Anda di halaman 1dari 21

ETIKA BISNIS

JOKI SKRIPSI

OLEH :
KELOMPOK 6
SAFITRIH

A 211 11 255

SRI FATIMAH RAHMATILLAH

A 211 11 901

A. NABILA MUTIASARI T YUNUS

A 211 11 903

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaykum Warahmatullah Wabarakatu


Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas Rahmat dan Hidayah-Nya
sehingga makalah kami dapat terselesaikan dengan baik.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak/ Ibu Dosen yang telah membimbing
kami dan juga kepada semua pihak yang membantu terselesainya makalah ini. Harapan kami
semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca,
sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat
lebih baik.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang masih
kurang. Oleh karena itu, kami harapkan kepada pembaca untuk memberikan kritik dan saran
yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Terima kasih.

Makassar, 10 Maret 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................................ i


KATA PENGANTAR ..............................................................................................................
ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................... 12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................................................
3-8
BAB III PEMBAHASAN ...................................................................................................... 813
BAB IV PENUTUP ............................................................................................................... 14
DAFTAR
PUSTAKA ...............................................................................................................15

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berdasarkan definisi awam yang dirumuskan, skripsi mengandung komponen
pengertian berikut : karya tulis ilmiah hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa
berkualifikasi sarjana (Rahyono FX, 2010:23). Skripsi merupakan syarat seorang mahasiswa
menyelesaikan pendidikan sarjananya dengan tujuan agar mahasiswa mampu menyusun dan
menulis suatu karya ilmiah, sesuai dengan bidang ilmunya. Mahasiswa yang mampu menulis
skripsi dianggap mampu memadukan pengetahuan dan keterampilannya dalam memahami,
menganalisis, menggambarkan dan menjelaskan masalah yang berhubungan dengan bidang
keilmuan yang diambilnya. Skripsi merupakannpersyaratan untuk mendapatkan status sarjana
(S1) di setiap Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang
ada di Indonesia. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, skripsi diartikan sebagai suatu
karangan ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis.
Permasalahan mulai muncul ketika mahasiswa merasa tidak cukup mampu untuk
menyelesaikan

tugas

penulisan

skripsi.

inilah

yang

membuat

beberapa

pihak

memanfaatkan kesempatan untuk sekedar membuka jasa pengetikan ataupun melayani


pengolahan data. Selain itu muncul juga jasa pembuatan skripsi yang semakin bertebaran dan
mudah untuk ditemui. Jika dahulu mungkin dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, dan
informasi di sebarkan dari mulut ke mulut, maka saat ini jasa penulisan skripsi dengan mudah
diakses oleh mahasiswa melalui internet. Hanya dengan memasukkan kata kunci konsultasi
skripsi dengan mesin pencari, hasilnya adalah 23.400 file pada www.yahoo.com, 90.300 file
pada www.google.com. Bahkan para penyedia jasa pembuatan skripsi tidak segan untuk
menempel

iklan

di

beberapa

tempat

misalnya

dinding atau pohon di sekitar kampus. Jasa seperti ini seolah-olah dilegalkan, karena tidak
pernah terdengar ada yang biro jasa skripsi yang dimeja hijaukan. Fenomena joki skripsi
hadir karena adanya permintaan dan penawaran. Sistem yang dibangun dunia pendidikan
ternyata memuat kekuatan-kekuatan pasar yang terbilang anomin (Wahono, 2001:4-9).
Ada berbagai alasan mengapa joki skripsi menjadi hal yang makin marak dan jasa ini

diminati oleh mahasiswa tingkat akhir. Menurut seorang Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan
(FIP) Unnes, ada tiga variabel yang menyebabkan maraknya bisnis joki skripsi. Yakni kultur
akademik yang rendah, adanya pelaku pasar (para joki), serta regulasi yang tidak jelas.
Regulasi pemerintah juga menjadi problem tersendiri. Pemerintah memaksakan agar
kuantitas lulusan perguruan tinggi meningkat. Program itu ditangkap secara jeli oleh
perguruan tinggi dengan menyelenggarakan perkuliahan "instan", model ekstensi atau
semester pendek. Alhasil, perguruan tinggi menjadi produsen sarjana berkualitas fast food.
Program perkuliahan ekstensi banyak dinilai menjadi salah satu faktor mengapa joki skripsi
tetap berjaya di tengah-tengah masyarakat. Bisnis joki skripsi ini kian menyeruak saat
perguruan tinggi ramai-ramai membuka program ekstensi. (Suara Merdeka, 14 April 2005,
hal 10).
Alasan lain mengapa joki skripsi kian marak juga tidak lepas dari dosen pembimbing
yang kurang maksimal dalam memberikan pelayanan pada mahasiswa. Ketika pembimbing
itu overload, punya kesibukan yang banyak di luar kegiatan belajar-mengajar maka ada
kecenderungan di dalam menyikapi tugas pembimbingan hanya sebagai rutinitas yang harus
dia lakukan. Akhirnya, dosen-dosen pembimbing akan cenderung untuk kemudian menjadi
stereotipik. (Edhi Martono, 2009).

B. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah menganalisis etis atau tidaknya bisnis jasa
pembuatan/ penulisan skripsi di kalangan mahasiswa.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pendidikan dan Perguruan Tinggi


Dalam perspektif teoritik, pendidikan seringkali diartikan dan dimaknai orang secara

beragam, bergantung pada sudut pandang masing-masing dan teori yang dipegangnya.
Terjadinya perbedaan penafsiran pendidikan dalam konteks akademik merupakan sesuatu
yang lumrah, bahkan dapat semakin memperkaya khazanah berfikir manusia dan bermanfaat
untuk pengembangan teori itu sendiri. Tetapi untuk kepentingan kebijakan nasional,
seyogyanya pendidikan dapat dirumuskan secara jelas dan mudah dipahami oleh semua
pihak yang terkait dengan pendidikan, sehingga setiap orang dapat mengimplementasikan
secara tepat dan benar dalam setiap praktik pendidikan.
Untuk mengetahui definisi pendidikan dalam perspektif kebijakan, kita telah memiliki
rumusan formal dan operasional, sebagaimana termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003
tentang SISDIKNAS, yakni:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Berdasarkan definisi di atas, terdapat 3 (tiga) pokok pikiran utama yang terkandung di
dalamnya, yaitu: (1) usaha sadar dan terencana; (2) mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya; dan (3) memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Di bawah ini akan
dipaparkan secara singkat ketiga pokok pikiran tersebut.
1. Usaha sadar dan terencana

Pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana menunjukkan bahwa pendidikan adalah
sebuah proses yang disengaja dan dipikirkan secara matang (proses kerja intelektual).
Oleh karena itu, di setiap level manapun, kegiatan pendidikan harus disadari dan
direncanakan, baik dalam tataran nasional (makroskopik), regional/provinsi dan
kabupaten

kota

(messoskopik),

institusional/sekolah

(mikroskopik)

maupun

operasional (proses pembelajaran oleh guru).


2. Mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif

mengembangkan potensi dirinya

Pada pokok pikiran yang kedua ini, terlihat adanya pengerucutan istilah pendidikan
menjadi pembelajaran. Jika dilihat secara sepintas mungkin seolah-olah pendidikan
lebih dimaknai dalam setting pendidikan formal semata (persekolahan). Terlepas dari
benar-tidaknya pengerucutan makna ini, pada pokok pikiran kedua ini, saya
menangkap pesan bahwa pendidikan yang dikehendaki adalah pendidikan yang
bercorak

pengembangan

(developmental)

dan

humanis,

yaitu

berusaha

mengembangkan segenap potensi didik, bukan bercorak pembentukan yang bergaya


behavioristik. Selain itu, saya juga melihat ada dua kegiatan (operasi) utama dalam
pendidikan: (a) mewujudkan

suasana

belajar, dan (b) mewujudkan

proses

pembelajaran.
3. Memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,

akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara
Pokok pikiran yang ketiga ini, selain merupakan bagian dari definisi pendidikan
sekaligus menggambarkan pula tujuan pendidikan nasional kita , yang menurut
hemat saya sudah demikian lengkap. Di sana tertera tujuan yang berdimensi keTuhan-an, pribadi, dan sosial. Artinya, pendidikan yang dikehendaki bukanlah
pendidikan sekuler, bukan pendidikan individualistik, dan bukan pula pendidikan
sosialistik, tetapi pendidikan yang mencari keseimbangan diantara ketiga dimensi
tersebut. Jika belakangan ini gencar disosialisasikan pendidikan karakter, dengan
melihat pokok pikiran yang ketiga dari definisi pendidikan ini maka sesungguhnya
pendidikan karakter sudah implisit dalam pendidikan, jadi bukanlah sesuatu yang
baru.
Berdasarkan uraian di atas, kita melihat bahwa dalam definisi pendidikan yang tertuang
dalam UU No. 20 Tahun 2003, tampaknya tidak hanya sekedar menggambarkan apa
pendidikan itu, tetapi memiliki makna dan implikasi yang luas tentang siapa sesunguhnya
pendidik itu, siapa peserta didik (siswa) itu, bagaimana seharusnya mendidik, dan apa yang
ingin dicapai oleh pendidikan.
Perguruan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang diselenggarakan
untuk mempersiapkan peserta didik untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kemampuan akademis dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan

menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian (UU 2 tahun 1989, pasal 16, ayat
(1)). Pendidikan tinggi adalah pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dari pada
pendidikan menegah di jalur pendidikan sekolah (PP 30 Tahun 1990, pasal 1 Ayat 1).
Tujuan pendidikan tinggi adalah :
1. Mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kemampuan akademik dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan
menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.
2. Mengembangkan dan menyebar luaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian
serta mengoptimalkan penggunaannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat
dan memperkaya kebudayaan nasional ( UU 2 tahun 1989, Pasal 16, Ayat (1) ; PP 30
Tahun 1990, Pasal 2, Ayat (1) ).

B. Asal Mula Skripsi


Menurut Fuad Hassan (2006), sejarah skripsi dapat dilacak dari metode perkuliahan
universitas di Paris pada abad ke-12. Perkuliahan terdiri studium generale, yaitu pagi hari
untuk lectiones (lectures, kuliah yang diberikan para pengajar) dan petang harinya
disputationes (discourses, pembahasan antara pengajar dengan para mahasiswa). Berdasar
studium generale timbul permasalahan yang dirumuskan sebagai questiones (permasalahan
yang perlu dibahas dan diselesaikan bersama). Untuk dapat lulus kuliah, mahasiswa
diwajibkan menyelesaikan scriptum (skripsi, tulisan). Untuk itu, universitas membangun
scriptorium, ruangan khusus untuk menyusun skripsi. Studium generale dan scriptum
ditegakkan serta dilembagakan sebagai gerak, identitas, tradisi, dan menjadi esensi pengertian
akademis kampus. Menurut Robert K. Merton, dalam Ignas Kleden (1987), dengan etos
tersebut -- yaitu universalisme, komunalitas, ketakpamrihan, dan skeptisisme teratur-- Inggris
pada abad ke-17 menjadi wilayah yang sangat subur untuk tumbuh dan berkembangnya ilmu
pengetahuan.
Dalam sejarah pendidikan tinggi di Indonesia, kebijakan penulisan skripsi berubah
dengan terbitnya PP No. 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi, terutama Pasal 16 (1)
bahwa Ujian akhir program studi suatu program sarjana dapat terdiri atas ujian

