Anda di halaman 1dari 26

TUGAS MAKALAH

Prospek Arab Spring Terhadap Masa Depan Demokrasi di Timur Tengah


Tugas Kelompok Mata Kuliah Pengantar Studi Kawasan

Dosen Pembimbing: Nizar Asiten Dosen: Regit Ageng Sulistyo

Oleh: Arifasjah Riza Wibawa / 0801512029 LarrasitaWibowo / 0801512009 Putri Quarta / 0801512028

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL UNIVERSITAS AL AZHAR

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini berjudul Prospek Arab Spring Terhadap Masa Depan Demokrasi di Timur Tengah.

Makalah ini disusun untuk melengkapi nilai mata kuliah Pengantar Studi Kawasan, serta agar pembaca dapat lebih mengenal dan mengetahui mengenai Arab Spring dan prospeknya terhadap budaya politik di ngeara-negara Timur Tengah.
Dengan tersusunnya makalah ini, diharapkan makalah ini dapat dimanfaatkan sebagai media untuk menambah wawasan. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran sangat dibutuhkan untuk memperbaiki makalah ini. Kami sebagai penulis mengucapkan terima kasih.

Jakarta , 25 Desember 2013

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................. i ii 1 1 1 2 2 2 2

Bab I PENDAHULUAN............................................................................................. 1.1 Latar Belakang . ............................................................................................

1.2 Rumusan Masalah . ............................................................................................ 1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................................

1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................................. 1.5 Metode Pengumpulan Data .................................................................................. 1.6 Sistematika Penulisan ...........................................................................................

Bab II Pembahasan

.............................................................................................

3 3

2.1 Pengertian Arab Sping ...................................................................................... 2.2 Awal Mula Terjadi Arab Spring ................................................................. 2.3 Penyebab/Faktor Pendorong Terjadinya Arab Spring ................................ 2.4 Bentuk-bentuk Protes Arab Spring ............................................................. 2.5 Timeline Arab Spring ................................................................................. 2.6 Dampak Arab Spring di Timur Tengah ...................................................... 2.7 Prospek Arab Spring ................................................................................... 9

4 5 5 7 8

Bab III PENUTUP 3.1 Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 14 ............................................................................................. 15

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Sejak tahun 2010 hingga tahun 2012, dunia dikejutkan oleh fenomena gelombang aksi protes yang dilakukan oleh masyarakat di beberapa negara Timur Tengah dan di Afrika Utara. Fenomena ini disebut dengan Arab Spring. Fenomena ini muncul pertama kali di negara Tunisia pada tanggal 18 Desember 2010, masyarakat menuntut mundurnya presiden Tunisia pada saat itu yang menjabat melalui kudeta yaitu Zine El Abidin Ben Ali yang sudah menjabat hampir 25 tahun, dibawah kekuasaannya yang diktator, berbagai pelanggaran hak asasi manusia dan masalah-masalah lainnya terjadi di negara ini. Yang membuat masyarakat Tunisia melakukan gelombang aksi turun ke jalan dalam skala besar dan juga demonstransi karena ketidakpuasan dan kemarahan mereka akan kepemimpinan Ben Ali, membuat Ben Ali diturunkan secara paksa oleh rakyat Tunisia. Fenomena ini menjadi inspirasi bagi masyarakat di negara Timur Tengah lain. Peristiwa gelombang revolusi seperti ini terus menerus berlanjut ke berbagai negara di Timur Tengah dan Afrika Utara seperti Yaman, Suriah, Bahrain, Iraq, Kuwait, Yordania, Lebanon, Maroko, Oman, Arab Saudi, dan Sudan.

1.2

Perumusan Masalah 1. 2. 3. 4. 5. Apa itu Arab Spring? Bagaimana awal mula terjadi Arab Spring? Apa saja factor pendorong terjadinya Arab Spring? Bagaimana dampak/pengaruh Arab Spring di Timur Tengah? Bagaimana prospek Arab Spring terhadap masa depan demokrasi di Timur Tengah?

1.3

Tujuan Penelitian Tujuan penulis dalam mengulas kajian ini secara garis besar adalah sebagai berikut: a. Memberikan gambaran secara jelas tentang latar fenomena Arab Spring b. Mengetahui penjelasan bagaimana perlawanan dan perjuangan masyarakat di Timur Tengah dan Afrika Utara terhadap rezim kekuasaan diktator dan monarki absolut c. Untuk mengetahui prospek Arab Spring terhadap sistem pemerintahan di beberapa negara Timur Tengah dan Afrika Utara

1.4

Manfaat Penelitian Setelah membaca makalah ini, diharapkan pembaca atau mahasiswa/i dapat lebih mengetahui dan memahami apa itu Arab Spring dan pengaruhnya terhadap sistem pemerintahan dan budaya politik di Timur Tengah.

1.5

Sistematika Penulisan Makalah terdiri dari tiga bab dan daftar pustaka, disusun dengan urutan sebagai berikut: Bab I merupakan bab pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode pengumpulan data, sistematika penulisan. Bab II berisi pembahasan yang membahas mengenai pengertian Arab Spring, awal mula Arab Spring, bentuk protes Arab Spring, penyebab terjadinya Arab Spring serta dampak dari Arab Spring tersebut terhadap politik negara timur tengah. Bab III merupakan bab terakhir yang berisikan kesimpulan dari bab-bab sebelumnya. Terakhir, terdapat daftar pustaka

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Pengertian Arab Spring Arab Spring merupakan istilah lain yang diberikan terhadap Revolusi Dunia Arab dalam bahasa arab disebut al -Thawrat al-`Arabiyyah. Merupakan

serangkaian peristiwa gelombang revolusi, demonstrasi, dan protes dalam skala besar yang dimulai di dunia arab pada tanggal 18 Desember 2010.1 Dalam peristiwa Arab Spring, para penguasa diktator dipaksa untuk

menurunkan jabatanmereka di berbagai negara seperti Tunisia, Mesir, dan Libya. Pemberontakan sipil bermunculan di Bahrain dan Suriah. Aksi protes dalam skala besar pecah di Iraq, Yordania, Kuwait, Maroko danSudan. Aksi Protes dalam skala kecil meletus di Arab Saudi, dan Oman. Perang saudara di Libya dan pemberontakan di Mali merupakan pelopor Terjadinya gelombang Arab Spring di Afrika Utara. Dan menular ke negara Libya dan Lebanon. Paramasyarakat yang melakukan kegiatan revolusi diTimur Tengah dan Afrika utara menggunakan berbagai macam teknik perlawanan terhadap kekuasaan diktator absolut di negara mereka masing-masing seperti demonstrasi, penyerangan langsung melawan pasukan pro pemerintah, pawai dan menggalang massa melalui media jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat di negara-negara yang mengalami revolusi duniaarab mendapat perlawanan keras baik itu dari pasukan pemerintah maupun masyarakat yangcenderung berpihak pada penguasa. Adanya kekuasaan diktator, monarki absolut, pelanggaran hak asasi manusia, korupsi (dalamdokumen kawat diplomatik yang dibocorkan Wikileaks), pengangguran, kemiskinan,

sertanaiknya harga pangan merupakan faktor-faktor penyebab terjadinya fenomena Arab Spring. Dari gambar di bawah ini kita dapat melihat Negara-negara yang terlibat dalam arab spring dan bentuk perang apa yang di gunakan:

