Anda di halaman 1dari 91

KARAKTERISASI LEMPUNG DARI DAERAH PAGEDANGAN KEC

TUREN KAB MALANG DAN DAERAH GETAAN KEC PAGELARAN


KAB MALANG


SKRIPSI

Oleh
MOH TAMAM QODARI
NIM 03530021











JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
2010

KARAKTERISASI LEMPUNG DARI DAERAH PAGEDANGAN KEC
TUREN KAB MALANG DAN DAERAH GETAAN KEC PAGELARAN
KAB MALANG


SKRIPSI



Diajukan Kepada:
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam
Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S.Si)





Oleh
MOH TAMAM QODARI
NIM 03530021





JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
2010
SURAT PERNYATAAN
ORISINALITAS PENELITIAN


Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Moh Tamam Qodari
NIM : 03530021
Fakultas/ Jurusan : Sains dan Teknologi/ Kimia
Jurul Peneitian : Karakterisasi lempung dari daerah Pagedangan Kec. Turen
Kab. Malang dan daerah Getaan Kec. Pagelaran Kab.
Malang

Menyatakan dengan sebenar- benarnya bahwa hasil penelitian saya ini
tidak terdapat unsur-unsur plagiat karya penelitian atau karya ilmiah yang pernah
dilakukan atau dibuat oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam
naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.

Apabila ternyata hasil penelitian ini terbukti terdapat unsur-unsur plagiat,
maka saya bersedia untuk mempertanggung jawabkan, serta diproses sesuai
peraturan yang berlaku

Malang, 05 Juli 2010
Yang membuat pernyataan,



Moh Tamam Qodari
NIM 03530021

KARAKTERISASI LEMPUNG DARI DAERAH PAGEDANGAN KEC
TUREN KAB MALANG DAN DAERAH GETAAN KEC PAGELARAN
KAB MALANG


SKRIPSI


Oleh :
MOH TAMAM QODARI
NIM 03530021


Pembimbing Utama




Anton Prasetyo, MSi
NIP 19770925200604 1 003
Pembimbing Agama




Ach Nashihuddin, MA
NIP 197307052000031002

Mengetahui,
Ketua Jurusan Kimia
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang





Diana Candra Dewi, MSi
NIP 19770720 200312 2 001

KARAKTERISASI LEMPUNG DARI DAERAH PAGEDANGAN KEC
TUREN KAB MALANG
DAN DAERAH GETAAN KEC PAGELARAN KAB MALANG


SKRIPSI

Oleh :
MOH TAMAM QODARI
NIM 03530021

Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skripsi dan Dinyatakan
Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains (SSi)

Tanggal, 28 Juni 2010

Susunan Dewan Penguji Tanda Tangan


1 Penguji Utama Elok Kamilah Hayati, MSi
NIP 197906202006042002
( )
2 Ketua Penguji Akyunul Jannah, SSi, MP
NIP 197504102005012009
( )
3 Sekretaris penguji Anton Prasetyo, MSi
NIP 19770925200604 1003
( )
4 Anggota Penguji Ach Nashihuddin, MA
NIP 197307052000031002
( )



Mengetahui dan Mengesahkan
Ketua Jurusan Kimia
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang





Diana Candra Dewi, MSi
NIP 19770720 200312 2 001

PERSEMBAHAN

Karya tulis yang sederhana dan semoga dapat memberikan manfaat ini, penulis
dedikasikan kepada beliau- beliau yang telah banyak memberikan dukungan,
cinta dan kasih sayang kepada penulis :

Bapak/ Ibu Penulis (Bapak Sukardjito dan Ibu Rumiyati). Doa beliau selalu
menyertai putra- putrinya, beliau selalu mengajarkan kepada putra-putrinya
untuk bersabar dalam menjalani hidup Emosi tidak akan pernah menyelesaikan
masalah, hanya akan memperuncing masalah begitu kata beliau dan yang paling
penting dalam menjalani hidup ini adalah proses bukan hasil akhir.

Saudara- saudaraku Mbak Mujid Ratna Wati, S. Hum., Mas Ruri Khoirul Anam,
Lilik Tafsirul Anam dan tak lupa si mungil Iib (Abdulloh Ibnu Fajar al Majid).
Terima kasih atas keceriaan, dukungan dan doa yang diberikan.

Sahabat- sahabati PM11, teman-teman seperjuangan di HMJ Kimia 2005-2006
dan Sedulur TK2 (teater komedi Kontemporer), Bersama kalian semua penulis
telah banyak belajar bermasyarakat, berorganisasi dan belajar memaknai arti
Social Human

Teman- teman yang masih exsis di Malang, Kang Aliful-Maarif (ketum PMII Kota
Malang), Makmun (S2), Hamdani (S2, Ketum Griya Baca anak- anak Jalanan),
Kholid (S2, staf Fak. Tarbiyah), mas Topan (Penulis), Taufiq (Laboran Kim), Abi
(Laboran kim), Hamdiyah, Cicik, Mami, Hafidatul hasanah (S2) dll,
Semoga proses karir yang kalian jalani segera berakhir (pensiun dini)
dan mendapatkan hasil yang memuaskan sesuai dengan cita-cita

Untuk semua rekan yang tidak mungkin penulis sebut satu persatu yang telah
sudi meluangkan waktunya, sehingga penulisan karya ilmiah ini dapat
terselesaikan. Penulis hanya bisa mengucapkan terima kasih dan berdoa Jaza
kumullah khoiro jaza



KATA PENGANTAR
Alhamdulilahirobbilalamin, berkat ridho, rahmat dan hidayah Allah, penulis
dapat menyelesaikan tugas akhir Sholawat serta salam penulis persembahkan kepada sang
revolusioner sejati yang telah mengantarkan kita semua menjadi manusia yang beradab
dan berpendidikan melalui ajaran dan keilmuwan yang disampaikanya dalam Al-Quran
dan Al- Hadist.
Penulis menyadari secara penuh bahwa hadirnya karya tulis ilmiah berupa tugas
akhir (skripsi) ini tidak akan berjalan secara tuntas tanpa adanya motivasi, arahan dan
bimbingan dari banyak pihak, oleh karena itu dengan segenap kerendahan hati dan
iringan doa Jazakumullah khoiru Jazza penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Prof Dr H Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri Maulana
Malik Ibrahim Malang.
2. Prof Drs Sutiman B SUMITRO, SU, DSc, selaku Dekan Fakultas Sains dan
Teknologi UIN MALIKI Malang.
3. Diana Candra Dewi, MSi selaku Ketua Jurusan Kimia Fakultas Sains dan
Teknologi UIN MALIKI Malang.
4. Akyunul Jannah, SSi, MP Selaku dosen wali yang telah sabar dan telaten
memberikan arahan dan motivasi untuk segera menyesaikan studi.
5. Anton Prasetyo, MSi, selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan
motivasi, arahan dan bimbingan yang penuh semangat sehingga tugas akhir ini
dapat terselesaikan.
6. Tri Kustono Adi, MSc selaku dosen konsultan yang telah banyak memberikan
pemikiran dan wawasannya kepada penulis.
7. Ach Nashihuddin, MAg selaku dosen pembimbing agama yang telah
mengarahkan penulis dalam mengintegrasikan sains dan Al-Quran.
i
8. Elok Kamilah Hayati, MSi selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan
masukan dan kritikan pengetahuan kepada penulis
9. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Kimia yang telah ikhlas dan tulus mentranfer
pengetahuanya kepada penulis.
10. Kedua orang tua penulis (Bapak Sukardjito dan Ibu Rumiyati) yang telah banyak
memberikan arti sebuah kesabaran dalam menjalani kehidupan serta
membimbing dan mengarahkan putra dan putrinya untuk tidak mudah terbawa
emosi Kasih, sayang dan ridho beliau sangat penulis harapkan hingga akhir hayat.
11. Mbak Mujid Ratna Wati, Shum, Mas Masruri Khoirul Anam, Lilik Tafsirul
Anam dan tak lupa si kecil iib kalian semua tidak hanya saudara namun lebih dari
itu kalian adalah teman bermain yang selalu memberikan semangat penulis.
12. Vina, Iza, Zahro, Cicik, Mami, Hamdiyah, mbak Ana Admin terima kasih atas
segala infomasi yang disampaikan serta semua pihak yang tidak mungkin penulis
sebut satu persatu, atas bantuan moril dan spiritual penulis ucapkan terima kasih.

Akhir kata, penulis hanya dapat berdoa semoga karya tulis yang dengan tulus
dan ikhlas penulis susun serta jauh dari kesempurnaan ini dapat bermanfaat dan
menambah wawasan keimuwan Kritik dan saran yang sifatnya membangun terhadap
tugas akhir ini sangat penulis harapkan sehingga akan muncul yang lebih sempurna

Malang, 28 Juni 2010

Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL............................................................................................ iv
DAFTAR GAMBAR....................................................................................... v
DAFTAR LAMPIRAN ... vi
ABSTRAK ... vii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................... 5
1.3 Tujuan............................................................................................. 5
1.4 Batasan Masalah............................................................................. 6
1.5 Manfaat........................................................................................... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Lempung.......................................................................................... 7
2.1.1. Pengertian lempung .... 7
2.1.2. Struktur atom mineral lempung... 8
2.1.3. Komposisi mineral lempung ... 10
2.1.4. Penggunaan lempung dalam kehidupan manusia ... 11
2.1.5. Asal- usul terbentuknya manusia 12
2.1.6. Jenis- jenis lempung 14
2.1.7. Lempung sebagai bahan penciptaan manusia . 17
2.2 Keramik ... 24
2.3 Teori Plastisitas ... 25
2.3.1 Plastisitas lempung........................................................................... 28
2.3.2 Metode penentuan plastisitas .......................................................... 31
2.3.2.1 Metode cincin plastis ...................................................................... 31
2.3.2.2 Metode atterberg atau casagrande ................................................... 31
2.3.2.3 Metode cone penetrometer ...................................................... 35
2.3.3 Faktor faktor yang mempengaruhi plastisitas ................................. 35
2.4 XRD (X-Ray Difraction) ........ 36
2.5 XRF (X-Ray Fluorescence) ............................................................ 39
2.6 SEM (Scanning Electron Microscop) ............................................ 46

BAB III BAB III METODOLOGI
4.1. Waktu dan tempat penelitian............................................................ 48
4.2. Alat dan bahan................................................................................. 48
3.2.1 Alat................................................................................................... 48
3.2.2 Bahan............................................................................................... 48
4.3. Rancangan penelitian....................................................................... 48
3.3.1 Benefisiasi........................................ ............................................... 49
3.3.2 Preparasi sampel.............................................................................. 49
3.3.3 Penentuan indeks plastisitas metode atteberg.................................. 50
iii
3.3.3.1 Penentuan batas cair........................................ ................................ 50
3.3.3.2 Penentuan batas plastis..................................................................... 51
3.3.3.3 Penentuan kadar air.......................................................................... 52
3.3.3.4 Penentuan indeks plastisitas............................................................. 52
3.3.4 Karakterisasi dengan XRD............................................................... 52
3.3.5 Karakterisasi dengan XRF............................................................... 53
3.3.6 Karakterisasi dengan SEM............................................................... 53
3.4 Analisis data..... 54
3.4.1 Analisis morfologi permukaan..... 54
3.4.2 Analisis komposisi kimiadan fisika lempung . 54

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Benefisiasi Lempung........................................................................ 55
4.2. Karakterisasi Lempung 57
4.2.1. Plastisitas.. 57
4.2.2.1. Penentuan Batas Plastis........ 59
4.2.2.2. Penentuan Batas Cair... 59
4.2.2.3. Penentuan Indeks Plastisitas 62
4.2.2. Karakterisasi dengan SEM (scanning electron microscopy)... 63
4.2.3. Karakterisasi dengan XRD (X-Ray Difraction)... 66
4.2.4. Karakterisasi dengan XRF (X-Ray Fluorescent). 68
4.3. Integrasi penciptaan manusia dengan komponen lempung . 70

BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan . 72
5.2. Saran 73

DAFTAR PUSTAKA... 74
LAMPIRAN- LAMPIRAN.............................................................................. 77



DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Kelompok dan komposisi mineral lempung ... 10
Tabel 2.2 Komposisi kimia dalam lempung ... 11
Tabel 2.3 Deskripsi Indeks Plastisitas. 34
Tabel 2.4 Energi Sinar X Karakteristik garis K pada unsur-unsur yang
umumnya terdapat pada lempung/ clay .. 45
Tabel 4.1. Pengklasifikasian tanah berdasarkan ukuran .. 56
Tabel 4.2. Kadar air sampel saat mencapai batas plastis . 59
Tabel 4.3. Batas cair sampel Pagedangan ... 60
Tabel 4.4. Batas cair sampel lempung Getaan 61
Tabel 4.5. Komposisi Unsur-unsur dalam Lempung Hasil XRF 69

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Struktur Kristas Silica .. . 9
Gambar 2.2 Struktur Aluminium Oktahedral . 9
Gambar 2.3 Batuan lempung karbonat 12
Gambar 2.4 Batuan lempung laminasi 13
Gambar 2.5 Struktur molekul kandite. 14
Gambar 2.6 Struktur molekul smectite 15
Gambar 2.7 Struktur molekul illite. 16
Gambar 2.8 Variasi volume dan kadar air pada kedudukan batas cair,
batas plastis dan batas susut ... 28
Gambar 2.9 Diagram hubungan antara plasticity index dengan plastic
limit untuk mengidentifikasikan kesesuaian lempung
sebagai bahan baku batu bara dan Keramik .. 30
Gambar 2.10 Alat Atterberg . 35
Gambar 2.11 Rangkaian sinar x pada instrument X-Ray Difraction 37
Gambar 2.12 Mesin X ray flourescence tipe PW1606 Philips 42
Gambar 4.1. Grafik hubungan antara kadar air dan jumlah pukulan Pada
penentuan batas cair lempung pagedangan. 61
Gambar 4.2. Grafik hubungan antara kadar air dan jumlah pukulan pada
penentuan batas cair lempung Getaan 62
Gambar 4.3. Pengamatan Lempung Daerah Getaan dengan SEM ... 64
Gambar 4.4. Foto SEM dari Lempung Perbesaran 15.007 X . 64
Gambar 4.5. Pengamatan Lempung Daerah Pagedangan dengan SEM . 65
Gambar 4.6. Hasil SEM Lempung Pagedangan Perbesaran 15.007 X 65
Gambar 4.7. Difraktogram Sampel Lempung Getaan 67
Gambar 4.8. Difaktogram sampel Lempung Pagedangan . 68


v
DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN I. SKEMA KERJA
lampiran 1.1. Rancangan Penelitian 77
lampiran 1.2. Cara Kerja... 77
lampiran 1.2.1. Benefisiasi.. 77
lampiran 1.2.2. Preparasi sampel 78
lampiran 1.2.3. Penentuan indeks Plastisitas metode atteberg 78
lampiran 1.2.4. Karakteriasi dengan XRD... 80
lampiran 1.2.5. Karakterisasi dengan XRF.. 80
lampiran 1.2.6. Karakterisasi dengan SEM 80

LAMPIRAN II. PERHITUNGAN
lampiran 2.1. Penentuan kadar air ... 81
lampiran 2.2. Penentuan batas plastis.. 81
lampiran 2.3. Rerata batas plastis 82
lampiran 2.4. Penentuan batas cair .. 82
lampiran 2.5. Penentuan indeks plastisitas . 84

LAMPIRAN III. DOKUMENTASI PENELITIAN
lampiran 3.1. Alat atteberg digunakan untuk mengukur Batas cair dalam
penentuan indeks plastisitas... 85
lampiran 3.2. X-Ray Difraction spectroscopy digunakan dalam penentuan
jenis mineral lempung 85
lampiran 3.3. X-Ray Flourocence (XRF) digunakan untuk menentukan
komponen senyawa dalam lempung.. 86
lampiran 3.4. Scanning Electron Microscopy, digunakan untuk melihat
morfologi muka lempung... 86



vii

ABSTRAK

Tamam, Q.M, 2010, Karakterisasi Lempung dari Daerah Pagedangan Kec.
Turen Kab. Malang dan Daerah Getaan Kec. Pagelaran Kab. Malang.
Pembimbing: Anton Prasetyo, M.Si

Kata Kunci : Lempung, Indeks Plastisitas, X-Ray DIfraction, X- Ray
Flourocense , Scanning Electron Microscopy


