Anda di halaman 1dari 11

KEWARGANEGARAAN

TINDAKAN TERORISME YANG MENGANCAM NEGARA

DI SUSUN OLEH :

DIAN HASTUTI FAHMI HASTANTI AGE LAKSI WIRDANIATI EMILIA DEVI DEKAWATI ZEIDA RAHMAUDHIA

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bela Negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam menjalin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang seutuhnya. Hak dan kewajiban warga negara dalam upaya bela negara, secara hukum telah dimuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Peraturan Perundang-undangan. Namun, pada era ini banyak sekali orang-orang salah mengartikan dari bela negara tersebut. Sehingga timbul masalah-masalah negara yang mengatasnamakan bela negara. Konteks bela negara masih dianggap hanya perlu diketahui bagi sebagian orang saja atau seolah hanya untuk sebagian orang saja, bahkan hanya dipandang sebagai bagian dari tugas pengamanan negara atau pemerintah saja. Banyak masyarakat yang belum menyadari akan peran serta kewajibannya sebagai warga negara tersebut. Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya yang menyangkut masalahmasalah negara yang terjadi disekitarnya. Sehingga diperlukan kerja sama seutuhnya bagi setiap warga negara atau penduduk atau masyarakat untuk dapat mempertahan negaranya dari ancaman yang datang dari luar maupun dalam negara itu sendiri. Di perlukan tindakan nyata dalam menjalankan kewajiban bela negara bukan hanya melalui omongan atau sekedar berpendapat atas nama bela negara karena menyangkut kewajiban bagi setiap warga negara tersebut.

1.2 Tujuan Penulisan


Penulisan ini bertujuan untuk menumbuhkan sikap kesadaran akan upaya pembelaan negara, untuk memahami konsep bela negara bagi setiap warga negara indonesia, menerapkan arti bela negara di kehidupan sehari-hari, menumbuhkan rasa nasionalisme serta mengetahui perbuatan yang dapat merugikan negara karena tindakan kejahatan ataupun kegiatan yang dapat mengancam keamanan dan ketertiban negara.

1.3 Rumusan Masalah


Agar pembahasan makalah ini tidak terlalu luas dan lebih terfokus kepada masalah yang akan dibahas, maka kami membatasi masalah hanya pada ruang lingkup : 1. Arti dari bela negara dan konsep bela Negara 2. Kewajiban bela negara dan aplikasi perwujudan bela negara 3. Tindakan terorisme yang mengancam keamanan negara

BAB II
PEMBAHASAN 2.1 Definisi Bela Negara Era reformasi membawa banyak perubahan di hampir segala bidang di republik indonesia. ada perubahan yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat, tapi tampaknya ada juga yang negatif dan pada gilirannya akan merugikan bagi keutuhan wilayah dan kedaulatan negara kesatuan republik indonesia. suasana keterbukaan pasca pemerintahan orde baru menyebabkan arus informasi dari segala penjuru dunia seolah tidak terbendung. berbagai ideologi, mulai dari ekstrim kiri sampai ke ekstrim kanan, menarik perhatian bangsa kita, khususnya generasi muda, untuk dipelajari, dipahami dan diterapkan dalam upaya mencari jati diri bangsa setelah selama lebih dari 30 tahun merasa terbelenggu oleh sistem pemerintahan yang otoriter. Bela Negara adalah sebuahkonsepyang disusun oleh perangkat perundangan dan petinggi suatunegara tentang patriotisme seseorang, suatu kelompok atau seluruh komponen dari suatu negara dalam kepentingan mempertahankan eksistensi negara tersebut. Bela negara adalah tekad, sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara(UU No.3 tahun 2002). Pada pasal 30 dalam UUD 1945 diberitahukan bahwa Bela negara merupakan hak dan kewajiban setiap warga negara Republik Indonesia. Secara fisik, hal ini dapat diartikan sebagai usaha pertahanan menghadapi serangan fisik atauagresidari pihak yang mengancam keberadaan negara tersebut, sedangkan secaranon-fisik konsep ini diartikan sebagai upaya untuk serta berperan aktif dalam memajukan bangsa dannegara, baik melalui pendidikan, moral, sosial maupun peningkatan kesejahteraan orang-orang yang menyusun bangsa tersebut. Landasan konsep bela negara adalah adanya wajib militer. Subyek dari konsep ini adalahtentara atau perangkat pertahanan negara lainnya, baik sebagai pekerjaan yang dipilih atau sebagai akibat dari rancangan tanpa sadar (wajib militer). Beberapa negara (misalnya Israel, Iran) dan Singapura memberlakukan wajib militer bagi

