tayangan Laman
Share It
4,107
Share this on Facebook
Tweet this
View stats
Pengikut
(NEW) Appointment gadget >>
JJooiinn tthhiiss ssiittee
w ith Google Friend Connect
There are no members yet.
Be the first!
Already a member? Sign in
Template Simple. Gambar template oleh luoman. Diberdayakan oleh Blogger.