Anda di halaman 1dari 6

MANFAAT INDEKS MALOKLUSI DALAM MENUNJANG PERAWATAN ORTODONTI

Istilah indeks menurut Toung dan Stiffler ialah nilai numerik yang menjelaskan status relative suatu populasi pada skala bertingkat dengan batas atas dan batas bawah yang jelas. Hal ini dirancang agar mampu memberikan kesempatan dan fasilitas untuk dibandingkan dengan populasi lain yang telah dikelompokkan dengan kriteria dan metode yang sama (Agusni, 1998). Indeks maloklusi yang diperlukan ialah penilaian kuantitatif dan objektif yang dapat memberikan batasan adanya penyimpangan dari oklusi ideal yang masih dianggap normal, dan dapat memisahkan kasus-kasus abnormal menurut tingkat keparahan dan kebutuhan di masyarakat. Jamison H.D dan M.C Millan R.S (Agusni, 1998) menyatakan indeks ortodonti ideal yang dapat digunakan memerlukan syarat tertentu, yaitu: a. Indeks sebaiknya sederhana, akurat, dapat dipercaya, dapat ditiru. b. Indeks harus objektif dalam pengukuran dan menghasilkan data kuantitatif sehingga dapat dianalisis dengan baik menggunakan metode statistic tertentu. c. Indeks harus didesain untuk membedakan maloklusi yang merugikan dan tidak merugikan. d. Pemeriksaan yang dibutuhkan dapat dilakukan dengan cepat oleh pemeriksa walaupun tanpa instruksi khusus dalam diagnosis ortodonti. e. Indeks sebaiknya dapat dimodifikasi untuk sekelompok data epidemiologi tentang maloklusi dari segi prevalensi, insien, keparahan. Contohnya, frekuensi malposisi dari masing-masing gigi. f. Indeks sebaiknya dapat digunakan pada pasien maupun model studi. g. Indeks sebaiknya mengukur derajat keparahan maloklusi. Beberapa indeks maloklusi secara kuantitatif dapat dikelompokkan sebagai berikut: a. Master dan Frankel Indeks ini digunakan untuk menghitung jumlah gigi yang berpindah atau berotasi secara kualitatif (ada atau tidak ada). b. Malaligment Index (Mal) Indeks ini digunakan untuk menilai keparahan gigi yang tidak teratur. Ciri oklusi yang dinilai ialah letak gigi yang berpindah atau berotasi secara kuantitatif. Gigi yang berpindah dinilai apakah lebih kecil atau lebih besar dari 1,5 mm dan gigi yang berotasi dinilai apakah berputar lebih kecil atau lebih besar dari 45o. Penilaian dilakukan dengan sebuah penggaris kecil.

c. Handicapping Labio Lingual Deviation Index (HLD Index) Indeks ini ditujukan kepada subjek yang dipilih dengan maloklusi yang parah atau berat dengan adanya anomaly wajah. Indeks ini dapat digunakan pada gigi permanen. d. Occlusion Feature Index (OFI) Ciri maloklusi yang dinilai adalah letak gigi yang berjejal, kelainan integritas tonjol gigi posterior, tumpang gigit, jarak gigit. Keuntungan metode ini adalah dapat dilakukan secara sederhana dan objektif serta tidak memerlukan perlatan diagnostic yang rumit, namun kurang praktis karena dalam menilai integritas tonjol hanya dengan memeriksa hubungan gigi posterior atas dan bawah sebelah kanan serta memerlukan latihan khusus dalam menentukan besarnya skor penilaian gigi berjejal anterior bawah. e. Malocclusion Severity Estimate oleh Grainger Pengukuran dan pemberian skor dibuat untuk menilai jarak gigit, tumpang gigit, gigitan terbuka anterior, insisivus maksila yang tidak tumbuh, hubungan gigi molar satu permanen, gigitan silang posterior, dan pergeseran letak gigi. f. Occlusal Index Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan normal oklusi.

