Anda di halaman 1dari 28

Teropong Bintang

Dr. Chatief Kunjaya


FMIPA, Institut Teknologi Bandung
TPOA, Kunjaya 2014
Kompetensi Dasar
X.3.9 Menganalisis cara kerja alat optik
menggunakan sifat pencerminan dan
pembiasan oleh cermin dan lensa
X.4.9 Menyajikan ide/rancangan sebuah alat
optik dengan menerapkan prinsip pemantulan
dan pembiasan pada cermin dan lensa
TPOA, Kunjaya 2014
Pembiasan
Jika cahaya datang dari satu medium, masuk
ke medium lain, kecepatannya bisa berubah
Perubahan kecepatan bisa menyebabkan
pembelokan bila arah datang cahaya tidak
tegak lurus perbatasan medium
Pembelokan cahaya inilah yang dimanfaatkan
utk pengumpulan cahaya oleh lensa
TPOA, Kunjaya 2014
Pembiasan
TPOA, Kunjaya 2014
Pembiasan
Bagaimana jika perbatasan dua medium
bukan batas yang tajam?
Pembelokan cahaya akan lebih mulus
Contoh : perbatasan antara atmosfir Bumi dan
ruang hampa menyebabkan lintasan cahaya
sedikit melengkung
TPOA, Kunjaya 2014
Pembiasan atmosfir Bumi
TPOA, Kunjaya 2014
Pembiasan
Index bias bergantung pada panjang
gelombang
Hal ini dapat dimanfaatkan untuk
menguraikan cahaya.
Contoh alat pengurai cahaya adalah prisma
Hasil penguraian cahaya bintang disebut
spektrum
Spektrummengandung informasi yang kaya
tentang fisis bintang
TPOA, Kunjaya 2014
Penguraian Cahaya oleh Prisma
TPOA, Kunjaya 2014
SpektrumBintang
Pada spektrumbintang atau Matahari nampak
ada garis-garis gelap yang disebabkan oleh
serapan oleh atom atau ion di atmosfir
bintang
TPOA, Kunjaya 2014
Teropong Refraktor
Teropong Bintang pertama kali digunakan oleh
Galileo Galilei untuk mengamati benda langit
tahun 1609
TPOA, Kunjaya 2014
Teropong Refraktor
Bekerja berdasarkan fenomena pembiasan, yaitu
fenomena pembelokan cahaya ketika melewati
dua medium yang berbeda
Pengumpul cahaya utama adalah lensa obyektif
Bayangan yang diciptakan oleh lensa obyektif
dilihat dengan menggunakan lensa okuler
Agar bayangan dapat terlihat, bayangan yang
diciptakan oleh lensa obyektif harus terletak di
fokus lensa okuler.
Bayangan yang dilihat oleh pengamat terbalik
TPOA, Kunjaya 2014
Skema Jalannya Cahaya di dalam
Teropong Refraktor
TPOA, Kunjaya 2014
Skema Jalannya Cahaya di dalam
Teropong Refraktor
Cahaya sejajar sumbu utama akan dikumpulkan
di fokus
Cahaya yang melalui pusat lensa akan
diteruskan
TPOA, Kunjaya 2014
Rumus Lensa
Menentukan letak bayangan
f S S
1
'
1 1
= +
Perbesaran
S
S
M
'
=
Kecepatan kamera, f ratio
D
f
Fr =
Perbesaran teropong
ok
obj
f
f
M =
TPOA, Kunjaya 2014
Teropong Reflektor
Bekerja berdasarkan prinsip pemantulan
Cermin yang digunakan adalah cermin cekung
Cermin cekung itu menjadi obyektif teropong
Cahaya yang datang sejajar akan dikumpulkan
di fokus
Ada beberapa macamcara melihat bayangan
diciptakan oleh cermin oyektif, itu
menentukan jenis teropong
TPOA, Kunjaya 2014
Teropong Reflektor Newtonian
TPOA, Kunjaya 2014
Teropong Reflektor Cassegrain
TPOA, Kunjaya 2014
Contoh Soal : Sebuah teropong refraktor mempunyai karakteristik
sebagai berikut :
Lensa obyektif : diameter 10 cm, panjang fokus 1,5 m
Lensa okuler : diameter 0,5 cm, panjang fokus 1,5 cm
Maka perbesaran teropong itu adalah :
a. 10 kali
b. 15 kali
c. 20 kali
d. 100 kali
e. 200 kali
Jawab : d, Penjelasan : perbesaran teropong ditentukan oleh
perbandingan panjang fokus obyektif dan okuler :
100
5 , 1
150
= = =
ok
obj
f
f
M
TPOA, Kunjaya 2014
Lensa Gravitasi
Menurut Einstein, bukan hanya massa, cahaya
pun dapat ditarik oleh gravitasi yang kuat.
Hal ini menimbulkan fenomena lensa gravitasi
Bukti pertama kebenaran pendapat Einstein
diperoleh ketika gerhana Matahari total tahun
1919
Bintang yang seharusnya berada di belakang
Matahari ternyata bisa kelihatan di tepian
Matahari karena cahayanya dibelokkan oleh
gravitasi Matahari
TPOA, Kunjaya 2014
Kecepatan Teropong/kamera
Perbesaran teropong hanya bergantung pada
panjang fokus, bukan diameter
Semakin panjang fokus obyektif, memang membuat
citra semakin besar, tapi semakin suram.
Untuk mendapat perbesaran yang besar dan citra
tetap jelas, diperlukan diameter obyektif yang lebih
besar
Cahaya yang ditampung oleh teropong berbanding
lurus terhadap kuadrat diameter
2
2
|
.
|

