Anda di halaman 1dari 34

1

BAB I PENDAHULUAN

Tumor jinak dan tumor ganas kulit kebanyakan dapat berkembang menuju kulit periokular, timbul mulai dari lapisan epidermis, dermis, atau struktur adneksa palpebra (kelopak mata).1 Tumor ganas palpebra merupakan tumor ganas yang sering dijumpai dan dilaporkan sekitar 5-10% dari tumor kulit.8 Tumor ganas yang paling sering mengenai palpebra adalah karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa, karsinoma sel sebasea, dan melanoma. Sedangkan tumor jinak palpebra seperti hemangioma dan xanthelasma bertambah banyak dengan meningkatnya usia.13 Karsinoma sel basal merupakan tumor ganas palpebra yang sering ditemukan.11 Sembilan puluh lima persen karsinoma palpebra berjenis sel basal dan sisa lima persen terdiri atas karsinoma sel skuamosa, karsinoma kelenjar meibom, dan tumor-tumor lain yang jarang seperti karsinoma sel merkel dan karsinoma kelenjar keringat.13 Melanoma maligna merupakan tumor ganas palpebra yang paling jarang tetapi paling ganas dan banyak menimbulkan kematian.8,11 Hemangioma kapiler merupakan tumor palpebra jinak yang paling sering ditemukan pada anak. Hemangioma kapiler atau hemangioma strawberry dapat mengenai kulit pada 10% bayi dan tampaknya lebih sering pada bayi prematur dan anak kembar. Tumor ini biasanya muncul pada waktu lahir atau segera sesudah lahir sebagai lesi yang berwarna merah terang, bertambah besar dalam beberapa minggu hingga bulanan, dan mengalami involusi pada usia sekolah.1,2 Tumor palpebra kebanyakan mudah dikenali secara klinis dan eksisi dilakukan dengan alasan kosmetik. Meskipun begitu lesi ganas sering kali sulit dikenali secara klinis dan biopsi harus selalu dilakukan pada kecurigaan keganasan

BAB II LAPORAN KASUS

I . Identifikasi Nama Jenis kelamin Usia Kebangsaan Agama Status Pekerjaan Alamat Tanggal masuk No. RM : Ny. I.N : Perempuan : 48 tahun : Indonesia : Kristen : Menikah : Ibu Rumah tangga : Jln.Kolonel H. Burlian km 8 no 233 Palembang : 21 Oktober 2013 : 401626

II. ANAMNESIS

(tanggal 17 desember 2013)

Keluhan Utama : Terdapat tahi lalat yang makin lama makin membesar di kelopak mata kanan bagian atas.

Riwayat penyakit sekarang : Tumbuh tahi lalat dikelopak mata kanan bagian atas yang bewarna hitam sejak 6 bulan terakhir. Pasien merasakan makin lama tahi lalat ini semakin membesar

Tahi lalat seperti ini pernah muncul di kelopak mata sebelah kiri kurang lebih 2 tahun yang lalu dan di operasi. Pasien merasa berat untuk menutup dan membuka karena ada tahi lalat yang mengganjal. Pasien mengeluhkan pandangannya kabur di kedua mata , pandangan seperti berasap dan berkabut (+), penglihatan silau pada siang hari (+), penglihatan lebih terang pada malam hari daripada siang hari, penglihatan kembar (-), penderita mengaku lebih terang membaca tanpa kacamata, mata merah (-), mata berair (+), nyeri (-), mata seperti melihat pelangi bila melihat lampu (-), sakit kepala (-), mual muntah (-).

Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien pernah menderita penyakit yang sama yaitu tahi lalat yang membesar dikelopak mata sebelumnya. Pasien tidak menggunakan kaca mata baca sebelumnya. Riwayat minum obat anti hipertensi tidak ada Riwayat kencing manis tidak ada Riwayat memakai kacamata tidak ada. Riwayat penglihatan kabur sebelumnya ada.

Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada riwayat keluarga yang menderita seperti ini sebelumnya

Pemeriksaan Fisik

Status Ophtalmikus Visus Refleks fundus Silia/supersilia Palpebra superior

OD 20/30 + Trikiasis (-),madarosis (-) hiperemis (-) terdapat massa di palpebra superior berukuran 2 mm x 2 mmx 1 mm bewarna kehitaman, berbatas tegas, permukaan tidak rata.

OS 20/30 + Trikiasis (-),madarosis (-) hiperemis (-)

Aparat lakrimalis Konjungtiva tarsalis Konjungtiva fornik Konjungtiva bulbi Sclera Kornea

Tidak ada kelainan Tak ada kelainan

Tidak ada kelainan Tak ada kelainan

Putih Bening

Putih Bening

Kamera okuli anterior

Dalam, hipopion (-), hifema(-)

Dalam, hipopion (-), hifema(-) Tak ada kelainan Bulat, diameter 3mm, reflek (+/+) Keruh shadow test (+)

Iris Pupil

Tak ada kelainan Bulat, diameter 3mm, reflek (+/+)

Lensa

Keruh shadow test (+)

Fundus: - papil - pembuluh darah - retina - macula Tidak dilakukan pemeriksaan Tidak dilakukan pemeriksaan

DIAGNOSIS BANDING Nevus pigmentosus Nevus Melanositik Xantelasma Kelainan refraksi

DIAGNOSIS SEMENTARA Nevus Pigmentosus + Katarak Senilis Immatur ODS

PENATALAKSANAAN Biopsi Eksisi

PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad functionam : bonam : dubia ad bonam

BAB III TINJAUAN PUSTAKA


A. Anatomi Palpebra Palpebra superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang dapat menutup dan melindungi bola mata bagian anterior. Berkedip dapat melindungi kornea dan konjungtiva dari dehidrasi. Palpebra superior berakhir pada alis mata sedangkan palpebra inferior menyatu dengan pipi.13 Palpebra terdiri atas 5 bidang jaringan utama. Dari superfisial ke dalam terdapat lapis kulit, lapis otot rangka (orbikularis okuli), jaringan areolar, jaringan fibrosa (tarsus), dan lapis membran mukosa (konjungtiva pelpebra).13 1. Kulit Kulit pada palpebra berbeda dari kulit bagian lain tubuh karena tipis, longgar, dan elastis dengan sedikit folikel rambut tanpa lemak subkutan. 2. Muskulus orbikularis okuli Fungsi muskulus orbikularis okuli adalah menutup palpebra. Serat-serat ototnya mengelilingi fisura palpebra secara konsentris dan meluas sedikit melewati tepian orbita. Sebagian serat berjalan ke pipi dan dahi. Bagian otot yang terdapat di dalam palpebra dikenal sebagai pratarsal, bagian di atas septum orbita adalah praseptal. Segmen luar palpebra disebut bagian orbita. Orbikularis okuli dipersarafi oleh nervus fasialis. 3. Jaringan areolar Terdapat di bawah muskulus orbikularis okuli, berhubungan dengan lapis subaponeurotik dari kulit kepala.

