Anda di halaman 1dari 14

Akuntansi Kliring

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb. Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat dan rahmatNyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan bahan presentasi ini. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang merupakan tauladan bagi kaum muslimin dimuka bumi ini. Walaupun berbagai macam tantangan yang dihadapi, tapi semua itu telah memberikan pengalaman yang berharga untuk dijadikan pelajaran dimasa yang akan datang. Bahan presentasi ini kami beri judulAkuntansi Kliring. Ucapan terimakasih kami haturkan kepada Dosen Pengampu Akuntansi Perbankan, Ibu Lely Shofa Imama, Lc., M.S.I yang telah membimbing kami dalam menyelesaikan makalah ini. Juga kepada semua pihak dan teman-teman khususnya kelas A, prodi PBS yang telah memberikan bantuan dan motivasi guna menyelesaikan tugas ini. Kami menyadari dalam menyelasaikan makalah ini masih banyak sekali kekurangan, maka dari itu segala kritik dan saran untuk perbaikan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Penulis

DAFTAR ISI Halaman Judul .. Kata Pengantar . Daftar Isi .. BAB I: PENDAHULUAN . A. Latar Belakang .. B. Rumusan Masalah .. C. Tujuan Penulisan BAB II: PEMBAHASAN A. Definisi Kliring.....................................................................................................

B. C. D. E. F.

Sistematika Kliring............................................................................................ Warkat/ Nota kliring.......................................................................................... Dokumen Kliring.............................................................................................. Formulir Kliring................................................................................................. Pembukuan kliring............................................................................................... BAB III: PENUTUP ......................... A. Kesimpulan ................. B. Saran ...................... Daftar ........ Pustaka

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Semakin banyaknya transaksi dagang yang melibatkan pembayaran dengan bank, mengakibatkan semakin banyaknya transaksi giral antar bank. Kelancaran pembayaran transaksi dituntut semakin mudah dan tersusun rapi dalam menyelesaian semua transaksi giral. Dalam menjalankan fungsinya, bank komersial menggunakan sarana kliring untuk memudahkan penyelesaian transaksi antar bank. Bank dapat saling memperhitungkan hutang-piutang yang terjadi akibat transaksi bisnis yang dilakukan masing-masing nasabahnya. Transaksi antara nasabah bank tersebut menggunakan alat bayar berupa cek, bilyet giro, atau surat dagang lainnya yang lazim diterima oleh bank. Kliring merupakan sarana atau cara perhitungan hutang-piutang dalam bentuk surat-surat berharga atau surat dagang dari suatu bank peserta yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia atau pihak lain yang ditunjuk. Kliring didefinisikan juga sebagai pertukaran warkat atau data keuangan elektronik antarbank baik atas nama bank maupun nasabah yang hasil perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas, bahwa tugas ini akan membahas tentang Akuntansi Kliring, hingga kami dapat merumuskan Masalah sebagai berikut: 1. Definisi Kliring 2. Sistem Kliring 3. Pembukuan Kliring,dll.
C. Tujuan Penulisan Makalah ini disusun bertujuan agar kita mengetahui, memahami dan mengerti tentang halhal yang berhubungan dengan Akuntansi Kliring. Baik dari segi definisi maupun sistematikanya dan pembukuan kliring itu sendiri.

BAB II PEMBAHASAN A. Definisi Kliring


Salah satu tugas Bank Sentral sesuai Undang-undang Nomor 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia adalah mengatur sistem kliring antar bank.Kliring merupakan suatu istilah dalam dunia bank dan keuangan, menunjukkan suatu aktivitas yang berjalan sejak saat terjadinya kesepakatan untuk suatu transaksi hingga selesainya pelaksanaan kesepakatan tersebut. Kliring sangat dibutuhkan sebab kecepatan dalam dunia perdagangan jauh lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan guna melengkapi pelaksanaan aset transaksi. Kliring melibatkan manajemen dari paska perdagangan, pra penyelesaian eksposur kredit, guna memastikan bahwa transaksi dagang terselesaikan sesuai dengan aturan pasar, walaupun pembeli maupun penjual menjadi tidak mampu melaksanakan penyelesaian kesepakatannya. Proses kliring adalah termasuk pelaporan / pemantauan, marjin risiko, netting transaksi dagang menjadi posisi tunggal, penanganan perpajakan dan penanganan kegagalan.