Penilaiannya adalah umur gigi, relasi gigi molar, tumpang gigit, jarak gigit, gigitan silang posterior, gigitan terbuka posterior, penyimpangan gigi, relasi gigi tengah dan adanya gigi insisivus atas. Indeks ini dapat digunakan pada masa gigi susu, gigi bercampur, dan gigi permanen, namun bentuk penilaiannya rumit sehingga kurang praktis. g. Treatment Priority Index (TPI) Indeks ini merupakan modifikasi dari Malocclusion Severity Estimate untuk menentukan prioritas perawatan bagi sekelompok populasi dan digunakan untuk tujuan epidemiologi. Indeks dibuat untuk menilai jarak gigit, gigitan terbalik, tumpang gigit, gigitan terbuka anterior, gigi insisivus agenesis, disto-oklusi, mesio-oklusi,gigitan silang posterior dengan segmen gigi buko-versi, gigitan silang posterior dengan segmen gigi atas linguo-versi, malposisi gigi individual dan celah langit-langit. Penggunaan indeks ini memerlukan bantuan penggaris sebagai alat ukur. h. Handicapping Malocclusion Assesment Index (HMA) Salah satu indeks yang dianjurkan oleh para ahi yang telah mengevaluasi penggunaan indeks-indeks. Indeks HMA secara kuantitatif memberikan penilaian terhadap ciri-ciri oklusi dan cara menentukan prioritas perawatan ortodonti menurut keparahan maloklusi yang dapat dilihat pada besarnya skor yang tercatat pada lembar isian. Indeks ini

digunakan untuk mengukur kelainan gigi pada satu rahang, dan mgukur cirri maloklusi yang merupakan kelainan dentofasial. Keuntungan indeks ini adalah: 1. Mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi dan peka terhadap semua tingkatan maloklusi. 2. Penilaian renggang dan absen gigi posterior dicatat. 3. Jika metode dipelajari dengan baik, tidak diperlukan catatan lain dan skor keparahan maloklusi dapat dikalkulasi dengan cepat. 4. Selain keuntungan diatas, indeks ini juga dapat memenuhi persyaratan indeks yang dituliskan sebelumnya, diantaranya sederhana, objektif dalam pengukuran, dapat mengukur tingkat keparahan maloklusi, dapat diperiksa langsung pada pasien dan tidak menggunakan alat yang rumit. Kekurangan metode ini adalah memerlukan latihan cara pemeriksaan untuk menyamakan persepsi pada pemeriksa.

Oktavia Dewi: Analisis Hubungan Maloklusi Dengan Kualitas Hidup Pada Remaja SMU Kota Medan Pada Tahun 2007, 2008. USU e-Repository 2008.

Sumber : Dewanto, Harkati . 1993. Aspek-aspek Epidemiologi Maloklusi.Gajah Mada University Press: Yogyakarta. Occlusion Feature Index (OFI) Indeks ini telah dikembangkan oleh National Institute of Dental Research pada tahun 1957 dan telah ditetapkan dan dievaluasi oleh Poultman dan Aaronson (1960) dalam penelitiannya. Ciri-ciri maloklusi yang dinilai dengan metode ini ialah: letak gigi berjejal, kelainan interdigitasi tonjol gigit posterior, tumpang gigit, jarak gigit. Kriteria penilaiannya dengan memberi skor sebagai berikut: OFI (1) Gigi berjejal depan bawah 0 : susunan letak gigi rapi 2 : letak gigi berjejal sama dengan lebar gigi insisivus satu kanan bawah 3 : letak gigi berjejal sama dengan lebar gigi insisivus satu kanan bawah

OFI (2) Interdigitasi tonjol gigi dilihat pada regio gigi premolar dan molar sebelah kanan dari arah bukal dalam keadaan oklusi 0 : hubungan tonjol lawan lekuk 1 : hubungan antara tonjol dan lekuk 2 : hubungan antara tonjol lawan tonjol

