Anda di halaman 1dari 30

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Penyakit infeksi dewasa ini masih merupakan urutan teratas, demikian pula infeksi rongga mulut dan penyebarannya ke daerah maksilofasial. Infeksi odontogen adalah yang paling umum dari semua infeksi yang terdapat pada oral dan maksilofacial walaupun sebagian infeksi ini dapat ditangani dengan minimal komplikasinya, tetapi ada juga yang menimbulkan kegawatan yaitu morbiditas, septikemia, obstruksi jalan nafas, syok bahkan mortalitas. Penatalaksana harus dilakukan dengan benar, hal tersebut dapat diperoleh bila mengetahui faktor fisiologis dan anatomis dari hal-hal yang mempengaruhi penyebaran infeksi odontogen. leh karena itu sebagai mahasiswa kedokteran gigi penting bagi kita untuk mempelajari tentang penyebaran dan lokasi infeksi odontogen. 1.! "umusan #asalah 1. Bagaimana perjalanan penyakit mulai dari infeksi hingga timbul gejala $ !. %pa diagnosa kasus pada skenario $ &. #enjelaskan tentang drainase $ a. %pa definisi dari drainase $ b. %pa syarat-syarat drainase $ c. %pa saja macam-macam drainase dan tekniknya $ '. Bagaimana pemeliharan pasca operatif (. Bagaimana ) P infeksi odontogen 1.& *ujuan 1. #engetahui dan memahami perjalanan penyakit mulai dari infeksi sampai timbul gejala !. #engetahui dan memahami diagnosa pada skenario &. #engetahui dan memahami tentang a.definisi drainase b. syarat-syarat drainase
1

c. macam-macam drainase '. #engetahui dan memahami pemeliharaan pasca operatif (. #engetahui dan memahami ) P infeksi odontogen

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Infeksi pada gigi umumnya diawali dengan adanya kerusakan pada lapisan keras gigi hingga mencapai daerah pulpa. Infeksi ini disebabkan adanya mikroorganisme yang menghasilkan produknya dan bersifat patogen. #ikroorganisme yang pada umumnya terdapat pada pulpa dan jaringan periapikal yang terinfeksi antara lain+ Mikroorganisme Streptococci ,-- dan nonhemolitik. Streptococcus Anaerobic streptococci Staphylococci Proteus species Escherichia coli Diphteroids Actinomyces species Neisseria species Lactobacillus species Propionibacterium Bacteroides-like gram-negative rods Fusobacteris eillonella species !andida albicans ,*opa4ian, 122'. Faktor Pre is!osisi In"eksi *erjadinya infeksi oleh mikroorganisme disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain karakteristik dari mikroorganisme itu sendiri, metabolisme dari sel host, kemampuan sel host memproduksi sel pertahanan, sel produksi toksin dari bakteri ,*opa4ian, 122'.. 5aktor-faktor yang berperan terjadinya infeksi antara
3

(%) (/ 1( 10 11 ' ' ' ' ( ( !/ 1( ( !2 3

lain 6irulensi dan kwalitas mikroorganisme, pertahanan tubuh lokal, pertahanan tubuh humoral, dan pertahanan seluler ,7arasutisna, !//1.. Patogenitas suatu mikroorganisme ditentukan oleh+ 1. *oksin bakteri, yang dapat menyebabkan leukopenia, meningkatnya permeabilitas kapiler dan pendarahan. !. 8n4im yang dihasilkan bakteri, menyebabkan kerusakan pada sel host. &. Imunopatologis dari infeksi bakteri. '. *oksisitas jamur (. Patogenesa dari infeksi 6irus, yang dapat mempercepat kematian sel dan menganggu metabolisme serta pertahanan tubuh sel host. ,*opa4ian, 122'. Patogenesa )uatu infeksi bila mikroorganisme dapat mask ke dalam host dan mengadakan perkembangbiakan di dalam tubuh host, kemudian melakukan pertahanan serta mempengaruhi sistem pertahanan host itu sendiri dan melakukan perusakan. Pada infeksi pulpa, mikroorganisme mengin6asi pulpa yang diaewali dengan terjadinya karies gigi. 7emudian mikroorganisme akan masuk lebih jauh melalui tubuli dentinalis dan mencapai pulpa. 7emudian diteruskan sampai pada ligamen periodontal melalui apek gigi. 7emudian dapat menyebar luas melalui pembuluh darah ,*opa4ian, 122'.. Penyebaran infeksi bersumber dari gigi akan melalui & tahap yaitu abses dentola6eolar, tahap yang menyangkut spasium dan tahap lebih lanjut yang merupakan tahapa komplikasi. )uatu abses akan terjadi bila bakteri dapat masuk ke jaringan melalui suatu luka ataupun folikel rambut. Pada abses rahang dapat melalui foramen periapikal atau marginal gingi6a. Penyebarab infeksi melalui foramen apikal berawal dari kerusakan gigi atau karies, kemudian terjadi proses inflamasi di sekitar periapikal di daerah membran periodontal berupa suatu periodontitis apikalis. "angsangan yang ringan dan kronis menyebabkan membran periodontal di apikal mengadakan reaksi membentuk dinding untuk
4

