Anda di halaman 1dari 31

Indikator Kinerja Guru

Terdapat beberapa indikator kinerja guru. Kinerja merefleksikan kesuksesan suatu organisasi, maka dipandang penting untuk mengukur karakteristik tenaga kerjanya. Kinerja guru merupakan kulminasi dari tiga elemen yang saling berkaitan yakni keterampilan, upaya sifat keadaan dan kondisi eksternal (Sulistyorini, 2001). Tingkat keterampilan merupakan bahan mentah yang dibawa seseorang ke tempat kerja seperti pengalaman, kemampuan, kecakapan-kecakapan antar pribadi serta kecakapan tehknik. Upaya tersebut diungkap sebagai motivasi yang diperlihatkan karyawan untuk menyelesaikan tugas pekerjaannya. Sedangkan kondisi eksternal adalah tingkat sejauh mana kondisi eksternal mendukung produktivitas kerja. Kinerja dapat dilihat dari beberapa kriteria, menurut Castetter (dalam Mulyasa, 2003) mengemukakan ada empat kriteria kinerja yaitu:

1. Karakteristik individu 2. Proses 3. Hasil dan 4. Kombinasi antara karakter individu, proses dan hasil

Kinerja seseorang dapat ditingkatkan bila ada kesesuaian antara pekerjaan dengan keahliannya, begitu pula halnya dengan penempatan guru pada bidang tugasnya. Menempatkan guru sesuai dengan keahliannya secara mutlak harus dilakukan. Bila guru diberikan tugas tidak sesuai dengan keahliannya akan berakibat menurunnya cara kerja dan hasil pekerjaan mereka, juga akan menimbulkan rasa tidak puas pada diri mereka. Rasa kecewa akan menghambat perkembangan moral kerja guru.

Menurut Pidarta (1999) bahwa moral kerja positif ialah suasana bekerja yang gembira, bekerja bukan dirasakan sebagai sesuatu yang dipaksakan melainkan sebagai sesuatu yang menyenangkan. Moral kerja yang positif adalah mampu mencintai tugas sebagai suatu yang memiliki nilai keindahan di dalamnya. Jadi kinerja dapat ditingkatkan dengan cara memberikan pekerjaan seseorang sesuai dengan bidang kemampuannya. Hal ini dipertegas oleh Munandar (1992) yang mengatakan bahwa kemampuan bersama-sama dengan bakat merupakan salah satu faktor yang menentukan prestasi individu, sedangkan prestasi ditentukan oleh banyak faktor diantaranya kecerdasan. Kemampuan terdiri dari berbagai macam, namun secara konkrit dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu:

1. Kemampuan intelektual merupakan kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk menjalankan kegiatan mental, terutama dalam penguasaan sejumlah materi yang akan diajarkan kepada siswa yang sesuai dengan kurikulum, cara dan metode dalam menyampaikannya dan cara berkomunikasi maupun tehknik mengevaluasinya. 2. Kemampuan fisik adalah kapabilitas fisik yang dimiliki seseorang terutama dalam mengerjakan tugas dan kewajibannya (Daryanto, 2001).

Kinerja dipengaruhi juga oleh kepuasan kerja yaitu perasaan individu terhadap pekerjaan yang memberikan kepuasan bathin kepada seseorang sehingga pekerjaan itu disenangi dan digeluti dengan baik. Untuk mengetahui keberhasilan kinerja perlu dilakukan evaluasi atau penilaian kinerja dengan berpedoman pada parameter dan indikator yang ditetapkan yang diukur secara efektif dan efisien seperti produktivitasnya, efektivitas menggunakan waktu, dana yang dipakai serta bahan yang tidak terpakai. Sedangkan evaluasi kerja melalui perilaku dilakukan dengan cara membandingkan dan mengukur perilaku seseorang dengan teman sekerja atau mengamati tindakan seseorang dalam menjalankan perintah atau tugas yang diberikan, cara mengkomunikasikan tugas dan pekerjaan dengan orang lain.

Hal ini diperkuat oleh pendapat Asad (1995) dan Robbins (1996) yang menyatakan bahwa dalam melakukan evaluasi kinerja seseorang dapat dilakukan dengan menggunakan tiga macam kriteria yaitu: (1). Hasil tugas, (2). Perilaku dan (3). Ciri individu. Evaluasi hasil tugas adalah mengevaluasi hasil pelaksanaan kerja individu dengan beberapa kriteria (indikator) yang dapat diukur. Evaluasi perilaku dapat dilakukan dengan cara membandingkan perilakunya dengan rekan kerja yang lain dan evaluasi ciri individu adalah mengamati karaktistik individu dalam berprilaku maupun berkerja, cara

berkomunikasi dengan orang lain sehingga dapat dikategorikan cirinya dengan ciri orang lain. Evaluasi atau Penilaian kinerja menjadi penting sebagai feed back sekaligus sebagai follow up bagi perbaikan kinerja selanjutnya. Menilai kualitas kinerja dapat ditinjau dari beberapa indikator yang meliputi: (1). Unjuk kerja, (2). Penguasaan Materi, (3). Penguasaan profesional keguruan dan pendidikan, (4). Penguasaan cara-cara penyesuaian diri, (5). Kepribadian untuk melaksanakan tugasnya dengan baik (Sulistyorini, 2001). Kinerja guru sangat penting untuk diperhatikan dan dievaluasi karena guru mengemban tugas profesional artinya tugas-tugas hanya dapat dikerjakan dengan kompetensi khusus yang diperoleh melalui program pendidikan. Guru memiliki tanggung jawab yang secara garis besar dapat dikelompokkan yaitu: (1). Guru sebagai pengajar, (2). Guru sebagai pembimbing dan (3). Guru sebagai administrator kelas. (Danim S, 2002). Dari uraian diatas dapat disimpulkan indikator kinerja guru antara lain:

1. Kemampuan membuat perencanaan dan persiapan mengajar 2. Penguasaan materi yang akan diajarkan kepada siswa 3. Penguasaan metode dan strategi mengajar 4. Pemberian tugas-tugas kepada siswa 5. Kemampuan mengelola kelas 6. Kemampuan melakukan penilaian dan evaluasi. 7. MENGUKUR KEBERHASILAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH

8. MENGUKUR KEBERHASILAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DARI REORIENTASI ORGANISASINYA DAN MACAM TUGAS YANG DILAKUKAN OLEH: HAYATUDDIN FATARUBA

A. PENDAHULUAN

Kepemimpinan sebagai salah satu fungsi manajemen, merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai tujuan organisasi. Dengan amat berat seolah-olah kepemimpinan dipaksa menghadapi berbagai macamfaktor seperti: struktur atau tatanan, koalisi, kekuasaan, dan kondisi lingkungan organisasi. Sebaliknya, kepemimpinan rasanya dapat dengan mudah menjadi satu alat penyelesaian yang luar biasa terhadap persoalan apa saja yang sedang menimpa suatu organisasi. Dalam hal ini kepemimpinan dapat berperan di dalam melindungi beberapa isu pengaturan organisasi yang tidak tepat, seperti: distribusi kekuasaan yang menjadi penghalang tindakan yang efektif, kekurangan berbagai macam sumber, prosedur yang dianggap buruk (archaic procedure), dan sebagainya yaitu problem-problem organisasi yang lebih bersifat mendasar. Oleh karena peranan sentral kepemimpinan dalam organisasi tersebut, dimensidimensi kepemimpinan yang bersifat kompleks perlu dipahami dan dikaji secara terkoordinasi, sehingga peranan kepemimpinan dapat dilaksanakan secara efektif. Sekolah adalah salah satu lembaga pendidikan di tingkat mikro yang bersifat kompleks dan unik. Bersifat kompleks karena sekolah sebagai organisasi di dalamnya terdapat berbagai dimensi yang satu sama lain saling berkaitan dan saling menentukan. Sedang sifat unik, menunjukkan bahwa sekolah sebagai organisasi memiliki ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh organisasi-organisasi lain. Karena sifatnya yang kompleks dan unik tersebutlah, sekolah sebagai organisasi memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi. Keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah.

Kepala sekolah yang berhasil apabila mereka memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peranan kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah. Dalam kehidupan moderen saat ini, makin terasa betapa penting peranan organisasi terhadap kepentingan manusia. Hal ini disamping akibat ketidakmampuan manusia secara fisik dan psikis dalam mencapai berbagai tujuan, juga akibat sifat keberadaan sebagai makhluk sosial yang selalu terdorong untuk bekerjasama dengan individu lain. Manusia disamping dikuasai oleh egonya, mereka akan merasa berbahagia apabila keberadaannya dapat diterima oleh lingkungannya, hidup bekerjasama dengan manusia lainnya. Bentuk kerjasama antara sekelompok individu dengan berbagai macam ikatan dalam mencapai tujuan bersama itulah pada hakekatnya disebut sebuah organisasi. Kata organisasi selalu mengandung dua macam pengertian secara umum, yaitu menandakan (signifies) suatu lambang (institution) atau kelompok fungsional, dan yang lain mengandung arti proses pengorganisasian (process of organizing), dalam hal ini pekerjaan diatur dan dialokasikan di antara para anggota organisasi, sehingga tujuan organisasi dapat dicapai secara efisien. Sehingga James A.F stoner (1982) dalam Wahjosumidjo (2007) mengungkapkan bahwa organisasi dapat berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan, alat untuk melindungi, atau melestarikan pengetahuan (preserving knowledge), dan organisasi dipandang sebagai sumber karier (organization as sources of carier). Lebih jauh dikatakan bahwa pengorganisasia sebagai satu proses berbagai langkah, yang meliputi: 1. Rincian seluruh pekerjaan yang harus dikerjakan untuk mencapai tujuan organisasi 2. Membagi seluruh beban kerja ke dalam rincian kegiatan yang dapat dilaksanakan (performed) secara logis dan menyenangkan oleh seseorang atau kelompok 3. Menyatukan atau menggabungkan pekerjaan anggota-anggota organisasi ke

dalam satu cara yang logis dan efisien 4. Mengadakan (setting up) satu mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaanpekerjaan anggota organisasi ke dalam satu keseluruhan yang bersatu (unified) dan harmonis 5. Mengendalikan efektifitas organisasi dan melakukan penyesuaian untuk memelihara dan meningkatkan efektifitas Sekolah sebagai komponen mikro organisasi pendidikan, adalah organisasi yang kompleks dan unik, sehingga memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi. Oleh sebab itu, kepala sekolah selaku pemimpin organisasi pendidikan di tingkat mikro yang berhasil, apabila dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinannya tercapai tujuan sekolah sebagai organisasi, dan tujuan daripada individu yang ada di dalam lingkungan organisasi sekolah yang dipimpinnya, serta memahami dan menguasai peranan organisasi dan hubungan kerjasama antar individu. Untuk membantu para kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan di dalam mengorgani sasikan sekolah secara tepat, diperlukan pemahaman-pemahaman antara lain: 1. Adanya satu esensi pemikiran yang teoritis, seperti konsepsi struktur organisasi, hierarki, kewibawaan, dan mekanisme demi pencapaian, dan koordinasi di lingkungan sekolah 2. Perlu memahami teori organisasi formal yang akan bermanfaat untuk menggambarkan (depict) hubungan kerja sama antara struktur dan hasil (outcomes) sebuah sekolah 3. Untuk memahami dan mengantisipasi konflik, perlu memahami teori dimensi sosial (social system theory) agar mampu melakukan analisis terhadap kehidupan informal sekolah dan iklim atau suasana organisasi sekolah Sehingga pemahaman pemimpin pendidikan di sekolah akan organisasi yang dipimpinnya, akan melahirkan kemampuannya untuk mendeteksi permasalahanpermasalahn yang terjadi dalam organisasinya. Menurut Richard H.Hall (1982), ada

