Anda di halaman 1dari 45

FTS-045 045 Aspek Hukum dan Administrasi Proyek Konstruksi

SENGKETA KONSTRUKSI
Cut Zukhrina Oktaviani, ST.,MT
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala

Pengertian (1)
Perselisihan atau konflik adalah pertentangan atau ketidaksesuaian an antara para pihak yang akan dan sedang mengadakan hubungan atau kerja sama. Perselisih isihan dapat terjadi antara dua pihak atau lebih. Wujud perselisihan dapat dalam berbagai bentuk. Dimana bentuk-bentuk bentuk perselisihan dapat berkaitan dengan :

evident kekuasaan (authority) kepentingan (interests) hukum (law) sosial (personal law)2

Pengertian (2)
Secara umum, berbagai faktor penyebab perselisihan yaitu: 1. Perbedaan Informasi atau Data: disebabkan oleh kurangnya informasi, kesalahan informasi, perbedaan pandangan atau interpretasi. interpretasi 2. Perbedaan Kepentingan: : adanya perbedaan kepentingan psikologi, kepentingan prosedural, dan kepentingan substansi. 3. Relationship: dipengaruhi oleh emosi, persepsi yang berbeda, komunikasi yang buruk dan perilaku negatif. 4. Struktural: berhubungan dengan masalah sumber daya, waktu, faktor geografis, kewenangan, kewenangan dan pembuatan keputusan. 5. Perbedaan Nilai: adanya perbedaan perilaku yang dipengaruhi berbagai nilai, nilai pandangan hidup, ideologi, agama, dst. 3

Pengertian (3)
Sengketa konstruksi adalah sengketa yang terjadi sehubungan dengan pelaksanaan suatu usaha jasa konstruksi antara para pihak tersebut dalam suatu kontrak konstruksi Disebut juga Construction Dispute Sengketa di bidang perdata sesuai UU No. 30/1999 Pasal 5 diijinkan penyelesaian melalui arbitrase

CIRCLE OF CONFLICT
Causes/Sources of Conflict
Masalah Hubungan: Emosi yang kuat Mispersepsi atau stereotipe Komunikasi yang buruk/keliru Perilaku negatif yang diulang-ulang Permasalahan Data Kurangnya informasi Perbedaan pandangan tentang apa yang dibutuhkan Perbedaan interpretasi Permasalahan Struktural Sumber daya Waktu Faktor geografis Kekuatan/kewenangan Pengambilan keputusan Perbedaan nilai Nilai sehari-hari Ideologi

Interest
Substantif

Mekanisme Terjadinya Perselisihan (Sengketa)

Sumber Penyebab Klaim


Informasi desain tidak tepat Informasi desain tidak sempurna Investigasi lokasi tidak sempurna Reaksi klien yang terlambat Komunikasi yang buruk Sasaran waktu yang tidak realistis Administrasi kontrak yang tidak sempurna Kejadian eksternal yang tidak terkendali Informasi tender yang tidak lengkap Alokasi resiko yang tidak jelas Keterlambatan pembayaran Keterlambatan waktu pelaksanaan Keterlambatan kedatangan material

Tuntutan atau Klaim (Claim)

Tidak disetujui

Perselisihan atau Sengketa (Dispute)

Hubungan Antara Klaim dan Sengketa

DASAR- DASAR TEKNIK PENYELESAIAN SENGKETA


Penyelesaian sengketa dapat dilakukan melalui jalur:

Litigasi (Pengadilan)

Non Litigasi
(Alternative Dispute Resolution)

Penyelesaian sengketa melalui arbitrase lebih disukai daripada penyelesaian sengkata melalui pengadilan

Alternatif Dispute Resolution (ADR)


Alternatif penyelesaian sengketa meliputi:
Negosiasi Mediasi Arbitrase Litigasi
Makin komplek, butuh waktu dan biaya substansi makin kecil

Dispute are costly, but resolving disputes may even be costlier


9

Alternative Dispute Resolution (ADR)


Sekumpulan teknik penyelesaian sengketa secara cepat dan murah, tanpa melalui proses litigasi atau arbitrase yang panjang ADR tidak selalu diterapkan dalam berbagai kasus Latar Belakang munculnya ADR:
Penyelesaian perselisihan melalui litigasi sangat memakan waktu dan biaya Penyelesaian sering tidak memuaskan kedua belah pihak karena keputusan seringkali diambil oleh pihak yang sering tidak menguasai masalah teknis proyek Penyelesaian melalui arbitrase sering berlarut-larut

LATAR BELAKANG ADR


Tuntutan Dunia Bisnis (Konstruksi)

