Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut sifat fisikanya, zat terbagi tiga yaitu padat, cair, dan gas. Ketiga zat
ini mempunyai karakteristiknya masing-masing, yaitu padat yang memiliki sifat
dapat mempertahankan bentuknya, cairan yang bentuknya ditentukan oleh wadahnya
dan gas yang dapat menempati seluruh ruang tanpa membatasi bentuknya. Setiap
unsur memiliki bobot dan ukuran yang berbeda.
Massa molekul menunjukkan jumlah atom-atom penyusun suatu zat setiap
mol sehingga setiap molekul memiliki massa molekul yang berbeda karena setiap
molekul memiliki atom penyusun yang berbeda pula, sedangkan bobot jenis
merupakan perbandingan antara massa dan volume dari suatu senyawa.
Penentuan bobot jenis merupakan langkah awal untuk mendapatkan massa
molekul dari suatu zat karena dengan mendapatkan bobot jenisnya, maka massa
molekul zat dapat diketahui dengan menggunakan data yang diperoleh serta
menggunakan persamaan gas ideal. Salah satu zat yang dapat ditentukan massa
molekul dengan pengukuran bobot jenis adalah zat yang mudah menguap dengan
menggunakan metode Victor Meyer. Pada zat yang mudah menguap diperlukan data
suhu dan tekanan pada saat zat tersebut menguap sehingga dapat diperoleh massa
molekul dari zat tersebut
Bobot jenis ini dapat diketahui dengan menimbang bobot zat sebelum dan
setelah penguapan. Berdasarkan teori diatas maka percobaan penentuan bobot
molekul berdasarkan pengukuran bobot jenis ini dilakukan dengan menggunakan
kloroform dan aseton sebagai zat yang akan ditentukan bobot molekulnya.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari metode
penentuan massa molekul zat mudah menguap berdasarkan pengukuran bobot
jenisnya.

1.2.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah:
1. Menentukan kerapatan zat mudah menguap dengan menimbang bobot
sebelum dan sesudah penguapan.
2. Menentukan massa molekul zat mudah menguap dengan menggunakan data
kerapatan zat dan persamaan gas ideal.

