Anda di halaman 1dari 19

TUGAS KESEHATAN TERNAK ANTHRAX

Oleh: Andre Wowor / 090415025 David Tokere / 100415001

JURUSAN PRODUKSI TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penyakit Anthrax atau radang limpa adalah salah satu penyakit zoonosis penting yang saat ini banyak dibicarakan orang di seluruh dunia. Penyakit zoonosis berarti dapat menular dan hewan ke manusia. Penyakit inii hampir setiap tahun selalu muncul di daerah endemis, yang akibatnya dapat membawa kerugian bagi peternak dan masyarakat luas. Hampir semua jenis ternak (sapi, kerbau, kuda, babi, kambing dan domba) dapat diserang anthrax, termasuk juga manusia. Penyakit Anthrax diketahui sudah ada sejak zaman Mesir Kuno. Di tahun 1613, Eropa dilanda wabah penyakit ini dan tercatat sekitar 60 ribu orang tewas. Penyakit anthrax sangat ditakuti, karena bakteri penyebabnya dapat mematikan, mudah menyebar, sulit dimusnahkan dan bersifat zoonotik (dapat menular pada manusia). Pada tahun 1877, Robert Koch mencoba mengembangbiakan bakteri ini untuk pertama kali. Penelitiannya menunjukkan adanya jamur sporadis pada jenis Bacillus yang terdapat dalam tubuh hewan. Bakteri ini berbentuk spora bertangkai dan suka hidup serta berkembang biak di dalam tanah. Keluarnya bakteri tersebut bisa terjadi di musim kemarau panjang, karena ternak suka menarik rerumputan kering hingga keakar-akarnya. Akibatnya spora anthrax yang selama ini bertahan hidup dalam tanah dan menempel di rumput, terbawa keluar dan berubah menjadi bakteri ganas. Kondisi tubuh ternak yang lemah akibat kekurangan makanan dan stres oleh suhu udara yang panas, juga semakin memudahkan serangan anthrax.Menurut catatan, anthrax sudah dikenal di Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda, tepatnya pada tahun 1884 di daerah Teluk Betung. Selama tahun 1899 - 1900 di daerah Karesidenn Jepara tercatat sebanyak 311 ekor sapi terserang anthrax, dan sejumlah itu 207 ekor mati. Pada tahun 1975, penyakit itu ditemukan di enam daerah : Jambi, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Kemudian, 1976-1985, anthrax berjangkit di 9 propinsi dan menyebabkan 4.310 ekor ternak mati. B. Rumusan Masalah

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Terjadi sejak zaman hipocrates, Pada tahun 1613 di Eropa selatan berjangkit wabah dan sekitar 6000 orang meninggal. Tahun 1876, Robert Koch penemu baksil Tb juga berhasil mengidentifikasi penyebab antrax dan diberi nama Bacillus Anthracis. 1881, Louis Pasteur berhasil membuat vaksin untuk antrax. Di Indo (1884) dilaporkan antrax pd kerbau di Teluk Betung & dimuat pd Javasche Courant. 1885 & 1886 laporan kejadian antrax di Indo dimuat dlm Kolonial Verslag. Menurut Sumanegara (1958), antrax telah menyebar di Jawa (Jakarta, Purwakarta, Bogor, Banten, Pekalongan, Surakarta, Banyumas dll), di Luar Jawa (Sumatra: jambi, Palembang, Padang, Bengkulu, sibolga dan Medan), Madura, NTT, NTB, Sulawesi dan Bali.

B.

Sinonim

Anthrax biasa juga disamakan dengan (radang limpa, malignant pustule, woolsorters` disease, miltvuur, malignant edema, ragpicker disease). (Anon. 2000). Penyakit anthrax mempunyai potensi sangat besar untuk menular dari hewan kepada manusia (zoonosis), terutama daerah yang tergolong kurang subur dan tingkat pendidikan masyarakatnya masih relatif rendah. Pemotongan ternak sakit di luar Rumah Pemotongan Hewan (RPH) , tanpa pengawasan petugas, sering menimbulkan kejadian luar biasa (wabah) anthrax. (Soeharsono. 2002).

C. Defenisi Anthrax adalah penyakit hewan yang dapat menular ke manusia dan bersifat akut. Penyebabnya bakteri Bacillus anthracis. Di alam bebas bakteri ini membentuk spora yang tahan puluhan tahun dalam tanah dan bisa menjadi sumber penularan pada hewan dan manusia. Hewan tertular akibat makan spora yang menempel pada tanaman yang dimakan.

D. Etiologi

1.

