Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Pantai Bama merupakan salah satu ekosistem pantai yang berada di Taman Nasional Baluran, merupakan kawasan wisata alam yang sering dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Selain sebagai kawasan wisata alam, Pantai Bama memiliki fungsi penting sebagai kawasan konservasi bagi ekosistem kawasan pesisir salah satunya ekosistem lamun, yang membentuk suatu padang luas yang disebut dengan padang lamun. Padang lamun merupakan ekosistem pesisir yang ditumbuhi oleh lamun sebagai vegetasi yang dominan. Padang lamun dapat berbentuk vegetasi tunggal yang disusun oleh satu jenis lamun saja atau vegetasi campuran yang disusun mulai dari 2 sampai 12 jenis lamun yang tumbuh bersama pada suatu substrat. Lamun hidup di perairan dangkal yang agak berpasir sering dijumpai di terumbu karang, lamun pada umumnya membentuk padang yang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi pertumbuhannya. Padang lamun merupakan ekosistem yang sangat tinggi produktivitas organiknya. Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem bahari yang produktif, selain sebagai sumber produktifitas primer di perairan juga memiliki arti penting bagi hewan yang hidup di area padang lamun, diantaranya menyediakan daerah perawatan (nursery area) bagi banyak spesies yang menyokong perikanan laut lepas, dan untuk habitat lainnya, seperti rawa payau, terumbu karang, dan hutan mangrove (Short dan Coles, 2003). Peranan padang lamun secara fisik di perairan laut dangkal adalah membantu mengurangi tenaga gelombang dan arus, menyaring sedimen yang terlarut dalam air, dan menstabilkan dasar perairan. Selain itu, padang lamun diketahui mendukung berbagai jaring rantai makanan, baik yang didasari oleh rantai herbivora maupun detrivor. Kondisi Pantai Bama yang masih alami menjadikan organisme mampu beradaptasi dengan baik. Salah satunya ditandai dengan masih baiknya keanekaragaman hayati yang terdapat di pantai Bama, Taman Nasional Baluran. Di pantai Bama masih banyak lamun yang dapat ditemukan saat pantai pasang dan saat surut. Padang lamun di Pantai Bama, Taman Nasional Baluran merupakan salah satu padang lamun yang bervegetasi campuran. Terdapat beberapa jenis lamun di perairan laut pulau
Laporan Ekologi Umum-Komunita Lamun 1

pantai Bama, yang mempunyai peranan sangat penting karena dapat menstabilkan substrat ataupun sedimen-sedimen yang masuk ke Perairan Pantai Bama. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya oleh Wimbaningrum (2003) terdapat 7 spesies lamun yang ditemukan di pantai Bama diantaranya Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocoea routndata, Halodule uninervis, Halophila ovalis, Halophila ovata, dan Syringodium isoetifolium. Informasi ilmiah dari hasil pengkajian lamun merupakan hal yang penting, selain untuk menambah pengetahuan dan informasi tentang kondisi perairan di pantai Bama juga dapat mengetahui densitas jenis, densitas relatif, frekuensi spesies, frekuensi relatif, prosentase penutupan dan Indeks Nilai Penting (INP). Sehingga dapat diketahui perbandingan jumlah spesies dengan jumlah total individu seluruh spesies serta memberikan gambaran mengenai pengaruh atau peranan suatu jenis tumbuhan terhadap suatu daerah karena semakin tinggi nilai INP suatu spesies relatif terhadap spesies lainnya, maka semakin tinggi peranan spesies tersebut pada komunitasnya. Berdasarkan hal tersebut, maka dilaksanakan penelitian komunitas lamun di pantai Bama, Taman Nasional Baluran.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, dapat diambil beberapa rumusan masalah dalam pengamatan kami sebagai berikut : 1. Bagaimana densitas jenis padang lamun di pantai Bama, Taman Nasional Baluran? 2. Bagaimana densitas relatif padang lamun di pantai Bama, Taman Nasional Baluran? 3. Bagaimana frekuensi spesies padang lamun di pantai Bama, Taman Nasional Baluran? 4. Bagaimana frekuensi relatif padang lamun di pantai Bama, Taman Nasional Baluran? 5. Bagaimana prosentase penutupan dan Indeks Nilai Penting (INP) padang lamun di pantai Bama, Taman Nasional Baluran?