1.3 Prinsip Percobaan
Prinsip dari percobaan ini adalah penentuan massa molekul dan kerapatan zat
mudah menguap yaitu kloroform dan aseton melalui proses penguapan,
pengembunan, dan penentuan selisih bobot senyawa sebelum dan sesudah
penguapan.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Isotop-isotop suatu unsur selalu bersatu dalam suatu materi dan tidak dapat
dipisahkan satu sama lain, bahkan hingga saat ini belum ada instrumen yang dapat
memisahkan isotop-isotop dari suatu senyawa. Menurut konvensi IUPAC, massa
atom suatu unsur ditentukan berdasarkan massa isotop dan kelimpahan dari
masing-masing isotop yang terdapat di alam. Penentuan cara ini dinamakan massa
atom relatif, disingkat Ar (Sunarya, 2010).
Massa atom relatif (Ar) suatu unsur didefinisikan sebagai jumlah total massa
isotop dikalikan kelimpahannya di alam. Oleh karena massa atom relatif sudah
mempertimbangkan jumlah isotop dan kelimpahannya, maka perhitungan dan
pengukuran massa unsur-unsur dalam suatu zat di laboratorium didasarkan pada
massa atom relatif ini (Sunarya, 2010).
Menurut Stanislao Cannizaro (1858), teori Avogadro tentang konsep molekul
dapat digunakan sebagai dasar penentuan massa molekul berbagai gas. Jika dua
macam gas yang volumenya sama diukur pada suhu dan tekanan yang sama, maka
massa masing-masing gas dapat ditentukan dari massa jenisnya. Saat ini penentuan
massa molekul relatif tidak lagi menggunakan metoda Cannizaro, tetapi didasarkan
pada massa atom relatif unsur-unsur penyusunnya. Massa molekul relatif (Mr) suatu
senyawa adalah jumlah total dari massa atom relatif unsur-unsur penyusunnya
(Sunarya, 2010).
Hukum gas ideal sangatlah penting dalam mempelajari gas. Hukum ini tidak
hanya berisi tentang semua karakteristik dari gas itu sendiri, tetapi penerapan umum
yang berlaku pada semua gas. Bentuk biasa dari hukum gas ideal ditulis
(Castellan, 1983):
PV = nRT
Bentuk dari hukum gas ideal ini telah disusun kembali, berbeda dengan
bentuk proporsional sebelumnya, konstanta k telah diberi simbol R. Tetapan R ini
disebut konstanta gas ideal. Untuk menggunakan persamaan gas ideal kita harus
mengetahui nilai R. Ini dapat ditentukan dengan memasukkan nilai STP dari P, V. T,
dan n ke dalam persamaan gas ideal sehingga didapatkan nilai R. Salah satu
perhitungan yang melibatkan persamaan gas ideal adalah dalam penentuan massa,
massa molar, ataupun kerapatan gas. Perhitungan tersebut dimulai dengan
memodifikasi bentuk dari persamaan gas ideal (Stoker,1993).
Kerapatan suatu gas bergantung pada jumlah massa dibagi dengan volumenya
(g/cm
3
atau g/mL). Oleh karena volume sangat bergantung pada suhu dan tekanan
gas, maka kerapatan gas sangat dipengaruhi oleh suhu dan tekanan. Untuk
menghitung kerapatan gas, dapat digunakan hukum gas ideal pada suhu dan tekanan
tertentu. Oleh karena itu, kerapatan gas dapat digunakan untuk perhitungan jumlah
mol dan massa molekul relatif suatu gas (Sunarya, 2010).
Menurut teori Avogadro, pada suhu dan tekanan yang sama setiap gas
mengandung jumlah molekul yang sama atau mengandung jumlah mol yang sama.
Jika teori ini diterapkan terhadap persamaan gas ideal, maka untuk P dan T sama,
nilai n/V akan sama. Akibatnya kerapatan gas berbanding langsung dengan massa
molekul relatifnya (Sunarya, 2010).
Hukum gas ideal berguna dalam penentuan massa molar zat volatil. Untuk
tujuan ini, sebuah bola yang diketahui volumenya diisi dengan gas pada tekanan dan
suhu yang telah diukur. Massa gas di dalam bola dapat diukur. Pengukuran ini cukup
untuk menentukan massa molar zat tersebut. Dari persamaan:

P
RT
M
w
V |
.
|

\
|
=
kita memiliki PV = (w/M)RT; maka
RT
P P
RT
V
w
M |
.
|

\
|
= |
.
|

\
|
=
dimana = w/V; adalah kerapatan. Semua simbol pada persamaan telah diketahui
nilainya dari pengukuran, sehingga M dapat dihitung (Castellan, 1983).
Menurut Sukardjo (1989), beberapa metode yang dapat digunakan untuk
penentuan bobot molekul adalah:
a. Cara Regnault
Dipakai untuk menentukan bobot molekul zat pada suhu kamar berbentuk gas.
Untuk itu, suatu bola gelas (300-500 cc) dikosongkan dan ditimbang. Kemudian
diisi dengan gas yang bersangkutan dan ditimbang kembali. Dari tekanan dan
temperatur gas dengan memakai rumus persamaan gas ideal dapat ditentukan M.
Berat gas adalah selisih kedua penimbangan.
b. Cara Victor Meyer
Dipakai untuk menentukan bobot molekul zat cair yang mudah menguap. Alat ini
terdiri atas tabung B ( 50 cc) yang di dalamnya dimasukkan pula tabung C.
Tabung A berisi zat cair dengan titik didih 30
o
C lebih tinggi dari pada zat cair
yang akan ditentukan bobot molekulnya. Alat dipanaskan sampai permukaan air
di buret G tetap kemudian zat cair yang ditentukan bobot molekulnya dimasukkan
dalam tabung B melalui D dalam ampul P. Ampul ini akan pecah dan uapnya akan
mendesak air di buret G, hingga permukaan air turun. Volume uap = H. Bila berat
zat cair = W, dapat dihitung BM zatnya. Tekanan uap harus direduksi dengan
tekanan uap air pada temperatur percobaan:

O H atm
2
P P P =
PV
RT
W M=
( ) P P
RT
W M
atm

=

Gambar 1. Alat Victor Meyer
c. Limiting Density
Bobot molekul ditentukan berdasarkan hukum-hukum gas ideal hanya kira-kira,
namun hasilnya telah cukup untuk penentuan rumus-rumus molekul. Hal ini
disebabkan karena hukum gas ideal sudah menyimpang, walaupun pada tekanan
atmosfer.
Selain metode diatas, masih terdapat beberapa cara penantuan bobot molekul
dari suatu zat atau senyawa, antara lain:
a. Menurut Handayani (2003), elektroforesis dilakukan untuk mengetahui berat
molekul enzim dan untuk menunjukkan bahwa enzim yang diisolasi adalah enzim
lipoprotein lipase. Penentuan massa molekul relatif (BM) dari lipoprotein lipid
dilakukan dengan sds page. Untuk menentukan massa molekul relatif enzim,
maka dilakukan dengan menghitung Rf (Retardaction Factor) dari masing-masing
pita.
b. Menurut Djunaidi (2010), penentuan berat molekul polimer dapat dilakukan
menggunakan metode viskositas dengan alat viskometer Ubbelohde. Dasar dari
eksperimen ini adalah pengukuran waktu alir dari beberapa larutan polimer
dengan konsentrasi berbeda. Dengan menggunakan waktu alir beberapa
konsentrasi larutan polimer dan pelarut murni ditentukan viskositas relatif
rel
.
Berat molekul relatif rata-rata polimer ditentukan berdasarkan persamaan
Mark-Houwink-Sakurada :
[] = L M
a

c. Menurut Mylonas (2007), bobot molekul dari zat terlarut adalah salah satu
parameter penting yang dapat ditentukan menggunakan metode hamburan sudut-
kecil sinar-X (SAXS). Khususnya untuk larutan protein monodispers, bobot
molekul dari zat terlarut dihitung dari intensitas hamburan ekstrapolasi sudut I(0).
Nilai bobot molekul salah satunya dapat ditaksir dengan membandingkan bobot
molekul protein standar yang telah diketahui atau dengan menentukan intensitas
hamburan mutlak menggunakan air.
d. Menurut Rimsten (2003), telah ditemukan metode penentuan bobot molekul dari
-glukan. Dalam metode ini ekstrak -glukan pertama-tama dipisahkan dengan
size-exclusion chromatography (SEC) dan selanjutnya dideteksi secara flourmetri
dengan Calcoflour.
BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Bahan Percobaan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah akuades, kloroform,
aseton, aluminium foil, tissue roll, kertas label, dan sabun cair.

3.2 Alat Percobaan
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah erlenmeyer 50 mL, gelas
kimia 200 mL dan 250 mL, pipet volume 5 mL, bulb, jarum, desikator, neraca
analitik, hot plate, neraca digital, termometer 100

C, karet gelang, sikat tabung, dan


batang pengaduk.

3.3 Prosedur Percobaan
Erlenmeyer 50 mL disiapkan sebanyak 2 buah kemudian masing-masing
erlenmeyer (I dan II) kosong ditimbang. Erlenmeyer I dan II ditutup dengan
aluminium foil dan dikencangkan dengan karet gelang lalu ditimbang kembali.
Kemudian erlenmeyer I dan II diisi dengan akuades hingga penuh kemudian
ditimbang kembali. Erlenmeyer dikosongkan kembali dan dikeringkan. Dipipet
kloroform dan aseton masing-masing sebanyak 5 mL lalu dimasukkan ke dalam
erlenmeyer I dan II. Erlenmeyer I dan II ditutup dengan aluminium foil dan diikat
dengan karet gelang. Kemudian lubang kecil dibuat pada aluminium foil dengan
menggunakan jarum. Setelah itu erlenmeyer direndam di dalam gelas kimia yang
berisi air yang dipanaskan di atas hot plate sampai semua kloroform dan aseton
menguap. Erlenmeyer diangkat dan suhu akuades diukur dengan termometer.
Dinding luar erlenmeyer dikeringkan, lalu dimasukkan ke dalam desikator. Setelah
erlenmeyer dingin dan cairan berhasil diembunkan, erlenmeyer kemudian ditimbang
dengan neraca analitik.





