mengisolasi penyebaran infeksi. "espon jaringan periapikal terhadap iritasi tersebut dapat berupa inflamasi akut atau kronis. %pabila terjadi akut akan berupa periodontitis apikalis yang supuratif atau abses dentoal6eolar. Pada infeksi sekitar foramen apikal terjadi nekrosis jaringan disertai akumulasi leukosit yang banyak dan sel inflamasi yang lain. )edangkan pada jaringan sekitar abses akan tampak hiperemi pembuluh darah dan oedem. Bila masa infeksi bertambah maka tulang sekitarnya akan tersangkut, dan terjadi supurasi. Penyebaran selanjutnya akan melalui kanal tulang menuju permukaan tulang dan periosteum. *ahap berikutnya periosteum akan pecah dan pus akan mengumpul pada suatu tempat di antara spasia sehingga terbentuk rongga patologis. 7eterlibatan suatu spasium tergantung pada gigi penyebab, letak apeks gigi, letak insersi otot yang melekat di sekitar gigi dan kedekatannya ke arah bukal atau lingual ,7arasutisna, !//1.. Pen#e$aran in"eksi o ontogen Infeksi odontogen pada umumnya menyebar pada daerah kepala-leher setelah menembus periosteum dan prosesus al6eolaris. Infeksi tersebut dapat menyebar ke ruang tertentu di sekitar kepala dan leher yang berkaitan dengannya. 9ejalanya adanya trismus dan disfagia dapat dikaitkan dengan adanya penyebaran pada ruang-ruang tersebut. Pada penyebaran infeksi odontogen arah penembusan pada korteks tulang rahang ditentukan oleh ketebalan tulang di sekitar apeks gigi dan hubungannya antara tempat terjadinya perforasi dengan perlekatan otot pada tulang maksila dan mandibula. *empat perforasi pada umunya di daerah bukal karena tulang bagian bukal lebih tipis tetapi sebaliknya dari akar palatal molar maksila, perforasi lebih sering ke arah palatak sedang pada molar dua dan tiga mndibula sering terjadi ke arah lingual ,7arasutisna, !//1.. Infeksi pada gigi akan menyebar melalui soket. :an arah penyebarannya tergantung pada jumlah dan 6irulensi dari organisme atau mikroorganisme, resistensi host dan anatomi dari aderah yang terkena ,*opa4ian, 122'.. )pasium fasial adalah suatu area yang tersusun atas lapisan fasial di daerah kepala dan leher berupa jaringan ikat yang menembus otot dan berpotensi
5

terserang infeksi serta dapat ditembus oleh eksudat purulen. "uang tersebut antara lain+ 1. )pasium kaninus *erletak antara otot le6ator anguli oris dan le6ator labii superior. Penderita yang mengalami infeksi pada daerah ini menderita pembengkakan dan sembab di bawah mata, kemerahan dan oedema sehingga lipatan nasolabial menghilang. ;uga di dapatkan nyeri tekan. Pada umumnya disebabkan infeksi pada kaninus maksila, karena akarnya panjang infeksi akan menembus tulang sehingga menimbulkan abses pada fosa kanina atau spasium kaninus. !. )pasium bukal *erletak diantara otot bucinator dan kulit superfisial fasial. tot bucinator terletak di superior sepanjang maksila dari premolar dan terletak di inferior bagian permukaan lateral mandibula. Infeksi pada bagian ini disebabkan infeksi pada molar maksila maupun infeksi pada molar mandibula yang menembus tulang. &. )pasium infratemporal *erletak diposterior maksila, pada bagian medial berbatasan dengan lempeng lateral prosesus pterigoideus tulang sphenoid dan bagian superior berbatasan dengan dasar tengkorak. Infeksi di daerah ini biasanya disebabkan gigi posterior maksila. Pada umumnya terdapat penonjolan jaringan tepat di atas dan di bawah arkus 4igomatikus, menyebabkan kesan dumbbell. '. )pasium submental *erletak antara simfisis dan tulang hyoid, bagian lateral dibatasi bagian anterior otot digastrikus kanan dan kiri, bagian superior dibatasi otot mylohyoid dan inferior dibatasi kulit. Infeksi daerah ini disebabkan gigi anterior mandibula. (. )pasium sublingual Barbatasan dengan dasar mulut dan lidah. Pembengkakan pada spasium ini menyebabkan lidah terangkat. 1. )pasium submandibula
6

:ibatasi oleh otot digastrikus anterior dan posterior serta stylohyoid. :asarnya dibentuk oleh mylihyoid dan otot hyoglosus. Pembengkakan pada daerah ini berawal dari tepi inferior mandibula dan meluas ke medial otot digastrikus dan ke arah posterior tulang hyoid. Pada umunya disebabkan infeksi pada daerah premolar dan molar. %pabila spasium sublingual, submandibula dan submental bilateral terkena infeksi disebut sebagai Ludwig<s %ngina. Pada keadaan ini penderita mengalami trismus, kesulitan menelan dan bernafas. Infeksi ini menyebar dengan luas dan menyebabkan obstruksi pernafasan serta kematian. 3. )pasium masseter *erletak antara lateral mandibula dan medial otot maseter, pada umumnya disebabkan infeksi pada molar ketiga. 0. )pasium pterigomandibular *erletak di medial mandibula dan lateral otot pterigomandibula medialis. Pada umumnya tidak tampak pembengkakan tetapi penderita akan mengalami trismus. 2. )pasium temporal *erletak di posterior dan superior dari spasium pterigomandibula. %pabila spasium ini mengalami infeksi maka akan terjadi pembengkakan di daerah temporal, superior arkus 4igomatikus dan orbital lateral. 1/. )pasium faringeal lateral #erupakan bagian dari spasium fasial ser6ikal, bila terjadi perluasan infeksi akan menyebabkan obstruksi pernafasan atau medistinitis. Penyulit infeksi spasium ini adalah timbulnya trombosis pada daerah 6ena jugularis interna, erosi arteri karotis dan mengganggu saraf I= samapi =II, serta menyebarnya infeksi ke spasium retrofaringeal. 11. )pasium retrofaringeal :ibentuk oleh jaringan ikat longgar yang terletak di belakang faring. Infeksi pada daerah ini berakibat fatal karena dapat menyebar ke daerah mediastinum. Pengobatan pada infeksi ini adalah melakukan insisi intraoral atau ser6ikal dan drainase.
7

