Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK

PERCOBAAN I ANODASI ALUMINIUM

NAMA NIM REGU/KELOMPOK HARI/TANGGAL PERC. ASISTEN

: RESKY DWI CAHYATI : H311 12 015 : IV (EMPAT)/IV (EMPAT) : SELASA/25 FEBRUARI 2014 : RISKAL HERMAWAN

LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2014

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Logam umumnya bersifat sebagai reduktor, sebab dapat dioksidasi. Logam-logam yang berada dalam golongan IA sampai VIIIA dalam sistem periodik, umumnya merupakan pereduksi kuat. Sedangkan pada logam-logam yang berada pada golongan transisi, memiliki sifat pereduksi yang relatif lebih rendah dari logam golongan utama. Aluminium adalah unsur logam yang biasa dijumpai dalam kerak bumi dan terdapat dalam batuan seperti felspar dan mika. Logam aluminium ini banyak digunakan dalam industri rumah tangga karena merupakan anti karat. Hal demikian merupakan hasil oksidasi dari logam aluminium yang bila berada di udara bebas maka akan terbentuk lapisan tipis yang akan melindungi suatu bahan dari korosi. Aluminium merupakan salah satu logam yang bersifat reduktor kuat. Logam ini sangat mudah teroksidasi bahkan oleh udara, membentuk senyawa oksidanya. Dalam kehidupan sehari-hari, logam ini banyak digunakan sebagai bahan pelapis atau pelindung berbagai peralatan dapur atau lainnya yang terbuat dari logam lain. Proses anodasi dilakukan untuk meningkatkan ketahanan dari aluminium dan paduan terhadap korosi. Selain proses anodasi, dilakukan pula proses elektrolisis yang berguna untuk mempertebal selaput permukaan dan

menghasilkan lapisan yang keras, kuat dan melekat sangat kuat. Lapisan oksida aluminium berperan sebagai pelindung terhadap permukaan logam di bagian dalamnya. Akibatnya, reaksi dengan oksigen dari udara akan berhenti setelah

semua permukaan logam tertutup rapat oleh lapisan oksidanya, dan logam tersebut sudah tentu akan terhindar dari reaksi oksida selanjutnya. Berdasarkan teori diatas maka dilakukanlah percobaan anodasi aluminium.

1.2 Maksud dan Tujuan percobaan 1.2.1 Maksud percobaan Maksud dari percobaan ini adalah untuk mempelajari peningkatan ketebalan lapisan oksida logam aluminium melalui reaksi oksidasi.

1.2.2 Tujuan percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah : 1. Menghitung berat logam aluminium sebelum dan sesudah anodasi.

2. Menghitung rendamen logam aluminium setelah proses anodasi.

1.3 Prinsip percobaan Prinsip dari percobaan ini adalah menentukan peningkatan ketebalan lapisan oksida logam aluminium dengan teknik anodasi melalui proses elektokimia dengan asam sulfat sebagai larutan elektrolit. Kemudian dilakukan pewarnaan logam aluminium hasil anodasi dengan mencelupkan logam kedalam campuran amonium oksalat dengan besi(III) klorida.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Aluminium adalah logam

yang

keras,

kuat dan

berwarna putih,

meskipun sangat elektropositif, ia tahan terhadap korosi karena lapisan yang kuat

terbentuk pada permukaannya. Lapisan-lapisan oksida yang tebal seringkali


dilapiskan secara elektrolitik pada aluminium, yaitu proses yang disebut anodasi. Lapisan-lapisan yang segar dapat diwarnai dengan pigmen. Satu-satunya oksida aluminium adalah alumina (Al2O3). Meskipun demikian, kesederhanaan ini diimbangi dengan adanya bahan-bahan polimorf dan terhidrat yang sifatnya bergantung pada kondisi pembuatannya. Terdapat dua bentuk anhidrat Al2O3, yaitu -Al2O3, dan -Al2O3 (Cotton dkk, 1996). Nama aluminium diturunkan dari kata alum yang menunjuk pada senyawa garam rangkap KAl(SO4)2.12H2O. Kata ini berasal dari bahasa latin alumen

yang artinya garam pahit. Oleh Humphry Davy, logam dari rangkap ini diusulkan dengan nama alumium dan kemudian berubah menjadi aluminum