Morfologi

Penyebab penyakit anthrax adalah bakteri berbentuk batang, berukuran 1-1,5 mikron kali 3-8 mikron, bersifat aerobic, nonmotil, gram positif yang disebut Bacillus antrachis. Apabila spesimen ini diambil dari hewan sakit, bakteri berbentuk rantai pendek dikelilingi oleh kapsul yang terlihat jelas. (Bacillus antrachis ditemukan di dalam otak). Bentuk vegetatif Bacillus antrachis yang ada di dalam tubuh hewan relatif tidak dapat tahan lama dalam berkompetisi dengan bakteri pembusuk. Apabila terjadi kontak dengan udara (oksigen), bakteri ini akan membentuk spora yang amat tahan terhadap pengaruh lingkungan. Oleh karena itu , setiap hewan yang mati dengan dugaan anthrax tidak boleh dilakukan autopsi. Spora anthrax dapat bertahan selama 60 tahun di dalam tanah kering. Spora juga tahan dalam waktu yang lama di debu, kapas, bulu, kulit, serbuk tulang, pakaian , dsb. (Soeharsono.2002). Faktor predisposisi kejadian penyakit seperti musim panas, kekurangan makanan dan keletihan mempermudah timbulnya penyakit pada hewan yang mengandung spora bersifat laten .Umumnya, Bacillus antrachis amat pathogen, namun pernah pula dilaporkan penemuan isolat Bacillus antrachis yang kurang pathogen dari seekor kuda. Dalam sel bakteri anthrax juga terdapat eksotoksin kompleks yang terdiri atas Protective Ag (PA), Lethal factor (LF), dan Oedema factor (EF). Peran ketiganya itu terlihat sekali dalam menimbulkan gejala penyakit anthrax. Tepatnya, ketiga komponen dari eksotoksin itu berperan bersama sama. Protective Ag berfungsi untuk mengikat reseptor dan selanjutnya Lethal factor. Sedangkan odema factor akan memasuki sistem sel dari bakteri. Odema factor merupakan adenilsiklase yang mampu meningkatkan cAMP sitoplasma sel, sedangkan fungsi spesifik dari lethal factor masih belum diketahui. 2. Pertahanan hidup

Dalam mempertahankan siklus hidupnya, Bacillus anthracis membentuk dua sistem pertahanan, yaitu kapsul dan spora. Dua bentuk inilah, terutama spora yang menyebabkan Bacillus anthracis dapat bertahan hidup hingga puluhan tahun lamanya. Sedangkan kapsul merupakan suatu lapisan tipis yang menyelubungi dinding luar dari bakteri. Kapsul ini terdiri atas polipeptida berbobot molekul tinggi yang mengandung asam D Glutamat dan merupakan suatu hapten. Bacillus anthracis dapat membentuk kapsul pada rantai yang berderet. Pada media biasa rantai tidak terbentuk kecuali pada

Bacillus anthracis yang ganas. Lebih jauh, bakteri ini akan membentuk kapsul dengan baik jika terdapat pada jaringan hewan yang mati atau pada media khusus yang mengandung natrium bikarbonat dengan konsentrasi karbondioksida (CO2) 5%. Kapsul inilah yang berperan dalam penghambatan fagositosis oleh sistem imun tubuh, dan juga dapat menentukan derajat keganasan atau virulensi bakteri. Selain itu, Bacillus anthracis juga membentuk spora sebagai bentuk resting cells. Pembentukan spora akan terjadi apabila nutrisi esensial yang diperlukan tidak memenuhi kebutuhan untuk pertumbuhan, prosesnya disebut sporulasi. Spora berbentuk elips atau oval, letaknya sentral dengan diameter tidak lebih dari diameter bakteri itu sendiri. Spora Bacillus anthracis ini tidak terbentuk pada jaringan atau darah binatang yang hidup, spora tersebut tumbuh dengan baik di tanah maupun pada eksudat atau jaringan hewan yang mati karena antrax. Di sinilah keistimewaan bakteri ini, apabila keadaan lingkungan sekitar menjadi baik kembali atau nutrisi esensial telah terpenuhi, spora akan berubah kembali menjadi bentuk bakteri. Spora spora ini dapat terus bertahan hidup selama puluhan tahun dikarenakan sulit dirusak atau mati oleh pemanasan atau bahan kimia tertentu, sehingga bakteri tersebut bersifat dormant, hidup tapi tak berkembang biak.( Arda Dinata.)

E.

Epidemiologi

Anthrax termasuk penyakit yang sudah lama sekali diketahui manusia. Penyakit ini tersebar di lima benua ( Afrika, Eropa, Asia dan Australia). Di Indonesia, anthrax pertama kali diberitakan oleh Javasche Courant terjadi pada kerbau di Teluk betung ( Sumatra ) tahun 1884. Berikutnya Koran Kolonial Verslag memberitakan anthrax di Buleleng ( Bali ), Rawas (Palembang) dan lampung pada tahun 1885. Pada tahun 1886, Koran yang sama memuat berita bahwa wabah penyakit anthrax di Banten, Padang-darat, Kalimantan Barat dan Timur dan Pulau Rote (NTT). Selama lebih dari 100 tahun , penyakit anthrax tidak pernah terjadi lagi di Bali, sehingga Bali dinyatakan sebagai daerah bebas anthrax sampai saat ini. Di Indonesia, anthrax mulai diamati pada tahun 1884, saat itu seekor kerbau tertular penyakit dengan gejala yang sangat mirip anthrax. Kasus selanjutnya tercatat tahun 1885-1886, 1899-1900, 1914 dan 1927. Hingga tahun 1930, penyakit ini banyak terjadi di berbagai daerah di Jawa dan luar Jawa. Hingga tahun 1958, tercatat

