Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

Dalam sejarah perkembangan skizofrenia sebagai gangguan klinis, banyak tokoh psikiatri dan neurologi yang berperan. Pada mulanya Emil Kreaplin (18561926) memberi label skizofrenia sebagai dementia praecox karena mulai munculnya penyakit ini pada usia remaja atau awal usia dewasa muda. Dementia artinya kemunduran daya ingat (memori) atau dalam istilah awam disebut pikun , sedangkan Praecox berarti sebelum waktunya (terlalu awal). Istilah skizofrenia itu sendiri diperkenalkan oleh Eugen Bleuler (1857-1939), untuk menggambarkan munculnya perpecahan antara pikiran , emosi dan perilaku pasien yang mengalami gangguan ini. Bleuler mengindentifikasi symptom dasar dari skizofrenia yang dikenal dengan 4A antara lain : Asosiasi, Afek, Autisme dan Ambivalensi.1,2 Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang paling sering. Hampir 1 % penduduk di dunia menderita skizofrenia selama hidup mereka. Berdasarkan data terakhir yang disampaikan pada konferensi tahunan The American Psychiatric Association (APA) di miami, Florida, Amerika Serikat pada Mei 1995, disebutkan bahwa angka penderita skizofrenia cukup tinggi (Lifetime Prevalence Rates) mencapai 1/100 penduduk. Selanjutnya dikemukakan bahwa setiap tahun terdapat 300.000 penderita skizofrenia mengalami episode akut dan setiap tahunnya 35 % penderita skizofrenia mengalami kekambuhan.2,3 Di Amerika Serikat prevalensi skizofrenia seumur hidup dilaporkan secara bervariasi terentang dari 1 sampai 1,5% ; konsistensi dengan rentang tersebut , penelitian Epidemiologi Catchment Area (ECA) yang disponsori oleh National Institute of Mental Health (NIMH) melaporkan prevalensi seumur hidup sebesar 1,3%.1 Gejala skizofrenia biasanya muncul pada usia remaja akhir atau dewasa muda. Prevalensi skizofrenia pada laki-laki dan perempuan adalah adalah sama, tetapi

menunjukkan perbedaan dalam onset dan perjalanan penyakit. Laki-laki mempunyai onset skizofrenia lebih awal dari pada perempan. Usia puncak onset pada laki-laki adalah 15-25 tahun dan pada perempuan 25-35 tahun . pada umumnya hasil akhir untuk pasien skizofrenia, lebih baik pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki.2 Diagnosis skizofrenia menurut sejarahnya, mengalami perubahan-perubahan. Ada beberapa cara untuk menegakkan diagnosis. Pedoman untuk menegakkan diagnostik adalah DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual) dan PPDGJ-III / ICD-X .3 Penyebab dari skizofrenia belum pasti. Berdasarkan penelitian biologik, genetik, fenomenologik dinyatakan bahwa skizofrenia merupakan suatu gangguan atau penyakit . salah satu subtipe skizofrenia hebefrenik (disoranized). Permulaan skizofrenia hebefrenik adalah perlahan-lahan atau subakut dan timbul pada masa remaja atau antara 15-25 tahun. 3,4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 2.1.1

Skizofrenia Pengertian Skizofrenia Skizofrenia berasal dari bahas Yunani schizein yang berarti terpisah atau pecah, dan phren yang artinya jiwa. Pada skizofrenia terjadi pecahnya atau ketidakserasian antara afeksi, kognitif dan perilaku.5 Skizofrenia adalah sekelompok gabungan psikotes dengan gangguan dasar pada kepribadian, distorsi khas pikir, kadang-kadang mempunyai perasaan bahwa dirinya sedang dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya, waham yang kadang-kadang aneh, gangguan persepsi, afek abnormal yang terpadu dengan situasi nyata atau sebenarnya dan autisme. Meskipun demikian, kesadaran yang jernih dan kapasitas intelektualk biasanya tidak tergantung.6

2.1.2

Kriteria Diagnostik Skizofrenia

Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas : (a) - Thought echo : isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran ulangan,walaupun isinya sama, namun kua;itasnya berbeda ; atau
-

Thought insertion or withdrawal : isi pikiran yang asing dari luar masuk kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya siambil keluar oleh sesuatu dari luar (withdrawal) : dan 3

Thought broadcasting : isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya;

(b) - delusion of control : waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar ; atau delusion of influence : waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar ; atau delusion of passivity : waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar ; (tentang dirinya : secara jelas merujuk ke pergerakan tubuh/anggota gerak atau ke pikiran, tindakan atau penginderaan khusus) ; delusional perception : pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat; (c) Halusinasi auditorik : Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh (d) Waham waham menetap jenis lainnya yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).

Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas : (e) halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over valued ideas) yang menetap, atau apabilaterjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulanbulan terus-menerus ; (f) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme ; (g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme dan stupor; (h) Gejala-gejala negative seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang dan respons emosional yang menumpuk atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial ; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neoroleptika;

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal).

Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.7

2.1.3

Klasifikasi Dalam PPDGJ III skizofrenia dibagi lagi dalam 9 ipe atau kelompok yang mempunyai spesifikasi masing-masing, yang kriterianya didominasi dengan hal-hal sebagai berikut : 1. Skizofrenia Parnoid 2. Skizofrenia Hebefrenik 3. Skizofrenia Katatonik 4. Skizofrenia tak terinci (Undifferentiated) 5. Depresi Psca- Skizofrenia 6. Skizofrenia Residual 7. Skizofrenia Simpleks 8. Skizofrenia lainnya 9. Skizofrenia YTT

2.2 2.2.1

Skizofrenia Hebefrenik Pengertian Skizofrenia Hebefrenik disebut juga disorganized type atau kacau balau yang ditandai dengan gejala-gejala antara lain sebagai berikut : 1. Inkoherensia yaitu jalan pikiran yang kacau, tidak dapat dimengerti apa maksudnya. Hal ini dapat dilihat dari kata-kata yang diucapkan tidak ada hubungannya satu dengan yang lain. 2. Alam perasaan (mood, affect) yang datar tanpa ekspresi serta tidak sersi (incongrous) atau ketolol-tololan (silly) 3. Perilaku dan tertawa kekanak-kanakkan (gigling), senyum yang menunjukkan rasa puas diri atau senyum yang hanya dihayati sendiri.

4. Waham (delusion) tidak jelas dan tidak sistematik (terpecah-pecah) tidak terorganisasi sebagai suatu kesatuan. 5. Halusinasi yang terpecah-pecah yang isi temanya tidak terorganisasi sebagai satu kesatuan . 6. Perilaku aneh, misalnya menyeringai sendiri, menunjukkan gerakangerakan aneh, berkelakar, pengucapan kalimat yang diulang-ulang, dan kecenderungan untuk menarik diri secara ekstrim dari hubungan sosial.1

2.2.2

Pedoman Diagnostik 1. Diagnosis Skizofrenia hebefrenik ditegakkan bila memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia. 2. Diagnosis hebefrenia untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau dewas muda (onset biasanya mulai 15-25 tahun). 3. kepribadian premorbid menunjukkan ciri khas : pemalu dan senang menyendiri (solitary), namun tidak harus demikian untuk menentukan diagnosis. 4. Untuk diagnosis hebefrenia yang menyakinkan umumnya diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut in memang benar bertahan : Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan , serta mannerisme; ada kecenderungan untuk selalu menyendiri (solitary) dan perilaku menunjukkan hampa tujuan dan hampa perasaan.

Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate), sering disertai oleh cekikikan (giggling) atau perasaan puas diri (selfsatisfied), senyum sendiri (self-absorbed smiling), atau oleh sikap tinggi hati (lofty manner), tertawa menyeringai (grimaces), mannerisme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan hipokondriakal, dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated phrases);

proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu (rambling) serta inkoheren.

5. Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir umumnya menonjo. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol (fleeting and fragmentary delusions and hallucinations). Dorongan kehendak (drive) dan yang bertujuan (determination) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga perilaku penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu perilaku tanpa tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of puspose). Adanya suatu preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuatbuat terhadap agama, filsafat dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang memahami jalan pikiran pasien.7

2.2.3

Pengobatan Skizofrenia Skizofrenia merupakan penyakit yang cenderung berlanjut (kronis atau menahun) maka terapi yang diberikan memerlukan waktu relatif lama berbulan bahkan sampai bertahun, hal ini dimaksudkan untuk menekan sekecil mungkin kekambuhan (relapse). Terapi yang komprehensif dan holistik telah dikembangkan sehingga penderita Skizofrenia tidak lagi mengalami diskriminasi dan lebih manusiawi dibandingkan dengan pengobatan sebelumnya. Adapun terapi yang dimaksud adalah : a. Psikofarmaka Obat psikofarmaka yang akan diberikan ditujukan untuk menghilangkan gejala skizofrenia. Golongan obat psikofarmaka yang sering digunakan di Indonesia (2001) terbagi dua : golongan generasi pertama (typical) dan generasi kedua (atypical). Yang termasuk golongan typical antara lain chlorpromazine HCl, trifluoperazine dan haloperidol. Sedangkan golongan atypical antara lain : risperidone, clozapine, quetiapne, olanzapine, zotetine dan aripriprazmidol. Menurut Nemeroff (2001) dan Sharma (2001) obat atypical memiliki kelebihan antara lain : dapat menghilangkan gejala positif dan negatif, efek samping Extra Piramidal Symptoms (EPS) sangat minimal atau boleh dikatakan tidak ada dan memulihkan fungsi kognitif. Sedangkan Nasrallah (2001) dalam penelitiannya menyebuutkan bahwa pemakaian obat golongan typical 30% penderita tidak memperlihatkan perbaikan klinis bermakna, diakui bahwa golongan obat typical hanya mampu mengatasi gejala positif tetapi kurang efektif untuk mengatasi gejala negative.

