Anda di halaman 1dari 25

Universitas Kristen Krida Wacana Laporan kasus

Spinal anestesi & General Anestesi


Oleh:

Merty M.Taolin (11-2011-123)

Kepaniteraan Ilmu Kedokteran Anestesi Rumah Sakit Umum Tarakan Jakarta, Juli 2013

Laporan Kasus
1. Identitas Pasien Nama : Ny. R Umur : 35 tahun Jenis Kelamin: Perempuan No Register: 0137332 Berat Badan : 80 kg Diagnosis prabedah : G2P1Ao dengan HDK dan Bekas SC Jenis pembedahan : Sectio sesarea + Steril Jenis anestesi : Spinal Anestesi + General anestesi

2. Persiapan preoperasi 2.1 Anamnesis A: Tidak ada riwayat alergi obat-obatan, makanan M: Telah mendapat pengobatan ceftriaxone inj 1x 1gram P : Riwayat DM(-), Asma (-), Hipertensi (+) L : Muasa mulai 8 jam sebelum operasi E : Pasien hamil cukup bulan dengan riwayat hipertensi dan bekas operasi sectio 2.2 Pemeriksaan fisik pre-operasi Airway paten, nafas spontan, RR 12x/menit, Rhonki ( - ), Wheezing ( - ), Mallampati III, leher bebas jarak tiromental 6 cm, buka mulut >3 jari, gigi goyang (-), gigi palsu (-), akral hangat, merah, nadi 90x/menit, TD 180/100 mmhg T: 36,2 0c Pasien memenuhi kriteria ASA II (pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang) yaitu Hipertensi. Lab darah : Hb : 10,3 g/dl Ht 34,7 g/dl Jenis pembedahan : Sectio Secarea + Steril (Tubektomi)

3. Laporan Anesthesi Durante Operasi Jenis anestesi : Spinal Anestesi + GA Intubasi Teknik intubasi : Spinal anestesi : posisi duduk punksi L3-l4 LCS + jernih, atraucan n0 26 dan General Anestesi : oksigenasi Induksi IV, LMA #4 , cuff (+) Lama anestesi :09.00 10.25 Lama operasi : 09.05 10.15

Tindakan anestesi Pada awalnya pasien di rencanakan untuk anestesi spinal, Pasien di posisikan duduk, tegak kepala menunduk, pastikan semua alat kontrol tensi, EKG, saturasi dan nasal kanul dengan oksigenasi 100% 2 liter/menit sudah terpasang. kondisi pasien stabil dengan tekanan darah 180/100 dan vital sign yang lain dalam batas normal ( Nadi : 90x/menit RR: 12x/menit; Saturasi 0ksigen 100%) , setelah itu dilakukan asepsis antisepsis di daerah yang akan di punksi. Dilakukan punksi pada daerah L3-L4 , LCS + jernih , masukan perlahan-lahan intratekal obat bupivacain 15 mg dan fentanyl 25 mcg, pasien diposiskan supine kembali. 5 menit paasca pemberian obat intratekal terjadi penurunan tensi menjadi 160/ 80 mmhg akibat efek obat. Saat operasi dimulai pasien merasa kesakitan ( 10 menit) tidak nyaman sehingga dilakukan anestesi umum, pasien tetap dalam posis supine , pasien diberi oksigen 100% 2 liter dengan metode over face mask, dipastikan apakah airway pasien paten. Pasien di berikan intravena obat propofol 200 mg, pasien tampak tertidur refleks bulu mata tidak adam di lakukan intubasi dengan menggunakan LMA no 4 , ada kesulitan saat memasukan sehingga dimasukkan muscle relaxant atracurium 30mg intravenous dan diberi bantuan nafas dengan ventilasi mekanik. Dipastikan pasien dalam keadaan tidak sadar dan stabil untuk dilakukan intubasi LMA Dilakukan intubasi LMA dilakukan ventilasi dengan oksigenasi. Cuff dikembangkan lalu cek suara nafas pada semua lapang paru, lambung dengan stetoskop, dipastikan suara nafas dan dada mengembang secara simetris. ETT difiksasi agar tidak lepas dan disambungkan dengan ventilator. Maintenance dengan inhalasi oksigen 2 lpm dan sevoflurane 2 vol %. 25 menit kemudian bayi lahir, di berikan metilergometrin 0,02 mg iv dan oksitosin 20 IU drip untuk mencegah terjadi perdarahan. 10 menit sebelum operasi selesai di

berikan ondancetron 4 mg dan ketorolac 30 mg untuk mencegah mual dan nyeri post operasi. Monitor tanda-tanda vital pasien, produksi urin, saturasi oksigen, tanda-tanda komplikasi (pendarahan, alergi obat, obstruksi jalan nafas, nyeri). Dilakukan ekstubasi apabila pasien mulai sadar, bernafas spontan, dan ada reflek-reflek jalan nafas atas, dan dapat menuruti perintah sederhana.

Cairan Masuk: Hes 500 ml

Ring As 500 ml

Cairan Keluar Perdarahan kurang lebih 300ml Urin kurang lebih 500 ml

4. Pasca bedah di ruang pulih sadar Keluhan pasien: mual (-), muntah (-), pusing (-), nyeri (+) Pemeriksaan Fisik : Kesadaran : 2 (sadar penuh) Respirasi : 2 (dapat bernafas dalam) Sirkulasi : 2 (Tekanan darah naik/turun berkisar 20%)

Warna kulit: 2 (merah muda, capirally refill <3 detik) Aktivitas : 2 (4 anggota tubuh bergerak aktif/diperintah)

Terpasang cateter no 16, BAK spontan (+), urin warna kuning (+) Tekanan darah 140/90, CRT <3dtk.

