Anda di halaman 1dari 8

A. Pendahuluan Masyarakat memiliki hukum kepastian tentang perubahan. Setiap masyarakat pasti mengalami perubahan sosial.

Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat tentu berkaitan erat dengan perubahan budaya. Sebab terdapat hukum kausalitas sosial-budaya yang menerangkan bahwa tidak ada masyarakat tanpa budaya, dan tidak ada budaya tanpa adanya masyarakat. Perubahan sosial meliputi unsur-unsur kelompok-kelompok sosial, nilai dan norma sosial, pola perilaku, interaksi sosial, stratifikasi sosial. Sedangkan perubahan budaya meliputi perubahan tujuh unsur budaya universal yang meliputi sistem religi,sistem organisasi sosial, sistem ekonomi, sistem kesenian, sistem bahasa, sistem pengetahuan dan sistem teknologi. Terjadinya Perubahan sosial !ahwa perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi di masyarakat,yang kemudian terjadi modifikasi tentang pola-pola kehidupan manusia baik karena sebab Teori- teori perubahan sosial "nsur-unsur yang berubah meliputi kelompok-kelompok sosial, nilai dan norma sosial, pola perilaku, interaksi sosial, stratifikasi sosial serta kekuasaan dan wewenang Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat telah memun#ulkan perhatian se#ara mendalam dari kalangan ilmuwan sosial. Sebab bagi ilmuwan sosial perubahan sosial merupakan kenyataan yang menarik untuk dikaji baik se#ara proses maupun hasil. Se#ara proses berkaitan erat dengan jalannya perubahan dan arah perubahan yang terjadi. Se#ara hasil berkaitan dengan sejauhmana dampak perubahan yang terjadi bagi masyarakat. Mengingat kompleknya persoalan perubahan sosial, akhirnya mun#ul beberapa teori tentang perubahan sosial. $. Teori %volusioner Teori ini menjelaskan bahwa semua masyarakat akan mengalami perubahan dari tahap perkembangan awal menuju tahap perkembangan akhir. !erdasar teori evolusioner apabila perubahan yang terjadi memasuki tahap terakhir, maka pada saat itu perubahan evolusioner berakhir. &leh sebab itu teori evlusioner berpandangan bahwa perubahan sosial yang terjadi di masyarakat memiliki arah yang jelas dan tetap. Ada beberapa tokoh penting dalam teori evolusioner a. Auguste 'omte Teorinya sering disebut dengn (ukum Tiga Tahap. )alam pandanganya bahwa masyarakat akan mengalami perubahan melalui tiga tahapan yaitu $*.tahap teologis + theologi#al stage * yaitu tahapan berpikir masyarakat yang masih didasarkan pada nilai-nilai supernatural ,*.tahap metafisik +methaphisy#al stage* yaitu tahapan berpikir masyarakat yang lebih bersifat abstrak -*. Tahap positip + positive or s#ientifi# stage * atau ilmiah yaitu tahapan berpikir masyarakat yang berdfasarkan pada kenyataan dan didukung oleh ilmu pengetahuan

,. Teori Siklus Penganut teori siklus berpendapat bahwa tahap perubahan yang dilalui masyarakat tidak berakhir pada tahap terakhir yang sempurna,melainkan berputar kembali ke tahap awal untuk peralihan selanjutnya. )engan kata lain masyarakat berkembang seperti roda kadang naik ke atas, kadang turun ke bawah. Teori siklus lebih menekankan perputaran suatu peradaban masyarakat dari lahir,tumbuh,kemudian mengalami kehan#uran. Sehingga arah perubahan yang terjadi belum mempunyai arah yang jelas. -. Teori .ungsional Teori fungsional lebih menekankan pada usaha memelihara sistem sosial se#ara menyeluruh, bukan