Kritik Bagi Lembaga Peradilan

Peradilan Tidak Responsif

Kemampuan Hakim yang Generalis

Perkembangan ADR
Konsep ADR diperkenalkan di AS 1975 pada proyek Eisenhower Tunnel berke kembang dan diterapkan di beberapa negara (Eropa). Di Indonesia: tahap pertama proses litigasi pihak-pihak pihak yang bersengketa selalu diminta untuk berdamai di luar pengadilan. Tindakan preventif terhadap perselisihan: suatu proses ADR dapat dinyatakan sebagai sa satu cara penyelesaian perselisihan dalam kontrak. Teknik teknik ADR, khususnya mediasi, muncul untuk mengatasi kelemahan/kegagalan proses negosiasi karena :
Kegagalan komunikasi Kurang informasi yang tepat Orang yang tidak tepat Faktor emosi Kurangnya kemampuan negosiasi Ketidaksepakatan mengenai fakta/prinsip/hak

DASAR HUKUM ADR


Dasar Filosofi Pancasila (asas penyelesaian sengketa melalui musyawarah untuk mencapai mufakat) Reglement op de Burgelijke Rechtvordering (RV) pengaturan mengenai Arbitrase Konvensi Washington (dgn UU No. 5/68) Konvensi New York (dgn Kepres No. 34/81) UU No. 14/70 ttg Kekuasaan Kehakiman telah diakomodir hal sbb: Penyelesaian perkara di luar pengadilan, atas dasar perdamaian atau melalui wasit (arbitrase) {penjelasan ps. 3 UU No. 14/70} Tahun 1977 didirikan BADAN ARBITRASE NASIONAL (BANI)

DASAR HUKUM ADR


Dasar Hukum NEGOSIASI, MEDIASI, KONSILIASI belum ada pengaturan secara tegas, hanya berpedoman pada ETIKA BISNIS UU No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (isinya lebih cocok disebut UU ttg Arbitrase dan mekanisme proses penyelesaian sengketa melalui arbitrase, sedangkan lembaga ADR lain tidak dibahas)

ADR UU RI No. 30/1999


Negosiasi (independent) Ps 6 (2) max 14 hari (penyelesaian) Mediasi (independent) Ps 6 (4) max 14 hari (penyelesaian) Mediasi (involvement dari lembaga arbitrase & ADR dalam penentuan arbiter) Ps 6 (5) max 7 hari (penentuan) Ps 6 (6) max 30 hari (penyelesaian) Ps 6 (7) wajib didaftarkan ke PN dalam 30 hari setelah sepakat Arbitrase Ps 48 (1) max 180 hari (penentuan) Ps 62 (1) wajib didaftarkan ke PN dalam 30 hari

Waktu lama

Mahal

Litigasi

Pertikaian

Kurang Jujur

proses penyelesaian sengketa melalui Jalur Pengadilan


Kurang Netral

Murah

Hub. baik

Cepat

ADR

Sukarela

Non Judicial (luwes)

proses penyelesaian sengketa di luar Jalur Pengadilan


Netral Rahasia

Sesuai Kebutuhan

BENTUK-BENTUK BENTUK ADR

Negosiasi Mediasi Konsoliasi

Arbitrase

Negosiasi
Mekanisme penyelesaian perselisihan atau sengketa (dispute) dimana kedua belah pihak bertemu untuk bermusyawarah. Negosiasi pada dasarnya adalah mencari jalan keluar, bukan saling menyalahkan. Penyelesaian perselisihan bertujuan untuk saling menguntungkan atau mengurangi kerugian kedua belah pihak. Negosiasi tidak melibatkan pihak ketiga namun memerlukan orang yang tepat untuk bernegosiasi. Bila tidak dicapai kesepakatan maka kedua belah pihak dapat mencoba mekanisme mediasi.

MENGAPA MEDIATION
Penyelesaian melalui mediasi tidak hanya dilakukan di luar pengadilan saja, akan tetapi Mahkamah Agung berpendapat prosedur mediasi patut untuk ditempuh bagi para pihak yang beracara di pengadilan. Langkah ini dilakukan pada saat sidang pertama kali digelar. Adapun pertimbangan dari Mahkamah Agung, mediasi merupakan salah satu solusi dalam mengatasi menumpuknya perkara di pengadilan. Proses ini dinilai lebih cepat dan murah, serta dapat memberikan akses kepada para pihak yang bersengketa untuk memperoleh keadilan atau penyelesaian yang memuaskan atas sengketa yang dihadapi. Di samping itu institusionalisasi proses mediasi ke dalam ststem peradilan dapat memperkuat dan memaksimalkan fungsi lembaga pengadilan dalam penyelesaian sengketa di samping proses pengadilan yang bersifat memutus (ajudikatif).

