Anda di halaman 1dari 7

Akademi Kebidanan Martapura Yayasan Marta Berlian Husada

KONSEP DASAR KEBIDANAN KOMUNITAS


MATA KULIAH KODE M.K BOBOT WAKTU PERTEMUAN PERTEMUAN KE DOSEN : ASKEB V (Kebidanan Komunitas) : Bd. 305 : 4 SKS (T: 1, P: 3) : 60 Menit : 1 (Pertama) : Faizah Wardhina, S.Si.T., M.Kes

A. TUJUAN PEMBELAJARAN

Diakhir perkuliahan mahasiswa diharapkan mampu : 1. Menjelaskan pengertian atau definisi kebidanan komunitas 2. Menjelaskan riwayat kebidanan komunitas di Indonesia dan beberapa negara lain 3. Menjelaskan fokus atau sasaran kebidanan komunitas 4. Menjelaskan tujuan asuhan kebidanan komunitas 5. Menjelaskan tentang bidan bekerja di komunitas 6. Menjelaskan jaringan kerja kebidanan komunitas 7. Menjelaskan Visi Indonesia sehat 2010 sebagai landasan berfikir pelayanan kebidanan
B. MATERI KULIAH

PENGERTIAN/DEFINISI Kebidanan berasal dari kata Bidan yang menurut International Confederation of Midwife (ICM) berarti seseorang yang telah mengikuti program pendidikan bidan yang diakui di negaranya, telah lulus dari pendidikan tersebut serta memenuhi kualifikasi untuk didaftar dan atau memiliki ijin yang sah (lisensi) untuk melakukan Praktik bidan. Pengertian bidan menurut IBI adalah adalah seorang perempuanyang lulus dari pendidikan bidan yang diakui pemerintah dan organisasi profesi di wilayah negara RI serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk diregister dan atauntuk secara sah mendapt lisensi ntukatau menjalankan praktik kebidanan. Komuniti adalah sekelompok orang yang hidup dan saling berinterksi di dalam daerah tertentu, masyarakat atau paguyuban.

RIWAYAT BIDAN KOMUNITAS DI INDONESIA DAN BEBERAPA NEGARA LAIN INDONESIA

Akademi Kebidanan Martapura Yayasan Marta Berlian Husada

Munculnya gagasan kebidanan komunitas merupakan suatu upaya tindak lanjut dari Konferensi Internasional tentang Safe Motherhood di Nairobi tahun 1987, kemudian dilaksanakan suatu Lokakarya Nasional tentang Kesejahteraan Ibu, yang menghasilkan komitmen lintas sektoral untuk menurunkan Aangka Kematian Ibu (AKI) sebesar 50% dari 450 pada tahun1986 menjadi 225 per 100.000 Kelahiran Hidup (KH) pada tahun 2000. Dalam perkembangannya , penurunan AKI yang dicapai tidak seperti yang diharapkan. Pada tahun 1995, AKI di Indonesia masih sebesar 373/100.000 KH. Angka ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara di wilayah Asia Tenggara apalagi dengan negara-negara maju. Data estimasi SDKI tahun 2003 menunjukkan bahwa dalam periode 1998 2002, AKI di Indonesia hanya mengalami penurunan sedikit menjadi 307/100.000 KH. Tingginya AKI di Indonesia ini dipengaruhi pula oleh belum memadainya cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dan rendahnya cakupan penanganan kasus obstetri. Ada korelasi yang jelas antara cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan AKI. Semakin tinggi cakupan pertolongan persalinan oleh nakes maka akan semakin rendah AKI suatu negara. Data SDKI 1994 menunjukkan bahwa di Indonesia, 72,4% ibu yang melahirkan di desa dan 25,2% ibu yang melahirkan di kota masih ditolong oleh dukun, sementara data SDKI 1997 menunjukkan belum banyak perubahan, yaitu 65,3% pertolongan persalinan di desa dan 23,1% di kota masih dilakukan oleh dukun. Data tersebut menunjukkan bahwa pertolongan persalinan masih banyak dilakukan oleh tenaga non-kesehatan. Salah satu analisis yang melatarbelakangi keadaan tersebut adalah tidak adanya atau kurangnya tenaga kesehatan yang ada di dekat masyarakat terutama daerah pedesaan. Salah satu upaya penting yang ditempuh dalam mempercepat penurunan AKI dan Angka Kematian Bayi (AKB) adalah dengan mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat berarti menempatkan tenaga kesehatan di tengah-tengah masyarakat dan juga mengembangkan pelayanan kesehatan yang diterima oleh masyarakat. Pada tahun 1989, Pemerintah membuat kebijakan melaksanakan crash program secara nasional yang memperbolehkan lulusan Sekolah Pendidikan Keperawatan (SPK) langsung masuk ke Program Pendidikan Bidan (PPB A). Lama pendidikan ini hanya 1 tahun dan lulusannya langsung ditempatkan di desa-desa yang kemudian disebut dengan Bidan di Desa (BDD). Pada tahun 1996 telah diluluskan 54.000 orang BDD yang ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia dan sampai Maret 1998 dilaporkan jumlah BDD sebanyak 58.882 orang. Selain itu dikembangkan Program