Potensi lempung di Indonesia sangatlah besar namun pemanfaatanya
hingga kini belum optimal. Untuk mengoptimasi potensi lempung ini dibutuhkan
karakterisasi lempung, sehingga dapat dimanfaatkan secara maksimal. Daerah
Pagedangan dan daerah Getaan merupakan daerah yang berada di kota Malang
bagian selatan, mayoritas masyarakat memanfaatkan lempung sebagai bahan baku
pembuatan batu bata dan Genteng. Penelitian ini bertujuan (a) Mengetahui Indeks
Plastisitas lempung di daerah Pagedangan Kec. Turen Kab. Malang dan Lempung
daerah Getaan Kec. Pagelaran Kab. Malang. (B) Mengetahui komposisi, mineral
dan ukuran lempung daerah Pagedangan Kec. Turen Kab. Malang dan lempung
daerah Getaan Kec. Pagelaran Kab. Malang.
Metode karaktersasi yang digunakan dalam menentukan indeks plastisitas
adalah metode atteberg, untuk penentuan komposisi senyawa lempung digunakan
X-Ray Flourocence spectroscopy (XRF), untuk penentuan mineral lempung
digunakan X-Ray Difraction spectroscopy (XRD) sedangkan untuk mengetahui
morfologi luar lempung digunakan Scanning Electron Microscopy (SEM)
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Lempung daerah Pagedangan
memiliki nilai batas plastis 33,13 batas cair 60,33 dan indeks plastisitas 27,22.
Sedangkan lempung daerah Getaan memliki nilai batas plastis 17,05 batas cair
46,60 dan indeks plastisitas 29,55. Karakterisasi SEM menunjukkan bahwa
lempung Getaan berwarna hitam disertai partikel- partikel berbentuk kristas
berwarna putih sedangkan lempung Pagedangan terlihat berwarna hitam
kekuningan disertai partikel- partikel berbentuk Kristal berwarna putih.
Karakterisasi XRD menunjukkan bahwa lempung daerah Getaan mengandung
mineral SiO
2
(cristobalite) dan (Ca,Na)(Si,Al)
4
O
8
(anorthite, sodian, disordered)
sedangkan daerah Pagedangan mengandung mineral kaolinite (Al
2
Si
2
O
5
(OH)
4
)
dan (Ca,Na)(Si,Al)
4
O
8
(anothite, sodian, disordered). Karakterisasi dengan XRF
menunjukkan bahwa lempung daerah Getaan didominasi unsur Si sebesar 40,00
% kemudian Fe (33,28 %), Al (14,00%), Ca (8,88%) Ti (1,84%). Pada lempung
daerah Pagedangan, Si juga menjadi unsur yang mendominasi yaitu sebesar 36,0
% kemudian Al (14%), Ca (10,8%), Ti (1,99%) dan K (0,84%).


viii

ABSTRACT

Tamam, Q.M, 2010, Characterization of clay from the Regional Pagedangan
Turen Malang and Regional Getaan Pagelaran Malang. Advisors :
Anton Prasetyo, M.Si

Keywords: Clay, Plasticity Index, X-Ray Difraction, X-Ray
Flourocense, Scanning Electron Microscopy

Potential clay in Indonesia is very large but the benefits of clay until now
not been optimal. To optimize the potential of clay is needed to characterize the
clay, that can be utilized effectively. The regional Pagedangan and Getaan is an
area in city of Malang, a majority of people use clay as raw material for making
bricks and tiles. This study aimed, (a) Determine the plasticity index of clay in the
regional Pagedangan Turen Malang and regional Getaan Pagelaran Malang. (B)
Determine the composition, clay minerals and the size of the regional Pagedangan
Turen Malang and regional Getaan Pagelaran Malang.
Characterize method used in determining the plasticity index is atteberg
method, for determining the composition of compounds are used clay Flourocence
X-ray spectroscopy (XRF), for determination of clay minerals used in X-Ray
Difraction spectroscopy (XRD) to determine morphology, while outside the clay
used Scanning Electron Microscopy (SEM).
Research results showed that the clay areas have a value of plastic limit
Pagedangan 33.13, liquid limit 60.33 and plasticity index of 27.22. While the
Regional clay plastic limit values possess Getaan 17.05, liquid limit 46.60 and
plasticity index of 29.55. SEM characterization showed that the clay Getaan of
black accompanied kristas shaped particles of clay is white while the black looks
yellowish Pagedangan particles accompanied by the shape of white crystals. XRD
characterization showed that the clay minerals containing regional Getaan SiO
2

(cristobalite) and (Ca, Na) (Si, Al)
4
O
8
(anorthite, sodian, disordered) while
Regional Pagedangan containing mineral kaolinite (Al
2
Si
2
O
5
(OH)
4
) and (Ca, Na
) (Si, Al)
4
O
8
(anothite, sodian, disordered). Characterization by XRF indicated
that clay-dominated areas Getaan elements Si and Fe 40.00% (33.28%), Al
(14.00%), Ca (8.88%) Ti (1.84%). At the local clay Pagedangan, Si also becomes
the dominating element that is equal to 36.0% and Al (14%), Ca (10.8%), Ti
(1.99%) and K (0.84%).




BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Potensi cadangan lempung di Indonesia sangatlah besar dan tersebar
hampir di seluruh daerah terutama di pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan,
namun pemanfaatannya belum optimal. Sebagian orang baik perorangan maupun
industri memanfaatkan lempung sebagai bahan dasar dalam pembuatan batu bata,
marmer, keramik, perabot rumah atau hanya sekedar digunakan untuk
menghilangkan rasa pahit pada daun ketela maupun daun papaya.
Salah satu kota di Jawa Timur yang memiliki hasil kerajinan dari bahan
baku lempung adalah kota Malang. Sebagai kota pendidikan dan wisata, Malang
memiliki banyak sekali kerajinan tangan yang terbuat dari lempung, salah satunya
adalah industri keramik dan gerabah di daerah Pagedangan dan daerah Getaan.
Secara geografis daerah Pagedangan dan daerah Getaan berada di wilayah Kota
Malang sebelah selatan atau lebih dikenal dengan Malang Selatan. Sebagai besar
masyarakat di kedua daerah tersebut memanfaatkan tanah lempung sebagai bahan
baku dalam pembuatan batu bata dan genteng. Meskipun kedua daerah berada di
wilayah Malang Selatan serta memproduksi batu bata dan genteng, ternyata
produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang berbeda, hal ini kemungkinan
disebabkan oleh karakteristik tanah lempung yang berbeda. Secara fisik, tanah
lempung dari daerah Pagedangan merupakan tanah merah sedangkan tanah
1
lempung dari daerah Getaan merupakan tanah hitam sehingga ada kemungkinan
adanya perbedaan struktur dan karakteristik lempung yang berbeda.
Lempung dapat didefinisikan sebagai campuran partikel-partikel pasir,
debu dan bagian-bagian tanah liat yang mempunyai sifat-sifat karakteristik yang
berlainan dalam ukuran yang kira- kira sama. Salah satu ciri partikel-partikel
tanah liat adalah mempunyai muatan ion positif yang dapat dipertukarkan.
Material ini mempunyai daya serap dengan berubahnya kadar kelembapan. Tanah
liat mempunyai luas permukaan yang sangat besar (Mahida, 1984).
Mineral lempung (clay) sangat umum digunakan dalam industri keramik.
Mineral lempung merupakan penyusun batuan sedimen dan penyusun utama dari
tanah (Nelson, 2001). Lempung adalah material yang memiliki ukuran diameter
partikel < 2 m dan dapat ditemukan dekat permukaan bumi. Karakteristik umum
dari lempung mencakup komposisi kimia, struktur lapisan kristal dan ukurannya.
Semua mineral lempung memiliki daya tarik terhadap air. Sebagian mudah untuk
membesar dan dapat memiliki volume 2 kali lebih besar dalam keadaan basah.
Sebagian besar lempung terbentuk ketika batu berkontak dengan air, udara atau
gas. Contohnya adalah batu yang mengalami kontak dengan air yang dipanaskan
oleh magma (lelehan batu), batuan sedimen di laut atau di dasar danau. Semua
kondisi alam diatas akan membentuk mineral lempung dari mineral sebelumnya
(Grim, 1962). Mineral lempung terdiri atas berbagai jenis, antara lain : kaolinit,
monmorilonit, illit atau mika, dan antapulgit (Nurahmi, 2001).
Struktur kristal lempung terbentuk dari dua struktur lapisan dasar yaitu
silika dan alumina (Grim, 1962). Lapisan silika memiliki rumus molekul
(Si
4
O
10
)
4-
. Lapisan ini terbentuk dari satu atom silikon (Si) yang membentuk
struktur tetrahedral dengan empat atom oksigen (O
2-
) atau hidroksi (OH
-
). Atom
silikon berada di pusat tetrahedral. Jarak antara atom-atom oksigen adalah sama.
Lempung biasanya muncul dari daerah dengan kondisi geologis tertentu
dan bisa terbentuk di laut (marine clay) atau di darat (terrestrial clay), dengan
proses pembentukan bisa secara allogenic clay (dari luar cekungan sedimentasi)
atau secara authigenic clay (terbentuk di dalam lingkungan sedimentasi, misalnya
perubahan atau proses alterasi dari mineral feldspar menjadi mineral lempung)
dan juga dapat terbetuk di daerah vulkanik, daerah geotermal dan sebagainya.
Pada saat karakterisasi lempung, secara umum tidak memerlukan
spesifikasi proses laboratorium yang kaku, tetapi analisa laboratorium ini tetap
diperlukan untuk dapat membedakan mutu dari lempung itu sendiri dan untuk
dapat diarahkan terhadap penggunaannya. Secara umum untuk mengidentifikasi
mineral lempung dilakukan dengan metode difraksi sinar-X atau XRD, untuk
mengidentifikasi unsur-unsur yang berada pada lempung digunakan metode XRF
sedangkan untuk mengetahui morfologi dari lempung digunakan metode SEM.
Kesulitan dalam intepretasi difraktogram yang sering timbul dalam teknik
identifikasi ini adalah terjadinya pola difraksi yang kompleks akibat adanya
interstratifikasi berbagai jenis mineral lempung dan mineral non lempung dalam
lempung alam, dan terbentuknya pita difraksi yang lebar yang disebabkan oleh
adanya cacat kristal dan keteraturan kristal lempung yang rendah.
Kesulitan-kesulitan tersebut dapat diatasi dengan menggunakan mineral
lempung standar yaitu berupa kaolinit dan monmorilonit murni sebagai
pembanding. Tetapi pada kenyataannya lempung murni sangat jarang ditemukan.
Namun sesungguhnya mineral lempung murni dapat diperoleh dengan cara
sintesis ataupun pemisahan mineral lempung utama dalam lempung alam.
Pemurnian lempung untuk mendapatkan kaolinit dan monmorilonit murni dapat
dilakukan dengan cara pemisahan fraksinasi berat jenis, proses ini dikenal dengan
nama benefisiasi.
Lempung juga termasuk salah satu material yang ditulis dalam Al-Quran
dan disebut sebagai bahan dasar diciptakanya nabi Adam, Hal ini dijelaskan oleh
Allah dalam surat al-hijr ayat 26:
)9 $)=z }# = *q ``
Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia (adam) dari tanah
liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (Q.S. al-
hijr: 26)

Lempung dalam kehidupan sehari- hari banyak memberikan manfaat
dalam kehidupan manusia, hal ini dikarenakan lempung merupakan bagian dari
tanah yang merupakan salah satu dari empat unsur kehidupan yaitu tanah, air,
udara, api. Dalam industri bahan alam, lempung banyak digunakan untuk industri
keramik, bahan baku pembuatan portland cement, bahan baku pembuatan
genteng, untuk batu bata, pipa-pipa saluran air, perabot rumah tangga dan tungku
(Anonymous, 2010)
Salah satu hambatan dalam pengembangan industri keramik di Indonesia
adalah penyediaan bahan baku yang belum dapat dipertahankan mutunya.
Kandungan mineral bahan baku yang tidak konsisten menyebabkan kualitas
produk keramik menjadi tidak standar, sehingga mengakibatkan produk keramik
Indonesia menjadi kurang memiliki daya saing. Hambatan ini disebabkan oleh
tidak adanya industri pemurnian bahan dan minimnya institusi penelitian bidang
keramik di Indonesia yang memiliki peralatan penelitian yang memadai, oleh
karena itu diperlukan karakterisasi bahan baku keramik dalam hal ini adalah
lempung, karena dengan melakukan karakterisasi akan didapatkan data-data sifat
kimia dan fisika lempung meliputi komposisi kimia, Mineral lempung dan ukuran
lempung.

1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana Indeks Plastisitas lempung di daerah Pagedangan Kec. Turen Kab.
Malang dan lempung daerah Getaan Kec. Pagelaran Kab. Malang ?
b. Bagaimana komposisi, mineral dan ukuran lempung daerah Pagedangan Kec.
Turen Kab. Malang dan lempung daerah Getaan Kec. Pagelaran Kab. Malang?

1.3 Tujuan
a. Mengetahui Indeks Plastisitas lempung di daerah Pagedangan Kec. Turen
Kab. Malang dan Lempung daerah Getaan Kec. Pagelaran Kab. Malang.
b. Mengetahui komposisi, mineral dan ukuran lempung daerah Pagedangan Kec.
Turen Kab. Malang dan lempung daerah Getaan Kec. Pagelaran Kab. Malang.



1.4 Batasan Masalah
a. Sampel lempung berasal dari daerah Pagedangan Kec. Turen Kab. Malang
dan daerah Getaan Kec. Pagelaran Kab. Malang.
b. Instrumen yang digunakan untuk karakterisasi meliputi XRD, XRF dan SEM.
c. Pengukuran Indeks Plastisitas menggunakan metode Atterberg

1.5 Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang komposisi,
mineral, ukuran dan indeks plastisitas lempung daerah Pagedangan dan daerah
Getaan sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku secara tepat.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lempung
2.1.1. Pengertian Lempung
Lempung merupakan mineral sekunder dan tergolong aluminium
filosilikat terhidrasi (Barroroh, 2007). Mineral lempung (clay) sangat umum
digunakan dalam industri keramik. Mineral lempung merupakan penyusun batuan
sedimen dan penyusun utama dari tanah (Nelson, 2001). Lempung adalah material
yang memiliki ukuran diameter partikel < 2 m dan dapat ditemukan dekat
permukaan bumi. Karakteristik umum dari lempung mencakup komposisi kimia,
struktur lapisan kristal dan ukurannya. Semua mineral lempung memiliki daya
tarik terhadap air. Sebagian mudah untuk membesar dan dapat memiliki volume 2
kali lebih besar dalam keadaan basah. Sebagian besar lempung terbentuk ketika
batu berkontak dengan air, udara atau gas. Contohnya adalah batu yang
mengalami kontak dengan air yang dipanaskan oleh magma (lelehan batu), batuan
sedimen di laut atau di dasar danau. Semua kondisi alam diatas akan membentuk
mineral lempung dari mineral sebelumnya (Grim, 1962). Mineral lempung terdiri
atas berbagai jenis, antara lain : kaolinit, monmorilonit, illit atau mika, dan
antapulgit (Nurahmi, 2001).
Mineral lempung yang terbentuk dari erosi benua, tanah dan batuan-batuan
laut adalah bagian yang penting untuk lingkaran yang membentuk batuan
sedimen. Batuan sedimen dilaporkan mengandung 70 % batuan lumpur
(terkandung 50 % pecahan lempung) dan shale (batuan yang mudah pecah, seperti
7
batuan lumpur mengandung partikel lempung). Karakteristik fisik lempung adalah
lengket dan mudah dibentuk saat lembab, tetapi keras dan kohesif saat kering
(Nagendrappa, 2002). Sebagian besar lempung memiliki kemampuan untuk
menyerap ion dari suatu larutan dan melepaskan ion tersebut bila kondisinya
berubah. Molekul air sangat tertarik pada permukaan mineral lempung, oleh
karena itu ketika sedikit lempung ditambahkan ke dalam air maka akan terbentuk
slurry karena lempung mendistribusikan dirinya sendiri ke dalam air. Campuran
lempung dalam jumlah besar dan sedikit air akan menghasilkan lumpur yang
dapat dibentuk dan dikeringkan untuk menghasilkan bahan yang keras dan padat.
Lempung juga termasuk salah satu material yang ditulis dalam Al-Quran
dan disebut sebagai bahan dasar diciptakanya nabi Adam, Hal ini dijelaskan oleh
Allah dalam surat Al-Hijr ayat 26:
) )) ) 9 99 9 $ $$ $ ) )) ) = == = z zz z } }} } # ## # = == = * ** * q qq q ` `` ` ` `` `
Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah
liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (Q.S. al-
hijr: 26)


2.1.2. Struktur Atom Mineral Lempung
Struktur atom mineral lempung terdiri dari dua unit struktural, yaitu (Das,
1998):
a. Silika tetrahedral, yang terdiri dari empat atom oksigen mengelilingi satu
atom silicon, kombinasi ini membentuk lempeng silica (shilica sheet).

