Anda di halaman 1dari 158

Naskah buku

Catatan-catatan Ringan Aktivis

Rekonstruksi Nalar Religius

Memahami Posisi Islam


dalam Konstelasi Geo Sosio Politik

Oleh :

Abaz Zahra

1
Sebagai Jembatan Awal Menatap Dunia Yang Sesungguhnya

2
Pengantar Penulis

Sejak diterbitkannya buku terbaru Samuel P. Huntington yang berjudul

Who Are We?- ˆ: The Challenges to America's National Identity tahun 2004 lalu

kondisi Islam dalam konstelasi geopolitik semaki1n tertantang. Dalam buku

sebelumnya, The Clash of Civilization, penasehat awakan Gedung Putih ini belum

terang-terangan mengatakan bahwa Islam adalah musuh besar bagi Amerika Serikat,

namun dalam buku terbarunya itu, Huntington mengatakan dengan tegas bahwa

Islam Fundamental adalah musuh besar yang harus dibasmi.

Ketika dilihat dalam buku tersebut memang tercantum Islam

Fundamental yang militant sebagai musuhnya, namun pada realitas di lapangan

semua kelompok Islam, baik Islam moderat, Islam liberal dan kelompok Islam

lainnya mendapatkan serangan dan warning yang sama dari Amerika Serikat.

Secara politis demikian, bahwa kondisi percaturan politik global dalam

pemetaan Huntington sebelumnya, Islam merupakan salah satu kekuatan besar

yang akan menjadi lawan dari peradaban Barat. Benturan peradaban yang akan

terjadi salah satunya adalah antara Islam dan Barat, disamping nanti muncul

Confucianisme yang berkembang di China. Ini memberi alamat yang semakin

jelas bagi perkembangan Islam ke depan, apalagi setelah Irak dan Afghanistan

diserang secara membabi buta oleh Amerika Serikat serta Libanon oleh Israel, ini

mengalamatkan bahwa Islam secara politis akan terus diserang tanpa ampun

3
untuk memenuhi ambisi Amerika Serikat dan mematahkan kekuatan Islam dalam

konstelasi geopolitik.

Di samping penyerangan secara politis, Barat (baca: Amerika Serikat)

juga menyerang sisi kebudayaannya, dalam bahasa Hassan Hanafi disebut

dengan imperialisme budaya. Dimana kebudayaan non-Barat secara perlahan

akan diputus akar kesejarahannya dan menggantinya dengan budaya popular ala

Barat.

Penyerangan sisi budaya ini berbuntut pada hilangnya khazanah local

yang dimiliki oleh negara-negara non-Barat, tradisi dan ritus budaya akan tergilas

oleh kemasan budaya popular yang memang lebih menarik perhatian

dibandingkan dengan khazanah local. Inilah yang kemudian menjadi persoalan

pelik disamping persoalan pada ranah politik.

Sementara itu, dalam tubuh Islam sendiri, komunikasi internal juga

belum selesai, dimana satu madzhab dengan madzhab lainnya belum berada pada

satu pandangan yang sama untuk menentukan satu musuh bersama (common

enemy). Kalaupun telah mencapai kesepakatan itu, jalur pergerakan yang

dilakukanpun masih khilafiyah dikarenakan perbedaan penafsiran atas model

perjuangan (jihad).

Indonesia yang merupakan kandangnya warga Islam dengan jumlah

penduduk yang menganut agama Islam terbesar di dunia tentunya juga menjadi

wilayah yang turut serta tergabung dalam permainan sosio politik dunia. Dan ini

juga tidak hanya terjadi saat ini saja, campur tangan Barat terhadap kemerdekaan

secara sosial telah terjadi sejak zaman kuno hingga sekarang.

4
Percaturan politik nasional tidak terlepas dari persoalan politik global,

karena diakui atau tidak Indonesia telah terpetakan sebagai negara Islam moderat

yang dengan mudah telah menjadi boneka Amerika Serikat.

Tulisan yang ada disini merupakan ungkapan dari keresahan yang saya

alami ketika saya membaca buku-buku. Dari buku saya menjadi tahu kondisi

yang sebenarnya tentang dunia ini, tetapi, berangkat dari tanggung jawab saya

sebagai kader organisasi pergerakan, saya tidak mampu melakukan apapun untuk

merubah tatanan busuk ini. Oleh karena itulah saya ingin membagi keresahan

yang saya alami ini kepada semua orang.

Buku kecil ini merupakan wujud konkrit ucapan terima kasih saya

kepada kedua orang tua tersayang atas perjuangannya mendidik saya untuk selalu

resah dengan kemapanan, adik dan kakak beserta anak-anaknya atas

dukungannya dalam menatap masa depan, We will always together.

Wacana-wacana yang digulirkan dalam buku kecil ini merupakan buah

dari diskusi rutin yang diadakan oleh PC PMII Wonosobo, oleh karena itu

melalui buku ini saya hendak mengucapkan terima kasih kepada Pengurus PC

PMII Wonosobo, PMII Komisariat Ahimsa Unsiq, BEM Unsiq, Senat Fakultas

Dakwah dan Komunikasi, PPTQ Al Asy’ariyyah, LPM SQ dan kawan-kawan

teater BanyuDahsyat. Alumni PMII di Wonosobo yang telah memberikan

motivasi berlebih kepada saya.

Terima kasih buat sahabat pemburu ilmu, Nadr Rose, Parman, Pak Dhe

Tujo, Dhe Ulfi, Ushi Myut, Yuti Riau, Ipul Lampung, Fredy Nabire, Mudzakir,

Masruh, Mat Leader, Fasihul Lisan dan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu

5
persatu, yang paling utama untuk De’ Titin Apriyani yang telah memberi

semangat berlebih secara spiritual dan sugesti yang besar dalam bergerak.

Perhatian dan pengarahan dari ‘Wong Gedhe’ seperti Mas Hasan

Asy’ari, S.Pd.I (PKB), Pak Drs. Arifin Shidiq, M.Pd (PCNU/KPU), Mas Arif

Ruba’I (KM’B’PI), Mas Syarif Abdillah (KMNU Jateng), Mas Bobby (PKC

PMII Jateng), Pak Kholiq Arif, M.Si (Bupati Wonosobo), Mas Herry Haryanto

Azumy (PB PMII) dan lain-lain. Bimbingan dari Dosen Muda Gaul, Om Mubin,

Mas Haqqy, Bang Wondo, Om To’am, Mas Amirrudin, Dekan Fakultas, Drs.

Samsul Munir, MA dan Rektor, Prof. Dr. Zamachsari Dhofier, MA merupakan

pembangkit sugesti yang besar.

Banjarnegara, Februari 2008

Abaz Zahra

6
Daftar Isi
Halaman Judul :..............................................................................

Pengantar Penulis :..............................................................................

Daftar Isi :..............................................................................

Islam Revolusioner :.............................................................................

Dekonstruksi Pemahaman Klasik atas Ajaran Islam : .........................

Jalan Baru, Mungkinkah? :..........................................................................

Dirasat Islamiyyah Hassan Hanafi :

• Al Yasar Al Islam :

• Oksidentalisme :

• Oksidentalis atau Tukang Ramal?

Jihad, Dulu, Sekarang dan yang akan Datang: .....................................

Jihad Hari Ini dan yang Akan Datang :........................................................

Islamophobia :.............................................................................

• Islamophobia Max Weber................................................................

• Kritik Agama Marx :........................................................................

• Dampak Islamophobia : ..................................................................

Konstelasi Geo Sosio Politik dan Pengaruhnya terhadap Geografi

Sosio Religius Nasional

7
• Definisi dan Gambaran Global :

• Realitas Geopolitik Hari Ini :

• Geneologi Sosial Politik (Geosospol) :

• Islam Indonesia :

• Konstelasi Geopolitik dan Geografi Sosio Religius Nasional :

Daftar Pustaka :

Biografi Penulis :

8
ISLAM REVOLUSIONER

Sebelum sampai pada makna yang sesungguhnya dari Islam

Revolusioner yang sebenarnya esensinya tidak terlalu jauh berbeda dengan apa

yang menjadi tesis Hassan Hanafi yakni The Left Of Islam (Al Yassar Al Islam)

atau Islam Pembebasan (Islam and the Relevance to our age) yang ditulis oleh

Asghar Ali Engineer, ada satu hal yang seharusnya kita kaji dulu dalam Islam itu

sendiri terkait dengan ajaran-ajaran serta semua hal yang melingkupi tentangnya.

Banyak sesungguhnya di dalam Al Qur’an yang mengatakan bahwa

Islam merupakan agama revolusioner atau agama yang hendak merubah tatanan

sosial, ekonomi, politik dan budaya masyarakat secara kolektif ke arah yang lebih

baik. Di dalam Al Qur’an, tidak terlalu tampak secara berlebihan tentang

revolusionernya secara implisit, namun secara eksplisit ketika ayat tersebut

ditafsirkan dengan metode kontekstual histories (meminjam istilah Hassan

Hanafi) hampir sebagian besar isi Al Qur’an merupakan upaya untuk merubah

atau tepatnya menjadikan Al Qur’an sebagai media utama revolusi.

Satu hal lagi yang perlu ditekankan dalam hal ini, yakni terkait dengan

makna Islam revolusionernya sendiri. Bahwa revolusioner yang diangkat dalam

Islam itu tidak hanya hal-hal besar yang cakupannya global saja, tetapi hal-hal

kecil sampai detail merupakan objek perubahan. Sebagai pembandingnya, Islam

tidak hanya merubah tatanan geososiopolitik saja tetapi melakukan perubahan

sampai hal yang sifatnya personal dan tabu sekalipun seperti berkhitan,

9
memotong bulu kemaluan, sex dan sebagainya. Artinya, revolusi yang

ditawarkan oleh Islam sebagai solusi kolektif atas berbagai persoalan yang

sifatnya mendunia hari ini berangkat dari hal-hal yang sebenarnya ringan dan

tidak terpikirkan oleh kita untuk diubahnya, karena sesungguhnya Islam

mempercayai bahwa hal-hal yang kita anggap sepele akan berbuntut pada hal-hal

yang besar yang terkadang kita sendiri tidak mampu mengatasinya.

Persoalan sederhana yang kita hadapi sehari-hari dengan sendirinya

akan menjadi kebiasaan dan seterusnya mampu menjadi persoalan besar. Ini

memang benar adanya, artinya dalam hal ini Islam mencoba menggulirkan satu

wacana baru tentang bagaimana memanage hal-hal sepele dalam hidup kita

sebagai langkah antisipatif terhadap munculnya hal-hal besar. Analogi

sederhananya, ibaratkan persoalan sepele itu setitik debu, maka lama-kelamaan

debu itu akan bergabung bersama debu-debu lainnya, menggumpal dan kemudian

menjadi batu gunung yang besar yang mampu meremukkan apapun yang

dilewatinya.

Dalam wilayah sederhana ini, kemudian Islam mengajak umatnya untuk

berkaca pada sejarah masa lalu untuk di jadikan referensi dan mempelajari

kejadian tersebut mulai dari tahap penampilan masalah sampai pada ending dari

sejarah itu. Klimaks konflik dan anti klimaksnya yang kemudian harus

mendapatkan perhatian khusus agar persoalan-persoalan yang muncul dapat

segera diketahui penyebabnya serta kemudian merumuskan strategi untuk

bagaimana persoalan tersebut mendapat penyelesaian yang paling baik dan

solutif.

10
Hal ini ada kaitannya dengan apa yang dikatakan oleh penganut filsafat

materialisme historis (evolusionisme mekanis) yang cenderung mempercayai

bahwa sejarah pada dasarnya selalu berputar, apa yang terjadi pada kejadian hari

ini dan akan datang sesungguhnya telah terjadi juga di masa lampu dengan

konsep yang sama. Perbedaan dari kejadian itu hanya terletak pada kuantitas dan

kualitasnya saja. Dapat dicontohkan misalnya imperialisme dan kolonialisme

ekonomi hari ini yang kita rasakan sesungguhnya telah terjadi pada masa lampau

dengan kejadian yang sama namun dalam konsep yang berbeda, kolonialisme dan

imperialisme ekonomi yang terjadi pada masa lampau dilakukan dengan system

yang sederhana dan strategi yang masih dangkal.

Islam dikatakan membawa sejarah sebagai referensi umat Islam dalam

menyelesaikan persoalan menjadi alasan kenapa Allah kemudian banyak

menceritakan kisah-kisah para nabi dan rasul terdahulu dalam Al Qur’an. Yang

ditulis di dalam Al Qur’an, terutama kisah-kisah para nabi dan rasul ini bukan

hanya untuk diketahui sebagai pengetahuan umum untuk kemudian di

dongengkan kepada anak cucunya saja tetapi untuk dipelajari dan diambil makna

dari cerita itu. Tiap tokoh kemudian dikaji dari berbagai sisi, baik sisi sosial,

ekonomi maupun budayanya dan kemudian dibandingkan dengan tokoh-tokoh

lainnya, bagaimana munculnya konflik, penyelesaian konflik sampai pada

bagaimana menciptakan tata sosial yang baru pasca konflik.

Kisah-kisah nabi dan rasul terdahulu ketika dikaji dengan model

kontekstual histories dapat ditemukan banyak hal terkait dengan persoalan yang

dilematis hari ini. Persoalan mengenai konflik antara rakyat dengan penguasa

11
dapat dijumpai pada kisah nabi Yusuf dan nabi Musa, bagaimana Yusuf bersikap

ketika sedang dalam masa hukuman di penjara, tentang bagaimana Nabi Musa

bersama pasukannya melawan dominasi kekuatan Raja Fir’aun2. Persoalan

mengenai politik dapat berkaca dari Nabi Sulaiman, tentang manajemen Negara

sebesar negara Sulaiman yang dilakukan secara sentralistik yang langsung

kepada Raja Sulaiman, bagaimana Nabi Sulaiaman melakukan penggabungan

negara dengan negara ratu Bilqis, di bidang militer Kisah Nabi Sulaiman dengan

tentara dari manusia, binatang dan jin dapat di control dalam one man one

commando di tangan nabi Sulaiman.

Di bidang pendidikan, kisah nabi Musa ketika mencari Nabi Khidzir,

ketabahannya dan kesabarannya dalam menuntut ilmu dapat menjadi rujukan hari

ini bagaimana menyelesaikan persoalan rendahnya sugesti masayarakat untuk

bersekolah, sehingga negara kita dilanda kebodohan kolektif. Manajemen

pendidikannya, dapat diambil dari kisah nabi-nabi yang menyampaikan

risalahnya secara kontinyu dengan tempat seadanya dan waktu sesenggangnya.

Artinya belajar dapat dimanapun, kapanpun dengan guru siapapun.

Banyak kejadian sejarah dari para nabi terdahulu yang dapat dijadikan

rujukkan untuk mencari solusi kolektif atas multiproblem yang terjadi di tengah-

tengah kita hari ini.

2
Kisah ini disebutkan dalam Al Qur’an saat bagaimana Bani Isra’il yang dipimpin Musa
melawan Fir’aun, pada akhir cerita Allah menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya saat
menyeberangi lautan. Allah berfirman;
“Maka Fir'aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang
menenggelamkan mereka” (QS.20.78)

12
Sederhananya, dari kisah sejarah yang dituliskan dalam Al Qur’an saja

dapat kita ambil banyak pelajaran untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang

dilematis di tengah-tengah kita hari ini. Belum lagi ketika kita buka ayat-ayat

makiyyah yang di turunkan di Makkah yang kebanyakan isinya tentang hukum

syariat yang mengatur hubungan teologis dan hubungan muammalah

(sosiologis), disini secara lebih jelas diatur mengenai bagaimana seharusnya kita

berpolitik, bagaimana menciptakan tata sosial yang madani, tentang apa yang

seharusnya dilakukan ketika berhubungan dengan Allah dan seterusnya.

Dalam Al Qur’an, kisah-kisah nabi terdahulu tidak hanya untuk

kemudian dijadikan petuah dan dongeng saja, akan tetapi apa yang digambarkan

tentang kemurkaan Allah terhadap suatu kaum yang mengabaikan kepentingan

teologis dan humanis di tengah-tengah kaumnya secara nyata, kemudian atas

mereka Allah dengan kebesarannya kemudian menurunkan beraneka bencana

yang terkadang diluar akal sehat manusia. Kaum Nabi Nuh yang berada di sekitar

gurun berpasir oleh Allah kemudian diturunkan bencana berupa banjir bah yang

besar sehingga seluruh kaum, kecuali pengikut nabi Nuh, tenggelam oleh banjir

tersebut. Atau yang lebih jelas lagi, Raja Ramses (Fir’aun) di zaman nabi Musa

ditenggelamkan di dalam lautan ketika nabi Musa berhasil membelah lautan

hanya dengan pukulan tongkatnya.

Satu hal lagi, bahwa selain memberikan petuah secara implicit dan

eksplisit, Al Qur’an juga memberikan jawaban atas persoalan motivasi dalam

melakukan revolusi (perubahan) sebagai manifestasi atas ajaran yang terkandung

13
di dalam Islam, seperti misalnya, Allah memberikan sindiran halus dengan

Firmannya

“… Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu

sendiri merubahnya”.3

Disinilah kemudian apa yang dimaksud Hassan Hanafi bahwa Islam itu

harus mampu menciptakan antroposentrisme yakni peradaban yang berpusat pada

manusia memperoleh legitimasi selain dari ayat yang mengatakan bahwa

manusia adalah khalifatu fi al ardl yang berhak memanage dunia beserta isinya.

Di sisi lain, bahwa terkait dengan manusia sebagai khalifatu fi al ardl maka

manusia memperoleh kebebasan dan tanggung jawab untuk melakukan

perubahan terhadap tata sosial masyarakat dan alam sekitarnya yang tidak sesuai

dengan hokum Islam untuk menciptakan kemaslahatan bersama (kesalehan

kolektif). Allah berfirman :

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak

menjadikan seorang khalifah di muka bumi”4

Jabatan khalifatu fi al ardl dan keharusan manusia melakukan

perubahan terhadap negaranya apabila negara tersebut di pegang oleh kekuasaan

yang menindas dan sewenang-wenang memberikan inspirasi lebih bahwa dengan

3
Surat Al Ra’d ayat 11
4
Surat Al Baqarah [2] 30

14
hanya dua tanggung jawab ini motivasi untuk revolusi dapat dimunculkan dengan

bermodalkan keberanian dan tanggung jawab secara kolektif masyarakat Islam di

dunia, tanpa membedakan status dan madzhab yang dianut.

Disini baru satu sumber utama, sumber yang kedua berupa hadits dapat

lebih jauh lagi diketahui tentang bentuk revolusi yang ditawarkan oleh Islam

sebagai langkah efektif untuk dapat merubah tatanan ipoleksosbudhankam yang

dilematis dan menindas. Hadits memberikan jabaran lebih luas dan mendalam

serta lebih detail, tugas hadits adalah menterjemahkan isi Al Qur’an secara lebih

luas dan teknis, oleh karena itu peran hadits sebagai penerjemah akan lebih luas

cakupannya di bandingkan dengan sumber utamanya.

Menjabarkan tentang peran hadits dalam melakukan dukungan

revolusioner terhadap Al Qur’an akan di temukan penjelasan yang lebih

mendalam, mengingat hadits tidak hanya ucapan nabi Muhammad, tetapi juga

tindakan dan sikapnya maka dapat dengan mudah diketahui tindakan

revolusioner nabi Muhammad dalam melakukan perubahan di tanah Arab

khususnya dan dunia pada umumnya.

Masyarakat Arab sebelum nabi Muhammad diangkat menjadi

Rasululullah banyak tindakan yang tidak manusiawi muncul. Bayi yang lahir

dengan jenis kelamin perempuan akan dikubur hidup-hidup, berjudi dan mabuk-

mabukan merupakan identitas mereka, perbudakan, penindasan dan kesewenang-

wenangan terhadap kaum miskin dapat mudah dijumpai. Sesembahan mereka

berupa batu yang dipahat berbentuk berhala yang di letakkan di bangunan suci

15
Nabi Ibrahim, Ka’bah, yang mereka namai Latta dan ‘Uzza. Dan sederetan

tindakan jahiliyyah lainnya.

Dari fenomena yang kurang manusiawi di tengah-tengah masyarakat

Arab ini, Muhammad muncul sebagai orang yang berhati halus, jujur, berotak

cerdas dan oleh masyarakatnya Muhammad mendapatkan gelar Al Amin5.

Muhammad yang merasa prihatin dengan kondisi ini kemudian menyeret dirinya

untuk merenungi dan menyendiri berkontemplasi di gua Hira’, sebuah gua yang

berada di pegunungan berbatu di luar kota Makkah.

Ditengah kontemplasinya yang dilakukan secara kontinyu (istiqamah),

Jibril kemudian atas perintah Allah menurunkan wahyu pertama yang membuat

Muhammad merasa ketakutan. Asghar Ali Engineer6 mencatat dalam peristiwa

penurunan wahyu pertama ini, bahwa wahyu yang pertama kali secara esensial

memang berwatak religius, namun tetap menaruh perhatian lebih kepada

fenomena sosial yang ada di sekitarnya.

Makkah yang ketika itu merupakan pusat perdagangan yang penting.

Dimana secara geografis Makkah menjadi kota yang paling diperuntungkan

karena menjadi jalur perdagangan dari Arabia Utara ke Arabia Selatan atau

sebaliknya. Makkah menjadi jalur utama perdagangan dan menjadi pusat

pertemuan para pedagang dari kawasan Laut Tengah, Teluk Parsi, Laut Merah

melalui Jeddah. Pedagang dari Afrika pun banyak yang melakukan transaksi

perdagangan melalui rute Makkah ini. Dari keadaan inilah Makkah kemudian

5
Gelar Al Amin diterima oleh Muhammad sebelum ia diangkat menjadi Rasulullah. Al Amin
adalah gelar yang diberikan kepada orang yang jujur, menjaga amanat dan dapat dipercaya.
6
Asghar Ali Engineer, 2007, Islam and Relevance to Our Age, Penerj. Hairus Salim dkk, LKiS
Jogjakarta, hal. 4

16
diuntungkan sebagai kota penting yang menjadi pusat keuangan dari kepentingan

internasional yang besar.

Seiring dengan perubahan kota Makkah menuju wilayah perdagangan

internasional ini, maka secara perlahan masyarakat arab tata nilai sosialnya

sedikit demi sedikit bergeser ke arah baru yang lebih praktis. Masyarakat yang

sebelumnya lebih mengutamakan sentiment kesukuan atau sentiment Klan untuk

kemudian mengalami transisi sosial. Dan ternyata tidak hanya perubahan pada

wilayah kesukuan saja, tetapi juga perubahan terjadi pada wilayah kepercayaan

dan pandangan hidup masyarakat.

Masyarakat Badui yang tinggal di sekitar kota Makkah mungkin yang

paling merasakan pil pahit dari perubahan sosial dan ekonomi ini. Biaya hidup

yang harus ditanggung oleh masyarakat suku Badui dan suku-suku lainnya

semakin meningkat karena pertumbuhan ekonomi yang cepat ini.

Hal yang terjadi pada suku Badui ini berbanding terbalik dengan

kondisi ekonomi para pedagang. Dimana ketika masyarakat Badui menderita

karena tekanan ekonomi dengan biaya hidup yang semakin tinggi, justru para

pedagang di kota Makkah merasakan sebaliknya, mereka berlomba-lomba

memperkaya diri dengan menjual komoditas perdagangan yang banyak disukai

oleh pangsa pasar.

Keadaan yang terlalu kacau balau ini, merupakan akar pusat yang

menyebabkan banyaknya konflik sosial di kota Makkah. Dimana dari persoalan

kesenjangan ekonomi ini, kemudian secara perlahan mulai menurun pada bidang

sosial lainnya.

17
Para pedagang yang memegang kendali atas dunia perdagangan pada

saat itu kemudian melakukan berbagai cara untuk memusatkan kekayaan pada

diri mereka masing-masing. Berbagai koorporasi perdagangan kemudian muncul

sebagai akibat dari keinginan untuk terus memperkaya diri. Koorporasi ini selain

untuk menguasai arus perdagangan dalam satu wilayah juga untuk melakukan

monopoli perdagangan sepenuhnya atas wilayah yang telah dikuasainya itu.

Sebagai bentuk tandingan atau strategi banding atas kekuasaan ekonomi

dalam koorporasi itu, orang-orang miskin Makkah kemudian membentuk

komunitas yang sama. Tujuannya adalah untuk mengurangi dominasi ekonomi

para pedagang yang monopolistic, dimana system ini menjerat dan

menyingkirkan secara perlahan kaum miskin. Komunitas ini mereka namai

sebagai al Fudul7 (Liga orang-orang tulus). Dalam pembentukan komunitas ini,

Muhammad turut serta menghadirinya dan menyatakan menyetujui dan

mendukung berdirinya komunitas kaum tertindas ini.

Selain untuk menjaga integritas perdagangan, komunitas ini juga

bertugas untuk mencegah keluarnya para pedagang Yaman dari kota Makkah.

Hal ini disebabkan karena pedagang Yaman merupakan para pedagang yang

cerdas dalam managemen perdagangan antar kota, sehingga apabila pedagang

Yaman harus keluar dari Makkah, sebagai akibatnya, komunitas al Fudul ini

harus mengirimkan kafilahnya ke Yaman.

Pedagang yang kaya raya menguasai secara sepenuhnya kehidupan

sosial masyarakat Makkah. Sehingga dari sini, selain menindas secara ekonomi,

7
Sering dijumpai nama-nama lain untuk menyebut komunitas kaum tertindas ini selain Al Fudul.

18
juga melakukan penindasan sosial dengan pembudakan manusia. Orang-orang

merupakan komoditas perdagangan yang dapat diperjual belikan antar orang kaya

untuk dieksploitasi tenaganya. Selain eksploitasi tenaga, untuk budak wanita

diperalat untuk memenuhi hasrat seksual para pedagang.

Nabi Muhammad setelah diangkat menjadi Rasul melakukan revolusi

sosial masyarakat Makkah, dengan tegas ia melawan setiap tindakan

pemberhalaan terhadap batu, mengubur bayi perempuan hidup-hidup, berjudi,

penindasan ekonomi dan sosial dan sebagainya8. Revolusi ini jelas tidak mudah

dilakukan, hal ini dikarenakan tindakan jahiliyah merupakan sesuatu yang telah

masuk dalam lingkaran tradisi masyarakat Arab sehingga untuk merubah tradisi

tersebut akan mendapatkan perlawanan yang jauh lebih tegas dari serangan yang

dilakukan Muhammad.

Nyawa Muhammad menjadi taruhan sebagai konsekuensi dari revolusi

yang ia lakukan bersama pasukannya. Ia tidak menyerah meskipun mendapatkan

pertentangan dari setiap arah. Sampai-sampai karena revolusi yang beliau

lakukan membuatnya di usir dari Makkah dan bersama-sama sahabatnya hijrah

ke kota Madinah yang masih dalam wilayah Hijaz.

Di Madinah, Muhammad bersama-sama sahabatnya masih terus

mendapatkan desakkan dari berbagai pihak, tidak hanya kaum Quraisy di

Makkah saja, tetapi wilayah-wilayah luar Makkah dan Madinah yang mengetahui

tentang kerasulan dan agama baru yang dibawa Muhammad.

8
Pada tahap awal Muhammad melakukan sosialisasi secara sembunyi-sembunyi tentang wahyu
yang diperolehnya kepada istri dan sahabatnya untuk mendapatkan dukungan dalam
menyebarkan paham baru yag dia peroleh. Tahap selanjutnya, Muhammad mulai menyebarkan
Islam dengan terang-terangan sebagai agama yang hendak memperbaiki moral (akhlaq)
masyarakat.

19
Al Qur’an di Madinah masih tetap turun dengan berbagai kondisi social

dan kondisi pribadi Muhammad yang berbeda-beda. Sering kali pula Allah

menurunkan Ayat yang berisi tentang cerita-cerita kenabian terdahulu untuk

menjadi cermin oleh Muhammad dalam menghadapi setiap serangan dari pihak

luar. Ayat-ayat yang turun kemudian oleh nabi dimanifestasikan dalam setiap

gerakan dan perjuangan melawan desakan dan tantangan yang ia terima.

Disinilah peran hadits sebagai penerjemah dari Al Qur’an dapat di

ketahui, bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad adalah hadits dan

hadits tersebut merupakan pengejawantahan dari apa yang dikatakan dalam Al

Qur’an. Selain dalam bidang teknis, hadits secara tekstual juga banyak yang

mendukung revolusionisme Al Qur’an.

Misalnya saja, hadits tentang berperang melawan kebatilan, penindasan,

kesewenang-wenangan dan sebagainya banyak muncul dalam periode kehidupan

nabi Muhammad, hadits tentang berperang merupakan realisasi dari perintah

jihad yang diperintahkan oleh Allah dalam Al Qur’an.

Sampai pada wafatnya nabi Muhammad, perubahan di bidang politik

dan budaya banyak dilakukan dan banyak menyebar di berbagai negara. Revolusi

terhadap budaya lain yang tidak humanis di wilayah Negara lainpun ia lakukan

dengan strategi yang halus dan manusiawi. Perubahan social yang paling kentara

adalah berubahnya pandangan hidup yang semula berwatak imperialistic dan

kolonialistik antara orang kaya dengan orang miskin sedikit demi sedikit mulai

terkikis, Islam yang dibawa Muhammad membawa ajaran agar orang kaya

menyantuni orang miskin. Diakui atau tidak, Islam saat ini merupakan gerakan

20
yang sedang melakukan revolusi total, dimana Islam mengibarkan bendera kiri

(perlawanan) terahadap system yang primitive.

Terkait dengan Tesis Hassan Hanafi dengan Kiri Islamnya, maka posisi

Islam Revolusioner merupakan harga mati. Hubungan antara Islam Revolusioner

dan Kiri Islam adalah searah dan saling melengkapi, Tugas Kiri Islam adalah

menguak unsur-unsur revolusioner dalam agama, dan menjelaskan pokok-pokok

pertautan antara agama dan revolusi. Atau dengan kata lain, memaknai agama

sebagai revolusi. Tugas ini merupakan sebuah ‘tuntutan zaman’ yang telah

menerapkan sebuah system yang sistematis tetapi menindas dan melakukan

kesewenang-wenangan halus.

Dikatakan sebagai tuntutan zaman mengingat bahwa hari ini fenomena

kapitalisasi di segala bidang kehidupan telah mencapai titik kritis. Semua bidang

kehidupan telah disusupi oleh kapitalisme yang kapitalisme sendiri menjajah

berbagai peradaban lain yang mencoba menggugurkannya. Dan parahnya lagi

posisi Islam hari ini oleh para penganutnya dianggap sebagai agama teosentris

dimana peran tuhan sebagai pemegang utama atas kendali dunia berperan

dominan, manusia adalah boneka yang harus mengikuti apa yang dikehendaki

oleh Tuhan, sehingga tidak ada kebebasan manusia untuk melakukan perubahan

atas segala yang terjadi pada Islam dan penganutnya.

Paradigma fungsionalis ini menganggap bahwa Tuhan adalah sentral

peradaban, apa yang terjadi di dunia ini adalah merupakan kehendak Tuhan, atau

istilahnya takdir, manusia tidak berhak untuk melakukan perlawanan atau

merubah kehendak Tuhan, tugas manusia adalah sabar menghadapinya dan

21
tawakal ketika kesabaran itu telah habis. Penindasan, kesewenang-wenangan

yang terjadi atas mereka oleh siapapun merupakan kehendak Tuhan yang harus

diterima dengan lapang dada.

Dari sinilah kemudian memunculkan persoalan yang sangat fatal dan

riskan untuk merealisasikan Islam sebagai agama revolusi. Orang-orang Islam

mayoritas tidak memiliki paradigma yang strukturalisme radikal, hanya sebagian

orang Islam yang sadar dan menganggap bahwa dunia ini merupakan ‘peradaban’

yang dipegang oleh manusia dan manusia diberi kebebasan untuk mengelola dan

memanfaatkan segala sesuatu yang ada di dunia. Apabila terjadi something

trouble dalam system kesetaraan kosmologi maka hal yang harus dilakukan

adalah melawan terhadap apapun atau siapapun yang membuat kesetaraan itu

mengalami something wrong.

Paradigma masyarakat kebanyakan dalam memandang penindasan

kapitalisme dilihat dari kaca mata religiusitas, merupakan sesuatu yang telah

ditakdirkan oleh Tuhan, sebagai muslim yang taat maka harus menerimanya

dengan lapang dada dan sabar. Penjajahan ekonomi harus diterima dengan

tawakal, penguasaan akses politik dan ekonomi oleh ‘orang hitam’ merupakan

sesuatu yang harus ditawakali dan berpasrah karena semua itu merupakan

kehendak dari Allah yang merupakan cobaan.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa tugas Islam untuk mampu

menjadi agama revolusioner ada dua macam, dan keduanya merupakan rangkaian

yang tidak mungkin terputus salah satunya, yakni pertama Islam harus mampu

merubah paradigma pemeluknya dari Islam yang konservatif fundamentalis

22
dengan paradigma fungsionalis ke budaya humanis dengan paradigma

strukturalisme radikal.

Setelah semua pemeluknya merubah paradigmanya dan telah sampai

pada common sense (satu pandangan) maka untuk selanjutnya yang kedua Islam

baru dapat melakukan revolusi total di segala bidang kehidupan untuk melawan

dominasi kapitalisme yang menjerumuskan. Namun, satu hal yang kemudian

sampai saat ini belum dapat terrealisasi yakni pengkondisian masyarakat muslim

itu sendiri. Artinya, masyarakat muslim masih terkotak-kotak berdasarkan

madzhab, aliran dan kepercayaan yang berbeda-beda sebagai akibat dari

kesalahan sejarah yang telah membudaya di tengah-tengah Islam. Inilah yang

kemudian membuat komunikasi internal di dalam Islam sampai sekarang belum

dapat terjadi dialog yang komunikatif dan konstruktif. Semuanya berjalan

menurut kepercayaan dan ajaran mereka.

