Anda di halaman 1dari 11

PEMERIKSAAN FISIK 1.

Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Vital sign Tekanan Darah : 140/90 mmHg : baik :Compos mentis

Tekanan darah pada pasien mengalami Hipertensi stage 1 kemungkinan di picu oleh stress emosi yang dialami pasien akibat adanya sakit yang diderita saat ini. Dari riwayat penyakit keluarga tidak didapatkan adanya riwayat hipertensi. Nadi Suhu Respirasi : 88 x/menit.dalam batas normal : 36,5 C, dalam batas normal : 24 x/menit, dalam batas normal

Kepala,leher, thorax,abdomen dan ekstremitas dalam batas normal.

2. Status Lokalis a. Telinga dalam batas normal, disimpulkan maka belum ada gangguan atau komplikasi kebagian telinga. b. Hidung 1. Rinoskopi anterior Konka inferior kanan dan kiri dalam batas normal Konka media bagian kanan dalam batas normal namun bagian kiri mengalami hiperemis, udem,sekret bening yang terdapat di sepanjang konka dan massa yang bertangkai kejadian tersebut diakibatkan oleh adanya proses peradang yang terjadi akibat adanya respon alergi. Saat ada alergen maka sistem imun akan bereaksi dan sel mast akan mendegranulasi mediator-mediator inflamasinya dimana salah satunya adalah prostaglandin yang akan membuat vasodilatasi makan mukosa akan memerah dan produksi sekret pada mukosa hidung meningkat. Saat terjadi vasodilatasi permeabilitas pembuluh darah meningkat sehingga cairan interseluler masuk ke dalam mukosa sehingga terjadi udem mukosa, apabila kejadian ini terus menerus berlanjut akan membuat mukosa terdorong dan membentuk suatu massa yang bertangkai (polip nasal) yang dapat membuat obstruksi dan sumbatan

dihidung. Membedakan polip hidung dengan konka polipoid adalah sebagai berikut : NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. POLIP HIDUNG bertangkai Mudah digerakan Konsistensi lunak Tidak nyeri bila ditekan Tidak mudah berdarah Dengan pemakaian vasokontriktor (kapas adrenalin) tidak mengecil (Srijono et al,2002) Polip nasal memiliki 3 stadium yaitu sebgai berikut : a. Stadium 1 : polip masi terbatas di meatus medius b. Stadium2 : polip sudah keluar dari meatus medius, tampak di rongga hidung tapi belum memenuhi rongga hidung c. Stadium 3 : polip yang massif Dalam kasus ini pasien masih dalam batas di meatus media jadi termasuk ke dalam polip nasal stadium 1. KONKA POLIPOID Tidak bertangkai Sukar digerakan Nyeri bila ditekan dengan pinset Mudah berdarah Dapat mengecil dengan vasokintriktor

2. Rhinoskopi posterior dalam batas normal

PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Naso-endoskopi Adanya fasilitas endoskop (teleskop) akan sangat membantu diagnosis kasus polip yang baru. Polip stadium 2 kadang-kadang tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior tetapi tampak dengan pemeriksaan nasoendoskopi.Pada kasus polip koanal juga sering dapat dilihat tangkai polip yang berasal dari ostium asesorius sinus maksila. Gambaran nasoendoskopi pada kasus polip adalah sebagai berikut : (Nuzulul,2011)

2. Foto

polos

sinus

paranasal

(posisi Waters,AP,

Caldwell

dan

lateral)