Akademi Kebidanan Martapura Yayasan Marta Berlian Husada

Pendidikan Bidan (PPB) B dan C. Lama pendidikan PPB B adalah 1 tahun dengan peserta didik bersal dari lulusan akademi keperawatan, sedangkan lama pendidikan PPB C adalah 3 tahun dengan siswa berasal dari lulusan SMP. Namun, selama bekerja di desa, tugas pokok BDD tidak hanya melaksanakan pelayanan kebidanan, tetapi juga harus dapat melayani pengobatan umum. Masyarakat menganggap BDD tidak hanya sebagai tenaga kesehatan yang dapat menolong persalinan, tetapi juga dapat memberikan pengobatan umum. Dengan demikian, pada kenyataannya peran BDD tidak semata-mata hanya sebagai penolong persalinan, tetapi juga sebagai tenaga promotif, preventif dan kuratif yang sangat diandalkan oleh masyarakat desa. Bidan di desa dianggap sebagai ujung tombak peningkatan status kesehatan ibu dan anak di desa/ masyarakat yang mempunyai peran penting dalam pembangunan investasi dini, yaitu penanganan kesehatan ibu hamil dan laktasi sebagai modal dasar pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Pada awalnya BDD diangkat sebagai PNS, namun kemudian dalam perjalanannya BDD diberikan status kontrak atau PTT sesuai dengan kemampuan daerah setempat. BDD mempunyai peranan penting dalam upaya penurunan AKI dan AKB meskipun dalam perjalanannya tidak semulus yang diharapkan, namun diakui bahwa BDD mempunyai kontribusi besar dalam meningkatkan status kesehatan ibu dan anak di desa/masyarakat. AMERIKA SERIKAT Permasalahan pelayanan kesehatan terletak pada fokus pelayanan yang lebih pada pelayanan berbasis klinis tidak berbasis populasi/ komunitas. Termasuk di dalamnya adalah pelayanan kesehatan ibu dan anak. Perkembangan kebidanan di Amerika Serikat dipengaruhi oleh perkembangan kebidanan di Eropa Barat. Bidan di komunitas juga mengalami pasang surut berkaitan dengan permasalahan pertolongan persalinan dan berhubungan dengan perawatan kehamilan, serta kematian ibu dan bayi. Puncaknya tahun 1915 sampai 1930-an, AKI meningkat dan dari hasil penelitian ternyata paling banyak disebabkan oleh intervensi medis dalam proses persalinan. Selain itu ternyata dalam suatu studi yang dipantau dengan baik merekomendasikan adanya dampak positif dari model perawatan kebidanan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan ibu dan bayi. Ada pendapat bahwa transisi kelahiran dari rumah ke rumah sakit mempunyai efek yang lebih kuat terhadap hilangnya kontrol wanita terhadap apa yang mereka alami selama persalinan dibandingkan dengan efek transisi tenaga kesehatan yang menolong mereka. Hal tersebut menunjukkan bahwa