PSAK 31 Akuntansi Perbankan (Accounting for Bank) Untuk memenuhi kepentingan berbagai pihak, laporan keuangan bank harus disusun berdasarkan PSAK. Sebelumnya standar khusus akuntansi untuk industri perbankan ini telah dikeluarkan oleh IAI sejak 5 Juni 1992 dalam Pernyataan Prinsip Akuntansi Indonesia Akuntansi No. 7 tentang Standar Khusus Akuntansi Perbankan Indonesia (SKAPI). Kemudian seiring dengan proses harmonisasi dengan lnternationalAccounting Standards dan dalam rangka pengembangan PAI menjadi Standar Akuntansi Keuangan (SAK) maka SKAPI disesuaikan seperlunya menjadi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 31 tentang Akuntansi Perbankan pada 7 September 1994. Selanjutnya dengan semakin menyatunya ekonomi dunia yang ditandai dengan pesatnya peningkatan transaksi pasar uang maupun pasar modal yang dilakukan melalui perbankan, menuntut kembali untuk disempurnakannya PSAK 31 dengan lebih menekankan pada asas keterbukaan dan akuntabilitas. Sehingga berdampak pada lebih transparannya laporan keuangan

perusahaan khususnya para anggota kliring meski sedikit lebih rumit dari biasanya. Laporan keuangan yang mengacu pada PSAK sesuai dengan standar internasional yakni International Financial Reporting Standards (IFRS) sehingga lebih mudah dipahami investor, yang memudahkan masuknya investor ke industry perdagangan berjangka. Jenis-Jenis Kliring:
1. Kliring umum, adalah : sarana perhitungan warkat-warkat antar bank yang pelaksanaannya diatur oleh B I. 2. Kliring lokal, adalah : sarana perhitungan warkat-warkat antar bank yang berada dalam suatu wilayah kliring (wilayah yang ditentukan). 3. Kliring antar cabang, adalah : sarana perhitungan warkat antar kantor cabang suatu bank peserta yang biasanya berada dalam satu wilayah kota. Kliring ini dilakukan dengan cara mengumpulkan seluruh perhitungan dari sauatu kantor cabang untuk kantor cabang lainnya yang bersangkutan pada kantor induk yang bersangkutan.

Peserta Kliring: Bank yang termasuk sebagai peserta kliring adalah bank umum yang berada dalam wilayah kliring tertentudan tidak dihentikan kepesertaannya dalam kliring oleh Bank indonesia. Peserta kliring dapat dibedakan menjadi dua macam : Peserta langsung, yaitu : bank-bank yang sudah tercatat sebagai peserta kliring dan dapat memperhitungkan warkat atau notanya secara langsung dengan B I atau melalui PT Trans Warkat sebagai perantara dengan B I. Contoh : Bank Retail, Bank Devisa 4. Peserta tidak langsung, yaitu : bank-bank yang belum terdaftar sebagai peserta kliring akan tetapi mengikuti kegiatan kliring melaui bank yang telah terdaftar sebagai peserta kliring. Contoh : BPR

B. Sistem Kliring

Berdasarkan sistem penyelenggaraannya, kliring dapat menggunakan: 1. Sistem Manual, yaitu sistem penyelenggaraan Kliring Lokal yang dalam pelaksanaan perhitungan, pembuatan Bilyet Saldo Kliring serta pemilahan warkat dilakukan secara manual oleh setiap peserta. 2. Sistem Semi Otomatis, yaitu sistem penyelenggaraan Kliring Lokal yang dalam pelaksanaan perhitungan dan pembuatan Bilyet Saldo Kliring dilakukan secara otomasi, sedangkan pemilahan warkat dilakukan secara manual oleh setiap peserta. 3. Sistem Otomasi, yaitu sistem penyelenggaraan Kliring Lokal yang dalam pelaksanaan perhitungan dan pembuatan Bilyet Saldo Kliring dilakukan oleh penyelenggara secara otomasi.