Gambar 2.1. Struktur Kristas Silica (Das, 1998)



b. Aluminium oktahedral, yang terdiri dari enam gugus hidroksil yang
mengelilingi sebuah atom aluminium. Kombinasi ini membentuk lempeng
gibbsite (gibbsite sheet) atau dapat juga disebut lempeng brucite (brucite
sheet) bila atom Al digantikan oleh Mg.




Gambar 2.2. Struktur Aluminium Oktahedral



Jaringan tetrahedral memiliki dua struktur, yaitu dioktahedral dan
trioktahedral. Struktur dioktahedral memiliki dua kation oktahedral per unit sel
karena Al
3+
lebih dominan dan hanya menempati 2/3 kisi oktahedral sedangkan
struktur triokthedral memiliki 3 kation oktahedral tiap setengah unit sel
(Abdulloh, 2004).
Umumnya skema struktural mineral lempung dihasilkan oleh kombinasi
lempeng unit tetrahedral dan unit oktahedral. Dua pertiga hidroksil pada salah satu
bidang pada lapisan oktahedral diganti oleh oksigen apical dari lapisan
tetrahedral. Ion-ion OH
-
pada pusat heksagonal dibentuk oleh oksigen dari lapisan
tetrahedral. Kombinasi satu lapisan oktahedral dan satu lapisan tetrahedral dengan
cara ini menghasilkan struktur lapisan 1:1. Tetapi bila dua lapisan silica
ditambahkan dengan menempatkan lagi hidroksil berlawanan dengan kation
oktahedral akan menghasilkan jenis srtuktur 2:1. (Abdulloh, 2004).

2.1.3. Komposisi Mineral Lempung
Berdasarkan komposisinya mineral lempung dibedakan menjadi beberapa
kelompok seperti ditampilkan pada tabel 2.1, sedangkan komposisi kimia yang
terdapat dalam lempung menurut metode NLCE (National Laboratory for Civil
Engeneering) terlihat pada table 2.2


Tabel 2.1 Kelompok dan komposisi mineral lempung
Kelompok Struktur Lapisan Komposisi
Kaolinite 1:1 dioktahedral Al
2
Si
2
O
5
(OH)
4

Serpentine 1:1 trioktahedral Mg
6
Si
4
O
10
(OH)
8

Montmorillonite
atau smectite
2:1 dioktahedral atau
trioktahedral
(Na,Ca)
0,3
(Al,Mg)
2
Si
4
O
10
(OH)
2
.
nH
2
O
Pyrohyllite 2:1 dioktahedral Al
2
Si
4
O
10
(OH)
2

Talk 2:1 trioktahedral (Mg,Fe,Al)
6
(Si,Al)
4
O
10
(OH)
8

Chlorite 2:2 trioktahedral (Mg,Fe,Al)
6
(Si,Al)
4
O
10
(OH)
8

Mika 2:1 dioktahedral atau
trioktahedral
KAl
2
(AlSi
3
)O
10
(OH)
Sumber : Abdulloh (2004) dan Barroroh (2007)



Lapisan alumina memiliki rumus molekul Al
2
(OH)
6
dan ini biasa disebut
gibbsite. Struktur ini tersusun satu atom alumunium dan enam atom oksigen yang
membentuk struktur oktahedral. Atom alumunium dapat digantikan oleh atom
magnesium membentuk struktur dengan nama brucite, Mg
3
(OH)
6
.

Tabel 2.2 Komposisi kimia dalam lempung
Senyawa Jumlah (%)
Silika (SiO
2
) 61,43
Alumina (Al
2
O
3
) 18,99
Besi Oksida (Fe
2
O
3
) 1,22
Kalsium Oksida (CaO) 0,84
Magnesium Oksida (MgO) 0,91
Sulfur Trioksida (SO
3
) 0,01
Potasium Oksida (K
2
O) 3,21
Sodium Oksida (Na
2
O) 0,15
H2O hilang pada suhu 105
0
C 0,6
H2O hilang pada pembakaran diatas 105
0
C 12,65
Sumber : Kurniasari (2008)



2.1.4. Penggunaan Lempung dalam Kehidupan Manusia
Lempung merupakan mineral yang mempunyai banyak kegunaan dan
aplikasi, tidak hanya sebagai bahan keramik, bahan bangunan, bahan pelapisan
kertas, atau bahan farmasi saja namun penggunaan lempung telah mengalami
pengembangan. Saat ini lempung juga banyak digunakan sebagai adsorben,
penyangga katalis, penukar ion, dll, bergantung pada sifat fisik lempung tersebut
(Vaccari, 1999).
Dalam bidang katalis, lempung telah lama dikenal sebagai katalis
perengkahan dan merupakan katalis perengkahan komersial pertama (USA, 1936)
yang digunakan dalam perengkahan minyak bumi. Walaupun sudah tidak
digunakan lagi sebagai sebuah katalis komersial (hanya sebagai komponen
penyangga), namun penelitian dan pengembangan terhadap lempung sebagai
komponen katalis perengkahan masih terus dilakukan hingga sekarang. Hal ini
disebabkan oleh keistimewaan struktur lempung, yaitu ukuran porinya yang besar.

2.1.5. Asal Usul Terbentuknya Lempung
Batu lempung adalah merupakan kumpulan dari mineral lempung yang
termasuk jenis batuan sedimen yang mempunyai ukuran butir < 1/256 mm (skala
wentworth), lempung ini tersusun atas kelompok alumina silicates (alumina silika,
seperti Al, Fe, Mg, Si), lempung biasanya muncul dari daerah dengan kondisi
geologis tertentu dan bisa terbentuk di laut (marine clay) atau di darat (terrestrial
clay), dengan proses pembentukan bisa secara allogenic clay (dari luar cekungan
sedimentasi) atau secara authigenic clay (terbentuk di dalam lingkungan
sedimentasi, misalnya perubahan atau proses alterasi dari mineral feldspar
menjadi mineral lempung) dan juga dapat terbetuk di daerah vulkanik, daerah
geotermal dan sebagainya. Jadi ditinjau dari ukuran butir dalam urutan batuan
sedimen, batu lempung ini mempunyai ukuran yang paling halus. Salah satu
contoh dari batu lempung diantaranya adalah batu lempung karbonat dan batu
lempung laminasi.




Gambar 2.3. Batuan lempung karbonat




Gambar 2.4 Batuan lempung laminasi



Batu lempung karbonat mengandung material karbon / bersifat karbonan
material ini umumnya berwarna gelap. Proses terbentuknya material karbonat ini
berhubungan dengan tanaman darat (land plants/terrestrial higher plants), yang
tertimbun dalam proses sedimentasi dalam kondisi reduksi (an-oxidized),
sehingga menjadikan pengkayaan material organik.
Umumnya batu lempung karbonat jarang yang berfungsi sebagai reservoir
melainkan bisa sebagai batuan penutup. Justru kalau organik materialnya berlebih/
kandungan TOC (total organic content) tinggi maka dapat berfungsi sebagai
source rock (batuan induk, batuan yang menghasilkan hydrocarbon), atau sering
disebut sebagai oil shale, bisa black shale (umumnya di laut) atau brown shale
(terrestrial).
Batu lempung laminasi ini terbentuk dari batuan asal (batuan induk) akibat
dari proses pelapukan dan tertransportasinya batuan induk tersebut menuju suatu
cekungan atau daratan, di mana jarak yang ditempuh sangat jauh di bawa oleh
media air yang sangat deras sampai mengakibatkan butiran sangat halus. Butiran
yang halus tersebut terus terbawa sampai ke daerah cekungan berarus tenang dan
butiran yang halus tersebut terendapkan secara perlahan-lahan dan terjadi proses
yang disebut lithifikasi atau sedimentasi sehingga terjadilah pembatuan yang
akhirnya terbentuk batu lempung laminasi.

2.1.6. Jenis-Jenis Lempung
Berdasarkan struktur dan komposisi kimia, lempung dapat dibagi menjadi
tiga kelas utama, yaitu kandite, smectite dan illite (Nelson, 2001).
a. Kandite
Kandite adalah jenis mineral lempung yang mempunyai struktur susunan
lapisan kristal T-O (tetrahedral oktahedral) dengan lapisan oktaheral seperti
struktur gibbsite. Lapisan tersebut bermuatan netral, oleh karena itu ikatan antar
lapisannya merupakan ikatan van der Waals yang lemah. Jenis lempung yang
terkenal dari golongan kandite adalah kaolinite yang mempunyai rumus molekul
Al
2
Si
2
O
5
(OH)
4
. Jenis lainnya adalah Anauxite, Dickite, dan Nacrite.

Gambar 2.5. Struktur molekul kandite



Kaolinite terbentuk dari perubahan hidrotermal dari mineralmineral
aluminosilikat. Batuan granit merupakan sumber terbesar penghasil kaolinite.
Dalam pembentukannya ion ion seperti Na
+
, K
+
, Mg
2+
, dan Ca
2+
harus
disingkirkan terlebih dahulu melalui proses pertukaran ion dengan kondisi pH
yang rendah. Sifat dari kaolinite adalah tidak dapat mengadsorpi air, sehingga
kaolinite tidak dapat mengembang pada saat kontak dengan air. Oleh karena itu
kaolinite banyak digunakan dalam industri keramik. Jenis lempung lain yang
masuk dalam kelas kandite adalah halloysite dengan rumus molekul
Al
2
Si
2
O
5
(OH)
4
.4H
2
O, strukturnya mirip dengan kaolinite namun diantara lapisan
T-O terdapat lapisan molekul air.
b. Smectite
Smectite adalah lempung dengan struktur T-O-T. Smectite dapat
berstruktur dioktahedral atau trioktahedral. Sifat smectite yang paling penting
adalah kemampuannya untuk menyerap molekul H
2
O di antara lapisan T-O-T,
sehingga volumenya akan meningkat jika dikontakkan dengan air. Contoh
lempung smectite yang paling terkenal adalah montmorillonite yang mempunyai
rumus molekul (Ca,Na)(Al,Mg,Fe)
4
(Si,Al)
8
O
20
(OH)
4
.nH
2
O.


Gambar 2.6. Struktur molekul smectite



Montmorillonite merupakan unsur utama dari bentonite. Montmorillonite
terbentuk karena adanya perubahan bentuk dari abu vulkanik yang disebabkan
oleh perubahan cuaca. Montmorillonite dapat mengembang sampai beberapa kali
dari volume awalnya ketika kontak dengan air (Nelson, 2001). Lapisan dalam
montmorillonite biasanya mengandung ion Na+, Ca2+ dan Mg2+. ketika lempung
ini kering kation kation ini berada dalam struktur heksagonal pada unit silika.
Namun bila dikontakkan dengan air ion ion tersebut dapat tergantikan oleh ion
ion baik logam maupun nonlogam seperti H
3
O
+
, HN
4+,
Al
3+,
Fe
3+,
R
4
N
+
, R
4
P
+
dsb.
(Nagendrappa, 2002). Sifat inilah yang sangat berguna dari mineral lempung
sebagai katalis.
c. Illite
Illite mempunyai rumus molekul (Si
8-y
,Al
y
) O
20
(OH)
4
dengan harga y
antara 1-1,5. Illite mempunyai struktur dasar yang mirip dengan batuan
pembentuk mineral mika. Illite merupakan lapisan silikat 2:1 dengan lapisan
dasarnya terdiri dari dua lapisan silikat dengan alumina yang membentuk
oktahedral.


Gambar 2.7. Struktur molekul illite



Untuk menjaga keseimbangan struktur, ion Ca
2+
dan Mg
2+
dapat
menggantikan ion K. Lapisan dalam kation K, Ca dan Mg dapat mencegah air
masuk ke dalam struktur. Oleh karena itu illite merupakan jenis lempung yang
tidak mengembang (non-expanding clay). Illite terbentuk dari perubahan dari
batuan kaya K dan Al. Illite merupakan unsur utama pembentuk batuan mudrock
dan shale.

2.1.7. Lempung Sebagai Bahan Penciptaan Manusia.
Tanah lempung merupakan agregat partikel-partikel berukuran
mikroskopik dan submikroskopik yang berasal dari pembusukan kimia unsur-
unsur penyusun batuan, dan bersifat plastis dalam selang kadar air sedang sampai
luas. Lempung dalam keadaan kering bersifat sangat keras dan tak mudah
terkelupas hanya dengan jari tangan. Permeabilitas lempung sangat rendah
(Terzaghi dan Reck, 1987 dalam Usman, 2008) sifat yang khas dari tanah
lempung adalah dalam keadaan kering bersifat keras dan jika basah akan bersifat
lunak plastis dan kohesif, mengembang dan menyusut dengan cepat, sehingga
mempunyai perubahan volume yang besar dan itu terjadi karena pengaruh air.
Sifat keras lempung ini juga di ungkapkan oleh Allah dalam surat Ar- Rohman
ayat 14
Y={ }# = $9%.

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar (QS. ar-
rohman : 14)

Dalam tafsir Al-Quran Al-Aisar (Al-Jazairi, 2009) kata Ash-shalshalu
artinya tanah kering, dan kata Al Fakkharu artinya tanah yang terbakar yang
disebut dengan terbikar. Kata Al-Fahkkharu bisa dibaca berkharokat fat-hah
Al-Fahkkhara berkedudukan sebagai kata penjelas (keterangan) dari kata Al-
Insanu artinya Allah telah menciptakan manusia dari tanah kering, lalu manusia
tersebut menjadi seperti tembikar, dalam warna dan kekuatanya.
Adapun proses kejadian manusia dari bentukan unsur-unsur yang
terkandung dalam tanah di ungkapkan dalam Al-Quran sebagai berikut :
<) O %{& $s= $% ) #6# !# $ /39 9)
.'& {# `.G`# $ `F`$ O #/? 9) ) 1 '=%
'=g

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh
berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu
Tuhan selain Dia. dia Telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan
menjadikan kamu pemakmurnya[726], Karena itu mohonlah ampunan-
Nya, Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat
dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)." (Q.S Huud
: 61)

Secara tegas ayat tersebut menyatakan bahwa manusia terbuat dari unsur
bahan-bahan yang ada di Bumi.
G# & 3)={ >#? O #) F& "0 F?

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan kamu
dari tanah gemuk/ soil (Thurab), Kemudian tiba-tiba kamu (menjadi)
manusia yang berkembang biak. (Q.S Ar-Ruum : 20)

Pengertian Thurab di atas menunjuk pada bagian tanah gembur di Bumi
yang mana merupakan hasil proses pengikisan dari lapisan-lapisan batuan yang
keras.
`9& %!# #`. & N9# {# $F%2 $)? $)F $=_
$9# . ` r & ``

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya
langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, Kemudian
kami pisahkan antara keduanya. dan dari air kami jadikan segala sesuatu
yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (Q.S. Al
Anbiyaa: 30)

!# ,={ . /# $ ] ? / ] ?
,#_ ] ? /& ,= !# $ '$ ) !# ? 2 ` "%


Dan Allah Telah menciptakan semua jenis hewan dari air, Maka
sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian
berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan
empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, Sesungguhnya
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Q.S. An Nuur:45)


%!# ,={ $9# #0 `&#f $7 # %. 7/ #%
Dan dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan
manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah[1070] dan adalah
Tuhanmu Maha Kuasa.(Q.S. Al-Furqaan : 54)

%!# m& . ` )=z &/ ,=z }#
Yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya dan
yang memulai penciptaan manusia dari tanah. (Q.S. As-Sajdah : 7)


%!# 3)=z O % _& _& O `F& I?

