Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi Vol. 1 No.

1, Maret 2011 ANALISIS PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT PANTI NUGROHOSLEMANPERIODEOKTOBER2008 ANALYSISOFDRUGUSAGETOWARDOUTPATIENTINPANTINUGROHOHOSPITALSLEMAN INOCTOBER2008 CharlesArisSudarmono1,AchmadPurnomo1,RiswakaSudjaswadi1
1MagisterManajemenFarmasi,UniversitasGadjahMada,Yogyakarta

ABSTRAK Penggunaan obat yang rasional pada saat ini merupakan orientasi utama pelayanan kefarmasian. Salah satu parameter yang dapat digunakan untuk mengukur kerasionalan penggunaan obat adalah dengan menggunakan penilaian terhadap gambaran penggunaan obat, sehingga penelitian dilakukan untuk mengetahui gambaran penggunaanobatpadapasienrawatjalandiRSPantiNugrohoSleman. Penelitianbersifatdeskriptifnoneksperimental.DatadiambilsecaraprospektifdenganmetodeSystematicRandom Sampling, yang berupa resep pasien rawat jalan yang memeriksakan diri di poliklinik, pengamatan langsung pasien mulai konsultasi dengan dokter di poliklinik sampai mendapatkan obat, dan obatobat kunci (drug of choice) di RSPN SlemanyangdianalisismenggunakanindikatorpenggunaanobatWHO1993. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwarataratajumlahitemobatyangdiresepkanperlembarresepsebesar2,44R/, persentase peresepan obat dengan nama generik sebesar 27,92%, persentase peresepan antibiotik diperoleh hasil sebesar 15,27%, persentase peresepan sediaan injeksi 0,33%, dan persentase peresepan obat yang sesuai dengan formulariumrumahsakitsebesar85,05%.Hasilpenelitianindikatorpelayananpasien,diperolehhasilbahwaratarata waktu konsultasi pasien dengan dokter adalah 8 menit 24 detik, ratarata waktu dispensing obat adalah 9 menit 56 detik, persentase obat yang benarbenar diserahkan sebesar 95,89%, persentase obat yang dilabel dengan benar sebesar 99,66%,dan persentase pasien yang paham akan cara penggunaan obat yang benar sebesar 90,00%. Dari hasil penelitian dengan menggunakan indikator fasilitas kesehatan diperoleh hasil bahwa di RSPN tersedia formularium rumahsakit(1),danpersentaseketersediaanobatobatkuncisebesar100,00%. Katakunci:gambaranpenggunaanobat,indikatorWHO1993,RSPantiNugrohoSleman ABSTRACT Nowadays, the rational drug usage is the main orientation of pharmaceutical service. One of parameter that can be used to measure the rationality of drug usage is by using valuation toward drug usage description, so this re searchsdonetoseethedrugusagedescriptiontowardoutpatientinPantiNugrohoHospitalSleman. Thisresearchisdescriptivenonexperimental.Thedatawastakenprospectivelywithsystematicrandomsampling method.Thedatatakenfromtheprescriptionthatgivenforoutpatient,patientsdirectobservationthatisstartedfrom consultation with the doctor in polyclinic until the patients got the drugs, and key drugs (drug of choice) in RSPN SlemanthatisanalyzedbyusingWHOdrugsusageindicator1993. The result of this research showed that the average number of drug per encounter is 2,44 R/, the percentage of drugs prescribed by generic name is 27,92%, the percentage of encounters with an antibiotic prescribed is 15,27%, the percentage of encounters with an injection prescribed is 0,33%, and the percentage of drugs prescribed from hospital formulary is 85,05%. However, based on the patients service indicator research result, the result is that the average consultation time is 8 minutes 24 seconds, the average dispensing time is 9 minutes and 56 seconds, the percentage of drugs actually dispensed is 95,89%, the percentage of drugs adequately labeled is 99,66%, and the percentage of pa tients knowledge of correct dosage is 90,00%. From the research result using health facility indicator, it can be seen thatinRSPN,thereishospitalsformularium(1),andthepercentageofkeydrugsavailabilityis100,00%. Keywords:drugsusagedescription,WHOindicator1993,PantiNugrohoHospitalSleman.