4. Tarsus Struktur penyokong utama dari palpebra adalah lapis jaringan fibrosa padat yang disebut tarsus superior dan inferior. Tarsus terdiri atas jaringan penyokong kelopak mata dengan kelenjar meibom. 5. Konjungtiva palpebra Bagian posterior palpebra dilapisi selapis membran mukosa yaitu konjungtiva palpebra yang melekat erat pada tarsus. Panjang tepian bebas palpebra adalah 25-30 mm dan lebar 2 mm. Ia dipisahkan oleh garis kelabu (batas mukokutan) menjadi tepian anterior dan posterior. Tepian anterior terdiri dari bulu mata, glandula zeiss, dan moll.13 Bulu mata muncul dari tepian palpebra dan tersusun tidak teratur. Bulu mata atas lebih panjang dan lebih banyak dari yang di bawah. Selain itu, melengkung ke atas sedangkan bulu mata bawah melengkung ke bawah. Glandula zeiss adalah modifikasi kelenjar sebasea kecil yang bermuara dalam folikel rambut pada dasar bulu mata. Glandula moll adalah modifikasi kelenjar keringat yang bermuara ke dalam satu baris dekat bulu mata.13 Tepian palpebra posterior berkontak dengan bola mata dan sepanjang tepian ini terdapat muara-muara kecil dari kelenjar sebasesa yang telah dimodifikasi (glandula meibom atau tarsal).13 Pungtum lakrimalis terletak pada ujung medial dari tepian posterior palpebra berupa elevasi kecil dengan lubang kecil di pusat yang terlihat pada palpebra superior dan inferior. Pungtum ini berfungsi menghantarkan air mata ke bawah melalui kanalikuli terkait ke sakus lakrimalis.13 Fisura palpebra adalah ruang elips di antara kedua palpebra yang dibuka. Fisura ini berakhir di kantus medialis dan lateralis. Kantus lateralis kira-kira 0,5 cm dari tepian lateral orbita dan membentuk sudut tajam.10 Septum orbita adalah fasia di belakang bagian muskularis orbikularis yang terletak di antara tepian orbita dan tarsus. Berfungsi sebagai sawar antara palpebra orbita. Septum orbita superius menyatu dengan tendo dari levator palpebra superior

dan tarsus superior sedangkan septum orbita inferius menyatu dengan tarsus inferior.13 Retraktor palpebra berfungsi membuka palpebra. Di palpebra superior, bagian otot rangka adalah levator palpebra superior yang berasal dari apeks orbita kemudian berjalan ke depan dan bercabang menjadi sebuah aponeurosis. Bagian yang lebih dalam mengandung serat-serat otot polos dari muskulus muller (tarsalis superior). Di palpebra inferior, retraktor utama adalah muskulus rektus inferior yang menjulurkan jaringan fibrosa untuk membungkus muskulus oblikus inferior dan berinsersio ke dalam batas bawah tarsus inferior dan orbikularis okuli. Otot polos dari retraktor palpebra dipersarafi oleh nervus simpatis. Levator dan muskulus rektus inferior dipasok oleh nervus okulomotorius.13 Pembuluh darah yang memperdarahi palpebra adalah a. palpebralis. Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal nervus V sedangkan kelopak mata bawah oleh cabang kedua nervus V.

B. TUMOR PALPEBRA 1. HEMANGIOMA a. Definisi Hemangioma merupakan pertumbuhan hemartomatous yang terdiri dari sel-sel endotel kapiler yang berproliferasi. Hemangioma ditemukan pada fase awal pertumbuhan aktif pada bayi dengan periode selanjutnya berupa regresi dan involusi.2

b. Klasifikasi Secara histologik hemangioma dibedakan berdasarkan besarnya pembuluh darah yang terlibat menjadi 3 jenis yaitu:3 1) Hemangioma kapiler a) hemangioma kapiler pada anak (nevus vaskulosus, strawberry nevus) b) granuloma piogenik c) cherry spot (ruby spot), angioma senilis 2) Hemangioma kavernosum a) hemangioma kavernosum (matang) b) hemangioma keratotik c) hemartoma vaskuler

3) Teleangiektasis a) nevus flameus b) angiokeratoma c) spider angioma Dari segi praktisnya, para ahli memakai sistem pembagian sebagai berikut:3

10

1) Hemangioma kapiler 2) Hemangioma kavernosum 3) Hemangioma campuran

c. Epidemiologi Prevalensi hemangioma infantil 1-3% pada neonatus dan 10% pada bayi sampai dengan umur 1 tahun. Lokasi tersering yaitu pada kepala dan leher (60%). Faktor risiko yang telah teridentifikasi, terutama neonatus dengan berat badan lahir di bawah 1.500 gram. Rasio kejadian perempuan dibanding laki-laki 3:1. Hemangioma infantil lebih sering terjadi di ras Kaukasia daripada ras di Afrika maupun Amerika. Lesi hemangioma infantil tidak ada pada saat kelahiran. Seiring dengan bertambahnya usia, risiko hemangioma infantil pada usia 5 bulan meningkat 50%, pada usia 7 bulan meningkatkan 70%, dan 90% pada usia 9 bulan. Mereka bermanifestasi pada bulan pertama kehidupan, menunjukkan fase proliferasi yang cepat dan perlahan-lahan berinvolusi menuju bentuk lesi yang sempurna.

d. Etiologi dan Patofisiologi Sampai saat ini, patogenesis terjadinya hemangioma masih belum diketahui. Meskipun growth factor, hormonal, dan pengaruh mekanik diperkirakan menjadi penyebab proliferasi abnormal pada jaringan hemangioma tetapi penyebab utama yang menimbulkan defek pada hemangiogenesis masih belum jelas dan belum terbukti sampai saat ini tentang pengaruh genetik. Vaskularisasi kulit mulai terbentuk pada hari ke-35 gestasi, yang berlanjut sampai beberapa bulan setelah lahir. Maturasi sistem vaskuler

11

terjadi pada bulan ke-4 setelah lahir. Faktor angiogenik kemungkinan mempunyai peranan penting pada fase proliferasi dan involusi hemangioma. Pertumbuhan endotel yang cepat pada hemangioma mempunyai kemiripan dengan proliferasi kapiler pada tumor. Proliferasi endotel dipengaruhi oleh agen angiogenik.