(Sugiarto dan Suyanti, 2010). Logam aluminium tahan terhadap korosi udara, karena reaksi antara logam aluminium dengan oksigen udara menghasilkan oksidanya (Al2O3) yang merupakan lapisan nonpori dan membungkus permukaan logam tersebut sehingga tidak terjadi reaksi lanjut. Untuk menaikkan daya tahan terhadap korosi, logam aluminium dianodasi artinya permukaan logam aluminium sengaja dilapisi

dengan aluminium oksida secara elektrolisis. Aluminium yang dianodasi ini mempunyai ketebalan lapisan ~0,01 mm dan lapisan oksida setebal ini mampu

menyerap zat warna sehingga permukaan logam dapat diwarnai. Pada proses anodasi ini, logam aluminium dipasang sebagai anoda, grafit sebagai katoda dan larutan asam sulfat sebagai elektrolit (Sugiyarto dan Suyanti, 2010). Kelarutan oxo-garam dari aluminium tidak diragukan lagi sulfat

Al2SO4.16H2O dan sulfat ganda dari MAlSO4.12H2O rumus umum dikenal sebagai alums. M biasanya K, Rb, Cs, atau NH4, tetapi senyawa Li, Na mungkin juga dapat diperoleh. Al mungkin digantikan oleh sejumlah kation sama dan tidak terlalu berbeda dalam ukuran, termasuk Ga, ln, Ti, V, Cr, Mn, Fe, dan Co; SeO42mungkin digantikan SO42- (Sharpe, 1992). Meningkatkan nilai aluminium dari aspek dekoratifnya maka dilakukan proses-proses finishing, seperti melakukan proses pewarnaan. Oleh karena itu, sekarang dikembangkan pelapisan anodizing yang dapat membuat tampilan logam aluminium tersebut lebih menarik sehingga nilai ekonomisnya bisa bertambah. Anodizing itu sendiri adalah proses pembentukan lapisan oksida pada logam dengan cara mereaksikan logam terutama aluminium dengan oksigen (O2) dari larutan elektolit asam sulfat (H2SO4) (Santhiarsa, 2010). Pembentukan nano pori-pori pada aluminium di 30 oC-38 oC, menggunakan teknik anodization satu langkah yang tidak memerlukan pemindahan lapisan
[[

oksida yang terbentuk. Sebuah elektrolit 20% asam fosfat (konsentrasi yang lebih tinggi daripada konsentrasi normal anodization 5-10%) digunakan potensial sel
[

60 volt. Elektroda platinum digunakan sebagai elektroda katoda, sementara substrat aluminium sebagai elektroda anoda. Arus DC didukung dengan sel elektrokimia untuk memberikan jumlah yang diperlukan padatan saat ini cocok atau diperlukan untuk pembentukan pori-pori pada suhu kamar. Hasil

yang diperoleh menunjukkan bahwa pembentukan pori-pori pada suhu kamar terjangkau dan pori-pori diameter berkisar antara 80-120 nm

(Araoyinbo dkk, 2009). Korosi adalah kerusakan material khususnya logam secara umum akibat reaksi dengan lingkungan sekitarnya. Korosi merupakan penurunaan kualitas yang disebabkan oleh reaksi kimia bahan logam dengan unsur-unsur lain yang terdapat di alam. Dua jenis mekanisme utama dari korosi adalah berdasarkan reaksi kimia secara langsung dan reaksi elektrokimia. Korosi dapat terjadi didalam lingkungan kering dan juga lingkungan basah. Korosi yang terjadi pada logam tidak dapat dihindari, tetapi hanya dapat dicegah dan dikendalikan sehingga struktur atau
[

komponen mempunyai masa pakai yang lebih lama (Sidiq, 2013). Oksidasi adalah suatu proses yang mengakibatkan hilangnya satu elektron atau lebih dari dalam zat (atom, ion, atau molekul). Suatu zat pengoksidasi adalah zat yang memperoleh elektron, dan dalam proses itu zat itu direduksi. Reduksi adalah suatu proses yang mengakibatkan diperolehnya satu lebih oleh zat (atom, ion, atau molekul). Bila suatu elektron atau unsur direduksi,

keadaan oksidasi menjadi lebih negatif (kurang positif). Jadi suatu zat pereduksi adalah zat yang kehilangan elektron, dalam proses itu zat itu dioksidasi.