MEDIATION
DEFINISI Upaya penyelesaian sengketa secara damai dimana ada keterlibatan pihak ketiga yang netral (mediator) , yang secara aktif membantu pihak-pihak pihak yang bersengketa untuk mencapai suatu kesepakatan yang dapat diterima oleh semua pihak (MEDIASI). Kovach Facilitated negotiation. It is a process by which a neutral third party, the mediator, assist disputing parties in reaching a mutually satisfactory resolution. Nolan Haley A short term, structured, task, oriented, participatory intervention process. Disputing parties work with a neutral third party, the mediator, to reach a mutually acceptable agreement

MEDIASI DI PENGADILAN
Peraturan Mahkamah Agung (Perma) Nomor 2 Tahun 2003 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan memberikan definisi sebagai:
penyelesaian sengketa melalui proses perundingan para pihak dengan dibantu oleh mediator.

Mediasi dilaksanakan melalui suatu perundingan yang melibatkan pihak ketiga yang bersikap netral (non intervensi) dan tidak berpihak (impartial) kepada pihakpihak yang bersengketa serta diterima kehadirannya oleh pihak-pihak pihak yang bersengketa.

MEDIASI DI PENGADILAN
Pihak ketiga tersebut adalah mediator atau penengah yang tugasnya hanya membantu pihakpihak pihak yang bersengketa dalam menyelesaikan masalahnya dan tidak mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan. Dapat dikatakan seorang mediator hanya bertindak sebagai fasilitator saja. Melalui mediasi diharapkan dicapai titik temu penyelesaian masalah atau sengketa yang dihadapi para pihak, yang selanjutnya dituangkan sebagai kesepakatan bersama. Pengambilan keputusan tidak berada di tangan mediator, tetapi berada di tangan para pihak yang bersengketa.

UNSUR-UNSUR UNSUR MEDIASI


Sebuah proses penyelesaian sengketa berdasarkan perundingan. Adanya pihak ketiga yang bersifat netral yang disebut sebagai mediator (penengah) terlibat dan diterima oleh para pihak yang bersengketa dalam perundingan itu. Mediator tersebut bertugas membantu para pihak yang bersengketa untuk mencari penyelesaian atas masalahmasalah sengketa. Mediator tidak mempunyai kewenangan membuat keputusankeputusan selama proses perundingan berlangsung. Mempunyai tujuan untuk mencapai atau menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima pihak-pihak yang bersengketa guna mengakhiri sengketa.

SKEMA MEDIATION

PIHAK A

PIHAK B

MEDIATOR

KEUNTUNGAN MEDIASI
Para pihak yang bersengketa dapat tetap berhubungan baik. Hal ini sangat baik bagi hubungan bisnis karena pada dasarnya bertumpu pada good relationship dan mutual trust Lebih murah dan cepat Bersifat rahasia (confidential), sengketa yang timbul tidak sampai diketahui oleh pihak luar, penting untuk menjaga reputasi pengusaha karena umumnya tabu untuk terlibat sengketa Hasil-hasil memuaskan semua pihak Kesepakatan-kesepakatan kesepakatan lebih komrehensif Kesepakatan yang dihasilkan dapat dilaksanakan

Fungsi Mediator
Sebagai katalisator (mendorong suasana yang kondusif). Sebagai pendidik (memahami kehendak, aspirasi, prosedur kerja, dan kendala usaha para pihak). Sebagai penerjemah (harus berusaha menyampaikan dan merumuskan usulan pihak yang satu kepada pihak yang lain). Sebagai nara sumber (mendaya gunakan informasi). Sebagai penyandang berita jelek (para pihak dapat emosional). Sebagai agen realitas (terus terang dijelaskan bahwa sasarannya tidak mungkin dicapai melalui suatu proses perundingan). Sebagai kambing hitam (pihak yang dipersalahkan)

PROSES MEDIASI
Tahap pertama: menciptakan forum.
Dalam tahap ini kegiatan-kegiatan kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut: Rapat gabungan. Pernyataan pembukaan oleh mediator, dalam hal ini yang dilakukan adalah: mendidik para pihak; menentukan pokok-pokok pokok aturan main; membina hubungan dan kepercayaan. Pernyataan para pihak, dalam hal ini yang dilakukan adalah: dengar pendapat (hearing); menyampaikan dan klarifikasi informasi; cara-cara interaksi.