Angiogenik bekerja melalui 2 cara yaitu: 1) Secara langsung mempengaruhi mitosis endotel pembuluh darah. 2) Secara tidak langsung mempengaruhi makrofag, sel mast, dan sel T helper. Heparin yang dilepaskan makrofag menstimuli migrasi sel endotel dan pertumbuhan kapiler. Di samping heparin sendiri berperan sebagai agen angiogenesis. Efek angiogenesis ini dihambat oleh adanya protamin, kartilago, dan kortikosteroid. Konsep inhibisi kortikosteroid ini diterapkan untuk terapi pada beberapa jenis hemangioma pada fase involusi. Angioplastin, fragmen internal plasminogen merupakan inhibitor poten dan spesifik untuk proliferasi endotel. Makrofag menghasilkan stimulator ataupun inhibitor angiogenesis. Pada fase proliferasi, jaringan hemangioma diinfiltrasi oleh makrofag dan sel mast sedangkan pada fase involusi terdapat infiltrasi monosit. Diperkirakan infiltrasi makrofag dipengaruhi oleh monocyte chemo-attractant protein-1 (MCP-1), suatu glikoprotein yang berperan sebagai kemotaksis mediator. Zat ini dihasilkan oleh sel otot polos pembuluh darah pada fase proliferasi tetapi tidak dihasilkan oleh hemangioma pada fase involusi ataupun malformasi vaskuler.

Keberadaan MCP-1 dapat di-down-regulasi oleh deksametason dan interferon alfa. Interferon alfa terbukti menghambat migrasi endotel yang disebabkan oleh stimulus kemotaksis. Hal ini memberikan efek tambahan interferon alfa dalam menurunkan jumlah dan aktifitas

12

makrofag. Bukti-bukti di atas menjelaskan efek deksametason dan interferon alfa pada hemangioma pada fase proliferasi.

e. Gambaran Klinis Gambaran klinis hemangioma berbeda-beda sesuai dengan jenisnya. Hemangioma kapiler tampak beberapa hari sesudah lahir. Strawberry nevus terlihat sebagai bercak merah yang makin lama makin besar. Warnanya menjadi merah menyala, tegang, berbentuk lobuler, berbatas tegas, dan keras pada perabaan. Ukuran dan dalamnya sangat bervariasi, ada yang superfisial berwarna merah terang dan ada yang subkutan berwarna kebiru-biruan. Involusi spontan ditandai oleh memucatnya warna di daerah sentral, lesi menjadi kurang tegang, dan lebih mendatar.5 Hemangioma kavernosa tidak berbatas tegas, dapat berupa makula eritematosa atau nodus yang berwarna merah sampai ungu. Biasanya merupakan tonjolan yang timbul dari permukaan. Jika ditekan mengempis dan pucat lalu akan cepat menggembung lagi jika dilepas dan kembali berwarna merah keunguan. Lesi terdiri atas elemen vaskuler yang matang. Lesi ini jarang mengadakan involusi spontan, kadang-kadang bersifat permanen.5 Gambaran klinis hemangioma campuran merupakan gabungan dari jenis kapiler dan kavernosum. Lesi berupa tumor yang lunak, berwarna merah kebiruan yang pada perkembangannya dapat memberikan gambaran keratotik dan verukosa. Sebagian besar ditemukan pada ekstremitas inferior dan biasanya unilateral.5

13

Gambar Hemangioma Kapiler

f. Pemeriksaan Penunjang Ketersediaan alat-alat canggih saat ini memungkinkan pencitraan massa orbita untuk dibedakan secara non invasif dalam banyak kasus. Untuk evaluasi diagnostik pada orbita, CT-Scan memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap tulang sedangkan MRI untuk jaringan lemak. USG juga dapat memberikan informasi penting dalam diagnosis massa orbita.2 Jika diagnosis hemangioma belum jelas secara klinis, MRI sangat berguna untuk membedakan hemangioma dari neurofibroma pleksiformis, malformasi limfatik, dan rhabdomiosarkoma di mana masing-masing berhubungan dengan pertumbuhan dan proliferasi cepat atau proptosis yang progresif. MRI atau USG Doppler dapat menggambarkan perluasan tumor ke posterior jika tidak dapat dipastikan secara klinis.2 Gambaran histopatologi tergantung stadium perkembangan

hemangioma. Lesi awal tampak banyak sel dengan sarang-sarang padat sel endotel dan selalu berhubungan dengan pembentukan lumen vaskuler yang kecil. Lesi yang terbentuk secara khas menunjukkan saluran kapiler yang berkembang dengan baik, rata, dan mengandung endotel dengan konfigurasi lobuler. Lesi involusi menunjukkan peningkatan fibrosis dan hialinisasi dinding kapiler dengan oklusi lumen.2

g. Penatalaksanaan Terdapat 2 cara pengobatan pada hemangioma yaitu:3 1) Terapi konservatif Pada perjalanan alamiah lesi hemangioma akan mengalami pembesaran dalam bulan-bulan pertama kemudian mencapai besar maksimum dan sesudah itu terjadi regresi spontan sekitar umur 12

14

bulan. Lesi terus mengadakan regresi sampai umur 5 tahun. Hemangioma strawberry sering tidak diterapi. Jika hemangioma ini dibiarkan hilang sendiri, hasilnya kulit terlihat normal.5 2) Terapi aktif Hemangioma yang memerlukan terapi secara aktif antara lain adalah hemangioma yang tumbuh pada organ vital (mata, telinga, tenggorokan), mengalami ulserasi, perdarahan, infeksi, pertumbuhan cepat, dan deformitas jaringan.3 a) Terapi kompresi Terdapat 2 macam terapi kompresi yaitu continous compression dengan menggunakan bebat elastik dan intermittent pneumatic compression dengan menggunakan pompa Wright Linear. Diduga dengan penekanan yang diberikan, akan terjadi pengosongan pembuluh darah yang menyebabkan rusaknya selsel endotelial sehingga terjadi involusi dini dari hemangioma.12 b) Terapi kortikosteroid Steroid digunakan selama fase proliferatif tumor untuk menghentikan pertumbuhan dan mempercepat involusi lesi. Steroid dapat digunakan secara topikal, intralesi, atau sistemik. Krim clobetasol propionate 0,05% topikal dapat digunakan pada lesi superfisial yang kecil. Injeksi intralesi kombinasi antara steroid kerja panjang dan kerja singkat sering digunakan pada hemangioma periorbita terlokalisir. Jika hemangioma difus atau meluas ke posterior orbita, digunakan steroid sistemik dengan dosis anjuran prednison atau prednisolon 2-5 mg/kg BB/hari. Terapi dengan kortikosteroid dalam dosis besar kadang-kadang akan menimbulkan regresi pada lesi yang tumbuh cepat.2 Steroid dihubungkan dengan banyak komplikasi sehingga perlu dipertimbangkan. Supresi adrenal dan retardasi