4.

Sistem Elektronik, yaitu penyelenggaraan Kliring Lokal secara elektronik yang selanjutnya disebut kliring elektronik adalah penyelenggaraan kliring lokal yang dalam pelaksanaan perhitungan dan pembuatan Bilyet Saldo Kliring didasarkan pada Data Keuangan Elektronik yang selanjutnya disetiap DKE disertai dengan penyampaian warkat peserta kepada penyelenggara untuk diteruskan kepada peserta penerima. Mekanisme Sistem Kliring Elektronik : Secara umum mekanisme proses Kliring Elektronik adalah sebagai berikut : Mempersiapkan warkat dan dokumen kliring meliputi pemisahan warkatmenurut jenis transaksinya (warkat debet atau warkat kredit), pembubuhanstempel kliring dan pencantuman informasi MICR code line baik padawarkat maupun pada dokumen kliring Selanjutnya Bank pengirim merekam data warkat kliring ke dalam sistemTPK dengan menggunakan mesin reader encoder atau meng- input datawarkat untuk menghasilkan DKE. Mengelompokkan warkat dalam batch kemudian menyusunnya dalam bundel warkat yang terdiri dari: BPWD/BPWK; Lembar Substitusi; Kartu Batch Warkat Debet/Kredit ; Warkat Debet/Kredit Mengirimkan batch DKE secara elektronik melalui JKD ke SPKE di penyelenggara. Fisik warkat dari DKE selanjutnya dikirim ke penyelenggara untuk dipilah berdasarkan bank tertuju secara otomasidengan menggunakan mesin baca pilah berteknologiimage Peserta dapat melihat status DKE di TPK masingmasing, apakah pengiriman tersebut sukses atau gagal. SPKE akan memproses DKE yang diterima secara otomatis setelah bataswaktu transmit DKE berakhir. Selanjutnya SPKE akan mem- broadcast informasi hasil kliring kepadaseluruh TPK sehingga peserta dapat secara on-linemelihat posisi hasilkliring melalui TPK 8. Hasil perhitungan DKE tersebut (Bilyet Saldo Kliring) selanjutnyadibukukan ke rekening giro masing-masing bank di sistem Bank Indonesia

C. Warkat / Nota kliring Warkat Adalah alat pembayaran bukan tunai yang diperhitungkan atas beban atau untuk untung rekening nasabah atau bank melalui kliring. Warkat ini telah diatur dalam perundangundangan atau ketentuan lain yang berlaku yang lazim digunakan dalam transaksi pembayaran. Warkat yang dapat diperhtungkan dalam kliring otomasi adalah; 1.Cek Cek adalah cek sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang HukumDagang (KUHD) termasuk cek dividen, cek perjalanan, cek cinderamata,dan jenis cek lainnya yang penggunaannya dalam kliring disetujui oleh Bank Indonesia. 2. Bilyet Giro

