Anda di halaman 1dari 29

Referat

PERMASALAHAN PENGOBATAN TB PARU DI INDONESIA

Oleh Busyra Irizki Tisna Seti !ati Mu#a$i%a$ Husna 'i%iananta Arista N (i E) M) Az$ar R syi%i G0005008 G00050"5 G00050"& G00050*& G00050+, G0005"*-

.EPANITERAAN .LINI. ILMU PEN/A.IT PARU 0A.ULTAS .EDO.TERAN UNS 1 RSUD DR) MOE'ARDI SURA.ARTA *0"0

BAB I PENDAHULUAN

A) LATAR BELA.ANG MASALAH Penyakit tuberkulosis (TB paru) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia. Banyaknya ditemukan kasus kegagalan pada pengobatan TB paru merupakan salah satu penyebab masih tingginya angka kejadian penyakit dan kendala dalam usaha pemberantasan penyakit. Tahun 199 ! "#O men$anangkan kedaruratan global penyakit TB. %iperkirakan setiap tahun ada 9 juta penderita TB baru dengan kematian juta orang (%epkes! &''')! 9() penderita TB berada di negara*negara berkembang dan beban terbesar terutama adalah di +sia Tenggara. %i negara* negara berkembang kematian ini merupakan &() dari kematian penyakit yang sebenarnya dapat diadakan pen$egahan (%epkes! &''').1 ,asalah TB di -ndonesia sangat besar! karena setiap tahunnya kasus baru TB bertambah &('.''' penderita dan sekitar 1.'.''' kematian terjadi pada setiap tahun yang disebabkan TB! oleh karena itu -ndonesia menduduki peringkat ke* terbesar dengan masalah TB di dunia. Pemberantasan TB paru se$ara /asional di -ndonesia telah berlangsung ' tahun sejak tahun1909 namun hasilnya belum memuaskan. +palagi saat ini negara kita mengalami krisis berkepanjangan dalam tahun* tahun terakhir ini! bahkan di negara maju masalah ini mun$ul kembali karena penyakit #-1*+-%2. 2ebenarnya membi$arakan mengenai pengobatan penyakit tuberkulosis paru 3aman sekarang ini sudah semestinya tidak menjadi masalah lagi. Bila kita lihat dari penyebab penyakit ini sudah dapat diketahui dengan pasti! sebagai sarana penunjang diagnostiknya sudah ada! bahkan obatnya yang ampuh pun sudah ada! apalagi mengenai dokternya kalau boleh dikatakan sudah berlebihan bahkan mungkin banyak yang tidak mendapat penempatan di puskesmas*puskesmas. +kan tetapi bila kita melihat realitas

yang ada membuktikan bah4a pengobatan tuberkulosis tidaklah semudah yang diperkirakan. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan dari pengobatan TB di -ndonesia selain faktor medis! faktor sosio*ekonomi dan budaya yang juga mempengaruhi keberhasilan dari pengobatan penyakit ini. 5aktor*faktor yang berpengaruh lainnya antara lain! faktor sarana! faktor penderita! dan faktor keluarga dan lingkungan masyarakat yang juga tidak kalah pentingya untuk dibahas. Berdasarkan hal*hal tersebut diatas maka kami berkeinginan menyajikan masalah ini agar menjadi bahan masukan kepada kita semua dalam pemberantasan penyakit Tuberkulosis Paru. B) Ru2usan Masa3a$ Bagaimana permasalahan dalam pengobatan TB paru di -ndonesia6

BAB II LANDASAN TEORI

A) DIAGNOSIS TB ") Dia4n sis TB 5aru 2emua suspek TB diperiksa spesimen dahak dalam 4aktu & hari! yaitu sewaktu - pagi - sewaktu (SPS). %iagnosis TB Paru pada orang de4asa ditegakkan dengan

ditemukannya kuman TB (BT+). Pada program TB nasional! penemuan BT+ melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan lain seperti foto toraks! biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. 5oto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru! sehingga sering terjadi overdiagnosis. 7ambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit. 8ntuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru. *) Ge#a3a k3inis 5asien TB 7ejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama &* minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak ber$ampur darah! batuk darah! sesak nafas! badan lemas! nafsu makan menurun! berat badan menurun! malaise! berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik! demam meriang lebih dari satu bulan. 7ejala*gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain tb! seperti bronkiektasis! bronkitis kronis! asma! kanker paru! dan lain*lain. ,engingat pre9alensi TB di -ndonesia saat ini masih tinggi! maka setiap orang yang datang ke 8P: dengan gejala tersebut diatas!

dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB! dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak se$ara mikroskopis langsung. 6) Pe2eriksaan %a$ak 2ikr sk 5is Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis! menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa 2e4aktu*Pagi*2e4aktu (2P2). S 7se!aktu8; dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. Pada saat pulang! suspek memba4a sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. P 7Pa4i8; dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua! segera setelah bangun tidur. Pot diba4a dan diserahkan sendiri kepada petugas di 8P:. S 7se!aktu8; dahak dikumpulkan di 8P: pada hari kedua! saat menyerahkan dahak pagi. ,) Pe2eriksaan Biakan Peran biakan dan identifikasi M.tuberkulosis pada penanggulangan TB khususnya untuk mengetahui apakah pasien yang bersangkutan masih peka terhadap O+T yang digunakan. 2elama fasilitas memungkinkan! biakan dan identifikasi kuman serta bila dibutuhkan tes resistensi dapat dimanfaatkan dalam beberapa situasi; Pasien TB yang masuk dalam tipe pasien kronis Pasien TB ekstraparu dan pasien TB anak. Petugas kesehatan yang menangani pasien dengan kekebalan ganda.

5) Pe2eriksaan Tes Resistensi Tes resistensi tersebut $anya 9isa dilakukan di laboratorium yang mampu melaksanakan biakan! identifikasi kuman serta tes resistensi sesuai standar internasional! dan telah mendapatkan pemantapan mutu (Quality

Assurance) oleh laboratorium supranasional TB. #al ini bertujuan agar hasil pemeriksaan tersebut memberikan simpulan yang benar sehinggga kemungkinan kesalahan dalam pengobatan ,%R dapat di $egah. +) In%ikasi 5e2eriksaan : t t raks Pada sebagian besar TB paru! diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak se$ara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. /amun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut; #anya 1 dari spesimen dahak 2P2 hasilnya BT+ positif. Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis <TB paru BT+ positif. (lihat bagan alur) :etiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah spesimen dahak

2P2 pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BT+ negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non O+T. (lihat bagan alur) Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti; pneumotorak! pleuritis eksudati9a! efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma).

Alur Diagnosis TB Paru

B) .LASI0I.ASI PEN/A.IT DAN TIPE PASIEN ,anfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah ; ,enentukan paduan pengobatan yang sesuai Registrasi kasus se$ara benar ,enentukan prioritas pengobatan tb bta(=) +nalisis kohort hasil pengobatan

.3asi:ikasi 9er%asarkan r4an tu9u$ yan4 terkena; 1) Tu9erku3 sis 5aru) Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. &) Tu9erku3 sis ekstra 5aru) Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru! misalnya pleura! selaput otak! selaput jantung (peri$ardium)! kelenjar lymfe! tulang! persendian! kulit! usus! ginjal! saluran ken$ing! alat kelamin! dan lain*lain.

.3asi:ikasi 9er%asarkan $asi3 5e2eriksaan %a$ak 2ikr sk 5is ; 1) Tu9erku3 sis 5aru BTA 5 siti:) a) 2ekurang*kurangnya & dari positif. b) 1 spesimen dahak 2P2 hasilnya BT+ positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis. $) 1 spesimen dahak 2P2 hasilnya BT+ positif dan biakan kuman TB positif. d) 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah spesimen dahak 2P2 pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BT+ negati9e dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non O+T. &) Tu9erku3 sis 5aru BTA ne4ati: :asus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BT+ positif. :riteria diagnostik TB paru BT+ negatif harus meliputi; a) Paling tidak spesimen dahak 2P2 hasilnya BT+ negati9e b) 5oto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis. $) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non O+T. d) %itentukan pengobatan. (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi spesimen dahak 2P2 hasilnya BT+