Akademi Kebidanan Martapura Yayasan Marta Berlian Husada

perpindahan persalinan ke rumah sakit telah melepaskan wanita dari suatu sistem dukungan yang ada di lingkungannya pada saat melahirkan. Berdasarkan masalah tersebut, tahun 1918 didirikan Maternity Center Association di New York yang merupakan dasar pelayanan kesehatan pada masa prenatal yang dapat diterima masyarakat, kemudian berkembang dan pada tahun 1931 dibentuk Association for Promotionand Standardization of Midwifery untuk menyusun suatu model pelayanan dan pendidikan kebidanan. Asosiasi tersebut mengusulkan kurikulum untuk program pendidikan perawat-bidan. Tahun 1931 Klinik Kebidanan Lobenstine dibuka sebagai fasilitas yang memberikan pelayanan prenatal dan postpartum agar perawat-bidan komunitas dapat melakukan praktik kebidanan. Pelayanan intrapartum dilakukan di rumah pasien. Pelayanan perawat-bidan pertama kali dimulai tahun 1952 ketika Mary Breckinride membawa para perawat-bidan memberikan pelayanan di masyarakat kemudian mendirikan Frontier Nursing Services (FNS). Pada perkembangannya para bidan semakin

mengintegrasikan dirinya di dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat di Amerika Serikat. SASARAN PELAYANAN KEBIDANAN KOMUNITAS Kelompok masyarakat di komuniti merupakan sasaran bidan community, yang meliputi: Ibu Anak Keluarga Masyarakat

Sasaran utama adalah ibu dan anak dalam Keluarga. TUJUAN KEBIDANAN KOMUNITAS Tujuan umum kebidanan komunitas adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat agar dapat menjalankan fungsinya secara optimal. Tujuan Khusus: a. Meningkatkan kemampuan individu, keluarga, kelompok, & masyarakat dalam pemahaman tentang pengertian sehat dan sakit. b. Meningkatkan kemampuan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan. c. Terciptanya dukungan bagi individu yang terkait. d. Terkendali & tertanggulanginya keadaan lingkungan fisik dan sosial untuk menuju keadaan sehat yang optimal. e. Berkembangnya ilmu serta pelaksanaan kebidanan kesehatan masyarakat.

Akademi Kebidanan Martapura Yayasan Marta Berlian Husada

BEKERJA DI KOMUNITAS Pelayanan Kebidanan Komunitas : a. Dilakukan dengan pendekatan MANAJEMEN KEBIDANAN b. Dilakukan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan c. Pelayanan diberikan khususnya paa bumil, bulin, bufas d. Asuhan yang diberikan adalah asuhan berkualitas danpeningkatan kerja bidan (RS/komuniti) Contoh pelayanan bidan di komunitas: penyuluhan tentang kesehatan, pemeliharaan kesehatan, pengobatan sederhana, perbaikan gizi keluarga, imunisasi, pertolongan persalinan, pelayanan KB, dll

JARINGAN KERJA KEBIDANAN KOMUNITAS Bidan yang bekerja di komunitas membutuhkan suatu kemitraan yang berguna untuk pengambilan keputusan secara kolaboratif dalam rangka meningkatkan kesehatan dan memecahkan masalah-masalah kesehatan ibu dan anak. Kemitraan dibentuk dengan klien, keluarga dan masyarakat. Keterlibatan komponen tersebut sangat penting demi keberhasilan upaya-upaya kesehatan yang dilakukan oleh kebidanan di komunitas. Program kemitraan komunitas mencakup konsep pemberdayaan dan pengembangan komunitas. Kemitraan adalah proses kompleks sebagai upaya untuk mengarahkan para akademisi, pemuka masyarakat dan pemberi pelayanan kesehatan untuk bersama-sama mencapai perubahan. Unsur yang penting dalam menjalin jaringan kerja di komunitas adalah sensitivitas terhadap aspek kultural, yang berarti bahwqa pelayanan yang diberikan harus sesuai dengan persepsi masyarakat.