http://id.wikipedia.org/wiki/Kebangkitan_dunia_Arab

Keterangan: Mengalami kerusuhan sipil dan perubahan pemerintahan Protes dan perubahan pemerintahan Perang saudara Protes besar Protes kecil protes di luar dunia arab Revolusi 2.2 Faktor Pendorong Terjadinya Arab Spring Pemicu utama dalam terjadinya peristiwa Arab Spring adalah adanya kesenjangan sosial yang timpang antara pemegang kekuasan dengan masyararakatnya dan faktor struktur demokrasi. Faktor-faktor tersebut adalah: Negara otoriter Kemiskinan ekstrem Korupsi pemerintah Pelanggaran hak asasi manusia Inflasi Kleptokrasi Sektarianisme Pengangguran Peristiwa ini berasal dari satu orang yang bernama Sidi Bouzid yang kemudian di susul oleh Mohammed Bouzizi yang membakar diri sendiri sebagai bentuk protes terhadap kekuasaaan diktator di Tunisia. Peristiwa ini disaksikan oleh masyarakat di negara-negara lain di Timur Tengah dan Afrika Utara yang kemudian memicu revolusi dunia arab di Aljazair, Yordania, Yaman dan Mesir. Peristiwa ini dimulai

pada hari Jumat yang menjadi hari suci bagi umat Islam yang kemudian diikuti oleh negara-negara lainnyadalam melaksanakan revolusi.2 Pada bulan September 2012, sebanyak empat penguasa diktator telah diturunkan dari jabatannya, presiden Tunisia Zine El Abidin Ben Ali pergi ke Arab Saudi mencari suaka politik pasca revolusi Tunisia pada bulan Januari 2011. Di Mesir, presiden Husni Mubarak mengundurkan diri dari jabatannya pada tanggal 11 Februari 2011 setelah revolusi Mesir berlangsung selama 18 hari, mengakhiri

kekuasaannya yang sudah berlangsung selama 30 tahun. Kemudian penguasa Libya Moammar Kadafi dipaksa mundur pada tanggal 23 Agustus 2011setelah pihak oposisi Dewan Transisi Nasional (NTC) mengambil alih wilayah Bab Al-Azizia.Kadafi terbunuh pada tanggal 20 Oktober 2011 di Sirte kota kelahirannya setelah pasukan oposisimengambil alih kota tersebut. Kemudian presiden Yaman Ali Abdullah Saleh yang mundur darikekuasaannya setelah menandatangani perjanjian pemindahan kekuasaan Abdul Al-Rab Mansur Al-Hadi. Namun, Ada pula beberapa keadaan diluar kejadian arab spring dan berkaitan langsung dengannya, bahkan telah mendahuluinya namun memiliki arti pendukung dalam memudahkan terjadinya arab spring, yaitu:3 1. Kasus meledaknya WTC yang dieksploitasi secara berlebihan untuk jadi alasan pembenaran oleh Amerika dan Eropa dalam mendeskriditkan muslimin bahkan negara yang mereka anggap memiliki kaitan dengan terorisme untuk mereka bumi hanguskan. 2. Dengan alasan itu pula mereka mengaitkan Islam dengan terorisme yang akibatnya menimbulkan cemoohan dari bangsa mereka sendiri dan membakar semangat mereka untuk mengenali Islam dari sumbernya bukan dari paparan para tokoh barat yang penuh dengan stigma dan dusta terhadap wajah Islam yang sesungguhnya. 3. Akibatnya dalam tempo satu dasa warsa saja sudah cukup untuk menjadikan jutaan orang Eropa dan Amerika untuk masuk Islam. 4. Akibat itu pula menyebabkan para investor timur tengah hengkang meninggalkan Eropa dan Amerika dan memindahkan investasi mereka ke negara-negara Asia.

Delacoura, Katerina, The 2011 uprisings in the Arab Middle East: political change and geopolitical implications. 3 http://gemaislam.com/index.php/rubrik/aktualita/357-fenomena-arab-spring#sthash.PZZopYeD.dpuf

5. Pada tahun 2008 terjadi turbulensi ekonomi di Amerika Serikat, kemudian berselang dua tahun setelah itu terjadi pula hal yang serupa di berbagai negara Eropa yang membuat perekonomian mereka goncang bahkan sebagian mereka terpuruk

2.3

Bentuk-bentuk Protes Arab Spring Bentuk-bentuk Arab Spring dapat berupa:4 Ketidakpatuhan sipil Pemberontakan sipil Unjuk rasa Aktivisme daring Kamp protes Rebellion Revolusi Pembakaran diri Tindakan serangan Uprising Peperangan kota Yang membuat masyarakat Tunisia melakukan gelombang aksi turun ke jalan dalam skala besar dan juga demonstransi karena ketidakpuasan dan kemarahan mereka akan kepemimpinan Ben Ali, membuat Ben Ali diturunkan secara paksa oleh rakyat Tunisia.5 Fenomena ini menjadi inspirasi bagi masyarakat di negara lain yaitu Mesir, yang dipimpin oleh presiden Husni Mubarak selama hampir 30 tahun lamanya untuk melakukan penurunan paksa terhadap kekuasaaan diktator Mubarak pada tanggal 25 Oktober 2011,revolusi ini terjadi selama 18 hari penuh dengan kekerasan dan konflik antara rakyat dengan pasukan pemerintahan Mubarak. Kemudian peristiwa seperti ini menjalar ke Negara berikutnya Libya, pada tanggal 15 Februari 2011 aksi protes anti-pemerintah menuntut pemunduran paksa diktator Libya Moammar Kaddafi yang menjabat melalui kudeta militer, dan

4 5

http://id.wikipedia.org/wiki/Kebangkitan_dunia_Arab Delacoura, Katerina, The 2011 uprisings in the Arab Middle East: political change and geopolitical implications.