Sumatra, Kalimantan, Jawa, Madura, Nusa Tenggara dan Sulawesi menjadi daerah endemik anthrax (Anon. 1978). Kejadian anthrax sering di laporkan dari berbagai tempat di Indonesia. Soemanagara (1958) menggambarkan penyebaran anthrax pada hewan antara 1906 1957 sebagai berikut : 1. Sumatera dan Kalimantan: Anthrax terjadi hampir di semua daerah dengan wabah tercatat tahun 1910 di Jambi dan Palembang, tahun 1914 di Padang, Bengkulu dan Palembang, tahun 1927 dan 1928 di Padang, Bukittinggi ( Sijunjung), Palembang dan Jambi, tahun 1930 di Sibolga (Gunung Situa), Palembang dan Medan (Pulau Kundur). 2. Jawa dan Madura : Di Pulau Jawa anthrax dilaporkan terjadi di Jakarta, Jawa Barat (Purwakarta, Bogor, Periangan, Banten, Cirebon) di Jawa tengah (Tegal, Pekalongan, Surakarta, Banyumas) dan Jawa Timur (Madiun dan Bojonegoro). 3. Nusa Tenggara Barat : Pulau Sumbawa (1931) dan Lombok (1933) dan (1956). 4. Nusa Tenggara Timur : Pulau Flores (1934, 1938 dan 1957) , Pulau Timor (1930), Pulau Rote (1922,1952 dan 1953). 5. Sulawesi : Di Pulau Sulawesi anthrax tersebar di Ujung Pandang, Watampone, Manado, Donggala dan Palu. Kejadian wabah dilaporkan di Watampone tahun 1930, 1931, 1932, 1938, 1940 dan 1945. Wabah anthrax yang menyerang hewan dan manusia di laporkan di Kecamatan Ngadu ngala , Kabupaten Sumba Timur (NTT) pada tahun 1980(Soeharsono, dkk, 1981). Antara kurun waktu 1980-1995 anthrax dilaporkan dari Irian, Boyolali dan Lombok. Pada awal tahun 2000 terjadi wabah anthrax pada peternakan burung onta di Purwakarta dan menimbulkan anthrax kulit pada beberapa orang yang menangani burung onta.(Soeharsono.2002) Ada dua bentuk anthrax pada manusia di Indonesia, yakni bentuk kulit sebagai akibat penularan secara kontak dan bentuk intestinal sebagai akibat penularan per os. Di Australia ada penyakit anthrax bentuk respiratorik akibat penularan per inhalation spora anthrax lewat bulu-bulu domba yang terjadi pada tempat pemotongan bulu domba sehingga disebut wool sorter`s disease. (Soeharsono.2002) Menurut daerah penularannya, Antrax dibagi dalam tiga macam:

1.

Antrax daerah pertanian (Agriculture Antrax) yaitu Antrax yang penularan dan kejadiannya berkisar di daerah-daerah pertanian saja. Antrax di Indonesia pada umumnya termasuk Antrax daerah pertanian.

2.

Antrax daerah perindustrian (Industrial Antrax) yaitu Antrax yang terjadi di daerah atau kawasan industri yang menggunakan bahan baku berasal dari hewan atau hasil hewan seperti bahan-bahan yang terbuat dari kulit (tas, ikat pinggang, topi, alat musik), tulang (perhiasan, industri makanan ternak), daging (dendeng, abon dll), darah (campuran makanan ternak), tanduk (perhiasan, kerajinan dll) dan lain-lain.

3.

Antrax yang terjadi di laboratorium yaitu infeksi hewan-hewan percobaan seperti tikus putih, marmut, kelinci, centrifugasi dll. Masa inkubasi penyakit Antrax bervariasi untuk Antrax tipe kulit 7 hari (rata-rata 1-5 hari), Antrax tipe intestinal (pencernaan) antara 2-5 hari dan Antrax tipe pernapasan (pulmonal) antara 1-5 hari (biasanya 3-4 hari).

F.

Reservoir

Binatang, (biasanya herbivore : sapi, kambing, domba,kuda dll, baik hewan ternak maupun liar), menyebarkan basil pada saat terjadi perdarahan atau tumpahnya darah pada saat hewan tersebut disembelih atau mati. Pada pajanan udara, bentuk vegetatif akan membentuk spora, dan spora dari B. anthraxis sangat resisten pada kondisi lingkungan yang kurang baik dan begitu juga disinfeksi tidak mempan, spora bisa hidup terus di tanah yang terkontaminasi selama bertahun-tahun. B. anthraxis adalah bakteri komensal tanah yang tersebar di berbagai tempat di seluruh dunia. Pertumbuhan bakteri dan kepadatan spora tanah bisa meningkat karena banjir atau pada kondisi ekologi tertentu. Tanah juga dapat terkontaminasi oleh tahi/kotoran burung kering, yang menyebarkan organisme dari satu tempat ke tempat lain oleh karena burung tersebut habis makan bangkai yang terkontaminasi anthrax. Kulit kering atau kulit yang diproses serta kulit dari binatang yang terinfeksi bisa membawa spora hingga bertahun-tahun dan merupakan media penyebaran penyakit ke seluruh dunia.

G. Cara Penularan Pada prinsipnya terdapat tiga cara penularan penyakit antraks ke manusia. 1. Melalui kontak langsung (kulit) . Spora atau bakteri masuk melalui lesi

kulit. Biasanya yang terserang adalah ekstrimitas terutama ekstrimitas bagian atas. Bentuk klinisnya dikenal dengan malignant pustule atau cutaneus anthrax, timbul 12-36 jam setelah kontak dengan bakteri. Mulamula, timbul papula kecil-kecil, mengeluarkan cairan, bagian tengah lesi tampak adanya nekrosis di kelilingi daerah berwarna merah. 2. Melalui saluran pernapasan. Bentuk klinisnya disebut pulmonary anthrax, biasanya ditemukan pada pekerja pekerja pabrik wool dan penyamak kulit. 3. Melalui per oral. Bentuk klinisnya terjadi oleh karena menelan makanan (daging) yang terinfeksi bakteri atau spora antraks. Penyakitnya disebut gastrointestinal anthrax. Bentuk ini biasanya berbahaya dan sukar diobati. Gejala yang tampak adalah mual, muntah, diare dan kadang kadang hamatemesis.