warga yang memenuhi syarat (kecuali dengan dispensasi untuk alasan tertentu seperti gangguanfisik,mental atau keyakinan keagamaan). Sebuah bangsa dengan relawan sepenuhnya militer, biasanya tidak memerlukan layanan dari wajib militer warganya, kecuali dihadapkan dengan krisis perekrutan selama masa perang. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara dan Syarat-syarat tentang pembelaan diatur dengan undang-undang. Kesadaran bela negara itu hakikatnya kesediaan berbakti pada negara dan kesediaan berkorban membela negara. Spektrum bela negara itu sangat luas, dari yang paling halus, hingga yang paling keras. Mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai bersama-sama menangkal ancaman nyata musuh bersenjata. Tercakup di dalamnya adalah bersikap dan berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara. keikutsertaan warga negara dalam upaya bela negara diwujudkan dalam keikutsertaannya pada segala usaha untuk memepertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.

2.2 Kewajiban Bela Negara Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 pada pasal 30 tertulis bahwa "Tiaptiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara." dan " Syarat-syarat tentang pembelaan diatur dengan undang-undang." Jadi sudah pasti mau tidak mau kita wajib ikut serta dalam membela negara dari segala macam ancaman, gangguan, tantangan dan hambatan baik yang datang dari luar maupun dari dalam. Beberapa dasar hukum dan peraturan tentang Wajib Bela Negara: 1. Tap MPR No. VI Tahun 1973 tentang konsep Wawasan Nusantara dan

Keamanan Nasional. 2. 3. Undang-Undang No.29 tahun 1954 tentang Pokok-Pokok Perlawanan Rakyat. Undang-Undang No.20 tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Hankam Negara

Rl. Diubah oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1988. 4. 5. 6. 7. Tap MPR No. VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dengan POLRI. Tap MPR No. VII Tahun 2000 tentang Peranan TNI dan POLRI. Amandemen UUD '45 Pasal 30 ayat 1-5 dan pasal 27 ayat 3. Undang-Undang No.3 tahun 2002 tenteng Pertahanan Negara.

Kata wajib yang diatur dalam UUD 1945 Pasal 27ayat (3) dan UURI Nomor 3 tahun 2002 Pasal 9 ayat (1) mengandung makna, bahwa setiap warga negara, dalamkeadaan tertentu dapat dipaksakan oleh negara untukikut serta dalam pembelaan negara. Namun demikian, di negara kita sampai saat ini belum ada keharusan untuk mengikuti wajib militer (secara masal) bagi segenap warga negara Indonesia seperti diberlakukan di beberapa negara lain. Sekalipun demikian, adakalanya orang-orang yang memiliki keahlian tertentu (biasanya sarjana) yang dibutuhkan negara dapat diminta oleh negara untuk mengikuti tes seleksi penerimaan anggota TNI sekali pun orang tersebut tidak pernah mendaftarkan diri.

2.3 Peran Masyarakat Keikutsertaan warga negara dalam usaha pembelaannegara diselenggarakan melalui : a. Pendidikan kewarganegaraan Adanya keikutsertaan pelajar atau mahasiswa dalam usaha pembelaan negara. Dalam penjelasan Pasal 37 ayat (1) UURI Nomor 3 Tahun 2003 dijelaskan, bahwa pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk membentuk peserta didik

menjadimanusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Dari uraian di atas, jelaslah bahwa pembentukan rasa kebangsaan dan cinta tanah air pelajar atau mahasiswa dapat dibina mendapat melalui pendidikan kewarganegaraan. komitmen Pendidikan kebangsaan,

kewarganegaraan

tugasuntuk

menanamkan

termasukmengembangkan nilai dan perilaku demokratis danbertanggung jawab sebagai warga negara Indonesia. b. Pelatihan dasar kemiliteran secara wajib Selain TNI, salah satu komponen warga negara yang mendapat pelatihan dasar militer adalah unsur mahasiswa yang tersusun dalam organisasi Resimen Mahasiswa (Menwa) atau UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Bela Negara. Memasuki organisasi resimen mahasiswamerupakan hak bagi setiap mahasiswa, namun setelah memasuki organisasi tersebut mereka harus mengikuti latihan dasar kemiliteran. c. Pengabdian sebagai prajurit Tentara Nasional Indone-sia secara suka rela atau secara wajib Dalam upaya menciptakan pertahanan dan keamanan negara

yangmenggunakan Sishankamrata (Sistem Pertahanan dan Keamanan RakyatSemesta), dapat dijabarkan melalui komponen berikut ini :