Artinya benar kata Samuel P. Huntington bahwa perang yang terjadi

hari ini dan seterusnya bukan berlatar belakang adu kekuatan militer serta

penguasaan satu negara oleh negara lainnya, tetapi lebih pada perang antar

peradaban (The Clash of Civilization). Perang untuk menjadi weltanschauungs

yang diakui di seluruh dunia sebagai paradigma yang berkuasa dan harus dianut

oleh seluruh lapisan masyarakat di dunia. Peradaban yang menang merupakan

peradaban yang akan menguasai masyarakat dunia secara kolektif dan menjadi

kiblat atas peradaban-peradaban kecil yang dikalahkannya.

Sebelum terlalu jauh, konsep ini akan lebih baik lagi ketika ditarik

dalam wilayah keberagamaan, terutama Islam. Dalam Islam, selalu dipercayai

23
bahwa setiap orang lahir dalam keadaan suci, tidak ada dosa, tidak ada kejahatan

dan kebaikan, istilah mudahnya, manusia yang baru lahir dalam keadaan fithri.

Begitu pula, dalam relung kesadaran manusia dan dalam naluri kemanusiaannya

mempunyai tendensi ke arah wilayah hanif, yang pro kemanusiaan dan

kebenaran.

Namun nalar dan kefitrahan itu akan terkikis ketika manusia dalam

pandangan sadarnya melihat ke fenomena sekelilingnya yang ternyata tidak

sesuai dengan naluri kemanusiaan yang dimiliki. Ada penyelewengan ke arah

pemberontakan terhadap kefitrahannya itu. Sebagai akibatnya, manusia tersebut

akan terjadi pergoalakan bathin yang mencoba mengambil keputusan untuk ikut

serta dalam ‘penyelewengan’ tersebut atau tetap mengikuti naluri dan fitrahnya

sebagai manusia dengan konsekuensi akan kehilangan sesuatu yang menjadi

target dari ‘penyelewengan’ itu.

Dari sinilah kemudian penyadaran akan sangat dibutuhkan dan agama

menjadi solusi atas transisi sosial dan konflik sosial semacam ini. Jadi benar

bahwa kebaikan pada dasarnya telah tercetak dalam relung kesadaran yang

terdalam dalam diri manusia, manusia telah mengetahui kebenaran dan kebaikan

dalam bersikap, dan oleh karena itulah maka proses penyadaran ini sangat

dibutuhkan sebagai usaha untuk menempatkan kembali pada ranah kefitrahan.

Perubahan sosial yang terjadi dalam Islam akhir-akhir ini dalam era

kapitalisme global yang tidak mengenal batas wilayah hunian manusia dan tradisi

lokalnya telah terjadi secara radikal. Dalam keadaan seperti ini, tidak hanya

capitalisme yang sulit dibatasi, berlari ke wilayah manapun selama di tempat itu

24
menjanjikan keuntungan secara kapitalistik, tetapi juga kekuatan capital itu telah

mempunyai akibat terhadap aspek sosial dan kemanusiaan yang lain.

Kapitalisme yang selama ini telah dianggap sebagai kekuatan lawan

yang tangguh yang menggerogoti Islam bukan hanya satu-satunya lawan yang

harus dibasmi. Tetapi akibat turunan dari kapitalisme itu justru telah menjadi

salah satu madzhab dalam Islam sendiri, kapitalisme telah me-make up dirinya

sehingga berwajah Islam.

Artinya hari ini Islam sebenarnya dihadapkan pada persolan dilematis,

dimana selain mempunyai musuh besar berupa kapitalisme, ternyata koordinasi

internal Islam sendiri belum selesai, tidak ada integrasi secara paradigmatic

dalam Islam. Selain harus berperang melawan kapitalisme, Islam juga harus

menyembuhkan penyakit yang ada dalam tubuhnya sendiri.

25
DEKONSTRUKSI PEMAHAMAN KLASIK

ATAS AJARAN ISLAM

Membuka Jalan Baru Menuju Pemahaman Ajaran Islam

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa masyarakat Islam sampai hari

ini masih terus terjebak pada pemahaman secara teks normative terhadap ajaran-

ajaran yang ada dalam Islam. Sebagai akibatnya, perkembangan pemikiran dan

tindakan masyarakat secara kolektif belum bisa tersentuh, yang muncul adalah

perubahan-perubahan yang bersifat revolutif dan pencarian paradigma baru

dalam memahami isi kandungan ajaran Islam pada masyarakat muslim kelas

menengah dan intelektual-intelektual muslim. Pemerataan terhadap pemahaman

baru dalam memahami ajaran Islam belum bisa dilakukan secara menyeluruh.

Banyak hal yang menyebabkannya, selain diantaranya kepercayaan

public terhadap ajaran Islam yang telah mengakar juga disebabkan karena

rendahnya kesadaran intelektual masyarakat muslim untuk melakukan kajian-

kajian yang bersifat pencarian cara pandang baru dalam beragama. Untuk banyak

kalangan, agama hanya selesai pada dataran teosentris dan itu cukup dilakukan

hanya dengan shalat lima waktu, puasa, berzakat, haji kalau mampu dan

seterusnya. Sementara aspek keberagamaan yang sifatnya muammalah

revolusioner, bagi banyak kalangan, merupakan bukan esensi dari kehidupan

keagamaan.

Kehidupan keberagamaan masyarakat yang cenderung fundamentalis

ini, dalam berbagai wilayah, merupakan penyakit yang mematikan untuk

26
perkembangan Islam sendiri. Kurangnya kesadaran untuk menumbuhkan jiwa-

jiwa religiusitas dalam ranah muammalah revolutif menyebabkan Islam

peranannya akan semakin mundur dalam percaturan memperebutkan mainstream

paling berpengaruh untuk menjadi weltanschauungs yang diakui diseluruh dunia.

Baiklah, untuk selanjutnya kita kaji dari awal mulai dari penyebab

munculnya fundamentalisasi keberagamaan masyarakat hingga upaya yang

mungkin dapat dilakukan untuk menghilangkan ekstrimisme beragama semacam

itu dan kemudian menanamkan pola keberagamaan baru yang lebih fleksibel dan

sesuai dengan kondisi social politik hari ini.

Tindakan semacam ini, dalam kaca mata kita, ada beberapa

kemungkinan yang mungkin membuat pola keberagamaan semacam ini.

Pertama, ini merupakan reaksi atas tindakan ghuluw (melampaui batas), artinya

keberagamaan mereka merupakan kesadaran keberagamaan teosentris yang

melebihi batas ketentuan. Ini disebabkan karena keyakinan mereka yang berlebih

atas ‘Teo’ yang mereka sembah, sehingga sebagai manifestasi atas keyakinan

yang berlebih itu, mereka mengekspresikan rasa tersebut dengan tindakan

ghuluw dalam beribadah, yang kemudian oleh masyarakat secara umum ditiru

tanpa dipandang dari sisi lain. Ini cukup mempengaruhi mengingat bahwa dalam

kepercayaan masyarakat secara umum, fenomena keagamaan merupakan

hubungan teosentrisme, sementara humanisme yang dimunculkan dalam ekspresi

keagamaan merupakan ajaran subdominant dalam agama.

27
Dalam masalah ghuluw ini, secara tegas Allah telah memperingatkan

manusia untuk tidak melakukan tindakan semacam ini dalam beragama dalam Al

Qur’an yang artinya :

“Katakanlah, ‘Wahai Ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas)

dalam beragama. Dan jangnlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah

sesat dahulunya, dan menyesatkan banyak orang, sehingga mereka sesat dari jalan

yang sama”9

Untuk lebih mudah dipahami oleh umat Islam pada zaman Rasulullah

tentang ayat ini, nabi Muhammad SAW juga telah memperingatkan kepada umat

Islam untuk menjauhi tindakan ghuluw dalam beragama. Beliau bersabda ;

“Takutlah akan berlebih-lebihan dalam beragama. (kaum10) sebelumnya telah binasa

karena berlebih-lebihan”11

Hadits di atas secara tidak langsung memberi peringatan kepada umat

Islam agar lebih waspada terhadap munculnya sikap ghuluw, karena terkadang

9
QS. Al Maidah Ayat 77.
Peringatan ini ditujukan kepada Ahlul Kitab serta orang Yahudi atau Nasrani secara keseluruhan
yang meng-’itiqad-kan Isa a.s sebagai Tuhan. Mereka diserukan untuk tidak mengekspresikan
keberagamaan mereka secara berlebih supaya tidak tersesat dalam beragama, serta tidak
mengikuti orang-orang yang telah sesat sebelumnya karena ekspresi keagamaan yang berlebih.
10
Kaum yang dimaksud oleh nabi Muhammad adalah, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an,
Yahudi dan Nasrani.
11
Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal, Abu Abd al Rahman al Nasa’I dan Abu Abdillah ibn
Majah dalam Sunan mereka.

28
sifat semacam ini muncul tanpa dapat kita sadari. Ghuluw dapat terjadi dengan

kita melakukan tindakan yang tidak ada gunanya dan selanjutnya menjalar pada

ghuluw dalam tingkatan yang sebenarnya.

Di riwayatkan, dalam perjalanan Haji Wada’, setelah sampai di

Muzdalifah Nabi Muhammad SAW meminta Abdullah Ibn Abbas untuk

mengumpulkan beberapa batu untuknya. Ibn Abbas memilih batu-batu yang

kecil. Setelah melihat batu-batu itu, Nabi Muhammad SAW menyetujui

ukurannya dan berkata; “Ya, seperti itu. Berhati-hatilah akan berlebih-lebihan

dalam agama”12.

Dari permisalan melalui batu dalam hadits di atas, Nabi mengisyaratkan

bahwa, dalam memilih batu-batu (dapat di terjemahkan sebagai ritual

keagamaan) harus dapat menetukan ukuran yang dinamis. Tidak terlalu besar

(berlebihan) dan tidak terlalu kecil (kurang).

Orang tidak harus untuk sepanjang hari menyembah kepada Allah,

meskipun itu baik sebenarnya, sementara kewajiban lain yang harus di kerjakan

seperti memberi nafkah, mencari sumber penghasilan (terkait manusia sebagai

khalifatu fi al ardl) dan sebagainya kemudian ditinggalkan. Atau karena semua

itu, sebagai kebalikan atas yang pertama tadi, kemudian Allah ditinggalkan

begitu saja. Karena bekerja lupa shalat dan sebagainya.

Manusia harus fleksibel dalam mengatur masalah keberagamaan, karena

pada dasarnya Allah menurunkan Islam semata-mata tidak hanya untuk manusia

menyembahnya, tetapi untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. Manusia harus

tahu porsinya sebagai abdillah dan sebagai khalifatu fi al ardl. Ada kalanya
12
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

29
orang harus tunduk pasrah kepada Allah, dan pada kesempatan yang lain,

manusia juga diberi kebebasan untuk memanage bumi dengan tanpa intervensi

dari Allah.

Sekali lagi untuk mempertegas itu, Allah telah berfirman;

“Wahai Ahli Kitab, Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu”13

Kedua, dapat juga diketahui bahwa keberagamaan masyarakat yang

demikian itu disebabkan oleh sikap tanattu’ (berlebihan, keberagamaan yang

terlalu ketat). Sikap semacam ini disebabkan, masih berkutat pada wilayah yang

sama, oleh pemahaman teosentrisme beragama. Perbedaan dari yang pertama

adalah, dalam wilayah ini orang cenderung ekstrim terhadap ritual keagamaan

dan terlalu berhati-hati dalam bertindak.

Berhati-hati yang berlebih dalam beragama ini menyebabkan seolah

agama merupakan wilayah yang sacral dalam mengatur manusia, sehingga ketika

masuk di dalamnya orang terikat dengan peraturan dan doktrin keagamaan yang

ketat. Sementara, wilayah lain yang memberikan ruang kebebasan terkadang

tidak berani disentuh karena kehati-hatiannya itu. Yang kemudian patut

disayangkan adalah, kehati-hatian itu hanya berlaku pada hubungan teosentris

saja, kehati-hatian tidak pada aspek pengembangan keagamaan dan

pemberdayaan masyarakat muslim.

Nabi bersabda :

13
Surat An Nisa’ ayat 171.

30
“Kehancuranlah bagi merkea yang berpuas diri dalam tanattu’”14

Ketiga, tasydid (Kekakuan, kesederhanaan berlebih). Orang yang

berpandangan seperti ini, sulit untuk dapat menerima factor eksternal yang

mencoba masuk kedalam wilayah keberagamaan mereka, tidak hanya factor

eksternal saja, tetapi inovasi dan kreasi yang muncul dalam internal agama itu

sendiri terkadang banyak ditolak dengan serta merta. Menanggap itu sebagai

bid’ah yang tidak pantas untuk dilakukan dan sampai pada pengecapan bahwa

tindakan inovatif tersebut adalah syirik dan seterusnya.

Artinya, sesungguhnya dari berbagai sudut pandang, dapat diketahui

bahwa Islam merupakan agama yang selalu mengajarkan keseimbangan,

menempatkan diri pada posisi moderat. Islam selalu menyeimbangkan antara

kebutuhan yang bersifat rohani dan kebutuhan jasmani, rohani tercukupi dengan

tepat, jasmani juga terpuaskan. Islam sangat mengecam berlebih-lebihan

meskipun dalam beragama. Nabi sendiri memperingatkan kepada sahabat-

sahabatnya yang berlebih-lebihan dalam beribadah dan terlalu asketik, karena

tindakan ini merupakan tindakan melompat dari garis Islam moderat.

Islampun tidak pernah melarang untuk umatnya menikmati keindahan

dunia dan menikmati kenikmatannya. Karena Allah menciptakan semua itu untuk

di nikmati oleh manusia. Allah berfirman;

14
H.R. Muslim

31
“Wahai anak-anak Adam! Pakailah perhiasanmu setiap kali pergi ke Masjid, makan

dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sungguh ia tidak menyukai orang-orang

yang berlebih-lebihan”

“Katakanlah: “Siapa yang mengharamkan perhiasan tuhan yang di sediakan untuk

hamba-hamba-Nya, dan rezeki yang baik. Katakanlah, ia untuk orang-orang yang

beriman…”15

Fenomena keberagamaan masyarakat yang jumud dan fundamentalis

merupakan tindakan yang berlebih-lebihan atau bahkan asketis. Mengingat posisi

keberagamaan fundamental lebih mengutamakan agama hanya hubungan

teosentris semata yang kemudian sebagai ekspresi atas keberagamaannya itu

dinyatakan dalam peribadatan yang berlebih. Sementara itu, fundamentalisme

beragama seringkali menyingkirkan aspek-aspek muammalah (humanisme)

dalam beragama. Secara dangkal dapat dikatakan bahwa fenomena

keberagamaan semacam ini merupakan penafsiran sepihak atas agama.

Dalam beribadah, juga harus mengedepankan unsure humanisme, dalam

wilayah teosentris juga tidak bisa terlepaskan dari humanisme. Sebagaimana

Nabi pernah sabdakan:

Pada suatu ketika nabi berpesan pada imam shalat dengan marah yang tidak biasa

“Beberapa di antara kalian telah membuat orang-orang tidak menyukai shalat.

Maka, siapa saja di antara kalian yang menjadi imam harus melakukannya dengan

singkat, karena di antara mereka (makmum) ada yang lemah, tua, seseorang yang

mempunyai bisnis yang harus diperhatikan…”16

15
Surat Al Maidah ayat 31-32
16
H.R Bukhari

32
Orang yang memiliki sifat semacam ini (berlebih-lebihan) akan

menutup diri dari masuknya pemahaman lain tentang apa yang dilakukannya. Dia

tidak akan mengadukan secara ilmiah ataupun cultural tentang ritualitas yang dia

lakukan dengan bentuk-bentuk lain. Ia hanya akan mencari pendukung untuk

kemudian membawa masyarakat ke dalam barisannya.

Hari ini masyarakat Islam telah terkontaminasi virus semacam ini.

Orang menganggap bahwa Islam hanyalah agama teosentris, dan oleh karenanya

hanya ibadahlah yang harus dilakukan. Di sisi lain, asketisme masyarakat dan

sifat acuh tak acuh terhadap ritual keberagamaan juga marak. Islam hari ini telah

lari dari posisi moderatnya.

Posisi semacam ini menyebabkan Islam tidak dapat berkembang dengan

pesat, ketika Islam hanya dibangun pada satu sisi, yakni sisi ubudiyah semata,

maka yang akan terjadi adalah Islam tergilas pada hubungan muammalah-nya

karena wilayah ini tidak dapat dibangun. Islam hanya di beratkan pada sisi

timbangan hablum minallah saja, sementara mangkuk timbangan hablum

minannas masih kosong, apalagi hablum minal ‘alam.

Ketimpangan atas kesetaraan dalam Islam ini kemudian berbuntut pada

hilangnya kreativitas dan inovasi orang-orang muslim dalam mempertahankan

dan mengembangkan agamanya. Orang Islam cenderung untuk mendiskreditkan

persoalan penyesuaian Islam dengan zaman, sehingga fenomena yang terjadi hari

ini bukan zaman sesuai dengan Islam tetapi Islam sesuai dengan zaman. Islam

tidak mampu mengolah zaman dan hanya menjadi satu bagian dari zaman itu.

33
Autentitas nilai Islam sesungguhnya merupakan problematic dalam

sejarah yang harus di rekonstruksi terus menerus dan bukanlah nilai yang sudah

jadi, tanpa imajinasi kaum muslim sendiri. Sehingga, apa yang sering kita

bayangkan sebagai sesuatu Islam yang ‘murni’ dan yang ‘asli’, tidak lain itu

semua adalah bagian dari pengalaman sejarah yang menempatkan nama orang

atau tokoh dengan pikiran dan sikapnya yang terlibat dalam ‘proses’, tatkala

kitab suci dan tradisi itu berhadapan dengan konteksnya masing-masing.

Sederhananya, Islam pada dasarnya merupakan nilai yang bukan harga

mati, yang kemudian harus begini begitu saja. Islam fleksibel dan selalu dapat

masuk dalam zaman manapun dan kondisi social apapun, dengan catatan, yang

membawa Islam pada zaman atau kondisi tersebut dapat menyesuaikan konteks

ke-Islam-annya dengan kondisi riil yang terjadi.

Pada gambaran di atas, kebanyakan orang selalu mengaitkan Islam yang

sesungguhnya dengan tradisi Islam dahulu. Bahwa Islam yang ‘benar’ adalah

Islam yang telah diejawantahkan oleh orang-orang sebelumnya dengan beragam

pemikirannya yang diakui sampai sekarang oleh masyarakat kebanyakan.

Saat ini, mau atau tidak mau, kita harus meyakini bahwa Islam yang

benar (tanpa tanda kutip) adalah Islam yang sesuai dengan Al Qur’an dan Al

Hadits yang merupakan dasar hukum terpercaya dalam Islam.

Selanjutnya, untuk dapat menerapkan Islam yang sesuai dengan konteks

social hari ini adalah bagaimana kita mampu menterjemahkan Al Qur’an dan

hadits tersebut sesuai kondisi riil yang terjadi. Maksudnya, dalam menafsirkan Al

Qur’an dan Al Hadits, agar dapat diterima oleh masyarakat secara keseluruhan,

34
harus dipertimbangkan aspek social yang sedang terjadi. Tujuannya adalah agar

Islam tetap berada pada posisinya sebagai agama moderat yang berada pada titik

tengah dan dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat non muslim sekalipun.

Al Qur’an dan Hadits selalu bersesuaian dengan zaman. Islam selalu

sesuai dengan zaman apapun dan kondisi bagaimanapun. Yang sesungguhnya

membuat Al Qur’an dan hadits tidak dapat menyesuaikan dengan zaman adalah

kita sendiri yang salah dalam menterjemahkannya. Sehingga, Islam hari ini

banyak dicap dengan asumsi-asumsi kotor yang nyata-nyata tidak sesuai dengan

Islam itu sendiri.

Dapat dipastikan apabila kita mampu membawa Islam pada kondisi

social apapun, kebenaran bahwa setiap ide-ide kemanusiaan yang muncul telah

terdapat dalam Al Qur’an. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang

semakin pesat ide-ide dasarnya telah tercantum dalam Al Qur’an ataupun hadits

meskipun hal tersebut disebutkan secara implicit.

Ketika hal ini telah dapat diyakini oleh masyarakat secara keseluruhan,

tentulah pergulatan pemikiran Islam dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan

dari pembentukan referensi universal dari setiap peradaban baru.

Dalam memahami teks kitab suci, dan untuk mengetahui makna yang

paling dalam atas teks-teks tersebut, maka harus disekularisasikan dan

dirasionalisasikan. Tanpa melakukan berpikir sejarah (historical thinking) atau

mencari kebenaran dalam proses (truth as process), maka teks hanya akan

menghasilkan pengikut-pengikut yang imannya bersemangat, tapi mereka hidup

dalam kesadaran-kesadaran palsu yang menentramkan.

35
Fenomena yang terjadi hari ini demikian, dalam pandangan kaum

muslim kebanyakan teks-teks suci (baca : Al Qur’an) merupakan teks yang

dimuliakan dan dibaca terus menerus yang akan menghasilkan umat yang secara

keimanan dan ketakwaan bersemangat. Sementara untuk penggalian unsur-unsur

dan makna yang terkandung di dalamnya secara lebih dalam orang Islam hari ini

kebanyakan mengabaikannya, bahkan asbab an nuzul atau dalam konteks

masyarakat yang seperti apa teks yang mereka baca tersebut turun sama sekali

tidak diketahuinya.

Inilah yang sesungguhnya konsep masyarakat yang kurang begitu

diharapkan oleh Islam sendiri. Yakni orang yang menganggap Al Qur’an sebagai

kitab suci dan sesuatu yang harus dipuji dan dimuliakan. Sementara peran Al

Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk diabaikan. Ini berarti al Qur’an telah

mengalami disfungsi dan dikebiri secara perlahan-lahan oleh umatnya.

Orang yang hanya menganggap teks suci hanya sebagai bahan bacaan

sebagai bentuk perwujudan atas keimanan dan ketakwaannya kepada Allah

berarti orang tersebut tidak memuliakan Al Qur’an. Yang diburu hari ini adalah

bagaimana orang berlomba-lomba untuk membaguskan suaranya dalam

membaca Al Qur’an, sementara pada sisi lainnya, makna yang terkandung di

dalam Al Qur’an sendiri tidak pernah disentuh. Lalu penghormatan semacam apa

yang di berikan orang Islam kepada teks sucinya? Apakah penghormatan hanya

cukup dengan membacanya tanpa mengkajinya?

Tercatat sejak abad ke VII M umat Islam mulai masuk pada

fundamentalisme beragama. Orientasi keberagamaan manusia saat itu selalu

36
merujuk pada fiqh sebagai justifikasi keselamatan dan kesesatan. Fiqh berada

pada puncak kesakralan dan kemapanan. Sebagai sebuah rujukan hukum, fiqh

tampak subjektif, hitam putih, benar salah, halal haram. Dengan sifat-sifat yang

demikian itu, fiqh membuat kreativitas dan kebebasan manusia menjadi hal yang

mahal. Dan ortodoksi fiqih ini juga mendapatkan perlindungan pengamanan

sempurna dari penguasa, sehingga mulai saat itu dan hingga hari ini, fiqh menjadi

satu-satunya justifikasi dalam menentukan hukum social dan ubudiyah, dan

semua orang Islam harus mengikutinya tanpa kreativitas apapun.

Kemandekan kreativitas dalam mengekspresikan kegagamaan juga di

topang oleh booming besar para ulama yang mengeluarkan statemen bahwa pintu

ijtihad telah tertutup. Gerakan menjaga otoritas fiqh ini selanjutnya

mengorientasikan umat Islam untuk selalu taklid terhadap peraturan-peraturan

yang diciptakan berabad silam tanpa melihat perubahan zaman yang semakin

maju dan komplektisitas permasalahan.

Belakangan ini, barulah ortodoksi fiqh sedikit demi sedikit mulai

mencair. Namun itu, sekali lagi, belum menyentuh umat Islam secara

keseluruhan pada lapisan grass root dan Islam abangan.

Banyak sudah percobaan-percobaan yang dilakukan oleh pemikir-

pemikir besar yang menggoncangkan dunia Islam, khususnya untuk kaum

fundamental. Dimana pemikiran-pemikiran mereka membuat orang muslim

fundamental gundah dan merasa dilecehkan keislamannya. Nasr Hamid Abu Zaid

terpaksa mengungsi ke Leiden karena membuat lembaga-lembaga keagamaan di

Mesir kebakaran jenggot dengan “Kritik Wacana Keagamaan” yang ia

37
publikasikan. Muhammad Syahrur juga ikut berperan serta dalam

‘pembangkangan’ ortodoksi fiqh dengan menulis buku Al Kitab wa Al Qur’an:

Qira’ah Muassirah, Muhammad Said al Asymawi, seorang pemikir secular

Mesir juga turut serta melontarkan ide-ide pembaharuannya dengan perspektif

humanisme. Hassan Hanafi dengan Al Yasar Al Islam dan Oksidentalisme,

Muhammad Abed al Jabiri, Muhammad Arkoun, Ali Gharb, Jamaludin Al

Afghani, Muhammad Abduh dan sederet nama-nama pemikir lainnya.

Di Indonesia sendiri, banyak pemikir besar yang turut serta ‘melawan’

ortodoksi fiqh dengan ide-ide pembaharuannya. Tercatat ada Munawir Sadzali,

(Alm) Nur Kholis Majid, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ulil Abshar Abdalla,

Prof. Dr. Harun Nasution dan lainnya yang mencoba menggulirkan wacana-

wacana dan pemahaman yang baru dalam memandang Islam. Bahkan Ulil

Abshar Abdalla yang juga coordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) oleh

kebanyakan ulama salaf di fatwa-kan halal darahnya karena pemikirannya yang

cenderung memancing konfrontasi antara Islam liberal yang dipimpinnya dengan

aliran Islam lain yang ada di Indonesia. Tulisannya di Koran Kompas yang

berjudul “Menyegarkan Kembali Islam Kita” merupakan titik awal tokoh ini

dikenal di blantika intelektual muslim Indonesia.

Para pembaharu, baik di dalam maupun di luar Indonesia banyak

menuai kritik pedas dari ulama-ulama fundamental. Mereka seringkali tidak

hanya difatwakan halal darahnya, tetapi juga mendapatkan serangan-serangan

yang ‘keji’ melalui pembantahan wacana yang ada. Merekapun mendapatkan

gelar riddah17 dari para ulama fundamental. Dalam pandangan ulama


17
Istilah yang digunakan untuk menyebutkan orang keluar dari agama (murtad).

38
fundamentalis, riddah konsepnya tidak hanya terhenti pada perpindahan dari satu

agama ke agama yang lain saja, tetapi juga tindak sparatis terhadap peraturan

yang telah ada. Sehingga ulama-ulama salaf banyak menganugerahi gelar riddah

untuk para pemikir yang mencoba memperbaharui tatatan pemahaman dan

gerakan dalam Islam. Mereka dianggap melakukan tindak provokasi terhadap

masayakat untuk lepas dari kekuatan tiranik Fiqh salafiyyah.

Parameter yang digunakan oleh para pembaharu dalam memperbaharui

Islam adalah dengan menguji pada wilayah umat secara kolektif. Tujuannya agar

tidak terjadi penimpangan terhadap hukum yang telah ada sebelumnya. Seberapa

jauhkan hukum baru yang diciptakan oleh para pembaharu itu dapat menyentuh

kemaslahatan kolektif (kesalehan social) dan sejauh mana hukum tersebut dapat

digunakan tanpa melanggar batas-batas norma social. Maksudnya, dalam

menentukan hukum, mereka mempertimbangkan sisi humanisme dan sisi social

disamping sumber hukum tetap Islam.

Hasil ciptaan hukum para pembaharu tersebut sering kali

memancing kontroversi di tengah-tengah kemapanan ortodoksi pemahaman

Islam. Taruhlah mislanya Munawir Sadzali yang melakukan kritik pedas

terhadap ayat-ayat dan hadits tentang hukum waris yang tidak seimbang

pembagiannya antara laki-laki dan perempuan, Jaringan Islam Liberal yang

memfatwakan kebolehan tidak menggunakan jilbab bagi wanita, dan sebagainya.

Baiklah, sebelum sampai jauh, marilah kita tinjau kembali salah satu

tesis yang diajukan oleh pakar keagamaan samawi Karen Amstrong18 dalam

18
Karen Amstrong, The History of God, Mizan Pustaka, Bandung

39
pengantar di buku best sellernya The History of God. Tesis yang dia ajukan

adalah, fenomena keagamaan kita (manusia secara keseluruhan) lebih di

dominasi pada kecondongan ketakutan terhadap sosok makhluk yang diberi nama

neraka, dan kecenderungan mengharapkan sorga, bahkan dari ketakutan terhadap

itulah, manusia sering kali lebih takut pada nerakanya tuhan dibandingkan takut

terhadap tuhan yang menciptakan neraka itu.

Pandangan terhadap sorga dan neraka (yang tentunya immaterial dan

mistis) dengan mudah dapat membawa orang untuk menitik beratkan agama pada

wilayah teologis. Artinya, sorga dalam pandangan awam jelas hanya mampu di

dapat dengan terus menerus beribadah kepada tuhan. Dan untuk menjauhi neraka

(yang penuh dengan siksaan sebagai balasan atas tindakan buruk) juga melalui

peribadatan dan penghambaan sepenuhnya kepada tuhan. Dalam ketakutan dan

harapan ini, pada intinya, yang dibangun dalam agama lebih pada jiwa-jiwa

teologinya saja, sementara aspek humanisme menjadi sesuatu yang di

diskreditkan dalam kehidupan beragama. Fenomena ini banyak dijumpai dengan

banyaknya sufi-sufi yang selalu menghambakan diri sepenuhnya kepada tuhan.

Allah dalam Al Qur’an telah berfirman:

(apakah) perumpamaan (penghuni) sorga yang dijanjikan kepada orang-orang yang

bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada beubah rasa dan

baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak beubah rasanya, sungai-sungai dari

khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang

disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan

40
ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam Jahannam dan

diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?19

Dari ayat ini setidaknya dapat memberikan gambaran jelas bahwa

harapan-harapan terhadap kenikmatan di sorga selalu akan mengarahkan manusia

untuk lebih mendekati tuhan, menyembahnya dan kemudian mengabdi

kepadanya sepenuhnya. Apalagi ketika melihat neraka sebagai balasan atas

kehidupan dunia yang berbuat dosa sebagai air yang mendidih dan dapat

memotong usus manusia, tentunya mereka akan semakin berlari untuk mengejar

tuhan dibandingkan harus berurusan dengan dunia.

Pada titik ini, manusia akan kehilangan satu hal yang penting dan

merupakan tanggung jawab manusia, yakni jabatan manusia sebagai khalifah fi

al ardl yang mewajibkan manusia untuk menjaga keseimbangan ekosistem alam

di dunia (termasuk manusia). Yang dibangun hanya pada jabatan manusia

sebagai ‘abdillah yang harus selalu menyebah kepada-Nya.

Dan sebagai dampak selanjutnya, Islam juga kehilangan posisinya

sebagai agama moderat. Ia hanya dipandang sebagai agama vertical yang

membangun wilayah ubudiyah, di doktrin untuk selalu bertaqwa dan beriman.

Tidak ada aspek humanisme dalam Islam.

Jalan Baru, Mungkinkah?

Fenomena di atas, setidaknya memberikan gambaran bahwa ternyata

masyarakat muslim di seluruh dunia masih terkungkung dalam keterbelakangan

19
Surat Muhammad [47] ayat 15

41
dan kemunduran dalam bidang sains dan teknologi, namun cukup maju dalam

bidang teologi keagamaan (teological religious). Dan sayangnya, kemajuan

bidang ini tidak begitu mampu menjamin kemerdekaan bidang lainnya yang

dapat menjamin kemajuan umat Islam sendiri dalam perebutan wilayah di era

sekarang, termasuk sains dan teknologi tentunya.

Dalam catatan Dr. M. Amin Abdullah20, memberikan gambaran lugas

tentang alur pemahaman agama. Pada penghujung abad ke-19, lebih-lebih pada

pertengahan abad ke-20, terjadi pergeseran paradigma pemaham tentang ‘agama’

dari yang dahulu hanya berkisar pada ‘doktrin’ ke arah entitas ‘sosiologis’, dari

diskursus ‘esensi’ ke arah ‘eksistensi’.

Terlepas dari benar atau tidaknya catatan ini, setidaknya ada beberapa

wilayah yang kemudian harus dikaji lebih jauh. Terkait dengan perkembagan ini,

ada kemungkinan bahwa yang terjadi perubahan hanya di kalangan ‘atas’ yakni

kalangan intelektual agama dan akademisi yang berada pada disiplin ilmu ini.

Perubahan secara social yang menyeluruh belum dapat terjamah.

Dr. Amin Abdullah juga menegaskan bahwa fenomena keagamaan hari

ini telah menjadi sesuatu yang kompleks, dan untuk dapat memahaminya, tidak

hanya dapat di dekati secara teologis normative saja. Salah satu penyebabnya

adalah terbukanya batas-batas ‘geografis’ dalam kebudayaan, percampuran antar

satu budaya dengan budaya yang lainnya menjadi hal yang biasa dan memang

perlu dilakukan untuk mempertahankan eksistensi budaya itu sendiri.

20
Dr. M. Amin Abdullah, 2004, Study Agama, Normativitas atau Historisitas, Pustaka Pelajar,
Jogjakarta, hal. 9

42
Dalam rangka mendekati agama hari ini, maka, dalam pandangan Dr.

Amin Abdullah, tidak dapat disalahkan ketika orang mengkaji agama secara

aspectual, dimensional, dan bahkan multi dimensional approaches. Diluar

keberadaan agama yang mempunyai doktrin teologis normative, sebagai letak inti

dari keberagamaan manusia, agama dapat pula dipandang sebagai tradisi.

Sisi lainnya, agama yang semula berangkat dari keyakinan bathiniah

yang mendalam (esoteris) perlahan-lahan berubah menjadi lembaga-lembaga

agama di mana di dalamnya terlibat pranata-pranata social yang kadang juga

bersifat birokratis. Dan untuk selanjutnya, kelembagaan-kelembagaan agama itu

sudah dapat dipastikan mengalami proses evolutif dalam bidang ekonomi, social,

militer dan berbagai kevenderungan manusiawi lain yang tidak kalah

kompleksnya dibanding dengan urusan esoteris sebagai inti dasar agama.

