Anda di halaman 1dari 23

UJI KETELITIAN PIPETASI

I.

TUJUAN

1. Mengetahui cara menggunakan pipet piston ( clinic pipet ), serta membandingkan ketelitiannya dengan pipet gelas 2. Mengetahui cara mengukur konsentrasi sampel dengan menggunakan alat spektrofotometer.

II.

PRINSIP Hukum Lambert-Beer Hukum Lambert-Beer menyatakan bahwa konsentrasi suatu zat berbanding lurus

dengan jumlah cahaya yang diabsorbsi, atau berbanding terbalik dengan logaritma cahaya yang ditransmisikan. Hubungan antara absorbs energy dan konsentrasi larutan ditunjukkan oleh Hukum Lambert-Beer sebagai berikut: A = a b c = log 2 log %T dimana: A = absorban a = absorbptivitas b = jalannya sinar pada larutan ( tebal kuvet ) c = konsentrasi larutan %T = persen transmittans III. TEORI Pipet digunakan untuk memindahkan sejumlah larutan secara akurat dari suatu wadah (biasanya beker) ke dalam tabung reaksi untuk pengenceran atau penetapan kadar, biasanya bersama-sama dengan pengisi pipet (pipette fillers). Pipet ini bukanlah sedotan minuman, dan sebaiknya jangan pernah ditempatkan dalam mulut, atau digunakan untuk larutan pipet mulut. Praktik ini berbahaya dan tidak higienis. Ada dua jenis pipet yang utama (Cairns, 2009).

Pipet pindah Pipet ini hanya memiliki satu penanda volume dan digunakan untuk memindahkan larutan sebanyak volume tersebut. Ukuran-ukuran yang biasa digunakan adalah 10, 20, dan 50 ml. Pipet ini diisi hingga sedikit di atas tanda dengan menggunakan pompa atau bola pipet. Pompa ini dilepaskan dan larutan dibiarkan terus mengalir keluar hingga mencapai tanda, dan aliran larutan tersebut dikendalikan dengan menggunakan jari telunjuk pada bagian ujung pipet. Sebagian besar pipet pindah dikalibrasi untuk membiarkan sedikit larutan tetap tinggal pada ujung pipet begitu pipet dikeringkan dan larutan tersebut sebaiknya tidak ditiup keluar dari ujung pipet. Jenis pipet ini digunakan untuk semua prosedu kimia analitik (Cairns, 2009). Pemasukan pipet ke dalam pengisi pipet (pipette filler) harus dilakukan secara hati-hati. Jika pipet dihubungkan dengan pompa, dan terdorong ke dalam pengisi pipet, batang pipet dapat pecah dan operator mungkin terluka. Ketika memasukkan pipet ke dalam pengisi pipet, pipet harus selalu dipegang pada bagian yang dekat dengan ujungnya untuk mencegah semua kecelakaan yang sering terjadi ini (Cairns, 2009).

Pipet Ukur Pipet ukur merupakan alat untuk memindahkan larutan dengan volume yang diketahui. Tersedia berbagai macam ukuran kapasitas pipet ukur, diantaranya pipet berukuran 1 ml, 5 ml dan 10 ml. Cara penggunaanya adalah cairan disedot dengan pipet ukur dengan bantuan filler sampai dengan volume yang diingini. Volume yang dipindahkan dikeluarkan menikuti skala yang tersedia (dilihat bahwa skala harus tepat sejajar dengan mensikus cekung cairan) dengan cara menyamakan tekanan filler dengan udara sekitar (Awang, 2010).

Pipet ukur mempunyai fungsi hampir sama dengan pipet tetes biasa, kecuali : 1. Garis skala volum pada pipet ukur tidak hanya satu tapi ada beberapa skala, volum pipet seukuran hanya ada satu. 2. Tingkat ketelitian pengukuran pipet ukur lebih kecil dari tingkat ketelitian pengukuran pipet seukuran (Maya, 2010). Cara kalibrasi pipet ukur dilakukan terhadap sekelompok volum tertentu, misalnya untuk pipet ukur dengan kapasitas 25 mL, kalibrasi dilakukan pada volum 5 mL, 10 mL, 15 mL, 20 mL, dan 25 mL. Kalau memang diinginkan dan tersedia waktu luang, boleh juga dilakukan kalibrasi pada volum diluar yang disebut diatas (Maya, 2010). Pipet ukur dikalibrasi untuk memungkinkan sebuah alat gelas memindahkan satu interval volume, dan ukurannya yang umum adalah 1 ml dan 10 ml. Pipet ini kurang akurat bila dibandingkan dengan pipet pindah, dan pipet ini tidak digunakan di dalam laboratorium kimia analitik. Jika ingin memindahkan suatu larutan dengan volume sangat kecil, digunakan alat suntik gelas yang akurat (misalnya, alat suntik Hamilton) atau mikropipet otomatis (Cairns, 2009).

