Anda di halaman 1dari 92

Budidaya Ikan Lele Dumbo

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lele dumbo adalah ikan pendatang baru yang merupakan keturunan lele
hasil persilangan antara lele asli Taiwan dan lele yang berasal dari Afrika. Ikan
hasil persilangan ini kemudian di introduksi ke negara kita sekitar tahun 1986.
Karena ukuran tubuh yang sangat cepat besar atau bongsor, lele ini kemudian
dinamakan lele dumbo.
Kegiatan pembenihan lele dumbo saat ini telah berkembang dengan
pesat. Pembenihan lele dumbo yang dilakukan oleh petani dilakukan dengan
cara dan peralatan yang sederhana. Biasanya hanya memanfaatkan bahan-
bahan yang mudah didapat dengan harga yang terjangkau. Disamping itu,
tenaga kerja yang digunakan cukup dengan hanya memanfaatkan tenaga
anggota keluarga petani yang bersangkutan.
Kegiatan pembenihan ikan lele merupakan kegiatan awal di dalam
budidaya ikan lele. Tanpa kegiatan pembenihan, kegiatan yang lain, yakni
pendederan dan pembesaran semuanya berasal dari kegiatan pembenihan.
Kegiatan pembenihan lele dumbo yang akan diuraikan berikut adalah kegiatan
yang biasa dilakukan para petani, baik secara semi intensif maupun intensif.
Secara garis besar, kegiatan pembenihan meliputi pemeliharaan induk,
pemilihan induk yang siap pijah, pemijahan, dan perawatan larva atau benih.

B. Tujuan
1. Meningkat keterampilan membenihkan ikan lele dumbo
2. Memanfaatkan lahan yang sempit
3. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan

Modul Diklat 1
Budidaya Ikan Lele Dumbo

LEMBAR INFORMASI 1.

Pemeliharaan Induk
Induk jantan dan betina dipelihara secara terpisah. Hal ini lebih
memudahkan dalam pengelolaan, pengontrolan dan yang terpenting dapat
mencegah terjadinya memijah diluar kehendak “mijah maling”. Kolam induk
berupa kolam tanah, kolam tembok, atau kolam tanah dengan pematang dari
tembok. Tidak ada ketentuan khusus tentang ukuran kolam untuk pemeliharaan
induk.
Biasanya kolam induk hanya disesuaikan dengan kondisi lahan dan
keuangan. Untuk memudahkan dalam pengelolaan dan efisiensi penggunaan
kolam, maka luas kolam induk jantan dan betina masing-masing berkisar 15 –
30 meter persegi. Setiap kolam dilengkapi dengan saluran pemasukan dan
pengeluaran air. Di kedua saluran ini biasanya dilengkapi dengan saringan agar
induk-induk tersebut tidak keluar atau kabur. Kepadatan penebaran induk antara
3 – 4 kg/m2, sedangkan ketinggian air dikolam induk antara 60 – 75 cm.
Agar diperoleh kematangan induk yang memadai, setiap hari induk di beri
pakan bergizi. Jenis pakan yang diberikan berupa pakan buatan berupa pelet
sebanyak 3 – 5 % perhari dari bobot induk yang dipelihara. Ada juga induk lele
yang diberikan pakan berupa limbah peternakan ayam (ayam yang mati) yang
dibakar atau direbus terlebih dahulu.

Modul Diklat 2
Budidaya Ikan Lele Dumbo

LEMBAR INFORMASI 2.

Pemijahan
1. Persiapan wadah dan substrat (kakaban).
Persiapan bak pemijahan dilakukan sebelum dilakukan pemijahan. Untuk
setiap pasang induk yang beratnya antara 0,5 – 1 kg diperlukan satu buah bak
pemijahan dengan ukuran 1 x 2 x 0,5 meter atau 1 x 1 x 0,5 meter. Sebelum
kolam atau bak digunakan, bak dicuci bersih agar kotoran-kotoran dan lumut
yang menempel terlepas dan dasar bak menjadi bersih dan benih lele terhindar
dari serangan penyakit.
Selanjutnya bak diisi air bersih setinggi 30 – 40 cm. Sebagai tempat atau
media menempelnya telur, di dasar bak dipasang kakaban yang terbuat dari
ijuk. Ukuran kakaban disesuaikan dengan ukuran bak pemijahan. Namun,
ukuran yang biasa digunakan panjangnya 75 – 100 cm dan lebarnya 30 – 40
cm. Sebagai patokan, untuk 1 pasang induk lele dumbo dengan berat induk
betina 500 gram, dibutuhkan kakaban sebanyak 3 – 4 buah. Jika kurang,
dikhawatirkan telur yang dikeluarkan ketika pemijahan tidak tertampung
seluruhnya atau menumpuk di kakaban, sehingga mudah membusuk dan tidak
menetas. Kakaban harus menutupi seluruh permukaan dasar bak pemijahan,
sehingga semua telur lele dumbo tertampung di kakaban. Bagian atas bak
pemijahan di tutup dengan seng atau triplek atau anyaman bambu untuk
mencegah induk lele dumbo yang sedang dipijahkan meloncat keluar.

2. Pemilihan induk siap pijah


Tidak semua induk yang dipelihara dapat dipijahkan. Hal ini disebabkan
belum tentu semua induk telah matang kelamin dan siap dipijahkan. Sebelum
dipijahkan, induk dipilih yang sesuai dengan persyaratan. Salah satu
persyaratan yang mutlak adalah induk telah berumur 1 tahun, baik jantan
maupun betina. Pemilihan induk dilakukan dengan cara mengeringkan kolam
induk, baik kolam induk jantan mapun betina, sehingga induk – induk ikan lele
dumbo akan terkumpul. Selanjutnya induk – induk tersebut ditangkap dengan
menggunakan seser atau serokan dan ditampung dalam wadah seperti tong
plastik.

Modul Diklat 3
Budidaya Ikan Lele Dumbo

Gambar 1. Menyiapkan Wadah Pemijahan

Ciri-ciri induk betina lele dumbo yang siap untuk dipijahkan sebagai
berikut :
• Bagian perut tampak membesar ke arah anus dan jika diraba
terasa lembek.
• Lubang kelamin berwarna kemerahan dan tampak agak
membesar.
• Jika bagian perut secara perlahan diurut ke arah anus, akan keluar
beberapa butir telur berwarna hijau tua dan ukurannya relatif besar.
• Gerakannya lambat.

Ciri-ciri induk jantan lele dumbo jantan yang telah siap untuk dipijahkan sebagai
berikut :
• Alat kelamin tampak jelas memerah
• Warna tubuh agak kemerah-merahan
• Tubuh ramping dan gerakannya lincah.

Modul Diklat 4
Budidaya Ikan Lele Dumbo

Gambar 2. Ciri-ciri Induk Betina

Gambar 3. Ciri-ciri Induk Jantan

Modul Diklat 5
Budidaya Ikan Lele Dumbo

3. Kawin suntik
Untuk merangsang induk lele dumbo agar memijah sesuai dengan yang
diharapkan, sebelumnya induk harus disuntik menggunakan zat perangsang
berupa kelenjar hipofisa atau HCG (Human Chlorionic Gonadotropine). Kelenjar
hipofisa dapat diambil dari donor ikan lele dumbo yang telah matang kelamin
dan telah berumur minimal 1 tahun. Jika menggunakan HCG, dipasaran HCG
dapat dibeli dengan merek dagang Ovaprim . Penyuntikan menggunakan
kelenjar hipofisa cukup dengan 1 dosis. Artinya, ikan donor yang akan diambil
kelenjar hipofisanya, beratnya sama dengan ikan induk lele dumbo yang akan
disuntik. Namun, jika menggunakan ovaprim, penyuntikan cukup dilakukan satu
kali dengan dosis untuk induk betina 0,2 ml dan untuk induk jantan sebanyak 0,1
ml. Sebagai bahan pelarut digunakan air untuk injeksi berupa aquabidest
sebanyak 0,3 – 0,4 ml. Penyuntikan dapat dilakukan pada 3 tempat, yaitu pada
otot punggung, batang ekor dan sirip perut. Akan tetapi pada umumnya
dilakukan pada otot punggung dengan kemiringan alat suntik 45°.

Gambar 4. Menyuntik Ikan Lele

Modul Diklat 6
Budidaya Ikan Lele Dumbo

4. Pemijahan secara alami.


Induk lele dumbo yang telah disuntik selanjutnya dipijahkan secara alami.
Induk tersebut dimasukan ke dalam bak pemijahan yang telah disiapkan. Induk
akan memijah setelah 8 – 12 jam dari penyuntikan. Selama proses pemijahan
berlangsung dilakukan pengontrolan agar induk yang sedang memijah tidak
melompat keluar tempat pemijahan.

Gambar 5. Induk Memijah Secara Alami

Modul Diklat 7
Budidaya Ikan Lele Dumbo

LEMBAR INFORMASI 3.

Penetasan Telur
Setelah induk selesai memijah, pada pagi harinya telur lele dumbo
diangkat untuk ditetaskan di bak penetasan. Induk lele dumbo yang telah selesai
memijah harus ditangkap dan dikembalikan lagi ke kolam pemeliharaan induk.
Bak penetasan telur berupa kolam tembok. Bak penetasan diisi air bersih
setinggi 30 cm. Air bisa berasal sumur pompa, sumur timba atau sumber air
lainnya, yang penting air tersebut tidak mengandung kaporit atau zat kimia
berbahaya lainnya.
Seluruh telur yang ditetaskan harus terendam air, tentunya proses ini
memerlukan kakaban. Kakaban yang penuh dengan telur diletakan terbalik
sehingga telur menghadap ke dasar bak. Dengan demikian telur akan terendam
air seluruhnya. Telur yang telah dibuahi berwarna kuning cerah kecoklatan,
sedangkan telur yang tidak dibuahi berwarna putih pucat. Di dalam proses
penetasan telur diperlukan suplai oksigen yang cukup. Untuk memenuhi
kebutuhan akan oksigen terlarut dalam air, setiap bak penetasan di pasang
aerasi.

Gambar 6. Telur Menempel Pada Kakaban

Modul Diklat 8
Budidaya Ikan Lele Dumbo

Telur akan menetas tergantung dari suhu air bak penetasan dan suhu
udara. Jika suhu semakin panas, telur akan menetas semakin cepat. Begitu juga
sebaliknya, jika suhu rendah, menetasnya semakin lama. Telur ikan lele dumbo
akan menetas menjadi larva antara 18 –24 jam dari saat pemijahan.

Gambar 7. Menetaskan Telur

Modul Diklat 9
Budidaya Ikan Lele Dumbo

LEMBAR INFORMASI 4.

Perawatan Larva
Setelah dipastikan hampir semua telur menetas, kakaban diangkat untuk
menghindari penurunan kualitas air akibat adanya pembusukan dari telur – telur
yang tidak menetas. Disamping itu juga dilakukan pergantian air bak penetasan
dengan membuang air sampai ¾ bagian volume air dan kemudian diisi kembali
dengan air yang baru.
Larva ikan lele yang baru menetas akan berwarna hijau dan berkumpul di
dasar bak penetasan dibagian yang gelap. Ukuran larva lebih kurang 5 – 7 mm
dengan berat 1,2 – 3 mg. Setelah berumur 2 hari, larva mulai bergerak dan
menyebar ke seluruh bak penetasan. Sampai umur 3 hari larva tidak perlu diberi
pakan tambahan, karena masih memanfaatkan cadangan makanan yang
dibawa di dalam tubuhnya, yakni yang dikenal dengan “kuning telur”. Larva ikan
lele dumbo baru diberikan pakan tambahan setelah berumur 4 hari dengan
memberikan emulsi kuning telur ayam. Pemberian pakan tersebut sampai umur
5 hari. Setelah menginjak umur 6 hari, larva diberi pakan alami (makanan hidup)
yang berukuran kecil, seperti kutu air (daphnia sp) atau cacing sutera (tubifex).

Gambar 8. Emulsi Kuning Telur

Modul Diklat 10
Budidaya Ikan Lele Dumbo

Pakan buatan kurang baik diberikan karena jika tidak habis akan membusuk
sehingga menurunkan kualitas air pada bak pemeliharaan. Pakan alami
diberikan 3 kali sehari, pagi, siang dan sore hari atau sesuai dengan kebutuhan.
Faktor lain yang perlu diperhatikan selama pemeliharaan banih atau larva
adalah kualitas air. Pergantian air dilakukan setiap 2 – 3 hari sekali atau
tergantung dari kebutuhan. Jumlah air yang diganti sebanyak 50 – 70 % dengan
cara menyipon (mengeluarkan air secara selektif dengan selang) sambil
membuang kotoran yang mengendap pada dasar bak pemeliharaan larva.
Selang yang digunakan adalah selang plastik yang lentur dan biasa digunakan
sebagai selang air.

Gambar 9. Menjaga Kualitas Air

Setelah benih lele berumur 2 – 3 minggu dan mencapai ukuran 0,5 – 2


cm, benih sudah siap untuk dipanen. Agar benih lele tidak mengalami stres,
pemanenan dilakukan pada pagi atau sore hari saat suhu rendah. Cara
memanennya adalah air dalam bak disurutkan secara perlahan, selanjutnya
benih ditangkap secara hati hati menggunakan seser (serokan) halus. Benih
dapat langsung dipasarkan (dijual) langsung kepada pembeli atau didederkan
pada kolam pendederan.

Modul Diklat 11
Budidaya Ikan Lele Dumbo

LEMBAR INFORMASI 5.

Pendederan
Pendederan adalah pemeliharaan benih lele dumbo yang berasal dari
hasil pembenihan sehingga mencapai ukuran tertentu. Pendederan dilakukan
dalam dua tahap, yakni pendederan pertama dan pendederan kedua. Pada
pendederan pertama, benih lele dumbo yang dipelihara adalah benih yang
berasal dari pembenihan yang berukuran 1 – 3 cm. Benih ini dipeliharan selama
12 – 15 hari sehingga saat panen akan diperoleh lele dumbo berukuran kurang
lebih 5 – 6 cm perekornya. Pada pendederan ke dua, benih yang dipelihara
berasal dari hasil pendederan pertama. Pemeliharaan dilakukan selama 12 – 15
hari sehingga diperoleh benih lele dumbo berukuran 8 – 12 cm perekornya.
Pendederan ini dapat dilakukan di kolam tanah atau kolam tembok.

1. Persiapan kolam
Sebelum benih ditebar, dilakukan persiapan kolam terlebih dahulu.
Persiapan kolam meliputi pengeringan kolam, perbaikan pematang, pengolahan
dasar kolam, perbaikan saluran pemasukan dan pengeluaran air, pemupukan
dan pengapuran. Perbaikan pematang bertujuan untuk mencegah kebocoran
kolam. Kebocoran kolam dapat diakibatkan oleh binatang air seperti belut,
kepiting dan hewan air lainnya. Pematang bocor mengakibatkan air kolam tidak
stabil dan benih ikan banyak yang keluar kolam.
Pengolahan dasar kolam dilakukan dengan mencangkul dasar kolam.
Tujuan pengolahan dasar kolam adalah untuk menguapkan gas beracun yang
terdapat di dasar kolam. Tanah yang baru dicangkul diratakan. Setelah dasar
kolam rata, lalu dibuat saluran ditengah kolam. Saluran ini disebut kemalir.
Kemalir berfungsi untuk memudahkan pemanenan dan sebagai tempat
berlindung benih ikan pada siang hari. Saluran pemasukan dan pengeluaran air
dilengkapi dengan saringan. Tujuannya untuk menjaga agar tidak ada hama
yang masuk ke dalam kolam dan benih lele dumbo tidak kabur atau keluar
kolam.