4 (empat) macam tugas penting seorang pemimpin dalam kepemimpinannya: 1. Involves the definition of the institutional organizational mission and role (mendefinisikan misi dan peranan organisasi), dimana misi dan peranan organisasi hanya dapat dirumuskan atau didefinisikan sebaik-baiknya, apabila seorang pemimpin memahami lebih dahulu asumsi struktural sebuah organisasi dan fungsinya sebagai pemimpin, yaitu: Keberadaan organisasi terutama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan Dalam kehidupan suatu organisasi terdapat satu struktur yang tepat untuk tujuan, lingkungan, teknologi, dan anggota Organisasi dapat bekerja paling efektif, apabila lingkungan pemegang jabatan dan pilihan pribadi dari para anggota didukung dengan norma-norma yang rasional Spesialisasi memungkinkan lingkup keahlian yang lebih tinggi dan penampilan pribadi Koordinasi dan pengendalian dicapai paling baik melalui pelaksanaan otoritas dan peraturan-peraturan yang impersonal Struktur dapat dirancang secara sistematik dan tepat dilaksanakan Problem organisasi biasanya mencerminkan adanya struktur yang tidak tetap dan dapat dipecahkan melalui rancangan ulang reorganisasi 2. The institutional embodiment of purpose (pengejawantahan tujuan organisasi) Dalam fungsi ini, pemimpin harus menciptakan kebijaksanaan ke dalam tatanan atau keputusan terhadap sarana untuk mencapai tujuan yang direncanakan. Tujuan suatu organisasi adalah untuk menghasilkan suatu barang atau pelayanan/jasa. Merupakan proyeksi dari apa yang diinginkan, dicapai, dihasilkan, dan diraih oleh suatu organisasi. Sehingga fungsi pengejawantahan tujuan organisasi berarti seorang pemimpin disamping paham tujuan dibentuknya organisasi juga memahami ciri-ciri organisasi sebagai sistem terbuka. Organisasi sebagai sistem terbuka atau sistem sosial berarti organisasi melibatkan orang yang pada akhirnya organisasi ini bergantung kepada usaha orang-orang tersebut untuk

tampil atau berperilaku. Sebagai sistem terbuka, organisasi mentransformasikan manusia dan sumber-sumber fisik yang diterima sebagai input dari lingkungannya ke dalam barang-barang dan pelayanan yang akhirnya dikembalikan ke lingkungan sebagai konsumen. 3. To defend the organizations integration (mempertahankan keutuhan organisasi) Pemimpin mewakili organisasi kepada umum dan kepada stafnya, seperti mencoba untuk mengajak bawahan mengikuti keputusannya agar fungsi tersebut dapat dilaksanakan. Sehingga untuk hal tersebut, ada beberapa asumsi pokok yang perlu dipahami, sebagaimana dikemukakan Lee G. Bolman (1984) dalam Wahjosumidjo (2007), yaitu: Organisasi diadakan untuk membantu kebutuhan kemanusiaan, dan manusia ada bukan untuk membantu keperluan organisasi Organisasi dan manusia saling memerlukan. Organisasi perlu pemikiran, gagasan, energi, dan potensi, yang diberikan manusia. Sedangkan manusia perlu karier, gaji,dan kesempatan kerja yang diberikan organisasi Apabila keadaan yang sesuai yang diharapakan antara individu dan organisasi, adalah tidak baik (poor), satu diantaranya akan menderita. Akibatnya individu akan dieksploitasi, atau sebaliknya bergerak untuk mengeksploitasi organisasi, atau bisa saja kedua belah pihak saling mengeksploitasi Apabila terjadi kecocokan keadaan antara individu dan organisasi baik, keduakeduanya aka memperoleh keuntungan (benefit). Individu mampu melaksanakan pekerjaan yang penuh arti dan memuaskan, membantu berbagai macam sumber yang diperlukan organisasi dalam mencapai tujuan. 4. The ordering of internal conflict (mengendalikan konflik internal yang terjadi di dalam organisasi) Dalam kehidupan organisasi moderen, konflik tidak bisa dihindarkan. Organisasi yang didefinisikan sebagai hal yang bersifat kolektif, dibentuk untuk mencapai

sasaran yang spesifik. Organisasi memiliki profil lain yang mencakup satu tatanan yang normatif (normative order), tingkatan aturan (authority ranks) sistem komunikasi, dan incentive system. Konflik dalam organisasi dapat bersumber pada faktor internal, seperti struktur organisasi yang tidak tepat, sumberdaya manusia dan sebagainya, disamping faktor eksternal, yaitu adanya macama-macam perubahan dan perkembangan, seperti lingkungan, teknologi, organisasi, suasana politik, dan kepimpinan. Akibat faktorfaktor tersebut, seorang pemimpin harus mampu mengantisipasi serta mengendalikannya sehingga konflik dapat ditertibkan. Untuk itu seorang pemimpin harus berusaha untuk mengerti dan mempelajari segi-segi yang berkaitan dengan konflik, seperti proses terjadinya konflik, gaya manajemen konflik, serta peranan kepemimpinan dalam mengatasi konflik. Sehingga perlu disadari oleh para pemimpin, di dalam kehidupan organisasi moderen telah menjadi lebih kompleks, terjadi berbagai macam spesialisasi, pengelompokan (segmented). Sehingga keadaan ini menyebabkan lebih sulit memelihara kesatuan organisasi. Oleh sebab itu, tanpa koordinasi dan kontrol yang tepat, maka organisasi akan menjadi terpecah-pecah, terpenggal-penggal (fragmented) dan tidak efektif. Dengan demikian betapa pentingnya peranan seorang pemimpin untuk mempertahankan keutuhan organisasinya. Kepemimpinan adalah suatu kekuatan penting dalam rangka pengelolaan, oleh sebab itu kemampuan memimpin secara efektif merupakan kunci keberhasilan organisasi. Karena esensi kepemimpinan adalah kepengikutan kemauan orang lain untuk mengikuti keinginan pemimpin, maka kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu: 1. Menimbulkan kemauan yang kuat dengan penuh semangat dan percaya diri para bawahan dalam melaksanakan tugas masing-masing 2. Memberikan bimbingan dan mengarahkan para bawahan serta memberikan dorongan, memacu dan berdiri di depan demi kemajuan dan memberikan inspirasi

dalam mencapai tujuan 3. Menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras 4. Mampu melakukan tindakan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan semangat dan percaya diri yang tinggi 5. Mampu membujuk bawahan, sehingga bawahan yakin apa yang dilakukan adalah benar (induce) Sehingga keberhasilan kepemimpinan pada hakikatnya berkaitan dengan tingkat kepedulian seorang pemimpin terlibat terhadap kedua orientasi, yaitu apa yang telah dicapai oleh organisasi (organizational achievement) dan pembinaan terhadap organisasi (organizational maintenance) (Lee G. Bolman and Terrence E. Deal) dalam Wahjosumidjo (1983). 1. Organizational achievement, mencakup produksi, pendanaan, kemampuan adaptasi dengan program-program inovatif, dan sebagainya. Dengan pendekatan ini, keberhasilan seorang pemimpin dapat dikaji dengan langkah-langkah atau cara: 1) Pengamatan terhadap produk yang dihasilkan oleh proses transformasi kepemimpinannya, seperti: a. Penampilan kelompok b. Tercapainya tujuan kelompok c. Kelangsungan hidup kelompok d. Pertumbuhan kelompok e. Kemajuan kelompok menghadapi krisis f. Bawahan merasa puas terhadap pemimpin g. Bawahan merasa bertanggung jawab terhadap tujuan kelompok h. Kesejahteraan psikologi dan perkembangan anggota kelompok i. Bawahan tetap mendukung kedudukan dan jabatan pemimpin 2) Berkaitan dengan hasil transformasi tersebut dapat dilihat pula beberapa hal, seperti:

a. Pertumbuhan keuntungan b. Batas minimal keuangan c. Peningkatan produk pelayanan d. Penyebaran jasa pelayanan e. Target yang tercapai f. Investasi mengalami pertumbuhan

2. Organizational maintenance Dengan pendekatan ini, dapat dilakukan melalui pengamatan terhadap sikap bawahan dan orientasi pemimpin terhadap bawahan: 1) Sikap bawahan terhadap pemimpin a. Apakah bawahan merasa puas terhadap pemenuhan kebutuhan dan harapan b. Apakah bawahan menghargai, hormat, dan kagum terhadap pemimpin c. Apakah para bwahan merasa bertanggung jawab dengan kuat untuk melaksanakan permintaan (perintah), atau mereka berkeinginan untuk bertahan, tidak memperhatikan atau menolak (menggagalkan) perintah pemimpin 2) Berkaitan dengan sikap bawahan terhadap pemimpin tersebut, dapat dilakukan (dipergunakan) bermacam-macam alat pengukur perilaku, seperti: a. Ketidakhadiran (absensteeism) b. Pergantian dengan mendadak c. Keluhan d. Pengaduan terhadap pemimpin yang lebih atas e. Permintaan pindah f. Kemunduran (slowdown) g. Pemogokan liar (wildcat strikes) h. Peristiwa-peristiwa sabotase yang sengaja terhadap perlengkapan dan fasilitas yang secara tidak langsung menunjukkan bawahan tidak puas dan sikap permusuhan terhadap pimpinan mereka.