Mikropipet Mikropipet adalah alat untuk memindahkan cairan yang bervolume cukup kecil, biasanya kurang dari 1000 l. Banyak pilihan kapasitas dalam mikropipet, misalnya mikropipet yang dapat diatur volume pengambilannya (adjustable volume pipette) antara 1l sampai 20 l, atau mikropipet yang tidak bisa diatur volumenya, hanya tersedia satu pilihan volume (fixed volume pipette) misalnya mikropipet 5 l. dalam penggunaannya, mukropipet memerlukan tip (Awang, 2010). Mikropipet digunakan untuk memindahkan secara akurat suatu

larutan/cairan dalam volume kecil. Pipet biasa seperti pipet gelas tidak memiliki keakuratan pada volume kurang dari 1 mililiter (1 ml), sedangkan mikropipet memiliki keakuratan dan ketepatan pada volume kurang dari 1 mililiter (1 ml) (Umam, 2010). Dalam menggunakan mikropipet, yang perlu diperhatikan adalah volume cairan yang akan dipindahkan. Ada beberapa jenis mikropipet berdasarkan volumenya, jenis mikropipet yang sering digunakan memiliki kisaran 10-100 mikro liter (l) dan 100-1000 mikro liter (l). Pada penggunaanya, biasanya dilakukan

kombinasi pemakaian kedua jenis mikropipet ini, misalnya untuk memindahkan 1030 l cairan, maka digunakan pipet jenis pertama untuk memindahkan 30 l dan pipet jenis kedua untuk memindahkan cairan sebanyak 1000 l. Pemilihan jenis pipet yang tepat ini penting untuk menghemat waktu (Umam, 2010).

Cara Penggunaan : 1. Sebelum digunakan Thumb Knob sebaiknya ditekan berkali-kali untuk memastikan lancarnya mikropipet. 2. Masukkan Tip bersih ke dalam Nozzle / ujung mikropipet. 3. Tekan Thumb Knob sampai hambatan pertama / first stop, jangan ditekan lebih ke dalam lagi. 4. Masukkan tip ke dalam cairan sedalam 3-4 mm. 5. Tahan pipet dalam posisi vertikal kemudian lepaskan tekanan dari Thumb Knob maka cairan akan masuk ke tip. 6. Pindahkan ujung tip ke tempat penampung yang diinginkan. 7. Tekan Thumb Knob sampai hambatan kedua / second stop atau tekan semaksimal mungkin maka semua cairan akan keluar dari ujung tip. 8. Jika ingin melepas tip putar Thumb Knob searah jarum jam dan ditekan maka tip akan terdorong keluar dengan sendirinya, atau menggunakan alat tambahan yang berfungsi mendorong tip keluar (Awang, 2010).

Spektrofotometri Ulraviolet-Cahaya Tampak (UV-VIS) Spektrum elektronik senyawa dalam fase uap kadang-kadang menunjukkan struktur halus dimana sumbangan vibrasi individu dapat teramati, namun dalam fasefase mampat, tingkat energi molekul demikian terganggu oleh tetangga-tetangga dekatnya, sehingga seringkali hanya tampak pita lebar. Semua molekul dapat

mengabsorbsi radiasi dalam daerah UV-tampak karena mereka mengandung elektronik sekutu maupun menyendiri yang dapat dieksitasikan ke tingkat energi yang lebih tinggi. Panjang gelombang dimana absorbsi itu terjadi, bergantung pada berapa kuat elektron itu terikat dalam molekul itu. Elektron dalam suatu ikatan kovalen tunggal terikat dengan kuat, dan diperlukan radiasi berenergi tinggi atau panjang gelombang pendek, untuk eksitasinya. Misalnya alkana, yang mengandung hanya ikatan tunggal C-H dan C-C tak menunjukkan absorpsi di atas 160 nm. Metana menunjukkan suatu puncak pada 122 nm. Ini berarti bahwa suatu elektron dalam orbital ikatan (bonding) sigma dieksitasikan ke orbital anti-ikatan (antibonding) sigma (Day & Underwood, 2002).