Modul Diklat 12
Budidaya Ikan Lele Dumbo

Gambar 10. Pengolahan Dasar Kolam

Setelah pengolahan dasar kolam dan perbaikan pematang, kemudian


dilakukan pemupukan dan pengapuran kolam. Tujuan dari pemupukan adalah
untuk menumbuhkan phytoplankton dan zooplankton yang digunakan sebagai
pakan alami benih ikan lele. Kolam dipupuk menggunakan kotoran ayam
sebanyak 300 – 500 gr/m2, TSP dan Urea masing-masing sebanyak 10 gr/m2
dan kapur pertanian sebanyak 25 – 30 gr/ m2 atau disesuaikan dengan tingkat
kesuburan lahan. Tujuan dari pengapuran selain untuk menaikan tingkat
keasaman tanah (pH), juga dapat membunuh bibit penyakit. Cara pemupukan
dan pengapurannya adalah dengan menebarkan pupuk dan kapur secara
merata ke seluruh permukaan dasar kolam.
Setelah pemupukan dan pengapuran dilakukan, kolam diisi dengan air
setinggi 40 – 50 cm dan dibiarkan selama 4 – 6 hari agar pakan alami tumbuh
dengan sempurna.
2. Penebaran benih.
Penebaran benih dilakukan setelah 6 hari dari pemupukan atau saat pakan
alami telah tersedia. Penebaran benih dilakukan pada pagi atau sore hari
dengan kepadatan 200 – 300 ekor/M2 berukuran 1 - 3 cm per ekornya.

Modul Diklat 13
Budidaya Ikan Lele Dumbo

Penebaran harus dilakukan dengan hati-hati agar benih lele dumbo tidak
mengalami stress. Benih yang akan didederkan sebaiknya jangan ditebar
langsung ke kolam namun terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi untuk
menghindari perubahan suhu yang mencolok antara suhu air kolam dan suhu air
pada wadah pengangkutan.
Cara penebaran untuk proses adaptasi (aklimatisasi) benih lele dumbo cukup
mudah. Benih lele dumbo yang masih berada di dalam wadah pengangkutan di
biarkan terapung-apung diatas permukaan air selama 5 menit. Selanjutnya
ditambahkan air dari kolam ke wadah pengangkutan sedikit demi sedikit.
Dengan cara ini diharapkan kualitas air yang ada di dalam wadah pengangkutan
tersebut akan sama dengan yang ada di kolam.

Gambar 11. Penebaran Benih

3. Pemeliharaan benih.
Kegiatan pemeliharaan benih merupakan kegiatan inti dari pendederan. Selama
pemeliharaan, benih harus diberi pakan tambahan. Pakan tambahan berupa
tepung pelet sebanyak 3 – 5 % dari jumlah total benih yang dipelihara. Pakan
diberikan 3 – 4 kali sehari. Agar pemberian pakan lebih efektif, sebaiknya
pemberian pakan disebarkan merata pada kolam pendederan.

Modul Diklat 14
Budidaya Ikan Lele Dumbo

Untuk memperkecil mortalitas atau kehilangan benih, selama pemeliharaan


harus dilakukan pengontrolan terhadap serangan hama dan penyakit. Hama
yang menyerang benih lele berupa belut, ular, ikan gabus. Tindakan
pencegahan penyakit cukup dengan menjaga kualitas dan kuatitas air kolam,
yakni dengan menghindarkan pemberian pakan yang berlebihan. Karena pakan
yang berlebihan akan menumpuk di dasar kolam dan bisa membusuk yang
akhirnya menjadi salah satu sumber penyakit.

4. Pemanenan benih.
Setelah dipelihara selama15 – 20 hari, benih lele dumbo siap dipanen pada pagi
atau sore hari saat suhu rendah. Pemanenan dimulai dengan mempersiapkan
alat-alat panen serta tempat penampungan benih. Setelah semua peralatan
siap, kolam dikeringkan secara perlahan-lahan sampai air tersisa hanya tinggal
dikemalir dan akhirnya habis kering. Selanjutnya benih ditangkap dan ditampung
di dalam wadah yang telah disediakan. Benih disortir atau pisahkan sesuai
dengan ukurannya. Rata-rata benih telah mencapai ukuran 5 – 8 cm per
ekornya. Selanjutya benih dapat dipelihara ditempat lain untuk dibesarkan atau
dijual. Mortalitas selama pemeliharaan lebih kurang 10 – 20 % dari jumlah benih
yang ditebar.

Modul Diklat 15
Budidaya Ikan Lele Dumbo

LEMBAR INFORMASI 6.

PEMBESARAN
Persyaratan Lokasi

Salah satu faktor penentu keberhasilan usaha budidaya ikan lele dumbo
adalah ketepatan dalam pemilihan lokasi atau lahan budidaya. Ada beberapa
faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum menjatuhkan pilihan terhadap lokasi
atau lahan budidaya yang diminati. Memilih lahan budidaya ikan lele dumbo
tidak boleh sembarangan, perlu berbagai pertimbangan. Pertimbangan tersebut
sangat penting agar selama melakukan kegiatan pemeliharaan tidak
menemukan kendala yang menghambat proses produksi. Lahan budidaya yang
dipilih minimal harus ditinjau dari faktor teknis, sosial dan ekonomi.

Adapun persyaratan lahan budidaya ikan lele dumbo adalah sebagai berikut.

1. Fakor Teknis
a. Lahan harus dekat dengan sumber air, tetapi bukan daerah banjir.
b. Air berkualitas baik dan tidak tercemar limbah industri.
c. Ketersediaan air kontinyu atau dapat mengairi kolam sepanjang tahun.
d. Tanahnya subur.

Modul Diklat 16
Budidaya Ikan Lele Dumbo

Suplay Air Kulitas tanah

Gambar 12. Kondisi lahan budidaya ikan lele

2. Faktor Sosial
a. Lingkungan hidup dan kelestarian alam dapat di jaga.
b. Sumber daya alam sekitar dapat digunakan.
c. Penduduk disekitar lokasi dapat dijadikan tenaga kerja.
d. Berdampak positif bagi masyarakat sekitar
e. Keamanan lokasi dapat dijaga.

3. Faktor Ekonomi
a. Lokasinya dekat dengan daerah pemasaran.
b. Sarana produksi mudah diperoleh dangan harga murah.
c. Di lokasi ada prasarana jalan yang baik dan angkutan yang memadai.
d. Sarana penghubung seperti telepon lancar.

Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah aspek teknis. Tanpa
dukungan teknis yang memadai, usaha budidaya ikan lele tidak akan berhasil.
Untuk itu, harus ada tenaga ahli yang menguasai budidaya ikan lele dari seluruh
aspek, yakni aspek biologis, teknis pembenihan, pendederan, pembesaran,

Modul Diklat 17
Budidaya Ikan Lele Dumbo

penanggulangan hama dan penyakit, penyediaan pakan, panen dan pasca


panen. Di samping itu, diperlukan tenaga kerja yang jeli dalam melihat dan
memanfaatkan peluang pasar yang ada.

Kuantitas dan Kualitas Air

Air merupakan faktor terpenting dalam budidaya ikan. Bukan hanya ikan
lele, ikan-ikan lain pun untuk hidup dan berkembang biak memerlukan air.
Tanpa air ikan tidak akan dapat hidup. Karenanya, kualitas dan kuantitas air
harus diperhatikan agar kegiatan budidaya berjalan sesuai dengan yang
diharapkan.

Kuantitas air adalah jumlah air yang tersedia yang berasal dari
sumbernya, seperti sungai atau saluran irigasi untuk mengisi dan mengairi
kolam. Jumlah air yang dibutuhkan atau yang mengalir tersebut dikenal dengan
istilah debit air. Debit air yang dibutuhkan untuk budidaya ikan lele adalah 10
liter per menit.

Air untuk perkolaman dapat berasal dari beberapa sumber seperti mata
air, saluran irigasi dan sungai. Kualitas air adalah variabel-variabel yang dapat
mempengaruhi kehidupan ikan lele. Variabel tersebut dapat berupa sifat fisika,
kimia dan biologi air. Sifat fisika air meliputi suhu, kekeruhan dan warna air. Sifat
kima air adalah kandungan oksigen, karbondioksida, amoniak, dan alkalinitas.
Sifat biologi air meliputi jenis dan jumlah binatang air, seperti plankton yang
hidup di suatu perairan.

Tekstur dan Struktur Tanah

Tanah merupakan faktor mutlak dalam pembuatan kolam budidaya.


Tanah yang baik akan menghasilkan kolam yang kokoh dan kuat, terutama
bagian pematang atau tanggulnya. Tanah yang kokoh dapat menahan tekanan
air yang ada di dalam kolam sehingga kolam tidak mudah jebol dan dapat
menahan air.

Modul Diklat 18
Budidaya Ikan Lele Dumbo

Di Indonesia, ada empat jenis tanah yang dapat dipilih untuk


pembudidayaan ikan lele dumbo, yaitu tanah lempung berpasir, tanah serapan,
tanah berfraksi kasar dan tanah berbatu. Dari keempat jenis tanah tersebut
hanya tanah lempung berpasir yang terbaik untuk kolam. Jenis tanah ini akan
membentuk pematang yang kuat dan kolamnya subur.

Jenis tanah lempung berpasir dapat diketahui dengan cara digenggam.


Bila tidak pecah dan tidak melekat di tangan maka tanah tersebut sangat baik
untuk kolam. Kolam diartikan sebagai genangan air yang sengaja dibuat oleh
manusia dan keadaannya dapat dikendalikan dengan mudah. Dikendalikan
dengan mudah artinya mudah diairi dan dikeringkan dalam waktu cepat.
Membuat kolam tidak sulit, asalkan prinsip kolam sudah di ketahui. Sebuah
kolam harus memiliki tiga bagian utama, yaitu pematang, pintu pemasukan air
dan pintu pengeluaran air.

Gambar 13. Kolam Pemeliharaan Lele

Modul Diklat 19
Budidaya Ikan Lele Dumbo

PERSIAPAN KOLAM

Pembesaran ikan lele dumbo dapat dilakukan di beberapa tempat,


tergantung dari situasi dan kondisi, seperti karamba pada saluran irigasi, kolam
tanah, kolam yang dasarnya tanah dengan dinding tembok, atau kolam yang
semuanya tembok.

Gambar 14. Kolam Tanah dengan Dinding Tembok

A. Pembesaran di Saluran Irigasi


Saluran irigasi dapat saja dimanfaatkan untuk pembesaran ikan lele
dumbo asalkan memenuhi syarat untuk ikan lele dumbo dan memenuhi aturan-
aturan di masyarakat sekitar saluran. Kesepakatan dengan masyarakat ini
memang sangat penting karena saluran irigasi merupakan sumber air bagi
banyak masyarakat.

Usaha pemeliharaan ikan lele dumbo di saluran irigasi ini sebaiknya


hanya untuk pembesaran saja, bukan untuk pembenihan. Hal ini sangat
beralasan karena sangat riskan menebar benih yang berukuran sangat kecil.
Ikan yang masih kecil sangat mudah terbawa aliran air.

Pembesaran ikan lele dumbo di saluran irigasi ini dapat dilakukan asal
tersedia wadah pemeliharaan-nya, yaitu berupa karamba atau pagar
penghalang dari bambu. Sementara benih yang dapat ditebar sebaiknya sudah
berukuran 25 – 50 gram per ekor.

Modul Diklat 20
Budidaya Ikan Lele Dumbo

Karamba untuk pemeliharaan ikan lele dumbo di saluran irigasi ada dua
macam, yaitu karamba yang seluruh bagiannya terendam air dan karamba yang
hanya sebagian saja yang terendam air. Bila menggunakan karamba yang
sebagian saja terendam air, penempatannya sebaiknya diatur secara zig-zag
atau selang – seling. Ini bertujuan untuk melancarkan aliran air dan membuat
sampah tidak tertahan di karamba. Sebaiknya bila menggunakan karamba yang
terendam seluruhnya, penempatannya tidak terlalu bermasalah karena aliran air
akan terus bergerak. Gerakan air yang tidak terhalang karamba menyebabkan
sampah akan mudah hanyut.

Oleh karena sifat dan kebiasaan ikan lele dumbo yang cenderung
melompat dan menentang arus air maka pada bagian depan karamba
sebaiknya diberi tanggul. Tanggul ini berguna untuk memperlambat aliran air
yang masuk ke dalam karamba.
Namun, di bagian atas karamba diberi empat buah cerobong ukuran 5 inci yang
tingginya 10 cm melebihi permukaan air saat air pasang tertinggi. Tujuan
pemasangan cerobong agar air dalam karamba mendapat oksigen langsung
dari udara. Dengan adanya cerobong, ikan lele dumbo yang dipelihara dapat
mengambil oksigen dari udara.

B. Pembesaran di Kolam
Pada kegiatan pemeliharaan ikan lele di kolam tidak ada ketentuan
khusus mengenai luas dan bentuk kolam. Biasanya kolam yang digunakan
adalah kolam tanah atau kolam yang dasarnya tanah tetapi pematang kolam
dapat berdinding tembok atau pematang tanah tetapi mempunyai kekuatan
untuk menahan air. Untuk memudahkan pengelolaan, sebaiknya kolam
berbentuk persegi panjang. Kedalaman kolam pembesaran harus lebih dalam
dari pada kolam yang digunakan untuk pendederan. Kedalaman kolam yang
baik berkisar 75 – 150 cm.

Modul Diklat 21
Budidaya Ikan Lele Dumbo

Gambar 15. Kolam Tanah

1. Pengeringan dan perbaikan kolam


Persiapan kolam dimulai dengan mengeringkan kolam pemeliharaan
beberapa hari sampai permukaan dasar kolam mulai retak-retak dan masih
lembab tetapi jangan sampai tanah menjadi berdebu karena dapat mengurangi
kesuburan tanah. Tujuan pengeringan adalah untuk membunuh hama atau bibit
penyakit yang ada di dasar kolam dan untuk memudahkan perbaikan pematang
kolam terhadap kebocoran serta pengolahan tanah dasar kolam.

Gambar 16. Tahapan Pengeringan Kolam

Pematang kolam yang bocor harus segera diperbaiki dan berukuran kecil
dapat langsung ditutup dengan tanah (kolam tanah) atau semen (kolam

Modul Diklat 22
Budidaya Ikan Lele Dumbo

berdidinding tembok) tetapi apabila kebocoran cukup besar maka sebaiknya


pada tengah-tengah pematang yang bocor di gali kembali dan ditutup dengan
terpal. Setelah pematang selesai diperbaiki kegiatan selanjutnya adalah
pembuatan saluran tengah atau kamalir ditengah-tengah kolam. Cara membuat
saluran tengah ini adalah dengan menggali tanah dari arah air masuk menuju ke
tempat pembuangan air dengan lebar ± 30 cm dan tinggi 15 cm sehingga
menyerupai bentuk saluran. Kemudian dekat pintu pengeluaran dibuat kobakan
dengan ukuran ± (60 x 60 x 25 ) cm. Tanah bekas galiannya diratakan ke
seluruh dasar kolam. Saluran tengah atau kamalir dan kobakan ini mutlak harus
ada karena akan memudahkan pemanenan nantinya.

B
G
F

Gambar 17. Bentuk Kamalir Dan Kobakan

Keterangan:
A. Panjang kolam
B. Lebar kolam
C. Dasar Kolam
D. Kemalir
E. Kobakan
F. Outlet Kolam
G. Outlet Kobakan
H. Inlet kolam

Modul Diklat 23
Budidaya Ikan Lele Dumbo

2. Pemupukan tanah dasar kolam


Pemupukan tanah dasar kolam bertujuan untuk menumbuhkan pakan
alami. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang berupa kotoran ayam
sebanyak 400 – 500 gram per meter persegi, TSP dan Urea masing-masing 10
gram per meter persegi dan kapur pertanian sebanyak 15 gram permeter
persegi. Kapur pertanian ini berfungsi untuk membunuh bibit penyakit dan
menaikan tingkat keasaman (pH) tanah. Pupuk dan kapur diaduk rata kemudian
disebar ke seluruh permukaan tanah dasar kolam.

Gambar 18. Kegiatan Pengapuran


3. Pengairan kolam
Kolam diairi secara bertahap untuk memberikan kesempatan agar pupuk
bereaksi dengan sempurna. Pada hari pertama sampai pada waktu tebar benih,
air kolam sebaiknya tidak ada yang keluar atau terbuang. Sebab, jika ada yang
terbuang keluar, pakan alami yang ada di dalam kolam yang berasal dari hasil
pemupukan bisa terbawa keluar. Ketinggian air yang dianjurkan selama proses
pembesaran sebaiknya tetap dipertahankan setinggi 75 -100 cm.