Lembaga-lembaga agama ini semakin lama juga akan semakin berkembang

kuantitasnya, dalam satu agama saja misalnya, akan tumbuh berbagai macam

lembaga-lembaga yang antara satu lembaga dengan lembaga yang lain saling

terkait dan hubungannya lebih bersifat kompetitif.

Terlepas dari itu semua, kembali pada bagaimana proses evolusi

keagamaan masyarakat dapat dilakukan. Perubahan secara paradigmatic

membutuhkan perangkat yang lebih kompleks, berbanding searah dengan

komplektisitas masyarakat itu sendiri.

Bagaimana hari ini agama (teologi), dalam perspektif awam, tidak lagi

hanya terbatas sekedar menerangkan hubungan antara manusia dan tuhan, tetapi

juga melibatkan kesadaran berkelompok (sosiologis), kesadaran pencarian asal

43
usul agama (antropologis), pemenuhan kebutuhan untuk membentuk kepribadian

yang kuat dan ketenangan jiwa (psikologis).

Nasib agama hari ini secara umum cukup memprihatinkan, sama halnya

dengan nasib filsafat, pada awalnya filsafat dianggap sebagai “The Mother of

Knowledge” yang menjadi induk dari semua ilmu hari ini filsafat hanya

difungsikan sebagai metodologi berpikir yang kritis konstruktif dalam segala

cabang keilmuan. Agama tidak jauh berbeda, agama yang dahulu memperoleh

predikat sebagai “The Queen of Knowledge” hari ini hanya ditelaah seabgat

aspek-aspek yang terkait dengan doktrin keagamaan secara normative. Dan ini

juga memberikan arahan bahwa agama (teologi) harus mampu bertanding

melawan kawan sejawatnya seperti psychology of religion, sociologi of religion,

history of religion atau phenomenology of religion agar agama mampu kembali

menjadi “Queen” dari semua cabang ilmu yang ada.

Untuk semakin mempermudah dalam mengkaji persoalan agama, Islam

khususnya, maka kita juga harus membedakan terlebih dahulu apa yang

dimaksud dengan agama (religiositas) itu sendiri dan ekspresi keberagamaan.

Yang pertama lebih mengarah pada esoteris dan yang kedua (ekspresi

keberagamaan) lebih menjurus ke arah eksoteris. Yang pertama akan diwakili

pada munculnya truth (iman) dan yang kedua dimanifestasikan dalam ritual

keagamaan (shalat dsb). Sejauh mana pengaruh dari keduanya terhadap eksistensi

Islam, dan metodologi yang seperti apa yang mungkin dapat digunakan untuk

mendekati salah satu diantara keduanya secara lebih jelas dan terstruktur, kedua

44
hal ini agaknya (dan memang bahkan) mutlak dilakukan untuk membuktikan

fenomena Islam yang sekarang ini.

Iman sebagai pengejawantahan atas nilai religiusitas membawa

penganutnya pada pandangan tentang hal-hal yang harus diyakini eksistensi dan

keberadaannya. Objeknya pun berragam, mulai dari persoalan yang tidak mampu

untuk dikaji dengan nalar (mistis) hingga persoalan sejarah dan masa depan. Pada

titik ini, umat Islam lebih mengarahkan arti iman untuk mempercayai keberadaan

Allah sebagai tuhan umat manusia, mempercayai keberadaan malaikat yang

selalu bertasbih kepada Allah, meyakini keberadaan nabi-nabi yang telah

menyebarkan agama Allah kepada kaum-kaumnya, meyakini adanya kitab-kitab

suci Allah yang dibawa oleh nabi untuk kaumnya, percaya pada keberadaan

sejarah masa depan berupa hari kiamat dan mempercayai adanya qadha dan qadar

yang Allah telah tentukan untuk manusia.

Kesemuanya itu merupakan kerangka awal yang akan membentuk

ekspresi keagamaan atas apa yang diyakininya. Sebagai manifestasi atas

keimanannya kepada Allah, manusia akan mengekspresikan keagamaannya itu

dengan shalat, puasa, haji, membaca al qur’an dan sebagainya. Untuk

mengkspresikan keyakinannya atas keberadaan hari kiamat, umat Islam

mempersiapkan diri untuk menghadapinya dengan beramal baik sesuai dengan

syari’at Islam. Ekspresi meyakini kebenaran nabi-nabi terdahulu, umat Islam

mengkaji sejarah kehidupannya dan meniru tindakan nabi tersebut.

45
DIRASAT ISLAMIYYAH HASSAN HANAFI

Hassan Hanafi adalah pemikir besar yang berasal dari Kairo, Mesir.

Dalam sejarahnya, Mesir merupakan Negara yang paling awal merasakan

masuknya Islam sejak Islam disana dibawah pemerintahan Amr bi Ash pada abad

ke-IV, dan wajarlah ketika Mesir kemudian mendapatkan gelar The Earliest

Arabised Country. Hal ini berbeda dengan kondisi Islam di nusantara dan

wilayah Asia Tenggara lainnya yang termasuk The Least Arabised Country.

Sejak awal perkembangannya, Mesir merupakan pusat peradaban Islam yang

cukup maju, maka kemudian tidak mengejutkan ketika dari Negara ini

memunculkan banyak intelektual Muslim yang handal.

Banyak karya-karya besar yang lahir di Negara sungai Nil ini, mulai

dari Tafsir Al Qur’an sampai wacana politik Islam yang controversial. Pada abad

XX saja misalnya, dinegara ini telah melahirkan tokoh-tokoh besar dunia seperti

Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Ali Abdur Raziq, Thaha Hussein Muhammad

Al Ghazali, Sayyid Qutb, Yusuf Al Qardhawi dan lainnya. Termasuk diantaranya

tokoh yang menjadi panutan Muhammad Abduh, Jamaluddin Al Afghani juga

menerapkan ilmunya di Negara Mesir ini hingga keduanya diasingkan oleh

pemerintah Mesir ke Prancis.

Tokoh-tokoh yang lahir di Mesir ini, selain aktivis pergerakan

terkemuka, juga memiliki kecemerlangan pemikiran. Sebagian pemikiran mereka

mampu menembus menjadi mainstream dalam pemikiran keagamaan dan

pemikiran politik tidak hanya di Mesir saja, tetapi juga menembus sampai dunia

46
Islam secara keseluruhan. Demikian juga pemikir paling mutakhir diantara

mereka yang sangat kontroversi, Hassan Hanafi yang mencetuskan gagasan Kiri

Islam (Al Yasar Al Islam atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai Islamic Left)

dan Oksidentalisme (Occidentalism).

Hassan Hanafi lahir pada tanggal 13 Februari 1953. Sejak masa

mudanya, Hanfi sudah tertarik dengan wacana politik di negaranya dan wacana-

wacana politik Islam di dunia Islam secara keseluruhan. Dengan cermat

perubahan dan kejadian politik yang terjadi di negaranya diamati, mulai dari

pertarungan sengit antara Ikhwanul Muslimin dibawah pimpinan Sayyid Qutb

melawan Pemerintahan otoriter Gamal Abdul Nasser hingga pada persoalan

ketertarikannya terhadap organisasi pergerakan Ikhwanul Muslimin. Ikhwanul

Muslimin dikaji secara serius oleh Hassan Hanafi terutama dalam keberhasilan

dan kegagalannya dalam perjuangannya melawan Rezim Nasser serta pemikiran-

pemikiran religio-politik Sayyid Qutb. Dari wacana-wacana yang digulirkan oleh

Sayyid Qutb inilah, terutama wacana agama dan revolusi, Hassan Hanafi

kemudian konsis menggeluti dunia Revolusi agama.

Selain bergelut dibidang politik dengan semangat turunan dari Sayyid

Qutb, Hanafi juga merasakan keprihatinannya terhadap arus Barat yang terus

melanda negerinya (westernisasi). Keprihatinannya berangkat dari

pengamatannya terhadap perkembangan Barat yang semakin mengikis khazanah

local yang dimiliki oleh Mesir. Dunia Islam pada umumnya selalu terjebak dan

menjadikan Barat sebagai tolok ukur kemodernan dan kemajuan dalam berbagai

aspek kehidupan. Keperihatinan semacam ini yang kemudian Hanafi harus

47
mencari solusinya dan menggulirkan wacana oksidentalisme sebagai antitesis

melawan westernisasi dan orientalisme.

Selain terpikat pada wacana-wacana revolusioner dan westernisasi,

Hanafi sejak mudanya juga tertarik kajian-kajian pemikiran dan Filsafat, baik

yang berangkat dari Barat ataupun yang tumbuh dan berkembang di dalam Islam.

Hal ini pula yang menjadikan sugestinya untuk mempelajari lebih dalam di

Universitas Kairo semakin memanas. Di Universitas ini, Hanafi berhasil

menyelesaikan studynya pada tahun 1956 dan melanjutkan pendidikannya di

Sorbonne University di Paris Prancis. Di Sorbonne University inilah dia berhasil

menggondol dua gelar sekaligus, master dan doctor untuk kajian keilmuan

filsafat.

Dalam disertasi doktoralnya, Hanafi menyelesaikannya dengan hasil

luar biasa. Disertasi yang ia susun setebal 900 halaman dengan jugul ‘L’

Exegesses de la Phenomenologie, L’etat actuel de la Methode Phenomenologie

et son Application au Phenomene Religiux. Disertasi yang ia susun termasuk

paling unik karena dalam disertasi ini dia ‘mengawinkan’ antara Usul Fiqh

dengan Fenomenologi Edmund Husserl. Keunikan pembacaan Usul Fiqh yang

dikaji melalui perspektif filsafat fenomenologi inilah yang kemudian

mengantarkan Hanafi pada titik awal ketenarannya sebagai seorang pemikir

revolusioner Islam.

Dalam studynya di Sorbonne University, Hanafi tidak hanya terpaku

pada kajian filsafat dan usul fiqh saja, tetapi di universitas ini, Hanafi berhasil

mempelajari secara lengkap kajian puncak dari filsafat dan pemikiran Eropa.

48
Hanafi dengan cerdas dapat menyerap gagasan-gagasan liberalisme, demokrasi,

filsafat penmcerahan dan rasionalisme Cartesian. Dan jelasnya, Hanafi juga

mempelajari dengan sempurna filsafat fenomenologi Edmund Husserl, Martin

Heifegger, Marxisme-Sosialisme dengan berbagai varian tafsirannya.

Dari sederet pengetahuannya yang ia geluti di Paris ini, wacana yang

paling membuatnya terpengarah dan mengikutinya secara lebih teliti adalah

wacana filsafat fenomenologinya Edmund Husserl dan Marxisme-sosialisme.

Hanafi dengan tegas mengambil metode materialisme sejarah (Historical

Materialism) dan dialektika materialism (dialectic materialism) sebagai

perangkat metodologi dan piau bedah analisisnya. Hanafi menggunakan ajaran

Karl Marx ini untuk memahami berbagai persoalan sosial, keagamaan dan

politik, karena memang apa yang didoktrinkan Marx bergelut pada ranah ini.

Sebagai contoh, dia menjelaskan sejarah perkembangan pemikiran

Islam dan perjuangan Islam melawan hegemoni cultural Barat dengan metode

dialektika. Dengan metode yang sama ia juga menentukan apa dan bagaimana

sebuah revolusi Islam bisa dilakukan di Dunia Islam. Dengan kuatnya pemikiran

yang diambil dari Karl Marx ini, sering kali ia dituding sebagai Marxis.

Hassan Hanafi dalam meniti karirnya di bidang akademis hingga

menjadi Guru Besar Fakultas Filsafat di tempatnya belajar filsafat pertama kali

(Universitas Kairo) sama sekali tidak meninggalkan sisi revolusionernya.

Disamping kesibukannya menularkan ilmu filsafatnya, ia tetap melakukan kajian

kritis terhadap gagasan-gagasan westernisasi dan orientalisme.

49
Menarik apa yang dituturkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam

pengantar buku tentang kajian pemikiran Hasan Hanafi yang ditulis oleh Kazuo

Shimogaki21. Pemikir Indonesia ini mengatakan, bahwa eksperimentasi yang

dilakukan oleh Hassan Hanafi menunjukkan penalaran yang semakin meningkat

tatarannya. Dari kajian ilmiah atas satu bidang studi keislaman, ia menaikkan

taraf pemikirannya kepada pembuatan paradigma ideology baru, termasuk

pengajuan Islam sebagai alternatif pembebasan bagi rakyat jelata di hadapan

kekuasaan kaum feudal. Pendekatan tersebut diproklamasikan sebagai Kiri Islam.

‘Pujian’ Gus Dur untuk pemikiran solutif-efektifnya Hassan Hanafi ini

kemudian membuka ruang yang lebih luas dalam mempublikasikan wacana-

wacana yang digagas oleh Hassan Hanafi di Indonesia. Bukan berarti karena Gus

Dur pernah kuliah di Mesir dengan serta merta kemudian dia menerima

pemikiran orang Mesir ini, tapi ini memang nyata dan tidak lagi dapat dinafikkan

keberadaannya. Proyek besar ini menurut Gus Dur telah mampu membawa Islam

berfungsi orientatif bagi ideology populistik yang ada, yang waktu itu diwakili

oleh berbagai bentuk sosialisme. Hanafi dengan mengambil posisi kekirian (Al

Mauqif al Yassari) didasari atas kenyataan bahwa ia membawa gagasan

pembebasan melalui penghancuran konstruk lama yang serba reaksioner dari

feodalisme kapitalistik, yang menguasai masyarakat-masyarakat dunia yang

sedang berkembang.

Buku yang diterbitkan Hassan Hanafi pada tahun 1988 yang bertitel

Min al-‘Aqidah ila ats-Tsaurah merupakan salah satu model dari sekian banyak

21
Kazuo Shimogaki, 2001, The Islamic Left and Dr. Hassan Hanafi’s Thought: A Critical
Reading, Penerjemah, M. Jadul Maula, LKiS, Jogjakarta, Hal. xviii

50
model buku yang paling diminati dan ditunggu-tunggu kehadirannya oleh para

pengikut dan peminat kajian Hassan Hanafi. Paling tidak, buku ini tentunya

mendapatkan tempat tersendiri bagi para peminat kajian Hassan Hanafi yang

telah membaca kajian-kajiannya secara terus menerus. Hanafi yang juga seorang

penulis produktif yang berwawasan luas serta memiliki pisau analisis yang cukup

tajam dalam setiap riset dan kajiannya tentunya telah matang dalam melakukan

kajian yang mendalam mengenai buku barunya ini.

Sampai saat ini (1988), sedikitnya ada lima volume buku yang menjadi

hasil riset dan kajian Hassan Hanafi. Volume pertama terfokus pada premis-

premis teorits (Al Muqaddimah an Nazhariyyah) ; volume kedua lebih membahas

tentang ketahuidan (at Tauhid); volume ketiga memperbincangkan tentang

keadilan (al- ‘Adl); volume ke empat bertajuk kenabian (An nubuwwah al Mu’ad)

dan volume yang terakhir mendiskusikan tentang amal, keimaman dan imamah

(al Iman wa al ‘Amal wa al Imamah). Dalam pengakuannya, kelima seri buku

tersebut memakan waktu penulisan yang cukup lama, yakni mencapai satu

dasawarsa. Sebuah kajian yang tentunya dipikir secara matang dan bersih.

Al Yassar Al Islam

Islam pada eranya pernah memimpin peradaban dunia, Islam menjadi

central pengetahuan, tolok ukur peradaban dan menjadi sumber utama kajian-

kajian wacana keagamaan. Pada saat itu, Islam mampu membangunkan dunia

dari tidur panjangnya yang terkungkung dalam keterbelakangan.

51
Kejayaan ini, banyak kalangan mempercayai bahwa ini semua

berangkat dari kekuatan benteng tauhid yang kemudian merambah untuk

melakukan developmentalisasi di berbagai bidang lainnya. Demikian juga Hassan

Hanafi, dia mempercayai bahwa tauhid merupakan kekuatan besar yang mampu

merubah tatanan dunia, dalam bukunya Madza Ya’ni Al Yassar Al Islam

sebagaimana dikutip oleh Kazuo Shimogaki22 dia mengatakan

Tauhid menjadi kekuatan dalam kehidupan di bumi ini, dan ia mempunyai fungsi

praktis untuk melahirkan perilaku dan keyakinan yang kuat guna mentransformasikan

kehidupan sehari-hari muslim dan system sosialnya.

Yang kemudian menjadikan pertanyaan yang paling mungkin adalah

kenapa hari ini Islam ternyata tidak mampu menjawab tantangan zaman untuk

kembali memimpin peradaban. Dengan kata lain, Islam hari ini mengekor zaman

yang sedang berjalan, dia tidak mampu menembus pemimpin peradaban untuk

menjadi pimpinan dari pemimpin peradaban sekarang ini.

Pada dasarnya, dalam system dunia hari ini hanya ada dua kemungkinan

dalam peradaban, yakni pemain dan yang dimainkan. Pemain sebagai subjek

yang mengatur peradaban. Sedangkan yang dimainkan merupakan objek yang

dimainkan oleh pemain dalam percaturan peradaban. Sebagai akibatnya, pemain

akan terus mendominasi system peradaban dan berhak atas otoritarianisme

peradaban.

22
Kazuo Shimogaki, 2001, The Islamic Left and Dr. Hassan Hanafi’s Thought: A Critical
Reading, Penerjemah, M. Jadul Maula, LKiS, Jogjakarta, Hal. 93

52
Islam hari ini merupakan objek yang terus dimainkan oleh dominasi

pemain rezim imperialisme. Apa yang dikatakan oleh Barat merupakan tolok

ukur untuk peradaban Islam, baik dari sisi pengetahuan maupun pada wilayah

praksis kebudayaan dan tradisi. Inilah yang sekarang menyebabkan Islam

kehilangan ‘harga diri’ dan dengan terpaksa kemudian menyerahkan haknya

untuk melakukan perubahan dalam tubuh Islam sendiri, sebagai dampaknya,

kemandirian dalam Islam dalam menentukan nasibnya sendiri hilang tertelan oleh

peradaban Barat yang mendominasi.

Fenomena ini yang kemudian oleh Jamaludin Al Afghani, setelah

melakukan kajian kritis atas Islam yang demikian, merupakan dampak dari

munculnya something trouble dalam semangat ketauhidan. Menambah analisis

Al Afghani, Hanafi lebih kritis memandangnya, selain karena hilangnya

semangat ketauhidan sebagai pandangan dunia yang monoteistik, juga karena

dari dalam tubuh Islam sendiri terdapat dualisme yang kuat. Penyebab dari

munculnya dualisme dalam Islam adalah, kata Hanafi, hilangnya semangat tauhid

dan beraneka ragamnya pandangan dunia yang dualistic.

Akhirnya, hal ini akan memaksa kita untuk kembali merumuskan dari

awal tentang Islam itu sendiri dan relevansinya dalam ranah sosio politik global.

Sempat muncul wacana bahwa dalam Islam tidak ada istilah ‘kanan’

dan ‘kiri’, Islam adalah Islam yang mengadung ajaran transcendental dan

humanisme. Tidak ada ‘kanan’ yang sok religius dan tidak ada ‘kiri’ yang sok

jagoan.

53
Pada wacana ini, Hanafi menolak dengan tegas. Hanafi berpendapat

bahwa dalam Islam tetap ada ‘kanan’ dan ‘kiri’. Wacana tersebut dalam

pandangan Hassan Hanafi bersifat naïf dan mengacu pada prinsip atau sesuatu

yang berada diluar relaitas histories umat Islam. Pandangan tidak adanya kanan

dan kiri dalam Islam berwatak ahistoris karena mengabaikan realitas sosial

budaya umat Islam masa lampau dan masa kini. Hanafi lebih tegas lagi

mengatakan, bila kita berpikir empiris maka sesungguhnya Islam dihadapkan

pada pertarungan dan wadah berbagai kepentingan yang kuat antara kiri

(tertindas) dan kanan (penindas).

Ciri utama Kiri Islam adalah dia mengeluarkan slogan-slogan yang

revolusioner, radikal dan berpihak pada kaum tertindas. Slogan-slogan itu

menurut hanafi banyak ditemukan dalam teks-teks Al Qur’an dan tradisi Islam

Klasik. Terminology Kiri hendak menyadarkan umat Islam yang berada dalam

situasi ketertindasan dan keterbelakangan, sehingga diharapkan dari kesadaran

yang tumbuh itu akan memunculkan gerakan untuk merubahnya.

Terkait dengan terminology ‘Kiri’ yang ada dalam Al Qur’an, sempat

banyak ilmuwan yang tidak sependapat pada penggunaan kata ‘Kiri’ itu. Al

Qur’an banyak yang mengidentifikasikan makna ‘Kiri’ dalam artian yang

negative. Kiri dalam Al Qur’an lebih disebut sebagai orang-orang yang banyak

melakukan dosa besar, penghuni neraka, orang-orang Kafir, munafik dan orang-

orang yang termasuk dalam golongan al ashab asy syimal (golongan orang-orang

yang merugi). Sedangkan Kanan selalu diidentikan dengan golongan al ashab al

54
Yamin (orang-orang yang beruntung) yang sholeh, beriman, penghuni sorga dan

seterusnya.23

Pengambilan kata kiri dalam kiri Islam oleh Hassan Hanafi tidaklah

demikian penafsirannya, yang diarahkan oleh Hassan Hanafi mengambil kata kiri

adalah lebih pertimbangan pada keilmiahan bahasa tersebut. Kiri dalam kajian

ilmu politik melambangkan resistensi dan kritisisme. Artinya, penggunaan kata

Kiri oleh Hanafi tidak bersumber dari Al Qur’an yang mengilustrasikan kiri

sebagai orang yang tersesat, tetapi dia memilih menggunakan kata kiri dalam

perspektif kajian ilmiah yang menandakan resistensi, yang menjelaskan jarak

antara idealitas dan realitas.

Kiri Islam yang merupakan karya terbesar Hanafi dipublikasikan dalam

jurnal Al Yasar Al Islam (Kiri Islam) di Mesir. Menurut berbagai sumber, bahwa

munculnya jurnal ini terinspirasikan oleh jurnal Al Urwah Al Wustqa

(Jalamaluddin Al Afghani & Muhammad Abduh) dan Jurnal Al Manar. Jurnal ini

sayangnya hanya terbit sekali pada bulan Januari 1981 di Kairo, Mesir. Namun

kematian jurnal Al Yasar Al Islam tidak kemudian dapat dengan serta merta

menghapus makna kedatangan gagasan-gagasan Kiri Islam-nya.

Meskipun jurnal itu tidak terbit untuk edisi selanjutnya, Hassan Hanafi

yang paling bertanggung jawab atas jurnal itu serta segala esensi yang

terkandung didalamnya terus secara intens mengawal wacana Kiri Islam itu.

Pergulatan Hanafi dengan khazanah klasik (turats qadim) dan apresiasinya yang
23
Secara jelas dapat dilihat dalam surat Al Waqi’ah ayat 8-9. Disini Al Qur’an membagi umat
manusia dalam dua golongan, yakni golongan Kanan yang memperoleh kebahagiaan dan
golongan kiri yang memperoleh siksa dan keterhinaan dihadapan Allah. Lebih terperinci lagi,
pembagian kanan dan kiri dalam al Qur’an disesuaikan dengan pembagian catatan amal, yakni
apabila menerima catatan amal dengan tangan kanan maka dia termasuk golongan kanan yang
beruntung, demikian pula sebaliknya.

55
mendalam terhadap tradisi Barat (turats Gharbi) merupakan bukti konkrit

kekokohan Kiri Islam yang tidak terpengaruh matinya Jurnal Al Yasar Al Islam.

Namun ada satu hal yang kemudian harus dikaji lebih mendalam

mengenai pergulatan Hassan Hanafi dengan budaya (tradisi) baik tradisi local

(khazanah klasik), tradisi Barat ataupun tradisi Islam.

Dalam buku Min al-‘Aqidah ila ats-Tsaurah, Hassan Hanafi

memasukkan satu premis yang bombastis dengan ide-ide cemerlangnya yang ia

beri judul At Turats wa at Tajdid. Jika dalam buku itu ia menyatakan sikapnya

terhadap tradisi masa lampau (al Mauqif min at turats al qadim) maka pada

bagian kedua ini ia menyatakan sikapnya terhadap tradisi Barat (Al Mauqif min

at turats al Gharbi).

Hassan Hanafi dalam buku tersebut juga menunjukkan pandangannya

terhadap tradisi, baik dalam ranah cara memahami dan menafsirkannya ataupun

metode-metode pengkajiannya. Hal itu dilakukan sejak awal hingga sekarang,

yakni mulai dari keyakinan (Al Aqidah) sampai revolusi (Ats tsaurah). Dalam

pandangannya, Hassan Hanafi keyakinan merupakan tradisi (at turats),

sedangkan revolusi adalah pembaharuan (at tajdidi). Demikan juga ia melakukan

pembacaan ulang terhadap Islam untuk merekonstruksi dan mereformulasinya,

yakni mencari (melacak kembali) dasar-dasar dan membangun kembali serta

memperbaharui pengetahuan masa lampau.

Menarik pula ketika dalam bagian pengantar volume pertama, yang

bertitel, al muqaddimat at taqlidiyyah, bahwa secara tegas ia menolak premis-

premis ortodoks yang terdapat dalam ilmu ushul ad Din al Islami, yakni ilmu

56
kalam. Menurutnya, karena premis-premis tersebutmerupakan premis keimanan

murni yang mengungkapkan keimanan sejati-murni (al Imanu khalish dzati) dan

yang bersumber dari kegaiban (Al Ghaib).

Sementara menurut pandangan Hassan Hanafi, pengetahuan yang benar

(Al Ma’rifah ash shalihah) tidak datang dan menjadi sempurna begitu saja seperti

wahyu dan ilham, tetapi hadir melalui perenungan dalam seperangkat data-data

pikiran dan kenyataan, dan menjadi sempurna melalui analisis penalaran dengan

menyimpulkan kejadian-kejadian. Sederhananya, pengetahuan yang benar

menurut keyakinan Hassan Hanafi adalah yang tidak bersumber dari kegaiban

( Al Ghaib) atau hanya sebatas informasi tanpa data dan analisis yang rasional.

Dalam pengantarnya ini pula, ia secara tegas menolak ide-ide mengenai

tradisionalisme (taqlidisme) yang membelenggu dan memenjarakan kebebasan

berpikir masyarakat. Ia juga secara tegas menyatakan untuk tidak mengikuti jejak

para as salaf ash shalih. Dalam pandangannya, orang-orang tersebut (as salaf

ash shalihin/qudama’) juga manusia yang sama seperti manusia saat ini. Jadi

tidak menjadi persoalan ketika mempelajari teori-teori yang disajikan oleh

Qudama’ tersebut, namun dalam menentukan sikap untuk menolak atau

mengikutinya adalah hak-hak individual yang tidak dapat diintervensi secara

bebas. Apa yang para as salaf ash shalihin katakana tidak harus diikuti dan

menjadikan perdebatan yang sengit, tetapi harus dikaji secara kritis sebagai

pijakan untuk merekonstruksi dan melihat ulang.

57
Mengenai mati surinya Al Yasar Al Islam, Hassan Hanafi mengatakan

ketika dihubungi secara langsung oleh Kazuo Shimogaki24.

“Saya kecewa bukan oleh nasib jurnal itu, melainkan oleh sikap intelektual muslim

lain. Ada di antara merekamenuduh saya marxis, yang lain marah-marah dengan

istilah ‘Kiri’ yang saya gunakan, dan tidak tertarik pada proyek inovatif ini. Memang

saya tidak bisa melanjutkan menerbitkan jurnal ini, tetapi bukan berarti saya

menghentikan proyek ini. Saya hanya kesulitan financial”.

Pemikiran Kiri Islam yang digagas Hanafi berangkat dari

pengamatannya terhadap gerakan-gerakan Islam revolusioner di Sudan (Revolusi

Al Mahdi), Libya (Revolusi Sanusiyyah), Aljazair (Revolusi Islam), Maroko dan

yang paling berpengaruh diantaranya adalah revolusi yang dilakukan oleh

Gerakan Ikhwanul Muslimin dibawah Sayyid Qutb (Revolusi jihad Ikhwan) di

negaranya.

Hanafi dengan cerdas mempelajari dan mendalami revolusi-revolusi di

Negara-negara Islam tersebut, selain itu, dia juga mempelajari bagaimana

terjadinya revolusi-revolusi dalam sejarah keagamaan yang kemudian dari situ

membuat dia yakin bahwa setiap agama revolusioner bersifat Kiri. Setiap agama

mengandung dalam dirinya ajaran-ajaran pembebasan manusia dan perlawanan

terhadap segala bentuk kejahatan yang menistakan dirinya.

Dalam sejarah revolusi keagamaan, seringkali perlawanan terhadap

penindasan dan gerakan pembebasan manusia dipelopori oleh para pemuka

24
Kazuo Shimogaki, 2001, The Islamic Left and Dr. Hassan Hanafi’s Thought: A Critical
Reading, Penerjemah, M. Jadul Maula, LKiS, Jogjakarta, Hal. 72

58
agama. Di zaman Mesir kuno, Nabi Musa membebaskan bangsa Israel (Yahudi)

dari perbudakan Raja Fir’aun. Isa Al Masih (Yesus Kristus) membebaskan

bangsa Yahudi dari penindasan Imperium Romawi. Ayatollah Khomaini

menentang rezim represif Pahlevi yang dikendalikan Amerika Serikat bersama

dengan Ali Syari’ati.

Pada agama lain, gerakan-gerakan pembebasan di Amerika Latin

dipimpin para uskup dan Kardinal Katolik dengan teologi pembebasannya

(theology of liberation). Di Vietnam, para biksu agama Buddha mempelopori

gerakan-gerakan revolusioner menentang kekuasaan tiranik. Di Filipina cardinal

Jaime Sin, pimpinan katholik, menjadi oposisi terhadap rezim repressif koruptif

marcos. Para pendeta di Thailand mengalami penyiksaan, pemenjaraan dan

bahkan pembunuhan karena mempelopori aksi-aksi perlawanan terhadap tirani

kekuasaan.

Hanafi mengklaim bahwa pemikiran Kiri Islam yang digagasnya itu

memiliki akar histories intelektual dalam revolusi-revolusi agama diatas.

Dalam penjelasannya, Hanafi melihat bahwa dalam percaturan geo

sosio politik, dunia dibagi menjadi dua wilayah, yakni pemain atau penindas

(penguasa) dan yang dimainkan atau yang ditindas (rakyat). Hanafi membagi dua

kelas ini tidak hanya berdasarkan realitas di lapangan saja, tetapi dia juga

mengambil pembagian ini atas isi dari Al Qur’an. Sejarah dalam Al Qur’an yang

paling kentara mengenai pembagian ini adalah kisah Fir’aun sebagai penguasa

dan Bani Israil yang dipimpin oleh Nabi Musa. Fir’aun adalah profil yang

59
digambarkan oleh Al Qur’an sebagai tokoh yang menindas dengan kekuasaannya

atas kebebasan Bani Isra’il.

Dari gambaran itu, kemudian Hanafi meletakkannya pada dunia

kontemporer, dia menganalogikan Fir’aun sebagai Negara-negara kapitalis

imperialis dan Bani Isra’il sebagai Negara-negara Islam yang terus menerus

mengalami penindasan. Hubungan antara ‘Fir’aun’ dan ‘Bani Isra’il’ mengalami

ketimpangan yang luar biasa, ‘Fir’aun’ melakukan eksploitasi besar-besaran

terhadap Negara-negara Islam. Selain eksploitasi, Negara kapitalis-imperialis

juga melakukan hegemoni di segala bidang kehidupan untuk diikuti sebagai

‘takdir’ zaman.

Di wilayah inilah kemudian Kiri Islam berperan. Kiri Islam harus

menentang ‘Fir’aun’ itu. Titik utama perlawanan yang harus dilakukan adalah

pada wilayah hegemoni budaya, atau lebih tepatnya imperialisme kebudayaan

Barat. Pertanyaannya, kenapa harus imperialisme kebudayaan yang menjadi

focus utamanya.

Dalam kesempatan lain Hanafi25 memperincinya, bahwa imperialisme

kebudayaan inilah yang menghancurkan Islam dengan meotong sejarah umat

Islam saat ini dari akar-akar tradisi dan budaya klasiknya (turats qadim) sehingga

mereka seakan terserabut (up rooted) dari masa lampaunya. Selanjutnya setelah

memotong akar kesejarahan tradisi ini, Negara imperialis budaya ini kemudian

memasukkan apa yang dibahasakan Hanafi sebagai turats gharbi (khazanah

Barat) atau proses westernisasi.

25
Hassan Hanafi, 2007, Dirasat Islamiyah, Penerj. Miftah Faqih, LKiS, Jogjakarta

60
Segala produk budaya Barat disuntikkan ke Negara-negara non-Barat.

Ekspor budaya ini bertujuan untuk menghilangkan kekhasan dunia non Barat dan

memutuskan akar sejarah budayanya. Ambisi utamanya dari semua itu adalah,

semua Negara non Barat akan berkiblat pada Barat, untuk itulah selanjutnya

semua cara dibenarkan dalam upaya westernisasi ini.

Tindakan ini jelas berakibat fatal bagi budaya-budaya non Barat,

budaya ini secara perlahan akan tergeser, karena terbukti budaya popular (yang

dikemas Barat) ternyata lebih menarik perhatian dari pada turats qadim yang

dimilikinya sebagai khazanah klasik. Akhirnya, Negara-negara non-Barat akan

kehilangan harapan untuk menentukan masa depannya sendiri, independensi

Negara tersebut hilang dan harus dependensi terhadap Barat.