Instrumentasi Spektrofotometer UV-Vis Spektrofotometer yang sesuai untuk pengukuran di daerah spektrum ultraviolet dan sinar tampak terdiri atas suatu sistem optik dengan kemampuan menghasilkan sinar monokromatis dalam jangkauan panjang gelombang 200-800 nm (Sudjadi, 2007). Suatu diagram sederhana spektrofotometer UV-Vis ditunjukkan oleh gambar berikut dengan komponen-komponennya meliputi sumber-sumber sinar,

monokromator, dan sistem optik.

1. Sumber-sumber lampu Lampu deuterium digunakan untuk daerah UV pada panjang gelombang dari 190-350 nm, sementara lampu halogen kuarsa atau lampu tungsten digunakan untuk daerah visibel (pada panjang gelombang antara 350-900). 2. Monokromator Digunakan untuk mendispersikan sinar ke dalam komponenkomponen panjang gelombangnya yang selanjutnya akan dipilih oleh celah

(slit). Monokromator berputar sedemikian rupa sehingga kisaran panjang gelombang dilewatkan pada sampel sebagai scan instrumen melewati spektrum. 3. Optik-optik Dapat didesain untuk memecah sumber sinar sehingga sumber sinar melewati 2 kompartemen, dan sebagaimana dalam spektrofotometer berkas ganda (double beam), suatu larutan blanko dapat digunakan dalam satu kompartemen untuk mengkoreksi pembacaan atau spektrum sampel. Yang paling sering digunakan sebagai blanko dalam spektrofotometri adalah semua pelarut yang digunakan untuk melarutkan sampel atau pereaksi (Sudjadi, 2007).

Ada tiga macam proses penyerapan energi ultraviolet dan sinar tampak yaitu: 1. Penyerapan oleh transisi elektron ikatan dan elektron anti ikatan (elektron sigma, elektron phi, dan elektron yang tidak berikatan atau non bonding elektron) 2. Penyerapan yang melibatkan elektron d dan f a. Penyerapan oleh ion-ion golongan lantanida dan aktinida b. Penyerapan oleh logam-logam golongan transisi pertama dan kedua 3. Penyerapan karena perpindahan muatan (Sudjadi, 2007). Transisi-transisi elektronik yang terjadi diantara tingkat-tingkat energi di dalam suatu molekul ada 4, yaitu transisi sigma-sigma star, tramsisi n-sigma star, transisi n-phi star, dan transisi phi-phi star. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: 1. Efek pelarut pada transisi Pelarut dapat mempengaruhi transisi n* dan *. Hal ini berkaitan dengan adanya perbedaan kemampuan pelarut untuk mensolvasi antara keadaan dasar dengan keadaan tereksitasi. 2. Kromofor-kromofor organik Kromofor merupakan suatu gugus atau atom dalam senyawa organik yang mampu menyerap sinar ultraviolet dan sinar tampak. 3. Pengaruh peristiwa konjugasi terhadap puncak serapan Ikatan terkonjugasi merupakan ikatan rangkap yang berselang-seling dengan satu ikatan tunggal. Dalam orbital molekul, elektron-elektron phi