Modul Diklat 24
Budidaya Ikan Lele Dumbo

Gambar 19. Mengairi Kolam

PENEBARAN BENIH
Hasil pada tahap pendederan benih lele belum cukup untuk dijadikan ikan
konsumsi, karena ukurannya masih kecil, yakni baru mencapai 5 – 8 centimeter
per ekornya. Sementara itu, ikan lele dumbo yang dinilai layak untuk dikonsumsi
adalah jika telah mencapai ukuran 5 – 10 ekor per kilogramnya. Untuk itu hasil
pendederan perlu dipelihara lagi di kolam pembesaran. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa kegiatan pembesaran benih ikan lele dumbo merupakan
pemeliharaan ikan lele dumbo hasil pendederan sampai mencapai ukuran
konsumsi.

Gambar 20. Ikan Lele Pada Kolam Pembesaran

Masa pemeliharaan benih ikan lele dumbo sampai mencapai ukuran


konsumsi, yaitu sekitar 30 – 60 hari atau tergantung dari penebaran ukuran
benih yang diinginkan pada tahap awal pemeliharaan. Misalkan untuk

Modul Diklat 25
Budidaya Ikan Lele Dumbo

pemeliharaan 30 hari, petani memerlukan benih ikan lele dengan ukuran 1 kg isi
40 ekor. Ini diharap-kan pada panen nanti akan menghasilkan ikan lele dumbo
konsumsi ukuran 6 – 10 ekor per kilogramnya.
Penebaran benih atau melepas benih ke dalam kolam baru dapat
dilakukan setelah dipastikan kolam pembesaran benar-benar telah siap untuk
digunakan. Benih ditebar pada pagi atau sore hari saat suhu air kolam rendah
untuk menghindari stres pada benih ikan lele. Jumlah benih lele dumbo yang
akan di tebar disesuaikan dengan ukuran ikan dan luasan kolam. Jika ukuran
benih yang ditebarkan 8 – 12 cm, padat penebaran 50 ekor permeter persegi
dan jika benih lele dumbo yang ditebarkan berukuran 5 – 8 cm, padat
penebaran 60 – 75 ekor permeter persegi. Sebelum penebaran benih ikan lele
dilakukan tahapan aklimatisasi atau adaptasi ikan terhadap suhu dan pH air
pada media pemeliharaan. Caranya yakni kantong plastic yang berisi benih ikan
direndam pada media pemeliharaan. Setelah perendaman 10 – 15 menit benih
secara perlahan-lahan dicampur secara bertahap dengan air dikolam
pemeliharaan. Apabila dianggap ikan telah dapat menyesuaikan diri, dapat
dilakukan penebaran benih ikan.

Gambar 21. Menebar Benih

PEMELIHARAAN
Untuk memacu pertumbuhan, selama pemeliharaan, benih ikan lele
dumbo diberi pakan tambahan. Pakan buatan seperti pelet dan pakan alternatif
dapat diberi-kan. Pakan alternatif yang bisa diberikan kepada lele dumbo berupa
ikan-ikan rucah atau ikan yang sudah tidak layak lagi untuk dikonsumsi manusia
atau telah mengalami pembusukan. Di samping itu, binatang air yang suka

Modul Diklat 26
Budidaya Ikan Lele Dumbo

merusak tanaman padi, seperti keong mas dan bekicot juga bisa diberikan.
Limbah pemindangan dan limbah peternakan ayam bisa menjadi pakan
alternatif untuk ikan lele dumbo.

Gambar 22. Memberi Pakan di Kolam

Jika pakan yang diberikan berupa pakan buatan seperti pelet, pemberian
pakannya dilakukan pada pagi, sore dan malam hari sebanyak 3 – 5 % per hari
dihitung dari jumlah atau bobot ikan lele yang dipelihara.
Pemberian pakan dilakukan secara bertahap agar setiap ekor ikan lele dumbo
memperoleh makanan atau pakan dalam jumlah yang mencukupi. Pemberian
pakan secara asal-asalan bisa mem-pengaruhi pertumbuhan ikan lele, sehingga
ukuran ikan lele yang dipanen tidak rata. Hal ini disebabkan ikan lele yang
hanya sedikit mendapatkan pakan tentu pertumbuhannya lebih lambat
dibandingkan dengan yang mendapat pakan dalam jumlah yang cukup.

Gambar 23. Pakan Pelet

Modul Diklat 27
Budidaya Ikan Lele Dumbo

Pakan alternatif sebagian dapat diberikan langsung kepada ikan lele


dumbo. Bisa juga diolah terlebih dahulu. Pakan berupa keong mas atau bekicot
harus diolah terlebih dahulu dengan cara merebus untuk memisahkan daging
dan cangkangnya. Limbah peternakan ayam berupa bangkai ayam diberikan
setelah terlebih dahulu dibakar atau direbus untuk menghilangkan bulunya.
Selain pemberian pakan, pengotrolan mutlak dilaku-kan untuk
menghindari serangan hama atau penyakit. Hama yang biasa menyerang ikan
lele di kolam pembesaran adalah biawak. Pencegahan dapat di-lakukan dengan
pengontrolan ke sekeliling kolam atau dengan membersihkan sekitar kolam dari
semak semak yang dapat dijadikan sarang biawak. Lama pemeliharaan ikan lele
dumbo di kolam pembesaran 1 sampai 2 bulan atau tergantung dari kebutuhan.

SAMPLING PERTUMBUHAN

Data informasi dasar yang sangat dibutuhkan bagi pelaksana budidaya


ikan dalam hubungannya dengan hasil produksi adalah data pertumbuhan. Laju
pertumbuhan merupakan peningkatan dalam satuan panjang atau bobot per unit
waktu.

Pemantauan pertumbuhan dan kesehatan ikan lele dumbo dilakukan


secara sampling yang dilakukan dengan mengambil sejumlah contoh ikan
dengan menggunakan peralatan sampling, kemudian diamati, diukur, ditimbang
atau dihitung sebagai masukkan data kesehatan dan pertumbuhan ikan. Data
yang diperoleh digunakan untuk menduga bobot rata-rata dan jumlah ikan
dalam wadah budidaya. Sampling dilakukan secara berkala, setiap 2 minggu
pemeliharaan ikan.

1) Pengambilan sampel ikan


Pengambilan sampel ikan lele dumbo dilakukan dengan memperhatikan hal-
hal berikut :
a. Pengambilan sampel dilakukan pada pagi atau
sore hari
b. Sampel ikan diambil dari beberapa titik lokasi pada satu wadah
pemeliharaan

Modul Diklat 28
Budidaya Ikan Lele Dumbo

c. Pengambilan sampel dilakukan dengan hati-hati sehingga tidak


membuat ikan stres
d. Sampel ikan dimasukan pada wadah penampungan dengan hati-hati
e. Setelah selesai pengambilan sampel, segera dilakukan penghitungan
jumlah, pengamatan, pengukuran dan penimbangan tubuh ikan.
f. Ikan segera dikembalikan pada wadah pembesaran

2) Pengisian format
Data lapangan hasil pengamatan, pengukuran dan penimbangan dicatat
dalam format yang telah disediakan.

3) Menghitung bobot ikan


Untuk mengetahui bobot ikan dalam suatu wadah pemeliharaan (biomassa)
dapat menggunakan rumus :

BM = Nt x Wt

Keterangan :
BM = Bobot biomassa (kg)
Nt = Populasi (ekor)
Wt = Bobot rata-rata (kg)

4) Menghitung laju pertumbuhan harian


Pengetahuan dasar yang dibutuhkan dalam budidaya ikan dalam
hubungannya dengan dengan hasil produksi adalah data pertumbuhan. Laju
pertumbuhan merupakan peningkatan dalam satuan panjang atau bobot per
satuan waktu. Rumus yang digunakan :
Bh – Bo x 100%
LPH = Bh + Bo xh
2

LPH = Laju pertumbuhan harian


Bo = Bobot ikan rata-rata pada awal pemeliharaan
Bh = Bobot ikan rata-rata pada hari ke-h
h = Lama pemeliharaan

Modul Diklat 29
Budidaya Ikan Lele Dumbo

5) Menghitung jumlah ikan (populasi)


Untuk mengetahui jumlah ikan dalam suatu wadah pemeliharaan (populasi)
dapat menggunakan rumus :

Nt = No – D

Keterangan :
Nt = Populasi (ekor)
No = Jumlah ikan yang diterbarkan (ekor)
D = Jumlah ikan yang mati (ekor)

Gambar 24. Sampling Atau Seleksi Pertumbuhan

Modul Diklat 30
Budidaya Ikan Lele Dumbo

PEMANENAN
Pemanenan merupakan bagian akhir dari kegiatan pembesaran ikan.
Cara pemanenan ikan lele bisa menentukan kualitas ikan lele. Cara pemanenan
yang baik dan sesuai dengan cara yang dianjurkan akan menghasilkan ikan lele
dumbo yang berkualitas baik pula, yakni ikan lele dalam kondisi hidup, tidak
cacat dan tidak luka-luka. Ikan lele yang berkualitas harga nya tentu lebih tinggi
dibandingkan dengan ikan lele yang telah mati dan penuh luka.

Gambar 25. Memanen Ikan Lele

Teknik pemanenan ikan lele dumbo yang baik adalah sebagai berikut :
a. Mula-mula kolam dikeringkan secara ber tahap pada pagi hari
dengan membuka saluran outlet atau pembuangan airnya sehingga air
hanya tersisa di saluran tengah kolam atau kamalir.
b. Ikan lele dumbo yang ada di kamalir digiring ke arah yang paling
rendah atau kobakan pada pintu pengeluaran, hingga semuanya terkumpul.
c. Ikan lele dumbo ditangkap menggunakan seser atau alat tangkap
lainnya. Dalam hal ini harus dihindari terjadinya luka-luka pada ikan lele
dumbo.
d. Ikan lele dumbo ditampung di waring yang airnya mengalir agar
badannya bersih dari lumpur.
e. Ikan lele dumbo dibiarkan beberapa jam, selanjutnya siap dipasarkan
atau diangkut ke pasar.

Modul Diklat 31
Budidaya Ikan Lele Dumbo

Gambar 26. Waring Tempat Penampungan

Gbr 18. Peralatan Panen

Gambar 27. Alat Pemanenan

Modul Diklat 32
BUDIDAYA LELE DUMBO

LEMBAR INFORMASI 7.

PENGELOLAAN KUALITAS AIR

Di dalam kegiatan budidaya, memelihara ikan berarti memelihara air.


Pengelolaan air ini bertujuan untuk menyediakan lingkungan yang optimal bagi
ikan agar tetap bisa hidup dan tumbuh maksimal. Prinsipnya adalah
memasukkan bahan yang bermanfaat (terutama O2) dan membuang bahan yang
tidak bermanfaat atau bahkan membahayakan (seperti feses, NH3, NO2, CO2)
keluar sistem produksi budidaya. Bentuk pengaturan air lainnya adalah
pengaturan kualitas air yang meliputi kualitas fisik air (suhu, cahaya, salinitas).
Selain itu, pengelolaan air dilakukan dalam bentuk aerasi air, pergantian air,
pemupukan air, pengaturan ketinggian air atau penutupan pintu air.

Beberapa persyaratan kualitas air ini adalah:


1. Salinitas (kadar garam)
Fluktuasi salinitas dapat mempengaruhi pertumbuhan dan nafsu makan
ikan. Selain itu, stratifikasi perbedaan salinitas dapat menghambat
masuknya O2 dari udara ke air. Kisaran salinitas yang ideal untuk
pemeliharaan ikan lele adalah kisaran nilai salinitas air tawar, yaitu
kurang dari 0,5 ppt. Untuk mengetahui nilai salinitas di wadah
pemeliharaan dapat digunakan alat refraktometer/salinometer yang
sebelumnya sudah dikalibrasi (Gambar 28).
Sebelum digunakan, alat tersebut dikalibrasi dengan menggunakan
akuabides. Untuk perubahan salinitas yang terlalu rendah atau terlalu
tinggi dapat diperbaiki dengan melakukan penambahan air tawar agar
salinitas perairan menjadi stabil kembali.

1
BUDIDAYA LELE DUMBO

Gambar 28. Refraktometer

Prosedur Pengukuran Salinitas

• Refraktometer dikalibrasi, dengan cara :


- Penutup prisma dibuka
- 1 – 2 tetes akuades diteteskan ke prisma hingga menutup
seluruh areal prisma
- Penutup prisma di tutup kembali
- Nilai salinitasnya diamati, apabila tidak menunjukkan nilai
pada skala 0 promil, maka skala diatur dengan memutar skrub
pengatur (sambil terus diamati) hingga nilai ditunjukkan tepat pada
skala 0 promil
• Penutup sinar dibuka
• Air yang akan diukur salinitasnya diteteskan ke prisma sebanyak 1
– 2 tetes dan air menutup seluruh areal prisma
• Penutup sinar ditutup kembali
• Skala yang ditunjukkan diamati
• Prisma dibersihkan kembali dengan kertas tissue dan dibilas
dengan akuades menggunakan tissue

2
BUDIDAYA LELE DUMBO

2. Suhu
Perubahan suhu yang tinggi dalam suatu perairan akan mempengaruhi
proses metabolisme, aktifitas tubuh dan syaraf ikan. Suhu optimal untuk
pertumbuhan ikan air tawar tergantung pada jenis ikan yang
dibudidayakan.
Untuk induk ikan lele yang dipelihara dalam wadah berupa bak,
perubahan suhu yang terjadi dapat distabilkan/dikembalikan pada kondisi
semula dengan melakukan penambahan air baru untuk menurunkan suhu
perairan dan menutup atap dengan terpal atau plastik yang menyerap
panas untuk menaikkan suhu. Kisaran suhu normal yang optimal bagi
pemeliharaan induk lele adalah 27 – 28o C.
Sedangkan untuk larva, suhu sebaiknya dipertahankan tetap pada
28 – 30 0 C.
Suhu rendah dibawah normal dapat menyebabkan ikan mengalami
lethargi, kehilangan nafsu makan, dan menjadi lebih rentan terhadap
penyakit. Ikan jangan dibiarkan berada dalam suhu yang terlalu dingin
hanya karena alasan untuk menghemat listrik. Sebaliknya pada suhu
yang terlalu tinggi ikan dapat mengalami stress pernapasan dan bahkan
dapat menyebabkan kerusakan insang permanen.

Peningkatan suhu kadang-kadang diperlukan untuk meningkatkan laju


metabolisma ikan sehingga perlakuan tersebut diharapkan dapat
menolong mempercepat proses penyembuhan suatu penyakit, dan atau
mempercepat siklus hidup suatu parasit sehingga parasit tersebut dapat
segera dihilangkan. Meskipun demikian, perlu diperhatikan bahwa
semakin hangat air maka oksigen terlalut akan semakin sedikit, oleh
karena itu intensitas aerasi perlu ditingkatkan.

Perubahan suhu mendadak dapat menyebabkan ikan mengalami "shock".


Hal ini sering terjadi terutama pada saat memasukan ikan baru kedalam
suatu wadah dimana usaha penyesuaian suhu tidak dilakukan dengan

3
BUDIDAYA LELE DUMBO

baik, atau pada saat menambahkan air baru yang memiliki temperatur
tidak sama.

Penurunan suhu secara perlahan, seperti terjadi apabila heater tidak


berfungsi, jarang menimbulkan shock, meskipun demikian temperatur
hendaknya dikembalikan ke kondisi semula secara perlahan-lahan dalam
waktu satu jam atau lebih.

Dalam kasus temperatur terlalu panas, seperti akibat termostat yang tidak
berfungsi dengan baik, maka intentsitas aerasi hendaknya ditingkatkan
untuk mengkompensasi kadar oksigen terlarut yang rendah, dan biarkan
temperatur air dingin secara alami. Apabila suhu meningkat sampai
melebihi 32°C, dan apabila ikan masih bertahan hidup, maka penggantian
air sebanyak 20% dengan air dingin bisa dilakukan. Pengembalian air
hendaknya dilakukan secara perlahan dengan cara penyiponan dan
peningkatan aerasi.

Alat ukur yang digunakan untuk melihat suhu ini adalah dengan
menggunakan termometer (Gambar 29).

