Anda di halaman 1dari 12

MACAM GTJ 1. Gigi Tiruan Jembatan Lekat ( Fixed-fixed bridge).

Desain GTJ disebut demikian oleh karena terdiri dari komponen konektor rigid/kaku, baik secara solder maupun sekali penuangan. Jadi hubungan antara pontik dan retainer pada desain GTJ lekat melalui konektor yang kaku. 2. Gigi Tiruan Jembatan Setengah Lekat ( Semifixed Bridge ). Bentuk konstruksi GTJ ini terdiri dari konektor rigid dan non rigid, jadi hubungan pontik pada satu sisi melalui konektor rigid, sedanglkan sisi lainnya dihubungkan melalui konektor rigid. 3. Gigi Tiruan Jembatan Lekat Sebelah. Desain GTJ ini berbeda dengan GTJ lainnya, komponen konstruksi GTJ ini salahsatu sisinya melayang, artinya pontik tidak berada di antara dua retainer ,melainkan salah satu sisinya hanya bersentuhan dengan gigi tetangga. Namundibandingkan dengan GTJ lekat, konstruksi GTJ setengah lekat mempunyaikekuatan dibawah GTJ lekat. 4. Gigi Tiruan Jembatan Cantilever. Merupakan suatu prosthesis dimana gigi tiruan hanya didukung pada satu sisi saja oleh satu atau lebih gigi abutment (penyangga). 5. Gigi Tiruan Jembatan Gabungan ( Compound Bridge ). Konstruksi GTJ ini merupakan gabungan dari dua jenis GTJ dan disatukanmenjadi satu keastaun restorasi. Kombinasi darti dua jensi GTJ ini biasanya untuk memecahkan masalah kehilangan gigi yang lebih dari satu daerah edentulous.

KOMPONEN Komponen-komponen Gigi Tiruan. Gigi tiruan jembatan terdiri dari dari beberapa komponen, yakni sebagai berikut: 1. Retainer. 2. Konektor. 3. Pontik. 4. Penyangga (abutment). RETAINER. Fungsi Retainer. Merupakan bagian dari gigi tiruan jembatan yang menghubungkan gigi tiruan tersebut dengan gigi penyangga. Fungsinya : a. Memegang/menahan (to retain) supaya gigi tiruan tetap stabil di tempatnya. b. Menyalurkan beban kunyah (dari gigi yang diganti) ke gigi penyangga. Macam-macam retainer : a. Extra Coronal Retainer. Yaitu retainer yang meliputi bagian luar mahkota gigi, dapat berupa : 1) Full Veneer Crown Retainer. a) Indikasi : (1) Tekanan kunyah normal/besar. (2) Gigi-gigi penyangga yang pendek. (3) Intermediate abutment pasca perawatan periodontal. (4) Untuk gigi tiruan jembatan yang pendek maupun panjang. b) Keuntungan : (1) Indikasi luas. (2) Memberikan retensi dan resistensi yang terbaik. (3) Memberikan efek splinting yang terbaik. 6 c) Kerugian :

(1) Jaringan gigi yang diasah lebih banyak. (2) Estetis kurang optimal (terutama bila terbuat dari all metal). Extra Coronal Retainer 2) Partial Veneer Crown Retainer. a) Indikasi : (1) Gigi tiruan jembatan yang pendek. (2) Tekanan kunyah ringan/normal. (3) Bentuk dan besar gigi penyangga harus normal. (4) Salah satu gigi penyangga miring. b) Keuntungan : (1) Pengambilan jaringan gigi lebih sedikit. (2) Estetis lebih baik daripada FVC retainer. 7 c) Kerugian : (1) Indikasi terbatas. (2) Kesejajaran preparasi antar gigi penyangga sulit. (3) Kemampuan dalam hal retensi dan resistensi kurang. (4) Pembuatannya sulit (dlm hal ketepatan). Partial Veneer Crown Retainer b. Intra Coronal Retainer. Yaitu retainer yang meliputi bagian dalam mahkota gigi penyangga. 1) Bentuk : a) Onlay. b) Inlay MO/DO/MOD 2) Indikasi : a) Gigi tiruan jembatan yang pendek. b) Tekanan kunyah ringan atau normal. c) Gigi penyangga dengan karies kelas II yang besar. 8 d) Gigi penyangga mempunyai bentuk/besar yang normal. 3) Keuntungan : a) Jaringan gigi yang diasah sedikit. b) Preparasi lebih mudah. c) Estetis cukup baik. 4) Kerugian : a) Indikasi terbatas. b) Kemampuan dlm hal retensi resistensi kurang. c) Mudah lepas/patah. Intra Coronal Retainer Bentuk Onlay.

