Anda di halaman 1dari 7

2.4.

Patofisiologi Obesitas Secara umum obesitas dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan kalori, yang diakibatkan asupan energy yang jauh melebihi kebutuhan tubuh. Pada bayi (infant), penumpukan lemak terjadi akibat pemberian makanan pendamping ASI yang terlalu dini, terutama apabila makanan tersebut memiliki kandungan karbohidrat, lemak, dan protein yang tinggi. Pada masa anak-anak dan dewasa, asupan energy bergantung pada diet seseorang. Obesitas terjadi karena adanya kelebihan energi yang disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Gangguan keseimbangan energi ini dapat disebabkan oleh faktor eksogen (obesitas primer) sebagai akibat nutrisional (90%) dan faktor endogen (obesitas sekunder) akibat adanya kelainan hormonal, sindrom atau defek genetik (meliputi 10%). Pengaturan keseimbangan energi diperankan oleh hipotalamus melalui 3 proses fisiologis, yaitu: pengendalian rasa lapar dan kenyang, mempengaruhi laju pengeluaran energi, dan regulasi sekresi hormon. Proses dalam pengaturan penyimpanan energi ini terjadi melalui sinyal-sinyal eferen (yang berpusat di hipotalamus) setelah mendapatkan sinyal aferen dari perifer (jaringan adipose, usus dan jaringan otot). Sinyal-sinyal tersebut bersifat anabolik (meningkatkan rasa lapar serta menurunkan pengeluaran energi) dan dapat pula bersifat katabolik (anoreksia, meningkatkan pengeluaran energi) dan dibagi menjadi 2 kategori, yaitu sinyal pendek dan sinyal panjang. Sinyal pendek mempengaruhi porsi makan dan waktu makan, serta berhubungan dengan faktor distensi lambung dan peptida gastrointestinal, yang diperankan oleh kolesistokinin (CCK) sebagai stimulator dalam peningkatan rasa lapar. Sinyal panjang diperankan oleh fat-derived hormon leptin dan insulin yang mengatur penyimpanan dan keseimbangan energi. Apabila asupan energi melebihi dari yang dibutuhkan, maka jaringan adiposa meningkat disertai dengan peningkatan kadar leptin dalam peredaran darah. Leptin kemudian merangsang anorexigenic center di hipotalamus agar menurunkan produksi Neuro Peptide Y (NPY), sehingga terjadi penurunan nafsu makan. Demikian pula sebaliknya bila kebutuhan energi lebih besar dari asupan energi, maka jaringan adiposa berkurang dan terjadi rangsangan pada orexigenic center di hipotalamus yang menyebabkan peningkatan nafsu makan. Pada sebagian besar penderita obesitas terjadi resistensi leptin, sehingga tingginya kadar leptin tidak menyebabkan penurunan nafsu makan. Penelitian yang dilakukan menemukan bahwa pengontrolan nafsu makan dan tingkat kekenyangan seseorang diatur oleh mekanisme neural dan humoral (neurohumoral) yang

dipengaruhi oleh genetik, nutrisi, lingkungan, dan sinyal psikologis. Mekanisme ini dirangsang oleh respon metabolic yang berpusat pada hipotalamus. Mekanisme neurohumoral ini dapat dibagi menjadi 3 komponen. a. Sistem Perifer/Sistem Aferen Merupakan sistem yang menyalurkan sinyal dari berbagai tempat. Komponen utamanya adalah leptin dan adiponektin (dari jaringan adiposa), ghrelin (dari lambung), peptide YY (dari ileum dan colon), serta insulin (dari pankreas). b. Nukleus Arkuatus dalam hipotalamus Merupakan sistem yang memproses dan mengintegrasikan sinyal periferal dan menghasilkan sinyal eferen kepada 2 jenis neuron orde pertama, yaitu (a) POMC (proopiomelanocortin) dan CART (cocaine and amphetamine-regulated transcripts) neuron, (b) neuropeptida Y (NPY) dan AgRP (Agouli-relate peptide). Neuron orde pertama ini akan berkomunikasi dengan neuron orde kedua. c. Sistem Eferen Merupakan sistem yang menerima sinyal yang diberikan neuron orde pertama dari hipotalamus untuk mengontrol asupan makanan dan penggunaan energi. Hipotalamus juga berkomunikasi dengan otak depan dan otak tengah untuk mengontrol system saraf otonom. Neuron POMC dan CART meningkatkan penggunaan energi dan penurunan berat badan -Melanocyte Stimulating Hormone), serta mengaktifkan reseptor melanokortin nomor 3 dan 4 (MC3/4R) sebagai neuron orde ke-2 sebagai efek anoreksigenik. Sedangkan neuron NYP dan AgRP merangsang lapar (food intake) dan peningkatan berat badan dengan mengaktifkan reseptor Y1/5 pada neuron orde ke-2nya sebagai efek oreksigenik.

Gambar 1. pengaturan keseimbangan energi. Jaringan lemak menghasilkan sinyal aferen yang mengaktifkan hipotalamus untuk mengatur nafsu makan dan kekentyangan. Sinyal ini mengnurunkan intake makanan dan menghambat siklus anabolik, dan mengaktifkan pemakaian energi dan mengaktifkan siklus katabolik.