1!. )pasium pre6ertebral )pasium ini meluas dari tuberkel faringeal pada dasar tengkorak sampai diafragma. ,Pedersen, 1221. Penanganan In"eksi %& F'ngsi Perta(anan Se) Host *ubuh a memiliki fungsi pertahanan yang akan mencegah in6asi mikroorganisme lebih lanjut, yaitu+ %ntibodi 7etika sel terkena infeksi terhadap antigen pertama kali, terdapat periode selama beberapa hari di mana dalam serum akan terdeteksi adanya immunoglobulin spesifik. Immunoglobulin yang tampak pertama kali adalah Ig#, yang diproduksi selama &-' hari. 7emudian produksinya menurun dan digantikan dengan Ig9. b >etralisasi *oksin Beberapa toksin dari bakteri akan merangsang pengeluaran antibodi yang bersifat penetralisisr. c psonisasi Ig9 dan Ig# akan merangsang fagositosis terhadap bakteri, terutama yang berkapsul. #ekanisme pertahanan ini diawali dengan perlekatan bakteri terhadap fagosit sehingga kemudian dapat di fagositosis. Perlekatannya dibantu oleh komplemen. d Bakteriolisis Interaksi antara antibodi spesifik dengan komponen antigen dari sel bakteri menyebabkan lisisnya sel tersebut. Pada umumnya terjadi pada bakteri gram negatif. e ?ambatan Perlekatan ;ika suatu antibodi spesifik berinteraksi dengan permukaan bakteri atau 6irus, hal ini akan mencegah perlekatan bakteri dengan sel host. f @ell-mediated Immunity
8

?al ini berhubungan dengan akti6itas sel *. )etelah berkontak dengan antigen, sel * akan memproduksi mediator yang sitokin, yang memiliki berbagai macam kemampuan biologis dan mengandung substansi yamng menstimulasi akti6itas makrofag. ,*opa4ian, 122'. *& Tin akan Me is *erapi berdasarkan pada kegawat daruratan pada saat itu, yaitu+ a. #emperhatikan ada tidaknya gangguan pada saluran pernafasan, karena kelainan pada daerah ini akan menyebabkan kematian dengan cepat. b. 7eadaan sistemik, adanya demam, dehidrasi dan toksisitas, yaitu dengan pemberian antipiretik atau tindakan penggantian cairan tubuh. c. Pemberian antibiotik jika perlu d. *indakan bedah, seperti insisi e. 7ontrol, meliputi gejala, pemeriksaan labolatorium dan keadaan klinis f. *erapi modifikasi Perawatan pada ifeksi dapat dengan cara pemberian obat-obatan, tindakan bedah atau terapi kombinasi. 7etika suatu gigi teridentifikasi dengan suatu kelainan, maka penanganan akan memperhatikan faktor resiko dari kelainan tersebut, kesehatan umum penderita dan biomekanikal gigi yang terlibat. *erapi utama adalah insisi dan drainase. *erapi ini akan mengeluarkan material purulen yang toksis dan mengembalikan keadaan jaringan seperti semula. 7eadaan ini harus diikuti dengan perfusi jaringan yang baik dari pembuluh darah dan berisi antibiotik dan elemen pertahanan yang dapat meningkatkan oksigenasi ke jaringan yang terluka. %bses harus didrainase pada saat yang sama dengan perawatan pada gigi penyebab. )elain itu terapi yang digunakan adalah dengan pemberian antibiotik, hal ini akan melokalisir abses sehingga mudah didrainase. *erutama pada penderita ddengan gangguan sistemik membutuhkan antibiotik. 9olongan penisilin merupakan golongan antibiotik yang banyak digunakan di bidang kedokteran gigi ,*opa4ian, 122'..
9

10

BAB III PEMBAHASAN &.1 MAPPIN+ 9%>9"8> "%:I7) P%* 98>8)I) 98;%L% P8#8"I7)%%> )AB;87*I5 P8>A>;%>9 B;8@*IB8 I 8

:I%9> )% "8>@%>% P8"%C%*%> "8?%BILI*%*I5

11

&.! Patogenesis kas's !a a skenario %bses adalah infeksi terlokalisir pada jaringan yang ditandai dengan kumpulan pus pada jaringan yang terinflamasi. )ebuah abses adalah tahap terakhir dari sebuah jaringan infeksi yang diawali dengan proses yang disebut radang. Pada awalnya, sebagai in6asi kuman mengaktifkan sistem kekebalan tubuh dan beberapa peristiwa terjadi+
1. 2.

Peningkatan aliran darah pada daerah tersebut. )uhu di daerah tersebut meningkat karena meningkatnya aliran darah ,7alor.. Bengkak karena akumulasi air, darah, dan cairan lainnya ,*umor.. 7emerahan ,"ubor.. "asanya sakit, yang disebabkan oleh gangguan dari bengkak dan akti6itas kimia ,:olor. Banyak agen yang berbeda menyebabkan abses. Dang paling umum

3. 4.