3) Keberhasilan pemimpin kadang-kadang dapat diukur pula melalui orientasi pemimpin terhadap kualitas bawahan yang dapat dirasakan oleh bwahan atau pengamatan dari luar, seperti: a. Apakah pemimpin meningkatkan rasa kebersamaan kelompok: Kerjasama kelompok Motivasi kelompok Pemecahan masalah Pengambilan keputusan, dan Pemecahan konflik antar anggota b. Apakah pemimpin memberikan bantuan terhadap: Efisiensi demi spesialisasi peranan Kegiatan organisasi Akumulasi sumber, dan kesiapan kelompok menghadapi perubahan dan krisis c. Apakah pemimpin melakukan perbaikan: Kualitas kehidupan kerja Menciptakan rasa percaya diri bawahan Meningkatkan keterampilan bawahan, dan Membantu pertumbuhan dan perkembangan psikologi bawahan

DAFTAR PUSTAKA Hall, Richard H, 1982: Organizations: structure and Process, Prentice Hall, Inc, Englewood Cliffs, New Jersey. Hanafi, Mamduh.M. (2003). Manajemen. Edisi Revisi. Yogyakarta: UPP AMP YKPN. Handoko, T.H. (1992). Manajemen. Edisi 2. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi UGM Kambey, D.C. (2006). Landasan Teori Administrasi/Manajemen. Manado: Yayasan Tri Ganesha Mulyono. (2008). Manajemen Administrasi & organisasi Pendidikan. Jogjakarta: Ar-

Ruzz Media

Robbins, S.P. (1994). Teori Organisasi; Struktur, Desain & Aplikasi. Edisi 3. Alih Bahasa Jusuf Udaya. Jakarta: Arcan

Senge, P. 1995. The Fifth Discipline: The Art And Practice of The Learning Organization. New York: Publishing Group. Inc.

Suryosubroto, B. (2004). Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta Usman, Husaini. (2009). Manajemen, Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan.Jakarta: Bumi Aksara Wahjosumidjo, 1983: Kepemimpinan, Departemen Pendidikan, Pusat Pendidikan dan Latihan Pegawai. Pusdiklat Depdikbud RI, Jakarta ------------------, 2007: Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoretik dan Permasalahnnya. Raja Grafindo Persada, Jakarta Yukl, Gary. (2009). Leadership in Organization (Kepemimpinan Dalam Organisasi). Jakarta: Indeks

PROPOSAL PENELITIAN
HUBUNGAN GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN KECERDASAN EMOSIONAL GURU TERHADAP KINERJA GURU SEKOLAH SMP NEGERI DI KOTA BEKASI
Oleh: ZAINIR No Reg : 7616091667 PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN PROGRAM PASSCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2010

A. B. C. D. E.

DAFTAR ISI BAB I PENDAHUALUAN Latar Belakang Masalah 1 Idetifikasi Masala.. 5 Pembatasan Masalah .. 6 Perumusan masalah .. 7 Kegunaan Penelitian .. 7 BAB II DESKRIPSI TEORETIK, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN Deskripsi Teoritik . 9 Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah . 9 Kecerdasan Emosional 14 Kinerja Guru 23 Kerangka Berpikir . 27
28 28

A. 1. 2. 3. B.
1. 2. 3.

Hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru di Sekiolah Menengah Pertama ( SMP ). .. Hubungan antara kecerdasan emosional dengan kinerja guru ...

Hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan kecerdasan emosional secara bersama sama dengan kinerja karyawan. . 29

C. A. B. C. D. E. F.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Tujuan Penelitian .. 31 31 32 33 34 38

Tempat dan Waktu Penelitian . Metodologi Penelitian . Populasi dan Sampel Instrumen Penelitian Teknik Analisa Data DAFTAR PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal bertujuan membentuk manusia yang berkepribadian, dalam mengembangkan intelektual peserta didik dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Kepala sekolah sebagai pemimpin perannya sangat penting untuk membantu guru dan karyawan. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan seorang kepala sekolah harus mampu meningkatkan kinerja para guru atau bawahannya. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kinerja sesorang, sebagai pemimpin begitu juga sebagi kepela sekolah

Kepala sekolah harus mampu memberikan pengaruh-pengaruh yang dapat menyebabkan guru tergerak untuk melaksanakan tugasnya secara efektif sehingga kinerja mereka akan lebih baik. Sebagai pemimipin yang mempunyai pengaruh, ia berusaha agar nasehat, saran dan jika perlu perintahnya di ikuti oleh guru-guru. Dengan demikian ia dapat mengadakan perubahanperubahan dalam cara berfikir, sikap, tingkah laku yang dipimpinnya. Dengan kelebihan yang dimilikinya yaitu kelebihan pengetahuan dan pengalaman, ia membantu guru-guru berkembang menjadi guru yangprofesional. Dalam melaksanakan fungsi kepemimpinannya kepala sekolah harus melakaukan pengelolaan dan pembinaan sekolah melalui berbagai kegiatan seperti kegiatan kepemimpina atau manajemen dan kepemimpinan yang sangat tergantung pada kemampuannya. Sehubungan dengan itu, kepala sekolah sebagai supervisor berfungsi untuk mengawasi, membangun, mengkoreksi dan mencari inisiatif terhadap jalannya seluruh kegiatan pendidikan yang dilaksanakan di lingkungan sekolah. Disamping itu kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan berfungsi mewujudkan hubungan manusiawi (human relationship) yang harmonis dalam rangka membina dan mengembangkan kerjasama antar personal, agar secara serempak bergerak kearah pencapaian tujuan melalui kesediaan melaksanakan tugas masing-masing secara efisien dan efektif. Oleh karena itu, segala penyelenggaraan pendidikan akan mengarah kepada usaha meningkatkan mutu pendidikan yang sangat dipengaruhi oleh guru dalam melaksanakan tugasnya secara operasional. Kinerja guru tidak terlepas dari peran seorang Kepala Sekolah sebagai pempinan yang mempunyai wewenang untuk memerintah orang lain , kepala sekolah berperan aktif menyelasaikan persoalan persoalan yang timbul dari bawahanya dan itu sekaligus tantangan yang harus dihadapi oleh seorang pimpinnan karena itu kepala sekolah senantiasa menghadapi dan mengerahkan semua kekuatanya untuk memecahkan persoalan pada bawahanya, akan tetapi upaya yang dilakukan seorang kepala sekolah tidak semudah yang kita pikirkan kepala sekolah terkendala oleh banyak hal seperti sikap bawahan / guru dalam menafsirka perintah yang diberkan oleh pimpinan dalam hal ini kepala sekolah, sering kita menemukan adakalnya terjadi kontradiksi kemauan antara pimpinan dan dan bawahan , antara guru dan kepala sekolah, apa yang diinginkan kepala sekolah tidak dapat ditangkap atau diterima oleh guru sehingga menimbulkan prasangka. Pimpinan yang baik dalam menjalankan kepemimpinanya merupakan point di mana organisasi ingin meningkatkan dan mengembangkan knowledge dan ability individu. Sesuai dengan kebutuhan masa kini maupun masa dating. Menyadari berbagai hal tersebut dalam pencapaia tujuan pendidikan nasional pada umumnya khususnya pencapain tujuan pendidikan di Kota Bekasi sesuai dengan Visi Misi Kota Bekasi sebagai kota yang sehat,cerdas dan ikhsan maka perlu dikaji peran seorang kepala sekolah sebagai pemimpin disekolanya. Tampa seorang pemimpin ssuatu organisasi tak lain merupakan campuraduk manusia dan peralatan dalam suatu tempat, kepemimpinan merupakan kecakapan untuk mengendalikan, mengatur orang orang agar berperan sesuai fungsinya masing masing, kepenmimpinan dapat menjadi penyemangat , menjadi motivasi kumpulan orang tadi dalam beraktivitas Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau pun jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya. Dalam teori asal mula lahirnya negara secara primer ditemui Istilah Primus Interparens artinya yang utama diantara sesama, dimana seorang pemimpin itu muncul

karena kelebihan yang dimiliki oleh seseorang ,seperti kelebihan seseorang secara fisik ( badannya yang besar, tenaganya yang kuat, umurnya yang paling tua[1]Dengan kelebihan yang dimilikimoleh seseorang itu maka ia di segani oleh sesamanya anggota kelompoknya dia menjadi yang utama dan dipercaya untuk menyelesaikan segala persoalan yang terjadi, baik menyelasaikan konflik maupun memimpin sebuah pekerjaan. Tetapi seiring perkembangan zaman pemimpin tidak lagi ditentukan semata hanya karena keunggulan fisik semata tapi juga keunggulan wawasan, kecerdasan, kompetensi bawahan, kepatuhan atau ketaatan bawahan dalam menjalankan perintah pimpinandalam, tiap orang memiliki kecerdasan yang berbeda seperti kecerdasan social, kecerdasan managerial, kecerdasan ekonomi, kecerdasan teknologi, apabila seseorang menguasai satu kecerdasan maka ia akan unggul dan itu bias menjadi modal seseorang untuk menjadi pemimpin, sehingga kepemimpinan modern tidak terfokus pada satu keturunan, siapa saja yang memiliki kecerdasan maka dia berpeluang menjadi pemimpin. Kepemimpinan seseorang tidak semata hanya ditentukan oleh kelebihanya secara fisik seperti badan yang besar tetapi lebih ditentukan cara atau gaya orang itu memimpin atau mempengaruhi bawahanya. Berhasil atau tidaknya seseorang memimpin dengan gaya yang dimilikinya tentu juga tidak terlepas dari factor lain seperti tingkat pendidikan, minat, motivasi, semangat, kedisipilinan, tingkat usia, jenis kelamin, tingkat kecerdasan, tingkat emosi, sarana yang tersedia, situasi / kondisi, tingkat ekonomi, lingkungan dan sebagainya. Dari sekian banyak factor yang mendukung keberhasilan seorang pemimpin penulis dalam makalah ini akan mengangkat permasalahan dimana kepemimpinan dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, Adakalanya seorang pemimpin memberikan perintah berdasarkan hal hal yang sifatnya sabjektif atau lebih ditonjolkan yang yang pribadi. Bawahan atau orang yang dipimpin juga sering tidak dapat menerima kebijakan yang dibuat pimpinan karena factor yang sifatnya pribadi, cendrung berprasangka buruk terhadap kebijakan yang dibuat. Antara pemimpin dan yang dipimpin sering terjadi saling menyalahkan bawahan sering menganggap dirinya sebagai kuli dan harus patuh dengan segala perintah atasan. Akibatnya, banyak bawahan yang memendam idenya. Sebaliknya, atasan kerap menganggap dirinya lebih unggul dan berpengalaman di banding bawahannya. Seorang atasan juga harus memahami keinginan dan cita-cita bawahannya. Pemahaman seperti ini akan membuat bawahan betah bekerja di bawah kepemimpinan atasan. Keberhasilan pemimpin terlihat jika bawahan rela dipimpin dalam bekerja. "Pemimpin mampu membuat bawahan bahagia di saat bekerja," Kepemimpianan seseorang selain dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan juga dipengaruhi oleh berbagai kecerdasan seperti kecerdasam emosi, sehingga gaya kepemimpinan yang tepat bila diikuti dengan kecerdasan emosi yang baik akan menghasilkan kinerja yang baik B. Identifikasi Masalah