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
1. Kloroform
Bobot erlenmeyer kosong = 37,7728 g
Bobot erlenmeyer + aluminium foil + karet gelang = 38,1734 g
Bobot erlenmeyer + aluminium foil + karet gelang + uap kloroform = 38,5390 g
Bobot erlenmeyer + akuades = 97,2705 g
Suhu dalam pengangas = 98
o
C = 371 K
Massa jenis akuades = 1 g/mL
2. Aseton
Bobot erlenmeyer kosong = 37,6778 g
Bobot erlenmeyer + aluminium foil + karet gelang = 38,1309 g
Bobot erlenmeyer + aluminium foil + karet gelang + uap aseton = 38,2408 g
Bobot erlenmeyer + air = 96,7474 g
Suhu dalam pengangas = 99,5
o
C = 372,5 K
Massa jenis akuades = 1 g/mL

Tabel Pengamatan
No.
Jenis zat
cair
Bobot erlenmeyer +
aluminium foil + karet
gelang (g)
Bobot erlenmeyer +
aluminium foil + karet
gelang + uap cairan (g)
1. Kloroform 38,1743 38,5390
2. Aseton 38,1309 38,2408


4.2 Perhitungan
1. Kloroform
Bobot kloroform = 38,5390 g 38,1743 g = 0,3647 gram
Bobot air = 97,2705 g 37,7728 g = 59,4977 gram
Volume akuades =
akuades jenis bobot
akuades bobot
=
g/mL 1
g 4977 59,
= 59,4977 mL
Volume kloroform = Volume akuades = 59,4977 mL = 0,0595 L
Bobot jenis kloroform =
kloroform volume
kloroform bobot
=
L 0,0595
g 0,3647
= 6,1294 g/L
Suhu dalam penangas air = 98
o
C = 371 K
Tekanan = 760 mmHg = 1 atm
P
T R
Mr

=
atm 1
K 371 K atm/mol L 0,0821 g/L 1294 , 6


=
= 186,6960 g/mol
2. Aseton
Bobot aseton = 38,2408 g 38,1309 g = 0,1099 g
Bobot air = 96,7474 g 37,6778 g = 59,0696 g
Volume akuades =
akuades jenis bobot
akuades bobot
=
g/mL 1
g 59,0696
= 59,0696 mL
Volume aseton = Volume akuades = 59,0696 mL = 0,0591 L
Bobot jenis aseton =
aseton volume
aseton bobot
=
L 0,0591
g 0,1099
= 1,8596 g/L
Suhu dalam penangas air = 99,5
o
C = 372,5 K
Tekanan = 760 mmHg = 1 atm
P
T R
Mr