dapat

memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas udara-cairan di dalam sinus, tetapi kurang bermanfaat pada kasus polip dan dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya komplikasi sinusitis (Nuzulul,2011). 3. Pemeriksaan tomografi computer (CT scan) sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal apakah ada proses radang, kelainan anatomi, polip atau sumbatan pada kompleks ostiomeatal. CT-scan terutama diindikasikan pada kasus polip yang gagal diobati dengan terapi medikamentosa, jika ada komplikasi dari sinusitis dan pada perencanaan tindakan bedah terutama bedah endoskopi (Nuzulul,2011). 4. Histopatologi Secara mikroskopis tampak epitel pada polip serupa dengan mukosa hidung normal yaitu epitel bertingkat semu dan bersilia dengan submukosa yang sembab. Sel-selnya terdiri dari limfosit, sel plasma, eosinofil, neutrofil dan makrofag. Mukosa mengandung sel-sel goblet. Pembuluh darah, saraf dan kelenjar sangat sedikit. Polip yang sudah lama dapat mengalami metaplasia epitel karena sering terkena aliran udara, menjadi epitel transisional, kubik atau gepeng berlapis tanpa keratinisasi. Berdasarkan jenis sel

peradangannya, polip dikelompokkan menjadi 2,yaitu polip tipe eosinofilik dan tipe neutrofilik (Ibrahim,2010). DIAGNOSIS BANDING 1. Polip nasal NO. GEJALA SUBYEKTIF POLIP NASAL 1. Rasa tersumbat dihidung terus menerus TEMUAN KETERANGAN + Sudah 4 bulan yang lalu hidung

tersumbat yang saat ini terus menerus 2. Hiposmia Tidak di dapatkan keluhan penurunan terhadap bau-bauan 3. Anosmia Pasien masih bisa merasakan bahwa cairan dari hidungnya tidak berbau sehingga dia tidak ada gangguan

penciuman. 4. Jika menyumbat sinus paranasal akan + menyebabkan sakit kepala,bersin-bersin dan rinorea Sakit kepala yang memberat disiang hari-sore hari dan menurun dipagi hari dan mereda saat berbaring. Pasien sering bersin-bersin saat kena debu dan udara dingin.

Muncul cairan dari hidung yang kental dan tidak berbau 5. Jika di sebabkan oleh alergi maka gejala + bersin-bersin dan iritasi hidung menonjol Riwayat 4 bulan yang lalu sering pilek,bersin,hidung bunti yang kumatan.

Riwayat alergi debu dan udara dingin 6. Sekretnya jernih sampai purulen + Terdapat cairan dari hidung yang kental dan tidak berbau. 7. Nyeri dimuka + Pasien merasa nyeri dipipinya (Srijono et al,2002) NO. GEJALA SUBYEKTIF POLIP NASAL 1. Udem mukosa hidung TEMUAN KETERANGAN + Os mengalami udem di konka media

2.

Ada

massa

yang

warna

putih +

Pada pemeriksaan di temukan massa bertangkai di konka media. Massa ini adalah indikasi untuk

keabuan,bertangkai,mudah digerakan,tidak nyeri dan tidak berdarah.

ditegakannya polip nasal 3. Sekret + Sekret dari konka superior hingga konka inferior dan berwarna bening berlendir (mucus) 4. Konka hiperemis + Konka media hiperemis

(Ibrahim,2010) Polip nasal dapat ditegakan diagnosisnya karna dari gejala-gejala tersebut di dapatkan hasil positif dari gejala subyektif dab obyektifnya sebanyak. Dengan adanya tanda massa yang berwarna putih keabuan,tidak bertangkai pada konka media juga memperkuat diagnosis dari pasien tersebut bahwa menderita polip nasal yang diakibatkan oleh rhinitis alerginya. Dari pemeriksaan fisik juga didapatkan bahwa adanya konka media yang

hiperemis,udem dan terdapat sekret bening bersifat mucus disepanjang konka superior hingga media sehingga dapat di simpulkan pula keadaan pasien tersebut mengalami hipersekresi pada mukosa hidungnya dan membuat mukosa menjadi udem dan terbentuk massa akibat cairan interceluler masuk kedalam massa dan membuat konsistensi massa teraba lunak. Dari

data-data yang kami peroleh oleh karena itu kami menegakan diagnosis kerja kami pada Ny.K adalah polip nasal stadium 1 2. Sinusitis maxilaris akut

NO. GEJALA SINUSITIS MAYOR 1. 2. Muka terasa nyeri atau tertekan Hidung tersumbat atau penuh di muka

TEMUAN KETERANGAN + + Nyeri pada pipi hidung tersumbat yang saat ini terus menerus dan pipi terasa nyeri

4.

