Anda di halaman 1dari 6

PATOGENESIS Setelah melalui jaringan hati P.

Falciparum melepaskan 18-24 Merozoit ke Sirkulasi

Merozoit masuk dalam RES di limpa dan mengalami fagositosis serta filtrasi

Merozoit yang lolos akan menginvasi eritrosit

Parasit berkembang biak secara aseksual dalam eritrosit

Terbentuk aseksual parasit dalam Eritrosit (EP)

Stadium Cincin, permukaannya menampilkan antigen RESA

Stadium Matur, membrane akan mengalami penonjolan dan membentuk knob dengan HRP-1

GP1

TNF-

IL-1

Sitoadherensi

Sekuestrasi

Rosetting

1 Otak 2 Hepar 3 Ginjal 4 Paru 5 Jantung 6 Usus 7 Kulit

Sitoadherensi. Sitoaderensi ialah perlekatan antara EP stadium matur pada permukan endotel vaskuler. Perlekatan terjadi dengan molekul adhesif yang terletak dipermukaan knob EP melekat dengan molekul-molekul adhesif yang terletak dipermukaan endotel vaskuler.

Sekuestrasi. Sithoaderen menyebabkan EP matur tidak beredar kembali dalam sirkulasi. Parasit dalam eritrosit matur yang tinggal dalam jaringan mikrovaskular disebut EP matur yang menlami sekuestrasi. Hanya P.Falciparum yang mengalami sekuestrasi, karena pada plasmodium lainnya siklus terjadi pada pembuluh darah perifer. Sekuestrasi terjadi pada organ-organ vital dan hampir semua jaringan dalam tubuh. Sekuestrasi tertinggi terdapat di otak, diikuti dengan hepar dan ginjal, jantung paru, usus, dan kulit. Sekuestrasi ini diduga memegang peranan utama dalam patofisiologi malaria berat.

Rosetting ialah berkelompoknya EP matur yang diselubungi 10 atau lebih eritrosit yang non-parasit yang menyebabkan obstruksi aliran darah lokal / dalam jaringan sehingga mempermudah terjadinya sithoaderen.

IMUNOLOGI Imunitas terhadap malaria sangat kompleks, melibatkan hampir seluruh komponen sitem imun baik spesifik maupun non-spesifik, imunitas humoral maupun seluler, yang timbul secara alami maupun didapat akibat infeksi atau vaksinasi. Imunitas spesifik timbulnya lambat. Imunitas hanya bersifat jangka pendek dan barangkali tidak ada imunitas yang permanen dan sempurna. Bentuk imunitas terhadap malaria dapat dibedakan atas: 1. Imunitas alamiah non-imunologis berupa kelainan-kelainan genetic polimorfiemee yang dikaitkan dengan resistensi terhadap malaria. 2. Imunitas didapat non spesifik dimana sporozoit yang masuk darah segera dihadapi oleh respon imun non spesifik yang terutama dilakukan oleh makrofag dan monosit, yang menghasilkan sitokin-sitokin yang secra langsung menghambat pertumbuhan parasit dan membunuh parasit. 3. Imunitas didapat spesifik. Tanggapan sistem imun terhadap infeksi malaria mempunyai sifat spesies spesifik, strain spesifik, dan stage spesifik. Imunitas terhadap stadium siklus hidup parasit, dibagi menjadi : a. Imunitas pada stadium eksoeritrositer: i. Eksoeritrositer ekstrahepatal (stadium sporozoit) - antibody yang mengambat sporozoit masuk ke hepatosit

- antibody yang membunuh sporozoit melalui opsonisasi ii. Eksoeritositer intrahepatik b. Imunitas pada stadium aseksual eritrositer Antibody yang mengaglutinasi merozoit, antibody yang menghambat pelepasan atau menetralkan toksin-toksin parasit. c. Imunitas stadium seksual Antibody yang mebunuh gametosit, antibody yang menghambat fertilisasi, antibody yang menghambat transformasi zigot menjadi ookinete

GEJALA KLINIS Malaria mempunyai gambaran karakteristik demam periodic, anemia, dan splenomegali. Masa inkubasi bervariasi pada masing-masing plasmodium.

Tabel 1: Manifestasi klinis infeksi plasmodium

DIAGNOSIS Diagnosis malaria sering memerlukan anamnesa yang tepat dari penderita tentang asl penderita apakah dari daerah endemic malaria, riwayat berpergian ke daerah malaria, riwayat pengobatan kuratif maupun preventif. 1. Pemeriksaan tetes darah untuk malaria, pemeriksaan darah tepi untuk menemukan adanya parasit malaria sangat penting untuk menegakkan diagnose. Pemeriksaan satu kali dengan hasil negative tidak mengesampingkan diagnose malaria. Pemeriksaan darah tepi 3 kali negative baru dapat mengesampingkan diagnose malaria. Pemeriksaan saat penderita demam dapat meningkatkan kemungkinan ditemukannya parasit.

a. Tetesan preparat darah tebal, merupakan cara terbaik untuk menemukan parasit malaria karena tetesan darah cukup banyak dibandingkan preparat darah tipis b. Tetesan preparat darah tipis, digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium. 2. Test antigen: P-F tets, yaitu mendeteksi antigen dari P-Falciparum (Histidine Rich Protein II) Deteksi sangat cepat hanya 3-5 menit, tidak memerlukan latihan khusus, sensitivitasnya baik, tidak memerlukan alat khusus. 3. Tes Serologi, mendeteksi adanya antibody spesifik terhadap malaria atau pada keadaan dimana parasit sangat minimal. Test ini kurang bermanfaat sebagai alat diagnostic sebab antibody baru terjadi setelah beberapa hari parasitemia.

