Anda di halaman 1dari 3

Tugas Berpikir Sistem Nama : Aditya Putra Setyana NPM : 1006660674 1) Dari pengalaman penulis paper ini yang

telah mengajar di Thayer School of Engineering di Dartmouth College selama 9 tahun, ia menemui kendala pada murid-muridnya setelah memberikan kuliah mengenai berpikir sistem sebanyak 3 kali atau lebih. Murid-murid tersebut, bahkan murid yang terpintar pun, mengalami kesulitan saat diberikan tugas untuk mengkonstruksi dan menganalisis model dari kerangka tesisnya. Begitu pula saat penulis meninggalkan Dartmouth College dan kemudian memberikan lebih dari 50 workshop kepada para dosen dan juga pebisnis serta profesi yang bersangkutan lainnya, ia masih menemukan kendala saat mereka harus membuat model dari kerangka isu yang mereka pilih sendiri. Model yang mereka buat dimulai dalam keadaan steady state, dan dites dengan sebuah program untuk melihat tingkat robustness dari model tersebut. Beberapa model tersebut cukup baik dalam mereplikasi pola kebiasaan sebuah isu yang mereka amati. Namun, kualitas dari model tersebut dari segi tightness dan kapasitas insight-generation ternyata sama dengan kualitas model yang dibuat oleh murid Dartmouth College. Dari kesamaan tersebut, penulis kemudian ingin menyelidiki apa yang dapat membuat kapasitas berpikir sistem dari dua kalangan yang berbeda memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda. Oleh karena itu, dalam 3 tahun ia memonitor dengan ketat performa peserta workshop dan secara terus menerus melakukan feed back terhadap hasilnya. Ia tidak mengambil hasil apapun dari workshop yang telah dilakukan sebelumnya, namun ia mengganti materi kurikulum setidaknya tiap 50 kali. Tujuannya bukan untuk merangkum proses evolusi closed-loop ini, namun untuk fokus pada kendala mendasar apa yang menyebabkan produktivitas pembelajaran terhambat. Ternyata dari hasil analisisnya, kendala tesebut adalah cognitive overload. Dari apa yang terlihat selama proses monitoring yang dilakukan oleh penulis selama 3 tahun terkahir dari workshop yang dilakukan adalah peserta cenderung berpikir bahwa berpikir sistem yang baik berarti menjalankan setidaknya 7 pola berpikir secara bersamaan. Padahal hal ini merupakan hal yang sulit dilakukan, bahkan jika ke tujuh pola berpikir ini memiliki cara berpikir yang mirip, namun kenyataannya pola-pola berpikir tersebut berbeda-beda. Oleh karena itu, penulis memberikan lagkah-langkah untuk mencegah orang-orang menjadi overloaded dalam berpikir sistem yaitu (1) memberitahukan kepada mereka bahwa mereka akan diminta melakukan beberapa pola berpikir secara bersamaan; (2) jelaskan pola berpikir apa yang mereka gunakan; (3) bentuk progres kurikuler untuk menekankan perkembangan dari satu pola berpikir saja pada satu waktu.

Saat seseorang berpikir bahwa berpikir sistem yang baik meliputi 7 pola berpikir yang dilakukan bersamaan, dapat dipahami dengan lebih mudah mengapa orang cenderung mempelajari hal ini menjadi overload. Saat pola berpikir ini secara jelas diorganisir dan atensi yang terpisah digunakan untuk mengembangkan setiap pola berpikir, akan menjadikan bepikir sistem lebih mudah dimengerti. Hal tersebut dikarenakan orang akan lebih mudah mempelajari berpikir sistem dengan cara fokus pada pengembangan satu pola berpikir pada sebuah kondisi tertentu dan setelah matang baru berpindah ke pola berpikir yang lainnya. Selain itu, orang akan lebih mudah berpikir sistem dengan terlebih dahulu mengetahui pola-pola berpikir apa saja yang ada secara terpisah, bukan secara generik, karena pada dasarnya setiap pola berpikir memiliki cara berpikir yang berbeda yang bahkan bisa sama sekali tidak sesuai jika dikombinasikan antara satu dengan lainnya. Jadi, dengan melihat berpikir sistem merupakan konteks yang lebih luas dari beberapa pola pikir ang ada, dan mengetahui kondisi penerapan multidimensi dari pola berpikir tersebut, akan mempersingkat waktu pemahaman bagi orang-orang mengenai berpikir sistem ini. 2) Dukungan atau hubungan antar pola berpikir
Dominan ketika.. Define, Analyze Define, Analyze Define, Analyze Measure, Control Measure, Control Define, Control Improve Dynamic Thinking Closed-Loop Thinking Generic Thinking Structural Thinking Operational Continuum Thinking Thinking Scientific Thinking

Dynamic Thinking Closed-Loop Thinking Generic Thinking Structural Thinking Operational Thinking Continuum Thinking Scientific Thinking

O O

X X O

O O O

Keterangan:

O X
(kosong)

: Berhubungan dekat / saling mendukung : Tidak berhubungan / tidak sesuai : Netral yang yang yang juga

Ketujuh pola berpikir dari berpikir sistem memiliki karakteristik cara berpikir berbeda dan diterapkan pada basis kondisi yang juga berbeda. Dalam hal ini, basis kondisi digunakan adalah langkah pemecahan masalah six sigma yang memiliki metode DMAIC terdiri dari Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control. Pola berpikir tersebut

memiliki hubungan dengan pola berpikir lainnya baik berupa hubungan saling mendukung maupun hubungan ketidaksesuaian, yang bisa dilihat pada gambar di atas. Untuk pola berpikir Dynamic Thinking cocok digunakan untuk fase Define dan Analyze pada six sigma, karena pada tahap tersebut diperlukan pola berpikir yang dinamis untuk memahami suatu permasalahan dengan mengamati pola kebiasaan yang terjadi pada permasalahan tersebut, tidak hanya fokus pada suatu kejadian saja. Setelah itu, maka dapat diketahui faktor apa saja yang menyebabkan permasalahan tersebut. Dynamic Thinking juga sangat berhubungan erat dengan Closed-Loop Thinking karena sama-sama melihat faktor suatu permasalahan sebagai simpul kausal, bukan dengan melihat faktor secara linear. Generic Thinking menggunakan dua pola berpikir di atas untuk melihat masalah secara makro, sehingga hubungan ketiganya sangat kuat dan sama-sama sesuai diterapkan pada fase Define dan Analyze. Selanjutnya, Structural Thinking tidak sesuai dengan Dynamic Thinking dan ClosedLoop Thinking karena melihat masalah dari sudut pandang units-of-measure yang tidak bisa dilakukan oleh kedua pola berpikir tersebut. Structural Thinking sesuai dengan Operational Thinking yang melihat kejadian sesuai dengan kenyataannya. Oleh karena itu, kedua pola berpikir ini cocok untuk diterapkan pada fase Measure dan juga Control yang lekat dengan unit pengukuran sebuah masalah. Kemudian, Continuum Thinking yang melihat masalah secara terus-menerus atau berbasis waktu sesuai dengan Generic Thinking yang juga sesuai dengan Dynamic Thinking dan Closed-Loop Thinking, sehingga sesuai diterapkan di fase Define dan juga Control. Terakhir, Scientific Thinking yang sangat erat dengan hypothesis-testing sangat sesuai diterapkan di fase Improve.