H. Gejala (Simptomatologi) Masa inkubasi penyakit anthrax adalah dari 1 7 hari. Walaupun masa inkubasi dapat mencapai 60 hari (di Sverdlovsk masa inkubasi mencapai 43 hari). Penularan dari orang ke orang sangat jarang. Barang dan tanah yang terkontaminasi oleh spora bisa tetap infektif hingga puluhan tahun. a. 1. Gejala penyakit antrax pada hewan dapat berupa akut,perakut, dan kronik Anthrax bentuk perakut gejala penyakit sangat mendadak dan segera terjadi

kematian karena ada pendarahan otak. Gejala tersebut berupa sesak nafas, gemetar, kemudian hewan rebah. Pada beberapa kasus menunjukkan gejala kejang. Pada sapi, domba dan kambing, mungkin terjadi kematian tanpa menunjukkan gejala-gejala penyakit sebelumnya. 2. Anthrax bentuk akut pada sapi, kuda dan domba, gejala-gejala penyakitnya

mula-mula demam, penderita gelisa, kemudian depresi, sopor, pernafasan susah, detak jantung frekuen dan lemah, kejang dan penderita segera mati. Selama penyakit berlangsung, demamnya dapat mencapai 41,5 0C, ruminasi berhenti, produksi susu berkurang, pada ternak yang sedang bunting mungkin terjadi keguguran. Dari lubanglubang kumlah mungkin keluar ekskreta berdarah. Gejala Anthrax akut pada kuda dapat berupa demam, kedinginan, kolik yang berat, tidak ada nafsu makan, depresi hebat, otot-otot lemah, mencret berdarah, bengkak di daerah leher, dada, perut bagian bawah dan dibagian kelamin luar. 3. Anthrax bentuk kronis biasanya terdapat pada babi, tetapi kadang-kadang juga

terdapat pada sapi, kuda dan anjing dengan lesi-lesi lokal yang terbatas pada lidah dan tenggorokan. Pada satu kelompok babi yang mendapat infeksi, beberapa babi diantaranya mungkin mati karena Anthrax akut tanpa menunjukkan gejala penyakit sebelumnya. Beberapa babi yang lain menunjukkan pembengkakan yang cepat pada tenggorokan, yang pada beberapa kasus menyebabkan kematian karena lemas. Kebanyakan babi didalam kelompok tersebut menderita Anthrax kronis yang ringan, yang berangsur-angsur akan sembuh. Bila babi tersebut disembelih, pada kelanjar limfa servikal dan tonsil terdapat infeksi Anthrax. b. Gejala pada manusia

Pada manusia, sering ditemukan bentuk ( kutan ) serangannya bersifat lokal, dapat juga disebut Anthrax lokal. Pada luka tersebut terjadi rasa nyeri, yang diikuti dengan pembentukan bungkul merah pucat ( karbongkel ) yang berkembang jadi kehitaman dengan cairan bening berwarna merah. Bila pecah akan meninggalkanjaringan nekrotik. Bungkul berikutnya muncul berdekatan. Jaringan sekitarnya tegang, bengkak dengan warna merah tua pada kulit sekitarnya. Bila dalam waktu bersamaan gejala demam muncul, infeksi menjadi umum ( generalis ) dan pasien mati karena septisemi. Bentuk usus ( intestinal ) sering disertai haemoragik, kenyerian yang sangat didaerah peryt, muntah-muntah, kaku dan berakhir dengan kolaps dan mati. Pada bentuk infeksi lewat pernafasan, terjadi pleuritis dan broncho-pneumoni. Bentuk gabungan juga bisa terjadi. Setelah infeksi usus kemudian muncul kebengkakan bersifat busung di bagian tubuh yang lain. Gejala-gejala dan penakit ini bervariasi tergantung dari cara penularannya. tapi biasanya gejala-gejala tersebut timbul dalam 7 hari. 1. Anthrax Kulit

lnfeksi antraks timbul bila bakteri masuk melalul luka pada kulit, biasanya bila sedang mengolah wol, kulit atau bulu (terutama bulu kambing) dan binatang yang terinfeksi. lnfeksi kulit dimulai dengan benjolan yang terasa gatal menyerupai gigitan serangga, tapi dalam 1-2 hari berubah menjadi vesikula dan ulkus dengan diameter 1-3 cm, dengan area nekrotik hitam yang khas ditengahnya. Bisa disertai dengan pembengkakan kelenjar limfa di daerah yang berdekatan. 20% dari kasus antraks kutaneus yang tidak diobati berakhir dengan kematian. Tetapi bila terapi antimikroba diberikan, kematian jarang terjadi. 2. Anthrax Inhalasi (Paru-Paru)

Gejala asa1nya menyerupai common cold. Setelah beberapa hari, gejala-gejalanya

akan berkembang menjadi gangguan pernafasan yang berat dan syok. Kematian biasanya terjadi 1-2 hari setelah gejala akut. 3. Anthrax Saluran Pencennaan

Antraks pada saluran pencernaan biasanya timbul setelah mengkonsumsi daging yang terkontaminasi dan ditandai dengan adanya inflamasi akut dari saluran pencernaan. Gejala awal berupa mual, kehilangan selera makan, muntah dan demam yang diikuti dengan nyeri abdomen, muntah darah dan diare berat. Kematian terjadi pada 25-60% kasus. 4. Antraks Jaringan

Akibat dari komplikasi bentuk antraks yang lain seperti otak. Gejala klinis seperti randang otak maupun selaput otak yaitu demam, sakit kepala hebat, kejang, penurunan kesadaran, kaku kuduk.

I.