komprehensif, atau ujian karya tulis, atau ujian skripsi. Pasal tersebut menggantikan Pasal
16 dalam PP No. 30 Tahun 1990, yang mensyaratkan ujian skripsi untuk memperoleh gelar
sarjana. Secara de jure, PP No. 60 Tahun 1999 tersebut sudah tidak berlaku karena UU No. 2
Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang dirujuk sudah diganti dengan UU No.
20 Tahun 2003. Tetapi de facto, dampak pemberlakuan PP tersebut dianggap menyurutkan
kewajiban kampus untuk menyelenggarakan layanan penulisan skripsi. UU No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tidak mewajibkan skripsi sebagai satu-satunya
persyaratan kelulusan untuk mendapatkan gelar akademik, profesi, atau vokasi.

C. Jasa Skripsi
Jasa skripsi merupakan jasa dibidang pengolahan data yang bergerak dengan tujuan
membantu para mahasiswa S1 semester akhir dalam penyelesaian tugas skripsi mereka.
Banyak pro dan kontra dengan adanya jasa pembuatan skripsi ini. Setuju karena jasa
pembuatan skripsi bisa membantu, mempercepat dan mempermudah dalam proses pembuatan
skripsi. Ada yang tidak setuju karena bisnis ini ilegal dalam hal membuatkan skripsi
mahasiswa, membuat mahasiswa berbohong dengan mengatasnamakan karya yang dihasilkan
sebagai karyanya sendiri. Memang dari banyaknya jasa pembuatan skripsi tidak menampik
kemungkinan bahwa ada beberapa bisnis yang bergerak secara ilegal seperti dengan
membuatkan skripsi tanpa campur tangan mahasiswa itu. Bagi orang biasa-biasa memaknai
jasa pembuatan skripsi sebagai penghasil gelar S1 secara instan.
Beberapa jasa skripsi ini hanya menekankan sebagai usaha yang menjadi konsultan di
luar lingkungan kampus. Kegiatan konsultasi sangat diperlukan oleh mahasiswa. Sedangkan
waktu untuk berkonsultasi dengan dosen pembimbing dirasa sangat kurang karena biasanya
proses konsultasi hanya dilakukan kurang lebih sekali selama satu minggu. Namun, banyak
pula yang memanfaatkan peluang ini sebagai usaha yang tidak hanya bergerak sebagai badan
konsultasi, tetapi secara penuh berperan sebagai pembuat skripsi tanpa campur tangan
mahasiswa, didukung oleh beberapa faktor internal dari pengguna jasa (mahasiswa) yang
cenderung lebih memilih untuk menyerahkan sepenuhnya pembuatan skripsi kepada ahlinya.
Bahkan, telah menjadi rahasia umum bahwa tersedia jasa pembuatan skripsi bagi mereka
yang menginginkan hasil yang cepat dan tepat.
Para penyedia layanan skripsi ini rata-rata mampu mengerjakan skripsi para kliennya

selama kurang dari satu semester, apabila semakin sering melakukan bimbingan, maka
semakin cepat proses penyelesaian skripsi tersebut. Jaminan ini yang menjadi titik kunci
kepuasan para pengguna jasa joki skripsi. Penyedia jasa layanan bimbingan atau pembuatan
skripsi menerima berbagi bidang dalam pengerjaan skripsi, hanya saja tarif yang
ditawarkanpun beragam tergantung tingkat kesulitan, bidang hukum berbeda tarif dengan
bidang teknik, begitu juga penelitian kualitatif akan berbeda dengan kuantitatif. Joki skripsi
memberikan garansi mulai dari dari pemilihan judul, revisi tiap bab, bahkan hingga revisi
setelah ujian skripsi. Pengarahan juga diberikan sebelum klien menghadapi sidang supaya
klien benar-benar mempersiapkan diri untuk menghadapi sidang.
Berdasarkan kondisi tersebut, penulis mengacu pada teori Cashflow Quadrant dari
Robert T. Kiyosaki (2003) untuk menganalisis pola produksi penulisan skripsi yang
dilakukan BBS untuk melayani permintaan mahasiswa sebagai pengguna jasa. Penerapan
pola produksi BBS ini diharapkan mampu menguak pola produksi penulisan skripsi. Teori
Cashflow Quadrant mengajukan bahwa terdapat empat tipe orang bekerja (atau berproduksi),
yaitu Tipe E (Employee), tipe S (Self-employee), tipe I (Investor), dan tipe B (Business
owner). Keterhubungan antar layanan BBS dan mahasiswa sebagai pengguna jasa menurut
teori Cashflow Quadrant disajikan dalam matriks berikut.
E (Employee)

B (Business owner)

Jika BBS bekerja penuh, maka

Jika BBS memiliki sistem dan orang

mahasiswa bekerja sebagai

untuk membantu penulisan skripsi,

pengguna jasa penulisan skripsi.

maka mahasiswa menjadi patner.