PROSES MEDIASI
Tahap kedua: mengumpulkan dan membagi-bagi membagi informasi.
kegiatan yang dilakukan dengan Dalam tahap ini kegiatan-kegiatan mengadakan rapat-rapat rapat terpisah yang bertujuan untuk: Mengembangkan informasi selanjutnya; Mengetahui lebih dalam keinginan para pihak ; Membantu para pihak untuk dapat mengetahui kepentingannya ; Mendidik para pihak tentang cara tawar menawar penyelesaian masalah.

PROSES MEDIASI
Tahap ketiga: pemecahan masalah.
Dalam tahap ketiga yang di dilakukan mediator mengadakan rapat bersama atau lanjutan rapat terpisah, dengan tujuan untuk: Menetapkan agenda. Kegiatan pemecahan masalah. Menfasilitasi kerja sama. Identifikasi dan klarifikasi isu dan masalah. Mengembangkan alternatif dan pilihan-pilihan. pilihan Memperkenalkan pilihan-pilihan pilihan tersebut. Membantu para pihak untuk mengajukan, menilai dan memprioritaskan kepentingan-kepentingannya. kepentingan

PROSES MEDIASI
Tahap keempat: pengambilan keputusan.
Dalam tahap ini, kegiatan-kegiatan kegiatan yang dilakukan sebagai berikut: Rapat-rapat bersama. Melokalisasikan pemecahan masalah dan mengevaluasi pemecahan masalah. Membantu para pihak untuk memperkecil perbedaan-perbedaan. perbedaan Mengkonfirmasi dan klarifikasi kontrak.

PROSES MEDIASI
Tahap keempat: pengambilan keputusan.
Membantu para pihak untuk memperbandingkan proposal penyelesaian masalah dengan alternatif di luar kontrak. Mendorong para pihak untuk menghasilkan dan menerima pemecahan masalah. Mengusahakan formula pemecahan masalah berdasarkan winwin solution dan tidak ada satu pihakpun yang merasa kehilangan muka. Membantu para pihak untuk mendapatkan pilihannya. Membantu para pihak untuk mengingat kembali kontraknya.

Ketrampilan dan Teknik Mediator


Ketrampilan pengorganisasian perundingan.
Merencanakan dan menjadwalkan pertemuan. Tepat waktu. Menyambut kedatangan para pihak dalam perundingan. Dll.

Ketrampilan perundingan.
Mengarahkan pertemuan. Mengingatkan penyelesaian perundingan bukan mediator. Menentukan siapa yang memulai pembicaraan. Kapan kaukus diasakan dan skorsing.

Ketrampilan dan Teknik Mediator


Ketrampilan menfasilitasi
Mengubah posisi menjadi isu-isu isu yang diperlukan. Mengatasi emosi. Menghadapi kemungkinan jalan buntu (deadlock). Melintasi halangan terakhir (the last gap). Komunikasi verbal. Mendengar secara efektif. Membingkai ulang. Komunikasi non verbal. Kemampuan bertanya. Mengulang pertanyaan. Menyimpulkan. Membuat catatan. Empati. Humor.

Ketrampilan komunikasi.

KAUKUS
Definisi Caucus (USA: Separate meetings) Australia : Private Meetings Merupakan proses paling penting dan merupakan ciri khas dari mediasi. Bisa dilakukan dengan salah satu pihak dan pengacaranya atau hanya dengan salah satu pihak.

FUNGSI KAUKUS
Memungkinkan salah satu pihak untuk mengungkapkan kepentingan yang tidak ingin mereka ungkapkan didepan mitra rundingnya. Mediator mencari informasi tambahan. Membantu mediator dalam memahami motivasi dan prioritas para pihak dan membangun empati serta kepercayaan secara individual. Memberikan pada para pihak waktu dan kesempatan untuk menyalurkan emosi kepada mediator tanpa membahayakan kemajuan mediasi. Memungkinkan mediator untuk menguji seberapa realistis opsi-opsi opsi yang diusulkan.

FUNGSI KAUKUS
Memungkinkan mediator untuk mengarahkan para pihak untuk melaksanakan perundingan yang konstruktif. Memungkinkan mediator dan para pihak untuk mengembangkan dan mempertimbangkan alternatifalternatif alternatif baru. Memungkinkan mediator untuk mempengaruhi para pihak untuk menerima penyelesaian.

WAKTU KAUKUS
Di awal mediasi
Bertujuan untuk menumpahkan emosi, merancang prosedur negosiasi, mengidentifikasikan isu.

