Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

CA BULI

Disusun Oleh :
APIK BUDI SRIWIGATI
NIM P17420211005
III A

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
PRODI KEPERAWATANPURWOKERTO
2013

LAPORAN PENDAHULUAN
CA BULI
A. TINJAUAN TEORI
I. PENGERTIAN
Tumor buli-buli adalah tumor yang didapatkan dalam buli-buli. Yang paling
sering dijangkiti kanker dari alat perkemihan adalah Buli-buli. Kanker Buli-buli terjadi
tiga kali lebih banyak pada pria dibandingkan pada wanita, dan tumor-tumor multipel
juga lebih sering, kira-kira 25% klien mempunyai lebih dari satu lesi pada satu kali dibuat
diagnosa.
Carcinoma buli adalah tumor yang didapatkan pada buli-buli atau kandung kemih
yang akan terjadi gross hematuria tanpa rasa sakit yaitu keluar air kencing warna merah
terus.

II. ETIOLOGI
Penyebab yang pasti dari kanker kandung kemih tidak diketahui.

Tetapi

penelitian telah menunjukkan bahwa kanker ini memiliki beberapa faktor resiko, yaitu:
1. Usia
Resiko terjadinya kanker kandung kemih meningkat sejalan dengan
pertambahan usia.
2. Merokok
Merupakan faktor resiko yang utama. Rokok mengandung amin aromatic
dan nitrosamine yang merupakan jenis hidrokarbon didalam TAR.
meningkatkan resiko terkena kanker buli.
3. Lingkungan pekerjaan

Zat ini akan

Beberapa pekerja memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita


kanker ini karena di tempatnya bekerja ditemukan bahan-bahan karsinogenik
(penyebab kanker). Misalnya pekerja industri karet, kimia, kulit, dan

dilaboratorium

yang rentan terhadap senyawa amin aromatic.


4. Infeksi saluran kemih
Karena bakteri Escheria coli dan Proteus yang menghasilkan karsinogen.
5. Kopi, pemanis buatan, dan obat-obatan
Jika dikonsumsi terlalu sering dalam waktu jangka panjang. Misalnya pemakaian
siklofosfamid atau arsenik untuk mengobati kanker dan penyakit lainnya.
6. Ras
Orang kulit putih memiliki resiko 2 kali lebih besar, resiko terkecil terdapat pada
orang Asia.
7. Jenis kelamin
Pria memiliki resiko 2-3 kali lebih besar.
8. Riwayat keluarga
Orang-orang yang keluarganya ada yang menderita kanker kandung kemih
memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita kanker ini. Peneliti

sedang mempelajari

adanya perubahan gen tertentu yang mungkin meningkatkan resiko terjadinya kanker ini.

III. KLASIFIKASI
a. Staging dan klasifikasi
Klasifikasi DUKE-MASINA, JEWTT dengan modifikasi STRONG-MARSHAL
untuk menentukan operasi atau observasi :
1)

T = pembesaran lokal tumor primer

Ditentukan melalui : Pemeriksaan klinis, uroghrafy, cystoscopy, pemeriksaan


bimanual di bawah anestesi umum dan biopsy atau transurethral reseksi.
No

KODE

KET

Tis

Carcinoma insitu (pre invasive Ca)

Tx

Cara pemeriksaan untuk menetapkan penyebaran tumor, tak dapat


dilakukan

To

Tanda-tanda tumor primer tidak ada

T1

Pada pemeriksaan bimanual didapatkan masa yang bergerak

T2

Pada pemeriksaan bimanual ada indurasi daripada dinding buli-buli.

T3

Pada pemeriksaan bimanual indurasi atau masa nodular yang bergerak


bebeas dapat diraba di buli-buli.

T3a

Invasi otot yang lebih dalam

T3b

Perluasan lewat dinding buli-buli

T4

Tumor sudah melewati struktur sebelahnya

10

T4a

Tumor mengadakan invasi ke dalam prostate, uterus vagina

11

T4b

Tumor sudah melekat pada dinding pelvis atau infiltrasi ke dalam


abdomen

2)

N = Pembesaran secara klinis untuk pembesaran kelenjar limfe pemeriksaan kinis,

lympgraphy, urography, operative


No

KODE

KET

Nx

Minimal yang ditetapkan kel. Lymfe regional tidak dapat ditemukan

No

Tanpa tanda-tanda pemebsaran kelenjar lymfe regional

N1

Pembesaran tunggal kelenjar lymfe regional yang homolateral

N2

Pembesaran kontralateral atau bilateral atau kelenjar lymfe regional


yang multiple

N3

Masa yang melekat pada dinding pelvis dengan rongga yang bebeas
antaranya dan tumor

3)

N4

Pemebesaran kelenjar lymfe juxta regional

M = metastase jauh termasuk pemebesaran kelenjar limfe yang jauh.