S (Self-employee)
Jika BBS mengerjakan dengan

I (Investor)

caranya sendiri, maka mahasiswa

Uang bekerja untuk mahasiswa

bekerja sebagai pembeli skripsi.

D. Teori Etika Bisnis yang Mendukung


Utilitarianisme adalah suatu teori dari segi etika normatif yang menyatakan bahwa

suatu tindakan yang patut adalah yang memaksimalkan penggunaan (utility), biasanya
didefinisikan

sebagai

memaksimalkan

kebahagiaan

dan

mengurangi

penderitaan.

"Utilitarianisme" berasal dari kata Latin utilis, yang berarti berguna, bermanfaat, berfaedah,
atau menguntungkan. Istilah ini juga sering disebut sebagai teori kebahagiaan terbesar (the
greatest happiness theory). Utilitarianisme sebagai teori sistematis pertama kali dipaparkan
oleh Jeremy Benthamdan muridnya, John Stuart Mill. Utilitarianisme merupakan suatu
paham etis yang berpendapat bahwa yang baik adalah yang berguna, berfaedah, dan
menguntungkan. Sebaliknya, yang jahat atau buruk adalah yang tak bermanfaat, tak
berfaedah, dan merugikan. Karena itu, baik buruknya perilaku dan perbuatan ditetapkan dari
segi berguna, berfaedah, dan menguntungkan atau tidak. Dari prinsip ini, tersusunlah teori
tujuan perbuatan.
Menurut kaum utilitarianisme, tujuan perbuatan sekurang-kurangnya menghindari
atau mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh perbuatan yang dilakukan, baik bagi diri
sendiri ataupun orang lain. Adapun maksimalnya adalah dengan memperbesar kegunaan,
manfaat, dan keuntungan yang dihasilkan oleh perbuatan yang akan dilakukan. Perbuatan
harus diusahakan agar mendatangkan kebahagiaan daripada penderitaan, manfaat daripada
kesia-siaan, keuntungan daripada kerugian, bagi sebagian besar orang. Dengan demikian,
perbuatan manusia baik secara etis dan membawa dampak sebaik-baiknya bagi diri sendiri
dan orang lain. Beberapa ajaran pokok dari teori tersebut adalah :
1. Seseorang hendaknya bertindak sedemikian rupa, sehingga memajukan kebahagiaan
(kesenangan) terbesar dari sejumlah besar orang.
2. Tindakan secara moral dapat dibenarkan jika ia menghasilkan lebih banyak kebaikan

daripada kejahatan, dibandingkan tindakan yang mungkin diambil dalam situasi dan
kondisi yang sama.
3. Secara umum, harkat atau nilai moral tindakan dinilai menurut kebaikan dan

keburukan akibatnya.
4. Ajaran bahwa prinsip kegunaan terbesar hendaknya menjadi kriteria dalam perkara
etis. Kriteria itu harus diterapkan pada konsekuensi-konsekuensi yang timbul dari
keputusan-keputusan etis.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Studi Kasus
Dalam pemikiran beberapa mahasiswa, skripsi tidak lain hanyalah tumpukan buku,
penelitian, karya ilmiah, pusing, stres, frustrasi, bahkan depresi. Itu mungkin beberapa hal
yang terbayang dan tentunya harus dihadapi oleh para mahasiswa tingkat akhir, khususnya
yang mengambil jalur skripsi. Bagi kebanyakan mahasiswa, skripsi memang seringkali
dipandang sebagai momok menakutkan. Oleh sebab itulah, proses pembuatan skripsi
cenderung memakan waktu yang cukup lama, bisa 1 hingga 2 tahun atau bahkan lebih,
sehingga pihak kampus harus memberi ancaman drop out (DO) untuk memacu mahasiswa
mengerjakan skripsinya dengan segera.
Benarkah skripsi menakutkan? Sepertinya tidak lagi, karena saat ini banyak penyedia
jasa pembuatan skripsi mulai dari yang biasa hingga profesional. Jasa pembuatan skripsi ini
dinilai sangat membantu para mahasiswa dalam mengerjakan tugas akhirnya. Keberadaan
jasa pembuatan skripsi ini memperoleh sambutan positif, terutama bagi orang-orang yang
membutuhkannya, siapa lagi jika bukan para mahasiswa tingkat akhir baik jenjang S1, S2,
bahkan S3.
Jasa pembuatan skripsi sebenarnya bukan merupakan sektor bisnis baru. Jasa seperti
ini telah ada sejak tahun 1990-an, hanya saja pemainnya memang belum terlalu banyak.
Seiring dengan banyaknya peluang dan meningkatnya permintaan, jasa pembuatan skripsi
semakin berkembang. Kini, jasa pembuatan skripsi dapat dengan mudah ditemukan hampir di
setiap kota di Indonesia. Dulu, praktik pembuatan skripsi masih dilakukan secara sembunyisembunyi. Artinya, teknik promosi dan pemasarannya hanya dilakukan melalui word of
mouth (dari mulut ke mulut). Namun kini, bisnis jasa pembuatan skripsi mulai dilakukan
secara lebih terbuka. Para pelaku bisnis ini bahkan tidak malu-malu lagi untuk
mempromosikan jasanya baik melalui iklan baris di media cetak maupun beriklan bahkan
membuat blog atau website khusus di internet.
Jasa pembuatan skripsi dinilai sebagai bisnis menggiurkan, karena tidak