(.

adalah bakteri pembentuk-nanah ,pyogenic. seperti Staphylococcus Aureus" yang hampir selalu penyebab abses di bawah kulit . %bses gigi adalah komplikasi dari karies gigi. %bses gigi juga disebabkan oleh trauma pada gigi, seperti gigi rusak atau patah. 8namel gigi yang terbuka juga dapat mengakibatkan infeksi bakteri ke pulpa gigi. Infeksi menjalar ke akar gigi dan ke tulang penyangga gigi. 9ejalanya adalah rasa pahit di mulut, napas bau, tidak nyaman, rasa gelisah, rasa sakit, demam, sakit saat mengunyah, gigi sensitif terhadap panas dan dingin, bengkak pada kelenjar di leher dan bengkak pada rahang atas atau bawah .Pus yang berada di periapikal dalam perkembangan berikutnya akan keluar menembus tulang dengan arah yang ber6ariasi tergantung dalamnya akar gigi dan kondisi lokal sekitar gigi. Pada umumnya pus akan berjalan ke sisi yang terdekat. Pada regio molar perforasi tulang dapat terjadi di atas atau di bawah perlekatan #. Buccinator dan akhirnya pus dapat keluar ke ekstra oral atau ke arah kulit. %pabila arah pus
12

langsung ke tulang al6eolar akan sampai di bawah periosteum dan timbul keadaan periostitis. 7eradangan yang terjadi masih berupa cairan serous, terletak di antara korteks dan periosteum yang meliputinya. Belum terbentuk pus. Bila kemudian terjadi supuratif di bawah periosteum terbentuklah abses sub periosteal ,*opa4ian, 122'..

+am$ar A$ses s'! !eriostea)

7elanjutan subperiosteal abses yaitu pus berkumpul dan sampai di bawah mukosa setelah periosteum tertembus. "asa sakit mendadak berkurang sedangkan pembengkakan bertambah besar. 9ejala lain yaitu masih terdapat pembengkakan ekstra oral kadang-kadang disertai demam. Lipatan mukobukal terangkat, pada palpasi lunak dan fluktuasi positif. Bila abses berasal dari gigi insisi6us atas maka sulkus nasolabial mendatar, terangkatnya sayap hidung dan kadang-kadang pembengkakan pelupuk mata bawah. 7elenjar limfe submandibula membesar dan sakit pada palpasi. Ini dinamakan Bestibular abses atau abses submucous ,7arasutisna dkk, !//1.. )ecara klinis 6estibular abscess ditandai dengan pembengkakan ekstra oral yang tidak berbatas jelas ,difuse., palpasi sakit, pembesaran kelenjar limfe regional. Intra oral tampak buccal fold terangkat, warna kemerahan, pada palpasi terkena sakit dan ada fluktuasi. *erdapat gigi gangren yang memberikan respon sakit pada tes perkusi dan tekan. %bses ini dapat pecah secara spontan dan membentuk drainase, berupa fisel intra oral, tempat keluarnya nanah ke dalam rongga mulut, sehingga tanda-tanda infeksi akut mereda. Bila fistel ini tertutup

13

maka

infeksi

menjadi

kambuh

dengan

tanda-tanda

akut

kembali

,)oemartono,!//1.. #erupakan kelanjutan dari abses apical ,abses superiostal melalui sereus periostitis.. Biasanya proses dari sereus periostitis menjadi submukosa berjalan antara &-' hari. Bila sudah sampai pada submukosa rasa sakit sudah agak mereda. %namnesa byektif + - Pembengkakan terjadi sejak &-' hari - "asa sakit berkurang dibanding sebelumnya + - Pembengkakan eEtra oral yang tidak begitu besar dan difus. Pada perabaan terdapat sedikit rasa sakit. - *erdapat limfadenopati - 9igi penyebab gangren dengan nyeri tekan - #ukosa bukal vestibulum oris bengkak sehingga buccal #old terangkat. *erdapat fluktuasi - "osenogram memberikan gambaran radiolusen tidak berbatas jelas pada apical dan lamina dura putus ,?udyono, !//1. &.& Diagnosa Kas's !a a Skenario :iagnose pada scenario adalah A$ses s'$m'k's %bses ini disebut juga abses spasium 6estibular, #erupakan kelanjutan abses subperiosteal, yang telah menembus jaringan periosteum menuju arah submukosa ,6estibulum. labial atau bukal maksilaFmandibula Batas-batas+ Penyebaran ke anterior ,focus infeksi+ gigi-gigi anterior.+ antara mukosa nasolabial, tulang maksila atau mandibula dan #. orbicularis oris Penyebaran ke posterior ,focus infeksi+ gigi-gigi posterior.+ antara mukosa bukal, tulang maksilaFmandibula dan #. buccinators 9ejala dan tanda klinis )ubyektif

14

)etelah terjadi abses periosteal -G sakit hebat mendadak berkurang, demam berkurang tetapi pembengkakan bertambah bektif 8kstra oral

Inspeksi bengkak ,H. pada+ %nterior+ bibir Posterior+ pipi

Palpasi+ bengkak tak teraba, nyeri tekan ,H., suhu bias agak hangat Limfonodi+ teraba ,membesar. dan nyeri tekan ,H. Intra oral bengkak pada 6estibulum yang menyebabkan lipatan

Indpeksi+

nasolabialFmukolabialFmukobukal -G 6estibulum menjadi dangkal, merata, warna normal sampai kemerahan Palpasi+ konsistensi lunak, batas jelas, fluktuasi ,H.