VISI MASYARAKAT SEHAT DAN MANDIRI MENUJU INDONESIA SEHAT 2010 SEBAGAI LANDASAN DALAM PELAYANAN KEBIDANAN KOMUNITAS MISI 1. Meningkatkan status kesehatan perorangan, keluarga, komunitas dan masyarakat. 2. Menanggulangi berbagai masalah kesehatan masyarakat prioritas. 3. Menyelenggarakan berbagai program kesehatan masyarakat yang inovatif, efektif dan efisien.

Akademi Kebidanan Martapura Yayasan Marta Berlian Husada

4. Meningkatkan peranserta dan kemandirian masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan. 5. Menggalang berbagai potensi untuk penyelenggaraan program kesehatan masyarakat. TUJUAN 1. Meningkatnya status kesehatan perorangan, keluarga, komunitas dan masyarakat. 2. Tertanggulanginya berbagai masalah kesehatan masyarakat prioritas. 3. Terselenggaranya berbagai program kesehatan masyarakat yang inovatif, efektif dan efisien. 4. Meningkatnya peran serta dan kemandirian perorangan, keluarga dan komunitas dalam pemeliharaan kesehatan. 5. Terhimpunnya sumberdaya dari masyarakat dalam mendukung penyelenggatraan progtram kesehatan masyarakat. 6. Terlibatnya secara aktif berbagai pelaku dalam peningkatan derajat dan penyelenggaraan program kesehatan masyarakat. SASARAN 1. Terpelihara dan meningkatnya status kesehatan keluarga. 2. Terpelihara dan meningkatnya status kesehatan komunitas. 3. Terpelihara dan meningkatnya status gizi masyarakat. 4. Terpelihara dan meningkatnya status kesehatan jiwa masyarakat. 5. Meningkatnya jumlah dan cakupan pemeliharaan kesehatan dengan pembiayaan pra upaya. 6. Pemerataan pelayanan kesehatan masyarakat yang bermutu dan terjangkau. 7. Peningkatan peran Pemerintah Daerah dalam pembiayaan program kesehatan masyarakat. 8. Pengembangan tenaga kesehatan yang profesional yang sadar biaya dan sadar mutu masyarakat yang inovatif, efektif dan efisien. 9. Pemantapan kemitraan dan kerjasama lintas sektoral dalam penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat. 10. Pengutamaan kelompok sasaran rentan keluarga miskin dan pengarus-utamaan gender. 11. Pengutamaan daerah terpencil, perbatasan dan rawan bencana. 12. Penyelarasan program dengan perkembangan tantangan dan komitmen global. 13. Pemantapan pemberdayaan dan kemandirian keluarga komunitas dan masyarakat. 14. Penerapan tehnologi tepat guna, bantuan teknis dan pendampingan. 15. Pengembangan penelitian untuk dukungan program.

Akademi Kebidanan Martapura Yayasan Marta Berlian Husada

16. Peningkatan transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan program kesehatan masyarakat.

Visi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia MASYARAKAT SEHAT YANG MANDIRI DAN BERKEADILAN Misi 1. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani. 2. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata bermutu dan berkeadilan 3. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan 4. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik Strategi 1. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat, swasta dan masyarakat madani dalam pembangunan kesehatan melalui kerja sama nasional dan global. 2. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau, bermutu dan berkeadilan, serta berbasis bukti; dengan pengutamaan pada upaya promotif dan preventif. 3. Meningkatkan pembiayaan pembangunan kesehatan, terutama untuk mewujudkan jaminan sosial kesehatan nasional. 4. Meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan SDM kesehatan yang merata dan bermutu. 5. Meningkatkan ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat dan alat kesehatan serta menjamin keamanan, khasiat, kemanfaatan, dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan. 6. Meningkatkan manajemen kesehatan yang akuntabel, transparan berdayaguna dan berhasilguna untuk memantapkan desentralisasi kesehatan yang bertanggungjawab. Nilai-nilai 1. Pro Rakyat 2. Inklusif 3. Responsif 4. Efektif 5. Bersih

Anda mungkin juga menyukai