mengalami delokalisasi lanjut dengan adanya ikatan terkonjugasi. Adanya efek delokalisasi ini akan menyebabkan penurunan tingkat energi * dan memberikan pengurangan karakter anti ikatan. Sebagai konsekuensinya panjang gelombang molekul yang mempunyai ikatan rangkap terkonjugasi akan mengalami pergeseran batokromik (Sudjadi, 2007). Spektroskopi ultraviolet-visible atau spektrofotometri ultraviolet-visible (UVVis atau UV / Vis) melibatkan spektroskopi dari foton dalam daerah UV-terlihat. Ini berarti menggunakan cahaya dalam terlihat dan berdekatan (dekat ultraviolet (UV) dan dekat dengan inframerah (NIR)) kisaran. Penyerapan dalam rentang yang terlihat secara langsung mempengaruhi warna bahan kimia yang terlibat (Hosniah, 2010). Untuk mengukur risiko dari usul investasi digunakan standar deviasi, nilai bobot, dan koefisien variasi. Semakin besar standar deviasi dibandingkan nilai bobot berarti semakin besar risiko yang terkandung dalam usul investasi. Semakin tinggi koefisien variasi semakin tinggi tingkat risiko investasi. Dalam memilih investasi diambil tingkat koefisien variasi yang rendah atau tingkat risiko investasi yang rendah walaupun metode nilai sekarang bersih menunjukkan tingkat positif yang tinggi (Nafarin, 2007). Hukum Beer-Lambert menyatakan bahwa absorbansi larutan berbanding lurus dengan konsentrasi spesies menyerap dalam larutan dan panjang jalan. Jadi, untuk tetap jalan panjang, UV / VIS spektroskopi dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi dalam larutan penyerap. Perlu untuk mengetahui seberapa cepat perubahan absorbansi dengan konsentrasi. Ini dapat diambil dari referensi (tabel koefisien molar kepunahan), atau lebih tepatnya, ditentukan dari kurva kalibrasi (Hosniah, 2010). Para instrumen yang digunakan dalam spektroskopi ultraviolet-visible disebut UV / vis spektrofotometer. Itu mengukur intensitas cahaya yang melewati sebuah sampel (I), dan membandingkannya dengan intensitas cahaya sebelum melewati sampel (I o). Perbandingan I / I o disebut pengiriman, dan biasanya dinyatakan sebagai persentase (% T). The Absorbansi, A, didasarkan pada pengiriman: A = - l o g (% T / 100%) (Hosniah, 2010).

Bagian dasar dari sebuah Spektrofotometer adalah sumber cahaya, pemegang sampel, sebuah kisi difraksi atau monochromator untuk memisahkan berbagai panjang gelombang cahaya, dan sebuah detektor. Sumber radiasi seringkali merupakan Tungsten filamen (300-2500 nm), sebuah lampu busur deuterium yang

kontinu di atas daerah ultraviolet (190-400 nm), dan lebih baru-baru ini memancarkan dioda cahaya (LED) dan Xenon Arc Lamps untuk panjang gelombang yang terlihat. Detektor biasanya sebuah fotodioda atau CCD. Photodiodes digunakan dengan monochromators, yang menyaring cahaya sehingga hanya cahaya dari panjang gelombang tunggal mencapai detektor. Kisi-kisi difraksi digunakan dengan CCD, yang mengumpulkan cahaya pada berbagai panjang gelombang yang berbeda piksel. Spektrofotometer dapat berupa sinar tunggal atau sinar ganda. Dalam berkas satu instrumen (seperti Spectronic 20), semua cahaya melewati sel sampel. I o harus diukur dengan membuang sampel. Ini adalah desain awal, tetapi masih umum digunakan baik dalam pengajaran dan laboratorium industry (Hosniah, 2010). Dalam berkas ganda instrumen, cahaya dibagi menjadi dua berkas sebelum mencapai sampel. Satu berkas digunakan sebagai acuan, yang lain melewati sinar sampel. Beberapa instrumen double-beam memiliki dua detektor (photodiodes), dan sampel dan berkas referensi diukur pada waktu yang sama. Dalam instrumen lain, kedua balok melewati sebuah balok helikopter, yang menghambat satu berkas pada suatu waktu. Detektor-ubah antara mengukur sampel balok dan balok referensi (Hosniah, 2010). Sampel untuk UV / Vis spektrofotometri yang paling sering cairan, meskipun absorbansi gas dan bahkan padatan juga dapat diukur. Sampel biasanya ditempatkan dalam transparan sel, yang dikenal sebagai cuvette. Cuvettes biasanya berbentuk persegi panjang, biasanya dengan lebar internal dari 1 cm. (Ini menjadi jalan lebar panjang, L, dalam hukum Beer-Lambert.) Uji tabung juga dapat digunakan sebagai cuvettes dalam beberapa instrumen. Jenis wadah sampel yang digunakan harus membiarkan radiasi untuk lewat di atas wilayah spektrum kepentingan. Yang paling banyak diterapkan cuvettes terbuat berkualitas tinggi leburan silika atau kuarsa kaca karena ini adalah transparan seluruh UV, yang kelihatan dan inframerah dekat daerah. Cuvettes kaca dan plastik juga umum, meskipun sebagian besar plastik kaca dan menyerap di UV, yang membatasi kegunaannya untuk terlihat panjang gelombang. Sebuah spektrum ultraviolet-pada dasarnya adalah sebuah grafik cahaya versus absorbansi panjang gelombang dalam berbagai ultraviolet atau terlihat daerah. Seperti spektrum sering dapat diproduksi langsung oleh spektrofotometer yang lebih canggih, atau data dapat dikumpulkan satu panjang gelombang pada suatu saat dengan instrumen sederhana. Panjang gelombang sering diwakili oleh