memimpin Libya selama 30 tahun. Konflik pun tidak terhindarkan antara pasukan oposisi dan juga pasukan pemerintah, mengakibatkan pecahnya perang saudara. Perbatasan Israel diserang dari berbagai arah. Untuk pertama kalinya dalam beberapa dasawarsa terakhir, ribuan warga sipil menyerang dari Suriah ke perbatasan di dataran tinggi Golan yang dikuasai Israel. Banyaknya protes dan kerusuhan yang terjadi di Iraq, menyebabkan Perdana Menteri Irak, Maliki mengumumkan bahwa ia tidak akan mencalonkan diri untuk ketiga kalinya . 2.4 Negara-negara yang Mengalami Arab Spring
1. Tunisia Akibat peristiwa pembakaran diri Mohammed Bouzizi sebagai bentuk protes kepada kekuasaan presiden Tunisia Zine El-Abidine Ben Ali menjadi pemicu aksi demonstrasi besarbesaran pada bulan Desember 2010 dan berakhir pada bulan Januari 2011 dengan perginya Ben Ali ke Arab Saudi untuk mencari suaka politik, peristiwa ini menandai berakhirnya 23 tahun kekuasaan diktator Ben Ali. Peristiwa revolusi besar-besaran di Tunisia disebabkan oleh beberapa faktor yaitu harga pangan yang tinggi, pembatasan hak-hak asasi manusia seperti kebebasan berpendapat dan berpolitik, inflasi tinggi, kasus-kasus korupsi, pelanggaran hak asasi manusia dan kemiskinan. Aksi protes yang dilakukan oleh masyarakat Tunisa memakan korban dalam jumlah yang besar baik luka-luka maupun meninggal dunia akibat mendapat perlawanan fisik dari pasukan polisi dan tentara pemerintah. Kemudian perdana menteri Tunisia yaitu Mohamed Ghannouchi mengundurkan diri pada tanggal 27 Februari atas desakan masyarakat Tunisia. Pada bulan Oktober diadakan pemilu demokrasi pertama kalinya di negara tersebut untuk memilih 217 anggota dewan parlemen untuk menyusun konstitusi baru. Beji Caid el Sebsi menjadi perdana menteri Tunisia. 2. Mesir Terinspirasi oleh revolusi di Tunisia, masyarakat Mesir memulai revolusi pada tanggal 25 Januari 2011 dan berlangsung selama 18 hari. Pada tanggal 28, pemerintahan Mesir berhasil memutus jaringan internet di negaranya dalam rangka mencegah terjadinya penggalangan massa besar-besaran dalam situs jejaring sosial Facebook. Beberapa hari berikutnya sebanyak sepuluh ribu warga turun ke jalan sebagai aksi protes, presiden Husni Mubarok membubarkan pemerintahannya dan membentuk kabinet baru. Presiden Husni Mubarok telah berkuasa selama 30 tahun. Pada tanggal 10 Februari presiden Mubarok memberikan wewenang kepresidenannya kepada wakil presiden Omar Suleiman. Tetapi, Mubarok tetap menegaskan bahwa dia masih menjabat sebagai presiden hingga masa

jabatannya berakhir. Aksi protes berlangsung keesokan harinya dan Suleiman dengan cepat mengumumkan bahwa Husni Mubarok telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden Mesir, dan memberikan kekuasaannya kepada Pasukan Tentara Mesir. Militer Mesir segera membubarkan parlemen, membekukan konstitusi Mesir. Seorang warga sipil Essam Sharaf diangkat menjadi Perdana Menteri Mesir. Aksi protes masih terus berlangsung hingga akhir 2011 dikarenakan kekhawatiran masyarakat terhadap pembentukan Dewan Tinggi Militer. Mohamed Mursi dilantik menjadi presiden Mesir melalui pemilu demokratis. 3. Libya Aksi anti pemerintahan Gadafi dimulai pada tanggal 15 Februari 2011. Tanggal 18 Februari pasukan oposisi menguasai kota Benghazi, kota kedua terbesar di Libya setelah Tripoli. Pemerintahan Gadafi menurunkan pasukan khusus dan tentara bayaran untuk merebut kembali kota Benghazi namun berhasil dipaksa mundur oleh pasukan oposisi. Pada tanggal 20 aksi protes menyebar di kota Tripoli pasca ancaman adanya perang saudara yang diutarakan oleh Saif Islam Gadafi melalui jaringan televisi pemerintah. Dan perang saudara terjadi memakan ribuan korban serta mendapat tekanan dari dunia internasional salah satunya dengan pengusiran para diplomat Libya. Selama perang saudara terjadi pasukan oposisi menciptakan pemerintahan sementara untuk melawan pemerintahan Gadafi. Pada tanggal 17 Maret, Resolusi Dewan Keamanan PBB membuat keputusan adanya zona larangan terbang bagi pasukan udara Libya sebagai bentuk perlindungan terhadap warga sipil di Libya. Dua hari kemudian pasukan Perancis, Amerika dan Inggris mengintervensi negara Libya dengan membombardir wilayah yang dikuasai pasukan pemerintahan Gadafi diikuti oleh koalisi pasukan militer dari 27 negara di Timur Tengah dan Eropa. Pada akhir Agustus pasukan oposisi berhasil merebut Tripoli sebagai titik akhir dalam merebut dan mengakhiri 42 tahun kekuasaan Gadafi. Gadafi bersama dengan para pejabat pemerintahannya berkumpul di kota Sirte dan menjadikan Sirte sebagai ibu kota baru negara Libya, beberapa pejabat melarikan diri ke kota Sabha dan Bani Walid serta mencari perlindungan politik ke negara sekitar. Namun kota Sabha dan Bani Walid berhasil direbut oleh pasukan oposisi. Pada tanggal 20 Oktober, pasukan oposisi berhasil mengambil alih kota Sirte dan membunuh Gadafi ditempat.

4. Yaman

Protes anti pemerintah muncul didaerah utara dan selatan Yaman pada pertengahan Januari 2011. Aksi protes disebabkan oleh adanya isu pemerintahan Yaman akan mengubah konstitusi negara, pengangguran, kemiskinan, dan korupsi beserta menuntut pengunduran diri presiden Yaman Ali Abdullah Saleh yang sudah mendapatkan perlawanan dari dalam pemerintahannya melalui penasihat pemerintahannya sejak 2009. Pada tanggal 18 Februari 2011 sebanyak 10 ribu demonstran turun ke kota-kota besar seperti Sana`a, Aden, dan Taiz. Beberapa bulan kemudian terjadi perang saudara antara pasukan pemerintah melawan pasukan pemberontak dan pasukan militer Yaman yang membelot dan berpihak kepada rakyat. Pada tanggal 3 Juni terjadi usaha pembunuhan Ali Abdullah Saleh dengan meledakkan bom di sekitar mesjid kepresidenan. Beberapa pejabat termasuk Ali Abdullah Saleh mengalami luka bakar, sehingga Saleh di evakuasi ke Arab Saudi untuk menjalani perawatan medis dan memberikan kekuasaan kepresidenan kepada wakil presiden Abd al-Rab Mansur al-Hadi. Selama di Arab Saudi Saleh tetap menegaskan bahwa dia bisa kembali kapan saja ke Yaman. Pada tanggal 23 September Saleh kembali ke Yaman dan dipaksa untuk menandatangani perjanjian pemindahan kekuasaan kepada wakil presiden, yang membuat dia menurunkan jabatannya . Pemilu dilaksanakan pada 21 Februari 2012 dan Abd al-Rab Mansur al-Hadi memenangkan pemilu dengan jumlah suara 99.8 persen. Namun beliau mengundurkan diri dan memberikan kekuasaan kepada penerusnya. 5. Suriah Protes di Suriah dimulai pada 26 Januari, ketika muncul laporan kasus bakar diri . Para pengunjuk rasa telah menyerukan reformasi politik dan kembalinya hak-hak sipil, serta mengakhiri keadaan darurat, yang telah diterapkan sejak 1963. "Hari kemarahan" ditegakkan selama 4-5 Februari. Pada tanggal 6 Maret, pasukan keamanan Suriah menangkap sekitar 15 anak di Daraa, Suriah Selatan, karena menulis slogan-slogan anti rezim. Anak-anak disiksa. Daraa adalah kota pertama yang memprotes rezim Baath, yang telah berkuasa di Suriah sejak 1963. Ribuan demonstran berkumpul di Damaskus, Aleppo, al-Hasakah, Daraa, Deir ezZor, dan Hama pada 15 Maret 2011. Belakangan politisi Suriah merilis Suhair Atassi menjadi juru bicara tidak resmi bagi revolusi "Suriah. Hari berikutnya, ada laporan tentang penangkapan terhadap sekitar 3.000 orang dan beberapa mati syahid, tapi tidak ada angka resmi mengenai jumlah kematian. Pada tanggal 18 April 2011, sekitar 100.000 demonstran duduk di Alun-alun pusat Homs menyerukan pengunduran diri Presiden Bashar al-Assad.