Laporan Ekologi Umum-Komunita Lamun

C. Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas, didapat beberapa tujuan dalam pengamatan kami sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui densitas jenis padang lamun di pantai Bama, Taman Nasional Baluran. 2. Untuk mengetahui densitas relative padang lamun di pantai Bama, Taman Nasional Baluran. 3. Untuk mengetahui frekuensi spesies padang lamun di pantai Bama, Taman Nasional Baluran. 4. Untuk mengetahui frekuensi relative padang lamun di pantai Bama, Taman Nasional Baluran. 5. Untuk mengetahui prosentase penutupan dan Indeks Nilai Penting (INP) padang lamun di pantai Bama, Taman Nasional Baluran.

Laporan Ekologi Umum-Komunita Lamun

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pantai Bama Pantai Bama terletak sekitar 3 km dari kawasan savana Bekol. Pantai Bama dikelilingi oleh hutan mangrove sebagai habitat berbagai jenis burung dan satwa primata, misalnya kera abu-abu (Macaca fascicularis), lutung (Trachypitecus auratus), dan biawak (Varanus salvator). Pantai bama menyimpan berbagai keanekaragaman hewan-hewan invertebrate laut. Hampir sebagian besar kelompok invertebrate terdapat di tempat ini. Mulai dari Phylum Porifera, Coelentarata, Mollusca, Arthropoda, dan Echinodermata.

B. Definisi Lamun Lamun merupakan bentangan tumbuhan berbiji tunggal (monokotil) dari kelas angiospermae. Lamun adalah tumbuhan air yang berbunga (spermatophyta) yang hidup dan tumbuh terbenam di lingkungan laut, berpembuluh, berdaun, berimpang, dan berakar. Keberadaan bunga dan buah ini adalah faktor utama yang membedakan lamun dengan jenis tumbuhan lainnya yang hidup terbenam dalam laut lainnya, seperti rumput laut (seaweed). Hamparan lamun sebagai ekosistem utama pada suatu kawasan pesisir disebut sebagai padang lamun (seagrass bed). Secara struktural lamun memiliki batang yang terbenam didalam tanah,

disebut rhizom atau rimpang. Rimpang dan akar lamun terbenam di dalam substrat yang membuat tumbuhan lamun dapat berdiri cukup kuat menghadapi ombak dan arus. Lamun memiliki dua bentuk pembungaan, yakni monoecious (dimana bunga jantan dan betina berada pada satu individu) dan dioecious (dimana jantan dan betina berada pada individu yang berbeda). Peyerbukan terjadi melalui media air (penyerbukan hydrophyllous). Tumbuhan Lamun memiliki cirri-ciri sebagai berikut : 1. Toleransi terhadap kadar garam lingkungan 2. Tumbuh pada perairan yang selamanya terendam 3. Mampu bertahan dan mengakar pada lahan dari hempasan ombak dan tekanan arus 4. Menghasilkan pollinasi hydrophilous ( benang sari yang tahan terhadap kondisi perairan )
Laporan Ekologi Umum-Komunita Lamun 4

5. Lamun berbunga, menghasilkan benang sari, berbuah dan menyebarkan biji sebagaimana tanaman darat. 6. Lamun adalah satu - satunya tanaman berbunga yang akarnya berpembuluh dan teradaptasi dengan lingkungan laut.

