Anda di halaman 1dari 2

PATOFISIOLOGI TB, PNEUMONIA DAN KANKER PARU

1. TB Myacobacterium tuberculosis adalah basil tahan asam yang menyebar melalui hirupan droplet pernapasan. Pada awalnya tidak ada reaksi pejamu sewaktu organisme memperbanyak diri dalam paru. Setelah 4-6 minggu, system imun berespons dan mungkn dapat menimbulkan infeksi di dalam granuloma (tuberkel).. Pada sebagian besar kasus, organisme tetap berada dalam tuberkel, tetapi beberapa dapat masuk ke dalam duktus torasikus dan menyebar secara sistematis dan tetap dorman. TB dapat tetap dorman selama bertahun tahun, setelah infeksi awal dan kemudian mengalami reaktivitas, paling sering di apeks paru. Basil tuberkel menyebabkan reaksi jaringan ynag aneh dalam paru, yaitu : 1. Jaringan terinfeksi diserang oleh makrofag 2. Daerah lesi dikelilingi seperti dinding oleh jaringan fibrotic untuk membentuk yang disebut tuberkel Pada stadium lanjut banyak timbul daerah fibrosis di seluruh paru dan mengurangi jumlah total jaringan paru fungsional. Keadaan ini menyebabkan 1. Peningkatan kerja pada bagian otot pernapasan yang berfungsi untuk ventilasi paru dan kapasitas vital dan kapasitas pernapasan 2. Berkurangnya luas permukaan membrane pernapasan total dan peningkatan ketebalan membrane pernapasan, hal ini menimbulkan penurunan kapasitan difus paru secara progresif 3. Kelainan rasio ventilasi-perfusi dalam paru sehingga mengurangi difus oksigen dan karbon dioksida paru secara keseluruhan

2. Pneumonia Disebakan karena alveoli terisi cairan dalam sel darah. Pada pneumonia fungsi pertukaran udara paru berubah dalam berbagai stadadium penyakit yang berbeda beda. Stadium awal, disertai dengan penurunan ventilasi alveolus sedangkan aliran darah yang melalui paru tetap normal. Ini mengakibatkan 2 kelainan utama paru 1. Penurunan luas permukaan total membrane pernapasan 2. Menurunnnya rasio ventilasi perfusi Kedua efek ini menyebabkan hipoksemia (oksigen darah rendah) dan hiperkapnia (karbondioksida tinggi) 3. Kanker paru Oklusi bronkus distal oleh tumor atau kompresi akibat pembesaran kelenjar getah bening dapat menybabkan pneumonia pascaobstrruksi atau mengi atau keduanya. Tumor yang menyerang saluran napas dapat menimbulkan hemoptisis. Penyebaran local yang

mengenai nervus langingeus rekurens menyebabkan suara serak sedangkan terkenanya nervus frenikus menyebabkan paralisis hemidiafragma, yang menyebabkan kesulitan bernapas dalam. Sumber : Greenberg jilid 1, Teks Atlas Kedokteran Kedaruratan .