Anda di halaman 1dari 10

Percobaan 8 ESTERIFIKASI FENOL: Sintesis Aspirin

Tujuan Percobaan
1. Menentukan rendemen kristal asam asetilsalisilat (aspirin) yang terbentuk dari hasil sintesis aspirin 2. Menguji keberadaan asam salisilat dalam sampel menggunakan uji reaksi pengkompleksan dengan besi(III)klorida, FeCl3 3. Menentukan titik leleh asam aspirin hasil sintesis dan galatnya 4. Mengukur kadar asam asetilsalisilat (aspirin) pada tablet aspirin komersial

II

Teori Dasar .
Salicin merupakan kelompok senyawa yang dikenal sebagai glikosida. Glikosida adalah senyawa

yang memiliki bagian gula (glikosa) yang terikat pada bagian non-glikosa (suatu aglikon). Aglikon dalam salisin adalah salicil alkohol yang merupakan bentuk tereduksi sempurna dari asam salisilat. Pada tahun 1838, Raffaele Piria, yang bekerja di Sorbonne Paris, memisahkan salicin menjadi glukosa dan salisilaldehid melalui proses oksidasi dan hidrolisis. Kemudian beliau mengubah salisilaldehid, secara oksidasi, menjadi suatu asam berwujud kristal jarum tak berwarna, yang dinamakannya asam salisilat. Asam salisilat memiliki sifat antipiretik dan analgesik; sayangnya, senyawa ini terlalu keras terhadap bibir, kerongkongan dan perut. Pada tanggal 10 Agustus 1897, Felix Hoffmann, seorang kimiawan dari pabrik kimia Bayer, membuat sampel asam asetilsalisilat murni untuk pertama kalinya, yang oleh Bayer diberi nama dagang aspirin. Senyawa ini pun memiliki sifat-sifat analgesik dan antipiretik. Walaupun aspirin lebih ringan terhadap perut daripada asam salisilat, namun dapat menyebabkan perih lambung dan mual. Semenjak itu, aspirin telah digunakan untuk membantu pencegahan penyakit stroke dan kelainan jantung. Hal ini karena aspirin menghambat produksi prostaglandin, yang terlibat dalam pembentukan zat beku darah dan penimbul rasa sakit. Aspirin ini dibuat dengan cara esterifikasi, dimana bahan aktif dari aspirin yaitu asam salisitat direaksikan dengan asam asetat anhidrad atau dapat juga direaksikan dengan asam asetat glacial bila asam asetat anhidrad sulit untuk ditemukan. Asam asetat anhidrad ini dapat digantikan dengan asam asetat glacial karena asam asetat glacial ini bersifat murni dan tidak mengandung air selain itu asam asetat anhidrad juga terbuat dari dua asan asetat galsial sehingga pada pereaksian volumenya semua digandakan.

Pada proses pembuatan reaksi esterifikasi ini dibantu oleh suatu katalis asam untuk mempercepat reaksi. Tetapi pada penambahan katalis ini tidak terlalu berefek maka dilakukan lah pemanasan untuk mempercepat reaksinya. Pada pembuatan aspirin juga ditambahkan air untuk melakukan rekristalisasi berlangsung cepat dan akan terbentuk endapan. Endapan inilah yang merupakanaspirin.

III No 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Alat dan Bahan Pereaksi Air/aqua dm, es Padatan asam salisilat Larutan 85% H3PO4 Asam salisilat Etanol Tablet aspirin komersial Larutan 10% FeCl3 Indikator fenofthalein Larutan NaOH 0,1 M No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Gelaskimia Pemanas listrik berpengaduk magnet Labu Erlenmeyer 125 mL Batang pengaduk kaca Spatula Klem dan statif Stopwatch Corong Buchner Kertas saring Cawan Uap Kaca arloji Tabung reaksi Alat pengukur titik leleh (tersedia di laboratorium) Tabung kapiler Buret Peralatan

IV

Data Pengamatan A. Pembuatan Aspirin Berdasarkan percobaan sintesis aspirin dari asam salisilat praktikan memperoleh data sebagai berikut, Massa asam salisilat yang disintesis = 1,41 gram Massa asam aspirin yang terbentuk dari percobaan = 0,35 gram

B. Uji terhadap Aspirin B.1 Uji Reaksi Pengkompleksan dengan Besi(III)klorida Pada percobaaan ini, praktikan menguji 3 sampel yaitu serbuk asam salisilat dan asam asetilsalisilat yang tersedia di laboratorium serta aspirin yang diperolah dari hasil sintesis. Setiap sampel ditetesi besi(III)klorida, dan menghasilkan perubahan warna. Sampel Asam salisilat Asam asetilsalisilat (aspirin) Aspirin hasil sintesis Warna sebelum pengujian Kuning Kuning Kuning Warna setelah pengujian Ungu Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan

B.2

Penentuan Titik Leleh Asam Salisilat dan Aspirin Berdasarkan percobaan, praktikan memperoleh data sebagai berikut, Titik Leleh aspirin literature =135oC Trayek leleh aspirin berdasarkan percobaan = 130 138 oC Titik leleh aspirin rata-rata = (130+138)/2 = 134 oC

B.3

Analisis Kandungan Aspirin dalam Tablet Aspirin Komersial Untuk analisis kandungan aspirin dalam tablet aspirin komersial, praktikan

menggunakan dua tablet aspirin tiap titrasi. Menurut produsen tablet komersial tersebut, terdapat 0,5 gram aspirim tiap tabletnya. Titrasi dilakukan secara duplo dengan larutan baku NaOH 0,1 M. Berikut hasil percobaan praktikan, Titrasi ke1 2 Volume rata-rata Volume larutan NaOH 0,1M (mL) 53,8 52,6 53,2 Perubahan warna Sebelum titrasi Putih Putih Sesudah titrasi Merah muda Merah muda

Perhitungan
A. Bagian I : Pembuatan aspirin Untuk menentukan rendemen aspirin yang terbentuk, massa yang terbentuk saat percobaan perlu dibandingkan dengan massa aspirin yang terbentuk secara teoritis. Persamaan reaksinya sebagai berikut:

Pada percobaan ini, praktikan menimbang asam salisilat yang akan digunakan sebesar 1.41 gram. Sehingga perhitungannnya sebagai berikut. Mol asam salisilat = Massa/Mr = 1,41/138,1= 0.01021 mol Mol anhidrida asetat = x V / Mr = 1,080 x 4 / 120.1 = 0,03597 mol Perbandingan stoikiometris asam salisilat dan anhidrida asetat adalah 1:1 sehingga praktikan menentukan asam salisilat sebagai reaktan permbatasnya. Perbandingan stoikiometris asam salisilat dan asam asetilsalisilat adalah 1:1 sehingga mol asam asetilsalisilat yang terbentuk adalah 0.01021 mol. Maka, massa asam asetilsalisilat = mol x Mr = 0.01021x 180,2 = 1,84 gram. Massa aspirin yang terbentuk dalam percobaan ini 0.35 gram saja, maka rendemennya adalah, % rendemen = % rendemen = x 100 = 19,02 % x 100

B. Bagian II : Uji terhadap aspirin 1. Penentuan titik leleh aspirin Perhitungan persen kesalahan digunakan sebagai perbandingan antara suatu data fisik yang teramati di percobaan dengan data yang diperoleh dari literature. Persen kesalahan menunjukkan seberapa dekat hasil percobaan yang telah dilakukan dengan nilai yang diharapkan. % kesalahan /galat =

x 100

Berdasarkan data pengamatan, galat titik leleh aspirin yagn dihasilkan pada percobaan adalah, % kesalahan /galat =

x 100 = 0.74%

2. Analisis Kandungan Aspirin dalam Tablet Aspirin Komersial Untuk menentukan kadar aspirin di dalam tablet aspirin komersial (0,5 gram per tablet) , praktikan melakukan titrasi duplo dengan rata-rata volume larutan NaOH 0,1 M yang digunakan adalah 53,2 mL. Perhitungan massa aspirin yang terkandung dalam tablet aspirin berdasarkan percobaan adalah Mol NaOH yang digunakan = Mx V = 0,1 x 53,2 = 5,32 mmol Persamaan reaksi NaOH dan aspirin berjalan secara stoikhiometris dengan perbandingan mol 1:1, sehingga mol NaOH= mol aspirin Mol aspirin = 5,32 mmol Massa aspirin = mol x Mr = 5.32 x 180.1 = 0,9581 gram Praktikan menggunakan 2 tablet aspirin dalam tiap titrasi sehingga massa aspirin per tablet komersial adalah 0.47905 gram Jadi kadar aspirin dalam tablet aspirin komersial berdasarkan percobaan adalah = 0.47905/ 0.5 = 95. 81 %