C. Padang Lamun Padang lamun dapat berbentuk vegetasi tunggal yang disusun oleh satu jenis lamun atau vegetasi campuran yang disusun mulai dari 2 sampai 12 jenis lamun yang tumbuh bersama pada suatu substrat. Di Indonesia terdapat 12 jenis lamun yang tergolong dalam tujuh marga, yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila decipiens, H. Ovalis, H. Minor, H. Spinulosa dari suku Hydrocharitaceae, serta Cymodocea serrulata, C. Rotundata, Halodule uninervis, H. Pinifolia, Syringodium isoetifolium dan Thalassodendron ciliatum dari suku Potamogetonaceae. Masih ada dua jenis lamun lagi yang herbariumnya ada di Herbarium Bogoriense-Bogor, yaitu Halophila beccarii dan Ruppia maritima yang diduga berasal dari perairan Indonesia. Padang lamun merupakan salah satu ekosistem laut dangkal yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan berbagai biota laut serta merupakan salah satu ekosistem bahari yang paling produktif. Ekosistem lamun di daerah tropis dikenal tinggi produktivitasnya terutama dalam pore water dan sedimen. Indonesia yang memiliki panjang garis pantai 81.000 km, mempunyai padang lamun yang luas bahkan terluas di daerah tropika. Luas padang lamun yang terdapat di perairan Indonesia mencapai sekitar 30.000 km2. Jika dilihat dari pola zonasi lamun secara horisontal, maka dapat dikatakan ekosistem lamun terletak di antara dua ekosistem bahari penting yaitu ekosistem mangrove dan ekosistem terumbu karang. Dengan letak yang berdekatan dengan dua ekosistem pantai tropik tersebut, ekosistem lamun tidak terisolasi atau berdiri sendiri tetapi berinteraksi dengan kedua ekosistem tersebut.

D. Habitat Lamun Lamun hidup dan terdapat pada daerah mid-intertidal sampai kedalaman 0,5-10 m, dan sangat melimpah di daerah sublitoral. Jumlah spesies lebih banyak terdapat di daerah tropik dari pada di daerah ugahari. Habitat lamun dapat dilihat sebagai suatu komunitas,
Laporan Ekologi Umum-Komunita Lamun 5

dalam hal ini suatu padang lamun merupakan kerangka struktur dengan tumbuhan dan hewan yang saling berhubungan. Habitat lamun dapat juga dilihat sabagai suatu

ekosistem, dalam hal ini hubungan hewan dan tumbuhan tadi dilihat sebagai suatu proses yang dikendalikan oleh pengaruh-pengaruh interaktif dari faktor-faktor biologis,

fisika, kimiawi. Ekosistem padang lamun pada daerah tropik dapat menempati berbagai habitat, dalam hal ini status nutrien yang diperlukan sangat berpengaruh. Lamun dapat hidup mulai dari rendah nutrien dan melimpah pada habitat yang tinggi nutrien. Lamun pada umumnya dianggap sebagai kelompok tumbuhan yang homogen. Lamun terlihat mempunyai kaitan dengan habitat dimana banyak lamun (Thalassia) adalah substrat dasar dengan pasir kasar. Lamun (Enhalus acoroides) dominan hidup pada substrat dasar berpasir dan pasir sedikit berlumpur dan kadang-kadang terdapat pada dasar yang terdiri atas campuran pecahan karang yang telah mati.

E. Jenis-Jenis Lamun Di dunia tercatat 50 jenis lamun. Mereka sering dijumpai dalam jumlah besar, menutupi dasar perairan yang luas, membentuk padang lamun. Di Indonnesia lamun hanya dikenal atas 2 famili dengan klasifikasi : Divisi Klas Subklas Ordo Famili : Anthophyta : Angiospermae : Monocotyledoneae : Helobiae : Potamogetonaceae Hydrocharitacea Ciri -ciri Umum Famili Potamogetonaceae yaitu Tanaman yang tumbuh di air tawar dan laut dengan siklus tahunan atau setengah tahunan, akar cenderung berserabut menye bar, tunggal atau sympodial(membentuk simpul), akar berpangkal pada nodus, daun cenderung distichous (bercabang dua), berlawanan (opposite) atau searah (subulate), pangkal mengeras, bunga kecil, sederhana, bentuk fascicula atau spike kompak, unisexual atau hermaphodite, sessile (bergerak bebas), solitaire (tunggal dan menyendiri) buah berukuran kecil dengan biji tunggal, berbentuk silindrik atau lonjong. Tidak terdapat endosperma.