Selain itu, secara tidak langsung dengan proses westernisasi yang

dikemas dalam budaya popular ini, Barat juga menggulirkan wacana bahwa apa

yang dikeluarkan oleh Barat merupakan produk unggulan, yang terbaik dan

diakui seluruh dunia, sementara produk local non Barat dianggap sesuatu yang

jumud, terbelakang, tradisional dan primitive. Stereotype rasial semacam ini jelas

akan semakin menunggulkan budaya popular kemasan Barat di tengah-tengah

peradaban dunia.

Pada wilayah ini Hanafi menginginkan penempatan yang seperti tatanan

semula. Barat ditempatkan kembali di peradabannya sendiri, dan Timur juga

berhak mengunggulkan turats qadim yang dimilikinya sendiri. Barat harus

didorong kembali ke belakang untuk duduk kembali di tempat duduk asalnya.

Dalam hal inilah kemudian yang mendorong Hanafi mengembangakan wacana

61
oksidentalisme (Occidentalism) sebagai anti tesis terhadap orientalisme

(Orientalism).

Orientalisme dalam pandangan Hanafi telah dijadikan senjata Barat

yang paling ampuh untuk menghadirkan alam fikiran, pandangan hidup dan

pandangan dunia serta motivasi-motivasi kolonialistik-imperialistik Barat

dibawah selubung kajian keilmuan tentang dunia Timur. Dengan orientalisme ini,

segala sesuatu tentang Timur telah diketahui oleh Barat sehingga kelemahan-

kelemahan yang dimiliki oleh peradaban Timur dapat terbaca dengan jelas.

Sehingga untuk menyusupi ke arah itu, Barat dapat dengan mudah menentukan

produk mana yang akan diekspor ke Timur.

Melalui oksidentalisme Hanafi berharap akan mampu membaca kondisi

Barat, mulai dari hal-hal besar hingga hal-hal kecil yang untuk selanjutnya dapat

mendorong kembali Barat untuk duduk kembali pada posisinya. Tidak hanya itu,

Hanafi juga berpesan untuk mewaspadai dua kekuatan lain yang mulai muncul

dan menghancurkan Islam yakni zionisme dan kapitalisme. Oksidentalisme

diharapkan juga mampu mengatasi dua musuh besar ini yang mencoba

mengeksploitasi peradaban pemikiran ketimuran.

Oksidentalisme,

al Muhawilah al Kamilah al Ula26


26
Permulaan yang sempurna, pujian kepada Hassan Hanafi atas kesuksesannya dalam
merumuskan teori tentang oksidentalisme yang ternyata memang sama dengan kondisi yang
dibutuhkan oleh Islam hari ini. Dalam rumusan teori oksidentalisme ini, Hassan Hanafi banyak
diserang oleh Ilmuwan-ilmuwan lain yang berada di sekitarnya, salah satunya adalah Ali Harb
yang menyerang Hassan Hanafi dengan teori-teorinya dan menyebut oksidentalisme sebagai
ramalan yang tidak memiliki landasan epistemology dan aksiologi. Dia menyebut Hassan Hanafi
sebagai Tukang Ramal dan menyamakan dengan Francis Fukuyama dalam karya “Ramalannya”
yang berjudul The End of History.

62
Oksidentalisme termasuk disiplin ilmu baru kaitannya sebagai wacana

intelektual dan akademis, ia pertama kali dicetuskan oleh Dr. Hassan Hanafi,

guru besar filsafat di Universitas Kairo pada tahun 1980-an.

Oksidentalisme lahir berangkat dari keprihatinan Hanafi terhadap

keterbelakangan dunia Islam. Hanafi gerah melihat dunia Islam pada umumnya

yang begitu terhegemoni dan terdominasi oleh peradaban Barat dan semakin

rapuhnya tradisi Islam klasik dalam tubuh Islam sendiri. Hanafi lebih jauh

memandang bahwa orang Timur (muslim) cenderung terbuka dalam menerima

paham peradaban baru yang datang dari Barat pada satu sisi, dan pada sisi lain,

orang Islam sendiri menolak khazanah klasik yang dimilikinya sendiri. Sebagai

akibatnya, umat Islam mengalami krisis cultural yang sangat parah.

Disamping itu, Hanafi berharap dengan memasyarakatnya

oksidentalisme, maka wacana orientalisme yang selama berabad-abad

mendominasi dunia mendapatkan counter part yang setaraf. Oksidentalisme akan

dibenturkan dengan orientalisme pada satu sisi, dan pada sisi lain, Hanafi

berharap, tradisi klasik yang dimiliki oleh Islam akan kembali pada posisinya

yang terhormat. Dengan inilah kemudian Hanafi yakin bahwa umat Islam akan

berhasil mengatasi krisis cultural yang dialaminya sampai hari ini.

Oksidentalisme pada dasarnya adalah kajian orang-orang non Barat

(Islam) mengenai segala aspek kehidupan Barat. Oksidentalisme hendak

menjadikan Barat sebagai objek kajian keilmuan dengan segala aspek

kepentingan yang muncul di dalamnya. Bila dalam orientalisme Barat

menjadikan Timur sebagai ‘objek’, maka oksidentalisme membalik formula ini.

63
Melalui oksidentalisme ini kemudian orang Timur dapat mempelajari dan

memahami Barat.

Hanafi juga mengharapkan, dengan munculnya oksidentalisme maka

Timur tidak hanya selalu menjadi inferior dan terbelakang sementara Barat

sebagai superior dan maju. Inferioritas terhadap Islam dan timur akan terkikis

dan tercipta hubungan Timur dan Barat yang seimbang. Hanafi yakin, ketika

hubungan Barat dan Timur telah sederajat, tidak lagi ada hubungan superior-

inferior, tuan-budak, beradab-biadab, maka dialog antara Barat dan Timur baru

dapat diciptakan. Barat menjadikan Timur sebagai partner atas kepentingannya,

dan Timur menjadikan Barat relasi atas kepentingannya.

Apakah ketika Barat dan Timur telah mencapai kesetaraan, maka

keduanya akan semakin terbuka terhadap peradabannya masing-masing. Timur

(muslim) membuka diri menerima peradaban Barat dan Barat juga menerima

warisan cultural orang-orang Muslim? Padahal, sejauh yang banyak di ketahui

produk-produk budaya yang diciptakan Barat cenderung ‘haram’ dan kurang

dapat menyesuaikan dengan hukum Islam.

Pada pertanyaan ini, Hanafi menjelaskan bahwa tujuan oksidentalisme

menyetarakan dirinya dengan Barat, tidak lalu berarti Timur dan Islam menolak

atau menerima apapun yang berasal dari Barat. Tidak membenarkan atau

menyalahkan produk-produk Barat. Bagi Hanafi, Islam dan Barat masing-masing

harus tetap objektif dan kritis terhadap persilangan peradaban. Timur tetap kritis

dan objektif dalam memahami Barat dan menerima ‘warisan kultural’ Barat yang

sejalan dengan khazanah klasik yang ada dalam Timur sendiri, demikian juga

64
sebaliknya, Barat tetap menerima peradaban Timur yang sesuai dengan produk-

produknya sendiri.

Oksidentalisme tetap berbeda dengan orientalisme. Kalau orientalisme

lebih subjektif dalam pengkajiannya terhadap kepentingan imperialis dan

kolonialis, maka oksidentalisme lebih mengutamakan prinsip netralitas dan

objektifitas dalam mempelajari Barat. Maksudnya, bahwa kajian oksidentalisme

tidak ada keberpihakan apapun dengan kepentingan politis seperti imperialisme

kolonialis dan sebagainya. Oksidentalisme terlepas dari keinginan untuk

melakukan hegemoni terhadap peradaban dunia secara keseluruhan. Tidak ada

upaya dari oksidentalisme untuk melakukan imperialisme cultural terhadap Barat.

Oksidentalisme murni kajian ilmiah, tidak ada keberpihakan di dalamnya.

Pada oksidentalisme, wilayah geraknya sudah mulai di tata dan di

bidikkan arahannya. Oksidentalisme secara sederhana merupakan kerja lanjutan

atas proyek-proyek peradaban yang dilakukan pada decade 1980-an yang Hanafi

menamakan “Tradisi dan Pembaharuan” (al turats wa al tajdid). Setidaknya ada

tiga masalah pokok yang dikaji dalam oksidentalisme yakni pertama, sikap kita

terhadap tradisi lama, kedua, Sikap kita terhadap tradisi Barat, dan yang ketiga

Sikap kita terhadap realitas (prinsip interpretasi).

Pada wilayah pertama, yakni menyikapi tradisi lama (turats qadim),

Hanafi mencoba menempatkan turats qadim ini sebagai alat dobrak kesadaran

berpikir dan berperilaku. Bahwa perlu ada transformasi dari teologi ke revolusi,

transferensi ke inovasi, dari teks ke rasio. Tujuan adanya transformasi semacam

ini adalah untuk mengembalikan posisi turats qadim ke tempat asalnya sebagai

65
sebuah peradaban yang terhormat yang oleh Hanafi di pandang banyak

digunakan sebagai topeng oleh antek kapitalisme.

Turats qadim (tradisi lama) yang mencoba di bangkitkan kembali oleh

Hanafi menurutnya banyak menyimpan potensi untuk melakukan serangan balik

terhadap tradisi-tradisi Barat yang terus menelanjangi turats qadim dalam tatanan

peradaban internasional. Keyakinan ini muncul mengingat dalam sejarah

perjalanan Islam, Islam sering kali menjadi pemenang dalam perebutan wilayah

peradaban dengan ideology besar lain yang tidak sesuai dengan Islam.

Dalam memahami turats qadim, Hanafi berpendapat bahwa dalam

mengkaji wilayah ini merupakan wilayah garapan yang terpanjang di bandingkan

dengan dua agenda selanjutnya. Hal ini didasarkan bahwa dalam mendalami

khazanah klasik, maka peran sejarah dan perkembangan ideology dalam sejarah

itu tidak bisa dilepaskan. Kajian histories dan antropologis yang berkembang

sejalan dengan proses sejarah merupakan syarat mutlak untuk dapat membedah

khazanah klasik.

Dalam bahasa Hanafi, dia memberi nama pada khazanah klasik dengan

Al Madhi (kemarin) yang kemudian dipersonifikasikan dengan turats qadim.

Agenda yang kedua adalah sikap kita terhadap esok (al Mustaqbal). Al

Mustaqbal dipersonifikasikan oleh Hanafi sebagai peradaban Barat (turats

gharbi). Disinilah letak oksidentalisme sebenarnya berjalan. Bahwa dalam

wilayah ini, kita setidaknya harus mengkaji secara serius proses sejarah turats

gharbi dan perkembangannya serta langkah-langkah yang dilakukannya untuk

memenuhi ambisinya menguasai peradaban dunia.

66
Dalam catatannya itu, Hanafi mencatat setidaknya ada tiga agenda besar

yang harus dilakukan dalam mengkaji agenda kedua dari oksidentalisme ini.

Pertama, mengkaji akar sejarah peradaban Eropa. Di titik ini diteliti factor-faktor

atau tradisi peradaban yang menjdi dasar pemikiran dan filsafat pembentukan

peradaban Eropa. Termasuk diantaranya membedah sejauh mana peran

peradaban Yunani-Romawi, peradaban Yahudi dan Nasrani serta peradaban besar

lain seperti Mesir (peradaban Timur) dalam membentuk peradaban Barat.

Kedua, Hanafi mengkaji proses bagaimana kesadaran Eropa muncul,

khususnya pada zaman Reformasi Protestan abad XV-XVI, pada zaman

Rasionalisme Cartesian di abad XVII dan zaman Renaissance di abad XVIII. Dan

yang ketiga, Akhir Kesadaran Eropa. Dalam pandangan Hanafi, Kesadaran Eropa

dimulai dari munculnya filsafat ‘saya berfikir’ menjadi ‘saya ada’. Di fase ini,

kesadaran Eropa melakukan otokritik terhadap masa lampaunya, hasil karya

peradabannya, kritik terhadap idealisme dan positivisme serta ditemukannya

‘jalan ketiga’ dan fenomenologi.

Tujuan dari digulirkannya wacana oksidentalisme adalah untuk

mengurangi ketergantungan Timur terhadap Barat. Disini Timur hendak

menemukan dirinya kembali dalam rangka menentukan jalan yang akan

ditempuh. Tidak ada hegemoni, tidak ada imperialisme. Timur hendak

mengembalikan kekuatan khazanah klasik yang kaya akan rasionalisme tanpa ada

mitologi di dalamnya.

Dari menggulirnya wacana oksidentalisme, setidaknya masyarakat

Timur percaya bahwa penjajahan cultural yang dilakukan oleh peradaban Barat

67
telah menindas habis khazanah klasik ketimuran, dan hal ini membutuhkan

perlawanan. Kolonialisme dan imperialisme cultural harus diakhiri.

Wacana oksidentalisme, oleh banyak pemikir, baik dalam Islam atau

non Islam dianggap sebagai wacana utopis, di mana esensi dari kajian ini hanya

merupakan khayalan yang tidak mungkin terjadi. Namun, sebaiknya, hal ini tidak

menjadi hambatan untuk merealisasikan proyek besar peradaban Hanafi untuk

merevitalisasi khazanah klasik dan mendialogkan antara Timur dan Barat dalam

kesejajaran untuk kepentingan kemaslahatan bersama.

Oksidentalis atau Tukang Ramal?

Dalam setiap kajiannya, terutama yang menyangkut tentang teori

pembangunan peradaban, Hassan Hanafi memberikan rumusan yang sangat tepat

dan jelas mengenai definisi peradaban. Dalam bagian ini, sedikit banyak saya

lebih menyitir pendapat-pendapat Ali Harb dalam salah satu bukunya yang

berjudul, Naqd an Nashsh. Pada bagian pertama buku ini, pemikir besar dari

Libanon ini menitik beratkan kajian tentang pemikiran Hassan Hanafi yang dia

nilai negative atau tidak tepat.

Dari berbagai macam kritikan terhadap Hassan Hanafi, dapat

dirangkum sedikitnya ada tiga belas kritik yang diberikan Ali Harb terhadap

pemikiran-pemikiran revolusioner Hassan Hanafi yang sebenarnya menurut

banyak kalangan termasuk karya monumental. Kritik Ali Harb-pun tidak hanya

pada satu sisi, yakni objek kajiannya tetapi juga dalam sisi lain seorang Hassan

Hanafi. Kritik terhadap Hassan Hanafi sebagai seorang filosof, Kritik sebagai

68
seorang akademisi, Kritik sebagai seorang pembaharu, kritik sebagai seorang

pengamat peradaban, sebagai seorang pemikir hingga pada Hassan Hanafi dalam

wilayah pribadinya sebagai seorang warga masyarakat yang beragama Islam.

Judul pada sub bab ini merupakan salah satu kritik yang diberikan Ali

Harb dalam menyoal masalah Oksidentalisme dan kajian tradisi Hassan Hanafi.

Ali Harb memandang Hassan Hanafi terlalu berlebihan dalam memandang

persoalan peradaban, terutama persoalan terhadap ramalan masa depan. Sehingga

Ali Harb menyebutnya sebagai Tukang Ramal dan menyamakan kedudukannya

itu sama seperti kedudukan Francis Fukuyama yang meramalkan sejarah masa

depan dalam bukunya The End of History.

Kajian Hanafi tentang peramalan masa depan dengan melihat kejadian

pada masa lampau, terutama pembagian fase sejarah yang di soroti oleh Ali Harb,

yang membagi fase sejarah Islam menjadi masa keemasan dan masa pemunduran

dengan rentang waktu masing-masing tujuh abad. Pada 7 abad pertama, Islam

mengalami masa keemasan, dengan gilang-gemilang membawa kemenangan dan

kemajuan yang luar biasa dari sisi islam sebagai agama, sebagai tata social,

sampai islam sebagai aturan politik (Syiasah).

Di bidang ilmu pengetahuan, islam mengalami kejayaan dengan

banyaknya ilmuwan muslim yang berhasil memecah misteri dunia dan makhluk

hidup yang ada di dalamnya. Taruhlah nama-nama seperti Ibnu Sina (Avicena),

Ibnu Rusyd (Averous), Al Khawarizmi, Al Ghazali merupakan sebagian kecil

ilmuwan muslim yang mampu memecah kebekuan cara pandang manusia

terhadap alam sebelum bangsa Barat mampu berkata apa-apa.

69
Sementara itu, pada tujuh abad berikutnya, Islam mengalami

kemunduruan yang telak dan memukul kaum muslim terdepak ke pinggiran.

Masa ini dimulai dengan revolusi industri di Inggris, revolusi Prancis dan

revolusi-revolusi yang lainnya di dataran Eropa. Pada saat ini, ditengah Eropa

mengalami Pencerahan (renaissance) justru hal yang antagonis terjadi dalam

dunia Islam, Islam mengalami kemunduran di berbagai bidang. Sampai pada hari

ini, fenomena ini masih dapat kita saksikan.

Dalam kajian Hassan Hanafi tentang Barat, dia menuturkan hal yang

sama terjadi dalam Islam di Barat. Bahwa dalam peradaban Barat mengalami

masa-masa yang demikian itu dengan rentang waktu yang sama, tujuh abad.

Hanya saja, kalau dalam Islam Hanafi membaginya menjadi dua bagian, antara

masa keemasan dan masa kemunduruan, maka ketika Hanafi mengkaji mengenai

Barat dia membagi dalam tiga bagian, yakni masa kebangkitan, masa

kemunduruan dan kemudian diakhiri dengan masa kebangkitan.

Kajian Hanafi ini berkaca dari sejak zaman mula kebangkitan bangsa

Barat, kebangkitan pertama, yang terjadi selama tujuh abad. Pada masa ini dapat

diprediksikan dengan kemajuan Negara-negara Eropa sebelum masehi, baik pada

masa kebesaran suku Arya yang hamper menguasai dunia dan bangsa Yunani dan

Romawi, demikian selanjutnya terjadi secara berurutan sampai pada masa

penurunan dan kemudian kebangkitan kembali seperti yang kita lihat sekarang ini

Barat dengan kemajuan berbagai bidang kehidupan.

Dan pastinya, kemajuan yang sekarang Barat alami, Hanafi meyakini

bahwa dalam akhir masa kebangkitan ini, Barat akan mengalami kemunduran

70
yang memukul habis kemajuan peradaban mereka tanpa ampun. Dan kemudian

yang terjadi dalam Islam, Islam mengalami kemajuan yang pesat dan memegang

kendali peradaban dunia selama kurun waktu tujuh abad.

Hal ini memungkinkan adanya hubungan yang tidak harmonis antara

Barat dan Timur. Ketika Barat sedang mengalami kemajuan pesat, maka Timur

(Islam) memegang kendali atas peradaban dunia, demikian juga sebaliknya

ketika Islam sedang pada masa kemunduran maka Barat akan dengan leluasa

menguasai dunia.

Pemetaan terhadap Islam lebih dikiblatkan pada wilayah Timur Tengah

yang merupakan central peradaban Islam. Sehingga akan muncul pertanyaan,

dimana posisi Negara-negara di Afrika Tengah, Afrika Selatan, Asia Tenggara

dan Negara-negara etnis China. Karena dalam analisis ini, Hanafi hanya

membagi peradaban dunia secara bipolar antara Islam dan Barat. Apakah Negara-

negara tersebut masuk dalam peradaban Barat atau Islam tidak ada penjelasan

yang meyakinkan tentang itu.

Selanjutnya, dalam beberapa referensi hadits yang ada, Nabi

Muhammad pernah berkata bahwa yang akan menguasai peradaban dunia adalah

etnis China (Ras Mongoloid) dengan berbagai variannya. Anjuran untuk belajar

dari peradaban China juga ada referensi yang khusus yang dikatakan oleh Nabi

Muhammad SAW. Dapat dipastikan dengan sabda Nabi Muhammad SAW ini

tentunya membawa arus tersendiri bagi etnis Tionghoa yang ada di berbagai

belahan dunia. Pada suatu ketika Nabi Muhammad SAW bersabda mengenai

China ini

71
“Tuntutlah Ilmu meskipun sampai ke negeri China”

Ini memberikan gambaran yang lugas bahwa selain keharusan

memetakan peran China dalam konstelasi geocultural ini, upaya memetakannya

juga dianjurkan oleh nabi Muhammad SAW untuk belajar secara mendalam

tentang China dan berbagai wilayah dalam peradabannya yang telah Berjaya

sejak zaman pra sejarah.

72
JIHAD

DULU, SEKARANG DAN YANG AKAN DATANG

Para ahli logika sering kali menegaskan bahwa seseorang tidak dapat

menentukan sebuah keputusan terhadap sesuatu, kecuali jia ia mempunyai

konsepsi yang jelas tentang sesuatu itu, karena sesuatu yang tidak diketahui dan

tidak memiliki batasan jelas tak dapat dipertimbangkan. Oleh karena itu, satu hal

yang harus dilakukan sebelum sampai pada pembahasan mengenai konsep jihad

adalah menganalisis serta menterjemahkan apa arti kata jihad. Dari analisis ini

selanjutnya barulah dapat ditentukan untuk menolaknya atau menyambutnya

sebagai upaya untuk mempertahankan identitas keislaman pada era global ini.

Dalam Al Qur’an kata jihad disebutkan sebanyak 14 kali yang tersebar

dalam 19 surat. Sebanyak 28 ayat berisi perjuangan seperti tercantum dalam surat

Al Baqarah [2] ayat 216, Ali Imran [3] ayat 142, an Nisa [4] ayat 95, Al Ma’idah

[5] ayat 35 dan 54, Al Anfal [7] ayat 72 dan 74-75, at Taubah [9] ayat 16, 19, 20,

24, 41, 44, 73, 81, 86 dan 88, an Nahl [16] ayat 110, al Hajj [22] ayat 78, al

Furqan [25] 52, al Ankabut [29] 6 dan 69, Muhammad [47] ayat 31, al Hujarat

[49] ayat 15, al Mumtahanah [60] ayat 1. keseluruhan dari turunnnya ayat

tersebut terbagi dalam waktu turun di Makah dan Madinah.

Dalam Al Qur’an pemaknaan jihad yang diartikan atau dikaitkan

dengan perang agama (holly war), yakni perang kaum muslim melawan orang-

orang kafir, musyrik dan munafik terdapat pada Surat Al Baqarah [2] ayat 190,

an Nisa [4] ayat 74, at Taubah [9] ayat 122-123, al Hajj [22] ayat 39-40, Al

73
Furqan [25] ayat 52, Al Azhab [33] ayat 48, al Hujarat [49] ayat 9, al Shaff [61]

ayat 4 dan al Tahrim [66] ayat 9.

Dari terjemahan normative teks al Qur’an tentang jihad, yakni bahwa

jihad adalah peperangan melawan orang kafir, musyrik dan munafik yang

bertujuan untuk mempertahankan Islam dari penghancuran yang dilakukan oleh

orang-orang tersebut, jihad kemudian dijadikan sebagai key word yang menjadi

legitimasi bagi munculnya gerakan fundamentalisme dan radikalisme dalam

Islam. Artinya, fundamentaisme, sebagai model gerakan perlawanan, pada

akhirnya mendapatkan infuse dengan hadirnya kata jihad dan “Seruan berperang”

yang terdapat dalam Al Qur’an.

Bersamaan dengan melemahnya kekuatan Islam dan perkembangan

Barat yang semakin menguat, sedikit demi sedikit fenomena dan wacana tentang

jihad tidak pernah muncul di permukaan. Kalaupun muncul, itu hanya sekedar

wacana dan mengingat kembali kebesaran Islam di masa lampau sebagai sebuah

kebanggaan terhadap sejarah. Pada kurun waktu ini, jihad sama sekali tidak

terlihat gerakannya secara konkrit. Seandainya jihad dapat disamakan dengan

harimau ganas yang menakutkan dan mampu menerkam musuh-musuh Islam,

maka pada kurun waktu ini jihad adalah harimau yang sedang tidur karena cakar

kuku dan taringnya terlepas, sehingga tidak berbahaya ketika musuh Islam berdiri

dan menari diatas harimau itu.

Untuk mengobati harimau yang kehilangan taring dan cakarnya itu,

serta untuk membangkitkan semangat naluri melawan dari harimau jihad itu,

maka pada decade 40-an Imam Syahid Hasan al Banna menulis buku yang

74
berjudul Risalah al Jihad yang berusaha mengembalikan lagi posisi jihad dalam

Islam. Ia menetapkan bahwa jihad adalah faridah (kewajiban) masa lampau

hingga pada hari kiamat.

Dalam buku itu Hasan Al Banna banyak menyitir dari teks-teks yang

terdapat dalam Al Qur’an terkait dengan jihad dan persoalan lainnya terkait

dengan jihad. Sebagai penyokong atas ayat-ayat Al Qur’an, dalam buku itu

Hasan al Banna juga menuliskan hadits-hadits yang jumlahnya melebihi jumlah

ayat Al Qur’an yang tercantum serta pendapat-pendapat yang dikeluarkan oleh

para ulama abad pertengahan.

Akan tetapi, Hasan al Banna hanya mencadangkan peran jihad kala itu

untuk melawan penjajahan, dan baru benar-benar mengumandangkannya ketika

ia menyusun angkatan sukarelawan perang yang pergi ke Palestina dan berjuang

di front terdepan melawan penjajah Israel.

Para sukarelawan tersebut juga berpren menggempur instalasi-instalasi

militer Inggris di daerah Qinal pada tahun 1951 dan mempersembahkan gelar

syuhada-nya dalam perang tersebut.

Jihad dalam artian sebuah upaya untuk mempertahankan eksistensi

Islam merupakan sebuah keharusan yang tidak dapat ditinggalkan begitu saja.

Setiap orang Islam harus selalu melakukan jihad untuk mempertahankan

keutuhan Islam, baik pengertian Islam sebagai agama ataupun Islam dalam

tafsiran lainnya seperti Islam sebagai ideology, Islam sebagai nalar gerak, Islam

sebagai kebudayaan dan seterusnya. Intinya bahwa Islam, dalam tafsiran apapun,

75
harus tetap dipertahankan untuk mendapatkan keutuhan Islam sebagaimana yang

diharapkan oleh semua orang muslim agar Islam dapat berjaya sampai hari akhir.

Pada zaman Rasulullah SAW, jihad banyak dilakukan untuk

mempertahankan keutuhan Islam dari perlawanan yang dilakukan oleh kaum

Jahiliyyah dan kaum lainnya yang tidak menyepakati munculnya Islam yang

dibawa oleh Muhammad. Perlawanan itu muncul dikarenakan Muhammad secara

tegas menolak system tradisi lama kaum Quraisy dan sekitarnya yang masih

terkungkung pada peradaban picik yang mengutamakan kesejahteraan pribadi

orang tertentu dan menindas orang lain secara ekonomi, politik, sosial bahkan

sampai penindasan pada level pribadi perseorangan.

Kepala suku yang dibawahnya terdapat banyak Klan-Klan sebagai basis

kekuatan keturunan keluarga tertentu mendapatkan keuntungan yang lumayan

besar sebagai pendapatan pribadi yang kemudian digunakan untuk kesejahteraan

pribadi. Sebagai akibatnya, ketika Rasulullah datang membawa ajaran Islam yang

mencoba menggugurkan tradisi yang telah membudaya tersebut, maka tidak

dapat ditutup lagi, pembesar-pembesar Quraisy yang merasa posisinya akan

terancam segera melakukan perlawanan untuk mendapatkan posisinya di tengah

kehidupan sosial masyarakat Arab saat itu. Rasulullah tidak hanya diserang

secara fisik oleh para pembesar Quraisy, tetapi juga ditindas secara ekonomi

dengan pemutusan akses ekonomi, penindasan sosial dengan pengucilan, dan

penindasan-penindasan lainnya yang mendiskreditkan peran Muhammad sebagai

salah satu bagian dari masyarakat sosial Arab.

76
Pertentangan oleh pembesar Arab tidak hanya terhenti saat Muhammad

berhasil mendapatkan banyak pengikut. Desakan demi desakan yang dilakukan

oleh para pembesar suku Quraisy terus berlanjut hingga sampai Muhammad

beserta pengikutnya memutuskan untuk melakukan hijrah ke kota Madinah untuk

mendapatkan ketenangan hidup dan keleluasaan untuk menyebarkan agama

Islam ke semua lapisan masyarakat.

Seringkali ketika di Makkah Muhammad diperlakukan seperti binatang

oleh para pengikut pembesar suku Quraisy, ketika sedang lewat di jalan,

pakaiannya sering diludahi, dilempar kotoran, batu dan sebagainya. Tetapi

Rasulullah, mengingat posisinya sebagai uswatun khasanah bagi para

pengikutnya, selalu sabar untuk menghadapi setiap perlakuan yang tidak

manusiawi oleh masyarakat suku quraisy.

Seruan untuk menyebarkan Islam semakin diperluas wilayahnya, kali

ini tidak hanya Negara Arab saja yang menjadi objek penyebaran Islam, tetapi

Mesir, Persia, Syam dan wilayah lainnya. Ada banyak Negara / suku yang

kemudian dengan lapang dada menerima kehadiran Islam di tengah-tengah

mereka, namun juga tidak sedikit yang menolaknya bahkan mengajak

Muhammad untuk berperang untuk mendapatkan kepercayaan public bahwa apa

yang dilakukan oleh Muhammad hanyalah bualan belaka, tidak ada hikmah yang

dapat diambil dari apa yang diperjuangkan oleh Muhammad bersama kaumnya.

Disinilah kemudian peran Muhammad sebagai panglima perang,

pemimpin umat Islam, utusan Allah, dan uswatun khasanah diuji. Muhammad

selalu melakukan apapun untuk menjaga keutuhan Islam sebagai agama yang

77
dianugerahkan untuk kesejahteraan umat manusia di seluruh dunia, berperang

bersama pasukan untuk melawan kekuatan tentara lawan yang hendak

menghancurkan Islam. Setiap peperangan yang beliau bersama pasukannya

lakukan selalu mengalami kekalahan secara kuantitatif dengan pasukan lawan,

namun secara kualitatif dan hasil Muhammad banyak mendapatkan kemenangan.

Keuletan dan kecerdikan Muhammad dalam mengatur strategi perang,

memimpin pasukan serta mengatur hasil rampasan perang sering kali membuat

lawannya merinding. Kekuatannya dihadapan kaum kafir tidak terukur oleh

apapun, dan wajar saja ketika dari sini kemudian dapat dikatakan bahwa

kemenangan tentara Islam dalam setiap peperangan didominasi oleh factor

semangan kaum muslimin dalam berperang dan pengaturan strategi perang yang

lebih termanage sesuai kondisi peperangan. Muhammad dapat secara cepat

mengambil keputusan meskipun dalam kondisi terjepit sekalipun sehingga

Muhammad sebagai seorang panglima perang pantas untuk mendapatkan

pengakuan sebagai panglima perang hebat.

Kekalahan kaum muslimin dalam salah satu peperangan yang dilakukan

menjadi pelajaran yang kemudian dari situlah menemukan kelemahan-kelemahan

strategi yang Muhammad dan kaumnya lakukan. Dari kekalahan ini tidak

membuat Muhammad bersama pasukannya lantas meninggalkan peperangan dan

menyerah begitu saja pada kekuatan lawan, yang terjadi justru sebaliknya, ketika

kaum muslimin mengalami kekalahan, kemudian mengevaluasi peperangan yang

telah dilakukan untuk menemukan strategi peperangan yang lebih efektif dan

efesien tanpa harus mengorbankan nyawa dan harta yang berlebih.

78
Dari kisah Muhammad dan kaumnya diatas, merupakan sebuah upaya

untuk mempertahankan eksistensi Islam atau istilahnya jihad. Dalam konteks saat

itu, jihad direpresentasikan dalam bentuk berperang melawan musuh dan

mendapatkan kemenangan untuk kesejahteraan dan kemerdekaan Islam untuk

masyarkat dunia, karena Islam lahir pada dasarnya adalah rahmatal lil ‘alamin

yang akan memberikan rahmat kepada semua alam semesta, tidak hanya manusia

saja, tetapi binatang, tumbuhan serta mahluk hidup lainnya yang tidak dapat

dilihat secara kasat mata. Intinya bahwa jihad dengan berperang seperti yang

Muhammad lakukan adalah untuk kesejahteraan kolektif semua makhluk.

Perkembangan pemahaman terhadap jihad pasca jihad Hasan Al Banna

terjadi diluar control. Beragam perkembangan itu selanjutnya mendorong

sekelompok dai untuk memulai apa yang di akhiri oleh Hasan al Banna. Mereka

kemudian tidak merasa puas dengan hukum dasar jihad yang hanya, menurut

Hasan al Banna, faridah saja, tetapi menambahi kata sandang di depannya untuk

memperkuatnya sehingga menjadi al faridah serta memperluas basis

yurisdiksinya, sebagai sebuah perkembangan baru dari jihad, menjadi media

penebaran Islam dan penyelamatan Negara-negara Eropa dari kungkungan

kapitalisme dan setan dunia lainnya serta melakukan penyembuhan terhadap

pemujaan terhadap personal dan menggantinya menjadi penyembahan kepada

Allah SWT, satu-satunya tuhan yang harus disembah.

Jihad semacam ini kemudian mendorong mereka untuk ‘berjihad fi

sabilillah’ melawan Negara ang dalam pandangan mereka tidak memakai hukum

sebagaimana yang telah diturunkan oleh Allah. Berangkat dari pemahaman

79
semacam inilah kemudian banyak Negara-negara yang di black list untuk

menjadi objek jihad.

Sebagai akibat fatalnya. Mereka kemudian terpeleset pada usaha-usaha

pembunuhan terhadap aparatur, termasuk pembunuhan kepala Negara,

pembantaian orang-orang non muslim, pengeboman tempat-tempat wisata religi

non muslim, penghancuran tempat hiburan, perampokan toko-toko dan tindakan

anarkhis lainnya yang tidak jauh berbeda dengan tindakan mafia.

Pada titik inilah kemudian kita akan sampai pada pemahaman bahwa,

diakui atau tidak, persoalan jihad merupakan problem yang paling controversial

dari sejak zaman dahulu sampai sekarang. Diskursus mengenai jihad telah

mencapai banyak interpretasi sehingga kemudian sekarang dikonsepsikan sebagai

ajaran yang mengajarkan kekerasan untuk mempertahankan diri. Ini merupakan

pengertian yang paling kurang tepat, dan wajar bila Jamal Al Bana27 kemudian

mengatakan bahwa di era modern ini jihad menjadi wacana yang di dzalimi, baik

oleh kalangan pro maupun kontra syari’at. Juga di dzalimi di dalam dan di luar

Islam, serta paling disalahtangani pula oleh kaum orientalis Barat dan kalangan

organisasi Islam sendiri.