mengubahnya. Maka teori ini lebih melihat perubahan sosial sebagai sesuatu yang menga#aukan keseimbangan. Teori menekankan pada keseimbangan dan stabilitas. Pada dasarnya teori fungsional lebih menekankan pada keseimbangan dan stabilitas masyarakat. Perubahan sosial dianggap menga#aukan keseimbangan. Sehingga teori ini tidak melihat adanya arah perubahan yang terjadi di masyarakat /. Teori 0onflik Teori konflik menekankan adanya konflik sebagai faktor terjadinya perubahan sosial. !erbeda dengan teori fungsional yang menghendaki keseimbangan dan stabilitas dan menghindari perubahan sosial, teori ini lebih menekankan terjadinya perubahan sosial. Perubahan sosial merupakan sesuatu yang harus diwujudkan di masyarakat. .aktor utama yang mendorong terjadinya perubahan sosial adalah adanya konflik yang terjadi di masyarakat. Sehingga teori ini menekankan masyarakat sebagai subyek perubahan. 0arl Mar1 Menurut Mar1 perubahan tidak saja dianggap normal, tetapi justru dibutuhkan dan terus didorong untuk menghilangkan ketidakadilan. Menurut teori konflik,perubahan sosial merupakan sesuatu yang harus dilakukan. "ntuk mewujudkan ke arah tersebut, dalam masyarakat harus terwujud adanya konflik. !erdasar teori ini bentuk perubahan masyarakat yang dikehendaki adalah revolusioner. Arah perubahan bisa positif maupun negatif..

23efleksi sosiologi atas lapangan sosial di A#eh2


4ndonesia adalah salah satu negara di belahan dunia ini yang memiliki beraneka ragam suku bangsa, kebudayaan, kaya akan sumber daya alam, dan juga disebut sebagai 5egara kepulauan, karena memiliki beribu pulau yang terbentang ke seluruh penjuru nusantara dari Sabang sampai Merauke. Suatu 5egara yang masyarakatnya multikultural dan memiliki populasi penduduk yang banyak tentu tidak terhindar dari apa yang di sebut dengan konflik, baik itu konflik internal maupun eksternal. 6angankan di sebuah 5egara yang besar, dalam keluarga ke#il sekalipun kita tidak akan pernah terlepas dari hal yang namanya konflik. 0onflik sering mun#ul apabila dalam kehidupan sehari-hari terdapat perbedaan status so#ial ataupun perbedaan gender yang menyebabkan kesenjangan so#ial dalam berinteraksi. (al tersebut juga setara dengan asumsi 0arl Mar1 atas perjuangan kelas yang dilakukannya terhadap kaum proletar +kaum buruh* yang di eksploitasi haknya oleh kaum borjuis. )alam teori konflik juga diasumsikan bahwa setiap masyarakat pasti mengalami pertikaian dan konflik, setiap masyarakat memberikan sumbangan terhadap disintegrasi dan perubahan, dimana ketika suatu masyarakat yang mengalami konflik yang mengakibatkan perpe#ahan antar satu kelompok dengan yang lainnya, maka tahap selanjutnya adalah terjadinya perubahan so#ial yang lebih baik dari sebelumnya. Terkait dengan hal tersebut, di 4ndonesia tentu saja telah banyak mengalami konflik di sejumlah daerah yang banyak men#iptakan perubahan sosial setelah terjadinya konflik, baik itu konflik agama, suku, ras, dan konflik daerah yang merasa masyarakat di daerahnya tereksploitasi akan hak-haknya dari pihak luar seperti di A#eh. A#eh adalah daerah paling ujung wilayah barat di 4ndonesia yang dikenal kaya akan sumber daya alamnya seperti minyak bumi, gas alam, emas, hutan, dsb. )aerah yang kaya akan sumber daya alam seperti A#eh tentu saja banyak pihak luar yang ingin menguasai daerah tersebut, dan hal ini sering memi#u timbulnya konflik di A#eh. 0onflik di a#eh sebenarnya telah mun#ul ketika masa penjajahan !elanda yang ingin menguasai wilayah barat 4ndonesia itu. 5amun dengan semangat juang masyarakat A#eh yang begitu besar untuk mempertahankan daerahnya !elanda pun sulit menguasai daerah tersebut. 