KONEKTOR (CONNECTOR). Merupakan bagian dari gigi tiruan jembatan yang menghubungkan pontik dengan retainer, pontik dengan pontik atau retainer dengan retainer sehingga menyatukan bagian-bagian tersebut untuk dapat berfungsi sebagai splinting dan penyalur beban kunyah. Terdapat 2 macam konektor, yakni : 1. Rigid connector. 2. Non Rigid Connnector Konektor merupakan penghubung antara gigi abutment dengan pontic. Ada beberapa tipe GTC menurut konektornya, antara lain: 1. Fixed-fixed bridge : kedua konektor bersifat rigid. Dapat digunakan untuk gigi posterior dan anterior. 2. Fixed movable bridge : salah satu konektor bersifat rigid dan konektor lain bersifat non rigid. Dapat digunakan untuk gigi posterior dan anterior. 3. Spring bridge : pontic jauh dari retainer dan dihubungkan dengan palatal bar. Digunakan pada kasus diastema/space yang mengutamakan estetis. 4. Cantilever bridge : satu ujung bridge melekat secara kaku pada retainer sedang ujung lainnya bebas/menggantung. 5. Compound bridge : adalah kombinasi dua atau lebih dari tipe bridge. PONTIK Merupakan bagian dari gigi tiruan jembatan yang menggantikan gigi asli yang hilang dan berfungsi untuk mengembalikan : 1. Fungsi kunyah dan bicara. 2. Estetis. 3. Comfort (rasa nyaman). 4. Mempertahankan hubungan antar gigi tetangga mencegah migrasi. Salah satu sifat yang sangat penting dari pontic adalah reliability, yaitu ketahanan terhadap tekanan cairan di dalam mulut (suasana dalam mulut). Facing pontic diharapkan selalu menempel pada bangunan logam pontic. Facing pontic dapat dibuat dari akrilik atau porselin. Beberapa macam bentuk pontic adalah : a. Saddle pontic Merupakan pontic yang paling dapat menjamin estetika, seluruh bentuk pontic tersebut mengganti dari seluruh bentuk gigi yang hilang. Kekurangan bentuk ini sering menyebabkan inflamasi jaringan lunak di bawah pontic tersebut, karena menutup seluruh edentulous ridge. b. Ridge lap pontic Pontic ini tidak menempel edentulous ridge pada permukaan palatinal/lingual, sedang permukaan bukal atau labialnya menempel. Keadaan ini untuk memperkecil terjadinya impaksi dan akumulasi makanan, tetapi tidak mengabaikan faktor estetik, biasanya digunakan untuk gigi anterior. c. Hygiene pontic Pontic ini sama sekali tidak menempel pada edentulous ridge, sehingga self cleansing sangat terjamin. Biasanya untuk gigi posterior bawah. d. Conical pontic Pontic ini hampir sama dengan hygiene pontic tetapi pada jenis ini ada bagian yang bersinggungan dengan edentulous ridge, sering juga disebut sebagai bullet / spheroid pontic mahkota sementara. BERDASARKAN BAHAN. Berdasarkan bahan pembuatan pontik dapat diklasifikasikan atas : a. Pontik logam. Logam yang digunakan untuk membuat pontik pada umumnya terdiri dari alloy, yang setara dengan alloy emas tipe III. Alloy ini memiliki kekuatan dan kelenturan yang cukup sehingga tidak mudah