Mengenai kepemimpinan merupakan kajian yang komplek, karena amat luas bidangnya, dan banyak factor yang mempengaruhinya. Selain dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan itu sendiri kepemimpinan juga dipengaruhi oleh faktor motivasi, tingakat pendidikan, wawasan, ekonomi, kecerdasan IQ,kecerdasan EQ dan banyak faktor lainya. Kepemimpinan akan mempengaruhi kinerja karyawan dalam sebuah institusi, sekolah sebagai satu institusi juga dimana disana adapimpinan dan ada karyawan tentu juga berlaku teori kepemimpinan pada umumnya dimana kepemimpinan dipengaruhi oleh berbagai faktor jika semua faktor yang mempengaruhi memberikan kontribusi yang baik tentu akan melahirkan kinerja yang baik pula. Peningkatan kinerja guru adalah suatu tuntutan dalam dunia pendidikan karena tampa kinerja yang baik tidak akan tercapai tujuan negara seperti dala pembukaan Undang

1. 2. 3.

Undang Dasar 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, karena itu kajian teningkatan kualitas merupakan yang utama, lalu agar kinerja meningkat hala apa saja yang mempengaruhinya, ada beberap permasalahan yang akan kita coba rumuskan sebagai faktor yang mempengaruhi kinerja. Permasalahan itu dapat kita rumuskan sebagai berikut: Bagaimana gaya kepemimpinan kepala sekolah dapat mempengaruhi kinerja guru di SMP Negeri kota Bekasi. Bagaimana keterkaitan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan kecerdasan emosional guru dalam meningkatka kinerja guru di SMP Negeri Kota Bekasi Bagaimana kecerdasan emosi guru dapat meningkatkan kinerja guru di SMP Negeri Kota Bekasi Pembatasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah tersebut bila dilihat ruang lingkupnya yang begitu luas dan berkaitan dengan banyak faktor maka yang mempengaruhi nkinerja itu maka perlu pemnatasan jika tidak tentu akan mengaburkan eksistensi dari permasalahan yang dikaji selain itu alas an keterbatasan waktu dan tenaga sehingga penilitian ini diarahkan pada variable berikut : Kinerja guru sebagai variable terikat, dan gaya kepemimpinan saerta kecerdasan emosi sebagai variable bebas. Dengan pertimbangan tersebut diatas maka gaya kepemimpinan dan kecerdasan emosi yang berhubungan dengan kinerja guru akan ditetapkan sebagai judul pada penelitian ini. D. Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini : Bagaiman hububgab antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan kecerdasan emosi guru dalam meningkan kinerja guru SMP negeri di kota Bekasi E. Kegunaan Penelitian Kegunaan sebuah penelitian dapat dilihat dari dua hal yaitu keguanaan secara teoritik dan kegunaan secara praktis 1. Kegunaan secara teoritik Secara teoritik penelitian diharapkan dapat member masukan pengalaman dan khasanah perbendaharaan keilmuan yang baru bagi peneliti, khusunya dibidang kepemimpinan dalam rangka meningkatkan kinerja. Manfaat lain yang dapat diambil adalah dapat mengembangkan konsep konsep yang telah ada dalam disiplin keilmuan untuk meningkatkan kinerja sehingga berguna bagi pengembangan ilmu.

C.

2.

Kegunaan secara praktis. Secara praktis penelitian akan member masukan yang sangat berarti bagi upaya perbaikan tentang kepemimpinan dalam rangka meningkatkan kinerja, selaintiu juga dapat menjadi acuan untuk melaksanakan tugas kepemimpinan dimasa depan dan bagi peneliti penelitian ini berguna untuk menambah wawasan dan menjadi masukan yang berharga dalam berkarya.

BAB II DESKRIPSI TEORETIK, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN A. Deskripsi Teoretik. 1. Gaya Kepemimpinan Kepemimpinan Kepala Sekolah. Suatu tempat dimana ada interaksi manusia disana ada kepemimpinan. Dalam interaksi tersebut terdapat seseorang atau beberapa orang individu yang mempunyai pengaruh terhadap orang lain sehingga berperilaku sesuai kehendaknya. Target kepemimpinan menghasilkan kepatuhan dari yang dipimpin, tetapi kepatuhan itu mempunyai berbagai alasan seseorang bias patuh terhadap pimpinan. Seseorang bias patuh terhadap pimpinan karena karena faktor kebutuhan social atau karena nilai nilai yang ada dalam diri pemimpin cocok dengan nilai yang internal yang ada dalam dirinya. Dari berbagai unsur esensial tentang kepemimpinan tersebut maka peneliti berkonsentrasi pada gaya kepemimpinan dalam menjalankan fungsinya dan aktualisasi fungsi kepemimpinan mencermainkan gaya kepemimpinan. 1.1. Pengertian Kepemimpinan. Kepemimpinan adalah suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatankegiatan dari sekelompok anggota yang salin berhubungan dengan tugasnya.[2]Definisi mengenai kepemimpinan tersebut mencerminkan asumsi bahwa kepemimpinan menyangkut sebuah proses social yang dalam hal pengaruh yang sengaja dijalankan oleh seseorang terhadap orang lain untuk menstruktur aktivitas aktivitas serta hubungan hubungan dalam sebuah kelompok oatau arganisasi. Seorang pemimpin dalam suatu organisasi mempunyai posisi yang sanat penting. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Davis dan Sutisna sebagai berikut : tampa kepemimpinan suatu organisasi hanyalah sejumlah orang- orang yang kacau. Kepemimpina adalah kemampuan yang telah ditetapkan dengan bergairah, ia adalah faktor manusiawi yang mempersatukan kelompok dan menggerakkannya kea rah tujuan tujuan, kegiatan manajemen seperti merencanakan, mengorganisasikan, dan membuat keputusan adalah kepompong tersembunyi sampai saat pemimpin meledakkan kekuatan motivasi dalam orang dan membimbing kearah tujuan tujuan. Kepemimpinan mengubah potensi menjadi kenyataan. Ia adalah tindakan akhir yang membawa pada keberhasilan semua potensi yang ada pada organisasi dan orang-orang.[3] Esensi kepemimpinan adalah kemampuan seseorang menggerakkan, membimbing, mengarahkan orang baik secara individu maupun kelompok dalam suatu kegiatan kerja sama untuk mencapai tujuan. Senada dengan yang diungkapkan oleh Kartini Kartono bahwa pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khusus sehingga ia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya satu atau beberapa tujuan.[4]

Kepemimpinanj yang baik merupakan suatu harapan bagi setiap organisasi karena melalui kepemimpinan ini dianggap akan mampu menciptakan suatu kelancaran pelaksanaan program organisasi dan terwujud tujuan organisasi secara efektif dan efesien. Suatu organisasi akan berhasil bahkan gagal sebagai sebagian bias ditentukan oleh kepemimpinan.[5] Dari pandangan tersebut maka jelas bahwa keberhasilan organisasi dalam menjalankan programnya sudah tentu didukung oleh kepemimpinan yang baik pula. Maka kepemimpinan yang baik harus mampu dipahami dan diterapkan secara baik pula dalam diri pemimpin. Dari kutipan tersebut, dinyatakan bahwa kepemimpinan merupakan sebuah kemampuan yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin dalam menggerakkan seluruh sumber daya organisasi terutama sumber daya manusianya untuk melakukan apa yang diharapkan. Kemampuan inilah yang akan menentukan bahwa seorang pemimpin tersebut baik tidaknya. Semakin memiliki kemampuan yang bagus dalam menggerakkan sumber daya manusia, maka semakin baik jiwa kepemimpinannya. Kepemimpinan ini pula diartikan sebagai kemampuan yang dimiliki seorang pemimpin dalam memberdayakan seluruh potensi yang ada dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkannya. 1.2. Teori Gaya Kepemimpinan. Para ahli dibidang kepemimpinan telah meneliti dan mengembangkan gaya kepemimpinan yang berbeda beda sesuai dengan evalusi teori kepemimpinan. Gaya kepemimpinan merupakan dasar dalam mengklasifikasikan tipe kepemimpinan. Gaya kepemimpinan mempunyai tiga pola dasar yaitu mementingkan tugas, mementingkan hubungan kerja sama dan mementingkan hasil yang dicapai seperti yang dikemukan oleh Rivai bahwa
Gaya kepemimpinan adalah sekumpulan cirri yang digunakan pimpinan untuk mempengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai atau dapat pula dikatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola prilaku dan strategi yang disukai dan sering diterapkan oleh seorang pemimpin. Gaya kepemimpinan mengambarkan kombinasi yang konsisten dari falsafah, keterampilan, sifat, dan sikap yang menandai perilaku seseorang. Gaya kepemimpinan yang menunjukan secara langsung maupun tidak langsung tentang keyakinan keyakinan seorang pemimpinan terhadap kemampuan bawahanya. Artinya gaya kepemimpinan adalah perilaku dan sifat, sikap yang sering diterapkan oleh seorang pemimpin ketika ia mencoba mempengaruhi kinerja bawahanya.[6]