Bilyet Giro adalah surat perintah dari nasabah kepada bank penyimpan dana untuk memindahbukukan sejumlah dana dari rekening yang bersangkutan kepada rekening pemegang yang disebutkan namanya termasuk Bilyet Giro Bank Indonesia. 3. Wesel Bank Untuk Transfer (WBUT) WBUT adalah wesel sebagaimana diatur dalam KUHD yang diterbitkan oleh bank khusus untuk sarana transfer. 4. Surat Bukti Penerimaan Transfer (SBPT) SBPT adalah surat bukti penerimaan transfer dari luar kota yang dapat ditagihkan kepada bank peserta penerima dana transfer melalui kliring lokal. 5. Warkat Debet Warkat Debet adalah warkat yang digunakan untuk menagih dana pada bank lain untuk untung bank atau nasabah bank yang menyampaikan warkat tersebut. Warkat debet yang dikliringkan hendaknya telah diperjanjikan dan dikonfirmasikan terlebih dahulu oleh bank yang menyampaikan warkat debet kepada bank yang akan menerima warkat debet tersebut. 6. Warkat Kredit Warkat kredit adalah warkat yang digunakan untuk menyampaikan dana pada bank lain untuk untung bank ata nasabah bank yang menerima warkat tersebut. Syarat-syarat warkat yang dapat dikliringkan : Ber valuta Rupiah Bernilai nominal penuh Telah jatuh tempo pada saat dikliringkan. Jenis jenis warkat kliring : Warkat debet keluar adalah warkat bank lain yang disetorkan oleh nasabah sendiri untuk keuntungan rekening nasabah itu tesebut. Bank penarikaan mendebit Giro BI dan mengkredit rekening giro nasabah Contoh: misalnya hilmi nasabah Bank mandiri pamekasan menerima pembayaran dari amir nasabah Bank BRI pamekasan berupa cek. Cek tersebut disetorkan oleh hilmi ke bank mandiri, maka cek tersebut dapat dikataan sebagai warkat debit keluar.

Warkat debet masuk adalah warkat yang diterima oleh suatu bank dari bank lain melalui BI atas warkat atau cek bank sendiri yang ditarik oleh nasabah sendiri dan atas beban nasabah yang bersangkutan. Bank penerima akan mendebit rakening giro nasabah dan mengkredit rekening giro BI.

Contoh : Bila bank Mandiri menerima cek dari bank BCA atas cek yang telah ditarik Ayu nasabah sendiri, maka cek tersebut merupakan warkat debet masuk bagi bank Mandiri.
5. Warkat kredit keluar, yaitu : warkat dari nasabah sendiri untuk disetorkan kepada nasabah bank lain pada bank lain. Bank yang menyerahkan warkat tersebut akan mengkreditkan rekening giro BI dan mendebet giro nasabah. 6. Warkat kredit masuk, yaitu : warkat yang diterima oleh suatu bank untuk keuntungan rekening nasabah bank tersebut. Bank yang menerima warkat tersebut akan mendebit rekening giro B I dan mengkredit giro nasabah. Warkat-warkat yag tidak dapat diperhitungkan dalam kliring: Warkkat-warkat yg blm memenuhi syarat sebagai warkat kliring. Penyetoran warkat kepada penyelenggara utk keperluan penyelesaian saldo negatif atau saldo debet. Penyetoran warkat kepada penyelenggara untu pelaksanaan transfer dalam rangka pelimpahan likuiditas dari suatu peserta kepada kantor-kantor cabangnya yang lain. 4. Penyetoran-penyetoran lain yang ditetapkkan olh bank indonesia berdasarkan kebutuhan.

D. Dokumen Kliring Dokumen kliring merupakan dokumen kontrol yang berfungsi sebagai alat bantu dalam proses perhitungan kliring ditempat penyelenggara. Proses perhitungan tersebut terdiri dari: Bukti Penyerahan Debet Kliring penyerahan (BPWD); Bukti Penyerahan Kredit Kliring penyerahan (BPWK); Kartu batch warkat debet; Kartu batch warkat kredit; Lembar substitusi.

E. Formulir Kliring Formulir kliring adalah formulir yang digunakan untuk proses perhitungan kliring lokal dengan manual meliputi: Neraca kliring penyerahan/pengembalian. gabungan formulir ini disediakan oleh penyelenggara dan digunakan oleh penyelenggara untuk menyusun rekapitulasi neraca kliring penyerahn/pengembalian.