\
|
=
D
J t
TPOA, Kunjaya 2014
Kecepatan Teropong/Kamera
Perbandingan panjang fokus dan diameter
memberikan gambaran kebutuhan
pencahayan untuk mendapat citra yang cukup
jelas.
Ini lebih lazimdisebut F ratio yang
menggambarkan kecepatan teropong/kamera
D
f
F =
TPOA, Kunjaya 2014
Daya Pisah
Yang dimaksud daya pisah adalah kemampuan
teropong memisahkan dua titik yang
berdekatan pada citra.
Daya pisah ini bergantung pada diameter
teropong. Semakin besar teropong daya
pisahnya semakin kuat
D

u 22 , 1
min
=
TPOA, Kunjaya 2014
Contoh Soal
(OSP 2009 essay)
Sebuah teleskop dengan diameter bukaan 0,5
meter memerlukan waktu 1 jam untuk
mengumpulkan cahaya dari obyek astronomi
yang redup agar dapat terbentuk citranya pada
detektor. Berapa waktu yang diperlukan oleh
teleskop dengan diameter bukaan 2,5 meter
untuk mengumpulkan jumlah cahaya yang sama
dari obyek astronomi redup tersebut?
TPOA, Kunjaya 2014
Jawab
Waktu yang diperlukan oleh sebuah teleskop
untuk mengumpulkan sejumlah cahaya
berbanding terbalik dengan luas bukaan. Jadi:
2,5 2,5
0,5
0,5
konstanta
konstanta
t A
t
A
=
0,5
2,5 0,5
2,5
A
t t
A
=
2 2
0,5 0,5
2,5 0,5 0,5
2 2
2,5 2,5
R R
t t t
R R
t
t
= =
= 0,04 jam = 2,24 menit
TPOA, Kunjaya 2014
Lensa Gravitasi
TPOA, Kunjaya 2014
Lensa Gravitasi
TPOA, Kunjaya 2014
Soal-soal
(OSKK 2008) Jarak antara lensa objektif dan lensa okuler sebuah
teropong adalah 1,5 m. Jika panjang fokus okulernya 25 mm,
berapakah panjang fokus lensa objektifnya?
a. 2,5 x 10
-2
m
b. 0,6 m
c. 1,475 m
d. 6 m
e. 15,95 m
(OSKK 2007) Pengaruh refraksi pada saat Matahari terbit/terbenam
adalah:
a. Bentuk Matahari terdistorsi sehingga nampak lebih kecil
b. Kedudukan Matahari lebih tinggi dari yang seharusnya
c. Pengaruhnya terlalu kecil sehingga bisa diabaikan
d. Warna Matahari menjadi merah
e. Tidak ada jawaban yang benar
TPOA, Kunjaya 2014
Hatur Nuhun
Terima kasih
TPOA, Kunjaya 2014