b. Electro Convulsive Therapy (ECT) Electro Convulsive Therapy (ECT) diberikan pada penderita skizofrenia kroniik. Tujuannya adalah memperpendek serangan. Skizofrenia, mempermudah kontak dengan penderita, namun tidak dapat mencegah serangan ulang.

c. Psikoterapi Psikoterapi pada penderita skizofrenia baru dapat diberikan apabila penderita dengan terapi psikofarmaka diatas sudah mencapai tahapan dimana kemampuan menilai realitas sudah kembali pulih dan pemahaman diri sudah baik. Psikoterapi diberikan dengan catatan bahwa penderita masih tetap mendapat terapi psikofarmaka. Psikoterapi ini banyak macam ragamnya tergantung dari kebutuhan dan latar belakang penderita sebelum sakit. Contohnyaadalah : psikoterapi suportif dimaksudkan untuk memberikan dorongan , semangat dan motivasi agar penderita tidak merasa putus asa. Psikoterapi suportif dimaksudkan untuk memberikan pendidikan ulang yang maksudnya memperbaiki kesalahan pendidikan di waktu yang lalu. Psikoterapi rekonstruktif dimaksudkan untuk memperbaiki kembali kepribadian yang telah mengalami keretakan menjadi kepribadian yang utuh seperti semula sebelum sakit. Psikoterapi kognitif dimaksudkan untuk memulihkan kembali fungsi kognitif rasional sehingga penderita mampu membedakan nilai-nilai moral etika mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak dan sebagainya. Psikoterapi perilaku dimaksudkan untuk memulihkan gangguan perilaku yang terganggu menjadi perilaku yang mampu menyesuaikan diri. Psikoterapi keluarga dimaksudkan untuk memulihkan penderita dan keluarganya.

10

d. Psikososial Dengan terapi psikososial dimaksudkan agar penderita mampu kembali beradaptasi dengan lingkungan sosial sekitarnya dan mampu merawat diri, mampu mandiri tidak tergantung pada orang lain. Selama menjalani terapi psikososial penderita hendaknya masih mengkonsumsi obat psikofarmaka. Penderita diusahakan untuk tidak menyendiri, tidak melamun, banyak kegiatan dan kesibukan dan banyak bergaul.

e. Psikoreligius Dari penelitian yang dilakukan , secara umum memang menunjukkan bahwa komitmen agama berhubungan dengan manfaatnya dibidang klinik (religius commitment is assosiated with clinical benefit). Dari hasil penelitian Larson, dkk (1982) didapatkan bahwa terapi keagamaan seperti sembahyang, berdoa, memanjatkan puji-pujian kepada tuhan, ceramah keagamaan dan kajian kitab suci.

f. Rehabilitasi Program rehabilitasi penting dilakukan sebagai persiapan penempatan kembali penderita ke keluarga dan masyarakat. Program ini biasanya dilakukan di lembaga (institusi) rehabilitasi misalnya di rumah sakit jiwa. Dalam program rehabilitasi dilakukan berbagai kegiatan antara lain : terapi kelompok, menjalankan ibadah keagamaan bersama, kegiatan kesenian, terapi fisik seperti olahraga, keterampilan khusus/kursus, bercocok tanam, rekreasi dan lain-lain. Pada umumnya program rehabilitasi ini berlangsung 3-6 bulan. Secar berkala dilakukan evaluasi paling sedikit dua kali yaitu sebelum dan sesudah program rehabilitasi atau sebelum penderita dikembalikan kekeluarga dan masyarakat.1

11

2.2.4

Prognosis Prognosa skizofrenia tipe hebefrenik sangat jelek.8

12

DAFTAR PUSTAKA 1. Hawari HD. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa. Jakarta: FK-UI 2009. P.5-9; 64-65; 96-110 2. Kaplan HI. Sinopsis Psikiatri. Tanggerang: Binapura Aksara 2010. p. 699-702 3. Elvira SD, Hadiskanto G, Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: FK-UI 2010.p.170;174 4. Maramis WR. Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Universitas Airlangga 2005.p.223 5. http://yumizone.wordpress.com/2009/01/10/ skizofrenia/ 6. mansjoer A. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius 2001.p.196 7. maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya 2001.p.46-49 8. BJS, Yusuf HS. Diktat Penuntun Kuliah Psikiatri. Medan: FK-USU 1983.p.42

13