Anda di halaman 1dari 6

EVALUASI JENIS DAN TINGKAT KERUSAKAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE PAVEMENT CONDITION INDEX (PCI)

(STUDI KASUS: JALAN ARIFIN AHMAD, DUMAI 13+000-19+800) Ahmad Yani1, Muhammad Idham, S.T., M.Sc.2, Hamdani Saleh, S.ST.3 Mahasiswa Program D31 Dosen Jurusan Teknik Sipil2 Jurusan Teknik Sipil Politeknik negeri Bengkalis1,2,3 E-mail : Watashiwaahmadyani@yahoo.com1, idham@polbeng.ac.id2, hamdanisaleh@yahoo.com3

ABSTRAK Jalan merupakan prasarana yang sangat berperan penting dalam arus lalu lintas. Suatu ruas jalan terjadi kerusakan, akan mengalami dampak yang cukup besar pada arus lalu lintas. Kerusakan jalan dapat dianalisis untuk mengetahui penyebab terjadinya kerusakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis kerusakan jalan dan nilai kondisi perkerasan jalan sehingga dapat menentukan cara perbaikannya. Penyusunan tugas akhir ini menggunakan metode Pavement Condition Index (PCI). Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan data primer yang dapat disurvei di lapangan yang menjelaskan tentang jenis dan tingkat kerusakan, luas suatu kerusakan jalan dan dokumentasi gambar. Setelah data-data di atas diperoleh, maka selanjutnya dilakukan analisis data untuk mendapatkan nilai kondisi perkerasan jalan. Hasil yang didapat dari analisis data pada kerusakan jalan Arifin Ahmad (Dumai), mempunyai nilai PCI yaitu 36,04 dengan kondisi buruk berdasarkan rating kondisi perkerasan Pavement Condition Index (PCI). Kata Kunci: Jenis dan Tingkat Kerusakan Jalan, Pavement Condition Index (PCI).

I.

PENDAHULUAN Jalan merupakan suatu prasarana yang sangat berperan penting dalam arus lalu lintas. Suatu ruas jalan terjadi kerusakan, akan mengalami dampak yang cukup besar pada arus lalu lintas. Kerusakan jalan dapat dianalisis untuk mengetahui penyebab terjadinya kerusakan. Analisis tentang kerusakan jalan meliputi berbagai faktor yaitu disebabkan karena perencanaan perkerasan, perencanaan campuran, pemilihan bahan, proses/mutu pelaksanaan, kondisi lingkungan, lalulintas atau gabungan dari faktor-faktor tersebut. Salah satu cara untuk mengetahui kondisi kerusakan jalan adalah dengan menggunakan metode Pavement Condition Index (PCI). Metode ini salah satu solusi untuk menyelesaikan dan mencari cara perbaikan pada permasalahan kerusakan jalan. Pavement Condition Index ini merupakan sistem penilaian kondisi perkerasan jalan berdasarkan jenis, tingkat dan luas kerusakan yang terjadi dan dapat digunakan sebagai acuan dalam usaha pemeliharaan.

Metode Pavement Condition Index (PCI) memberikan informasi kondisi perkerasan hanya pada saat survei dilakukan, tapi tidak dapat memberikan gambaran prediksi dimasa datang. Namun demikian, dengan melakukan survei kondisi secara periodik, informasi kondisi perkerasan dapat berguna untuk prediksi kinerja dimasa datang, selain juga dapat digunakan sebagai masukan pengukuran yang lebih detail. Metode Pavement Condition Index (PCI) ini dikembangkan oleh U.S. Army Corp Of Engineer (Shahin et al., 1976-1984 dalam Hadiyatmo, C., H.). Metode ini digunakan untuk perkerasan bandara, jalan dan tempat parkir dan telah dipakai secara luas di Amerika. Adapun perumusan masalah pada penelitian adalah Apa saja jenis dan tingkat kerusakan yang terjadi di jalan Arifin Ahmad? Berapakah nilai indeks kondisi (PCI) perkerasan pada jalan Arifin Ahmad? Adapun tujuan penelitian yaitu Mengklasifikasikan jenis dan tingkat kerusakan yang terjadi, mengetahui nilai kondisi perkerasan jalan dengan cara