&.' D-AINASE :rainase adalah saluran yang dibuat pada jaringan lunak untuk mengeluarkan eksudat &.'.1 S#arat. S#arat Drainase -#emilih daerah yang bebas berdasarkan pertimbangan estetik -?arus dapat mengurangi tekanan -*idak mencederai banyak jaringan -*idak menyebabkan banyak perdarahan -:idaerah yang mudah dan memanfaatkan gra6itasi
15

-?arus dapat mengeluarkan pus -*idak menimbulkan rasa sakit &.'.! Ma/am.Ma/am Drainase &.'.!.1 Insisi Insisi pada abses memberikan drainase dan pengeluaran bakteri dari jaringan dibawahnya. Prinsip Insisi+ a Insisi pada daerah yang sehat bila keadaan memungkinkan, insisi pada daerah yang mengalami fluktuasi paling besar akan menyebabkan bekas luka yang sulit hilang. b :aerah insisi pada daerah yang terlindungi, sehingga bekas sayatan tidak tampak. c e f ;ika memungkinkan lakukan insisi pada daerah yang terendah dari abses. )tabilisasi posisi drain dengan jaringan lunak sekitarnya. 9unakan drain ekstra oral. d Bersihkan semua eksudat dalam rongga bases.

g ;angan gunakan drain yang sama pada waktu yang lama. h Bersihkan di sekitar luka dari darah dan debris. ?al-hal lain yang harus diperhatikan pada tindakan insisi adalah 1. irigasi dengan normal saline pada daerah pembengkakan untuk menghilangkan debris dan merubah lingkungan yang mendukung perkembangan bekteri menjadi sebaliknya. !. :ilakukan insisi yang cukup besar untuk memasukkan drain sehingga pembukaannya akan bertahan cukup lama, drain dimasukkan dan dipertahankan dengan jahitan. &. :ilakukan penggantian drain setiap hari sampai tidak ada lagi pengeluaran pus '. :ilakukan perawatan pendukung dengan antibiotik dan analgesik (. Perlu ditekankan penderita harus makan dan minum cukup

16

1. Penderita harus memantau adanya gejala penyebaran infeksi berupa demam, meningkatnya rasa sakit dan trismus atau disfagia. 3. 5aktor etiologi harus dihilangkan baik dengan cara kuretase, ekstirpasi pulpa atau pencabutan 0. %pabila keadaan tidak membaik maka dilakukan peningkatan dosis antibiotik atau sebaiknya dilakukan konsultasi ke ahli bedah mulut. Prosedur 1. )iapkan perlengkapan sebagai berikut+ a. %pron b. )arung tangan c. #asker wajah dengan pelindung d. Po6idone iodine atau chlorheEidine e. 7asa steril f. Lidocain 1I atau Lidocain H epinefrin atau Bupi6acaine g. )puit (-1/ ml h. ;arum i. Pisau scalpel ,nomor 11 atau 1(. dengan gagangnya j. 7lem bengkok k. >ormal saline dengan bengkok sterill. )puit besar tanpa jarum m. 9unting n. Plester !. Persiapan a. #inta persetujuan tindakan dokter kepada pasien atau keluarga dekatnya b. Pastikan identitas pasien, tempat pembedahan c. @uci tangan dengan sabun antibakteri dan air d. Pakai sarung tangan dan pelindung muka e. Letakkan semua perlengkapan pada tempat yang mudah diraih, diatas meja tindakan
17

f. Posisikan pasien sehingga daerah drainase terpapar penuh dan dapat dicapai secara mudah dan kondisinya nyaman untuk pasien g. Pastikan cahaya yang memadai agar abses mudah dilihat h. Bersihkan daerah abses dengan chlorheEidine atau po6idon iodine, dengan gerakan melingkar, mulai pada puncak abses i. *utupi daerah disekitar abses untuk mencegah kontaminasi alat j. %nestesi atas abses dengan memasukkan jarum dibawah dan sejajar dengan permukaan kulit. k. )untikkan obat anestesi ke dalam jaringan intra dermal l. *eruskan infiltrasi sampai anda sudah mencapai seluruh puncak dari abses yang cukup besar untuk menganestesi daerah insisi. &. Prosedur Insisi dan drainase abses a. Pegang skalpel dengan jempol dan jari telunjuk untuk membuat jalan masuk ke abses b. Buat insisi secara langsung diatas pusat abses kulit c. Insisi harus dilakukan sepanjang aksis panjang dari kumpulan cairan d. 7endalikan skalpel secara berhati-hati selama insisi untuk mencegah tusukan melalui dinding belakang e. Perluas insisi untuk membuat lubang yang cukup lebar untuk drainase yang memadai dan mencegah pembentuk abses yang berulang f. *ekan isi abses g. #asukkan klem bengkok sampai anda merasakan tahanan dari jaringan sehat, kemudian buka klem untuk menghancurkan bagian dalam dari rongga abses h. *eruskan penghancuran lokulasi dalam gerakan memutar sampai seluruh rongga abses sudah dieksplorasi i. Bersihkan luka dengan normal saline, gunakan spuit tanpa jarum j. *eruskan irigasi sampai cairan yang keluar dari abses jernih
18

k. Apayakan agar dinding abses tetap terpisah dan memungkinkan drainase dari debris yang terinfeksi

'. Perawatan lanjutan a. Antuk abses sederhana tidak perlu antibiotika. b. Antuk selulitis yang luas dibawah abses gunakan antibiotika c. *utup luka abses dengan kasa steril d. 7eluarkan semua benda-benda dari abses dalam beberapa hari e. ;adualkan kontrol !atau & hari sesudah prosedur untuk mengeluarkan bahan-bahan dari luka f. #inta kepada pasien untuk kembali sebelum jadual bila ada tanda-tanda perburukan, meliputi kemerahan, pembengkakan, atau adanya gejala sistemik seperti demam

&.'.!.! Punctie a. Pengertian Punctie ,biasa diartikan tusukan. adalah prosedur medis dimana jarum digunakan untuk membuat rongga yang bertujuan mengeluarkan darah , cairan atau jaringan dari tubuh untuk pemeriksaan pada setiap kelainan pada sel atau jaringan. Punctie yang merupakan praktek memasukkan jarum atau membuat sebuah lubang kecil di jaringan, organ, untuk mengekstrak gas, cairan atau sampel. Pada tusukan, dapat mencapai superficial. *indakan pungsi bertujuan bertujuan untuk menegakkan diagnosis sekaligus untuk maksud terapi juga untuk mengurangi pus yang ada, sehingga pada saat insisi nanah tidak terlalu banyak mengalir ke luar ,menghindari terjadinya aspirasi...