Untuk menentukan gaya yang paling efektif dalam menghadapi keadaan tertentu maka perlu mempertimbangkan kekuatan yang ada dalam tiga unsure yaitu diri pemimpin, bawahan, dan situasi secara menyeluruh. Menurut Contigency Theory Leadership bahwa ada kaitan antara gaya kepemimpinan dengan situasi tertentu yang dipersyaratkan. Menurut teori ini seorang pemimpin dapat dikatakan efektif jika gaya kepemimpinan sesuai dengan situasi yang terjadi. Pendekatan ini menyarankan bahwa diperlukan dua perangkat perilaku untuk kepemimpinan yang efektif yaitu melalui tugas dan perilaku hubungan. Dengan kedua perangkat ini maka kemungkinan akan melahirkan empat gaya kepemimpinan yaitu (1) mengarahkan, gaya kepemimpinan ini perilaku tugas tinggi dan perilaku hubungan rendah. (2) menjual, perilaku tugas maupun perlaku hubungan sama tinggi, (3) Ikut Serta, perilaku tugas rendah,perilaku hubungan tinggi, dan (4)mendelegasikan, baik tugas maupun hubungan sama sama rendah. Ruang lingkup gaya kepemimpinan terdapat tiga pendekatan utama yaitu : Pendekatan sifat kepribadian pemimpin, pendekatan perilaku pemimpin, dan pendekatan situasional atau kontingensi. Senada dengan yang dikemukakan oleh Rahmany sebagai berikut.[7] a. Teori Sifat Kepribadian Teori ini mempunyai keyakinan bahwa seseorang akan menjadi pemimpin karena ia memang dilahirkan untuk menjadi pemimpin atau dengan kata lain ia mempunyai bakat dan pembawaan untuk menjadi pemimpin. Dalam pandangan ini tidak setiap orang bias jadi pemimpin hanya orang mempunyai bakat dan pembawaan saja yang bias jadi pemimpin.

Teori kedua, mengatakan bahwa, mengatakan seseorang akan menjadi pemimpin kalau lingkungan, waktu dan kebiasaan memungkinkan menjadi pemimpin. Setiap orang bias menjadi pemimpin asal diberi kesempatan dan diberi pembinaan untuk menjadi pemimpin, sekalipun dia tidak mempunyai bakat pembawaan menjadi pemimpin. Teori ke tiga, adalah gabungan dari teori pertama dengan teori kedua yaitu untuk menjadi seorang pemimpin perlu bakat dan bakat itu perlu dibina supaya berkembang. Kemungkinan untuk mengembangkan bakat ini tergantung pada lingkungan, waktu dan kebiasaan. Teori keempat disebut teori situasi. Menurut teori ini setiap orang bias menjadi pemimpin tetapi dalam situasi tertentu. Karena ia memiliki kelebihan yang diperlukan dalam situasi itu. Dalam waktu lain dimana kelebihan kelebihan itu tidak diperlukan. Dalam situasi lain ia tidak akan menjadi pemimpin bahkan mungkin hanya menjadi pengikut saja. b. Pendekatan Perilaku. Pendekatan perilaku memandang kepemimpinan dapat dipelajari dari pola tingkah laku dan bukan sifat sifatnya. Studi ini melihat dan mengidentifikasi perilaku yang khas dari pemimpin dalam kegiatanya untuk mempengaruhi anggotanya kelompok atau pengikutnya. Perilaku pemimpin ini dapat berorientasi pada tugas keorganisasian ataupun pada hubungan anggota kelompoknya.

c.

Pendekatan Situasional. Teori kepemimpinan situasional merupakan perkembangan yang mutakhir dari teori kepemimpinan dan merupakan hasil baru model keefektifan pemimpin tiga dimensi. Teori ini mencoba menyiapkan pemimpin dengan berbagai penelitian mengenai hubungan diantara perilaku kepemimpinan yang efektif dan taraf kematangan pengikutnya. Teori ini berasumsi bahwa pemimpin yang efektif tergantung pada taraf kematangan perilaku dan kemampuan pemimpin untuk memberikan orientasinya, baik orientasi birokratis maupun hubungan antar manusia. 2. Kecerdasan Emosional 1.1. Pengertian Kecerdasan Masyarakat mengenal intelegence sebagai Istilah yang menggambarkan kecerdasan atau kepintaran yang berarti kemampuan berpikir seseorang atau kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Kadang masyarakat mengambarkan kecerdasan hanya dengan angka angka atau nilai yang diperoleh seseorang . sedangkan secara bahasa kecerdasan berasal dari bahasa Inggris yaitu intelegence dan juga dari bahasa latin yaitu intelligentia. Dalam bahasa Indonesia bias disebut dengan kecerdasan atau intelegensi. Selam ini makna kecerdasan lebih sering ditunjukan sebagai kemampuan kognitif yang dimiliki seseorang. Ukuran Kecerdasan atau intelegensi lazim disebut IQ. Hagenhahn dan Olson memberikan batasan pengertian kecerdasan sebagai An intelligent act is one sause an approximation to the condition optimal for an organisms survival. In other words, intelligence allows an organism to deal effectively with ist environment ( tindakan optimal yang menggerakkan organisasi untuk tetap bertahan dalam arti lain bagaiman seseorang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara efektif ).[8] Gambaran seseorang yang mempunyai intelegensi tinggi disekolah, biasanya tercermin sebagai siswa yang pintar atau siswa yang pandai dalam studinya. Dalam psikologi, dikemukakan bahwa intelegence atau kecerdasan berarti penggunaan kekuatan intelektual secara nyata. Teodore Simon seperti yang dikutip oleh Saeful Anwar mengungkapkan bahwa pada dasarnya intelegensi atau kecerdasan terdiri dari tiga komponen yaitu : (a) kemampuan untuk mengerahkan pikiran atau mengerahkan tindakan (b) kemampuan untuk merubah arah yang telah dilaksanakan; (c) kemampuan mengubah diri sendiri.[9] Sedangkan Wechsler mendefenisikan intelegensi

sebagai totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan hyang efektif.[10] Dalam hal ini kecerdasan menentukan respons seseorang terhadap stimulus yang terjadi pada lingkungannya, agar ia bias berfikir secara rasional dan menggunakan sumber-sumber informasi secara efektif sehungga bias bertahan hidup atau bagaiman seseorang bias beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Dari beberapa definisi diatas dapat dikatakan bahwa kecerdasan adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mampu merespon berbagai keadaan dan tantangan dari lingkungan sekitarnya dengan memaksimalkan sumberdaya dan kemampuan yang dimilikinya. 1.2. Pengertian Emosi. Emosi berasal dari kata movere ( Latin) artinya menggerakkan atau bergerak makna kata emosi adalah dorongan untuk bertindak. Goleman menyebutkan bahwa emosi adalah kecendrungan untuk bertindak.[11] Ada juga yang berpendapat bahwa emosi adalah pengamalan rasa.[12] Secara harfiah emosi dapat didefinisikan kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap. Oleh sebab itu emosi dapat dikatakan sebagai rujukan pada suatu perasaan dan pikiran khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkain kecendrungan yang kita rasakan yang bias memotivasi kita untuk mengambil suatu tindakan. Hal senada juga dikemukakan oleh Robert Kreitner dan Anggelo Kinicki, Emotion complex human reaction to personal achievements and setbacks that may be felt and displayed.[13] Prinsip dasar emosi tidak bias dicari berdasarkan kerangka kelompok atau dimensi, positif dan negative dengan mengambil kelompok besar emosi seperti: sedih, marah, bahagia, kecewa, malu, takut, was-was, gelisah dan sebagainya adalah titik tolak bagi nuansa kehidupan emosional yang tak habis habisnya, sejak manusia itu dilahirkan kedunia sampai pada akhirnya ia meninggal dunia. Sehingga emosi senantiasa akan timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan individu. Namun demikian emosi membawa manfaat positif bagi manusia antara lain: 1). Bertahan hidup : alam mengembangkan emosi melalui selama jutaan tahun. Hasilnya adalah kemampuan emosi yang melayani sebagai system pemandu internal yang penting dan canggih. Emosi dapat memberikan peringatan pada saat kebutuhan dasar manusia tidak terpenuhi. Contohnya, jika merasa kesepian maka kebutuhan akan hubungan dengan orang lain akan muncul. 2). Membuat keputusan : emosi merupakan sumber informasi yang berharga, karena membantu manusia dalam membuat keputusan. Penilaian membuktikan bahwa jika emosi seseorang tidak terkoneksi didalam otak maka orang itu tidak bias membuat keputusan yang mudah sekalipun. Dengan alas an orang tersebut tidak mengetahui apa yang tentang keputusan yang telah dicapainya. 3). Membina hubungan/ikatan, apabila rasa tidak suka terhadap tingkah laku seseorang, emosi akan member peringatan. Oleh sesbab itru seseorang perlu belajar untuk mempercayai emosi dan merasa lebih yakin dalam mengekpresikan diri sehongga sikap menunjukan rasa tidak suka ( tidak nyaman ) sejalan dengan kesadaran yang akan muncul. Hal ini akan membantu manusia untuk melindunggi kesehatan fisik dan mental. 4) Komunikasi, emosi membantu dalam komunikasi antar sesame contohnya ekspresi dalam menyampaikan sejumlah emosi. Misalnya dalam keadaan sedih atau terluka dapat member tanda bahwa seseorang butuh bantuan. Melalui latihan secara lisan seseorang dapat mengekspresikan lebih banyak kebutuhan emosi dan mempunyai kesempatan lebih banyak untuk memenuhinya. 5) Mempersatukan ( unity ), mungkin juga emosi merupakan sumber potensi tersebut dapat menyatukan semua manusia. Hal tersebut dapat terlihat jelas, bahwa agama, budaya dan politik dapat menyatukan manusia, bahkan secara lebih lanjut dapat memecahkan. Seperti yang diungkapkan Darwin emosi empati, perasaan iba, kerjasama dan semuanya dapat menyatukan kita sebagai sesame.[14]

1.3.