Pemeriksaan klinis , thorax foto, dan test biokimia


No

KODE

KET

Mx

Kebutuhan cara pemeriksaan minimal untuk menetapkan adanya


metastase jauh, tak dapat dilaksanakan

M1

Adanya metastase jauh

M1a

Adanya metastase yang tersembunyi pada test-test biokimia

M1b

Metastase tunggal dalam satu organ yang tunggal

M1c

Metastase multiple dalam satu terdapat organ yang multiple

M1d

Metastase dalam organ yang multiple

b. type dan lokasi


Type tumor didasarkan pada type selnya, tingkat anaplasia dan invasi.
1. efidermoid Ca, kira-kira 5% neoplasma buli-buli squamosa cell., anaplastik, invasi

yang dalam dan cepat metastasenya.


2. Adeno Ca, sangat jarang dan sering muncul pada bekas urachus
3. Rhabdomyo sarcoma, sering terjadi pada anak-anak laki-laki (adolescent), infiltasi,
metastase cepat dan biasanya fatal
4. Primary Malignant lymphoma, neurofibroma dan pheochromacytoma, dapat
menimbulkan serangan hipertensi selama kencing
5. Ca dari pada kulit, melanoma, lambung, paru dan mamma mungkin mengadakan
metastase ke buli-buli, invasi ke buli-buli oleh endometriosis dapat terjadi.
IV. GEJALA KLINIS
1.

Kencing campur darah yang intermitten

2.

Merasa panas waktu kencing

3.

Merasa ingin kencing

4.

Sering kencing terutama malam hari dan pada fase selanjutnya sukar kencing

5.

Nyeri suprapubik yang konstan

6.

Panas badan dan merasa lemah

7.

Nyeri pinggang karena tekanan saraf

8.

Nyeri pda satu sisi karena hydronephrosis

V. PATHOFISIOLOGI
infeksi saluran kemih, merokok, usia, lingkungan pekerjaan

Ca Buli-Buli

Ulserasi

Metastase

Oklusi ureter/pelvic renal

Invasi pada bladder

Refluks

Infeksi sekunder :
-

panas waktu kencing

merasa

panas

Hydronephrosis

dan

Retensio urine :

tubuh lemah
-

- sulit/sukar kencing

kencing campur darah

nyeri suprapubic

nyeri pinggang

Ginjal membesar

VI. PENATALAKSANAAN
a)

Pemeriksaan penunjang
1.

Laboratorium
Hb menurun oleh karena kehilangan darah, infeksi, uremia, gros atau micros
hematuria
Lukositosis bila terjadi infeksi sekunder dan terdapat pus dan bakteri dalam
urine
RFT normal
Lymphopenia (N = 1490-2930)

2.

Radiology
-

excretory

urogram

biasanya

normal,

tapi

menunjukkan tumornya.
-

Retrograde cystogram dapat menunjukkan tumor

mungkin

dapat

Fractionated cystogram adanya invasi tomor dalam dinding bulibuli

Angography untuk mengetahui adanya metastase lewat pembuluh


lymphe

3.

Cystocopy dan biopsy

4.

cystoscopy hamper selalu menghasilkan tumor

Biopasi dari pada lesi selalu dikerjakan secara rutin.

cystologi
Pengecatan sieman/papanicelaou pada sediment urine terdapat transionil cel
daripada tumor

b) Terapi
a. Operasi
a. reseksi tranurethral untuk single/multiple papiloma
b. Dilakukan pada stage 0,A,B1 dan grade I-II-low grade
c. Total cystotomy dengan pegangkatan kel.Prostate dan urinary diversion untuk :
- transurethral cel tumor pada grade 2 atau lebih
- aquamosa cal Ca pada stage B-C
b. Radioterapy
-

Diberikan pada tumor yang radiosensitive seperti undifferentiated pada grade


III-IV dan stage B2-C.