0onflik seakan tidak pernah lepas dari daerah ini, terlihat ketika 4ndonesia merdeka dan a#eh masuk dalam bagian di dalamnya juga tak lepas dari yang namanya konflik, namun konflik yang terjadi kali ini bukanlah adanya penjajah dari luar, atau dari 5egara lain, melainkan eksploitasi yang dilakukan pemerintah pusat yaitu di daerah 6awa terhadap A#eh yang terjadi sejak 4ndonesia merdeka. Pemerintah melakukan eksploitasi dengan system sentralistiknya, dimana setiap hasil sumber daya alam yang ada di seluruh daerah di 4ndonesia dikumpulkan di pusat kemudian akan di bagi sama rata ke seluruh daerah, namun pada kenyataannya pembagian tidaklah merata. Pembagian hasil di A#eh tidaklah sebanding dengan apa yang dihasilkan daerah tersebut, bahkan daerah tersebut semakin tertinggal dibanding dengan daerah-daerah lainnya di 4ndonesia dari segi pembangunan infrastruktur, pendidikan, dsb. )alam pembagian yang tidak merata inilah yang membuat A#eh berontak yang diawali dengan adanya protes dari tokoh-tokoh terkemuka A#eh yang merasa di eksploitasi oleh pemerintah terhadap hasil bumi di daerah mereka, salah satu tokohnya adalah Tengku Mohammad )aud !eureuh. Sehingga mun#ullah gerakan separatis yang lebih dikenal dengan

7erakan A#eh Merdeka +7AM* sebagai gerakan anti 5034 karena eksploitasi yang dilakukan pemerintah pusat terhadap daerah mereka. )alam tulisan ini, maka saya akan men#oba menjelaskan konflik di A#eh dalam pandangan Mar1ist dan juga Post-Mar1ist, dimana dalam teori Mar1ist menuntut adanya perjuangan kelas atas eksploitasi yang dilakukan kaum borjuis yang di anggap sebagai pelakonnya adalah pemerintah pusat, dan rakyat A#eh sebagai kaum proletar, dengan membuat gerakan protes yang mengikuti jalur demokrasi. Sedangkan dalam pandangan post-mar1ist lebih kepada asumsi bahwa perjuangan kelas dan konfrontasi yang didengungkan oleh teori Mar1ist yang bersifat demokratis tidak menghasilkan sesuatu yang nyata karena perlu adanya gerakan bersenjata dalam memperjuangkan kelas karena pendekatan identitas budaya yang begitu kuat sangat melekat pada masyarakat A#eh. Melihat pandangan tersebut #ukup menarik bagi saya untuk menelaah lebih dalam bagaimana kedua teori ini menjelaskan konflik di A#eh. Sejarah 0onflik di A#eh !erbi#ara tentang awal mun#ulnya konflik di A#eh, maka tidak terlepas dari yang namanya rasa ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat A#eh, dengan kata lain A#eh selalu di jajah oleh pihak luar, sehingga wilayah ini pun tak henti-hentinya menabuh genderang perang sejak masa (india-!elanda, pas#a kemerdekaan dengan terjadinya perang #umbok antara kaum ulee balang dan ulama, meletusnya pemberontakan )48T44 )aud !reuh, hingga proklamasi kemerdekaan 7erakan A#eh Merdeka +7AM*. !erawal dari masa penjajahan !elanda, para tokoh di A#eh seperti dari kaum ulama, ulee balang dan sultan sangat berperan penting dalam mekanisme kekuasaan di A#eh, jika para ulama berperan untuk memperjuangkan agama di A#eh, maka sultan dan ulee balang berkedudukan sama yakni memperjuangkan kehidupan adat di A#eh. Sultan juga berperan sebagai penyeimbang antara ulama dan ulee balang. 