5. Terapi pasca bedah Infus : RL I 20 tpm Petidin 25 mg Transfusi PRC 250 cc

Pembahasan Kasus
Seorang wanita 35 tahun G2P1A0 hamil 38 minggu akan dilakukan sectio secarea ataas indikasi hipertensi dalam kehamilan dan bekas sectio secarea pada kehamilan pertama, pasien di rencanakan untuk di lakukan anestesi spinal, namun kurang lebih 10 menit saat operasi sudah di mulai pasien mengeluh sakit, namun tidak seberapa, pasien juga tidak tenang saat operasi, oleh karena itu pasien langsung disiapkan untuk beralih ke anestesi umum. Hal ini di karenakan ada nya kegagalan anestesi spinal. Kegagalan adalah bahwa anestesi spinal tidak menghasilkan blok anestesi, atau menghasilkan blok anestesi, tetapi tidak adekuat/tidak memadai untuk operasi yang akan dilakukan. Ketidakadekuatan tersebut dapat terkait

dengan 3 komponen yaitu luas blok, kualitas blok, atau lama kerja anestetik lokal. Beberapa hal yang mungkin dapat menyebabkan kegagalan anestesi spinal diantaranya kegagalan punksi , pemberian obat tambahan, injeksi salah tempat, dosis kurang tepat, penyebaran tidak adekuat, densitas larutan, kerja obat tidak efektif dan lainnya. Hal lain yang juga berperan di antaranya kelainan tulang belakang , adanya kalsifikasi, obesitas, kecemasan, lansia,

memngaruhi keberhasilan.Pasien di lakukan anestesi spinal dengan menggunakan Bupivakain 20 mg dan Fentanyl 25 mcg. Penambahan fentanyl untuk meningkatkan kualitas intraoperatif analgesia, memperpanjang durasi analgesik, tanpa mempengaruhi status klinis bayi baru lahir, selain itu dosis obat anestesi dapat di kurangi sehingga dapat meminimalkan efek samping anestesi. Oleh karena pasien di alihkan ke general anestesi, maka pasien tetap dalam posis supine, oksigenasi tetap di lanjutkan dengan over face mask oksigen 100% , 2 lpm, pasien di induksi dengan menggunakan propofol 200 mg, propofol bekerja sebagai induksi membuat pasien menjadi tidak sadar dalam hitungan 30 detik, propofol memberi efek penurunan tekanan darah pada pasien akibat blok saraf simpatis, terjadi vasodilatasi perifer.Setelah pasien dalam kondisi tidak sadar pasien di intubasi dengan menggunaakan Laryngean mask airway, penggunaan LMA karena adanya kesullitan intubasi dimana pasien memenuhi kriteria malampati III dengan jarak tiropental < 7 , dan leher pasien pendek dan berotot. Karena saat intubasi ada kesulitan maka diberikan mucle relaxan actracurium 30 mg sehingga mempermudah intubasi. (atrakurium besilat/ tramus) merupakan pelumpuh otot sintetik

dengan masa kerja sedang. Obat ini menghambat transmisi neurumuskuler sehingga

menimbulkan kelumpuhan pada otot rangka. Kegunaannya dalam pembedahan adalah sebagai adjuvant dalam anesthesia untuk mendapatkan relaksasi otot rangka terutama pada dinding abdomen sehingga manipulasi bedah lebih mudah dilakukan. Untuk menjaga agar pasien tetap dalam kondisi tidur maka pasien juga di berikan anestesi inhalasi rumatan sevofluran 2 vol %. Saat bayi lahir pasien di berikan oskitosin 20 IU drip dan metilergometrin 0,02 mg IrangV untuk membantu merangsang kontraksi unterus mencegah terjadinya

perdarahan.Selain itu pasien diberikan ondancetnron 4 mg dan ketorolak 30 mg, Ondansetron ialah suatu antagonis 5-HT3 yang sangat selektif yang dapat menekan mual dan muntah. Ketorolac merupakan analgetika non opioid yang selain bersifat analgetik juga bersifat antiinflamasi, antipiretik dan anti pembekuan darah. Post operasi pasien, di ruang pulih pasien di berikan petidin 25 mg sebagai analgetik, oleh karena pasien mengeluh nyeri. Pasien diberi cairan RL 20 tpm dan persiapan transfusi PRC 250 cc karena hb awal pasien 10, 3 g/dl.

Tinjauan Pustaka
1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Anestesi (pembiusan; berasal dari bahasa Yunani an-"tidak, tanpa" dan aesthtos, "persepsi, kemampuan untuk merasa"), secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh.Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846. Anestesi Umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat reversible.Anestesi umum yang sempurna menghasilkan ketidaksadaran, analgesia, relaksasi otot tanpa menimbulkan resiko yang tidak diinginkan dari pasien. Obat anestesi yang diberikan akan masuk ke dalam sirkulasi darah yang selanjutnya menyebar ke jaringan, yang pertama kali terpengaruh adalah jaringan yang banyak vaskularisasinya seperti otak, yang mengakibatkan kesadaran dan rasa sakit hilang. Kecepatan dan kekuatan anestesi dipengaruhi oleh faktor respirasi, sirkulasi, dan sifat fisik obat itu sendiri. Praktek anestesi umum juga termasuk mengendalikan pernapasan pasien dan memantau fungsi vital tubuh pasien selama prosedur anestesi berlangsung. Anestesi umum diberikan oleh dokter yang terlatih khusus, yang disebut ahli anestesi, ataupun bisa juga dilakukan oleh perawat anestesi yang berkompeten. Usaha menekan rasa nyeri pada tindakan operasi dengan menggunakan obat telah dilakukan sejak zaman dahulu, termasuk pemberian alcohol dan opioidum secara oral.