Gambar 2. Jalur neurohumoral di hipotalamus yang mengatur kesetimbangan energi. Terlihat POMC dan CART sebagai neuron anoreksigenik, dan serta NPY dan AgRP sebagai neuron oreksigenik di hipotalamus bagian nukleud arkuatus.

Metode menentukan apakah ada obesitas : 1. Perbandingan berat dengan tabel berat badan yang diinginkan menurut tinggi 2. Indeks masa tubuh 3. Salah satu cara penentuan obesitas adalah dengan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT dapat menggambarkan lemak tubuh yang berlebihan secara sederhana dan bisa digunakan dalam penelitian populasi berskala besar. Pengukurannya hanya membutuhkan 2 data, yaitu berat badan dan tinggi badan, yang keduanya dapat dilakukan secara akurat oleh seseorang dengan latihan. The World Health Organization (WHO) tahun 1997. The National Institute of Health (NIH) pada tahun 1998 dan The Expert Comitee on Clinical Guidelines for Overweight in Adolescent Preventive Services telah merekomendasikan Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT) sebagai baku pengukuran obesitas pada anak dan remaja diatas usia 2 tahun. IMT merupakan petunjuk untuk menentukan kelebihan berat badan berdasarkan indeks Quatelet (berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam meter( kg/m2). Interpretasi IMT tergantung pada umur dan jenis kelamin anak, karena anak laki-laki dan perempuan memiliki lemak tubuh yang berbeda. Berbeda dengan orang dewasa, IMT pada anak berubah sesuai umur dan sesuai dengan peningkatan panjang dan berat badan. The Centers for Disease Control(CDC) mempublikasikan kurva IMT. IMT dapat diplotkan sesuai jenis kelamin pada kurva pertumbuhan CDC untuk anak usia 2-20 tahun. Indeks Massa Tubuh merupakan cara termudah untuk memperkirakan obesitas serta berkorelasi dengan massa lemak tubuh, dan juga penting untuk mengidentifikasi penderita obesitas yang mempunyai risiko mendapat komplikasi medis. IMT memiliki keunggulan utama yaitu menggambarkan lemak tubuh yang berlebihan, sederhana dan dapat digunakan dalam penelitian populasi berskala besar Anak dari keluarga dengan hipertensi esensial memiliki IMT yang lebih tinggi dibanding dengan anak dari keluarga tanpa riwayat hipertensi esensial. IMT dapat menjadi prediktor yang bermakna untuk

tekanan darah baik pada anak maupun remaja berdasarkan berat badan dan tinggi badan. Tromso study membuktikan adanya hubungan antara peningkatan Indeks Massa Tubuh dengan peningkatan tekanan darah baik pada laki-laki maupun perempuan. Rendahnya aktivitas fisik dan tingginya IMT merupakan faktor yang berpengaruh terhadap hipertensi pada anak laki maupun perempuan. Perhitungan IMT:

IMT =BB/(TBxTB). .

4. Pengukuran lemak supkutan, lipat kulit triseps 18,6 mm untuk laki-laki, 25,1 mm untuk wanita telah dipergunakan sebagai indikator obesitas. Pengukuran lemak tubuh, massa dan distribusinya memerlukan berbagai tehnik dan belum ada pengukuran yang 100% memuaskan. Seringkali diperlukan kombinasi pengukuran untuk menentukan risiko suatu penyakit. Perhitungan secara langsung menggunakan densitometri, cairan tubuh total, kalium tubuh total dan uptake of lipid-soluble inert gases. Secara tidak langsung cadangan lemak dapat dinilai dengan mengukur ketebalan lipatan kulit dan Indeks Massa Tubuh Pengukuran lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah kulit (skinfold) dilakukan pada beberapa bagian tubuh, misalnya pada bagian lengan atas, lengan bawah (fore arm), subscapular, midaxillary, pectoral, abdominal, suprailiaka.

Menurut Deurenberg (2000), pemeriksaan obesitas juga bisa dilakukan dengan cara mengukur persentase lemak tubuh secara tidak langsung. Obesitas menunjukkan suatu kondisi di mana terdapat simpanan jaringan lemak yang berlebih pada tubuh. Pada keadaan normal, persentase lemak tubuh pada pria adalah sekitar 15-20%, sedangkan pada wanita sekitar 25-30%. Rumus untuk mengukur persentase lemak tubuh, yaitu sebagai berikut:Lemak tubuh dewasa = (1,20 x IMT) + (0,23 x USIA) (10,8 x JENIS KELAMIN) 5,4 JENIS KELAMIN : Pria = 1; Wanita = 0.Berdasarkan rumus di atas,maka seseorang disebut obesitas bila, persentase lemak tubuh pada pria >25% dan pada wanita >33%.

DAFTAR PUSTAKA Anwar, Syaiful. 2005. Obesitas dalam Masyarakat.Jakarta: Yudhistira. Deurenberg Yap M,Schmidt G,VAn Staveren WA,and Deurenbrg P. 2000. The paradox of low body massindex and high body fat precentage among Chinese,Malays and Indians in Singapore. Int. J. Obes Ibrahim, Anwar. 2008. Obesitas. Surabaya: Pariwara.