RAdiasi diberikan sebelum operasi selama 3-4 minggu, dosis 3000-4000 Rads.
Penderita dievaluasi selam 2-4 minggu dengan iinterval cystoscopy, foto
thoraks dan IVP, kemudian 6 minggu setelah radiasi direncanakan operasi.
Post operasi radiasi tambahan 2000-3000 Rads selam 2-3 minggu.

c.Chemoterapi
Obat-obat anti kanker :
a. citral, 5 fluoro urasil
b. topical chemotherapy yaitu Thic-TEPA, Chemotherapy merupakan paliatif. 5Fluorouracil (5-FU) dan doxorubicin (adriamycin) merupakan bahan yang paling
sering dipakai. Thiotepa dapat diamsukkan ke dalam Buli-buli sebagai

pengobatan topikal. Klien dibiarkan menderita dehidrasi 8 sampai 12 jam sebelum


pengobatan dengan theotipa dan obat diabiarkan dalam Buli-buli selama dua jam.
VII. PROGNOSIS
Penemuan dan pemeriksaan dini, prognosisnya baik, tetapi bila sudah lama dan adanya
metastesi ke organ lebih dalam dan lainnya prognosisnya jelek.

VIII. KOMPLIKASI
a) Infeksi sekunder bila tumor mengalami ulserasi
b) Retensi urine bila tumor mengadakan invasi ke bladder neck
c) Hydronephrosis oleh karena ureter menglami oklusi

B. KONSEP KEPERAWATAN
I.

Pengkajian
a. Keluhan utama
(keluhan yang dirasakan pasien saat dilakukan pengkajian)
Pasien nyeri saat BAK dan agak mengedan, ada benjolan pada abdomen sebelah
bawah, sulit BAB, dan nyeri diseluruh tubuh terutama dipinggang.
b. Riwayat kesehatan sekarang
(riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk rumah sakit)
Darah keluar sedikit-sedikit saat BAK dan terasa nyeri sera sulit BAB.

c. Riwayat kesehatan yang lalu


(riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh pasien)
Tidak ada riwayat penyakit jantung, paru, ahti, limfe dan hipertensi. Tapi sebelumnya
pasien ada riwayat penyakit tumor di rahim dan telah menjalani pengobatan.

d. Riwayat kesehatan keluarga


(adakah riwayat penyakit yang sama diderita oleh anggota keluarga yang lain atau
riwayat penyakit lain baik bersifat genetis maupun tidak)
Keluarga pasien tidak ada riwayat penyakit kanker ini maupun kanker lainnya.

Pemeriksaan fisik
a. Pemeriksaan kulit dan rambut
Kulit keriput, pucat, dan berkeringat. Tidak ada lesi dan sianosis. Rambut kasar dan
sedikit beruban.
b. Pemeriksaan kepala dan leher
- Kepala : Simetris, tidak ada oedema, tidak ada lesi
- Mata : Simetris, konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik, fungsi penglihatan normal
- Hidung : Simetris, tidak ada sumbatan atau secret, fungsi pemciuman normal
- Telinga : Simetris, tidak ada sumbatan, tidak ada lesi, fungsi normal
- Mulut : Mukosa bibir kering dan pucat.
- Leher : Simetris, palpasi vena jugularis (-), tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
c. Pemeriksaan dada
-

Paru-paru
Inspeksi : dada simetris, tidak ada benjolan, tidak ada lesi
Palpasi

: taktil fremitus kanan=kiri, tidak teraba benjolan/massa

Perkusi : suara paru sonor (normal)


Auskultasi: vesikuler (normal), tidak ada ronkhi dan wheezing.
-

Jantung
Inspeksi : iktus cordis tidak terlihat
Palpalsi

: iktus cordis teraba2 jari di medial 2 MCS SIC V

Perkusi : batas-batas jantung normal


Batas normal jantung yaitu:
Kanan atas: SIC II RSB, kiri atas: SIC II LSB, kanan bawah: SIC IV
RSB, kiri bawah: SIC V medial 2 MCS
Auskultasi :tidak ada murmur

d. Pemeriksaan abdomen
Inspeksi

: perut sedikit membuncit, ada benjolan di perut sebelah bawah

Palpasi

: teraba massa 2 jari, sulit digerakkan, berbenjol-benjol

Perkusi

: timpani

Auskultasi

: bising usus normal

e. Pemeriksaan ekstremitas
Ekstremitas atas
Ekstremitas bawah
bawah

II.