pertumbuhan dapat terjadi pada semua cara penggunaan,

15

termasuk krim topikal. Injeksi intralesi berisiko menyebabkan emboli arteri retinalis bilateral, atrofi lemak subkutan linier, dan depigmentasi palpebra. Imunisasi perlu ditunda pada anak-anak yang mendapat terapi steroid dosis tinggi. Dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak.2 Kriteria pengobatan dengan kortikosteroid ialah: 1) Jika melibatkan salah satu struktur yang vital. 2) Tumbuh cepat dan mengadakan destruksi kosmetik. 3) Secara mekanik mengadakan obstruksi orifisium. 4) Banyak perdarahan dengan atau tanpa trombositopenia. 5) Menyebabkan dekompensasio kardiovaskular.7 Hemangioma kavernosum yang tumbuh pada kelopak mata dan mengganggu penglihatan umumnya diobati dengan steroid injeksi untuk mengurangi ukuran lesi secara cepat sehingga penglihatan bisa pulih. Hemangioma kavernosum atau campuran diobati jika steroid diberikan secara oral dan injeksi langsung pada hemangioma. Penggunaan kortikosteroid peroral dalam waktu lama dapat meningkatkan infeksi sistemik, tekanan darah, diabetes, iritasi lambung, dan pertumbuhan terhambat.7

c)

Terapi pembedahan Indikasi dilakukannya terapi pembedahan pada

hemangioma adalah: (1) Pertumbuhan terlalu cepat, misalnya dalam beberapa minggu lesi menjadi 3-4 kali lebih besar. (2) Hemangioma raksasa dengan trombositopenia. (3) Tidak ada regresi spontan, misalnya tidak terjadi pengecilan sesudah 6-7 tahun.6 Eksisi hemangioma periorbita dapat dilakukan dengan mudah pada beberapa lesi yang terlokalisir dengan baik. Pada

16

kasus lain, pembedahan rekonstruksi dapat dilakukan bertahuntahun setelah terapi medis.2 Embolisasi sebelum pembedahan dapat sangat berguna jika hemangioma yang akan dieksisi mempunyai ukuran yang besar dan lokasi yang sulit dijangkau dengan pembedahan. Embolisasi akan mengecilkan ukuran dan mengurangi risiko perdarahan pada saat pembedahan.6 d) Terapi radiasi Pengobatan radiasi pada tahun-tahun terakhir ini sudah banyak ditinggalkan karena: (1) Penyinaran berakibat kurang baik pada anak-anak yang pertumbuhan tulangnya masih sangat aktif. (2) Komplikasi berupa keganasan yang terjadi pada jangka panjang. (3) Menimbulkan fibrosis pada kulit yang masih sehat yang akan menyulitkan jika diperlukan suatu tindakan.3 e) Terapi sklerotik Terapi ini diberikan dengan cara menyuntikan bahan sklerotik pada lesi hemangioma, misalnya dengan namor rhocate 50%, HCl kinin 20%, Na-salisilat 30%, atau larutan NaCl hipertonik. Namun, cara ini sering tidak disukai karena rasa nyeri dan menimbulkan sikatrik.3 f) Terapi pembekuan Aplikasi dingin dengan memakai nitrogen cair. Dianggap cukup efektif diberikan pada hemangioma tipe superfisial tetapi ini jarang dilakukan karena dilaporkan menyebakan sikatrik paska terapi.6 g) Terapi embolisasi Embolisasi merupakan teknik memposisikan bahan yang bersifat trombus ke dalam lumen pembuluh darah melalui kateter

17

arteri dengan panduan fluoroskopi. Embolisasi dilakukan jika modalitas terapi yang lain tidak dapat dilakukan atau sebagai persiapan pembedahan. Pembuntuan pembuluh darah ini dapat bersifat permanen, semi permanen atau sementara, tergantung jenis bahan yang digunakan. Banyak bahan embolisasi yang digunakan, antara lain methacrylate spheres, cyanoacrylate, balon kateter, silikon, wol, katun, spon gelatin, dan spon polyvinyl alcohol.6 h) Terapi laser Penyinaran hemangioma dengan laser dapat dilakukan dengan menggunakan pulsed dye laser (PDL) di mana jenis laser ini dianggap efektif terutama untuk jenis Port-Wine stain. Pulsed-dye laser dapat digunakan untuk mengobati hemangioma superfisial dengan beberapa komplikasi tetapi berefek kecil terhadap komponen tumor yang lebih dalam. Jenis laser ini memiliki keuntungan jika dibandingkan dengan jenis laser lain karena efek keloid yang ditimbulkan minimal.5

i) Kemoterapi Vinkristin merupakan terapi lini kedua lainnya yang dapat digunakan pada anak-anak yang tidak berhasil diterapi dengan kortikosteroid dan efektif pada anak-anak yang menderita sindrom Kassabach Merritt. Vinkristin diberikan secara intravena dengan angka keberhasilan lebih dari 80%. Efek samping dari terapi ini adalah neuropati perifer, konstipasi, dan rambut rontok. Siklofosfamid jarang digunakan pada tumor vaskuler jinak karena mempunyai efek toksisitas yang sangat besar.5

18

h. Komplikasi Morbiditas hemangioma palpebra sangat bergantung dari seberapa besar ukurannya mengisi rongga mata. Komplikasi yang paling sering dari hemangioma adalah ambliopia deprivasi pada mata yang terkena jika lesi cukup besar untuk menghalangi aksis visual. Hal ini dapat ditemukan pada 43-60% pasien dengan hemangioma palpebra. Jika lesi cukup besar untuk menyebabkan distorsi kornea dan astigmatisma maka ambliopia anisometrik dapat terjadi.1,2 Selain itu, perdarahan juga merupakan komplikasi yang paling sering terjadi. Penyebabnya ialah trauma dari luar atau ruptur spontan dinding pembuluh darah karena tipisnya kulit di atas permukaan hemangioma sedangkan pembuluh darah di bawahnya terus tumbuh.6 Ulkus dapat menimbulkan rasa nyeri dan meningkatkan risiko infeksi, perdarahan, dan sikatrik. Ulkus merupakan hasil dari nekrosis. Ulkus dapat juga terjadi akibat ruptur.6

2. MOLLUSCUM CONTAGIOSUM a. Definisi Molluscum contagiosum adalah infeksi virus pada epidermis yang mengenai kelopak mata. Dahulu molluscum contagiosum paling sering mengenai anak-anak tetapi baru-baru ini lebih sering terdapat pada orang dewasa dengan sindrom defisiensi imun (AIDS). Pada anak-anak, penularan penyakit ini adalah melalui kontak langsung dengan individu yang terinfeksi dan autoinokulasi sedangkan pada orang dewasa umumnya menular melalui hubungan seksual. Molluscum contagiosum merupakan infeksi pox virus pada kulit yang juga bisa menyebabkan lesi pada wajah, batang tubuh, dan bagian proksimal ekstremitas.8