Laporan Ekologi Umum-Komunita Lamun

Ciri -ciri Umum Famili Hydrocharitaceae yaitu tanaman dengan siklus tahunan atau setengah tahunan, akar cenderung tunggal dengan nodus, daun cenderung distichous (bercabang dua) atau dengan satu axis yang dilengkapi dengan simpul basal dan berbentuk spiral atau vertical , daun tidak memiliki ligula, sub-merged (menghadap kebawah), linier (lurus), membulat, oval, sessile, atau bercabang membesar dengan jari jari parallel yang dihubungkan dengan saluran silang menurun atau perpendikule, bunga monoecious atau dioecious, tetutup 2/3 dengan daun bunga atau tertututp keseluruhan, stamen 2 15, tersusun kedalam satu atau beberapa ikatan ,ovary terletak inferior (didalam), linier atau lonjong dengan 2 15 bagian, stylus (antena) ada 2 25, Kadang terbagi menjadi, cabang stigma, ovula cukup banyak, tegak dan membulat dengan integumentum (kulit) ada 2 buah. Di Indonesia terdapat 12 jenis lamun seperti terdaftar dibawah ini. No 1. Spesies Cymodocea rotundata Deskripsi Mempunyai rimpang yang liat, berwarna coklat muda dan putih ditunasnya, berbuku- buku dengan panjang antara 11-35,9 mm. Akar yang muncul dari setiap buku berjumlah 1-3 buah 2. Cymodocea serrrulat Ujung daun seperti gergaji, tulang daun 13-17 Gambar

3.

Enhalus acoroides

Daun bercabang dua (distichous), tidak terpisah, akar tertutupi dengan jaringan hitam, dengan serat serat kasar

Laporan Ekologi Umum-Komunita Lamun

4.

Halodule pinifolia

Daun membujur seperti garis, biasanya panjang 50 200 mm. Daun berbentuk selempang yang menyempit pada bagian bawah, Tulang daun tidak lebih dari 3, jung daun membulat, ujung seperti gergaji.

5.

Halodule uninervis

Daun berbentuk selempang yang menyempit pada bagian bawah, Ujung daun seperti trisula

6.

Halophila decipiens

Daun berpasangan, membentuk susunan seperti berbayangan, atau terpisah menjadi petiola dan lembaran.

7.

Halophila minor

Daun pipih, bulat-panjang, bentuk seperti telur atau pisau wali. Panjang daun 5-15 mm, pasangan daun dengan tegakan pendek Panjang helaian daun 11 40 mm, mempunyai 10-25 pasang tulang daun.

8.

Halophila ovalis

Laporan Ekologi Umum-Komunita Lamun

9.

Halophila spinulosa

Daun dengan 4-7 pasang tulang daun. Daun sampai 22 pasang, tidak mempunyai tangkai daun, tangkai panjang

10.

Syringidium isoetifolium

Daun pipih berbentuk silindris.

11.

Thalasia hemprichii

Rimpang berdiameter 2-4 mm tanpa rambut-rambut kaku; panjang daun 100300 mm, lebar daun 4-10 mm.

12.

Thalasodendrom ciliatum Tulang daun lebih dari 3. Jumlah akar 1-5 dengan tebal 0,5-2 mm ujung daun seperti gigi

F. Analisis Vegetasi Komunitas Lamun Beberapa parameter yang diperlukan dalam menganalisis vegetaskomunitas lamun ini adalah sebagai berikut: 1. Kerapatan Relatif Kerapatan relatif ditentukan berdasarkan jumlah individu dalam satuan luas tertentu. Untuk mendapatkan nilai kerapatan relative terlebih dahulu harus dicari nilainilai parameter yang lain, yaitu: Rata-rata jarak (mean Density D) = jumlah kuadrat
Total jarak

Laporan Ekologi Umum-Komunita Lamun

Kerapatan absolute (absolute density) =

area D2

frekuensi suatu spesies x 100 % Frekuensi relative = jumlah frekuensi seluruh spesies

2. Dominansi Relatif Dominansi relative ini menggambarkan kelimpahan dari suatu spesies yang didefinisikan sebagai bagian dari tanah yang dikuasai atau tertutup oleh tumbuhan. Dominansi relative =
domin ansi suatu spesies domin ansi dari seluruh spesies

Dimana, dominasi suatu spesies merupakan rata-rata area X jumlah total individu dalam luas area yang diteliti. 3. Frekuensi Relatif Frekuensi relatif adalah presentase kehadiran suatu spesies yang dinyatakan dengan jumlah plot yang mengandung spesies tersebut, kemudian dibagi dengan plot sample. Frekuensi relative = 4. Nilai Penting Indeks nilai penting dapat dihitung dengan rumus: Nilai penting = kerapatan relative + dominansi relative + frekuensi relative Dengan mengetahui parameter diatas, dapat ditemukan dominansi suatu jenis lamun yang ada dalam komunitas lamun tersebut, baik kualitatif maupun kuantitatif.
frekuensi suatu spesies jumlah frekuensi seluruh spesies