Diagnosis dan Diagnosis Banding

Diagnosis, baik pada hewan maupun manusia, dapat ditegakkan berdasarkan epidemiologi (sejarah kejadian anthrax masa lalu, jenis hewan terserang, ada atau tidak adanya penularan ke manusia) dan gejala klinik. Peneguhan diagnosis dilakukan secara laboratorik dengan isolasi agen penyakit dan uji serologi FAT. Pada manusia, spesimen untuk pemeriksaan laboratorik dapat diambil dari cairan vesikel, jaringan tubuh, darah (sewaktu septicemia) dan usapan langsung (direct smear) dari lesi kulit. Pewarnaan Giemza terhadap preparat usapan langsung perlu dilanjutkan dengan upaya isolasi bakteri karena dapat keliru dengan bakteri lain berbentuk batang, misalnya Bacillus subtilis. Pemeriksaan secara FAT yang mempunyai sensivitas dan ketetapan (sensivity and specifity) tinggi bisa dilakukan apabila menggunakan mikroskop fluorescence. Pada hewan, spesimen dapat berupa darah perifer dari daun telinga yang diambil dengan jarum, kemudian diisapkan pada kertas saring, kapur tulis, atau kapas jika hewan masih hidup. Apabila hewan sudah mati, spesimen dapat diambil dari potongan daun telinga, cairan oedema, tulang, kulit dan bahan lain yang tercemar. Deteksi antigen dapat dilakukan dengan uji Ascoli 1. Diagnosis Banding

Pada kuda, adanya oedama di bawah kulit dapat keliru dengan dourine yang disebabkan oleh Trypanosoma equiperdum. Kematian mendadak pada sejumlah hewan besar perlu mempertimbangkan kemungkinan keracunan. Leptospirosis,

anaplasmosis (malaria sapi), keracunan oleh pb, encephalitis. 2. Pengambilan dan Pengiriman Spesimen

Pada hewan, spesimen dapat berupa darah perifer dan daun telinga yang diambil dengan jarum, kemudian pada kertas saring, kapur tulis atau kapas, apabila hewan masih hidup. Apabila hewan sudah mati, spesimen dapat diambil dari daun telinga, cairan oedema, tulang, kulit dan bahan-bahan yang diduga tercemar seperti tanah. Spesimen harus dimasukan ke dalam kontainer yang terkuat agar tidak pecah atau tumpah dalam perjalanan. Spesimen tidak boleh dikirimkan ke laboratorium yang terletak di daerah bebas anthrax, seperti BPPH wilayah VI Denpasar.(Soeharsono. 2002). Speciment Cutaneus anthrax diperiksa secara Mikrobiologi dan Patologi untuk Diagnosis Spesimen-spesimen harus dikumpulkan dari setiap pasien yang sedang dievaluasi untuk infeksi cutaneus anthrax. Diagnosis menurut CDC 1. a. Kain penyeka Luka: Dengan mengabaikan terjadinya luka, lalu mengumpulkan kain kain penyeka

yang terpisah yaitu : Satu kain penyeka untuk Pewarna Gram dan kultur Satu kain penyeka untuk Polymerase Chain Reaction (PCR) Location/sampling yang spesifik kain penyeka itu akan bergantung pada

langkah luka Tahap efisiensi kelembaban: Aseptically (secara aseptis) mengumpulkan cairan efisiensi kelembaban mengeringkan kain penyeka dari gelembung-gelembung sebelumnya yang tak dibuka. Catatan: Anthrax bacilli paling mungkin untuk dilihat oleh Pewarna Gram di dalam tahap efisiensi kelembaban. Eschar dikumpulkan : eschar material secara hati-hati diangkat pada tepi eschar yang luar itu; sisipkan guna mengeringkan kain penyeka, lalu pelan-pelan diputar selama 23 (detik/ barang bekas) di bawah tepi dari eschar tanpa pemindahan nya. Borok: Jika tanpa gelembung atau eschar, kain penyeka dasar dari borok yang menggunakan suatu kain penyeka yang lembab (sebelumnya dilembabkan dengan larutan garam yang steril). b. Spesimen-spesimen yang digunakan untuk pengkulturan dan PCR harus

dikirimkan dalam suasana dingin, penyimpan dilakukan pada suhu 8C; spesimenspesimen untuk PCR hanya bisa dikirimkan dalam karbon dioksida dan disimpan pada suhu -70C.

2. a.

Biopsi Suatu biopsi kulit harus diperoleh di setiap pasien dengan luka yang diduga

mengalami cutaneus anthrax. Jika pasien, memperoleh kekebalan penuh contoh biopsi dari papula atau

gelembung dan termasuk kulit, masukkan ke dalam formalin 10% buffered untuk histopatologi dan immunohistochemistry (IHC). Spesimen biopsi untuk kultur, Pewarnaan Gram, PCR dan membekukan

jaringan/tisu IHC didapatkan jika pasien belum menerima antibiotik dalam 24 jam, untuk memperoleh kekebalan. Jangan mencoba untuk merusak satu spesimen dari materi 2 dan 3 di

atas,ataupun yang terpisah harus diperoleh. b. Biopsi harus diambil dari kedua-duanya gelembung dan eschar.(Shieh.2003) Spesimen segar (tidak diformalin) harus disimpan dan dikirimkan setelah

dibekukan secara CDC pada -70C; jika terformalin harus dikirimkan pada suhukamar. 3. a. Serum (proses yang menggunakan BSL2 mempraktekkan) Spesimen-spesimen serum yang akut perlu dikumpulkan dalam 7 hari gejala