Pengertian Kecerdasan Emosi. Kecerdasan emosi bukan merupakan lawan dari kecerdasan intelektual ( IQ) namun keduanya berinteraksi secara dinamis. Kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan mengenali perasaan diri dan perasaan orang lain. Kemampuan memotivasi diri sendiri, kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain. Sebuah teori komperhensif tentang kecerdasan emosi diajukan tahun 1990, mendefinisikan bahwa kecerdasan emosi sebagai kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri serta menggunakan perasaan itu untuk memadu pikiran dan tindakan. Kecerdasan emosi awalnya dikelompokkan menjadi lima area yaitu kesadaran diri artinya dengan kesadaran diri anda dan menggali perasaan sejalan dengan perasaan sejalan. Pengaturan emosi adalah mengendalikan perasaan sehingga menimbulkan rasa cocok dan merealisir apa yang ada dibalik perasaan tersebut dengan pas sehingga bias mengendalikan ketakutan, kecemasan, kemarahan dan kesedihan. Memotivasi diri, seseorang dapat dikatakan memotivasi diri apabila ia mampu menyalurkan emosi dalam pencapaian tujuan selain itu juga bias mengontrol emosi, menunda gratifikasi dan menghambat implus. Empati sensitivitas terhadap perasaan dan mengambil perspektif, namun tidak kehilangan jati dirinya. Pengaturan hubungan . mengatur hubungan dalam pengertian trampil mengendalikan emosi dalam diri orang lain. Kecerdasan emosi diperlukan untuk kesuksesan dalam kehidupan karena emosi selalu hadir pada setiap aspek perkembangan aspek kehidupan. Oleh karena itu kecerdasan emosional berkaitan erat dengan perkembangan emosi yang Nampak dalam perilaku, hal ini dikarenakan kecerdasan emosi seseorang pada dasarnya bersumber dari pengembangan emosi yang dimiliki orang tersebut yang dapat dideteksi melalui perilakuperilaku yang Nampak dari suatu keadaan perasaan dan tanggapan tanggapan fisiologis. Goleman menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan cirri kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang dalam mengelola emosi seperti kemampuan memotivasi diri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa.[15] Menurut Cooper dan Sawaf sebagaimana dikutip oleh Enung Fatimah mendefinisikan bahwa inti dari kecerdasan emosional kamampuan merasakan,memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi.[16] Senada dengan itu Patricia Patton mengatakan bahwa IQ adalah factor genetic yang tidak dapat diubah yang dibawa sejak lahir, sedangkan EQ tidak. Kita dapat menyempurnakan dengan kesungguhan, latihan,pengetahuan, dan kemauan. Dasar untuk memperkuat EQ adalah dengan memahami diri kita sendiri.[17] Patton juga mengatakan bahwa tanda- tanda tidak adanya kecerdasan emosional dalam organisasi apabila tidak ada kerjasama antar anggota, pemimpin mudah marah, kerja keras tidak menghargai, atasan sering mengkritik, tidak saling percaya sesame anggota, timbul perasaan tertekan, bosan, anggota saling merendah uasaha masing masing. Hal tersebut karena terkendali emosi, kurang empati dan pertimbangan dan ini akan menghambat prokdutivitas kerja.[18] Daniel Goleman, mempopulerkan teori tentang kecerdasan emosional pada tahun 1990, melakukan penelitian untuk menemukan kembali apa yang dibutuhkan manusia untuk meraih sukses dalam kehidupannya. Karena selama ini dipercaya bahwa yang menentukan keberhasilan seseorang adalah faktor kecerdasan intelegensi (IQ) yang hanya berkisar pada kecakapan linguistic dan matematika yang sempit. Pada kenyataannya orang yang memiliki intelegensi (IQ) yang tinggi tidak selalu sukses dalam pekerjaannya. Dalam hal tersebut lebih lanjut Goleman mengatakan mengatakan bahwa kemampuan kognitif mengantarkan seseorang ke pintu suatu perusahaan, tetapi kemampuan emosional dapat membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya, setelah diterima bekerja dalam perusahaan.[19] Dengan demikian

kecerdasan emosional merupakan faktor yang sama pentingnya dengan kombinasi kemampuan teknis dan analisis untuk menghasilkan kinerja optimal. Semakin tinggi jabatan seseorang dalam suatu organisasi semakin crusial peran kecerdasan emosional. Adapun indicator yang menunjukan pemimpin itu cerdas secara emosional dapat dibedakan menjadi dua yaitu kompetensi individu dan dan kompetensi social, dari dua kompetensi itu dikembangkan menjadi empat indicator. Kinicki menyebutkan empat indicator kecerdasan emosional adalah: a. Self Awareness Emotional self-awareness Accurate self-assessment Self-confidence b. Self-management. Emotional-self control Transparencey Adaptability Achievement Initiative Optimism c. Social awareness. Empathy Organizational awarwness Service d. Relationship management. Inspirational leadership Influenc Developing others Change catalyst Conflict management Building bonds Teamwork and collaboration.[20] Adapun pengembangan dari keempat indicator itu adalah sebagai berikut: a. Kesadaran Diri: Kesadaran diri adalah kemampuan seseorang didalam mengenali dan memahami apa yang dirasakan pada suatu saat perasaan itu terjadi serta menggunakannya untuk memandu dalam pengambilan keputusan diri sendiri. Ketidakmampuan seseorang didalam mencermati perasaan yang sesungguhnya, membuat diri berada dalam kekuasaan perasaan, sehingga ia tidak peka akan perasaan yang sesungguhnya, hal ini akan berakibat buruk bagi pengambilan keputusan masalah. Ukuran dari kesadaran diri dari seseorang adalah orang tersebut menyadari sepenuhnya terhadap emosi yang timbul dalam dirinya, mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, serta memiliki kepercayaan diri yang kuat, sehingga pada saat pengambilan keputusan ia tidak ragu-ragu. b. Pengelolaan diri. Mengelola diri berarti bagaimana seseorang mampu menangani dan mengelola perasaan atau emosinya, dikatakan berhasil mengelola emosinya apabila ia dapat melepaskan kecemasan, kemurungan, kemarahan, rasa tersinggung dan bangkit kembali dengan cepat, sebaliknya orang yang tidak bias mengelola dirinya akan terus menerus membawa emosi negatifnya. Selain itu orang juga dikatakan mampu mengelola dirinya apabila ia juga bias menyesuaikan diri dengan lingkungan, bias jujur dan transparan, memiliki inisiatif, kreatif

dan inovatif, mempunyai optimisme yang tinggi serta mempunyai dorongan untuk mencapai kinerja yang optimal. c. Kesadaran Sosial. Kesadaran social dalam hal ini, dibangun berdasarkan pemahaman diri. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri, ia akan terampil membaca perasaan, kebutuhan dan karakter orang lain, sehingga ia akan mempunyai pengertian bahwa orang tersebut mempunyai persamaan dengan dirinya. Yang pada akhirnya ia bias berempati, ada rasa iba, membangun semangat, mengambil hati orang lain serta bias memberikan pelayanan kepada orang lain dan menyadari bahwa ia bagian dari sebuah organisasi. d. Pengelolaan Relasi. Seni dalam membina hubungan dengan orang lain merupakan keterampilan social yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan sehari hari. Dalam mengelola relasi seseorang dituntut untuk bias menunjukan sikap bias bekerjasama dengan orang lain, memotivasi, mempengaruhi, member inspirasi serta bias memberikan suatu solusi apabila teman, atau anak buah bermasalah. Dari teori yang dikemukan diatas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosi adalah kesanggupan seseorang untuk merasakan emosinya, memahami emosinya dan menempatkan emosinya secara tepat dalam situasi tertentu yang menyangkut aspek mengenal diri sendiri, pengaturan/pengelolaan emosi, menghargai orang lain dan membangun pribadi. 3. Kinerja Guru. Werther da Davis menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kinerja adalah : Job performance, the most important action an individual can take to further his or her career is good, ethical job performance[21] Hal ini mengisyaratkan bahwa kinerja merupakan suatu tindakan yang paling penting yang dapat dilakukan seseorang dalam garisnya. Robbins melihat kinerja sebagai ukuran dari hasil kerja. Performance is the meansurement of result.[22] Kinerja merupakan ukuran dari hasil yang menggambarkan sejauh mana aktifitas seseorang dalam melakukan tugas dan berusaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Dean R Spitzer dalam bukunya Super Motivation adalah Performance is ability and motivation, or performance = Ability + Motivation.[23] Bahwa pengertian kinerja adalah komponen antara bakat dan motivasi, yang akan menghasilkan suatu nilai kerja. Menurut Whitmore Kinerja adalah suatu perbuatan,suatu prestasi atau suatu pameran umum keterampilan.[24] Kinerja adalah perbuatan dan prestasi serta keterampilan yang ditunjukan oleh seseorang didalam melakukan perbuatan atau pekerjaan. Whitmore mengemukakan kinerja merupakan ekspresi potensi seseorang dalam memenuhi tanggung jawabnya dengan menetapkan standar tertentu.[25] Fungsi pekerjaan yang dimaksud disini adalah pelaksanaan hasil pekerjaan seseorang atau sekelompok yang menjadi wewenang dan tanggungjawabnya dalam suatu organisasi. Sedangkan faktor yang berpengaruh terhadap hasil prestasi kerja seseorang atau kelompok terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi kinerja karyawan terdiri dari kecerdasan, keterampilan, kestabilan emosi, motivasi, persepsi peran, kondisi keluarga, kondisi fisik seseorang dan karakteristik kelompok kerja. Sedangkan pengaruh eksternal antara lain berupa peraturan ketenagakerjaan, keinginan pelanggan, pesaing, nilai-nilai social, serikat buruh, kondisi ekonomi, perubaha lokasi kerja dan kondisi pasar. Pelaksanaan hasil prestasi kerja tersebut diarahkan untuk mencapai tujuan organisasi dalam jangka waktu tertentu.
Pengertian Kinerja Kinerja dalam organisasi merupakan jawaban dari berhasil atau tidaknya tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Para atasan atau manajer sering tidak memperhatikan kecuali sudah amat buruk atau segala sesuatu jadi serba salah. Terlalu sering manajer tidak mengetahui betapa buruknya kinerja telah merosot sehinggaperusahaan / instansi menghadapi krisis yang serius. Kesan kesan buruk organisasi yang mendalam berakibat dan mengabaikan tanda tanda peringatan adanya kinerja yang merosot.