Prosiding Seminar Nasional Industri dan Teknologi, 26 Desember 2012 hlmn 59-64

menentukan nilai Pavement Condition Index (PCI). Manfaat dari penelitian ini yaitu Dapat dijadikan sebagai referensi dalam menentukan jenis dan tingkat kerusakan. Dapat dijadikan bahan rujukan dalam menentukan nilai kondisi perkerasan jalan Adapun batasan masalah pada penelitian ini yaitu: Penelitian ini dilakukan pada jalan Arifin Ahmad (Dumai) STA 13+000-19+800. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Jalan Menurut Penjelasan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tentang Jalan No. 34/2006 : Jalan adalah sebagai salah satu prasarana transportasi dalam kehidupan bangsa, kedudukan dan peranan jaringan jalan pada hakikatnya menyangkut hajat hidup orang serta mengendalikan struktur pengembangan wilayah pada tingkat nasional terutama yang menyangkut perwujudan perkembangan antar daerah yang seimbang dan pemerataan hasil-hasil pembangunan serta peningkatan pertanahan dan keamanan negara. 2.2. Jenis Perkerasan Jalan 2.2.1. Perkerasan Lentur (Flexible Pavement) Perkerasan lentur (flexible pavement) adalah perkerasan lentur dengan bahan terdiri atas bahan ikat (berupa aspal, tanah liat) dan batu (Suryadharma, H., dan Susanto, B., 2008). Perkerasan ini umumnya terdiri atas 3 lapis atau lebih. Urut-urutan lapisan adalah lapis permukaan, lapis pondasi, lapis pondasi bawah dan subgrade. 2.3. Jenis dan Tingkat Kerusakan Jalan Menurut Metode Pavement Condition Index (PCI) 2.3.1. Retak Kulit Buaya (Alligator cracking) Retak kulit buaya adalah retak yang berbentuk sebuah jaringan dari bidang persegi banyak (polygon) kecil-kecil menyerupai kulit buaya dengan lebar celah lebih besar atau sama dengan 3 mm

(Shahin,1994). Retak ini disebabkan oleh kelelahan akibat beban lalu lintas yang terjadi berulang-ulang. 2.3.2.Amblas (Depression) Bentuk kerusakan yang terjadi ini berupa amblas/turunnya permukaan lapisan perkerasan pada lokasi-lokasi tertentu (setempat) dengan atau tanpa retak. Kedalaman kerusakan ini umumnya lebih dari 2 cm dan akan menampung/meresapkan air (Shahin,1994). 2.3.3. Tambalan dan Tambalan Galian Utilitas (Patching and Utility Cut Patching) Tambalan dapat dikelompokkan kedalam cacat permukaan, karena pada tingkat tertentu (jika jumlah/luas tambalan besar) akan mengganggu kenyamanan berkendaraan. Berdasarkan sifatnya, tambalan dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu: tambalan sementara merupakan tambalan yang berbentuk tidak beraturan mengikuti bentuk kerusakan lubang dan tambalan permanen merupakan tambalan yang berbentuk segi empat sesuai rekonstruksi yang dilaksanakan (Shahin,1994). 2.3.4. Lubang (Potholes) Kerusakan ini berbentuk seperti mangkok yang dapat menampung dan meresap air pada badan jalan. Kerusakan ini terkadang didekat retakan atau di daerah drainasenya kurang baik sehingga perkerasan tergenang oleh air (Shahin,1994). 2.3.5. Sungkur (Shoving) Kerusakan ini membentuk jembulan pada lapisan aspal. Kerusakan biasanya terjadi pada lokasi tertentu dimana kendaraan berhenti pada kelandaian yang curam atau tikungan tajam. Kerusakan umumnya timbul disalah satu sisi jejak roda. Terjadinya kerusakan ini dapat diikuti atau tanpa diikuti oleh retak (Shahin,1994).

