Anda di halaman 1dari 3

Patofisiologi Dasar serangan epilepsi adalah gangguan fungsi neuron-neuron otak dan transmisi pada sinaps.

Tiap sel hidup termasuk neuron-neuron otak mempunyai potensial listrik yang disebabkan oleh adanya potensial membrane sel. Potensial membrane neuron bergantung pada permeabilitas selektif membrane neuron, yakni membrane sel mudah dilalui oleh ion K dari ruang ekstraseluler ke intraseluler dan kurang sekali oleh ion Ca, Na dan Cl, sehingga di dalam sel terdapat konsentrasi tinggi ion K dan konsentrasi rendah ion Ca, Na dan Cl. Sedangkan keadaan sebaliknya terdapat diruang ekstraseluler. Perbedaan konsentrasi ion-ion inilah yang menimbulkan potensial membran Ujung terminal neuron-neuron berhubungan dengan dendrit dendrit dan bahan-bahan neuron yang lain, membentuk sinaps dan merubah polarisasi membran neuron berikutnya. Ada dua jenis neurotransmiter yakni neurotransmiter eksitasi yang memudahkan depolarisasi atau lepas muatan listrik dan neurotransmiter inhibisi lebih stabil dan tidak mudah melepaskan listrik. Diantaranya neurotransmitter-neurotransmitter eksitasi dapat disebut glutamate, asparat dan asetilkolin sedangkan neurotrnasmiter inhibisi yang terkenal ialah gamma amino butyric acid (GABA) dan glisin. Jika hasil pengaruh kedua jenis lepasan muatan listrik dan terjadi transmisi implus atau rangsang. Hal ini misalnya terjadi dalam keadaan fisiologik apabila potensial aksi tiba di neuron. Dalam keadaan istirahat, membrane neuron mempunyai potensial listrik tertentu dan berada dalam keadaan polarisasi. Aksi potensial akan mencetuskan depolarisasi membrane neuron dan seluruh sel akan melepas muatan listrik. Oleh beberapa faktor diantaranya keadaan patologik dan merubah atau mengganggu fungsi membran neuron sehingga membrane mudah dilampaui oleh ion Ca dan Na dari ruang ekstra ke intra seluler, influks Ca akan mencetuskan letupan depolarisasi membrane dan lepasan muatan listrik berlebihan tidak teratur dan terkendali. Lepasan muatan listrik demikian oleh sejumlah besar neuron secara sinkron merupakan dasar suatu serangan epilepsi. Suatu sifat khas dari serangan epilepsi adalah bahwa beberapa saat serangan berhenti akibat proses inhibisi. Diduga inhibisi ini adalah pengaruh dari neuron-neuron sekitar sarang epileptic. Selain itu juga sistem-sistem

inhibisi pra dan pasca sinaptik yang menjamin agar neuron-neuron tidak terus menurus terlepas muataan ,e,egang peranan. Keadaan lain yang dapat menyebabkan suatu serangan epilepsy berhenti ialah kellelahan neuron-neuron akibat habisnya zat-zat yang penting bagi fungsi otak. Patofisiologi anatomi seluler Secara etiopatologik, bangkitan epilepsi bisa diakibatkan oleh cedara kepala, stroke,tumor otak, infeksi otak, keracunan, atau juga pertubuhan jaringan saraf yang tidak normal, pengaruh genetik yang mengakibatkan mutasi. Muitasi genetik maupun kerusakan sel secara fisik pada cedera maupun stroke ataupun tumor akan mengakibatkan perubahan dalam mekanisme regulasi fungsi dan struktur neuron yang mengarah pada gangguan pertumbuhan ataupun plastisitas di sinapsis. Perubahan (fokus) inilah yang menimbulkan bangkitan listrik di otak. Bangkitan epilepsi bisa juga terjadi tanpa ditemukan kerusakan anatomi (focus) di otak. Disisi lain epilepsi juga akan mengakibatkan disfungsi fisik dan retardasi mental. Dari sudut pandang biologi molekuler bangkitan epilepsi disebabkan oleh ketidakseimbangan sekresi maupun fungsi neurotransmiter eksitatorik dan inhibitorik di otak. Keadaan ini bisa disebabkan sekresi neurotransmiter dari presinaptik tidak terkontrol kesinaptik yang selanjutnya berperan pada reseptor NMDA atau AMPA di post sinaptik. Keterlibatan preseptor NMDA subtipe dari preseptor glutamat (NMDAR) disebut-sebut sebagai patologi terjadinya kejang dan epilepsi. Secara farmakologi inhibisi terhadap NMDAR ini merupakan prinsip kerja dari obat antiepilepsi. Bebrapa penelitian neurogenetik membuktikan adanya beberapa faktor yang bertanggung jawab atas bangkitan epilepsi antara lain kelainan ligand gade (sub unit dari reseptor nikotinik) begitu juga halnya dengan voltagegate (kanal natrium dan kalium). Hal ini terbukti pada epilepsi lobus frontalis yang ternyata da hubungannya dengan terjadinya mutasi dari reseptor nikotinik subunit alfa. Kalium dan kalsium merupakan ion yang berperan dalam sistem komunikasi neuron lewat reseptor. Masuk dan keluarnya ion-ion ini menghasilkan bangkitan listrik yang dibutuhkan dalam komunikasi sesama neuron.

Jika terjadinya kerusakan atau kelainan pada kanal ion tersebut maka bangkitan listriok akan terganggu sebagimana pada penderita epilepsi. Kanal ion ini berperan dalam kerja reseptor neurotransmiter tertentu. Dalam hal ini epilepsi dikenal sebagai GABA (gamma aminobutyric acid) yang dikenal sebagai inhibitorik glutamat (eksitatorik), serotonin (yang sampai sekarang masih tetap dalam penelitian kaitan dengan epilepsi, asetilkolin yang di hipokampus dikenal sebagai yang bertanggung jawab terhadap memori dan proses belajar. (Sudir Purba, Januari. 2008. Epilepsi. Medicinus Scientific Jurnal of Pharmaceutical Development and Medical Application Vol.2, No.4 Edisi November-Desember 2008)