5amun !elanda dengan strateginya berhasil menghan#urkan posisi Sultan sehingga keseimbangan kekuasaan antara ulee balang dan ulama menjadi goyah, !elanda kemudian mengangkat kaum ulee balang ke dalam struktur pemerintahan !elanda, hal ini memun#ulkan pergesekan antara ulee balang dan ulama. Mulai dari konflik terjadi dimana kaum ulee balang dianggap mengkhianati Sultan karena mendukung pemerintahan !elanda, maka setelah kemerdekaan 4ndonesia, tidak dapat dihindari lagi terjadinya perang #umbok yaitu perang antara ulama dan ulee balang yang pada akhirnya dimenangkan oleh para ulama. Pas#a kemerdekaan, A#eh yang pada awalnya ingin mendirikan 5egara sendiri dihalangi oleh Soekarno sebagai pemimpin 4ndonesia pada saat itu, Soekarno menginginkan A#eh bergabung dengan 4ndonesia tetapi harus memenuhi syarat yang diinginkan masyarakat A#eh dengan mendirikan 5egara 4slam, dan Soekarno pun menyetujuinya. 5amun pada kenyataannya, dalam perumusan pan#asila tahun $9/:, soekarno tidak menepati janjinya. 4a malah lebih mengedepankan ideologi nasionalismenya dalam perumusan pan#asila. (al tersebut membuat rakyat A#eh ke#ewa yang menyebabkan terjadinya pemberontakan )48T44 yang diketuai oleh tokoh petinggi A#eh yaitu )aud !eureuh yang ingin memisahkan diri dari 5034 pada tahun $9:-. Pada saat itu, konflik di A#eh dengan saudara sebangsanya pun dimulai dengan keinginan mereka memisahkan diri dari 5034 ditandai dengan mun#ulnya pemberontakan )48T44 )aud !eureuh, Pemberontakan )48T44 di A#eh dimulai dengan Proklamasi )aud !eureueh bahwa A#eh merupakan bagian 25egara 4slam 4ndonesia2 di bawah naungan

organisasi )arul 4slam8Tentara 4slam 4ndonesia pimpinan 4mam SM 0artosuwirjo yang berbasis di 6awa !arat dan melakukan pemberontakan bersenjata terhadap 3epublik 4ndonesia. )aud !eureueh pernah memegang jabatan sebagai 7ubernur Militer )aerah 4stimewa A#eh ketika agresi militer pertama !elanda pada pertengahan tahun $9/;. Sebagai 7ubernur Militer ia berkuasa penuh atas pertahanan daerah A#eh dan menguasai seluruh aparat pemerintahan baik sipil maupun militer. Sebagai seorang tokoh ulama dan mantan 7ubernur Militer, )aud !eureuh tidak sulit memperoleh pengikut. )aud !eureuh juga berhasil memengaruhi pejabat-pejabat Pemerintah A#eh, khususnya di daerah Pidie. "ntuk beberapa waktu lamanya )aud !eureuh dan pengikut-pengikutnya dapat mengusai sebagian besar daerah A#eh termasuk sejumlah kota. Pada masa orde baru adalah masa dimana lahirnya 7erakan A#eh Merdeka +7AM*, suatu gerakan yang awalnya hanyalah gerakan sekelompok kaum intelektual berubah menjadi gerakan separatis yang di dukung penuh oleh tokoh-tokoh petinggi )48T44, dan mereka menunjuk (asan Tiro sebagai petinggi 7AM pada saat itu. <ahirnya 7AM merupakan bentuk keke#ewaan masyarakat A#eh atas tidak terlaksananya 5egara 4slam yang telah di janjikan oleh Soekarno pas#a kemerdekaan, selain itu terkait pula dengan kemarahan mereka atas penyelenggaraan pemerintahan di bawah orangorang 6awa yang telah mengeksploitasi kekayaan A#eh. Sehingga (asan Tiro mendengungkan gagasan anti-kolonialisme 6awa untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat A#eh dan kalangan pemuda serta tokoh-tokoh agama. "ntuk menganalisis