Gambar 29. Termometer air

Penyesuaian Suhu

Suhu dapat diturunkan atau ditingkatkan sesuai dengan kebutuhuan


dengan menggunakan perangkat tertentu. Untuk meningkatkan suhu
dapat digunakan heater. Heater hendaknya selalu terendam air, Heater

4
BUDIDAYA LELE DUMBO

yang terekspos ke udara terbuka secara tidak sengaja seperti pada saat
penggantian air dapat menyebabkan kerusakan fatal pada heater
tersebut, dan bahkan bisa menimbulkan shock listrik. Untuk itu matikan
heater sebelum melakukan penggantian air atau sebelum melakukan
kegiatan apapun yang menyebabkan terjadinya penurunan ketinggian air.

Untuk menurunkan suhu air dan mempertahankannya pada suhu rendah,


dapat digunakan chiller. Chiller merupakan alat yang akan menyerap
panas dari air dan membebaskannya ke udara. Prinsip kerjanya kurang
lebih sama dengan prinsip kerja alat pendingin ruangan atau lemari
pendingin.

Gambar 30. Chiller Gambar 31. Heater

Prosedur Pengukuran Suhu


o Kantong alkohol/raksa (ujung bawah thermometer)
dicelupkan ke dalam air
o Thermometer dilindungi dari sinar matahari dengan
bayangan badan
o Thermometer didiamkan beberapa menit (3 – 5 menit)
dalam air hingga permukaan alkohol/raksa stabil
o Thermometer diangkat dan dibaca skla suhu yang
ditunjukkan

3. Kecerahan

5
BUDIDAYA LELE DUMBO

Kecerahan air tergantung pada warna dan kekeruhan. Kecerahan


merupakan ukuran transparansi perairan, yang ditentukan secara visual
dengan menggunakan secchi disk (Gambar 32).

Gambar 32. Secchi disk


Untuk di kolam, angka kecerahan yang baik antara 20 – 35 cm. Cara
menggunakan piring secchi adalah dengan menenggelamkannya di kolam
pada kedalaman air 20 – 35 cm. Bila angka secchi kurang dari 20 cm
berarti plankton yang pekat dapat mati serentak dan membusuk dalam air
sehingga air menjadi bau dan kekurangan oksigen, akibatnya ikan akan
mati. Untuk itu, perlu dilakukan pergantian air secara berkala. Pergantian
air tersebut bertujuan untuk mengganti air pemeliharaan yang lama
dengan air baru, sehingga adanya akumulasi bahan organik akibat sisa
pakan, kotoran ikan, dan bangkai ikan yang mati yang menyebabkan
penurunan kualitas air dapat dihindari.
Pergantian air sebaiknya dilakukan sebanyak 50 – 70 % dan dilakukan
pada pagi atau sore hari sebelum pemberian pakan setiap 2 – 3 hari
sekali.
Prosedur Pengukuran Kecerahan
• Keping secchi dicelupkan ke dalam air hingga tak
terlihat oleh mata

6
BUDIDAYA LELE DUMBO

• Keping secchi ditarik pelan-pelan hingga hampir


terlihat (samar-samar)
• Panjang tali penggantung (yang telah diberi skala
panjang dari keping secchi sampai batas tali dipermukaan air dicatat
sebagai nilai kecerahan/kekeruhan air
• Prisma dibersihkan kembali dengan kertas tissue dan dibilas
dengan akuades menggunakan tissue

4. Derajat keasaman (pH)


Tolok ukur untuk menentukan kondisi suatu perairan adalah pH (derajat
keasaman). Derajat keasaman suatu perairan menunjukkan tinggi
rendahnya konsentrasi ion hidrogen perairan tersebut. Kondisi perairan
dengan pH netral sampai sedikit basa sangat ideal untuk kehidupan ikan
lele. Suatu perairan yang ber-pH rendah dapat mengakibatkan aktivitas
pertumbuhan menurun atau ikan menjadi lemah serta lebih mudah
terinfeksi penyakit dan biasanya diikuti dengan tingginya tingkat kematian.
Nilai pH untuk pemeliharaan ini adalah 7,8 – 8,2 (Tabel 1). Untuk
mengetahui nilai pH suatu perairan dapat digunakan kertas lakmus atau
pH meter (Gambar 33 dan 34).
Tabel 1. Pengaruh pH terhadap Komunitas Biologi Perairan
Nilai pH Pengaruh Umum
6,0 – 6,5 a. Keanekaragaman plankton dan
bentos sedikit menurun
b. Kelimpahan total, biomassa, dan
produktivitas tidak mengalami perubahan
5,5 – 6,0 c. Penurunan nilai keanekaragaman
plankton dan bentos semakin tampak
d. Kelimpahan total, biomassa dan
produktivitas masih belum mengalami
perubahan yang berari
e. Algae hijau berfilamen mulai
tampak pada zona litoral
5,5 – 5,5 f. Penurunan keanekaragaman dan
komposisi jenis plankton, perifiton dan bentos
semakin besar
g. Terjadi penurunan kelimpahan total
dan biomassa zooplankton dan bentos

7
BUDIDAYA LELE DUMBO

h. Algae hijau berfilamen semakin


banyak
i. Proses nitrifikasi terhambat
4,5 – 5,0 j. Penurunan keanekaragaman dan
komposisi jenis plankton, perifiton dan bentos
semakin besar
k. Penurunan kelimpahan totakl dan
biomassa zooplankton dan bentos
l. Algae hijau berfilamen semakin
banyak
m. Proses nitrifikasi terhambat
Sumber: modifikasi Baker et al., 1990 dalam Novotny dan Olem, 1994

Gambar 33. pH digital

Prosedur Pengukuran pH Air dengan alat digital pH meter


o Contoh air yang akan diukur nilai pH nya diambil dalam
gelas ukur atau wadah lain
o Alat digital pH meter disiapkan dan dicek/dites batu
baterainya, apakah masih bagus atau tidak. Bila sudah soak, batu
baterai diganti dengan yang baru
o Sebelum digunakan, digital pH meter distandarkan terlebih
dahulu dengan larutan pH standar lalu ujung sensor/probe dicelupkan
ke dalam larutan tersebut hingga angka/nilai pH yang terdapat pada
layar monitor tidak berubah lagi/stabil. Misalnya pada pH 4, 7 dan 10.

8
BUDIDAYA LELE DUMBO

Apabila angka pada pH digital belum terarah ke salah satu angka


tersebut, maka dapat dilakukan pemutaran dengan menggunakan
skrup yang berada di sisi kiri/kanan pH digital
o Setelah nilai stabil, alat siap digunakan untuk mengukur
kualitas air

Gambar 34. Kertas Lakmus

Prosedur Pengukuran pH Air dengan alat digital pH meter


• Contoh air yang akan diukur pH nya diambil dengan botol
sampel dan dimasukkan ke dalam beaker glass atau wadah lain
• Kertas pH dicelupkan ke dalam air contoh beberapa saat
sampai tidak terlihat perubahan warna pada kertas pH tersebut
• Warna kertas pH hasil pencelupan dicocokkan dengan
warna standar yang sudah diketahui nilai pH nya
• Hasil pencocokan dicatat sebagai nilai pH air yang diukur

9
BUDIDAYA LELE DUMBO

5. Oksigen terlarut (DO)


Konsentrasi dan kesediaan oksigen terlarut (DO) dalam air sangat
dibutuhkan ikan dan organisme air lainnya untuk hidup. Konsentrasi
oksigen dalam air dapat mempengaruhi pertumbuhan dan konversi
pakan serta mengurangi daya dukung perairan. Kandungan oksigen
terlarut yang optimal bagi ikan lele adalah > 4 ppm (Tabel 2).

Tabel 2. Kadar Oksigen Terlarut dan Pengaruhnya terhadap


Kelangsungan Hidup Ikan
Kadar Oksigen Pengaruh terhadap Kelangsungan
Terlarut (mg/liter) Hidup Ikan
< 0,3 Hanya sedikit jenis ikan yang dapat
bertahan pada massa pemaparan singkat
(short exposure)
0,3 – 1,0 Pemaparan lama (prolonged exposure)
dapat mengakibatkan kematian ikan
1,0 – 5,0 Ikan dapat bertahan hidup, tetapi
pertumbuhannya terganggu
> 5,0 Hampir semua organisme akuatik
menyukai kondisi ini
Sumber: Modifikasi Swingle (1969) dalam Boyd, 1988

Apabila kandungan DO < 5 ppm maka kebutuhan ikan akan oksigen


berkurang sehingga menyebabkan nafsu makan ikan menurun dan
menghambat pertumbuhan ikan. Semakin lama ikan menjadi mati.
Kandungan oksigen terlarut dalam air wadah pemeliharaan dapat
dilihat/diamati dengan menggunakan alat berupa DO meter (Gambar 35
dan 36). Untuk menambah kandungan oksigen terlarut dalam bak
pemeliharaan dapat dilakukan dengan penambahan aerasi atau
pergantian air baru guna memperbaiki kualitas air.

10
BUDIDAYA LELE DUMBO

Gambar 35. DO digital Gambar 36. DO test kit


Berbeda dengan pemasukan air, dalam pergantian air, air dalam bak
pemeliharaan dibuang terlebih dahulu melalui outlet sehingga diharapkan
feses, NH3, NO2, CO2 ikut terbawa. Kemudian air yang dibuang tersebut
diganti dengan air baru yang dimasukkan dalam inlet. Air yang dibuang
adalah yang berada di dasar wadah.
Apabila pemeliharaan ikan dilakukan di dalam bak budidaya, penyiponan
harus dilakukan untuk mempertahankan kualitas air yang ada dalam
wadah. Penyiponan disini dilakukan untuk membuang kotoran yang tidak
terbuang pada saat pergantian air. Penyiponan merupakan tindakan
penyedotan air menggunakan selang. Penyiponan harus dilakukan
secara hati-hati agar kotoran di dasar dan dinding bak tidak teraduk,
karena kotoran yang teraduk dapat menyebabkan ikan menjadi stress.
Pengaturan ketinggian air dimaksudkan untuk menciptakan kondisi suhu
yang sesuai dan stabil bagi ikan yang dipelihara. Selain itu juga untuk
pengaturan cahaya matahari yang masuk.
Pergantian air pemeliharaan dapat dilakukan secara flowthrough selama
beberapa menit/jam. Pergantian air dilakukan sebanyak 50 – 70 % dari
volume air total.

11
BUDIDAYA LELE DUMBO

LEMBAR INFORMASI 8.

PENANGGULANGAN HAMA DAN PENYAKIT IKAN

Masalah terbesar yang sering dianggap menjadi penghambat budidaya ikan


lele adalah munculnya serangan penyakit. Serangan penyakit yang disertai
gangguan hama dapat menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi sangat lambat
(kekerdilan), padat tebar sangat rendah, konversi ikan manjadi sangat tinggi dan
menurunnya hasil panen (produksi). Ikan yang dipelihara dapat terserang hama
dan penyakit karena diakibatkan oleh kualitas air yang memburuk dan malnutrisi.
Pencegahan merupakan tindakan yang paling efektif dibandingkan dengan
pengobatan, Sebab, pen-cegahan dilakukan sebelum terjadi serangan, baik
hama maupun penyakit, sehingga biaya yang dikeluarkan tidak terlalu besar.
Hama pada pemeliharaan ikan lele pada hakeketnya adalah predator, yakni
makhluk yang menyerang dan memangsa ikan. Sementara penyakit adalah
terganggunya kesehatan ikan yang diakibatkan oleh parasit atau non parasit.
Penyakit yang menyerang ikan lele dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
penyakit infeksi dan non infeksi.
Hama
Hama adalah organisme pengganggu yang dapat memangsa, membunuh
dan mempengaruhi produktivitas ikan lele, baik secara langsung maupun
secara bertahap. Hama bersifat sebagai predator yang memangsa
(predator), perusak dan kompetitor (penyaing).
Hama yang menyerang ikan lele biasanya datang dari luar melalui aliran air,
udara atau darat. Hama yang berasal dari dalam biasanya akibat persiapan
kolam yang kurang sempurna.
Hama yang menyerang berupa ular, belut, ikan liar pemangsa dan seluang
(Rasbora). Ikan-ikan kecil yang masuk ke dalam wadah juga akan
mengganggu. Meskipun bukan hama, tetapi ikan kecil-kecil itu menjadi
pesaing bagi ikan dalam hal mencari makan dan memperoleh oksigen.

12
BUDIDAYA LELE DUMBO

Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mencegah serangan hama
terhadap ikan lele :
• Pengeringan dan pengapuran kolam sebelum digunakan. Dalam
pengapuran sebaiknya dosis pemakaiannya diperhatikan atau dipatuhi.
• Pada pintu pemasukan air dipasang saringan agar hama tidak
masuk ke dalam kolam.

Tindakan penanggulangan serangan hama sebagai berikut.

1. Penanggulangan Ular
a. Ular tidak menyukai tempat-tempat yang bersih. Karena itu, cara
menghindari serangan hama ular adalah dengan mejaga kebersihan
lingkungan kolam.
b. Karena ular tidak dapat bersarang di pematang tembok, sebaiknya
dibuat pematang dari beton atau tembok untuk menghindari
serangannya.
c. Perlu dilakukan pengontrolan pada malam hari. Jika ada ular, bisa
langsung dibunuh dengan pemukul atau dijerat dengan tali.

2. Penanggulangan Belut
a. Sebelum diolah, sebaiknya kolam digenangi air setinggi 20 – 30 cm,
kemudian diberi obat pembasmi hama berupa akodan dengan dosis
rendah, yakni 0,3 – 0,5 cc per meter kubik air.
b. Setelah diberi pembasmi hama, kolam dibiarkan selama 2 hari hingga
belut mati. Selanjutnya air dibuang.

3. Penanggulangan Ikan Gabus


a. Memasang saringan di pintu pemasukan air kolam, sehingga hama
ikan gabus tidak dapat masuk.
b. Mempertinggi pematang kolam agar ikan gabus dari saluran atau
kolam lain tidak dapat loncat ke kolam yang berisi ikan lele.

13
BUDIDAYA LELE DUMBO

Penyakit
Penyakit dapat diartikan sebagai organisme yang hidup dan berkembang di
dalam tubuh ikan lele sehingga organ tubuh ikan lele terganggu. Jika salah
satu atau sebagian organ tubuh terganggu, akan terganggu pula seluruh
jaringan tubuh ikan lele. Pada prinsipnya penyakit yang menyerang ikan lele
tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses hubungan antara tiga
faktor, yaitu kondisi lingkungan (kondisi di dalam air), kondisi inang (ikan) dan
kondis jasad patogen (jasad penyakit).

Di lingkungan alam, ikan lele dapat diserang berbagai macam penyakit.


Demikian juga dalam pembudidayaannya, bahkan penyakit tersebut dapat
menyerang ikan lele dalam jumlah besar dan dapat menyebabkan kematian
ikan, sehingga kerugian yang ditimbulkannya pun sangat besar.

1. Penyebab Penyakit
Penyebab penyakit pada ikan lele atau peristiwa yang memicu terjadinya
serangan penyakit antara lain sebagai berikut :
a. Stres
b. Kekurangan gizi
c. Pemberian pakan yang berlebihan
d. Keracunan
e. Memar dan luka
f. Cacat
g. Hama
h. Jasad patogen (penyakit)

14
BUDIDAYA LELE DUMBO

2. Bagian Tubuh Ikan Yang Diserang Penyakit


Berdasarkan daerah penyerangan penyakit pada tubuh ikan lele,
terutama penyakit infeksi, dibagi menjadi 3 yaitu sebagai berikut.
a. Kulit
Ikan yang terserang penyakit pada kulitnya akan terlihat lebih pucat
dan berlendir. Ikan tersebut biasanya akan menggosok-gosokkan
tubuhnya pada benda-benda yang ada di sekitarnya.
b. Insang
Serangan penyakit pada insang menyebabkan ikan sulit bernafas,
tutup insang mengembang dan warna insang menjadi pucat. Pada
lembaran insang sering terlihat bintik-bintik merah karena pendarahan
kecil (peradangan).
c. Organ Dalam
Penyakit yang menyerang organ dalam sering mengakibatkan perut
ikan membengkak dengan sisik yang berdiri. Sering pula dijumpai
perut ikan menjadi kurus. Jika menyerang usus, biasa nya akan
mengakibatkan peradangan dan jika menyerang gelembung renang,
ikan akan kehilangan keseimbangan pada saat berenang.