pertama atau sesegera mungkin setelah pengujian. b. Meskipun hasil diagnosa didapatkan isolat Bacillus anthracis dari spesimen-

spesimen klinis,berupa serum orang yang baru sembuh, 14-35 hari setelah gejala. c. Kedua spesimen serum yang akut dan orang yang sembuh harus diperoleh dari

sedikitnya 8 ml darah, 4 ml dari sera (laboratorium bisa menguji untuk etiologi potensial yang ganda). d. Serum terpisah dari gumpalan darah, sera perlu dibekukan dengan segera pada

suhu -20C atau lebih dingin, harus dikirimkan dalam keadaan beku dan disimpan pada karbon dioksida secara CDC, di dalam botol kecil bertutup sekrup plastik sewajarnya memberi label. e. f. Jangan mengirimkan botol-botol biakan darah atau darah utuh. Penggunaan yang sesuai secara komersial tersedia Immunetics QuickELISA

Anthrax-PA Kit: Immunetics Kit itu harus dipertimbangkan suatu test serologi penyaringan

primer. Test ini menghasilkan suatu hasil /negative yang positif; oleh karena itu setiap

sera yang dipasangkan yang menghasilkan yang manapun.

/+ reaksi (acute/convalescent) atau + /+ reaksi harus dikirim kepada CDC

untuk konfirmasi dan pengukuran-pengukuran ELISA kwantitatif. 4. a. - /reaction (acute/convalescent) atau + /reaction tidak memerlukan konfirmasi. Darah Jika pasien mempunyai bukti dari gejala sistemik, spesimen-spesimen untuk

biakan darah harus diperoleh. Kumpulkan volume darah yang sesuai dan nomor yang di-set per protokol laboratorium rumah sakit lokal. b. Kumpulkan 10 darah ml di EDTA (tabung-tabung bertutup ungu) untuk PCR.

(Anon.).

J. 1. a.

Cara Pemberantasan Tindakan pencegahan Berikan imunisasi kepada orang dengan risiko tinggi dengan vaksin cell-free

yang disiapkan dari filtrat kultur yang mengandung antigen protektif (tersedia di AS dari Bioport corporation, 3500 N. Martin Luther King, Jr. Boulevard, Lansing MI 48909). Terbukti bahwa vaksin ini efektif mencegah anthrax kulit dan pernapasan.; direkomendasikan untuk diberikan kepada petugas labororatorium yang secara rutin bekerja dengan B. anthracis dan para pekerja yang menangani bahan industri mentah yang potensial terkontaminasi. Vaksin ini juga dapat digunakan untuk melindungi personil militer yang terpajan senjata perang biologis. b. Beri penyuluhan kepada para pekerja yang menangani bahan-bahan yang

potensial terkontaminasi anthrax sebagai penular anthrax, sebaiknya para pekerja menjaga kulit agar tidak lecet dan menjaga kebersihan perorangan. c. Membersihkan debu dan membuat ventilasi yang baik di tempat-tempat kerja

pada industri berbahaya; terutama yang menangani bahan mentah. Selalu melakukan supervisi medis pada para pekerja dan melakukan perawatan spesifik pada luka dikulit. Pekerja sebaiknya menggunakan baju pelindung dan tersedia fasilitas yang baik untuk mencuci tangan dan pakaian dan mengganti sesudah kerja. Tempatkan ruang makan jauh dari tempat kerja. Uap formaldehid digunakan untuk disinfeksi pabrik tekstil yang terkontaminasi anthrax. d. Lakukan pencucian secara menyeluruh, disinfeksi atau sterilkan bulu, wol dan

tulang atau bagian dari tubuh binatang lainnya yang akan dijadikan pakan ternak sebelum diproses. e. Kulit binatang yang terpajan anthrax jangan di jual. Bangkai binatang yang

terpajan anthrax jangan digunakan sebagai bahan pakan ternak. f. Jika dicurigai terkena anthrax, jangan melakukan nekropsi pada binatang

tersebut. Jika ingin mengambil sampel darah untuk kultur lakukan secara aseptis. Hindari kontaminasi tempat pengambilan sampel. Jika nekrospi dilakukan dengan tidak hati-hati, sterilkan seluruh bahan dan alat yang dipakai dengan otoklaf, insinerator atau dilakukan disinfeksi dan fumigasi dengan bahan kimia. Karena spora anthrax bisa hidup selama berpuluh-puluh tahun jika bangkai dikubur, maka teknik pemusnahan yang paling baik adalah membakar bangkai binatang tersebut dengan suhu tinggi (insinerasi) di tempat binatang itu mati atau dengan mengangkut bangkai tersebut ke tempat insenerator, hati-hati agar tidak terjadi kontaminasi sepanjang jalan menuju insenerator. Jika cara ini tidak memungkinkan, kuburlah dalam-dalam bangkai binatang itu di tempat binatang itu mati; jangan dibakar di lapangan terbuka. Tanah yang terkontaminasi dengan bangkai atau kotoran binatang didekontaminasi dengan lye 5% atau kalsium oksida anhydrous (quicklime). Bangkai yang dikubur dalam-dalam sebaiknya di taburi dengan quicklime. g. Awasi dengan ketat buangan air limbah dari tempat yang menangani binatang-

binatang yang potensial terkontaminasi anthrax dan limbah dari pabrik yang menghasilkan produk bulu, wol, tulang atau kulit yang mungkin terkontaminasi. h. Berikan Imunisasi sedini mungkin dan lakukan imunisasi ulang setiap tahun