1.2 Tujuan Mempelajari tentang anestesi umum Mempelajari persiapan anestesi umum dan metode pemberian anestesi umum Mempelajari obat obat yang diberikan dalam anestesi umum dan efek sampingnya Mempelejari mesin dan peralatan anestesi

2.
2.1

Pembahasan
Ikhtisar Anestesi Umum

Anestesi umum adalah suatu keadaan meniadakan nyeri secara sentral yang dihasilkan ketika pasien diberikan obat-obatan untuk amnesia, analgesia, kelumpuhan otot, dan sedasi. Pada pasien yang dilakukan anestesi dapat dianggap berada dalam keadaan ketidaksadaran yang terkontrol dan reversibel. Anestesi memungkinkan pasien untuk mentolerir tindakan pembedahan yang dapat menimbulkan rasa sakit tak tertahankan, yang berpotensi menyebabkan perubahan fisiologis tubuh yang ekstrim, dan menghasilkan kenangan yang tidak menyenangkan. Komponen anestesi yang ideal terdiri dari: 1. Hipnotik, 2. Analgetik, 3. Relaksasi otot Anestesi umum menggunakan cara melalui intravena dan secara inhalasi untuk memungkinkan akses bedah yang memadai ke tempat dimana akan dilakukan operasi. Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa anestesi umum mungkin tidak selalu menjadi pilihan terbaik, tergantung pada presentasi klinis pasien, anestesi lokal atau regional mungkin lebih tepat. Adapun syarat ideal dilakukan anestesi umum adalah : a. Memberi induksi yang halus dan cepat. b. Timbul situasi pasien tak sadar atau tak berespons c. Timbulkan keadaan amnesia d. Timbulkan relaksasi otot skeletal, tapi bukan otot pernapasan. e. Hambatan persepsi rangsang sensorik sehingga timbul analgesia yang cukup untuk tindakan operasi. f. Memberikan keadaan pemulihan yang halus cepat dan tidak menimbulkan ESO yang berlangsung lama. Kontraindikasi mutlak dilakukan anestesi umum yaitu dekompresi kordis derajat III IV, AV blok derajat II total (tidak ada gelombang P). Kontraindikasi Relatif berupa hipertensi berat/tak terkontrol (diastolik >110), DM tak terkontrol, infeksi akut, sepsis, GNA. Tergantung pada efek farmakologi pada organ yang mengalami kelainan.Pada pasien dengan gangguan hepar, harus dihindarkan pemakaian obat yang bersifat hepatotoksik.Pada

pasien dengan gangguan jantung, obat obatan yang mendepresi miokard atau menurunkan aliran koroner harus dihindari atau dosisnya diturunkan.Pasien dengan gangguan ginjal, obat obatan yang diekskresikan melalui ginjal harus diperhatikan. Pada paru, hindarkan obat yang memicu sekresi paru, sedangkan pada bagian endokrin hindari obat yang meningkatkan kadar gula darah, obat yang merangsang susunan saraf simpatis pada penyakit diabetes basedow karena dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah. Sedangkan komplikasi kadang kadang tidak terduga walaupun tindakan anestesi telah dilakukan dengan sebaik baiknya.Komplikasi dapat dicetuskan oleh tindakan anestesi ataupun kondisi pasien sendiri.Komplikasi dapat timbul pada waktu pembedahan ataupun setelah pembedahan. Komplikasi kardiovaskular berupa hipotensi dimana tekanan sistolik kurang dari 70 mmHg atau turun 25 % dari sebelumnya, hipertensi dimana terjadi peningkatan tekanan darah pada periode induksi dan pemulihan anestesi. Komplikasi ini dapat membahayakan khususnya pada penyakit jantung karena jantung bekerja keras dengan kebutuhan kebutuhan miokard yang meningkat yang dapat menyebabkan iskemik atau infark apabila tidak tercukupi kebutuhannya. Komplikasi lain berupa gelisah setelah anestesi, tidak sadar , hipersensitifitas ataupun adanya peningkatan suhu tubuh.

2.2

Persiapaan Anestesi umum Kunjungan pre-anestesi dilakukan untuk mempersiapkan pasien sebelum pasien

menjalani suatu tindakan operasi.Pada saat kunjungan, dilakukan wawancara (anamnesis) sepertinya menanyakan apakah pernah mendapat anestesi sebelumnya, adakah penyakit penyakit sistemik, saluran napas, dan alergi obat.Kemudian pada pemeriksaan fisik, dilakukan pemeriksaan gigi geligi, tindakan buka mulut, ukuran lidah, leher kaku dan pendek.Perhatikan pula hasil pemeriksaan laboratorium atas indikasi sesuai dengan penyakit yang sedang dicurigai, misalnya pemeriksaan darah (Hb, leukosit, masa pendarahan, masa pembekuan), radiologi, EKG. Dari hasil kunjungan ini dapat diketahui kondisi pasien dan dinyatakan dengan status anestesi menurut The American Society Of Anesthesiologist (ASA). ASA I ASA II : Pasien dalam keadaan normal dan sehat. : Pasien dengan kelainan sistemik ringan sampai sedang baik karena

penyakit bedah maupun penyakit lain. Contohnya: pasien batu ureter dengan hipertensi sedang terkontrol, atau pasien appendisitis akut dengan lekositosis dan febris.

ASA III

: Pasien dengan gangguan atau penyakit sistemik berat yang

diakibatkan karena berbagai penyebab. Contohnya: pasien appendisitis perforasi dengan septisemia, atau pasien ileus obstrukstif dengan iskemia miokardium. ASA IV : Pasien dengan kelainan sistemik berat yang secara langsung

mengancam kehidupannya. Contohnya: Pasien dengan syok atau dekompensasi kordis. ASA V : Pasien tak diharapkan hidup setelah 24 jam walaupun dioperasi atau

tidak. Contohnya: pasien tua dengan perdarahan basis kranii dan syok hemoragik karena ruptur hepatik. Klasifikasi ASA juga dipakai pada pembedahan darurat dengan mencantumkan tanda darurat ( E = EMERGENCY ), misalnya ASA IE atau IIE Pengosongan lambung untuk anestesia penting untuk mencegah aspirasi lambung karena regurgutasi atau muntah. Pada pembedahan elektif, pengosongan lambung

dilakukan dengan puasa : Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8 jam, anak kecil 4-6 jam, pada bayi 3-4 jam. Pada pembedahan darurat pengosongan lambung dapat dilakukan dengan memasang pipa nasogastrik atau dengan cara lain yaitu menetralkan asam lambung dengan memberikan antasida (magnesium trisilikat) atau antagonis reseptor H2 (ranitidin).Kandung kemih juga harus dalam keadaan kosong sehingga boleh perlu dipasang kateter.Sebelum pasien masuk dalam kamar bedah, periksa ulang apakah pasien atau keluarga sudah memberi izin pembedahan secara tertulis (informed concent). Premedikasi sendiri ialah Premedikasi ialah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anesthesia dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anesthesia diantaranya: Meredakan kecemasan dan ketakutan Memperlancar induksi anesthesia Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus Meminimalkan jumlah obat anestetik Mengurangi mual-muntah pasca bedah Menciptakan amnesia Mengurangi isi cairan lambung Mengurangi refleks yang membahayakan