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya
ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang
dia sendirilah mengetahuinya), Kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang
berbangkit itu). (Q.S. Al-Anaam : 2)

JF`$ & & $)=z & $)=z $) )={ _>
Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): "Apakah mereka
yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa[1273] yang Telah kami
ciptakan itu?" Sesungguhnya kami Telah menciptakan mereka dari tanah
liat.( Q.S. Ash Shaaffaat: 11)


)9 $)=z }# '#=
Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati
(berasal) dari tanah. (Q.S. Al Muminuun :12)

Pengertian Thin (lempung) menunjuk pada lapisan tanah (Thurab) yang
telah bercampur dengan air (Maa), hal ini diperkuat dengan adanya unsur
kepekatan pada Thin itu sendiri. Dari adanya Thin inilah maka dimulainya
penciptaan manusia. Lebih spesifik lagi Allah menyebutkan bahwa hanya
beberapa komponen unsure saja/ saripati (Sulalat) yang berperan penting dalam
penciptaan tersebut. Penyelidikan sains menyebutkan unsur-unsur tersebut
diantaranya adalah C + O
2
+ Ni + H
2
+ Fe + K + Si + Mn
Y={ }# = $9%.
Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, (Q.S. Ar-
Rohman:14)

)9 $)=z }# = *q ``
Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah
liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

Shal-shal atau protein merupakan senyawa hasil reaksi dari beberapa
macam unsur tersebut di atas, dan merupakan substansi dasar makhluk hidup.
Ayat-ayat di atas menegaskan adanya gagasan pencetakan dalam penciptaan
manusia. Bagaimana unsur-unsur tanah tersebut bisa merancang sedemikian rupa
sehingga membentuk rupa manusia sesuai dengan kehendak-Nya. Penemuan
sains akan DNA dan Kromosom telah memungkinkan terbukanya misteri tersebut.
DNA adalah suatu makromolekul protein yang sangat kompleks dan merupakan
materi kimia dasar atau sarana bagi terjadinya transfer informasi biologis. DNA
mempunyai struktur spiral dalam bentuk heliks ganda, satu pita dibelitkan ke
sekeliling pita lain (mungkin ini yang dimaksud Q.S. 55.Ar Rahmaan, ayat 14
di atas).
$' '$9# #)?# `3/ %!# /3)={ n ,=z $] $_ ]/
$] %` #W. $ #)?# !# %!# 9$? / %n{# ) !# %.
3= $6%

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah
menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah
menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang
biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada
Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta
satu sama lain[264], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.( Q.S. Ar
Rahmaan:14)

Maksud dari padanya menurut Jumhur Mufassirin ialah dari bagian tubuh
(tulang rusuk) Adam A.S. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. di
samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa
yakni tanah yang dari padanya Adam A.S. diciptakan.
Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau
memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As
aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.
Bentuk kehidupan pertama kali adalah makhluk Bersel Satu. Makhluk ini
terjadi akibat proses substitusi dari protein (Shal-shal) yang mendapat gempuran
sinar kosmis dari langit. Seperti diketahui bumi pada saat mula terbentuknya
dahulu kaya akan sinar kosmis akibat masih labilnya lapisan Atmosfir. Makhluk
Bersel Satu ini berkembang biak dengan cara membelah diri. Karena itu pada ayat
tersebut disebutkan untuk jenis wanita juga diciptakan berasal dari bagian yang
membelah diri dari makhluk tersebut. Setelah mengalami evolusi menjadi
makhluk yang lebih kompleks, baru kemudian perkembangbiakkannya dengan
cara perkawinan antara jenis laki-laki dan perempuan.
Kata saripati berasl dari bahasa arab yaitu sulalat yang berarti sesuatu
yang disarikan dari sesuatu yang lain. Kata tersebut muncul di bagian al-quran,
yang di dalamnya dinyatakan bahwa asal usul manusia adalah sesuatu yang
disarikan dari cairan mani (pada masa kini diketahui bahwa komponen aktif cairan
mani adalah organisme sel tunggal yang disebut 'spermatozoon' ). 'saripati
lempung' pasti merujuk pada berbagai komponen kimiawi yang menyusun
lempung yang disarikan dari air yang dalam hal bobotnya merupakan unsur
utama. Air yang di dalam Al-Quran dianggap sebagai asal-usul seluruh
kehidupan, disebutkan sebagai unsur penting dalam ayat berikut :
%!# ,={ $9# #0 `&#f $7 # %. 7/ #%
Dan dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan
manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah[1070] dan adalah
Tuhanmu Maha Kuasa. (Q.S. Al-Furqaan:54)

Sebagaimana di tempat lain dalam Al-Quran, 'manusia' yang dirujuk di
sini adalah Adam. Tak akan timbul keraguan bahwa di dalam kedua belas
perujukan di atas banyak ruang diberikan kepada perenungan simbolis tentang
asal-usul manusia, termasuk suatu isyarat yang jelas tentang apa yang akan terjadi
atasnya setelah kematiannya, dan mengandung penunjukan-penunjukan kepada
fakta bahwa manusia akan kembali ke bumi demi dimunculkan kembali pada Hari
Pengadilan. Meskipun demikian, di sana juga tampak adanya perujukan kepada
komposisi kimiawi tubuh manusia. Komposisi tersebut merupakan unsur unsur
tanah.
Kita tahu bahwa tanah liat bersifat menempel dan melekat bagai lem bisa
di bentuk seperti apa yang kita inginkan. Al-Qurtubiyy menguraikan bahwa pada
dasarnya tanah liat ini tanah yang melekat atau menempel diantara satu sama lain,
sehingga apabila menyatu tanah ini akan menjadi tanah yang keras. Al-Qurtubiyy
juga menerangkan di dalam tafsirnya bahwa manusia pertama yaitu yang
dikaitkan dengan Adam, Dikatakan kekal sebagai satu komponen yang berbentuk
tanah liat dan menempuh waktu selama 40 tahun sehinga sifat fisiknya berubah
menjadi kering dan keras.
Dalam artian ini jelas kelihatan tanah yang di bentuk sudah keras
sehingga bisa berdenting dan dapat menimbulkan suara yang bergemerincing ini
menunjukkan bahwa saat nya Adam menjadi manusia yang lengkap sudah tiba.
Dan ini dapat di katakan fase terakhir proses peciptaan adam sebagai manusia
pertama setelaah mengalami fase2 sebelumnya,disamping fase berikutnya adalah
peniupan ruh. Ini adalah fase terakhir proses penciptaan manusia pertama(Adam)
dari aspek spiritual, setelah aspek fisiknya telah lengkap hingga ke tahap menjadi
satu komponen wujud manusia. . Ruh mulanya masuk melalui hidung pada masa
40 th kemudian naik ke otak, kemudian mengisi kepala dan leher, kemudian turun
ke dada dan pusat, kedua tangan dan kaki sampai tersebar keseluruh tubuh
membentuk darah. Allah menciptakan manusia dengan sempurna yaitu
diberikannya bentuk tubuh yang baik, akal pikiran dan nafsu, kemudian manusia
itu sendiri yang menentukan mampu atau tidaknya menggunakan pemberian Allah
dengan baik (QS. Attin: 4-5). Ruh sebagai power untuk menghidupkan seluruh
anggota badan, Akal sebagai alat untuk menerima ilmu pengetahuan atau untuk
mengetahui hakikat sesuatu secara logis tanpa mempertimbangkan hal-hal yang
irasional, anggota tubuh seperti panca indra yang hanya dapat merealisasikan
secara indrawi tanpa mempertimbangkan pernghalangnya. Dari semua anggota
tubuh manusia hanya Hati yang dapat menerima sesuatu yang mutlak dari Allah
yang maha kuasa karena hati adalah sebagai bagian utama dari anggota tubuh,
semua aktivitas anggota tubuh.

2.2 Keramik.
Keramik berasal dari bahasa yunani keromos yang berarti periuk atau
belanga yang dibuat dari tanah (Astute, 1997 dalam Kurniasari, 2008), sedangkan
menurut Dirjen Industri Agro dan Kimia (2009), keramik adalah berbagai produk
industri kimia yang dihasilkan dari pengolahan tambang seperti lempung,
feldspar, pasir silica dan kaolin melalui tahap pembakaran dengan suhu tinggi.
Adapun sifat keramik adalah tidak korosif, ringan, keras dan stabil pada suhu
tinggi (Baraba, 1998 dalam Kurniasari, 2008)
Hadi (2005) membagi mineral lempung (aluminium Silika anhidrat) untuk
pembuatan keramik menjadi tiga kelompok, yaitu :
a. Kaolin untuk memproduksi keramik putih, misalkan cangkir, piring dan alat-
alat laboratorium. Kaolin disebut juga China Clay adalah tanah liat primer
yang berfungsi sebagai komponen utama dalam pembuatan campuran porselin
dan digunakan dalam keramik stoneware dan earthenware. Kaolin memiliki
plastisitas yang rendah (Anonymous, 2009).
b. Illil sebagai bahan dasar keramik untuk bangunan (batubata, genteng) (Hadi,
2005) dengan sifatnya memiliki plastisitas sedang.
c. Montmorilonit yang merupakan lempung dengan plastisitas tinggi. Bentonit
dengan mineral utama montmorilonit berupa senyawa alumino-silikat hidrous
memiliki sifat plastisitas yang tinggi dibandingkan kaolin. Menurut Aziz dkk
(2005), bentonit dapat menggantikan kaolin untuk memberikan sifat
plastisitas yang lebih baik.

2.3 Teori Plastisitas
Beberapa teori yang membahas plastisitas lempung adalah teori air kristal
atau kimiawi, teori kehalusan butir, teori lempengan atau teori lapis tipis, teori
kunci mengunci atau pegang memegang, teori koloid atau teori molekul (Prasetyo,
2007) :
a. Teori air kristal atau kimiawi
Air yang terikat secara kimiawi menyebabkan keplastisan lempung. Hal ini
berdasarkan kenyataan bahwa bila lempung dibakar yang berarti kehilangan air
kristal, menyebabkan hilangnya daya plastis.
b. Teori kehalusan butir
Keplastisan suatu lempung di tentukan oleh derajat kehalusan butir. Teori ini
didasarkan atas kenyataan bahwa bahan-bahan non plastis seperti kuarsa atau
feldspar dapat memperlihatkan daya keplastisan (sekalipun kecil), jika bahan
tersebut sebelumnya telah digiling halus.
c. Teori lempengan atau lapis tipis.
Pada pengujian suatu lempung dibawah mikroskop, mineral lempung terdiri
dari sejumlah lempengan-lempengan kecil. Lempengan- lempengan ini
dimisalkan sebagai dua lempengan kaca. Dalam keadaan basah menyebabkan
lempengan satu mudah meluncur atau bergeser dai lempengan yng lainya dan
hamper tidak mungkin lempengan- lempengan tersebut dapat dipisahkan satu
sama lain, keadaan inilah yang mendorong keplastisan.
d. Teori kunci mengunci teori koloid
Keplastisan suatu lempung disebabkan oleh susunan butir-butir yang tidak
teratur sehingga dapat saling mengunci atau pegang memegang satu sama lain.
Butir- butir yang saling mengunci tersebut dapat memberikan sifat kohesif
terhadap lempung selanjutnya menyebabkan keplastisan.


e. Teori koloid
Zat-zat koloid pada lempung yang sangat halus dan berbagi merata sebagai
agregat ini mempunyai kemampuan untuk menyerap air yang selanjutnya dapat
mengembang seperti bunga karang (sponge). lempung dapat dikatakan bahwa
bersifat plastis dikarenakan adanya butiran partikel koloid seperti bunga karang
itu dapat melicinkan butiran non plastis untuk menambah sifat mudah di
bentuk. Sifat koloid yang terjadi dalam lempung disebabkan adanya lapisan air
yag mengelilingi butiran silica dan alumina. Jika terdapat lempung yang plastis
ditambahkan air, maka lempung tersebut akan mengembang dan jika airnya
dihilangkan lagi atau dengan kata lain lempung menjadi kering maka lempung
akan menyusut lagi, sehingga lempung menunjukkan daya adsorpsi yang kuat
terhadap air. Hasil adsorpsi ini menimbulkan plastis yang permanen, tetapi
lempung ini kemudian akan pecah jika lempung dipanaskan di atas suhu
tertentu.
f. Teori tarikan molekul
Partikel- partikel lempung memiliki muatan listrik. Jika muatan partikel
partikel di dalam lempung berbeda, maka partikel-partikel akan tarik menarik
secara kuat satu sama lain dan akan saling pegang memegang seperti halnya
serbuk besi yang tertarik oleh suatu magnet, sedangkan jika muatan-muatan
dari dua partike tersebut sama, mereka akan tolak-menolak satu sama lain. Air
dapat tertarik secara kuat pada partikel-partikel lempung sedemikian kuatnya
sehingga dapat membentuk suatu mantel air dikelilingi partikel-partikel
lempung yang dapat menjadikan sistem ini pejal dan kental. Dengan adanya
bentuk mantel- mantel itu memungkinkan partikel- partikel jika diberikan suatu
gaya akan mudah bergeser satu sama lainya tanpa ikatannya pecah, sekalipun
gaya tersebut telah hilang.

2.3.1. Plastisitas Lempung
Tanah berbutir halus yang mengandung mineral lempung atau bahan
organik dapat berubah bentuk menyesuaikan dengan kadar air tanpa mengalami
retak- retak. Kondisi ini dikenal dengan plastisitas, yaitu kemampuan tanah dalam
menyesuaikan perubahan bentuk atau volume tanpa terjadi retak-retak yang
disebabkan oleh penyerapan air di sekeliling permukaan partikel lempung. Pada
kadar air yang sangat rendah, tanah menjadi padat, sedangkan pada kadar air yang
sangat tinggi, tanah dan air mengalir seperti cairan. Oleh karena itu, berdasarkan
kadar air yang dikandung, perilaku tanah dibagi dalam 4 keadaan yaitu padat,
agak padat, plastis, dan cair.

Gambar 2.8.Variasi volume dan kadar air pada kedudukan batas cair, batas plastis
dan batas susut (Muntohar, 2007)



Muntohar (2007) mengemukakan, bila pada tanah yang berada pada
kondisi cair (titik p) kemudian kadar airnya berkurang hingga titik Q, maka tanah
menjadi lebih kaku dan tidak lagi mengalir seperti cairan. Kadar air pada titik Q
ini disebut dengan batas cair (liquid limit) yang disimbulkan dengan LL. Bila
tanah menjadi kering hinga titik R, tanah yg terbentuk mulai mengalami retak-
retak dan kadar air pada batas ini disebut dengan batas plastis (plastis limit) atau
PL. Rentang kadar air dimana tanah berada dalam kondisi plastis, antara titik Q
dan R disebut dengan indeks plastisitas (Plasticity index) atau PI.
Jika kadar air tanah terus menerus berkurang hingga ke titik S, tanah
menjadi kering dan berada dalam kondisi padat. Berkurangnya kadar air tidak
menyebabkan terjadinya perubahan volume. Kadar air ketika tanah berubah dari
kondisi agak padat menjadi padat dinamakan dengan batas susut (shrinkage limit),
SL. Batas susut ini merupakan salah satu parameter yang dapat digunakan untuk
mengetahui kemampuan kembang susut tanah. Batas kadar air yang
mengakibatkan perubahan kondisi dan bentuk tanah dikenal pula sebagai batas
batas konsistensi atau batas-batas Atterberg (Muntohar, 2007).
Kebanyakan tanah di alam berbeda dalam kondisi plastis. Kadar air yang
terkandung dalam tanah berbeda- beda pada setiap kondisi tersebut, bergantung
pada interaksi antara partikel mineral lempung. Bila kandungan air berkurang
maka kekebalan lapisan kation akan berkurang pula yang mengakibatkan
bertambahnya gaya-gaya tarik antara partikel-partikel. Untuk suatu tanah yang
berada dalam kondisi plastis, besarnya gaya- gaya antar partikel harus sedemikian
rupa sehingga partikel- partikel tidak mengalami pergeseran satu dengan lainya
yang tahan oleh kohesi dari masing- masing partikel. Perubahan kadar air
disamping menyebabkan perubahan volume tanah juga mempengaruhi kekuatan
tanah yang berbeda- beda pada setiap kondisi tanahnya. Pada kondisi cair, tanah
memiliki kekuatan yang sangat rendah dan terjadi deformasi yang sangat besar.
Sebaliknya, kekuatan tanah menjadi besar dan mengalami deformasi yang sangat
kecil dalam kondisi padat (Muntohar, 2007).
Sementara itu, Atterberg (1973) dalam Wahyudi, dkk (1998) membuat
suatu diagram hubungan antara plasticity index dengan plastic limit untuk
mengidentifikasi kesesuaian lempung sebagai bahan baku untuk batu bara dan
Keramik. Index plastisitas lempung yang memenuhi kriteria sebagai bahan
pembuatan keramik berada pada rentang 20-30 dengan batas plastis 15-25.