kepada semua hewan yang berisiko terkena anthrax. Obati hewan yang menunjukkan gejala anthrax dengan penisilin atau tetrasiklin, berikan imunisasi sesudah terapi dihentikan. Hewan ini sebaiknya tidak disembelih hingga beberapa bulan setelah sembuh. Pengobatan sebagai pengganti imunisasi dapat diberikan kepada hewan yang terpajan sumber infeksi, seperti terpajan dengan makanan ternak komersiil yang terkontaminasi. 2. a. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya. Laporan kepada instansi kesehatan setempat; kasus anthrax wajib dilaporkan di

sebagian besar negara bagian dan negara-negara lain di dunia, Kelas 2A (lihat tentang pelaporan penyakit menular). Laporan kepada badan yang berwenang menangani pertanian dan hewan ternak wajib dilakukan juga. Walaupun hanya ditemukan satu kasus anthrax pada manusia; terutama jenis pernafasan, dianggap sebagai kejadian luar biasa sehingga harus dilaporkan segera kepada pejabat yang berwenang di bidang kesehatan masyarakat dan kepada penegak hukum sebagai bahan pertimbangan kemungkinan bahwa KLB ini bersumber dari kegiatan terorisme.

b.

Isolasi : untuk anthrax kulit dan pernapasan lakukan tindakan kewaspadaan

standar selama sakit. Dengan pemberian terapi antibiotik yang tepat lesi kulit bebas dari bakteri dalam waktu 24 jam namun lesi ini tetap berkembang sesuai dengan siklus yang sangat khas dari lesi anthrax yaitu adanya ulcerasi, pengelupasan dan resolusi c. Disinfeksi serentak : Disinfeksi dilakukan terhadap discharge dari lesi dan

terhadap alat-alat yang kontak dengan tanah. Hipoklorit sangat baik dipakai untuk disinfeksi karena dapat membunuh spora dan digunakan jika bahan yang akan didisinfeksi volumenya kecil dan bahan tersebut tidak mudah korosif; hidrogen peroksida, asam perasetik dan glutaraldehid bisa menjadi alternatif; formaldehid, etilen oksida dan iradiasi kobalt juga sering digunakan. Memusnahkan spora dilakukan dengan sterilisasi uap, otoklaf atau dibakar untuk meyakinkan bahwa spora tersebut betul-betul telah musnah. Fumigasi dan disinfeksi kimia dapat digunakan untuk alat-alat berharga. Lakukan pembersihan menyeluruh. d. e. f. Karantina : tidak diperlukan. Imunisasi kontak : tidak diperlukan. Investigasi kontak dan sumber infeksi : Lakukan investigasi terhadap

kemungkinan adanya riwayat seseorang terpajan dengan binatang yang terinfeksi atau terpajan dengan produk dari binatang, dan lacak tempat asalnya. Pada pabrik yang mengolah produk binatang, periksa apakah telah dilakukan tindakan preventif yang tepat seperti yang dijelaskan pada 9A diatas, Seperti dijelaskan pada 9B1 kemungkinan Anthrax bersumber dari kegiatan bioterorisme tidak bisa

dikesampingkan terutama untuk kasus anthrax pada manusia, kasus-kasus tersebut sumber infeksinya tidak jelas. g. Pengobatan spesifik; penisilin adalah obat pilihan untuk anthrax kulit dan diberikan selama 5 7 hari. Tetrasiklin, eritromisin dan klorampenikol juga efektif. Angkatan bersenjata Amerika merekomendasikan pemberian Ciprofloxacin parenteral atau doksisiklin untuk anthrax pernapasan, lama pengobatan tidak dijelaskan secara rinci.

3.

Penanggulangan wabah

KLB anthrax merupakan penyakit akibat kerja pada peternakan. Wabah anthrax yang jarang terjadi di AS adalah KLB yang bersifat lokal terjadi dikalangan pekerja yang mengolah produk binatang, terutama bulu kambing. KLB anthrax yang terjadi

berkaitan dengan penanganan dan konsumsi daging ternak yang terinfeksi terjadi di Asia, Afrika dan bekas negara Uni Sovyet. 4. Implikasi bencana : Tidak ada, kecuali jika terjadi banjir di daerah yang

terinfeksi. 5. Tindakan internasional : Sterilkan bahan pakan ternak import yang mengandung

tulang sebelum digunakan sebagai makanan ternak. Disinfeksi wol, bulu dan produk lain dari binatang jika ada indikasi terinfeksi. 6. Pengamanan bioterorisme.

Selama tahun 1998, lebih dari 2 lusin ancaman anthrax terjadi di AS. Tidak ada satupun dari ancaman ini terjadi. Prosedur umum di AS untuk menangani ancaman ini adalah : a. Siapapun yang menerima ancaman penyebaran anthrax, segera melaporkan

kepada FBI (Federal Bureau of Investigation). b. Di AS, FBI bertanggung jawab penuh untuk melakukan investigasi terhadap

ancaman senjata biologis dan lembaga lain harus bekerja sama memberikan bantuan jika diminta oleh FBI. c. Departemen kesehatan negara bagian dan Dinas Kesehatan setempat sebaiknya

juga di beritahu jika ada ancaman ini dan siap memberikan bantuan dan tindak lanjut yang mungkin diperlukan. d. e. Orang yang terpajan anthrax tidak menular, sehingga tidak perlu dikarantina. Orang yang mungkin terpajan, sebaiknya di sarankan menunggu hasil