60

Prosiding Seminar Nasional Industri dan Teknologi, 26 Desember 2012 hlmn 59-64

2.3.6. Pelepasan Butir (Weathering/Raveling) Kerusakan ini berupa terlepasnya sebagian butiran-butiran pada permukaan perkerasan yang umumnya terjadi secara meluas. Kerusakan ini biasanya dimulai dengan terlepasnya material halus dahulu yang kemudian berlanjut terlepasnya material yang lebih besar (material kasar), sehingga pada akhirnya membentuk tampungan dan dapat meresapkan air ke badan jalan (Shahin,1994). 2.4. Landasan Teori 2.4.1. Pavement Condition Index (PCI) Pavement condition index (PCI) adalah salah satu sistem penilaian kondisi perkerasan jalan berdasarkan jenis, tingkat kerusakan yang terjadi dan dapat digunakan sebagai acuan dalam usaha pemeliharaan. Nilai pavement condition index (PCI) ini memiliki rentang 0 (nol) sampai 100 (seratus) dengan kriteria sempurna (excellent), sangat baik (very good), baik (good), sedang (fair), jelek (poor), sangat jelek (very poor) dan gagal (failed) (Shahin,1994). 2.4.2. Density (Kadar Kerusakan) Density atau kadar kerusakan persentase luasan dari suatu jenis kerusakan terhadap luasan suatu unit segmen yang diukur meter persegi atau meter panjang. Nilai density suatu jenis kerusakan dibedakan juga berdasarkan tingkat kerusakannya. Rumus mencari nilai density: Density = Atau Density = x 100% (2) Dengan: Ad : Luas total jenis kerusakan untuk tiap tingkat kerusakan (m2). Ld : Panjang total jenis kerusakan untuk tiap tingkat kerusakan (m). As : Luas total unit segmen (m2). x 100% (1)

2.4.3. Deduct Value (Nilai Pengurangan) Deduct value adalah nilai pengurangan untuk tiap jenis kerusakan yang diperoleh dari kurva hubungan antara density dan deduct value. Deduct value juga dibedakan atas tingkat kerusakan untuk tiap-tiap jenis kerusakan. Beberapa grafik menurut jenis kerusakan nya:

Gambar 1. Retak Kulit Buaya (alligator cracking).

Gambar 2. Amblas (depression).

Gambar 3. Tambalan dan Tambalan Galian utilitas (patching and utility cut patching).

61

Prosiding Seminar Nasional Industri dan Teknologi, 26 Desember 2012 hlmn 59-64

Mi

= 1 + (9/98)*(100-HDVi)

(3)

Dengan: Mi : Nilai koreksi untuk deduct value HDVi : Nilai terbesar deduct value dalam satu sampel unit Jika semua nilai deduct value lebih besar dari nilai Mi maka dilakukan pengurangan, tetapi jika semua nilai deduct value lebih kecil dari nilai Mi maka tidak dilakukan pengurangan terhadap nilai deduct value tersebut. 2.4.5. Total Deduct Value (TDV) Total deduct value (TDV) adalah nilai total dari individual deduct value untuk tiap jenis kerusakan dan tingkat kerusakan yang ada pada suatu unit penelitian. 2.4.6. Corrected Deduct Value (CDV) Corrected Deduct Value (CDV) adalah diperoleh dari kurva hubungan antara nilai TDV dengan nilai CDV dengan pemilihan lengkung kurva sesuai dengan jumlah nilai individual deduct value yang mempunyai nilai lebih besar dari 2 (dua).

Gambar 4. Lubang (potholes).

Gambar 5. Sungkur (shoving).

Gambar 6. Pelepasan Butir (weathering/raveling). Gambar 7. Corrected Deduct Value.

2.4.4. Mencari Nilai q (Quality) Nilai q didapat dari deduct value yang nilainya lebih dari syarat. Syarat untuk mencari nilai q adalah deduct value lebih besar dari 2 dengan menggunakan interasi. Nilai deduct value diurutkan dari yang besar sampai kecil. Nilai pengurang total atau total deduct value (TDV) adalah jumlah total dari nilai-nilai pengurang (deduct value) pada masing-masing sampel unit. Sebelumnya dilakukan pengecekan nilai deduct value dengan persamaan (3)

2.4.7. Klaisifikasi Kualitas Perkerasan. Jika nilai CDV telah diketahui, maka nilai PCI untuk tiap unit dapat diketahui dengan rumus: PCI(S) = 100 CDV Dengan: PCI(S) : pavement condition index untuk tiap unit. CDV : Corrected Deduct Value untuk tiap unit. 62 (4)

Prosiding Seminar Nasional Industri dan Teknologi, 26 Desember 2012 hlmn 59-64

Untuk nilai PCI secara keseluruhan: PCI = (5)

Dengan: PCI : nilai PCI perkerasan keseluruhan. PCI(s) : Pavement condition index untuk tiap unit. N : Jumlah unit. 2.4.8. Klasifikasi Kualitas Perkerasan Nilai PCI untuk masing-masing unit penelitian dapat mengetahui kualitas lapis perkerasan unit segmen berdasarkan kondisi tertentu yaitu sempurna (excellent), sangat baik (very good), baik (good), sedang (fair), jelek (poor), sangat jelek (very poor) dan gagal (failed).
Gambar 9. Bagan alir Penelitian