. Obat obat premedikasi yang bisa diberikan antara lain : Gol. Antikolinergik Atropin.Diberikan untuk mencegah hipersekresi kelenjar ludah, antimual dan muntah, melemaskan tonus otot polos organ organ dan menurunkan spasme gastrointestinal. Dosis 0,4 0,6 mg IM bekerja setelah 10 15 menit. Gol. Hipnotik sedatif Barbiturat (Pentobarbital dan Sekobarbital).Diberikan untuk sedasi dan mengurangi kekhawatiran sebelum operasi.Obat ini dapat diberikan secara oral atau IM.Dosis dewasa 100 200 mg, pada bayi dan anak 3 5 mg/kgBB.Keuntungannya adalah masa pemulihan tidak diperpanjang dan efek depresannya yang lemah terhadap pernapasan dan sirkulasi serta jarang menyebabkan mual dan muntah. Gol. Analgetik narkotik Morfin.Diberikan untuk mengurangi kecemasan dan ketegangan menjelang operasi.Dosis premedikasi dewasa 10 20 mg. Kerugian penggunaan morfin ialah pulih pasca bedah lebih lama, penyempitan bronkus pada pasien asma, mual dan muntah pasca bedah ada. Pethidin.Dosis premedikasi dewasa 25 100 mg IV.Diberikan untuk menekan tekanan darah dan pernapasan serta merangsang otot polos.Pethidin juga berguna mencegah dan mengobati menggigil pasca bedah. Gol. Transquilizer Diazepam (Valium).Merupakan golongan benzodiazepine.Pemberian dosis rendah bersifat sedatif sedangkan dosis besar hipnotik.Dosis premedikasi dewasa 0,2 mg/kgBB IM.

2.3

Metode Pemberian Anestesi Umum a. Induksi

Tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak sadar, sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan pembedahan. Induksi anesthesia dapat dikerjakan dengan secara intravena, inhalasi, intramuscular atau rectal. Tahapan dalam anestesi terdiri dari 4 stadium yaitu stadium pertama berupa analgesia sampai kehilangan kesadaran, stadium 2 sampai respirasi teratur, stadium 3 dan stdium 4 sampai henti napas dan henti jantung.

Stadium I Stadium I (St. Analgesia/ St. Cisorientasi) dimulai dari saat pemberian zat anestetik sampai hilangnya kesadaran.Pada stadium ini pasien masih dapat mengikuti perintah dan terdapat analgesi (hilangnya rasa sakit).Tindakan pembedahan ringan, seperti pencabutan gigi dan biopsi kelenjar, dapat dilakukan pada stadium ini.Stadium ini berakhir dengan ditandai oleh hilangnya reflekss bulu mata (untuk mengecek refleks tersebut bisa kita raba bulu mata). Stadium II Stadium II (St. Eksitasi; St. Delirium) Mulai dari akhir stadium I dan ditandai dengan pernapasan yang irreguler, pupil melebar dengan reflekss cahaya (+), pergerakan bola mata tidak teratur, lakrimasi (+), tonus otot meninggi dan diakhiri dengan hilangnya reflekss menelan dan kelopak mata. Stadium III Stadium III yaitu stadium sejak mulai teraturnya lagi pernapasan hingga hilangnya pernapasan spontan.Stadia ini ditandai oleh hilangnya pernapasan spontan, hilangnya reflekss kelopak mata dan dapat digerakkannya kepala ke kiri dan kekanan dengan mudah. Stadium IV Ditandai dengan kegagalan pernapasan (apnea) yang kemudian akan segera diikuti kegagalan sirkulasi/ henti jantung dan akhirnya pasien meninggal. Pasien sebaiknya tidak mencapai stadium ini karena itu berarti terjadi kedalaman anestesi yang berlebihan.

Rumatan anestesi (maintenance) dapat dikerjakan dengan secara intravena (anestesi intravena total) atau dengan inhalasi atau dengan campuran intravena inhalasi. Rumatan anesthesia biasanya mengacu pada trias anestesi yaitu tidur ringan (hypnosis) sekedar tidak sadar, analgesia cukup, diusahakan agar pasien selama dibedah tidak menimbulkan nyeri dan relaksasi otot lurik yang cukup. Rumatan intravena misalnya dengan menggunakan opioid dosis tinggi, fentanil 10-59 microgram/kgBB. Dosis tinggi opioid menyebabkan pasien tidur dengan analgesia cukup, sehingga tinggal memberikan relaksasi pelumpuh otot. Rumatan intravena dapat juga menggunakan opioid dosis biasa, tetapi pasien ditidurkan dengan infuse propofol 4-12 mg/kgBB/jam. Bedah lama dengan anesthesia total intravena menggunakan opioid, pelumpuh otot dan ventilator. Untuk mengembangkan paru digunakan

inhalasi dengan udara + O2 atau N2O + O2. Rumatan inhalasi biasanya menggunakan campuran N2O dan O2 3:1 ditambah halotan 0,5-2 vol% atau enfluran 2-4 vol% atau isofluran 2-4vol% atau sefovluran 2-4vol% bergantung apakah pasien bernafas spontan, dibantu (assisted), atau dikendalikan (controlled).