=
atm 1
K 372,5 K atm/mol L 0,0821 g/L 8596 , 1


=
= 56,8708 g/mol

4.3 Pembahasan
Penentuan bobot jenis zat dilakukan dengan terlebih dahulu menimbang
erlenmeyer kosong setelah itu menimbang erlenmeyer yang telah ditutupi aluminium
foil dan karet gelang. Setelah itu, erlenmeyer diisi dengan akuades kemudian
ditimbang. Hal ini bertujuan untuk mengetahui bobot akuades dengan mengurangkan
bobot erlenmeyer yang telah berisi akuades dengan bobot erlenmeyer kosong
sehingga volume akuades dapat diperoleh dengan diketahuinya massa dan bobot
jenis akuades. Kemudian suhu akuades dalam penangas diukur dengan menggunakan
termometer. Hal ini dilakukan agar mempermudah perhitungan dalam mencari nilai
dari massa molekul zat tersebut.
Kemudian kloroform dan aseton masing-masing dimasukkan ke dalam
erlenmeyer. Kedua zat ini digunakan karena memiliki titik didih yang rendah
dibandingkan air sehingga penguapannya akan berlangsung lebih cepat. Titik didih
kloroform dan aseton secara teori masing-masing sebesar 61
o
C dan 56,2
o
C. Setelah
kedua zat dimasukkan ke dalam erlenmeyer, erlenmeyer ditutup dengan aluminium
foil dan diikat dengan karet gelang. Pada aluminium foil masing-masing erlenmeyer
dibuat 1 lubang dengan menggunakan jarum agar uap yang akan keluar nanti tidak
sepenuhnya tertahan dalam erlenmeyer.
Cairan kemudian dibiarkan sampai menguap seluruhnya, lalu suhu dicatat
untuk menentukan titik didih. Selanjutnya erlenmeyer diangkat dan bagian luarnya
dilap. Hal ini bertujuan agar pada saat dimasukkan dalam desikator, air tidak akan
mengkontaminasi kloroform atau aseton. Proses pendinginan dilakukan di dalam
desikator, agar tidak terjadi kontaminasi dari udara luar yang nantinya akan
mempengaruhi hasil penimbangan.
Berdasarkan hasil penimbangan dapat diketahui bobot jenis zat dengan
membandingkan bobot zat dengan volume dari gas tersebut. Hasil pengukuran bobot
jenis kloroform dan aseton yang diperoleh secara praktek berturut-turut adalah
sebesar 6,1294 g/L pada suhu 98

C dan aseton sebesar 1,8596 g/L pada suhu 99,5

C
sedangkan secara teori kerapatan kloroform sebesar 1,48 g/cm
3
dan kerapatan aseton
sebesar 0,788 g/cm
3
. Perbedaan nilai secara teori dan praktek dapat disebabkan
karena kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam pengukuran seperti kesalahan pada
saat penimbangan, pengukuran suhu ataupun proses pendinginan.
Secara teori, kloroform memiliki bobot jenis yang lebih besar dibandingkan
bobot jenis aseton, berarti kloroform lebih kental dibandingkan aseton. Hal ini
menunjukkan bahwa aseton lebih mudah menguap daripada kloroform karena bobot
jenisnya yang lebih kecil. Berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan maka
diperoleh massa molekul secara praktek pada kloroform (CHCl
3
) sebesar
186,6960 g/mol dan pada aseton (CH
3
COCH
3
) sebesar 56,8708 g/mol sedangkan
menurut teori massa molekul kloroform (CHCl
3
) dan aseton (CH
3
COCH
3
)
berturut-turut sebesar 119,5 g/mol dan 58 g/mol. Perbedaan nilai ini dapat
disebabkan karena kesalahan pengukur suhu air pada saat penguapan. Hal lain yang
mempengaruhinya yaitu pada saat proses pendinginan dan pengembunan erlenmeyer
dalam desikator, mungkin saja erlenmeyer belum betul-betul dingin ataupun uap zat
belum sepenuhnya mengembun sehingga mempengaruhi pengukuran bobot
erlenmeyer dan memberi hasil pengukuran yang salah.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari hasil percobaan ini adalah:
1. Bobot jenis kloroform dan aseton berturut-turut adalah sebesar 6,1294 g/L
dan 1,8596 g/L.
2. Massa molekul kloroform adalah sebesar 186,6960 g/mol dan aseton adalah
sebesar 56,8708 g/mol.

5.2 Saran
Saran untuk laboratorium diharapkan agar setiap meja praktikan memiliki
tempat pembuangan untuk mencuci alat laboratorium sehingga praktikan tidak perlu
mendatangi meja lainnya yang akan mempengaruhi konsentrasi praktikan lainnya.
Saran untuk asisten penjelasan mengenai praktikum sudah baik sehingga
praktikan mudah mengerti, tetapi diharapkan kepada kakak agar dapat menuntun
praktikan dalam penggunaan alat agar praktikan lebih mengerti cara penggunaan
alat-alat laboratorium.