19

b. Epidemiologi Molluscum contagiosum lebih sering terlihat pada anak di bawah usia 15 tahun, sekitar 80% kasus dilaporkan bahwa anak-anak yang terkena pada usia 1-4 tahun yang paling parah keadaannya.9

c. Etiologi Penyebab molluscum contagiosum adalah Poxvirus. Virus ini bereplikasi di dalam sel epitel host. Masa inkubasi dari virus ini adalah sekitar 2 minggu.10

d. Manifestasi Klinis Infeksi molluscum contagiosum biasanya muncul sebagai satu atau lebih lesi yang terpisah satu dengan yang lain, lesi berupa papul berukuran 1-5 mm. Setiap lesi biasanya memiliki umbilisasi di tengahnya di mana dari bagian tengah lesi muncul detritus. Sebagai akibat dari penyebaran partikel virus ke dalam konjungtiva forniks dapat mengakibatkan konjungtivitis folikuler kronis yang jika tidak diobati maka dapat menyebabkan pannus kornea dan trakoma. Molluscum contagiosum juga dapat menyebabkan dermatitis eksematosa di periorbita. Pada pasien yang terinfeksi HIV, lesi cenderung lebih besar dan lebih agresif. Keterlibatan kelopak mata bilateral dapat terjadi pada anak-anak dengan

imunosupresan. Infeksi molluscum contagiosum bisa menjadi tanda awal dari AIDS.8

Gambar Molluscum Contangiosum

20

e. Pemeriksaan Penunjang Secara histopatologi, khas dari lesi molluscum contagiosum menunjukkan invasif akantosis dan degenerasi sel-sel epitel yang mengisi bagian tengah lesi. Terdapat juga sejumlah badan inklusi intra sitoplasma.8

f. Tatalaksana Pengobatan yang paling umum digunakan adalah insisi dan kuretase dari bagian tengah lesi. Krioterapi dan laser telah digunakan sebagian besar untuk lesi ekstraokular. Krioterapi hiperfokal dengan anestesi lokal dilaporkan menjadi metode yang lebih aman untuk molluscum contagiosum kelopak mata yang multipel pada pasien AIDS. Topikal trichoroacetic acid tretinoin, asam salisilat, dan cantharidhin juga telah digunakan. Sekali lesi dihilangkan secara total, hal ini akan memperkecil angka kekambuhan.8

3. NEVUS a. Definisi Sel nevus berpigmen adalah pigmentasi tahi lalat yang umum terjadi pada kebanyakan orang. Nevus berasal dari melanosit yang memproduksi pigmen. Permukaan dari nevus bisa halus ataupun berbenjol-benjol tergantung pada jumlah keratin yang dikandungnya. Bisa terdapat beberapa rambut dengan ukuran panjang yang bervariasi. Warna nevus mulai dari sewarna kulit hingga coklat dan hitam tergantung pada jumlah dan lokasi dari melanin dan pigmen di dalam tumor. Nevus dengan warna yang lebih gelap memiliki pigmen yang lebih dekat ke permukaan.11

21

b. Klasifikasi 1) Junctional nevus Junctional nevus biasanya datar dan berbatas tegas dengan warna cokelat seragam. Dinamakan junctional nevus karena sel-sel nevus ini terletak pada perbatasan antara epidermis dan dermis. Memiliki potensi rendah berubah menjadi keganasan. 2) Intradermal nevus Intradermal nevus umumnya meninggi di atas kulit dan merupakan jenis nevus paling umum. Biasanya berwarna cokelat hingga hitam. Nevus intradermal sering terdapat pada pinggir kelopak mata dan bulu mata pada kelopak mata yang ditumbuhi nevus tersebut dapat tumbuh normal di atas nevus. Bisa tumbuh pada alis mata dan bulu-bulu alis mata juga dapat tumbuh baik pada nevus. Sebagian besar ahli berpendapat bahwa nevus ini tidak memiliki potensi keganasan. 3) Compound nevus Compound nevus adalah nevus yang berasal dari gabungan komponen jaringan pembatas antara epidermis dan dermis dengan komponen jaringan dermis kulit. Nevus ini memiliki potensi keganasan yang rendah.

Gambar Nevus 4) Nevus biru Nevus biru biasanya datar tetapi dapat pula berupa nodul yang berbatas tegas. Nevus ini dapat berwarna biru, abu-abu, hingga hitam. Warna biru hitam dikarenakan letaknya yang jauh lebih dalam dari kulit yang di atasnya.

22

Gambar Nevus Biru 5) Congenital oculodermal melanocytosis (nevus of ota) Jenis dari nevus biru dari kulit di sekitar bola mata yang berhubungan konjungtiva dan uvea. Nevus ini biasa mengenai ras kulit hitam dan oriental, jarang mengenai ras Kaukasia. Berpotensi menjadi ganas jika mengenai ras Kaukasia.11

Gambar Nevus of Ota c. Tatalaksana Walaupun dari tampilan klinis dan riwayat penyakit membantu dalam membuat diagnosis klinis, biopsi biasanya diperlukan untuk mengkonfirmasi diagnosis nevus. Biopsi insisi bisa dilakukan jika lesi berukuran besar dan untuk memastikan diagnosis. Biopsi eksisi juga dapat dilakukan jika nevus ingin dihilangkan karena alasan kosmetik selain juga untuk konfirmasi diagnosis. Nevus tidak sensitif terhadap radioterapi sehingga bedah eksisi adalah cara terbaik untuk menghilangkan tumor ini.11

23

4. XANTHELASMA a. Defenisi Xanthelasma adalah salah satu bentuk xantoma planum,

merupakan jenis yang paling sering dijumpai dari beberapa tipe klinis xantoma yang dikenal. Selain itu xanthelasma diartikan pula sebagai kumpulan kolesterol di bawah kulit dengan batas tegas berwarna kekuningan biasanya di permukaan anterior palpebra sehingga sering disebut xanthelasma palpebra.12,13

b. Epidemiologi Secara global xanthelasma juga merupakan kasus jarang di populasi umum. Pada studi kasus pasien dengan xanthomatosis, xanthelasma lebih sering dijumpai pada wanita dengan 32% dan 17,4% pada laki-laki. Onset timbulnya xanthelasma berkisar antara 15-73 tahun dengan puncak pada dekade 4-5. Xanthelasma jarang ditemukan pada anak-anak dan remaja.12

c. Manifestasi Klinis Timbul plak iregular di kulit, warna kekuningan sering kali di sekitar mata. Ukuran xanthelasma bervariasi berkisar antara 2-30 mm, ada kalanya simetris, dan cenderung bersifat permanen. Pasien tidak mengeluh gatal, biasanya mengeluh untuk alasan estetika. Xanthelasma palpebra biasanya terdapat di sisi medial kelopak mata atas. Lesi berwarna kekuningan dan lembut berupa plak berisi deposit lemak dengan batas tegas. Lesi akan bertambah besar dan bertambah jumlahnya. Biasanya lesilesi ini tidak mempengaruhi fungsi kelopak mata tetapi ptosis harus diperiksa jika ditemukan.12