konflik di A#eh tentu saja tidak terlepas dari pandangan 0arl Mar1 atas perjuangan kelas yang dilakukannya dengan mengaitkan kesenjangan antar kelas so#ial dan ekonomi. )engan kata lain, pembagian kelas tersebut mun#ul ketika masyarakat yang nonproduksi +proletar* hidup bergantung kepada pihak produksi +borjuis*. )engan begitu, Mar1 berpandangan bahwa siapa yang bisa mengontrol alat-alat produksi, maka mereka lah yang akan menjadi kelas penguasa di masyarakat tersebut. Selain itu, Mar1 juga berpendapat bahwa dunia menganut prinsip limited resour#es, karena prinsip sumber daya Alam yang terbatas, maka akan terjadi perebutan basis material yaitu melakukan ekspansi dengan #ara akumulasi. Akumulasi dilakukan dengan #ara saving +penyimpanan* dimana hasil dari saving tersebut dapat digunakan untuk kembali melakukan ekspansi. )engan kata lain, mar1 menyatakan bahwa ketika suatu masyarakat kelas bawah memiliki kekayaan sumber daya alam yang terbatas, maka pihak penguasa yang menjadi dominan dalam masyarakat tersebut akan berusaha merebut basis-basis material itu, sehingga terjadilah kesenjangan kelas-kelas so#ial atas system produksi yang dimiliki tersebut. 0arena keserakahan atas penguasalah maka yang sebelumnya masyarakat yang =produksi=tadi berubah menjadi eksploitatif yaitu ingin menguasai pihak yang >non- produksi=, maka kedua kelas ini menjadi bersinggungan. Pembagian kelas sema#am ini memi#u konflik dan mendorong perjuangan kelas, yang oleh Mar1 disebut sebagai penggerak perkembangan sejarah. <ebih lanjut, Mar1 menjelaskan bahwa pada suatu saat kaum proletar akan menyadari kepentingan bersama mereka sehingga bersatu dan memberontak. )alam konflik yang terjadi maka Mar1 melihat bahwa dalam perjuangan kelas tersebut kaum borjuis akan dapat dikalahkan, 4a meramalkan bahwa kaum proletar kemudian akan mendirikan suatu masyarakat tanpa kelas. Selain itu, Mar1 juga berpendapat bahwa kaum buruh adalah kaum yang tereleminasi dari tugas ketenagakerjaan dan kegiatan industri, produk-produk yang kemudian di jual oleh kapitalis

tidak mengikutsertakan kaum buruh di dalamnya atau dengan kata lain, ia tidak ikut #ampur dalam pengelolaan sistem industry tersebut. )alam hal ini melihat kasus di A#eh, jelas sekali terlihat pada masa orde baru yang telah mengeksploitasi sumber daya alam yang ada di A#eh melalui system sentralistik yang mereka terapkan, dimana segala aspek sumber daya alam dikumpulkan di pusat sedangkan A#eh tidak memiliki hak untuk ikut #ampur didalamnya, hal ini membuat masyarakat A#eh geram karena pembagian yang tidak merata dalam hal pembangunan daerah yang dilakukan oleh pemerintah. )engan kata lain, berdasarkan teori Mar1ist kita melihat bahwa perlu adanya perjuangan kelas yang harus dimun#ulkan oleh masyarakat A#eh untuk menuntut ketidakadilan yang terjadi dengan membuat gerakan protes untuk menuju perubahan so#ial yang diinginkan, yaitu dengan mun#ulnya 7erakan A#eh Merdeka +7AM* sebagai bentuk perlawanan untuk menuntut hak mereka terhadap pemerintah. 7AM inipun awalnya hanya sebuah perkumpulan kaum intelektual A#eh yang memprotes pemerintahan dan menyatakan keinginan mereka untuk memisahkan diri dari 5034. )alam hal ini gerakan protes itu bukanlah bentuk untuk menumbangkan 5034, melainkan untuk memperjuangkan Surplus ?alue, atau nilai lebih dari hasil produksi yang diperoleh, gerakan-gerakan inipun haruslah menempuh prosedur lembaga demokrasi agar ter#iptalah perubahan so#ial dengan masyarakat yang bersolidaritas tinggi. 