b. Intubasi Intubasi trakea ialah tindakan memasukan pipa trakea ke dalam trakea melalui rima glottis, sehingga ujung distalnya berada kira-kira dipertengahan trakea antara pita suara dan bifurkasio trakea. Indikasi sangat bervariasi dan umumnya digolongkan sebagai berikut: 1. Menjaga patensi jalan nafas oleh sebab apapun Kelainan anatomi, bedah khusus, bedah posisi khusus, pembersihan secret jalan nafas, dll. 2. Mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi Misalnya saat resusitasi memungkinkan penggunaan relaksan dengan efisien, ventilasi jangka panjang. 3. Pencegahan terhadap aspirasi dan regurgitasi

Kesulitan Intubasi 1. Leher pendek berotot 2. Mandibula menonjol 3. Maksila/gigi depan menonjol 4. Uvula tak terlihat 5. Gerak sendi temporo-mandibula terbatas 6. Gerak vertebra servikal terbatas

Intubasi endotrakea adalah memasukkan pipa (tube) endotrakea (ET= endotrakeal tube) kedalam trakea via oral atau nasal. Pipa trakea (endotracheal tube) mengantar gas anestetik langsung kedalam trakea dan biasanya dibuat dari bahan standar polivinil-klorida. Ukuran diameter lubang pipa trakea dalam millimeter. Karena penampang trakea bayi, anak kecil, dan dewasa berbeda, penampang melintang trakea bayi dan anak kecil dibawa usia 5 tahun hampir bulat, sedangkan pada dewasa seperti huruf D, maka untuk bayi anak digunakan tanpa kaf dan untuk anak besar dewasa dengan kaf, supaya tidak bocor. Sungkup laring (laryngeal mask airway) ialah alat jalan nafas berbentuk sendok terdiri dari pipa besar berlubang dengan ujung menyerupai sendok yang pinggirnya dapat dikembangkan seperti

balon pada pipa trakea. Tangkai LMA dapat berupa pipa keras dari polivinil atrau lembek dengan spiral untuk menjaga supaya tetap paten.

Untuk persiapan induksi sebaiknya kita ingat STATICS: S = Scope. Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung. Laringo-Scope T = Tubes. Pipa trakea. Usia >5 tahun dengan balon(cuffed) A = Airway. Pipa mulut faring (orofaring) dan pipa hidung faring (nasofaring) yang digunakanuntuk menahan lidah saat pasien tidak sadar agar lidah tidak menymbat jalan napas T = Tape. Plester untuk fiksasi pipa agar tidak terdorong atau tercabut I = Introductor. Stilet atau mandrin untuk pemandu agar pipa trakea mudah dimasukkan C = Connector. Penyambung pipa dan perlatan anestesia S = Suction. Penyedot lendir dan ludah

Klasifikasi Mallampati : Mudah sulitnya dilakukan intubasi dilihat dari klasifikasi Mallampati :

C. Ekstubasi 1. Ekstubasi ditunda sampai pasien benar-benar sadar, jika: a. Intubasi kembali akan menimbulkan kesulitan b. Pasca ekstubasi ada risiko aspirasi

2. Ekstubasi dikerjakan umumnya pada anestesi sudah ringan dengan catatan tak akan terjadi spasme laring 3. Sebelum ekstubasi bersihkan rongga mulut laring faring dari secret dan cairan lainnya. 2.4 OBAT OBAT DALAM ANESTESI UMUM Jenis obat anestesi umum diberikan dalam bentuk suntikan intravena atau inhalasi. 1. Anestetik intravena Penggunaan Untuk induksi Obat tunggal pada operasi singkat Tambahan pada obat inhalasi lemah Tambahan pada regional anestesi Sedasi : :

Cara pemberian

Obat tunggal untuk induksi atau operasi singkat Suntikan berulang (intermiten)

Obat anestetik intravena meliputi : a. Benzodiazepine Sifat : hipnotik sedative, amnesia anterograd, atropine like effect, pelemas otot ringan, cepat melewati barier plasenta. Kontraindikasi : porfiria dan hamil. Dosis : Diazepam : induksi 0,2 0,6 mg/kg IV, Midazolam : induksi : 0,15 0,45 mg/kg IV. b. Propofol Merupakan salah satu anestetik intravena yang sangat penting. Propofol dapat menghasilkan anestesi kecepatan yang sama dengan pemberian barbiturat secara inutravena, dan waktu pemulihan yang lebih cepat. Dosis : 2 2,5 mg/kg IV. c. Ketamin Ketamin adalah suatu rapid acting nonbarbiturat general anaesthetic.Indikasi pemakaian ketamin adalah prosedur dengan pengendalian jalan napas yang sulit, prosedur diagnosis, tindakan ortopedi, pasien resiko tinggi dan asma. Dosis

pemakaian ketamin untuk bolus 1- 2 mg/kgBB dan pada pemberian IM 3 10 mg/kgBB. d. Thiopentone Sodium Merupakan bubuk kuning yang bila akan digunakan dilarutkan dalam air menjadi larutan 2,5%atau 5%. Indikasi pemberian thiopental adalah induksi anestesi umum, operasi singkat, sedasi anestesi regional, dan untuk mengatasi kejang.Keuntungannya :induksi mudah, cepat, tidak ada iritasi mukosa jalan napas. Dosis 5 mg/kg IV, hamil 3 mg/kg IV.