OFI (3) Tumpang gigit, ukuran panjang bagian insisal gigi insisivus bawah yang tertutup gigi insisivus atas pada keadaaan oklusi 0 : 1/3 bagian insisal gigi insisivus bawah 1 : 2/3 bagian insisal gigi insisivus bawah 2 : 1/3 bagian gingival gigi insisivus bawah

OFI (4) Jarak gigit, jarak dari tepi labio-insisal gigi insisivus atas ke permukaan labial gigi insisivus atas ke permukaan labial gigi insisivus bawah pada keadaan oklusi 0 : 0-1,5 mm 1 : 1,5-3 mm 2 : 3 mm atau lebih

Skor total didapat dengan menjumlahkan skor keempat macam ciri utama maloklusi tersebut di atas. Skor OFI setiap individu berkisar antara 0-9 karena pada OFI (1) nilai maksimumnya 3 dan OFI (2), (3), (4) masing-masing nilai maksimumnya 2. Penilaian dapat dilakukan pada model gigi atau langsung dalam mulut. Waktu yang diperlukan untuk menilai hanya kurang lebih 1-1 menit bagi setiap individu. Keuntungan metode ini adalah sederhana dan obyektif serta tidak memerlukan peralatan diagnostik yang rumit seperti model gnathostatik dan alat sefalometri. Selain itu apabila peneliti telah terlatih hanya memerlukan waktu penilaian yang singkat. Kerugiannya adalah dalam menilai interdigitasi tonjol hanya memeriksa hubungan gigi posterior atas dan bawah sebelah kanan saja, sebelah kiri tidak dinilai. Selain itu penilaian gigi berjejal depan bawah memerlukan latihan terlebih dahulu karena untuk

menentukan besarnya skor membutuhkan waktu untuk mengukur lebar mesio-distal gigi-gigi anterior bawah dan mengukur panjang lengkung gigi depan bawah. Jadi metode ini kurang praktis. Poulton dan Aaranson (1960) telah mengevaluasi metode ini dan dari hasil penelitiannya terbukti bahwa penilaian keparahan maloklusi oleh ahli ortodonti secara subyektif dan penilaian oleh dokter ahli kesehatan masyarakat memakai OFI hasilnya sangat mendekati (hampir sama). Kriteria penilaian maloklusi oleh ahli ortodonti sebagai berikut: Skor 0-1 : Maloklusi ringan sekali (slight) Tidak memerlukan perawatan ortodonti Skor 1-3 : Maloklusi ringan (mild) Ada sedikit variasi dari oklusi ideal yang tidak perlu dirawat Skor 4-5 : Maloklusi sedang (moderate) Indikasi perawatan ortodonti Skor 6-9 : Maloklusi berat/parah (severe) Sangat memerlukan perawatan ortodonti Penilaian ini yang berdasarkan atas perlunya perawatan, tidak dapat diterapkan pada kelompok populasi yang lebih besar, tetapi meskipun demikian ternyata erat hubungannya dengan skor OFI.

DEFINISI MALOKLUSI Maloklusi adalah penyimpangan letak gigi atau malserasi lengkung gigi diluar rentang kewajaran yang dapat diterima. Maloklusi juga dapat diartikan variasi biologi sebagaimana variasi biologi yang terjadi pada bagian tubuh yang lain, tetapi karena variasi letak gigi mudah diamati dan mengganggu estetik sehingga menarik perhatian untuk melakukan perawatan.2 Menurut salzman, maloklusi adalah hubungan antara gigi rahang atas dan bawah yang tidak sesuai dengan bentuk morfologi maxillodentofacial. 5 Maloklusi adalah Keadaan gigi yang tidak harmonis secara estetik mempengaruhi penampilan seseorang dan

mengganggu keseimbangan fungsi baik fungsi pengunyahan maupun bicara. Maloklusi umumnya bukan merupakan
7

proses patologis

tetapi

proses

penyimpangan

dari

perkembangan normal.