Meskipun semua reaksi oksidasi-resuksi didsarkan pada serah terima elektron, hal ini tidak selalu nampak dari persamaan reaksinya (Svehla, 1985). Fenomena elektrolisis diterangkan dengan sederhana atas dasar teori disosiasi elektrolisis. Konduktans (daya-hantar) larutan-larutan elektrolit disebabkan oleh adanya ion (partikel bermuatan) dalam larutan yang bila arus listrik dialirkan, akan mulai bermigrasi kearah elektroda yang muatannya berlawanan, karena

gaya-gaya elektrostatik. Elektroda dengan muatan negatif dalam sel elektrolisis disebut katoda, sedangkan yang bermuatan positif dinamakan anoda

(Svehla, 1979).
[

Proses logam

anodisasi

adalah

proses

pembentukan

lapisan

oksida

pada

dengan cara bereaksikan atau mengkorosikan suatu logam terutama dengan oksigen (O2) yang diambil dari larutan elektrolit

aluminium

yang digunakan sebagai media, sehingga terbentuk ini juga disebut sebagai dengan proses pelapisa logam
[

lapisan oksida. Proses sama

anodic oxidation yang prinsipnya hampir dengan cara listrik (elektroplatting), tetapi

bedanya

yang

akan

dioksidasi

ditempatkan

sebagai anoda di dalam

larutan elektrolit. Perbedaan lain larutan elektrolit yang digunakan bersifat asam dengan penyearah arus (DC) bertipe dan ampere tinggi. Proses

utama dalam oksidasi anoda alumunium memerlukan larutan asam sulfat (Santhiarsa, 2010). Industri anodizing sudah berkembang yang mengerjakan barang-barang menggunakan pelapisan anodizing dimana biasanya pelapisan tersebut

sebagai pelapis protektif-dekoratif. Pelapisan ini biasanya digunakan pada benda-benda kerajinan dari logam dan beberapa bagian dari kendaraan. Maksud dari protektif-dekoratif ini adalah untuk melindungi benda-benda tersebut dari korosi dan untuk mendapatkan benda-benda yang yang bervariasi dan lebih memiliki warna

tahan lama daripada dengan proses pengecatan

konvensional sehingga dapat menampilkan aspek keindahan dan meningkatkan kualitasnya. Adapun logam yang sering digunakan dalam bidang industri adalah aluminium (Santhiarsa, 2010).

BAB III METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan percobaan Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah lempeng logam aluminium, asam sulfat 3 M, amonium oksalat, besi(III) klorida, akuades, sabun cair, amplas dan tissue roll. 3.2 Alat percobaan Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu penjepit buaya (alligator clips), hotplate, neraca analitik, stopwatch, gunting, amplas, labu ukur 50 mL, batang pengaduk, pinset, gelas kimia 200 mL, gelas kimia 250 mL, balb dan sikat tabung.

3.3 Prosedur percobaan Prosedur percobaan ini yaitu lempeng aluminium digunting dan dilekukkan menyerupai silinder sesuai ukuran gelas kimia 50 mL. Keping logam aluminium lain digunting berukuran kira-kira 1,5 x 3 cm sebanyak 3 buah. Keping aluminium digosok dengan amplas, dicuci dengan sabun dan dibilas dengan akuades. Kemudian masing-masing keping aluminum ditimbang beratnya. Keping dan silinder dihubungkan dengan penjepit alligator. Keping diletakkan persis ditengah silinder aluminium di dalam gelas kimia, sedemikian rupa sehingga tidak bersentuhan dengan silinder. Keping diatur sebagai anoda sedangkan silinder sebagai katoda kemudian asam sulfat 3 M dituang kedalam gelas kimia sampai sebagian besar keping aluminium tercelup. Keping I dihubungkan ke sumber arus selama 5 menit. Keping II dihubungkan ke sumber arus selama 10 menit dan

keping III dihubungkan dengan sumber arus selama 15 menit. Sumber arus listrik yang digunakan adalah 6 volt. Setelah setengah waktu yang diperlukan saat anodasi, arus listrik dinaikkan menjadi 12 volt. Lalu diamati

gelembung-gelembung gas yang terbentuk. Larutan pewarna disiapkan dengan melarutkan 1 gram FeCl3 dan 1 gram amonium oksalat dalam akuades 200 mL ke dalam gelas kimia. Larutan tersebut dipanaskan hingga mendidih. Keping I, keping II dan keping III hasil anodasi dimasukkan kedalam larutan pewarna masing-masing selama 5 menit, 10 menit dan 15 menit. Kemudian diamati perubahan yang terjadi. Setelah itu, Keping I, keping II dan keping III dimasukkan dalam akuades selama 5 menit, lalu dikeringkan beberapa saat dan ditimbang beratnya.