2. Anestetik inhalasi a. N2O Nitrogen monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa dan lebih berat daripada udara.N2O biasanya tersimpan dalam bentuk cairan bertekanan tinggi dalam baja, tekanan penguapan pada suhu kamar 50 atmosfir.N2O mempunyai efek analgesic yang baik, dengan inhalasi 20% N2O dalam oksigen efeknya seperti efek 15 mg morfin. Kadar optimum untuk mendapatkan efek analgesic maksimum 35% .gas ini sering digunakan pada partus yaitu diberikan 100% N2O pada waktu kontraksi uterus sehingga rasa sakit hilang tanpa mengurangi kekuatan kontraksi dan 100% O2 pada waktu relaksasi untuk mencegah terjadinya hipoksia. Anestetik tunggal N2O digunakan secara intermiten untuk mendapatkan analgesic pada saat proses persalinan dan Pencabutan gigi. H2O digunakan secara umum untuk anestetik umum, dalam kombinasi dengan zat lain b. Halotan Merupakan cairan tidak berwarna, berbau enak, tidak mudah terbakar dan tidak mudah meledak meskipun dicampur dengan oksigen.Halotan bereaksi dengan perak, tembaga, baja, magnesium, aluminium, brom, karet dan plastic.Karet larut dalam halotan, sedangkan nikel, titanium dan polietilen tidak sehingga pemberian obat ini harus dengan alat khusus yang disebut fluotec.Efek analgesic halotan lemah tetapi relaksasi otot yang ditimbulkannya baik. Dengan kadar yang aman waktu 10 menit untuk induksi sehingga mempercepat digunakan kadar tinggi (3-4 volume %). Kadar minimal untuk anestesi adalah 0,76% volume.

c. Isofluran Merupakan eter berhalogen yang tidak mudah terbakar.Secara kimiawi mirip dengan efluran, tetapi secara farmakologi berbeda. Isofluran berbau tajam sehingga membatasi kadar obat dalam udara yang dihisap oleh penderita karena penderita menahan nafas dan batuk. Setelah pemberian medikasi preanestetik stadium induksi dapat dilalui dengan lancer dan sedikit eksitasi bila diberikan bersama N2O dan O2.isofluran merelaksasi otot sehingga baik untuk intubasi. Tendensi timbul aritmia amat kecil sebab isofluran tidak menyebabkan sensiitisasi jantung terhadap ketokolamin. Peningkatan

frekuensi nadi dan takikardiadihilangkan dengan pemberian propanolol 0,2-2 mg atau dosis kecil narkotik (8-10 mg morfin atau 0,1 mg fentanil), sesudah hipoksia atau hipertemia diatasi terlebih dulu. Penurunan volume semenit dapat diatasi dengan mengatur dosis.Pada anestesi yang dalam dengan isofluran tidak terjadi perangsangan SSP seperti pada pemberian enfluran. Isofluran meningkatkan aliran darah otak pada kadar labih dari 1,1 MAC (minimal Alveolar Concentration) dan meningkatkan tekanan intracranial.

d. Sevofluran Obat anestesi ini merupakan turunan eter berhalogen yang paling disukai untuk induksi inhalasi. Sevofluran (ultane) merupakan halogenasi eter. Induksi dari anestesi lebih cepat dibandingkan dengan isofluran. Bau dari sevofluran tidak menyengat dan tidak merangsang jalan nafas, sehingga digemari untuk induksi anestesi inhalasi. Efek terhadap kardiovaskular cukup stabil, jarang menyebabkan aritmia. Efek terhadap sistem saraf pusat seperti isofluran dan belum ada laporan toksik terhadap hepar. Setelah pemberian dihentikan sevofluran cepat dikeluarkan oleh tubuh. Walaupun dapat dirusak oleh kapur soda (soda lime, baraline), tetapi belum ada laporan membahayakan terhadap tubuh manusia.

3. Pelumpuh Otot Pelumpuh otot depolarisasi Pelumpuh otot depolarisasi (nonkompetitif, leptokurare) bekerja seperti asetil kolin, tetapi di celah saraf otot tak dirusak oleh kolinesterase, sehingga berada cukup lama dicelah sinaptik, akhirnya terjadilah depolarisasi ditandai oleh fasikulasi yang disusul relakasai otot lurik. Termasuk golongan pelumpuh otot depolarisasi ialah suksinil-kolin (diasetil-kolin) dan dekametonium.

Pelumpuh otot nondepolarisasi Pelumpuh otot nondepolarisasi (inhibitor kompetitif, takikurare) berikatan dengan reseptor nikotinik-kolinergik, teteapi tak menyebabkan depolarisasi, hanya menghalangi asetil-kolin yang menempatinya, sehingga asetilkolin tak dapat bekerja. Berdasarkan susunan molekul, maka pelumpuh otot nondepolarisasi digolongkan menjadi: 1. Bensiliso-kuinolinum: d-tubokurarin, metokurin, atrakurium, doksakurium, mivakurium. 2. Sieroid: pankuronium, vekuronium, pipekuronium, ropakuronium, rokuronium. 3. Eter fenolik: gallamin 4. Nortokseferin: alkuronium.

Penawar pelumpuh otot Penawar pelumpuh otot atau antikolinesterasi bekerja pada sambungan saraf-otot mencegah asetilkolin-esterase bekerja, sehingga asetilkolin dapat bekerja. Antikolinesterasi yang paling sering digunakan ialah neostigmin (prostigmin), piridostigmin, dan edrophonium. Physostigmine (eserin) hanya untuk penggunaan per-oral. Dosis neostigmin 0,04-0,08 mg/kg, piridostigmin 0,1-0,4 mg/kg, edrophonium 0,5-1 mg/kg dan fisostigmin 0,01-,0,03 mg/kg. penawar pelumpuh otot bersifat muskarinik menyebabkan hipersalivasi, berkeringat, bradikardia, kejang bronkus, hipermotilitas usus, dan pandangan kabur, sehingga pemberiannya harus disertai oleh obat vagolitik seperti atropine dosis 0,01-0,02 mg/kg atau glikopirolat 0,005-0,01 mg/kg sampai 0,2-0,3 mg pada dewasa.

4.

Analgetik

Analgesik Nonopioid Usual analgesics : Aspirin, Acetominophen NSAIDs ( Non-selective COX Inhibitors Ibuprofen, Ketoprofen, Naproxen, Diclofenac Sodium, Indomethacin, Ketorolac, Piroxicam, Mefenamic acid. NSAIDs ( Selective COX-2 Inhibitors ): Celecoxib, Parecoxib, Rofecoxib, etc.