PENDAHULUAN Pada saat era globalisasi dituntut adanya perubahan berbagai aspek termasuk perubahan dalam dunia kesehatan. Adanya ketimpangan kualitas kesehatan di negara maju dan negara berkembang, memicu evaluasi kualitas pelayanan kesehatan di negaranegara berkembang. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang dituntut harus siap dengan perubahanperubahan menuju perbaikan kualitas kesehatan yang masih jauh tertinggal dibandingkannegaramaju.

Sejak tahun 1985 melalui konferensi yang diadakan di Nairobi, WHO telah berupaya untuk meningkatkan praktek penggunaan obat rasional, berdasarkan komitmen itu WHO melalui International Network for the Rational Use of Drug (INRUD) telah mengembangkan indikator penggunaan obat terdiri dari indikator utama dan indikator tambahan yang kemudian pada tahun 1993, ditetapkan sebagai metode dasar untuk menilai penggunaan obat pada unit rawat jalan di fasilitas kesehatan yang berkaitan dengan rasionalitas penggunaan obat di fasilitas 24

Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi Vol. 1 No. 1, Maret 2011 kesehatan tersebut. Indikator penggunaan obat tersebut dapat digunakanuntuk mengukurdata, baik yang diambil secara retrospektif maupun data prospektif pada pelayanan kesehatan (Anonim,1993). Indikator utama penggunaan obat WHO 1993, digunakan untuk mengukur tiga area umum yang berkaitan erat dengan tingkat rasionalitas penggunaan obat di suatu fasilitas kesehatan,yaitupraktekperesepanolehpemberi pelayanan (providers) atau secara khusus dokter (prescibers); pelayanan pasien baik konsultasi klinis maupun dispensing kefarmasian; ketersediaan fasilitas kesehatan yang mendukung penggunaan obat secara rasional, sehingga dapat dikatakan indikator utama penggunaan obat WHO 1993 terdiri dari indikator peresepan;indikator pelayanan pasien; danindikatorfasilitaskesehatan(Anonim,1993). Rumah Sakit Panti Nugroho (RSPN) adalah salah satu fasilitas umum yang memberikan pelayanan di bidang kesehatan pada masyarakat di daerah sekitar Pakem Sleman. Di rumah sakit tersebut pernah dilakukan penelitian sejenis tetapi hanya menggunakan satu indikator utama yaitu indikator peresepan, sehingga data yang tersedia belumlah lengkap tetapi dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk melakukan penelitian , sehingga RSPN dipilih sebagaitempatpenelitian. METODEPENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan penelitian deskriptif. Data diambil secara prospektif, dilakukan dengan mengumpulkan data di Instalasi Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit Panti Nugroho Sleman. Data yang merupakan data kuantitatifditampilkandalamtabeldandiagram lingkaran, sedangkan data kualitatif dijelaskan dalambentukuraian. Berdasarkan panduan WHO 1993 untuk penelitian pengunaan obat di fasilitas kesehatan secara prospektif diperlukan sampel minimal sebanyak 30100 sampel. Pada penelitian ini digunakan 250 pasien dan lembar resep sebagai sampel penelitian untuk indikator peresepan dan indikator pelayanan pasien WHO (1993). Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah Systematic Random Sampling yaitu mengambil sampel berdasar nomer urut yang telah ditentukan nilai intervalnya terlebih dahulu. Interval yang diperoleh dari perhitungan berdasarkan data penelitian pendahuluan adalah 9 dan nomor sampel pertama diambil adalah 5, sedangkan sampel yang digunakan untuk penelitian indikator fasilitas kesehatan adalah 14 item obat yang terdapat dalam pedoman WHO (1993) sebagai standar acuan dan melakukan wawancara denganKepalaInstalasiFarmasiRSPN. Data yang telah diperoleh kemudian dilakukan penggolongan data dengan cara mengkategorisasikan datadata yang sejenis ke dalam kategori yang terdapat dalam indikator penggunaanobat WHO (1993). Kategori tersebut meliputi jumlah obat per lembar resep (R/), obat dengan nama generik, obat antibiotik, sediaan injeksi, obat yang masuk ke dalam formularium rumah sakit, waktu konsultasi pasien dengan dokter, waktu dispensing obat, obat yang benar benar diserahkan kepada pasien, obat yang telah dilabel dengan benar, pasien yang paham akan cara penggunaan obat yang benar, ketersediaan formularium rumah sakit, dan ketersediaan obat obatkunci. Masalah yang dihadapi pada penelitian, karena hanya menggunakan lembar resep dan tidak melihat rekam medis sehingga tidak dapat dilakukan analisis lebih lanjut, misalnya: polifarmasi. Kesulitan pada saat melakukan wawancara kepada pasien sehingga kemungkinan terjadi kesalahpahaman maksud. Kesulitan dalam mengukur waktu bersih konsultasi pasien dengan dokter karena penulis tidak dapat ikut masuk ke ruang praktek dokter, sehingga memungkinkan kurangnya akurasi penelitian. HASILDANPEMBAHASAN Hasil dari penelitian tentang analisis penggunaan obat untuk pasien rawat jalan di Rumah Sakit Panti Nugroho (RSPN) Sleman berdasarkan indikator penggunaan obat WHO (1993)dapatdilihatpadatabelI. 1. Ratarata Jumlah R/ yang Digunakan per LembarResep Menurut WHO (1993) untuk ratarata jumlah item obat yang digunakan per lembar resep dikategorikan baik jika terdapat paling banyak 2 recipe (R/) untuk satu diagnosis dengan kisaran 1,82,2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ratarata jumlah R/ yang digunakan per lembar resep adalah 2,44. Pada hasil penelitian WHO yang pernah dilakukan di Indonesia tentang 25

Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi Vol. 1 No. 1, Maret 2011


Tabel I. Analisis Penggunaan Obat untuk Pasien Rawat JalandiRSPNSlemanperiodeOktober2008 IndikatorPenggunaanObatWHO1993 IndikatorPeresepan,meliputi: RatarataR/perlembarresep %ObatdengannamaGenerik %Antibiotik %SediaanInjeksi %SesuaiFRS IndikatorPelayananPasien,meliputi: Rataratalamawaktukonsultasi Rataratalamawaktudispensing %Obatbenarbenardiserahkan %Obatdilabeldenganbenar %Pasienpahampenggunaanobat IndikatorFasilitasKesehatan,meliputi: KetersediaanFormularium %Ketersediaanobatobatkunci Hasil 2,44 27,92% 15,27% 0,33% 85,05% 824 956 95,89% 99,66% 90,00% Ada(1) 100,00%

penggunaanobatpadaduapuluhunitpelayanan kesehatan untuk resep pasien rawat jalan, rata rata jumlah obat per lembar resep adalah 3,3 (Quick, dkk., 1997). Dibandingkan dengan penelitian tersebut, hasil tersebut relatif lebih baik, yang berarti profesional kesehatan telah melakukan peningkatan pelayanan lewat peresepanobatyanglebihakurat. 2. Persentase Peresepan Obat dengan Nama Generik Pengukuran dengan menggunakan indikator tersebut bertujuan untuk mengetahui kecenderungan peresepan obat dengan nama generik yang berarti tertulis sebagai zat aktif sediaan sehingga ada kesepahaman antara dokter dan farmasis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase peresepan obat dengan nama generik sebesar 27,92%. Hasil penelitian yang dilakukan oleh WHO sebesar 59,00% (Quick, dkk., 1997), dengan estimasi terbaik82,00%. 3.PersentasePeresepanAntibiotik Antibiotik merupakan zat yang dihasilkan oleh mikroba, terutama fungi, yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain. Menurut WHO (1993), pengukuran bertujuan untuk mengukur penggunaan antibiotik, karena obat tersebut sering digunakan secara berlebihan sehingga dapat menyebabkan kerugian, diantaranya terjadi resistensi dan pemborosan biaya terapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase peresepan antibiotik sebesar 15,27%. Hasil penelitian yang dilakukan oleh WHO sebesar 43,00% (Quick, dkk., 1997), sementara itu