menjadi patah atau berubah bentuk (deformasi) akibat tekanan pengunyahan. Pontik logam biasanya dibuat untuk daerah-daerah yang kurang mementingkan faktor estetis, namun lebih mementingkan faktor fungsi dan kekuatan seperti pada jembatan posterior. b. Pontik porselen. Pontik jenis ini merupakan pontik dengan kerangka dari logam sedangkan seluruh permukaannya dilapisi dengan porselen. Pontik ini biasanya diindikasikan untuk jembatan anterior dimana faktor estetis menjadi hal yang utama. Pontik porselen mudah beradaptasi dengan gingival dan memberikan nilai estetik yang baik untuk jangka waktu yang lama. c. Pontik akrilik. Pontik akrilik adalah pontik yang dibuat dengan memakai bahan resin akrilik. Dibandingkan dengan pontik lainnya, pontik akrilik lebih lunak dan tidak kaku sehingga membutuhkan bahan logam untuk kerangkanya agar mampu menahan daya kunyah / gigit. Pontik ini biasanya diindikasikan untuk jembatan anterior dan berfungsi hanya sebagai bahan pelapis estetis saja. d. Kombinasi Logam dan Porselen. Pontik ini merupakan kombinasi logam dan porselen dimana logam akan memberikan kekuatan sedangkan porselen pada jenis pontik ini memberikan estetis. Porselen pada bagian labial/bukal dapat dikombinasikan dengan logam yang bertitik lebur tinggi (lebih tinggi dari temperature porselen). Tidak berubah warna jika dikombinasikan dengan logam, sangat keras, kuat dan kaku dan mempunyai pemuaian yang sama dengan porselen. Porselen ditempatkan pada bagian labial/bukal dan daerah yang menghadap linggir, sedangkan logam ditempatkan pada oklusal dan lingual. Pontik ini dapat digunakan pada jembatan anterior maupun posterior. e. Kombinasi Logam dan Akrilik. Pada kombinasi logam dan akrilik ini, akrilik hanya berfungsi sebagai bahan estetika sedangkan logam yang memberi kekuatan dan dianggap lebih dapat diterima oleh gingival sehingga permukaan lingual/palatal dan daerah yang menghadap gusi dibuat dari logam sedangkan daerah labial/bukal dilapisi dengan akrilik. PENYANGGA (ABUTMENT). Merupakan gigi pegangan dimana suatu bridge (jembatan) dilekatkan. Abutment harus mempunyai daerah permukaan akar yang efektif dan tulang pendukung yang cukup. Sebagai abutment harus gigi yang sudah full erupsi ( erupsi penuh) agar retainer tidak terangkat akibatnya timbul daerah yang tidak tertutup oleh retainer sehingga mudah terjadi karies. Gigi abutment harus dipersiapkan agar benar-benar dapat memberi dukungan yang kuat pada GTC. Untuk menentukan jumlah gigi yang akan digunakan sebagai abutment, digunakan Hukum Ante : Luas permukaan jaringan periodontal dari gigi abutment sama atau lebih besar dari jaringan periodontal gigi yang akan diganti. Sesuai dgn jumlah, letak dan fungsinya dikenal istilah: 1. Single abutment hanya mempergunakan satu gigi penyangga. 2. Double abutment bila memakai dua gigi penyangga. 3. Multiple abutment bila memakai lebih dari dua gigi penyangga. 4. Terminal abutment. 5. Intermediate/pier abutment. 6. Splinted abutment.

