Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Cacingan sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di

Indonesia terutama infeksi oleh cacing-cacing yang penularannya melalui tanah (bentuk infektifnya berada di tanah). Cacingan tersebar luas, baik di pedesaan maupun di perkotaan terutama di daerah kumuh. Walaupun angka infeksi tinggi, tetapi intensitas infeksi (jumlah cacing dalam perut) berbeda. Menurut WHO 2004, infeksi cacing dan penyakit yang disebabkan helminthiasis amat besar angkanya yaitu kira-kira 2milyar orang terkena di seluruh dunia. Helminthiasis (cacingan) ini menjadi penyakit umum terutamanya di negara-negara miskin dan juga negara-negara yang sedang membangun. Dimana terdapat masalah kemiskinan, kurang nutrisi, kurang sanitasi serta kurang penjagaan kesehatan (WHO, 2004). Cacingan dapat berakibat buruk terhadap anak-anak seperti perkembangan tubuh, kecerdasan dan kognitif serta kurang aktif di sekolah. (Kingston, 2007) Infeksi oleh Soil Transmitted Helminths (STH) sering dijumpai pada anak usia sekolah dasar karena anak pada usia ini paling sering kontak dengan tanah (WHO, 2004). Beberapa spesies dari STH yang sering dijumpai adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura,

Strongyloides stercoralis, Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Telur/larva cacing-cacing ini menjadi infektif saat di tanah dalam kurun waktu sesuai denganspesies masing-masing (Babiker, 2009). Usia anak yang termuda mendapat infeksi Ascaris lumbricoides adalah 16 minggu, sedangkan untuk Trichuris trichiura adalah 41 minggu. Ini terjadi di lingkungan tempat kelompok anak berdefekasi di saluran air terbuka dan di halaman sekitar rumah (door yard infection). Karena kebiasaan seperti defekasi sekitar rumah, makan tanpa cuci tangan, bermain-main di tanah di sekitar rumah, maka khususnya anak balita terus menerus mendapatkan reinfeksi. Sehubungan dengan masalah di atas. Dalam makalah ini penulis mencoba menguraikan dan menginformasikan mengenai Trichuris trichiura

1.2

Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. 5. 6. Bagaimana habitat Trichuris trichiura? Bagaimana distribusi Trichuris trichiura? Bagaimana morfologi Trichuris trichiura? Bagaimana siklus hidup Trichuris trichiura? Bagaimana patogenesis Trichuris trichiura? Bagaimana cara pencegahan penyakit akibat Trichuris trichiura?

1.3

Tujuan Penulisan 1. Mengetahui habitat Trichuris trichiura? 2. Mengetahui distribusi Trichuris trichiura? 3. Mengetahui morfologi Trichuris trichiura? 4. Mengetahui siklus hidup Trichuris trichiura? 5. Mengetahui patogenesis Trichuris trichiura? 6. Mengetahui cara pencegahan penyakit akibat Trichuris trichiura?

BAB 11 PEMBAHASAN

2.1

Habitat Trichuris trichiura atau cacing cambuk merupakan salah satu nematoda usus

yang penting pada manusia, cacing ini hidup diusus terutama di daerah sekum. Pencemaran Trichuris trichiura semakin luas pada musim hujan karena telur cacing terbawa arus air. Kecacingan banyak terdapat pada anak-anak karena mereka sering bermain di tanah dan perilaku dalam menjaga kebersihan kurang baik. Telur T. trichiura didapatkan pada anak berusia 6-12 tahun karena anak-anak tersebut lebih sering bermain/kontak dengan tanah dibandingkan anak usia SMP. T. trichiura memerlukan

tanah liat untuk perkembangan telurnya agar menjadi bentuk infektif. Daerah Pondok gede Bekasi mempunyai tanah yang jenisnya tanah liat sehingga sesuai untuk perkembangan cacing tersebut. Protozoa tersebut didapatkan baik pada anak usia 6-12 tahun maupun 13-15 tahun dan juga pada anak laki-laki maupun perempuan. Infeksi campur lebih banyak ditemukan pada anak usia 6-12 tahun. Faktor yang sangat mendukung terjadinya penularan dan meluasnya penyakit cacing adalah karena keadaan daerah yang terletak didaerah tropis dengan iklim panas dan kelembaban yang tinggi. Sehingga sangat cocok untuk cacing usus yang ditularkan melalui tanah.