Penyebab adanya kesalahan ini, berangkat dari pencampuradukkan

antara perang (wars/qital) dengan jihad. Pengertian diantara keduanya dicampur

aduk sehingga, sebagai akibatnya, anggapan setiap orang, baik muslim ataupun

bukan perang merupakan manifestasi dari jihad, keduanya berhubungan erat

sebagai arti yang sejiwa. Lebih jauh lagi, konsep jihad ini lebih didominasi oleh

27
Jamal Albana, 2005, Al Jihad, Dar al-Fikr al Islam, penerj. Kamran A. Irsyadi, Pilar Media,
Jogjakarta, hal. xx

80
peperangan, dan perang merupakan bagian terpenting dari jihad. Interpretasi

semacam inilah yang kemudian membuat kesalahan pemahaman dan keluar dari

konteks yang sebenarnya diharapkan.

Ini merupakan kesalahan penafsiran yang sangat vatal, sehingga segala

sesuatu yang terkait dengan perang merupakan upaya untuk berjihad. Pada

dasarnya, jihad adalah terminology yang memiliki akar kata dan derivasi bahasa

yang menunjukkan muatan tertentu, dan lebih lanjut memiliki sarana dan target

yang menunjukkan atau diingini muatannya. Sementara perang (wars/qital)

merupakan akar kata dan derivasi bahasa yang menunjukkan muatan tertentu

yang berbeda dengan asal kata jihad, begitu juga sarana dan targetnya. Secara

ringkas, dapat dikatakan bahwa antara jihad dan perang merupakan wilayah yang

berbeda baik secara terminology ataupun aksiologi.

Diantara keduanya (jihad dan perang) tidak selalu berjalan beriringan,

meskipun dalam beberapa kasus tertentu kemudian dapat dijumpai pertemuan

antara keduanya. Masing-masing memiliki tujuan dan target yang berbeda. Lebih

lanjut, Jamal Albana kemudian memisahkan keduanya sebagai deduktif induktif,

yakni jihad sebagai sesuatu yang pokok (dalam konsepsi umum), sementara

perang merupakan bagian dari jihad yang dapat dilakukan apabila mendesak dan

memang diperlukan sekali. Artinya, perang merupakan bagian terkecil jihad yang

hanya dan hanya boleh dilakukan apabila dalam kondisi terdesak dan memang

diperlukan sekali.

Satu contoh yang diambil dari kisah Rasulullah misalnya, bahwa

Rasulullah bersama sahabatnya telah melakukan jihad di tanah Makkah selama

81
13 tahun dengan menggunakan sarana-sarana jihad yang mengandung

pendekatan hikmah, mau’idzah hasanah, nasihat, petunjuk, ketabahan dan

militansi.

Sampai disini kemudian dapat diambil makna yang sesungguhnya dari

jihad itu sendiri, serta sejauh mana perang memiliki kaitan dengan jihad. Dan

tentunya persoalan jihad ini tidak akan membuat penganutnya terjebak pada

model jihad yang mengutamakan heroisme sesaat dengan mengorbankan banyak

nyawa dan dengan hasil yang percuma.

Kesalahan penginterpretasian dari kata dan makna jihad ini lebih

disebabkan karena dari para pengkajinya hanya mengambil satu referensi ayat

atau beberapa ayat dan hadits tanpa menghiraukan hadits atau ayat yang lainnya.

Pun kesalahan dapat ditemui ketika menafsirkan / menterjemahkan ayat tersebut

dengan mengesampingkan kontekstualitasnya. Makna yang tersirat secara

implicit tidak tersentuh oleh para pengkajinya.

Wacana sepenting jihad ini, seharusnya dalam membahasnya tidak

hanya membahas satu persatu ayat atau hadits saja, tetapi harus dikaji secara

keseluruhan dan menemukan ayat atau hadits lainnya yang terkait dengan makna

jihad dan tidak ketinggalan pula untuk menterjemahkan dengan melihat

kontekstual historisnya. Hal ini karena persoalan jihad merupakan persoalan yang

penting yang seharusnya tidak disalahartikan karena menyangkut masa depan

Islam sendiri serta penganutnya secara keseluruhan.

Jihad Hari ini dan yang akan datang

82
Jihad berperang saat itu merupakan sebuah hal yang sangat diidamkan

oleh para pengikut Muhammad (baca : sahabat), hal ini di dasarkan pada doktrin

yang diajarkan oleh Islam bahwa orang yang meninggal dalam peperangan untuk

membela Islam maka baginya ditempatkan di tempat tertinggi yang ada di sorga.

Untuknya diampuni segala dosa yang pernah dia lakukan. Bahkan untuk

menghormati syahid (orang yang meninggal dalam peperangan untuk membela

Islam), Rasulullah melarang untuk mengganti kain yang dikenakannya dengan

kain kafan dalam proses pemakamannya, jenazah para sahabat yang sahid

dibiarkan tetap menggunakan pakaian yang digunakannya ketika meninggal,

bahkan dimandikanpun tidak. Alasannya adalah dengan pakaian yang dikenakan

itu, dengan kondisi meninggal yang seperti itu dapat dijadikan saksi ketika

berada di akhirat kelak. Pakaian yang dikenakan pada saat meninggal itu akan

bersaksi bahwa si pemakainya menggunakan baju tersebut untuk mencari

kesyahidan, darah yang mengalir akan berkata bahwa darah tersebut keluar

karena digadaikan demi kejayaan dan keutuhan Islam.

Jihad merupakan kewajiban untuk semua orang Islam, semua muslim

wajib melakukan pembelaan ketika Islam sedang diserang oleh lawan, tidak ada

kata tidak untuk itu. Dalam kondisi apapun orang Islam harus turut serta

melakukannya. Tujuannya adalah agar Islam sebagai agama tetap terjaga

keutuhannya untuk kesalehan kolektif semua makhluq.

Saat itu ketika jihad dilakukan dengan berperang merupakan langkah

yang paling tepat. Ini semua disebabkan karena musuh yang menentang Islam

telah tampak di depan mata. Musuh yang diperangi merupakan orang yang sama

83
seperti yang lainnya. Para musuh Islam muncul dengan senjata yang lengkap saat

itu untuk bagaimana mampu menjatuhkan Muhammad.

Dan secara sosio psikologis ini merupakan hal yang lumrah dan

manusiawi mengingat bahwa secara psikologis orang akan mengalami

kegoncangan jiwa yang selanjutnya akan melakukan perlawanan ketika dirinya,

orang tuanya, anak-anaknya atau apapun yang dia cintai diserang, dilawan, dihina

dan sebagainya secara membabi buta oleh orang yang bahkan tidak dikenalnya.

Artinya, sugesti yang timbul untuk melakukan jihad berangkat dari

adanya kecintaan yang berlebih (islamoholic) terhadap Islam yang selanjutnya

merasa tidak terima ketika Islam yang nota benenya dicintainya itu harus dihina

dan dilawan.

Kecintaan terhadap Islam oleh penganutnyapun memiliki alasan yang

tepat, yakni bahwa Islam yang mereka anut oleh mereka dipercaya mampu

membawa ke arah tata sosial yang lebih baik dibandingkan tata sosial yang telah

ada. Meskipun mereka percaya bahwa Islam tidak hanya mengatur kehidupan

sosial saja, tetapi juga bidang ubudiyah yang mengatur tata hubungan antara

manusia sebagai makhluk dengan Allah sebagai khaliq yang menciptakannya.

Ini semua mereka lakukan karena mereka telah jenuh dan bosan dengan

system sosial yang sedang berjalan, dimana system sosial ini cenderung

kapitalistik, feodalistik, imperialistic dan patrialistik. Dibidang ubudiyah mereka

telah dikenyangkan dengan kebohongan berhala yang mereka anggap memiliki

kekuatan gaib yang mampu memberikan keberkahan hidup dan ketenangan jiwa

84
yang pada nyatanya hanya merupakan batu yang dibentuk sedemikian rupa

hingga seolah tampak memiliki charisma.

Dari sinilah kemudian mereka meyakini, bahwa Islam mampu

membawa mereka pada satu aturan baru yang memungkinkan untuk

mendapatkan pencerahan jiwa dan kesalehan kolektif serta mencapai tata sosial

yang humanis, pluralis, agamis sesuai yang dijanjikan Islam sendiri.

Kembali pada persoalan jihad, bahwa, sekali lagi, wajar saja jihad

dilakukan saat itu dengan berperang, karena musuh utama saat itu adalah orang

yang masih menggunakan kekuatan fisiknya untuk menghancurkan Islam secara

serta merta. Kekuatan militer seringkali digunakan sebagai upaya agar Islam

beserta pemimpinnya dan bala tentaranya tertawan dan dibunuh sehingga jamur

Islam tidak dapat tumbuh kembali.

Islam bagi sebagian besar masyarakat Arab dan sekitarnya saat itu

merupakan virus yang mudah menyebar, sehingga para pembesar suku yang tidak

menyepakati munculnya Islam selalu mencari formula baru untuk mendapatkan

antivirus yang mampu membunuh virus Islam itu. Ini sangat wajar mengingat

ketika Islam maju dan berkembang pesat maka secara politis pemimpin suku

yang tadinya menempati urutan pertama dalam tata politik sukunya untuk

kemudian dapat tergeser pada nomor-nomor terbelakang, karena mau tidak mau

ketika Islam muncul dan berkembang dalam satu wilayah tertentu, maka

Muhammad adalah orang yang akan mereka elu-elukan sebagai pemimpin

mereka.

85
Secara sederhana, perlawanan yang muncul dari arah luar Islam adalah

disebabkan karena kepentingan politis dimana para pembesar suku tidak mau

kemudian disingkirkan dari posisinya sebagai pemimpin.

Untuk selanjutnya, seringkali selain pertentangan fisik yang dilakukan,

penyerangan dengan model pengguliran wacana islamophobia juga sering

muncul di masyarakat sebagai langkah antisipatif terhadap masyarakat wilayah

tertentu oleh para pemimpinnya agar Islam tidak mampu menembus wilayah

sosial daerah tersebut.

Misalnya dengan pengguliran wacana bahwa Islam merupakan agama

militer yang selalu berperang untuk mendapatkan wilayah dan mendapatkan

penghasilan tambahan dari tanah jajahannya. Islam merupakan agama eksploitatif

yang akan mengeksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang

ada di tanah yang telah ditaklukannya. Orang-orang yang setia terhadap

Muhammad hanya didasarkan pada harapan memperoleh tanah jajahan dan

mengumpulkan harta rampasan perang dari peperangan yang dilakukan.

Pertentangan dengan pengguliran wacana semacam inilah yang

kemudian membuat Islam akan semakin terpojok posisinya ketika memasuki

wilayah yang telah bergulir wacana semacam ini.

Pada konteks hari ini, jihad yang harus dilakukan kalau kita akan

mengikuti sunnah nabi Muhammad adalah dengan melawan hawa nafsu yang

muncul dalam diri kita sendiri. Artinya setiap hawa nafsu yang muncul dari

dalam hati kita yang tentunya menjebak kita dalam kebahagiaan sementara di

86
dunia merupakan jihad yang pahalanya sama dengan orang yang mati dalam

peperangan ketika orang Islam mampu melawan hawa nafsu yang muncul.

Untuk mendapatkan penafsiran baru terhadap berbagai konsep jihad

yang muncul hari ini, terlebih dahulu yang harus dilakukan adalah melakukan

analisis geososiopolitik. Hal ini terkait bahwa Islam merupakan satu dari

berbagai system ideology yang muncul dan berkembang di dalam tata politik

dunia.

Dalam bukunya, The Clash of Civilization, Samuel P. Huntington

melakukan analisis kritis terhadap perkembangan politik dunia pasca perang

dingin. Dalam masa perang dingin kekuatan antara blok Timur yang

direpresentasikan oleh kekuatan Uni Soviet (USSR) dan kekuatan Barat yang

direpresentasikan oleh Amerika Serikat (USA) mengalami masa yang tegang

dan menegangkan. Meskipun dalam perang dingin (cold war) yang terjadi saat

itu tidak memunculkan perang terbuka, namun berbagai konflik politik yang

terjadi di setiap belahan dunia tidak bisa dilepaskan dari kedua kekuatan tersebut.

Perlombaan senjata dengan saling menciptakan teknologi persenjataan

yang paling mutakhir terjadi dan membuat bulu kuduk merinding. Keduanya

menciptakan senjata pemusnah massal yang membahayakan ketenangan dunia.

Selain itu konflik politik internal Negara lain yang terjadi selalu di setting oleh

kekuatan ini, pecahnya Korea menjadi Korea Utara dan Korea Selatan juga

merupakan ulah dari USSR dan USA yang hendak berperang dengan

memanfaatkan konflik internal Negara tertentu.

87
The End of History yang dituliskan oleh Francis Fukuyama

memprediksikan peta politik global pasca perang dingin, dimana kedua kekuatan

tersebut akan mengalami kehancuran salah satu diantara keduanya yang

kemudian salah satu dari keduanya itu akan menguasai geopolitik dan

geoideologi di dunia tanpa adanya perlawanan yang berarti dari pihak yang

kalah. Amerika Serikat sebagai pihak yang diunggulkan akan mampu

mematahkan kekuatan Uni Soviet dibawah pemerintahan Mikhail Gorbacev saat

itu dan kemudian Amerika Serikat sebagai pihak yang memenangkan perang

dingin tersebut akan menjadi satu-satunya kekuatan yang mampu menghegemoni

dunia dengan berbagai kekuatan yang dimilikinya.

Namun sekali lagi, ternyata apa yang diprediksikan oleh Francis

Fukuyama itu sedikit meleset dan kurang tepat. Pada saat perang dingin itu,

Amerika Serikat terus memacu perkembangan militernya sehingga persoalan

ekonomi dalam negeri mengalami deficit. Sebagai akibatnya hadiah dari

kemenangan Amerika Serikat dalam perang dingin ini adalah PR untuk

menyetabilkan kondisi perekonomian dalam negeri.

Sibuk dengan urusan ekonomi dalam negerinya itu, terjadi hal yang

tidak dapat diduga sama sekali oleh Amerika sebagai kekuatan terbesar dunia

saat itu. Terjadi perubahan terhadap konstelasi geopolitik. Negara-negara

pecahan Uni Soviet yang sebelumnya berbasiskan Islam telah kembali pada

Islam, sementara itu, China, sebagai Negara dengan penduduk terbesar di dunia

meningkatkan bidang perekonomiannya. Disamping membangun bidang

perekonomian, ideology, tradisi dan peradaban yang dimiliki China sebagai

88
warisan nenek moyang mulai go public dan secara tidak langsung mengadakan

launching agar peradabannya mampu menembus dunia internasional.

China yang kaya akan kebudayaan klasik, mampu menyihir dunia

menjadi tercengang, bahkan hampir di setiap negara, budaya China tumbuh

subur, dimana-mana Klenteng dapat berdiri, ramalan-ramalah Feng Shui laku

laris di setiap pelosok dunia, produk-produk alternatif China bahkan menembus

pasar internasional dan mendominasinya. Di dukung dengan letak geografis yang

berpotensi untuk menjadi central pasar internasional, semakin memposisikan

China, juga dengan kekuatan ekonomi, sosial budaya dan lainnya yang tidak

lekang oleh zaman. Ini semua membuat Huntington menghitung China sebagai

kekuatan yang akan mendominasi dunia, meskipun dengan strategi yang halus.

Sementara itu, Islam, yang sampai hari ini menjadi kekuatan kiri yang

paling berbahaya bagi Amerika Serikat, disamping kiri lainnya, dengan jumlah

penganutnya yang makin lama makin meningkat, membuat Islam semakin di

perhitungkan juga. Apalagi dengan bangkitnya kekuatan negara-negara Islam.

Iran yang dipimpin oleh pemimpin ‘keras kepala’ terhadap AS, Mahmoud

Ahmadinejad, membangkitkan program nuklir, serta ilmu pengetahuan modern

lainnya.

Bukan itu saja yang membuat Islam diperhitungkan oleh Huntington,

Islam, khususnya yang ada di Timur Tengah, merupakan negara-negara penghasil

minyak bumi yang besar dan potensial memenuhi kebutuhan minyak dunia.

Selain minyak bumi, barang tambang lainnya Islam juga mendominasi.

89
Yang selanjutnya terjadi, berdasarkan analisis pakar geo politik dari

Harvard University, Samuel P. Huntington adalah bahwa perang yang terjadi

pasca perang dingin adalah perang antar peradaban, bukan lagi perang antar

Negara, perang antar blok dan seterusnya. Kedepan ideology-ideologi besar yang

berkembang saat ini akan terjadi clash, benturan antara satu peradaban dan

peradaban lainnya yang kemudian akan menentukan peradaban mana yang

mampu mendominasi dunia.

Perang antar peradaban yang diilustrasikan Samuel P. Huntington

mengunggulkan tiga peradaban besar yang berada di dunia, yakni antara Islam,

Kapitalisme Amerika dan China. Ketiga kekuatan ini akan saling mengalami

benturan dan menentukan ideology mana yang akan berhasil menjadi ideology

dominant dan mampu menggilas habis ideology lainnya.

Fenomena geososialpolitik hari ini adalah mendominasinya system

sosial, budaya popular (popular culture), system perekonomian, tata

geoantropologis yang diciptakan Amerika dan sekutunya. Sebagai akibatnya,

dunia hari ini dikuasai oleh sistemnya Amerika dan sekutunya. Setiap persoalan,

baik politik, ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya harus berkiblat pada apa

yang difatwakan oleh Amerika.

Dampak yang paling utama adalah, Islam mengalami kehancuran secara

sosiopolitik, keterbelakangan ekonomi, kesesatan kebudayaan dan sebagainya.

Melihat kondisi geopolitik yang seperti ini, maka akan didapati objek

jihad yang baru dan merupakan upaya untuk mempertahankan eksistensi Islam.

Karena pada dasarnya jihad adalah upaya mempertahankan eksistensi Islam

90
dalam kondisi apapun. Maka hari ini yang harus dilakukan adalah berjihad untuk

mengembalikan kejayaan Islam sebagai agama yang rahmatal lil ‘alamin.

Persoalan selanjutnya yang muncul adalah bagaimana mendapatkan

solusi yang kreatif dan tepat untuk berjihad. Karena jelas ketika kita jihad secara

fisik, melakukan perlawanan militer dengan Amerika dan sekutunya yang

mengklaim diri sebagai polisi dunia maka jelas Islam akan mengalami kekalahan.

Hal ini dapat dibuktikan dan menjadikan pelajaran dari konflik yang terjadi di

Timur Tengah, tepatnya yang terjadi di Irak, Lebanon, Afghanistan dan

sebagainya yang diporak-porandakan oleh kekuatan militer Amerika dan Israel

serta sekutunya yang lain.

Karena fenomena sosio politik global ini merupakan permainan, maka

hanya ada dua kemungkinan yang akan muncul terhadap Islam dan masa

depannya, yakni Islam akan menjadi pemain atau Islam yang akan menjadi

sesuatu yang dimainkan. Ini semua tergantung dari Islam itu sendiri.

Dan untuk lebih tegasnya, permainan yang terjadi hari ini adalah

permainan system, bukan lagi permainan militer seperti yang terjadi di zaman

Nabi Muhammad, maka perlawanan yang harus dilakukanpun mendapatkan

antitesis terhadap system permainan Amerika Serikat.

System kapitalistik telah mendapatkan antitesis meskipun pada decade

terakhir abad dua puluh mengalami kehancuran, yakni Marxisme, dimana ajaran

komunismenya Karl Marx dalam Das Kapital dan MDH-nya yang mengangkat

konflik buruh majikan dan kelas sosial masyarakat sedikit banyak mampu

91
memukul kekuatan kapitalisme dengan penghapusan kepemilikan pribadi dalam

tata sosial serta pengaturan tentang alat produksi.

Kemudian dalam konteks hari ini, yang harus dilakukan oleh Islam

sebagai upaya melakukan perlawanan terhadap neo mperialisme dan neo

kolonialisme yang di telorkan oleh Barat adalah dengan kembali menjadikan

Islam sebagai agama revolusi yang akan merubah tatanan dunia yang sesuai

dengan hokum Islam seperti apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad.

Perbedaan dengan apa yang dilakukan Nabi Muhammad adalah, bahwa

pertentangan yang dilakukan Nabi Muhammad terjadi secara fisik dan face to

face antara kawan dan lawan, maka karena yang terjadi hari ini merupakan

pertentangan system dan peradaban, yang harus dilakukan adalah mencari system

yang mampu menyerang system kapitalistik.

Jadi agaknya menarik juga persoalan ini, dan ini optimis akan

terrealisasi, mengingat bahwa menurut study yang dilakukan Max Weber tentang

Islam yang belum diselesaikannya saat dia meninggal telah memberikan

gambaran yang cerah dan menimbulkan motivasi lebih dan keyakinan akan

kemampuan Islam itu.

Sosiologi yang menjadi bidangnya Max Weber menggunakan metode

verstehende dimana Islam merupakan lahan yang paling gersang untuk

tumbuhnya system kapitalisme. Ini berangkat setelah The Protestan Ethic and

the Spirit of Capitalism di pelajari lebih luas sehingga menemukan factor-faktor

lebih detail yang kemudian ternyata merupakan sesuatu yang dikotomik dengan

Islam.

92
Sisi lainnya, melihat catatan Bryan S. Turner28 dalam Weber and Islam,

memberikan gambaran tentang posisi Islam dalam bidang sosiologi. Menurutnya,

dibanding dengan kepustakaan tentang agama-agama dunia lain dan peradaban

mereka yang telah mapan dan berkembang, study yang sistematik tentang Islam

merupakan sebuah bidang yang terabaikan dalam sosiologi, fenomenologi dan

sejarah agama. Para islamolog terkadang menjelaskan tak adanya tradisi ilmiah

karena sulit ditemukannya sumber terkait yang memadai tentang Islam.

Artinya bahwa Islam telah mendapatkan tempat yang cukup strategis

untuk membuat ideology besar sebagai antitesis terhadap ideology kapitalisme

yang cenderung mendominasi. Dari gambaran-gambaran diatas sudah dapat

ditarik kesimpulan bahwa Islam dalam jangka panjang akan mampu merebut

posisi tata sosial dunia.

Dunia dalam masa postmodernisme ini, menurut Asghar Ali Enginer,

berbagai system kepercayaan diuji secara kritis dalam wilayah yang sangat luas.

Tak ada system pemikiran atau kepercayaan yang saat ini tidak terbuka untuk

diuji.29

Dari sini memberikan gambaran bahwa adanya persaingan masing-

masing ideology untuk bersaing dalam ‘ujian’ untuk membuktikan bahwa

ideology tertentu mampu menembus batas dan pantas untuk mendominasi tata

sosio antropologis masyarakat global. Persaingan ini menimbulkan semacam

28
Bryan S. Turner,2005, Weber and Islam, penerjemah; Mudhofier Abdullah, Suluh Press
Jogjakarta, hal. 11
29
Asghar Ali Enginer, 2004, Islam Masa Kini, Penerjemah, Tim
FORSTUSIDA, Pustaka Pelajar, Jogjakarta, Hal. 3

93
diskriminasi bahkan eliminasi terhadap ideology lainnya yang menjadi lawan dari

ideology tersebut.

Kembali kepada persoalan jihad di abad post modern hari ini. Bahwa

karena peperangan yang akan terjadi adalah peperangan system maka, Islam

harus mampu merubah paradigma penganutnya dari yang fenomenologis dengan

nalar teosentrisme kepada paradigma strukturalisme radikal yang mengatakan

bahwa antrposentrisme merupakan hal yang mutlak yang harus dilakukan untuk

mendapatkan kekuatan yang lebih.

Hal ini juga didukung oleh ayat Al Qur’an yang mengatakan bahwa

Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu sendiri yang

merubahnya. Dimana dalam ayat ini selain dukungan terhadap penguasaan

aspek-aspek keduniawiyan oleh manusia juga Allah memerintahkan untuk

melakukan perubahan disegala bidang kehidupan untuk kemudian menciptakan

satu tatanan sosial yang berwatak civil society. Legitimasi atas gerakan manusia

untuk melakukan perubahan ini sama hal nya dengan sebuah perintah untuk

mempertahankan tatanan yang tepat dan meninggalkan atau merubah tatanan

yang bobrok, kesalehan palsu dan seterusnya.

Ini menunjukkan bahwa manusia diberi kebebasan untuk memanage

dunia ini serta melakukan perubahan yang berarti terhadap system yang sedang

berlaku sekarang. Dan inilah yang kemudian memberikan inspirasi lebih serta

motivasi untuk menciptakan Islam Revolusioner.

Jelas ini menjadi tugas manusia, karena secara tegas Allah berfirman

bahwa Dia tidak akan melakukan intervensi terhadap persoalan sosio-politik

94
manusia. Dan ini juga bukan berarti bahwa Allah kemudian dengan serta merta

meninggalkan manusia dan hanya menunggu penyembahan manusia saja diatas

singgasana-Nya seperti yang ditudingkan Karl Marx dalam mengkritisi agama.

Bahwa Allah itu maha feudal yang mengatur tata kelas sosial, Allah maha

kapitalis, Allah yang maha menguasai dan sebagainya.

System yang digunakan Islam adalah menjadikan Islam sebagai agama

Islam kiri, atau dalam bahasa Hassan Hanafi disebut sebagai al Yasar al Islam.

Ini akan menjadi solusi yang jitu kiranya. Mengingat ternyata apa yang

ditelorkan oleh Karl Marx pada dasarnya banyak di jumpai dalam teks normative

dan jurisprudensi hukum Islam.

Isi Das Kapital secara global telah tercantum dalam Al Qur’an ataupun

Al Hadits, yang ternyata dalam Islam sendiri perkembangannya mengalami

banyak hambatan sehingga sering mengalami keterbelakangan dan ketinggalan

dari yang lainnya yang mau untuk lebih konsentrasi dalam perkembangannya.

95
ISLAMOPHOBIA

Hari ini banyak diskursus-diskursus yang berkembang ditengah-tengah

kehidupan sosial politik global yang mengangkat isu tentang Islam dan sejarah

perkembangannya. Baik yang sifatnya menyambut maupun yang menentang

dengan keras. Hal ini didasari sejak mencuatnya nama Islam ketika aksi terror

terhadap WTC 11 September 2001 yang membawa panji-panji Islam oleh kaum

fundamental anarkis Islam.

Penggambaran kartun nabi Muhammad yang digambarkan dengan

wajah yang bengis, memakai sorban dan bertutup kepala kain dengan bom

diatasnya, ditangannya memegang pedang dan memenggal kepala, bersama

pasukkannya menyerbu kota dan lainnya yang diedarkan secara terbuka di Eropa

juga salah satu dari banyaknya pihak yang melakukan penolakan terhadap Islam.

Diskursus yang semacam inilah yang kemudian menimbulkan ketakutan

luar biasa di tengah-tengah masyarakat dunia bahwa Islam merupakan agama

yang keras, agama militer, agama perang, agama yang hanya mengerti kapan

waktu untuk berperang dan bagaimana merebut tanah jajahan dan sebagainya.

Sebagai akibatnya muncul ketakutan-ketakutan terhadap orang-orang Islam,

orang yang bersurban dan memakai jubah dianggap sebagai teroris, setiap orang

muslim yang hendak melakukan perjalanan antar Negara harus diperiksa hingga

hal-hal yang personal, di Negara Barat, banyak orang Islam yang didiskriditkan

dalam kehidupan sosial.

96
Parahnya pandangan terhadap Islam inilah yang selanjutnya banyak

menimbulkan pemahaman yang keliru terhadap orang-orang Islam secara

keseluruhan. Persoalannya hanya tertumpu pada gerakan yang dilakukan oleh

kelompok Islam fundamental yang anarkhis kemudian menjadi persoalan yang

pelik yang melibatkan orang muslim secara keseluruhan.

Islamophobia Max Weber

Weber dalam catatannya, selain telah melakukan kajian kritis terhadap

Protestan dan kapitalisme dalam The Protestant Ethic and the Spirit of

Capitalism, juga meneliti dalam tentang Islam, namun sayangnya sebelum dia

sempat menyelesaikan essay-essaynya tentang Islam, ahli sosiologi ini meninggal

dunia. Ini bukan berarti bahwa apa yang ditulis oleh Weber tentang Islam tidak

berlaku dan dianggap tidak ada karena belum selesai, tetapi justru ini menjadi

buku sosiologi yang paling kontradiktif dibandingkan dengan kajiannya terhadap

sosiologi agama lainnya seperti protestant.

Karena sebab belum tercetak dan tersebar luasnya kajian Weber tentang

Islam ini maka kemudian harus merumuskan cara untuk dapat melakukan kajian

yang sama sebagai serangan balik terhadap teori-teori yang dikaji oleh Weber

tentang Islam dan Muhammad.

Sedikitnya ada tiga kunci yang dapat digunakan untuk memasuki kajian

tentang Weber dan Islam. Yakni, Memaparkan apa yang sebenarnya ditulis

Weber tentang Islam, Muhammad dan komunitas muslim, serta mengaitkan

komentar-komentar Weber yang belum selesai dengan minatnya yang besar pada

97
agama dalam struktur-struktur sosial (Lihat. Economy and Society, Max Weber).

Max Weber sangat dikenal karena studinya tentang Protestantisme dan

munculnya kapitalisme Eropa, yang secara keliru mengklaim bahwa Calvinisme

telah menyebabkan kapitalisme.

Penyebab dari seringnya kesalahan atau kekeliruan dalam penelitiannya

Max Weber terhadap sosiologi agama, selain factor kesalahan ilmiah juga

dikarenakan adanya upaya untuk melakukan pematahan terhadap setiap teori

yang dikeluarkan oleh Karl Marx atau bahkan Maxisme. Secara sederhana dapat

dikatakan bahwa apa yang dikaji oleh Weber merupakan anti tesis terhadap apa

yang dirumuskan oleh Karl Marx.

Dalam pandangan Weber, Islam merupakan agama militer atau agama

para tentara (a religion of warrior). Islam sebagai religion of warrior ini

setidaknya telah mampu menghasilkan sebuah etos yang sesuai dengan semangat

kapitalisme. Dalam catatan lebih lanjut, Weber merumuskan bahwa Islam adalah

agama yang menghambat munculnya prakondisi-prakondisi kapitalis yaitu

hukum yang rasional, pasar kerja bebas, kota-kota yang otonom, perekonomian

uang (a money economy) dan kelas borjuis.

Dapat diketahui bahwa apa yang dikatakan Weber bahwa Islam

merupakan lahan yang paling tandus untuk tumbuhnya kapitalisme merupakan

sesuatu yang luar biasa. Bahwa Islam ternyata tidak mampu menciptakan

prakondisi-prakondisi untuk tumbuhnya kapitalisme, sebagai akibatnya maka

masyarakat Arab, tidak dapat tersentuh oleh kapitalisme Eropa. Tidak mampunya

kapitalisme memasuki ranah sosio ekonomi masyarakat Islam banyak disebabkan

98
oleh kebudayaan Timur sendiri yang cenderung chauvimistik dan lebih

mengunggulkan rasnya, klannya, sukunya dibandingkan harus mengikuti doktrin

dari orang lain yang bahkan tidak dikenalnya.

Disinilah kemudian apa yang dirumuskan oleh Weber bertemu kembali

dengan apa yang ditulis oleh Karl Marx dalam Cara Produksi Asia (Asiatic Mode

of Production). Meskipun dalam beberapa wilayah penelitian diantara keduanya

banyak ditemui perbedaan, namun setidaknya dari keduanya itu dapat ditemukan

hal yang dikotomik. Kalau Weber memfokuskan pembahasannya mengenai relasi

monopoli kekuasaan politik, maka Marx lebih memfokuskan penelitiannya pada

penguasaan ekonomi.

Sosiologi interpretative Weber (sosiologi verstehende) merupakan

sebuah kritik serius terhadap keragaman positivisme yang mengabaikan peran

aktor tentang realitas dengan cara memaksakan interpretasi-interpretasi dan

kategori-kategori para sosiolog dan pengamat sosial pada realitas sosial.

Verstehende merupakan suatu pendekatan yang berusaha mengerti makna yang

mendasari peristiwa sosial dan histories.

Terlepas dari pertarungan dua ilmuwan ini, ada hal yang lebih penting

yang kemudian harus dikritisi lebih jauh terkait dengan islamophobia yang terjadi

di berbagai belahan dunia. Yakni tentang essay-essay yang dikeluarkan oleh Max

Weber untuk meneliti dan kemudian menyelewengkan ajaran Islam sehingga

Islam dapat dipandang seolah memiliki kekuatan yang dapat menakutkan orang

diseluruh dunia.

99
Salah satu aspek yang, mungkin, membuat Weber tertarik untuk

mengkaji Islam diantaranya adalah rendahnya kajian terhadap Islam.

Dibandingkan dengan kepustakaan tentang agama-agama dunia lain dan

peradaban mereka yang telah mapan dan berkembang, study yang sistemik

tentang Islam merupakan bidang yang mendapatkna tempat paling terbelakang

dalam sosiologi, fenomenologi dan sejarah agama. Hanya sedikit kajian-kajian

sosiologis penting tentang Islam dan komunitas muslim, beberapa penulis seperti

R. Levy menulis, The Structure of Islam, Clifford Geertz, dengan tesisnya yang

berjudul Islam Observed, Maxim Rodinson, Islam et capitalisme, selain itu hanya

sedikit sekali kajian-kajian yang kemudian menjadi salah satu tema pembahasan

yang penting dalam kajian sosiologi, fenomenologi, antropologi dan cabang ilmu

lainnya.