membutuhkan banyak modal tetapi mampu menghasilkan revenue yang cukup besar.
Bayangkan saja, sebuah skripsi lengkap dihargai antara 1,5 hingga 3 juta, tergantung pada
tingkat kesulitannya. Jika dalam satu bulan bisa melayani 10 klien, maka pendapatan yang
diperoleh bisa mencapai 15 hingga 30 juta.
Kemudian, siapa saja pemain bisnis jasa pembuatan skripsi ini? Banyak, baik yang
bersifat perorangan maupun lembaga. Pada umumnya para pemain bisnis ini berkedok
sebagai konsultan atau pengolah data statistik. Jenis jasa yang ditawarkan juga beragam
mulai dari melayani pengolahan data statistik saja hingga membuat skripsi secara utuh.
Bahkan yang mencengangkan, ada oknum dosen yang juga menjalankan praktik jasa
pembuatan skripsi ini, tentunya secara sembunyi-sembunyi. Sasarannya tidak lain dan tidak
bukan adalah mahasiswanya sendiri. Praktik jasa pembuatan skripsi ini ada yang dilakukan
secara serampangan (asal jadi) dan ada pula yang profesional. Profesional yang dimaksudkan
adalah penyedia jasa memiliki kantor resmi dan tim kerja yang profesional.
Maraknya praktik jasa pembuatan skripsi menciptakan simbiosis mutualisme antara
penyedia jasa dengan mahasiswa. Penyedia jasa memperoleh manfaat ekonomis, sedangkan
mahasiswa memperoleh manfaat akademis. Namun, di tengah-tengah maraknya bisnis
tersebut muncul tuduhan bahwa jasa pembuatan skripsi menjadi lubang hitam dalam dunia
pendidikan. Benarkah demikian?
Selain adanya demand dan supply, berkembangnya jasa pembuatan skripsi tidak lepas
dari sistem pendidikan di Indonesia yang lebih menitikberatkan pada hasil akhir (output),
bukan pada proses. Oleh sebab itulah, tidak sedikit mahasiswa yang mengambil jalan pintas
untuk sesegera mungkin terlepas dari belenggu skripsi, yakni dengan memanfaatkan jasa
pembuatan skripsi.
Sebenarnya bagaimana praktik jasa pembuatan skripsi ini berlangsung? Pada
umumnya penyedia jasa ini bukanlah orang sembarangan, artinya dari kalangan
berpendidikan yakni lulusan sarjana S1 bahkan S2. Melihat peluang besar berkaitan dengan
kesulitan mahasiswa dalam membuat skripsi, maka terjunlah mereka di bidang jasa ini.
Celakanya, mereka cenderung lebih mengutamakan sisi materi atau finansial daripada
tanggung jawab secara moral atas profesi yang digelutinya. Oleh sebab itulah bermunculan
jasa pembuatan skripsi abal-abal, karena skripsi yang dihasilkan diragukan kualitasnya,
karena mahasiswa yang bersangkutan tidak dilibatkan dalam proses pembuatannya, tetapi
bisa langsung memperoleh hasilnya sesuai dengan waktu yang disepakati bersama dan cukup

banyak penyedia jasa pembuatan skripsi yang memainkan bisnisnya seperti ini.
Bagaimana dengan jasa pembuatan skripsi yang berkedok dengan istilah konsultan?
Konsultan pada prinsipnya merupakan seorang ahli yang mampu memberikan petunjuk,
arahan, pertimbangan, dan nasihat dalam suatu kegiatan. Selain itu, konsultan juga mampu
memberikan solusi atau jalan keluar atas permasalahan yang dihadapi oleh kliennya. Jika
istilah konsultan hanya digunakan sebagai kedok dan tidak dipraktikkan sebagaimana
mestinya, maka praktik jasa tersebut memang termasuk dalam kecurangan. Pemahaman dan
penilaian akan berbeda apabila penggunaan kedok konsultan benar-benar diterapkan. Artinya
penyedia jasa pembuatan skripsi bertindak sebagai seorang konsultan yang benar-benar
memiliki keahlian dalam memberikan petunjuk, arahan, dan juga nasihat berkenaan dengan
kesulitan mahasiswa dalam membuat skripsi.
Kehadiran konsultan skripsi sebenarnya memang dibutuhkan. Tidak sedikit
mahasiswa yang frustrasi bahkan depresi karena kesulitan dalam mengerjakan skripsinya.
Banyak alasan yang mendasari mahasiswa membutuhkan jasa seorang konsultan skripsi, di
antaranya benar-benar kesulitan, tidak memiliki waktu yang cukup karena sibuk bekerja atau
beraktivitas baik di dalam maupun di luar kampus, ataupun karena malas. Peran konsultan
skripsi di sini tentunya membantu mahasiswa berpikir menemukan ide atau gagasan,
mengubah kerangka berpikir mahasiswa agar lebih fokus dan mampu menemukan benang
merah pada skripsinya, dan lain sebagainya.
Seorang konsultan skripsi tidak membuatkan skripsi berdasarkan pesanan mahasiswa,
tetapi lebih pada mengarahkan mahasiswa sehingga mampu menemukan jalan yang mudah
dalam mengerjakan skripsinya. Di sini, mahasiswa dilibatkan secara penuh dalam setiap
proses pembuatan skripsi mulai dari merumuskan judul, menyusun proposal, membuat
kuesioner atau alat penelitian lainnya, melakukan penelitian langsung, mengolah dan
mengintepretasi data penelitian, hingga menarik kesimpulan. Proses konsultasi tersebut terus
berjalan hingga mahasiswa benar-benar siap untuk mempertanggungjawabkan hasil
karyanya. Jadi, proses pembuatan skripsi ini membutuhkan waktu yang tidak singkat, bisa
mencapai 6 bulan bahkan 1 tahun. Lama tidaknya proses konsultasi skripsi tersebut
tergantung pada keseriusan mahasiswa itu sendiri dan juga respon dari dosen pembimbing.
Jika dosen pembimbing mampu memberikan respon cepat atas setiap bab yang diajukan dan
mahasiswa yang bersangkutan juga cepat merevisi, maka proses konsultasi skripsi bisa
berjalan lebih cepat.