2.2

Distribusi Prevalensi parasit usus di Indonesia masih tergolong tinggi terutama pada

penduduk miskin dan hidup di lingkungan padat penghuni dengan sanitasi yang buruk, tidak mempunyai jamban dan fasilitas air bersih tidak mencukupi. Di daerah yang demikian itu, warga terutama anak-anak, defekasi di halaman rumah atau di got sehingga tanah dapat tercemar telur cacing dan kista protozoa. Di daerah kumuh di Jakarta sebanyak 37,5% pekarangan rumah tercemar telur cacing yang ditularkan melalui tanah. T. trichiura lebih sering terjadi didaerah panas, lembab dan sering terlihat bersama-sama dengan infeksi Ascaris. berdasarkan umur sebelum edukasi kelompok umur 6-8 tahun angka infeksinya lebih tinggi dibanding umur 9-12 tahun. Berdasarkan jenis kelamin efek edukasi pada laki laki lebih dapat menurunkan angka infeksi dibanding wanita.

2.3

Morfologi Trichuris trichiura, cacing ini disebut juga sebagai cacing cambuk yang

mempunyai ciri-ciri berupa, bagian anterior seperti cambuk dan agak meruncing, 3/5 bagian tubuhnya dilalui oesophagus yang sempit. Bagian posterior lebih tebal, 2/5 bagian dari tubuhnya berisi usus dan organ reproduksi. Cacing jantang berukuran 30 45 mm, sedangkan cacing betina berukuran 35 50 mm. Bagian posterior cacing jantan
3

berbentuk melingkar dengan satu spikulum dan sarung yang retraktil, sedangkan bagian posterior cacing betina berbemtuk bulat dan tumpul. Telurnya berukuran 50 x 23 mikron dan berbentuk seperti tempayan dengan 2 kutub yang jernih dan menonjol serta kulit luarnya berwarna kekuning-kuningan. Untuk perkembangan telur T.trichiura

memerlukan temperatur kira-kira 30 derajat Celcius. Kelembaban juga merupakan faktor penting untuk mempertahankan hidup cacing. Bila kelembaban rendah maka telur T.trichiura tidak akan berkembang dengan baik dan larva cacing tambang akan cepat mati. Kelembaban tanah tergantung pada besarnya curah hujan Untuk perkembangan telurnya, T.trichiura memerlukan tanah yang liat, lembab dan terlindung dari cahaya matahari (Suriptiastuti, 2006: 87).

2.4

Siklus Hidup Manusia mendapat infeksi karena menelan telur matang yang berasal dari tanah

yang terkontaminasi. Telur T. trichiura untuk berkembang dengan keadaan tanah sedikit berlumpur dan lembab dengan suhu optimum 30oC. Infeksi T. trichiura pada penderita terutama anak infeksi berat dan menahun menunjukan gejalagejala nyata seperti diare yang sering diselingi dengan sindrom disentri, anemia, berat badan menurun dan kadang disertai prolapsus rektum. Infeksi berat T. trichiura disertai dengan cacing lainnya atau protozoa. Infeksi ringan biasanya tidak memberikan gejala klinis yang jelas atau sama sekali tanpa gejala. Jika anak bermain di tanah atau orang dewasa mengolah tanah maka telur yang terdapat di tanah akan menempel di tangan dan jika orang tersebut tidak mencuci tangan sebelum makan maka telur cacing akan tertelan dan menetas di usus. Manusia terinfeksi oleh T. trichiura karena menelan telur infektif (telur yang mengandung larva) yang mengkontaminasi makanan, minuman dan alat makan. Penularan parasit usus juga dapat terjadi melalui sayuran mentah yang dimakan sebagai lalap. Oleh karena itu bagian sayuran yang dekat dengan tanah (bonggol) harus dipotong dan dibuang lalu sayuran dicuci bersih dengan air mengalir. Telur cacing dapat pula ditemukan pada sayuran yang disiram dengan air yang sudah terkontaminasi telur cacing

dari feses. Kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan merupakan aspek higiene perseorangan yang berhubungan dengan infeksi kecacingan yang penyebarannya melalui mulut.

2.5

Patogenesis Trichuriasis disebabkan oleh berbagai spesies Trichuris. Sebagian besar kasus

manusia disebabkan oleh Trichuris trichiura, sementara spesies lain dari Trichuris juga dilaporkan menginfeksi hewan, tetapi tidak menyerang manusia. Di negara-negara di mana trichuriasis adalah endemik, merupakan ancaman untuk pertumbuhan yang sehat dan pengembangan jutaan anak prasekolah. Di negara-negara maju, penurunan drastis Trichuriasis telah diamati sejak tahun 1960 dengan pengenalan program pengobatan nasional serta pembangunan sosial dan ekonomi. Meskipun demikian, kasus penyebaran penyakit Trichuriasis sedikit tak terduga terjadi di daerah non-endemik, penyebab yang belum sepenuhnya dijelaskan. Kecuali yang terinfeksi berat, kebanyakan pasien dengan infeksi Trichuris trichiura tidak menunjukkan gejala. Anak-anak sering lebih terkena dampak serius daripada orang dewasa. Meskipun kehilangan darah dapat menjadi fitur infeksi Trichuris trichiura, itu kurang menonjol dibandingkan pada infeksi cacing tambang. Namun, pendarahan usus berpotensi menjadi parah atau bahkan mengancam jiwa melalui anemia. Pemeriksaan tinja menunjukkan infeksi Trichuris trichiura. Meskipun berbagai patogen dapat menyebabkan berdarah diare, diagnosis yang akurat dari infeksi parasit memerlukan pemeriksaan yang teliti terhadap riwayat medis, tes laboratorium yang sesuai, dan khususnya, indeks diagnosis yang tinggi. Trichuriasis disebabkan oleh infeksi pada saluran usus manusia yang dihasilkan dari konsumsi telur dari air atau makanan yang terkontaminasi. Telur menetas dalam usus kecil sampai 14 hari sebelum menyelesaikan pematan