3. Pencegahan Penyakit
Beberapa tindakan pencegahan penyakit yang dapat dilakukan sebagai
berikut.
a. Sebelum pemeliharaan, kolam harus dikeringkan dan dikapur untuk
memotong siklus hidup penyakit.
b. Kondisi lingkungan harus tetap dijaga, misalnya kualitas air tetap baik.
c. Pakan tambahan yang diberikan harus sesuai dengan dosis yang
dianjurkan. Jika berlebihan dapat mengganggu lingkungan dalam
kolam.
d. Penanganan saat panen harus baik dan benar untuk menghindari agar
lele tidak luka-luka.

15
BUDIDAYA LELE DUMBO

e. Harus dihindari masuknya binatang pembawa penyakit seperti burung,


siput atau keong mas.

4. Jenis Penyakit
Penyakit non-infeksi adalah penyakit yang timbul akibat adanya gangguan
faktor yang bukan pathogen. Penyakit non-infeksi tidak menular.
Sementara penyakit akibat infeksi biasanya timbul karena gangguan
organisme pathogen.
1. Penyakit non-infeksi
Penyakit non-infeksi yang banyak ditemukan adalah keracunan dan
kekurangan gizi. Keracunan dapat disebabkan oleh pemberian pakan
yang berjamur, berkuman dan pencemaran lingkungan perairan.
Gejala keracunan dapat diidentifikasi dari tingkah laku ikan. Biasanya
ikan yang mengalami keracunan terlihat lemah dan berenang tidak
normal dipermukaan air. Pada kasus yang berbahaya, ikan berenang
terbalik kemudian mati. Penyakit karena kurang gizi, ikan tampak kurus
dan kepala terlihat lebih besar, tidak seimbang dengan ukuran tubuh.
Ikan juga akan terlihat kurang lincah.
Untuk mencegah terjadinya keracunan, pakan harus diberikan secara
selektif dan lingkungan dijaga agar tetap bersih. Bila tingkat keracunan
tidak terlalu parah atau masih dalam taraf dini, ikan-ikan yang stress
dan berenang tidak normal harus segera diangkat dan ditempatkan
pada wadah yang berisi air bersih, segar dan dilengkapi dengan suplai
oksigen.
Untuk mencegah kekurangan gizi, pemberian pakan harus terjadwal
dan jumlahnya cukup. Pakan yang diberikan harus dipastikan
mengandung kadar protein tinggi yang dilengkapi lemak, vitamin A,
mineral. Selain itu, kualitas air tetap dijaga agar selalu mengalir lancar
dan parameter kimia maupun biologi mencukupi standar budidaya.

16
BUDIDAYA LELE DUMBO

2. Penyakit akibat infeksi


Organisme pathogen yang menyebabkan infeksi biasanya berupa
parasit, jamur, bakteri atau virus.

a) Penyakit disebabkan parasit


Penyakit tersebut disebabkan oleh parasit dari golongan protozoa
dari jenis Ichtyhyopthirius multifilis. Penyakit ini sering disebut
sebagai “white spot”. Gejala yang timbul berupa bintik-bintik putih
pada permukaan kulit dan insang. Organisme ini menempel pada
tubuh ikan secara bergerombol sampai ratusan jumlahnya
sehingga akan terlihat seperti bintik putih. Tempat yang disukainya
dibawah selaput lendir sekaligus merusak selaput lendir tersebut.
Penyakit ini banyak timbul pada kolam yang airnya tidak berganti
(air tergenang). Pada air yang mengalir, penyakit ini jaring terjadi.
Bila perairan mengalami perubahan suhu mendadak, serangannya
akan semakin meningkat. Pada tahap awal serangan, penyakit ini
biasanya menyerang daerah pangkal sirip ikan. Bila keadaan
mendukung, daerah serangan akan semakin meluas hingga ke
insang.
Tanda-tanda Penyakit

Ikan-ikan yang terjangkit akan menunjukkan penampakan berupa


bintik-bintik putih pada sirip, tubuh, insang atau mulut. Masing-
masing bintik ini sebenarnya adalah individu parasit yang diselimuti
oleh lapisan semi transparan dari jaringan tubuh ikan. Pada awal
perkembangannya bintik tersebut tidak akan bisa dilihat dengan
mata. Tapi pada saat parasit tersebut makan, tumbuh dan
membesar, sehingga bisa mencapai 0.5-1 mm, bintik tersebut
dapat dengan mudah dikenali. Pada kasus berat beberapa individu
dapat dijumpai bergerombol pada tempat yang sama.

17
BUDIDAYA LELE DUMBO

Ikan yang terjangkit ringan sering dijumpai menggosok-gosokan


tubuhnya pada benda-benda lain di dalam wadah sebagai respon
terhadap terjadinya iritasi pada kulit mereka. Sedangkan ikan
yang terjangkit berat dapat mengalami kematian sebagai akibat
terganggunya sistem pengaturan osmotik ikan, akibat gangguan
pernapasan, atau akibat infeksi sekunder. Ikan berukuran kecil dan
burayak dapat mengalami kematian setelah beberapa hari
terjangkit berat.

Ikan yang terjangkit berat akan menunjukkan perilaku abnormal


dan disertai dengan perubahan fisiologis. Mereka akan tampak
gelisah atau meluncur kesana kemari dengan cepat dan siripnya
tampak bergetar (mungkin sebagai akibat terjadinya iritasi pada
sirip tersebut). Pada ikan yang terjangkit sangat parah, mereka
akan tampak lesu, atau terapung di permukaan. Kulitnya berubah
menjadi pucat dan mengelupas, sirip tampak robek-robek dan
compang-camping. Insang juga tampak memucat. Terjadinya
kerusakan pada kulit dan insang ini akan memicu ikan mengalami
stres osmotik dan stres pernapasan. Stres pernapasan ditunjukkan
dengan pergerakan tutup insang yang cepat (megap-megap) dan
ikan tampak mengapung di permukaan dalam usahanya untuk
mendapatkan oksigen lebih banyak. Apabila ini terjadi
peluang ikan untuk dapat disembuhkan akan relatif sangat kecil.

Gambar 37. Gejala "white spot" ditandaidengan munculnya bintik –


bintik putih di sekujur badan dan atau sirip

18
BUDIDAYA LELE DUMBO

Pencegahan

Tindakan karantina terhadap ikan yang akan dipelihara merupakan


tindakan pencegahan yang sangat dianjurkan dalam menghindari
berjangkitnya white spot. Pada dasarnya white spot termasuk mudah
dihilangkan apabila diketahui secara dini. Berbagai produk anti white
spot banyak dijumpai di toko-toko perikanan. Produk ini biasanya
terdiri dari senyawa-senyawa kimia seperti metil biru, malachite green,
dan atau formalin. Meskipun demikian, ketiga senyawa itu tidak akan
mampu menghancurkan fase infektif yang hidup di dalam tubuh kulit
ikan. Oleh karena itu, pemberian bahan ini harus dilakukan berulang-
ulang untuk menghilangkan white spot secara menyeluruh dari wadah
pemeliharaan.

Perlu diperhatikan bahwa spesies ikan tertentu, khususnya yang tidak


bersisik, seperti lele, diketahui sangat tidak toleran terhadap produk-
produk anti white spot, oleh karena itu, perhatikan cara pemberian
obat-obatan tersebut pada kemasannya dengan baik

Perlakuan perendaman dengan garam dalam jangka panjang (selama


7 hari pada dosis 2ppt (part per thousand)) diketahui dapat
menghilangkan white spot. Perlakuan ini hanya dapat dilakukan pada
ikan-ikan yang tahan terhadap garam.

Wadah dapat dibersihkan dari white spot dengan cara memindahkan


seluruh ikan dari wadah tersebut. Pada lingkungan tanpa ikan sebagai
inang, fase berenang dari whte spot akan mati dengan sendirinya.
Pada wadah pemeliharaan ikan lele dengan suhu diatas 21°C, akan
terbebas dari white spot setelah dibiarkan selama 4 hari. Akan lebih
aman lagi apabila wadah tersebut dibiarkan selama 7 hari. Semua
peralatan budidaya juga akan terbebas dari white spot setelah
dibiarkan selama 7 hari.

19
BUDIDAYA LELE DUMBO

Radiasi dengan sinar ultra violet dapat pula membantu mengurangi


populasi white spot.

Ikan yang lolos dari serangan white spot diketahui akan memiliki
kekebalan terhadap penyakit tersebut. Kekebalan ini dapat bertahan
selama beberapa minggu atau beberapa bulan. Meskipun demikian
ketahanan ini dapat menurun apabila ikan yang bersangkutan
mengalami stres atau terjangkit penyakit lain.

Untuk mencegah agar tidak berjangkit penyakit bintik putih, air kolam
harus sering diganti atau dialiri air baru yang segar dan jernih. Harus
dijaga agar air buangan ini tidak menularkan kepada ikan di kolam-
kolam lain.

Pengobatan
Obat hanya dianjurkan untuk pencegah penyakit. Sebenarnya
pemakaian antibiotik kurang baik pengaruhnya terhadap ikan dan
lingkungan. Oleh karena itu, pemakaiannya tidak dianjurkan pada ikan
yang dikonsumsi. Obat ini akan tertinggal dalam jaringan daging atau
lemak dan ini berbahaya bagi kesehatan.
Beberapa obat yang dapat dipakai untuk mengobati penyakit bintik
putih adalah:
Malachyte green. Obat ini diberikan sebanyak 1 gram (berupa
serbuk) untuk air kolam 10 m2, pengobatan diulang setiap 2 hari;
dalam 10 hari, ikan yang sakit akan sembuh. Dalam pengobatan cara
ini, apalagi yang dilakukan cukup lama, kolam harus diaerasi dan ikan
diberi makanan yang cukup baik.
Formalin. Ikan yang sakit direndam setiap hari dalam larutan formalin
30% (dalam dosis 1 : 2000), lamanya perendaman 1 jam.
Garam dapur. Larutan garam dapur sebanyak 30 mg per liter dengan
waktu perendaman 1 menit dan dilakukan setiap hari, selama 3 – 5

20
BUDIDAYA LELE DUMBO

hari berturut-turut. Cara ini juga dapat menyembuhkan penyakit bintik


putih.
Methilene blue. Caranya, dibuat larutan methyl biru dengan
konsentrasi 1 % (satu gram metal biru dalam 100 cc air). Ikan yang
sakit kemudian dimasukkan dalam wadah yang berisi air bersih.
Kemudian didalamnya diberi larutan baku yang sudah dibuat tadi. Ikan
dibiarkan di dalam larutan selama 24 jam. Agar ikan yang sakit benar-
benar sembuh dan terbebas dari parasit, pengobatan dilakukan
berulang-ulang selama tiga kali dengan selang waktu sehari.

b) Penyakit disebabkan jamur


Penyakit lain yang dapat menyerang ikan lele adalah penyakit jamur.
Penyakit jamur biasanya terjadi akibat adanya luka pada badan ikan.
Luka tersebut dapat berupa goresan maupun luka akibat serangan
penyakit (penyakit lain). Penyebab penyakit jamur ini adalah
Saprolegnia sp (Gambar 38) dan Achyla sp (Gambar 39). Pada kondisi
perairan yang jelek, kemungkinan ikan terserang jamur lebih besar.
Tanda adanya jamur ini terlihat sebagai serabut putih seperti kapas
yang tumbuh pada bagian tubuh ikan yang terluka.

Gambar 38. Saprolegnia sp Gambar 39. Achyla sp

21
BUDIDAYA LELE DUMBO

Cara mudah untuk mengetahui ikan yang terserang jamur adalah


dengan mengamati keadaan tubuhnya. Ikan yang terserang penyakit
jamur, pada bagian tubuhnya (terutama daerah kepala, tutup insang,
sirip dan bagian punggung) tampak ditumbuhi benang-benang halus
seperti kapas berwarna putih hingga kecoklatan. Benang-benang
halus tersebut biasanya lebih banyak tumbuh pada bagian tubuh yang
terluka.

Pencegahan
Pencegahan jamur dapat dilakukan dengan cara menjaga kualitas air
agar kondisinya tetap baik. Agar ikan tidak terluka, perlakuan hati-hati
pada saat pemeliharaan ikan lele sangat perlu diperhatikan.

Pengobatan
Penyakit ikan yang disebabkan oleh jamur dapat diobati dengan tiga
cara, yaitu direndam larutan kalium permanganate, larutan garam
dapur, dan larutan malachite green.
Ikan direndam dalam larutan kalium permanganate 1 gram per 100
liter, selama 60 – 90 menit. Ikan direndam dalam larutan garam dapur
(10 gram per liter) selama 1 menit. Sedangkan untuk mengobati
penyakit ikan dengan malachite green, sebelumnya dibuat larutan
baku (1 mg serbuk dilarutkan dalam 450 ml air). Untuk merendam
ikan, 1 – 2 ml larutan baku itu dilarutkan (diencerkan) dalam 1 liter air,
untuk dipakai merendam ikan selama 1 jam. Pengobatan diulang
sampai tiga hari berturut-turut.

c) Penyakit disebabkan bakteri


Penyakit disebabkan bakteri juga menjadi ancaman bagi ikan lele.
Penyakit bakteri yang mungkin menyerang ikan adalah Aeromonas sp
(Gambar 40) dan Pseudomonas sp.

22
BUDIDAYA LELE DUMBO

Gambar 40. Aeromonas sp

Ikan yang terserang bakteri mengalami perdarahan pada bagian tubuh


terutama di bagian dada, perut dan pangkal sirip. Selaput lendir rusak
dan lendir pada tubuh berkurang. Penyakit ini juga menimbulkan
kerusakan pada organ dalam (hati, limpa), daging, dan menimbulkan
gejala bisul-bisul yang menyebabkan borok-borok.

Gejala ini dapat diketahui bila ikan diraba tubuhnya akan terasa kasar
atau kasap. Ikan yang terserang bakteri menjadi lemah dan sering
muncul kepermukaan air. Karena penyakit ini mudah menular maka
bila ada ikan yang sudah terserang dan keadaannya cukup parah
harus segera dimusnahkan.

Pencegahan
Pada umumnya bibit penyakit, apalagi berupa bakteri yang sangat
kecil dan sudah tersebar di semua perairan, sukar sekali diberantas
sampai tuntas. Karena air merupakan media penular yang membawa
bibit-bibit penyakit secara luas. Maka cara pencegahanlah yang harus
dipahami benar-benar oleh petani ikan. Ikan akan terhindar dari wabah
penyakit apabila ikan selalu dalam kondisi yang baik. Kondisi baik
artinya, makanan cukup, keadaan lingkungan baik, bersih dari segala

23
BUDIDAYA LELE DUMBO

pencemaran, agar ikan-ikan berdaya tahan tinggi untuk membentuk


kekebalan alamiah terhadap berbagai penyakit.

Pengobatan
Untuk ikan yang sakit, dapat diobati dengan beberapa obat, antara
lain antibiotika. Misalnya saja merendam ikan dalam larutan
oksitetrasiklin 5 ppm selama 24 jam, merendam ikan dalam larutan
nitrofuran 5 – 10 ppm selama 12 – 24 jam, merendam ikan dalam
larutan kalium permanganate (PK) 10 – 20 ppm selama 30 – 60 menit.
Obat-obat antibiotika seperti Kemicitin, Tetrasiklin, Streptomisin yang
berupa serbuk, dicampurkan ke dalam makanan ikan. Dosisnya harus
diperhitungkan agar setiap 100 gram berat ikan, dapat memakan 1 mg
antibiotika itu per hari. Lama pemberian obat ini 2 – 3 minggu.
Antibiotika juga dapat diberikan dengan disuntikkan. Dosisnya, untuk
larutan chloramphenicol (kemicitin) 1 : 1,5 sebanyak 1 – 2 ml
disuntikkan ke dalam rongga perut (intra abdomincal cavity) untuk
setiap berat badan ikan 200 gram. Penyuntikan perlu diulang setiap 2
– 3 hari sampai jangka waktu 2 minggu. Kalau cara ini berhasil,
biasanya dapat terlihat gejala penyembuhan dari hari ke hari.
Cara lain yang lebih praktis dalam pengobatan penyakit bakteri adalah
melalui makanan. Makanan ikan yang akan diberikan dicampur dulu
dengan chloromycetin 1 – 2 gram untuk setiap 1 kg pellet. Hal yang
harus diperhatikan adalah tetap menjaga kualitas air agar selalu
sesuai dengan kebutuhan hidup yang ideal bagi ikan.
Perlu diketahui bahwa apabila pemakaian antibiotika tidak sesuai
dengan dosis yang telah ditetapkan, atau perhitungannya kurang
cermat, maka lama kelamaan bakteri akan kebal terhadap obat itu.
Akibatnya, obat tersebut tidak mempan lagi untuk memberantas jenis
bakteri tertentu.