Protes terus berlanjut sampai Juli 2011, pemerintah menanggapi dengan tindakan keras dan operasi militer di beberapa kabupaten, terutama di utara. Pada tanggal 31 Juli, tank tentara Suriah menyerbu beberapa kota, termasuk Hama, Deir Ez-Zour, Al-Bukamal, dan Herak di Daraa. Setidaknya 136 orang tewas dalam hari yang paling keras dan berdarah sejak pemberontakan dimulai. Pada akhir November - awal Desember, Baba Amr di distrik Homs berada di bawah kontrol oposisi bersenjata Suriah, namun dikepung setelah operasi militer besar oleh tentara Suriah. Pada awal November 2011, pemerintah Suriah terpaksa menandatangani perjanjian dengan Liga Arab di Doha, Qatar, yang isinya, antara lain, pemerintah Suriah harus mengakhiri kekerasan di Suriah, menarik militer dari desa-desa dan kota-kota Suriah, dan melakukan dialog dengan pihak oposisi di Kairo, Mesir. Namun sehari setelah itu, korbankorban rakyat sipil kembali bergelimpangan di kota Homs. Rezim Suriah tidak menerapkan perjanjian yang sudah disepakati dengan Liga Arab. Liga Arab pun mengirim puluhan tim pengawas ke Suriah untuk melihat keadaan yang sebenarnya. Tapi keberadaan tim pengawas ini mendapat kritik keras dari pihak oposisi karena rezim Suriah tetap melakukan pembunuhan terhadap demonstran. Tim pengawas pun ditarik pulang. Tak tahan dengan peristiwa berdarah yang telah menelan lebih dari 6.000 orang, Liga Arab bersama Uni Eropa mengajukan kasus ini ke Dewan Keamanan (DK) PBB. Namun, untuk kedua kalinya, Rusia dan China, anggota tetap DK PBB yang punya hak veto memveto resolusi itu, meskipun resolusi itu sama sekali tidak menyinggung mengenai kemungkinan intervensi militer asing. Suriah adalah sahabat tradisionil Rusia dan pengimpor senjata Rusia sejak zaman Uni Soviet. Tetapi bukan hanya itu yang menjadi alasan China dan Rusia memveto resolusi itu, tapi karena Rusia dan China ingin memiliki pijakan di Timur Tengah yang sangat strategis. Sampai kini kekerasan masih berlangsung di Suriah dan setiap hari ada saja yang jatuh korban tewas dan ribuan lain mengungsi ke Turki dan Lebanon.

6. Bahrain Pada 2011 protes di Bahrain pada awalnya ditujukan untuk mencapai kebebasan politik yang lebih besar dan menghormati hak asasi manusia, dan tidak dimaksudkan untuk mengancam monarki mereka, juga tidak sebesar di negara-negara lain. Frustrasi yang panjang di kalangan mayoritas penduduk bermazhab Syiah yang diperintah oleh pemerintah Sunni adalah akar penyebab utama. Tapi protes di Tunisia dan Mesir merupakan inspirasi bagi demonstrasi mereka. Protes dimulai di Bahrain pada 14 Februari dan sebagian besar adalah protes damai, sampai penggerebekan oleh polisi pada malam 17 Februari melawan demonstran yang tidur di di Manama, di mana polisi membunuh tiga demonstran. Setelah serangan mematikan itu., para pemrotes membesar dan menyerukan bagi diakhirinya monarki itu. Pada tanggal 18 Februari, pasukan pemerintah menembaki

demonstran, pelayat, dan wartawan berita, yang mendorong demonstran untuk mulai menyerukan penggulingan monarki dan pemerintah Bahrain. Pada tanggal 19. Februari, demonstran menduduki Bundaran (Alun-alun) setelah pemerintah memerintahkan tentara dan polisi untuk mundur. Pada tanggal 22 Februari, diperkirakan seratus ribu orang, seperlima dari populasi bangsa, melakukan long march. Pada tanggal 14 Maret, atas permintaan putra mahkota, pasukan Arab Saudi yang merupakan anggota GCC GCC terdiri dari enam negara Arab Teluk, yaitu Arab Saudi, Oman, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Kuwait -- memasuki negara itu dan menembaki para pengunjuk rasa. Beberapa di antaranya tewas. Kemudian ribuan demonstran Syiah muncul di Irak dan Qatif menentang intervensi Saudi di Bahrain. Raja Hamad bin Isa al-Khalifa menyatakan keadaan darurat selama tiga bulan mulai tanggal 15 Maret dan meminta militer untuk menegaskan kembali kontrol mereka ketika bentrokan menyebar di seluruh negeri. Pada tanggal 16 Maret 2011, kamp demonstran di Bundaran dievakuasi, dibuldoser, dan dibakar oleh Angkatan Pertahanan Bahraini, polisi antihuru-hara, dan Angkatan Perisai Semenanjung Arab, lengan militer GCC, yang melakukan intervensi atas perintah Raja Hamad. Kemudian. pada tanggal 18 Maret, monumen Bundaran diruntuhkan sebagai bagian dari tindakan keras terhadap para

demonstran. Organisasi hak asasi manusia melaporkan bahwa sejak dalam 8 bulan setelah pecahnya protes pada 14 Februari, lebih dari 1.600 pengunjuk rasa politik secara damai, profesional medis, wartawan, pembela HAM dan para pengamat yang tidak bersalah ditangkap dan lebih dari 100 orang dihukum oleh pengadilan khusus militer yang ditetapkan oleh pemerintah. Sejak pencabutan hukum darurat pada tanggal 1 Juni, beberapa demonstrasi besar dilakukan lagi oleh komunitas Syiah yang menuntut pembebasan demonstran yang ditahan, representasi politik yang lebih besar, dan mengakhiri diskriminasi sektarian. Pada bulan Juli 2011, tenaga medis diadili oleh pengadilan militer khusus untuk mengobati pengunjuk rasa yang terluka dan dihukum beberapa tahun hukuman penjara. Beberapa kelompok hak asasi manusia dan organisasi wartawan menuduh mereka dengan sengaja ditargetkan oleh pemerintah Bahrain. Pada tanggal 23 Nopember 2011, Komisi Penyelidikan Independen Bahrain merilis laporan tentang pelanggaran hak asasi manusia selama protes bulan Februari dan Maret, menemukan bahwa pemerintah secara "sistematis" menyiksa tahanan, ringkasnya memecat karyawan dan mahasiswa Syiah, dan berkomitmen kotor lainnya. Salah satu rekomendasi laporan itu adalah untuk memungkinkan kelompok hak asasi manusia ke negara itu untuk memantau situasi antara 23 November dan akhir Januari. Namun, pemerintah Bahrain menolak masuk beberapa kelompok HAM internasional, termasuk Freedom House, Human Rights First, dan Dokter untuk Hak Asasi Manusia.

Bersamaan dengan peristiwa di Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, Suriah, dan Bahrain, protes berkobar di bagian lain kawasan tersebut, beberapa menjadi kekerasan, beberapa menghadapi upaya penindasan yang kuat, dan beberapa yang menghasilkan perubahan politik.