Gambar 2.9 Diagram hubungan antara plasticity index dengan plastic limit untuk
mengidentifikasikan kesesuaian lempung sebagai bahan baku batu
bara dan Keramik (Atterberg, 1973 dalam Wahyudi dkk, 1998)








2.3.2. Metode Penentuan Plastisitas.
Beberapa metode dalam penentuan besarnya plastisitas tanah secara
kualitatif adalah metode cincin plastis, metode atterberg dan metode cone
penetrometer.

2.3.2.1 Metode Cincin Plastis.
Metode ini dilakukan dengan menambahkan sejumlah air kedalam
lempung, kemudian membuat silinder atau cincin berdiameter kurang lebih 15
mm. Jika tidak terjadi retak-retak maka lempung tersebut non plastis (Paristiowati,
2000 dalam Prasetyo, 2004).

2.3.2.2 Metode Atterberg atau Casagrande.
a. Batas Plastis/ Plastic Limit (PL)
Batas Plastis adalah kadar air minimum dimana suatu tanah masih dalam
keadaan plastis. Cara pengujian batas plastis ini sangat sederhana, yaitu dengan
cara menggulung tanah diatas pelat kaca sampai berdiameter 1/8 inci (3,2 mm)
Jika menjadi retak artinya tanah mengalami retak ketika diameter gulungan sekitar
3 mm. Hasil dari percobaan ini digabung dengan hasil pemeriksaan batas cair
untuk
menghitung Indeks Plastisitasnya (PI). PI merupakan selisih antara batas cair dan
batas plastis suatu tanah
Batas plastis merupakan kadar air dimana suatu tanah berubah sifatnya
dari keadaan plastis menjadi semi padat. Besaran batas plastis biasanya digunakan
untuk menentukan jenis, sifat dan klasifikasi tanah.
Batas plastis dihitung berdasarkan persentasi berat air terhadap berat tanah
kering pada benda uji. Pada cara uji ini material tanah diambil untuk dijadikan
benda uji kemudian dicampur dengan air suling atau air mineral hingga menjadi
cukup plastis untuk digeleng / dibentuk bulat panjang hingga berbentuk seperti
cacing dengan diameter 3 mm. metode pengelengan dapat dilakukan dengan
anggota tubuh kita yaitu tangan untuk mengeleng diatas permukaan yang datar
(kaca, keramik, dsb) adapun benda uji yang retak ketika mencapai diameter 3 mm
diambil untuk diukur kadar airnya . kadar air yang dihasilkan dari 8 pengujian
tersebut merupakan batas plastis tanah tersebut.
b. Batas Cair / Liquid Limit (LL)
Batas cair adalah kadar air tanah pada batas antara keadaan cair dan
keadaan plastis. Contoh tanah dikeringkan di bawah terik matahari, kemudian
diremah dengan martil karet agar tidak merusak partikel tanahnya sendiri. Tanah
yang dipakai pada percobaan ini adalah yang lolos saringan no.40. Tanah tersebut
kemudian diaduk dengan air hingga membentuk adonan atau pasta. Lalu
diletakkan di dalam alat ujinya.
Alat uji batas cair yang dipakai pada percobaan ini dikenal dengan nama
Casagrande yang merupakan sebuah mangkuk kuningan yang mempunyai engsel
disalah satu tepinya sehingga dapat bergerak naik turun. Posisi awal mangkuk
tertumpu pada dasar karet yang keras. Mangkuk dapat bergerak naik turun dengan
pengungkit eksentris (Cam) yang dijalankan oleh suatu alat pemutar. Naik
turunnya mangkuk ini diatas dasar karet tersebut menimbulkan ketukan. Jumlah
ketukan ini yang akan menjadi standar hitungan, dimana uji batas cair ini
dikerjakan pada tanah yang sama dengan jumlah ketukan berbeda. Kadar air yang
diperoleh dan banyaknya ketukan diplot ke grafik semilog. Sebaran titik-titiknya
dihubungkan dengan garis regresi linear. Nilai kadar air yang ditunjukkan pada
ketukan 25 adalah batas cair tanah yang diuji.
Batas cair tanah adalah kadar air minimum dimana sifat suatu tanah
berubah dari kedaan cair manjadi plastis. Berdasarkan batas cair yang digunakan
untuk menentukan sifat dan plastisitas tanah.
1. Kadar air ketika sifat tanah pada batas dari kadar cair menjadi plastis
2. batas plastis tanah yaitu batas terendah kadar air ketika tanah masih dalam
keadaan platis.
3. Jumlah pukulan (m) yaitu perbandinagn antara berat air dalkam tanah
terhadap berat burtiran tanah yang dinyatakan dalam persen.
4. Konsistensi tanah yaitu kadar relative tanah ketika tanah masih mudah untuk
dibentuk. kegunaan batas cair ini dapat diterapkan atau diaplikasikan terhadap
konsistensi prilaku material dan sifatnya pada tanah yang bersifat kohesif,
konsistensi tanah tergantung dari nilai batas cairnya.
c. Indeks Plastisitas (IP)
Tanah plastisitas indeks yang disingkat dengan PI adalah selisih antara
batas cair dengan batas plastis tanah. Pengukuran plastisitas menggunakan alat
yang dinamakan atterberg ini digunakan untuk menentukan kadar air yang ada
dalam tanah pada saat tanah mengalami perubahan dari kondisi fisik yang satu ke
yang lainya. Nilai plastisitas tanah menurut metode ini didasarkan pada besarnya
indeks plastisitas yang nilainya sangat tergantung pada kadar air pada batas cair
sesuai persamaan (2.1) (Abdulloh, 2004).
PI = LL LP..(2.1)
Dimana :
PI (Plasticity Index) : Indek Plastisitas.
LL (Liquid Limit) : Batas Cair.
PL (Plastic Limit) : Batas Plastis.
Pengklasifikasian tingkat plastisitas menurut Burmater (1949) dalam
Prasetyo (2004) berdasarkan indeks plastisitas terlihat pada table 2.3

Tabel 2.3 Deskripsi Indeks Plastisitas.
Indeks Plastisitas Deskripsi
0 Non-plastis
1-5 Agak plastis
5-10 Rendah
10-20 Sedang
20-40 Tinggi
>40 Sangat Tinggi
Sumber : Burmaster (1949) dalam Prasetyo (2000).



Gambar 2.10 Alat Atterberg




2.3.2.3 Metode Cone Penetrometer.
Dalam metode cone penetrometer atau fall cone, kerucut dengan
kemiringan sudut 30
o
dan total massa 80 g dijatuhkan secara bebas, kerucut pada
awalnya menyentuh permukaan tanah dalam cawan, hingga menembus tanah
dalam selang waktu 5 detik. Kadar air contoh tanah yang menunjukkan
pembacaan kedalaman kerucut yang masuk ke tanah sebesar 20 mm didefinisikan
sebagai batas cair (Muntohar, 2007).

2.3.3. Faktor- Faktor yang Memperngaruhi Plastisitas.
Plastisitas dipengaruhi beberapa faktor, yaitu (Abdulloh, 2004):
a. Pengaruh air dan gejala koloid yang menyertai.
Plastisitas lempung maksimum terbentuk pada kadar air yang spesifik, yaitu
pada saat ketebalan lapisan air yang menyelimuti setiap partikel lempung
2000 .

b. Pengaruh ukuran butir dan luas permukaan.
Semakin kecil ukuran partikel, plasisitasnya akan semakin bertambah.
c. Pengaruh komposisi partikel.
Curie menemukan bahwa mineral yang berbeda menunjukkan sifat yang
berbeda. Hal ini memberikan kemungkinan bahwa jika suatu zat ditambah
dengan zat lainnya akan mempengaruhi plastisitasnya.
d. Pengaruh agregasi.
Pengaruh agregasi ini berpengaruh pada plastisitas yang menurut Schureht
dalam Abdulloh (2004) :
i. Agregat butiran lempung yang susunanya longgar lebih plastis daripada
butiran lempung yang tertutup kompak dan padat.
ii. Agregat berbutir halus lebih plastis dari pada butiran kasar.
iii. Agregat terfokulasi lebih plastis dari pada agregat yang terdeflokulasi.
iv. Agregat yang terfokulasi lebih plastis dari pada yang terikat.
e. Pengaruh elektrolit dan frokulan
Penambahan natrium karbonat dan natrium silikat ke dalam beberapa jenis
lempung asam dapat menyebabkan seluruh massa lempung menjadi padat. Hal
ini berarti bahwa air yang terikat pada permukaan lempung dipengaruhi oleh
kation- kation terasosiasi.

2.4 XRD (X-Ray Diffraction)
Salah satu metode penentuan mineral lempung secara kualitatif dan
kuantitatif berdasarkan sifat fisik adalah dengan sinar X (Sastiono, 1997 dan
Sjarif, 1991 dalam Sirappa dan Sastiono, 2002). Sinar X adalah gelombang
elektromagnetik dengan panjang gelombang 0,5- 2,0 mikron yang dihasilkan dari
penembakan logam dengan elektron berenergi tinggi. Elektron itu mengalami
perlambatan saat masuk ke dalam logam dan menyebabkan elektron pada kulit
atom logam tersebut terpental membentuk kekosongan. Elektron dengan energi
yang lebih tinggi masuk ke tempat kosong dengan memancarkan kelebihan
energinya sebagai foton sinar X (Aji dkk, 2009).


Gambar 2.11 Rangkaian sinar x pada instrument X-Ray Difraction (aji dkk, 2009)



Spektroskopi XRD digunakan untuk mengidentifitasi fasa kristalin dalam
material dengan cara menentukan parameter struktur kisi serta untuk mendapatkan
ukuran partikel. Dasar dari penggunaan XRD untuk mempelajari kisi kristal
adalah berdasarkan persamaan bragg (Aji dkk, 2009).
n. = 2.d.sin .(2.2)
dengan :
: Panjang gelombang sinar X yang digunakan.
: Sudut antara sinar datang dengan bidang normal
d : Jarak antara dua bidang kisi.
n : Bilangan bulat yang disebut sebagai orde pembiasan.

Pembangkit sinar-X menghasilkkan radiasi elektromagnetik, yang setelah
dikendalikan oleh celah penyimpangan selanjutnya jatuh pada kristal cuplikan
(Ginting dkk, 2005). Bidang kristal itu akan membiaskan sinar-X yang memiliki
panjang gelombang sama dengan jarak antara kisi dalam kristal tersebut (Aji dkk,
2009). Sinar-X yang di biaskan oleh cuplikan dipusatkan pada celah penerima dan
jatuh pada detector yang sekaligus mengubahnya menjadi bentuk cahaya tampak
(foton) (Ginting dkk, 2005), Kemudian diterjemahkan sebagai sebuah puncak
difraksi. Makin banyak bidang kristal yang terdapat dalam sampel, makin kuat
intensitas pembiasan yang dihasilkanya. Tiap puncak yang muncul pada pola
XRD mewakili satu bidang kristal yang memiliki orientasi tertentu dalam sumbu
tiga dimensi (Aji dkk, 2009) dan grafik puncak difraksi yang didapat kemudian
dianalisis, terdiri atas mineral liat apa saja dan komposisi utamanya (Badan
Litbang Pertanian, 2005).
Puncak- puncak yang didapatkan dari data pengukuran ini kemudian
dicocokkan dengan standar XRD untuk hampir semua jenis material. Standar ini
disebut JCPDS (Joint Committee on Powder Diffraction Standards). Keuntungan
utama pengunaan sinar X dalam karakterisasi material adalah kemampuan
penetrasinya, sebab sinar-X memiliki energi sangat tinggi akibat panjang
gelombang yang pendek. (Aji dkk,2009).
Beberapa informasi yang dapat diperoleh dari XRD adalah sebagai berikut
(Ginting dkk, 2005) :
a. Posisi puncak difraksi memberikan gambaran tentang parameter kisi (a), jarak
antar bidang (d
hkI
), struktur kristal dan orientasi dari sel satuan.
b. Intensitas relative puncak difraksi memberikan gambaran tentang posisi atom
dalam satuan.
c. Bentuk puncak difraksi memberikan gambaran tentang ukuran kristalis dan
ketidak sempurnaan kisi.

2.5 XRF (X-Ray Fluorescence)
Spektroskopi XRF adalah teknik analisis unsure yang membentuk suatu
material dengan dasar interaksi sinar-X dengan material analit. Teknik ini banyak
digunakan dalam analisis batuan karena membutuhkan jumlah sampel yang
relative kecil (sekitar 1 gram). Teknik ini dapat digunakan untuk mengukur unsur-
unsur yang terutama banyak terdapat dalam batuan atau mineral. Sampel yang
digunakan biasanya berupa serbuk hasil penggilingan atau pengepressan manjadi
film.
Prinsip dasar dari analisis ini adalah apabila electron dari suatu kulit atom
bagian dalam dilepaskan maka electron yang terdapay pada bagian luar akan
berpindah pada kulit yang ditinggalkan tadi menghasilkan sinar-X dengan panjang
gelombang yang karakteristik bagi unsur tersebut. Pada teknik difraksi sinar-X
suatu berkas electron digunakan, sinar-X dihasilkan dari tembakan berkas electron
terhadap suatu unsure di anoda untuk menghasilkan sinar-X dengan panjang
gelombang yang diketahui. Peristiwa ini terjadi pada tabung sinar-X.
Pada teknik XRF, kita menggunakan sinar-X dari tabung pembangkit sinar
X dari tabung pembangkit sinar X untuk mengeluarkan electron dari kulit bagian
dalam untuk menghasilkan sinar-X baru dari sampel yang dianalisis.
Seperti pada tabung pembangkit sinar-X, electron dari kulit bagian dalam
suatu atom pada sampel analit menghasilkan sinar-X dengan panjang gelombang
karakteristik dari setiap atom didalam sampel. Untuk setiap atom didalam sampel,
interaksi dari sinar X karakteristik tersebut sebanding dengan jumlah (konsentrasi)
atom didalam sampel. Dengan demikian, jika kita dapat mengukur intensitas
sinar-X karakteristiknya dengan suatu standar yang diketahui konsentrasinya,
sehigga konsentrasi unsure dalam sampel bias ditentukan.
Instrumen yang digunakan untuk melakukan pengukuran tersebut
dinamakan X-Ray Flouroscence Spektrometer. X- Ray Fluorescent Spectroscocy
(XRF) mempunyai banyak keuntungannya yaitu analisis tidak merusak, cepat,
multi elemen dan murah. Penggunaan sinar x untuk mengalirkan radiasi
flourocent dari sample pertama kali diusulkan oleh Glocker dan Schreiber pada
tahun 1928. Metode ini telah banyak digunakan dalam teknik analitis non
destruktif dan sebagai alat control dalam industri pengolahan. Peralatan ini terdiri
dari tabung pembangkit sinar-X yang mampu mengeluarkan electron dari semua
jenis unsure yang telah diteliti. Sinar-X ini yang dihasilkan harus berenergi sangat
tinggi, sehingga anoda target dalam tabung pembangkit harus berupa unsure Cr,
Mo, W atau Au.
Sinar-X yang dihasilkan ini, kemudian dilewatkan melalui suatu kalimator
untuk menghasilkan berkas sinar yang koheren. Berkas sinar ini kemudian
didifraksikan oleh kisi Kristal yang sudah diketahui nilai d-nya. Dengan
persamaan bragg
(n=2dsin)..(2.3)
kita dapat menentukan sudut dari sinar-X yang telah diketahui panjang
gelombangnya. Kemudian Kristal dan detector diatur untuk mendifraksikan hanya
panjang gelombang tertentu.
Intensitas sinar-X karakteristik untuk setiap unsure yang sedang diselidiki
ditentukan dengan cara merotasikan Kristal dan detector pada sudut yang
dibutuhkan untuk mendifraksi panjang gelombang karakteristik tersebut.
Intensitas sinar-X kemudian diukur untuk setiap unsure dan setiap unsure pada
standar yang telah diketahui konsentrasinya. Persamaan berikut digunakan untuk
menentukan konsentrasi unsure dalam analit.
Ci
std
=kI
i
std
Ci
an
=kI
i
an
Dimana :
Ci
std
= konsentrasi suatu unsure dalam standar
I
i
std
= Intensitas sinar-X unsure I dalam standar
Ci
an
= konsentrasi suatu unsure dalam analit
I
i
an
= Intensitas sinar-X unsure I dalam analit
K = konstanta kesebandingan