.3asi:ikasi 9er%asarkan tin4kat ke5ara$an 5enyakit) 1) TB 5aru BTA ne4ati: : t t raks 5 siti: dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya! yaitu bentuk 9erat dan rin4an. Bentuk berat

bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses far advanced )! dan atau keadaan umum pasien buruk. &) TB ekstra<5aru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya! yaitu; a) TB ekstra paru ringan! misalnya; TB kelenjar limfe! pleuritis eksudati9a unilateral! tulang (ke$uali tulang belakang)! sendi! dan kelenjar adrenal. b) TB ekstra*paru berat! misalnya; meningitis! milier! perikarditis! peritonitis! pleuritis eksudati9a bilateral! TB tulang belakang! TB usus! TB saluran kemih dan alat kelamin. .3asi:ikasi 9er%asarkan ri!ayat 5en4 9atan se9e3u2nya :lasifikasi berdasarkan ri4ayat pengobatan sebelumnya dibagi menjadi beberapa tipe pasien! yaitu; 1) .asus 9aru +dalah pasien yang belum pernah diobati dengan O+T atau sudah pernah menelan O+T kurang dari satu bulan (. minggu). &) .asus ka29u$ 7Relaps8 +dalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap! didiagnosis kembali dengan BT+ positif (apusan atau kultur). ) .asus sete3a$ 5utus 9er 9at 7Default 8 +dalah pasien yang telah berobat dan putus berobat & bulan atau lebih dengan BT+ positif. .) .asus sete3a$ 4a4a3 7Failure8 +dalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. () .asus Pin%a$an 7Transfer In8 +dalah pasien yang dipindahkan dari 8P: yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.

0) .asus 3ain; +dalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. %alam kelompok ini termasuk :asus :ronik! yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BT+ positif setelah selesai pengobatan ulangan. =) PENGOBATAN TB ") Tu#uan Pen4 9atan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien! men$egah kematian! men$egah kekambuhan! memutuskan rantai penularan dan men$egah terjadinya resistensi kuman terhadap O+T. *) Prinsi5 5en4 9atan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip * prinsip sebagai berikut; O+T harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat! dalam jumlah $ukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. >angan gunakan O+T tunggal (monoterapi). Pemakaian O+T*:ombinasi %osis Tetap (O+T*:%T) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. 8ntuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat! dilakukan

penga4asan langsung (%OT ? %ire$tly Obser9ed Treatment) oleh seorang Penga4as ,enelan Obat (P,O). Pengobatan TB diberikan dalam & tahap! yaitu tahap intensif dan lanjutan. Ta$a5 a!a3 7intensi:8 o Pada tahap intensif (a4al) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu dia4asi se$ara langsung untuk men$egah terjadinya resistensi obat. o Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan se$ara tepat! biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun 4aktu & minggu. o 2ebagian besar pasien TB BT+ positif menjadi BT+ negatif (kon9ersi) dalam & bulan.

Ta$a5 Lan#utan o Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit! namun dalam jangka 4aktu yang lebih lama o Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga men$egah terjadinya kekambuhan 6) Pa%uan OAT yan4 %i4unakan %i In% nesia Paduan O+T yang digunakan oleh Program /asional Penanggulangan Tuberkulosis di -ndonesia; o o :ategori 1 ; &(#R@A)B.(#R) . :ategori & ; &(#R@A)2B(#R@A)B((#R) A . %isamping kedua kategori ini! disediakan paduan obat sisipan (#R@A) o :ategori +nak; &#R@B.#R

Paduan O+T kategori*1 dan kategori*& disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (O+T*:%T). Tablet O+T :%T ini terdiri dari kombinasi & atau . jenis obat dalam satu tablet. %osisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien. :%T mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB; 1) %osis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping. &) ,en$egah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep ) >umlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien

Paket :ombipak. +dalah paket obat lepas yang terdiri dari -soniasid! Rifampisin! Pira3inamid dan Atambutol yang dikemas dalam bentuk blister. Paduan O+T ini disediakan program untuk digunakan dalam pengobatan pasien yang mengalami efek samping O+T :%T.

>enis? si:at %an % sis OAT

,) Pa%uan OAT %an 5eruntukannya) a) .ate4 ri<" 7*HR@E1 ,H6R68 Paduan O+T ini diberikan untuk pasien baru; Pasien baru TB paru BT+ positif. Pasien TB paru BT+ negatif foto toraks positif Pasien TB ekstra paru Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1

Dosis paduan OAT-Kombipak untuk Kategori 1

9) .ate4 ri <* 7*HR@ES1 HR@E1 5H6R6E68 Paduan O+T ini diberikan untuk pasien BT+ positif yang telah diobati sebelumnya; Pasien kambuh Pasien gagal Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default) Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2

Dosis paduan OAT Kombipak untuk Kategori 2

A) OAT Sisi5an 7HR@E8 Paket sisipan :%T adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (&C hari). Dosis KDT untuk isipan

Dosis OAT Kombipak untuk isipan

D) PENGA'ASAN MENELAN OBAT 2alah satu komponen %OT2 adalah pengobatan paduan O+T jangka pendek dengan penga4asan langsung. 8ntuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang P,O. a. Persyaratan P,O

2eseorang yang dikenal! diper$aya dan disetujui! baik oleh petugas kesehatan maupun pasien! selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien.