Gambar 1. Rangkaian Alat

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan Tabel 1. Hasil Pengamatan Berat sebelum No. anodasi (g) 1 2 3 0,38 0,36 0,37 anodasi (g) 0,39 0,38 0,41 oksida (g) 0,01 0,02 0,04 rendemen (%) 37,87 37,87 50,50 Berat setelah Berat lapisan Persen

Tabel 2. Hasil Anodasi dengan Variasi Waktu Waktu anodasi (menit) 5 10 15 Keterangan : + + + : Sangat berwarna ++ + : Cukup berwarna : Kurang berwarna Hasil Anodasi + ++ +++

4.2 Reaksi Setengah reaksi : Anoda Katoda Anoda Katoda : Al Al3+ + 3eH2 2Al3+ + 6e3H2 x2 x3

: 2H+ + 2e: 2Al : 6H+ + 6e-

2Al + 6H+ 2Al + 3H2SO4

2Al3+ + 3H2 Al2(SO4)3 + 3H2

Ion aliminium sangat tidak larut dalam air, sehingga akan membentuk oksida di permukaan logam : 2Al3+ + 3H2O Al2(SO4)3 + 3H2O Sehingga reaksi totalnya: 2Al3+ + 3H2SO4 Al2(SO4)3 + 3H2O 2Al + 3H2O Al2(SO4)3 + 3H2 Al2O3 + 3H2SO4 Al2O3 + H2 Al2O3 + 6H+ Al2O3 + 3H2SO4

4.3 Pembahasan Anodisasi adalah sebuah proses yang akan meningkatkan ketebalan lapisan oksida pada permukaan logam. Aluminium merupakan logam yang paling sering dianodasi. Percobaan anodasi aluminium merupakan suatu proses elektrolisis dimana energi listrik diubah menjadi energi kimia. Percobaan anodasi dilakukan dengan dua tahap yaitu teknik anodasi pada keping aluminium dan pewarnaan pada logam-logam yang dianodasi. Pada percobaan ini, lempeng aluminium digunting dan dilekukkan menyerupai silinder sesuai ukuran gelas kimia 50 mL. Lempeng aluminium tersebut bertindak sebagai katoda sedangkan keping aluminium bertindak sebagai anoda dalam proses elektrolisis. Setelah itu, keping aluminium digunting dengan akuran 1,5 x 3 cm sebanyak 3 kepingan. Ketiga keping aluminium tersebut digosok dengan amplas, dicuci dan dibilas dengan akuades untuk menghilangkan lapisan lemak yang mungkin melekat dipermukaan logam. Kemudian ketiga

keping ditimbang beratnya terlebih dahulu sebelum proses anodasi. Dari hasil penimbangan diperoleh berat sebelum anodasi untuk keping I = 0,38 gram, keping II = 0,36 gram, keping III = 0,37 gram. Memegang keping sebaiknya menggunakan pinset untuk mencegah kontaminasi dengan kotoran yang ada ditangan. Selanjutnya, keping diletakkan ditengah silinder aluminium dalam gelas kimia, diatur agar kepingan tidak bersentuhan dengan silinder. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya perpindahan elektron sehingga dapat menghasilkan data yang menyimpang dari yang sebenarnya. Setelah itu, asam sulfat 3 M dimasukkan dalam gelas kimia sampai
sebagian

besar keping tercelup. Tujuannya agar permukaan larutan asam tidak menyentuh
[

penjepit aligator untuk mencegah logam pada penjepit alligator ikut bereaksi.
[

Asam sulfat berfungsi sebagai larutan elektrolit yang merupakan tempat atau media bergeraknya elektron. Anodasi dilakukan dengan variasi waktu 5 menit, 10 menit, dan 15 menit terhadap 3 kepingan, hal ini bertujuan untuk
[

membandingkan hasil oksidasi dari ketiga kepingan. Pada anoda (lempeng


[

aluminium) akan mengalami oksidasi dari Al menjadi Al3+, sedangkan pada katoda (keping aluminium) terjadi reduksi ion H+ dari asam sulfat menjadi gas H2 yang ditandai dengan timbulnya gelembung-gelembung gas pada keping
[[ [

aluminium. Mula-mula adaptor dinyalakan dan diatur arusnya menjadi 6 volt.