Seorang konsultan skripsi yang profesional dan bersih dari praktik kecurangan tidak
akan memanipulasi data. Pengambilan data harus dilakukan oleh mahasiswa sendiri dengan
melaksanakan penelitian langsung di lapangan. Jika data yang diperoleh ternyata kurang baik
hasilnya setelah diolah, maka perlu dilakukan pengambilan data ulang. Alasannya, agar
mahasiswa bisa menjelaskan dan mempertanggungjawabkan penelitiannya secara ilmiah pada
saat pendadaran.
Bisnis ini cenderung dianggap biasa seperti halnya bisnis jasa lainnya. Meskipun
jelas-jelas terjadi penyimpangan yang mencederai sistem pendidikan dan kualitas suatu karya
ilmiah, namun sayangnya tidak ada pasal yang bisa menjerat penyedia jasa pembuatan skripsi
ini untuk diajukan ke meja hijau. Hal ini disebabkan belum adanya aturan tegas bahkan
hukum perundang-undangan yang mengatur tentang praktik jasa pembuatan skripsi yang
menyimpang dari kaidah-kaidah pendidikan. Selain itu, belum ada keseriusan dari pihak
kampus dan dosen pembimbing untuk menyelidiki praktik penyimpangan ini, setidaknya di
lingkungan kampusnya sendiri. Kondisi ini secara tidak langsung seolah melegalkan praktik
penyimpangan tersebut. Jika ada mahasiswa yang ketahuan bahwa skripsinya hasil dari jualbeli skripsi instan, maka yang akan mendapat sanksi adalah mahasiswa itu sendiri.
Sementara pihak penyedia jasa skripsi bisa melenggang bebas dengan santainya dan mencari
pelanggan baru.

B. Hasil Penelitian
Penelitian yang kami lakukan adalah menganalisis beberapa referensi artikel dan
jurnal dengan topik yang sama sebagai acuan dalam menentukan standing position. Selain itu,
juga dilakukan wawancara langsung dengan beberapa narasumber dari kalangan akademis
(dosen dan mahasiswa) untuk menguatkan standing position kami.
Berdasarkan referensi tersebut, disimpulkan bahwa jasa pembuatan skripsi merupakan
praktik bisnis yang tidak etis, baik secara moral maupun akademis. Beberapa aspek yang
diteliti, antara lain faktor yang memengaruhi berkembangnya jasa pembuatan skripsi,
karakter aktor jasa pembuatan skripsi, dan karakter pengguna jasa.
Faktor-faktor yang memengaruhi berkembangnya jasa pembuatan skripsi, misalnya
budaya kampus. Beberapa narasumber dari pengelola jasa pembuatan skripsi menyoal

tentang kebijakan dan layanan birokrasi untuk membangun budaya tulis-menulis di kampus
sebagai dasar mahasiswa untuk menulis skripsi. Ketidakbisaan dan ketidakbiasaan menulis di
kalangan mahasiswa merupakan akar masalah yang berakibat panjang. Beberapa narasumber
dari kalangan dosen, mahasiswa, dan pengelola kampus pun mengatakan demikian, bahwa
belum optimalnya layanan bimbingan penulisan skripsi di kampus, Meskipun terdapat
perbedaan sikap antar dosen dan mahasiswa dalam hal penulisan skripsi, kebijakan penulisan
skripsi, dan perlunya asisten pembimbing penulisan skripsi, keduanya sepakat pentingnya
optimalisasi bimbingan penulisan skripsi oleh dosen di kampus. Selain itu, faktor motivasi
bagi pengguna jasa, yaitu keinginan mahasiswa untuk menyelesaikan skripsi secara cepat,
mudah, dan berkualitas menjadi peluang keberadaan jasa pembuatan skripsi tersebut.
Karakter dari aktor jasa pembuatan skripsi awalnya dilihat dari identitas mereka
sebagai jasa bimbingan skripsi. Beberapa narasumber dari pengelola jasa mengatakan bahwa
untuk mereka yang bekerja sendiri, jika kewalahan karena banyaknya order atau di luar
kemampuannya akan menghubungi jaringan dari biro tersebut. Tetapi lebih banyak yang
memilih bekerja secara tim, dengan kebijakan yang berbeda antar-biro. Dengan model tim,
bisnis lebih produktif, mampu menjaga mutu, serta lebih optimal dalam layanan. Tentang
kepemilikan kantor tetap beberapa biro tersebut beserta kelengkapan izin usaha, peneliti
melakukan pengecekan-ulang di lapangan terhadap dokumen SIUP (Surat Ijin Usaha
Perdagangan) dan HO (ijin gangguan). Hasilnya adalah dokumen tidak menunjuk sektor
usaha biro pembuatan skripsi. Penerbitan SIUP sebagai layanan perizinan yang menjadi
kewenangan pemerintah kabupaten/kota hanya menyebutkan usaha rental komputer dan jasa
penerjemahan. Artinya, pengelola tidak mendaftarkan BBS sebagai sektor usaha jasa agar
diakui secara legal, yang dalam hal ini adalah Dinas Perindustrian dan Perdagangan atau
instansi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi sejenis. Beberapa narasumber juga
membenarkan bahwa biro pembuatan skripsi bukanlah pekerjaan pokok dan tidak
menjadikannya sebagai satu-satunya profesi. Dengan latar belakang pendidikan pengelola
adalah sarjana (S1), ke-7 narasumber sanggup mengerjakan semua layanan. Kesanggupan
atau kemampuan dalam hal ini dipahami sebagai masalah pengelolaan layanan.
Seluruh narasumber mengapresiasi beragamnya karakteristik mahasiswa yang
menjadi pengguna jasa. Karakteristik mahasiswa rata-rata berasal dari kelas reguler, ekstensi,
dan jarak jauh. Karakteristik semester adalah semester 6 sampai 9 atau semester tua sehingga
terancam DO (Drop Out). Pengguna jasa ini membutuhkan kecepatan dan kepastian untuk
lulus kuliah karena pertimbangan biaya. Karakteristik lain adalah yang mempunyai kesibukan
dan sudah bekerja.