Neraca kliring penyerahan/pengembalian. Formulir ini disediakan oleh peserta dan digunakan oleh peserta untuk menyusun neraca kliring penyerahan/pengembalian atas dasar daftar warkat kliring penyerahan/pengembalian. Bilyet saldo kliring. Formulir ini disediakan oleh peserta dan digunakan digunakan oleh peserta untuk menyusun bilyet saldo kliring berdasarkan. F. Pembukuan Transaksi Kliring Sebagai contohya: Pada saat bank ABC mendapat warkat giro dari bank omega kedua akan mencatat transaksi tersebut sebagai berikut. Pembukuan transaksi kliring ini dapat ditampung pada rekening sementara kliring Pada Bank ABC Jakarta Pada saat Tn. Badu nasabah dari Bank ABC menerima warkat dari Tn. Ali nasabah bank Omega untuk setoran bagi keuntungan, rekening giro Badu dibukukan sebagai berikut:

D : Kliring.............................................................Rp. 30.000.000 K : Giro rekening Tn Badu................................Rp. 30.000.000 D : Bank Indonesia Giro...................................Rp. 30.000.000 K : Kliring............................................................Rp. 30.000.000 Setelah diketahui hasilnya, baik biasanya pada waktu kliring kedua akan dinihilkan rekening kliring. Ayat jurnal diatas biasanya dilakukan pada akhir hari kliring. Pada Bank Omega Cabang Jakarta Pada saat menerima warkat nasabahnya sendiri (warkat giro ali) akan membebankan rekening giro ali dengan jurnal sebagai berikut: Pada Bank Omega Cabang Jakarta D : Giro Rekening Tn. Ali....................................Rp. 30.000.000 K : Bank Indonesia Giro...................................Rp. 30.000.000 Bank Omega dapat langsung mengkredit Giro pada Bank indonesia karena cek tersebut adalah cek dari nasabahnya sendiri. Sifat Rek. Kliring hampir serupa dengan rekening bersyarat Contingent Account yang harus dibukukan karena memiliki nilai moneter yang cukup besar. Karena sifat yang masih sementara sambil menunggu diterima atau ditolak hasil kliring, maka saldo harian rekening kliring harus nihil pada akhir hari kliring. Rekening sementara kliring tidak dimasukkan kedalam rekening administrative karena sifatnya yang mengakibatkan hubungan hutang dan piutang.

Contoh : apabila borto seorang nasabah Bank Omega Cabang Jakarta menyerahkan sebuah warkat giro senilai Rp. 50 Juta kepada Bank untuk diserahkan kepada Sutrisno, salah seorang nasabah Bank Lippo cabang Jakarta, oleh kedua Bank akan dibukukan sebagai berikut :

Pada Bank Omega Cabang Jakarta Pada saat menerima amanat dan warkat dari Broto akan dibukukan sebagai berikut: D : Giro Rekening Broto................................. Rp. 50.000.000 K : Bank Indonesia Giro...............................Rp. 50.000.000 Pada Bank Lippo Cabang Jakarta Pada saat menerima warkat setoran untuk keuntungan Sutrisno dibukukan sebagai berikut: D : Bank Indonesia Giro.............................. Rp. 50.000.000 K : Giro Rekening Sutrisno............................ Rp. 50.000.000 Kedua bank yang terlibat langsung dalam proses transaksi kliring dapat langsung membukukan kedalam rekening Giro bank indonesia. NERACA KLIRING Pada akhir hari kliring akan dibuatkan neraca kliring sebagai laporan akhir transaksi kliring dari neraca ini maka akan diketahui apakah rekening giro mengalami kenaikan atau sebaliknya. Apakah penjumlahan debet neraca lebih besar dari pada jumlah kredit, maka bank yang bersangkutan menang kliring. Untuk menutup semua transaksi kliring pada hari bersangkutan akan dibukukan semua saldo rekening dan giro pada Bank indonesia. Contoh ilustrasi keklahan kliring pada Bank Omega Naraca kliring Warkat Debet Masuk 30 Juta Warkat Kredit Keluar 50 juta Kalah kliring 80 Juta Pembukuan kekalahan kliring akan dibukukan sebagai berikut; D : Kliring.................................................................... Rp. 80.000.000 K : Bank Indonesia Giro.............................................Rp. 80.000.000 NERACA KLIRING PADA BANK INDONESIA NERACA KLIRING T GL...