PENGOBATAN Secara global WHO telah menetapkan dipakainya pengobatan malaria dengan memakai obat ACT (Artemisin base Combination Therapy). Golongan artemisin telah dipilih sebagai pengobatan utama karena efektif dalam mengatasi plasmodium yang resisten dengan pengobatan. Selain itu Artemisin juga bekerja membunuh plasmodium dalam semua stadium termasuk gametosit. Juga efektif terhadap semua spesies. P. Falciparum, P. Vivax, maupun lainnya. Laporan kegagalan terhadap artemisin belum dilaporkan saat ini.

Golongan artemisin Berasal dari tanaman Artesimia annua. L yang disebut dalam bahasa cina sebagai Qinghaosu. Obat ini termasuk kelompok seskuitepen lakton mempunyai beberapa formula seperti: Artemisin, artemeter, arte-eter, artesunat asam artelinik dan dihidroartemisin. Obat ini bekerja sangat cepat dengan paruh waktu kira-kira 2 jam, larut dalam air, bekerja sebagai obat sizontocidal darah. Karena beberapa penelitian bahwa pemakaian obat tunggal menimbulkan rekrudensi, maka obat direkomendasikan untuk dipakai kombinasi obat lain.

Pengobatan ACT (Artemisin base Combination Therapy) Merupakan penggunaan artemisin yang dikombinasikan dengan obat anti-malaria lainnya. Dapat berupa kombinasi tetap dan kombinasi tidak tetap. Kombinasi tetap memudahkan pemberian pengobatan. Contoh ialah Co-Aterm yaitu kombinasi artemeter 20 gr + lumefantrine 120 gr. Dosis Co-Aterm 4 tablet 2x sehari selama 3 hari. Kombinasi ACT yang tidak tetap yang tersedia di Indonesia saat ini adalah kombinasi Artesunate + amodiakuin degan nama dagang Artesdiaquine Dosis untuk orang dewasa yaitu artesunat (50mg/tablet) 200 mg pada hari I-III (4 tablet). Untuk amodiaquine (200 mg/tablet) yaitu 3 tablet hari I dan II dan 1 tablet hari ke III

Pengobatan non-ACT 1. Klorokuin Difosfat/Sulfat a. Indikasi : malaria karena P. Falciparum atau P. Vivax b. Dosis : 250 mg garam (150 mg basa), dosis 25 mg basa/kg BB untuk 3 hari, terbagi 10 mg / kgBB hari I dan II, 5 mg / kgBB pada hari ke-III. 2. Sulfadoksin-Pirimetamin a. Indikasi : malaria karena P. falciparum b. Resisten : malaria karena P.Vivax c. Dosis : 500 mg Sulfadoksin + 25 mg pirimetamin, dosis orang dewasa 3 tablet dosis tunggal (1 kali) 3. Kina Sulfat a. Indikasi : malaria karena P. Falciparum atau P.Vivax obat cadangan untuk mengatasi resistensi terhadap klorokuin dan SP. b. Lama terapi : 7 hari c. Dosis : 3 x 10 mg/kgBB 4. Primakuin a. Indikasi : pelengkap pengobatan radikal terhadap malaria falciparum maupun vivax. b. Dosis : 45 mg (3 tablet) dosis tunggal untuk membunuh gamet pada Malaria Falciparum, dan untuk malaria Vivax dosisnya 15 mg/ hari selama 14 hari untuk membunuh gamet dan hipnozoit.

Penggunaan obat kombinasi Non-ACT Apabila pola resistensi masih rendah dan belum terjadi multiresistensi, dan belum tersedianya golongan artemisin , dapat menggunakan obat standar yang dikombinasikan. Contoh : 1. Kombinasi klorokuin + suladoksin Pirimetamin 2. Kombinasi SP + Kina 3. Kombinasi klorokuin + Doksisiklin / tetrasiklin 4. Kombinasi SP + Doksisiklin/ tetrasiklin 5. Kina + Doksisiklin tetrasiklin 6. Kina + Klindamisin

PENCEGAHAN & VAKSIN MALARIA 1. Tidur dengan kelambu 2. Menggunakan obat pembunuh nyamuk

3. Mencegah berada di alam bebas tempat nyamuk berada 4. Kawat anti nyamuk 5. Vaksinasi

KOMPLIKASI 1. Malaria Serebral 2. Asidosis 3. Anemia berat 4. Gagal Ginjal Akut 5. Hipoglikemi 6. Perdarahan Spontan 7. Kejang Berulang