Di lain sisi, Islam memiliki sejarah yang cukup unik, dengan kekayaan

budaya dan keragaman tradisi. Islam telah mampu mendobrak tatanan sosial

dunia sebelum Barat mampu berkata apa-apa. Banyak ilmuwan Islam yang hasil

penelitiannya dijadikan rujukan untuk perkembangan sains hari ini. Taruhlah

Ibnu Sina (Avicena) yang ahli dalam bidang kedokteran, berbagai hasil

penelitiannya mengenai kedokteran dan cabang ilmu lainnya dijadikan rujukan

untuk ilmu kedokteran yang sekarang semakin berkembang. Ibnu Rusyd dan

Imam Ghazali yang fasih berbicara filsafat juga mendapat tempat dalam kajian

mengenai sejarah dan dialektika filsafat. Serta ilmuwan lainnya yang telah

meneliti tentang tata surya, matematika, kimia sampai pada peneitian mengenai

100
evolusi manusia yang kemudian di kumandangkan dalam The Origin of Species

oleh Charles Darwin.

Pada zaman Islam awal juga dapat menjadi daya tarik, dimana

Muhammad yang yatim piyatu, miskin, ternyata mampu melakukan perubahan

yang begitu mencengangkan. Sebuah revolusi yang dapat dikatakan lebih dahsyat

dibandingkan dengan revolusi sosial di Prancis, Revolusi Bolshevick di Rusia

dan revolusi besar lainnya. Tatanan sosial, ekonomi, budaya dan religius mampu

di ubah untuk mencapai satu tatanan yang lebih tertata dan terarah. Sebuah

kebesaran atas perjuangan Islam kiranya.

Dari beberapa factor itulah yang mungkin membuat Weber tertarik

untuk mengkaji Islam, disamping disiplin ilmu yang dia sendiri pelajari sebagai

ahli sosiologi yang tentunya tidak dapat terlepas dari kajian sosiologi agama

sebagai objek pembahasan karena agama merupakan salah satu factor yang

paling mempengaruhi tata sosial masyarakat. Atau besar kemungkinan, alasan

Weber melakukan kajian tentang Islam didorong oleh sebab Karl Marx dan

Emile Durkheim jarang membicarakan tentang Islam dalam setiap study-nya.

Kajian Weber terhadap Islam dalam batasan-batasan tertentu kelihatan

sebagai bagian sosiologis bagi analisisnya tentang Etika Protestan. Memang,

Weber menganggap Islam sebagai lawan dari Puritanisme. Menurut Weber,

Islam menerima spirit kaum hedonis murni, terutama kecenderungan pada kaum

wanita, kemewahan dan hak milik. Apa yang ada dalam Islam seperti tentara

militer dan kondisi-kondisi ekonomi masyarakat Islam tidak cocok bagi

perkembangan kapitalisme karena Islam di dominasi oleh feodalisme dan

101
birokrasi patrimonial. Bahkan tidak hanya kapitalisme, pra syarat munculnya

kapitalisme pun tidak dapat dijumpai dalam Islam.

Dalam hal ini, Bryan S. Turner30 memberikan dua komentar yang tepat

untuk Weber. Pertama, analisis Weber tentang etika Islam nampak tidak

berkaitan dengan analisisnya tentang struktur sosio-ekonomi masyarakat Islam.

Tak ada upaya yang dilakukan weber untuk mengaitkan apa yang ia anggap

sebagai etika tentara dengan kekuasaan patrimonial para sultan dan para khalifah.

Kedua, bila orang memperhatikan lebih dekat, argument Weber tentang Etika

tentara Islam, maka akan ditemukan bahwa sebenarnya ia bukanlah argument

dari pandangan kaum idealis tentang disiplin ilmu sejarah, tetapi ia juga bukan

analisis tentang ‘pertalian elektif’.

Tidak ada hubungan alamiah, kata Weber, antara monoteisme kenabian

Muhammad di Makkah dan gaya hidup para tentara Arab. Lebih jauh, bahwa

masyarakat kesukuan dan tentara di pengaruhi pesan-pesan Muhammad. Dia

mendesain ajaran-ajaran untuk memenuhi syarat-syarat kehidupan mereka. Ia

merupakan kebutuhan para tentara sebagai sebuah kelompok status yang

ditentukan oleh pandangan dunia Islam dan bukan oleh sikap psikologis atau nilai

sosial yang dibentuk Islam.

Weber secara tegas mengatakan bahwa isi Al Qur’an dan hadits

merupakan rekayasa dari ajaran-ajaran yang didesain sendiri oleh Muhammad.

Dan cerdasnya, Muhammad ternyata memiliki keahlian khusus dalam

mempropagandakan ajaran-ajaran yang didesainnya sendiri. Disamping itu,

Weber juga terlalu tegas ketika dia mengatakan bahwa kehidupan sosial para
30
ibid, Hal. 21

102
tentara harus menyesuaikan dengan desain keagamaan yang disusun oleh

Muhammad. Ini merupakan satu hal yang harus digaris bawahi, bahwa dari sini

Weber ternyata dalam mengkaji Islam tidak berangkat dari objektifitas yang

ilmiah tetapi dari subjektif emosional.

Apa yang di tulis oleh Weber berangkat dari catatan individu dan

emosionalitas dirinya sendiri, sehingga syarat utama dalam mengkaji ilmu

pengetahuan, yakni objektif dikesampingkan. Dalam wilayah subjektifitas,

beberapa bagian mungkin dapat dimaklumi mengingat Verstehende31 juga

berlandaskan pada makna subjektif atas tindakan.

Pada kesempatan lain, Weber sempat melakukan analisis tentang

pemimpin kharismatik yang dianggapnya memiliki kekuatan hegemonic yang

luar biasa. Pemimpin kharismatik hanya berhasil jika pesannya dipatuhi oleh

kelompok-kelompok yang mengakomodasi doktrin baru untuk kelompok atau

kepentingan-kepentingan mereka.

Ketika rumusan ini diterapkan dalam kehidupan Muhammad dan Islam,

Weber berpendapat, bahwa pandangan dunia seorang Nabi secara sosial menjadi

berarti hanya setelah ia diterima dan dibentuk ulang oleh suku-suku badui sejalan

dengan gaya hidup mereka dan kepentingan-kepentingan ekonomi mereka.

Selanjutnya, Weber secara implicit mengatakan bahwa Muhammad adalah

seorang oportunis dan bahwa para pengikutnya yang setia pada Islam semata-

31
Verstehende adalah metode yang digunakan Weber dalam mengkaji sosiologi. Metode ini
dilakukan dengan pendekatan yang berusaha mengerti makna yang mendasari peristiwa sosial dan
histories. Pendekatan ini berpijak pada ide, bahwa setiap situasi sosial didukung oleh jaringan
makna yang dibuat oleh sang aktor yang terlibat di dalamnya. Jadi pendekatan ini berusaha
mengungkap suatu makna subjektif sebuah gagasan dari actor yang melakukannya.

103
mata didorong oleh harapan-harapan memperoleh harta rampasan dan

penaklukkan.

Statement yang dikeluarkan oleh Weber ini cukup keras dan berani,

Sosok Muhammad yang mendirikan komunitas kaum tertindas di Makkah dari

penindasan para pedagang yang kapitalistik, yang diantara para anggota dari

komunitas tersebut juga orang-orang Badui, dalam pandangan Weber, kehidupan

dunia Muhammad merupakan settingan dari Suku Badui. Persoalan apakah

Muhammad diterima dalam komunitas suku Badui, seperti yang Weber

tuduhkan, Muhammad dalam hal ini jelas diterima, meskipun dalam beberapa

wilayah Muhammad mendapat perlawanan dari suku badui. Dengan kemampuan

Muhammad untuk mengakomodir aspirasi yang muncul dari suku badui yang

merasakan ketertindasan karena naiknya biaya hidup serta melakukan langkah

konkrit untuk mengantisipasi hal tersebut menunjukkan bahwa Muhammad telah

diterima di tengah-tengah komunitas badui.

Kemudian tesis yang keras bahwa Muhammad adalah seorang oportunis

murni dan orang-orang yang setia pada Muhammad adalah dimotivasi adanya

janji mendapatkan harta rampasan perang dan tanah jajahan serta kekuasaan pada

tanah jajahan tersebut merupakan hal yang sangat bertentangan dengan nilai

dasar jihad. Bahwa peperangan yang dilakukan oleh orang-orang muslim didasari

karena wilayah kerajaan lain (suku lain) yang telah diajak secara damai untuk

memeluk Islam ternyata justru menantang kehebatan tentara Muhammad secara

fisik. Persoalan tanah jajahan dan harta rampasan perang sebenarnya tidak masuk

akal, yang diharapkan oleh Muhammad dan para sahabatnya dalam setiap

104
peperangan adalah untuk dapat memiliki pintu masuk agama Islam dalam suku

atau wilayah tersebut.

Tidak cukup menuduh demikian, Weber memperkeras asumsinya

tentang peperangan Muhammad ini. Weber berpendapat bahwa komitmen pada

harta rampasan perang benar-benar dapat diterima sebagai ‘kesdaran nabi yang

paling jelas dan nyata’ bahwa Islam menyandarkan pada kepentingan-

kepentingan material untuk klan-klan tentara militer.

Sesungguhnya, Al Qur’an dan catatan-catatan biografi awal

menunjukkan bahwa nabi Muhammad dan para sahabatnya menlestarikan

permusuhan permanent dengan para oportunis yang komitmennya pada Islam itu

palsu. Contohnya, ada kutukan yang keras dan efektif terhadap orang-orang

munafik. Sampai-sampai karena itu, Al Qur’an menyediakan satu surat khusus

dalam Al Qur’an tentang keberadaan orang munafik beserta segala sesuatu yang

akan menjadi balasan atas apa yang dilakukan. Al Qur’an sendiri telah

melakukan pembagian secara terperinci mengenai pengertian orang muslim yang

beriman (mukmin), orang yang menolak Islam dengan keras (kafir) dan orang

yang mengaku muslim tetapi sesungguhnya dalam hatinya menolak Islam

(munafik), mereka memeluk Islam untuk tujuan-tujuan untuk memperoleh

keuntungan pribadi jangka pendek dan dari sinilah sesungguhnya orang-orang

munafik masih tetap bersikap oportunis.

Weber dalam hal ini terjebak dalam menafsirkan, dia meng-gebrah

uyah-kan (menggeneralisasikan) bahwa setiap orang muslim adalah oportunis,

dengan hanya melihat kejadian yang terjadi pada diri orang munafik. Padahal,

105
dapat dikatakan bahwa orang-orang oportunis hanya dapat dijumpai pada orang-

orang kafir dan orang-orang munafik. Disinilah kemudian Weber kehilangan

kembali nilai objektif dalam kajiannya.

Muhammad olehnya digambarkan sebagai panglima perang yang gagah

berani, dengan pedang yang diasah tajam, kuda yang kuat, dan kekuatan militer

yang telah terlatih untuk berperang dalam medan-medan berat sekalipun dan

seterusnya. Klaim-klaim kejelekan terhadap Islam muncul menjamur dengan

manisnya.

Dan tentunya, Weber tidak sendirian dalam menolak gagasan-gagasan

Islam secara serius dan objektif. Dalam biografi Muhammad yang ditulis oleh

Maxime Rodinson berusaha memperjelas muatan agama Islam awal menurut

pengertian Marxis dan Freudian.

Beberapa biografi nabi Muhammad lainnya yang ditulis oleh orang

Eropa menyebutkan bahwa Muhammad secara psikologis normal tetapi dia tidak

jujur ketika menyampaikan pesan dari Allah. Ada manipulasi data yang

dilakukan oleh Muhammad, data yang seharusnya disampaikan dengan X

misalnya, oleh Muhammad disampaikan pada kaumnya dengan Y yang esensi

dari keduanya sangat dikotomik.

Atau bahwa Muhammad itu tidak waras yang mempercayai kebenaran

kebenaran dari misi kenabiannya. Rodinson ingin menyelamatkan Muhammad

dari tuduhan sebagai orang gila dan munafik. Tapi, pada awal kajiannya,

Rodinson mengakui bahwa dia adalah seorang ateis dan ateisme ini menimbulkan

problem tertentu dari penafsirannya.

106
Karena Rodinson adalah seorang ateis, maka harus dipahami bahwa dia

telah meyakini bahwa Muhammad adalah orang yang jujur dan benar, tetapi

karena ateisnya itu, jelas Rodinson akan beranggapan bahwa Al Qur’an adalah

palsu, apa yang tertulis dalam Al Qur’an merupakan karangan semata. Pada titik

ini kemudian kajian Rodinson mengenai biografi Muhammad bertemu dengan

hal-hal yang antagonis antara data yang satu dengan data yang lainnya. Pesan

yang ada dalam Al Qur’an ditemukan dalam kondisi psikologi Muhammad

sedang mengalami ketidaksadaran. Qur’an yang diciptakan oleh Muhammad

merupakan foto copy yang diperbaharui oleh Muhammad dari kitab-kitab suci

yang turun sebelumnya dari agama Yahudi atau Nasrani. Isi Al Qur’an tidak jauh

berbeda dengan kitab suci agama-agama tersebut.

Secara lengkap Rodinson mengatakan, Sulit dipahami bahwa, dalam

kata-kata yang datang kepadanya elemen-elemen dari pengalaman aktualnya,

kesanggupan pikiran-pikirannya, mimpi-mimpinya dan meditasi-meditasinya,

serta semua memori dari penjelasan bahwa dia telah mendengar bisa

dimunculkan kembali, dipotong, diubah dan dibentuk dengan penampakan

realitas yang langsung...

Walaupun Rodinson menyatakan bahwa Muhammad itu normal, tetapi

Rodinson mengakhiri komentarnya dengan pandangan bahwa Muhammad itu

salah. Qur’an bukan pesan illahi, ia adalah produk dari penciptaan kembali

ketidaksadaran Muhammad tentang pengalaman-pengalaman dan pengetahuan

masa lalu yang secara salah dicocok-cocokkan oleh Nabi Muhammad.

107
Kritik Agama Marx

Untuk memahamai pemikiran Karl Marx terhadap agama yang

dianggapnya candu untuk masyarakat perlu penalaran untuk memahami terlebih

dahulu kerangka berpikir penulis Das Kapital ini serta kondisi sosialnya.

Seperti telah diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat bahwa candu

adalah obat yang memabukkan dimana intensitas kesadaran berpikir orang

diminimalisir seminimal mungkin sehingga orang akan lupa diri, terbuai dengan

mimpi-mimpi dan semakin menjauh dari kenyataan yang ada dalam hidupnya.

Candu dapat membebaskan orang dari segala penat yang sedang dialaminya,

terbebas dari tekanan hidup yang menghimpitnya untuk sementara waktu, candu

tidak dapat menghilangan semua kepenatan dan tekanan hidup. Candu bukan

solusi untuk memecahkan masalah, juga bukan alternative lain yang dapat

digunakan untuk menyelesaikan setiap persoalan, bahkan candu dapat menjadi

akar dari persoalan yang akan muncul selanjutnya sebagai turunan dari masalah

yang sedang dihadapinya. Intinya, bahwa candu merupakan sarana pelarian orang

yang sedang bermasalah, namun sama sekali tidak mampu menyelesaikan

masalah itu.

Sedangkan agama adalah merupakan sistematisasi kepercayaan atau

dalam bahasa yang lebih tegas lagi dapat dikatakan bahwa agama merupakan

instutusi kepercayaan, keyakinan manusia akan hal yang transcendental, dimana

didalam agama itu terdapat dogma, ajaran, hukum dan seagala macam olah

kesalehan. Agama menjadi sandaran psikologi dan sandaran spiritualitas

108
manusia, karena pada dasarnya manusia membutuhkan sandaran spiritual untuk

memenuhi kebutuhan rohani yang tidak tampak.

Dikatakan agama itu candu oleh Marx, berangkat dari fenomena sosial

yang terjadi di sekitar Marx, baik pada saat masih tinggal di Trier Jerman

ataupun telah mengungsi ke Paris, Inggris dan kota besar lainnya. Dimana disana

banyak terjadi penindasan, kesewenang-wenangan, intimidasi dan penguasaan

sector public pada individu lainnya. Tindakan semacam ini yang dialami oleh

masyarakat, kemudian masyarakat lari kepada agama yang oleh mereka dianggap

mampu memberikan solusi atas pembodohan dan pemelaratan semacam ini.

Ternyata, dalam bacaan Marx, agama yang diharapkan mampu

memberikan alternative pemecahan masalah semacam ini berbanding terbalik

dengan yang diharapkan oleh masyarkat. Agama hanya mampu memberikan

‘resep-resep’ terhadap penyakit ini. Resep yang berupa keharusan menerima

perlakuan semacam itu dengan sabar dan tabah sebagai ujian dari Tuhan.

Ketika orang sedang menghadap tuhannya sebagai bentuk ritual wajib

atas klaim keagamaannya itu, orang tersebut akan mengalami kebebasan

masalah, ketenangan jiwa, ketenangan bathin, sehingga seolah-olah orang

tersebut terbebas dari masalah yang sedang menghimpitnya. Masalah yang

sedang dihadapi terlihat seolah terlepaskan ketika orang sedang memuja

tuhannya. Pada titik ini orang akan mendapatkan obat penenenang atas derita

yang sedang dialaminya.

Namun ketika prosesi pemujaan itu telah selesai, ketika ritual

penghadapan tuhan telah usai, orang tersebut akan kembali pada lingkungan

109
riilnya yang masih terus merasakan penindasan, kesewenang-wenangan,

pembodohan, pemiskinan oleh para antek kapitalis. Sikap ini juga didukung oleh

dogma agama yang menyuruh untuk selalu qana’ah (nrimo ing pandhum),

menerima apa adanya dari apa yang diberikan oleh Tuhan sebagai cobaan.

Hal ini jelas akan membuat antek kapitalis dapat bersantai ria dalam

melakukan eksplotasi terhadap kaum mustad’afin (proletariat). Dalam doktrin

keagamaan yang mereka terima selalu mengajarkan untuk menerima apa yang

diterima sebagai berkah apabila itu baik dan cobaan apabila itu buruk. Dalam

menghadapinya harus dengan tabah dan sabar. Sehingga dari doktrin ini mereka

percaya bahwa ketika melakukan perlawanan terhadap pihak yang menindas

berarti mereka melakukan ‘perlawanan’ juga terhadap tuhan karena melawan apa

yang digariskan oleh tuhan.

Mengingat Marx bukanlah seorang teolog atau ahli agama dan

keahliannya dia dalam menganalisis bidang sosiologi, Marx hanya memandang

fenomena yang tampak dalam kehidupan sosial saja32. Dalam pandangannya,

agama memberikan legitimasi atas munculnya kemiskinan, pemelaratan,

penderitaan dan penindasan yang dialami masyarakat, karena agama tidak

mampu memberikan solusi kreatif atas persoalan semacam ini. Agama hanya

dapat memberikan ‘resep’ yang harus dibeli di apotek diri sendiri berupa

ketabahan dan kesabaran menerima setiap cobaan yang dialaminya.

Marx sangat menginginkan orang-orang semacam itu untuk ‘bertobat’

atas dosa yang dilakukannya, dia menginginkan agar mereka menyadari bahwa

32
Eusta Supono, 2007, Agama Solusi atau Ilusi, Kritik atas Kritik Agama Karl Marx, Komunitas
Studi Didaktika, Jogjakarta, Hal. 38

110
manusia adalah mahluk otonom yang berwenang menentukan masa depannya

sendiri tanpa campur tangan agama atau institusi lainnya. Marx sangat meyakini

ketika orang menyandarkan persoalannya pada institusi-institusi, baik itu institusi

keagamaan ataupun institusi lainnya, institusi tersebut akan diperalat oleh antek

kapitalis yang terus mencoba melakukan eksploitasi.

Marx yakin bahwa manusia merupakan makhluk yang otonom,

sehingga orang lain ataupun pihak lain tidak mungkin dapat melakukan

intervensi terhadap kepentingan pribadinya secara penuh. Sehingga kemungkinan

untuk dapat mengubah perlakuan, semacam perlakuan dalam agama, dapat

dilakukan dengan menyadarkan posisi mereka ditengah kehidupan sosial.

Artinya, bahwa kritik Marx terhadap agama dalam wilayah ini bersifat

emansipatoris, untuk menciptakan tata sosial yang bebas, adil tanpa penindasan.

Bidikan Marx terhadap kritik agama ini sebenarnya lebih pada pola

perilaku hidup beragama yang tidak sesuai dengan logika pembebasan, yang

seharunya menjadi target utama institusi agama dalam bidang humanisme.

Sehingga dalam pandangannya, dia memunculkan asumsi bahwa agama turut

serta dalam pembangunan kemiskinan dan pembodohan dan turut

melestarikannya. Semua perilaku hidup sosial manusia harus tunduk pada

peraturan dan ajaran agama yang didalamnya termuat paham takdir

(predestinasi). Dalam paham takdir ini, setiap tindakan manusia telah diatur oleh

Tuhan dan manusia sama sekali tidak berwenang mencampuradukkan apa yang

telah dirancang oleh Tuhan. Bagi Marx, jargon agama semacam ini merupakan

persoalan yang serius dalam agama kaitannya dengan kehidupan sosial, yang

111
sadar atau tidak, agama tersebut telah meracuni masyarakat dan mengabadikan

penindasan, kemiskinan dan keterasingan manusia dari dirinya sendiri,

masyarakat, dan bahkan keterasingan dengan hasil-hasil produksinya sendiri.

Institusi agama yang diperalat oleh kapitalis ini Marx dengan tegas

menggugat keberadaannya. Agama yang terus menerus melanggengkan

penindasan terhadap masayarakat serta mendukung kapitalisme melakukan

pemiskinan secara structural dan cultural, maka agama harus dibubarkan, tuhan

harus dibunuh.

Perlakuan ‘tuhan’ terhadap manusia merupakan sebuah tindak

penindasan yang tidak dapat ditolerir. ‘tuhan’ telah memaksa manusia untuk

meneguk opium yang telah disediakan oleh ‘tuhan’ untuk memabukkan manusia

sehingga seagala penderitaan yang dialaminya akan hilang untuk sementara

waktu, dan selanjutnya, setelah opium itu habis fungsinya untuk memabukkan

maka ‘tuhan’ akan mengembalikan manusia kedalam kesengsaraan yang tidak

berujung dengan bekal bahwa manusia harus tabah menghadapinya.

Dampak Islamophobia

Gambaran terhadap Islam melalui wacana-wacana yang diusung oleh

para ilmuwan menimbulkan bekas yang mendalam yang kemudian muncul dalam

presepsi setiap orang sebagai citra diri agama Islam. Yang memang menulis

Islam apa adanya, itu tidaklah menjadi persoalan, karena pada dasarnya Islam

memang seperti itu, kalaupun ada penambahan, itu semata-mata hanya dikaitkan

dengan fenomena sosial hari ini yang terus berkembang.

112
Tetapi akan lain ketika wacana-wacana tersebut justru berbalik

menyerang Islam dan menganggap Islam sebagai agama yang paling tidak terpuji

yang tidak pantas untuk dipeluk. Dampak yang mungkin akan terjadipun jelas

beraneka ragam sesuai pencitraan yang memakan wacana tersebut. Wacana yang

berkembang semacam itu, selain akan membuat Islam semakin terpojokkan

posisinya ditengah kehidupan multi agama di dunia, juga akan berakibat fatal

pada garis perjuangan Islam sendiri sebagai agama yang bercita-cita untuk

memperbaiki tata sosial masyarakat secara keseluruhan.

Kesalahan penafsiran terhadap agama Islam berakibat pada munculnya

pandangan-pandangan yang keliru terhadap Islam, ajaran, dogma dan ritual

religiusitas Islam. Berangkat dari kesalahan penafsiran itu maka turunan dari

semua yang ada dalam Islam adalah sesuatu yang juga haram untuk disentuh oleh

setiap kalangan karena jelas akan membahayakan bagi keselamatan bersama.

Islam saja misalnya, kata Islam yang berarti keselamatan, kemudian,

seperti wacana yang diusung Weber diatas, ditafsirkan sebagai agama perang,

agama militer yang terus mencoba melakukan invasi ke daerah lainnya untuk

mendapatkan tanah jajahan. Ini kan sudah menunjukkan ketidaksinkronan dalam

memadukan dua wacana yang justru dikotomik.

Study yang dilakukan dalam pengkajian Islam, dengan metode atau

kerangka epistimologi apapun, selama itu bertolak dari kenyataan yang

sebenarnya maka study tersebut hanya omong kosong.

Sebagai contoh, dapat saja saya mengatakan bahwa Hugo Chavez

adalah seorang presiden yang paling kejam dan nekat, dia berani menantang

113
Bush di tempat yang sama dengan mengatakan bahwa Bush adalah setan, iblis,

anjing dan seterusnya yang dapat menjatuhkan image Bush di tengah masyarkat

dunia sebagai ‘Jenderal Besar’ Polisi Dunia.

Atau keberanian Mahmoud Ahmadinejad yang mengirimkan surat

dakwah kepada Bush yang intinya menyuruh Bush untuk segera bertobat atas

setiap tindakan yang dilakukannya. Ahmadinejad meninginkan agar Bush

menarik pasukannya dari Irak, membiarkan Irak menjadi Negara otonom yang

menentukan masa depannya sendiri. Dia juga menginginkan agar Bush tidak lagi

bergaya sebagai ‘Jenderal Besar’ polisi dunia yang arogan, nonkooperatif,

eksploitatif dan imperialis.

Kedua presiden revolusioner dari Irak dan Bolivia itu satu sisi dapat

dikatakan sebagai presiden yang berani dan memang tidak takut terhadap sesuatu

yang paling ditakuti di seluruh dunia. Satu sisi benar demikian, tapi apakah pada

sisi yang lain Mahmoud Ahmadinejad atau Hugo Chavez juga sama beraninya

dan sama kejamnya ketika berhadapan dengan warga negaranya? Ketika

dihadapan istri dan anak-anaknya? Apakah Ahmadinejad juga akan seberani itu

dihadapan kedua orang tuanya?. Jelas ini tidak mungkin dilakukan oleh mereka,

meskipun dalam beberapa tempat ada juga yang bersikap seperti ini sebagai

dampak atas ‘kemanusiaan’ mereka, luapan emosional.

Dalam setiap pidatonya, kalau Mahmoud Ahmadinejad selalu membuka

dengan ucapan salam dan keselamatan, Assalamu’alaikum warahmatullahi

wabarakatuh, maka Hugo Chavez selalu memberanikan diri untuk membuka

setiap pidato dan orasinya dengan salam pembuka, Bush Iblis, Bush Anjing dan

114
seterusnya yang jelek-jelek. Hal yang sangat kontras meskipun diantara keduanya

merupakan presiden revolusioner yang ditakuti oleh Bush. Ahmadinejad bersikap

lebih toleran dibandingkan dengan sikap yang ditunjukkan oleh Hugo Chavez.

Kembali pada masalah kesalahan penafsiran terhadap Islam, baha apa

yang mereka baca sebagai Islam adalah point terburuk yang dilakukan segelintir

orang. Metode verstehende yang mengungkap makna subjektif setiap tindakan

dari actor (pelaku) hanya digunakan untuk menyoroti subjek dari Islam yang

telah ‘mengkafirkan’ diri dari Islam sebagai tokoh paling munafik.

Seperti halnya kesalahan penafsiran dalam menafsirkan jihad pada

pembahasan sebelumnya, kesalahan pembahasan mengenai kata Islam oleh para

‘ilmuwan’ Barat merupakan satu ciri bahwa ‘ilmuwan’ tersebut kurang begitu

mendalami Islam. Islam hanya dilihat pada satu sisi, sementara sisi yang lain

diabaikan.

Kemudian akan sangat wajar ketika banyak ilmuwan (tanpa tanda petik

diantaranya) banyak yang mengatakan bahwa seorang ilmuwan tidak boleh

menolak atau menyambut segala sesuatu selama sesuatu itu belum benar-benar

dimengerti sepenuhnya, baik dari esensinya maupun pandangan sosial atasnya.

Secara pribadi penulis tidak pernah menyalahkan Max Weber secara

pribadi dan atas tulisan-tulisannya yang kontradiktif. Hal yang mendasari bahwa

Weber dalam hal ini hanya mengalami ‘kecelakaan’ dimana dia tanpa dia sadari

meninggalkan metode-metode yang diciptakannya sendiri dalam setiap mengkaji

masalah sosiologi (verstehende). Persoalan apakah ‘kecelakaan’ itu memang

sengaja dia lakukan atau tidak itu diluar batas pengkajian dan yang jelas makna

115
subjektif dari apa yang dilakukan Weber ini hanyalah Weber yang tahu, bisa jadi

Weber mengatakan demikian karena dia menginginkan Islam tidak hanya

dipandang pada sisi jeleknya saja, tetapi makna sesungguhnya dalam Islam yang

mengajarkan kesalehan kolektif.

Namun sayangnya, catatan-catatannya tentang Islam dia tinggalkan

sebelum dia sendiri mampu menyelesaikannya, dia telah mendapatkan ‘anugerah’

bagi Islam dengan kepergiannya dalam rangka menerima pahala atau sebaliknya

dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Anugerah bagi Islam yang dimaksudkan adalah

dengan kepergiannya sang Begawan sosiologi ini maka catatan-catatannya

mengenai Islam yang belum selesai ini tidak dapat diselesaikan dan tidak

dipublikasikan secara lebih luas seperti halnya The Protestan Ethic and the Spirit

of Capitalism sebagai catatan atas teologi Calvinis yang ditudingnya sebagai

induk semang dari kapitalisme.

Dampak yang sampai hari ini terjadi dari proses islamophobia oleh para

ilmuwan ini yang paling kentara adalah ketakutan masyarakat dunia terhadap

Islam. Dimana Islam dianggap sebagai agama yang paling tidak manusiawi,

nabinya mengajarkan bagaimana berperang dan kewajiban berperang atas semua

umatnya, nabinya menyuruh untuk selalu merebut wilayah Negara lain untuk

dijadikan tanah jajahan. Nabinya juga menyuruh bagaimana memberikan

intimidasi yang tepat kepada semua orang.

Hal ini juga ada kaitannya dengan banyaknya tindakan-tindakan anarkis

yang dilakukan oleh tokoh Islam garis keras (Islam fundamental) yang selalu

menafsirkan jihad sebagai peperangan menghancurkan kekuaan lawan yang

116
mencoba menghancurkan Islam dan semua ajaran yang ada didalam Islam.

Membunuh setiap orang yang memiliki pandangan yang berbeda, mereka selalu

menganggap orang yang berbeda paham dengan mereka adalah orang kafir yang

dimana darah, jiwa dan hartanya halal untuk diambil.

Maraknya aksi terorisme yang berbaju agama seperti ini semakin

memperkeruh posisi Islam di mata peradaban dunia. Islam yang pada dasarnya

adalah agama perdamaian sebagai mana namanya, oleh para penganutnya

kemudian diselewengkan menjadi agama yang keras dan radikal. Sungguh

fenomena yang luar biasa, dimana kekuatan dalam Islam sendiri justru

menggerogoti Islam secara sistematis.

Dampak lainnya adalah, sebagai turunan atas ketakutan public terhadap

Islam adalah semakin tertutupnya pintu dakwah untuk menyebarkan agama serta

memperbaiki pemahaman public atas Islam.

117
KONSTELASI GEO SOSIO POLITIK

DAN GEOGRAFI SOSIO RELIGIUS NASIONAL

Konstelasi geo politik, diakui atau tidak, erat kaitannya dengan geografi

sosio-religius local. Ada semacam pola umum (Weltanschauungs) yang

melingkupi wilayah sosio religius secara global dan pengaruhnya mengakar

hingga tatanan sosial terrendah sekalipun. Tatanan global ini yang kemudian

menjadi satu kesepahaman bersama sebagai satu ideology internasional yang

menjadi tolok ukur.

Artinya, dalam tatanan ini menciptakan suatu arah bersama secara

perlahan menuju satu titik dengan jalan yang berbeda-beda. Berbagai bidang

kehidupan mengikuti alur ini sebagai tolok ukur dan standar kompetensi. Ini

menarik untuk di perhatikan, bahwa dari berbagai ideology yang berlaku dalam

wilayah internasional kemudian mengakar dan mematahkan ideology lainnya

yang berkembang sebagai antitesisnya.

Dunia dalam masa postmodernisme ini, menurut Asghar Ali Enginer33,

berbagai system kepercayaan diuji secara kritis dalam wilayah yang sangat luas.

Tak ada system pemikiran atau kepercayaan yang saat ini tidak terbuka untuk

diuji.

Dari sini memberikan gambaran bahwa adanya persaingan masing-

masing ideology untuk bersaing dalam ‘ujian’ untuk membuktikan bahwa

ideology tertentu mampu menembus batas dan pantas untuk mendominasi tata

33
Asghar Ali Enginer, 2004, Islam Masa Kini, Penerjemah, Tim
FORSTUSIDA, Pustaka Pelajar, Jogjakarta, Hal. 3

118
sosio antropologis masyarakat global. Persaingan ini menimbulkan semacam

diskriminasi bahkan eliminasi terhadap ideology lainnya yang menjadi lawan dari

ideology tersebut.

Gambaran globalnya kurang lebih demikian. Terjemahannya, dalam

konstelasi geopolitik ini, yang pada perang dingin berlaku system bipolar, dua

ideology besar yang menghegemoni masyarakat internasional, yakni Kapitalisme

yang direpresentasikan oleh negara Amerika Serikat dan sekutunya serta

Komunisme yang menjadi tatanan sosio-politik hasil dari revolusi Bolsheviks di

Rusia dibawah pimpinan Vladimir Illich Lenin.

Namun realitas ini kemudian terbalik pasca perang dingin, dengan

ditandai terpecahnya Uni Soviet, banyak system yang berlaku secara global, atau

istilah tepatnya multipolar. Masing-masing ideology ini kemudian mencoba

membangun pengaruh di dunia internasional serta bersaing dengan ideology lain

yang menjadi lawannya.

Kurang lebih demikian deskripsi global kontelasi politik global hari ini.

Tentang sejauh mana konstelasi geopolitik mampu mempengaruhi tatanan sosio

religius di Indonesia, secara lebih detail akan mendapatkan tempat tersendiri

nantinya.