Gambar 2.12 Mesin X ray flourescence tipe PW1606 Philips
(anonymouse, 2010)



Detektor yang digunakan adalah Si (Li) yang merupakan detektor
semikonduktor untuk jenis radiasi sinar X dan bekerja optimum pada suhu 196
o
C.
Detektor ini lebih effesien dibandingkan dengan detektor isian gas, karena terbuat
dari zat padat serta mempunyai resolusi yang lebih baik dari pada detektor
scintilasi ( Sumantry, 2010).
Menurut Sumantry (2010) ada beberapa komponen penting dalam
instrument XRF, yaitu:
a. Catu daya tegangan tinggi (HV) dimana rangkaian ini berfungsi untuk
mencatu tegangan detektor, tetapi untuk detektor Si (Li) hanya dengan
tegangan minus () 450 volt.
b. Preamplifier (penguat awal) diletakkan dekat bahan ada yang ditempelkan
langsung ke detektor agar menangkap sinyal secepatnya sebelum sinyal itu
terpengaruh oleh faktor lingkungan. Untuk spektroskopi sinar x ini dibutuhkan
resolusi yang sangat tinggi, sehingga dipergunakan jenis penguat awal optical
reset feedback.
c. Amplifier (penguat) mempunyai fungsi utama rangkaian penguat ini adalah
membentuk pulsa (pulsa shaping) yang meliputi fasilitas : pole zero
cancellation dan pengatur lebar pulsa (gain control, shaping time dan fasilitas
base line restorer).
d. ADC (Analog to digital converter) merupakan rangkaian kunci dari sistim ini
karena rangkaian inilah yang berfungsi untuk mengukur tinggi pulsa yang
memasukunya, berarti energi dari sinar x yang masuk.
e. MCA merupakan rangkaian yang berfungsi untuk menyimpan dan menampil-
kan hasil pengukuran ADC. Osloscop merupakan rangkaian elektronik yang
berfungsi menggambarkan pulsa yang tebentuk.
f. Detektor Si(Li) adalah detektor semi konduktor yang mempunyai resolusi
yang baik dan juga mengacu pada sertifikat yang dikeluarkan oleh Canberra
untuk detektor Si(Li) model SL80190 menggunakan sumber Fe-55 dengan
energi 5.9 keV. Resolusinya (FWHM ) 190 eV pada peak 5.9 keV.Setelah
dikalibrasi Instrumen XRF ini telah siap untuk menganalisis unsur yang
mungkin terdapat dalam batuan lempung/ clay yang mempunyai energi dari
4.5 KeV sampai dengan unsur yang mempunyai energi 17.5 keV, sedangkan
untuk energi yang lebih rendah dari 4.5 keV dapat dikalibrasi lagi dengan
unsur lain agar dapat menjangkau energi yang lebih rendah seperti unsur
Magnesium (Mg) yang mempunyai energi K1 = 1.254 keV dengan sumber
eksitasi Radio isotop Fe-55.
Batuan lempung umumnya mempunyai tiga mineral utama, yakni
monthmorillonite/ Al
2
O
3
4SiO
2
H
2
O, illite/ H
2
KAl
3
O
12
, dan kaolinite/ [Al
2
(OH)
4

(Si
2
O
3
)]
2
. Dengan menggunakan sumber eksitasi radioisotop Amerisium -241
unsur yang dapat dianalisis meliputi Z= 22 (Ti), Z=23 (V), Z=24 (Cr), Z=25 (Mn),
Z=26 (Fe), Z=27 (Co), Z=28 (Ni), Z=29 (Cu), Z=30 (Zn), Z= 33 (As), Z=38 (Sr),
Z=42 (Mo), Z=79 (Au), Z=80 (Hg), Z=82 (Pb). Dan menurut keterangan CT Yap
(7) dengan menggunakan sumber eksitasi radioisotop Fe-55, unsur yang dapat
dianalisis meliputi unsur dari Magnesium (Z= 12) sampai unsur kromium (Z =
24), yaitu termasuk unsur Z= 12 (Mg), Z= 13 (Al), Z= 14 (Si), Z= 20 (Ca)
( Sumantry, 2010).
Dasar analisis alat X-Ray Fluorescent ini adalah pencacahan sinar x yang
dipancarkan oleh suatu unsur akibat pengisian kembali kekosongan elektron pada
orbital yang lebih dekat dengan inti (karena terjadinya eksitasi elektron) oleh
elektron yang terletak pada orbital yang lebih luar. Ketika sinar x yang berasal
dari radioisotop sumber eksitasi menabrak elektron dan akan mengeluarkan
elektron kulit dalam, maka akan terjadi kekosongan pada kulit itu. Elektron dari
kulit yang lebih tinggi akan mengisi kekosongan itu. Perbedaan energi dari dua
kulit itu akan tampil sebagai sinar X yang dipancarkan oleh atom. Spektrum sinar
x selama proses tersebut menunjukan peak/puncak yang karakteristik.dimana
setiap unsur akan menunjukkan peak yang karakteristik yang merupakan landasan
dari uji kualitatif untuk unsur-unsur yang ada dalam contoh lempung/ clay. Sinar
x karakteristik diberi tanda sebagai K, L, M atau N untuk menunjukkan dari kulit
mana dia berasal. Penunjukan lain adalah apha (a) dan beta (b) atau gamma (g)
dibuat untuk memberi tanda sinar x itu berasal dari transisi elektron dari kulit
yang lebih tinggi. Oleh karena itu K alpha adalah sinar x yang dihasilkan dari
transisi elektron kulit L ke kulit K, dan K beta adalah sinar x yang dihasilkan dari
transisi elektron dari kulit M ke kulit K. Jadi setiap unsur mempunyai Kalpha atau
K beta yang karakteristik sebagai dasar uji kualitatif unsur yang ada pada lempung
itu(Anonymous, 2010).

Tabel 2.4 Energi Sinar X Karakteristik garis K pada unsur-unsur yang
umumnya terdapat pada lempung/ clay
No Unsur Nomor atom (Z) K K
1 Mg 12 1,253 -
2 Al 13 1,487 1,556
3 Si 14 1,740 1,836
4 Ca 20 3,691 4,013
5 Ti 22 4,509 4,932
6 Fe 26 6,399 7,059
Sumber : Sumantry (2010)



Pada uji kualitatif setiap unsur biasanya akan muncul dua peak untuk
meyakinkan keberadaan unsur itu dalam sampel clay seperti K 1 = 6.399 keV
dan K1 = 7.059 keV adalah energi karakteristik sinar X untuk unsur Fe
begitupun dengan yang lainya, kecuali untuk unsur magnesium yang dapat terlihat
hanya energi karakteristik sinar K 1 nya saja. Untuk uji kuantitatif, dibuat
standard unsur yang ada dalam lempung yang diketahui kadarnya dan dibuat agar
mempunyai maktrik yang sama dengan sampel lempung yang dianalisis. Contoh :
untuk unsur Fe yang disetarakan /dihitung sebagai Fe
2
O
3
dalam clay ini peak area
yang dihasilkan dibandingkan dengan peak area standar Fe
2
O
3
dan dikalikan
dengan kadarnya sehingga akan diperoleh kadar Fe
2
O
3
dalam sampel Lempung/ i
( Sumantry, 2010).

2.6 SEM (Scanning Elektron Microscop)
Scanning Elektron Microscop atau SEM adalah sebuah mikroskop yang
mampu melakukan pembesaran objek sampai 2 juta kali, yang menggunakan
elektro statik dan elektro magnetik untuk mengontrol pencahayaan dan tampilan
gambar serta memiliki kemampuan pembesaran objek serta resolusi yang jauh
lebih bagus daripada mikroskop cahaya. Mikroskop elektron ini menggunakan
jauh lebih banyak energi dan radiasi elektro magnetik yang lebih pendek
dibandingkan mikroskop cahaya. Prinsip dasar dari Elektron microscopy ini yaitu
memfokuskan sinar elektron (Elektron Beam) di permukaan obyek dan
mengambil gambarnya dengan mendeteksi elektron yang muncul dari permukaan
obyek (Anonymous, 2010).
Prosedur kerja analisis SEM yaitu pertama-tama dilakukan suatu upaya
untuk menghilangkan penumpukan elektron (charging) di permukaan obyek,
dengan membuat suasana dalam ruang sampel tidak vakum tetapi diisi dengan
sedikit gas yang akan mengantarkan muatan positif ke permukaan obyek,
sehingga penumpukan elektron dapat dihindari. Pengkodisian menimbulkan
masalah karena kolom tempat elektron dipercepat dan ruang filamen elektron
yang dihasilkan memerlukan tingkat vakum yang tinggi (Anonymous, 2010).
Permasalahan ini dapat diselesaikan dengan memisahkan sistem pompa
vakum ruang obyek dan ruang kolom serta filamen, dengan menggunakan sistem
pompa untuk masing-masing ruang. Kemudian dipasang satu atau lebih piringan
logam platina yang biasa disebut (aperture) berlubang dengan diameter antara 200
hingga 500 mikrometer yang digunakan hanya untuk melewatkan elektron,
sementara tingkat kevakuman yang berbeda dari tiap ruangan tetap terjaga
(Anonymous, 2010).


BAB III
METODOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei- Juni 2010 di Laboratorium
Mekanika Tanah Fakultas Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang (POLINEMA),
Central Labolatorium Universitas Negeri Malang (UM) dan Laboratorium Fisika
Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

3.2. Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat yang digunakan meliputi XRD, XRF dan SEM, neraca digital, beaker
glass, ayakan ukuran 40 dan 60 mesh, mortal, desikator, oven, cawan, spatula,
seperangkat alat pembuat pellet, alat atterberg, plat kaca, batang pembanding (d=3
mm, p=10 cm).
3.2.3 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah lempung dan aquadest.

3.3. Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam empat tahap . yaitu :
a. Benefisiasi lempung untuk memperoleh fasa lempung dari tanah.

48
b. Preparasi sampel dengan membuat ukuran partikel lempung sebesar 40- 60
mesh.
c. Penentuan index plastisitas dengan metode atterberg yang memenuhi kriteria
pembuatan keramik (yakni berada pada rentang indeks plastisitas 20-30 dan
batas plastisitas 15-25).
d. Karakterisasi komposisi kimia pada lempung dengan indeks plastisitas
terbesar dengan XRD, XRF dan SEM.

3.3.1. Benefisiasi (Abdulloh, 2004)
Lempung alam terlebih dahulu dikeringkan pada suhu kamar, kemudian di
tumbuk dan dilarutkan dengan akuades, campuran diaduk sampai semua lempung
larut, selanjutnya dibiarkan beberapa hari sampai terjadi pemisahan. Bagian paling
atas adalah senyawa organik dan garam- garam terlarut, sedangkan pada bagian
paling bawah adalah kerikil dan pasir yang merupakan tailing lempung
dipisahkan. Adapun lempung berada diantara keduanya. Untuk memastikan
semua garam terlarut, pengotor organik, kerikil dan pasirnya telah terpisah dengan
sempurna, langkah tersebut dilakukan dua kali. Lempung hasil benefisiasi
kemudian dikeringkan dibawah sinar matahari.

3.3.2. Preparasi Sampel
Fraksi lempung yang sudah dikeringkan ditumbuk sampai menjadi serbuk,
kemudian diayak dengan ayakan 40 mesh. Lempung yang lolos diayak kembali
dengan ayakan 60 mesh. Kemudian diambil lempung yang tertahan sebagai
sampel.

3.3.3. Penentuan Indeks Plastisitas dengan Metode Atterberg.
Plastisitas ditentukan berdasarkan indeks plastisitas (plasticity index) yang
besarnya sama dengan selisih antara kadar air pada batas cair (liquid limit) dengan
kadar air pada batas platis (plastic limits).

3.3.3.1 Penentuan Batas Cair.
a. Sebagai blangko, lempung kering ukuran 40- 60 mesh sebanyak 40 gr
ditambahkan aquades hingga membentuk pasta.
b. Lempung diaduk hingga homogen supaya kadar air dalam pasta memiliki
kadar air homogen.
c. Pasta lempung diambil sebagian dan dimasukkan dalam mangkok ( 8 mm
tegak lurus dari dasar mankuk) pada alat atterberg hingga merata.
d. Pasta lempung pada mangkok dibelah menjadi dua bagian dengan alat
pengalur (grooving tool).
e. Engkol diputar (dengan Kecepatan 1 pukulan/ menit) sampai kedua bagian
lempung menyatu ( sebanyak 12,7 mm) jumlah pukulan dicatat.
f. Diambil contoh tersebut sebagian untuk ditentukan kadar airnya, dengan
langkah seperti sub- bab 3.3.3.3.
g. Batas cari terjadi pada pasta lempung yang memiliki kadar air dengan jumlah
pukulan sama dengan 25, namun karena hal ini sulit dilakukan maka di
tentukan melalui hubungan linear antara jumlah pukulan terhadap kadar air
pada kertas semi-logaritma. Untuk mendapatkan hasil akurat, percobaan
dilakukan minimal 3 kali dengan kadar air pada pukulan 20-30.
h. Langkah a-g diterapkan untuk kedua jenis lempung dari Daerah Pagedangan
Kec. Turen kab. Malang dan Daerah Getaan Kec. Pagelaran kab. Malang
i. Hubungan antara kadar air dan jumlah pukulan ini selanjutnya digambarkan
dengan grafik semi logaritma.
j. Dari pasangan data tersebut ditarik suatu hubungan linear yang terbaik (best fit
straight line) yang disebut dengan flow curve. Kadar air pada jumlah pukulan
25 yang dihasilkan dari flow curve ini selanjutnya diterapkan sebagai batas
cair tanah.

3.3.3.2 Penentuan Batas Plastisitas.
a. Pasta lempung diambil 8 gr dan digulung perlahan dengan telapak tangan di
atas plat kaca membentuk silinder (d= 3 mm) hingga timbul retak. Proses ini
dilakukan minimal 3 buah untuk mendapatkan rerata yang lebih akurat.
b. Jika belum mencapai diameter 3 mm sudah retak maka harus diulang dengan
menambahkan air. Jika sudah mencapai diameter 3 mm belum retak maka
diaduk-aduk dengan cawan hingga airnya berkurang.
c. Ditentukan kadar airnya sesuai sub-bab 3.3.3.3 sebagai batas plastis.
d. Langkah a-c diterapkan untuk kedua jenis lempung dari Daerah Pagedangan
Kec. Turen Kab. Malang dan Daerah Getaan Kec. Pagelaran kab. Malang

3.3.3.3 Penentuan Kadar Air.
a. Cawan yang telah
tutupnya.
b. Sampel yang telah ditentukan kadar
c. Cawan beserta isinya ditutup kemudian ditimbang.
d. Cawan beserta isinya tanpa tutup dikeringkan dalam oven sampai berat
konstan.
e. Cawan dan isinya ditutup lalu didinginkan dalam desikator hingga berat
konstan.
f. Setelah dingin ditimbang dan beratnya dicatat
dimana : w1 = berat cawan dan tutup + sampel basah (g).
w2 = berat cawan dan tutup + sampel kering (g).
w3 = Berat cawan kosong dan tutup (g)

3.3.3.4 Penentuan Indeks Plastisitas.
Indeks plastisitas sama dengan nilai kadar air pada batas cair dikurangi
kadar air pada batas plastis :
PI = LL- PL(

3.3.4. Karakterisasi dengan XRD
Karakterisasi dengan XRD dilakukan terhadap sampel lempung yang
memiliki indeks plastisitas te
Kadar Air.
Cawan yang telah dibersihkan dan dikeringkan lalu ditimbang, begitu pula
Sampel yang telah ditentukan kadar airnya ditempatkan dalam cawan.
Cawan beserta isinya ditutup kemudian ditimbang.
Cawan beserta isinya tanpa tutup dikeringkan dalam oven sampai berat
Cawan dan isinya ditutup lalu didinginkan dalam desikator hingga berat
itimbang dan beratnya dicatat
.(3.1)
w1 = berat cawan dan tutup + sampel basah (g).
w2 = berat cawan dan tutup + sampel kering (g).
w3 = Berat cawan kosong dan tutup (g)
Indeks Plastisitas.
plastisitas sama dengan nilai kadar air pada batas cair dikurangi
kadar air pada batas plastis :
(
Karakterisasi dengan XRD
Karakterisasi dengan XRD dilakukan terhadap sampel lempung yang
memiliki indeks plastisitas terbesar. Mula mula cuplikan ditempatkan pada
ditimbang, begitu pula
airnya ditempatkan dalam cawan.
Cawan beserta isinya tanpa tutup dikeringkan dalam oven sampai berat
Cawan dan isinya ditutup lalu didinginkan dalam desikator hingga berat
.(3.1)
plastisitas sama dengan nilai kadar air pada batas cair dikurangi
(3.2)
Karakterisasi dengan XRD dilakukan terhadap sampel lempung yang
rbesar. Mula mula cuplikan ditempatkan pada
preparat. Preparat kemudian ditempatkan pada sample holder dan disinari dengan
sinar-X.