Opioids untuk Moderate Pain Weak Opioid : Codein (biasanya digunakan sebagai antitussive, Konstipasi merupakan efek yang sering terjadi) Opioids untuk Severe Pain Morphine-Like Agonist : Morphine, Levorphanol, Codein, Hydromorphine, Methadone,Oxycodone, Fentanyl transdermal, Meperidin. Partial Agonist : Buprenorphine Mixed Agonist Antagonist : Pentazocine, Nalbuphine, Butorphanol

PETIDIN Petidin (meperidin, Demerol) adalah zat sintetik yang formulanya sangat berbeda dengan morfin, tetapi mempunyai efek klinik dan efek samping yang mendekati sama. Perbedaan dengan morfin sebagai berikut: Petidin lebih larut dalam lemak dibandingkan dengan morfin yang lebih larut dalam air Metabolisme oleh hepar lebih cepat dan menghasilkan normeperidin, asam meperidinat dan asam normeperidinat. Normeperidin ialah metabolit yang masih aktif memiliki sifat konvulsi dua kali lipat petidin, tetapi efek analgesiknya sudah berkurang 50%. Kurang dari 10% petidin bentuk asli ditemukan dalam urin. Petidin bersifat seperti atropine menyebabkan kekeringan mulut, kekaburan pandangan, dan takikardi Seperti morfin ia menyebabkan kostipasi, tetapi efek terhadap sfingter oddi lebih ringan

Petidin cukup efektif untuk menghilangkan gemetaran pascabedah yang tak ada hubungannya dengan hipotermi dengan dosis 20-25 mg IV pada dewasa Lama kerja petidin lebih pendek dibandingkan morfin.

Dosis petidin intramuscular 1-2mg/kgBB (morfin 10x lebih kuat) dapat diulang tiap 3-4 jam. Dosis intravena 0,2-05 mg/kgBB. Petidin subkutan tidak dianjurkan karena iritasi. Rumus bangun menyerupai lidokain, sehingga dapat digunakan untuk analgesia spinal pada pembedahan dengan dosis 1-2 mg/kgBB.

FENTANIL Fentanil ialah zat sintetik seperti petidin dengan kekuatan 100x lebih dari morfin. Lebih larut dalam lemak dibandingkan petidin dan menembus sawar jaringan dengan mudah. Setelah suntikan intravena ambilan dan distribusinya secara kualitatif hamper sama dengan morfin, tetapi fraksi terbesar dirusak paru ketika pertama melewatinya. Dimetabolisir oleh hati dengan N-dealkilasi dan hidroksilasi dan sisa metabolismenya dikeluarkan lewat urin. Efek depresi nafas lebih lama dibandingkan efek analgesinya. Dosis 1-3 microgram/kgBB analgesinya kira-kira hanya berlangsung 30 menit, karena itu hanya digunakan untuk anestesi pembedahan dan tidak untuk pasca bedah. Dosis besar 50-150 microgram/kgBB digunakan untuk induksi anestesia dan pemeliharaan anestesia dengan kombinasi bensodiasepin dan anestetik inhalasi dosis rendah, pada bedah jantung. Efek tak disukai ialah kekakuan otot puggung yang sebenarnya dapat dicegah dengan pelumpuh otot. Dosis besar dapat mencegah peningkatan kadar gula, katekolamin plasma, ADH, rennin, aldosteron, dan kortisol.

2.4 Mesin dan Peralatan Anestesi Fungsi mesin anestesi ialah menyalurkan gas atau campuran gas anestetik yang aman ke rangkaian sirkuit anestetik yang kemudian dihisap oleh pasien dan membuang sisa campuran gas dari pasien. Rangkaian mesin anestesi sangat banyak ragamnya mulai dari yang sangat sederhana hingga yang diatur oleh computer. Mesin yang aman dan ideal ialah mesin yang memenuhi persyaratan beriku: Dapat menyalurkan gas anestetik dengan dosis yang tepat Ruang rugi (dead space) minimal Mengeluarkan CO2 dengan efisien Bertekanan rendah

Kelembaban terjaga dengan baik Pengunaannya sangat mudah dan aman

Sumber O2 dan N2O dapat tersedia secara individual menjadi satu-satuan mesin anestetik atau dari sentral melalui pipa-pipa. Rumah sakit besar biasanya menyediakan N2O, O2 dan udara tekanan secara sentral untuk dialirkan ke kamar bedah sentral, kamar bedah rawat jalan, ruang obstetrik, dan lain-lainnya.

Komponen dasar mesin anestetik terdiri atas: Alat pantau tekanan gas (pressure gauge) untuk mengetahui tekanan gas pasok. Katup penurun tekanan gas (pressure reducing valve) untuk menurunkan tekanan gas pasok yang masih tinggi, sesuai karakteristik mesin anestesi. Meter aliran gas (flowmeter) dari tabung kaca untuk mengatur aliran gas tiap menitnya Penguap cairan anestetik (vaporizers) dapat tersedia satu sampai empat. Lubang keluar campuran gas (common gas outlet) biasanya berdiameter standart Kendali oksigen darurat (oxygen flush control) untuk keadaan darurat yang dapat mengalirkan oksigen murni sampai 35-37 liter/menit tanpa melalui meter aliran gas.