19

b. 7elebihan *erapi pungsi mempunyai beberapa kelebihan,.yaitu + 1. #udah dikerjakan. !. :ikerjakan sekaligus untuk keperluan diagnosis dan

terapi,sehingga trauma jaringan lebih kecil. &. *idak menakutkan penderita. '. #etode lebih mudah, aman dan murah. Pungsi hanya memerlukan alat berupa alat suntik ,semprit dan jarum no.10 9. dan spatula lidah, sedangkan insisi memerlukan alat suntik untuk diagnosis, pisau lengkung, alat penghisap atau kain kasa penghisap untuk mencegah terjadinya aspirasi. c. Teknik P'ngsi )ebuah tusukan dilakukan dengan jarum atau trocar ,kanul memotong atau menusuk.. *empat masuk menusuk kulit. Instrumen yang digunakan harus dinyatakan steril, setelah pemeriksaan klinis,pasien mungkin bisa dilakukan sinar-=. 7ulit didesinfeksi, dalam anestesi localFumum. )ampel yang diambil kemudian akan diperiksa histologis ,biopsi. atau ditempatkan di laboratorium diagnostik. 8ksplorasi tusukan untuk mendirikan atau mengkonfirmasikan diagnosis. Pada infeksi rongga mulut yang sering menggunakan cara pengobatan dengan punctie adalah apabila diagnosanya adalah abses peritonsil.:imana punctie dilakukan terlebih dahulu sebelum dilakukan perawatan lanjutan berupa insisi drainase. ?al ini dimaksudkan untuk mengurangi pus yang
20

ada, sehingga pada saat insisi nanah tidak terlalu banyak mengalir ke luar ,menghindari terjadinya aspirasi.. &.'.!.& pen Bur "ongga patologis yang berisi pus , abses . bisa terjadi dalam daerah periapikal, yang notabene adalah didalam tulang. Antuk mencapai luar tubuh, maka abses ini harus menembus jaringan keras tulang, mencapai jaringan lunak. ;ika periosteum sudah tertembus oleh pus yang berasal dari dalam tulang tadi, maka dengan bebasnya, proses infeksi ini akan menjalar menuju facial space terdekat, karena telah mencapai area jaringan lunak. *erapi menggunakan drainase dengan cara insisi jaringan lunak dimana pus tersebut ada pada jaringan keras tersebut kemudian bur tulang hingga mencapai rongga berisi pus tersebut, kemudian masukkan hemostat hingga kedalaman rongga pus tersebut. )elanjutnya rubber drain setelah drainase.

&.'.!.' #emakai ;arum 8kstirpasi :rainase menggunakan jarum ekstirpasi pada abses periapikal 9igi nekrosis dengan pembengkakan terlokalisasi atau abses al6eolar akut atau disebut juga abses periapikal F periradikuler akut adalah adanya suatu pengumpulan pus yang terlokalisasi dalam tulang al6eolar pada apeks akar gigi setelah gigi nekrosis. Biasanya pembengkakan terjadi dengan cepat, pus akan keluar dari saluran akar ketika kamar pulpa di buka. Perawatan abses al6eolar akut + 1. mula-mula dilakukan buka kamar pulpa !. kemudian debridemen saluran akar yaitu pembersihan dan pembentukan saluran akar secara sempurna bila waktu memungkinkan.

21

&. lakukan drainase dengan menggunakan jarum ekstirpasi untuk meredakan tekanan dan nyeri serta membuang iritan yang sangat poten yaitu pus. '. Pada gigi yang drainasenya mudah setelah pembukaan kamar pulpa, instrumentasi harus dibatasi hanya di dalam sistem saluran akar. Pada pasien dengan abses periapikal tetapi tidak dapat dilakukan drainase melalui saluran akar, maka drainase dilakukan dengan menembus foramen apikal menggunakan file kecil sampai no. !(. (. )elama dan setelah pembersihan dan pembentukan saluran akar, lakukan irigasi dengan natrium hipokhlorit sebanyak-banyaknya. 1. )aluran akar dikeringkan dengan poin kertas, kemudian diisi dengan pasta kalsium hidroksida dan diberi pellet kapas lalu ditambal sementara ,9rossman, 1200J Calton and *orabinejad, !//!.. Beberpa klinisi menyarankan, jika drainase melalui saluran akar tidak dapat dihentikan, ka6itas akses dapat dibiarkan terbuka untuk drainase lebih lanjut, nasihatkan pasien berkumur dengan salin hangat selama tiga menit setiap jam. Bila perlu beri resep analgetik dan antibiotik. #embiarkan gigi terbuka untuk drainase, akan mengurangi kemungkinan rasa sakit dan pembengkakan yang berlanjut ,9rossman, 1200, Bence, 122/.. Penatalaksanaan kasus-kasus dengan pembengkakan paling baik ditangani dengan drainase, saluran akar harus dibersihkan dengan baik. ;ika drainase melalui saluran akar tidak mencukupi, maka dilakukan insisi pada jaringan yang lunak dan berfluktuasi. )aluran akar harus dibiarkan terbuka dan lakukan debridemen, kemudian beri pasta kalsium hidroksida dan tutup tambalan sementara. )ebaiknya diberi resep antibiotik dan analgetik ,9rossman, 1200J Calton and *orabinejad, !//!..