7. Double splinted. PRINSIP PREPARASI GIGI ABUTMENT 1. Mempertahankan struktur gigi 2. Retensi dan resistensi Retensi antara restorasi dan gigi didapat dari preparasi dinding aksial yang berbentuk parallel atau taper (00 100). Bentuk taper dengan sudut 60 memungkinkan pemusatan tekanan terminimalisir sehingga restorasi tidak akan mudah lepas. Akan tetapi, semakin taper bentuk preparasi justru akan menjadikannya tidak retentif. Dinding bukal dan lingual gigi yang dipreparasi harus membentuk sudut mendekati 900 terhadap dinding aksial untuk meningkatkan resistensi restorasi terhadap gaya rotasi atau memutar. 3. Structural durability (ketahanan struktural) Pengurangan permukaan oklusal harus mengikuti bentuk groove anatomis permukaan oklusal gigi asli untuk menjaga fungsi gigi tetap baik. Hal penting lainnya dalam pengurangan oklusal adalah pembuatan bevel pada tonjol gigi. Pada molar maksila, bevel dibuat pada tonjol lingual, sedangkan pada molar mandibula, bevel dibuat pada tonjol bucal. Pembuatan bevel pada tonjol fungsional ini akan membuat restorasi (metal) cukup kuat dalam menahan kontak oklusal yang berat. 4. Marginal integrity Restorasi hanya dapat bertahan pada lingkungan biologis mulut jika garis tepinya dapat berada tepat pada garis akhir preparasi (cavosurface finish line of preparation). Dalam preparasi GTC dikenal empat macam finish line terdiri atas: Shoulderless / knife edge / tanpa pundak Dibuat pada gigi pegangan yang tipis atau pada GTC dengan retainer terbuat dari bahan berkekuatan tepi cukup kuat. Biasanya pada preparasi mahkota 3/4, mahkota penuh, mahkota berjendela dengan retainer terbuat dari bahan logam campur. Shoulder / berpundak Dibuat pada gigi pegangan dengan retainer tanpa kekuatan tepi, sehingga pada tepi retainer tersebut mempunyai ketebalan, contoh pada resin akrilik mahkota jaket. Bentuk ini kurang baik untuk mahkota penuh dengan bahan logam sebagai retainernya (full cast crown), karena di sini ada kesukaran didalam mewujudkan pertemuan yang akurat dengan tepi retainer dengan tepi pundak gigi pegangan. Untuk mengatasi keadaan ini biasanya pundak tersebut dibuat bevel. Chamfer finish line Bentuk ini akan menyebabkan kekuatan yang diterima oleh gigi abutment menjadi berkurang, sehingga mencegah terjadinya kerusakan semen sebagai bahan perekat yang ada di antara retainer dengan gigi abutment. Biasanya dibuat untuk retainer jenis mahkota penuh (full veneer cast crown). Partial shoulder / berpundak sebagian Bentuk ini mempunyai pundak pada bagian bucal atau labial, kemudian akan menyempit pada daerah proksimal dan akhirnya hilang sama sekali pada daerah palatinal / lingual. Maksud bentuk ini untuk memberi ketebalan pada bagian bucal / labial yang akan ditempati oleh resin akrilik/ porselen sebagai facing. Kasus yang sering terjadi yaitu pada gigi premolar 1 & 2 atas / bawah dengan retainer full metal crown with porselain / acrylic resin veneer. Untuk pembuatan GTC diperlukan ronsen foto yang berguna untuk mengetahui :

1. Keadaan tulang alveolar di daerah yang kehilangan gigi. 2. Akar yang tertinggal di alveolar. 3. Perbandingan panjang akar dan tinggi mahkota. 4. Ukuran, bentuk dan posisi akar. 5. Tebal dan kontinuitas lapisan periodontal. 6. Adanya kelainan pada apeks akar.

Prosedur pembuatan GTC adalah sebagai berikut : 1. Preparasi gigi abutment, bisa dilakukan pada gigi kaninus, premolar atau molar. Menurut Johnson (1960) pada tahap preparasi GTC dilakukan : a. pengurangan permukaan oklusal atau sisi insisal b. pengurangan sisi proksimal c. preperasi permukaan labial, lingual, bukal d. pengurangan sudut aksial e. membuat shoulder sebagai pijakan mahkota agar tidak mudah lepas. 2. Setelah gigi abutment dipreparasi harus dilindungi dengan mahkota sementara (Martanto, 1981 ) yang berfungsi untuk : a. b. c. d. 3. Membuat model kerja. 4. Pemendaman dan penuangan logam kerangka GTC. 5. Pembuatan facing akrilik/ porselin. 6. Pemilihan jenis pontic. melindungi gigi dari rangsang mekanis, khemis, suhu. mencegah terjadinya elongasi dan migrasi. melindungi gusi daerah servikal. memelihara estetis.