simbol . Demikian pula, untuk suatu substansi, grafik standar dari kepunahan koefisien () vs panjang gelombang () dapat dibuat atau digunakan jika salah satu sudah tersedia. Seperti grafik standar akan efektif "konsentrasi-dikoreksi" dan dengan demikian tergantung pada konsentrasi (Hosniah, 2010).

Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Spektrofotometri UV-Vis Spektra UV-Vis dapat digunakan untuk informasi kualitatif dan sekaligus dapat digunakan untuk analisis kuantitatif. 1. Aspek kualitatif Data spektra UV-Vis secara tersendiri tidak dapat digunakan untuk identifikasi kualitatif obat atau metabolitnya. Akan tetapi jika digabung dengan cara lain seperti spektroskopi inframerah, resonansi magnet inti, dan spektroskopi massa, maka dapat digunakan untuk maksud identifikasi/analisis kualitatif suatu senyawa tersebut. Data yang diperoleh dari spektroskopi UV dan Vis adalah panjang gelombang maksimal, intensitas, efek pH, dan pelarut yang kesemuanya itu dapat diperbandingkan dengan data yang sudah dipublikasikan. 2. Aspek kuantitatif Dalam aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada cuplikan (larutan sampel) dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarnya. Radiasi yang diserap oleh cuplikan ditentukan dengan membandingkan intensitas sinar yang diteruskan dengan intensitas sinar yang diserap jika tidak ada spesies penyerap lainnya (Sudjadi, 2007).

Aplikasi UV / Vis spektroskopi secara rutin digunakan dalam kuantitatif penentuan solusi dari logam transisi ion dan sangat dikonjugasikan senyawa organik. Solusi ion logam transisi dapat berwarna (misalnya, menyerap cahaya) karena d elektron dalam atom logam dapat tertarik dari satu negara elektronik lainnya. Warna larutan ion logam sangat dipengaruhi oleh kehadiran spesies lain, seperti anion tertentu atau ligan. Sebagai contoh, warna larutan encer tembaga sulfat adalah biru yang sangat terang; menambahkan amonia meningkat dan perubahan warna panjang gelombang serapan maksimum ( max) (Hosniah, 2010).

Senyawa organik, terutama mereka yang memiliki tingkat tinggi konjugasi, juga menyerap cahaya pada daerah UV atau terlihat dari spektrum elektromagnetik. pelarut untuk penentuan ini sering air untuk senyawa larut dalam air, atau etanol untuk senyawa organik yang larut. (Pelarut organik mungkin memiliki penyerapan sinar UV yang signifikan; tidak semua pelarut yang cocok untuk digunakan dalam spektroskopi UV. Ethanol menyerap sangat lemah di paling panjang gelombang.) Solvent polaritas dan pH dapat mempengaruhi penyerapan spektrum senyawa organik. Tirosin, misalnya, peningkatan penyerapan maksimum dan koefisien molar kepunahan ketika pH meningkat 6-13 atau ketika polaritas pelarut berkurang (Hosniah, 2010). Sementara kompleks transfer biaya juga menimbulkan warna, warna sering terlalu kuat untuk digunakan untuk pengukuran kuantitatif (Hosniah, 2010).

MONOGRAFI KALII PERMANGANAS KALIUM PERMANGANAT

K+ KMnO4 Pemerian BM 158,03 : hablur mengkilat; ungu tua atau hampir hitam, tidak berbau, rasa manis dan sepat. Kelarutan Penyimpanan Khasiat/kegunaan : larut dalam 16 bagian air, mudah larut dalam air mendidih. : dalam wadah tertutup baik. : antiseptikum, ekstern (Farmakope Indonesia ed III, hlm 330-331 )

IV.