24
BUDIDAYA LELE DUMBO

LEMBAR INFORMASI 9.

PAKAN IKAN LELE

Makanan adalah sumber energi bagi mahluk hidup, begitu juga dengan
ikan dimana tanpa makanan ikan tidak akan tumbuh dan berkembang biak.
Istilah makanan dalam dunia perikanan adalah pakan.
Pakan yang diberikan kepada ikan peliharaan dapat berupa pakan buatan,
pakan alami dan pakan tambahan.
Pakan alami adalah sejenis pakan ikan yang berupa organisme air.
Organisme ini secara ekosistem merupakan produsen primer atau level
makanan dibawah ikan dalam rantai makanan. Ikan dalam memanfaatkan pakan
alami bergantung kepada kebiasaan makan ikan dan ukuran tubuh dari pakan
alami itu sendiri. Pakan alami dapat berupa tumbuh-tumbuhan maupun hewani
yang hidup di air.
Pakan buatan adalah pakan yang dibuat dari bahan makanan baik nabati
maupun hewani dengan memperhatikan kandungan gizi, sifat dan ukuran ikan.
Dengan diberikan makanan buatan maka kebutuhan gizi ikan dapat dipenuhi
setiap saat tanpa bergantung pada pakan alami yang ada. Bentuk pakan buatan
disesuaikan dengan sifat dan ukuran ikan yaitu; berbentuk pellet, cairan (emulsi
dan suspensi), lembaran (flake atau wafer) dan remahan.
Untuk mengurangi biaya produksi dalam usaha perikanan, maka pakan
buatan dapat dibuat sendiri, karena pakan buatan yang ada dipasaran saat ini
cukup mahal.
A. Pakan Alami
Pakan lele dapat berupa pakan alami atau buatan (pellet) tergantung pada
ukuran lele yang kita beri pakan (larva atau benih). Larva ikan lele ukurannya
masih sangat kecil, terutama ukuran bukaan mulutnya sehingga diperlukan
pakan yang ukurannya sesuai dengan ukuran bukaan mulut ikan. Untuk itu, larva
ikan lele dapat diberikan pakan berupa pakan alami, seperti chlorella, rotifera,
tubifex, artemia atau dapat juga diberikan pakan buatan seperti emulsi kuning
telur (ayam atau itik).

25
BUDIDAYA LELE DUMBO

Pakan alami berupa artemia dapat kita beli di toko-toko perikanan, akan
tetapi harganya cukup mahal sehingga untuk menggantinya dapat digunakan
pakan alami lain seperti chlorella, daphnia ataupun tubifex. Pakan-pakan
tersebut selain harganya cukup murah, ketersediaannyapun dapat kita
pertahankan melalui kultur pakan alami sehingga untuk mendapatkannya tidak
perlu lagi membeli atau mengambil dari tempat lain.
Selain itu, masih ada beberapa pakan alami lainnya yang dapat kita
budidayakan, seperti: Tetraselmis; Dunaliella; Diatomae; Spirulina; Brachionus;
Infusoria; dan Jentik-jentik Nyamuk.
Berdasarkan media tumbuhnya pakan alami dapat dibedakan menjadi dua
kelompok yaitu pakan alami air tawar dan pakan alami air laut. Jenis pakan alami
air tawar yang sudah banyak dibudidayakan antara lain adalah moina, daphnia,
brachionus, tubifex, sedangkan jenis pakan alami air laut yang sudah
dibudidayakan adalah jenis-jenis phytoplankton, Brachionus, Artemia salina.

Chlorella
Chlorella termasuk dalam phytoplankton, bentuknya bulat atau bulat telur,
mempunyai khloroplas seperti cawan, dindingnya keras, padat dan garis
tengahnya 5 mikron, perkembangbiakan terjadi secara aseksual, yaitu dengan
pembelahan sel atau pemisahan autospora dari sel induknya, habitatnya adalah
tempat-tempat yang basah dan medianya mengandung cukup unsur hara seperti
N, P, K dan unsur mikro lainnya (karbon, nitrogen, fosfor, sulfur dan lain-lain)

Gambar 41. Chlorella sp

26
BUDIDAYA LELE DUMBO

Penyiapan Bibit
1. Alat-alat yang akan digunakan dicuci dengan deterjen, kemudian
dibilas dengan larutan klorin 150 ppm
2. Dalam wadah 1 galon:
• Menggunakan stoples atau botol “carboys”, slang aerasi, dan
batu aerasi
• Botol diisi medium ± 3 liter, untuk Chlorella air laut
menggunakan medium dengan kadar garam 15 permil, dan untuk
Chlorella air tawar dapat menggunakan air tawar yang disaring
dengan kain saringan 15 mikron
• Air disterilkan dengan cara mendidihkan, klorinasi, atau
penyinaran dengan lampu ultraviolet
• Pemupukan dengan menggunakan ramuan Allen-Miguel, yang
terdiri dari 2 larutan, yaitu: (1) Larutan A, terdiri dari 20 gram KNO3
dalam 100 ml air suling; (2) Larutan B, terdiri dari: 4 gram
Na2HPO4.12H2O; 2 gram CaCl2.6H2O; 2 gram FeCl3; dan 2 ml
HCl; semuanya dilarutkan dalam 80 ml air suling
• Setiap 1 liter medium, menggunakan 2 ml larutan A dan 1 ml
larutan B
3. Dalam wadah 60 liter atau 1 ton
o Wadah dicuci dan dibebashamakan. Air untuk medium harus
disaring. Medium dipupuk dengan jenis dan takaran: 100 mg/liter
pupuk TSP, Urea sebanyak 10-15 mg/liter dan pupuk KCl
sebanyak 10-15 mg/l
o Untuk pertumbuhan dalam wadah besar (1ton) cukup
menggunakan urea dengan takaran 50 gram/m3
Pemeliharaan
1. Dalam wadah 1 galon :
• Bibit ditebar dalam medium yang telah diberi pupuk, sampai
airnya berwarna agak kehijau-hijauan. Bibit yang masuk disaring
dengan saringan 15 mikron

27
BUDIDAYA LELE DUMBO

• Wadah disimpan di dalam ruang laboratorium di bawah


penyinaran lampu neon, dan air diudarai terus-menerus
• Setelah ± 5 hari, Chlorella sudah tumbuh dengan kepadatan
sekitar 10 juta sel/ml. Airnya berwarna hijau segar
• Hasil penumbuhan ini digunakan sebagai bibit pada
penumbuhan dalam wadah yang lebih besar.
2. Dalam wadah 60 liter atau 1 ton :
o Untuk wadah 60 liter membutuhkan 1 galon bibit dan untuk
wadah 1 ton membutuhkan 5 galon bibit
o Selain dipupuk, dapat dilepaskan ikan mujair besar 4-5
ekor/m2 yang diberi makan pelet secukupnya, bertujuan sebagai
penghasil pupuk organik dari kotorannya
o Wadah disimpan dalam ruangan yang kena sinar matahari
langsung
o Setelah 5 hari pertumbuhan terjadi dan pada puncaknya
dapat mencapai kepadatan 5 juta sel/ml
o Secara berkala medium perlu dipupuk susulan, penambahan
air baru, dan pemberian obat pemberantas hama
Pemanenan
Chlorella dipanen dari perairan masal 60 l/ 1 ton dan dapat langsung
diumpankan pada ikan

Tetraselmis
Merupakan phytoplankton yang hidup pada salinitas 15 - 36 ppt dan
kisaran suhu 15 - 350 C, mempunyai empat buah flagella dan berukuran 7 – 12
mikron, mempunyai kloroplas, perkembangbiakan secara aseksual yaitu
pembelahan sel dan seksual yaitu dengan bersatunya khloroplas dari gamet
jantan dan betina.

28
BUDIDAYA LELE DUMBO

Gambar 42. Tetraselmis sp

Penyiapan Bibit
1. Dalam wadah 1liter
• Dapat menggunakan botol erlenmeyer. Botol, slang plastik, dan
batu aerasi dicuci dengan deterjen dan dibilas dengan larutan klorin
150 ml/ton
• Wadah diisi air medium dengan kadar garam 28 permil yang
telah disaring dengan saringan 15 mikron. Kemudian disterilkan
dengan cara direbus, diklorin 60 ppm dan dinetralkan dengan 20
ppm Na2S2O3, atau disinari lampu ultraviolet
• Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :
a. Natrium nitrat – NaNO3 = 84 mg/l
b. Natrium dihidrofosfat-NaH2PO4 = 10 mg/l atau
Natrium fosfat- Na3PO4 = 27,6 mg/l atau Kalsium fosfat-
Ca3(PO4)2 =11,2 mg/l
c. Besi klorida – FeCl3 = 2,9 mg/l
d. EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid) = 10 mg/l
e. Tiamin-HCl (vitamin B1) = 9,2 mg/l
f. Biotin = 1 mikrogram/l
g. Vitamin B12 = 1mikrogram/l
h. Tembaga sulfat kristal CuSO4.5H2O = 0,0196 mg/l
i. Seng sulfat kristal ZnSO4.7H2O = 0,044 mg/l
j. Natrium molibdat-NaMoO4.7H2O = 0,02 mg/l
k. Mangan klorida kristal-MnCl2.4H2O = 0,0126 mg/l

29
BUDIDAYA LELE DUMBO

l. Kobalt korida kristal-CoCl2.6H2O = 3,6 mg/l


2. Dalam wadah 1 galon (3 liter):
• Dapat menggunakan botol “carboys” atau stoples
• Persiapan sama dengan dalam wadah 1 liter
• Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :
1. Urea – 46 = 100 mg/l
2. Kalium hidrofosfat – K2HPO4 = 10 mg/l
3. Agrimin = 1 mg/l
4. Besi klorida – FeCl3 = 2 mg/l
5. EDTA (Ethyelene Dinitro Tetraacetic Acid) = 2 mg/l
6. Vitamin B1 = 0,005 mg/l
7. Vitamin B12 = 0,005 mg/l
3. Dalam wadah 200 liter dan 1 ton
• Wadah 200 liter dapat menggunakan akuarium, dan untuk 1 ton
menggunakan bak dari kayu, bak semen, atau bak fiberglass
• Persiapan lain sama
• Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :
1. Urea-46 = 100 mg/liter
2. Pupuk 16-20-0 = 5 mg/liter
3. Kalium hidrofosfat-K2HPO4 = 5 mg/liter atau Kalium
dihidrofosfat-K2H2PO4 = 5 mg/liter
4. Agrimin = 1 mg/liter
5. Besi klorida-FeCl3 = 2 mg/liter
• Untuk wadah 1 ton dapat hanya menggunakan urea 60 -100
mg/liter dan TSP 20 - 50 mg/liter
Pemeliharaan
1. Dalam wadah 1liter :
• Bibit ditebar dalam medium yang telah diberi pupuk
sebanyak 100.000 sel/ml. Airnya diudarai terus-menerus dan
wadah diletakkan dalam ruang ber-AC, dan di bawah sinar
lampu neon

30
BUDIDAYA LELE DUMBO

• Setelah 4-5 hari telah berkembang dengan kepadatan


4 - 5 juta sel/ml. Hasilnya digunakan sebagai bibit pada
penumbuhan berikutnya
2. Dalam wadah 1 galon (3 liter) :
o Bibit dari penumbuhan dalam wadah 1 liter, ditebar
dalam medium yang telah diberi pupuk, untuk setiap galon
membutuhkan bibit 100 ml, hingga kepadatan mencapai
100.000 sel/ml
o Wadah ditaruh di dalam ruangan ber-AC, di bawah
lampu neon, dan airnya diudarai terus-menerus
o Setelah 4-5 hari telah berkembang dengan kepadatan 4-
5 juta sel/ml. Hasilnya digunakan sebagai bibit pada
penumbuhan berikutnya
3. Dalam wadah 200 liter dan 1 ton
• Wadah 200 liter membutuhkan 3 galon bibit,
sedangkan wadah 1 ton 100 liter
• Dalam waktu 4-5 hari mencapai puncak
perkembangan dengan kepadatan 2-4 juta sel/ml
• Hasil penumbuhan di wadah 200 ton digunakan
sebagai bibit untuk penumbuhan di wadah 1 ton, sedangkan
dari wadah 1 ton dapat digunakan sebagai pakan
Pemanenan
Cara pemanenan langsung diumpankan dan diambil dari budidaya
masal 1 ton.

Scenedesmus sp
• Jenis alga yang berkoloni
• Mempunyai kloroplas pada selnya
• Perkembangbiakkannya dengan pembentukan koloni, dari setiap
sel induk dapat membentuk sebuah koloni awal yang membebaskan
diri melalui suatu pecahan pada dinding sel induk.

31
BUDIDAYA LELE DUMBO

Gambar 43. Scenedesmus sp

Skeletonema costatum
• Bersel tunggal, berukuran 4 – 6 mikron
• Mempunyai bentuk seperti kotak dengan sitoplasma yang
memenuhi sel dan tidak memiliki alat gerak
• Perkembangbiakan melalui pembelahan sel

Gambar 44. Skeletonema costatum

Spirulina sp
Hidup pada pH optimal 7,2 - 9,5 dan maksimal 11, suhu optimal 25 - 35
derajat C, tahan terhadap kadar garam tinggi, yaitu sampai dengan 85 gram
/liter. Spirulina merupakan alga hijau biru yang berbentuk spiral dan memiliki

32
BUDIDAYA LELE DUMBO

dinding sel tipis yang mengandung murein, ,mempunyai dua macam ukuran yaitu
jenis kecil berukuran 1 – 3 mikron dan jenis besar berukuran 3 – 12 mikron.
Perkembangbiakan terjadi secara aseksual atau pembelahan sel yaitu dengan
memutus filamen menjadi satuan-satuan sel yang membentuk filamen baru.

Gambar 45. Spirulina sp

Teknik Budidaya
Wadah dan peralatan lainnya dicuci, kemudian diisi medium dengan kadar
garam 15 - 20 permil. Selanjutnya diberi pupuk cair 1 ml/l, kemudian
diaerasi dan dibiarkan sebentar.
Pemeliharaan
1. Dalam pemeliharaan harus diperhatikan penempatan
wadah agar cukup mendapat cahaya, sehingga fotosintesa dapat
berjalan lancar
2. Setelah tercampur merata, bibit dimasukkan sebanyak 1/5
- 1/10 bagian. Empat hari setelah masa pemeliharaan, dapat dipanen
dan dikultur pada wadah yang lebih besar

Jenis pakan alami yang kedua adalah zooplankton yaitu organisma air
yang melayang-layang mengikuti pergerakan air dan berupa jasad hewani. Jenis
zooplankton yang biasa digunakan sebagai makanan larva atau benih ikan hias
dan sudah dapat dibudidayakan secara massal adalah:

Rotifera, yaitu Brachionus sp

33
BUDIDAYA LELE DUMBO

Hidup pada suhu optimal untuk pertumbuhan dan reproduksi adalah 22 -


30 derajat C, salinitas optimal 10 - 35 ppt, yang betina dapat tahan sampai 98
ppt; kisaran pH antara 5 - 10 dengan pH optimal 7,5 – 8, berwarna putih,
tubuhnya berbentuk seperti piala dan mempunyai panjang 60 – 80 mikron,
terlihat koronanya dan terdapat bulu getar yang bergerak aktif,
perkembangbiakannya dilakukan dengan dua cara yaitu secara parthenogenesis
dan seksual.