[

Setelah setengah waktu anodasi, arus adaptor dinaikkan menjadi 12 volt. berjalan, yang timbul gelembung-gelembung gas pada

Saat proses anodasi keping aluminium

menandakan proses elektrolisis berhasil. Semakin anodasi ini maka semakin dengan

lama waktu banyak

yang digunakan dalam proses gas yang dihasilkan. Hal

gelembung

dibuktikan

makin banyaknya gelembung gas yang dihasilkan diluar silinder aluminum pada proses anodasi keping III selama 15 menit daripada proses asnodasi keping II selama 10 menit dan lebih sedikit gelembung gas yang dihasilkan pada proses anodasi keping I selama 5 menit. Selanjutnya adalah proses pewarnaan. Keping aluminium dapat diwarnai karena memiliki pori-pori yang dapat menyerap warna setelah proses elektrolisis. Fungsi pewarnaan ini adalah untuk mengetahui tingkat ketebalah lapisan oksida. Larutan pewarna yang terbuat dari campuran 1 gram besi(III) klorida dan 1 gram amonium oksalat dalam 200 mL akuades dipanaskan hingga mendidih. Keping dicelupkan kedalam larutan tersebut selama 5 menit untuk keping I, 10 menit untuk keping II dan 15 menit untuk keping III. Hasilnya keping berubah menjadi warna kuning kecokelatan. Hal ini karena pewarna tersebut memasuki pori-pori yang terdapat pada lapisan hasil anodasi. Semakin lama waktu yang digunakan
untuk menganodasi logam aluminium maka warna yang dihasilkan setelah

dimasukkan ke dalam larutan pewarna akan semakin kuning kecokelatan. Setelah itu, keping dimasukkan ke dalam air mendidih selama 10 menit untuk mencegah terjadinya pengotoran setelah pewarnaan. Setelah dilakukan proses pewarnaan, keping dikeringkan dan ditimbang beratnya masing-masing. Hasil penimbangan diperoleh data berat sesudah anodasi. Keping I = 0,39 gram, keping II = 0,38, keping III = 0,41 gram. Dari hasil tersebut diketahui bahwa berat keping sesudah anodasi lebih besar daripada berat sebelum anodasi. Selisih berat keping yang diperoleh untuk keping I = 0,01 gram, keping II = 0,02 gram dan keping III = 0,04 gram. Hal tersebut karena lapisan oksidanya telah mengalami penebalan melalui proses anodasi. Dari hasil

perhitungan berat rendemen untuk keping I sebesar 37,87%, keping II sebesar 37,87% dan keping III sebesar 50,50%.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulakan bahwa berat keping aluminium sebelum anodasi untuk keping I adalah 0,38 gram dan setelah anodasi adalah 0,39 gram, untuk keping aluminium II berat sebelum anodasi adalah 0,36 gram dan setelah anodasi 0,38 gram sedangkan pada keping aluminium III berat sebelum anodasi adalah 0,37 gram dan setelah anodasi 0,41 gram. Kemudian berat rendamen yang diperoleh yaitu untuk keping aluminium I adalah 37,87%, untuk keping aluminium II adalah 37,87% dan untuk keping aluminium III adalah 50,50 %.