IV. RENCANA PERAWATAN

Kunjungan I : 1. Persiapan-persiapan di dalam mulut sebelum dibuat gigi tiruan cekat, meliputi perawatan periodontal yaitu scaling dan perawatan konservasi terhadap gigi yang karies. 2. Evaluasi rontgen foto untuk mengetahui kondisi gigi abutment dan jaringan pendukungnya. 3. Indikasi dan mencetak study model RA dan RB dengan : a. sendok cetak b. bahan cetak : perforated stock tray no. 1 : alginat (irreversible hydrocolloid)

c. metode

: mukostatik

Kunjungan II : Pasien kehilangan gigi 4 sehingga akan dibuatkan GTC fixed-fixed bridge yang terbuat dari porcelain fuse to metal dan terdiri dari 3 unit, dengan menggunakan gigi 3 dan gigi 5 sebagai gigi abutment. Retensi pada gigi 3 dan 5 menggunakan tipe full crown yang dipreparasi dengan menggunakan bur kecepatan tinggi (high speed bur). Sebelum dilakukan preparasi, dilakukan anestesi infiltrasi bukal pada gigi yang akan dipreparasi. Langkah-langkah preparasi gigi gigi 3 sebagai gigi abutment adalah: 1. Preparasi gigi anterior (gigi 3 ) a) Pengurangan bagian proksimal : a. Pengurangan proksimal pada gigi 3 harus disejajarkan dengan aksis gigi 1, sehingga pengurangan proksimal sisi mesial pada gigi 3 sebesar 1,8 mm dan sisi distal sebanyak 1 mm. b. Pengurangan dilakukan dengan menggunakan flat disc wheel bur dan bur fisur kerucut yang kecil dan panjang. c. Pengurangan harus sejajar antara dinding proksimal sebelah mesial dan distal atau sedikit konvergen ke arah insisal kurang lebih 5o. b) Pengurangan bagian insisal : a. Menggunakan wheel diamond bur, dikurangi 1,4 mm sehingga didapatkan suatu permukaan yang tegak lurus terhadap aksis gigi antagonis dan membuat sudut 45 o dengan aksis gigi 3. b. Periksa jarak dengan gigi antagonis. c) Pengurangan bagian labial dan palatal : a. menggunakan cylindris fissure bur pada permukaan labial dan pada permukaan palatal menggunakan bur bentuk roda berpinggiran bulat b. letakkan permukaan bur tersebut mendatar pada permukaan labial gigi 3 dan pengurangan sampai 1,4 mm. d) Pembentukan akhiran servikal a. Akhiran servikal yang dibuat adalah bentuk pundak (shoulder) pada permukaan labial dan palatal serta bentuk chamfer pada sisi proksimal b. Menggunakan bur silinder berujung bulat untuk pembentukan chamfer dan bur silinder berujung datar untuk pembentukan pundak c. Akhiran servikal ditempatkan di subgingival untuk memenuhi kebutuhan estetik e) Pengurangan sudut-sudut aksial a. Untuk sudut aksial yang terjangkau bisa menggunakan cylindris fissure bur.

b. Tumpulkan sudut-sudut aksial yang ada dengan silindris tappered bur terutama pada daerah gingiva margin. f) Penghalusan hasil preparasi a. Menggunakan sand paper disk yang dipasang pada mandril. b. Hilangkan seluruh bagian yang tajam, runcing, tidak rata dan undercut untuk memperoleh hasil preparasi yang halus.

2. Preparasi gigi posterior (gigi 5 ) : a) Pengurangan bagian oklusal a. Menggunakan bur intan tapered berujung bulat dengan diameter 1-1,5 mm. b. Pertahankan bentuk anatomi bagian oklusal. c. Bagian oklusal dikurangi 1,5-2 mm (tonjol bukal sedikit lebih banyak daripada tonjol palatal). d. Periksa jarak dengan gigi antagonisnya. b) Pengurangan permukaan proksimal a. Menggunakan bur tapered yang kecil dan panjang ( 0,8-1 mm) supaya ujungnya dapat mencapai akhiran servikal di ruang interdental. b. Harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk tidak merusak gigi sebelahnya. c. Pemotongan proksimal dimulai dari permukaan bukal dan dapat dilakukan sebelum atau sesudah pengurangan permukaan bukal. d. Permukaan proksimal dikurangi sebesar 1-1,5 mm. e. Usahakan pemotongan ini diusahakan sejajar/paralel antara dinding proksimal sebelah mesial dan distal, atau sedikit konvergen ke arah insisal sebesar + 5o c) Pengurangan permukaan bukal a. Dengan menggunakan bur fisur intan yang panjang, berujung datar atau membulat, berdiameter 1 mm. b. Tahap pertama adalah pengurangan bagian oklusal dengan bur fisur berujung datar, dan tahap berikutnya adalah pengurangan bagian gingival dengan bur fisur berujung bulat. c. Pengurangan dilakukan sebesar 1,4 mm. d) Pengurangan permukaan palatal a. Dengan menggunakan bur intan kecil berbentuk roda atau bola lampu pijar. b. Besarnya pengurangan berkisar 0,5-0,7 mm. e) Pembentukan akhiran a. Finish line gigi 5 berbentuk chamfer. b. Dengan menggunakan bur intan tapered ujung datar berdiameter 0,7 mm untuk membentuk knife edge dan bur intan tapered berujung peluru untuk membentuk chamfer. c. Lebar akhiran berkisar 0,5-0,8 mm dan terletak 0,5 mm subgingival.