Gambar 46. Brachionus sp

Penyiapan Bibit
1. Bibit diambil dari alam
2. Air medium yang digunakan adalah air rebusan kotoran kuda/pupuk
kandang lainnya, yaitu 800 ml kotoran kering dalam 1 liter air selama 1
jam. Setelah dingin, disaring dan diencerkan dengan air hujan yang
telah direbus dengan perbandingan 1 : 2
3. Air medium dimasukkan dalam botol 1 galon dan ditulari bibit Protozoa
dan ganggang renik sebagai makanan Brachionus selama 7 hari. 1-2
minggu kemudian Brachionus akan tumbuh
4. Cara lain adalah menularkan bibit ke dalam medium air hijau yang
berisi phytoplankton

Penyiapan Media
1. Dengan Pemupukan

34
BUDIDAYA LELE DUMBO

• Wadah yang digunakan berukuran 1 - 10 ton atau 10 - 100 ton


yang telah dicuci dan dibilas dengan larutan klorin 150 ml/ton.
Wadah diisi air melalui kain saringan halus
• Pemupukan menggunakan kotoran sapi kering 20 mg/l, pupuk
urea dan TSP masing–masing 2 mg/l, kemudian didiamkan 4 - 5
hari, sampai tumbuh jasad-jasad renik makanan Brachionus, yaitu
jenis Diatomae, seperti Cyclotella, Melosira, Asterionella, Nitzschia,
dan Amphora. Tumbuhnya Diatomae ditandai dengan warna coklat
pirang
2. Dengan Pemberian Makanan
o Wadah yang digunakan berukuran 1 ton, yang terbuat dari
papan kayu yang dilapisi lembaran plastik, bahan semen, atau
fiberglass, yang dicuci biasa. Wadah diisi air medium, tergantung
jenis Brachionus. Wadah diletakkan di luar ruangan, di bawah atap
bening
o Pemupukan menggunakan 100 mg/l urea, 20 mg/l TSP, dan
2 mg/l FeCl3, untuk menumbuhkan algae planktonik (Chlorella dan
Tetraselmis). Medium diudarai untuk meratakan pupuk dan algae

Pemeliharaan
1. Dengan Pemupukan :
Bibit Brachionus ditebar 4-5 hari setelah pemupukan, sebanyak 10
ekor/ml. 5-7 hari kemudian, Brachionus berkembang dengan
kepadatan sekitar 100 ekor/l dan dapat digunakan sebagai pakan ikan.
2. Dengan Pemberian Pakan:
a. Bibit Brachionus ditebar 4 - 5 hari setelah pemupukan,
sebanyak 10 ekor/ml. Wadah setiap hari pagi diaduk sebagai ganti
pengudaraan
b. Pemberian makanan berupa algae dapat diganti dengan ragi
roti sebanyak 1 - 2 gram berat basah per 1 juta ekor per hari pada

35
BUDIDAYA LELE DUMBO

suhu 25 derajat C atau 2 - 3 gram pada suhu lebih dari 25 derajat


C. Takaran untuk ragi kering adalah 1/3-1/2 takaran berat basah
c. Apabila campuran algae tidak bisa diberikan terus-menerus,
maka 1 - 2 jam sebelum panen harus diberi makanan algae
secukupnya, yaitu:
- Ragi laut (Rhodotorula) dapat juga diberikan sebagai
makanan Brachionus. Ragi laut dapat diperoleh dari saluran
pembuangan pembenihan ikan dan udang laut
- Ragi laut dapat ditumbuhkan dengan memupuknya
dengan 10 g gula, 1 g (NH4)2SO4, dan 0,1 g KH2PO4 atau
K2HPO4 untuk setiap 1 liter air laut, dan ditambah HCl untuk
mencapai pH 4. Dalam wadah 500-1000 liter, kepadatannya 100
juta sel/ml
- Brachionus yang diberi makan ragi laut mencapai
kepadatan 80-120 ekor/ml dalam masa pemeliharaan 25 hari

Pemanenan
1. Panen Brachionus dilakukan pada waktu kepadatannya mencapai 100
ekor/ml dalam jangka waktu 5 - 7 hari atau 2 minggu kemudian dengan
kepadatan 500 - 700 ekor / ml
2. Panen sebagian dapat dilakukan selama 45 hari, dimana 1 - 2 jam
sebelum penangkapan, air diaduk, kemudian didiamkan. Brachionus
yang berkumpul di permukaan diseser dengan planktonet ukuran 60
mikron
3. Panen total dilakukan dengan menyedot air dengan selang plastik dan
disisakan 1/3 bagian kemudian disaring dengan planktonet
4. Hasil tangkapan dicuci bersih dan sudah dapat dimanfaatkan

Brachiopoda, yaitu Artemia salina


Hidup pada kisaran suhu 25 - 30 derajat C dan untuk Artemia kering –273
- 100 derajat C, kadar garam optimal 30 - 50 ppt, untuk menghasilkan kista: 100

36
BUDIDAYA LELE DUMBO

permil, kandungan O2 optimal adalah >3 mg/liter dengan kisaran 1 mg/liter


sampai tingkat kejenuhannya 100 %, pH optimal adalah 7,5 - 8,5 dan kadar
amonia yang baik < 80 mg/liter.
Ciri-cirinya antara lain adalah :
• Telurnya berwarna coklat dengan diameter 200 – 300 mikron,
sedangkan pada saat dewasa berwarna kuning cerah
• Perkembangbiakan dengan dua cara yaitu parthenogenesis dan
biseksual
• Nauplius tubuhnya terdiri dari tiga pasang anggota badan yaitu
antenula, antena I dan antena II.
• Artemia dewasa berukuran 1 - 2 cm dengan sepasang mata
majemuk dan 11 pasang thoracopoda

Gambar 47. Artemia salina

Penyiapan Bibit
1. Bibit dapat berasal dari telur kering yang sudah dikalengkan
2. Penetasan telur Artemia dilakukan di wadah bening dengan dasar
berbentuk kerucut, dengan ukuran 3 - 75 liter. Wadah dapat dibuat
sendiri dari kantong plastik 3 - 5 liter, yang dilapisi dengan kertas
plastik kaca dan disetrika untuk melekatkannya atau dengan wadah
berupa galon aqua 19 liter kemudian dipotong bagian dasarnya
3. Air media diperoleh dari pengenceran air laut (30 permil) sampai kadar
garamnya 5 permil dan ditambahi NaHCO3 2 gram/liter agar pH nya 8
–9

37
BUDIDAYA LELE DUMBO

4. Air media pemeliharaan juga dapat dibuat dari air tiruan (kadar garam
5 permil) yang dapat dibuat dari Garam NaCl = 5 gram dan air tawar
sebanyak 1 liter yang dilarutkan dalam air panas sebelum digunakan
5. Telur-telur yang akan ditetaskan direndam dalam air tawar selama 1
jam, kemudian disaring dengan kain saringan 125 mikron, sambil
disemprot air, dan ditiriskan
6. Kondisi yang mendukung penetasan telur, yaitu : suhu 25 - 30 derajat
C, kadar O2 > 2 mg/liter, penyinaran dengan lampu neon dengan
kekuatan cahaya 1000 luks (60 watt 2 buah sejauh 20 cm dari dinding
wadah
7. Telur menetas menjadi nauplius setelah 24 - 36 jam, dan harus
ditangkap paling lambat 24 jam sejak menetas. Anak Artemia disedot
dengan slang plastik kecil dan ditampung dengan saringan 125
mikron, kemudian dicuci)

Penyiapan Peralatan
1. Wadah yang digunakan adalah berbagai macam bak berbentuk empat
persegi panjang dengan sudut tegak lurus, menyerong, atau
melengkung. Ukurannya 300 liter, 2 ton, 5 ton, dsb
2. Di tengah bak dipasang penyekat terbuat dari papan/lembaran plastik
dengan arah membujur sejajar dengan sisi bak yang panjang. Jarak
antara ujung penyekat tengah dengan sisi bak yang pendek 2/3 kali
jarak antara penyekat tengah dengan sisi bak yang panjang, dan jarak
sisi bawah dengan dasar bak 2 - 5 cm
3. Dalam bak dipasang "air water lift (AWL)" yang terbuat dari pipa-pipa
PVC untuk menimbulkan putaran.
- Kedalaman 20 cm, diameter pipa AWL= 25 mm
- Kedalaman 40 cm, diameter pipa AWL= 40 mm
- Kedalaman 75 cm, diameter pipa AWL= 50 mm
- Kedalaman 100 cm, diameter pipa AWL= 60 mm

38
BUDIDAYA LELE DUMBO

4. Pipa AWL dipotong miring 30 - 45 derajat pada ujung bawahnya dan


dipasang menyentuh dasar bak. Pipa AWL diikat pada kedua belah
sisi penyekat tengah dan ujung - ujung bagian atasnya dibuat
menyerong 30 - 45 derajat. Jarak antara AWL 25 - 40 cm dengan arah
berlawanan
5. Slang plastik berdiameter 6 mm dimasukkan pada AWL untuk saluran
udara, yang dihubungkan dengan tabung pembagi udara terbuat dari
pipa PVC berdiameter 5 cm dan diikat pada atas penyekat tengah
6. Tabung dihubungkan dengan pipa udara yang mengalirkan udara dari
mesin penghembus udara (Blower)
7. Air untuk pemeliharaan adalah air laut (kadar garam 30 - 35 permil)
atau air tiruan (kadar garam 30 permil) yang dapat dibuat dari
beberapa bahan kimia, yaitu:
- Garam dapur (NaCl) = 31,08 gram
- Magnesium sifat (MgSO4) = 7,74 gram
- Magnesium klorida (MgCl2) = 6,09 gram
- Kalsium klorida (CaCl2) = 1,53 gram
- Kalium klorida (KCl) = 0,97 gram
- Natrium hidrokarbonat (NaHCO3) = 2 gram
- Air tawar dijadikan 1 liter
MgSO4, KCl, NaHCO3 dilarutkan dalam air panas secara terpisah
sebelum digunakan.
8. Penyaringan air dilakukan untuk mengurangi timbunan kotoran.
Penyaringan air dilakukan dengan kotak keping penyaring berbentuk
kotak persegi empat yang terbagi 2 bagian, yaitu bagian pertama
untuk pemasukan air dan bagian kedua untuk pengendapan. Ukuran
kotak 10% dari bak dan terbuat dari kayu yang dicat dengan epoxy.
Alat ini dibersihkan 2 hari sekali

Pemeliharaan

39
BUDIDAYA LELE DUMBO

1. Makanan utama Artemia adalah katul padi (dedak halus) yang


berukuran < 50 mikron. Makanan lainnya : tepung terigu, tepung
beras, ragi roti, ragi bir, ragi laut, dedak gamdum, tepung kedele, dan
tepung ganggang
2. Dedak dilarutkan sebanyak 50 - 150 gram/l air garam (150 gram dalam
1 liter air), kemudian diblender dan disaring dengan kain saring halus
50 mikron. Larutan dedak diwadahi kantong plastik berdasar kerucut
dan diberi slang plastik yang dilengkapi kran untuk pemberian pakan
3. Jumlah pemberian pakan ditentukan berdasarkan kekeruhan medium,
Artemia dewasa (>2 minggu) kekeruhannya 20 - 25 cm, dan Artemia
berumur < 2 minggu kekeruhannya 15 - 20 cm

Pemanenan
1. Usaha Pembesaran
• Panen dilakukan pada umur 2 minggu dan ukuran Artemia
mencapai 8 mm. Sebelum penangkapan, aerasi dihentikan selama
30 menit, lalu Artemia yang naik ke permukaan diserok dengan
seser kain halus
• Artemia dapat langsung dimanfaatkan atau disimpan dalam freezer
2. Produksi Nauplius
Penangkapan dilakukan dengan memanfaatkan kotak keping
penyaring yang dilengkapi saringan 200 mikron pada ujung pipa
peluapannya. Nauplius diambil setelah yang terkumpul dalam jumlah
banyak
3. Produksi Telur
o Cara penangkapan sama dengan produksi nauplius
o Telur dicuci bersih dan direndam 1 jam dalam larutan garam
115 permil, dikeringkan selama 24 jam, suhu 35 - 40 derajat C
o Penyimpanan dilakukan di kantong plastik yang diisi gas
N2/kaleng hampa udara

40
BUDIDAYA LELE DUMBO

Cladocera (Kutu Air), yaitu Moina sp dan Daphnia sp


Hidup pada suhu optimal 22 - 31 derajat C, dan pH optimal 6,6 - 7,4
dengan ciri-cirinya antara lain adalah :
• Berwarna merah karena mengandung haemoglobin
• Bergerak aktif
• Bentuk tubuh membulat untuk moina dan lonjong untuk daphnia
• Perkembangbiakannya secara sexual dan parthenogenesis

Gambar 48. Moina sp

Gambar 49. Daphnia sp


Penyiapan Bibit
1. Bibit dapat diperoleh dari panti pembenihan udang/ikan
2. Penangkaran bibit dari alam dilakukan dengan cara memberi pupuk
pada media dengan pupuk kandang 1 - 2 kali seminggu sebanyak 0,2
kg/m2

Penyiapan Media

41
BUDIDAYA LELE DUMBO

1. Wadah yang digunakan adalah berbagai macam bak dengan ukuran 1


ton (1 m3). Bak diletakkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari
langsung
2. Wadah diisi air tawar sampai 60 cm dan diudarai dengan 1 - 2 batu
aerasi per 2,5 m2
3. Pemupukan menggunakan kotoran ayam kering yang dilarutkan dalam
air sampai konsentrasinya 10% dan bungkil kelapa yang ditumbuk
halus dan diayak dengan saringan 500 mikron
4. Pemupukan pertama menggunakan kotoran ayam 1000 ml/ton dan
bubuk bungkil kelapa 200 gram/ton yang dicampur dan dimasukkan
dalam kantong yang diperas di atas bak pemeliharaan, sehingga air
perasan langsung jatuh ke bak
5. Pemupukan kedua dilakukan 4 hari kemudian, dilanjutkan dengan
pemupukan ketiga apabila perlu

Pemeliharaan
1. Pemasukan bibit dilakukan 18 - 24 jam sesudah pemupukan awal
dengan padat penebaran 30 ekor/l
2. Perkembangannya akan mencapai puncak dalam waktu 7 - 10 hari
dengan kepadatan 3000 - 5000 ekor/l
3. Makanan kutu air terdiri dari tumbuhan renik dan detritus

Pengendalian Hama dan Penyakit


1. Moina yang bergerombol di permukaan menunjukkan mutu medium
menurun
2. Cendawan biasanya meningkat pada hari ke-3. Bila cendawan sudah
banyak, budidaya dihentikan dan bak dikeringkan
3. Bila muncul Brachionus dan Ciliata, budidaya dihentikan dan kolam
dicuci dengan larutan klorin 100 ml/m3 dan dikeringkan

Pemanenan

42
BUDIDAYA LELE DUMBO

Pemanenan dilakukan dengan menghentikan aerasi. Air media disedot


dan disaring dengan saringan ukuran 200 – 250 mikron dan 800 - 1500
mikron untuk memisahkan dari jentik - jentik nyamuk.

Infusaria
Ciri-cirinya antara lain adalah :
• Bersel tunggal
• Berwarna putih

Penyiapan Peralatan
1. Penangkaran dapat dilakukan secara berurutan dalam wadah 1 liter, 1
galon, 200 liter, dan 1 ton. Untuk wadah 1 liter dan 1 galon,
menggunakan air rebusan jerami sebagi medium, dan untuk wadah
yang lebih besar menggunakan air mentah
2. Air mentah dimasukkan dalam wadah 200 liter dan 1 ton (tergantung
jenis Ciliatanya) dan ditambah potongan - potongan jerami atau
rumput kering, daun selada, atau kulit pisang kering, kemudian air
diaerasi

Penyiapan Bibit
1. Penebaran bibit Ciliata dilakukan setelah makanan tumbuh, yaitu ±1
minggu setelah persiapan wadah
2. Ciliata dapat berkembang biak dalam waktu seminggu, ditandai
dengan warna air medium yang berubah menjadi keputih-putihan
3. Apabila medium budidaya berbau busuk, dilakukan pergantian air
secara bertahap dengan menggunakan slang air

Pemanenan
Infusoria dipanen dalam waktu 1 minggu, ditandai dengan perubahan
warna medium menjadi keputih-putihan.