Hiposmia/anosmia

Tidak di dapatkan keluhan penurunan terhadap bau-bauan

5.

Sekret purulen di rongga hidung

Muncul cairan dari hidung yang kental dan tidak berbau

6. NO 1.

Demam (hanya pada stadium akut) GEJALA SINUSITIS MINOR Sakit kepala

Suhu pasien

TEMUAN KETERANGAN + Sakit kepala yang memberat disiang hari-sore hari dan menurun dipagi hari dan mereda saat berbaring.

2. 3. 4.

Demam (pada yang bukan akut) Halitosis Lesu

Suhu pasien 36,5C Tidak ditemukan bau mulut Pasien tidak mengeluh kehilangan

tenaganya 5. 6. Sakit gigi Batuk Tidak ada riwayat sakit gigi Tidak ada batuk,hanya pilek dan

bersin-bersin 7. Telinga terasa sakit/tertekan/penuh Tidak ada keluhan pada telinga. (sundaru et winulyo,2007) Diagnosis sinusitis jika terdapat 1 atau 2 gejala mayor dan disertai 2 gejala minor. Pada pasien ditemuakan gejala mayor adalah 2 dan gejala minor 1 sehingga dapat disimpulkan bahwa diagnosis dari sinusitis tidak dapat ditegakan dan dapat disingkirkan.

PENATALAKSANAAN Tujuan utama pengobatan pada kasus polip nasi adalah menghilangkan keluhankeluhan,mencegah komplikasindan mencegah rekurensi polip nasi. Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut pula polipektomi medikamentosa. Dapat diberikan secara topical atau sistemik . pada keadaan-keadaan polip yang eusinofilik biasanya memberikan respon yang lebih baim pada kortikosteroid intranasal dibandingkan tipe neutrofilik. Apabila kasus tidak membaik dengan polipektomi medikamentosa dan polip nasi yang sangat masif dapat dilakukan ekstraksi polip (polipektomi) menggunakan senar polip atau cunam dengan analgesic local. Jika disertai dengan sinusitis maka lakukan bedah sinus dimana disebut etmoidektomi bila sinusitis ethmoidalis dan dengan teknik cadlwell-luc untuk sinusitis maxilaris. Pada keadaan dimana terdapat peralatan yang memadai seperti endoskopi maka bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF) adalah pilihan yang dianjurkan

(Mangunkusumo et Wardani,2010). Pengobatan dari polip nasal karena rhinitis alergi dapat dibedakan menjadi 5 bagian utama yaitu: 1. MENGHINDARI ALERGEN PENYEBAB Penghindaran dari alergen adalah suatu cara yang sangat efektif untuk kejadian polip nasal yang disebabkan oleh rhinitis alergi. Isolasi dari alergen dapat dilakukan dengan membatasi kontak dengan alergen. Pada kasus ini alergennya adalah debu dan udara dingin, oleh sebab itu ny.K diberi edukasi untuk menghindari debu serta udara yang dingin tersebut. 2. TERAPI SIMPTOMATIK a. Kortikosteroid topikal Merupakan obat yang efektif dalam penanganan polip nasal yang tidak terlalu luas, namun jika polip nasal luas dan sampai mengenai daerah sinus, steroid topical tidak dianjurkan. Kortikosteroid topical dapat digunakan dengan cara semprot hidung. Pengobatan topikal adalah pengobatan yang lebih aman dan memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan kortikosteroid oral (Fabiana et al,2007).