ALAT & BAHAN Alat : spektrofotometer,pipet piston,pipet glass (volume pipet),labu ukur,beaker glass. Bahan : larutan KMnO4,aquadest

V.

PROSEDUR KMnO4 ditambahkan aquadest menjadi larutan baku lalu diukur konsentrasin larutan baku sampai diperoleh absorbansi A = 0,2 - 0,8. Dibuat berbagai pengenceran larutan KMnO4 dengan menggunakan pipet glass & pipet piston ( masing-masing 7pengenceran). Diukur konsentrasi setiap larutan pada *lamda = 546. Hasil yang didapat dibandingkan dengan mengukur absorbansi (A) untuk setiap cara pemipetan dengan melihat harga standar deviasi.

VI.

DATA PENGAMATAN

Dibuat larutan induk dengan konsentrasi 500 ppm dalam 250 ml Mg = = 125 mg = 0,125 gram

Pengenceran (dari 500 ppm) : 20 ppm : V1.ppm1= V2.ppm2 V1.500 = 10.20 V1 = 25 ppm : V1.ppm1= V2.ppm2 V1.500 = 10.25 V1 = 30 ppm : V1.ppm1= V2.ppm2 V1.500 = 10.30 V1 =

35 ppm : V1.ppm1= V2.ppm2 V1.500 = 10.35 V1 = 40 ppm : V1.ppm1= V2.ppm2 V1.500 = 10.40 V1 = 45 ppm : V1.ppm1= V2.ppm2 V1.500 = 10.45 V1 = 50 ppm : V1.ppm1= V2.ppm2 V1.500 = 10.50 V1 = 55 ppm : V1.ppm1= V2.ppm2 V1.500 = 10.55 V1 =

Kurva baku : Ppm 25 30 35 40 50 55 Absorban 0,292 0,384 0,478 0,577 0,797 0,861

Kurva Baku (pipet volume)


1 0.9 0.8 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 0 20 ppm y = 0.0195x - 0.2 R = 0.9974

Absorban

Absorban Linear (Absorban)

40

60

Ppm 20 30 35 40 50 55

Absorban 0,217 0,387 0,491 0,557 0,822 0,992

Kurva Baku (mikropipet)


1.2 1 Absorban 0.8 0.6 0.4 0.2 0 0 20 ppm 40 60 y = 0.0219x - 0.2601 R = 0.9809

Absorban Linear (Absorban)

SAMPEL : Sampel ke1 2 3 4 5 6 7 Absorban 0,714 0,741 0,741 0,751 0,753 0,759 0,759
Menggunakan pipet volume

Konsentrasi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Perhitungan Konsentrasi : 1. Y = 0,019x 0,2 0,714 = 0,019x 0,2 0,019x = 0,714 + 0,2 R=

2. Y = 0,019x 0,2 0,741 = 0,019x 0,2 0,019x = 0,741 + 0,2 R= 3. Y = 0,019x 0,2 0,741 = 0,019x 0,2 0,019x = 0,741 + 0,2 R= 4. Y = 0,019x 0,2 0,751 = 0,019x 0,2 0,019x = 0,751 + 0,2 R= 5. Y = 0,019x 0,2 0,753 = 0,019x 0,2 0,019x = 0,753 + 0,2 R= 6. Y = 0,019x 0,2 0,759 = 0,019x 0,2 0,019x = 0,759 + 0,2 R= 7. Y = 0,019x 0,2 0,759 = 0,019x 0,2

0,019x = 0,759 + 0,2 R= X rata-rata = SD =


( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )

42,5939

Standar Deviasi = 7,78 %Akurasi = = %CV = = 0,18 % x 100 = 85,18 %

SAMPEL MENGGUNAKAN MIKROPIPET : Sampel ke1 2 3 4 5 6 7 Absorban 0,848 0,854 0,877 0,884 0,895 0,909 0,914
Menggunakan mikropipet

Konsentrasi 1. 2.

3. 4. 5. 55 6. 7.