A. Definisi dan Gambaran Global.

Menelusuri akar epistemology kontelasi geo politik untuk mendapatkan

satu tafsiran yang jelas sehingga memberikan pemahaman yang lebih mendetail,

serta, dan tentunya, mampu menjadi satu pandangan global. Perlu kiranya kajian

119
epistemology di-kaji secara lebih kritis. Termasuk di dalamnya tentang akar

aksiologinya.

Dalam kajian bahasa, kata geo berarti bumi, tanah dan seterusnya,

sedangkan politik adalah satu strategi, cara, metode dan hal lainnya yang terkait

dengan itu. Geopolitik adalah tatanan politik internasional, demikian secara

sederhana kira-kira. Sedangkan sosio berasal dari kata sosial, yang berarti tatanan

masyarakat dan hal yang melingkupinya. Religius, berasal dari kata religio,

bahasa Yunani, yang kemudian di pingit dalam tata bahasa Inggris menjadi

Religious yang berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan keagamaan.

Sedangkan secara terminology, geopolitik berarti suatu tatanan politik

yang bersifat mendunia dan menjadi system yang berlaku secara internasional.

Berlakunya system ini, baik secara resmi ataupun datang dengan sendirinya

dalam kehidupan sosial atau bidang lainnya.

Sosio religious ditinjau dari sisi terminology berarti tatanan masyarakat

yang agamis, atau pendek kata dapat berarti tata masyarakat yang beragama.

Atau tatanan masyarakat yang terbentuk dengan pandangan yang sama tentang

agama.

Selanjutnya istilah ideology, istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh

Destut De Tracy34 (1796) ketika Prancis sedang mengalami proses

transformasinya dibawa system politik republiken. De Tracy memberikan

pengertian bahwa ideology adalah suatu system pengetahuan tentang ide, yang

menjelaskan konsep-konsep praktis di dalam ilmu pengetahuan tentang segala

34
PC PMII Purworejo, Makalah ini disajikan dalam Pelatihan Kader Dasar (PKD) PMII Cabang
Pureworejo 19-23 Desember 2006.

120
yang ada. Dalam pengertian ini, ideology bersifat positif dan lagi oleh konseptor

awalnya, ideology hendak dijadikan dasar moralitas bagi ilmu politik yang

berkutat dalam pembentukan kebijakan-kebijakan publik.

B. Realitas Konstelasi Geopolitik Hari Ini.

Sebelum membicarkan posisi dan peran stategis Inonesia dalam

kontalasi politik internasional, terlebih dahulu perlu dibicarkaan bentuk dari

system internasional itu sendiri serta gerakannya dan sejarah pemikirannya.

Dalam sejarah perkembangan Negara bangsa Indonesia dari dulu tidak

dapat dengan begitu saja terlepaskan dari konstelasi geopolitik, Indonesia

mempunyai peran strategis dalam wilayah perpolitikan global sejak awal

berdirinya. Dari bukti-bukti sejarah yang ada, Indonesia banyak disusupi wacana-

wacana dan system perpolitikan global yang terkadang berwatak imperalis dan

kapitalis. Satu hal yang sungguh menjadi problem terbesar bagi bangsa.35

Terkadang bangsa Indonesia terlalu bangga ketika harus menelan

wacana-wacana ideology yang datang dari Barat, sampai-sampai terkadang, baik

Negara ataupun rakyatnya, tidak menyadari bahwa Indonesia telah masuk dalam

kungkungan hegemoni yang dilakukan Barat. Sebagai dampaknya, Indonesia

tidak hanya masuk dalam lingkungan hegemoni Barat akan tetapi secara tidak

sadar kemudian masuk dalam wilayah imperialisme dunia yang sangat

hegemonic. Menjadi bagian dari objek imperialisme yang dilakukan oleh Barat.

35
Hasyim Wahid dkk, 1999, Telikungan Kapitalisme Global dalam Sejarah Kebangsaan
Indonesia, LKiS, Jogjakarta, Hal. 3

121
Dampak turunannnya, Indonesia selalu dikendalikan oleh Negara-

negara Barat dalam wilayah sosial, ekonomi, kebudayaan, politik, ideology dan

sebagainya. Tidak ada kemandirian dalam wilayah itu, karena segala sesuatu

terkait dengan hal tersebut diatas telah disetting sedemikian rupa untuk

selanjutnya menjadi bagian pendukung kelestarian budaya imperialisme dan

neoimperialisme Barat terhadap Negara dunia ketiga. Telikungan imperalisme

hegemonic ini yang kemudian menelusupkan akar serabutnya kesetiap Negara-

negara yang baru berkembang dengan kemasan yang sangat apik berupa

kapitalisme global.

Kapitalisme dalam sejarah perkembangannya di nusantara selalu saja

mendominasi sebagai watak ideology terbesar. Berbagai bidang kehidupan tidak

terlepas dari kungkungan kapitalisme global dari dulu hingga sekarang. Sebagai

imbas dari semua itu, banyak kemudian kebudayaan local yang di banggakan

oleh Indonesia sebagi produk local yang mendunia secara perlahan-lahan mulai

terseret pada jurang kehancuran dan lambat laun semakin hilang terkikis oleh

kemasan kapitalisme dalam bentuk budaya popular (popular culture).

Program utama budaya popular adalah menghapuskan ‘negara’ dalam

artian yang lain, yakni menghilangkan batas geografis tiap Negara dengan

menyeragamkan kebudayaannya. Setiap kebudayaan dalam setiap Negara tolok

ukurnya sama, yakni budaya popular itu sendiri. Untuk kemudian, setelah semua

Negara memiliki kebudayaan yang sama, sebagai efek samping atas merebaknya

budaya popular itu adalah hilangnya kearifan local dan tradisi local yang ada

disetiap Negara.

122
Sebagai contoh sederhana misalnya, hari ini orang akan cenderung lebih

menyukai menonton televisi dengan berbagai kemasan acaranya seperti musik

dan lainnya dibandingkan harus menonton wayang kulit atau lenggeran semalam

suntuk yang diadakan oleh masyarakat sendiri. Atau lainnya misalnya, balet dan

sexy dance lebih popular dikalangan masyarakat dibandingkan dengan jaipongan

atau tarian daerah yang mengandung unsure seni lebih dalam.

Penguasaan sector budaya ini agaknya menjadi penyakit yang paling

menyakitkan. Apa yang kita miliki sebelumnya sebagai kebudayaan yang lebih

tinggi disbanding kebudayaan lainnya pada awal berdirinya, dengan serta merta

hilang begitu saja tergilas oleh kemasan budaya kapitalisme yang cenderung

mengeksploitasi dan menelanjangi kebudayaan kita.

Belum lagi penguasaan kapitalisme di bidang politik yang mencolok

terlihat jelas. Dari sejak berdaulatnya Indonesia sebagai Negara bangsa (nation

state) telah banyak kejadian sejarah dalam bidang politik yang dicampurtangani,

direkayasa bahkan dibuat sedemikan rupa oleh kapitalisme. Dan kadang kita

tidak menyadari hal itu, anggapan kita itu hanya merupakan benturan politis antar

tokoh di Negara kita. Sebut saja misalnya tragedy berdarah G30S/PKI yang

penuh trik intrik oleh tokoh nasional yang disetting oleh kapitalisme, runtuhnya

orde lama yang di pimpin Soekarno dan naiknya rezim orde Baru Soeharto,

sampai kejadian turunnya Soeharto sebagai jenderal Besar penguasa Orde Baru.

Artinya, dari sini dapat diketahui bahwa konstelasi politik nasional

berkibar dibawah bendera kapitalisme global. Untuk mengenal lebih dalam

sejauh mana pengaruh yang masuk ke Indonesia sebagai dampak percaturan dari

123
geopolitik, mungkin akan lebih baik ketika mengkaji terlebih dahulu sepak

terjang benturan antar ideology politik sejak zaman dahulu hingga sekarang.

Di mulai dari Perang Dunia II yang membagi kekuatan dunia menjadi

dua blok, antara blok Barat dengan Amerika Serikat dan Inggris sebagai

representasinya, dan blok Timur yang di jendrali oleh Uni Soviet. Pembagian ini

didasarkan atas ambisi keduanya untuk menguasai dunia sebagai kekuatan

hegemonic yang terbesar sehingga akses sosial politik berada dibawah control

salah satu diantara keduanya.

Perang Dunia II selain perang terbuka antara dua kekuatan terbesar di

dunia ini, ada juga perang dingin sebagai titik akhir dari bentuk perang terbuka.

Kedua kekuatan ini tidak pernah terlihat perang dalam satu medan. Tetapi di

balik perang-perang kecil dalam beberapa negara di dunia, peran dari kedua

kekuatan ini tidak bisa dihindari. Kasus terpecahnya korea, antara Korea Utara

yang beraliran ala Uni Soviet dan Korea Selatan yang ideologinya sama dengan

apa yang dianut oleh orang Barat. Perang Vietnam juga sama halnya, dan perang-

perang besar lainnya seperti kasus di buatnya Tembok Berlin di Jerman untuk

membagi Jerman Timur dan Jerman Barat.

Dua kekuatan ini selain bersaing dalam perang, juga ada kompetisi

ideology yang mendasari terjadinya perang. Amerika Serikat dengan ideology

kapitalisme-nya mencoba menjadi satu kekuatan terbesar yang menghegemoni

dunia. Demikian juga Uni Soviet dengan ajaran komunisme-nya. Kalau

kapitalisme sudah membudaya saat itu dan menjadi tatanan dunia baru di Barat,

maka komunisme yang di gagas Karl Marx dan Friedrich Engels dalam Das

124
Kapital datang sebagai pembanding yang hendak meruntuhkan tradisi

kapitalisme yang cenderung eksploitatif dan imperialis.

Dari sini menarik apa yang dikaji oleh Anthony Giddens dalam

bukunya The Third Ways, dari adanya dua kekuatan besar yang mencoba

mendapatkan posisi dalam kancah perpolitikan dunia. Anthony Giddens36 dalam

pemikirannya perlu ada satu jalan lain yang harus ditempuh oleh negara-negara

yang tidak terlibat dalam dua kekuatan ini. Jalan Ketiga yang di gagas oleh

Giddens sebagai langkah yang solutif bagi negara-negara lain yang tidak ingin

melibatkan dirinya, termasuk Indonesia dengan politik luar negeri bebas aktifnya.

Terlepas dari apakah Giddens menulis The Third Ways untuk kepentingan seperti

ini atau tidak, yang jelas karena ternyata apa yang digagas oleh Giddens tepat

ketika diaplikasikan dalam fenomena politik semacam ini, maka kita gunakan

saja sebagai sebuah alternative yang solutif.

Sebenarnya langkah yang diambil oleh Anthony Giddens ini telah

dirumuskan oleh Soekarno dan sahabatnya dalam bentuk pendeklarasian Gerakan

Non Blok (GNB) yang mencoba melepaskan dunia ketiga dari pengaruh dua

ideology besar ini. Dalam organisasi Gerakan Non Blok ini, Soekarno dan

kawan-kawan dari Negara dunia ketiga lainnya kemudian menggagas pola baru

perlawanan yang diserangkan untuk kedua blok dominant tersebut. Dapat

dikatakan pada era Soekarno ini, peta politik dunia dibagi menjadi tiga kekuatan,

yakni Blok Barat, Blok Timur dan gerakan Non Blok.

Setelah perang terbuka antara dua kekuatan besar ini, muncullah konsep

perang baru yang disebut sebagai perang dingin. Yakni perang dengan tidak
36
Anthony Giddens, 2000, The Third Ways, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal. 5

125
menggunakan senjata. Perang dingin lebih didominasi dari persaingan intelektual

dan perlombaan pembuatan senjata. Perang dingin ini membuat negara-negara

yang tidak tergabung dengan dua kekuatan ini menjadi takut, apalagi dengan

persaingan senjata nuklir yang dalam skala besar.

Dalam hal ini, Francis Fukuyama sebagai pengamat konstelasi geo

politik dalam bukunya The End of History ‘memberikan ramalan’ bahwa setelah

runtuhnya perang dingin ditandai dengan satu diantara dua kekuatan yang

mendominasi maka akan muncul satu kekuatan besar yang menghegemoni dunia

(unipolar). Amerika Serikat, sebagai pihak yang diunggulkan dalam tesis

Fukuyama ini akan menjadi kekuatan terbesar yang pada nantinya akan

menguasai dunia. Yang perlu digaris bawahi dalam ‘ramalan’ Francis Fukuyama

ini adalah, menurutnya Amerika Serikat sebagai pihak yang menang akan

menjadi satu-satunya kekuatan yang menjadi penguasa dunia.

Namun ternyata apa yang diramalkan oleh Francis Fukuyama ini

bertolak belakang dari realitas yang terjadi sebenarnya. Setelah Amerika Serikat

memenangkan perang dingin ditandai dengan runtuhnya negara Uni Soviet.

Ternyata Amerika Serikat tidak menjadi satu-satunya kekuatan yang mampu

menghegemoni dunia.

Samuel P. Huntington dalam tesis terbesarnya The Clash Of

Civilization, and the Remaking New Order, mendeskripsikan secara rinci,

termasuk kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa saja terjadi dalam konstelasi

politik global yang sedang berlangsung ini.

126
Di awali dari runtuhnya Uni Soviet, maka secara resmi Amerika Serikat

memenangkan Perang yang selama berpuluh-puluh tahun berlangsung. Setelah

perang fisik semacam ini, kata Huntington37, dalam jangka waktu kedepan tidak

terlalu mendominasi perang seperti perang dingin, perang yang akan terjadi

adalah perang antar peradaban, bukan lagi perang antar negara dan seterusnya.

Setelah perang dingin berakhir politik internasional telah mengalami

beberapa perubahan besar yang cukup mendasar. Perubahan yang paling

mencolok adalah berubahnya system internasional bipolar menjadi suat system

yang multipolar.

Semula perang dingin kerangka politik internasional dibentuk oleh dua

negara adi daya, Amerika Serikat dan Uni Soviet, yang saling bertentangan.

Konflik antara dua negara adidaya ini berskala global karena baik AS maupun

US berusaha menarik negara-negara lain sebagai sekutu atau simpatisannya, atau

setidaknya mencegah agar suata negara tidak masuk dalam lingkungan pengaruh

pihak lawan. Konflik regional antara negara tetangga dan konflik nasional antara

berbgai kelompok kepentingan, tidak jarnag ikut terseret dalam pertarungan

antara kedua adi daya tersebut.

Dengan runtuhnya Uni Soviet, system politik bipolar yang telah hadir

sejak berakhirnya perang dunia II juga telah menjadi sejarah. Amerika Serikat

menjadi satu-satunya negara adi daya sehingga sempat menimbulkan

kekhawatiran bahwa politik internasional akan menjadi unipolar dibawah suata

Pax-Americana. Pada kenyataannya baik keinginan maupun kemampuan AS

37
Samuel P. Huntington, 2001, The Clash of Civilization, and the Remaking New Order, Mitra
Pustaka, Jogjakarta, hal. 8

127
untuk menjadi pemimpin tunggal dunia juga semakin memudar. Robohnya Uni

Soviet merupakan kemenangan bagi system politik AS. Namun kenyataannya,

AS juga harus membayar sangat mahal untuk dapat tampil unggul dalam perang

dingin.

Selama bertahun-tahun AS di bawah Partai Republik sangat kurang

memperhatikan masalah-masalah ekonomi dan sosial dalam negeri, sehingga

masyarakat AS mengalami kemunduran yang cukup tajam dalam bidangini.

Berakhirnya perang dingindilihat oleh masyarakat dan pemerintah AS yang baru

sebagai kesempatan untuk mengatasi masalah-masalah di dalam negeri,

sedangkan maslah internasional kurang mendapat perhatian yang serius.38

Inilah kecerobohan dan kekurangcermatan AS, dimana ketika setelah

memenangkan perang dingin, AS yang berobsesi menjadi penguasa dunia malah

berpaling dan berkonsentrasi mengurusi urusan dalam negeri di tengah

kejayaannya. Akibatnya, AS secara tidak langsung memberikan kesempatan

kepada negara lain untuk membangun kekuatan dan peradaban yang tidak

sepaham dengan AS, sehingga obsesi AS untuk menjadi satu-satunya penguasa

dunia mengalami gangguan.

Huntington menganalisis factor eksternal dari tubuh AS dengan

munculnya kekuatan yang multipolar di tengah konstelasi geopolitik hari ini.

Setelah runtuhnya Uni Soviet, negara-negara bekas Uni Sovet yang pada awalnya

berhaluan Islam kembali ke rumah lama. Negara-negara seperti Aljazair,

Turkmenistan, Uzbekistan, Afghanistan dan sebagainya kembali pada Islam.

38
M. Dawam Raharjo, e.d, 1997, Reformasi Politik: Dinamika Politik Nasional dalam Arus
Politik Global, PT. Intermasa, Jakarta, hal. 34

128
Dari berpuluh-puluh kekuatan dunia yang ada, Huntington kemudian

membaginya secara garis besar, kekuatan pertama, Kapitalisme Amerika, kedua

kekuatan China dan yang terakhir dan paling actual adalah kekuatan Islam.

China yang kaya akan kebudayaan klasik, mampu menyihir dunia

menjadi tercengang, bahkan hampir di setiap negara, budaya China tumbuh

subur, dimana-mana Klenteng dapat berdiri, ramalan-ramalah Feng Shui laku

laris di setiap pelosok dunia, produk-produk alternatif China bahkan menembus

pasar internasional dan mendominasinya. Di dukung dengan letak geografis yang

berpotensi untuk menjadi central pasar internasional, semakin memposisikan

China, juga dengan kekuatan ekonomi, sosial budaya dan lainnya yang tidak

lekang oleh zaman. Ini semua membuat Huntington menghitung China sebagai

kekuatan yang akan mendominasi dunia, meskipun dengan strategi yang halus.

Sementara itu, Islam, yang sampai hari ini menjadi kekuatan kiri yang

paling berbahaya bagi Amerika Serikat, disamping kiri lainnya, dengan jumlah

penganutnya yang makin lama makin meningkat, membuat Islam semakin di

perhitungkan juga. Apalagi dengan bangkitnya kekuatan negara-negara Islam.

Iran yang dipimpin oleh pemimpin ‘keras kepala’ terhadap AS, Mahmoud

Ahmadinejad, membangkitkan program nuklir, serta ilmu pengetahuan modern

lainnya.

Bukan itu saja yang membuat Islam diperhitungkan oleh Huntington,

Islam, khususnya yang ada di Timur Tengah, merupakan negara-negara penghasil

minyak bumi yang besar dan potensial memenuhi kebutuhan minyak dunia.

Selain minyak bumi, barang tambang lainnya Islam juga mendominasi.

129
Samuel P. Huntington sebagai seorang intelektual Amerika Serikat serta

penasehat Gedung Putih telah berkiprah banyak dalam wilayah percaturan politik

dunia. Selain dari buku The Clash of Civilization yang dimana dalam buku ini

dia memprediksikan kondisi sosial politik masyarkat pasca perang dingin. Serta

ramalan akan adanya benturan antar peradaban antara Barat yang teridi dari

WASP (White Anglo-Saxon Protestant) dan Timur yang teridir dari Islam dan

Confucianisme.

Pada buku ini, Huntington tidak secara terbuka mengatakan bahwa

Islam dan Confucianisme merupakan musuh terbesar Amerika Serikat (Barat),

akan tetapi ketika buku selanjutnya diluncurkan (Who Are We?: The Challenges

to America's National Identity, New York: Simon & Schuster, 2004) menyatakan

dengan tegas bahwa musuh utama Amerika Serikat setelah perang dingin adalah

Islam Militan. Serangannya tidak hanya Islam radikal, tetapi juga komunitas

Islam yang tidak mau mengikuti Bush dianggap teroris. Bush dalam persoalan ini

membaca hitam putih, melalui pernyataannya, "either you are with us or you are

with the terrorists", jelas menunjukkan bahwa Bush memberikan kesempatan

kepada setiap Negara dan organisasi massa lainnya yang memiliki jaringan

global untuk menentukan sikap apakah akan mengikuti garis Bush atau

mengikuti garis Islam. Antara kekuatan jahat (evil) dan kekuatan baik (good).

Bagi Bush dan Huntington, tragedi 11 September 2001 juga telah

membuka kemungkinan berubahnya parameter yang digunakan AS dalam

menilai sebuah negara. Sekarang ini, AS cenderung lebih hirau pada masalah

terorisme ketimbang isu demokrasi dan hak asasi manusia. Kenyataan bahwa

130
Presiden Pervez Musharraf di Pakistan dan militer Thailand di bawah Panglima

Angkatan Darat Jenderal Sonthi Boonyaratglin naik ke tangga kekuasaan melalui

kudeta militer tidak lagi menjadi kendala dan penghalang bagi AS untuk menjalin

aliansi antiterorisme dengan kedua negara itu.

Dalam persoalan ini, Huntington mendukung agar AS/Barat melakukan

preemptive strike terhadap kaum militan. Nasihat Huntington memang telah

dijalankan Gedung Putih dengan menyerang Irak dan Afganistan serta

mengintervensi Palestina, apalagi pada 2002 doktrin preemptive strike (serangan

dini) dan defensive intervention (intervensi defensif) telah secara resmi

diumumkan. Kekuatan Islam militan di berbagai belahan bumi pun ''disikat'' oleh

AS, dan yang disebut sebagai Islam militan bukan hanya Usamah bin Ladin atau

kelompok Al-Qaidah, melainkan mencakup juga banyak kelompok lain yang

bersifat negatif terhadap AS.

Pandangan Huntington mempengaruhi Bush, terutama persepsi bahwa

apa yang dulu dilakukan oleh komunis internasional juga dilakukan kini oleh

kelompok-kelompok Islam militan, seperti aksi protes dan demonstrasi damai,

dan partai-partai Islam ikut bertanding dalam pemilihan umum. Kalangan Islam

militan juga melakukan kerja-kerja amal sosial dan kultural.

Analisis terhadap Amerika hari ini dan kedepan sebenarnya merupakan

satu kemenangan bagi Negara-negara berkembang karena lambat laun sekutu

Amerika akan lepas dari persekutuan. Australia misalnya, yang dahulu menjadi

sekutu utama, sehidup semati dengan Amerika setelah John Horward yang

menjadi Perdana Menteri cukup lama di negeri Kanguru telah kalah dengan

131
kekuatan Partai Buruh dan dalam kepemimpinan Partai Buruh ini Australia akan

menempatkan Amerika sama dengan hubungan bilateral dengan Negara

manapun. Kerja sama bilateral yang akan lebih ditingkatkan lagi oleh Australia

adalah dengan China.

Australia dan China akan menguatkan basis militer, social, politik,

pendidikan dan ekonomi masing-masing Negara dengan kerja sama bilateral

yang lebih akrab lagi, bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi sekutu.

Kedua Negara ini akan terjalin intimitas hubungan yang tinggi karena Partai

Buruh Australia dan Partai Komunis China memiliki korelasi yang mutualisten.

Dimana ada keterkaitan secara politik dan gerakan diantara keduanya.

Australia sendiri, dalam waktu dekat akan menarik tentaranya yang

berada di Irak yang membantu Amerika pada perang Irak tahun 2003 lalu. Ini

merupakan wujud konkrit Australia mencoba menjauh dari hubungan intim

bilateral Negara dengan negeri Paman Sam.

Sementara itu, Amerika dibawah pengaruh Bush yang masa jabatannya

hampir habis akan kehilangan beberapa sekutu, sementara itu, senat dan

parlemen Amerika telah dikuasai oleh Partai Demokrat, sehingga kemungkinan

besar pasca Bush yang akan menduduki jabatan Presiden berasal dari Partai

Demokrat yang kemungkinan akan lebih halus dalam hubungan internasional,

tidak ambisius seperti yang dilakukan Bush terhadap Negara lain yang

mengklaim diri Amerika menjadi Polisi Dunia (World Police) yang mempunyai

hak menindak kasus hokum internasional dengan sanksi sekehendaknya.

132
Islam Indonesia tidak ketinggalan, dengan berbagai corak yang khas,

menjadikan Islam Indonesia di tempatkan di garda depan, apalagi di dukung

dengan status Indonesia sebagai negara dengan jumlah penganut Islam terbesar di

dunia.

C. Geneologi Sosial Politik (Geosospol)

Setiap upaya untuk mengatasi persoalan yang terjadi di Indonesia tanpa

melihat keterkaitan dengan konstelasi global, niscaya akan menemukan

kegagalan yang mutlak. Karena, Indonesia sebagai negara yang berdaulat, tidak

bisa lepas dari konstelasi global internasional. Bahkan ada yang mengatakan

sejarah bangsa Indonesia tidak lain adalah permainan dari pertarungan

kepentingan sosial, politik, ekonomi dan wacana yang bermain di dunia

internasional.

Sedikti menengok pada masa pra kemerdekaan (1596) bangsa

asingmenginjakkan kaki ke Nusantara dan menanamkan pengaruhnya. Jatuhnya

kedaulatan nusantra ketangan asing ditandai sejak berdirinya VOC pada tahun

1602. kehidupan bangsa Indonesia dikendalikan oleh penjajahan bangsa asing.

Pada abad ke-19 terjadi perubahan fundamental di Eropa, yaitu sejak

pemikiran Ernest Renant. Tentang negara bangsa (nation state) mempengaruhi

kawasan Eropa dan berdirilah berbagai Negara bangsa di Eropa. Terjadinya

perubahan ini sangat berpengaruh pada negara-negara jajahan termasuk Hindia

Belanda. Selain itu, pengaruh terhadap Hindia Belanda terlihat sejak keluarnya

133
kebijakan poltik etis oleh anggota parlemen Belanda yang bernama C. Th. Van

Deventer.

Dampak yang diperoleh penduduk pribumi sejak munculnya konsep

negara bangsa dan kebijakan politik etis adalah kaum pribumi dapat memperoleh

pendidikan modern ala Barat. Yang mulanya hanya dinikmati oleh kalangan

tertentu saja (golongan priyayi) kaum priyayi rendahanpun dapat menikmati

pendidikan tersebut, sehingga ada perubahan signifikan struktur sosial

masyarakat Hindia Belanda.

Pengaruh pemikiranala Barat pada masyarakat pribumi yang

mengenyam pendidikan ala Barat ini akhirnya munculnya semangat nasionalisme

dan berdirinya organisasi-organisasi kepemudaan dan kemasyarkatan (meskipun

masih bersifat island people), seperti Boedi Oetomo (1908), Jong Sumatea, Jong

Islament Bond, Jong Cilebes, SI, Muhammadiyah dan organisasi lainnya.

Ditengah suasana konstelasi politik global yang tidak menentu.

Akhirnya bangsa Indonesia mengkonstruksikan faham kebangsaan yang utuh dan

lahirlah Sumpah Pemuda (1928) yang kemudian memunculkan wacana Negara

Bangsa Indonesia. Sementara itu, antara berbagai negara imperialis semakin

menajam dan mencapai puncaknya pada Perang Dunia II (1939). Indonesia

menjadi rebutan negara-negara yang sedang bertikaian untuk menjadikan

pangkalan dan mempertahankan kepentingan geopolitik dan geo strategi masing-

masing pihak. Ditengah suasana perang asifik yang memanas dijadikan moment,

oleh para aktivis gerakan, untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

134
Dari sedikit penelusuran akar histories bangsa, terkait dengan posisi

Indonesia dalam konstelasi geopolitik sebelum kemerdekaan Indonesia. Ada satu

hal yang perlu di garis bawahi bahwa keberadaan Indonesia dalam konstelasi

geopolitik tidak bisa terlepas begitu saja dari geo strategi oleh pihak-pihak global

yang mendominasi, artinya ada pengaruh-pengaruh dari dunia internasional

dalam wilayah sosio antropologis politis di Indonesia. Setidaknya ada empat

pengaruh global yang mewarnai dinamika sosio antropologis politis di Indonesia,

yakni, Indianisasi, Chinaisasi, Eropanisasi dan Islamisasi.

Adanya pengaruh India di Indonesia tidak bisa dilepas begitu saja,

warna bernuansa India telah mengakar kuat di Indonesia, hal ini tidak terlepas

dari pernah berjayanya agama Hindu dalam sejarah keagamaan nasioal. Agama

Hindu yang menjadi agama mayoritas di India, telah berkembang pesat di

Indonesia. Dan yang paling dapat dilihat secara eksplisit adalah adanya

kebudayaan India yang justru berkembang pesat di Indonesia, khususnya Jawa,

yakni seni patung, seni Candi, seni pewayangan, seni memahat dan alat-alat

musik yang bernuansa India lainnya. Ini menjadi hal yang menarik untuk dikaji.

Selain itu, ada satu hal yang kurang popular dalam sejarah nasional,

tetapi toh tetap membuat pengaruh India di Indonesia terlihat lebih jelas juga.

Pemberontakan kaum Sepoy di Jawa Tengah tahun 1815. pada tahun 1945 ketika

orang Inggris mendarat di Surabaya yang membawa kontingen-kontingen India-

Bengali, setelah merebut Yogyakarta, ternyata Kapten Subandar atau Dhukul

Singh terkejut melihat bahwa Jawa adalah tanah Brahmana dan Sunan adalah

keturunan Rama.

135
Namun dari semua itu, yang paling membuat pengaruh India di

Indonesia terenal hingga dataran global adalah peneliti-peneliti Eropa sebelum

abad ke-19 yang melakukan penelitian di Indonesia seperti Raffles yang

mengangkat Indianisasi di Indonesia sebagai topik yang paling ia gemari. Hal ini

dia tunjukkandengan mengaitkan Jawa dengan kemaharajaan India Inggris.

Misalnya, dalam buku The History of Java, disini ia tampilkan gambar-gambar

patung yang bernuansa Hindu India dengan berbagai coraknya.

China datang ke Indonesia kurang lebih pada abad ke-13/14. Namun

yang penting dri terjadinya perpaduan antar kedua kerajaan itu adalah masa

dinasti Ming (China) dengan Kerajaan Sriwijaya di Sumatera dan Majapahit di

Jawa.

Masuknya masyrakat China ke Indonesia, berdasarkan bukti sejarah,

ditandai dengan ditemukannya makam putri Campa (tertulis 1370). Putri Campa

dalam sejarah nasional adalah saudara raja Pandita dan Raden Rahmat. Keduanya

aalah anak dari keturunan Arab, yang telah mempersuntung gadis setempat. Putri

Campa adalah muslim termasyhur yang datang untuk menikah dengan seorang

pangeran Majapahit. Adapun ia dimakamkan di Trowulan pada tahun 1448.

Versi lain sejarah, mengatakan bahwa masyarakat Indonesia adalah

berasal dari dataran China yang mengungsi secara berangsur-angsur ke wilayah

selatan yang lebih subur untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Pendapat ini diperkuat dengan masyarkat Indonesia pada umumnya termasuk ras

Mongoloid dengan ciri-ciri bertubuh pendek, warna kulit sawo matang, mata sipit

dan memiliki rambut berwarna hitam pekat.

136
Terlepas dari semua itu, yang menjadi persoalan adalah, adanya

pengaruh kebudayaan China di Nusantara. Banyak sudah hal-hal yang berbau

China di Indonesia, mulai dari menjamurnya Barongsai, pakaian muslim (Baju

Koko) yang mengambil corak pakaian adat China (di populerkan oleh

Laksamana Cheng Ho), hingga pada diresmikannya agama Konghucu oleh

Presiden Abdurrahman Wahid sebagai agama yang sah di Indonesia.

Demikian halnya dengan budaya Indonesia yang terpengaruh warna

China seperti tata budaya masyarkat, Indonesia merupakan lahan yang subur

untuk perkembangan budaya China sampai hari ini, ditandai dengan maraknya

peringatan-peringatan seperti tahun baru Imlek, kiriman Angpao, klenteng-

klenteng, lampion, hingga pada makanan khas China yang berkembang dan

berproduksi sampai-sampai orang Indonesia mengatakan bahwa itu merupakan

produk local.

Orang Eropa yang pertama kali menginjakkan kaki ke nusantara adalah

Marcopolo. Pelaut tangguh ini memberi nama untuk pulau Jawa sebagai Java

Mayor dan Sumatera sebagai Java Minor.

Pengaruh Eropa dalam tata masyarakat Indonesia terlihat sangat jelas,

apalagi ketika menilik pada negara kita yang berabad-abad mengenyam

imperialisme dan kolonialisme dari negara-negara Barat. Negara Barat yang

pengaruhnya paling mencokol adalah negara Belanda, hal ini disebabkan negara

Belanda selama kurang lebih 3,5 abad menjajah negeri kita ini.

Dimulai dari arsitektur bangunan model Barat yang kemudian banyak

ditiru untuk model bangunan modern saat ini. Dengan tiang yang besar, dinding

137
yang tebal, pintu tinggi lebar, serta banyak gambar-gambar bernuansa seni pada

kaca-kaca jendela dan seterusnya.

Warisan kolonial lainnya adalah undang-undang dan system

bermasyarakat yang berlaku di negara kita. Undang-undang banyak sekali yang

sampai hari ini merupakan turunan dari warisan zaman londho. Sementara system

feodalisme, kapitalisme dan exploitation de I’home par I’home masih mengakar

di tengah masyarkat kita sampai hari ini.

Pengaruh-pengaruh Eropa, selain berupa peninggalan fisik diatas, ada

satu hal yang penting, yakni ideology dan dasar pemikiran. Dimana banyak sekali

intelektualis Indonesia yang berkiblat pada kebudayaan Barat. Katakanlah

Mohammad Hatta, Sutan Syahrir dan kawan-kawannya yang menempuh

pendidikan di Belanda. Atau Presiden Soekarno, Tan Malaka, H. Agoes Salim,

HOS Tjokroaminoto, Sukarni dan tokoh nasional lainnya yang melakukan

peletakan dasar negara Indonesia, dan tentunya suasana Belanda masih sangat

kental terasa. Mereka itulah yang menggunakan kendaraan pendidikan ala Eropa.