2eseorang yang tinggal dekat dengan pasien. Bersedia membantu pasien dengan sukarela. Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama*sama dengan pasien

b. 2iapa yang bisa jadi P,O 2ebaiknya P,O adalah petugas kesehatan! misalnya Bidan di %esa! Pera4at! Pekarya! 2anitarian! >uru -mmunisasi! dan lain lain. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan! P,O dapat berasal dari kader kesehatan! guru! anggota PPT-! P::! atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga. $. Tugas seorang P,O ,enga4asi pasien TB agar menelan obat se$ara teratur sampaiselesai pengobatan. ,emberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur. ,engingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada 4aktu yang telah ditentukan. ,emberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejala*gejala men$urigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke 8nit Pelayanan :esehatan. Tugas seorang P,O bukanlah untuk mengganti ke4ajiban pasien mengambil obat dari unit pelayanan kesehatan. d. -nformasi penting yang perlu dipahami P,O untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya; TB disebabkan kuman! bukan penyakit keturunan atau kutukan TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur Dara penularan TB! gejala*gejala yang men$urigakan dan $ara pen$egahannya Dara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan) Pentingnya penga4asan supaya pasien berobat se$ara teratur :emungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke 8P:. E) PEMANTAUAN DAN HASIL PENGOBATAN TB a) Pe2antauan ke2a#uan 5en4 9atan TB

Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang de4asa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak se$ara mikroskopis. Pemeriksaan dahak se$ara mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan. Eaju Andap %arah (EA%) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik untuk TB. 8ntuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spe$imen sebanyak dua kali (se4aktu dan pagi). #asil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke & spesimen tersebut negatif. Bila salah satu spe$imen positif atau keduanya positif! hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif. Tindak lanjut hasil pemriksaan ulang dahak mikroskopis dapat dilihat pada tabel di ba4ah ini. Tindak !an"ut #asil Pemeriksaan $lang Da%ak

Tata3aksana Pasien yan4 9er 9at ti%ak teratur Tatalaksana pasien &ang berobat tidak teratur

.eteran4an ; F) Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1*& bulan dan lama pengobatan sebelumnya kurang dari ( bulan; lanjutkan pengobatan dulu sampai seluruh dosis selesai dan 1 bulan sebelum akhir pengobatan harus diperiksa dahak. 9) Hasi3 Pen4 9atan Pasien TB BTA 5 siti: Se29u$ Pasien telah menyelesaikan pengobatannya se$ara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada +P dan pada satu pemeriksaan follo4*up sebelumnya Pen4 9atan Len4ka5

+dalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya se$ara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Menin44a3 +dalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. Pin%a$ +dalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB ' yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. De:au3t 7Putus 9er 9at8 +dalah pasien yang tidak berobat & bulan berturut*turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. Ga4a3 Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. 0) E0E. SAMPING OAT DAN PENATALA.SANAANN/A Tabel berikut! menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan pendekatan gejala. 'fek samping ringan OAT

'fek samping berat OAT

BAB III PEMBAHASAN

A) Per2asa3a$an Pen4 9atan TB %i In% nesia Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan dari pengobatan TB di -ndonesia selain faktor medis! faktor sosio ekonomi dan budaya juga mempengaruhi keberhasilan dari pengobatan penyakit ini. 5aktor*faktor yang berpengaruh lainnya antara lain ; 1. 5aktor sarana! ditentukan oleh ; Tersedianya obat yaang $ukup dan kontinyu Adukasi dari petugas pelayanan yang baik. Pemberian regimen O+T yang adekuat &. 5aktor penderita ! ditentukan oleh ; Pengetahuan penderita yang $ukup mengenai penyakit TB paru ! $ara pengobatan dan bahaya pengobatan yang tidak adekuat. ,enjaga kondisi tubuh yang baik dengan makanan yang bergi3i! istirahat yang $ukup ! hidup teratur dan tidak mengkonsumsi alkohol atau merokok ,enjaga kebersihan diri dan lingkungan dengan tidak membuang dahak sembarangan ! bila batuk menutup mulut dengan sapu tangan! jendela rumah $ukup besar dan mendapat $ukup sinar matahari. :esadaran dan tekad penderita untuk sembuh . 5aktor keluarga dan masyarakat lingkungan ! yang ditentukan oleh ; %ukungan keluarga sangat menunjang keberhasilan pengobatan seseorang dengan selalu selalu mengingatkan penderita untuk meminum obat ! pengertian yang dalam terhadap penderita yang sakit dan memberi semangat agar rajin berobat. B) PENANGGULANGAN DENGAN .OMPONEN DAN STRATEGI DOTS 7DireAt3y O9ser(e% Treat2ent Syste28 2trategi yang direkomendasikan untuk mengendalikan TB (%OT2) terdiri dari lima komponen utama;

a.