estimasiindikatoradalah22,70%. 4.PersentasePeresepanSediaanInjeksi Pengukuran dengan menggunakan indikator tersebut bertujuan untuk mengukur penggunaan sediaan injeksi pada pasien rawat jalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase peresepan sediaan injeksi sebesar 0,33%. Hasil penelitian yang dilakukan oleh WHO sebesar 17% (Quick dkk, 1997), dan estimasinya adalah seminimal mungkin. Dibandingkan hasil penelitian lima Rumah Sakit (20072008) hasil tersebut terletak pada deretan tiga terbawah. Hal itu berarti kesadaran masyarakat tentang berobat tidak harus diinjeksi telah tinggi, dan pengertian tentang sediaan injeksirelatiftelahtinggipula. 5. Persentase Peresepan Obat yang Sesuai denganFormulariumRumahSakit Pengukuran bertujuan untuk mengetahui kepatuhan dokter dan farmasis dalam menggunakan obat yang terdapat dalam formularium rumah sakit yang tercermin pada dalam peresepan obat untuk pasien. Rumah Sakit Panti Nugroho Sleman menggunakan tiga formularium dalam pelayanannya kepada pasien, yaitu: Formularium Umum RSPN; Formularium khusus karyawan, dan DPHO ASKES. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase peresepan obat yang sesuai dengan formularium Rumah Sakit Panti Nugroho Sleman sebesar 85,05%. Hal itu menunjukkan bahwa sebagian besar peresepan obat yang dilakukan di Rumah Sakit Panti Nugroho Sleman relatif sesuai dengan formulariumnya, karena nilai yang diperoleh 82,00% (estimasi terbaik), yang berarti obat yang diresepkan tersedia (kepatuhan farmasis), obat yang disediakanpastidiresepkan(kepatuhandokter). 6. Ratarata Waktu Konsultasi Pasien dengan Dokter Pengamatan waktu konsultasi pasien dengan dokter dilakukan selama 6 hari kerja (Senin Sabtu) di Poliklinik Umum dan Spesialis RSPN, dapat dilakukan karena letak keduanya yang berdekatan. Sebanyak 250 pasien rawat jalan diambil sebagai sampel penelitian, data pemeriksaan diperoleh sejak pasien masuk ruangan periksa sampai pasien keluar, dengan atau tanpa membawa resep dan dokumen administratiflainnya,sepertisuratrujukanke 26

Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi Vol. 1 No. 1, Maret 2011 laboratorium atau bon biaya pemeriksaan dokter. Dari hasil penelitian, ratarata waktu yang dibutuhkan untuk konsultasi pasien dengan dokter adalah 8 menit 24 detik dengan rentang waktu terendah 3 menit 31 detik dan tertinggi25menit 47 detik. Hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh WHO di Indonesia mendapatkan hasil ratarata lama konsultasi pasien dengan dokter adalah 3 menit (Quick, dkk.,1997)dan4menit(Sudjiati,2002). 7.RatarataWaktuDispensingObat Ratarata waktu dispensing obat non racikan diIFRJRSPNadalah9menit25detikperlembar resep, sedangkan ratarata waktu dispensing obat racikan di IFRJ RSPN adalah 14 menit 11 detik per lembar resep. Hasil tersebut menunjukan bahwa target waktu penyediaan obat yang ditentukan oleh manajemen IFRS RSPN dapat dipenuhi. Waktu dipensing obat baik racikan maupun non racikan relatif efisien, mengingat ratarata waktu konsultasi pasien dengan dokter adalah 8 menit 24 detik, dan kesesuaian peresepan obat sesuai formularium sebesar 85,05%. Dengan demikian, dapat dikatakan obat tersedia cukup, para petugas IFRJ telah bekerja denganbaik. 8. Persentase Obat yang benarbenar DiserahkankepadaPasien Pengukuran bertujuan untuk mengetahui kepatuhan farmasis dalam menyediakan obat yang terdapat dalam formularium rumah sakit dan pengadaan obat untuk pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase obat yang benarbenar diserahkan kepada pasien di IFRJ RSPN sebesar 95,89%. Hal itu menunjukkan bahwa sebagian besar pengadaan obat yang dilakukan di Rumah Sakit Panti Nugroho Sleman sesuai dengan formulariumnya. 9. Persentase Obat yang Telah Dilabel dengan Benar Pengukuran ketepatan pemberian label dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap label/etiket obat yang diserahkan kepadapasien.Pengamatandilakukanselama25 hari kerja, sampel adalah semua pasien rawat jalan yang tersampel pada hari tersebut. Menurut WHO (1993) komponen informasi minimal yang harus tertera didalam label obat adalah : nama pasien, nama obat, tanggal obat diserahkan, dan cara/aturan penggunaan obat, sedangkan di IFRS Panti Nugroho Sleman mensyaratkan komponen minimal yang ada dalam label obat adalah tanggal resep, nama pasien,dancara/aturanpakai. Pengamatan dilakukan pada 250 item obat yang akan diserahkan ke pasien rawat jalan di IFRJ RSPN, berdasarkan hasil pengamatan diperoleh tingkat ketepatan pemberian label sebesar 99,66%, sehingga sebagian besar sampel yang diamati telah mengandung komponen minimal yang diisyaratkan oleh IFRS Panti Nugroho Sleman. Label tersebut sudah ada formatnya dan diiisi oleh petugas IFRJ RSPN dengan tulisan tangan yang jelas dan mudah dibaca. 10.PersentasePasienyangPahamakanCara PenggunaanObatyangBenar Sampel yang digunakan dalam pengamatan adalah 250 pasien rawat jalan, data didapat setelah dilakukan wawancara dengan pasien setelah pasien menebus obat dari IFRJ. Wawancara yang harus dilakukan menurut WHO (1993) meliputi kapan dan berapakah dosis yang harus diminum oleh pasien untuk tiap item obat yang diperoleh. Komponen informasi yang diberikan oleh petugas IFRJ RSPN meliputi nama obat, tujuan penggunaan, cara penggunaan, dan aturan pakai. Setelah dilakukan pengamatan didapatkan hasil bahwa persentase pasien yang paham akan cara penggunaan obat yang benar adalah sebesar 90,00%, hal itu menunjukan bahwa sebagian besar pasien dapat mengulang dengan tepat dan benar informasi yang diberikan oleh petugas IFRS. 11.KetersediaanFormularium Rumah Sakit Panti Nugroho Sleman memiliki tiga formularium yang digunakan sebagai dasar peresepan dan penyediaan obat di rumah sakit, yaitu: Formularium Umum RSPN (2006), Formularium Obat Karyawan (2008), dan DPHO ASKES (2008). Formularium Umum RSPN dibuat oleh PFT RSPN dan direvisi setiap dua tahun sekali, ditujukan untuk pelayanan pasien RSPN baik pasien rawat inap maupun pasien rawat jalan. Formularium Obat Karyawan Yayasan Panti Rapih dibuat oleh PFT Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta, karena Rumah Sakit Panti Nugroho berada dibawah Yayasan Panti Rapih yang berkantor pusat di Rumah 27

Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi Vol. 1 No. 1, Maret 2011 Sakit Panti Rapih Sleman,maka status karyawan RSPN juga merupakan karyawan Yayasan Panti Rapih, sehingga Fomularium Obat Karyawan yang digunakan disamakan. DPHO ASKES merupakan formularium khusus untuk pasien ASKES baik ASKES Sosial maupun ASKES Komersial, dibuat dan diterbitkan oleh PT. ASKES (Persero), direvisi setiap tahun sekali, pada penelitian yang bersangkutan digunakan DPHOASKESEdisiXXVIItahun2008. 12.PersentaseKetersediaanObatobatKunci Penelitian bertujuan untuk mengukur ketersediaanobatobatkunci(drugofchoice)yang digunakan sebagai pilihan utama untuk mengatasi 10 penyakit terbanyak yang terdiagnosis pada pasien rawat jalan RSPN periode 2008, sesuai dengan Standar Pelayanan Medis di RSPN Sleman. Dari hasil penelitian yang didapat dan disajikan pada tabel 12, dapat dinyatakan bahwa tingkat ketersediaan obat obat kunci di RSPN mencapai 100%. Hal itu menunjukan bahwa tingkat kepedulian farmasis dalam memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakatbanyakrelatifsangattinggi. 13.KeterjaringanPasien Hasil penelitian yang bersangkutan selain dapat mengetahui hasil analisis penggunaan obat di RSPN, juga dapat digunakan untuk mengetahui tingkat keterjaringan pasien. Hal itu didapat dengan cara membandingkan jumlah sampel pasien rawat jalan yang memeriksakan diri di Poliklinik RSPN dengan jumlah pasien rawat jalan yang telah tersampel yang menebus obat di IFRJ RSPN. Dari hasil pengamatan didapat seluruh sampel pasien rawat jalan yang memeriksakan diri di Poliklinik RSPN menebus obatnyadiIFRJRSPN,atautingkatketerjaringan pasien rawat jalan RSPN periode Oktober 2008 adalah 100%. Hal itu dikarenakan penerapan sistem pembayaran terpadu yaitu pasien dalam membayar nota pemeriksaan dan resep yang akan ditebus harus melalui IFRJ, sehingga mendorong kecenderungan pasien untuk sekaligus menebus resepnya di IFRJ, yang merupakan salah satu bentuk penerapan kebijakan Pelayanan Farmasi Satu Pintu yaitu : satu kebijakan, satu standard operating procedure (SOP), satu sistem pengawasan operasional, dan satusisteminformasi. KESIMPULAN 1. Ratarata jumlah R/ yang diresepkan per lembar pada pasien rawat jalan Rumah Sakit Panti Nugroho Sleman adalah sebanyak 2,44 item, relatif lebih besar bila dibandingkan dengan indikator WHO (1993) sebesar 1,82,2 itemobatperlembarresep. 2. Persentase peresepan obat dengan nama generik pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Panti Nugroho Sleman adalah 27,92%, relatiflebihrendahbiladibandingkandengan indikatorWHO(1993)>82%. 3. Persentase peresepan antibiotik pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Panti Nugroho Sleman adalah 15,27%, relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan indikator WHO (1993)<22,70%. 4. Persentase peresepan sediaan injeksi pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Panti NugrohoSlemanadalah0,33%. 5. Persentase peresepan obat sesuai formularium rumah sakit pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Panti Nugroho Sleman adalah85,05%. 6. Ratarata waktu konsultasi pasien dengan dokter pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Panti Nugroho Sleman adalah 8 menit 24detik. 7. Ratarata waktu dispensing obat non racikan pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Panti NugrohoSlemanadalah9menit25detik. 8. Ratarata waktu dispensing obat racikan pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Panti NugrohoSlemanadalah14menit11detik. 9. Persentase obat yang benarbenar diserahkan kepada pasien pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Panti Nugroho Sleman adalah 95,89%. 10.Persentase obat yang telah dilabel dengan benarpadapasienrawatjalandiRumahSakit PantiNugrohoSlemanadalah99,66%. 11.Persentase pasien yang paham akan cara penggunaan obat yang benar pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Panti Nugroho Slemanadalah90,00%. 12.Ketersediaan Formularium Rumah Sakit PantiNugrohoSlemanadalahtersedia,antara lain Formularium Umum RSPN (2006), Formularium Obat Karyawan (2008), dan DPHOASKES(2008). 13.Persentase ketersediaan obatobat kunci pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Panti NugrohoSlemanadalah100%. 28

Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi Vol. 1 No. 1, Maret 2011 DAFTARPUSTAKA Anonim, 1993, How to Investigate Drugs Use in Health Facilities (selected drug use indicators), 12 14,WorldHealthOrganization,Geneva Anonim, 2006b, Formularium Rumah Sakit Panti Nugroho Sleman, Rumah Sakit Panti Nugroho, Yogyakarta. Anonim, 2008a, Formularium Obat Karyawan Rumah Sakit Panti Rapih, Edisi IV, Rumah SakitPantiRapih,Yogyakarta Anonim, 2008b, Daftar dan Plafon Harga Obat (DPHO) Bagi peserta ASKES sosial dan ASKES komersial, Edisi XXVII, PT. ASKES (Persero), Jakarta. Quick, J.D., Rankin, J.R., Laing, R.O., OConnor, R.W., Hogerzeil, H.V., Dukes, M.N.G., Garnett, A., 1997, Managing Drug Supply, Second Edition, Revised Expanded, 422 496,565,KumarinPress,WestHartfor Sudjiati, A., 2002, Kerasionalan Penggunaan ObatPasienRwatJalandanPengelolaanObat di rumah Sakit Umum Muntuilan Kabupaten Magelang (Kajian Khusus Pada Poliklinik Spesialis Anak), Tesis, 4045, Program Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

29