Kinerja menurut Anwar Prabu Mangkunegara

[26]Kinerja ( prestasi kerja ) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang

dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Kemudian menurut Ambar Teguh Sulistiyani

[27]Kinerja seseorang merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha dan kesempatan

yang dapat dinilai dari hasil kerjanya. Maluyu S.P. Hasibuan (2001:34) mengemukakan kinerja (prestasi kerja) adalah suatu h asil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu. Mink

[28].mengemukakan pendapatnya bahwa individu yang memiliki kinerja yang tinggi memiliki beberapa karakteristik, yaitu diantaranya: (a)

berorientasi pada prestasi, (b) memiliki percaya diri, (c) berperngendalian diri, (d) kompetensi.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja


Menurut Robert L. Mathis dan John H. Jackson faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja individu tenaga kerja, yaitu: 1.Kemampuan mereka, 2.Motivasi, 3.Dukungan yang diterima, 4.Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan, dan 5. Hubungan mereka dengan organisasi. Menurut Sulistyani dan Rosidah, dalam kinerja itu sendiri memiliki beberapa kriteria yang mempengaruhi tinggi rendahnya suatu kinerja pegawai adalah: a. Kualitas, menyangkut kesesuaian hasil dengan yang diingini b. Kuantitas, menyangkut hal jumlah yang dihasilkan c. Ketepatan waktu, kesesuaian dengan waktu yang diprogramkan d. Efektifitas biaya,sesuai dengan keperluan dan kebutuhan e. Kebutuhan supervise f. Dampak interpersonal, menyangkut tentang peningkatan harga diri

[29]

Maka dari itu bahwa pengertian kinerja adalah sebagai hasil hasil fungsi pekerjaan atau kegiatan seseorang atau kelompok dalam suatu organisasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor guna mencapai tujuan organisasi dalam periode waktu tertentu. Dari sini akan terlihat pengaruh dari gaya kepemimpinan seorang pemimpin dengan peningkatan kinerja pegawai, antara lain adalah ; a. b. c. d. kondusif e. Menjadikan kerja pegawai lebih efektif dan efesien Memotivasi pegawai untuk meningkatkan kinerjanya. Meningkatkan produktivitas pegawai secara menyeluruh Mendorong untuk mengembangkan bakat pegawai dalam beraktivitas Wujud kesesuaian antara metode yang digunakan pemimpin dengan harapan pegawai, sehingga terciptalah kondisi kerja yang

Menurut Moon, terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja seorang pegawai, yaitu (1) keterampilan dan pengetahuan pegawai, (2) sumberdaya yang tersedia. (3) kualitas dan gaya managemen yang ada, dan (4) Tingkat motivasi pegawai dan sejauh mana pekerjaan tersebut sesuai dengan dirinya.

[30] Kinerja tidak akan maksimal jika pegawai tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan cukup mengenai pekerjaan

yang dilakukan. Kinerja seseorang terlihat dalam situasi dan kondisi kerja sehari hari. Menurut Moon, ada empat faktor yang mempengaruhi kinerja seorang pegawai, yaitu: (1) keterampilan dan pengetahuan pegawai, (2) sumber daya yang tersedia, (3) kualitas dan gaya manajemen yang ada, dan (4) tingkat motivasi pegawai dan sejauh mana pekerjaan tersebut sesuai dengan dirinya.

[31]. Kinerja tidak akan maksimal jika

pegawai tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan yang cukup mengenai pekerjaan yang dilakukan. Kinerja seseorang dapat tampak pada situasi dan kondisi kerja sehari hari. a. b. c. d. e. f. Barnet Silalahi mengemukakan bahwa faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai adalah : Imbalan financial yang memadai. Kondisi fisik yang baik Keamanan Hubungan antar pribadi Pengakuan atas status kehormatannya Kepuasan kerja.

[32]

B. 1.

Kerangka Berpikir Hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja

guru di Sekiolah Menengah Pertama ( SMP ).

Gaya kepemimpinan kepala sekolah sangat besar pengarunya terhadap pencapaian tujuan sekolah khususnya tujuam meningkatkan mutu dan kinerja karyawan, kerjasama kepala sekolah dan karyawan dalam rangka meningkatkan mutu akan memperoleh keberhasilan yang

baik apabila perilaku kepala sekolah mencerminkan perilaku teladan teladan, dengan keteladanan kepala sekolah akan dapat membangkitkan dan meningkatkan kinerja karyawan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pribadi maupun tujuan dan target sekolah. Berdasarkan uraian tersebut dapat diduga terdapat hubungan positip antar gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan dengan kinerja karyawan SMP. Dengan kata lain makin baik gaya kepemimpinan makin baik pula kinerja karyawan. 2. Hubungan antara kecerdasan emosional dengan kinerja guru Kecerdasan emosional merupakan sesuatu yang berpengaruh terhadap keberhasilan pekerjaan, berhasil atau tidaknya seseorang dalam pekerjaan tidak semata tergantung dari kecerdasan intelektual, orang cerdas secara intelektual tidak jaminan akan sukses dalam pekerjaan, kadang orang yang tingkat kecerdasannya biasa tapi justru lebih sukses dalam karir hal ini disebabkan oleh faktor emosional. Dengan demikian kecerdasan emosional merupakan faktor yang sama pentingnya dengan kombinasi kemampuan teknis dan analisis untuk menghasilkan kinerja optimal. Semakin tinggi jabatan seseorang dalam suatu organisasi semakin crusial peran kecerdasan emosional. 3. Hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan kecerdasan emosional secara bersama sama dengan

kinerja karyawan. Banyak faktor yang bias mempengaruhi kinerja karyawan baik faktor dari dalam diri karyawan maupun faktor diluar diri karyawan atau mungkin karena sekaligus kedua faktor tersebut. Dalam penelitian ini faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan yang menjadi focus penelitian penulis adalah faktor gaya kepemimpinan kepala sekolah dan faktor kecerdasan emosional. Gaya kepemimpinan kepala sekolah dapat mempengaruhi kinerja karyawan. Perilaku dan tindakan kepala sekolah dalam melaksanakan kepemimpinan yang dianggap baik oleh karyawan akan mempengaruhi kinerja dari karyawan itu sendiri, jika kepala sekolah mampu memperlihatkan ketauladanan yang baik, sikap yang baik, dan mampu menjalin komunikasi yang baik dengan karyawan maka hal itu akan mempengaruhi kinerja karyawan. Disamping itu kecerdasan emosional juga merupakan suatu hal yang mempengaruhi kinerja orang yang punya nilai yang tinggi, rangking pertama belum tentu akan sukses dalam pekerjaan, sedangkan orang yang yang biasa dalam prestasinya tapi justru bias lebih sukses dalam pekerjaan hal ini disebabkan oleh faktor emosional. Jika seorang karyawan mampu mengedalikan emosinya maka dia akan dapat menyikapi apa yang ditugaskan kepadanya oleh pimpinan dengan baik dan dia akan berusaha untuk focus pada pekerjaan yang ditugaskan kepadanya dengan sebaik mungkin sehingga hasil kerjanya akan baik.

BAB. III. METODE PENELITIAN A. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh pengetahuan atau imformasi tentang hubungan antara: 1. 2. 3. B. Gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja karyawan Kecerdasan emosional denagn dengan kinerja karyawan Gaya kepemimpinan kepala sekolah dan kecerdasan emosional bersama sama dengan kinerja karyawan. Tempat dan waktu penelitian. Penelitian dilakukan di SMP Negeri yang ada dikota bekasi, adapun waktu penelitian direncanakan selama tiga bulan sebagai mana tertera dalam table berikut: KEGIATAN BULAN NOPEMBER 2010 DESEMBER 2010 JANUARI 2011

Penelitian dan usul penelitian Penyusunan instrument dan penelitian lapangan Analisa data dan penyusunan laporan

C.

Metodologi Penelitian Dalam penelitian ini menggunakan metode survey dengan jenis korelasional variable yang diteliti adalah Kinerja guru ( Y ), Gaya kepemimpinan ( X1) dan Kecerdasan Emosional (X2 ). Dalam penelitian ini terdapat tiga variable penelitian yaitu variable bebas terdiri dari gaya kepemimpinan kepala sekolah dan kecerdasan emosional, variable terikat yaitu kinerja guru. Hubungan antara variable bebas dan variable terikat dalam penelitian ini digambarkan dalam bentuk konstelasi hubungan antara variable sebagai berikut: Gambar konstelasi hubungan antar variable penelitian

X1 X2

Keterangan:

Y X1 X2

= = =

Kinerja Guru Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Kecerdasan Emosional

D. 1.

Populasi dan Sampel Populasi Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh guru yang bertugas di Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) di Kota Bekasi yang terdiri dari guru pegawai negeri dan guru honor, yang tersebar di 34 sekolah SMP negeri di Kota Bekasi.

2.

Sampel Populasi penelitian ini adalah guru guru yang mengajar di Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) di kota Bekasi, mengingat banyaknya guru SMP negeri dikota Bekasi, dan keterbatasan waktu dan dana maka penulis menetapkan sampel penelitian. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini diambil secara acak dengan tekhnik random yang diambil dengan cara sebagai berikut:

1. 2.

Menetapkan populasi terjangkau yaitu seluruh guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Bekasi. Membuat kerangka sampling yang berisikan semua guru Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) dalam sampel yang terjangkau 100 orang dengan menulis nomor urut dari 1 sampai 100.

3. E.

Memilih 60 orang sampel penelitian yang di tetapkan secara acak sederhana dari 100 orang yang ada. Instrumen Penelitian Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah: Gaya kepemimpinan kepala sekolah (X1), kecerdasan emosional (X2) dan kinerja guru (Y). Ada tiga instrument yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan kuisioner yang dikembangkan sendiri untuk masing masing variable. Ketiga jenis data tersebut diolah tentang gaya kepemimpinan, kecerdasan emosional dan kinerja guru. Data dijaring ndengan menggunakan instrument yang berbentuk skala penelitian terhadap pernyataan dengan empat pilihan jawaban yaitu selalu,sering, kadangkadang,dan tidak pernah, untuk pernyataan yang berisikan positif skornya mulai dari 4 untuk selalu 3 untuk sering 2 untuk kadang-kadang dan 1 untuk tidak pernah. sedang untuk pernyataan yang negative nilainya mulai dari 4 untuk tidak pernah 3 untuk kadang-kadang, 2 untuk jarang 1 untuk selalu.

1. a.

Variabel Kinerja Guru ( Y ). Definisi Konseptual. Kinerja guru adalah prestasi yang dihasilkan oleh guru dalam melaksanakan tugas mengajar disekolah dengan indikasi cara menyelesaikan pekerjaan, hasil kerja yang dicapai, dan tanggung jawab terhadap pekerjaan

b.