VI

Pembahasan
Berdasarkan teori, pada sintesis aspirin terjadi reaksi esterifikasi yang merupakan prinsip dari

pembuatan aspirin. Esterifikasi merupakan reaksi antara asam karboksilat dengan suatu alkohol membentuk suatu ester. Aspirin merupakan salisilat ester yang dapat disintesis dengan menggunakan asam asetat (memiliki gugus COOH) dan asam salisilat (memiliki gugus OH). Tetapi dalam percobaan ini digunakan anhidrida asam asetat karena anhidrida asam asetat lebih reaktif dibandingkan asam asetat. Hal ini disebabkanoleh struktur anhidrida asam asetat telah kehilangan 1 atom hidrogen sehingga atom karbon tempat hidrogen melekat menjadi lebih elektropositif. Dalam suatu eksperimen lain membuktikan

pentingnya penambahan anhidrida asetat yaitu anpa penambahan asam sulfat, hasil produk kotor kira kira 83%, masih mengandung asam salisilat yang lebih banyak. Dalam hal ini asam salisilat berperan sebagai alkohol karena mempunyai gugus OH, sedangkan anhidrida asam asetat tentu saja sebagai anhidrida asam. Ester yang terbentuk adalah asam asetilsalisilat (aspirin). Gugus asetil (CH3CO-) berasal dari anhidrida asam asetat, sedangkan gugus R-nya berasal dari asam salisilat (pada gambar di atas gugus R ada di dalam kotak). Rekasi yang terjadi sebagai berikut.

Sedangkan mekanisme reaksi keseluruhan yang terjadi adalah,

Dalam sintesis ini juga ditambahkan H3PO4 yang berfungsi sebagai katalis dan pemberi suasana asam. Telah disebutkan di atas bahwa hasil samping dari reaksi asam salisilat dan anhidrida asam asetat adalah asam asetat. Hasil samping ini akan terhidrasi membentuk anhidrida asam asetat. Anhidrida asam asetat akan kembali bereaksi dengan asam salisilat membentuk aspirin dan tentu saja dengan hasil samping berupa asam asetat. Jadi, dapat dikatakan reaksi akan berhenti setelah asam salisilat habis karena adanya asam sulfat pekat ini. Namun, perlu diperhatikan bahwa sebelum dipanaskan, reaksi tidak benar-benar terjadi. Reaksi baru akan berlangsung dengan baik pada suhu 50-60C. Juga pada percobaan ini baru terbentuk endapan putih (aspirin) setelah dipanaskan. Oleh krena itu campuran reaksi antara asam salisilat dan anhidrida asam asetat dipanaskan dalam penangas air selama kurang lebih 5 menit. Setelah dipanaskan, campuran reaksi pada labu Erlenmeyer diangkat dari penangas air dan segera diberikan 2 mL aqua dm. Tujuan dari penambahan ini adalah untuk melarutkan asam salisilat yang masih tersisa (adanya ikatan hidrogen yang terbentuk antara gugus -OH dengan air) sekaligus terjadinya reaksi hidrolisis anhidrida asam asetat menjadi 2 molekul asam asetat sehingga produk yang awalnya larut dalam anhidrida asam asetat akan mengendap. Air juga tidak boleh banyak diberikan karena aspirin memiliki kelarutan (relative kecil) dalam air. Kemudian aqua dm ditambahnkan sebanyak 20 mL dan campuran reaksi dibiarkan mencapai suhu kamar dan mulai mengalami kristalisasi.