7. Aljazair Pada tanggal 29 Desember, protesyang dimulai di Algiers atas kurangnya perumahan dengan cepat meningkat ke konfrontasi kekerasan dengan polisi. Setidaknya 53 orang dilaporkan terluka dan 29 lainnya ditangkap. Dari 12-19 Januari 2011, gelombang bakar diri melanda negara itu, dimulai dengan Mohamed Aouichia, yang membakar dirinya di Bordj Menaiel sebagai protes atas perumahan keluarganya. Pada tanggal 13 Januari, Mohsen Bouterfif membakar dirinya setelah pertemuan dengan walikota Boukhadra di Tebessa, yang tidak mampu untuk menawarkan Bouterfif pekerjaan dan rumah. Bouterfif dilaporkan meninggal beberapa hari kemudian. Dan sekitar 100 pemuda memprotes tewas, yang mengakibatkan pemecatan walikota oleh gubernur provinsi. Setidaknya sepuluh orang lainnya membakar diri mereka hingga tewas. Pada tanggal 22 Januari, partai RCD mengadakan demonstrasi untuk demokrasi di Aljazair. Dan meskipun illegal, menurut keadaan darurat yang diberlakukan pada tahun 1992, dihadiri oleh sekitar 300 orang . Demonstrasi ini ditindas oleh polisi, 42 orang terluka. Pada tanggal 29 Januari, setidaknya 10.000 orang melakukan long march di kota timurlaut dari Bejaia. Dalam sebuah tawaran nyata untuk mencegah kerusuhan, Presiden Abdelaziz Bouteflika mengumumkan pada 3 Februari bahwa hukum darurat yang berusia 19 tahun akan dicabut. Janji terpenuhi pada tanggal 22 Februari, ketika kabinet Aljazair mengadopsi perintah untuk mencabut status darurat. Bouteflika mengatakan pada 15 April bahwa ia akan mencari revisi konstitusi negara sebagai bagian dari dorongan yang luas untuk reformasi demokratis.

8. Irak Dalam upaya untuk mencegah kerusuhan, Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki mengumumkan bahwa ia tidak akan mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga tahun 2014. Namun demikian, ratusan pengunjuk rasa berkumpul di beberapa kota besar (terutama Baghdad dan Karbala) pada tanggal 12 Februari, menuntut pendekatan yang lebih efektif untuk keamanan nasional, untuk penyelidikan kasus korupsi federal, serta peningkatan keterlibatan pemerintah dalam membuat pelayanan publik yang adil dan dapat diakses. Sebagai tanggapan, pemerintah berjanji untuk mensubsidi listrik. Pada tanggal 16 Februari, sebanyak 2.000 pengunjuk rasa mengambil alih sebuah gedung dewan provinsi di kota Kut. Para pengunjuk rasa menuntut agar Gubernur

mengundurkan diri karena kurangnya pelayanan dasar seperti listrik dan air. Sebanyak tiga orang tewas dan 30 terluka. Pada tanggal 24 Februari, Hawijah, Mosul, dan Baghdad menampilkan protes kekerasan.

9. Daerah Perbatasan Israel Palestina menggunakan Facebook untuk menyerukan protes massal di seluruh wilayah pada tanggal 15 Mei 2011, peringatan tahunan ke-63 eksodus Palestina, yang dikenal sebagai Hari Nakba. Diserukan "Intifada Palestina Ketiga" akan dimulai pada 15 Mei dengan mengumpulkan lebih dari 350.000 orang sebelum dibawa turun oleh manajer Facebook pada akhir Maret setelah keluhan dari pemerintah Israel bahwa situs tersebut mendorong kekerasan. Situs itu menyerukan pawai massa ke Palestina dari Mesir, Lebanon, Suriah dan Yordania untuk memperingati Nakba dan menuntut hak kembali pengungsi Palestina. Orang Palestina dari Mesir, Yordania, Libanon, Suriah, Jalur Gaza dan Tepi Barat berusaha mencapai dan melintasi perbatasan Israel. Namun, mereka semua terhenti dan 12 tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan Israel. Pihak keamanan Lebanon juga mengupayakan penghentian demonstrasi, termasuk penggunaan senjata api untuk

menghentikan demonstran yang mendekat ke perbatasan Israel. Hampir 300 orang terluka, termasuk 13 tentara Israel. Ada juga bentrokan di Jerusalem Timur. Pada tanggal 5 Juni, 23 demonstran Suriah tewas dan lebih dari seratus terluka oleh pasukan Israel setelah mencoba masuk ke wilayah yang dikuasai Israel dari Dataran Tinggi Golan. "Siapa pun yang mencoba melintasi perbatasan akan tewas, tentara Israel memperingatkan melalui megafon ketika orang yang melambaikan bendera Palestina mengalir ke arah perbatasan. Ketika pengunjuk rasa mencoba untuk memotong kawat berduri beberapa meter dari pagar perbatasan, pasukan Israel melepaskan tembakan. Beberapa orang terlihat sedang dibawa pergi dengan tandu. Setelah kejadian itu, ribuan memulai aksi duduk di dekat perbatasan, yang mengakibatkan pasukan keamanan Suriah menciptakan zona penyangga keamanan untuk mencegah demonstran lebih dekat ke perbatasan.. Presiden Lebanon Michel Sleiman menuduh Israel melakukan genosida atas insiden itu. Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB Navanethem Pillay mengutuk penggunaan Pasukan Pertahanan Israel. Partai Nasionalis Sosial Suriah menyebut respons internasional untuk insiden itu sebagai "pembantaian".

10. Yordania Pada tanggal 14 Januari, protes dimulai di ibukota Amman, serta di Ma'an, Al Karak, Garam, Irbid, dan lainnya. Protes, yang dipimpin oleh anggota serikat buruh dan partai-partai kiri, terjadi setelah sholat Jumat, dan menyerukan pemerintah Perdana Menteri Samir Rifai untuk mundur. Ikhwanul Muslimin dan 14 serikat pekerja mengatakan bahwa mereka akan

mengadakan protes duduk di luar gedung parlemen pada hari berikutnya untuk "mengecam kebijakan ekonomi pemerintah". Setelah protes tersebut., pemerintah menurunkan harga BBM, tetapi 5.000 memprotes pada tanggal 21 Januari di Amman tetap melakukan protes meskipun upaya pemerintah untuk meringankan penderitaan ekonomi rakyat Yordania telah dilakukan. Pada tanggal 1 Februari, Royal Palace mengumumkan bahwa Raja Abdullah II telah memecat pemerintah karena protes jalanan, dan meminta Marouf al-Bakhit, untuk membentuk kabinet baru. Raja Abdullah memerintahkan Bakhit untuk "mengambil langkah cepat dan praktis untuk memulai proses reformasi politik yang sesungguhnya". Raja itu menambahkan bahwa reformasi harus meletakkan Yordania di jalan "untuk memperkuat demokrasi", dan memberikan Yordania "kehidupan yang bermartabat. Langkah ini tidak mengakhiri protes, yang mencapai puncaknya dengan sebuah pawai dari antara 6.000 dan 10.000 orang Yordania pada tanggal 25 Februari. Sebuah kamp protes yang dipimpin oleh mahasiswa menyerukan reformasi demokratis didirikan pada tanggal 24 Maret di Alun-alun Gamal Abdel Nasser di pusat kota Amman. Tapi setidaknya satu orang tewas dan lebih dari 100 terluka sehari setelah kubu propemerintah bentrok dengan demonstran di kamp itu, yang memaksa polisi turun tangan. Pada November 2011, protes berlangsung lagi. Di bawah tekanan demonstrasi jalanan, Parlemen menyerukan penggulingan pemerintah Bakhit. Raja Abdullah sepatutnya memecat Bakhit dan kabinetnya dan menunjuk AWN Shawkat Al-Khasawneh untuk memimpin pemerintah baru pada 17 Oktober.