&.'.!.( 8kstraksi 9igi


22

Teknik Drainase Dengan 0ara Pen/a$'tan +igi :rainase menggunakan teknik ini digunakan pada kasus yang jika cairan tersebut berada di sekitar apikal gigi misalnya abses periapikal. @ara-caranya adalah seperti pada pencabutan gigi pada umumnya.

1. +igi insisi1's atas dicabut dengan menggunakan tang K1(/, dengan pinch grasp dan tekanan lateral ,fasialFlingual. serta rotasional. *ekanan lateral lebih ditingkatkan pada arah fasial, sedangkan tekanan rotasional ke arah mesial. !. +igi insisi1's $a2a( dicabut dari posisi kanan atau kiri belakang dengan menggunakan tang K1(/ dan sling grasp. *ekanan permulaan adalah lateral dengan penekanan ke arah fasial. 7etika mobilisasi pertama dirasakan, kombinasi dengan tekanan rotasional sangat efektif. &. +igi kanin's atas sangat sukar dicabut karena memiliki akar yang panjang dan tulang ser6ikal yang menutupinya padat dan tebal. 9igi ini dicabut dengan cara pinch grasp. *ang yang digunakan K1(/ dipegang dengan telapak tangan ke atas. %da alternati6e untuk gigi ini yaitu dengan menggunakan tang kaninus khusus, K1. *ekanan pencabutan yang utama adalah ke lateral terutama fasial, karena gigi terungkit ke arah tersebut. *ekanan rotasional digunakan untuk melengkapi tekanan lateral, biasanya dilakukan jika sudah terjadi sedikit luksasi. '. +igi kanin's $a2a( dicabut dengan tang K1(1, yang dipegang dengan telapak tangan ke bawah dan sling grasp$ *ekanan yang diberikan adalah tekanan lateral fasial, karena arah pengeluaran gigi adalah fasial. *ekanan rotasional bias juga bermanfaat. (. +igi !remo)ar atas dicabut dengan tang K1(/ dipegang dengan telapak ke atas dan dengan pinch grasp$ Premolar pertama dicabut dengan tekanan lateralJ ke arah bukal yang merupakan arah pengeluaran gigi. 9erakan rotasional dihindarkan karena gigi premolar pertama atas ini memiliki dua akar. %plikasi tekanan yang hati-hati pada gigi ini untuk mengurangi

23

terjadinya fraktur akar. 5raktur pada gigi ini bias diperkecil dengan membatasi gerak ke arah palatal. 9igi premolar kedua biasanya mempunyai akar yang tunggal dan dicabut yang sama dengan gigi kaninus atas. *ang K1(/ digunakan kembali dengan tekanan lateral, yaitu bukal serta lingual. Pada waktu mengeluarkan gigi ke arah bukal, digunakan kombinasi tekanan rotasional dan oklusal. 1. +igi !remo)ar $a2a(,cara pencabutannya sangat mirip dengan teknik pencabutan gigi insisi6us bawah. *ekanan yang terutama diperlukan adalah lateralFbukal, tetapi pada akhirnya bias dikombinasi dengan tekanan rotasi. Pengeluaran gigi ini ke arah bukal. 3. +igi mo)ar atas dicabut dengan menggunakan tang K1(/, K(& atau K!1/, dipegang dengan telapak tangan ke atas dan pinch grasp. *ang K!1/ walaupun ideal untuk pencabutan molar ketiga atas, dianggap uni6ersal dan dapat digunakan untuk molar pertama dan kedua kanan dan kiri atas. *ekanan pencabutan utama adalah ke arah bukal yaitu arah pengeluaran gigi. 0. +igi mo)ar $a2a( diicabut dengan menggunakan tang K1(1, K!&, K!!!. *ang K13 bawah, mempunyai paruh yang lebih lebar, yang didesain untuk memegang bifurkasi dan merupakan pilihan yang lebih baik asalkan mahkotanya cocok. *ekanan lateral untuk permulaan pencabutan gigi molar adalah ke arah lingual. *ulang bukal yang tebal menghalangi gerakan ke bukal dan pada awl pencabutan gerak ini hanya mengimangi tekanan lingual yang lebih efektif. 9igi molarsering dikeluarkan ke arah lingual.

Arti isti)a( Pinch grasp adalah teknik menggunakan ele6ator atau tang yang efektif tergantung pula pada retraksi pipi atau bibir dan stabilitas prosesus
24

al6eolaris. Pinch grasp terdiri dari memegang prosesus al6eolaris di antara ibu jari dan telunjuk dengan tangan yang bebas. Sling grasp mandibula memungkinkan retrraksi pipiFlidah, memberikan dukungan bebas. pada mandibula.biasanya dukungan diperoleh dengan memegang mandibula di antara ibu jari dan telunjuk dengan tangan yang )ehingga dengan ini *#; terlindung dari tekanan tang yang berlebihan.