2.6

Pencegahan Penyakit Pencegahan cacing Trichuris trichiura dapat dilakukan dengan cara antara lain

yaitu: 1. Air minum dimasak sampai mendidih 2. Makanan dan minuman harus ditutup rapat untuk menghindari lalat hinggap yang dapat membawa telur cacing atau kista protozoa. 3. Kebersihan pribadi yang harus dilakukan adalah memotong kuku, mencuci tangan sesudah buang air besar, sebelum makan dan sebelum menjamah/ mengolah makanan dan minuman. 4. Cuci tangan memakai sabun sebelum makan dan sesudah kontak dengan tanah. 5. Sumber air harus dilindungi dari pencemaran feses dan masyarakat harus diberikan informasi agar tidak buang air besar di rawa, kolam, sawah dan sumber air lainnya. 6. Mencuci tangan sebelum makan, membuang air besar dijamban, memakai alas kaki bila bermain dan keluar rumah dan kebiasaan menggigit kuku jari tangan. Diperlukan upaya perbaikan sanitasi lingkungan yang diikuti dengan upaya perbaikan hidup sehat.

BAB III PENUTUP

3.1

Kesimpulan Cacingan sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di

Indonesia terutama infeksi oleh cacing-cacing yang penularannya melalui tanah (bentuk infektifnya berada di tanah). Cacingan tersebar luas, baik di pedesaan maupun di perkotaan terutama di daerah kumuh.

Pencemaran Trichuris trichiura semakin luas pada musim hujan karena telur cacing terbawa arus air. Kecacingan banyak terdapat pada anak-anak karena mereka sering bermain di tanah dan perilaku dalam menjaga kebersihan kurang baik. T. trichiura lebih sering terjadi didaerah panas, lembab dan sering terlihat bersama-sama dengan infeksi Ascaris. berdasarkan umur sebelum edukasi kelompok umur 6-8 tahun angka infeksinya lebih tinggi dibanding umur 9-12 tahun. Berdasarkan jenis kelamin efek edukasi pada siswa laki laki lebih dapat menurunkan angka infeksi dibanding siswa wanita. Untuk perkembangan telur T.trichiura memerlukan temperatur kira-kira 30 derajat Celcius. Kelembaban juga merupakan faktor penting untuk mempertahankan hidup cacing. Penularan parasit usus juga dapat terjadi melalui sayuran mentah yang dimakan sebagai lalap. Oleh karena itu bagian sayuran yang dekat dengan tanah (bonggol) harus dipotong dan dibuang lalu sayuran dicuci bersih dengan air mengalir. Telur cacing dapat pula ditemukan pada sayuran yang disiram dengan air yang sudah terkontaminasi telur cacing dari feses. Kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan merupakan aspek higiene perseorangan yang berhubungan dengan infeksi kecacingan yang penyebarannya melalui mulut.

3.2

Saran Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh

karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar penulisan makalah selanjutnya bisa lebih baik lagi. Demikian penulis ucapkan terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA

Suriptiastuti. 2006. Infeksi Soil-Transmitted Helminth : Ascariasis, Trichiuriasis dan Cacing Tambang. Jurnal Universa Medicina, 25 (2): 84-93. Palgunadi, Bagus Uda. 2010. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Kecacingan yang Disebabkan Oleh Soil-Transmitted Helminth. Jurnal Ilmiah Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Vol Edisi Khusus Desember. Darnely dan Saleha Sungkar. 2011. Jurnal. Infeksi Parasit Usus pada Anak Panti Asuhan, di Pondok Gede, Bekasi. Universitas Indonesia, Jakarta. Vol 61 No 9. Rawina Winita, Mulyati, dan Hendri Astuty. 2012. Jurnal. Upaya Pemberantasan Kecacingan di Sekolah Dasar. Universitas Indonesia. Jakarta. Vol 16. No 2. Charles siregar. 2006. Pengaruh Infeksi Cacing Usus Yang Ditularkan Melalui Tahan Pada Pertumbuhan Fisik Anak Usia Sekolah Dasar. Sari Pediatri, vol. 8 No. 2. 112-117.