Nama Bank yang kalah kliring Bank Omega Jumlah Debet

80 Juta 80 Juta

Nama Bank yang menang Kliring Bank ABC Bank Lippo Jumlah Kredit

30 Juta 50 Juta 80 Juta

Selanjutnya untuk mencatat transaksi hasil kliring diatas, oleh Bank Indonesia akan dibukukan sebagai berikut: D : Giro Bank Omega.......................................Rp. 80.000.000 K : Giro Bank ABC.............................................Rp. 30.000.000 K : Giro Bank Lippo...........................................Rp. 50.000.000 Jadi demikian pada Bank Indonesi hanya ada perpindahan dana dari Bank yang kalah kepada bank yang menang kliring, dan melalui menang atau kalah kliring inilah, maka Bank Indonesia akan memantau saldo minimumReserve Requerement. Bila suatu bank Reserve Requerement lebih rendah dari pada yang seharusnya depelihara, maka Bank yang tidak memenuhi persyratan tersebut akan dikenakan denda oleh Bnk Indonesia. Contoh kasus 1: A menyimpan giro dibank Permata dan B menyimpan tabungan di bank ANZ. Suatu hari A bertransaksi dengan B menggunakan cek senilai Rp10.000.000. Seharusnya cek dicairkan B di bank Permata, tetapi B tidak mencairkannya di bank Permata, melainkan di bank ANZ. Maka yang seharusnya terjadi rekening giro A berkurang Rp10.000.000 dan rekening tabungan B bertambah Rp10.000.000. Tetapi karena ada perbedaan bank jadi transaksi harus melalui BI dengan pencatatan rekening koran dan B mendapatkan Nota debet Keluar, sedangkan A mendapatkan Nota Debet masuk. Maka akan dicatat kedalam jurnal seperti: Rekening A: Giro A Rp10.000.000 ( - )

R/K BI

Rp10.000.000 ( + )

Rekening B:

R/K BI

Rp10.000.000 ( - )

Tabungan

Rp10.000.000 ( + )

Rekening BI: R/K BI Permata Rp10.000.000 ( - )

R/K BI ANZ

Rp10.000.000 ( + )

Contoh kasus 2: Lalu pada waktu lain Ali ingin memberikan hadiah kepada Atun dengan mentransfer uang senilai Rp50.000.000. Maka yang harusnya terjadi adalah rekening tabungan giro Atun bertambah Rp50.000.000 dan tabungan Ali berkurang Rp50.000.000. Tetapi karena ada perbedaan bank jadi harus melalui BI dengan pencatatan rekening koran dan Atun mendapatkan Nota Kredit Masuk, sedangkan Ali mendapatkan Nota Kredit Keluar. Maka akan dicatat kedalam jurnal seperti: Rekening Atun: R/K BI Rp50.000.000 ( - )

Giro Atun

Rp50.000.000 ( + )

Rekening Ali: Tabungan Ali Rp50.000.000 ( - )

R/K BI

Rp50.000.000 ( + )

Rekening BI:

R/K BI Sity

Rp50.000.000 ( - )

R/K Karman

Rp50.000.000 ( + )

Contoh kasus 3: Jika Atun saat Atun memberi cek Rp10.000.000 kepada Ali dan ternyata giro Atun yang ada di bank Karman kurang dari Rp10.000.000 maka ada 2pilihan untuk bank karman dalam mengambil keputusan. Bank ingin memberikan pinjaman dan mentransfernya kepadda bank Sity tempat Ali mencairkan cek itu atau mengembalikan cek itu kepada bank Sity. Jika cek itu dikembalikan, maka akan terjadi tolakan kliring dan yang tercatat pada jurnal: Rekening Atun:

R/K BI

Rp10.000.000 ( - )

Giro Atun

Rp10.000.000 ( + )