Laporan Ekologi Umum-Komunita Lamun

10

G. Faktor Pembatas Faktor-faktor pembatas yang menjadi penghalang bagi pertumbuhan lamun adalah diantaranya dapat di lihat pada tabel berikut ini : Tabel Faktor-Faktor Pembatas Bagi Pertumbuhan Lamun No 1 Faktor Pembatas Cahaya (10-20%) Pengaruh Yang Diberikan - Fotosintesis - Mempengaruhi distribusi berdasarkan kedalaman 2 Kedalaman - Penetrasi cahaya - Peningkatan tekanan hidrostatis 3 Periode pasang surut - Ketersediaan cahaya - Kekeringan jika pada siang hari 4 Arus dan gelombang - Distribusi spesies - Proses reproduksi 5 6 Salinitas Suhu - Stress terhadap tekanan osmotic - Suhu optimum untuk fotosintesis dan pertumbuhan 7 Anthropogems - Eutrofikasi - Sedimentasi - Polusi perairan H. Fungsi dan Peranan Lamun Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada ekosistem ini hidup beraneka ragam biota laut seperti ikan, Krustasea, Moluska ( Pinna sp., Lambis sp., dan Strombus sp.), Ekinodermata (Holothuria sp., Synapta sp., Diadema sp., Arcbaster sp., Linckia sp.) dan cacing (Polichaeta). Lamun mempunyai peran penting ditinjau dari beberapa aspek diantaranya: a. Padang lamun memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Indonesia diperkirakan memiliki 13 jenis lamun. Selain itu padang lamun juga merupakan habitat penting untuk

Laporan Ekologi Umum-Komunita Lamun

11

berbagai jenis hewan laut, seperti: ikan, moluska, krustacea, ekinodermata, penyu, dugong. b. Lamun dapat membantu mempertahankan kualitas air. c. Lamun dapat mengurangi dampak gelombang pada pantai sehingga dapat membantu menstabilkan garis pantai. Serta memberikan perlindungan pada biota disekitarnya. d. Padang lamun menyediakan berbagai sumberdaya yang dapat digunakan untuk menyokong kehidupan masyarakat, seperti untuk makanan, perikanan, bahan baku obat, dan pariwisata. e. Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada ekosistem, ini hidup beraneka ragam biota laut seperti ikan, krustasea, moluska ( Pinna sp, Lambis sp, Strombus sp), Ekinodermata (Holothuria sp, Synapta sp, Diadema sp, Arcbaster sp, Linckia sp) dan cacing ( Polichaeta). f. Secara ekologis padang lamun memiliki peranan penting bagi ekosistem. Lamun merupakan sumber pakan bagi invertebrata (feeding Ground), tempat tinggal dan tempat asuhan biota perairan agar tidak tersapu arus laut (nursery ground), serta tempat memijah (spawning ground) melindunginya dari serangan predator. Lamun juga menyokong rantai makanan dan penting dalam proses siklus nutrien serta sebagai pelindung pantai dari ancaman erosi ataupun abrasi. g. Ekosistem Padang Lamun memiliki diversitas dan densitas fauna yang tinggi dikarenakan karena gerakan daun lamun dapat merangkap larva invertebrata dan makanan tersuspensi pada kolom air. Alasan lain karena batang lamun dapat menghalangi pemangsaan fauna bentos sehingga kerapatan dan keanekaragaman fauna bentos tinggi. h. Daerah Padang Lamun dengan kepadatan tinggi akan dijumpai fauna bentos yang lebih banyak bila dibandingkan dengan daerah yang tidak ada tumbuhan lamunnya. Ekosistem lamun memiliki kerapatan fauna keanekaragaman sebesar 52 kali untuk epifauna dan sebesar 3 kali untuk infauna dibandingkan pada daerah hamparan tanpa tanaman lamun. Dalam system rantai makanan khususnya pada daun-daun lamun yang berasosiasi dengan alga kecil yang dikenal dengan periphyton dan epiphytic dari detritus yang merupakan sumber makanan terpenting bagi hewan-hewan kecil seperti ikan-ikan kecil dan invertebrate kecil contohnya: beberapa jenis udang, kuda laut, bivalve, gastropoda, dan
Laporan Ekologi Umum-Komunita Lamun 12