5.2 Saran 5.2.1 Saran Untuk Percobaan Sebaiknya digunakan logam lain sebagai perbandingan hasil anodasi. 5.2.2 Saran Untuk Laboratorium Alat-alat laboratorium terutama neraca analitik sebaiknya diperbaharui jika memang sudah rusak atau tidak layak digunakan demi kelancaran praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Araoyinbo, A. O., Fauzi, M. N. A., Sreekantan, S., dan Aziz, A., 2009, One-Step Anodization Of Aluminium at Room Temperature, Sains Malaysiana, 38(4):521-524, (www.researchgate.net/publication/237537369_OneStep_Anodization_of_Aluminum_at_Room_Temperature_(Penganodan_ Aluminium_pada_Suhu_Bilik_dengan_Satu_Langkah).pdf, diakses tanggal 25 Februari 2014). Cotton, F. A., Wilkinson, G., dan Gaus, P. L., 1996, Basic Inorganic Chemistry, Jhon Wiley and Sons, New York. Santhiarsa, N., 2010, Pengaruh Kuat Arus Listrik Dan Waktu Proses Anodizing Dekoratif Pada Aluminum Terhadap Kecerahan Dan Ketebalan Lapisan, Jurnal Ilmiah Teknik Mesin Cakram, 4(1):75-78, (http://ojs.unud.ac.id/index.php/jem/article/view/2322, diakses tanggal 25 Februari 2014). Sharpe, A. G., 1992, Inorganic Chemistry, Longman Scientific dan Technical, New York. Sidiq, M. Fajar, 2013, Analisa Korosi dan Pengendaliannya, Jurnal Foundry, 3(1):25-30, (http://ejournal.polmanceper.ac.id/index.php/FOU/article/ download/53/pdf, diakses tanggal 25 Februari 2014). Sugiyarto, Kristian, H., dan Retno, D., Suyanti, 2010, Kimia Anorganik Logam, Graha Ilmu, Yogyakarta. Svehla, G., 1979, Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro, diterjemahkan oleh Setiono, L. dan Pudjaatmaka, H.A., 1985, PT Kalman Media Pustaka, Jakarta.

LEMBAR PENGESAHAN

Makassar, 28 Februari 2014 Asisten Praktikan

Riskal Hermawan

Resky Dwi Cahyati

Lampiran I Bagan Kerja A. Anodasi Aluminium Lempeng Aluminium Digunting dan dilekukkan menyerupai silinder sesuai ukuran gelas kimia 50 mL. Dihubungkan dengan kawat menggunakan penjepit alligator Diatur sebagai katoda Keping Aluminium - Digunting dengan ukuran kira-kira 1.5 x 3 cm - Dibersihkan menggunakan amplas, dicuci menggunakan sabun dan dibilas dengan akuades - Ditimbang beratnya - Dihubungkan dengan kawat menggunakan penjepit alligator - Diletakkan persis ditengah silinder aluminium dalam gelas kimia - Diatur sebagai anoda - Dilarutkan asam sulfat 3 M dalam gelas kimia - Dihubungkan ke sumber arus DC 6 Volt - Setelah setengah waktu

anodasi, arus diganti menjadi 12 Volt

Terbentuk gelembung-gelembung gas

Catatan : Dilakukan anodasi pada 3 keping aluminium yang berbeda, waktu anodasi masing-masing keping adalah 5 menit, 10 menit dan 15 menit.

B. Pewarnaan Logam Aliminium

Besi(III) klorida 1 gram

Amonium Oksalat 1 gram

- Dimasukkan dalam gelas kimia - Dilarutkan dalam 200 mL akuades - Dipanaskan hingga mendidih - Dicelupkan keping I, keping II dan keping III aluminium yang telah dianodasi masing-masing selama 5, 10 dan 15 menit - Diamati perubahan yang terjadi - Dicelupkan keping logam aluminium kedalam air mendidih selama 5 menit - Diamati lagi perubahan yang terjadi - Ditimbang berat keping Hasil

Lampiran II Gambar

Gambar 1. Keping aluminium sebelum anodasi

Gambar 2. Keping aluminium setelah anodasi dan pewarnaan

Gambar 3. Anodasi keping aluminium selama 5 menit

Gambar 4. Anodasi keping aluminium selama 10 menit

Gambar 5. Anodasi keping aluminium selama 15 menit

Gambar 6. Pewarnaan keping aluminium hasil anodasi selama 5 menit

Gambar 7. Pewarnaan keping aluminium hasil anodasi selama 10 menit

Gambar 8. Pewarnaan keping aluminium hasil anodasi selama 15 menit

Gambar 9. Keping aluminium hasil anodasi selama 5 menit dalam air panas setelah pewarnaan

Gambar 10. Keping aluminium hasil anodasi selama 10 menit dalam air panas setelah pewarnaan

Gambar 11. Keping aluminium hasil anodasi selama 15 menit dalam air panas setelah pewarnaan