11. Kuwait Protes oleh Badui dimulai pada bulan Januari dan Februari 2011, bersamaan dengan banyak protes di kawasan itu. Pada bulan Juni, protes tumbuh dalam ukuran dari puluhan hingga ratusan. Ribuan orang melakukan protes pada bulan September dan Oktober, para pekerja minyak mogok. Protes berlanjut sampai Oktober, dengan demonstrasi terbesar sejak awal kerusuhan di awal tahun. Sebagai tanggapan,. Perdana Menteri Nasser Mohammed AlAhmed Al-Sabah mengatakan protes itu "terlalu jauh" dan mengancam tindakan keras pihak keamanan. Akhir 16 November, demonstran menduduki Majelis Nasional Kuwait selama beberapa menit dan berunjuk rasa di dekat Alun-alun Al-Erada. Emir Sabah Al-Ahmad AlJaber Al-Sabah menyebut pendudukan singkat itu "langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya di jalan menuju anarki dan pelanggaran hukum". Protes politik terbesar dalam sejarah Kuwait dijadwalkan dilakukan pada 28 November untuk menekan perdana menteri mengundurkan diri, tapi dia dan kabinetnya mengajukan pengunduran diri mereka kepada emir. Akhir November, sang amir yang dipilih

Menteri Pertahanan Sheik Jaber Al Hamad Al Sabah sebagai perdana menteri baru, menggantikan Sheik Nasser Al Muhammad Al Sabah, yang tidak mendapat kepercayaan parlemen dan menjadi sasaran kelompok oposisi untuk menyerukan untuk pemecatannya.

12. Maroko Pada awal Februari 2011, protes digelar di Rabat, Fez dan Tangier dalam solidaritas dengan revolusi Mesir. Selanjutnya, hari protes yang mendukung reformasi konstitusi Maroko dan keadilan sosial direncanakan untuk 20 Februari 2011 dan diiklankan di situs jaringan sosial. Di antara tuntutan penyelenggara adalah bahwa peran konstitusional raja harus "dikurangi. Menteri Taib Cherkaoui menegaskan hak protes berlangsung. Pada tanggal 20 Februari, sekitar 37.000 orang berpartisipasi dalam demonstrasi di Maroko, menurut sumber pemerintah. Beberapa protes dinodai oleh kekerasan dan kerusakan properti. Di Al Hoceima, lima orang tewas setelah pengunjuk rasa membakar sebuah bank. Pada tanggal 26 Februari, protes lebih lanjut diadakan di Casablanca. Pada tanggal 9 Maret, dalam pidato televisi langsung, Raja Mohammed mengumumkan bahwa ia akan memulai reformasi konstitusi yang komprehensif yang bertujuan untuk meningkatkan demokrasi dan supremasi hukum. Dia berjanji untuk membentuk sebuah komisi untuk bekerja pada revisi konstitusional, yang akan membuat proposal kepadanya pada bulan Juni, setelah referendum akan diselenggarakan pada rancangan konstitusi. Pada tanggal 20 Maret, protes lebih lanjut diadakan di Casablanca untuk menandai akhir bulan pertama sejak 20 demonstrasi pada Februari dan untuk menjaga tekanan untuk reformasi. Para pengunjuk rasa, sekitar 20.000 orang, menuntut pengunduran diri sejumlah politisi senior, termasuk perdana menteri Abbas El Fassi, yang mereka anggap sebagai korup. Pada hari yang sama, sekitar 6.000 orang berdemonstrasi di Rabat. Pada bulan Juni, referendum diadakan mengenai perubahan konstitusi, yang menjadi hukum pada 13 September. Beberapa pengunjuk rasa merasa bahwa reformasi tidak berjalan cukup jauh. Pada 18 September, 3.000 orang berdemonstrasi di Casablanca dan 2.000 di Tangier, menuntut mengakhiri peran raja sebagai kepala tentara dan urusan agama. Pada bulan Oktober, sekitar 50 imam protes di Rabat melawan kontrol negara terhadap kegiatan mereka. Pemilu diadakan atas dasar konstitusi baru pada bulan November 2011, dengan daftar pemilih disediakan untuk calon muda dan perempuan dan dengan posisi perdana menteri.

13. Oman Di negara Teluk Oman, 200 demonstran berpawai pada 17 Januari 2011, menuntut kenaikan gaji dan biaya hidup yang lebih rendah. Protes itu mengejutkan beberapa wartawan,

yang umumnya melihat Oman sebagai 'negara yang secara politik stabil dan mengantuk. Protes lanjutan terjadi di 18 Februari, dengan 350 pengunjuk rasa menuntut mengakhiri korupsi dan distribusi yang lebih baik dari pendapatan minyak. Beberapa pengunjuk rasa juga membawa spanduk dengan slogan-slogan dukungan terhadap Sultan. Pada tanggal 26 Februari, pengunjuk rasa di Sohar menyerukan lebih banyak pekerjaan. Pada hari berikutnya, ketegangan meningkat dengan pengunjuk rasa membakar toko dan mobil. Polisi menanggapi dengan menggunakan gas air mata untuk membubarkan kerumunan pemrotes. Demonstrasi juga menyebar ke wilayah Salalah, di mana pengunjuk rasa dilaporkan berkemah di luar rumah gubernur provinsi sejak 25 Februari. Di Sohar, dua pengunjuk rasa tewas ketika polisi menembakkan peluru karet untuk membubarkan massa. Para demonstran membakar sebuah kantor polisi serta rumah Wali Sultan di Sohar. Para pengunjuk rasa bersikeras bahwa mereka tidak menantang

pemerintahan Sultan Qaboos, yang telah berkuasa sejak 1970, namun hanya meminta pekerjaan dan reformasi. Para pengunjuk rasa bahkan meminta maaf kepada Sultan karena membiarkan kekerasan terjadi di kota Sohar pada tanggal 28 Februari 2011. Sultan kemudian mengkampanyekan reformasinya dengan melikuidasi Kementerian Ekonomi Nasional, mendirikan komite audit negara, pemberian tunjangan pengangguran dan mahasiswa, menolak sejumlah menteri, dan reshuffle kabinetnya tiga kali. Selain itu, hampir 50.000 pekerjaan diciptakan di sektor publik, termasuk 10.000 pekerjaan baru di Kepolisian Kerajaan Oman. Departemen Tenaga Kerja mengarahkan kepada berbagai perusahaan (baik swasta maupun publik) untuk merumuskan rencana kerja mereka sendiri. Tentara Kerajaan Oman juga telah memulai kerja dengan menerbitkan iklan rekrutmen di Koran. Upaya pemerintah sebagian besar membuat pengunjuk rasa tenang, dan Oman sejak Mei 2011 tidak ada demo yang signinifikan lagi.