Echinodermata. Lamun juga mempunyai hubungan ekologis dengan ikan melalui rantai makanan dari produksi biomasanya. Epiphyte ini dapat tumbuh sangat subur dengan melekat pada permukaan daun lamun dan sangat di senangi oleh udang-udang kecil dan beberapa jenis ikan-ikan kecil. Disamping itu padang lamun juga dapat melindungi hewan-hewan kecil tadi dari serangan predator. Selain itu, padang lamun diketahui

mendukung berbagai jaringan rantai makanan, baik yang didasari oleh rantai herbivor maupun detrivor. Selain duyung, manate dan penyu, tidak banyak jenis ikan dan invertebrata yang diketahui memakan daun-daun lamun ini. Sehingga kemungkinan

yang paling besar, lamun ini menyumbang ke dalam ekosistem pantai melalui detritus, yakni serpih-serpih bahan organik (daun, rimpang dll.) yang membusuk yang diangkut arus laut dan menjadi bahan makanan berbagai organisme pemakan detritus (dekomposer). Dengan kata lain aliran energi di padang lamun itu sendiri terjadi karena adanya proses makan memakan baik itu secara langsung dari daun lamunnya terus di makan konsumen I maupun secara tidak langsung sebagai detritus dimakan oleh konsumen I dan seterusnya. Lamun yang mati akan kehilangan protein dan materi organik lain yang dimakan oleh fauna pada saat permulaan dekomposisi. Struktur karbohidrat diambil dari mikroflora (bakteri dan jamur). Banyak dari metozoa yang dapat mencerna protein bakteri dan serasah daun lamun diekskresi oleh fauna dan bentuk yang belum dicerna akan didekomposisi lagi oleh mikroba decomposer sehingga sumbar detritus akan meningkat

Gambar Rantai Makanan Pada Ekosistem Padang Lamun

Laporan Ekologi Umum-Komunita Lamun

13

I. Faktor-faktor Lingkungan Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi terhadap distribusi dan kestabilan ekosistem padang lamun adalah sebagai berikut : 1. Kecerahan Lamun memiliki intensitas cahaya, yang dapat di gunakan sebagai proses fotosintesis. Hal ini menyebabkan, lamun sulit tumbuh di perairan yang lebih dalam. Intensitas cahaya untuk laju fotosintesis ditunjukkan dengan peningkatan suhu. 2. Temperatur Suhu optimal pada pertumbuhan lamun yaitu 28-30C. Hal ini berkaitan dengan kemampuan proses fotosintesis yang akan menurun apabila temperatur berada di luar kisaran tersebut. Pada kisaran suhu 25 - 30C fotosintesis bersih akan meningkat dengan meningkatnya suhu. Demikian juga respirasi lamun meningkat dengan meningkatnya suhu, namun dengan kisaran yang lebih luas yaitu 5-35C 3. Salinitas Kisaran salinitas yang dapat ditolerir tumbuhan lamun adalah 1040 dan nilai optimumnya adalah 35. Penurunan salinitas akan menurunkan kemampuan lamun untuk melakukan fotosintesis. Toleransi lamun terhadap salinitas bervariasi juga terhadap jenis dan umur. Lamun yang tua dapat mentoleransi fluktuasi salinitas yang besar. Salinitas juga berpengaruh terhadap biomassa, produktivitas, kerapatan, lebar daun dan kecepatan pulih. Sedangkan kerapatan semakin meningkat dengan meningkatnya salinitas (Kiswara 1997). 4. Substrat Padang lamun hidup pada berbagai macam jenis-jenis substrat. Substrat yang memiliki kedalaman, berperan dalam menjaga stabilitas sedimen yang dapat berfungsi sebagai pelindung dari arus air laut dan sebagai tempat pengolahan nutrient (Kiswara 1997). 5. Kecepatan arus Kecepatan arus dipengaruhi oleh adanya jenis perairan yaitu perairan terbuka dan tertutup, kecepatan angin, dan kedalaman perairan. Kecepatan arus dapat mempengaruhi produktivitas padang lamun. 6. Kekeruhan Kekeruhan dapat di sebabkan, karena partikel-partikel tersuspensi dari bahan ogranik
Laporan Ekologi Umum-Komunita Lamun 14