43
BUDIDAYA LELE DUMBO

Tubifex
Cacing tubifex menyukai perairan yang berlumpur dan banyak
mengandung bahan organik. Cacing tubifex termasuk dalam benthos, yaitu
organisma air yang hidupnya di dasar perairan. Ciri-ciri benthos secara umum
antara lain adalah :
1. Berwarna merah darah karena banyak mengandung haemoglobin.
2. Berbentuk seperti benang yang bersegmen-segmen

Gambar 50. Cacing Tubifex

Penyiapan Media
1. Lahan dibuat dengan bentuk mirip kolam dengan luas (10 x 10) cm
atau lebih, dilengkapi dengan saluran pemasukan dan pengeluaran air
2. Dasar kolam dibuat petakan - petakan (blok) lumpur, berjarak 20 cm,
setinggi 10 cm dengan luas (1 x 2) m dan dasarnya dilapisi papan
kayu atau dibentuk cetakan
3. Pemupukan menggunakan dedak halus (200 - 250 gram/m 2) atau
kotoran ayam yang telah dibersihkan dan dihaluskan sebanyak 300
gram/m2. Pupuk ditebar di lahan dan direndam air 5 cm selama 4 hari
bila menggunakan dedak dan 3 hari bila menggunakan kotoran ayam

Peyiapan Bibit
1. Bibit diambil dari perairan alam

44
BUDIDAYA LELE DUMBO

2. Penebaran bibit dilakukan dalam lubang-lubang kecil di atas bedengan


(petakan /blok) yang berjarak 10 - 15 cm dengan jumlah 10 ekor
/lubang. Masa pemeliharaan cacing sekitar 10 hari

Pemanenan
1. Panen dilakukan setelah 10 hari dengan cara memungutnya dengan
tangan beserta lumpurnya, kemudian dicuci
2. Panen total dilakukan apabila kondisi tanah dan medium tidak dapat
menyediakan makanan lagi

B. Pakan Buatan

BENTUK DAN MANFAAT PAKAN BUATAN


Pakan buatan adalah pakan yang sengaja dibuat dari beberapa jenis bahan
baku dengan formulasi gizi tertentu. Pakan buatan yang berkualitas baik harus
memenuhi kriteria-kriteria seperti:
1. Kandungan gizi pakan terutama protein harus sesuai
dengan kebutuhan ikan
2. Diameter pakan harus lebih kecil dari ukuran bukaan
mulut ikan
3. Pakan mudah dicerna
4. Kandungan nutrisi pakan mudah diserap tubuh
5. Memiliki rasa yang disukai ikan
6. Kandungan abunya rendah
7. Tingkat efektivitasnya tinggi

Bentuk pakan buatan ditentukan oleh kebiasaan makan ikan, seperti:


1. Larutan
Digunakan sebagai pakan burayak ikan (berumur 2 - 30 hari). Larutan
ada 2 macam, yaitu: (1) Emulsi, bahan yang terlarut menyatu dengan air

45
BUDIDAYA LELE DUMBO

pelarutnya; (2) Suspensi, bahan yang terlarut tidak menyatu dengan air
pelarutnya.
2. Tepung halus
Digunakan sebagai pakan benih (berumur 20 - 40 hari). Tepung halus
diperoleh dari remah yang dihancurkan.

3. Tepung kasar
Digunakan sebagai pakan benih gelondongan (berumur 40-80 hari).
Tepung kasar juga diperoleh dari remah yang dihancurkan.
4. Remah
Digunakan sebagai pakan gelondongan besar/ikan tanggung (berumur
80-120 hari). Remah berasal dari pellet yang dihancurkan menjadi butiran
kasar.
5. Pellet
Digunakan sebagai pakan ikan dewasa yang sudah mempunyai berat >
60-75 gram dan berumur > 120 hari.
6. Waver
Berasal dari emulsi yang dihamparkan di atas alas aluminium atau seng
dan dkeringkan, kemudian diremas-remas.

Manfaat

Pakan buatan dapat melengkapi keberadaan pakan alami, baik dalam hal
kuantitas maupun kualitas.

ALAT-ALAT PEMBUATAN PAKAN IKAN


Jenis alat yang digunakan untuk membuat pakan ikan terdiri dari ;
1. Alat penepung (grinder)
2. Alat pencampur (mixer)
3. Alat pengukus
4. Alat pencetak (pelleting)
5. Alat pengering (dryer)

46
BUDIDAYA LELE DUMBO

6. Alat pengepak (packing)

1. Alat Penepung

Alat penepung (Gambar 51) mempunyai kapasitas bermacam-macam,


pada umumnya diukur berdasarkan jumlah tepung yang dihasilkan setiap
satuan waktu. Demikian pula kelembutan tepung yang dihasilkan sangat
tergantung pada jenis alatnya. Ada dua jenis alat penepung antara lain;
1. Disk mill (Gambar 52)
2. Hammer mill (Gambar 53)

Gambar 51. Grinder mesin

Gambar 52. Disk mill

47
BUDIDAYA LELE DUMBO

Gambar 53. Hammer Mill

Disk mill bekerja dengan cara berputarnya suatu pasangan piringan logam
baja yang satu berputar sedangkan yang lain sebagai landasan. Bahan
baku yang akan ditepung berada pada dua kepingan logam tersebut.
Hammer mill berkerja berdasarkan prinsip palu dengan cara memukul
suatu bahan baku yang akan ditepung.

Penepungan bahan baku ini bertujuan untuk memudahkan berbagai


bahan baku bercampur secara homogen pada alat pencampur dan untuk
membantu pencernaan ikan.

2. Alat Pencampur

Alat pencampur bahan baku mempunyai ukuran yang bergantung pada


kapasitas alat. Adapun jenis alat yang digunakan antara lain;
1. Pencampur horizontal (Gambar 54)
2. Pencampur vertical (Gambar 55)

Gambar 54. Horizontal Mixer Gambar 55. Vertical Mixer

48
BUDIDAYA LELE DUMBO

3. Alat Pengukus

Alat pengukus adonan dari campuran bahan-bahan baku dapat dibuat dari
berbagai macam bahan. Untuk skala kecil dapat digunakan dandang
pengukus atau wadah tertentu dengan ukuran sesuai banyaknya bahan.
Pengukusan bahan bertujuan selain untuk mengikat antara bahan
(kompak) juga membunuh mikroba penyebab pembusukan bahan
tersebut.

4. Alat Pencetak

Alat pencetak pakan (Gambar 56) dibuat berdasarkan kapasitas produksi


yang diinginkan. Untuk skala kecil dapat digunakan alat pencacah daging,
sedangkan skala produksi digunakan alat pelleting automatis, yaitu
panjang dan diameter pellet dapat diatur sesuai kebutuhan.

Gambar 56. Pelleting Machine

49
BUDIDAYA LELE DUMBO

5. Alat Pengering

Alat pengering (Gambar 57) dibuat secara sederhana atau lebih rumit.
Untuk skala kecil dengan cara menjemur pellet hasil cetakan dibawah
sinar matahari. Sedangkan untuk skala produksi harus dibuat alat
pengering khusus agar kapasitas produksi dapar diatur.

Gambar 57. Alat Pengering

BAHAN BAKU PAKAN

Kualitas pakan buatan ditentukan antara lain oleh kualitas bahan baku yang
ada. Hal ini disebabkan selain nilai gizi yang dikandung bahan baku harus sesuai
dengan kebutuhan ikan, juga pakan buatan ini disukai ikan baik rasa, aroma dan
lain sebagainya yang dapat merangsang ikan untuk memakan pakan buatan ini.

50
BUDIDAYA LELE DUMBO

1. Jenis- Jenis Bahan Baku


Bahan baku pakan ikan pada umumnya dibagi dalam tiga kelompok besar
yaitu:

• Bahan Nabati antara lain terdiri dari ;

a. Tepung kedelai f. Dedak halus


b. Tepung jagung g. Tepung daun lamtoro
c. Tepung terigu h. Tepung daun singkong
d. Tepung tapioka i. Tepung kacang tanah
e. Tepung sagu j. Bungkil kelapa sawit

• Bahan Hewani antara lain terdiri dari;

a. Tepung ikan e. Tepung benawa/kepiting


b. Silase ikan f. Tepung darah
c. Tepung udang g. Tepung tulang
d. Tepung cumi-cumi h. Tepung hati

• Bahan tambahan antara lain terdiri dari :


a. Vitamin
b. Mineral
c. Anti oksidan
Bahan: fenol, vitamin E, vitamin C, etoksikulin (1,2dihydro-6-etoksi-
2,2,4 trimethyquinoline), BHT (butylated hydroxytoluena), dan BHA
(butylated hydroxyanisole).
d. Antibiotik
e. Garam Dapur (NaCl)
Berfungsi sebagai bahan pelezat (gurih), mencegah terjadinya
proses pencucian zat-zat lain yang terdapat dalam ramuan
makanan ikan.
f. Bahan Perekat

51
BUDIDAYA LELE DUMBO

Contoh bahan perekat: agar-agar, gelatin, tepung terigu, tepung


sagu, dll, yang paling baik adalah tepung kanji dan tapioka.
g. Ragi
Ragi adalah sejenis cendawan yang dapat merubah karbohidrat
menjadi alkohol dan CO2. Macam ragi: ragi tape, ragi roti, dan bir.

2. Komposisi Kandungan Nutrisi Bahan Baku Pakan Ikan

• Kandungan Nutrisi Bahan Baku Nabati

PROTEIN KARBOHIDRAT LEMAK


NO JENIS BAHAN BAKU
% % %
1. Dedak padi 11,35 28,62 12,15
2. Dedak gandum 11,99 64,78 1,48
3. Cantel 13,00 47,85 2,05
4. Tepung terigu 8,90 77,30 1,30
5. Tepung kedelai 39,6 29,50 14,30
6. Tahu 7,80 1,60 4,60
7. Ampas tahu 25,55 26,92 5,54
8. Bungkil kacang tanah 47,90 25,00 10,90
9. Bungkil kelapa 17,09 23,77 9,44
10. Biji kapok randu 27,40 18,60 5,60
11. Biji kapas 19,40 - 19,50
12. Tepung daun turi 27,54 21,30 4,73
13. Tepung daun lamtoro 36,82 16,08 5,40
14. Tepung daun singkong 34,21 14,69 4,60
15. Isi perut besar hewan 8,39 33,51 5,54
memamah biak

• Kandungan Nutrisi Bahan Baku Hewani

52
BUDIDAYA LELE DUMBO

PROTEIN KARBOHIDRAT LEMAK


NO JENIS BAHAN BAKU
% % %
1 Tepung ikan 62,65 5,81 15,38
2 Tepung rebon 59,40 3,20 3,60
3 Benawa/kepiting 23,38 0,06 25,33
4 Tepung kepala udang 53,74 0 6,65
5 Tepung anak ayam 61,56 - 27,30
6 Tepung kepompong ulat 46,74 - 29,75
sutera
7 Ampas minyak hati ikan 25,88 - 56,75
8. Tepung darah 71,45 13,32 0,42
9 Silase ikan 18,20 - 1,20
10 Tepung tulang 25,54 - 3,80
11 Tepung bekicot 54,29 30,45 4,18
12 Tepung cacing tanah 72,00 - -
13 Tepung artemia 42,00 - -
14 Telur ayam/itik 12,80 0,70 11,50
15 Susu 35,60 52,00 1,00

FORMULASI DAN ALUR PEMBUATAN PAKAN IKAN

1. Formulasi Pakan Ikan

Pakan ikan harus mengandung komposisi gizi yang sesuai dengan


kebutuhan ikan, agar ikan dapat tumbuh secara optimal. Untuk
memenuhi komposisi gizi yang tepat dibuat suatu formulasi pakan yang
sesuai dengan sifat dan ukuran ikan. Untuk membuat formulasi pakan ini
harus diperhatikan adalah kriteria jenis bahan baku yang akan digunakan.

Kriteria jenis bahan baku yang dipilih ini adalah:


1. Mempunyai nilai gizi yang tinggi.
2. Mudah diperoleh
3. Mudah diolah
4. Tidak mengandung racun

53
BUDIDAYA LELE DUMBO

5. Harga relatif murah


6. Bukan makanan pokok manusia

Metoda yang digunakan dalam membuat formulasi pakan adalah;


• Metoda square/segi empat
• Metoda linear
• Metoda coba-coba

Dari metoda tersebut yang paling mudah dan hasilnya mendekati


ketepatan adalah metoda square. Sebagai contoh perhitungan dengan
menggunakan metoda square adalah sebagai berikut;
Misalnya, akan dibuat pakan ikan 20 Kg dengan kandungan protein 35%,
dari bahan pakan yang terdiri dari; tepung ikan, dedak halus, tepung
jagung, tepung terigu dan tepung kedelai. Dari bahan tersebut dilihat
kandungan proteinnya sebagai dasar perhitungan selanjutnya. Pertama
dipisahkan bahan baku yang termasuk dalam protein basal yaitu yang
memiliki kandungan protein < 20% dan bahan baku yang termasuk dalam
protein suplemen yaitu yang memiliki kandungan protein > 20%.
Dengan melihat tabel komposisi kandungan protein suatu bahan baku
didapat;

Protein basal; Protein Suplemen


Protein dedak halus 15,58 % Protein tepung ikan 62,99 %
Protin tepung jagung 9,50 % Protein kedelai 46,36 %
Protein tepung terigu 12,27 %
Jumlah 37,35 % Jumlah 109,35 %
Rata-rata 12,45 % Rata-rata 54,68 %

Protein basal 12,45 % 19,68 %

35 %

54
BUDIDAYA LELE DUMBO

Protein suplemen 54,68 % 22,55 %


+
42,23 %

Dari perhitungan tersebut maka didapat


19,68 %
1. Protein basal = x 100 % = 46,60 %,
42,23 %

yang terdiri dari; 1. Dedak halus = 46,60 % : 3 = 15,53 %


2. Tepung jagung = 46,60 % : 3 = 15,53 %
3. Tepung terigu = 46,60 % : 3 = 15,53 %

22,55 %
2. Protein suplemen = x 100 % = 53,40 %,
42,23 %

yang terdiri dari; 1. Tepung ikan = 53,40 % : 2 = 26,70 %


2. Tepung kedelai = 53,40 % : 2 = 26,70 %

Maka untuk membuat pakan ikan sebanyak 20 Kg diperlukan bahan baku


sebagai berikut;

1. Dedak halus = 15,53 % x 20 Kg = 3,11 Kg


2. Tepung terigu = 15,53 % x 20 Kg = 3,11 Kg
3. Tepung jagung = 15,53 % x 20 Kg = 3,11 Kg
4. Tepung ikan = 26,70 % x 20 Kg = 5,34 Kg
5. Tepung kedelai = 26,70 % x 20 Kg = 5,34 Kg

55
BUDIDAYA LELE DUMBO

Dari metoda square ini didapat kekurangan-kekurangan yaitu bahwa


kandungan protein semua bahan yang termasuk dalam protein basal
diasumsikan sama yaitu hasil rata-rata, demikian pula semua bahan baku
yang termasuk dalam protein suplemen diasumsikan sama yaitu hasil
rata-rata. Oleh karena itu kandungan protein dari bahan baku yang masuk
pada masing-masing kelompok protein baik basal maupun suplemen,
sebaiknya dicari tidak terlalu beda nyata.

2. Alur Pembuatan Pakan Ikan

Memilih Bahan Baku

Menepung bahan baku

Menimbang bahan baku

Mencampur tepung bahan


baku kering

Mencampur tepung bahan


baku basah

Membuat adonan

Mencetak adonan

56
BUDIDAYA LELE DUMBO

Mengeringkan pellet

Menentukan ukuran pellet

Mengepak pellet

Berbagai macam contoh pellet dengan berbagai ukuran

Contoh Dry Pellet

57
BUDIDAYA LELE DUMBO

:
:

Contoh Moist Pellet

58
BUDIDAYA LELE DUMBO

DAFTAR BACAAN.

1. Budidaya Ikan Lele


2. Budidaya Lele Dumbo Secara Intensif
3. Makanan Ikan
4. Membuat Pakan Ikan Konsumsi
5. Memelihara Lele Dumbo di Kolam Taman
6. Mengatasi Permasalahan Budidaya Lele Dumbo
7. Meramu Pakan Ikan Kerapu
8. Nutrisi dan Teknik Pembuatan Pakan Ikan Kakap Putih
9. Pakan Ikan
10. Pakan Ikan Alami
11. Pembenihan dan Pembesaran Ikan Lele di Pekarangan, Sawah dan
Longyam.
12. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan
13. Skeletonema Bebas Parasit
14. Teknik Kultur Phytoplankton dan Zooplankton. Pakan Alami untuk
Pembenihan Organisme Laut
15. Teknik Pembuatan Pakan Ikan
16. Telaah Kualitas Air

59
BUDIDAYA LELE DUMBO

60