24

Gambar Xanthelasma

d. Patofisiologi Setengah pasien xanthelasma mempunyai kelainan lipid. Erupsi xanthoma dapat ditemui pada hiperlipidemia primer dan sekunder. Kelainan genetik primer termasuk dislipoproteinemia, hipertrigliseridemia, dan defisiensi lipase lipoprotein yang diturunkan. Diabetes yang tidak terkontrol juga menyebabkan hiperlipidemia sekunder. Xanthelasma juga bisa terjadi pada pasien dengan lipid normal dalam darah yang mempunyai HDL kolesterol rendah atau kelainan lain lipoprotein.12

e. Pemeriksaan Laboratorium Karena 50% pasien dengan xanthelasma mempunyai gangguan lipid disarankan untuk pemeriksaan plasma lipid juga HDL dan LDL. Xanthelasma biasanya dapat didiagnosis dengan jelas secara klinis dan jarang kelainan lain memberi gambaran klinis sama. Jika ragu, eksisi bedah dan analisis PA sebaiknya dilakukan.12

f. Pemeriksaan Histologi Xanthelasma tersusun atas sel-sel xanthoma. Sel-sel ini merupakan histiosit dengan deposit lemak intraseluler terutama dalam retikuler dermis atas. Lipid utama yang disimpan pada hiperlipidemia dan xanthelasma normolipid adalah kolesterol. Kebanyakan kolesterol ini adalah yang teresterifikasi.12

25

g. Tatalaksana Pembatasan diet dan penggunaan obat-obatan penurun lipid serum hanya memberikan respon pengobatan yang kecil terhadap xanthelasma.1 Terdapat beberapa pilihan untuk menghilangkan xanthelasma palpebra yaitu eksisi bedah, argon dan karbondioksida ablasi laser, kauterisasi kimia, elektrodesikasi, serta krioterapi.12,13 1) Eksisi bedah12 a) Pada lesi liniar yang kecil, eksisi lebih disarankan karena skar akan berbaur dengan jaringan sekitar. b) Pada eksisi lebih tebal, kelopak mata bawah cenderung mudah terjadi skar karena jaringan yang diambil juga lebih tebal. Eksisi sederhana pada lesi yang lebih luas berisiko menyebabkan retraksi kelopak mata dan ektropion sehingga butuh cara rekonstruksi lain. Pengangkatan xanthelasma sudah menjadi bagian dari bedah kosmetik. 2) Pengangkatan dengan laser karbondioksida dan argon Menambah hemostasis, memberikan visualisasi lebih baik, tanpa penjahitan, dan lebih cepat. Namun, skar dan perubahan pigmen dapat terjadi.12 3) Kauterisasi kimia. Penggunaan chloracetic acid efektif untuk menghilangkan

xanthelasma. Zat ini mengendapkan dan mengkoagulasikan protein dan lipid. Monochloroacetic acid, dichloroacetic acid, dan

trichloroacetic acid dilaporkan memberi hasil yang baik. Haygood menggunakan kurang dari 0.01 ml dari 100% dichloracetic acid dengan hasil sempurna dan skar minimal.12 4) Elektrodesikasi dan krioterapi Dapat menghancurkan xanthelasma superfisial tetapi butuh terapi berulang. Krioterapi menyebabkan skar dan hipopigmentasi.12

26

h. Prognosis Kekambuhan sering terjadi. Pasien harus mengetahui bahwa dari penelitian yang dilakukan pada eksisi bedah dapat terjadi kekambuhan pada 40% pasien. Persentase ini lebih tinggi dengan eksisi sekunder. Kegagalan ini terjadi pada tahun pertama dengan persentase 26% serta lebih sering terjadi pada pasien dengan sindrom hiperlipidemia dan jika terjadi pada 4 kelopak mata sekaligus.12

C . KATARAK Katarak dapat disebabkan berbagai macam faktor antara lain trauma, peradangan, gangguan metabolik, radiasi dan proses penuaan. Perubahan biokimia terjadi pada katarak dimana terjadi perubahan pada komposisi air, kehilangan potasium, peningkatan kalsium, peningkatan konsumsi O2, penurunan dari glutation, yang berhubungan dengan akumulasi atau pengurangan heksosa dan pengurangan asam askorbat serta pengurangan protein.8,11 Biasanya katarak juvenil ini merupakan katarak yang didapat dan banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor. Katarak juvenile yang terlihat setelah usia 1 tahun dapat terjadi karena:9, 10 Lanjutan katarak kongenital yang makin nyata Penyulit penyakit lain, katarak komplikata, yang dapat terjadi akibat penyakit lokal pada satu mata, seperti akibat uveitis anterior, glaukoma, ablasio retina, miopia tinggi, ftisis bulbi yang mengenai satu mata Penyakit sistemik, seperti diabetes, hipoparatiroid, dan miotonia distrofi, yang mengenai kedua mata akibat trauma tumpul ataupun tajam

Klasifikasi Katarak Katarak dapat diklasifikasikan berdasarkan perkembangan, etiologi, lokasi di lensa, bentuk serta derajat opfikasinya.

27

Berdasarkan waktu perkembangannya katarak diklasifikasikan menjadi katarak kongenital, katarak juvenil dan katarak senilis.2,3,5 1. Katarak kongenital dapat berkembang dari genetik, trauma atau infeksi prenatal dimana kelanan utama terjadi di nukleus lensa. Kekeruhan sebagian pada lensa yang sudah didapatkan pada waktu lahir dan umumnya tidak meluas dan jarang sekali mengakibatkan keruhnya seluruh lensa. 2. Katarak juvenil merupakan katarak yang terjadi pada anak-anak sesudah lahir. Kekeruhan lensa terjadi pada saat masih terjadi perkembangan serat-serat lensa. Biasanya konsistensinya lembek seperti bubur dan disebut sebagai soft cataract. Katarak juvenil biasanya merupakan bagian dari satu sediaan penyakit keturunan lain. 3. Katarak senilis adalah jenis katarak yang paling sering dijumpai. Telah diketahui bahwa katarak senilis berhubungan dengan bertambahnya usia dan berkaitan dengan proses penuaan lensa. Berdasarkan lokasinya di lensa ada tiga mayor katarak yaitu mengenai korteks, nuklear dan subkapsular posterior. Pada tipe inti bagian sentral menjadi lebih keras dan secara optik menjadi lebih padat sehingga berwarna kuning sampai coklat. Katarak ini akan berkembang lambat dan selalu diasosiasikan dengan menurunnya penglihatan dekat yang disebabkan oleh perubahan lensa.2,8,9 1. Katarak kortikal merusak lapisan lensa terluar. Kekeruhan yang tampak seperti gelombang rreguler dan perifer ke sentral lensa. Kekeruhan terus berkembang hingga mengganggu penglihatan jauh dan dekat. 2. katarak subkapsular poterior dikarakteristikan oleh gumpalan sel-sel epitel yang abnormal pada kutub posterior lensa tepat didalam kapsul. Sel-sel tersebut secara cepat membentuk plak yang keruh di pusat aksis visual. Ketajaman penglihatan seringkali memburuk pada cahaya yang terang ketika pupil mengecil. 3. Katarak traumatik dapat terjadi akibat trauma mekanik, agen-agen fisik (radiasi, arus listrik, panas dan dingin) serta pengaruh osmotik. Sebagian besar katarak traumatik dapat dicegah. Di dunia industri tindakan pengamanan terbaik adalah sepasang kacamata pelindunga dengan mutu baik