14. Arab Saudi Protes dimulai dengan pengorbanan diri pria 65 tahun di Samtah, Jizan, pada tanggal 21 Januari dan protes dari beberapa ratus orang pada akhir Januari di Jeddah dan beberapa kali sepanjang Februari dan awal Maret di kota-kota Qatif, al-Awamiyah, Riyadh, dan Hofuf. Salah satu penyelenggara secara online utama "Hari Kemarahan" yang direncanakan pada 11 Maret adalah Faisal Ahmed Abdul Ahad atau Abdul Ahadwas, yangdiduga tewas oleh pasukan keamanan Saudi pada 2 Maret, dan saat itu salah satu kelompok Facebook membahas rencana memobilisasi lebih dari 26.000 anggota. Protes Kecil hak-hak buruh terjadi pada bulan April 2011 di depan gedung kementerian pemerintah di Riyadh, Thaif dan Tabuk Protes, terdiri dari terutama kaum demonstran Syiah, terjadi di Qatif dan kota-kota kecil di Provinsi Timur seperti al-Awamiyah, dan Hofuf semakin kuat pada bulan April dan Mei, dan terus berlanjut sampai 2011. Para

pengunjuk rasa menyerukan pembebasan tahanan, Pasukan Perisai Perisai Semenanjung ditarik dari Bahrain, untuk perwakilan yang sama di kantor utama dan reformasi dalam posisi politik, karena mereka merasa terpinggirkan. Empat pemrotes dibunuh oleh pemerintah Saudi dalam protes akhir November. Tapi protes berlanjut sampai awal 2012 dan Issam Abu Abdallah Mohamed ditembak mati oleh pasukan keamanan di al-Awamiyah pada 12 atau 13 Januari, mengarah ke pemakaman yang dihadiri 70.000 orang dan beberapa hari protes dengan slogan-slogan yang mengecam keluarga al-Saud dan Menteri Dalam Negeri, Nayef, Putra Mahkota Arab Saudi. Montazar Sa 'eed al-Abdel ditembak mati pada 26 Januari. Perempuan yang menyelenggarakan kampanye hak pilih perempuan di Facebook yang disebut "Baladi", menyatakan bahwa hukum Arab Saudi memberikan wanita hak pilih. Pada bulan April 2011, perempuan di Jeddah, Riyadh dan Dammam mencoba untuk mendaftar sebagai pemilih untuk pemilu kota 29 September meskipun para pejabat menyatakan bahwa perempuan tidak bisa berpartisipasi. Pada bulan Mei dan Juni, Manal alSharif dan perempuan lain menyelenggarakan kampanye dengan aksi utama akan berlangsung pada 17 Juni. Al-Sharif mengendarai mobil pada bulan Mei dan ditahan pada tanggal 22 Mei dan dari 23-30 Mei. Dari 17 Juni sampai akhir Juni, sekitar tujuh puluh kasus perempuan mengemudi didokumentasikan. Pada akhir September, Shaima Jastania dihukum 10 cambukan karena mengemudi di Jeddah, tak lama setelah Raja Abdullah mengumumkan partisipasi perempuan di tahun 2015 bagi pemilihan daerah dan kelayakan sebagai anggota Majelis Permusyawaratan.

15. Lebanon Di Lebanon, ratusan demonstran berunjuk rasa di Beirut pada 27 Februari di pawai yang disebut sebagai "Kebanggaan Laique", menyerukan reformasi sistem politik pengakuan negara. Pada saat yang sama, aksi duduk berlangsung di Saida. Pada tanggal 13 Maret, puluhan ribu pendukung Aliansi 14 Maret menyerukan perlucutan senjata Hizbullah di Beirut, menolak supremasi senjata Hizbullah atas kehidupan politik . Mereka juga menunjukkan dukungan untuk Pengadilan yang didukung PBB Khusus untuk Libanon (STL) setelah jatuhnya pemerintahan Hariri dan penciptaan pemerintah Mikati.

16. Mauritania Di Mauritania, Yacoub Ould Dahoud, pengunjuk rasa, membakar dirinya sendiri di dekat Istana Presiden pada 17 Januari, menentang kebijakan Presiden Mauritania Mohamed Ould Abdel Aziz. Minggu berikutnya, ratusan orang turun ke jalan-jalan utama Nouakchott.

Walikota kota Aoujeft, Mohamed El Moctar Ould Ehmeyen Amar, mengundurkan diri dari partai yang berkuasa karena politik mendukung apa yang disebutnya "penyebab hanya anak muda". Selain Noukchott, kota-kota seperti Atar, Zouerate , dan Aleg juga melakukan protes sporadis terorganisir. Meskipun konsesi ekonomi kecil oleh pemerintah, pada 25 April demonstran kembali turun ke jalan untuk menyerukan pengunduran diri perdana menteri Moulaye Ould Mohamed Laghdaf.

17. Sudan Di Sudan, protes dilakukan pada tanggal 30 Januari dan 1 Februari 2011, ketika ratusan orang menyerukan Presiden Sudan Omar al-Bashir untuk mundur. Pada tanggal 21 Februari, Presiden Omar al-Bashir mengumumkan bahwa dia tidak akan ikut dalam pemilihan presiden berikutnya (tahun 2015).

18. Uni Emirat Arab Di Uni Emirat Arab, sekelompok intelektual mengajukan petisi kepada penguasa mereka untuk reformasi yang komprehensif dari Dewan Nasional Federal, termasuk tuntutan untuk hak pilih universal. Sekitar 160 orang menandatangani petisi itu, banyak dari mereka adalah akademisi dan mantan anggota FNC. Pada tanggal 12 April, Ahmed Mansoor, seorang blogger terkemuka dan aktivis pro-demokrasi, dituduh memiliki alkohol.. Menurut pengacaranya, dua pria lain, seorang blogger dan komentator politik, ditahan beberapa hari sebelumnya. Tapi tuduhan ini dibantah oleh polisi. Pada bulan Mei, pemerintah mulai memperluas jaringan kamera pengintai, sebagai tindakan pencegahan melawan pemberontakan. Pada bulan Juni, Mansur dan empat aktivis reformasi lainnya, termasuk seorang profesor ekonomi, Nasser bin Gaith, mengaku tidak bersalah atas tuduhan menghina keluarga penguasa, membahayakan keamanan nasional dan menghasut orang untuk protes. Pada tanggal 13 November, mereka mulai mogok makan, sementara pada tanggal 27 November mereka dihukum, Ahmed Mansur menerima tiga tahun penjara, sementara yang lain dihukum dua tahun penjara, tapi kemudian diampuni hari berikutnya.