Di tengah mediasi
Mencegah komitmen yang prematur.

Di akhir mediasi
Mengatasi kebuntuan, merancang proposal, menformulasikan kesepakatan.

Kecakapan-kecakapan kecakapan Mediator dalam Bernegosiasi

Mempertimbangkan Nilai-Nilai Nilai dan Cara Pandang Pihak Lain

Memahami Orang Lain

Dalam Negosiasi

Berkomunikasi Dengan Baik

Mengendalikan Emosi

Arbitrase
Arbitrase adalah:
Mekanisme penyelesaian perselisihan dengan melibatkan badan arbitrase. arbitrase Badan arbitrase terdiri dari arbitrator: pengacara, kontraktor, konsultan (engineer), dan konsultan klaim. Arbitrator harus memiliki pengetahuan bidang konstruksi dan memahami permasalahan sengketa yang dihadapinya. Apabila tidak mencapai penyelesaian maka kedua belah pihak dapat menempuh jalur hukum melalui proses pengadilan (litigasi)

Definisi Arbitrase
Prof. R. Subekti (Arbitrase Arbitrase Perdagangan, 1992) Penyelesaian atau pemutusan sengketa oleh seorang arbiter (para arbiter) berdasarkan persetujuan bahwa para pihak akan tunduk pada atau mentaati keputusan yang diberikan oleh arbiter (para arbiter) yang mereka pilih atau tunjuk tersebut UU Arbitrase & Penyelesaian Perselisihan No. 30/1999 Ps 1 (1) Cara penyelesaian satu sengketa perdata di luar peradilan umum yang berdasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa

Syarat (Material Arbiter)


Cakap melakukan tindakan hukum Berumur paling rendah 35 tahun Tidak mempunyai hubungan keluarga sedarah atau saudara sepupu Tidak mempunyai kepentingan finansial atau kepentingan lain atas putusan arbitrase Memiliki pengalaman serta menguasai secara aktif di bidangnya paling sedikit 15 tahun

Obyek Arbitrase UURI 30/1999


Ps 5 (1) : sengketa yang dapat diselesaikan melalui arbitrase hanya sengketa di bidang perdagangan dan hak yang menurut hukum dan peraturan perundang undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa. Ps 5 (2) : sengketa yang tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase adalah sengketa yang menurut peraturan perundang undangan tidak dapat diadakan perdamaian.

Klausula Arbitrase es standar dalam kontrak


Kesepakatan (komitmen) para pihak untuk melaksanakan arbitrase jika terjadi sengketa dalam pelaksanaan kontrak Ruang lingkup arbitrase (dalam kontrak konstruksi dapat juga diatur untuk penyelesaian sengketa bersifat teknis) Lembaga arbitrase yang digunakan (apakah arbitrase institusi atau ad hoc, jika yang digunakan adalah ad hoc maka kalusula harus mengatur cara penunjukan arbiter atau majelis arbiter) Ketentuan prosedural yang digunakan (mis. BANI, ICC, AAA) Tempat dan bahasa yang digunakan dalam arbitrase Pilihan terhadap hukum substansi yang berlaku

Prosedur Penyelesaian Perselisihan Berdasarkan FIDIC


84 hari Pengajuan untuk Memulai Arbitrase (Pasal 67.1) Tidak ada Pengajuan untuk Memulai Arbitrase oleh Owner atau Kontraktor, maka Arbitrase Efektif (Pasal 67.3)

Pengajuan Tertulis Perselisihan Oleh Owner atau Kontraktor (Pasal 67.1)

Persyaratan Pekerjaan Berjalan Terus Secara Normal (Pasal 67.1)

Usaha Amicable Settlement (Pasal 67.2) Keputusan Konsultan Pengawas (Ps. 67.1) 70 hari 56 hari Protes Atas Keputusan Konsultan Pengawas dan Pengajuan untuk Memulai Arbitrase (Pasal 67.1)

Arbitrase Efektif (Pasal 67.2)

Tidak Ada Protes, Keputusan Pengawas Final dan Mengikat, dan Keputusan Dijalankan Oleh Owner dan Kontraktor (Pasal 67.1)

-Masa Konstruksi atau Masa Pemeliharaan/Purna Konstruksi -Sebelum atau Sesudah Pemutusan Kontrak -Sebelum atau Sesudah Berakhirnya Kontrak (Pasal 67.1)

Tidak Ada Protes, Keputusan Pengawas Final dan Mengikat dan Keputusan Tidak Dijalankan Oleh Owner dan Kontraktor, maka Arbitrase Efektif (Pasal 67.4)