Anda di halaman 1dari 8

PINJAL

BAB I PENDAHULUAN

Seringkali terdapat kerancuan dalam masyarakat untuk menyebut binatang yang kecil, mengganggu manusia dan hewan peliharaan dengan satu sebutan tunggal yaitu kutu. Padahal terdapat kemungkinan bahwa binatang pengganggu tersebut dari kelompok yang berbeda. Kelompok hewan yang sering menimbulkan kerancuan dalam penyebutan adalah tungau (mite), caplak (tick), kutu (lice) dan pinjal (flea). Pinjal adalah jenis serangga yang masuk dalam ordo Siphonaptera yang secara morfologis berbentuk pipih lateral dibanding dengan kutu manusia (Anoplura) yang berbentuk pipih, tetapi rata atau horizontal khas, yakni berbentuk pipih horizontal, tidak bersayap, tanpa mata majemuk, memiliki dua oseli, antena pendek tetapi kuat, alat-alat mulut dimodifikasi dalam bentuk menusuk dan menghisap, bagian ekstrnal tubuh memiliki struktur seperti sisir dan duri-duri, bersifat ektoparasit pada hewan-hewan berdarah panas. Apabila dibiarkan begitu saja, pinjal dapat membahayakan kesehatan pada manusia dari berbagai penyakit yang dibawanya. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui tentang pinjal dan cara penanggulangannya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tungau, caplak, kutu dan pinjal tergabung dalam satu filum yang sama yaitu Arthropoda. Tungau dan caplak berada dibawah satu kelas (Arachnida) dan anak kelas yang sama yaitu Acari, namun keduanya tergolong dalam suku yang berbeda. Caplak termasuk dalam golongan suku Ixodidae dan Argasidae sedangkan suku yang lain disebut tungau saja (Krantz, 1978). Secara morfologi perbedaan yang jelas anatara kutu dan pinjal yang sama-sama tidak bersayap adalah bahwa tubuh pinjal dewasa yang pipih bilateral., sedangkan kutu tubuhnya pipih dorsoventral. Dengan demikian bentuk pinjal secara utuh dapat dilihat dari pandangan samping. Bentuk tubuhnya yang unik ini ternyata amat sesuai dengan habitatnya diantara bulu atau rambut inangnya. Pengenalan pinjal secara mudah adalah apabila kita mengelus kucing, dan tiba-tiba secara sekelebat kita menemukan makhluk kecil yang melintas diantara bulu-bulu kucing dan kemudian menghilang (Soviana dkk, 2003). Menurut Borror dkk. (1996) kutu dan pinjal termasuk dalam kelas Insekta (serangga) namun berbeda bangsa. Kutu seringkali dibagi menjadi dua bangsa yang terpisah yaitu Mallophaga (kutu penggigit) dan Anoplura (kutu penghisap). Kutu penghisap sering pula disebut tuma oleh masyarakat Indonesia. Ahli entomologi dari Inggris, Jerman dan Australia hanya mengenali satu bangsa tunggal yaitu Phthirptera, dengan empat anak bangsa (salah satunya Anoplura). Pinjal berbentuk tubuh menyerupai biji lamtoro pipih kesamping; berukuran + 3 mm; seluruh tubuh tertutup bulu-bulu; mulut berupa mulut penusuk dan penghisap. Kaki ke tiga dari pinjal berukuran lebih besar dan lebih panjang daripada dua pasang kaki lainnya sehingga memungkinkannya untuk melompat. Lompatannya sangat jauh dan tinggi dibandingkan ukuran tubuhnya (Kadarsan dkk., 1983).

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN Pinjal adalah serangga-serangga yang tidak bersayap, kecil, yang dewasanya makan darah unggas dan mamalia. Pinjal termasuk kedalam ordo Shiponaptera.

Kingdom Phylum Class Ordo Family Genus Species

Animalia Arthropoda Insecta Siphonaptera Pulicidae Ctenocephalides Ctenocephalides felis

Ctenochepalides felis

Pengetahuan mengenai siklus hidup pinjal sangat diperlukan dalam rangka menyingkirkan dan mengendalikan serbuan pinjal pada kucing. Pinjal memiliki beberapa fase pada siklus hidupnya. Sebagian besar masa hidup pinjal dewasa berada pada tubuh kucing. Artinya kalau bukan karena terpaksa atau sedang sial, mereka tidak akan meninggalkan tubuh kucing secara sukarela. Bila jumlah pinjal pada kucing sudah sangat banyak, barulah biasanya manusia atau pemilik kucing dapat menjadi alternatif sumber makanan bagi pinjal. Bila ini terjadi, pastinya anda akan sedikit menderita karena gigitan pinjal & sedikit nikmat ketika menggaruk bagian yang gatal . Umur rata-rata pinjal sekitar 6 minggu, tetapi pada kondisi tertentu dapat berumur hingga 1 tahun. Pinjal betina bertelur 20-28 buah/hari. Selama hidupnya seekor pinjal bisa menghasilkan telur hingga 800 buah. Telur bisa saja jatuh dari tubuh kucing dan menetas menjadi larva di retakan lantai atau celah kandang. Pertumbuhan larva menjadi pupa kemudian berkembang jadi pinjal dewasa bervariasi antara 20-120 hari. Karena obat anti kutu hanya membunuh pinjal dewasa, pemberian obat anti kutu perlu disesuaikan agar siklus hidup pinjal bisa kita hentikan. Pemberian obat perlu diulang agar pinjal dewasa yang berkembang dari telur dapat segera dibasmi sebelum menghasilkan telur lagi.