f) Pengurangan sudut-sudut aksial a. Sudut-sudut aksial yang ada ditumpulkan dengan tapered bur terutama pada daerah margin gingiva g) Penghalusan hasil preparasi a. Dengan menggunakan sand paper disc b. Seluruh bagian yang tajam, runcing, tidak rata dan undercut-undercut dihilangkan untuk memperoleh hasil preparasi yang halus

RENCANA PREPARASI GIGI Setelah preparasi, dibuat cetakan model kerja dengan: - sendok cetak : perforated stock try no. 1 - bahan cetak : Elastomer (exaflec). Exaflex adalah bahan cetak polyvinylsiloxane dengan viscositas tinggi untuk pre impression, untuk teknik pencetakan double mix dan Putty wash. Keunggulan dari exaflex adalah mudah dalam manipulasinya, kekerasan final tinggi serta dimensi stabil. metode mencetak : mukostatik hasil cetakan diisi dengan glass stone gips.

Selanjutnya model kerja dikirim ke laboratorium untuk pemrosesan bridge / GTC. Pembuatan mahkota sementara: Mahkota sementara dibuat sebelum pasien pulang. Dibuat dari bahan self curing acrylic. Cara pembuatan mahkota sementara dari self curing acrylic adalah sebagai berikut : 1. mencetak gigi sebelum preparasi kemudian diisi dengan gips stone. 2. mempreparasi gigi abutment pada model cetakan tersebut. 3. mengisi model cetakan yang telah dipreparasi dengan self curing acrylic. 4. membentuk mahkota dari self curing acrylic kemudian difiksasi sampai cetakan mengeras. 5. mempreparasi gigi abutment pasien sesuai model cetakan yang telah dipreparasi. 6. mengepaskan mahkota sementara pada gigi abutment pasien yang telah dipreparasi.

Kunjungan III : Dilakukan insersi yaitu pemasangan GTC dalam mulut pasien, ketika pengepasan GTC, yang harus diperhatikan adalah : kontak proksimal antara GTC dengan gigi sebelahnya. Tepi GTC tidak boleh menekan gingiva serta pemeriksaan kontak insisal. Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika insersi adalah: retensi, stabilisasi, oklusi, estetis dan kenyamanan pasien. 1. Retensi

Kemampuan GTC untuk melawan gaya pemindah yang cenderung memindahkan gigi tiruan kearah oklusal. Cara mengecek retensi gigi tiruan adalah dengan cara memasang gigi tiruan tersebut ke dalam mulut pasien. Jika tidak mempunyai retensi maka gigi tiruan tersebut akan terlepas setelah dipasang, namun jika tidak terlepas berarti gigi tiruan tersebut sudah mempunyai retensi. 2. Stabilisasi Merupakan perlawanan atau ketahanan GTC terhadap gaya yang menyebabkan perpindahan tempat atau gaya horizontal. Stabilisasi terlihat dalam keadaan berfungsi, misal pada mastikasi. Pemeriksaan stabilisasi gigi tiruan dengan cara menekan bagian gigi tiruan secara bergantian. Gigi tiruan tidak boleh menunjukkan pergerakan pada saat tes ini. 3. Oklusi Pemeriksaan aspek oklusi pada saat posisi sentrik, lateral dan anteroposterior. Caranya dengan memakai kertas artikulasi yang diletakkan di antara gigi atas dan bawah, kemudian pasien diminta melakukan gerakan mengunyah. Setelah itu kertas artikulasi diangkat dan dilakukan pemeriksaan oklusal gigi. Pada keadaan normal terlihat warna yang tersebar secara merata pada permukaan gigi. Bila terlihat warna yang tidak merata pada oklusal gigi maka terjadi traumatik oklusi oleh karena itu dilakukan pengurangan pada gigi yang bersangkutan dengan metode selective grinding. Pengecekan oklusi ini dilakukan sampai tidak terjadi traumatik oklusi. Setelah GTC sesuai pada tempatnya, dilakukan penyemenan sementara dengan semen Zinc oksid eugenol dengan konsistensi agak cair.