6adi pada intinya dalam teori Mar1ist disini, gerakan protes yang dibentuk adalah karena terjadinya perebutan basis-basis material sumber daya alam yang telah di eksploitasi oleh pihak luar yakni dari pemerintah 3epublik 4ndonesia. !entuk-bentuk keke#ewaan masyarakat A#eh sebenarnya berawal dari Presiden Soekarno yang tidak menepati janjinya untuk mendirikan 5egara 4slam 4ndonesia atas permintaan masyarakat A#eh, selanjutnya pen#abutan hak atas daerah istimewa yang telah ada sejak 4ndonesia belum merdeka, kemudian ditambah lagi eksploitasi sumber daya alam pada masa pemerintahan Soeharto, hal tersebut membuat masyarakat A#eh bergejolak, berbagai gerakan protes pun mun#ul untuk menentang pemerintahan 34. 7erakan A#eh Merdeka +7AM* adalah gerakan yang merupakan orientasi mayarakat A#eh sebagai bentuk solidaritas untuk membangun identitas yang telah hilang, dan terhadap kondisi masyarakat yang terpinggirkan setelah kemerdekaan menjelang tahun $9;@. 0elahiran 7AM pada periode kedua mun#ul sebagai dampak dari #ara-#ara kekerasan yang ditempuh pada masa orde baru, yang pada saat itu pemerintahan orde baru memiliki kekuatan militer yang kuat, mengirimkan tentara-tentaranya untuk menyatakan kesediaannya melawan gerakan separatis A#eh, dan pemerintah menyebut A#eh sebagai )aerah &perasi Militer +)&M*. Pertumpahan darah terjadi di Serambi Mekkah, setiap menjelang ("T-34 suasana di A#eh men#engkam, korban akan kembali berjatuhan ketika ada masyarakat yang memihak pada 5034 dan tidak mendukung 7AM. 4nilah gambaran yang terjadi pada saat gen#atan senjata melanda A#eh. 4dentitas yang utuh tidak bisa eksis, orang #enderung men#ari identitas lain di dalam system perbedaan. )engan membangun system perbedaan mereka memisahkan diri dari rantai kesamaan di dalam rantai popular dan mentransformasikan mereka ke dalam perbedaanperbedaan objektif di dalam system. )engan kata lain, gerakan kontemporer 7AM merupakan pun#ak kemenjadian A#eh yang di antagoniskan dengan kolonialisme-6awa. 6awa yang pada saat itu dianggap oleh orang A#eh adalah penguasa yang selalu menindas dan mengeksploitasi sumber daya alam, dan menyebabkan perubahan drastis di bidang politik dan ekonomi yang kian menurun, eksploraitasi yang se#ara besar-besaran tersebut jelas

telah menimbulkan rasa ketidakadilan dan berimbas pada kesejahteraan masyarakat A#eh. Sistem sentralistik yang digunakan pemerintahan orde baru juga telah mengeleminasi kekuatankekuatan politik lo#al yang ada selama ini. Setelah masa orde baru berakhir, upaya pemerintah di masa reformasi untuk mendamaikan konflik di A#eh pun dilakukan namun tak kunjung terselesaikan. Perang yang terjadi hampir -A tahun lamanya tersebut merupakan beban berat bagi pemerintah 34 untuk mengintregasikan kaum separatis A#eh. !erbagai pendekatan untuk menyelesaikan separatism tersebut, sejak lahirnya 7AM sejak $9;@ tersebut seakan-akan mengalami jalan buntu. 