1. Y = 0,021x 0,260 0,848 = 0,021x 0,260 0,021x = 0,848 + 0,260 R= 2. Y = 0,021x 0,260 0,854 = 0,021x 0,260 0,021x = 0,854 + 0,260 R= 3. Y = 0,021x 0,260 0,877 = 0,021x 0,260 0,021x = 0,877 + 0,260 R= 4. Y = 0,021x 0,260 0,884 = 0,021x 0,260 0,021x = 0,884 + 0,260 R= 5. Y = 0,021x 0,260

0,895 = 0,021x 0,260 0,021x = 0,895 + 0,260 R= 6. Y = 0,021x 0,260 0,909 = 0,021x 0,260 0,021x = 0,909 + 0,260 R= 7. Y = 0,021x 0,260 0,914 = 0,021x 0,260 0,021x = 0,914 + 0,260 R= X rata-rata = SD =
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )

Standar Deviasi = 1,21 %Akurasi = = %CV = = 2,22 % x 100 = 108,85 %

VII.

PEMBAHASAN Pipet digunakan untuk memindahkan sejumlah larutan secara akurat dari suatu wadah (biasanya beker) ke wadah lain. Dalam kimia klinik pun, pipet sering digunakan untuk memindahkan larutan dari suatu tempat ke tempat lain. Dalam kimia klinik pipet ini digunakan untuk melakukan penelitian atau analisis yang berkaitan dengan makhluk hidup. Ketelitian dalam menggunakan pipet sangat

penting dalam bidang kimia klinik karena perbedaan volume yang sedikit saja dapat memberikan hasil yang berbeda sehingga salah dalam menginterpretasikan hasil yang diperoleh. Jenis-jenis pipet beragam dimana setiap masing-masing memiliki ketelitian yang berbeda. Oleh karena itu, dilakukan percobaan untuk

membandingkan ketelitian dari pipet gelas dan pipet piston. Pipet gelas merupakan suatu pipet yang memiliki skala lebih besar di bandingkan pipet piston. Prinsip dari praktikum ini adalah hukum Lambert Beer, dimana menyebutkan bahwa besarnya serapan (absorbansi) berbanding lurus dengan konsentrasi sampel yang diukur. Semakin tinggi konsentrasi sampel yang diukur maka absorbansi yang dihasilkan akan tinggi juga. Percobaan kali ini untuk membandingkan ketelitian penggunaan pipet piston dengan pipet volum untuk pengukuran sampel ,dan untuk membandingkan ketelitianya masing-masing pipet digunakan spektrofotometer UV-Vis untuk mengukur konsentrasi sampel.praktikum ini bertujuan untuk mengetahui ketelitian mana yang lebih teliti di antara pipet piston dan pipet volum, yang mana akan berpengaruh pada pengukuran konsentrasi spektrofotometer UV-Vis untuk sampel. Sampel yang digunakan adalah KMNO4. Alasan digunakan KMNO4 (Kalium permanganat), karena sampel tersebut memiliki serapan maksimum pada panjang gelombang 546 , sehingga mudah dalam pengukurannya. Salah satu hal yang penting di ingat adalah untuk menganalisis secara spektrofotometri UV-Vis dengan cara membandingkan konsentrasi data sampel spektrofotometer UV-Vis diperlukan panjang gelombang maksimal. Tahap awal yang dilakukan dalam praktikum adalah pembuatan larutan KMNO4 dengan konsentrasi 500 ppm yang terbuat dari 125 mg KMNO4 yang dilarutkan dalam 250 ml aquqdest, sebelum mencampurkan KMNO4 dengn aquadest dalam labu ukur, terlebih dahulu tutui dulu labu ukur menggunakan kertas krep agar tidak ada cahaya yang masuk pada larutan KMNO4 yang dibuat, karena KMNO4 tidk

stabil dan mudah teroxsidasi bila terkena matahari maka dari itu harus tertutup. Setelah pembuatan larutan induk dengan konsentrasi 500 ppm, selanjutnya larutan induk di encerkan dengan berbabagai konsentrasi yaitu 20 ppm, 25 ppm, 30 ppm, 35 ppm, 40 ppm, 45 ppm, 50 ppm, 55 ppm dengan menggunakan pipet volum dan pipet piston untuk setiap pengenceranya, kemudian dilkukan pengukuran dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis untuk mendapatkan kurva baku. Setelah dilkukan pengenceran untuk kurva baku, selanjutnya untuk membandingkan ketelitian pipet volum dan pipet piston digunkan larutan dengan pengenceran dalam konsentrasi 50 ppm dan dilakukan sebanyak 7 kali untuk setiap pipet dan kemudian dilakukan pengukuran dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis , dan hasil yang di dapat adalah ketelitian pipet volum lebih teliti