3.3.5. Karakterisasi dengan XRF
Dalam karakterisasi ini digunakan sistem spektroskopi sinar pendar (XRF)
dengan menggunakan detektor SiLi yang didinginkan dalam nitrogen cair untuk
mengukur sinar pendar yang dihasilkan dari interaksi antara sampel yang
dieksitasi oleh sumber Am-241, Fe-55 dan Cd-109. Setelah dikalibrasi energi
sistemnya dengan sumber standard seperti : Titan, Besi dan Molidenum yang
mempunyai kemurnian 99.99%. sampel diletakkan diatas sumber pengeksitasi
kemudian muncul spektrum radiasi sinar X karakteristik dari sampel tersebut.
Metode ini merupakan sistem analisis non destruktif yang sangat praktis dan
cepat.

3.3.6. Karakterisasi dengan SEM
Karakterisas dengan SEM dengan cara melakukan pelapisan/pewarnaan
pada sampel, bertujuan untuk memperbesar kontras antara preparat yang akan
diamati dengan lingkungan sekitarnya. Pelapisan/pewarnaan dapat menggunakan
unsur-unsur yang bersifat konduktor misakan logam mulia seperti emas dan
platina. Sampel yang telah dilapisi kemudian dimasukkan dalam instrument SEM
untuk dilakukan scanning elektron.



3.4 Analisis Data
3.4.1 Analisis Morfologi Permukaan.
Analisis morfologi permukaan secara sederhana dilakukan dengan
Scanning electron microscop atau SEM, kedua sampel lempung dari dua Daerah
yang berbeda yaitu Daerah Pagedangan dan Daerah Getaan di lakukan
karakterisasi untuk mengetahui morfologi permukaan lempung.

3.4.2 Analisis Komposisi Kimia dan Fisika Lempung
Analisis komposisi kimia dan fisika dilakukan dengan XRD dan XRF.
Analisis dengan XRD dengan cara membandingkan data XRD kedua sampel
lempung dari Daerah Pagedangan dan Daerah Getaan dengan data XRD standari
dari JCPDS. Analisis ini digunakan untuk mengkarakterisas jenis mineral yang
ada pada sampel dan juga pengotor yang ada dalam sampel lempung.
Analisis dengan menggunakan XRF dengan cara membaca spectrum
radiasi sinar x yang dihasilkan. Analisis ini digunakan untuk mengkarakterisasi
jenis dan kandangan bahan radioaktif yang terdapat pada sampel lempung

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Benefisiasi Lempung
Langkah awal dalam penelitian ini adalah proses benefisiasi yaitu proses
fisika yang bertujuan untuk memperoleh fase lempung dari tanah. Sampel tanah
yang di dapat dari daerah Pagedangan dan Getaan tentunya bukanlah sampel
lempung murni namun masih terdapat beberapa pengotor atau partikel-partikel
lain yang tercampur di dalam tanah. Ukuran partikel tanah sangat beragam,
ukuran partikel ini menjadi tolak ukur dalam penyebutan pengklasifikasian jenis
tanah, berdasarkan ukurannya tanah diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok,
yaitu :
1. Kerikil (gravel), yaitu kepingan batuan yang kadang juga partikel mineral
quartz dan feldspar.
2. Pasir (sand), sebagai besar mineral quartz dan feldspar.
3. Lanau (silt), sebagain besar fraksi mikroskopis (yang berukuran sangat
kecil) dari tanah yang terdiri dari butiran-butiran quartz yang sangat halus
dan dari pecahan- pecahan mika.
4. Lempung (clay), yaitu sebagaian besar terdiri dari partikel mikroskopis
(berukuran sangat kecil) dan sub mikroskopis (tak dapat dilihat, hanya
dengan mikroskop)
Rentang ukuran tanah berdasarkan pengklasifikasian diatas dapat dilihat pada
Tabel 4.1
55
Tabel 4.1 Pengklasifikasian tanah berdasarkan ukuran
Lempung Lanau Pasir Kerikil
Halus medium kasar halus medium kasar halus medium kasar
0,002 0,006 0,02 0,06 0,2 0,6 2 6 20 60

Lempung merupakan tanah yang memiliki ukuran lebih kecil dari 0,002 mm atau
2 micron yang memiliki mineral tertentu dan memiliki sifat plastis bila dicampur
dengan air.
Proses benefisiasi diawali dengan mengeringkan sampel lempung yang di
dapat dari daerah Pagedangan dan daerah Getaan, sampel diletakkan pada wadah
yang berlainan kemudian dihaluskan hingga diperoleh lempung kering dan halus.
Sampel yang sudah halus kemudian dilarutkan dalam air hingga seluruh lempung
tersuspensi secara homogen dengan air dan dibiarkan beberapa hari hingga terjadi
pengendapan. Proses benefisiasi merupakan proses pemisahan larutan suspensi
berdasarkan berat jenis, partikel yang memiliki berat jenis tinggi akan mudah
mengendap dibandingkan dengan partikel dengan yang memiliki berat jenis lebih
rendah. Peck, et.al (1973) menyatakan bahwa pasir mengendap dalam waktu 30-
60 detik, material berukuran lanau mengendap dalam waktu 15-60 menit,
sedangkan yang berukuran lempung tetap dalam larutan paling tidak selama
beberapa jam sampai beberapa hari.
Hasil dari proses benefisiasi ini adalah terjadi pemisahan partikel menjadi
3 bagian, fase paling atas merupakan senyawa organik dan garam-garam terlarut
dalam air terlihat lebih bening, fase tengah merupakan lempung yeng terlihat
hitam ke kuning- kuningan sedangkan fase paling bawah merupakan pasir dan
pengotor- pengotor lempung lainya. Proses pemisahanya sangat sederhana, fase
paling atas dibuang dengan menggunakan selang kecil yang dialirkan ke
pembuangan, proses ini sangat mudah karena perbedaan fisik antara fase atas dan
fase tengah sangatlah besar, sehingga mudah dilihat perbedaanya oleh
penglihatan. Selanjutnya pemisahan fase kedua dan fase ketiga, pada pemisahan
ini tergolong rumit, hal ini dikarenakan jenis fisik dari kedua fisik hampir sama
yang membedakan adalah ukuran dan warna, pada fase kedua yang merupakan
fase lempung memiliki ukuran lebih kecil sehingga terasa lebih halus dipegang
tangan dan berwarna agak kecolkatan. Pemisahan di lakukan dengan mengambil
fase kedua menggunakan sendok makan.
Fase lempung yang didapat kemudian di keringkan dibawah sinar matahari
hingga keras dan kemudian ditumbuk hingga halus. Untuk mendapatkan fase
lempung yang murni proses benefisiasi ini dilakukan 2 kali sehingga didapatkan
lempung kering dan halus. Proses benefisiasi diatas diterapkan untuk kedua
lempung asal daerah pagedangan dan daerah Getaan secara terpisah.

4.2 Karakterisasi Lempung
4.2.1 Plastisitas
Plastisitas merupakan kemampuan lempung dalam menyesuaikan
perubahan bentuk dan volume tanpa terjadi retakan yang sebabkan oleh
penyerapan air disekeliling permukaan partikel lempung. Hal ini sangat penting
dalam proses pembuatan keramik karena dalam pembuatan keramik dibutuhkan
lempung yang memiliki daya tahan akibat perubahan bentuk dan volume sehingga
hasil keramik akan lebih bagus dan berkualitas.

Indeks plastisitas menjadi acuan awal dalam penentuan apakah lempung
yang berasal dari daerah tertentu dapat atau tidak dapat digunakan sebagai bahan
dasar dalam pembuatan keramik. Hal ini dikarenakan setiap daerah memiliki
kandungan platisitas yang berbeda- beda, bergantung pada interaksi antara
partikel- partikel mineral lempung. Bila kandungan air berkurang maka kekebalan
lapisan kation akan berkurang pula yang mengakibatkan bertambahnya gaya-gaya
tarik antara partikel- partikel sehingga menyebabkan lempung retak. Untuk
lempung yang berada dalam kondisi plastis, besarnya gaya- gaya antar partikel
harus sedemikian rupa sehingga partikel- partikel tidak mengalami pergeseran
satu dengan lainya yang tahan oleh kohesi dari masing- masing partikel.
Perubahan kadar air disamping menyebabkan perubahan volume tanah juga
mempengaruhi kekuatan tanah yang berbeda- beda pada setiap kondisi tanahnya.
Pada kondisi cair, tanah memiliki kekuatan yang sangat rendah dan terjadi
deformasi yang sangat besar. Sebaliknya, kekuatan tanah menjadi besar dan
mengalami deformasi yang sangat kecil dalam kondisi padat
Tidak semua lempung yang bersifat plastis dapat digunakan sebagai bahan
pembuatan keramik, menurut Wahyudi, dkk, (1998) indeks plastisitas lempung
yang memenuhi kriteria sebagai bahan pembuatan keramik berada pada rentang
20-30 dengan batas plastis 15-25 dalam pengklasifikasian indeks platisitas
menurut Burmater (1949) rentang indeks plastisitas 20-30 tergolong lempung
yang memiliki indeks plastisitas tinggi.


4.2.1.1 Penentuan Batas Plastis
Batas Plastis adalah kadar air minimum dimana suatu tanah masih dalam
keadaan plastis. Untuk menentukan batas plastis ini, mula- mula sampel diambil 8
gr kemudian sampel digulung membentuk silinder dengan diameter 18 inchi atau
3,2 mm. batas plastis ditandai dengan munculnya retakan saat gulungan lempung
mencapai diameter 3,2 mm. Retakan yang muncul pada lempung disebabkan
karena pada saat itu lempung mengalami transisi dari padat ke plastis. Penentuan
batas plastis dilakukan 3 kali untuk tiap-tiap sampel lempung Pagedangan dan
sampel lempung Getaan, Tabel 4.2 menampilkan data kadar air saat lempung
mencapai batas plastis.


Tabel 4.2 Kadar air sampel saat mencapai batas plastis
Ulangan Sampel
Lempung
Kadar air
Pagedangan Getaan
1 15,57 31,33
2 16,45 35,21
3 19,13 32,82
Rerata 17,05 33.13



4.2.1.2 Penentuan Batas Cair
Batas cair adalah kadar air tanah pada batas antara keadaan cair dan
keadaan plastis. Penentuanya dengan mengunakan mangkok kuningan
(Casagrade). Sampel lempung diaduk rata dengan air dalam mangkok, kemudian
pada bagian tengah dialur dengan coret sehingga menjadi 2 bagian dengan alur
selebar 2mm, kemudian engkol di putar maka mangkok akan terangkat 1 cm dan
jatuh bebas pada landasan. Pemutaran dilakukan beberapa kali hingga bagian
tanah dalam mangkok tertaut setelah lempung tertaut, dicatat jumlah pukulan dan
dihitung kadar airnya. Secara teoritis, batas cair lempung terjadi pada saat
pukulan ke-25 namun ternyata hal ini tidak mudah, sehingga diperlukan suatu
grafik hubungan antara jumlah pukulan dengan kadar air, interpolasi pada
pukulan ke 25 merupakan perpotongan pada garis vertical N= 25 kemudian
ditarik garis horizontal akan didapatkan nilai kadar air pada pukulan ke-25.
Batas cair untuk sampel lempung daerah Pagedangan ditunjukkan pada
Tabel 4.3

Tabel 4.3 Batas cair sampel Pagedangan
Jumlah Pukulan Kadar Air
17 54.01
21 48.89
26 40.26
30 37.23



Sedangkan diagram hubungan antara jumlah pukulan dan kadar air ditunjukkan
pada Gambar 4.1.
Pada Gambar 4.1 telihat bahwa interpolasi pada pukulan ke-25 di dapatkan
nilai kadar air 46,60 % sehingga ditetapkan batas cair sampel lempung
pagedangan sebesar 46, 60.




Gambar 4.1 Grafik hubungan antara kadar air dan jumlah pukulan
pada penentuan batas cair lempung pagedangan



Batas cair untuk sampel lempung daerah Getaan lebih tinggi dari pada
lempung daerah Pagedangan ditunjukkan pada Tabel 4.4

Tabel 4.4 Batas cair sampel lempung Getaan
Jumlah Pukulan Kadar Air
15 70.05
18 68.02
20 64.02
23 62.00
25 60.35



Sedangkan diagram hubungan antara jumlah pukulan dan kadar air ditunjukkan
pada Gambar 4.2




Gambar 4.2. Grafik Hubungan antara kadar air da jumlah
pukulan pada penentuan batas cari lempung Getaan



Pada Gambar 4.2 terlihat bahwa interpolasi pada pukulan ke-25 didapatkan nilai
kadar air 60,35 % sehingga ditetapkan batas cari sampel lempung pagedangan
sebesar 60,35
4.2.1.3 Penentuan Indeks Plastisitas
Indeks plastisitas didapat berdasarkan selisih antara batas cair dikurangi
dengan batas plastis. Data plastisitas yang di dapat dari hasil karakterisasi
lempung daerah Getaan adalah batas cair 60,35 dan batas plastis sebesar 33,13,
sehingga indeks plastisitasnya sebesar 27,22. Berdasarkan penggolongan
plastisitas menurut Atterberg, lempung asal desa Getaan bersifat plastis namun
lempung daerah getaan tidak memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan
baku pembuatan keramik, hal ini disebabkan karena tingginya batas plastis
lempung. Semakin tinggi batas plastis yang diperoleh maka semakin besar air
yang dikandung (pada saat lempung mencapai batas plastis) sehingga
menyebabkan kekuatan lempung lemah dan mudah terjadi reformasi. Dalam
realita sosial, penduduk daerah Getaan memang tidak memanfaatkan lempung
sebagai bahan pembuatan keramik bermutu tinggi namun lebih banyak
dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan keramik sederhana yaitu genteng dan batu
bata yang dalam pembuatanya tidak membutuhkan sifat plastisitas yang baik.
Hasil karakterisasi plastisitas lempung daerah Pagedangan menunjukkan
bahwa lempung daerah ini sangat berpotensi dijadikan sebagai bahan dasar
pembuatan keramik bermutu tinggi. Batas cair sebesar 46,60 dan batas plastis
sebesar 17,05, sehingga indeks plastisitas sebesar 29,55.
Dari data batas plastis dan indeks plastisitas yang diperoleh
memungkinkan untuk memanfaatkan lempung daerah Pagedangan untuk
dijadikan bahan baku pembuatan keramik, namun dalam realita sosial, potensi ini
belum tersentuh oleh penduduk daerah Pagedangan.

4.2.2 Karakterisasi dengan SEM (Scanning Electron Microscopy)
Karakterisasi lempung dengan menggunakan SEM (scanning electron
microscopy) digunakan untuk mengetahui morfologi permukaan lempung.
Lempung asal desa Getaan dalam keadaan basah berwarna coklat kehitaman,
sedangkan pada pengamatan dengan SEM berwarna hitam disertai partikel
berbentuk Kristal berwarna putih (Gambar 4.3).




Gambar 4.3 Pengamatan Lempung Daerah Getaan dengan SEM
(Perbesaran 15.000 x)



Hasil micrograph dengan scanning electron microscopy (SEM) pada
sampel lempung asal desa Getaan dengan perbesaran 15.000 x diperlihatkan pada
Gambar 4.2. Hasil identifikasi dengan SEM menunjukkan bahwa partikel
lempung berupa lempengan kristal dengan ukuran yang tergolong kecil, yakni 1
m 6 m.