LEMBAR PENGESAHAN


















Makassar, 17 Februari 2014
Asisten Praktikan



RYAN ANDHIKA RACHMA SURYA M
NIM. H311 11 030 NIM. H311 12 267
DAFTAR PUSTAKA

Castellan, G.W., 1983, Physical Chemistry, Third Edition, Addison-Wesley
Publishing Company, California.

Djunaidi, M.C., Lusiana, R.A., Wibawa, P.J., Siswanta, D., dan Jumina, 2010,
Sintesis Turunan Polieugenol sebagai Carrier bagi Recovery Logam Berat
dengan Teknik Membran Cair, Reaktor (online), 13 (1), 16-2,
(http://ejournal.undip.ac.id/index.php/reaktor/article/download/1552, diakses
pada tanggal 18 Februari 2014 pukul 19.00 WITA).

Handayani, D., AulianiAm, Soeadmadji, D.W., dan Widodo, M.A., Enzim
Lipoprotein Lipase Suatu Alternatif Pemeriksaan Metabolisme Lemak Pada
Penderita DM Tipe 2 In Vitro, Maj. Kedok. Unibraw (online), 19 (2), 1-8,
(http://jkb.ub.ac.id/index.php/jkb/article/view/199, diakses pada tanggal
18 Februari 2014 pukul 19.15 WITA).

Mylonas, E., dan Svergun, D.I., 2007, Accuracy of Molecular Mass Determination of
Proteins in Solution by Small-Angle X-Ray Scattering, Journal of Applied
Crystallography (online), 40 (1), 245-249, (http:// www.embl-hamburg.de,
diakses pada tanggal 18 Februari 2014 pukul 19.00 WITA).

Rimsten, L., Stenberg, T., Andersson, R., Andersson, A., dan Aman, P., 2003,
Determination of -Glucan Molecular Weight Using SEC with Calcoflour
Detection in Cereal Extracts, Cereal Chemistry (online), 80 (4), 485-490,
(http://search.proquest.com, diakses pada tanggal 18 Februari 2014 pukul
19.30 WITA).

Stoker, H. S., 1993, Introduction to Chemical Principles, Fourth Edition, Micimillan
Publishing Company, New York.

Sukardjo, 1989, Kimia Fisika, Rineka Cipta, Jakarta.

Sunarya, Y., 2010, Kimia Dasar I, Yrama Widya, Bandung.














Lampiran 1. Bagan Kerja



- Ditimbang dalam keadaan kosong.
- Ditutup dengan aluminium foil, dikencangkan dengan karet
gelang kemudian ditimbang kembali
- Diisi dengan akuades hingga penuh, kemudian ditimbang.
- Diukur suhu air dalam erlenmeyer.
- Diisi 5 mL kloroform, ditutup dengan aluminium dan diikat
dengan karet gelang kemudian aluminium foil dilubangi dengan
jarum.
- Erlenmeyer direndam dalam air yang sedang dipanaskan sampai
semua cairan menguap.
- Suhu air diukur dan dicatat.
- Erlenmeyer diangkat, bagian luar dilap dan dimasukkan ke
dalam desikator.
- Setelah dingin dan cairan mengembun, erlenmeyer ditimbang
kembali.
- Percobaan diulangi dengan menggunakan aseton.





Data
Erlenmeyer

Lampiran 2. Foto Percobaan



Gambar 1. Kloroform dan aseton sebelum proses pemanasan


Gambar 2. Aseton pada saat proses pemanasan

Gambar 3. Kloroform pada saat proses pemanasan

Gambar 4. Kloroform dan aseton pada saat proses pendinginanan

Gambar 5. Kloroform dan aseton setelah pendinginan



LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA FISIKA



PERCOBAAN II
PENENTUAN MASSA MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN
BOBOT JENIS



NAMA : RACHMA SURYA M
NIM : H311 12 267
KELOMPOK/ REGU : II (DUA)/ IV
HARI/ TANGGAL PERCOBAAN : SENIN/ 17 FEBRUARI 2014
ASISTEN : RYAN ANDHIKA



























LABORATORIUM KIMIA FISIKA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014