Gambar 8. Kualifikasi Kualitas Perkerasan Menurut nilai PCI.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Adapun nilai Pavement Condition Index (PCI) yang didapat dari analisis data pada jalan Arifin Ahmad (Sta 14+00019+800) yaitu 36,04 dengan kondisi Buruk. 4.2. Pembahasan Dari hasil survei yang dilakukan di jalan Arifin Ahmad (Sta 13+000 19+800), sebagian besar kerusakan jalan tersebut adalah Retak kulit buaya (alligator cracking), Tambalan dan tambalan galian utilitas (patching and utility cut patching), Lubang (potholes) dan perlepasan berbutir (weathering and raveling). V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Adapun kesimpulan yang penulis ambil dari penelitian ini yaitu: a. Adapun jenis kerusakan yang sering ditemukan pada ruas jalan Arifin Ahmad (Sta 13+000 19+800) yaitu Retak kulit buaya, Tambalan dan tambalan galian utilitas, Lubang dan Perlepasan berbutir. b. Nilai Pavement Condition Index (PCI) rata-rata pada ruas jalan Arifin Ahmad 63

III. METODE PENELITIAN 3.1. Obyek Penelitian Obyek yang diambil pada Penelitian Tugas Akhir ini adalah Jalan Arifin Ahmad, Dumai. 3.2 Lokasi Penelitian Lokasi Penelitian pada Tugas Akhir ini adalah di Kotamadya Dumai. 3.3 Bagan Alir Penelitian Bagan alir penelitian yang akan dilaksanakan dapat dilihat pada Gambar 3.1 berikut ini:

Prosiding Seminar Nasional Industri dan Teknologi, 26 Desember 2012 hlmn 59-64

(Sta 13+000 19+800) yaitu sebesar 36,04, sehingga termasuk dalam kategori Poor (Buruk). 5.2. Saran Adapun saran pada Penelitian Tugas Akhir ini adalah: a. Hasil studi yang dilakukan menunjukkan bahwa kerusakan pada jalan Arifin Ahmad (Sta 13+000 19+800) menghasilkan kategori Poor (Buruk), sehingga rekomendasi selanjutnya yaitu perlunya kajian terhadap kerusakan di bawah permukaan perkerasan. b. Perlu dilakukannya studi berkelanjutan dengan membandingkan antara nilai perkerasan yang telah didapat dengan International Roughness Index, karena perbaikan jenis kerusakan akan sangat berpengaruh terhadap jenis kendaraan yang melintasi. DAFTAR PUSTAKA [1]. Devianti, N. (2011). Evaluasi Jenis Dan Tingkat Kerusakan Jalan Dengan Menggunakan Metode Pavement Condition Index (PCI), Skripsi STT, Dumai. [2]. Hadiyatmo, C., H, 2007, Pemeliharaan Jalan Raya, UGM, Yogyakarta. [3]. Kurniawan, A. (2010). Penilaian Perkerasan Jalan Dengan Metode Pavement Condition Index (Studi kasus: Jalan Lubuk Alung Kurai Taji). [4]. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 34 (2006) tentang Jalan, Jakarta. [5]. Penyalai, I. (2009). Penilaian kondisi perkerasan dengan metode Pavement Condition Index dan kemungkinan cara perbaikannya (Studi Kasus: jalan pada ruas GunungsitoliTuhemberua Kabupaten Nias), UGM, Yogyakarta. [6]. Supranoto, B. (2008). Penilaian kondisi perkerasan dengan metode pavement condition index (PCl)

(Studi kasus: ruas jalan Cepu-Jepon Kabupaten Blora), UGM, Yogyakarta. [7]. Suryadharma, H. dan Susanto, B., (2008). Teknik Jalan Raya, Penerbit Universitas Atma Jaya Yogyakarta. [8]. Wijaya, Y. (2009). Evaluasi tingkat kerusakan permukaan perkerasan jalan dengan methode pavement condition index (PCl) dan cara perbaikannya (Studi kasus: jalan Parangtritis, Kab. Bantul Yogyakarta), UGM, Yogyakarta. [9]. Yoder, E.J. and Witzcak, M.W., 1975, Principles of Pavement Design, 2Edition, John Willey & Son, Inc. New York.

64