2.6

Dampak Arab Spring di Timur Tengah 1. Tunisia: Setelah Revolusi Melati pecah dan berhasil menumbangkan rezim Zainal Abidin Ben Ali bersama para koleganya, Tunisia merupakan negara pasca-Arab Spring yang paling menjanjikan transisinya dibanding negara-negara lainnya. Hal

ini dikuatkan oleh dukungan militer (tidak seperti di Mesir) yang menahan diri untuk tetap berada di luar ranah politik. Pemilu pada 23 Oktober 2011, yang memunculkan an-Nahdhah sebagai juara, adalah pemilu paling bersih dalam sejarah Tunisia.6 2. Libya: Kendati Muammar al-Qadhafi telah tiada, bukan berarti perjalanan Libya baru untuk menempuh kehidupan yang demokratis akan berjalan mulus. Pemerintahan Qadhafi yang sangat lama itu menyisakan kekhawatiran akan intervensi Barat dan bahwa Libya akan dibawa mengikuti demokrasi ala Barat. 3. Mesir: Pada akhir Juni 2012, hasil pilpres Mesir diumumkan secara resmi. Dr Muhammad Mursi, kandidat dari al-Ikhwan al-Muslimun (IM), mengalahkan Ahmad Syafiq, kandidat dari rezim lama sekaligus mantan perdana menteri terakhir Hosni Mubarak.Itu adalah pertamakalinya dalam sejarah, IM

menempatkan wakilnya di kuasa nomor satu.Selama ini, IM merupakan gerakan oposisi.Di hampir semua negara Arab pun demikian.Pada pertengahan abad lalu pun IM masuk dalam daftar hitam organisasi terlarang.Mereka baru bisa bergerak leluasa, dan membentuk partai besar sejak Mubarak sudah lengser. 4. Yaman: Banyak pengamat meragukan kemungkinan revolusi di Yaman bias berhasil sebab sulit ditemukan indikasi yang bergerak ke arah gerakan massa nasional yang bersatu. Yaman menderita fragmentasi sosial (baik kesukuan maupun sekte agama). Penyatuan tujuan revolusi sulit diwujudkan: tantangan utama yang rawan memecah. Yaman adalah pemberontakan Yaman selatan yang menginginkan separasi, juga demikian pula dengans ekte Syiah dari suku Houthis di utara. Di samping itu, mayoritas rakyat Yaman masih tinggal di pedesaan dan menjadi yang paling banyak menyumbang rendahnya angka literasi dan tingginya kemiskinan. 5. Suriah: Hampir tiga tahun sudah Suriah dilanda krisis. Kekerasan belum juga mereda. Korban tewas sudah mencapai lebih dari 100 ribu jiwa. Delegasi PBB, Kofi Annan, yang sudah pernah susah payah menggalang enam poin rencana damai menyerah di tengah jalan. Penggantinya, Lakhdar Brahimi, belum mampu mendatangkan perubahan berarti. Perang masih berkecamuk besar di Aleppo, distrik pusat perdagangan terbesar di Suriah. Hampir tiap hari media massa memberitakan selalu ada korban tewas di wilayah itu sebagian pengamat menilai,

http://azisaf.wordpress.com/2013/11/24/pasca-arab-spring/

perebutan Aleppo adalah penentu kemenangan antara rezim Assad versus oposisi. Setidaknya ada tiga alas an mengapa krisis Suriah tidak pernah usai, factor Rusia dan Cina, disparitas kelompok oposisi, dan egoism rezim Bashar al-Assad. 2.7 Prospek Arab Spring terhadap Masa Depan Demorkrasi di Timur Tengah Menurut Rubin (2007: 89) dalam artikelnya yang berjudul How Arab Regimes Defeated The Liberalization Challenge demokrasi sulit berkembang di Timur Tengah dikarenakan persepsi ancaman yang mereka sematkan pada negaranegara barat terutama Amerika Serikat dan Israel. Dalam pandangan mereka, kedua negara tersebut berkonspirasi melawan Arab dan Islam dengan segala macam tetek bengek nilai yang dibawa mereka. Adapun liberalisme, reformasi dan demokrasi hanyalah selingan dan alat semata agar negara barat tersebut lebih mudah mengontrol negara negara di Timur Tengah.. Tidak mudah membawa demokrasi di Timur Tengah, karena beberapa rezim bereaksi secara berlebihan dan terkadang bertindak represif terhadap para reformis di negara mereka. Taktik yang biasanya mereka gunakan untuk membungkam dan mengurangi aktivitas demokratisasi adalah dengan menghukum para pengkhianat tersebut, dengan begitu orang-orang yang memiliki pandangan serupa akan merasa terintimidasi dan berhenti mengkritik pemerintah agar supaya tidak mengalami nasib yang sama dengan rekan mereka. Demokrasi dan reformasi akan membawa resiko kekacauan atau pengambilalihan islam. Apalagi etnis dan agama yang ada di Timur Tengah cukup beragam sehingga dikhawatirkan jika rezim diktator runtuh, maka akan terjadi gejolak politik, perebutan kekuasaan atau perang saudara. Reaksi selanjutnya yang dilakukan oleh rezim terkait dengan tuntutan demokrasi ini adalah dengan berpura-pura melakukan reformasi dan demokratisasi di negara mereka. Merujuk pada perkataan Sean L. Yom dan pengamat barat lainnya bahwa prasyarat utama untuk melakukan transisi ke arah demokrasi di wilayah Timur Tengah dan afrika utara adalah dengan membentuk dan mengembangkan masyarakat sipil sebagai kekuatan utama rakyat agar dapat menghasilkan perubahan demokratis (Yom. 2005 : 1). Oleh karena itu banyak negara-negara di Timur Tengah membentuk institusi masyarakat sipil yang berada dibawah kontrol pemerintah, dengan harapan dapat mempropagandakan kebijakan pemerintah tersebut dan terlepas dari pengamatan dan kecaman negara lain.

Melihat dan menimbang keadaan di Timur Tengah dari penjelasan diatas maka memang cenderung menghasilkan pandangan pesimisme tentang demokrasi di masa yang akan datang. Di kebanyakan negara Timur Tengah, rezim penguasa mengklaim dirinya demokratis dengan hanya melakukan satu dari banyak hal yang wajib dipenuhi oleh negara yang demokratis. Tapi diantara negara-negara Timur Tengah lainnya, yang paling berhasil menerapkan demokrasi adalah Qatar karena ia berhasil menjalankan pemilu dengan tenang dan adil dan setengah dari pemilihnya adalah kaum wanita (Rubin. 2007 : 97-99). Dari contoh-contoh yang ada diatas dan peristiwa yang baru-baru ini terjadi, maka prospek demokrasi yang sesungguhnya di masa akan datang masih ada walaupun kecil. Jika demokrasi terjadi di Timur Tengah, demokrasi yang terjadi hanyalah sekedar formalitas dan secara administratif.

BAB III PENUTUP 1.1 Kesimpulan Peristiwa Arab Spring telah memberikan harapan bagi jutaan orang di seluruh Timur Tengah dan sekitarnya bahwa perubahan politik yang lebih baik dapat terjadi, hanya saja tiap negara punya kemungkinan yang berbeda. Budaya politik demokrasi yang dibawa oleh negara Barat tidak mudah untuk diterapkan di Timur Tengah, karena nilai demokrasi bertentangan dengan identitas dan budaya masyarakat Timur Tengah. Selain itu tuntutan yang terus menerus akan demokrasi dan campur tangan pihak asing akan cenderung mendorong pemerintah untuk semakin berperilaku represif. Tidak menutup kemungkinan bahwa intervensi pihak asing yang ditujukan untuk membantu, sebenarnya mempunyai tujuan untuk menguasai Timur Tengah, terutama karena Timur Tengah memiliki sumber daya minyak yang banyak menarik perhatian negara Barat.

DAFTAR PUSTAKA
buku Delacoura, Katerina. The 2011 uprisings in the Arab Middle East: political change and geopolitical implications

website http://id.wikipedia.org/wiki/Kebangkitan_dunia_Arab http://gemaislam.com/index.php/rubrik/aktualita/357-fenomena-arabspring#sthash.PZZopYeD.dpuf http://azisaf.wordpress.com/2013/11/24/pasca-arab-spring/