dibandingkan ketelitia pipet piston dalam percobaan praktikum, tapi seharusnya dalam teori yang lebih teliti adalah pipet piston bukan pipet volum, hal tersebut terjadi karena kesalaha pada saat pengaturan pipet piston pada saat akan menggambil sampel yang akan di encerkan , maka hasil yang di dapat dari pengukuran spektrofotometer UV-Vis yang lebih teliti adalah pipet volum. Hasil pengamatan ini menunjukkan beberapa hal yang tidak sesuai dengan teori mengenai pipet piston dan pipet gelas. Pada pipet piston sudah ada pengaturan volume yang akan diambil sehingga sudah terkalibrasi dengan baik. Sehingga seharusnya pada pipet piston ketelitiannya lebih baik dibandingkan dengan pipet gelas. Pada pipet gelas, tergantung pada pembacaan skala. Orang yang menggunakan pipet (praktikan) sangat berpengaruh dengan hasil yang didapat. Sehingga ketelitian pipet gelas kurang dibandingkan dengan pipet piston. Karena kemgungkinan kesalahan lebih mudah terjadi pada pembacaan pipet gelas. Konsentrasi sampel menggunakan pipet volume 46,8717, 48,2564, 48,2564, 48,7692, 48,8717, 49,1794, 49,1794. Konsentrasi sampel menggunakan pipet piston 52,0048, 52,2975, 53,4195, 53,7609, 54,2975, 54,9804, 55,2243. Dari konsetrasi masing- masing pipet di dapat akurasi data 85,18% untuk pipet volum dan 108,85 % untuk pipet piston. Dari hasil konsentrasi data pengamatan di atas didapat hasil akurasi data yang menunjukan bahwa pipet yang paling teliti adalah pipet volum dibanding pipet piston, seharusnya menurut teori yang paling teliti adalah pipet piston dibandingkan pipet volum, karena pipet piston volume larutan yang akan diambil dapat kita tentukan terlebih dahulu pada alat pengatur volume yang berada

didalam pipet piston oleh sebabnya volume yang diambil akan menghasilkan hasil volume yang lebih teliti dibanding dengan pipet volume, tapi pada praktikum yang dilakukan berbanding terbalik, karena yang lebih teliti adalah pipet volume bukanya pipet piston itu dikarenakan pada saat praktikum pengaturan pipet pistonnya tidak benar sehingga ke akuratan konsentrasi data yang di dapat tidak bagus, dan ketelitiaanya lebih bagus pipet volum. VIII. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang dilakukan di dapat akurasi 85,18% untuk pipet volum dan 108,85 % untuk pipet piston yang berarti pipet volume yang lebih teliti di bandingkan dengan pipet volume hal tersebut terjadi dikarenakan penggunaan pipet piston pada saat menentukaan ukauran volume yang akan di ambil tidak benar.

IX.

DAFTAR PUSTAKA

1. Awang. 2010. Pengenalan Alat. http://ekmon-saurus.com/2008/11/bab-1pengenalan-alat.html [diakses pada tanggal 10 maret 2014] 2. Cairns, D. 2009. Intisari Kimia Farmasi. Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 3. Day, R. A & A. L, Underwood. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Keenam. Erlangga. Jakarta. 4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia Ed III. Jakarta. 5. Hosniah. 2010. Spektroskopi Ultrviolet-Visibel. http://hosh[diakses pada

hosh.com/2010/02/spektroskopi-ultraviolet-visible.html tanggal 10 maret 2014] 6. Maya, Novi. 2010. Kaliberasi

Pipet

Ukur.

http://catatankimia.com/catatan/kalibrasi-pipet-seukuran-dan-pipetukur.html [diakses pada tanggal 10 maret 2014] 7. Nafarin, M. 2007. Penganggaran perusahaan. Edisi Ketiga. Penerbit Salemba Empat. Jakarta. 8. Sudjadi. 2007. Kimia Framasi Analisis. Penerbit Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 9. Umam, Khoirul. 2010. Penggunaan Mikropipet.

http://khoirulumam.com/foodtech-othermenu-27/177-penggunaanmikropipet [diakses pada tanggal 10 maret 2014]