Rekening Ali: Tabungan Ali Rp10.000.000 ( - )

R/K BI

Rp10.000.000 ( + )

Rekening BI: R/K Sity Rp10.000.000 ( - )

R/K Karman

Rp10.000.000 ( + )

Surat-surat dalam transaksi kliring diatas: Nota debit Masuk (+ pada arus kas saldo BI) Nota Debit Keluar (- pada arus kas saldo BI) Nota Kredit Keluar (- pada arus kas saldo BI) Nota Kredit Masuk (+ pada arus kas saldo BI) Tolakan Kliring ( bisa +, bisa juga -) Jika hasilnya dijumlah bertambah maka bank menang kliring, begitu pula sebaliknya jika dijumlah berkurang maka bank kalah kliring. Jika ingin melakukan kliring bank harus mempunyai simpanan minimal 8% pada BI. Jika kurang dari 8% bank tidak bisa melakukan kliring, tapi jika lebih maka bank mempunyai cadangan kliring. Jika simpanan kliring telah terpakai maka sisa cadangan itu akan berguna untuk menambahkan setoran kliring pada BI. Tetapi jika sudah ditambahkan cadangan tetap masih kurang dari 8% maka untuk mengantisipasi bank bisa meminjam kepada bank lain untuk memenuhi syarat setoran untuk melakukan kliring. Hal itu disebut dengan Call Money. Peminjamanpun berbunga sesuai dengan bunga Kredit.

BAB III PENUTUP


A. Kesimpilan. Kliring merupakan suatu istilah dalam dunia bank dan keuangan menunjukkan suatu aktivitas yang berjalan sejak saat terjadinya kesepakatan untuk suatu transaksi hingga selesainya pelaksanaan kesepakatan tersebut.Sistem kliring yang lazim dikenal, yakni Sistem manual, Sistem Semi Otomasi, dan Sistem Otomasi. Kliring Manual adalah penyelenggaraan kliring lokal yang dalam perhitungan, pembuatan bilyet saldo kliring serta pemilihan warkat dilakukan secara manual oleh setiap peserta kliring. Perhitungan kliring didasarkan pada warkat yang dikliringkan oleh peserta kliring. Sedangkan sistem Semi Otomasi adalah kliring lokal yang perhitungan dan pembuatan bilyet saldo kliring dilakukan secara otomasi melalui alat bantu komputer. Namun pemilihan warkat tetap dilakukan secara manual oleh bank peserta kliring. Sementara sistem

kliring lokal yang dalam perhitungan dan pembuatan bilyet saldo kliring dan pemilahan warkat dilakukan secara otomatis dengan bantuan komputer. Karakteristik: Hasil kliring dikreditkan ke rekening nasabah atau ditransfer ke rekening nasabah di bank lain Valuta rupiah Bank hanya penerima amanat dan mewakili nasabah, bila warkat tersebut ditolak bank tidak bertanggung jawab. Manfaat: Aman, nasabah dapat menerima pembayaran berupa warkat dari client-nya tanpa harus menggunakan uang cash Nasabah tidak perlu melakukan penagihan sendiri. Peruntukkan: 1. Perorangan
2.

Badan Usaha/badan hukum.

B. Saran. Penyusun makalah ini hanya manusia yang dangkal ilmunya, yang hanya mengandalkan b u k u r e f e r e n s i . Setelah memahami makalah ini, p e n yu s u n m e n ya r a n k a n a g a r p a r a p e m b a c a ya n g i n g i n mendalami masalah Akuntansi kliring, disarankan membaca sumber-sumber lain yang lebih komplit, tidak hanya sebatas membaca makalah ini saja. Kemudian mengapllikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA
Sudarsono, Heri, (2003), Bank dan Lembaga Keuangan Sariah, Yogyakarta, Ekonisia. Triandu Sigit, Totok Budisantoso, (2009), Bank dan Lembaga Keuangan Lain, yogyakarta, Salemba empat. www. Google.com www. Blogspot.com