Jenis dari kortikosteroid topikal adalah sebagai berikut : 1. Budenoside Farmakologinya dari Budesonide adalah kortikosteroid sintetik yang memiliki aktivitas glukokortikoid potensial dan aktivitas mineral kortikoid lemah. Budesonide diperkirakan mengatasi alergi rhinitis atau sinusitis melalui aktivitas hambatannya pada serangkaian luas sel (yakni sel mast, eusinofil, neutrofil, makrofag, dan limfosit) dan mediator (histamine, eicosanoid, leukotrien, dan sitokin) yang terlibat dalam inflamasi yang dimediatori oleh alergen.ss Dosis dan cara pemberian adalah Dosis awal untuk dewasa dan anak >6 tahun : 64 mcg per hari. Berikan 2 semprotan (64 mcg) tiap lubang hidung pada pagi hari atau satu semprotan (32 mcg) pada pagi hari dan satu semprotan lagi di malam hari.Dosis maksimum dewasa dan anak >12 tahun : 256 mcg per hari yang diberikan 4 semprot tiap lubang hidung sekali sehari. Sementara dosis maksimum anak (<12 tahun) yang direkomendasikan adalah 128 mcg per hari diberikan 2 semprotan tiap hidung sekali sehari. Jangan diberikan pada orang dengan hipersensitifitas pada obat ini. Efek samping yang dapat muncul adalah Pendarahan ringan di hidung, epitaksis, dan kadang kjuga bersin. Dan harus diperhatikan pada pasien yang mengalami infeksi jamur dan virus. Nama dagang dari budenoside adalah rhinocort aqua. 2. Fluticasone propionate Farmakologi Fluticasone propionate adalah suatu kortikosteriod trifluorinasi yang bisa diberikan dalam formula intra. Studi in vitro pada cloned human glucocorticoid receptor system tampak 3 -5 kali lebih potensial ketimbang dexamethasone. Pada uji klinis pada dewasa, fluticasone propionate dalam spray menurunkan eusinofil mukosa nasal 66% (plasebo 35%) dan basofil 39% (placebo 28%). mekanisme fluticasone propionate mengatasi gejala rhinitis alergi atau sinusitis tidak diketahui. Tapi diperkirakan kortikosteroid berefek pada sejumlah besar sel (sel mast, eusinofil, neutrofil, makrofag, dan limfosit) dan banyak mediator (histamin, eikoanoid, leukotrien, dan sitokin) yang terlibat dalam proses inflamasi. Dosis Dewasa dan anak 12 tahun keatas : 2 semprotan pada tiap lubang hidung (tiap semprot mengandung 50 mcg fluticasone propionate) sekali sehari, dianjurkan pada pagi hari. Pada beberapa kasus kadang dibutuhkan 2 semprotan 2 kali sehari. Maksimal semprotan tiap hidung per hari adalah 4 semprot. Dosis Anak usia 4-11

tahun : satu semprotan per hari untuk tiap lubang hidung dan sebaiknya diberikan pada pagi hari. Pada beberapa kasus, kadang dibutuhkan satu semprot dua kali sehari. Maksimal semprotan per hari adalah 2 semprot untuk tiap lubang hidung. Kontra indikasi pada wanita hamil. Nama dagangnya adalah Cutivate, Flixonase. 3. Mometasone furoate Serupa dengan fluticasone propionate dan budesonide, mometasone furoate adalah kortikosteroid yang memiliki aktivitas anti inflamasi. Mometasone furoate diperkirakan mengatasi alergi rhinitis atau sinusitis melalui aktivitas hambatannya pada serangkaian luas sel (yakni sel mast, eusinofil, neutrofil, makrofag, dan limfosit) dan mediator (histamine, eicosanoid, leukotrien, dan sitokin) yang terlibat dalam inflamasi yang dimediatori oleh alergen. Dewasa dan anak >12 tahun : 2 semprotan (50 mcg/semprot) pada tiap lubang hidung sekali sehari. Total dosis 200 mcg. Kontraindikasi Hipersensitif, infeksi local pada mukosa hidung yang tidak diobati, infeksi jamur lokal di hidung dan faring. Efek sampingnya adalah Pendarahan, mukur bercampur darah, keluar flek darah, faringitas, nasal burning, dan iritasi hidung. Nama dagang nasonex (farmacia,2006). b. Injeksi intranasal Injeksi intranasal digunakan dengan menggunakan triamnisolon asetonid atau dengan prednisolon 0,5 cc 5-7 hari sekali dan digunakan sampai polip menghilang (Srijono et al,2002) c. Kortikosteroid sistemik Prednison 5 mg / hari digunakan selama 10 hari dan turunkan dosis perlahan saat telah ada perbaikan (Gunawan,2007).