Defenisi Operasional

Kinerja guru adalah skor ( nilai ) yang diperoleh dari jawaban terhadap pekerjaan responden terhadap instrument yang mengukur: cara menyelesaikan pekerjaan, hasil kerja yang dicapai, dan tanggung jawab terhadap pekerjaan. c. Kisi-kisi Instrumen Kinerja Guru. Kisi-kisi instrument ini terdiri dari 30 butir pernyataan sebagai bahan uji coba instrument. Pada table berikut dapat dilihat kisi-kisi instrument variable kinerja karyawan. Tabel 1 Kisi-kisi Instrumen Kinerja Guru INDIKATOR Cara menyelasaikan pekerjaan Hasil kerja yang dicapai Tanggung jawab terhadap pekerjaan NOMOR BUTIR 1,2,5,7,8,9,10,11,17,21 3,4,6,12,13,14,15,16,18,19,21 20,22,23,24,25,26,28,29,30 10 10 10 30 2. a. Variabel Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1) Definisi Konseptual. Gaya kepemimpinan kepala sekolah adalah penilaian karyawan tentang cara seseorang pemimpin dalam bekerja untuk mencapai tujuan dengan indikasi adanya perencanaan pekerjaan,pembagian tugas,pelaksanaan pekerjaan, pengawasan dalam pekerjaan dan nilai hasil kerja b. Definisi operasional. Gaya kepemimpinan kepala sekolah adalah skor total yang diperoleh dari penilaian karyawan terhadap instrument yang mengukur cara kepala sekolah dalam bekerja, pembagian pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan, pengawasan dalam bekerja dan menilai hasil kerja.. c. Kisi-Kisi Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah. Kisi-kisi instrument terdiri dari 30 butir pernyataan sebagai bahan uji coba instrument. Pada table berikut dapat dilihat kisi-kisi instrument variable gaya kepemimpinan kepala sekolah. Tabel 2 Kisi-Kisi Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah. Indikasi Ada perencanaan Pekerjaan Pembagian pekerjaan Pelaksanaan pekerjaan Pengawasan dalam Pekerjaan Menilai hasil kerja Nomor Butir 1,2,3,4,5,6 7,8,9,10,11,12 13,14,15,16,17,18,19,20 21,22,23,24,25 26,27,28,29,30 Jumlah 6 6 8 5 5 30 JUMLAH

3. Variabel Kecerdasan Emosi ( X2). a. Definisi Konseptual Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang dalam mengelola emosi seperti kemampuan memotivasi diri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa. b. Definisi operasional. Kecersana emosional guru adalah skor total yang diperoleh karyawan dari jawaban responden tentang instrument yang mengukur sikap terhadap pekerjaan, bersimpati terhadap sesame, dapat sikap ketika menerima perintah dari atasan. c. Kisi-kisi instrument Kecerdasan Emosi. Kisi-kisi instrument ini terdiri dari 30 butir pernyataan sebagai bahan uji coba instrument variable kecerdasan emosi.
Table 3 Kisi-Kisi Instrumen Kecerdasan Emosional. INDIKATOR Sikap terhadap pekerjaan Bersimpati terhadap sesama Sikap ketika menerima perintah dari atasan

NOMOR BUTIR 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10 11,12,13,14,15,16,17,18,19,20 21,22,23,24,25,26,27,28,29,30

JUMLAH 10 10 10 30

F. Teknik Analisa Data. Apabila penelitian dengan kuantitatif maka analisanya menggunakan analisa kuantitatif untuk mengacu data tersebut, menggunakan statistik yang terdiri dari: 1. Statistik deskripsi, yaitu untuk menggambarkan atau mendeskripsikan setiap variable dalam bentuk rata-rata, modus, simpangan baku, table, dan grafik. 2. Statistik impresial, yaitu untuk menguji dengan korelasi, dengan regeresi sebelum uji kompetensi dilakukan. Uji persyaratan analisis, uji normalitas data dan uji homogenitas. Uji normalitas memakai uji liliefars, uji homogenitas memakai uji barlet semua penguji menggunakan taraf nyata 0,05. Hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut: 1. H0 : Py = 0 H1 : Py > 0 2. H0 : Py.2 = 0 H0 : Py.2 > 0 3. H0 : Py.1,2 = 0 H0 : Py 1,2 > 0 Keterangan : H0 adalah hipotesis nol H1 adalah hipotesis alternative Py 1 adalah koefesien korelasi antara biaya gaya kepemimpinan kepala sekolah (X1) dan kinerja guru ( Y ). Py2 adalah koefesien korelasi antara kecerdasan emosional ( X2) dengan kinerja karyawan ( Y ). Py 1,2 adalah koefesien korelasi antara gaya kepemimpinan kepala sekolah ( X1 ) dan kecerdasan emosional guru (X2) secara bersama sama dengan kinerja kepala sekolah ( Y )

DAFTAR PUSTAKA

Ambar T Sulistyani dan Rosidah, Manajemen Sumber daya Manusia: Konsep teori dan Pengembangan dalam konteks Organisasi Publik,( Yogyakarta: Graha Ilmu, 2003),p 55. B.R Hagenhahn & Matthew j Olson, an Introduction to Theories of learning, ( New Jersey: Prentice Hall, 1997) Inc h 281 - 282 Binet Alfred, Teodore Simon, Pengantar Psikologi Intelegensi, Terjemahan Azwar ( Yogyakarta: Pustaka Offset 1996 ) h. 5. Saefudin

Enung Fatimah Psikologi Perkembangan( Bandung,Pustaka Setia,2006)h 115.


HT Handoko. Manajemen ( 2 Ed) Yogyakarta BPFE ( Yogyakarta.BPFE,2002).p194

Hasan Rachmany, Kepemimpinan dan Kinerja, Peningkatan Kinerja Organisasi Kepemimpinan yang memberdayakan Karyawan ( Jakarta YAPENSI 2006)p 24

melalui

Kartini Kartono, Pemimpin dan kepemimpinan ( Jakarta, CV Rajawali, 1984).p34 Miftah Toha, Kepemimpinan dalam Manajemen Suatu Pendekatan Prilaku ( Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2001).p 11. Oteng Sutisna, Administrasi Pendidikan dan Teoritis untuk Praktek Profesional ( Bandung, Angkasa, 2001),p,30. Patricia Patton, EQ di tempat Kerja, alih bahasa Zaini Dhalan ( Jakarta, Pustaka Delaprastasa 1997 ) h 7 Roger-Daniel s, Quantum Emosional For Smart Life di terjemahkan menjadi emosi ( Yogyakarta, Think 2008 ) h 33 Robert Kreitner dan Anggelo Kinicki, organisasi behavior, edition VI p 172 Stephen P Robbin, Essential of Organization Behavior ( EnglewoodCliffs New Printice Hall,1994),p 237. Veitzhal Rivai, Kepemimpinan dan perilaku organisasi ( Jakarta: PT Raja Persada. 2004).p 64. William B Werther, Jr and Keith Davis, Human Resources and personal New York: Mc Graw Hill Inc, 1969),p325 Jersey, Keajaiban

Grafindo

Management (

[1] ( http://bermanfaat semoga. blogspot. com/2009/08/ asal-mula-terjadinya-negara- pkn.html 11 Agt 2010. [2] HT Handoko. Manajemen ( 2 Ed) Yogyakarta BPFE ( Yogyakarta.BPFE,2002).p194 [3] Oteng Sutisna, Administrasi Pendidikan dan Teoritis untuk Praktek Profesional ( Bandung, Angkasa, 2001),p,30. [4] Kartini Kartono, Pemimpin dan kepemimpinan ( Jakarta, CV Rajawali, 1984).p34 [5] .Miftah Toha, Kepemimpinan dalam Manajemen Suatu Pendekatan Prilaku ( Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2001).p 11. [6] Veitzhal Rivai, Kepemimpinan dan perilaku organisasi ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2004).p 64 [7] Hasan Rachmany, Kepemimpinan dan Kinerja, Peningkatan Kinerja Organisasi melalui Kepemimpinan yang memberdayakan Karyawan (
Jakarta YAPENSI 2006)p 24

[8] B.R Hagenhahn & Matthew j Olson, an Introduction to Theories of learning, ( New Jersey: Prentice Hall, 1997) Inc h 281 - 282 [9] Binet Alfred, Teodore Simon, Pengantar Psikologi Intelegensi, Terjemahan Saefudin Azwar ( Yogyakarta: Pustaka Offset 1996 ) h. 5. [10] . ibit hal 7. [11] Deniel .op.cit,h 7 [12] Roger-Daniel s, Quantum Emosional For Smart Life di terjemahkan menjadi Keajaiban emosi ( Yogyakarta, Think 2008 ) h 33 [13] Robert Kreitner dan Anggelo Kinicki, organisasi behavior, edition VI p 172

[14] Daniel Op Cit h 411 [15] Daniel Op Cit. h 45. [16] Enung Fatimah Psikologi Perkembangan( Bandung,Pustaka Setia,2006)h 115. [17] Patricia Patton, EQ di tempat Kerja, alih bahasa Zaini Dhalan ( Jakarta, Pustaka Delaprastasa 1997 ) h 7 [18] Ibid.h 58-59 [19] Daniel Op Cit. [20] Robert Kreither, Anggelo Kinicki, Op Cit,P 175 [21] William B Werther, Jr and Keith Davis, Human Resources and personal Management ( New York: Mc Graw Hill Inc, 1969),p325 [22] Stephen P Robbin, Essential of Organization Behavior ( EnglewoodCliffs New Jersey, Printice Hall,1994),p 237. [23] R Spitzer Dean, Super Motivation ( A Blueprint Association ) New York Organization From Top to Bottom), AMACOM American
Management Association) New York: 1995,p4

[24] John Whitmore,Seni Mengarahkan Untuk Mendongkrak kInerja, Terjemahan Y. Dwi Helly Purnomo ( Jakarta: Pt Gramedia Pustaka
Utama,1997),p 104.

[25] Ibid,p,107 [26] www:httpid Wikipedia org/wiki/kinerja,27 september 2010. [27] Ibid wikipwdia [28] Ibid wikipwdia [29] Ambar T Sulistyani dan Rosidah, Manajemen Sumber daya Manusia: Konsep teori dan Pengembangan dalam konteks Organisasi Publik,(
Yogyakarta: Graha Ilmu, 2003),p 55.

[30] Philip Moon, Penilaian Karyawan, terjemahan Hari Wahyudi( Jakarta PT Pustaka Binaman Pressindo, 1994),p 51. [31] Ibid.,p.51. [32] Bernet Silalahi, Op.Cit. P 2-3.