Islam masuk ke Indonesia memberikan corak masyarkat yang paling

menonjol, dimana disini Islam mencoba mengubah tata sosial yang sebelumnya

telah mapan dan kemudian di kemas ulang dalam tatanan yang lebih menarik. Di

Indonesia ada dua versi masuknya Islam, pertama dimulai dari perjalanan It Sing

dari China yang dalam catatannya menulis bertemu dengan seorang yang sedang

melakukan gerakan-gerkan aneh serta bacaan-bacaan aneh pula, orang ini

berperawakan Arab, serta menggunakan pakaian mirip orang-orang Arab. It Sing

memulai perjalanannya ini sekitar abad ke tujuh masehi.

138
Namun catatan sejarah lebih menyepakati versi yang kedua yakni

dengan bukti ditemukannya makam Fatiman binti Maimun yang bertuliskan

sekitar abad kesebelas masehi. Disini kemudian mengakar pada berdirinya

kerajaan Samudera Pasai di Aceh dan Kerajaan Demak Bintoro, dan kerajaan

Banten di Jawa yang bercorak kepemimpinan Islam. Disusul kemudian

munculnya Mataram Islam, Gowa, Talo dan seterusnya.

Pengaruhnya berupa banyaknya peninggalan-peninggalan sejarah yang

bercorak Islam seperti Masjid Agung Demak, Menara Masjid Kudus, makam-

makam Sunan yang tergabung dalam Walisongo, pesantren-pesantren klasik,

kebudayaan dan kesenian masyarakat, lagu-lagu (tembang) yang bernuansa

religi, dan sebagainya. Ini dapat dimaklumi bersama mengingat perkembangan

Islam di Indonesia termasuk dalam kategor cepat dan besar di dunia.

D. Islam Indonesia

Sejarah masyarakat Indonesia, sebelum sampai jauh memperbincangkan

fenomena Islam Indonesia, telah ada dan berkembang ribuan tahun sebelum

masehi. Ada sejarah panjang yang dimiliki bangsa Indonesia yang banyak

tertutup oleh sejarah, tidak pernah diungkap dan saling mengungkap sejarah

masa-masa Indonesia di era ribuan tahun sebelum masehi, kalaupun disebutkan

persoalan tersebut, hanya pada grand theme saja tanpa menyentuh hal yang lebih

detail, termasuk tokoh-tokohnya secara jelas.

Kekuarangan referensi menjadi satu alasan kuat tidak diungkapkannya

khazanah kebesaran sejarah nusantara pada era ini. Peninggalan yang ada hanya

139
sebatas peningalan-peninggalan fisik yang telah membantu dan terkubur di alam

raya yang luas ini. Tetapi ada beberapa hal yang masih harus kita banggakan

dalam kaitannya mengenai sejarah kebangsaan yang terkubur ini, yakni warisan-

warisan sejarah yang tersimpan rapi dalam alam bawah sadar kita.

Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya Islam

merupakan negara yang cukup makmur dengan tingkat keberagamaan yang

tinggi. Masyarakat Indonesia menempatkan agama pada titik tertinggi dalam

relung kesadarannya. Segala bidang kehidupan didasar atas dasar agama,

dihukumi oleh agama.

Menurut catatan sejarah dalam versi Prof. Soediman Kartohadiprojo,

SH., masyarakat Indonesia berasal dari suku Polinisia saja (Prof. Soediman

Kartohadiprojo, 1995). Sementara Agus Sunyoto dalam “Pitutur” mengatakan

bahwa orang Indonesia asli adalah pertemuan dari dua suku: suku Polinisia yang

berasal dari India yang punya kegemaran merampok, menjarah dan punya

pemahaman mistik yang sangat kental, dan ras yang dibawa adalah ras Negroid.

Kemudian bertemu dengan suku Qunlun, yakni pecahan ras Mongoloid yang

kalah perang dan terusir dari daratan Mongolia.

Perjalanan sejarah akan dimulai dari asal usul manusia Indonesia. Dari

dua perkawinan ras inilah lahir ras Javanisme yang berkarakter mistik yang

kemudian pada prosesnya muncul paham animisme dan dinamisme, suka

menjarah dan bermental kalah. Dalam psiko-Historis era sekarang, kita dapat

mengatakan bahwa ras ini melahirkan bangsa yang tidak punya mental dasar

140
persaingan (Agus Sunyoto, Kebudayaan Indonesia Hasil Asimilasi Aneka

kebudayaan).

Pada awal perkembangannya, masyarakat Indonesia mengenal agama

(kepercayaan) Kapitayan39, yakni sebuah aliran kepercayaan yang menyembah

terhadap Sang Hyang Taya. Aliran ini berkembang pesat pada saat suku Weda

(dalam beberapa referensi Suku Weda dianggap sebagai suku asli bangsa

Indonesia dari ras Negroid) menguasai tatanan social politik di Indonesia

sebelum kedatangan kaum migran besar-besaran dari Yunan, China Selatan pada

kurang lebih enam ribu tahun sebelum masehi.

Kapitayan berasal dari kata dasar Taya yang berarti kosong. Kosong

dalam filosofi kapitayan adalah menyembah kepada Sang Hyang Taya yang tidak

nampak dalam pandangan mata fisik, namun keberadaan Sang Hyang Taya dapat

dirasakan dan dilihat dalam bentuk fisik berupa alam raya. Sang Hyang Taya,

dalam pandangan mereka, adalah hal yang transenden, yang memiliki pengaruh

besar sebagai pencipta, penjaga sekaligus penghancur alam raya beserta semua

kekayaan yang ada didalamnya.

Ritus-ritus keagamaan yang dilakukan oleh penganut kapitayan adalah

sembahyang (Sembah Sang Hyang) tiga kali dalam sehari, yakni pada saat

matahari terbit, matahari diatas kepala dan pada saat matahari terbenam.

Sembahyang dilakukan di sebuah bangunan peribadatan dengan bentuk kotak

persegi empat dengan satu pintu berbentuk persegi panjang dengan bagian atas

39
Keterangan dan informasi mengenai aliran kepercayaan/agama Kapitayan penulis peroleh dari
wawancara langsung dengan Agus Sunyoto serta mengikuti pelatihan-pelatihan yang beliau
menjadi pematerinya terkait dengan sejarah masyarakat Indonesia. Untuk pertama kali,
keterangan ini penulis dapatkan dari Pelatihan Kader Lanjut PKC PMII Jawa Tengah tahun 2007
di Kebumen.

141
setengah lingkaran yang memanjang kedalam. Tempat ini mereka menamainya

dengan langgar. Orang yang masuk didalamnya harus dalam keadaan suci dan

harus melepas alas kaki yang dikenakannya.

Dalam setiap langgar, ada alat utama yang digunakan sebagai media

mengumpulkan masyarakat untuk bersembahyang berupa beduk yang terbuat

dari kayu berlubang dengan lapisan kulit binatang. Alat ini dibunyikan pada saat

menjelang prosesi persembahyangan dimulai. Bentuk langgar yang kotak, dalam

keterangan selanjutnya, adalah representasi dari kepercayaan kadhang papat

kalimo pancer, yakni secara eksplisit melambangkan empat penjuru mata angin

dengan satu titik sentral (yang transenden) mengarah ke bagian atas. Dalam

makna implisitnya, kadhang papat kalimo pancer lebih mengarah pada

kesetaraan ruang fisik dan ruang bathin serta kaitannya mengenai transendensi

hubungan manusia dengan Sang Hyang Taya.

Agama kapitayan mengenal istilah to/tu. Setiap kata yang mengandung

kata ini adalah ajaran-ajaran yang dimiliki oleh kapitayan. Sebagai contoh,

ajaran-ajaran kebaikan mereka menyebutnya sebagai tuah, sedangkan ajaran

jahat mereka menyebutnya sebagai tulah, representasi kekuatan baik sebagai

tuhan, dan pernyataan atas kekuatan jahat disebut hantu.

Dalam ritusnya, penggunaan kata to/tu masih terlihat, keberadaan Sang

Hyang Taya direpresentasikan dalam bentuk watu, tumbak, tugu, tuk dan lainnya.

Sementara itu dalam upacara keagamaan mereka menggunakan sesaji yang

disebut tumbal (yang paling ekstrim) dan ditaruh kedalam tumbu. Sang Hyang

Taya dalam kepercayaan mereka adalah Tuhan yang memiliki kekuatan gaib

142
yang mampu menciptakan, merawat dan bahkan menghancurkan alam. Sehingga

untuk mencegah penghancuran itu, berbagai ritus keagamaan diadakan.

Peletak dasar agama kapitayan, dalam sejarah disebutkan, bernama

Semar (Bodronoyo). Semar selain mengajarkan tentang ritus peribadatan seperti

itu, juga mengajarkan tentang puasa, balasan kebaikan berupa surgaloka dan

balasan atas tindakan jahat manusia berupa nerakasengkala. Dia juga

mengajarkan tentang anjuran berbuat baik terhadap sesama manusia karena pada

akhirnya nanti setelah meninggalnya manusia akan ada kehidupan selanjutnya

yang merupakan balasan atas kehidupan sekarang di dunia.

Sementara itu, dalam referensi lain disebutkan, ajaran kapitayan ini

disebut sebagai ajaran-ajaran animisme dan dinamisme pada akhir abad ke-19

dan abad ke-20. Dengan ditemukannya peninggalan-peninggalan sejarah yang

dapat telah membatu oleh para ilmuwan rasional dari Barat.

Pada masa pra sejarah, dengan bukti diketemukannya fosil manusia

purba, negara kita telah berpengalaman lebih dalam bidang keagamaan. Terbukti

dengan diketemukannya fosil berupa menhir, dolmen, serta alat pemujaan

lainnya. Bentuk agama mereka adalah, berdasarkan penelitian dari sosiolog,

adalah animisme dan dinamisme. Animisme dan dinamisme begitu kuat

menggelora dalam relung kesadaran orang-orang purba, segala sesuatu yang

mereka lakukan sering kali atas nama kepercayaannya ini.

Belum selesai tradisi animisme dan dinamisme yang berkembang di

Indonesia, datanglah agama Hindu Budha, dimana kedua agama ini juga hampir

sama ajarannya tentang konsep ritual peribadatannya. Hindu Budha menjadi

143
sesuatu yang mudah di terima oleh masyarakat saat itu, karena apa yang

terkandung didalam ajaran Hindu Budha kebanyakan merupakan perkembangan

lebih lanjut dari apa yang telah mereka percayai sebelumnya. Tata sosial lambat

laun semakin berubah.

Perkembangan Hindu Budha yang sangat pesat memberikan warna

tersendiri bagi kebudayaan masyarkat Indonesia. Seni-seni berupa seni pahat dan

seni mematung direpresenatasikan dengan membuat Candi Borobudur, Candi

Prambanan, Candi Dieng, Candi Mendut dan sebagainya. Ajaran-ajaran berupa

puasa ngrowot (puasa tidak makan nasi), puasa Nyirih (Puasa tidak memakan

sesuatu yang bernyawa), pemberian sesaji, pelestarian terhadap lingkungan, seni

pewayangan dan seterusnya mewarnai kebudayaan Indonesia dan merupakan

peningkatan dari kebudayaan animisme dan dinamisme yang sebelumnya telah

tinggi.

Setelah maju dan berkembangnya agama Hindu Budha di Indonesia,

seiring dengan terbukanya nusantara sebagai jalur perdagangan paling potensial

di dunia, maka peleburan budaya antara budaya asli nusantara dengan budaya

asing yang masuk ke nusantara membuat perbendaharaan budaya nusantara

semakin kompleks. Kemajemukan budaya ini kemudian membuat satu daerah

dengan daerah yang lain memiliki perbedaan yang mencolok. Satu wilayah yang

kebetulan sering disinggahi oleh pedagang-pedagang asing memiliki corak

budaya yang lebih maju dibandingkan dengan wilayah lain yang sama sekali

tidak tersentuh oleh pedagang-pedagang asing. Ini membuat semakin mewarnai

multikuluralisme.

144
Sisi lain, selain kemajuan budaya, dengan seringnya masuk pedagang

dari Gujarat, India dan Persia yang menganut agama Islam, maka secara

perlahan-lahan kebudyaan nusantara khususnya pesisir mengalami perubahan.

Semakin meningkat, dan semakin mendekati pada kebudayaan Islam pada

umumnya. Hal ini dikarenakan di setiap Bandar perdagangan kerajaan pasti ada

syahbandar yang bertugas sebagai mediator bahasa antara daerah yang satu

dengan daerah yang lain.

Wilayah yang banyak melakukan transaksi perdagangan dengan

pedagang dari Gujarat, Persia dan India harus memiliki syahbandar yang

memahami dan mampu berkomunikasi dengan bahasa itu agar terjadi transaksi

yang benar-benar adil, serta tidak ada penipuan salah satu diantara keduanya.

Syahbandar yang diangkat oleh kerajaan atau bahkan sampai level

kadipaten, biasanya diambil dari orang asing yang memahami dan mampu

berkomunikasi dengan bahasa local. Misalnya, orang Gujarat yang pandai

berbahasa Jawa atau Melayu akan diangkat menjadi syahbandar di wilayah

Tuban, mengingat Tuban adalah terminal perdagangan yang cukup ramai setelah

Malaka.

Syahbandar memiliki kedudukan yang tinggi setingkat menteri untuk

saat ini, artinya kalau boleh menyamakan, posisi syahbandar sama dengan mentri

Luar Negeri atau setidaknya Juru Bicara Kenegaraan. Artinya dia memiliki

kebebasan yang mutlak atas wilayah tertentu yang menjadi garapannya.

Didukung gaya kehidupan masyarakat yang masih fedoalis, maka seolah posisi

145
syahbandar iBarat orang yang memiliki otoritas penuh terhadap masalah

hubungan eksternal dengan negara lain.

Orang Gujarat yang kebanyakan beragama Islam, yang diangkat

menjadi syahbandar, dengan bekal jabatan serta didukung gaya kehidupan

feodalistik masyarakat, maka lambat laun, tata sosial masyarakat terpengaruh

dengan gaya kehidupan syahbandar, dan secara perlahan, mereka mulai

meninggalkan kebudayaan Hindu Budha mereka dan masuk Islam.

Selain itu, banyak syahbandar atau bahkan pedagang dari Gujarat dan

wilayah Arab lainnya yang kemudian menikah dengan gadis pribumi, sehingga

model penyebaran agama melalui pernikahan banyak sekali dilakukan.

Lambat laun dari hal-hal yang semacam ini kemudian menimbulkan tata

sosial yang berlainan dengan budaya asli mereka. Pernikahan budaya antara

kebudayaan Hindu Budha dengan Islam mulai nampak, munculnya bentuk baru

pendidikan keberagamaan yang merujuk pada system pembelajaran ala Hindu

Budha banyak dilakukan oleh penyebar agama ini. Termasuk juga bentuk

bangunan masjid yang mirip dengan kebudayaan bangunan ala Hindu.

Ditarik pada wilayah agama/aliran kepercayaan Kapitayan, Islam yang

muncul di Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh agama ini. Sebagai contoh,

adanya langgar (Mushola) sebagai tempat peribadatan. Pemberian nama puasa

untuk menyebut ajaran asy syiyam, menyebut Jannah sebagai

swargo/swargoloko, menyebut nerokosengkolo/neroko sebagai perlambangan

atas an nar. Bedhuk adalah identitas utama Islam Indonesia yang merupakan

salah satu peninggalan penting agam Kapitayan yang digunakan untuk

146
mengumpulkan orang-orang sebelum bersembahyang. Demikian pula untuk

menyebut kata shalat dengan mengadopsi istilah Kapitayan yakni sembahyang.

Untuk masuk kedalam mushollah (langgar) harus melepas alas kaki merupakan

salah satu khazanah yang dimiliki oleh agama Kapitayan, dalam ajaran Islam

yang lebih dikenal adalah membersihkan sepatu/sandal sebelum masuk ke tempat

peribadatan, dan upaya menganjurkan untuk melepaskannya adalah merupakan

perpaduan antara Kapitayan dengan Islam.

Dalam budaya pewayangan hingga pada khazanah lainnya yang dimiliki

oleh orang-orang Indonesia yang telah berkembang pesat sebelumnya, oleh para

founding fathers Islam di Indonesia juga sedikit demi sedikit mulai ditarik dan

diubah konsepnya agar sesuai dengan hokum-hukum islam. Kita mengenal

adanya wayang yang merupakan warisan kebudayaan suku arya dan dravida di

zaman prasejarah di India. Catatan-catatan ceritanya oleh para founding fathers

negara kita ‘dirapikan’ agar tidak melenceng dari ajaran Islam, Karena terbukti

banyak cerita dalam wayang yang bertentangan dengan hokum islam seperti

budaya poliandri dan sebagainya.

Kita juga setidaknya mengenal tambahan tokoh wayang yang paling

popular di Indonesia, yakni punakawan. Dalam versi aslinya, ponakawan tidak

ada sama sekali. Munculnya Semar, Petruk, Bagong dan Nala Gareng adalah

kekreatifan dari para founding fathers Islam di nusantara. Pemberian nama

punakawan diambil dari istilah samir (Semar) fatru’ (Petruk) mabagha

(Bagong) ‘ala ghair (Nala Gareng). Istilah ini berarti menyingsingkan lengan

baju (cancut taliwondho), meninggalkan kejelekan menuju kebenaran.

147
Intinya, Islam di Indonesia merupakan Islam yang mengambil Al

Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas sebagai rujukan utama hukum Islam. Yang

kemudian ini semua diakulturasikan dengan budaya local yang ada. Dari sinilah

memunculkan cirri kas khusus yang memberikan warna berbeda dengan Islam

daerah lainnya seperti India, Mesir, Arab Saudi, Iran, Irak dan sebagainya.

E. Konstelasi Geo Politik dan Geografi Sosio Relgius Indonesia

Menurut Alvin Toffler40, masa depan seperti yang direfleksikan oleh

perkembangan Amerika Serikat pada umumnya Barat, memasuki apa yang ia

sebutkan revolusi Gelombang ketiga (Third Wave). Gelombang pertama

dicerminkan oleh peradaban pertanian, ketika manusia mulai hidup menetap.

Keluarga bersar (Extended) yang merupakan cirri gelombang pertama ini, hidup

bertani sekedar untuk memenuhi kepertluan sehari-hari. Dijumpai pembagian

pekerjaan yang sederhana, tetapi juga kasta dan kelas masyarakat muncul.

Kedudukan seseorang bergantung pada status keluarga. Kekuasaan otoriter. Ada

juga perdagangan, tatapi terbatas, dan pelautpun berlayar tetapi tidak jauh-jauh.

Gelombang kedua dimulai dengan revolusi industri abad ke-17. revolusi

ini membawa perubahan dalam hidup manusia, dan dengan industri manufaktur,

inovasi mesin uap, listrik, mesin tik, alat pendingin dan sebagainya, hidup

dipermudah. Lambat laun apa yang kini kita pergunakan dihasilkan: Surat Kabar,

bioskop, kereta api bawah tanah, pesawat terbang. Kota-kota industri

40
Abaz Zahrotien, Kiri Islam vis a vis Peradaban Barat,
http://abazzahra.blogspot.com , browsing at. 17.00 pm, may, 10th. 2007.

148
bermunculan. Akhirnya,ilmu dan teknologi mengaitkan segala sesuatu di dunia

ini, melampaui jarak dan waktu: dunia menyatu.

Pada masa gelombang keduai ini agama pada umumnya menjadi

terbatas, ia merupakan masalah individu, perseorangan. Dalam pada itu

agnosticism dan atheism juga bertambah menyebar.

Gelombang ketiga ditandai oleh dasar enerji baru yang berasal dari

sumber-sumber yang dapat diolah baru. Revolusi baru ini akan juga ditandai oleh

industri-industri baru, perlatan elektronik dan komputer yang lebih canggih,

industri pesawat lintas udara, industri lautan dalam, dan sebagainya.

Peradaban gelombang ketiga ini akan memperkenalkan flecitime: jam

kerja yang tidak ditetapkan untuk para pekerja, atau para pekerja bisa memilih

jam kerjanya sendiri. Memang ada bagian jam kerja yang pasti, tetapi inipun

bergantung pada para pekerja itu pula. Akan dijumpai juga percampuaran fungsi

antara konsumen dan produsen: prosumer sehingga konsumen juga akan

memproduksi berbagai buatannya sendiri. Ini berarti konsumen juga menjadi

produsen. Berkembang pula globalisasi produksi sebagai hasil ekspansi

korporasi-korporasi transnasional masa kini.

Intinya, pendapat Toffler tentang rumah tangga sebagai central

kehidupan, di dalam rumah, proses produksi, distribusi hingga konsumsi dapat

dengan mudah dijumpai setiap saat. Rumah menjadi sumber kehidupan. Bukan

sisi ini yang terpenting, tetapi yang lebih penting Toffler memandang bahwa

masa depan dunia akan berkembang sejalan dengan pandangan dan visi Barat.

Pemikiran tentang tiga gelombang peradaban, sama sekali tidak menyentuh

149
perdaban lain seperti China yang telah berusia ribuan tahun, India yang pernah

berjaya di zaman prasejarah, dan yang paling ‘kurang ajar’ ia melupakan

peradaban Islam yang telah begitu berjasa dalam perkembangan Barat hingga

hari ini.

Pada tahun 1944, apa yang kita kenal sekarang sebagai MNC (multi

National Coorporation) dan TNC (Trans-National Coorporation) berdiri sebagai

dampak munculnya perusahaan-perusahaan besar di negara-negara maju dan

secara perlahan masuk ke negara-negara berkembang. Munculnya perusahaan

trans nasional semacam ini merupakan dampak utama berdirinya PBB, World

Bank, IBRD, IMF dan GATT pada pertemuan Bretton Woods yang bertujuan

untuk mengantisipasi Negara-negara jajahan memproklamirkan kemerdekaannya.

Dalam pertemuan Bretton Woods, PBB, World Bank, IBRD, IMF dan GATT

baru mencapai tahap kesepakatan pendiriannya. Sedangkan pada pendirian

tepatnya masih dalam perencanaan.

Barulah satu tahun setelah itu, tepatnya tahun 1945, PBB resmi berdiri

dan ditandatanganinya deklarasi Hak Asasi Manusia. Sebagai dampak atas

kondisi konflik internasional yang memanas, banyak kemudian Negara-negara

jajahan yang memanfaatkan situasi ini untuk melepaskan diri dari belenggu

penjajahan dan memproklamasikan kemerdekaannya, termasuk Indonesia.

Bulan Oktober 1945, Sekutu kembali ke Indonesia setelah Soekarno dan

Muhammad Hatta resmi memimpin Indonesia, dan Indonesia telah berusia tiga

bulan dalam kedaulatannya. Kedatangan sekutu ini bertujuan untuk merebut

kembali Indonesia dan mencabut kedaulatan atas Indonesia.

150
TNI sebagai benteng pertahanan nasional menghadapi situasi semacam

ini tidak mengambil tindakan tegas, sehingga dengan semangat perjuangan yang

tinggi akhirnya para ulama dari Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan Resolusi

Jihad yang berisi seruang perang suci untuk menghadapi serangan-serangan

sekutu. Seruan ini menyebabkan terjadi semangat yang menggelora pada setiap

perang yang tidak mengenal tempat dan waktu. Di Surabaya, pertempuran terjadi

sengit antara barisan rakyat yang dibantu kekuatan militer TNI dengan sekutu

yang mengorbankan banyak nyawa, kejadian ini selanjutnya dikenal dengan

peristiwa 10 November 1945 dan dijadikan sebagai hari pahlawan.

Amerika Serikat merasa gerah menerima perlakuan berupa

kemerdekaan di tanah jajahan Barat. Akses Sumber Daya Alam dari Negara-

negara jajahan dengan kedaulatan yang dimiliki Negara berkembang akhirnya

lambat laun akan terputus. Eksploitasi hasil alam dari Negara jajahan tidak akan

dapat diperoleh kembali.

Menghadapi situasi semacam ini, pada tahun 1948 Presiden Amerika

Serikat mengadakan pertemuan dengan para pakar di MIT untuk membahas

bentuk imperialisme yang baru terhadap Negara-negara yang baru merdeka.

Dimana dengan pertemuan itu diharapkan oleh Presiden Amerika Serikat Negara-

negara yang baru merdeka meskipun telah memiliki kedaulatan sepenuhnya

masih berada di bawah naungan Amerika.

Pada pertemuan itu, memunculkan kesepakatan untuk

memproklamirkan dan menerapkan ideology developmentalism

(pembangunanisme) pada Negara-negara yang baru merdeka itu. System

151
perekonomian yang digunakan dalam model ini adalah system perekonomian

yang digagas oleh W.W. Rostow dan Sosiologi Strukturalisme Fungsional dari

Talcott Parson.

Indonesia dibawah Soekarno saat itu sama sekali tidak tertarik dengan

ideology developmentalisme yang ditelorkan oleh Presiden Amerika Serikat dan

Pakar dari MIT. Indonesia lebih memilih untuk membangun perekonomiannya

sendiri dibawah kekuatan sendiri, karena Soekarno meyakini bahwa Indonesia

akan mampu menjadi macan Asia dengan kekayaan alam yang dimilikinya.

Soekrano menerapkan system ekonomi benteng yang mencoba membentengi diri

dari pengaruh ideology developmentalisme kapitalis.

Namun apa yang diperjuangkan oleh Soekarno yang tidak bosan-

bosannya menyerukan untuk menjalankan system perekonomian dan system

berpolitik yang berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) kemudian runtuh pada

pertengahan decade 60an. PKI, yang tentunya disetting oleh Amerika Serikat,

berhasil menggulingkan Soekarno dan mengantarkan Soeharto menjadi Presiden

kedua Republik Indonesia. Sebagai konsekuensi atas Soeharto menjadi presiden,

maka Soeharto harus menerapkan system ekonomi developmentaisme yang telah

diperbaharui oleh W.W. Rostov dan Talcott Parson pada tahun 1960.

Soeharto menjadi presiden menandakan kemenangan kapitalisme di

Indonesia. Indonesia harus mengikuti apa yang di ‘wejangkan’ oleh Amerika

Serikat dengan menetapkan sosiologi ala Strukuralisme Fungsional Talcott

Parson dan system ekonomi pertumbuhan yang dikembangkan oleh W.W.

Rostov. Rekayasa sosial bertujuan untuk menyingkirkan kelompok-kelompok

152
tradisional dan menerapkan system sosial yang modern. Selama 32 tahun

dibawah pemerintahan Soeharto dan dibawah kuasa Amerika Indonesia

mengalami kemajuan pesat di bidang ekonomi mikro dan pembangunan. Namun

disisi lain, kebobrokkan Indonesia terlihat sangat jelas, apalagi setelah

terbongkarnya ‘dosa-dosa besar’ Soeharto pada akhir decade 90an.

Terlepas dari semua itu, Indonesia sebagai bagian dari percaturan

politik internasional menyisakan satu persoalan. Persoalan yang sesungguhnya

sangat krusial namun kita sendiri terkadang meremehkannya. Ini semua karena

kita tidak atau kurang kritis dalam memandang pengaruh konstelasi geopolitik

terhadap perkembangan Islam di Indonesia.

Titik persolan yang sebenarnya adalah berkembangnya budaya Barat,

berupa kapitalisme dengan segala kemasannya seperti Globalisasi, Free Trade,

Popular Culture dan sebagainya mengancam keberlangsungan Islam dalam

menatap masa depan baru bagi Islam itu sendiri. Penyerangan berupa serbuan

terhadap peradaban Islam melalui kemasan budaya popular semacam ini sudah

marak dilakukan oleh karena itu, semua ini butuh kewaspadaan kolektif.

Jika dibiarkan, maka kondisi Islam di Indonesia, khususnya di

Indonesia akan mengalami penurunan religiusitasnya secara drastic. Dan ini

sangat memperihatinkan dan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk,

bagaimana kita mampu menyelesaikan persoalan semacam ini dalam bingkai

Islam Indonesia yang lebih komunikatif dan lebih efektif efesien dalam

menjawab tantangan budaya popular dengan produk-produk konsumtif yang

cenderung hedonistis.

153
Penyadaran kolektif ini seharusnya menjadi pijakan awal untuk dapat

menyatukan pandangan tentang budaya Barat yang menggigit Islam. Dari siniah

kemudian dapat ditentukan ke arah mana Islam membawa langkahnya untuk

menjadi antitesis terhadap perkembangan kapitalisme yang menghancurkan

dunia. Intinya, pasca penyadaran public dapat segera terjadi revolusi total

disegala bidang kehidupan.

Revolusi merupakan sebuah kekuatan yang dibangun oleh rakyat untuk

rakyat dan dari kekuatan rakyat. Seperti yang pernah di sampaikan oleh Che

Guevara dalam sebuah pidatonya :

“Revolusi sebagaimana yang kita alami sekarang ini, adalah sebuah revolusi yang

dilakukan oleh rakyat dan untuk rakyat, sebuah revolusi yang tidak akan dapat

dicapai kecuali dengan pengerahan seluruh kekuatan massa, dan oleh massa. Ketika

megambil langkah-langkah ini, dengan penuh semangat kita harus memahami betul

proses revolusionernya, terutama sekali kita harus tahu berul mengapa kita perlu

mengambil langkah itu dan kita melakukannya dengan hati senang. Yang terpenting

adalah, dalam setiap momen pengorbanan, kita sadar mengapa kita melakukan

pengorbanan itu, karena jalan yang kita bangunmenuju industrialisasi adalah jalan

menuju kesejahteraan bersama dalam kerangka ekonomi dan bukanlah jalan yang

mudah untuk ditempuh. Inilah jalan yang maha sulit …”41

Untuk menambah keyakinan kita dalam melakukan perubahan ini,

marilah kita pegang ayat ini untuk memacu semangat kita:

41
Che Guevara, 2004, Che Guevara Speaks: Selected Speeches and Writtings, Penerj. Fuad &
Gafna, Diglossia Media, Surabaya

154
Dan Katakanlah: "Yang benar Telah datang dan yang batil Telah lenyap".

Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.42

Dan satu hal lagi, bahwa kepercayaan terhadap kemenangan kita telah

digariskan oleh Allah dalam Al Qur’an:

Apabila Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan itu telah datang, Dan

kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka

bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.

Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat.43

42
Surat Al Isra [17] ayat 81
43

Surat An Nasr [110] ayat 1-3

155
DAFTAR PUSTAKA

Al Qur’an dan Terjemahnya, Departemen Agama Republik Indonesia, Jakarta

Abdullah, M. Amin, 2004, Study Agama, Normativitas atau Historisitas,


Pustaka Pelajar, Jogjakarta

Albana, Jamal, 2005, Al Jihad, Dar al-Fikr al Islam, penerj. Kamran A. Irsyadi,
Pilar Media, Jogjakarta

Enginer, Asghar Ali, 2004, Islam Masa Kini, Penerjemah, Tim FORSTUSIDA,
Pustaka Pelajar, Jogjakarta

_________________, 2007, Islam and Relevance to Our Age, Penerj. Hairus


Salim dkk, LKiS Jogjakarta

Giddens, Anthony, 2000, The Third Ways, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Guevara, Che, 2004, Che Guevara Speaks: Selected Speeches and Writtings,
Penerj. Fuad & Gafna, Diglossia Media, Surabaya

Hanafi, Hassan, 2007, Dirasat Islamiyah, Penerj. Miftah Faqih, LKiS, Jogjakarta

Huntington, Samuel P., 2001, The Clash of Civilization, and the Remaking
New Order, Mitra Pustaka, Jogjakarta

PC PMII Purworejo, Makalah ini disajikan dalam Pelatihan Kader Dasar (PKD)
PMII Cabang Pureworejo 19-23 Desember 2006

Raharjo, M. Dawam, e.d, 1997, Reformasi Politik: Dinamika Politik Nasional


dalam Arus Politik Global, PT. Intermasa, Jakarta

156
Shimogaki, Kazuo, 2001, The Islamic Left and Dr. Hassan Hanafi’s Thought:
A Critical Reading, Penerjemah, M. Jadul Maula, LKiS, Jogjakarta

Supono, Eusta, 2007, Agama Solusi atau Ilusi, Kritik atas Kritik Agama Karl
Marx, Komunitas Studi Didaktika, Jogjakarta

Turner, Bryan S., 2005, Weber and Islam, penerjemah; Mudhofier Abdullah,
Suluh Press Jogjakarta

Wahid, Hasyim, dkk, 1999, Telikungan Kapitalisme Global dalam Sejarah


Kebangsaan Indonesia, LKiS, Jogjakarta

Zahrotien, Abaz, Kiri Islam vis a vis Peradaban Barat,


http://abazzahra.blogspot.com , browsing at. 17.00 pm, may, 10th. 2007.

157
Biodata Penulis

Nama : Abaz Zahrotien


TTL : Banjarnegara, 28 Juli 1985
Alamat : Jl. Pasar Manis, No. 07, Punggelan, Banjarnegara
Domisili : Base Camp PC. PMII Wonosobo, Kalibeber, Wonosobo
Telephone : +6281 227 057 954
E-Mail : abazzahra_pmii@yahoo.co.id
Website : http://www.friendster.com/abazzahra & abazzahra.blogspot.com
Pekerjaan : Mahasiswa
Hobby : Nongkrong di Perpusda, Begadang di Warnet dan bertani
Organisasi :
1. Direktur LPM SQ Unsiq.
2. Menteri Penelitian dan Pengembangan Badan Eksekutif Mahasiswa.
3. Koordinator Lembaga Pers dan Jurnalistik PC PMII Wonosobo.
4. Pamong Praja Teater BanyuDahsyat.
5. Senat Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Unsiq.
6. Sekjen PC PMII Wonosobo.
7. Ketua II PC PMII Wonosobo
8. Pengurus PPTQ Al Asy’ariyyah.
Pendidikan :
1. SDN Karangsari I, Punggelan Banjarnegara.
2. SLTP N I Pekuncen, Banyumas.
3. SMK N I Bawang, Banjarnegara (Drop Out).
4. SMK Takhassus Al Qur’an Wonosobo.
5. Fakultas Dakwah dan Komunikasi Unsiq.
Pengalaman Pers :
1. Majalah Multazam PPTQ Al Asy’ariyyah.
2. Bulletin Kyai Mojo, PC. PMII Wonosobo.
3. Majalah SQ Unsiq.
4. Artikel lepas di media massa.
5. Ikatan Penulis Muslim Wonosobo.

158