Berdasar sistim aliran udara pernapasan dalam rangkaian alat anestesi, anestesi dibedakan menjadi 4 sistem, yaitu : Open, semi open, closed, dan semi closed. 1. Sistem open adalah sistem yang paling sederhana. Di sini tidak ada hubungan fisik

secara langsung antara jalan napas penderita dengan alat anestesi. Karena itu tidak menimbulkan peningkatan tahanan respirasi. Di sini udara ekspirasi babas keluar menuju udara bebas. Kekurangan sistem ini adalah boros obat anestesi, menimbulkan polusi obat anestesi di kamar operasi, bila memakai obat yang mudah terbakar maka akan meningkatkan resiko terjadinya kebakaran di kamar operasi, hilangnya kelembaban respirasi, kedalaman anestesi tidak stabil dan tidak dapat dilakukan respirasi kendali. 2. Dalam system semi open alat anestesi dilengkapi dengan reservoir bag selain

reservoir bag, ada pula yang masih ditambah dengan klep 1 arah, yang mengarahkan udara ekspirasi keluar, klep ini disebut non rebreating valve. Dalam sistem ini tingkat keborosan dan polusi kamar operasi lebih rendah dibanding system open.

3. Dalam sistem semi closed, udara ekspirasi yang mengandung gas anestesi dan oksigen lebih sedikit dibanding udara inspirasi, tetapi mengandung CO2 yang lebih tinggi, dialirkan menuju tabung yang berisi sodalime, disini CO2 akan diikat oleh sodalime. Selanjutnya udara ini digabungkan dengan campuran gas anestesi dan oksigen dari sumber gas ( FGF /Fresh Gas Flow) untuk diinspirasi kembali. Kelebihan aliran gas dikeluarkan melalui klep over flow. Karena udara ekspirasi diinspirasi lagi, maka pemakaian obat anestesi dan oksigen dapat dihemat dan kurang menimbulkan polusi kamar operasi. 4. Dalam system closed prinsip sama dengan semi closed, tetapi disini tidak ada udara

yang keluar dari sistem anestesi menuju udara bebas. Penambahan oksigen dan gas anestesi harus diperhitungkan, agar tidak kurang sehingga menimbulkan hipoksia dan anestesi kurang adekuat, tetapi juga tidak berlebihan, karena pemberian yang berlebihan bisa berakibat tekanan makin meninggi sehingga. menimbulkan pecahnya alveoli paru. Sistem ini adalah sistem yang paling hemat obat anestesi dan tidak menimbulkan polusi. Pada system closed dan semiclosed juga disebut system rebreathing, karena udara ekspirasi diinspirasi kembali, sistem ini juga perlu sodalime untuk membersihkan CO2. Pada system open dan semi open juga disebut system nonrebreathing karena tidak ada udara ekspirasi yang diinspirasi kembali, system ini tidak perlu sodalime. Untuk menjaga agar pada system semi open tidak terjadi rebreathing, aliran campuran gas anestesi dan oksigen harus cepat, biasanya diberikan antara 2 3 kali menit volume respirasi penderita. Bila obat anestesi seluruhnya menggunakan obat intravena, maka disebut anestesi intravena total (total intravenous anesthesia/TIVA). Bila induksi dan maintenance anestesi menggunakan obat inhalasi maka disebut VIMA (Volatile Inhalation and Maintenance Anesthesia)

2.6 Skor pemulihan pasca anestesi Sebelum pasien dipindahkan ke ruangan setelah dilakukan operasi terutama yang menggunakan general anestesi, maka perlu melakukan penilaian terlebih dahulu untuk menentukan apakah pasien sudah dapat dipindahkan ke ruangan atau masih perlu di observasi di ruang Recovery room (RR). A. Aldrete Score Nilai Warna

Merah muda, 2

Pucat, 1 Sianosis, 0

Pernapasan

Dapat bernapas dalam dan batuk, 2 Dangkal namun pertukaran udara adekuat, 1 Apnoea atau obstruksi, 0

Sirkulasi

Tekanan darah menyimpang <20% dari normal, 2 Tekanan darah menyimpang 20-50 % dari normal, 1 Tekanan darah menyimpang >50% dari normal, 0

Kesadaran

Sadar, siaga dan orientasi, 2 Bangun namun cepat kembali tertidur, 1 Tidak berespons, 0

Aktivitas

Seluruh ekstremitas dapat digerakkan, 2 Dua ekstremitas dapat digerakkan,1 Tidak bergerak, 0

Jika jumlahnya > 8, penderita dapat dipindahkan ke ruangan B. Steward Score (anak-anak) Pergerakan

Gerak bertujuan 2 Gerak tak bertujuan 1 Tidak bergerak 0

Pernafasan

Batuk, menangis 2 Pertahankan jalan nafas 1 Perlu bantuan 0

Kesadaran

Menangis 2 Bereaksi terhadap rangsangan 1 Tidak bereaksi 0

Jika jumlah > 5, penderita dapat dipindahkan ke ruangan

III. PENUTUP Kesimpulan


Anestesi umum adalah suatu tindakan meniadakan nyeri secara sentral, disertai hilangnya kesadaran dan bersifat reversible yang terdiri dari hipnotik, analgesia dan relaksasi. Sebelum dilakukan anestesi umum, harus dilakukan penilaian pada pasien yang mencakup beberapa hal yaitu status kesehatan pasien, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium serta menentukan klasifikasi status fisik menurut The American Society of Anaesthesiologist (ASA). Selama proses anestesi, dilakukan pemantauan keadaan umum, kesadaran, tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu dan perdarahan. Jika terdapat kesulitan selama melaksanakan anestesi umum, seperti jalan nafas dan intubasi, harus ditangani dengan benar. Praktek anestesi umum juga termasuk mengendalikan pernapasan pasien dan memantau fungsi vital tubuh pasien selama prosedur anestesi berlangsung. Anestesi umum diberikan oleh dokter yang terlatih khusus, yang disebut ahli anestesi, ataupun bisa juga dilakukan oleh perawat anestesi yang berkompeten.

DAFTAR PUSTAKA
Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi 2. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2009. Desai AM. General Anesthesia. Edisi 29 http://www.emedicine.medscape.com, 28 Mei 2013 April 2013. Diunduh dari:

Omuigui . The Anaesthesia Drugs Handbook, 2nded, Mosby year Book Inc, 1995. Dachlan, R.,dkk. 2002. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Bagian Anestesiologi dan Terapi FK UI. Jakarta