Gambar 4.4 Foto SEM dari Lempung

Sedangkan lempung daerah Pegedangan dalam keadaan basah berwarna
coklat kemerahan dalam pengamatan dengan SEM dapat dilihat pada Gambar 4.5







Hasil micrograph dengan scanning electron microscopy (SEM) pada
sampel lempung asal desa Pagedangan dengan perbesaran 15.007 x diperlihatkan
pada Gambar 4.6. Hasil identifikasi dengan SEM menunjukkan bahwa partikel
lempung berupa lempengan kristal dengan ukuran yang tergolong kecil, yakni
952,3 nm 3 m.


Gambar 4.6 Hasil SEM Lempung Pagedangan Perbesaran 15.007 X
Gambar 4.5 Pengamatan Lempung Daerah Pagedangan dengan SEM
(Perbesaran 15.000 x)

Menurut Abdulloh (2004), ukuran partikel lempung berpengaruh pada
plastisitas lempung, dimana semakin kecil partikel maka semakin besar indeks
plastisitas yang dihasilkan, sehingga lempung daerah Pagedangan memiliki PI
yang lebih besar. Hal ini disebabkan karena semakin halus partikel lempung maka
permukaan efektifnya lebih lebar dan akan membutuhkan volume air yang lebih
besar. Distribusi pori yang longgar juga meningkatkan keplastisan lempung,
karena molekul air semakin banyak yang terjerap dalam ruang kosong tersebut.

4.2.3 Karakterisasi dengan XRD (X-Ray Difraction)
Analisis XRD pada penelitian ini digunakan untuk mengkarakterisasi jenis
mineral yang ada pada sampel lempung pagedangan dan sampel lempung Gataan.
Prinsip kerja X-RD adalah sebagai berikut, pembangkit sinar-x menghasilkan
radiasi ektromagnetik, yang setelah dikendalikan oleh celah penyimpang S1
selanjutnya jatuh pada cuplikan. Sinar yang dihamburkan oleh cuplikan
dipusatkan pada celah penerima S2 dan jatuh pada detektor yang sekaligus
mengubahnya menjadi bentuk cahaya tampak (foton).
Komposisi kimia dari lempung dapat teramati pada difraktogram (Gambar
4.3) dari hasil karakterisasi dengan XRD. Komposisi kimia lempung asal desa
Getaan adalah SiO2 (cristobalite) dan (Ca,Na)(Si,Al)4O8 (anorthite, sodian,
disordered).




Gambar 4.7 Difraktogram Sampel lempung Getaan



Dari hasil analisis didapatkan komposisi kimia lempung asal daerah
Pagedangan adalah kaolinite (Al
2
Si
2
O
5
(OH)
4
) dan (Ca,Na)(Si,Al)
4
O
8
(anothite,
sodian, disordered).
Kaolinite terbentuk dari perubahan hidrotermal dari mineralmineral
aluminosilikat. Batuan granit merupakan sumber terbesar penghasil kaolinite.
Sifat dari kaolinite adalah tidak dapat mengadsorpi air, kaolinite tidak dapat
mengembang pada saat kontak dengan air. Sehingga lempung Pagedangan
berpotensi dijadikan bahan baku pembuatan keramik bermutu tinggi

Gambar 4.8 Difaktogram sampel lempung Pagedangan



4.2.4 Karakterisasi dengan XRF
Pada dasarnya analisis dengan X-Ray Fluorescent digunakan untuk
mengkarakterisasi komponen- komponen yang menyusun atau berada dalam
sampel lempung baik lempung daerah Pagedangan atau lempung daerah Getaan.
Metode yang digunakan X-Ray Fluorescent ini adalah pencacahan sinar x yang
dipancarkan oleh suatu unsur akibat pengisian kembali kekosongan elektron pada
orbital yang lebih dekat dengan inti (karena terjadinya eksitasi elektron) oleh
elektron yang terletak pada orbital yang lebih luar. Ketika sinar x yang berasal
dari radioisotop sumber eksitasi menabrak elektron dan akan mengeluarkan
elektron kulit dalam, maka akan terjadi kekosongan pada kulit itu. Elektron dari
kulit yang lebih tinggi akan mengisi kekosongan itu. Perbedaan energi dari dua
kulit itu akan tampil sebagai sinar X yang dipancarkan oleh atom. Spektrum sinar
x selama proses tersebut menunjukan peak/puncak yang karakteristik, dimana
setiap unsur akan menunjukkan peak yang merupakan landasan dari uji kualitatif
untuk unsur-unsur yang ada dalam contoh lempung/clay. Pada Gambar 4.4 dan
Gambar 4.5 ditunjukkan hasil spectra dari sampel lempung pagedangan dan
sampel lempung Getaan.
Berdasarkan hasil karakterisasi dengan XRF menunjukkan bahwa pada
sampel lempung daerah Getaan unsur Si mendominasi sebesar 40,00 % kemudian
Fe (33,28 %), Al (14,00%), Ca (8,88%) Ti (1,84%). Pada sampel lempung daerah
Pagedangan, Si juga menjadi unsure yang mendominasi yaitu sebesar 36,0 %
kemudian Al (14%), Ca (10,8%), Ti (1,99%) dan K (0,84%).

Tabel 4.5 Komposisi Unsur-unsur dalam Lempung Hasil XRF
Unsur Lempung Getaan Unsur Lempung Pagedangan
Si 40,00 % Si 36,0 %
Fe 33,28 % Al 14%
Al 14,00 % Ca 10,8%
Ca 8,88 % Ti 1,99%
Ti 1,84 % K 0,84%



Adanya mineral silika (Si) yang menjadi unsur mayor dalam lempung
pagedangan dan lempung Getaan, menyebabkan semakin banyak lapisan air yang
mengelilingi butiran silika. Dalam hal ini silika bertindak sebagai partikel koloid
seperti bunga karang yang dapat melicinkan butiran non plastis untuk menambah
sifat mudah dibentuk (Prasetyo, 2004), sehingga keplastisan lempung asal Getaan
lebih besar dari pada lempung daerah Pagedangan.


4.3 Integrasi Penciptaan Manusia dengan Komponen Lempung
Dalam Al-Quran surat Ar Rahman ayat 14
Y={ }# = $9%.

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar
(Q.S. Ar-Rahman: 14)

Pada ayat diatas ada 2 perumpamaan dalam pembentukan manusia yaitu
Shalshaalin dan Kalfakhkhaar. Secara kimiawi tanah kering adalah zat
pembakar: Oxygenium : O
2
(Dry ringin clay)= Shalshaalin. Sedangkan tembikar
adalah zat arang: Carbonium: C (Earthenware)= Kalfakhkhaar
Pada ayat lain yakni Al-Quran surat Al- Hijr ayat 28, Allah berfirman:
) $% 7/ 3==9 ) ,=z #0 = *m ``

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat
kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk , ( Q.S. Al
Hijr : 28)

Adapun yang dikehendaki dengan Tanah liat kering dari lumpur hitam
adalah zat lemas : Nitrogenium : Ni ( Wrought from black mud )= Min
hamaimmasnuun
Pada surat As-Sajdah ayat 7 Allah juga menyebutkan bahwa manusia
tercipta dari tanah :
%!# m& . ` )=z &/ ,=z }#

Yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang
memulai penciptaan manusia dari tanah. (Q.S. As-Sajdah : 7)
Namun yang dikehandaki dengan Tanah pada ayat diatas adalah atom zat air :
Hydrogenium : H
2
( Clay )= Thiin
Demikian juga pada surat Al-Saffat ayat 11
JF`$ & & $)=z & $)=z $) )={ _>

Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): "Apakah mereka
yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa[1273] yang Telah kami
ciptakan itu?" Sesungguhnya kami Telah menciptakan mereka dari tanah
liat. (Q.S. Al-Saffat : 11)

Yang dimaksud Tanah liat diatas adalah Zat besi: Ferrum : Fe ( Cohesive clay )=
thiinillazib. Sedangkan dalam Alquran surat Ali- Imron ayat 39
79 =G = M# .%!# 3s9#

Demikianlah (kisah 'Isa), kami membacakannya kepada kamu sebagian
dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al Quran yang penuh
hikmah. (Q.S Ali- Imron : 39)

yang dikehendaki dengan tanah adalah Zat an-organic =Unsur-unsur asli dalam
tanah ( Dust )=minturaab C + O
2
+ Ni + H
2
+ Fe + K + Si + Mn
Dari beberapa ayat diatas dijelaskan bahwa Pengertian Thin (lempung)
menunjuk pada lapisan tanah (Thurab) yang telah bercampur dengan air (Maa),
hal ini diperkuat dengan adanya unsur kepekatan pada Thin itu sendiri. Dari
adanya Thin inilah maka dimulainya penciptaan manusia. Lebih spesifik lagi
Allah menyebutkan bahwa hanya beberapa komponen unsur saja/ saripati
(Sulalat) yang berperan penting dalam penciptaan tersebut. Penyelidikan sains
menyebutkan unsur-unsur tersebut diantaranya adalah C + O
2
+ Ni + H
2
+ Fe + K
+ Si + Mn
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah didapat, maka dapat disimpulkan
bahwa :
a. Lempung daerah Pagedangan memiliki nilai batas plastis 33,13 batas cair
60,33 dan indeks plastisitas 27,22. Sedangkan lempung daerah Getaan
memliki nilai batas plastis 17,05 batas cair 46,60 dan indeks plastisitas 29,55.
b. Karakterisasi SEM menunjukkan bahwa lempung Getaan berwarna hitam
disertai partikel- partikel berbentuk kristas berwarna putih sedangkan lempung
Pagedangan terlihat berwarna hitam kekuningan disertai partikel- partikel
berbentuk Kristal berwarna putih. Karakterisasi XRD menunjukkan bahwa
lempung daerah Getaan mengandung mineral SiO
2
(cristobalite) dan
(Ca,Na)(Si,Al)
4
O
8
(anorthite, sodian, disordered) sedangkan daerah
Pagedangan mengandung mineral kaolinite (Al
2
Si
2
O
5
(OH)
4
) dan
(Ca,Na)(Si,Al)
4
O
8
(anothite, sodian, disordered). karakterisasi dengan XRF
menunjukkan bahwa lempung daerah Getaan didominasi unsur Si sebesar
40,00 % kemudian Fe (33,28 %), Al (14,00%), Ca (8,88%) Ti (1,84%). Pada
lempung daerah Pagedangan, Si juga menjadi unsur yang mendominasi yaitu
sebesar 36,0 % kemudian Al (14%), Ca (10,8%), Ti (1,99%) dan K (0,84%).


72
5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah :
a. Perlu adanya karakterisasi lempung daerah lain sehingga dapat menambah
pasokan bahan baku pembuatan keramik.
b. Perlu adanya penelitian lebih lanjut terhadap pengaplikasian lempung dari
daerah Getaan dan daerah Pagedangan dalam pembuatan keramik.

DAFTAR PUSTAKA

Abdulloh. 2004. Evaluasi Teknik Uji Geser dan Uji Tekan dalam Kajian
Pengaruh Kadar Air dan Penambahan Zat Limbun terhadap karakteristik
Plastisitas lempung asal Dsn. Pandisari Ds. Sawoo Kec. Kutorejo Kab.
Mojokerto, Thesis tidak diterbitkan. Bandung: Departemen Kimia Fakultas
MIPA ITB.

Aji, Setyo.B dan Anjar. 2009. The Role Of a Coal Gasification Fly Ash as Clay
Addive in Building Ceramic. Journal of the European Ceramic Sosiety 26
(2006) 3783-3787.

Al-Jazairi dan Al-Jabir, B. A. 2009.Tafsir Al-Quran Al AIsyar (jilid 7)
Penerjemah Amaliy, F dan Suwanto,E. Jakarta : Darus Sunnah.

Anonymous
a
. 2010. X-Ray Crystallography. http://en.wikipedia.org/wiki/X-
ray_Diffraction.htm. Diakses tanggal 10 Februari 2010.

Anonymous
b
. 2010. X-ray Fluorescence. http://en.wikipedia.org/wiki/X-
ray_fluorescence.htm. Diakses tanggal 10 Februari 2010.

Anonymous
c
. 2009. Proses Pembentukan Tanah Liat Secara Alami.
http://axzx.blogspot.com/2008/12/proses-pembentukan-tanah-liat-
secara.html. diakses tanggal 4 november 2009.

Anonymous
d
. 2010. Lempung Kita yang Terlupakan.
http://ppsdms.org/article/Lempung Kita yang Terlupakan PPSDMS -
Creates Future Leaders.htm. Diakses tanggal 10 Februari 2010.

Aziz dan Gunawan, O. 2005. Homogenisasi Ukuran Partikel Bentonit Sebagai
Bahan Baku Keramik Dengan Menggunakan Hidrosiklon. Jurnal bahan
galian industry, volume 1 nomer 3, Desember 2005.


Barroroh, H. 2007. Debu, Semesta Rahmat: Interaksi Fisikokimia Debu Dan Air
Liur Anjing. Malang: UIN_Malang Press.

Direktorat Jenderal Industri Agro dan Kimia, 2009. Roadmap Industry Keramik.
Jakarta: Departemen Perindustrian.

Ginting, I, Gugun dan Yayan . 2005. Pembuatan Perangkat Lunak Analisis
Kualitatif Difraksi Sinar X Dengan Metode Hanawalt. Prosiding seminar
Nasional Sains dan Teknik Nuklir P3TkN-BATAN,14-15 Juni 2005.

Grim, R. E. 1962. Applied Clay Minerology. McGraw Hill Book Company. New
York.. Hal. 1 51.
74

Hadi, W. 2005. Ceramic Filter For Purifying Saline Water And Concentrating
Heavy Metals In The Electroplating Wastewater For Material Reuse.

Kurniasari, H.D. 2008. Solidifikasi Limbah Alumina dan Sand Blasting PT.
Pertamina UP IV Cilacap Sebagai Campuran Bahan Pembuatan Keramik.
Tugas Akhir jurusan teknik lingkunagn fakultas teknik sipil dan
perencanaan. Yogjakarta: Universitas islam Indonesia.

Mahida, U. N. 1984. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. Jakarta :
CV Rajawali, hal.l 4 6.

Muntohar, A. S. 2007. Pengantar Rekayasa Geoteknik.
http://Muntohar.files.wordpress.com/2007/04/sample-bab3.pdf. Diakses
tanggal 27 Februari 2010.

Nagendrapa, G.Organic Syntesis using Clay Catalyst. J. Resonance. 2002. Hal 64
77.

Nelson, S. A. Clay Minerals. Tulane University. 2001.

Nurahmi, E. 2001. Uji Stabilitas Struktur Bentonit Terhadap Perlakuan Asam
Sulfat dan Pemanasan. Skripsi. Yogyakarta : FMIPA UGM, hal. 1 2.

Prasetyo, A. 2004. Kajian Mekanika dalam Penentuan plastisitas lempung secara
uji geser dan tekan-tidak-terkungkung. Thesis tidak diterbitkan. Bandung:
Departemen Kimia ITB.

Sirappa dan sastiono, A. 2002. Analisis Mineral Lempung Tanah Regosol Lombok
dengan Menggunakan SInar X dalam kaitanya dengan penentuan sifat dan
cara pengelolaan tanah. Jurnal Ilmu tanah dan Lingkungan Vol.3 (2) pp 1-
6.

Sumantry, T. 2010. Aplikasi Xrf Untuk Identifikasi Lempung Pada Kegiatan
Penyimpanan Lestari Limbah Radioaktif. Prosiding Seminar Nasional
Teknologi Pengelolaan Limbah VII Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-
BATAN ISSN 1410-6086 Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi-RISTEK

Usman, T. 2008. Pengaruh Stabilisasi Tanah Berbutir Halus yang Distabilisasi
Mengunakan Abu Merapi Pada Batas Konsistensi dan CBR Rendaman.
Tugas Akhir. Yogjakarta: Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan
perencanaan Universitas Islam Indonesia.

Vaccari, A. 1999. Clays and Catalystis: A Promising Future. J. Applied Clay
Sciences.. Vol. 14. Hal. 161 198.

Wahyudi, Asman dan Rusdy, A.Y.1998. Laporan Praktikum Bahan Baku
Keramik. Badan penelitian dan pengembangan industry; Balai besar
Industri Keramik. Cimahi- Bandung: Teknik Kimia Keramik D III
Universitas Jendral Ahmad Yani