Kunjungan IV : Dilakukan pemeriksaan pada pasien apakah mempunyai keluhan, apabila tidak ada maka dapat dilakukan penyemenan permanen dengan semen ionomer kaca tipe I. Penyemenan GTC: 1. GTC dibersihkan dan disterilkan lalu dikeringkan, gigi yang akan dipasang GTC juga dikeringkan. 2. Semen diaduk untuk mendapatkan konsistensi yang baik untuk penyemenan, kemudian dioleskan pada gigi yang dipreparasi dan bagian dalam dari GTC. 3. GTC dipasang dengan tekanan maksimal, gulungan kapas diletakkan di atas GTC dan pasien disuruh menggigit beberapa menit. 4. Pemeriksaan oklusi dan estetis. 5. Instruksikan pada pasien untuk menjaga kebersihan mulut dan diminta untuk tidak makan atau menggigit makanan yang keras dahulu. Bila ada keluhan rasa sakit segera kontrol.

Kunjungan V : Kontrol :

- pemeriksaan subyektif - pemeriksaan obyektif

: menanyakan apakah ada keluhan dari pasien setelah GTC dipasang dan dipakai. : melihat keadaan jaringan lunak disekitar daerah GTC, apakah ada peradangan atau tidak. Memeriksa retensi dan oklusi pasien.

2.4 Faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan Faktor yang mempengaruhi keberhasilan : Pengetahuan yang cukup dari operator Operator mempunyai keahlian, kemahiran, dan keterampilan Kesediaan penderita menerima perawatan Sikap/watak penderita Bahan yang tepat

Faktor yang mempengaruhi kegagalan : Ketidakmampuan dari operatornya Kurangnya keahlian, kemahiran serta keterampilan dari operator Penyampaian informasi yang tidak bias diterima pasien Sikap pasien yang tidak kooperatif

3.2. Langkah Langkah Perawatan Pada Kasus Scenario. Langkah langkah yang dilakukan dokter gigi pada kasus scenario sebelum melakukan pembuatan gigi tiruan antara lain : 1. Melakukan diagnose untuk menentukan rencana perawatan yang akan dilakukan. 2. Melihat keadaan rongga mulut pasien serta memperhatikan hal hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan gigi tiruan jembatan antara lain: keadaan rongga mulut pasien. Pada pasien dengan kondisi mulut yang kurang baik akan menimbulkan masalah setelah dibuatkan restorasi GTJ. Biasanya dokter gigi akan melakukan DHE terlebih dahulu kepada pasien yang mempunyai OH buruk. Factor kebersihan mulut dengan restorasi GTJ berkaitan dengan adanya plak, karies di bawah restorasi dan adanya kelainan periodontal. 3. Melakukan foto rontgen periapikal untuk melihat perbandingan antara crown and root ratio untuk digunakan sebagai gigi penyangga. 4. Melakukan preparasi pada gigi penyangga. 5. Melakukan pencetakan untuk mendapatkan hasil model study untuk membuat gigi tiruan jembatan. 6. Melakukan pembuatan gigi tiruan jembatan sementara pada pasien. Adapun kegunaan dari gigi tiruan jembatan sementara adalah : a. Proteksi terhadap pulpa gigi penyangga untuk mencegah iritasi panas/dingin, kima dan toksik. b. Stabilitas posisi, yaitu mencegah pergerakan gigi penyangga yang sudah di preparasi agar tidak miring, migrasi, dan supraposisi.

c. Mengembalikan fungsi mastikasi. d. Untuk memenuhi kepentingan estetik terutama gigi anterior. e. Mencegah timbunan makanan pada gigi yang telah di preparasi terutama pada daerah servikal.