laboratorium dan tidak perlu diberi kemoprofilaksis. Jika mereka menjadi sakit sebelum hasil tes laboratorium selesai, mereka harus segera menghubungi Dinas Kesehatan setempat dan segera ke Rumah Sakit yang ditunjuk untuk mendapatkan perawatan gawat darurat, dan mereka harus memberi tahukan kepada petugas medis bahwa ia kemungkinan terpajan anthrax. f. Jika penderita terbukti terpajan anthrax yang ditularkan melalui udara, penderita

harus segera mendapat pengobatan profilaktik pasca pajanan dengan antibiotik yang tepat (fluorokinolon adalah obat pilihan dan doksisiklin adalah obat alternatif) dan vaksin. Imunisasi pasca pajanan dengan vaksin bebas sel yang tidak aktif di indikasikan sebagai tindak lanjut pemberian kemoprofilaksis sesudah suatu insiden biologis. Imunisasi direkomendasikan karena kita tidak tahu apakah spora yang terhirup akan berkembang biak atau tidak. Imunisasi pasca pajanan terdiri dari 3 suntikan : sesegera mungkin sesudah terpajan dan pada minggu ke 2 dan ke 4 sesudah

terpajan. Terhadap vaksin ini belum dilakukan evaluasi efektifitas dan keamanannya bagi anak-anak kurang dari 18 tahun dan orang dewasa berusia 60 tahun atau lebih. g. Setiap orang harus mengikuti petunjuk teknis yang diberikan jika menghadapi

ancaman biologis h. Setiap orang dapat dilindungi dari spora anthrax dengan menggunakan jubah

pelindung, sarung tangan dan respirator yang menutupi seluruh muka dengan filter yang memiliki efektifitas tinggi terhadap partikel udara High-efficiency Particle Air (HEPA), filter (level C) atau perlengkapan pernafasan Self-Contained Breathing Apparatus (SCBA) (level B) i. Orang yang terpajan dan kemungkinan besar terkontaminasi sebaiknya di

dekontaminasi dengan menggunakan sabun dan dibilas dengan air mengalir dalam jumlah yang banyak. Biasanya larutan klorin tidak diperlukan. Cairan klorin rumah tangga dengan perbandingan 1 : 10 (konsentrasi hipoklorit 0,5%) digunakan bila terjadi kontaminasi luas dan bahan yang terkontaminasi ini tidak bisa dibersihkan dengan air dan sabun. Melakukan dekontaminasi dengan klorin hanya

direkomendasikan sesudah dilakukan dekontaminasi dengan air dan sabun, dan larutan klorin ini harus dibersihkan sesudah 10 hingga 15 menit. j. Semua orang yang di dekontaminasi harus melepaskan pakaian dan barang-

barang mereka dan memasukkannya ke dalam tas plastik, yang di beri keterangan yang jelas, berisi nama pemilik barang, nomer telpon yang bisa dihubungi, dan keterangan tentang isi tas plastik tersebut. Barang-barang ini akan di simpan sebagai barang bukti terhadap kemungkinan adanya tindakan kriminal dan barang ini akan dikembalikan kepada pemiliknya bila ancaman ini tidak terbukti. k. Jika paket atau amplop yang dicurigai berisi anthrax dalam keadaan tertutup

(tidak terbuka), mereka yang menemukan amplop ini sebaiknya tidak melakukan apapun selain menghubungi FBI. Upaya karantina, evakuasi, dekontaminasi dan kemoprofilaksis sebaiknya tidak dilakukan bila amplop atau paket dalam keadaan tertutup. Untuk kejadian yang disebabkan oleh surat yang mungkin terkontaminasi, lingkungan yang kontak langsung dengan surat tersebut harus di dekontaminasi dengan larutan hipoklorit 0,5 % sesudah dilakukan investigasi terhadap kemungkinan adanya tindakan kriminal. Barang-barang pribadi juga perlu didekontaminasi dengan cara yang sama. l. Bantuan teknis dapat diberikan segera dengan menghubungi National Response Center di 800-424-8802 atau Weapon of Mass Destruction Coordinator

FBI setempat.

DAFTAR PUSTAKA

Anak,Agung,Gde,Putra.2004. Letupan Penyakit Anthrax Pada Ternak Di Kabupaten Ngada Propinsi Nusa Tenggara Timur 1 (Outbreak Of Anthrax In Ngada District, East Nusa Tenggara). Buletin Veteriner, BPPV Denpasar Vol. XVI No. 64 Juni 2004 ISSN: 0854-901X

Akbid.2010.AnthraxPenyakitHewanyangPerluDiwaspadaiBadanLitbangPertanian.htt p://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/11/makalah-akbid-anthrax.html

Anonim.2008.MengenalBacillusanthracis.http://witarto.wordpress.com/2008/01/16/m engenal-bacillus-anthracis/

Anonim.2009.PenyakitAnthrax.http://gayahidupsehat.org/penyakit-anthrax/

Anonim.2011.Antrax.http://abahjack.com/anthrax.html

Hamsafir,Evan.2010.DiagnosisdanPenatalaksanaanPenyakitAnthrax.http://www.info kedokteran.com/info-obat/diagnosis-dan-penatalaksanaan-penyakit-anthrax.html

Hidayat,Nur.2011.SekilastentangAnthrax.http://ptp2007.wordpress.com/sekilastentang-anthrax/

Omkutjing.2009.Anthrax.http://kumpulanartikelkesehatan.wordpress.com/2009/10/10 /anthrax/

Shieh et al.Journal dari Amerika Pathology,Nov 2003, Vol 163,no. 5, Halaman 1908, Kolom 2 Zoonosi\CDC A Two-Component Direct Fluorescent-Antibody Assay for Rapid Identification of Bacillus anthracis.html