Kemudian labu erlenmeyer ditambahkan 50 mL air dingin dan disimpan dalam penangas air es. Hal ini dilakukan agar proses pembentukan Kristal sempurna. Selain itu pembentukan Kristal akan lebih cepat karena dalam suhu rendah kelarutan aspirin rendah. Selanjutnya Kristal disaring dengan corong Buchner yang telah dilapisi oleh kertas saring dan bilas Kristal dengan sedikit air dingin. Kemudian praktikan melakukan rekristalisasi untuk mendaptakan Kristal yang lebih murni dengan cara melarutkannya dalam 5 mL etanol dan 20 mL air hangat. Dengan penambahan etanol, kristal hasil kristalisasi akan melarut dengan mudah (kelarutan aspirin dalam etanol lebih besar) dan kristal akan terpisah dengan air sehingga diperoleh kristal yang lebih murni dan jumlah zat pengotor yang diminimalkan. Setelah itu Kristal dikeringkan di udara, disaring dengan corong Buchner dan ditimbang. Pada percobaan ini, praktikan memperoleh rendemen sebesar 19,02%. Dalam praktikum kimia rendemen di bawah 50% mengindikasikan adanya masalah dalam pengerjaan prosedur percobaan. Praktikan memperkirakan kehilangan Kristal hampir 18 gram ini karena kristal yang tertinggal pada labu Erlenmeyer, batang pengaduk atau corong Buchner dan kertas saring. Selain itu, kristalisasi aspirin tidak berlangsung dengan sempurna sehingga Kristal yang diperoleh tidaklah banyak. Kemungkinan Kristal aspirin larut dalam pelarut sehingga tidak terkristalisasi dan terbuang. Selanjutnya praktikan menguji kemurnian aspirin dengan dua uji, yaitu uji reaksi pengkompleksan dengan besi(III)klorida dan penetuan titik leleh. Pertama, praktikan melakukan uji reaksi pengkompleksan dengan besi(III)klorida terhadap asam salisilat, asam asetilsalisilat yang tersedia di laboratorium, dan Kristal aspirin yang terbentuk dari hasil sintesis. Ketiganya disimpan dalam tiga tabung reaksi yang berbeda lalu diberikan 20 tetes aqua dm untuk melarutkan sampel dalam tabung. Kemudian tiap tabung ditetesi larutan 10% besi(III)klorida. Praktikan mengamati perubahan warna yang terjadi pada asam salisilat menjadi ungu, sedangkan aspirin dan aspirin hasil sintesis tetap berwarna kuning. Menurut literature, asam salisilat membentuk kompleks berwarna ungu dengan penambahan FeCl3 ini. Kompleks ungu ini hanya bisa terjadi antara asam salisilat dengan FeCl3 karena dalam molekul asam salisilat, atom O (nukleofil) dalam gugus OH akan menyerang atom Fe dengan melepaskan atom H nya untuk membentuk ikatan O-FeCl2. Reaksi yang terjadi adalah asam salisilat dengan ion Fe[H2O]63+ , digambarkan sebagai berikut,

Aspirin tidak membentuk kompleks berwarna ungu dengan uji ini karena struktur aspirin tidak memiliki gugus OH. Aspirin hasil sintesis pada percobaan ini tidak berubah warna seperti aspirin yang

tersedia di laboratorium, sehingga kemungkinan besar, Kristal adalah aspirin murni. Namun hipotesis ini perlu diuji kembali.Oleh sebab itu praktikan melakukan uji lain yaitu penetuan titik leleh aspirin. Berdasarkan referensi yang praktikan dapatkan, menentukan titik leleh suatu kristal merupakan cara yang di gunakan untuk menguji kemurnian suatu kristal tersebut. Jika zat padat dipanaskan, zat padat akan meleleh. Suatu zat padat mempunyai struktur kisi yang teratur dan diikat oleh gaya gravitasi dan elektrostatik. Bila zat padat dipanaskan, energi kinetic dari molekul kristal akan naik dan molekul akan bergetar yang akhirnya pada titik lelehnya, kristal akan meleleh. Selisih trayek leleh untuk senyawa murni umumnya kurang dari 2o. Pada percobaan ini, praktikan memperoleh galat titik leleh aspirin yang kecil yaitu 0.74%. Namun, trayek leleh aspirin yang terukurcukup besar yaitu 8o. Oleh karena itu, aspirin hasil sintesis praktikan kurang murni. Praktikan memperkirakan adanya asam salisilat yang terkadung dalam Kristal aspirin, namun tidak komposisinya tidak terlalu besar, sehingga di uji pertama aspirin menunjukkan hasil negative. Selain itu Kristal aspirin tidak cukup bersih dari zat pengotor lain. Hal lain yang menyebabkan perbedaan titik leleh ini adalah pada saat pengisian pipa kapiler pada melting block. Menurut literatur, kristal yang diperlukan untuk mengisi pipa kapiler adalah sekitar 0,5 cm tinggi pipa kapiler tersebut. Jadi kristal yang terlalu banyak dan terlalu sedikit pada pipa kapiler membuat perbedaan titik leleh tersebut. Percobaan terakhir adalah analisis kandungan aspirin dalam tablet aspirin komersial. Praktikan menggunakan dua tablet aspirin pada titrasi yang dilakukan secara duplo. Pada kemasan aspirin komersil tersebut, tertera bahwa tiap tablet mengandung 0.5 gram aspirin. Aspirin mula-mula ditumbuk dengan batang pengaduk kaca sehingga menjadi serbuk. Kemudian serbuk tersebut dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 125 mL lalu diberikan 10 mL etanol untuk melarutkan aspirin. Larutan tidak akan jernih karena terdapat zat pengikat (binder) obat aspirin tidak larut seluruhnya dalam etanol, sehingga larutan akan tetap keruh. Selanjutnya larutan tersebut ditetesi oleh fenofthalein yang menjadi indikator titik ekivalen reaksi saat titrasi. Indikator tersebut akan mengalami perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah sangat muda. pada suasana basa yaitu pH 8,3-10. Fenolftalein tidak dapat larut dalam air tapi dapat larut dalam etanol, sehingga penambahan fenolftalein di lakukan setelah melarutkan asam salisilat dengan etanol dan sebelum penambahan air. Penambahan air membuat larutan baku NaOH akan terionisasi sehingga dapat dideteksi oleh PP juga suasannya sudah cukup basa. Titrasi dilakukan dengan larutan baku NaOH 0,1 M (basa kuat) menggunakan buret. Labu Erlenmeyer ditetesi larutan baku sambil digoyang-goyang hingga terjadi perubahan warna larutan. Titrasi pertama menggunakan 53,8 mL larutan baku sedangkan titrasi kedua menggunakan 52,6 mL. Praktikan mengambil volume rata-rata, 53,2 mL sebagai perhitungan. Dari percobaan dan perhitungan praktikan, tiap tablet aspirin komersial hanya mengandung 95,81% aspirin. Praktikan memperkirakan kurangnya kadar aspirin dalam tablet karena terdapat kesalahan pada saat titrasi. Saat tetes terakhir tiap titrasi,