1. Komponen Utama, yaitu komponen yang berasal dari kekuatan TNI(Tentara Nasional Indonesia) yang terdiri atas AD (Angkatan Darat), AL (Angkatan Laut), dan AU (Angkatan Udara) sebagai alat negarayang berperan sebagai kekuatan pertahanan dan keamanan negara.Kekuatan Kepolisian (Polri) merupakan alat negara yang berperanmemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, penegak hukum, danmemberikan perlindungan masyarakat. 2. .Komponen Cadangan dan Pendukung, yaitu seluruh warga negara,sumber daya alam, sarana dan prasarana nasional yang dikerahkanmelalui mobilisasi untuk memperkuat dan mendukung komponen utama.Semakin kuat komponen cadangan ini, akan semakin tangguh pulakemampuan komponen utama. Sebaliknya, semakin lemahnyakomponen cadangan, komponen utamanya tidak akan berarti dalamrangka upaya pembelaan negara. POLRI merupakan alat negara yang berperandalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat,menegakan hukum, serta memberikan terpeliharanyakeamanan dalam negeri. Sedangkan TNI berperan sebagaialat pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.Dengan demikian, POLRI berperan dalam bidang

keamanannegara, sedangkan TNI berperan dalam bidang pertahanannegara. Dalam usaha pembelaan negara, peranan TNIsebagai alat pertahanan negara sangat penting danstrategis karena TNI memiliki tugas untuk : a. mempertahankan kedaulatan negara dan keutuhan wilayah b. melindungi kehormatan dan keselamatan bangsa c. melaksanakan operasi militer selain perang d. ikut serta secara aktif dalam tugas pemeliharaan per-damaian regional dan internasional (Pasal 10 ayat (3)UURI Nomor 3 Tahun 2002). d. Pengabdian sesuai dengan profesi pengabdian sesuai profesi adalah pengabdian warga negara yang mempunyai profesi tertentu untuk kepentingan pertahanan negara termasuk dalam menanggulangi dan/atau memperkecil akibat yang ditimbulkan oleh perang, bencana alam, atau bencana lainnya (penjelasan UURI Nomor 3 Tahun 2002). profesi tersebut terutama yang berkaitan dengan kegiatan menanggulangi dan/atau memperkecil akibat perang, bencana alam atau bencana lainnya yaituantara lain petugas PMI, para medis, tim

SAR, POLRI, dan petugas bantuan sosial. para warga negara yang bergelut bidang energimelakukan pengabdian untuk keamanan energi. Begitupula yang menekuni bidang lingkungan melakukan pengabdiannya untuk keamanan lingkungan. Ketika semua warga negara mengabdikan diri sesuai dengan profesi dalam usaha pembelaan negara, maka tentu sajaakan meningkatkan ketahanan nasional kita. Setiap warga negara sesuai dengan kedudukan dan perannya masing-masing memiliki hak dan kewajiban untuk membela negara. Siswa dan mahasiswa ikut sertamembela negara melalui pendidikan kewarganegaraan , anggota resimen mahasiswa melalui pelatihan dasar kemiliteran, TNI dalam menanggulangi ancaman militerdan non-militer tertentu, POLRI termasuk warga sipil lainnya dalam menangulangi ancaman non- militer dan kelompok profesi tertentu dapat ikut serta membela negara sesuai dengan profesinya masing-masing. Untukmengatasi ancaman non-militer perlu adanya keamanan atau ketahanan lingkungan, energi, pangan, dan ekonomi. 2.4 Hubungannya Dengan Tindakan Terorisme Menurut UU No.20 Tahun 1982, ancaman mencangkup ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan. Sementara menurut UU No. 3 Tahun2002 digunakan satu istilah yakni ancaman. Adapun bentuk-bentuk dariancaman militer mencangkup : a) Agresi b) Pelanggaran Wilayah c) Spionase d) Sabotase e) Aksi Teror Bersenjata f) Pemberontakan Negar dang Perang Saudara.

Terorisme secara kasar merupakan suatu istilah yang digunakan untuk penggunaankekerasan terhadap penduduk sipil/non kombatan untuk mencapai tujuan politik, dalam skalalebih kecil daripada perang . Dari segi bahasa, istilah teroris berasal dari Perancis pada abad18. Kata Terorisme yang artinya dalam keadaan teror ( under the terror ), berasal dari bahasalatin terrere yang berarti gemetaran dan detererre yang berarti takut. Terorisme diartikan sebagai bentuk serangan (faham/ideologi) terkoordinasi yang dilancarkan oleh kelompok tertentu dengan