5amun harapan untuk menyelesaikan konflik di A#eh mun#ul kembali setelah Presiden Susilo !ambang Budhoyono dan wakil presiden 6usuf 0alla menempuh #ara damai untuk menghentikan perang dan merehabilitasi A#eh pas#a tsunami. !erbagai upaya dilakukan pemerintahan S!B-60 untuk meyakinkan 7AM agar mau berdamai dengan 34, maka terjadilah berbagai tawar menawar perjanjian yang ditawarkan pihak 34 dan 7AM agar keinginan mereka sama-sama terpenuhi, sampai akhirnya perjanjian perdamaian Mo" pun terlaksana. Penandatanganan Memorendum of "nderstanding +Mo"* antara 7AM dan pemerintah 4ndonesiapun dilakukan pada tanggal $: Agustus ,AA: di (elsinki, yang menandakan berakhirnya konflik di A#eh, memun#ulkan harapan baru dimana demokrasi menjadi salah satu instrumen yang sangat berharga untuk menyelesaikan konflik dan membangun perdamaian, )engan demikian, dengan terlaksananya perdamaian antara 34 dan 7AM di (elsinki tentu banyak menimbulkan perubahan baik dalam skala nasional maupun dalam masyarakat A#eh itu sendiri. Salah satunya adalah berkurangnya pelanggaran (AM yang selama ini terjadi pas#a perang. Selain itu, perubahan yang terjadi bagi mereka yang tergabung dalam 7AM adalah bahwa mereka harus merubah model perjuangan politik mereka dari model perang bersenjata menjadi perang kompetisi politik melalui mekanisme dan proses politik formal dan demikian juga melalui lembaga-lembaga politik formal. Perubahan itu adalah sesuatu yang diharapakan oleh orang banyak terutama masyarakat A#eh itu sendiri, meskipun belum ter#apai semua keinginannya paling tidak perubahan ke arah yang lebih baik sudah nampak, karena memang pada awalnya tujuan dari konflik adalah menuju perubahan so#ial yang lebih baik.

Kesimpulan

)engan demikian dapat saya simpulkan bahwa teori Mar1ist dalam menjelaskan konflik di A#eh adalah lebih menekankan perjuangan kelas atas hak-hak yang telah dieksploitasi oleh pemerintah terhadap masyarakat A#eh, terutama dalam hal perebutan basis-basis material, dimana pemerintah melakukan eksploitasi sumber daya alam yang ada di A#eh dengan system sentralistiknya. Sedangkan dalam pandangan teori post-mar1ist melihat konflik yang terjadi di A#eh lebih kepada pendekatan identitas budayanya, dimana ketika identitas yang dimiliki masyarakat A#eh direnggut atau hilang karena identitas dari luar maka nasionalisme pun mun#ul untuk mengembalikan identitas mereka, seperti janji Soekarno yang akan mendirikan 5egara 4slam 4ndonesia seperti apa yang di inginkan masyarakat A#eh pada saat itu di ingkari oleh Soekarno, pen#abutan nama >)aerah 4stimewa= oleh pemerintah terhadap A#eh, serta eksploitasi sumber daya alam di daerah mereka. 'ontoh-#ontoh tersebut adalah bentuk keke#ewaan masyarakat A#eh yang merasa identitas yang mereka miliki di jajah oleh orang lain, dalam hal ini tentu saja pemerintah 3epublik 4ndonesia. Maka dari itulah mereka pun bergejolak dan timbullah konflik yang berkepanjangan antara 34 dan 7AM +7erakan A#eh Merdeka* yang banyak memakan korban tersebut. Seperti yang kita ketahui bersama, teori konflik mengatakan bahwa konflik itu perlu dan penting untuk mewujudkan perubahan so#ial yang lebih baik, terkait konflik di A#eh dengan adanya perjanjian untuk berdamai yang berlangsung Agustus ,AA: lalu, diharapkan perubahan yang lebih baik terjadi di A#eh. Paling tidak, pelanggaran (AM yang sering terjadi saat konflik melanda kini mulai berkurang, dan semoga kedepannya masyarakat A#eh dapat hidup dengan damai dan sejahtera tanpa adanya pertumpahan darah di bumi serambi Mekkah itu, seperti apa yang kita harapkan bersama.