:omitmen pemerintah untuk mempertahankan $ontrol terhadap TBG melalui pemeriksaan dahakG

b. %eteksi kasus TB di antara orang*orang yang memiliki gejala*gejala $. Anam hingga delapan bulan pengobatan teratur yang dia4asi (termasuk pengamatan langsung untuk pengkonsumsian obat setidaknya selama dua bulan pertama)G d. Persediaan obat TB yang rutin dan tidak terputusG e. 2istem laporan untuk monitoring dan e9aluasi perkembangan pengobatan dan program. Ren$ana 7lobal Penanggulangan TB didukung oleh 0 komponen dari 2trategy Penanggulangan TB baru yang dikembangkan oleh "#O; ,engejar peningkatan dan perluasan %OT2 yang berkualitas tinggi ,enangani kasus ko*infeksi TB*#-1! kekebalan ganda terhadap obat anti TBD dan tantangan lainnya Berkontribusi dalam penguatan sistem kesehatan ,enyamakan persepsi semua penyedia pelayanan ,emberdayakan penderita TB dan masyarakat ,e4ujudkan dan mempromosikan penelitian.

%OT2 sangat penting untuk penanggulangan TB selama lebih dari satu dekade! dan tetap menjadi komponenutama dalam strategi penanggulangan TB yang terus diperluas! termasuk pengelolaan kekebalan obat TB!TB terkait #-1! penguatan sistem kesehatan! keterlibatan seluruh penyedia kesehatan dan masyarakat! serta promosi penelitian. %alam pemenuhan faktor*faktor tersebut tentunya sampai saat ini tidak mudah untuk dilakukan . Oleh karena itu pengobatan TB merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan strategi penanggulangan masalah TB dimana salah satu diantaranya adalah strategi %OT2.

=) PENGENDALIAN? PENGOBATAN DAN DILA.SANA.AN PADA PENDERITA TB) Pen4en%a3ian Pen%erita Tu9erku3 sis)

PEN/ULUHAN

/ANG

1) Petugas dari puskesmas harus mengetahui alamat dan tempat kerja penderita. &) Petugas turut menga4asi pelaksanaan pengobatan agar penderita tetap teratur menjalankan pengobatan dengan jalan mengingatkan penderita yang lali. %isamping itu agar menunjak seorang penga4as pengobatan dikalangan keluarga. ) Petugas harus mengadakan kunjungan berkala kerumah*rumah penderita dan menunjukan perhatian atas kemajuan pengobatan serta mengamati kemungkinan terjadinya gejala sampingan akibat pemberian obat. Pen4 9atan Pen%erita Tu9erku3 sis 1) Penderita yang dalam dahaknya mengandung kuman dianjurkan untuk menjalani pengobatan di puskesmas. &) Petugas dapat memberikan pengobatan jangka pendek di rumah bagi penderita se$ara darurat atau karena jarak tempat tinggal penderita dengan puskesmas $ukup jauh untuk bisa berobat se$ara teratur. ) ,elaporkan adanya gejala sampingan yang terjadi! bila perlu penderita diba4a kepuskesmas. Penyu3u$an Pen%erita Tu9erku3 sis 1) Petugas baik dalam masa persiapan maupun dalam 4aktu berikutnya se$ara berkala memberikan penyuluhan kepada masyarakat luas melalui tatap muka! $eramah dan mass media yang tersedia di 4ilayahnya! tentang $ara pen$egahan TB*paru. &) ,emberikan penyuluhan kepada penderita dan keluarganya pada 4aktu kunjungan rumah dan memberi saran untuk ter$iptanya rumah sehat! sebagai upaya mengurangi penyebaran penyakit.