maksud untuk membangkitkan perasaan takut di kalangan masyarakat. Gerakan ini sering menggunakan teknik bom bunuh diri yang dilakukan oleh anggota kelompoknya secara sukarela. Terorisme mempunyai tujuan untuk membuat orang lain merasa ketakutan, sehingga dapat menarik perhatian masyarakat luas. Biasanya perbuatan teror ini digunakan apabila tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk melaksanakan kehendaknya. Terorisme digunakan sebagai senjata psikologis untuk menciptakan suasana panik, tidak menentu serta menciptakan ketidakpercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dalam mengamankan stabilitas negara. Istilah terorisme juga sering disebut dengan gerakan separatis. Terorisme merupakan manipulasi ketakutan yang secara sistematis telah diatur sebagai cara paksaan. Adanya satu definisi terorisme yang disetujui universal. Kebanyakan definisi terorisme yang utama termasuk tindakan-tindakan yang berniat menimbulkan ketakutan, dilakukan demi mencapai tujuan ideologi ( dibandingkan serangan secara sendirian), dan sengaja menargetkan atau mengabaikan keselamatan orang bukan penempur / warga sipil. Terorisme dijadikan alat untuk mencapai tujuan oleh berbagai organisasi politik; partai politik di kedua haluan kanan dan kiri, serta organisasi nasionalis, keagamaan, revolusioner dan juga pemerintah. Melakukan kerjasama antar aparat serta birokrasi yang diperkuat dengan struktur hukum yang kokoh. Indonesia sepakat bahwa kampanye melawan teroris hanya dapat dimenangkan melalui langkah-langkah komprehensif dan seimbang sepenuhnya, sejalan dengan tujuan dan prinsip Piagam PBB dengan meletakkan pondasi hukum yang dapat melindungi baik kepentingan publik maupun hak-hak azasi manusia, ditambah dengan melakukan peningkatan kerjasama dengan negara-negara lain baik dari Asean, Australia, Jepang dan negara-negara maju lainnya yang

memilikikemampuanteknologimodern. Selain kerjasama antar aparat dan antar negara yang juga perlu ditingkatkan adalah kinerja lembaga Intelejen Negara yang akhir-akhir ini dianggap masih lemah, penanganan terhadap masalah terorisme membutuhkan kualitas dan kapasitas Intelejen yang tinggi untuk dapat mengungkap pelaku dan motif dibalik aksi terorisme, serta akar permasalahan yang mendasarinya oleh sebab itu pemerintah diminta meningkatkan efektifitas kinerja Lembaga Intelejen Negara dengan melakukan kerjasama dan koordinasi antar lembaga, karena apabila hal ini terlaksana

dengan baik pencegahan dan peringatan dini terhadap segala bentuk ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan akan mudah diatasi. Yang tidak kalah pentingnya dalam penanganan masalah terorisme adalah dengan melibatkan masyarakat secara luas yang peduli terhadap lingkungan dan memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dengan didasari rasa tanggung jawab dan kesadaran yang tinggi merasa senasib dan seperjuangan sebagai bangsa yang bermartabat dengan memiliki jati diri meskipun dari suku bangsa dan agama yang berbeda namun tetap merupakan satu kesatuan yang utuh, kepedulian masyarakat terhadap diri dan lingkungannya sangat berpengaruh untuk mengetahui dan mengatasi secara dini segala bentuk ancaman terorisme. Dalam menyangkut upaya dalam pembelaan negara dan menjaga ketertiban serta keamanan negar di butuhkan peran serta warga negara dan juga aparat negara serta tindakan dari pemerintahan. Terorisme mengakibatkan terpecahnya keamanan negara, menurunkan stabilitas negara, melakukan penentangan pada aparat negara serta membahayakan dan juga menakut- nakuti masyarakat. Sehingga diperlukan tindakan bela negara yang di lakukan oleh pemerintah dan warga negara.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan Berdasarkan penjelasan penulis diatas bahwa dapat terlihat bahwa Terorisme timbuldengan dilatar belakangi berbagai sebab dan motif. Naun patut kita sadari bahwa terorisme bukan merupakan ideologi atau nilai-nilai tertentu dalam ajaran agama . Terorisme merupakan strategi , instrumen dan/atau alat mencapai tujuan. Penerapan UU anti terorisme di dalam No 15 Tahun 2003 sangat

berpotensimengakibatkan pelanggaran Hak Asasi Manusia bagi para tersangka terorisme dan tidak memberikan efektifitas untuk mengurangi orang untuk bertindak sebagai teroris. Tindakan terorisme dapat mengancam negara dan mengurangi stabilitas negara serta keamanan dan kenyamanan bagi warga atau masyarakatnya.

3.2 Saran Sebaiknya dalam memerangi terorisme dilakukan dengan kegiatan yang tidak hanya melibatkan peperangan senjata namun juga tindakan politik yang positif karena pada dasarnya terorisme timbul akibat dari sikap politik yang tidak adil dan terlalu memaksa dalam peraturan hukum. Serta di perlukan kesadaran dari masyarakat untuk dapat memerangi tindakan terorisme yang mengancam negar aserta tidak ikut dalam kegiatan memerangi negara dengan tindakan yang negatif.