28

4. Katarak toksik jarang terjadi. Banyak kasus terjadi pada tahun 1930-an sebagai akibat penelanan dinitrifenol (suatu obat yang dipakai untuk menekan nafsu makan). Kortikosteroid yang diberikan dalam waktu lama baik sistemik maupun dalam bentuk tetes dapat menyebabkan kekeruhan lensa. Berdasarkan stadiumnya, katarak dibagi menjadi stadium insipien, stadium imatur, stadium matur, dan stadium hipermatur. 1. Stadium insipien Stadium yang paling dini, yang belum menimbulkan gangguan visus. Kekeruhan terutama terdapat pada bagian perifer berupa bercak-bercak seperti baji (jari-jari roda), terutama mengenai korteks anterior, sedangkan aksis relatif masih jernih. Gambaran ini disebut spokes of a wheel yang nyata bila pupil dilebarkan. 2. Stadium imatur Kekeruhan belum mengenai eluruh lapisan lensa. Kekeruhan terutama terdapat di bagian posterior dan bagian belakang nukleus lensa. Kalau tidak ada kekeruhan di lensa, maka sinar dapat masuk ke dalam mata tanpa ada yang dipantulkan. Oleh karena kekeruhan di bagian posterior lensa, maka sinar oblik yang mengenai bagian yang keruh ini akan dipantulkan lagi, sehingga pada pemeriksaan, terlihat di pupil ada daerah yang terang sebagai refleks pemantulan cahaya pada daerah lensa yang keruh dan daerah yang gelap, akibat bayangan iris pada lensa yang keruh. Keadaan ini disebut shadow test (+). 3. Stadium matur Pada stadium ini lensa telah menjadi keruh seluruhnya, sehingga semua sinar yang melalui pupil dipantulkan kembali di permukaan anterior lensa. Tak ada bayangan iris. Shadow test (-). Di pupil tampak lensa yang seperti mutiara. Shadow test membedakan stadium matur dari imatur, dengan syarat harus diperiksa lebih lanjut dengan midriatika, oleh karena pada katarak polaris anterior juga terdapat shadow test (-), karena kekeruhan terletak di daerah pupil. Dengan melebarkan pupil, akan tampak bahwa kekeruhan hanya terdapat pada daerah pupil saja. Kadang-kadang, walaupun masih stadium imatur, dengan koreksi, visus tetap buruk, hanya dapat menghitung jari, bahkan dapat lebih buruk lagi 1/300 atau satu per tak hingga,

29

hanya ada persepsi cahaya, walaupun lensanya belum keruh seluruhnya. Keadaan ini disebut vera matur. 4. Stadium hipermatur Korteks lensa yang konsistensinya seperti bubur telah mencair, sehingga nukleus lensa turun oleh karena daya beratnya ke bawah. Melalui pupil, pada daerah yang keruh, nukleus ini terbayang sebagai setengah lingkaran di bagian bawah, dengan warna yang lain daripada bagian yang diatasnya, yaitu kecoklatan. Pada stadium ini juga terjadi kerusakan kapsul lensa, yang menjadi lebih permeabel, sehingga isi korteks yang cair dapat keluar dan lensa menjadi kempis, yang di bawahnya terdapat nukleus lensa. Keadaan ini disebut katarak Morgagni. Pada perjalanan dari stadium I ke stadium IV, dapat timbul suatu keadaan yang disebut intumesensi yaitu penyerapan cairan bilik mata depan oleh lensa sehingga lensa menjadi cembung dan iris terdorong ke depan, bilik mata depan menjadi dangkal. Hal ini tidak selalu terjadi. Pada umumnya terjadi pada stadium II.

Gejala Gejala awal yang paling umum adalah kaburnya penglihatan jauh. Seiring dengan perkembangan katarak, nukleus lensa mengeras sehingga meningkatkan kekuatan optik lensa pada penglihatan jarak dekat. Penglihatan baca akan lebih sedikit dipengaruhi daripada penglihatan jauh.1

Keluhan utama: 1. pandangan silau dan berkabut 2. penurunan visus yang semakin lama semakin berat 3. perasaan tidak nyaman 4. keluar air mata dan mata merah 5. kotoran mata tidak pernah ada 6. diplopia 7. lebih terang melihat pada pagi hari atau malam hari

30

Gejala pada katarak juvenile atau katarak pada orang dewasa cukup progresif, juga terdapat penurunan tajam penglihatan. Besarnya penurunan tajam penglihatan tergantung dari lokasi dan tingkat kekeruhan.2,3,11 Ketika kekeruhan di nukleus sentral lensa (katarak nuklear), miopia terjadi pada stadium dini, sehingga pasien presbiopi dapat diketahui ketika pasien dapat membaca tanpa kacamata. Meskipun jarang, katarak dapat menyebabkan timbulnya glaukoma sekunder dan nyeri.2,10 Penatalaksanaan Perubahan resep kacamata dan pengontrolan refraksi yang sering dapat membantu mempertahankan visus selama perkembangan katarak. Dilatasi pupilari kronik (dengan phenylephrine 2,5%) berguna bagi opasitas lenticuler yang kecil. Banyak dokter mata merekomendasikan kacamata UV atau kacamata matahari untuk dipakai dibawah sinar matahari. Salah satu terapi katarak adalah tindakan bedah. Bedah katarak sudah berubah secara dramatis pada 20 tahun terakhir ini, yang disebabkan oleh diperkenalkannya operasi dengan mikroskop, instrumentasi lebih baik, benang jahit yang lebih baik dan lebih baiknya lensa okuler. Indikasi operasi untuk operasi katarak termasuk pengkoreksian visus maksimal 20/50 (6/15) dan kelemahan visus secara subyektif yang menghalangi aktivitas sehari-hari (seperti mengemudi, membaca, dan aktivitas lainnya). Pandangan berbayang dapat merupakan indikasi untuk pembedahan dan paling umum dengan katarak subkapsular posterior. Indikasi yang jarang adalah penyakit lensa (seperti glaukoma phocolytic, uveitis) atau kebutuhan untuk menampilkan fundus pada penatalaksanna penyakit seperti retinopati diabetik atau glaukoma. Ekstraksi katarak biasanya menggunakan anestesi lokal dan sedasi IV. Ada 3 teknik ekstraksi katarak : ekstraksi katarak intrakapsular, dimana terdiri dari pemindahan katarak dalam satu keping (jarang dilakukan lagi); ekstraksi katarak ekstrakapsular, yang terdiri dari pemindahan nukleus sentral yang luas dalam satu keping, kemudian pemindahan kortek yang lunak dalam kepingan kecil ganda, dan fakoemulsifikasi, dimana menghancurkan nukleus sentral yang keras pada mata dengan ultrasoundm, kemudian memecahkan soft cortex menjadi pecahan kecil yang mulitpel, insisi yang terkecil menggunakan fakoemulsifikasi, karena proses penyembuhan yang cepat.9