: Tidak ada oedema dan lesi


: terdapat oedema pada kedua kaki dari paha sampai kaki bagian

DIAGNOSA
Pre Operasi
1.

Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit

2.

Retensi urin berhubungan dengan Tekanan uretra tinggi,blockage, hambatan


reflek, spingter kuat

Post Operasi
3.

Nyeri (akut) berhubungan dengan injury fisik (proses invasif)

4.

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh


sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasif

III.

INTERVENSI

1. Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf,


infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x jam diharapkan klien
dapat mengontrol nyerinya.
NIC : pain control
Kriteria hasil :
-

Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas


Melaporkan nyeri yang dialaminya
Mengikuti program pengobatan
Mendemontrasikan tehnik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas
yang mungkin
NIC : pain management

INTERVENSI
a.
b.

RASIONAL

Tentukan riwayat nyeri, lokasi, a.

Memberikan informasi yang diperlukan

durasi dan intensitas

untuk merencanakan asuhan.

Evaluasi

therapi:

pembedahan, b.

Untuk mengetahui terapi yang dilakukan

radiasi, khemotherapi, biotherapi,

sesuai

atau

tidak,

ajarkan klien dan keluarga tentang

menyebabkan komplikasi.

atau

malah

cara menghadapinya
c.

Berikan pengalihan seperti reposisi c.

Untuk

meningkatkan

kenyamanan

dan aktivitas menyenangkan seperti

dengan mengalihkan perhatian klien dari

mendengarkan musik atau nonton

rasa nyeri.

TV
d.

Menganjurkan tehnik penanganan


stress (tehnik relaksasi, visualisasi,

d.

Meningkatkan kontrol diri atas efek


samping dengan menurunkan stress dan

bimbingan), gembira, dan berikan

ansietas

sentuhan therapeutik.
e.

Evaluasi nyeri, berikan pengobatan


bila perlu.

e.

Untuk

mengetahui

efektifitas

penanganan nyeri, tingkat nyeri dan


sampai

sejauhmana

klien

mampu

menahannya serta untuk mengetahui


kebutuhan klien akan obat-obatan anti
nyeri.
f.

Diskusikan

penanganan

nyeri f.

Agar terapi yang diberikan tepat sasaran.

dengan dokter dan juga dengan


klien
g.

Berikan analgetik sesuai indikasi


seperti morfin, methadone, narkotik g.

Untuk mengatasi nyeri.

dll
2. Retensi urin berhubungan dengan Tekanan uretra tinggi,blockage, hambatan reflek,
spingter kuat
NOC:

NIC :

Urinary elimination

Urinary Retention Care

Urinary Contiunence

Monitor intake dan output

Setelah dilakukan tindakan

Monitor penggunaan obat antikolinergik

keperawatan selama . X ... retensi

Monitor derajat distensi bladder

urin

Instruksikan pada pasien dan keluarga


untuk mencatat output urine

pasien teratasi dengan kriteria hasil:


Kandung kemih kosong secarapenuh
Tidak ada residu urine >100-200 cc
Intake cairan dalam rentang normal
Bebas dari ISK
Tidak ada spasme bladder

Sediakan privacy untuk eliminasi

Stimulasi reflek bladder dengan kompres


dingin pada abdomen.

Kateterisaai jika perlu

Monitor tanda dan gejala ISK (panas,


hematuria, perubahan bau dan konsistensi

urine)

Balance cairan seimbang

3. Nyeri (akut) berhubungan dengan injury fisik (proses invasif)


Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x jam diharapkan klien
dapat mengontrol nyerinya.
NIC : pain control
Kriteria hasil :
-

Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas


Melaporkan nyeri yang dialaminya
Mengikuti program pengobatan
Mendemontrasikan tehnik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas
yang mungkin
NIC : pain management

INTERVENSI
h.
i.

RASIONAL

Tentukan riwayat nyeri, lokasi, h.

Memberikan informasi yang diperlukan

durasi dan intensitas

untuk merencanakan asuhan.

Evaluasi

therapi:

pembedahan, i.

Untuk mengetahui terapi yang dilakukan

radiasi, khemotherapi, biotherapi,

sesuai

atau

tidak,

ajarkan klien dan keluarga tentang

menyebabkan komplikasi.

atau

malah

cara menghadapinya
j.

Berikan pengalihan seperti reposisi j.

