Anda di halaman 1dari 3

Regulasi Kepelabuhanan Harus Diperbaiki

5 November 2012

Saat ini, Indonesia dianggap sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibandingkan negara-negara lain. Peningkatan perekonomian Indonesia ini mengalahkan India dan China,karena kedua negara itu tidak mampu mempertahankan tingkat ekonominya di tengah kondisi krisis ekonomi yang terjadi di Uni Eropa dan Amerika Serikat. Namun, pertumbuhan ekonomi tersebut tidak serta merta mampu mendongkrak tingkat daya saing sektor usaha di sini, khususnya bidang transportasi yang menjadi pintu keluar masuk barang untuk ekspor dan impor. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menilai hal tersebut disebabkan karena regulasi bukan cuma tidak membantu pengembangan usaha,tetapi juga tumpang tindih sehingga membingungkan dan membuat pelayanan berjalan lambat.Apa solusinya, berikut wawancara SINDO dengan Komisioner KPPU Pusat Benny Pasaribu baru-baru ini. Bagaimana Anda menilai perkembangan kepelabuhanan di Indonesia? Kalau dilihat dari sisi persaingan usaha,Pelabuhan Belawan belum mampu bersaing. Dikatakan demikian karena pelayanan di sini masih lambat. Kalau ada keterlambatan,tentu menimbulkan tambahan biaya. Mending kalau biaya yang ditetapkan tidak tinggi sehingga tidak menyulitkan pengusaha. Kebanyakan pelabuhan di Indonesia sangat berbiaya mahal. Kondisi ini tentu sangat disayangkan karena usaha pelayaran merupakan salah satu kegiatan yang strategis dalam pembangunan nasional negara ini. Dibandingkan negara-negara lain,daya saing pelabuhan di Indonesia berada pada urutan ke berapa? Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari Bank Dunia, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dan lembaga penelitian Universitas Indonesia (UI) tahun 2012,peringkat daya saing logistik pelabuhan Indonesia berada pada urutan 59, naik sedikit dibandingkan 2010 yang berada pada peringkat 75. Penyebabnya bisa bermacammacam, namun pastinya berkaitan dengan pelayanan. Berapa lama pelayanan di pelabuhan Indonesia? Masih berdasarkan hasil penelitian Bank Dunia, waktu yang dibutuhkan untuk bongkar muat dan lainnya di pelabuhan mencapai tujuh hari. Padahal negara lain, seperti Jepang hanya berkisar tiga hari,Jerman butuh dua hari,sama dengan Amerika Serikat. Yang paling cepat adalah Singapura karena proses pelayanannya hanya butuh waktu satu hari. Apa penyebab utamanya? Kalau saya melihat lebih dikarenakan regulasi. Regulasi yang ditetapkan tidak hanya amburadul, tetapi juga tumpang tindih sehingga pelabuhan sulit berkembang. Kalaupun aturan terkait infrastruktur atau logistik sudah

baik sehingga ada peningkatan proses bongkar atau distribusi dan lainnya,namun kalau pada proses keuangan, seperti bea keluar atau pajak dan lainnya lambat tentu menjadi masalah juga. Ada berapa regulasi yang diterapkan untuk kepelabuhanan? Banyak peraturan yang berlaku terkait dengan angkutan laut.Tapi, beberapa di antaranya, yaitu UndangUndang (UU) No 17/2008 tentang Pelayaran, Peraturan Pemerintah (PP) No 20/2010 tentang Angkutan di Perairan, Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No 20/2010 tentang Pengangkutan Barang atau Muatan Antar Pelabuhan di Dalam Negeri. Selanjutnya berkaitan dengan tarif, ada Keputusan Menteri Perhubungan (Kepmenhub) No KM 50/2003 tentang Jenis, Struktur dan Golongan Tarif Pelayanan Jasa Kepelabuhanan untuk Pelabuhan Laut jo Permenhub No KM 72/2005 tentang Perubahan atas Kemenhub No KM 50/ 2003 dan Kepmenhub No KM 39/2004 tentang Mekanisme Penetapan Tarif dan Formulasi Perhitungan Tarif Pelayanan Jasa Kepelabuhanan pada Pelabuhan yang Diselenggarakan Badan Usaha Pelabuhan (BUP) dan lainnya. Bayangkan saja, untuk satu jenis pelayanan,banyak sekali aturan yang ditetapkan, baik dari Kementerian Perhubungan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Kementerian Keuangan untuk tarif. Kondisi itu tentu membingungkan dan seharusnya bisa diringkas atau disatukan dengan aturan lain-nya. Apa yang harus dilakukan pemerintah? Harus segera memperbaiki dengan merevisinya. Kalau regulasinya amburadul, ya akan terjadi kompleksitas persoalan pada sektor kepelabuhanan. Seharusnya antarkementerian berkoordinasi agar proses pelayanan cepat dan tepat, biaya yang dikeluarkan juga tidak terlalu mahal dan negara tetap memperoleh pendapatan. Namun, paling utama adalah pelabuhan itu bisa berkembang, terutama dalam hal infrastruktur dan pelayanan. Jadi, pemerintah harus melihat persoalan ini lebih serius lagi.Pasalnya, regulasi-regulasi yang ditetapkan juga hanya regulasi saja karena implementasinya tidak begitu jadi harus diselidiki lagi. Bagaimana perkembangan perekonomian Indonesia jika reg u l a s i bisa d i perbaiki? jelia amelidaAkan sangat tinggi,bahkan hanya lebih tinggi dari sekarang ini. Sebab, kontribusi moda transportasi dalam perekonomian atau perdagangan yang paling tingi adalah laut, yakni mencapai 77%. Sedangkan udara hanya 0,3%, darat hanya 16% dan perpipaan hanya 6,7%. Jadi, jelas transportasi laut sangat berpotensi tinggi. Sekarang saja ekonomi kita sudah baik, tapi kalau bisa lebih baik,kenapa tidak.