31

Pada kebanyakan kasus, pemberian antibiotika topikal dan kortikosteroid dibatasi hanya untuk 4 minggu setelah pembedahan. Pasien diminta untuk menggunakan penutup mata selama tidur, dilarang melakukan manuver valsava, mengangkat beban berat dan berjalan jauh.9,10 Ekstraksi katarak intra capsular (ICCE), yang jarang lagi dilakukan sekarang adalah mengangkat lensa in toto yakni didalam kapsulnya melalui limbus superior 140160 derajat.12 Pada Ektraksi katarak ekstra capsular (ECCE) juga dilakukan incisi limbus superior. Bagian anterior kapsul dipotong atau diangkat, nukleus diekstraksi dan korteks lensa dibuang dari mata dengan irigasi dengan atau tanpa aspirasi, sehingga meninggalkan kapsul posterior. Fakofragmentasi atau fakoemulsi dengan irigasi atau aspirasi atau keduanya adalah teknik ekstrakapsuler yang menggunakan getaran-getaran ultrasonik untuk mengangkat nukleus dan korteks melalui incisi limbus yang kecil (2-5mm), sehingga mempermudah penyembuhan luka operasi.

32

BAB IV ANALISIS KASUS


Pada kasus ini perempuan berusia 48 tahun datang dengan keluhan timbul tahi lalat yang semakin lama semakin membesar di kelopak mata kanan sejak 6 bulan yang lalu. Pasien mengaku pernah mengalami keluhan serupa pada 1 tahun yang lalu di kelopak mata kiri dan dibuang dengan operasi Pasien merasa berat untuk menutup dan membuka karena ada tahi lalat yang mengganjal. Pasien mengeluhkan pandangannya kabur di kedua mata , pandangan seperti berasap dan berkabut (+), penglihatan silau pada siang hari (+), penglihatan lebih terang pada malam hari daripada siang hari, penglihatan kembar (-), penderita mengaku lebih terang membaca tanpa kacamata, mata merah (-), mata berair (+), nyeri (-), mata seperti melihat pelangi bila melihat lampu (-), sakit kepala (-), mual muntah (-). Dari anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi didapatkan penglihatan kabur dan visus mata kanan 20/30 pin hole 20/25, visus mata kiri 20/30 pin hole 20/25. Hal ini menunjukkan bahwa tajam penglihatan pasien berkurang. Untuk mengetahui apakah berkurangnya tajam penglihatan disebabkan oleh kelainan refraksi atau media refraksi, maka harus dilakukan pemeriksaan pinhole. Setelah pemeriksaan pinhole tajam penglihatan tetap atau menurun, maka letak kelainan terjadi pada media refraksi. Jadi, kelainan refraksi dapat disingkirkan. Diagnosis nebus pigmentosus dan katarak ditegakkan dari keluhan adanya tahi lalat yang semakin membesar di kelopak mata nyeri (-) yang disertai penglihatan turun perlahan, Penderita merasa pandangan seperti berasap atau berkabut, penglihatan silau pada siang hari, dan penglihatan lebih terang pada malam hari daripada siang hari. Pada pasien ini, katarak terjadi pada usia lanjut sehingga jenis katarak pada pasien ini adalah katarak senil. Katarak senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia di atas 40 tahun. Penyebabnya sampai sekarang tidak diketahui secara pasti. Katarak senil secara klinik dikenal dalam 4 stadium yaitu insipien, imatur, matur,

33

hipermatur. Pada pemeriksaan oftalmologi pada pasien ini ditemukan tanda-tanda katarak imatur yaitu katarak yang belum mengenai seluruh lapis lensa. Pada katarak imatur akan dapat bertambah volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif, kedalaman bilik mata depan dangkal, terdapat bayangan iris pada lensa, sehingga uji bayangan iris positif.

34

DAFTAR PUSTAKA

1. American Academy of Opthalmology. Lens and Cataract. Section 11. San Fransisco: MD Association, 2005-2006 2. Vaughan DG, Asbury T, Riordan Eva P. Oftalmologi Umum. Edisi 14. Jakarta: Widya Medika, 2000. 3. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Kedua. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2003 4. Ilyas, S. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Balai Penerbit FKUI, Jakarta: 2005. 5. Ilyas S. Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FK UI; 2002. 6. J.P Shock. Lensa dalam Oftalmologi Umum. Edisi 14. 1996: 175-183 7. Hamzah M. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2005. Hal 242-4 8. Marchuk DA. Pathogenesis of Hemangioma. Journal Clinical Investigations Vol.107; 2001. 9. Mulliken J.B. Vascular Anomalies. In: Aston S, Beasley R, Thorne C, Editors. Grabb and Smith's Plastic Surgery. 5th ed. Philadelphia : Lippincot-Raven Publ; 1997. p. 191-200 10. Oski F, Deangelis C, Feigen R. Hemangioma. In: Julia A. McMillan, Catherine D. Deangelis, Ralph D, editors. Principle and Practice of Pediatrics. 2nd edition. Philadelphia : WB Saunders Co; 1999. p.802-12 11. Hasan Q, Tan T.S, Gush J, Peters S, Davis P. Steroid Therapy of a Proliferating Hemangioma: Histochemical and Molecular Changes. J Pediatr 2000; 105: 11720. 12. Eyelid, Conjungtival, and Orbital Tumors : An Atlas and Text . Second Edition. Jerry A. Shields and Carol L. Shields. Penerbit : Wolters Kluwer Health. Hal: 206. 13. Ocular Molluscum contagiosum- A case report. Nigwekar Shubhangi. Pravara Med Rev 2009: 4 14. Eyelid Tumors clinical diagnosis & surgical treatment. Second edition. Jay justin older. 2003 hal : 38 40.