C. Standing Position
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, penulis menyimpulkan bahwa praktik jasa
pembuatan skripsi cenderung melanggar etika bisnis karena bertentangan dengan peraturan
akademik yang berlaku serta berdampak buruk bagi moralitas mahasiswa.
Skripsi, bagi mahasiswa, semestinya menjadi kebanggaan tersendiri. Ia tidak hanya
menjadi tugas akhir dan jalan menuju gelar sarjana. Lebih dari itu, skripsi juga menjadi
manifestasi intelektual yang bisa menjadi ukuran sejauh mana kapasitas intelektual
seseorang. Adanya buku yang mulanya adalah skripsi, menyiratkan adanya pengakuan publik
atas daya intelektual seseorang. Ini tentu dicapai dengan tidak mudah. Tapi, jika skripsi
dibuatkan oleh orang lain, layakkah ia mendapat apresiasi dari masyarakat? Tentu
jawabannya tidak, sebaik apa pun kualitas skripsi tersebut.
Tak jarang kita temukan kenyataan bahwa mahasiswa tingkat akhir bisa mendapatkan
layanan penulisan skripsi. Tingkat layanannya pun bermacam-macam. Mulai dari yang hanya
jasa pengetikan dan penjilidan sampai dengan penyediaan data, pembuatan materi, dan
bahkan pelatihan yang disertai pemberian trik-trik bagaimana menghadapi dosen penguji.
Layanan-layanan semacam ini memang tidak dijumpai secara terang-terangan, tetapi sudah
menjadi rahasia umum bahwa layanan-layanan ini memang ada. Namun, seiring dengan
berjalannya waktu, bisnis ini menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan
eksistensinya dengan bergerak di bidang jasa pembuatan skripsi. Jasa penulisan skripsi ini,
apa pun alasannya, tentu tak bisa dibenarkan. Dalam konteks pemikiran Paulo Freire, ini bisa
disebut sebagai penindasan mereka yang kuat terhadap mereka yang lemah. Penindasan ini
terjadi atas kuasa pengetahuan seseorang secara tidak langsung.
Fenomena joki skripsi, sebagaimana diberitakan pada sebuah koran beberapa waktu lalu,
menyuguhkan fakta betapa dunia pendidikan tinggi di Indonesia telah begitu mengenaskan.
Kemudian mengapa bisnis joki terus berkembang? Sebenarnya siapa yang salah? Memang,
bertahan dan berkembangnya bisnis joki skripsi tak dapat dilepaskan dari permintaan
mahasiswa sebagai pengguna jasa. Karena ambisi ingin secepatnya lulus, seringkali seorang
mahasiswa mengambil jalan pintas dan berpikir pendek untuk memanfaatkan jasa pembuatan
skripsi. Di sisi lain, mahasiswa, dengan beragam alasan, baru bisa menyelesaikan studinya