larutan berubah warna menjadi merah sangat muda, namun ketika praktikan menggoyangkannya kembali, warna tersebut menjadi hilang. Hal tersebut disebabkan terdapat aspirin yang masih berbentuk remahan padat sehingga larutan kembali menjadi tidak berwarna. Praktikan menduga perubahan warna memang tersebar namun tidak menyeluruh pada larutan, sehingga titrasi belum tepat mencapai titik ekivalennya. Namun menurut peraturan FDA, kekuatan tablet aspirin ditentukan oleh minimal 5 grain aspirin. Satu grain setara dengan 0,0648 gram, maka tiap tablet aspirin komersil seharusnya memiliki 0.324 gram aspirin, oleh karea itu tablet aspirin komersial yang diuji praktikan telah memenuhi standar FDA.

VII

Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilaksanakan, praktikan menyimpulkan, 1. Rendemen kristal asam asetilsalisilat (aspirin) yang terbentuk dari hasil sintesis aspirin adalah 19,02 % 2. Aspirin hasil sintesis yang diperoleh dari percobaan berdasarkan uji reaksi pengkompleksan dengan besi(III)klorida, FeCl3 tidak mengandung asam salisilat 3. Titik leleh asam aspirin hasil sintesis adalah 134oC dengan galat 0,74% 4. Berdasarkan percobaan, kadar asam asetilsalisilat (aspirin) pada tablet aspirin komersial adalah 95.81%

VIII

Daftar Pustaka

Borer L.L, and Barry E. 2000. Experiments with Aspirin, journal of chemical education.77(3) http://bisakimia.com/2013/12/18/laporan-praktikum-pembuatan-aspirin/. Tersedia. Diakses 14 Maret 05.03 WIB http://www.aspirin-foundation.com/what/reactions.html Tersedia. Diakses 14 Maret 05.00 WIB http://www.oc-praktikum.de/nop/id/instructions/pdf/5012_id.pdf. Tersedia. Diakses 14 Maret 05.02 WIB Pasto, D. Johnson, C., Mileer, M. 1992. Experiments and Techniques in Organic Chemistry.New Jersey: Prentice Hall Inc. Wilcox, C.F. and Wilcox, M.F. 1998. Experimental Organic Chemistry : A Small Scale Approach. New Jersey: Prentice Hall Engelwood Cliffs. Williamson. 1999. Macroscale and Microscale Organic Experiments, 3rd edition. Boston IX Lampiran Aspirin Rumus molekul Massa molekul Berat jenis Titik didih Titik lebur : 1.40 g/cm : 140oC : 138-140oC

: C9H8O4 : 180,2 gr/mol

Kelarutan dalam air

: 3 mg/mL

Tekanan kritis Densitas Asam Asetat Rumus Molekul Massa Molar Densitas Titik didih Viskositas Besi(III)Klorida Rumus molekul Berat Molekul Densitas Titik didih Titik lebur

: 46.81 atm : 1.08 g/ml

Asam Salisilat Rumus molekul Massa olekul Berat jenis Titik didih Titik lebur

: C7H6O3 : 138,12 gr/mol : 1,443 g/ml : 211 oC : 159 oC

: H2SO4 : 98,08 g/mol : 1,84 g/cm3 : 340 oC : 26,7 cP

Asetat Anhidrida Rumus molekul : (CH3CO)2O Berat molekul : 102,09 gr/mol Titik didih : 139,060C Titik beku : -730C Panas pembakaran : 431,9 kkal/mol

: FeCl3 : 162,22 gr/mol : 2,898 g/cm3 : 315OC : 282OC