25

&.( Peme)i(aran Pas/a 3!erati" %pabila riwayat menunjukkan adanya infeksi agresif yang terjadinya mendadak ,tiba-tiba. maka perlu dilakukan pengontrolan terhadap pasien yakni !' jam setelah perawatan. %pabila infeksi nampak lebih jinak dengan durasi yang lebih lama dan tidak disertai tanda yang membahayakan, maka kunjungan berikutnya bisa ditunda sampai '0 jam. Perkembangan yang terjadi dipantau apakah keadaannya membaik atau memburuk. Perubahan pembengkakan dicatat ,ukuran, konsistensi, fluktuasi. apakah tempat drainase masih memadai, dan dicatat pula bagaimana sifat pernanahannya. *emperatur diukur atau diamati dan pasien dianjurkan untuk memperhatikan gejala baru yang timbul. %pabila kontrol dan resolusi kondisi akut telah berjalan baik, maka faktor-etiologi bisa dihilangkan yakni dengan kuretase, ekstirpasi pulpa, operkulektomi, atau pencabutan. %pabila kondisinya tidak membaik maka diperlukan perawatan yang bersifat segera. %pabila tidak dilakukan kultur, tindakan yang dilakukan biasanya dengan meningkatkan dosis antibiotik dan bukan merubah jenis antibiotiknya. 7adang-kadang perlu dipertimbangkan untuk dilakukan rujukan yakni apabila menjumpai infeksi orofasial akut yang membahayakan kehidupan.

&.1 S3P In"eksi 3 ontogen a. anamnesa perlu diketahui riwayat penyakit mengenai onset, lamanya, kemungkinan lokal infeksi primer, intensitas penyakit, adanya kambuh ulang dari infeksi serupa, serta perawatan yang dialami, perlu juga ditanyakan kemungkinan adanya gejala sistemik. b. pemeriksaan klinik meliputi pemeriksaan ekstraoral dan intraoral berupa inspeksi, palpasi, dan perkusi.
26

c. diagnosa diambil berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan klinik. d. penatalaksaan kasus perawatan infeksi odontogenik meliputi + 1. perawatan medik. Berupa pemberian antibiotik yang adekuat dan tepat untuk meredakan infeksinya, analgesik dan antiperetik untuk rasa sakit, dan demam. !. perawatan pembedahan. 86akuasi pus dengan cara insisi dan drainase merupakan tindakan yang sangat ampuh untuk tindakan infeksi odontogenik. &. perawatan gigi penyebab. 9igi penyebab perlu di ekstraksi, namun ada kontra6ersi mengenai waktu pencabutan. %da sebagian ahli berpendapat pencabutan di fase akut berpotensi menyebabkan infeksi dan memperberat keadaan pasien. )edangkan, kelompok ahli lain berpendapat bahwa pencabutan pada stadium akut justru akan terjadi drainase pus dan menyebabkan penyembuhan dini. '. perawatan suportif. Penderita dengan infeksi odontogen dapat mengalami penurunan daya tahan tubuh karena rasa sakit dan pembengkakan. "asa sakit menyebabkan penderita tidak dapat beristirahat dengan cukup dan kekurangan asupan nutrisi. protein. e. post operatif f. monitoring dan control setelah penderita mendapatkan perawatan intensif bedah dan antibiotik, lakukan e6aluasi hasil perawatan dengan mengawasi keadaan penderita, umumnya penderita diperiksa kembali setelah dua hari perawatan, bilamana terapi berhasil biasanya penderita mengalami penurunan rasa sakit dan pembengkakan yang signifikan. Bilamna hasil perawatan tidak menunjukkan perbaikan, perlu diperhatikan kembali, apakah drainase cukup memadai, apakah gigi sudah dapat diekstraksi, apakah insisi yang sebelumnya tidak dapat dilakukan sudah dapat dilakukan.
27

leh karena

itu pasien di anjurkan untuk makan-makanan tinggi kalori dan tinggi

BAB I4 PENUTUP '.1 7esimpulan 1. pada infeksi terjadi proses + a


b

Peningkatan aliran darah pada daerah tersebut. )uhu di daerah tersebut meningkat karena meningkatnya aliran darah ,7alor.. Bengkak karena akumulasi air, darah, dan cairan lainnya ,*umor.. 7emerahan ,"ubor.. "asanya sakit, yang disebabkan oleh gangguan dari bengkak dan akti6itas kimia ,:olor.

c d

!. :iagnose pada scenario adalah %bses submukus &. :rainase adalah saluran yang dibuat pada jaringan lunak untuk mengeluarkan eksudat. #acam- macam drainase adalah a. insisi b. punctie c. open bur d, drainase menggunakan jarum ekstirpasi e. ekstraksi gigi '. Pada pemeliharaan post operatif, apabila riwayat menunjukkan adanya infeksi agresif yang terjadinya mendadak ,tiba-tiba. maka perlu dilakukan pengontrolan terhadap pasien yakni !' jam setelah perawatan. %pabila infeksi nampak lebih jinak dengan durasi yang lebih lama dan tidak disertai tanda yang membahayakan, maka kunjungan berikutnya bisa ditunda sampai '0 jam. (. ) P infeksi odontogen meliputi a. %namnesa d. Pemeriksaan klinis c. diagnosa diambil berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan klinik.
28

d. penatalaksaan kasus e. post operatif f. monitoring dan control

29

DAFTA- PUSTAKA 7arasutisna, *is dkk. !//1.Buku A%ar &lmu Bedah 'ulut$ &n#eksi (dontogenik$ Bandung+ 579 Ani6ersitas Padjadjaran. *opa4ian, "ichard, 9, #orton ?, 9oldberg. 122'. (ral and 'a)illo#acial &n#ections$ Philadelphia+ C.B )aunders @ompany Pedersen, 9ordon C, :.:.), #.).:. 1221. Buku A%ar Praktis Bedah 'ulut. ;akarta+ 89@.

30