dalam jangka waktu 5-7 tahun. Artinya, ia membutuhkan masa yang tak pendek untuk
mengunyah teori yang didapatnya karena sibuk dengan aktivitas di luar, sehingga banyak
mata kuliah yang harus diulang. Selain itu, mahasiswa sering kali berkilah bahwa dirinya
tidak hanya kuliah saja tapi juga bekerja hingga terkadang harus mengambil cuti. Meski
demikian, kami tak semata menyalahkan mahasiswa. Terdapat tiga variabel yang
menyebabkan maraknya bisnis joki skripsi, yakni kultur akademik yang belum optimal,
adanya pelaku pasar (para joki), serta regulasi yang tidak jelas.
Kombinasi antara kultur pendidikan di Indonesia yang berorientasi pada nilai akhir,
mental mahasiswa yang menginginkan hasil bagus namun dengan proses instant, lemahnya
pegawasan dari pihak kampus, biaya pendidikan yang setinggi langit, keadaan ekonomi
negara yang sulit, dan kalau boleh ditambahkan, tidak adanya peraturan tegas untuk
menghukum para joki skripsi di negara ini (karena sanksi selalu dikenakan pada pengguna).
Jangankan sanksi hukum, sanksi sosial pun nyaris tidak ada karena masyarakat terlalu
permisif dengan fenomena ini. Pada akhirnya, para pengusaha jasa pembuatan skripsi itu
memang harus diakui berotak encer karena melihat semua kombinasi itu sebagai sebuah
peluang usaha yang menguntungkan.
Banyaknya perjokian skripsi dapat dilihat dari berbagi sisi, secara sosiologis, Soekanto
pun menyebutkan bahwa maraknya perjokian skripsi merupakan salah satu budaya tanding
terhadap kultur akademik perguruan tinggi, yang muncul dalam bentuk penyimpangan atau
penyelewengan (Soekanto,1995:190-191). Penyimpangan layanan bimbingan skripsi
dianggap sebagai praktek penyelewengan di dunia akademik. Penulisan skripsi menjadi
pranata sosial yang menuntut mahasiswa untuk dapat menyelesaikannya.
Jual-beli skripsi merupakan satu di antara beragam fakta tentang komersialisasi
pendidikan di Indonesia. Tentu masyarakat pendidikan sepakat bahwa para pembuat skripsi
yang sering bertopeng biro jasa skripsi hanya akan menciptakan sarjana karbitan dan output
yang asal-asalan. Selain itu, adanya mahasiswa yang ingin dibuatkan skripsi menunjukkan
bahwa proses pendidikan yang berjalan di perguruan tinggi harus ditelaah ulang sehingga
dapat memperbaiki pembentukan dan penanaman nilai-nilai intelektual, seperti kejujuran dan
tanggungjawab pada pribadi mahasiswa.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Jasa pembuatan skripsi merupakan praktik bisnis yang tidak etis, baik secara
moral maupun akademis. Beberapa aspek yang diteliti, antara lain faktor yang
memengaruhi berkembangnya jasa pembuatan skripsi, karakter aktor jasa pembuatan
skripsi, dan karakter pengguna jasa.
Faktor-faktor yang memengaruhi berkembangnya jasa pembuatan skripsi,
misalnya budaya kampus. Beberapa narasumber dari pengelola jasa pembuatan skripsi
menyoal tentang kebijakan dan layanan birokrasi untuk membangun budaya tulismenulis di kampus sebagai dasar mahasiswa untuk menulis skripsi. Ketidakbisaan dan
ketidakbiasaan menulis di kalangan mahasiswa merupakan akar masalah yang
berakibat panjang. Beberapa narasumber dari kalangan dosen, mahasiswa, dan
pengelola kampus pun mengatakan demikian, bahwa belum optimalnya layanan
bimbingan penulisan skripsi di kampus, Meskipun terdapat perbedaan sikap antar
dosen dan mahasiswa dalam hal penulisan skripsi, kebijakan penulisan skripsi, dan
perlunya asisten pembimbing penulisan skripsi, keduanya sepakat pentingnya
optimalisasi bimbingan penulisan skripsi oleh dosen di kampus. Selain itu, faktor
motivasi bagi pengguna jasa, yaitu keinginan mahasiswa untuk menyelesaikan skripsi
secara cepat, mudah, dan berkualitas menjadi peluang keberadaan jasa pembuatan
skripsi tersebut.

B. Saran
Skripsi merupakan syarat seorang mahasiswa menyelesaikan pendidikan sarjana dengan
tujuan agar mahasiswa mampu menyusun dan menulis suatu karya ilmiah,sesuai dengan
bidang ilmunya. Permasalahan muncul ketika mahasiswa merasa tidak cukup mampu untuk
menyelesaikan tugas penulisan skripsi. Fenomena joki skripsi hadir karena adanya
permintaan dan penawaran. kultur akademik yang rendah, adanya pelaku pasar (para joki),
sertaregulasi yang tidak jelas. Regulasi pemerintah juga menjadi problem tersendiri.
Investigasi ini dapat menjadi gambaran bagi masyarakat dan dunia akademik tentang adanya
praktek joki skripsi yang mencoreng institusi pendidikan. Penelusuran fakta dalam jurnalisme
investigasi didasarkan pada keinginan wartawan untuk mengetahui. Penelusuran fakta
dilakukan untuk memaparkan kebenaran. Maraknya bisnis joki skripsi dipengaruhi pula oleh
beberapa faktor, diantaranya adalah rendahnya budaya penelitian di kalangan civitas
akademika perguruan tinggi. Maraknya jasa pembuatan skripsi di beberapa kota merupakan
tantangan serius bagi perguruan-perguruan tinggi. Joki skripsi merupakan salah satu hal yang
merusak citra pendidikan karena melahirkan sarjana yang tidak berkualitas. Mahasiswa
cenderung menggunakan jasa joki skripsi karena belum adanya sanksi yang menjerat. Sanksi
terhadap pengguna jasa joki skripsi belum ada. Investigasi ini menjadi gambaran bagi
masyarakat dan dunia akademik tentang adanya praktek joki skripsi yang mencoreng institusi
pendidikan. Hasil dari investigasi ini dapat menjadi referensi bagi orang tua, tenaga pendidik,
dan mahasiswa agar menghindari praktek perjokian skripsi untuk memperbaiki kualitas
pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

http://mjeducation.com/jasa-pembuatan-skripsi-benarkah-praktik-pelacuran-akademik/
diakses tanggal 04 Maret 2014
http://edukasi.kompasiana.com/2011/02/24/fenomena-joki-skripsi-salah-siapa-344330.html
diakses tanggal 02 Maret 2014
http://sanaky.com/wp-content/uploads/2009/02/05-hasil-penelitian-academicsunderground.pdf diakses tanggal 02 Maret 2014
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/interaksi-online/article/view/3103 diakses tanggal 02
Maret 2014
http://priyadi.net/archives/2005/11/22/perdagangan-skripsi-di-internet/ di akses tanggal 03
Maret 2014