1. Morfologi

2. Contoh Kasus

Dalam hal ini pinjal merupakan vector bagi penyakit, salah satunya adalah pes bubo. Dimana Pes merupakan penyakit Zoonosa terutama pada tikus dan rodent lain sebagai hospes dan dapat ditularkan kepada manusia oleh pinjal. Pes juga merupakan penyakit yang bersifat akut disebabkan oleh kuman/bakteri. Selain itu pes juga dikenal dengan nama Pesteurellosis atau Yersiniosis/Plague. Diagnosis pes: 1. Diagnosis lapangan : Diagnosis di lapangan ditemukan adanya tikus mati tanpa sebab-sebab yang jelas (ratfall) di daerah fokus pes atau bekas fokus pes. 2. Diagnosis Klinis : Adanya demam tanpa sebab-sebab yang jelas (FUO = Fever Unkwon Origin) Timbul bubo/mringkil/sekelan (pembengkakan kelenjar) sebesar buah duku pada leher/ketiak/selangkangan. Batuk darah mendadak tanpa tanpa gejala yang jelas sebelumnya. 3. Diagnosa Laboratorium : Macam-macam pemeriksaan yang dilakukan laboratorium adalah: 1. Pemeriksaan Serologi : Spesimen yang diperiksa adalah serum,yang berasal dari: Rodent (tikus)

Manusia Species hewan lain seperti anjing,kucing Spesimen hewan, manusia dinyatakan positif pada tikus I :128.

2. Pemeriksaan Bakteriologi Sepeciman yang diperiksa: Untuk manusia :darah,bubo,sputum Organ tikus:limpa,paru,hati Pinjal

3. Cara Penularan Secara alamiah penyakit pes dapat bertahan atau terpelihara pada rodent. Kumankuman pes yang terdapat di dalam darah tikus sakit,dapat ditularkan ke hewan lain atau manusia,apabila ada pinjal yang menghisap darah tikus yang mengandung kuman pes tadi,dan kuman-kuman tersebut akan dipindahkan ke hewan tikus lain atau manusia dengan cara yang sama yaitu melalui gigitan. penularan penyakit pes: 1. Penularan pes secara eksidental dapat terjadi pada orang orang yang bila digigit oleh pinjal tikus hutan yang infektif.Ini dapat terjadi pada pekerja-pekerja di hutan,ataupun pada orang-orang yang mengadakan rekreasi/camping di hutan. 2. Direct contact Penularan pes ini dapat terjadi pada para yang berhubungan erat dengan tikus hutan, misalnya para Biologi yang sedang mengadakan penelitian di hutan, dimana ianya terkena darah atau organ tikus yang mengandung kuman pes. 3. Kasus yang umum terjadi dimana penularan pes pada orang karena digigit oleh pinjal infeksi setelah menggigit tikus domestik/komersial yang mengandung kuman pes. 4. Penularan pes dari tikus hutan komersial melalui pinjal .Pinjalyang efektif kemudian menggigit manusia. 5. Penularan pes dari orang ke orang dapat pula terjadi melalui gigitan pinjal manusia Culex Irritans (Human flea)

BAB IV PENUTUP Pinjal adalah serangga-serangga yang tidak bersayap, kecil, yang dewasanya makan darah unggas dan mamalia Sebagian besar masa hidup pinjal dewasa berada pada tubuh kucing. Artinya kalau bukan karena terpaksa atau sedang sial, mereka tidak akan meninggalkan tubuh kucing secara sukarela. Pinjal merupakan vector bagi beberapa penyakit.

DAFTAR PUSTAKA
Borror, D. J., C. A. Triplehorn & N. F. Johnson. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga. Ed. 6. Penerjemah:S. Partosoedjono. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Kadarsan, S., A. Saim, E. Purwaningsih, H. B. Munaf, I. Budiarti & S. Hartini. 1983.Binatang Krantz, G. W. 1978. A Manual of Acarology. 2nd ed. Oregon State University Book Store, Inc.Corvalis.

Soviana, Susi dan Upik Kesumawati Hadi. 2003. Hama Pemukiman Indonesia. IPB unit Kajian pengendalian hama pemukiman fakultas kedokteran hewan. Bogor.

LAMPIRAN

Sumber : http://juarakontes.blogspot.com