Untuk

meningkatkan

kenyamanan

dan aktivitas menyenangkan seperti

dengan mengalihkan perhatian klien dari

mendengarkan musik atau nonton

rasa nyeri.

TV
k.

Menganjurkan tehnik penanganan


stress (tehnik relaksasi, visualisasi,

k.

samping dengan menurunkan stress dan

bimbingan), gembira, dan berikan

ansietas

sentuhan therapeutik.
l.

Meningkatkan kontrol diri atas efek

Evaluasi nyeri, berikan pengobatan


l.

bila perlu.

Untuk

mengetahui

efektifitas

penanganan nyeri, tingkat nyeri dan


sampai

sejauhmana

klien

mampu

menahannya serta untuk mengetahui


kebutuhan klien akan obat-obatan anti
m. Diskusikan

penanganan

nyeri

dengan dokter dan juga dengan

nyeri.
m.

Agar terapi yang diberikan tepat sasaran.

n.

Untuk mengatasi nyeri.

klien
n.

Berikan analgetik sesuai indikasi


seperti morfin, methadone, narkotik
dll

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder
dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasif
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x jam diharapkan infeksi
tidak terjadi
NOC : Risk control
Kriteria hasil :
- Klien mampu mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam tindakan pecegahan infeksi
- Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi dan penyembuhan luka berlangsung normal
NIC : infection control

INTERVENSI
a.

RASIONAL

Cuci tangan sebelum melakukan a.


tindakan.

Pengunjung

Mencegah terjadinya infeksi silang.

juga

dianjurkan melakukan hal yang


sama.
b.
b.
c.

c.

Kaji semua sistem untuk melihat


tanda-tanda infeksi.

e.

merupakan

tanda

Mencegah/mengurangi terjadinya resiko


infeksi.

e.

Mencegah terjadinya infeksi.

f.

Segera dapat diketahui apabila terjadi


infeksi.

Monitor CBC, WBC, granulosit,


g.

platelets.
g.

suhu

Hindarkan/batasi prosedur invasif


dan jaga aseptik prosedur.

f.

Peningkatan

terjadinya infeksi.

Monitor temperatur.
d.

d.

adanya

organisme hidup.

Jaga personal hygine klien dengan


baik.

Menurunkan/mengurangi

Berikan
diindikasikan.

IV.

antibiotik

bila

Adanya indikasi yang jelas sehingga


antibiotik

yang

diberikan

dapat

mengatasi organisme penyebab infeksi.

EVALUASI
Pre Operasi
1.

Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan

jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf,


inflamasi.
a.

Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas

b.

Melaporkan nyeri yang dialaminya

c.

Mengikuti program pengobatan

d.

Mendemontrasikan tehnik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas


yang mungkin

2.

Retensi urin berhubungan dengan Tekanan uretra tinggi,blockage,


hambatan reflek, spingter kuat
a.

Kandung kemih kosong secarapenuh

b.

Tidak ada residu urine >100-200 cc

c.

Intake cairan dalam rentang normal

d.

Bebas dari ISK

e.

Tidak ada spasme bladder

f.

Balance cairan seimbang

Post Operasi
1.

Nyeri (akut) berhubungan dengan injury fisik (proses invasif)


b.

Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas

c.

Melaporkan nyeri yang dialaminya

d.

Mengikuti program pengobatan

e.
2.

Mendemontrasikan tehnik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas


yang mungkin
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan

tubuh sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi,


prosedur invasif
1.

Klien mampu mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam tindakan pecegahan

infeksi
2.

Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi dan penyembuhan luka berlangsung


normal

DAFTAR PUSTAKA
Black, Joyce M & Esther Matassarin-Jacobs.

2007. Medical Surgical Nursing : Clinical

Management for Continuity of Care, Edisi 5, W.B. Saunders Company, Philadelphia


Carpenito, Lynda Juall. 2004. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC. Jakarta.
Doenges, Marilyn E, et all.

2005.

Nursing Care Plans : Guidelines for Planning and

Documenting Patient Care, Edition 3, F.A. Davis Company, Philadelphia.


Gale, Danielle & Charette, Jane.

2008.

Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi.

EGC.

Jakarta.
Long, Barbara C. 2006.

Perawatan Medikal Bedah. Alih Bahasa: Yayasan Ikatan Alumni

Pendidikan Keperawatan Pajajaran Bandung, Edisi 1, Yayasan IAPK Pajajaran,


Bandung.