atau sedimen, terutama pada ukuran yang halus dan dalam jumlah yang lebuh pada perairan pantai yang keruh. Cahaya merupakan faktor pembatas pada pertumbuhan dan produksi lamun. 7. Kedalaman Pada kedalaman perairan yang dapat membatasi distribusi lamun secara vertikal. Lamun dapat tumbuh pada zona intertidal bawah dan subtidal atas, hingga mencapai kedalaman 30 meter. Pada zona intertidal diciri oleh tumbuhan pionir yang di dominasi oleh Halophila ovalis, Cymodocea rotundata, dan Halodule pinifolia. Sedangkan pada Thalassodendron ciliatum mendominasi zona intertidal bawah. Kerapatan dan pertumbuhan lamun, dapat dipengaruhi oleh kedalaman perairan.

Laporan Ekologi Umum-Komunita Lamun

15

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan pada praktikum pola penyebaran bentos adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode observasi, karena tidak mengandung variabel variabel penelitian. Peneliti hanya melakukan pengamatan dan analisis terhadap objek pengamatan.

B. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pantai Bama, Taman Nasional Baluran, Situbondo pada hari sabtu tanggal 1 desember 2012. Waktu penelitian yaitu pagi hari ketika kondisi laut surut yaitu sekitar pukul 06.30-08.30 WIB.

C. Alat dan Bahan Alat: a. Tali rafia secukupnya b. Cetok 1 buah c. Tonggak kayu atau pasak 4 buah tiap plot d. Alas/papan identifikasi dan kamera Digital Samsung 5 MP 1 buah 2. Bahan: a. Kantong plastik dan Karet gelang secukupnya b. Kertas dan pulpen 1 buah

D. Prosedur Kerja 1. Menentukan luas area yang diteliti sepanjang garis transek di sekitar pantai Bama, taman nasional Baluran Situbondo Jawa Timur. Mengukur setiap jarak di sepanjang 1 meter garis transek. Menandai tiap-tiap transek sebagai titik cuplikan tiap kelompok. 2. Transek dibuat mulai dari bibir pantai mengarah ke perairan bebas dengan susanan zigzag.

Laporan Ekologi Umum-Komunita Lamun

16

3. Menghitung jumlah populasi lamun dalam prosentase yang ada pada tiap plot dan menghitung jenis lamun yang ada pada tiap plot. Mengambil sampel atau bagian dari lamun agar mempermudah melakukan identifikasi. 4. Mengindentifikasi lamun tersebut dengan menggunakan buku identifikasi. 5. Menghitung kerapatan relatif, Frekuensi relatif dan indeks nilai penting pada komunitas lamun yang ditemukan.

E. Desain Percobaan

10

Pantai Bama

Tepi Plot ukuran 1x1 m disusun secara zig zag

Menghitung jumlah lamun pada masing-masing plot dan mengidentifikasi jenisjenisnya

Dalam

Menghitung kerapatan relatif, Frekuensi relatif dan indeks nilai penting pada komunitas lamun yang ditemukan

Laporan Ekologi Umum-Komunita Lamun

17

DAFTAR PUSTAKA

Kiswara, Wawan. 2010. Studi Pendahuluan Potensi Padang Lamun sebagai Karbon Rosot dan Penyerap Karbon di Pulau Pari, Teluk Jakarta. Jakarta: Pusat penelitian dan Pengembangan Oseanografi - LIPI.
Laporan Ekologi Umum-Komunita Lamun 18

Wimbaningrum, R. (2003). Komunitas Lamun di Rataan Terumbu, Pantai Bama, Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Jurnal ILMU DASAR 4 (pp. 25 32). Pengamatan Invertebrata di Bama. 2010. http://balurannationalpark.web.id/wp-content/uploads/2011/04/2010PengamatanInvertebratadiBama.html. Diakses pada tanggal 7 Desember 2012. Tangke, Umar. 2010. Ekosistem Padang Lamun. Jurnal Ilmiah agribisnis dan Perikanan (agrikan UMMUTernate) Volume 3 Edisi 1.

Laporan Ekologi Umum-Komunita Lamun

19