) memberikan penyuluhan prorangan se$ara khusus kepada penderita agar penderita mau berobat rajin teratur untuk men$egah penyebaran penyakit kepada orang lain. .) ,enganjurkan! perubahan sikap hidup masyarakat dan perbaikan lingkungan demi ter$apainya masyarakat yang sehat. () ,enganjurkan masyarakat untuk melaporkan apabila diantarnya 4arganya ada yang mempunyai gejala*gejala penyakit Tb paru. 0) Berusaha menghilangkan rasa malu pada pederita oleh karena penyakit TB paru bukan lagi penyakit yang memalukan! dapat di$egah dan disembuhkan seperti halnya penyakit lain. H) Petugas harus men$atat dan melaporkan hasil kegiatannya kepada koordinatornya sesuai formulir pen$atatan dan pelaporan kegiatan kader.

BAB IB .ESIMPULAN DAN SARAN A) .ESIMPULAN 1. Penyakit tuberkulosis (TB paru) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia! terutama di negara berkembang seperti -ndonesia. &. Penegakan diagnosis TB paru dapat dilakukan dengan penemuan gejala klinis! pemeriksaan sputum BT+! dan gambaran radiologi. . Pengobatan TB paru diberikan dengan paduan dan regimen O+T yang ada. .. Permasalahan pengobatan TB paru di -ndonesia yang tidak kalah pentingnya! antara lain ditinjau dari; a. 5aktor sarana b. 5aktor penderita $. 5aktor keluarga dan lingkungan masyarakat (. 2trategi %OT2 masih diperlukan untuk pelaksanaan pengendalian kasus TB paru. 0. 8ntuk mengatasi permasalahan ini juga dapat dilakukan berbagai $ara terhadap penderita tuber$ulosis! antara lain dengan ; a. Pengendalian b. Pengobatan $. Penyuluhan B) SARAN 1. Penyediaan sarana pengobatan! baik alat diagnostik maupun sediaan regimen obat di puskesmas dan rumah sakit di daerah dan pusat hendaknya ditingkatkan agar ketersediaannya memenuhi kebutuhan yang ada. &. Tidak henti*hentinya melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang Pola #idup Bersih dan 2ehat (P#B2) dan gejala serta menejemen pengobatan TB paru untuk tindakan pre9entif! yang dapat

dilakukan oleh tenaga medis! praktisi kesehatan maupun melalui kader posyangu! E2,! dan tokoh*tokoh masyarakat . Pemberian moti9asi kepada keluarga dan lingkungan masyarakat di sekitarnya tentang tatalaksana pengobatan terutama dalam peran Penga4asan ,enelan Obat (P,O). .. :eterpaduan antara lintas sektoral melalui berbagai lintas program antara pihak terkait untuk menunjang keberhasilan pelaksanaan strategi %OT2.

Da:tar Pustaka 1. %epartemen :esehatan R-. &'''. Pedo!an "asional Penanggulangan #uberkulosis. Detakan ke*(. >akarta; hal &. &. "#O! &''.a! 7lobal Tuber$ulosis Dontrol; sur9eillan$e! Planning! 5inan$ing! 7ene . #is4ani! &''.. Tuberkolosis ,erupakan Penyakit -nfeksi Iang ,asih ,enjadi ,asalah :esehatan ,asyarakat. e-$S$ %epository. .. %irektorat >enderal PP, J PEP. %epartemen :esehatan. 1999. 7erakan Terpadu /asional Penanggulangan Tuberkulosis. %isampaikan pada 2eminar 2ehari TB Paru %alam rangka Peringatan #ari TB sedunia ke 11H. >akarta! mei 1999. (. 2oeroso #.R. 199H. 5ungsi BP. %alam PemberantasanTB dan Perkembangan Pulmonolog. Eaporan Penataran Pemberantasan Penyakit TB! ,edan. 199H 0. /ukman R. 1999. :endala %alam Pengobatan TB Paru. %isampaikan dalam 2eminar 2ehari TB Paru %alam rangka Peringatan hari TB sedunia ke 11H! medan! Cmei 1999. H. %epkes R-. &''H. Pedoman /asional Penanggulangan Tuberkulosis. Adisi :edua. Detakan Pertama. &''H C. 2ub %irektorat TB %epartemen :esehatan R- dan "orld #ealth Organi3ation! Eembar 5akta Tuberkulosi. #ari TB 2edunia. &. ,aret &''C 9. "#O. &''9. 7lobal Tuber$ulosis Dontrol A s&ort update to t&e '(() report. "#O Eibrary Dataloguing*in*Publi$ation %ata. &''9