3. INJEKSI ALERGEN,IMUNOTERAPI ATAU HIPOSENSITISASI Apabila cara konservatif tidak berhasil dapat dilakukan dengan injeksi alergen . prosedur penggunaannya adalah dengan menyuntikan alergen penyebab secara bertahap dengan dosis yang makin meningkat guna menginduksi toleransi pada penderita alergi. Meskipun efektif untuk pengobatan alergika namun keefektifitasannya belum dapat dipastikan untuk polip nasal (Boise et al,1997) .

4. PENATALAKSANAAN KOMPLIKASI DAN FAKTOR YANG MEPERBURUK Kelemahan, stress emosi,perubahan suhu mendadak, infeksi penyerta, deviasi septum dan paparan terhadap polutan udara lainnya dapat mencetuskan, memperberat dan mempertahankan gejala-gejala yang menyertai rhinitis alergi dan polip nasal, oleh karena itu penangan faktor-faktor diatas perlu dilakukan penanganan sama seperti penanganan terhadap alergen.

5. TERAPI BEDAH Pada tahap selanjutnya apabila tidak terdapat respon terhadap pengobatan farmakologi dan terapi tambahan lainnya maka dapat diindikasikan dengan terapi pembedahan bagitu pula dengan polip nasal yang besar,luas dan disertai sinusitis lebih baik diindikasikan untuk dilakukan operasi, jenis operasi pada polip nasal yaitu : 1. Polipektomi dengan senar polip 2. Etmoidektomi apabila disertai dengan sinusitis (karena lebih sering pada sinus ethmoidalis) 3. bedah sinus Endoskopi fungsional (FESS) yaitu pembedahan yang paling dianjurkan. KESIMPULAN Polip nasal adalah suatu massa lunak yang tumbuh didalam rongga hidung, massa tersebut terbentuk karena adanya proses peradangan mukosa hidung yang tarsus menerus akibata dari rhinitis alergi, iritasi ataupun sinusitis. Gejala yang mencul pada polip nasal adalah sebagai berikut : Gejala subyektif Rasa tersumbat dihidung terus menerus Gejala objektif Udem mukosa hidung

Hiposmia

Ada

massa

yang

warna

putih

keabuan,bertangkai,mudah nyeri dan tidak berdarah. Anosmia Jika menyumbat sinus paranasal Sekret akan Konka hiperemis

digerakan,tidak

menyebabkan sakit kepala,bersin-bersin dan rinorea Jika di sebabkan oleh alergi maka gejala

bersin-bersin dan iritasi hidung menonjol Sekretnya jernih sampai purulen Nyeri dimuka

Dari gejala-gejala yang terdapat pada Ny.K dan kami mencocokannya dengan literature yang kami baca maka kami menyimpulkan bahwa diagnosisnya adalah polip nasal stadium 1 dan kami pula memberikan anjurna untuk melakukan pemeriksaan lanjutan berupa foto polos untuk menegakan diagnosis kami dan mencari apakah ada komplikasi kea rah sinusitis. Pengobatan yang dilakukan pada pasien dengan polip nasal adalah dengan cara sebagai berikut : 1. hindari alergen 2. pengobatan simptomatik berupa pemberian kortikosteroid topikal atau oral. Namun pada kasus ini kami mengajukan saran untuk memberikan kortikosteroid topikal berupa semprot yaitu Budesonide yang di berikan 64g/lubang hidung/hari, penggunaan obat topikal ini kami berikan karena pasien masih pada tahap stadium 1 dan belum meluas sehingga obat topikal akan lebih aman. Apabila telah terjadi perluasan maka dapat diberikan kortikosteroid oral namun apabila perluasan tersebut disertai sinusitis maka lakukan pembedahan. 3. Injeksi alergen,imunoterapi 4. Perbaiki faktor yang memperberat dan komplikasi 5. Terapi bedah jika diperlukan.